Chapter 1
Rencana Remaja Pelangi
“…Hah?”
Aku sama sekali
tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Baru saja aku
sedang duduk santai di area merokok sebuah izakaya, menikmati rokok. Tapi
sekarang… entah bagaimana aku sudah berada di rumah orang tuaku.
Aku mengucek mata
berkali-kali dan mencubit pipiku berkali-kali. Tetap saja, ini jelas kamar
lamaku di rumah orang tua.
Aku mulai
tinggal sendiri di Tokyo sejak masuk universitas. Izakaya tadi juga berada di
dekat stasiun terdekat, jadi jelas masih di Tokyo.
Sementara
rumah orang tuaku ada di Gunma. Kira-kira dua jam naik kereta.
Kalau aku
tiba-tiba kembali ke apartemen, masih masuk akal. Tapi ini rumah orang tua. Ini benar-benar aneh.
Aku bahkan tidak punya ingatan perjalanan pulang sama sekali.
Lagipula, aku
tidak minum sampai mabuk berat sampai-sampai kehilangan ingatan.
Rasanya seperti
aku melakukan teleportasi. Meski sudah berusaha mengatur pikiran, aku tetap tidak mengerti.
Mungkin
sebaiknya bertanya pada orang tua dulu?
Begitu
aku berniat bangkit dari tempat tidur——
Tubuhku
langsung kehilangan keseimbangan dan ambruk ke lantai. Saat mencoba berdiri, kepalaku terasa pusing
berat.
…Apa ini?
Ini
berbeda dengan mabuk biasa. Rasanya seperti mabuk kendaraan, mual dan tidak
nyaman.
Tubuhku
tidak mau bergerak seperti yang kuinginkan. Seolah-olah jiwa aku ini dimasukkan
ke tubuh orang lain.
“Ada suara besar
tadi, kamu nggak apa-apa?”
Pintu kamar
terbuka dengan suara geser yang keras. Sebuah suara jernih yang sangat kukenal
masuk ke telingaku.
Suara yang sangat
familiar. Itu suara adik perempuanku. Karena jarang pulang, sudah sekitar satu
tahun ya?
Sambil menahan
mual, aku menoleh ke arah suara itu. Dan di sana berdiri adikku yang mengenakan seragam SMP.
“…Hah?
Cosplay?”
Keterkejutanku
begitu besar hingga mualku langsung hilang entah ke mana.
“…Hah? Kakak
ngomong apa sih?”
Adikku, Haihara
Namika, seharusnya sudah mahasiswi tahun kedua sekarang. Mana mungkin dia
memakai seragam SMP.
Tapi
penampilannya jelas-jelas adalah Namika saat masih SMP.
Rambut yang
seharusnya sudah dicat pirang dan dipermanen justru kembali hitam lurus. Wajah
yang seharusnya sudah dewasa malah kembali polos, tubuhnya lebih kecil, dan
dada yang dulu sudah berkembang pun kembali rata.
Lagipula, sejak
SMA Namika memanggilku “Kakak” bukan “Onii-chan” yang imut-imut lagi. Panggilan
itu sudah dia tinggalkan sejak akhir SMP.
――Mungkin saja…
Aku teringat
permintaan yang kukatakan pada Tuhan tepat sebelum situasi ini terjadi.
“Na, Namika…
tahun ini tahun berapa?”
“Hah? 2014,
kenapa?”
Bukan. Tahun ini
seharusnya 2021.
Salah satu-dua
tahun masih bisa dimaklumi, tapi tujuh tahun? Mustahil.
Tapi wajah Namika
terlihat biasa saja. Dia memiringkan kepala seolah bertanya “kenapa bertanya
hal yang sudah jelas?”
Kalau ini benar,
berarti waktu telah mundur tujuh tahun…?
Ini gila.
Meski berpikir
begitu, aku tetap berdiri di depan cermin di kamarku.
“Hei hei…”
Di sana berdiri
aku yang jelas-jelas versi SMP.
Bisa dilihat dari
penampilan. Dulu aku hanya memakai kacamata saat SMP. Sejak SMA aku mulai
sedikit peduli dengan penampilan.
Ini adalah
penampilan sebelum itu.
Rambut panjang
acak-acakan menutupi mata, kacamata jelek, dan perut yang agak buncit.
Kalau dilihat
lagi, benar-benar menjijikkan. Aku bahkan tidak mau mengakui bahwa ini adalah
diriku di masa lalu.
…Namika bilang
tahun 2014. Saat itu aku kelas 3 SMP atau kelas 1 SMA. Penampilan ini cocok
sekali.
Lagipula Namika
juga jelas versi SMP-nya.
Hanya ada satu
kemungkinan: waktu telah berputar mundur.
Awalnya kukira
ini prank, tapi tidak mungkin ada yang melakukan lelucon sehebat ini.
Lagipula, tidak
ada untungnya buat mereka mengerjaiku seperti ini, dan aku tidak punya teman
yang mau repot-repot melakukannya.
Aku mencubit pipi
berharap ini mimpi, tapi rasa sakit ini nyata.
“Onii-chan… kamu
kenapa?”
Namika menatapku
dengan pandangan curiga. Namika di masa ini masih jujur dan baik. Meski tetap
seperti adik kakak biasa. Berbeda dengan saat SMA yang jelas-jelas membenciku.
“…Nggak apa-apa,
cuma badan lagi nggak enak aja.”
Bukan bohong.
Sensasi kembali ke tubuh lama ini memang membuatku tidak enak badan. Rasa mual
seperti mabuk kendaraan ini kapan hilangnya ya. Meski sudah agak mendingan dari
tadi.
“Hmm, kamu
demam?”
“Kayaknya nggak. Nanti
juga sembuh sendiri.”
“Mau graduation ceremony sudah selesai, untung ya. Sana tidur yang benar.”
Namika
berkata begitu lalu berbalik. Dia berjalan cepat kembali ke kamarnya.
Aku menutup pintu
dan duduk di tepi tempat tidur.
…Begitu
sendirian, aku mulai bisa berpikir lebih tenang.
Tapi
meski dipikir secara logis, situasi ini tetap tidak masuk akal.
Kembali
ke masa lalu. Kalau di anime atau manga, fenomena ini disebut Time Leap.
Sulit
dipercaya ada fenomena ajaib seperti ini, tapi aku benar-benar mengalaminya.
“…Haa.”
Aku menghela
napas panjang dan mengubah pola pikir.
Memikirkan
hal yang tidak kumengerti tidak akan membuatnya menjadi jelas. Lagipula
informasinya masih terlalu sedikit. Mualnya juga sudah agak reda, sebaiknya aku
mulai mencari tahu.
Aku
melihat sekeliling kamar. Pertama yang terlihat adalah jam dinding.
10 Maret. Pukul
17.06.
10 Maret… ya,
hari upacara kelulusan. Dari ucapan Namika tadi, sepertinya “aku sekarang” ini
masuk ke tubuh ini tepat setelah upacara kelulusan dan pulang ke rumah.
Selanjutnya
mataku tertuju ke rak buku. Seperti dugaan, hanya ada komik dan novel lama.
Begitu
ya. Kalau aku tidak kembali ke masa depan, berarti aku tidak bisa membaca
kelanjutan series yang sedang kucari selama tujuh tahun. Sebagai otaku berat,
ini cukup menyakitkan.
Tentu
saja, anime, manga, dan novel yang ada hanyalah yang rilis tujuh tahun lalu.
Aku
mengalihkan pandangan dari fakta yang memberatkan itu, lalu mataku tertuju pada
smartphone di meja.
Model
yang sudah sangat jadul. Ini smartphone yang baru dirilis saat itu, yang
pertama kali kubeli waktu kelas 2 SMP. Sungguh nostalgia. Dulu aku pakai sampai
kuliah.
Aku
mengambilnya dan memasukkan password yang sama seperti sekarang. Ternyata
langsung terbuka. Untunglah aku bukan tipe yang suka ganti password.
Aku mencoba
membuka aplikasi chat RINE. Di daftar teman hanya ada Namika dan Mama.
Papa masih ngotot
pakai ponsel biasa saat itu. Nostalgia sekali.
Lalu aku membuka Twister,
aplikasi SNS bergaya blog. Akun yang hanya untuk melihat, penuh follow akun
resmi anime, manga, novelis, dan ilustrator kesukaanku.
Ada juga
beberapa game sosial jadul. Oh iya, Paztora sedang di puncaknya waktu
itu. Dulu aku ketagihan, tapi pas kuliah sudah tidak main lagi.
“Fumu…”
Aku meletakkan
smartphone kembali ke meja.
Di atas meja ada
tumpukan buku pelajaran dan catatan SMP, serta ijazah kelulusan yang diletakkan
sembarangan.
Saat aku sedang
menatap ijazah yang masih baru itu, terdengar suara pintu depan terbuka.
Pasti Mama pulang
kerja.
Keluarga kami
berdua orang tua bekerja, Papa sedang tugas di Tohoku.
“Natsuki, kamu di
rumah? Selamat kelulusan! Maaf Mama nggak bisa datang ke upacara. Kerjaannya
numpuk terus di saat seperti ini… eh, kok wajahmu pucat? Kamu sakit?”
Begitu membuka
pintu kamar, Mama langsung bicara tanpa henti.
Masih sama
seperti biasa. Melihat Mama yang sama sekali tidak berubah meski sudah tujuh
tahun, entah kenapa aku merasa lega.
“Sedikit. Boleh
tidur sampai makan malam?”
“Ya ya. Sudah cek
suhu? Cold sheet-nya mana ya…”
“Nggak usah
terlalu dipikirin.”
Aku melambaikan
tangan mengusir Mama yang memang suka khawatir berlebihan.
Badanku memang
benar-benar tidak enak, ditambah kebingungan yang membuatku lelah. Begitu membaringkan diri di tempat
tidur, rasa kantuk semakin datang. Aku tidak melawannya dan menyerah pada
gelombang itu.
*
Saat
terbangun, aku masih belum kembali ke masa depan.
Sepertinya
ini benar-benar bukan mimpi. Rasa tidak nyaman di tubuh sudah agak berkurang.
Karena hari
kelulusan, makan malam buatan Mama lebih mewah dari biasanya. Mungkin aku
pernah mengalaminya, tapi detail tujuh tahun lalu tidak kuingat satu per satu.
Aku menceritakan
ingatan samar-samar tentang upacara kelulusan kepada Mama, lalu kembali ke
kamar.
Melihat
cermin sekali lagi, di sana memang berdiri sosok yang sangat mewakili seorang
introvert. Diriku sebelum
masuk SMA.
…Mencari alasan
kenapa ini terjadi tidak akan ada gunanya. Toh aku tidak mungkin mengerti.
Jadi sebaiknya
aku fokus pada hasilnya.
Nyatanya, aku
sekarang telah kembali ke dunia tujuh tahun lalu.
Artinya, mulai
hari ini aku akan menjalani hidupku sekali lagi.
Masa SMA
yang dulu gagal, kali ini aku ulangi.
――Kalau saja
bisa, aku ingin kesempatan untuk menjalani masa remaja itu sekali lagi.
Itu yang
kuharapkan pada Tuhan. Sebaiknya aku anggap permintaanku terkabul.
Aku tidak
mau lagi menyeret penyesalan masa muda. Maka kali ini, aku akan serius menjalani masa remaja.
Aku akan sukses
melakukan high school debut dan mengubah masa muda yang kelabu menjadi pelangi
yang berwarna-warni.
Di depan
cermin, aku bersumpah pada diriku sendiri.
*
Hari ini adalah
10 Maret, hari upacara kelulusan SMP. Upacara masuk SMA diadakan pada 8 April.
Ada libur musim
semi sekitar satu bulan. Meski agak pendek, aku akan memanfaatkannya untuk
merombak diriku sendiri.
Dulu aku memang berniat high school debut, tapi penampilanku
hanya setengah-setengah. Hanya kurus sedikit dan ganti kacamata ke contact
lens. Hasilnya biasa saja.
Makanya,
pertama-tama aku harus memperbaiki penampilan. Setidaknya tidak akan berubah ke arah yang
buruk. Orang bilang penampilan itu sembilan puluh persen, kan.
Untung
sekali time leap ini tidak terjadi tepat sebelum upacara masuk. Kalau hanya
merapikan penampilan, beberapa hari sudah cukup. Tapi untuk mengubah tubuh
gemuk ini, aku butuh setidaknya satu bulan.
Maka dari itu,
sejak hari itu aku mulai lari-lari di sekitar rumah.
Tubuh yang
kekurangan olahraga ini cepat lelah, tapi aku tidak punya waktu untuk
santai-santai. Aku lari sampai batas hampir pingsan, pulang sambil banjir
keringat, lalu tidur seperti mayat setiap hari.
Pada Mama aku
jujur bilang sedang diet, dan beliau mau membantu mengatur makanan.
Pagi hari aku
lari sampai mau ambruk, istirahat, lalu lari lagi. Siang dan sore aku
latihan otot. Push-up, sit-up, back extension, squat, dan lain-lain. Aku ulangi beberapa set dengan
istirahat dan stretching di antaranya. Jumlah repetisinya semakin bertambah
tiap harinya.
Karena
tidak ada yang harus dilakukan, aku mencurahkan seluruh hari untuk diet.
*
Setelah tiga
minggu menjalani rutinitas itu, berat badanku sudah turun lima belas kilo.
Bahkan sempat turun sampai dua puluh kilo, tapi otot mulai terbentuk terlihat
jelas dan berat badan malah naik lagi.
Berdiri
di depan cermin, tujuanku tercapai dengan sempurna.
Tiga
minggu lalu aku hanya seorang gemuk yang agak besar, sekarang tubuhku terlihat
tinggi dan ramping.
Memang dari dulu
tinggi badan adalah satu-satunya kelebihanku.
Setelah itu, Mama
yang senang melihat perubahanku merekomendasikan gym. Aku pun mendaftar.
Menggunakan mesin latihan dan kolam renang membuat latihan jadi lebih efisien.
Belum sampai
level berotot banget, tapi dada semakin bidang, perut mulai terbentuk six-pack,
dan otot di lengan serta kaki pun mulai terlihat tebal. Mungkin bisa disebut
lean macho.
…Awalnya berat,
tapi di tengah jalan latihan otot malah jadi menyenangkan. Aku sudah jauh
menyimpang dari tujuan diet semula… malah rasanya sudah melewati tujuan itu.
Ya, sudahlah. Ini
bukan hal buruk kok.
Terlalu
berotot juga tidak enak sih.
Pokoknya, karena
kesibukan itu, tanpa terasa tinggal dua hari lagi menuju upacara masuk SMA.
Pembentukan tubuh
sudah berhasil, tapi penampilan masih belum rapi.
Maka aku
buru-buru mulai persiapan.
Pertama aku ambil
tabungan yang tersimpan di dasar laci, lalu beli contact lens.
Ganti kacamata ke
contact lens adalah langkah standar high school debut. Kalau mau kesan intelek
sih boleh pakai kacamata, tapi kacamata memang tidak cocok untukku.
Begitu memakai
contact lens yang baru, kesanku langsung berubah jadi seperti atlet.
Tidak buruk.
Rambut masih acak-acakan dan terlalu panjang, tapi tubuhku sudah cukup
mengkompensasi.
Selanjutnya ke
salon. Karena selera aku jelek soal ini, lebih baik menyerahkan ke ahli di
salon bagus. Aku pun pergi ke salon terkenal di depan stasiun.
Sepuluh ribu yen
adalah harga yang mahal untuk anak SMA, tapi hasilnya sempurna.
“Ooh…”
Kesanku berubah
jadi sporty yang bersih dan rapi.
Bahkan ada yang
bisa bilang aku ganteng di level ini.
