NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Heimin Shusshin no Teikoku Shoukan, Munou na Kizoku Joukan wo Juurin shite Nariagaru V2 Chapter 3

 Penerjemah: Nels

Proffreader: Nels


Chapter 3

Anjing Kekaisaran

Seketika, waktu seolah berhenti. Jan segera menyadari alasan mengapa Kapten Lorenzo begitu gugup, namun Kolonel Gedol dan Mayor Simant masih melongo karena belum mengerti.


"...Apa maksudmu sebenarnya?" tanya Mayor Simant.


"Artinya persis seperti itu. Menyerahkan wilayah yang mengelola makam Kaisar, apa sebenarnya yang Anda pikirkan!?"


"A-apa masalahnya dengan hal itu!?"


"Bukan sekadar masalah, ini sudah pasti hukuman mati tiga garis keturunan tahu!?"


"Hu-ku..."


Mata dan mulut Mayor Simant terbelalak lebar. Di sisi lain, Kolonel Gedol akhirnya menyadari situasinya, dan wajahnya yang merah padam seketika berubah menjadi pucat pasi. Dia langsung mencengkeram kerah baju Mayor Simant dan berteriak.


"Ka-muuuuu! Kenapa kau memasukkan wilayah seperti itu ke dalam syarat negosiasi!?"


"Hiik..."


Pada saat itulah, akhirnya Mayor Simant sadar dari mabuknya.


"Kolonel Gedol! Apakah Anda benar-benar sudah menandatanganinya dengan Hofude?"


"Su-sudah."


Mendengar jawaban itu, Kapten Lorenzo merasa terpukul.


"Jika hal ini sampai ketahuan oleh pusat, sudah pasti seluruh wilayah akan disita... bahkan, satu keluarga... tidak, hukuman mati tiga garis keturunan tidak akan bisa dihindari!?"


"Hawa, hawawawawa!"


Entah dia masih mabuk atau memang begitulah sifat aslinya, yang jelas dia sangat panik. Mayor Simant berteriak-teriak mencoba mencari cara untuk membalikkan keadaan.


"Ba-batalkan saja janji semacam itu!"


"Ini adalah dokumen penandatanganan resmi yang diatur secara internasional, tahu!? Jika Kekaisaran membatalkannya secara sepihak, kepercayaan dari negara lain akan runtuh. Dan keputusan besar seperti itu tidak mungkin bisa dilakukan tanpa persetujuan Kaisar!"


Bahkan Kapten Lorenzo pun mulai bicara dengan kasar. Wajar saja, ini bukan lagi soal tingkat atasan atau bawahan. Tidak ada gunanya bersikap sopan sedikit pun kepada dua orang yang hampir pasti akan menghadapi kematian.


"Ba-ba-ba-bagaimana ini!?"


"Mayor Simant! Ini semua salahmu! Lakukan sesuatuuuuu!"


"Gueh... se-sesak."


Kolonel Gedol mencekik leher Simant, tapi tentu saja melakukan hal itu tidak akan menyelesaikan masalah.


"Pokoknya! Segera tawarkan usulan alternatif pertukaran wilayah. Meskipun saya rasa posisi kita akan sangat lemah saat bernegosiasi."


"Be-benar juga... Ikut kau, dasar bawahan sampah!"


"Hiiiiiiiiiiiiinnn."


Kolonel Gedol mencengkeram leher Mayor Simant dan menyeretnya.


Beberapa jam kemudian, mereka tiba di Benteng Algeido.


"Oh, Kolonel Gedol. Jan. Dan Kapten Lorenzo yang pernah kutemui sebelumnya. Ada apa?"


Sepertinya sosok Mayor Simant tidak terlihat di mata Ratu Basia.


"Anu... mengenai pertukaran wilayah, terjadi sedikit kekeliruan."


"Kekeliruan? Tidak, aku sudah memeriksa dokumennya dan tidak ada cacat sedikit pun."


"Bukan begitu. Wilayah Manayata itu sebenarnya adalah sebuah kesalahan."


"Kesalahan? Tidak ada kesalahan. Aku memang menuntut Manayata. Kita juga sudah memastikan lokasinya secara mendetail di peta, kan?"


"Itu... anu, apakah kami bisa meminta penggantian dengan wilayah selain Manayata?"


"Itu tidak bisa."


"..."


Ratu Basia menolak dengan tegas.


"Bagaimana dengan Gahadoru?"


"Tidak mau."


"La-lalu bagaimana dengan Kokoba?"


"Tidak ada yang perlu dibicarakan."


Kolonel Gedol menawarkan wilayah miliknya satu demi satu, namun semuanya ditolak mentah-mentah.


"Saya mohon! Saya akan menyerahkan semua wilayah yang saya tawarkan tadi!"


"Tidak butuh."


"..."


Ratu Basia menolak dengan jelas.


"Mohon maafkaaan saya! Saya mohoooon! Tolong, asal jangan Manayata sajaaaaa!"


Mayor Simant melakukan dogeza (sujud) dengan sangat gencar. Pada saat itulah, untuk pertama kalinya Ratu Basia menunjukkan ketertarikan.


"Ah, kau adalah pria yang menghina kami pada pertemuan sebelumnya ya."


"..."


Mayor Simant terperangah sampai rahangnya seolah mau lepas. Hal itu dikarenakan Ratu Basia mulai berbicara bahasa Kekaisaran dengan sangat fasih.


"A-apakah Mayor Simant telah melakukan suatu ketidaksopanan?"


"Ketidaksopanan? Bukan sekadar itu. Pria ini, entah karena mengira kami tidak mengerti bahasa Kekaisaran, terus-menerus melontarkan kata-kata yang merendahkan Suku Kumin."


"Ka-u... apa itu benar!?"


"Gueh... se-sesak..."


Kolonel Gedol mencengkeram leher Simant dengan kedua tangannya dan mencekiknya.


"Bo... bo-hong... i-itu salah paha-m—"


Meskipun begitu, Mayor Simant mencoba berdalih dengan memanfaatkan fakta bahwa tidak ada bukti.


"Salah paham? Kau mau bilang aku berbohong? Benar-benar keterlaluan ya. Hei."


Basia membawa sebuah alat berbentuk seperti kerang besar ke sana.


"Ini adalah barang yang dibawakan oleh pedagang bernama Nandal. Sepertinya ini adalah alat sihir yang disebut gramofon. Benda ini sangat berguna, bisa menyimpan kata-kata yang diucapkan dan mengeluarkannya kembali. Seperti ini."


Sambil berkata demikian, Ratu Biru itu mengalirkan kekuatan sihir ke dalam kerang tersebut.


'Seperti ini.'


Saat suara yang persis sama terdengar, seketika keringat bercucuran dari seluruh tubuh Mayor Simant. Wajahnya menjadi pucat pasi, dan mulutnya mulai mengeluarkan busa.


"Nah... dan ini adalah kerang dari kejadian waktu itu. Aku sendiri tidak ingin mendengarnya lagi, tapi apa kau masih berniat untuk terus berkelit?"


"Ba-bagaimana? Mayor Simant?"


"Hagii! Sa-saya benar-benar mohon maaf yang sedalam-dalamnya."


"Ka-mu!"


Saat Kolonel Gedol mencekik leher Mayor Simant sekuat tenaga, Ratu Basia menghela napas dan menjawab dengan senyum lebar.


"Bawa Hazen Heim ke sini. Setelah itu baru kita bicara."



Dalam perjalanan pulang menuju benteng Kekaisaran, suasananya benar-benar buruk. Mayor Simant sudah seperti raga tanpa nyawa. Kapten Lorenzo memasang wajah masam sepanjang waktu. Sementara Kolonel Gedol memacu kudanya dalam diam.


"Jadi, apa yang akan kau lakukan?"


"A-apa..."


Pria tua berambut putih itu bertanya kepada Mayor Simant sambil menggetarkan urat di antara alisnya.


"Aku bertanya apa yang akan kau lakukan!?"


"Hiik... sa-saya akan bilang pada Letnan Hazen untuk melakukan negosiasi."


"Apa kau bisa melakukannya?"


"Bisa! Saya pasti akan melakukannya!"


"Aku tidak bisa memercayaimu."


"Gak..."


"Aku meragukan martabatmu. Tidak, kata 'meragukan' itu terlalu halus. Martabatmu itu kotor. Hitam pekat!"


"Hiik... hiik..."


