NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 4 Interlude IV

Interlude 4


Ini bukanlah puisi yang ditujukan untukku.

Fakta itu terasa begitu menyedihkan hingga aku tak sanggup untuk tetap berada di sana.

Aku yang menantikan konser Natsu dan Seri lebih dari siapa pun, kini bahkan tak sanggup untuk melihatnya.

Meskipun aku meringkuk di atap sekolah, suara Natsu dan alunan musik mereka tetap terdengar sampai ke sini.

Konser itu begitu meriah, tetapi hatiku justru tenggelam ke dasar yang paling dalam.

Teman-teman sekelas semuanya pergi menonton konser Natsu. Aku sempat bilang akan menyusul nanti.

Namun, aku tak punya keyakinan untuk bisa bersikap seperti biasa, dan akhirnya aku malah berakhir di tempat seperti ini.

Sungguh manusia yang lemah. Air mata yang terus berjatuhan tak kunjung berhenti. Terdengar bunyi pintu atap terbuka. Tanpa perlu mendongak pun, aku sudah tahu siapa orang itu.

Seseorang itu duduk di sampingku tanpa berkata apa-apa. Dari dulu memang selalu begitu.

Saat aku menangis, saat aku merasa terpuruk, hanya Tatsu yang selalu mencariku dan tetap berada di sisiku.

"......Konsernya, tidak apa-apa kalau tidak menonton?"

Aku berusaha memaksakan diri mengeluarkan suara. Tatsu terdiam sejenak sebelum akhirnya membuka mulut.

"Jangan pedulikan aku. Menangislah kalau kamu ingin menangis."

Karena Tatsu berkata begitu, air mata yang tadi sempat kutahan kembali meluap dari sudut mataku.

Isak tangis lolos dari mulutku. Di sela-sela itu, lagu Natsu dan yang lainnya masih terdengar.

Lagu yang Natsu ciptakan untuk Hikarin. Lagu tentang seorang anak laki-laki pengecut yang mencoba mengungkapkan cintanya.

Lagu yang bagus. Benar-benar bagus. Lagu terbaik di dunia ini. Aku tak tahu mengapa mendengar lagu yang begitu indah ini justru membuat air mataku semakin tak terbendung.

Jika aku tak memiliki rasa cinta ini, apakah aku bisa menikmati konser mereka dengan murni?

Namun, aku merasa jika tanpa rasa cinta ini, lagu tersebut mungkin tidak akan menyentuh hatiku sedalam ini. Kalau begitu... aku bersyukur memiliki perasaan ini.

Ini adalah cinta yang tak akan terwujud. Meskipun begitu, aku bersyukur pernah mencintaimu.

Aku bersyukur memiliki kepekaan yang membuatku bisa memahami bahwa lagu ini memang benar-benar indah.

Maafkan aku, Natsu. Padahal kita sudah berjanji kalau aku akan menonton konsermu di barisan paling depan.

Andai saja aku adalah orang yang lebih kuat. Aku ingin bisa melihat konsermu dengan senyuman.

Namun, aku lemah. Bagiku yang lemah ini, dirimu yang sekarang tampak terlalu menyilaukan.

Aku tidak bisa menjadi sepertimu.

Aku berdoa agar kamu bahagia. Agar aku bisa membuang jauh-jauh rasa yang tertinggal ini.

Meski saat itu nanti yang berada di sampingmu bukanlah aku, itu tidak masalah.

Aku akan mencoba untuk bisa mengatakan hal itu dengan yakin.

Lain kali saat aku berbicara dengan Natsu, aku akan menunjukkan senyuman dan menyampaikan hal itu.

......Tetapi untuk saat ini saja, biarkanlah aku seperti ini sedikit lebih lama lagi.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close