Jujur, awalnya
aku tidak percaya. Si
penggemar otaku gemuk yang introvert ini bisa berubah sampai segini…
Hari ini saja aku
bisa menerima pujian dari hairdresser dengan tulus.
Tapi untuk
mempertahankan level ini, aku harus set rambut pakai wax setiap hari. Lumayan
repot sih, tapi demi masa remaja terbaik, aku tidak boleh pelit usaha.
Baju masih jelek,
tapi di SMA pakai seragam, jadi nanti saja dipikirkan kalau perlu.
Begitu pulang ke
rumah, Namika yang sedang menonton TV di ruang tamu langsung membulatkan
matanya.
“Onii-chan… kan?”
“Ya iyalah.
Gimana menurutmu?”
“…Nggak jelek
sih? Entahlah.”
Saat aku tanya
langsung, dia malah mengalihkan pandangan… tapi sikap seperti ini justru
artinya Namika sedang memuji. Aku tahu dia bukan tipe yang jujur, jadi kalau
memuji biasanya pura-pura tidak peduli.
“Wah, Natsuki!
Kamu jadi keren banget!”
Mama yang baru
pulang kerja juga memuji, sampai aku kesusahan untuk mengalihkannya.
Dari reaksi
keduanya, sepertinya bukan hanya perasaanku saja. Aku memang jadi lebih ganteng.
Merasa
percaya diri, aku mencoba tersenyum lebar di depan cermin. Padahal bayanganku
adalah senyum segar yang menyenangkan, tapi yang keluar malah senyuman mesum
yang menyeramkan.
…Sepertinya aku
juga harus latihan senyum.
*
Keesokan harinya
aku menghabiskan waktu dengan melihat website “Tips High School Debut” dan
membeli perlengkapan sekolah. Tanpa terasa, hari upacara masuk SMA pun tiba.
Malam sebelumnya
aku tegang sampai susah tidur. Sekarang mataku masih segar, tapi kurang tidur.
Memikirkan bahwa
mulai sekarang adalah pertandingan sesungguhnya, wajar kalau tegang.
Satu bulan sejak
time leap adalah periode persiapan.
Tujuanku adalah
mengubah masa muda yang kelabu menjadi pelangi yang penuh warna.
Mulai hari ini
adalah hari H. Aku akan mengulang masa remajaku.
Tuhan tidak
mungkin mengabulkan permintaanku dua kali, jadi aku harus bergerak dengan
hati-hati agar tidak gagal.
…Uh, perutku jadi
sakit.
…Sudah, tenang. Aku sudah mempersiapkan segalanya
dengan sempurna. Santai saja.
Jam baru
menunjukkan pukul enam pagi, tapi aku tidak mungkin tidur lagi. Mending lari
pagi.
Aku
berganti baju olahraga lalu keluar rumah.
Langit
biru yang cerah terbentang, angin musim semi yang sejuk terasa nyaman di hati.
Setelah pemanasan
ringan, aku mulai berlari.
Dulu hanya
beberapa putaran di sekitar rumah, tapi sekarang jarak lariku sudah jauh lebih
panjang.
Tentu saja hari
ini upacara masuk, jadi aku hanya lari secukupnya untuk melepaskan ketegangan.
Meski begitu, jaraknya pasti sepuluh kali lipat dari awal aku mulai lari.
Sambil
mendengarkan lagu baru band yang akan debut lewat earphone, aku terus
menggerakkan kaki.
Perumahan
tempat tinggalku sepi dan sejuk, jarang ada mobil atau orang lewat. Apalagi
pagi-pagi sekali, sangat cocok untuk lari.
Setelah
mengelilingi perumahan sekali, aku berhenti di taman dekat situ. Selain untuk istirahat, alasan utamanya
adalah——
Bunga sakura yang
bermekaran penuh di sekeliling taman itu sangat indah.
Ini adalah tempat
rahasia yang hanya diketahui warga sekitar.
“…Natsuki?”
Saat aku sedang
asyik menikmati bunga sakura, ada suara memanggil namaku dari belakang.
Aku menoleh. Di
sana berdiri seorang gadis cantik berambut hitam. Wajah yang sudah sangat
kukenal sejak dulu.
“…Miori. Sudah
sejak upacara kelulusan ya.”
Motomiya Miori.
Gadis yang
sekolah SMP bersamaku… bahkan sejak TK dan SD juga satu sekolah.
Bisa dibilang dia
adalah teman masa kecilku.
Bukan tetangga
dekat atau keluarga yang akrab, tapi tetap.
Kalau ada teman
masa kecil ala anime seperti ini, masa mudaku pasti tidak akan kelabu.
Masa TK sampai SD
kami dekat, tapi sejak SMP kami mulai menjauh. Setelah kuliah aku bahkan tidak
tahu dia sedang apa. Hubungan kami hanya sampai situ.
“Eh, itu…
somehow… kamu berubah banget ya?”
Miori menggosok
matanya dengan tangan, lalu menatapku lekat-lekat.
“Berapa kali pun kamu lihat, tetap sama kok?”
"Jangan-jangan,
kamu sedang membayangkan penampilanku saat memakai kimono?"
"……Yah,
begitulah."
"Aku cuma
mengira ini mimpi."
"Kalau
sampai dianggap mimpi, hebat juga kamu bisa langsung mengenali aku……?"
"Habisnya,
kamu mirip dirimu yang dulu. Waktu SD kan kamu kurus, terus nggak pakai
kacamata juga. Tapi tetap saja, ada apa denganmu? Perubahanmu drastis banget
sampai aku curiga kamu pakai obat-obatan terlarang. Padahal baru sebulan
berlalu sejak upacara kelulusan."
"Aku lagi
senggang pas liburan musim semi, jadi aku pakai buat latihan otot. Sekarang
juga aku lagi istirahat setelah lari."
"Hmm……"
Miori
memperhatikanku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan menyelidik.
"……Rasanya
ini sudah bukan level biasa lagi. Kamu mau melakukan debut SMA, ya?"
Rencanaku
langsung terbongkar dalam sekejap, membuat wajahku berkerut masam.
"……Apaan
sih. Emangnya nggak boleh?"
"Nggak
salah, kok. Malah menurutku bagus, yap."
Miori mengangguk
beberapa kali, lalu melanjutkan kalimatnya.
"Lagian
selama ini kamu emang kedodoran banget, sih. Terus juga terlalu gendut. Padahal
modal tampangmu nggak jelek-jelek amat, jadi kalau niat pasti bisa. Ternyata
tebakanku memang nggak pernah salah~"
Kata-katanya
menusuk tepat ke lubang hatiku yang paling dalam.
Bukannya
menghargai usahaku yang sekarang, dia malah sibuk menghujat masa laluku.
"Ah, kalau
aku lagi ajak anjingku jalan-jalan. Biasanya memang jam segini. Iya kan,
Ku-chan?"
Miori menjelaskan
alasannya berada di sini padahal aku sama sekali tidak bertanya. Kelihatan
jelas kali, jalang.
Mendengar suara
Miori, anjing Toy Poodle putih di kakinya langsung merespons dan menggoyangkan
ekornya dengan ceria.
"Kamu
bangun pagi banget, ya."
Saat ini jam
menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Bagi aku yang biasanya, ini adalah jam
tepat saat aku baru terbangun.
"Klub
olahraga di SMA kan ada latihan pagi. Jadi aku mulai membiasakan diri bangun
cepat."
"Kalau
tidak salah, kamu ikut klub basket, ya?"
"Benar
banget. Tentu saja di SMA nanti aku juga mau bergabung."
Miori
mengepalkan tangannya sambil pamer otot lengan. Untuk ukuran perempuan, dia punya fisik yang cukup
kuat.
Tapi tetap saja,
setiap gerak-gerik-nya terasa sangat feminin. Berbeda jauh dengan dirinya saat
masih kecil yang tomboi bukan main. Mau seimut apa pun dia sekarang, kesanku
terhadap Miori sebagai bos bocah saat kecil dulu tidak akan pernah hilang.
"……Entah
kenapa, kamu juga banyak berubah, ya?"
"Eh, benarkah? ……Yah, pas SMP kita kan nggak pernah
ngobrol sama sekali. Nggak pernah sekelas, lagian Natsuki kan nggak punya
teman, jadi nggak ada kesempatan buat berinteraksi."
"Berisik ah."
Aku juga tidak bermaksud jadi cowok kuper sendirian secara
sukarela.
Begitu aku mengerucutkan bibir kesal, Miori langsung menutup
mulutnya sambil tertawa cekikikan.
"Gara-gara itu, kesanmu tentangku masih tertahan di
masa SD, kan? Sayang sekali, Miori-chan yang keren dan kamu sukai dulu sudah
tidak ada lagi sekarang~ Maaf, ya?"
"Keren? Kamu
dulu cuma bocah ingusan, tahu."
"Siapa yang
kamu sebut bocah! Aku cuma agak tomboi sedikit!"
Melihatku tertawa
mengejek, Miori langsung menggembungkan pipinya kesal.
Tapi kalau
dipikir-pikir, ternyata kami bisa mengobrol dengan normal sesantai ini.
Padahal selama
tiga tahun di SMP (ditambah tujuh tahun bagiku), kami sama sekali tidak pernah
bicara, jadi aku mengira suasananya akan jauh lebih canggung.
Tidak, kalau aku
adalah diriku yang dulu, aku pasti sudah menciut karena aura normie
Miori dan memilih untuk menghindar.
Mungkin karena
sekarang usia mentalku sudah lebih tua, aku jadi bisa menghadapinya dengan
tenang tanpa rasa takut.
"……Ngomong-ngomong, Natsuki masuk SMA mana?"
"Eh, kamu
nggak tahu?"
"Mana
mungkin tahu. Kita kan hampir nggak pernah ngobrol."
Benar juga, sih.
Karena aku tidak
punya teman, namaku tidak akan pernah masuk ke dalam jaringan informasi
pertemanan Miori.
Target
kelulusanku adalah sekolah unggulan dengan nilai kelulusan yang cukup tinggi di
prefektur ini, sekaligus memiliki kegiatan klub yang sangat aktif.
Hanya saja
jaraknya agak jauh dari daerah rumah kami, jadi murid dari SMP yang sama sangat
sedikit yang mendaftar ke sana.
Bahkan tahun ini,
kabarnya hanya ada dua orang saja.
Lebih
spesifiknya—
"Ryoumei.
SMA Ryoumei."
"Eh, tunggu,
hah!? Kamu satu sekolah denganku!?"
——Orang itu
adalah aku dan Miori.
Tentu saja kami
tidak merencanakannya bersama, ini benar-benar sebuah kebetulan murni.
"Ah, sekadar
info, kalau aku sih sudah tahu. Soalnya aku dengar anak-anak kelas
merumorkannya."
"Ih,
kenapa nggak billing dari awal!"
"Mau
billing dari awal gimana, kita kan nggak punya kesempatan buat ngobrol."
"……Ngomong-ngomong, ada yang lain nggak? Jangan-jangan, cuma aku dan kamu?"
"Harusnya
kamu yang lebih tahu soal itu. Aku cuma dengar selentingan angin tentang
pilihan sekolahmu."
Yah, sebenarnya
aku tahu, tapi kalau aku terlalu mendetail nanti malah kelihatan aneh.
"……Setahu
yang kucari, cuma aku sendiri."
"Kalau
begitu, berarti memang cuma kita berdua."
"Ehh…… Yah, nggak apa-apa sih. Tapi kenapa harus Natsuki, coba. Sampai SMA pun
barengan, ini mah namanya sudah sah jadi teman masa kecil sejati. Jujur, agak
malas juga."
"Heh, kalau
mau menjelek-jelekkan orang, lakukan di tempat yang tidak ada akunya
dong."
Mentalku ini
setipis tahu, tahu tidak.
"Lagian,
kenapa kamu sengaja memilih Ryoumei?"
"Kalimat itu
mau kukembalikan mentah-mentah kepadamu, tahu?"
"……Aku cuma
ingin pergi ke SMA yang sekiranya tidak ada orang yang mengenalku dari SMP yang
sama."
Miori
mengernyitkan alisnya heran, tapi tak lama setelah itu dia tampak paham dan
langsung menyeringai jahil.
"Ah~ Jadi
biar pas debut SMA nanti, nggak ada orang dari SMP lama yang bakal merusak
rencanamu, ya?"
"……Ya,
kurang lebih begitu."
"Ahaha,
begitu ya. Tenang saja, kalau
kamu mau aku tutup mulut, bakal kulakukan kok. Aku kan baik hati."
"……Lalu,
kamu sendiri? Aku sudah menjawabnya, lho."
Alasan Miori
memilih Ryoumei tidak ada dalam ingatanku yang lalu.
Soalnya di
kehidupan sebelumnya, aku benar-benar tidak pernah mengobrol dengannya sama
sekali selama di SMA.
"Kamu tahu
nggak? Tim basket putri Ryoumei itu lumayan kuat, lho."
"……Begitu
rupanya, kamu ditarik ke sana, ya?"
Mewajarkan saja,
Miori kan memang ace di klub basket putri saat SMP dulu.
Lagipula, sejak
kecil kemampuan atletiknya memang sudah luar biasa. Pantas saja dulu dia jadi
bos bocah.
"Kurang
lebih begitu~ Pas aku cari tahu, gedungnya baru dan fasilitasnya bagus,
letaknya di depan stasiun, terus nilai kelulusannya juga pas buatku. Jadi
kupikir lumayan oke, minus jaraknya yang agak jauh saja."
"Meskipun
hampir tidak ada anak dari SMP yang sama?"
"Kan aku
tinggal cari teman baru lagi. Nggak kayak kamu, aku punya kemampuan komunikasi
yang oke!"
"Ugh……"
Sebagai seorang
pecundang dalam kehidupan masa muda, aku tidak bisa menyangkal omongannya sama
sekali.
Saat SMP aku
tidak punya keberanian untuk mengobrol dengan siapa pun, dan saat SMA meski
awalnya berjalan lancar, aku kekurangan pengalaman dalam hubungan sosial hingga
akhirnya dibenci karena tidak bisa membaca situasi.
Fakta bahwa aku
bisa mengobrol normal dengan perempuan seumuran seperti sekarang ini
semata-mata karena status kami sebagai teman masa kecil. Kalau aku harus
menyapa perempuan lain yang tidak punya hubungan apa-apa, aku pasti akan sangat
gugup.
"Ngomong-ngomong,
sampai latihan fisik segitunya, apa kamu mau ikut klub olahraga?"
"……Nggak,
untuk sekarang aku belum kepikiran."
Sesaat, aku
terdiam sejenak karena ingatan masa lalu mendadak terlintas di benakku.
Di kehidupan
sebelumnya, demi debut SMA, aku nekat masuk ke klub basket. Waktu itu aku
berpikir kalau mau jadi anak gaul harus masuk klub sepak bola atau basket, dan
karena tubuhku tinggi, aku memilih basket tanpa pikir panjang.
Dan itu adalah
kesalahan besar.
Klub olahraga
reguler saja sudah berat bagi anak yang tidak punya pengalaman sejak SMP,
apalagi aku yang aslinya anggota klub pulang ke rumah dan tidak punya dasar
olahraga sama sekali, jadi aku benar-benar tidak bisa mengikuti latihan.
Akibatnya,
anak-anak klub basket memperlakukanku seperti barang pecah belah yang canggung
didekati, dan setelah aku mulai dibenci di kelas, mereka tidak perlu
berpura-pura lagi hingga tak ada seorang pun yang mengajakku bicara kecuali ada
urusan penting.
Mengingatnya saja
sudah membuatku sangat frustrasi sampai ingin berguling-guling di atas kasur.
"Eh, sayang
banget padahal. Tinggi badanmu kan lumayan, harusnya Natsuki ikut basket
saja."