Dalam sebuah negosiasi, melakukan tindakan tidak sopan sebagai utusan adalah hal yang sangat tidak masuk akal. Dan pria di depannya ini berhasil melakukannya dengan sempurna terhadap Ratu Basia.


"Mo-mohon maaf..."


"Minta maaf pun tidak akan menghasilkan apa-apa. Aku tidak akan pernah memercayaimu lagi sampai kapan pun."


Kolonel Gedol melontarkan kata-kata itu lalu menoleh ke arah Kapten Lorenzo.


"Maaf, tapi hanya kau yang bisa diandalkan sekarang. Tolong, bujuklah Letnan Hazen."


"...Mohon maaf, meskipun saya yang pergi, dia tidak akan bergerak."


"Mana mungkin. Kau adalah atasannya, kan? Lebih percayalah pada dirimu sendiri."


"Be-benar! Kau kan atasannya Letnan Hazen! Sebagai atasan, bersikaplah seperti—"


"Kau jangan bicara sepatah kata pun!"


"Hiik... mo-mohon ma-af... gueh, se-sesak."


Kolonel Gedol mencekik leher Mayor Simant sekuat tenaga.


"Dengar, aku mohon, Kapten Lorenzo. Tentu saja aku menjanjikan promosi menjadi Mayor. Sebagai gantinya, akan ada satu orang yang diturunkan pangkatnya."


"A-apa... Kolonel Gedol, jangan-jangan itu..."


"Tentu saja kau!"


"Hiik... kalau soal itu, mohon... mohon... saya akan melakukan apa saja, jadi asal jangan yang itu..."


"Ja-jangan bercanda ya! Setelah melakukan kekacauan seperti ini, kau pikir kau masih bisa duduk di kursi Mayor!?"


"Gueh, se-sesak... u-urat leher... ja-jari Anda menusuk ke dalam..."


"Te-tenanglah, Kolonel Gedol! Dia benar-benar bisa mati."


"Cih... kau harus berterima kasih karena punya bawahan yang terlalu baik padamu."


Setelah berkata demikian, Kolonel Gedol meludahi Mayor Simant yang jatuh ke tanah.


"Mari kembali ke pembicaraan. Seperti yang saya katakan tadi, Letnan Hazen tidak akan mendengarkan saya."


"Ke-kenapa?"


"Karena jika saya memberikan kemudahan, Anda semua akan senang."


"..."


"Dia adalah pria tipe seperti itu. Pertama, dia tidak akan memberi ampun pada orang yang dia anggap sebagai musuh. Dan dia juga sudah memegang kelemahan yang bisa mengendalikan Anda semua sesuai keinginannya. Pada akhirnya, apa yang dia pikirkan? Tidak ada cara lain selain menanyakannya langsung."


"Apa... kau tidak bisa menanyakannya untukku?"


Menanggapi pertanyaan itu, Kapten Lorenzo menggelengkan kepalanya.


"Letnan Hazen tidak akan membiarkan Anda bersantai seperti itu. Lebih baik Anda menganggap bahwa saat ini leher Anda sudah ditempeli pisau."


"Cih... sudah cukup!"


"Higguu!"


Kolonel Gedol menunjukkan ekspresi seolah dikhianati dan menendang punggung Mayor Simant sekuat tenaga.


"Oi, kau. Cepat pergi!"


"Sa-saya?"


"Tentu saja! Sejak awal, kaulah yang menyebabkan situasi ini! Bersujudlah pada Letnan Hazen dan memohonlah padanya."


"Hiik... fuhiiiiiiiinnn."


Sambil menyeret Mayor Simant yang menangis histeris, Kolonel Gedol menuju ke tempat Hazen. Dan saat tiba di depan kamar, dia menendang bokong Simant dengan kasar.


"Cepat ketuk!"


"Ya, ba-baik..."


Sambil menuruti perkataan itu, Mayor Simant mengetuk pintu.


"Saya bisa dengar. Silakan masuk."


"..."


Dengan tangan gemetar memegang kenop, dia membuka pintu, dan di sana terlihat Hazen dengan pembawaan yang seolah-olah Kaisar sendiri. Bagi mereka berdua, kursi yang biasa saja itu terlihat seperti singgasana.


"Ada urusan apa?"


"Le-Le-Letnan Hazen. Aku akan melakukan apa saja. Jadi, tolong segera pergi ke tempat Ratu Basia dan urus negosiasi pertukaran wilayah itu."


"Apa saja?"


"Ya-ya. Kalau perlu, aku akan makan kotoran kuda sebanyak apa pun."


"Saya benar-benar menolaknya."


"..."


Hazen menggelengkan kepalanya dengan senyum cerah.


"To-tolonglah! Tolonglah, ba-gaimana pun caranya! Ba-gaimana pun caranya!"


"Saya ini, baru saja berpikir 'ingin kalian mati saja', lho."


!?


"A-a-apa..."


"Habisnya, atasan yang tidak kompeten itu tidak diperlukan, kan? Dan faksi Letnan Kolonel Kenek juga akan disapu bersih, jadi secara praktis atasan yang tersisa di sini hanya Kapten Lorenzo, kan? Secara kebetulan, ini sangat menguntungkan."


Hazen menampakkan senyum lebar.


"Ka-kau sadar apa yang kau katakan? Kau pikir bisa lolos begitu saja setelah mengatakan hal itu?"


"...Eh?"


Pemuda berambut hitam itu memiringkan kepalanya seolah menyadari sesuatu.


"A-ada apa?"


"Anu... menurut saya,"


"A-apa?"


"Bukankah... ini terlalu tinggi?"


"A-apa yang tinggi?"


"Kepala Anda."


"..."


Hazen berdiri dan menatap ke arah bawah.


"A-a-apa kau sudah gila!"


Menanggapi teriakan Kolonel Gedol, Hazen memberikan penjelasan dengan datar.


"Perlu saya sampaikan, agar Anda... tidak, agar keluarga Anda bisa bertahan hidup, semuanya tidak akan dimulai kecuali saya pergi bernegosiasi."


"I-itu..."


"Kalau tidak salah, Kolonel Gedol punya putri yang akan segera menikah, kan?"


"Hiik..."


Ketakutan merasuk saat melihat mata hitam pekat itu, bertanya-tanya bagaimana dia bisa tahu hal seperti itu.


"Mereka akan dibunuh."


"...Hentikan."


"Lalu, istri Kolonel, putra sulung yang akan mewarisi takhta keluarga, istrinya, putri Kolonel... Ah, kalau tidak salah, cucu Anda akan segera lahir, ya. Selamat. Yah, semuanya akan dibunuh, sih."


"Sudah kubilang hentikan!?"


Kolonel Gedol memukul dinding dengan tinjunya tanpa sadar.


"Hentikan? Apa barusan kau mengatakannya padaku?"


"..."


Hazen memelototi Kolonel Gedol, mendekatkan wajahnya hingga dahi mereka hampir bersentuhan.


"Oi. Jangan diam saja, jawab. Aku baru saja menyampaikan fakta yang akan terjadi. Karena kesalahanmu, keluargamu akan dimusnahkan. Karena kau tidak becus. Meski begitu, kau masih berani bersikap angkuh?"


"Hiik..."


Ekspresi Kolonel Gedol seketika berubah menjadi memelas. Setelah menyaksikan momen patah semangatnya, Hazen menampakkan senyum yang terlalu indah.


"Yah, terserah saja. Aku pun berpikir sebaiknya kalian mati saja, dan aku tidak peduli jika keluarga kalian mati karena kesalahan kalian sendiri."


"To-tolonglah. Keluargaku tidak bersalah."


"Benar. Mereka dibunuh karena kesalahanmu. Istrimu, putra sulungmu, putrimu, cucumu, semuanya."


"Saya mohon! Tolong... tolong lakukan sesuatu!"


Kolonel Gedol menjatuhkan kedua tangannya ke lantai, menempelkan dahinya dan meminta maaf.


"..."


Hazen mencengkeram rambut putihnya dengan kuat, memaksa wajah pria tua itu untuk mendongak.


"Penghinaan Kaisar... Kau mencoba menjatuhkanku dengan hukuman mati menggunakan cara yang sama, kan?"


"Mo-mohon maaf. Itu juga akan aku batalkan. Aku akan membatalkannya, jadi tolong... tolong..."


Kolonel Gedol berbisik dengan suara kecil yang hampir hilang.