"Bagi
mantan anggota klub pulang ke rumah sepertiku, bebannya terlalu berat."
"Nggak kok,
kalau punya modal tinggi badan, sisanya pasti bisa dikejar."
Itu tepat sekali
dengan jalan pikiranku saat pertama kali masuk klub basket dulu……
Tapi, karena dulu
aku tidak punya keberanian untuk keluar dan bertahan selama tiga tahun, entah
bagaimana kemampuanku malah jadi lumayan bagus, jadi ucapan Miori mungkin ada
benarnya. Pada akhirnya, masalah utamanya memang cuma ada pada kemampuan
sosialku saja.
……Memikirkan hal
itu malah membuatku makin sedih…… Maafkan aku karena sudah terlahir ke dunia
ini……
Saat aku
tenggelam dalam depresi buatanku sendiri, Miori melirik sekilas ke arah jam
tangannya.
"——Aduh,
kayaknya kita nggak bisa ngobrol lama-lama lagi. Hari ini kan upacara
penerimaan murid baru."
"Benar juga.
Apalagi jarak sekolah kita lumayan jauh."
Meskipun begitu,
jaraknya cuma lima stasiun dengan kereta, jadi perjalanan dari rumah ke sekolah
memakan waktu sekitar satu jam.
"Kalau
begitu, sampai ketemu di sekolah ya~ Ayo jalan, Ku-chan."
Sambil menarik
anjingnya yang sudah menunggu dengan tenang, Miori membalikkan badan dan mulai
melangkah pergi.
Tentu saja ini di
luar dugaan, tapi berkat lari pagi ini, aku bisa membangun kembali hubungan
dengan Miori—satu-satunya orang dari SMP yang sama denganku. Pada titik ini,
sejarah dari kehidupan sebelumnya sudah mulai bergeser.
Sambil
memikirkan hal tersebut, aku pun melangkah kaki untuk pulang ke rumah.
*
Begitu
sampai di rumah, aku langsung mandi, sarapan, lalu berganti pakaian dengan
seragam sekolah baru.
"Wah,
anak Ibu beneran tambah ganteng, ya."
Sambil
mengabaikan pujian Ibu yang terdengar berlebihan, aku melangkah menuju pintu
depan. Akhir-akhir ini Ibu selalu memujiku di setiap kesempatan, mau
bagaimanapun ini rasanya terlalu subjektif khas pandangan orang tua terhadap
anaknya sendiri.
Tepat
saat akan keluar rumah, aku berpapasan dengan Namika.
Namika
menatap penampilanku yang memakai seragam selama tiga detik, lalu bergumam
pelan.
"……Selamat
jalan."
"Ya, aku
berangkat."
Aku mengayuh
sepeda menuju stasiun terdekat, lalu naik ke dalam kereta.
Meskipun Gunma
terkenal sebagai wilayah yang ketergantungan dengan kendaraan pribadi, kereta
di jam seperti ini tetap saja penuh sesak.
Aku rasa Miori
juga naik kereta ini atau kereta sebelum dan sesudahnya, tapi di tengah lautan
manusia seperti ini, rasanya mustahil untuk menemukannya dengan mudah. Lagian
kalaupun ketemu, hubungan kami tidak sedekat itu sampai harus berangkat
bersama.
Meski begitu,
sensasi naik kereta menuju SMA ini rasanya benar-benar membuatku rindu.
Mengingat kembali
hari-hari di mana aku bergoyang di dalam kereta dengan tatapan mata yang mati
membuatku tersenyum kecut.
Saat itulah,
tiba-tiba aku merasakan sebuah pandangan dan langsung menoleh ke arah kiri.
Mataku berpapasan dengan seorang gadis yang mengenakan seragam baru yang sama
sepertiku, dan dia langsung membuang muka dengan cepat. Melihat wajahnya yang
merona merah, setidaknya itu bukan tatapan yang buruk. Seragam yang dikenakan
gadis itu sama dengan seragam SMA Ryoumei milikku.
Kalau aku seorang
normie, mungkin aku akan mengajaknya mengobrol di sini, tapi jujur saja
aku tidak punya keberanian sebesar itu.
Aku adalah tipe
orang yang lebih suka mempersiapkan segalanya dengan matang, lalu bergerak
dengan sangat hati-hati pada awalnya.
Jika diibaratkan
dalam game RPG, aku adalah tipe pemain yang menaikkan level karakternya
melebihi batas kebutuhan sebelum kemudian menyelesaikan dungeon secara perlahan
dan hati-hati. Tapi dulu aku tidak seperti ini, mungkin ini juga salah satu
dampak trauma dari kegagalanku di masa SMA dulu.
Selagi memikirkan
hal-hal bodoh tersebut, kereta akhirnya tiba di stasiun tujuan.
Dari stasiun ini
menuju sekolah hanya memakan waktu sekitar lima menit berjalan kaki.
Waktunya masih
senggang, aku pasti akan sampai sebelum upacara penerimaan dimulai dengan
sangat aman.
Jalan setapak
dari stasiun menuju sekolah dipenuhi oleh deretan pohon sakura yang berbaris
rapi.
Di bawah bunga
sakura yang bermekaran penuh, banyak sekali anak SMA dengan seragam yang sama
sepertiku berjalan beriringan.
——Di antara
mereka semua, mataku tertuju pada satu orang.
"Ah……"
Suaraku lolos
begitu saja tanpa sadar.
Gasis itu sedang
mengulas senyum di tengah-tengah kelompok yang terdiri dari sekitar enam orang.
Rambutnya yang
berwarna kuning kecokelatan dan panjangnya mencapai bahu, aku pernah mendengar
cerita kalau itu adalah warna rambut alaminya. Di bawah rambut itu,
terpahat fitur wajah yang tegas dan cantik jelita. Ditambah lagi, dia
memancarkan aura polos yang menawan.
Bukan cuma aku saja. Sebagian besar orang yang berjalan di
sepanjang jalan ini juga ikut terpesona oleh kehadirannya.
Hoshimiya Hikaori.
Dia adalah tipe gadis yang mampu membuat deretan bunga
sakura yang bermekaran penuh di sekitarnya berubah menjadi sekadar figuran
belaka.
Hoshimiya adalah orang yang membuatku jatuh cinta di
kehidupan sebelumnya, orang yang kutembak…… dan juga orang yang menolakku. Bahkan sampai sekarang, aku tidak bisa
mengatakan kalau perasaan itu sudah hilang begitu saja. Bahkan setelah tujuh
tahun berlalu, aku masih tetap memikirkan tentang Hoshimiya.
Tentu saja, dia
sedang tersenyum dengan penampilan yang persis sama seperti yang ada di dalam
ingatanku dulu.
Detak jantungku
yang kembali berdegup kencang seolah menegaskan kembali bagaimana perasaanku
yang sesungguhnya terhadap gadis itu.
……Masa muda yang
penuh warna pelangi. Tadinya aku berpikir kalau itu adalah tujuan yang sangat
abstrak dan tidak jelas, tapi di sini, aku akhirnya berhasil mendapatkan satu
arah tujuan yang pasti.
Aku ingin disukai
oleh Hoshimiya. Kali ini, aku ingin pacaran dengannya.
Untuk sesaat,
mata kami saling berpapasan.
Namun pada titik
waktu sekarang, kami hanyalah dua orang asing yang tidak saling mengenal.
Aku pun segera
memalingkan muka perlahan agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Saat aku kembali
meliriknya sekilas, ternyata dia masih memperhatikanku, membuat mata kami
kembali beradu untuk kedua kalinya.
Ah——gawat,
sepertinya pihak seberang juga memikirkan hal yang sama.
Dengan ekspresi
wajah yang tampak canggung, dia langsung membuang muka ke arah depan kembali.
"Hikaori,
ada apa?"
"Nggak kok.
Bukan apa-apa. Lagian, bentar lagi kita sampai di sekolah, lho!"
……Rasanya ada
yang aneh.
Sama seperti
kejadian di dalam kereta tadi, mata kami sering sekali berpapasan.
Seingatku di
kehidupan sebelumnya hal seperti ini tidak pernah terjadi.
Aku merasa kalau
pandangan orang-orang tertuju padaku dengan aneh. Apa ada sesuatu yang aneh
yang menempel di tubuhku, ya?
Sambil berjalan,
aku mengeluarkan cermin saku untuk memastikannya…… Hmm, sepertinya tidak ada
masalah apa-apa.
Rambutku sudah
ditata dengan rapi tanpa ada yang terlewat, seragamku juga sengaja dibuat agak
longgar tapi masih dalam batas wajar agar tidak memberikan kesan berantakan.
——Kenapa ya?
Selagi memiringkan kepala heran, aku pun akhirnya tiba di area sekolah.
Untuk sementara
aku melangkah mendekati kerumunan orang yang berkumpul, tampaknya papan
pengumuman pembagian kelas untuk murid tahun pertama sudah dipasang di sana.
Meskipun aku
sudah mengetahuinya dari ingatan masa lalu, tidak ada salahnya untuk
memastikannya sekali lagi.
Mari kita lihat…… Kelas 1-2, Haibara Natsuki. Nah, ini dia ketemu. Kebetulan nama Hoshimiya juga
ada di kelas yang sama.
Aku dan Hoshimiya
memang berada di kelas yang sama saat tahun pertama dan kedua, jadi bagian ini
tampaknya tidak berubah dari kehidupan sebelumnya.
Saat aku melihat
kelas 1-1 di sebelahnya, di sana tertera nama Miori. Bagian ini juga sama
seperti dulu.
Aku juga
memeriksa nama-nama lainnya secara sekilas, sejauh yang bisa kuingat semuanya
persis sama seperti di dalam memoriku.
Karena sudah
berlalu tujuh tahun yang lalu, aku memang tidak mengingat bagian-bagian
detailnya, tapi begitu melihat nama mereka, aku langsung teringat, "Oh,
anak itu toh." Di antara kerumunan orang di sekitarku pun, ada cukup
banyak wajah yang terasa familier.
"——Ah, lihat
deh! Asyik~! Rei juga Tatsu, kita sekelas lagi tahu!"
Tepat saat itu,
di antara kebisingan di sekitar, terdengar suara lantang yang sangat mencolok
dari arah belakangku.
"Nggak usah
teriak-teriak sekencang itu juga aku sudah tahu kali."
"Sudahlah,
Uta kan baru saja masuk sekolah jadi wajar kalau dia sedang bersemangat."
Saat aku menoleh
ke belakang perlahan, di sana ada tiga orang murid dari SMP yang sama sedang
asyik mengobrol.
Bukan
cuma sekadar familier——aku bahkan mengingat detail tentang mereka bertiga
dengan sangat baik. Karena mereka adalah orang-orang yang pertama kali kuajak
berinteraksi saat aku merencanakan debut SMA dulu.
Tiga orang murid
laki-laki dan perempuan yang menjadi pusat perhatian di kelas 1-2. Dengan kata
lain, mereka adalah kaum kasta tertinggi yang sangat kupuja dulu.
"Tatsuya
sendiri juga senang, kan! Kenapa sih sok jual mahal begitu?"
Gadis
yang sejak tadi berteriak heboh itu bernama Sakura Uta.
Dia
menggerakkan tubuhnya yang mungil dengan lincah untuk mengekspresikan rasa hạnh
phúc.
Karakternya
ceria dan penuh energi, wajahnya juga imut, membuat siapa saja yang melihatnya
akan merasa gemas.
"Hah?
Memangnya kenapa aku harus senang karena sekelas lagi denganmu, sih."
Sosok
yang menyangkal dengan suara berat sambil mengerutkan wajahnya dengan kentara
itu bernama Nagiura Tatsuya.
Tinggi
badannya melebihi tinggiku, dengan perawakan tubuh yang kekar dan tegap. Wajahnya tampan, tapi tatapan matanya
tajam dan memberikan kesan yang galak. Jika diringkas dalam satu kata, dia
adalah tipe cowok tampan yang menyeramkan.
Tapi
kenyataannya, dia hanya benci diremehkan mengebihi apa pun, aslinya dia orang
yang seru dan punya kepribadian yang baik.
"Tatsuya
kan memang tipe tsundere. Padahal zaman sekarang hal seperti itu sudah
tidak tren lagi."
Orang
yang menggoda Nagiura dengan suara lembut itu bernama Shirotori Reita.
Dia
adalah cowok tampan berwajah feminin dengan tubuh yang ramping, memberikan
kesan yang berbanding terbalik dengan Nagiura.
Berbeda
dengan Nagiura yang seleranya mungkin terbagi-bagi, Shirotori adalah tipe cowok
yang disukai oleh semua kalangan, terbukti dari banyaknya pandangan siswi di
sekitar yang tertuju padanya saat ini.
Kepribadiannya
ramah dan mudah bergaul, dia juga punya jiwa kepemimpinan yang baik.
Pria yang
paling mendekati sosok 'ideal' yang kuincar saat melakukan debut SMA dulu
adalah Shirotori.
"……Emangnya
pernah ada zaman di mana cowok tsundere itu ngetren?"
"Kamu
masih naif, Uta. Pengetahuanmu tentang manga romantis masih terlalu
dangkal."
"Lagian,
jangan mengobrol pakai kosakata yang tidak kupahami dong. Apaan sih itu?"
"Tatsu
kan memang tidak pernah membaca manga."
"Jangan remehkan aku, ya. Aku pernah baca Two Piece,
tahu."
"Itu kan
karena aku yang meminjamkannya kepadamu. Di kamarmu sendiri tidak ada satu buku
pun, kan."
Saat Shirotori
mengedikkan bahunya pasrah, Nagiura hanya mendengus kesal.
"Berisik
ah——buatku yang penting ada basket saja sudah cukup."
Mungkin karena
menyadari kalau aku sejak tadi memperhatikan mereka, Shirotori pun berinisiatif
menegurku.
"Maaf
ya. Mereka berdua memang agak berisik, kan?"
Aku
sempat terkejut sesaat karena tindakan ini tidak ada dalam ingatan kehidupan
sebelumnya, tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk bersikap tenang saat
meresponsnya.
"Ah, nggak
kok, sama sekali nggak terganggu. Aku cuma mikir kalau kalian kelihatan akrab
banget."
Apa ini karena
aku terlalu intens menatap mereka tadi?
Kalau iya,
berarti aku sudah melakukan kesalahan fatal di awal. Habisnya karena rindu, aku
jadi tidak sengaja memandangi mereka terus.
Tanpa mengetahui
apa yang ada di dalam benakku, Shirotori kembali bertanya dengan nada suara
yang ramah.
"Karena
kami bertiga berasal dari SMP yang sama. Kamu juga masuk kelas 1-2?"
Hebat
juga dia bisa langsung menebak——tapi mengingat aku sejak tadi berdiri diam di
depan papan pengumuman kelas 1-2, tebakan itu memang hal yang wajar, sih.
"Ya. Aku
Haibara Natsuki, salam kenal."
"Aku
Shirotori Reita. Ngomong-ngomong yang bertubuh kecil di sana itu Sakura Uta,
dan yang besar itu Nagiura Tatsuya."
Menyadari kalau
nama mereka disebut, pandangan Nagiura dan Sakura langsung tertuju ke arahku.
Meskipun mereka
mungkin tidak menyadarinya, tubuhku sempat gemetar tanpa sadar. Tatapan mata
Nagiura benar-benar terasa mengintimidasi.
『Nanti dulu,
Natsuki. Maaf ya, aku sudah tidak bisa membelamu lagi. Lagipula——aku sendiri
juga kesal melihat tingkahmu.』
Karena di masa
lalu, Nagiurahlah orang yang secara langsung menohok kegagalanku di depan muka.
Tentu saja yang
salah di sini bukan Nagiura, melainkan aku yang bertingkah berlebihan karena
tidak bisa membaca situasi sekitar dengan baik.
Meski aku sudah
memahami hal tersebut, trauma yang membekas di dalam hati tidak akan bisa
hilang dengan mudah begitu saja.
——Tatapan matanya
yang dulu masih terasa menakutkan bagiku.
"Hebat
banget kamu Reita, baru juga sampai sudah bisa dapat teman baru?"
"Karena
tampaknya kita sekelas, jadi aku berinisiatif menyapanya duluan."
Selagi mereka
berdua asyik mengobrol, aku mengembuskan napas perlahan untuk menenangkan
debaran dadaku.
Dan kemudian,
pandangan Nagiura kembali mengunci sosokku. Dia memperhatikanku dari atas ke
bawah seolah sedang menilai sesuatu.
"Tapi kalau
diperhatikan, bentuk tubuhmu lumayan bagus juga ya. Dulu kamu ikut klub
apa?"
"Maksudmu
saat SMP? Aku tidak ikut klub olahraga apa-apa, kok."
"Eh,
seriusan? Tapi rasanya tubuhmu itu kelihatan terlatih banget, lho."
"Benar juga,
perawakannya mirip seperti anak olahraga."
Mendengar
ucapan Nagiura, Shirotori ikut mengangguk setuju. Syukurlah, hasil dari latihan
fisikku selama ini langsung membuahkan hasil yang manis.
"Akhir-akhir
ini aku memang lagi hobi latihan otot, sih. Mendengar kalian bilang begitu
membuatku senang——ね!?"
Secara
mengejutkan, perutku tiba-tiba diraba-raba oleh seseorang, membuatku luar biasa
kaget.
Saat aku
menundukkan kepala dengan cepat, Sakura yang bertubuh pendek ternyata sudah
berdiri di depanku dengan jarak yang sangat dekat hingga kulit kami hampir
bersentuhan.
"Wah~!
Keren banget, perutmu sampai kotak-kotak begini!"
"Bikin
kaget saja……"
Apakah
seperti ini jarak kedekatan sosial milik kaum normie……?
Kalau
tidak salah, Sakura memang tipe gadis yang tidak terlalu peduli dengan jarak
kedekatan antar lawan jenis hingga sering kali membuat para cowok salah paham.
Padahal
aslinya dia sama sekali tidak tertarik dengan urusan percintaan, dan sering
menolak cowok-cowok yang menembaknya dengan kejam. Benar-benar tipe gadis yang
merepotkan.
"Dengar
ya, Uta. Nggak sopan tahu tiba-tiba memegang perut orang yang baru pertama kali
ditemui."
Sambil
menghela napas panjang, Shirotori memberikan teguran tegas.
"Oh
ya? Maaf ya?"
"Nggak
apa-apa, kok. Aku cuma
sedikit terkejut saja."
"Tapi ini
keren lho! Perutmu sampai robek-robek mirip punya Tatsu!"
"Hah!?
Apa dia selevel denganku!?"
"Nggak
mungkinlah, itu tidak mungkin. Kelihatan jelas kok perbedaannya kalau dilihat sekilas."
Aku
langsung menggelengkan kepala dengan cepat untuk menyangkalnya.
Memang
benar kalau aku punya rasa percaya diri dari hasil latihan fisik selama sebulan
ini, tapi bagaimanapun ini hanyalah otot instan hasil latihan sebulan.
Tentu
saja aku akan kalah telak jika dibandingkan dengan Nagiura. Mengingat dia lebih
tinggi dariku, dan perawakannya juga jauh lebih kekar.
Paling
banter aku cuma punya massa otot yang sedikit lebih banyak daripada Shirotori
yang bertubuh ramping…… ya, kurang lebih selevel itulah.
"Ah,
benar juga. Tadi sudah dikenalkan sih sama Reita, tapi biar lebih sreg aku mau
mengenalkan diri lagi. Aku Nagiura Tatsuya."
"Aku
Sakura Uta! Panggil Uta saja, ya!"
"Aku Haibara
Natsuki. Panggil Natsuki saja tidak apa-apa. Salam kenal."
Meniru gaya
kedekatan Sakura…… tidak, maksudku Uta, aku pun meminta mereka memanggilku
dengan nama depan.
Rasanya dengan
saling memanggil nama depan seperti ini, hubungan kami jadi terasa jauh lebih
akrab.
Menurutku
kepekaan perasaan seperti ini adalah hal yang sangat penting. Langkah kecil ini
bisa mengubah peta pertemananku di kelas baru.
"Kalau
begitu, Natsuki. Kamu juga boleh panggil aku Tatsuya."
"Kalau
situasinya begitu, panggil aku Reita juga ya."
Mereka
berdua langsung menyambut permintaanku dengan cepat. Respons spontan mereka
membuat hatiku sedikit lega.
Bukankah
hanya dengan modal ini saja, hubungan kami sudah jauh lebih baik?
Kemajuan
ini terasa sangat berarti jika dibandingkan dengan kehidupan sebelumnya.
Soalnya
di kehidupan sebelumnya, kami bertiga murni saling memanggil menggunakan nama
belakang. Hubungan kami dulu terasa sangat formal dan kaku.
Hanya
Nagiura saja yang sempat memanggilku dengan nama depan. Itu pun hanya bertahan sampai pertengahan tahun
pertama sebelum akhirnya renggang.
"Uhm…… Tatsuya, Reita, dan Uta, mohon bantuannya,
ya."
Kalau aku lengah sedikit saja, nada suaraku pasti akan
berubah jadi minder. Oleh karena itu, aku berusaha keras untuk membalasnya
dengan sok akrab.
Agar tidak kalah dari aura normie yang dipancarkan
oleh ketiga orang ini, aku pun mengaktifkan skill Refreshing Smile.
Ini adalah hasil
latihan kerasku di depan cermin rumah! Tujuannya agar tidak memunculkan
senyuman menjijikkan khas cowok kuper.
"Nah, karena
acara kenalannya sudah selesai, bagaimana kalau kita jalan sekarang?"
"Upacara
penerimaan murid baru sepertinya juga sudah mau dimulai."
"Ehh~? Malas banget deh kalau harus
mendengarkan pidato panjang lebar dari orang-orang penting."
"Tapi ya
nggak bisa kita bolos begitu saja, kan."
"Tatsu, muka
sangar mirip berandalan begitu tapi omonganmu kok lurus-lurus saja sih."
"Kamu ini
sengaja mau memancing amarahku, ya?"
——Namun
tentu saja, mereka bertiga tidak memberikan reaksi yang spesial terhadap
senyumanku. Hal itu tentu saja merupakan sesuatu yang wajar.
Walaupun
penampilanku sudah berubah, paling maksimal wajahku ini cuma naik pangkat jadi
sedikit di atas rata-rata.
Mendapatkan
respons balik hanya dengan modal melempar senyuman segar itu kan hak istimewa
milik cowok tampan kelas kakap saja.
*
Begitu
berhasil melewati upacara penerimaan murid baru yang membosankan, para murid
baru pun berbondong-bondong melangkah pergi. Mereka semua bergerak menuju ruang
kelas yang sudah ditentukan untuk mereka masing-masing.
Saat itu
pun aku masih bergerak bersama dengan Reita dan yang lainnya. Tapi jujur saja,
mengimbangi langkah mereka itu lumayan sulit bagiku.
Polanya
adalah tiga orang dari SMP yang sama ditambah aku seorang diri. Di saat mereka
bertiga asyik mengobrol akrab, akunya malah sibuk menjaga imej di depan mereka.
Wajar saja sih
kalau pertemuan pertama itu diisi dengan momen saling meraba jarak kedekatan
masing-masing. Tapi fakta bahwa mereka bertiga sudah sangat akrab membuatku
agak kesulitan untuk masuk ke dalam obrolan.
Ujung-ujungnya
obrolan selalu berpusat pada mereka bertiga saja. Mereka hanya sesekali
melemparkan topik pembicaraan kepadaku dengan sewajarnya.
Aku pun harus
merespons dengan jawaban yang aman-aman saja sembari menakar jarak. Aku terus
berpikir seberapa jauh aku boleh ikut campur dalam topik tersebut.
Memang
tidak bisa dibilang canggung secara ekstrem. Namun, harus kuakui kalau suasananya terasa agak
kaku.
……Tapi,
mungkin memang begini jalurnya yang benar.
Hubungan
pertemanan itu kan memang harus dibangun secara perlahan dan bertahap dari
bawah.
Karena ini
pertemuan pertama, wajar saja kalau kami masih sama-sama menjaga jarak.
Tindakan tersebut adalah hal yang sangat alami terjadi.
Kalau di sini aku
mendadak panik lalu berusaha memotong jarak secara instan, hal buruk pasti
terjadi. Aku pasti akan mengulangi kesalahan yang sama seperti di kehidupan
sebelumnya.
"Oh, di
sini, di sini."
Tatsuya bergumam
lirih saat melihat papan penanda kelas. Papan tersebut bertuliskan 'Kelas 1-2'.
Kami berempat
keluar dari koridor yang dipenuhi oleh lautan murid baru. Begitu melangkah
masuk ke dalam kelas, di dalamnya sudah ada sekitar sepuluh orang yang
berkumpul.
Di papan tulis
tampak tertempel selembar kertas berukuran sedang. Kemungkinan besar itu adalah
denah pembagian tempat duduk untuk kami semua.
"Wah,
k-kok ada anak yang cantik banget sih!?"
——Tepat
di saat fokus perhatianku tersedot ke arah bagian depan kelas, Uta mendadak
beraksi. Dia menarik ujung baju seragamku dengan cukup kuat.
Saat aku
melemparkan pandangan ke arah yang ditunjuk oleh Uta, mataku langsung tertegun.
Sosok yang ada di sana adalah sang gadis cantik tiada tara yang sempat kulihat
beberapa saat yang lalu.
"Eh, m-maksudnya…… ditujukan kepadaku, ya?"
Hoshimiya Hikaori mengulas senyum tipis di wajahnya. Raut wajahnya tampak agak salah tingkah
karena menjadi pusat perhatian.
Gadis berambut
hitam panjang yang duduk di sebelahnya tampak bereaksi. Dia tertawa kecil ke
arah Hoshimiya melihat kepolosan temannya itu.
"Kamu
sendiri sadar kan kalau kamu itu anak yang cantik banget?"
Gadis
yang melontarkan pertanyaan bernada menggoda itu bernama Nanase Yuino.
Meskipun
pesonanya agak tenggelam karena tertutup oleh aura Hoshimiya yang terlalu
mendominasi, penampilan fisiknya sendiri sebenarnya sudah sangat luar biasa.
Fitur wajahnya terlihat proporsional dan menarik.
Mata yang
tajam menawan, hidung yang mancung, serta kulit putih bersih tanpa noda setitik
pun.
Untuk
ukuran perempuan dia tergolong tinggi. Bahkan dalam posisi duduk pun aku bisa
tahu kalau kakinya ramping dan jenjang.
Mungkin
lebih tepat jika digambarkan sebagai sosok yang memiliki tubuh semampai. Kesan
yang dipancarkannya terasa lebih ke arah anggun dan cantik ketimbang imut.
"Ha-Habisnya…… mau dilihat bagaimanapun dia kan memang
sedang menunjuk ke arahku."
Hoshimiya yang dipojokkan oleh Nanase seperti itu langsung
membalas dengan wajah yang merona merah padam.
"Benar
banget! Memang kamu orangnya!"
Entah sejak kapan
Uta sudah berjalan memotong ruangan. Dia kini sudah berada di dekat tempat
duduk Hoshimiya dan temannya.
Tatsuya menghela
napas panjang melihat tingkah temannya itu. Dia pun segera melangkah menyusul
di belakangnya untuk mengawasi.
Reita dan
aku pun tidak tinggal diam di tempat. Kami berdua ikut berjalan mengekor di
belakang mereka.
"Wahh,
dilihat dari dekat pun ternyata memang luar biasa cantik……!"
"Ah,
terima kasih……?"
Uta semakin
memotong jarak di antara mereka. Dia terus menyudutkan Hoshimiya yang hanya
bisa melempar senyum kecut ke arah jendela.
"Rasanya
ingin kujadikan hak milik!"
"Eh, k-kalau
itu agak berlebihan tidak sih?"
"Sudah Uta,
sampai di situ saja. Dia kelihatan ketakutan begitu, lho."
Reita
dengan mantap memegang pundak Uta yang terus merangsek maju. Dia kemudian menarik gadis mungil itu
untuk menjauh dari Hoshimiya.
Waw, meskipun
mereka memang berteman akrab, hebat juga ya dia bisa menyentuh tubuh lawan
jenis secara alami begitu. Apakah pemikiran norak seperti ini muncul karena
mental kuperku yang mendominasi?
Uta sendiri
tampak tidak peduli sama sekali dengan tindakan Reita. Dia tetap bergumam lirih
dalam posisi terkunci oleh lengan Reita.
"Habisnya,
dia beneran cantik banget……"
"Fufu,
benar kan. Hikaori ini memang murid paling populer di SMP kami dulu, lho."
"Refu-chan, jangan bicara begitu dong…… Murid paling
populer apa coba, aku kan bukan idol."
"Hee~!
Berarti kalian berdua berasal dari SMP yang sama, ya?"
"Benar
sekali. Kami dari SMP Kasai. Kalau kalian?"
"Kami
bertiga dari SMP Ooshima! Ah, tapi cuma Natsu sendiri yang beda!"
Topik pembicaraan
mendadak dilemparkan kepadaku secara instan.
Menjadi pusat
perhatian di antara lima orang yang dipenuhi oleh kumpulan cowok tampan dan
cewek cantik sukses membuatku merasa sangat gugup.
"Ah, kalau
aku dari SMP Mizumi. Jaraknya agak jauh dari SMA ini."
"SMP Mizumi kalau tidak salah…… daerah Takasaki,
ya?"
"Ya. Well, kalau mau bicara detailnya sih agak
meleset sedikit, tapi kasarnya bisa dibilang daerah Takasaki."
Because SMA Ryoumei terletak di daerah Maebashi, maka
mayoritas murid di sini berasal dari SMP di Maebashi.
Sekolah asal kelompok Uta dan Hoshimiya termasuk dalam
kategori tersebut.
Mengingat SMP Mizumi tempatku bersekolah dulu terletak di
daerah pinggiran yang lebih jauh, wajar saja kalau ingatan Reita agak
samar-samar.
Tapi kalau ada yang menganggap seluruh Gunma adalah daerah
pinggiran, aku juga tidak bisa membantah.
"Berarti
kamu berangkat ke sekolah naik kereta?"
"Ya.
Lagipula akses ke Ryoumei pakai kereta kan memang gampang banget."
"Apalagi
letak sekolahnya tepat di depan stasiun. Aku dan Hikaori juga rencananya mau
berangkat naik kereta."
"Kalau
kami bertiga sih naik sepeda. Soalnya rumah kami dekat dari sini."
Tatsuya menyahut
pertanyaan tersebut dengan santai. Di sebelahnya, Nanase mengangguk setuju
sambil membalas ucapan Tatsuya.
Mungkin karena
mengira kalau aku tidak punya gambaran tentang peta wilayah di sekitar sini,
Reita pun berinisiatif membantu. Dia dengan ramah memberikan penjelasan
tambahan untukku.
"SMP Ooshima
itu letaknya dekat sekali dengan Ryoumei. Jaraknya paling cuma lima menit kalau
naik sepeda."
"Ah, begitu
ya. Wah, kalau itu sih bikin iri banget."
Sebenarnya aku
sudah tahu fakta itu sejak awal. Tapi, aku berpura-pura terkejut seolah-olah
ini adalah pertama kalinya aku mendengar informasi tersebut.