"Le-Letnan Hazen! Aku mohon, ini semua salahku. Kolonel Gedol tidak bertanggung jawab atas ini."


"Kau, makan saja kotoran kuda sana. Setelah itu baru kita bicara."


"..." 


Hazen tidak melirik Mayor Simant yang sedang bersujud sedikit pun. Benar-benar dianggap tidak ada.


"Yah, tapi. Aku juga bukannya seorang pembunuh yang mencari kesenangan, jadi berikanlah sebuah keuntungan yang membuatku merasa layak untuk menangani negosiasi ini."


"Be-benarkah!? Kalau begitu, sebagai ganti Mayor Simant, bagaimana dengan kenaikan pangkat ke tingkat Mayor?"


"Hiik... Kolonel Gedol!?" 


Mayor Simant menampakkan ekspresi tidak percaya. Hazen sama sekali tidak memedulikan hal itu dan tampak berpikir seolah tanpa dosa.


"...Tapi. Secara resmi aku kan masih tingkat Letnan Dua? Aku belum pernah mendengar kenaikan pangkat sebanyak tiga tingkat sekaligus. Apa pusat akan menyetujuinya?"


"Ja-jangan khawatir soal itu. Berkat jasa perang kali ini, aku dijadwalkan untuk dipromosikan menjadi Brigadir Jenderal. Aku pasti akan membuatmu naik pangkat."


"Tidak jadi."


"Ke-kenapa?" 


Saat Kolonel Gedol bertanya, Hazen kembali mencengkeram rambut putihnya dengan kuat dan mendekatkan wajahnya.


"Jasa perang siapa? Kau hanya melakukannya karena terdesak dan tidak punya pilihan lain, kan? Orang seperti itu mau naik pangkat jadi Brigadir Jenderal? Aku tidak suka."


"Higui..."


"Selain itu, apa kredibilitas dari janji mulutmu? Setelah masalah selesai, kau pasti berencana untuk berpura-pura tidak tahu apa-apa, kan?"


"Ti-tidak, tidak begitu."


"Mundurlah dari promosi itu."


"...Eh?" Kolonel Gedol tidak memercayai pendengarannya sendiri. Rasanya apa yang dia dengar hanyalah halusinasi yang membuatnya ingin memotong telinganya sendiri.


"Ikatlah sihir kontrak untuk menulis surat pernyataan mundur segera setelah pemberitahuan internal tentang kenaikan pangkat menjadi Brigadir Jenderal datang."


"Ma-mana bisa begitu."


"Kalau tidak mau ya sudah. Aku tidak punya waktu untuk meladeni orang yang akan mati, jadi bisakah kau segera keluar dari sini?"


"Sa-saya lakukan! Saya akan mundur!"


"...Sepertinya kau tidak suka?"


"Sa-saya akan mundur dengan senang hati! Ah, saya senang sekali." Kolonel Gedol berpura-pura gembira dengan wajah yang sangat ingin menangis.


Setelah menghancurkan promosi atasannya berkeping-keping, Hazen menampakkan senyum cerah.


"Dan lagi. Sekalian, masukkan Kapten Lorenzo ke tingkat Letnan Kolonel."


"Let... Itu mustahil." Kolonel Gedol memohon dengan mata berkaca-kaca. Jabatan militer adalah pintu yang semakin sempit semakin tinggi kau naik. Terutama promosi dari tingkat Mayor ke Letnan Kolonel, tingkat kesulitannya jauh berbeda. Batasannya sangat besar, dan kenaikan pangkat dua tingkat yang melompati batasan itu adalah hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.


Namun, tanpa memedulikan hal itu sedikit pun, Hazen menatap rendah Kolonel Gedol di depannya seolah-olah melihat sampah dapur.


"Lakukan jika kau tidak ingin dipenggal bersama seluruh keluargamu."


"Ju-justru karena itulah, jika aku menjadi Brigadir Jenderal, aku akan bisa mengangkatnya."


"..." Tiba-tiba, Hazen mencengkeram rambut Kolonel Gedol lebih kuat lagi dan menariknya. Terdengar suara akar rambut yang tercabut, dan pria tua berambut putih itu meringis kesakitan.


"...Higui."


"Dengar? Jangan bermimpi. Jangan memperlihatkan kebobrokan Kekaisaran lebih dari ini. Pangkat tingkat Kolonel pun sebenarnya terlalu mewah untukmu."


"Hiik..."


"Selain itu, tidak apa-apa jika kau ingin bilang 'tidak bisa', aku tidak keberatan, kau tahu? Karena jika begitu kau hanya akan mati, sedangkan aku tidak akan menderita kerugian apa pun."


"Sa-saya lakukan!"


"Lakukan?"


"...T-tolong biarkan saya melakukannya! Saya mohon!"


Kolonel Gedol bersujud dan memohon.


"Benar-benar. Bilang sulit sebelum mencoba. Jika semua jasa kali ini dijadikan jasa Kapten Lorenzo, bukankah akan berhasil?"


"Ya! Saya akan membuktikannya! Pasti."


"...Letnan Hazen Heim. Apa maksudmu?"


Kapten Lorenzo yang sedari tadi hanya terperangah melihat interaksi mereka akhirnya menyela saat pembicaraan beralih ke promosinya.


"Apa maksudku soal apa?"


"Asal tahu saja, aku tidak berniat naik jabatan dengan cara seperti ini."


"Kau mau melarikan diri dengan cara seperti itu? Sekarang kau sedang melihat sendiri kebobrokan para petinggi, kan?"


"..."


"Kekaisaran terus melemah dalam sejarah panjangnya. Batang pohon besarnya sudah mulai membusuk. Bangsawan kelas atas menguasai posisi-posisi utama, sehingga promosi berdasarkan kemampuan tidak bisa lagi diharapkan. Jika dahan tua tidak dipangkas dan dahan baru tidak ditumbuhkan, negara ini pasti akan musnah."


Bagi Hazen, Kekaisaran hanyalah umpan yang menguntungkan. Untuk membangun kekuatan baru, perlu dilakukan pembersihan terhadap para bangsawan yang memonopoli hak istimewa. Untuk itu, diperlukan kumpulan orang-orang yang berbakat.


"Apa tujuanmu?"


"Aku hanya ingin orang yang kompeten berada di puncak Kekaisaran."


Kenaikan pangkatnya sendiri bukanlah masalah utama. Yang paling penting adalah memastikan negara ini menjadi bangsa yang kuat setelah dia memegang kendali penuh atas Kekaisaran.


"Tapi, aku tidak suka cara seperti ini."


"Hah... keras kepala sekali. Tapi jika Anda tidak mau menerima, saya akan lepas tangan."


"..."


"Yang akan kesulitan adalah pihak Kolonel Gedol dan keluarganya. Jika Anda tidak keberatan dengan hal itu, saya tidak peduli."


"Hiik... Kapten Lorenzo. Aku mohon. Demi segalanya, turutilah perkataan Letnan Hazen. Kalau tidak, keluargaku... keluargaku..."


Kolonel Gedol bersujud sambil menarik ujung baju Kapten Lorenzo dengan air mata bercucuran. Sambil memalingkan muka dari pemandangan menyedihkan itu, prajurit yang jujur itu menatap tajam ke arah Hazen.


"...Asal kau tahu, aku tidak akan memberikan penilaian tinggi padamu."


"Silakan saja."


"Seberapa besar pun jasa yang kau berikan, jika kau menggunakan cara yang salah sebagai prajurit Kekaisaran, itu lebih rendah daripada perampok."


"Tentu saja. Aku pun sebenarnya tidak suka cara seperti ini. Jika aku dijebak dengan muslihat, aku akan membalasnya, tapi ini bukan sesuatu yang patut dipuji dan aku pun tidak ingin dinilai."


Itu adalah perasaan tulus Hazen. Namun, di dunia ini ada terlalu banyak kotoran yang membuat orang ingin memalingkan muka, sehingga dia terpaksa melakukan hal ini.


"...Letnan Hazen. Aku adalah atasanmu. Secara praktis, akulah yang akan menilaimu. Apakah kau akan menerima penilaian apa pun dariku?"


"Ya."


"..."


Kapten Lorenzo tampak ragu untuk beberapa saat. Namun, bagi Hazen, keraguan itu adalah sesuatu yang baik. Adalah hal yang wajar jika semua orang menginginkan kenaikan jabatan. Namun, bertanya pada diri sendiri 'apakah aku memiliki kualifikasi itu?' adalah hal yang sangat penting.