Karena di
kehidupan sebelumnya pun, aku yang berada di titik waktu ini memang belum
mengetahui informasi tersebut. Lebih aman jika kapasitas pengetahuanku
disesuaikan dengan standar kehidupan yang sebelumnya agar tidak memicu
keanehan.
"Eh eh,
boleh tahu nama kalian tidak? Dari obrolan tadi aku sudah bisa menebak sedikit
sih, tapi biar lebih mantap saja!"
Di titik inilah
Uta akhirnya mengambil inisiatif pembicaraan. Dia melemparkan topik mendasar
yang sedari tadi terlewat oleh kami semua.
"Ah, iya
benar juga. Aku Hoshimiya Hikaori——"
"——Gadis
tercantik nomor satu di sekolah, hobinya membaca buku dan menonton film, lalu
kegiatan klubnya saat SMP dulu adalah klub sastra."
"Benar…… eh bukan! Aku bukan gadis tercantik!"
Hoshimiya
langsung memotong kalimatnya dengan cepat.
Dia
membalas protes sambil memegang lengan Nanase yang sengaja menyela untuk
menggoda dirinya.
"……Tapi
kalau dibilang bukan gadis cantik rasanya agak terlalu memaksakan tidak
sih?"
Ah,
gawat. Kalimat yang ada di dalam benakku refleks lolos begitu saja dari mulutku
tanpa bisa kutahan.
Hoshimiya
tampak mengerjapkan matanya terkejut mendengar omonganku barusan. Setelah itu, dia langsung menundukkan
kepalanya dalam-dalam karena merasa malu.
"Ah,
t-terima kasih……"
"Ah, maaf.
Aku tidak sengaja menyuarakan isi hatiku……"
Gara-gara
kecerobohanku, atmosfer di sekitar seketika berubah menjadi agak canggung.
Sial, aku
melakukan kesalahan fatal lagi dalam interaksi ini. Aku harus bisa lebih
menjaga sikap ke depannya.
……Tapi kalau
dipikir-pikir, respons yang ditunjukkan oleh Hoshimiya terasa agak aneh bagiku.
Seingatku aku
pernah melontarkan kalimat yang mirip seperti ini di kehidupan sebelumnya.
Tapi, respons
yang diberikannya saat itu hanyalah senyuman kecut biasa, bukan reaksi tersipu
seperti ini.
"Hee~, tidak
kusangka Hikaori bisa tersipu malu begitu. Padahal biasanya kamu sudah kenyang
dipuji cantik, lho."
"Ih,
Yuino-chan! Lama-lama aku beneran marah, nih!"
"Iya, iya,
maaf——Aku Nanase Yuino. Teman
satu SMP sekaligus sahabat dekatnya Hikaori."
"……Benar
banget! Ehehe, kami ini
sahabat dekat!"
Nanase berusaha
membujuk Hikaori kembali dengan senyuman jahilnya.
Dia menggunakan
kartu status hubungan mereka untuk meredakan kekesalan sang sahabat.
Melihat interaksi
mereka berdua, aku hanya bisa tersemain kecil dalam hati.
Hoshimiya ini
ternyata tipe yang cukup gampang dibujuk juga ya jika dihadapkan pada
sahabatnya sendiri.
Kemudian,
pembicaraan beralih ke sesi perkenalan diri bagi semua orang.
Tepat saat
giliranku menyebutkan nama, wali kelas melangkah masuk. Obrolan kami pun
terpaksa disudahi untuk sementara.
Setelah diberi
wejangan panjang lebar mengenai kesiapan mental menjadi murid SMA saat jam wali
kelas, kami semua disuruh maju ke depan. Kami diminta memperkenalkan diri satu
per satu sesuai urutan tempat duduk.
Kejadian seperti
ini memang pernah ada dalam ingatanku.
Akan sangat
konyol jika aku malah bertingkah berlebihan dan berakhir gagal di sini. Oleh
karena itu, aku memilih untuk bermain aman dan menyelaraskan diri dengan
suasana sekitar.
……Gawat. Kenangan
memalukan dari perkenalan diri di kehidupan sebelumnya mendadak memenuhi
kepalaku!
『Perkenalkan,
namaku Haibara Natsuki! Hobiku membaca buku dan menonton film. Aku berencana masuk klub basket,
dan impianku adalah punya seratus teman! Aku ingin bisa akrab dengan kalian semua~ Mohon
bantuannya, ya!』
Hentikan,
hentikan! Jangan diputar ulang di dalam otak!
Seketika
aku didera dorongan kuat untuk berguling-guling di lantai. Tetapi jika aku
nekat melakukan aksi aneh seperti itu, tindakan tersebut justru akan menjadi
sejarah kelam yang baru.
Menjalani
kembali masa muda ternyata adalah sebuah proses untuk menghadapi sejarah kelam
masa lalu secara langsung……
Saat aku
sedang memikirkan hal filosofis (?) semacam itu, jam wali kelas pun akhirnya
resmi berakhir.
*
Hari pertama
untuk murid baru rupanya sudah selesai sampai di sini. Kami diperbolehkan
langsung pulang setelah selesai membeli buku pelajaran.
Kami berenam yang
tadi mengobrol kembali berkumpul. Bersama-sama, kami melangkah menuju aula
tempat penjualan buku pelajaran dilakukan.
……Tapi kalau
dipikir-pikir, pada titik ini alur kejadiannya sudah jauh berbeda dengan
kehidupan sebelumnya.
Di kehidupan yang
lalu, aku belum bergaul dengan Reita dan yang lainnya pada saat-saat seperti
ini. Bahkan seingatku, tiga orang di kelompok Reita juga belum seakrab ini
dengan Hoshimiya dan Nanase.
Apakah tindakanku
selama ini telah berhasil mengubah pergerakan orang-orang di sekitarku?
Yah, mengingat
tidak ada faktor lain yang bisa mengubah sejarah selain diriku sendiri, aku
rasa ini memang akibat dari perbuatanku.
Lain ceritanya
jika ada orang lain yang juga sedang mengulang kehidupannya. Namun, memikirkan
kemungkinan itu terus-menerus tidak akan ada habisnya.
"Uwah, buku
pelajarannya berat banget!"
Uta mengerang
pelan sambil mendekap tumpukan buku pelajaran di dadanya.
"Hei,
hei. Mental klub basketmu ke mana, hah? Lemah banget begitu."
Mungkin
karena merasa kesal akibat provokasi dari Tatsuya, Uta langsung berlagak
tangguh.
"Segini sih masih enteng, tahu!"
"Tapi ini memang berat, sih…… Hikaori, kamu tidak
apa-apa?"
"Ah, ahaha…… Ini, kira-kira aku beneran bisa membawanya
pulang tidak, ya?"
Lengan
ramping Hoshimiya tampak gemetar secara konstan.
Fisiknya
memang tidak terlihat seperti anak yang terlatih. Lagipula dia kan mantan
anggota klub sastra.
"Aku
rasa bakal lebih mudah dibawa kalau dimasukkan ke dalam tas, tapi kalau
terus-menerus dipegang tangan memang agak berat, sih."
"……Hoshimiya,
kalau terasa berat, biar kubantu bawakan sebagian?"
Sambil
mendekap tumpukan buku pelajaranku sendiri menggunakan tangan kiri, aku
mengulurkan tangan kanan ke arah Hoshimiya.
Hoshimiya tampak
mengerjapkan matanya berulang kali karena terkejut.
"……Haibara-kun,
kamu kuat banget, ya."
"Panggil
Natsuki saja tidak apa-apa. Lagian, kalau cuma segini sih masih aman."
"Ka-Kalau
begitu, Natsuki-kun…… Aku merasa enak kalau merepotkanmu untuk semuanya, jadi
boleh tolong bawakan setengahnya saja?"
"Oke."
Dalam hati aku
langsung melakukan selebrasi fist pump karena berhasil membuatnya
memanggil nama depanku dengan begitu lancar. Sambil menjaga ekspresi wajah agar
tetap kasual, aku mengambil setengah dari tumpukan buku pelajarannya dengan
tangan kanan.
……Berat juga,
ternyata.
Mengatakan ini
masih enteng jelas-jelas hanya caraku untuk berlagak tangguh. Namun, aku
berusaha keras menyembunyikan ekspresi tersebut demi menjaga imej di depan
mereka.
Semua ini demi
bisa akrab dengan Hoshimiya. Bahkan, tujuan utamaku melatih fisik selama ini
memang demi bisa sedekat ini dengannya.
Melihat
tindakanku tersebut, Reita tidak mau kalah. Dia ikut mengambil setengah dari
tumpukan buku pelajaran milik Nanase.
Tatsuya dan Uta
sempat saling bertatapan sesaat. Mereka mendengus kesal sebelum akhirnya
membuang muka ke arah yang berlawanan.
Hubungan mereka
ini sebenarnya bisa dibilang akrab atau tidak, sih? Tapi mengingat Uta adalah
anak klub basket yang punya kekuatan fisik cukup bagus di balik tubuh
mungilnya, masalah ini harusnya tidak menjadi kendala berarti.
Kami pun kembali
melangkah menuju ruang kelas. Kami kemudian meletakkan buku pelajaran tersebut
di atas meja Hoshimiya.
Setiap buku
memiliki ketebalan yang lumayan. Jumlahnya benar-benar terlalu banyak untuk
ukuran murid baru.
"Membawa pulang semua ini bakal menguras tenaga……
Karena merepotkan, mending kutinggal di loker meja saja, deh."
Mendengar
ucapanku, Reita langsung menyahut dari samping.
"Aku
juga inginnya begitu. Tapi, meninggalkan buku di sekolah apa tidak bakal
dimarahi guru?"
"Segitu sih
harusnya aman-aman saja. Lagian besok juga bakal dibawa ke sekolah lagi, cuma
bikin berat badan saja kalau harus dibawa pulang-pergi."
Tatsuya
mengedikkan bahunya santai, sementara Nanase menyahut dengan senyuman kecut di
wajahnya.
"Kalian
tidak punya pikiran untuk memakainya belajar mandiri atau pratinjau materi di
rumah, ya?"
"Bahkan jika
harus melakukan itu, rasanya baru bisa dimulai setelah kegiatan belajar
mengajar resmi berjalan, kan."
Melihat cara
berpikir Tatsuya yang terlalu santai, Nanase menatapnya dengan pandangan penuh
arti. Setelah itu, dia mengembuskan napas panjang.
"Hikaori,
kamu jangan sampai terinfluence oleh orang-orang malas seperti mereka,
ya."
"Eh? Orang
malas? Maksudmu Natsuki-kun dan Tatsuya-kun?"
Hoshimiya tampak
kebingungan dengan kepolosan alaminya. Aku pun langsung menyahut ucapan Nanase dengan
nada protes.
"Siapa
yang kamu sebut orang malas, hah?"
……Aku
harus selalu menjaga kesadaran diri agar bisa mengalir masuk ke dalam obrolan
sesantai ini tanpa rasa ragu.
Gerbang
pertama untuk masuk ke dalam kelompok kasta tertinggi di kelas akhirnya
berhasil kulewati dengan selamat.
Tantangan
selanjutnya adalah memperkokoh posisiku di dalam kelompok ini. Di kehidupan
sebelumnya, aku justru tersandung dan gagal total pada tahap ini.
Apalagi
struktur kelompok ini terdiri dari tiga orang dari SMP yang sama, dua orang
dari SMP yang sama, dan aku yang sendirian tanpa teman daerah. Jika aku tidak
membangun hubungan emosional secara perlahan dengan setiap individu di sini,
posisiku bisa terisolasi sewaktu-waktu.
"Tapi kalau
diperhatikan, buku pelajaran SMA ternyata setebal ini, ya~"
Hoshimiya
membolak-balik halaman buku pelajaran Matematika I-A secara acak.
"Uwah…… Isinya sama sekali tidak kupahami. Aku mendadak jadi merasa cemas, nih."
"Tidak perlu
cemas begitu. Begitu mendengarkan penjelasan guru di kelas nanti pasti langsung
paham, kok."
Mendengar
optimisme Tatsuya yang berlebihan, Reita langsung memberikan teguran tegas dari
samping.
"Entahlah.
Meskipun sekolah ini bukan yang nomor satu di prefektur, tingkat kelulusan di
sini termasuk kategori sekolah unggulan, lho."
Apa yang
dikatakan Reita memang benar adanya. Ujian berkala di sekolah ini terkenal
memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi.
Walaupun aku
sudah pernah mengalaminya sekali, aku tetap harus mempersiapkan materi
pelajaran dengan matang mulai dari sekarang.
Mengingat ini
adalah sekolah unggulan, cara paling mudah untuk menunjukkan kapasitas diri
adalah dengan meraih nilai akademik yang bagus.
Fisikku tidak
seunggul itu dalam olahraga, kemampuan berbicaraku juga tidak semenarik itu,
dan aku tidak memiliki keahlian khusus yang menonjol. Oleh karena itu,
setidaknya dalam hal akademik aku ingin bisa tampil unggul karena memiliki
modal pengalaman tujuh tahun dari masa depan.
Aku dulunya
adalah mahasiswa jurusan sains yang cukup serius dalam melakukan penelitian di
universitas. Dalam prosesnya, pengetahuan dasar mengenai sains dan matematika
sudah melekat kuat di dalam kepalaku.
Jika situasinya
begitu, kendala utamaku kemungkinan besar ada pada mata pelajaran bahasa dan
sejarah.
"Lagian,
selama ada Tatsu di sini, kita pasti aman dari peringkat juru kunci! Tenang
saja!"
"Hei, hei.
Mau sepadat apa pun otakku ini, aku tidak bakal kalah darimu dalam hal
akademik. Jelas tidak mungkin."
Melihat Tatsuya
dan Uta yang masih saja asyik beradu mulut, Reita hanya bisa mengembuskan napas
panjang melihat tingkah kedua temannya itu.
"Kalian
berdua, berhentilah bertengkar terus. Lagian level kalian berdua kan sama saja,
terlihat sangat konyol dan memalukan jika bertengkar seperti itu."
"Sampai
segitunya kamu mengejek kami!?"
Uta
tampak terperanjat mendengar sindiran tajam yang meluncur mulus dari mulut
Reita.
Aku pun
memiliki pemikiran yang sama dalam hati. Cowok ini, di balik wajahnya yang
ramah ternyata punya lidah yang cukup tajam juga……
Di
kehidupan sebelumnya karena aku nekat masuk klub basket, hubunganku dengan
Tatsuya dan Uta bisa dibilang lumayan akrab. Namun, aku tidak terlalu dekat
dengan Reita.
Oleh
karena itu, melihat sisi lain dari dirinya seperti ini rasanya benar-benar
menyegarkan bagiku. Ternyata dia aslinya orang yang seperti ini, ya.
"Mendengar
ucapanmu barusan, berarti Shirotori-kun ini termasuk anak yang pintar dalam
belajar, ya?"
"Ya,
setidaknya jika pembandingnya adalah mereka berdua. Tapi kalau harus bersaing
dengan Nanase-san, rasanya aku tidak bakal menang."
"Wah, kenapa
kamu bisa berpikir begitu?"
"Dari
penampilannya saja sudah memancarkan aura anak yang pintar. Iya kan,
Hoshimiya-san?"
"Benar
banget. Yuino-chan itu selalu berhasil meraih peringkat pertama paralel di
sekolah kami dulu, lho."
"Peringkat
pertama paralel!? Hebat banget……"
Aku ikut
masuk ke dalam obrolan sembari mengekspresikan rasa kagum dengan sedikit
berlebihan.
Tentu saja rasa
kagumku itu murni nyata. Tetapi, aku sengaja mendramatisasinya agar terlihat
lebih hidup di depan mereka.
Jika aku hanya
memberikan respons yang biasa saja sesuai kepribadian asliku, kesannya pasti
akan terasa terlalu monoton dan membosankan.