"Saya tidak memaksa. Tapi karena Anda terlalu baik hati, Anda pasti tidak akan bisa membiarkan orang-orang tidak berharga ini mati begitu saja."


"...Letnan Hazen. Seandainya aku tidak menerima, apa yang akan kau lakukan?"


"Aku? Yah, karena mereka pasti akan mencoba menyeret aku mati bersama mereka, mungkin aku akan merebut benteng ini dan berkhianat ke Kadipaten Agung Dioldo."


"...Hah."


Kapten Lorenzo menghela napas panjang.


"Kerugian bagi Kekaisaran akan terlalu besar jika kehilanganmu. Sebagai pengawas, aku akan bertahan di posisiku."


"Lakukanlah kalau begitu."


Hazen mengangguk, lalu segera mengalihkan pandangannya kepada Mayor Simant.


"Sekarang. Ada hal yang harus kuputuskan denganmu. Soal Jan. Aku ingin membelinya kembali."


"Si-silakan. Jika kau mau membelinya kembali seharga sepuluh koin emas besar."


"Apa yang kau katakan? Yang akan kubayar adalah tiga koin emas besar."


!?


"Ap... bagaimanapun juga..."


"Tidak puas? Kalau begitu bagaimana kalau dua koin emas besar?"


!?


"Ha-harganya malah turun!?"


Mayor Simant berteriak sambil menangis.


"Masih tidak mau? Kalau begitu tiga koin emas kecil."


"Itu... itu terlalu keterlaluan... Aku akan makan kotoran kuda atau apa pun. Aku akan memakannya, jadi tolong... tolong..."


"Meskipun kau melakukannya sekarang, sudah terlambat. Satu koin emas kecil."


"Hiik... saya mohon... tiga koin emas besar... atau satu koin emas besar pun boleh."


"Lima koin perak besar."


"..."


Deklarasi kejam dilontarkan setiap detik. Tempat pelelangan di mana harganya terus merosot. Kolonel Gedol, Kapten Lorenzo, dan Jan hanya bisa menatap pemandangan itu dengan terperangah.


Tak lama kemudian.


"Higuuu... baiklah."


Mayor Simant mengangguk dengan suara yang hampir menghilang.


"Tidak kedengaran. Tiga koin perak besar."


!?!?


"Se-sebanyak itu... baiklah! Aku jual gadis ini seharga tiga koin perak besar! Aku jual!"


"Transaksi selesai."


Hazen berbalik dan menatap gadis berambut merah muda itu.


"Selamat datang kembali, Jan."


"Se-setelah melakukan tindakan biadab seperti itu, mengapa Anda bisa menunjukkan senyum yang begitu cerah?"


"Biadab? Aku merasa tersinggung. Kontrak adalah sesuatu yang terjalin berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Lagipula, Mayor Simant itu sangat keterlaluan, karena dia menganggapmu hanya berharga tiga koin perak besar."


"Ja-jangan pernah menggunakan kata 'keterlaluan' kepada orang lain lagi."


Jan menghela napas panjang.


"Benar-benar anak yang aneh."


"Makanya, berhentilah mengabaikan perkataanku begitu saja!"


"Nah. Cukup basa-basinya. Bagaimana kalau kita pergi ke tempat Ratu Basia?"


Hazen berdiri dan mulai bersiap-siap untuk keluar.


"Eh... aku juga?"

Saat Kolonel Gedol bertanya, Hazen mencengkeram rambut putihnya dengan kuat. Terdengar suara beberapa helai rambut tercabut, dan pria tua itu meringis kesakitan.


"Tentu saja. Karena kau adalah Kolonelnya, kau harus menandatanganinya di sana dan segera menyelesaikannya."


"Higui... maafkan saya, maafkan saya."


"Letnan Hazen! Hentikan!"


Kapten Lorenzo buru-buru melerai. Kolonel Gedol bersembunyi di balik punggungnya sambil menangis.


"Benar-benar. Atasan yang tidak kompeten itu memang merepotkan. Tentu saja, aku tidak sedang membicarakan Anda, Kapten."


"...Kau seharusnya memiliki sedikit lebih banyak rasa hormat kepada orang yang lebih tua."


"Akar dari rasa hormat kepada orang tua adalah karena mereka memiliki wawasan yang lebih luas daripada orang muda. Aku tidak berniat menghormati orang tua yang hanya memiliki wawasan dangkal sampai-sampai terjebak dalam perangkap murahan seperti ini."


"Hah... kepalaku benar-benar sakit."


"Anda tidak apa-apa? Jika merasa kurang sehat, saya akan membawa Anda ke ruang medis."


"...Haaah."


Kapten Lorenzo memegang pelipisnya dan menghela napas yang sangat, sangat panjang.


"Sepertinya Anda benar-benar tidak sehat... Baiklah. Pertemuan dengan Ratu Basia biar aku yang urus di sini. Oi, cepat bersiap."


"A-aduh, sakit!"


Hazen menendang Kolonel Gedol dan Mayor Simant yang sedang menangis terisak agar mereka bangun.


"Jan. Selagi menuju ke tempat Suku Kumin, susunlah draf pasal-pasal sihir kontrak. Kita akan membuat kontrak untuk membuat orang ini patuh sepenuhnya."


"Ha-hanya aku? Pria ini—"


"Mayor Simant kan sudah hancur? Lagi pula, tidak ada nilai guna bagi pria yang akan jatuh."


"Hiik... tolong, maafkan saya! Maafkan saya! Maafkan saya!"


Mayor Simant memohon sambil terus-menerus membenturkan kepalanya ke lantai. Sambil mengalirkan air mata, keringat, ingus, hingga air liur—hampir seluruh cairan tubuhnya—dia menggosokkan dahinya ke lantai sampai berdarah.


"...Hah."


Hazen yang menatap pemandangan itu diam-diam menghela napas panjang, lalu mencengkeram rambut Mayor Simant dengan kuat dan mendekatkan tatapan tajamnya.


"Oi."


"Hiik..."


"Apa kau ingin tetap berada di posisi Mayor?"


"Ya, ya! Saya mohon..."


"Apa kau akan menuruti segala perkataanku?"


"Ya, ya! Saya akan menuruti apa saja! Kalau perlu, saya akan makan kotoran kuda!"


"...Baiklah. Kalau begitu, jika kau menuruti instruksi kali ini, aku akan membiarkanmu tetap menjadi Mayor."


"Be-benarkah!?"


"Ya, janji."


"Terima kasih... terima kasih banyak..."


Mayor Simant berkali-kali membenturkan kepalanya ke lantai.


"Kalau begitu, ayo pergi. Membuang-buang waktu saja."


Hazen berkata demikian lalu mulai berjalan. Ketiganya buru-buru mengikuti dari belakang.


Untuk perjalanan menuju Benteng Algeido, mereka memutuskan menggunakan kereta kuda. Tujuannya adalah untuk menyusun kontrak guna menundukkan Kolonel Gedol secara permanen dan mutlak. Namun, yang sebenarnya menyusun kontrak tersebut adalah Jan, yang baru saja memperbarui sihir kontraknya.


Gadis berambut merah muda itu harus menyusun draf berdasarkan penjelasan lisan Hazen dan merangkumnya menjadi kontrak sempurna tanpa celah sedikit pun.


Hazen menyampaikan kata-kata yang terlintas di benaknya satu per satu kepada Jan. Kolonel Gedol juga ada di sana, namun dia benar-benar dianggap tidak ada.


"Begitulah... dia tidak akan menjalin hubungan subordinasi denganku, melainkan dengan Kapten Lorenzo."


"...Dengan Kapten Lorenzo."


Hazen tidak melewatkan ekspresi penghinaan yang muncul sesaat di wajah Kolonel Gedol.


"Kau tidak suka? Kalau mau, bisa juga denganku, lho?"


Hazen melontarkan kata-kata itu sambil mencengkeram kuat rambut putih pria tua yang sudah mulai rontok itu dan memelototinya.


"Hidauu... ti-tidak, saya tidak keberatan! Saya senang! Saya sangat senang! Terima kasih banyak atas pertimbangan Anda!"


"Katakan begitu dari awal. Ke depannya, jika kau menunjukkan ekspresi tidak suka atau ragu dalam menjawab, aku akan lepas tangan kapan saja. Ingatlah bahwa itu berarti hukuman mati bagi seluruh tiga garis keturunanmu."


"Ya, baik!"


Kolonel Gedol sudah tidak punya nyali lagi untuk membantah. Dia hanya fokus menjawab dengan penuh semangat dan berusaha agar tidak merusak suasana hati Hazen.


"Mulai sekarang, mintalah instruksi dari Kapten Lorenzo untuk setiap keputusan. Jangan pikirkan apa pun. Selama kau duduk diam, aku akan menjamin posisi Kolonelmu."


"..."


Kolonel Gedol kembali menampakkan ekspresi terhina.


"Hah... kau masih tidak puas? Benar-benar harga diri yang tidak berguna. Bukankah Kapten Lorenzo adalah bawahan yang baik bagimu?"


"..."


"Kalau kau tidak menjawab pertanyaan selanjutnya, aku akan menghentikan negosiasi ini."


"...I-iya! Iya, iya, iya!"


"Cukup satu kali 'iya'. Apa kau tidak diajari saat masih kecil?"


"...Iya."


"Menurutku ini sama sekali tidak perlu, tapi jika itu Kapten Lorenzo, setidaknya dia masih akan menunjukkan sedikit rasa hormat padamu."


"...Anu."


"Hmm? Ada apa? Aku akan menerima pertanyaanmu."


"Te-terima kasih banyak. Tapi, soal itu... Kapten Lorenzo adalah pria yang sangat memegang teguh kesetiaan, jadi saya tidak tahu apakah dia akan menerima hubungan subordinasi seperti itu."


"Kau... benar-benar tidak mengerti apa-apa ya."


Hazen kembali mencengkeram kuat rambut putih Kolonel Gedol yang tinggal sedikit itu dan memelototinya. Terdengar suara akar rambut yang tercabut, dan pria tua itu meringis kesakitan.


"Higui..."


"Kau yang harus membujuknya. Biarpun harus bersujud, menjilat bagian bawah sepatunya, atau makan kotoran kuda sekalipun, mohonlah padanya agar dia mau menjalin hubungan subordinasi ini."


"I-itu..."


"Jika dia menolak, aku akan lepas tangan sepenuhnya dari masalah ini. Aku akan memasukkan hal itu ke dalam kontrak, jadi lakukanlah seolah nyawamu taruhannya. Yah, karena kau memang akan mati jika tidak melakukannya, aku yakin kau akan berusaha."


"...Baik."


"Jan, apa kontraknya sudah selesai ditulis?"


"I-ini terlalu kacau sampai-sampai aku tidak bisa merangkumnya."


"Benar-benar. Kemampuan untuk menyerap informasi secara ringkas juga merupakan kemampuan yang penting, tahu? Asahlah itu."


"..."


Jan menampakkan ekspresi kaget.


"A-anu..."


Di tengah pembicaraan itu, Mayor Simant yang ikut serta mengangkat tangannya dengan ragu-ragu.


"Ada apa?"


"Apa yang harus saya lakukan?"


"Sikap yang bagus. Jika kau mau patuh dan bertindak proaktif seperti itu, aku akan menjamin posisimu sebagai Mayor."


"Ya, baik! Katakan saja apa pun."


Sekarang dia sudah benar-benar menjadi seperti anjing. Setelah melihat Kolonel Gedol ditindas sedari tadi, Mayor Simant segera meninggalkannya dan memilih menjadi anjing Hazen.


"Mayor Simant. Tidak seperti Kolonel yang tidak berguna itu, ada hal yang ingin kuminta kau lakukan. Begitu tiba di Benteng Algeido, aku akan memberikan instruksi detailnya."


"Saya mengerti. Saya akan lakukan apa saja! Apa saja!"


Mayor Simant menjawab dengan gembira.


Beberapa jam kemudian, Benteng Algeido mulai terlihat. Hazen turun dari kereta kuda dan mulai mengaduk-aduk tempat penyimpanan barang.


"Akhirnya sampai juga. Nah, Mayor Simant."


"Ya!"


"Pasang ini."


"...Hah!?"


Mayor Simant menatap benda yang diterimanya dengan penuh tanda tanya.


"Anu, Letnan Hazen."


"Hmm? Ada apa?"


"I-ini untuk apa?"


"Apa, kau tidak mungkin belum pernah melihatnya. Ini kalung leher, kalung leher."


"Ka-lung..."


"Ayo, cepat pasang. Lalu merangkaklah."



Mayor Simant meragukan pendengarannya sendiri. Kata-kata yang didengarnya terlalu mengerikan hingga otaknya seolah menolak untuk memahaminya.


"Cepat pasang."


"Eh... anu, Letnan Hazen. Untuk ukuran kuda, ini sepertinya agak kecil—"


"Apa kau sedang mengigau? Tentu saja ini dipasang di lehermu."


"..."


Ternyata itu bukan halusinasi.


"Ke-kenapa saya harus melakukan hal seperti itu?"


"Tidak perlu berpikir. Kau adalah anjing, jadi diamlah dan berjalan."


"..."


Hazen tersenyum cerah.


"Ke-kejam sekali..."


Gadis berambut merah muda itu bergumam sambil gemetar.


"Jan. Apa kau masih merasa kasihan pada sampah ini? Bukankah dia yang dengan beraninya menganggap Suku Kumin sebagai anjing?"


"...Memang benar, sih."


"Dipanggil 'anjing suku barbar' oleh sampah seperti ini pasti merupakan penghinaan besar bagi Ratu Basia. Tidak berlebihan jika kukatakan bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk meredakan kemarahannya."


"..."


Yah, pasti ada cara lain, pikir Jan.


"Mayor Simant. Ini adalah tugas yang penting. Aku janji. Jika pertemuan ini berhasil, aku akan menjamin kau tetap berada di posisi Mayor."


"Be-benarkah... gya, gyaaaaaaaa"


Gug dug dug dug!


"Sudah kubilang kau itu anjing, kan? Jangan bicara bahasa manusia."


Hazen melontarkan kata-kata itu sambil berkali-kali menginjak wajah Mayor Simant.


"Bi-biadab."


"Apa yang kau katakan, Jan. Aku sudah jauh lebih lembut sekarang. Dulu saat masih muda, aku biasa menyeret orang dengan paksa di sepanjang jalan menuju ke sini."


Seolah mengenang masa lalu, pria bernama Hazen itu menatap ke langit.


"I-itu umur berapa?"


"Yah, sudah sangat lama sampai aku tidak ingat. Jauh lebih muda daripada umurmu."


"...Pengakuan iblis."


Benar-benar sebuah pengakuan yang mengejutkan. Sejak saat itu, detik itu juga, Jan menetapkan Hazen sebagai orang gila yang sesungguhnya.


"Oh, Mayor Simant. Pembicaraan kita tadi terpotong. Seperti yang kukatakan sebelumnya, ini adalah tugas yang hanya bisa dilakukan olehmu. Jika Suku Kumin sudah merasa puas, kebodohan yang kau lakukan akan dianggap lunas. Kau kan bahkan tadi berniat makan kotoran kuda. Kau pasti bisa menahannya, kan?"


"Guk."


"Anak pintar."


Hazen mengelus-elus kepalanya sambil menampakkan senyum cerah yang menyegarkan.


Setelah itu, Hazen melangkah dengan santai di atas tanah sambil diikuti oleh Mayor Simant yang merangkak dengan empat kaki.


"Hmm? Ada apa, Jan. Cepatlah."


"A-aku tidak mengerti kenapa Anda bisa berjalan dengan begitu gagah dan penuh percaya diri."


"Haha."


"Aku tidak sedang bercanda, tahu!"


Sambil melayangkan protes keras, Jan tetap mengikuti dari belakang. Di sisi lain, Kolonel Gedol tetap berdiri terpaku di tempat sambil mencubit pipinya sendiri.


"Ada apa? Asal tahu saja, kau tidak perlu menjadi anjing. Segala sesuatu ada perannya masing-masing. Kau tinggal duduk diam dan berdoalah pada langit agar negosiasi ini berhasil."


"...Ternyata ini memang bukan mimpi."


Pria tua berambut putih itu merasakan rasa sakitnya, lalu mulai berjalan dengan lunglai seperti mayat hidup.


"Benar-benar. Padahal bukan sedang berada di medan perang. Mengenaskan sekali melihat prajurit yang sudah naik sampai pangkat Kolonel bersikap begini. Untuk apa kau menjadi prajurit?"