Memberikan reaksi
yang ekspresif adalah salah satu kunci utama untuk menjadi seorang normie.
Kurang lebih, begitulah hasil analisis yang kudapatkan sejauh ini.
"Benar kan!
Yuino-chan itu aslinya luar biasa hebat lho!"
"Kenapa
malah Hikaori yang memasang wajah bangga begitu? Ngomong-ngomong, Hikaori
sendiri berada di peringkat berapa waktu itu? Peringkat enam puluh?"
"Urusan
nilaiku tidak usah dibahas, ih!"
"Peringkatnya
ternyata agak membingungkan, ya……"
"Respons
jujurmu itu malah bikin hatiku sakit, tahu! Hentikan!"
Mendengar
bisikan bernada candaan dariku, Hoshimiya langsung menyahutnya dengan protes
yang pas. Hal itu diam-diam membuat hatiku merasa senang.
Menentukan
jarak kedekatan sosial memang sulit, tetapi aku rasa level interaksi seperti
ini masih dalam batas aman.
"Lalu,
bagaimana dengan dirimu sendiri, Natsuki?"
Tepat saat
pertanyaan itu dilontarkan, sebuah hantaman mendarat di bahuku. Tatsuya
merangkul pundakku sembari menjatuhkan sebagian berat tubuhnya ke arahku.
Apakah untuk
menanyakan hal seperti itu dia harus sampai merangkul pundak orang lain segala?
Pemikiran sensitif seperti ini mungkin muncul karena mental kuperku yang
mendominasi.
Gaya interaksi
fisik milik kaum normie tipe bertenaga seperti ini sepertinya memang
membutuhkan waktu agar aku bisa terbiasa.
"E-Eh, aku?
Nilai akademisku sih, yah, tidak bisa dibilang buruk juga."
"Kalau
nilaimu buruk, dari awal kamu tidak bakal bisa lolos masuk ke Ryoumei
kali."
Nilai ujianku
saat SMP, ya. Bagaimana, ya? Seingatku nilainya biasa-biasa saja, tidak bagus
tapi tidak bisa dibilang hancur juga.
Namun, demi bisa
melakukan debut SMA di Ryoumei, aku nekat belajar dengan sangat keras menjelang
ujian kelulusan dulu.
"Saat ujian
masuk kemarin aku memang belajar mati-matian demi bisa lolos ke sini,
sih."
"Oh, kalau
begitu situasinya mirip denganku."
"Aku juga
termasuk kelompok itu! High five!"
Uta
mengangkat telapak tangan tinggi-tinggi ke udara. Aku sempat kebingungan sesaat
melihat aksinya, sebelum akhirnya tersadar kalau dia sedang mengajakku
melakukan tos.
Begitu
aku mengangkat telapak tangan di depan wajahnya, Uta langsung mendaratkan
tangannya hingga menimbulkan suara petikan yang cukup keras.
Karena tubuhnya
yang pendek, Uta sampai harus melompat kecil saat melakukannya. Gerakannya itu
terlihat menggemaskan seperti tingkah seekor kucing.
"——Ah,
b-maaf ya. Ibuku sudah memanggil lewat telepon, sepertinya aku harus segera
pulang sekarang."
Hari itu pun
diakhiri dengan kalimat perpisahan dari Hoshimiya yang menjadi pemicu bubarnya
perkumpulan kami.
Karena Ibuku yang
menghadiri sesi penjelasan wali murid pasca-upacara penerimaan juga sudah
selesai dan sedang menunggu di area parkir, aku pun memilih untuk langsung
pulang dengan naik ke dalam mobil Ibu.
Hari itu kami
merayakan hari pertamaku masuk sekolah dengan makan daging panggang bersama.
Rasanya benar-benar lezat.
*
Keesokan harinya.
Kegiatan belajar
mengajar dengan kurikulum normal akhirnya resmi dimulai.
Karena ini masih
hari pertama, atmosfer di dalam kelas terasa cukup santai karena hanya diisi
dengan sesi perkenalan diri dari para guru dan penjelasan singkat mengenai
orientasi mata pelajaran.
Meski tergolong
santai, aktivitas ini terasa sangat membosankan hingga membuatku harus berjuang
mati-matian menahan kantuk yang menyerang.
Dan begitu bel
pulang sekolah berbunyi, kami berenam pun secara alami langsung berkumpul
kembali di satu titik.
Sembari
mengobrol, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas secara acak.
Di sana ada murid
yang sudah membentuk kelompoknya sendiri seperti kami, ada yang sedang sibuk
mencari kesempatan untuk menyapa orang lain, dan ada juga tipe acuh tak acuh
yang memilih langsung melangkah keluar kelas begitu saja. Perkumpulan yang
sangat heterogen.
Di kehidupan
sebelumnya karena aku terlalu fokus pada diriku sendiri, aku tidak sempat
mengamati pemandangan sekitar seperti ini. Menatapnya dari sudut pandang
sekarang terasa cukup menarik bagiku.
Saat ini ada
sekitar lima kelompok yang terbentuk di dalam kelas. Namun, atmosfer yang
dipancarkan dari masing-masing kelompok masih terasa agak kaku.
Jika dibandingkan
dengan yang lain, kelompok kami jelas merupakan yang paling mencolok di antara
semuanya.
Bisa dibilang,
pancaran aura yang ada di kelompok ini benar-benar berada di level yang
berbeda…… tentu saja, yang dimaksud di sini adalah orang-orang selain diriku.
Karena kelima
orang di sekitarku ini memiliki penampilan fisik di atas rata-rata, kombinasi
visual mereka memancarkan aura yang sangat berkilau.
Pandangan dari
murid-murid di kelompok lain pun sesekali tampak mencuri pandang ke arah posisi
kami berada.
Tatapan mata
mereka seolah menyiratkan keinginan kuat untuk bisa ikut bergabung ke dalam
obrolan kami.
Yah, fakta bahwa
saat ini hanya kelompok kami saja yang memiliki struktur anggota campuran
antara laki-laki dan perempuan tampaknya menjadi faktor penentu utama di balik
kecemburuan sosial tersebut.
Bisa mengobrol
santai dalam kelompok campuran sejak hari pertama sekolah seperti ini pastinya
merupakan hal yang sangat membuat iri orang lain.
Di balik rasa
bangga dan superioritas yang sempat melintas di benakku, rasa canggung karena
merasa salah tempat juga ikut mendominasi hatiku secara bersamaan.
Mungkin saja
murid-murid lain sedang membubuhkan kalimat sinis seperti, 'Kenapa cowok kuper
sepertinya bisa bergaul dengan kumpulan orang-orang populer itu, sih?' di dalam
benak mereka saat melihat posisiku sekarang.
……Jika dugaan itu
benar, aku sama sekali tidak memiliki argumen kuat untuk menyangkalnya.
Meskipun tujuanku
adalah menjadi seorang normie, apakah aku yang sekarang ini memang sudah
pantas untuk berdiri sejajar di tempat ini bersama mereka?
"——Hei,
Natsuki? Kenapa kamu malah melamun begitu?"
Suara
berat Tatsuya yang menggema di dekat telingaku sukses membuatku tersentak. Aku
pun langsung kembali ke realitas bumi.
Begitu
tenggelam ke dalam lautan pemikiran, aku memang sering kali kesulitan untuk
kembali dengan cepat. Ini adalah kebiasaan burukku yang belum juga hilang.
"Ah,
m-maaf, maaf. Bukan apa-apa,
kok."
"Begitu ya.
Kami berencana pergi melihat-lihat kegiatan klub setelah ini, kamu juga ikut
kan?"
Tanpa kusadari,
pandangan kelima orang di dekatku kini sudah terkunci sepenuhnya ke arahku.
"Tentu
saja," jawabku sambil mengangguk mantap.
*
"Untuk
langkah awal, bagaimana kalau kita keliling melihat semua kegiatan klub yang
sedang aktif hari ini?"
Reita
melontarkan usulan sembari mengamati lembaran brosur terkait informasi klub
yang tadi sempat dibagikan oleh guru di kelas.
Kemampuannya
dalam mengambil inisiatif kepemimpinan secara alami di saat-saat seperti ini
benar-benar luar biasa di mataku. Aku harus bisa meniru poin kelebihannya yang
satu ini.
Pengetahuan
teori yang kukumpulkan dari internet selama ini jelas memiliki batas kegunaan
jika tidak diiringi dengan praktik langsung. Mumpung ada contoh nyata di
dekatku, aku harus mengamati dan menyerap cara bertindaknya dengan baik.
Melihat
semua orang mengangguk setuju dengan usulannya, Reita pun segera mengarahkan
langkah kaki kami semua.
"Kalau
begitu, mari kita mulai keliling dari area klub budaya dulu."
Koridor di lantai
tiga yang menjadi pusat berkumpulnya ruangan klub budaya tampak dipenuhi oleh
lauten murid baru yang berjalan berlalu-lalang.
Hoshimiya
menggumamkan kalimat lirih yang senada dengan isi pikiranku saat melihat
kepadatan tempat tersebut.
"Suasananya
ramai banget, ya?"
"Karena
minggu pertama ini adalah masa orientasi klub, apalagi ini hari pertama.
Terlepas dari apakah mereka berniat bergabung atau tidak, mayoritas murid baru
pasti ingin keliling melihat semua opsi yang ada terlebih dahulu. Kita sendiri juga bergerak dengan
dasar pemikiran yang sama, kan."
Saat ini
hampir seluruh ruangan klub sedang mengaktifkan mode penyambutan murid baru.
Beberapa di antaranya bahkan sengaja menyediakan kursi khusus di depan ruangan
bagi para pengunjung yang ingin melihat aktivitas mereka.
"Mumpung
lagi keliling, sekalian saja kita jadikan momen ini buat eksplorasi seluruh
area sekolah!"
Mengikuti
usulan bersemangat dari Uta, kami pun berjalan melintasi koridor sembari
sesekali menengok ke dalam ruangan beberapa klub budaya yang kami lewati.
Saat
melewati ruang klub kaligrafi, kami tidak hanya sekadar melihat-lihat tetapi
juga ditawari oleh kakak kelas untuk mencoba menulis secara langsung di atas
kertas.
Di saat
aku dan yang lainnya memilih untuk menolak tawaran tersebut karena sungkan,
Nanase justru maju dan dengan gerakan tangan yang sangat lihai langsung
menorehkan tulisan indah di atas kertas tersebut.
Tidak
sampai di situ, saat kami berkunjung ke ruang klub upacara minum teh, Nanase
kembali mempertontonkan penguasaan tata krama yang sangat sempurna tanpa ada
cela sedikit pun.
Sadar
akan tatapan mata kami yang terbelalak kagum melihat aksinya, Nanase langsung
memalingkan muka karena merasa malu.
"——Aku
dulu sempat mempelajari hal-hal seperti ini sebentar saat masih kecil."
"Level
penguasaanmu itu rasanya sudah tidak cocok lagi jika disebut sekadar
mempelajari sebentar……"
Melihat
senyuman kecut di wajahku, Hoshimiya justru menanggapinya dengan membusungkan
dada bangga seolah dirinyalah yang sedang dipuji.
"Yuino-chan
itu aslinya mengikuti banyak sekali kelas privat saat masih kecil dulu,
lho!"
"Padahal
aslinya aku hanya ingin fokus pada pelajaran sekolah dan les piano saja…… tapi
apa boleh buat, itu sudah menjadi kebijakan dari orang tuaku."
"Kamu bahkan
bisa bermain piano juga? Di balik statusmu sebagai peringkat pertama paralel di
sekolah lama, kemampuanmu ini benar-benar luar biasa, lho. Kamu ini jenis
genius fiksi yang ada di dunia nyata, ya."
Tatsuya tampak
terperangah mendengarnya. Aku pun merasakan kekaguman yang sama dalam hati.
Meskipun di
kehidupan sebelumnya aku sudah tahu kalau nilai akademiknya di sekolah
tergolong bagus, aku sama sekali tidak menyangka kalau kapasitas aslinya akan
sehebat ini……
Kesan yang
dipancarkannya benar-benar mencerminkan sosok perempuan ideal khas Jepang yang
sempurna.
……Tunggu
sebentar, jika Nanase ada di kelas yang sama, bukankah posisiku untuk
menjadikan nilai akademik sebagai keunggulan utama akan terancam?
Tidak, tidak, aku
hanya perlu meraih nilai yang lebih tinggi daripada Nanase. Berbekal usia
mentalku yang tujuh tahun lebih tua di atas mereka…… aku pasti bisa
melakukannya, kan?
"Berarti
dari semua keahlianmu, piano adalah yang paling kamu kuasai?"
Mendengar
pertanyaan dari Reita, Nanase meresponsnya dengan nada suara yang terdengar
datar.
"Ya.
Karena di tingkat SMA ini aku ingin memfokuskan seluruh sisa waktuku untuk
berlatih piano, aku tidak berencana untuk bergabung dengan klub sekolah apa pun
ke depannya."
"Kalau saat
SMP dulu, kamu masuk klub apa?"
"Secara
administratif aku terdaftar sebagai anggota klub panahan. Tapi karena jadwal
kelas privatku yang padat, aku jarang sekali bisa hadir dalam latihan
kelompok."
"Uwah,
seragam panahan pasti bakal terlihat cocok banget saat kamu pakai."
Kalimat tersebut
refleks lolos begitu saja dari mulutku. Aku hanya menyuarakan apa yang ada di
dalam benakku saat itu secara spontan.
Mengingat
kepribadian asliku yang cenderung memendam opini di dalam hati, memaksa diri
untuk lebih aktif menyuarakan pendapat seperti ini terasa sangat canggung.
Namun,
berdasarkan informasi yang kubaca di situs web mengenai panduan melakukan debut
SMA, poin ini sangat krusial untuk membangun kesan ramah di mata orang lain.
"Bi-Benar
banget!"
"Aku
setuju dengan omonganmu."
Sesuai
dengan target analisis teori yang kupelajari, Uta dan Tatsuya langsung menyahut
ucapanku dengan nada setuju.
"Aku
tahu, kan! Penampilan Yuino-chan saat memakai seragam panahan sambil memegang
busur itu beneran keren banget, lho. Kalian mau lihat fotonya?"
"Eh, kamu
punya fotonya!? Mau lihat, mau lihat!"
"Tu-Tunggu
sebentar, Hikaori!?"
Begitu Hoshimiya
mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, kami semua termasuk Uta langsung
berkerumun merapat untuk melihat layar ponsel tersebut.
Melihat Nanase
yang tampak salah tingkah dan panik karena fotonya dilihat bersama-sama seperti
itu memunculkan kesan yang cukup imut di mataku. Di sisi lain, Hoshimiya justru
mengulas senyuman jahil ke arah sahabatnya.
"Ini adalah
pembalasan dariku karena Yuino-chan selalu saja menjahiliku selama ini♪"
Di saat kami
semua sedang asyik menikmati deretan foto Nanase yang tersimpan di dalam ponsel
Hoshimiya, posisi berkerumun kami tanpa sadar telah mempersempit jalur koridor.
Hal itu tentu
saja mengganggu kenyamanan murid lain yang sedang berjalan berlalu-lalang.
Menyadari hal tersebut, kami pun bergegas memindahkan posisi.
"Ah, aku
ingin mengintip ke dalam ruang klub sastra sebentar, dong. Soalnya saat SMP
dulu aku juga anggota klub sastra."
"Dimengerti.
Lokasinya sepertinya berada tepat di sebelah perpustakaan sekolah."
"Apa Hikarin
berencana buat bergabung lagi di SMA nanti?"
Uta melontarkan
pertanyaan tersebut dengan santai. Tanpa kusadari, dia ternyata sudah membuat
panggilan akrab yang unik untuk Hoshimiya.