"Itu... demi Yang Mulia Kaisar."


"Jangan berbohong dengan cara yang sangat kentara begitu. Jika kau punya kesetiaan sebesar itu, kau tidak akan mungkin melupakan makam Kaisar terdahulu."


"..."


"Apa kau sudah lupa? Pasti begitu. Kolonel Gedol. Mungkin dulu kau adalah prajurit yang hebat. Namun, seiring dengan kenaikan jabatanmu, kau terjatuh ke dalam perangkap yang sering menjerat banyak orang."


"...Perangkap apa?"


"Berpikir bahwa atasan adalah orang yang menyuruh bawahannya bekerja. Karena itu, kau merasa tidak perlu melakukan apa pun. Kau berpikir begitu dan akhirnya tidak melakukan apa-apa, kan?"


"..."


"Dalam arti tertentu, mendelegasikan tugas itu memang perlu. Karena kau tidak mungkin mengerjakan semuanya sendirian. Namun, kau tidak boleh mencari jalan mudah. Aku sangat membenci orang yang menggunakan tenaga bawahannya untuk naik jabatan sebagai ganti usahanya sendiri, dari lubuk hatiku yang paling dalam."


"..."


"Kau pun dulu pasti begitu, kan? Kau pasti membenci atasan yang dengan bangga menceritakan jasa hasil kerja kerasmu padahal dia sendiri tidak melakukan apa-apa, kan?"


"..."


"Yah, terserah apa yang kau rasakan, itu kebebasanmu. Apa pun yang terjadi nanti, kau tidak akan pernah naik jabatan lagi dari pangkat Kolonel. Jadi, terserah kau ingin menghabiskan masa pensiunmu nanti seperti apa. Namun, itu semua selama masih dalam batas kontrakmu denganku."


"..."


Setelah itu, Kolonel Gedol terus berjalan layaknya seorang penderita penyakit tidur (somnambulisme).


***


Mereka tiba di Benteng Algeido. Saat Hazen berjalan masuk, setiap orang dari Suku Kumin menatapnya dengan pandangan penuh keterkejutan.


"Ha-Hazen."


"Oh, Kosaku. Sudah lama tidak bertemu. Di mana Ratu Basia?"


"Beliau ada di ruang komando... tapi, pria ini?"


"Ah, anjing ini?"


Hazen menendang bokong Mayor Simant dengan kasar.


"Keng! Keng!"


"..."


"Kudengar dia telah bersikap tidak sopan pada kalian. Sebagai hukuman, aku memutuskan untuk memeliharanya."


"...Kau benar-benar pria yang menakutkan ya. Aku akan segera mengantarmu menemui Ratu Basia."


"Tolong ya."


Kosaku menunjukkan senyum pahit lalu mengantar mereka ke ruang komando.


Saat masuk ke dalam, para petarung Suku Kumin tampak terperangah.


Namun, Hazen berlutut dan merentangkan tangannya secara horizontal seolah tidak terjadi apa-apa.


"Ratu Basia. Sudah lama tidak bertemu."


"Ya... Dan... anu, ada apa dengan Mayor Simant itu?"


"Oh, mohon maaf. Beri salam."


"...Guk!"


Mayor Simant menggonggong sambil gemetar karena hinaan tersebut.


"Anu... ini maksudnya apa?"


"Saya datang untuk mempersembahkannya sebagai budak."


!?


"Karena dia telah melakukan ketidaksopanan yang besar kepada Anda sekalian, silakan lakukan apa pun sesuka hati Anda, mau direbus atau dibakar sekalipun."


"Guk!?"


Mayor Simant menatap Hazen dengan wajah anjing yang terperangah.


"Eh... a-apa maksudnya? Anda bilang jika saya melakukan ini, posisi Mayor saya akan dijamin."


"Tentu saja. Karena kau akan menjadi 'orang hilang', posisimu akan tetap sebagai Mayor tanpa berubah."


"...Ma-mana ada penjelasan seperti itu!"


Mayor Simant bangkit berdiri dan mencoba menyerang. Namun, sebelum tinjunya sampai, Ray Fa yang ikut mendampingi segera meringkusnya.


"Akal-akalan! Akal-akalan, akal-akalan, akal-akalan! Kau mencoba menipuku dengan permainan kata seperti itu—"


"Memang benar."


"...Hah?"


"Ini memang akal-akalan. Bisa dibilang permainan kata. Ternyata kau paham juga ya."


"Ka-kalau begitu..."


Tapi tahu tidak?


Hazen menampakkan senyum cerah.


Dia mencengkeram rambut Mayor Simant dengan kuat dan berkata:


"Mana mungkin aku menepatinya? Janji dengan orang sepertimu."


"..."


"Apa kau itu temanku? Berpikir sepersekian detik saja kau pasti akan mengerti."


"Gak... lepaskan! Lepaskan, lepaskan, lepaskan!"


"Sebuah janji itu baru bisa terjalin jika ada hubungan kepercayaan. Dan apakah hal semacam itu ada di antara aku dan kau meski hanya seujung kuku? Tentu saja tidak, kan?"


Hazen menatap rendah Mayor Simant yang meronta marah layaknya melihat seekor serangga.


"Jadi, silakan pekerjakan dia sesuka hati Anda."


"Te-terima kasih tawarannya. Tapi suku kami tidak memiliki budaya biadab seperti perbudakan."


"Kalau begitu, Anda boleh menyiksa dan mengeksekusinya."


"Hah... saya mohon maafkan saya! Tolong... tolong..."


Mayor Simant memohon sambil menangis. Akhirnya, Ratu Basia menatap rendah ke arahnya dan memberi instruksi kepada bawahannya.


"...Oi, bawa 'isi perut busuk' ini ke penjara."


"Hiik... mohon ampuni saya... tolong... tolooooooooong!"


Sambil meninggalkan teriakan ajal, Mayor Simant pun digiring pergi.


"Fuu... sekarang jadi tenang."


"Apakah Anda tidak menyukainya?"


"...Tidak, memang benar aku merasa tidak nyaman karena penghinaan yang kuterima dari pria itu. Namun, Hazen. Berkatmu, itu jadi tidak penting lagi. Setelah memberinya makan di penjara selama beberapa hari, aku akan mengirimnya kembali ke benteng kalian."


"Begitu ya."


"Fufu, apakah ini juga bagian dari muslihatmu?"


"Mana mungkin. Saya justru kecewa karena Anda tidak melenyapkannya."


"..."


Jan gemetar melihat Hazen yang tampak benar-benar kecewa dari lubuk hatinya.


"Nah, hiburannya sudah berakhir. Mari kita bertransaksi."


"Bagaimana dengan Kariruhayu dan Kumokaruna, ditambah Sokohiyu dan Mazuyui?"


"Hooh... kau cukup murah hati ya."


Wilayah yang dipilih Hazen semuanya adalah daerah pegunungan yang subur.


"Baiklah, aku terima usulan Hazen."


"Terima kasih banyak. Jan, segera buatkan kontraknya."


"Paling tidak butuh beberapa hari, kan? Sampai saat itu, mari kita berpesta."


"……Jan. Selesaikan semuanya dengan begadang semalaman. Jika memakan waktu dua hari, hatiku tidak akan sanggup."


Hazen menghela napas sambil menatap Ratu Basia yang tersenyum.


***


Fajar menyingsing. Hazen terbangun dalam kondisi mabuk. Sejak malam itu, dia dipaksa meminum banyak minuman keras lokal, dan perasaannya sangat buruk. Saat bangkit dari tempat tidur, dia masih merasa limbung.


Dia tidak menyukai alkohol karena membuat pikiran menjadi tumpul.



Saat pergi ke wastafel untuk mencuci muka, tiba-tiba Ratu Basia masuk.


"Selamat pagi."


"Ada apa?"


"Tidak, aku hanya merasa kau masih kurang minum."


"To-tolong ampuni saya."


"Hahaha! Bercanda. Sepertinya kontraknya sudah selesai, jadi aku datang untuk memanggilmu."


"Begitu ya. Sampai membuat Ratu sendiri yang menjemput, sepertinya aku harus lebih mendidik Jan."


"Kau masih tetap keras pada Jan ya. Tapi bukan begitu. Aku sendiri yang bilang ingin pergi. Ada sedikit hal yang ingin kubicarakan."


"Apa itu?"


"Hazen. Apa alasan sebenarnya kau memilih tanah-tanah itu."


Ratu Basia bertanya. Di meja perundingan, dia sengaja tidak mengatakannya, tapi pertukaran wilayah ini sangat luar biasa. Terlalu menguntungkan bagi Suku Kumin, dan keuntungan bagi Kekaisaran sangatlah minim.


"......Saya ingin Suku Kumin menjadi lebih kuat di daerah pegunungan."


"Itu, tentu saja."


"Bukan. Jauh lebih kuat dari sekarang. Sejauh mungkin."


"......Kenapa?"


Ratu Basia menunjukkan ekspresi heran.


"Paling cepat dua tahun lagi, mungkin akan tiba saatnya saya meminjam kekuatan kalian."


"Baiklah."


"......Anda tidak ingin menanyakan alasannya?"


"Lagipula kau tidak akan mengatakannya, kan? Selain itu, Suku Kumin tidak akan melupakan budi yang diterima."


"Budi? Saya hanya sekadar melakukan transaksi dengan Anda."


"Namun, kami tidak perlu lagi khawatir soal kelaparan, dan berhasil mendapatkan tanah yang subur. Ancaman Kekaisaran telah hilang, dan kami mendapatkan ketenangan."


"......Ketenangan yang sesaat."


"Ketenangan abadi itu tidak ada. Yang bisa kami lakukan hanyalah terus melangkah agar ketenangan itu bertahan sedikit lebih lama."


"......"


Hazen terdiam sambil menatap matanya, lalu tak lama kemudian, Jan datang.


"Ah, apa yang Anda lakukan!? Padahal Anda membiarkan saya sendiri begadang semalaman—"


"Sudah jadi?"


"Kh...... tidak ada satu pun kata penghargaan!"


"Daripada itu, tunjukkan kontraknya."


Hazen mengabaikan Jan yang terperangah sepenuhnya dan membaca beberapa lembar perkamen.


"Ya. Jika begini sudah cukup. Jan, segera panggil Kolonel Gedol."


"Bukankah pekerjaan yang Anda berikan terlalu banyak?"


"Normal saja."


"Aku bilang begini karena ini abnormal, tahu!?"


"Yah, setiap orang berbeda."


"A-aku rasa ini benar-benar salah. Selain itu, Kolonel Gedol sekarang sudah seperti raga tanpa nyawa, jadi sulit untuk menyapanya."


"Kalau raga tanpa nyawa bukankah lebih mudah? Beri instruksi pada Ray Fa untuk menyeretnya kemari."


"Bagian itulah yang abnormal!?"


Jan memprotes dengan keras, namun tak lama kemudian, Ratu Basia yang melihat dari samping tertawa.


"Hahaha, melihat kalian berdua memang menarik ya."


"Ah, Ratu Basia. Bicara soal itu, ternyata Anda bisa bicara bahasa Kekaisaran ya. Saya benar-benar tertipu."


"Ya. Tak kusangka aku akan merasakan ketidaknyamanan seperti itu, di luar dugaan."


"Mo-mohon maaf."


"Bukan Jan yang harus minta maaf. Sebenarnya aku berniat melayangkan protes pada Hazen, tapi sekarang rasanya jadi konyol."


"Be-benar juga."


Gadis berambut merah muda itu menunjukkan senyum pahit yang sulit digambarkan, lalu Hazen segera menyela.


"Jan, boleh saja kau mendekati seseorang, tapi jangan salah sangka dengan berpikir kau sudah tahu segalanya tentang orang itu. Ratu Basia ini sudah melewati banyak pertempuran. Asahlah lagi kemampuanmu menilai orang."


"......Aku mohon, Guru, bisakah Anda diam saja?"


"Kalau kau sudah punya kemampuan yang cukup untuk membungkamku."


"Uwaaa! Ratu Basia, aku mohon belilah aku!"


Jan melompat ke pelukan Basia yang sedang tersenyum cerah.



Setelah puas menangis di pelukan Basia. Jan mengangkat wajahnya seolah teringat sesuatu.


"Bicara soal itu, sejak kapan Ratu bekerja sama dengan Guru?"


Ini adalah hal yang sangat ingin dia tanyakan. Jan selalu bersama Hazen, dan dia tidak merasakan tanda-tanda semacam itu sama sekali. Meski kesal harus mengaku kalah, ini adalah kekalahan telak. Lain kali dia tidak ingin menunjukkan perilaku memalukan seperti ini lagi, dan pada akhirnya ingin mencoba melarikan diri dari Hazen.


"Bekerja sama...... itu kurang tepat ya. Kenyataannya, terakhir kali aku berhubungan dengan Hazen adalah sekitar dua bulan yang lalu."


"Du......"


Jan terdiam seribu bahasa menyadari hal itu sudah terjadi sejak lama. Sambil memperhatikan reaksi itu, Hazen menyeringai sambil mengacak-acak rambut Jan.


"Prediksimu masih dangkal, Jan. Sejak awal, memperkirakan segala kemungkinan adalah hal yang mendasar."


"Se-sejak awal itu maksudnya dari titik mana?"


"Dari saat para petinggi menolak usulanku."


"..."


Itu jauh sebelum perang dimulai. Rencana pertukaran wilayah itu sudah satu paket dengan rencana untuk menjebak Kolonel Gedol dan yang lainnya. Seseorang tidak akan bisa melakukan pencapaian seperti ini kecuali dia menguasai seluruh alur di tengah situasi perang yang berubah dengan cepat.


"Se-sebenarnya, untuk apa melakukan hal seperti ini?"


"Aku hanya berpikir, jika memang harus melakukan pertukaran wilayah, lebih baik efeknya dimaksimalkan. Dan bagiku, hasil maksimal itu tidak selalu sama dengan hasil maksimal bagi Kekaisaran."


"..."


Intinya, Hazen sengaja melakukannya agar negosiasi tersebut menjadi sangat menguntungkan bagi Suku Kumin.


"Tentu saja, jika Kapten Lorenzo yang menangani negosiasi, dia pasti akan langsung menyadarinya. Tapi Mayor Simant itu adalah orang bodoh yang luar biasa. Dalam hal itu, aku sangat memercayai kebodohannya."


"...Mengapa Guru berpikir Kolonel Gedol tidak akan menyadarinya?"


"Itu adalah hasil akhir. Pada titik itu, aku belum tahu kemampuan Kolonel Gedol. Jika dia terjebak, itu keuntungan bagiku. Kalaupun dia menyadarinya, tidak ada risiko untukku."


Bagi Suku Kumin, informasi mengenai adanya makam Kaisar bukanlah hal yang perlu mereka ketahui. Jadi, tidak aneh jika mereka menunjuk Manayata. Tanggung jawab sepenuhnya ada pada pihak Kekaisaran yang melewatkan detail tersebut.


"Namun, Jan. Hanya kau satu-satunya yang membuatku khawatir. Tidak, mungkin lebih tepat jika kukatakan kau sesuai dengan ekspektasiku. Kau mencoba membaca pikiranku dan berusaha mengetahuinya lewat buku 'Sejarah Pendirian Kekaisaran'."


"...Aku merasa kesal. Entah kenapa, saat itu aku diserang rasa kantuk yang hebat... ja-jangan-jangan..."


Jan menatap Hazen dengan tatapan curiga.


"Kewaspadaanmu masih rendah, jadi kau masih belum apa-apa. Ray Fa adalah bawahanku. Berani-beraninya kau memakan masakan yang dia bawakan tanpa rasa curiga sedikit pun."


"Ja-jadi Guru benar-benar mencampurkan sesuatu!?"


"Bahkan untuk memastikan, aku menghapus sebagian ingatanmu. Rahasia bagaimana caraku melakukannya."


"...Sampai sejauh itu. Curang!"


"Jan. Aku mengakui bakatmu. Tapi bakat tidak ada gunanya jika tidak diasah. Pada titik ini, tidak ada elemen di mana kau bisa menang dariku. Kekuatan kasar adalah sarana yang sah, dan kau tidak punya cara untuk melawannya. Dan pada dasarnya, tidak ada aturan di dunia ini. Camkanlah bahwa mengatakan 'curang' hanyalah gonggongan pecundang."


"Kh."


Hazen menatap rendah Jan sambil menekan-nekan kepalanya.


"Tapi aku bukan iblis. Jika kau bertindak secara adil, aku pun berniat menghadapinya secara adil. Permainan yang hasilnya sudah jelas itu membosankan, kan? Namun, kaulah yang berbuat curang padaku."