"Hmm, aku
rasa keputusannya bakal bergantung pada atmosfer di dalam ruangan nanti, sih.
Bergabung atau tidak sebenarnya bukan masalah besar buatku."
Setelah sempat
mampir melihat aktivitas klub marawis yang searah dengan jalur jalan kami, kami
pun akhirnya tiba di depan pintu ruang klub sastra.
Di dalam ruangan
tampak ada sekitar sepuluh orang murid laki-laki dan perempuan sedang sibuk
dengan aktivitas mereka masing-masing. Ada yang membaca buku dan ada juga yang
sedang mengetik sesuatu di laptop mereka.
Atmosfer
yang dipancarkan dari ruangan tersebut terasa tenang dan damai. Tetapi karena
hari ini pintu ruangan sengaja dibuka lebar untuk umum, fokus mereka tampaknya
agak terganggu oleh kehadiran orang luar.
Apalagi
begitu kelompok kami yang memiliki aura mencolok ini berdiri di depan pintu,
seluruh pandangan dari dalam ruangan seketika langsung terkunci ke arah kami
berada.
Suasana
yang ada di dalam sana terasa sangat mirip dengan diriku di masa lalu. Dengan
kata lain, mereka adalah kumpulan orang-orang dengan kepribadian yang tenang
dan pendiam.
Situasi seperti
ini jujur saja membuatku merasa agak kikuk. Dan aku yakin orang-orang di dalam
ruangan pun merasakan ketidaknyamanan yang sama akibat kehadiran kami.
Lagipula jika
dilihat dari sudut pandang mana pun, perawakan fisik Tatsuya dan Uta jelas sama
sekali tidak mencerminkan sosok orang yang memiliki hobi membaca buku sebagai
aktivitas harian mereka.
"——Halo.
Permisi, apakah kami boleh ikut melihat-lihat aktivitas di sini sebentar?"
Di tengah
atmosfer canggung yang membuat orang luar enggan untuk membuka suara tersebut,
Hoshimiya justru melangkah maju sambil melemparkan senyuman manis yang sangat
menawan.
"Eh, i-iya.
Silakan masuk."
Semua pasang mata
di dalam ruangan tersebut, baik laki-laki maupun perempuan, seketika langsung
terpesona oleh senyumannya. Sambil salah tingkah, seorang murid yang tampaknya
menjabat sebagai ketua klub bergegas merespons sapaan Hoshimiya.
Hanya dengan
modal satu sapaan darinya, atmosfer kaku yang sempat mendominasi area sekitar
langsung sirna tanpa berbekas.
"Ruangan
ini benar ruang klub sastra, kan?"
"I-Iya…… eh, maksudku, benar sekali. Kamu anak murid baru tahun pertama, ya?"
"Ahaha, iya
benar. Kami semua murid baru kelas satu."
Hoshimiya terus
melanjutkan pembicaraan dengan sang ketua klub menggunakan nada suara yang
ramah dan menenangkan.
"Jumlah
anggotanya ternyata lumayan banyak juga, ya?"
"Karena hari
ini adalah masa orientasi klub, jadi mayoritas anggota menyempatkan diri untuk
hadir di sini. Di hari biasa karena sistem kehadirannya bersifat sukarela,
paling yang datang cuma sekitar tiga sampai empat orang saja. Tentu saja di
hari-hari krusial seperti rapat pembahasan isi majalah klub, semua anggota
diwajibkan untuk hadir."
"Kalau
situasinya begitu, berarti jumlah orang yang ada di dalam ruangan saat ini
sudah mencakup seluruh anggota klub?"
"Ya. Ah,
tapi sepertinya saat ini ada satu orang anggota yang sedang tidak ada di
tempat. Mungkin dia
sedang pergi ke toilet."
"Begitu
ya. Berarti totalnya ada sebelas orang. Kalau boleh tahu, dalam seminggu biasanya ada berapa kali aktivitas
pertemuan kelompok——"
Murid laki-laki
berkacamata yang menjabat sebagai ketua klub sastra tersebut tampak memberikan
penjelasan dengan sangat antusias sambil sesekali mencuri pandang karena
terpesona oleh kecantikan Hoshimiya.
Hoshimiya tetap
mendengarkan penjelasan tersebut dengan saksama sembari melemparkan anggukan
kepala yang pas di sela-sela obrolan. Penguasaan kemampuan komunikasinya
benar-benar berada di level yang sangat tinggi.
Dia mampu
menyelaraskan diri dengan tipe lawan bicara mana pun. Dia juga bisa memancing
orang lain untuk berbicara secara alami tanpa tekanan.
Kapasitas seperti
ini memang sudah sepatutnya dimiliki oleh gadis tercantik di sekolah sekelas
Hoshimiya Hikaori. Dia adalah tipe normie alami sejak lahir.
Aku pernah
mendengar sebuah kutipan yang mengonfirmasi bahwa seorang normie sejati
adalah mereka yang mampu menjalin komunikasi dengan baik bahkan saat dihadapkan
dengan orang-orang kuper sekalipun.
Buktinya di
kehidupan sebelumnya setelah aku mengalami kegagalan total dalam melakukan
debut SMA, Hoshimiya tetap menjadi satu-satunya orang yang mau menyapaku dengan
santai seolah tidak terjadi hal buruk apa pun sebelumnya.
Karena dia
memperlakukan semua orang dengan standar keramahan yang sama seperti itu, aku
pun tidak sampai jatuh ke dalam lubang kesalahpahaman yang norak.
"Kehadiran
kita di sini sepertinya malah mengganggu fokus mereka, mending kita tunggu di
luar ruangan saja, deh."
Tatsuya
melontarkan usulan tersebut sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. Di
balik perawakannya yang terkesan kasar, dia ternyata memiliki kepekaan situasi
yang cukup bagus.
……Tidak,
pemikiran itu harusnya bukan hal yang mengejutkan.
Bagaimanapun
juga, seorang cowok yang tidak memiliki kemampuan untuk membaca situasi sekitar
tidak akan pernah bisa menduduki posisi sebagai pusat perhatian di dalam kelas.
Meskipun
penampilannya memberikan kesan acuh tak acuh, Tatsuya pastinya selalu
mempertimbangkan banyak hal sebelum bertindak. Atau lebih tepatnya, dia
memiliki insting yang tajam untuk merasakan perubahan atmosfer di sekitarnya
secara akurat.
Kelebihan
emosional khas kaum normie yang tidak kumiliki.
"Aku setuju
dengan usulanmu."
Uta yang biasanya
selalu heboh pun ikut mengangguk setuju dengan suara pelan. Kami pun segera
memindahkan posisi ke koridor luar ruangan untuk menunggu sembari mengobrol
santai.
Tidak sampai tiga
menit kemudian, Hoshimiya tampak melangkah keluar dari dalam ruangan klub.
"Sudah
selesai?"
"Ya.
Lagipula masa orientasi klub masih berlangsung cukup lama, jadi aku ingin
mempertimbangkannya perlahan terlebih dahulu. Orang-orang di dalam tadi
semuanya ramah-ramah, jadi aku tidak keberatan jika harus bergabung ke sana
nanti. Jadwal pertemuannya yang hanya dua kali seminggu ditambah sistem
kehadiran yang fleksibel juga terasa pas buatku."
"Hee~,
aktivitas klub budaya ternyata sesantai dan sebebas itu, ya."
"Khusus
untuk klub sastra, aktivitas utama mereka memang hanya berpusat pada penerbitan
majalah klub saja, kok. Sisa waktunya paling hanya diisi dengan membaca buku
secara mandiri."
"Klub budaya
lain pun rata-rata hanya mengagendakan pertemuan dua sampai tiga kali seminggu,
skema kegiatannya jelas berbeda total dengan pondasi yang ada di klub
olahraga."
"Kalau klub
basket sih jadwal latihannya sampai tujuh hari penuh dalam seminggu, bahkan aku
sendiri sudah dipaksa ikut latihan sejak masa liburan musim semi
kemarin……"
"Ah, aku
sempat melihat momen itu kemarin! Kalau untuk klub basket putri, latihan
resminya baru akan dimulai setelah masa penerimaan murid baru selesai!"
Uta langsung
menyahut kalimat keluhan Tatsuya dengan anggukan setuju.
"Eh, kalau
situasinya begitu, apa tidak apa-apa jika kamu tidak ikut latihan hari
ini?"
Mendengar
pertanyaan yang kulontarkan, Tatsuya meresponsnya sambil menggaruk bagian
belakang kepalanya dengan santai.
"Meliburkan
diri di hari pertama sekolah seperti ini harusnya tidak bakal membuat senior
marah, kan…… harusnya sih
begitu?"
"Kenapa kamu
malah melempar pertanyaan itu kepadaku……"
Aku hanya bisa
mengedikkan bahu melihat tingkahnya. Di sisi lain, Reita entah mengapa sejak
tadi terus menatap ke arah posisiku dengan pandangan yang dalam.
"Ada apa?
Tujuan kita selanjutnya adalah area klub olahraga, kan? Ayo bergegas."
"……Ya, kamu
benar. Lokasi gedung olahraga jaraknya agak jauh dari sini, jadi bagaimana
kalau kita mulai keliling dari area lapangan luar dulu?"
Meskipun aku
merasakan ada keanehan dari cara Reita menatapku tadi, aku memilih untuk
mengabaikannya karena mengira itu hanya perasaanku saja. Sambil mengikuti
langkah kaki Reita yang memimpin di depan, kami pun segera bergerak menuju area
luar.
*
Sembari berjalan
melintasi area lapangan sekolah, kami melihat-lihat aktivitas dari beberapa
klub seperti klub bisbol, klub tenis, dan klub sepak bola secara bergantian.
Meskipun status
Ryoumei merupakan sekolah unggulan dalam hal akademik, pengelolaan kegiatan
klub di sini ternyata juga mendapatkan perhatian yang cukup serius.
Hal itu terbukti
dari keseriusan para anggota klub olahraga saat menjalani sesi latihan mereka.
Khusus untuk klub sepak bola, jumlah anggota mereka tergolong sangat banyak dan
kabarnya mereka merupakan tim yang cukup disegani di tingkat regional.
"Reita
berencana masuk klub sepak bola, kan?"
Mendengar
pertanyaan dariku, Reita langsung mengiyakannya dengan anggukan kepala mantap.
"Ya,
rencananya memang begitu."
"レイ (Rei), apa kamu tidak perlu
menyapa atau memberi salam kepada para senior di sana? Murid baru yang datang
melihat latihan mereka ada banyak sekali, lho!"
"Mayoritas
orang di sana adalah kenalanku sejak masa SMP dulu, jadi urusan formalitas
seperti itu bisa kuselesaikan setelah aku resmi mendaftar masuk nanti."
"Mayoritas……?
Memangnya jumlah murid dari sekolah lamamu yang masuk ke klub itu ada
banyak?"
"Kalau
dari SMP Ooshima sih memang hanya aku sendiri yang berencana masuk klub sepak
bola di sini. Tetapi karena mereka semua rata-rata adalah alumni dari klub
sepak bola di wilayah yang sama, kami sudah sering bertemu dalam agenda
pertandingan persahabatan saat SMP dulu. Hubungan kami semua tergolong cukup
akrab."
Mendengar
penjelasan kasual yang meluncur mulus dari mulut Reita, aku seketika kehilangan
kata-kata untuk membalasnya.
Hanya
dengan modal sering bertemu di pertandingan persahabatan saja sudah bisa
membuat seseorang saling akrab satu sama lain?
Jadi begini, toh…… proses pembentukan jaringan pertemanan di
antara kaum normie itu ternyata bisa berjalan semudah ini……
Di saat aku sedang meratapi nasib sosialku dalam hati,
sekumpulan murid baru yang sedang berkumpul melihat latihan klub sepak bola
mendadak berteriak menyapa Reita.
"Shirotori,
bukannya itu kamu! Jadi kamu beneran masuk ke sekolah ini, ya!"
"Mantan
kapten dari SMP Ooshima! Kamu pastinya bakal bergabung ke klub sepak bola di
sini juga, kan?"
"Yo, sudah
lama tidak bertemu! Kamu masih ingat wajahku tidak, nih!?"
Mendapatkan
rentetan sapaan heboh seperti itu, Reita dengan tenang dan ramah langsung
memberikan respons balasan tanpa ada rasa canggung sedikit pun.
"Bukannya
kalian ini Trio Bodoh dari SMP Fujimi. Wah, sudah lama tidak bertemu, ya."
"Siapa yang
kamu sebut Trio Bodoh, hah!"
"Paling
yang bodoh cuma anak ini sendirian, kok."
"Orang
yang mengatai orang lain bodoh itu aslinya dialah yang bodoh~"
"Sebenarnya
ini rahasia, sih, tapi asal kalian tahu saja, orang yang pertama kali
menyebarkan panggilan Trio Bodoh itu adalah aku, lho."
"「"Apa katamu!?"」"
Kemampuan
lidah tajamnya yang keluar di sela-sela pembawaan dirinya yang ramah dan kalem
benar-benar berada di level yang luar biasa.
Reita
memang terbukti merupakan seorang pemegang kasta normie sejati sejak
lahir. Penguasaan kemampuan komunikasinya sukses memicu rasa hormat di dalam
hatiku.
"——Dan kalau
begitu, aku duluan ya. Teman-temanku sudah menunggu di sana. Sampai ketemu lagi
nanti."
Hebatnya lagi,
dia tahu kapan harus menyudahi obrolan agar waktu tunggu kami tidak terbuang
terlalu lama.
Sosok Shirotori
Reita ini adalah representasi nyata dari kata 'Ideal' yang ingin kucapai demi
mewujudkan masa muda terbaikku…… Sosok yang berada di titik terdekat dengan tujuan akhir yang kuincar.
Aku harus terus mengamati setiap gerak-geriknya dan mempelajari cara pembawaan
dirinya dengan baik ke depannya.
*
Rute
pencarian kami selanjutnya diarahkan menuju area dalam gedung olahraga.
Namun karena di
antara kami berenam tidak ada satu pun yang memiliki ketertarikan pada olahraga
tenis meja maupun bola voli, kami hanya berjalan melintasinya begitu saja.
Kami langsung
mengarahkan fokus menuju area ujung gedung yang memuat dua buah lapangan untuk
aktivitas klub basket putra dan klub basket putri.
Tahulah
sendiri, mengingat Uta dan Tatsuya adalah anak klub basket.
Jika
Tatsuya sudah terhitung resmi bergabung karena ikut latihan sejak masa liburan,
hari ini adalah momen pertama bagi Uta untuk melihat aktivitas latihan di
tingkat SMA.
Dia
langsung bangkit berdiri dari kursi penonton dengan mata yang berbinar terang
saat melihat pemandangan di depannya.
"Ooo~!"
Hoshimiya
tampak tertawa kecil melihat reaksi temannya itu.
"Kamu
terlihat seperti anak kecil."
"Hei!
Apa kamu baru saja mengejek tinggi badanku yang pendek ini!?"
"Bukan
bagian itu yang dimaksud, kok~"
"Atau
jangan-jangan kamu sedang mengejek ukuran dadaku!? Biar kutegaskan ya, badanku ini masih dalam masa
pertumbuhan, tahu! Malah bisa dibilang sisa ruang untuk pertumbuhannya masih
sangat luas. Benar, jadi kesimpulannya, potensi pertumbuhan dadaku ini masih
tak terbatas……"
"Kenapa nada
suaramu malah mendadak turun drastis di akhir kalimat penjelasanmu sendiri,
sih."
Tatsuya
melontarkan sindiran dengan wajah kebingungan. Uta tampak merosot lemas di
lantai sambil memegang dadanya sendiri menggunakan kedua tangannya.
Ternyata dia
cukup sensitif juga jika dihadapkan pada topik tersebut. Meskipun harus kuakui
kalau bentuk dadanya memang tergolong sangat rata.
"E-Eh, kalau
masalah itu…… Iya, benar! Aku juga memiliki pemikiran yang sama denganmu,
Uta-chan!"
Sosok Hoshimiya
yang saat ini sedang berusaha memberikan kalimat penyemangat tersebut justru
memiliki aset ukuran yang tergolong sangat padat di balik pakaiannya.
Menyadari kontras
perbedaan yang mencolok tersebut, Uta menatap aset milik Hoshimiya dengan
pandangan penuh rasa iri. Setelah itu, dia melangkah memutari punggung sang
sahabat dan langsung meremasnya secara spontan dari arah belakang.
"Uhyah!?"
"O-Oh…… Hmm…… Menarik……"
"Haibara-kun,
tolong kondisikan tatapan matamu yang mesum itu. Lagipula, cepat balikkan
badanmu ke arah depan sekarang juga."
"S-Siap,
mohon maaf!"
Aku terpaksa
harus membalikkan badan ke arah depan karena teguran keras dari Nanase,
sementara di sisi lain——
"Bodoh,
jangan membuat keributan di tempat seperti ini karena bisa memicu perhatian
orang lain, tahu."
"Uta,
hentikan tindakanmu itu."
Tatsuya dan Reita
yang sedang bergerak memisahkan Uta dari tubuh Hoshimiya justru sama sekali
tidak mendapatkan teguran dari Nanase.
Ini tidak adil.
Apa ekspresi wajahku saat melihat kejadian tadi beneran separah itu? Ya,
meskipun harus kuakui kalau pemandangan tadi memang terlihat sangat seksi dalam
benakku, sih.
Tanpa disadari,
keributan kecil yang kami timbulkan telah menarik perhatian dari para anggota
klub basket yang sedang menjalani sesi latihan di tengah lapangan.
Tatsuya pun
bergegas membungkukkan kepalanya berulang kali ke arah lapangan untuk meminta
maaf.
"Nagiura!
Kalau kamu hanya berniat main-main di pinggir lapangan, mending langsung ganti
baju dan ikut gabung latihan di sini sekarang juga!"
"Eh!? Ini
kan masih hari pertama orientasi klub, masa aku tidak diperbolehkan ikut
keliling melihat-lihat dulu sih, Senior!?"
"Melihat-lihat
aktivitas klub lain tidak ada gunanya bagi kemajuan tim kita, kan? Iya,
tidak?"
"I-Iya, benar juga sih…… Ahaha, sebenarnya aku juga
sudah tidak sabar untuk ikut latihan bersama kalian hari ini, kok! Benar, lho!
Bagiku pilihan hidupku memang hanya ada pada olahraga basket saja~ Eh, ta-tapi
jangan menatapku dengan pandangan sekejam itu juga dong, Senior!?"
Melihat sisi lain dari Tatsuya yang biasanya berlagak
tangguh kini tampak menciut dan sibuk mencari muka di depan para seniornya
memicu tawa di antara kami semua.
"Ahaha!
Tatsu, penampilanmu barusan terlihat memalukan banget!"
……Padahal bagi
diriku sendiri, pemandangan Tatsuya yang sedang terpojok oleh senior seperti
itu merupakan hal yang sudah sangat sering kulihat di kehidupan sebelumnya.
Mengingat aku
sendiri dulunya adalah salah satu anggota dari klub basket tersebut.
Tetapi aku tidak
pernah dikasihi seperti Tatsuya.
Itu karena aku
adalah anak yang membosankan. Mereka menganggapku sebagai orang yang tidak ada
nilai gunanya untuk diajak bermain bersama.
Tatsuya adalah
cowok yang menarik. Karena itulah orang-orang bisa berkumpul di sekitarnya,
bahkan para senior sekalipun.
"Dari
awal dia memang berniat membolos, kan. Biar saja dia dimarahi habis-habisan."
Reita mengedikkan
bahunya santai.
Tatsuya tampak
melangkah menuju ruang klub, kemungkinan untuk mengganti pakaiannya.
Sepertinya dia
memutuskan untuk tetap ikut latihan pada akhirnya.
"Maaf,
ya!" Teriakan lantang Tatsuya terdengar dari kejauhan, memicu tawa kami
kembali pecah.
——Dan pada saat
itulah.
Dari arah pintu
masuk gedung olahraga, aku melihat sesosok wajah yang sangat familier baru saja
melangkah masuk.
Pandangan kami
saling bertemu. Sontak saja, kata "Ah" refleks lolos dari mulut kami
berdua.
Mengikuti arah
pandanganku, semua orang pun ikut menoleh ke arah belakang secara serentak.
"……Miori."
Sosok yang
berdiri di sana adalah gadis teman masa kecilku.
Aku malah harus
berpapasan dengan orang yang paling ingin kuhindari di tempat seperti ini.
Gadis itu
menatapku, lalu mengedarkan pandangannya ke arah orang-orang di sekitarku
sembari mengulas senyuman seringai yang menyebalkan.
Bisa ketebak, aku
sudah tahu dia pasti akan menunjukkan reaksi seperti itu. Tolong, kuharap dia tidak
mengatakan hal-hal yang tidak perlu di depan mereka.
"Yahho,
Natsuki. Debut SMA-mu sepertinya berjalan cukup sukses, ya?"
"Berisik
ah. Mending kamu diam saja."
"Ah, jahat
banget. Padahal aku ke sini karena mengkhawatirkanmu, lho…… eh maaf, bercanda,
deng. Aku tidak khawatir sama sekali."
"Kalau mau
berbohong, tolong konsisten sampai akhir bisa tidak?"
Jika tidak
begitu, hatiku bisa terluka, tahu? Perlu diingat kalau mentalku ini selembut
kaca.
Di sekitar Miori
tampak ada tiga orang murid perempuan yang mendampinginya. Sepertinya dia juga sedang
berkeliling melihat aktivitas klub bersama teman-temannya.
"Dia
kenalanmu?"
Mendengar
pertanyaan Reita, aku hanya bisa mengangguk pasrah.
"Kami
dari SMP yang sama."
"Hee, kalian
terlihat cukup akrab, ya."
"Tidak, kami
tidak se——"
"——Sama
sekali tidak akrab, kok! Tidak ada akrab-akrabnya acan!"
Miori
langsung memotong kalimat penolakanku dengan nada suara yang sangat enteng.
Hei, meskipun aku juga berniat menyangkalnya, apakah kamu perlu mempertegas
ketidakakraban kita sampai segitunya?
Tidak
perlu sampai seperti itu juga, kan?
"Natsuki
dan yang lain juga sedang melihat-lihat kegiatan klub, kan?"
"Ah,
iya. Ngomong-ngomong, kamu sendiri berencana masuk klub basket, ya?"
"Yup,
rencananya begitu. Makanya hari ini aku datang buat melihat latihannya."
"Eh,
serius!?"
Uta
langsung memberikan respons yang sangat heboh saat mendengar obrolanku dengan
Miori.
"Aku
Sakura Uta! Aku juga berencana masuk klub basket, lho!"
"Eh,
benaran? Kalau begitu kita sama. ——Aku Motomiya Miori dari kelas satu-satu.
Mohon bantuannya, ya!"
"Yeei!"
Keduanya pun langsung melakukan tos dengan bersemangat. Kaum extrovert memang
selalu cepat dalam urusan mengakrabkan diri.
"Eh,
tapi kamu tidak sedang berniat mendaftar jadi manajer klub basket putra,
kan?"
"Bukan,
bukan. Aku murni ingin masuk klub basket putri. Mendengar pertanyaan dari
Sakura-san, berarti kamu juga mengincar klub basket putri, kan?"
"Ah,
benar banget! Iya, benar! Soalnya aku tipe yang lebih suka bermain daripada
sekadar menonton!"
"Ahaha,
entah kenapa aku sudah bisa menebaknya, sih."
"Benaran?
Memangnya kelihatan dari mana?"
"Soalnya Uta
itu selalu memancarkan aura yang penuh dengan energi, siap pun yang melihatnya
pasti langsung tahu."
Reita melontarkan
kalimat tersebut sembari menyunggingkan senyuman ramah. Di sisi lain, Uta
justru memiringkan kepalanya karena merasa tidak relate dengan pujian tersebut.
"Lagian,
Uta mana cocok melakukan pekerjaan administratif seperti mendukung orang
lain."
"Jahat
banget!?"
Uta
tampak terperanjat mendengar sindiran tajam yang meluncur mulus dari mulut
Reita.
Meskipun
interaksi mereka terlihat lucu, sindiran tajam dari Reita ini hanya bisa
dikeluarkan karena hubungan mereka sudah sangat akrab.
Bagi diriku yang
belum sepenuhnya bisa mengukur jarak kedekatan sosial di kelompok ini, meniru
gaya bicaranya jelas merupakan tindakan yang berbahaya.
Namun jika aku
hanya diam saja, atmosfernya pasti akan terasa canggung. Jadi aku mencoba masuk
ke dalam obrolan dengan aman.
Sembari
melanjutkan topik pembicaraan sebelumnya, aku pun melontarkan pertanyaan kepada
Uta.
"Tapi
aslinya bagaimana? Apa kamu beralasan tidak bisa?"
"Yah, kalau
disuruh jadi manajer sih sepertinya aku beneran tidak bakal sanggup!"
"Ah, sudah
kuduga."
"Jangan
bilang sudah kuduga juga, dong! Kalau aku berusaha keras, pasti bisa kok!"
"Ahaha!
Sebaliknya, Reita-kun sepertinya bakal sangat ahli dalam bidang pendukung
seperti itu."
Mendengar
pujian Miori, Reita langsung menanggapi dengan percaya diri. "Aku? Ya,
setidaknya aku memiliki kepekaan yang bagus untuk membaca perasaan orang lain.
Berbeda dengan Uta."
"Bisa
tidak sih stop menjadikan aku sebagai bahan ejekan terus!?"
Melihat
reaksi heboh Uta yang seperti komedian, Miori hanya bisa tertawa cekikikan.
"Ahaha,
kalian berdua lucu banget, sih. ……Nama kamu Reita-kun, ya?"
"Ah, iya
benar. Maaf ya, aku sampai lupa memperkenalkan diri. Namaku Shirotori Reita,
salam kenal."
"Aku Miori!
Boleh kan kalau aku memanggilmu Reita-kun? ——Tapi omong-omong, kamu beneran
ganteng banget, lho!"
……Hmm? Tunggu
sebentar. Mengapa cara Miori memangkas jarak kedekatan sosial terasa agresif
sekali?
"Terima
kasih atas pujiannya. Kalau begitu, boleh kan kalau aku juga memanggilmu
Miori-chan? Atau kamu tipe yang risi jika dipanggil dengan imbuhan chan?"
"Aku tidak
masalah, kok. Malah langsung panggil nama saja juga boleh~"
Alasan dia hanya
menyebutkan nama depannya saja tadi, jangan-jangan sengaja agar bisa dipanggil
dengan nama panggilan……?
Apalagi posisi
berdirinya kini menjadi sangat dekat secara fisik dengan Reita. Dari sudut mana
pun, dia jelas-jelas menaruh minat pada cowok itu.
Yah, cowok
seganteng Reita memang akan sangat sulit ditemukan bahkan jika harus mencari ke
seluruh penjuru sekolah sekalipun. Berbeda dengan Tatsuya yang memiliki kesan
liar, Reita adalah tipe tampan ortodoks yang disukai oleh semua kalangan.
Dia adalah jenis
cowok yang terlihat sangat cocok jika diposisikan sebagai pusat perhatian dalam
grup idola.
Sembari
memperhatikan Reita dan Miori yang sedang asyik mengobrol, aku mengedarkan
pandangan ke sekeliling secara acak.
Hoshimiya dan
Nanase tampak sedang mengobrol dengan tiga orang gadis dari kelompok Miori.
Obrolan mereka mengalir dengan sangat alami tanpa ada jeda kaku sedikit pun——
hingga akhirnya, seorang gadis berambut pirang dengan gaya ala gyaru
memanggil Miori.
"Miori,
bukankah sebaiknya kita segera pergi sekarang?"
"Ah, benar
juga! Oke. Kalau begitu Reita-kun, Sakura-san, sampai ketemu lagi nanti,
ya!"
Miori bergegas
melangkah kecil untuk kembali ke kelompoknya—— tetapi di tengah jalan, dia
mendadak berbalik arah seolah baru saja memikirkan sesuatu dan langsung berlari
menghampiriku.
"Ada apa
lagi, sih?"
Saat aku
mengernyitkan dahi karena bingung, dia membungkuk dan membisikkan sesuatu tepat
di dekat telingaku.
"……Debut
SMA-mu ternyata sukses besar, ya?"
"Jangan ikut
campur, deh."
"Hmm, kalau
urusan itu sih sepertinya aku tidak bisa tinggal diam. Soalnya aku mendadak
tertarik dengan Reita-kun, jadi tolong bantu aku, ya?"
"Eh……"
Melihat ekspresi
wajahku yang mendadak masam karena keberatan, Miori justru mengulas senyuman
manis yang penuh arti.
"Sebagai
gantinya, kalau terjadi sesuatu padamu nanti, aku juga pasti bakal membantumu,
kok."
Setelah
menyampaikan kesepakatan sepihak tersebut, Miori langsung berbalik dan
melangkah pergi meninggalkan area bersama ketiga temannya.
Padahal aku belum
memberikan jawaban setuju atau menolak. Tetapi dia tampaknya menganggap kalau
aku sudah menerima tawarannya begitu saja.
"Kalian
berdua ternyata beneran akrab, ya?"
"Dia
itu cuma tipe orang yang bisa mengakrabkan diri dengan siapa saja, kok."
"Fumn…… Berarti kepribadiannya mirip denganku, ya.
Ngomong-ngomong, apa yang kalian bicarakan di akhir tadi?"
——Membahas tentang dirimu, tahu. Kalimat jujur seperti itu
jelas tidak mungkin bisa kulontarkan di depan wajahnya sekarang.
Aku juga sama sekali tidak berniat untuk menyinggung topik
mengenai debut SMA-ku. Rasanya benar-benar memalukan.
"Bukan hal yang penting, kok. Cuma membahas sedikit
tentang masa-masa SMP dulu."
Aku mencoba berbohong untuk mengalihkan topik sembari
mengedikkan bahu santai. Reita
pun hanya merespons dengan senyuman kecil. "Begitu ya," ujarnya.
Di tengah
obrolan kami, tanpa disadari Tatsuya ternyata sudah membaur ke dalam latihan
klub basket di tengah lapangan.
Sembari
melihat Tatsuya yang tampak megap-megap karena dihajar habis-habisan oleh menu
latihan dari para senior, kami semua pun saling tertawa bersama.
Sejauh
ini, aku merasa diriku sudah berhasil melebur ke dalam lingkaran pertemanan
mereka tanpa ada kendala berarti…… setidaknya, begitulah menurut penilaian
pribadi dari sudut pandangku sendiri.
——Kalimat
dari Miori mengenai kesuksesan debut SMA-ku kembali melintas di dalam benak.
Jika di
mata orang lain penampilanku sudah terlihat seperti itu, apakah setidaknya aku
boleh menganggap kalau proses yang kujalani saat ini sudah berjalan di jalur
yang benar?
Namun,
tantangan yang sesungguhnya baru akan dimulai setelah ini.
Aku yang
sekarang ini sebenarnya baru saja berhasil berdiri di atas garis awal.
Bagaimana
cara bertindakku ke depannya, hal itulah yang akan menjadi penentu utama di
balik warna dari kehidupan masa mudaku yang kedua ini.
Prolog | ToC | Next Chapter



Post a Comment