"Curang?"


"Kau mencoba membaca pikiranku dan mencari jawaban dari orang lain. Itu memang cara yang paling efisien, tapi aku tidak merekomendasikannya untuk masa depan. Nasib pencuri yang licik itu sangat mengenaskan. Terutama, kau benar-benar punya nyali besar karena mencoba mencuri dariku."


"Seram!"


Melihat Hazen yang menyeringai, Jan secara refleks mencoba melindungi dirinya dengan kedua tangan.


"Jika kau bisa mencapai jawaban ini dengan kekuatanmu sendiri, aku akan menerima hasilnya dengan lapang dada. Lain kali, capailah jawaban itu sendiri di tempat yang tidak kuketahui."


"La-lain kali?"


"Pelajaran tambahan sudah berakhir. Kau sudah belajar banyak, kan?"


"..."


Kekalahan telak. Dia sudah tahu, tapi saat diucapkan secara langsung, rasanya sangat kesal.


"...Apa yang sebenarnya ingin Guru ajarkan padaku?"


"Tentang manusia."


"..."


"Bahwa di dunia ini, orang bodoh yang menduduki jabatan penting adalah yang paling sulit dihadapi. Mayor Simant adalah contoh yang jelas."


"...Di mataku, Kolonel Gedol terlihat seperti orang yang waras."


"Jika dilihat dari kemampuannya, mungkin saja. Tapi pria itu kehilangan kemampuan penilaiannya sebagai komandan karena dia menempatkan orang-orang yang hanya menguntungkan dirinya di sekitarnya. Itulah sebabnya dia tidak menyadari masalah kali ini."


"..."


"Seiring dengan kenaikan jabatannya, kendali terhadap orang-orang di sekitarnya sepertinya semakin hilang. Akibatnya, hanya orang-orang yang menjilatnya yang berkumpul, sementara orang-orang seperti Letnan Kolonel Kenek yang memberikan pendapat jujur namun menjengkelkan malah menjauh. Yang membuat benteng ini jatuh ke dalam krisis tidak diragukan lagi adalah dia."


"...Di mataku, Kolonel Gedol tidak terlihat seperti orang yang sejahat itu."


"Jan. Ingatlah ini. Di dunia ini, jauh lebih banyak orang jahat yang berwajah orang baik daripada orang jahat yang wajahnya memang terlihat jahat. Justru sampah seperti Mayor Simant itu adalah jenis yang langka."


Hazen menganalisis bahwa dosa Kolonel Gedol jauh lebih dalam. Setidaknya, Mayor Simant pernah terjun ke medan perang. Bagaimanapun juga, pada akhirnya dia melakukan negosiasi sendiri. Namun Kolonel Gedol berbeda. Dia selalu melihat situasi perang dari belakang dan berpura-pura menjadi penonton. Cara yang paling efisien adalah menyuruh orang lain melakukan semuanya. Namun, itulah cara yang paling dibenci oleh Hazen.


"..."


Jan terdiam sejenak, lalu akhirnya menjulurkan lidahnya dan bersembunyi di belakang Ratu.


Penandatanganan perjanjian selesai dengan selamat, dan rombongan Hazen kembali ke benteng. Karena Suku Kumin sangat suka minum, mereka diajak berpesta lagi, namun Hazen menolak dengan sopan tapi memaksa untuk segera kembali.


Di depan gerbang, anggota faksi yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Kenek sudah menunggu. Mereka yang sebelumnya melarikan diri dari musuh, segera memasang wajah menjilat dan berlari mendekat begitu melihat kehadiran Kolonel Gedol.


"Kolonel Gedol, selamat datang kembali! Kami benar-benar kagum dengan pertempuran pertahanan kali ini. Selain itu, visi Anda untuk melakukan pertukaran wilayah dengan Suku Kumin yang merebut kembali Benteng Algeido sungguh luar biasa. Dan dedikasi Anda untuk turun langsung melakukan negosiasi... benar-benar hebat, kami sampai kehabisan kata-kata."


Berbagai pujian kosong dilontarkan. Hazen menghela napas dan membungkuk kepada Kolonel Gedol.


"Kalau begitu, saya permisi."


"U-umu."


Mengabaikan Kolonel Gedol yang berusaha keras menyembunyikan rasa takutnya, Hazen berjalan dengan santai kembali ke ruangannya. Jan menatap Letnan Kolonel Kenek dengan pandangan jengah dan menghela napas.


"Mereka menjilat ya."


"Yah, mereka adalah orang-orang yang melarikan diri dari musuh atas kemauan sendiri. Seharusnya mereka dipenggal pun tidak masalah. Biarlah itu diserahkan pada kebijakan pria tua itu," jawab Hazen dengan nada tidak peduli.


Setelah itu, selama dia tetap menjaga etika yang sewajarnya di depan umum, pria tua itu akan berada dalam kendalinya.


"Jan, ingatlah ini. Jangan merendahkan orang lain di depan umum. Seseorang tidak akan pernah melupakan penghinaan yang diterima di hadapan banyak orang sepanjang hidupnya. Jadi, berhati-hatilah saat ingin menghancurkan seseorang."


"...Saya tidak berencana menghancurkan siapa pun, jadi itu pengetahuan yang tidak berguna. Lagi pula, jika ingatan saya benar, sepertinya Guru baru saja menghancurkan Mayor Simant secara terang-terangan di depan umum."


"Ah... waktu itu, tujuanku adalah memberikan penghinaan terbesar dalam sejarah, jadi tidak masalah."


"A-aku rasa cara berpikir Guru itu justru masalah besarnya!?"


Saat Jan menjawab dengan wajah kaget, mereka bertemu Kapten Lorenzo di koridor.


"Bagaimana pertemuannya?"


"Yah, pertukaran wilayahnya sepertinya sudah cukup bisa diterima oleh Kekaisaran."


"Begitu ya... Bagaimana dengan Kolonel Gedol?"


"Beliau pasti sedang menyambut Letnan Kolonel Kenek dengan hangat. Yah, karena beliau ahli dalam mempekerjakan orang lain, biarkan saja mereka dikerja habis-habisan."


"Haha... kemungkinan besar, akibat stres yang kau berikan, Letnan Kolonel Kenek akan mengalami nasib yang cukup buruk."


"Hanya melampiaskan kekesalanlah yang dikuasai oleh Kolonel itu."


"Jangan bicara begitu. Dulu dia adalah prajurit yang gagah berani."


"...Aku tidak ingin menjadi seperti itu," gumam Hazen pelan.


"Semua orang akan bertambah tua."


"Bukan soal itu. Terbiasa mengambil jalan yang mudah... itu seperti narkoba. Sekali kau terbiasa, kau tidak akan bisa lepas. Itulah yang kukhawatirkan."


"Ketika dihadapkan pada dua jalan yang harus dipilih, meski sulit sekalipun, aku ingin memilih jalan yang bisa kuterima. Aku ingin hidup seperti itu."


"...Kurasa hanya segelintir orang yang bisa melakukannya?"


"Karena itulah pergantian generasi diperlukan. Jika seseorang terobsesi pada kedudukan dan hanya mengincar puncak, dia akan melupakan hal semacam itu. Dengan melihat mereka, aku selalu menanamkan hal itu dalam hatiku."


Keheningan berlanjut sejenak. Kapten Lorenzo menatap mata Hazen dengan lurus, lalu akhirnya ekspresinya melunak.


"...Letnan Hazen. Kemarin kau berjanji akan menerima keputusanku, kan?"


"Ya."


"Kau dipindahtugaskan. Kalau kau ada di sini, aku tidak bisa tidur di malam hari dan akan mati karena kelelahan."


"Saya mengerti. Tidak menetap di satu tempat adalah takdir seorang perwira tinggi, kan?"


"...Dan mengingat jasa besarmu serta pelanggaran aturan militer yang belum pernah terjadi sebelumnya, aku akan mengajukan kenaikan pangkatmu secara resmi menjadi Letnan ke pusat."


Karena statusnya saat ini masih Letnan sementara, ini berarti kenaikan satu tingkat secara resmi.


"Kukira setidaknya akan diberi pangkat Kapten, ternyata Anda cukup keras ya."


"Jika bisa, aku ingin kau kembali ke akademi dan mempelajari kembali nilai-nilai moral."


"An-Anda mengetahuinya dengan baik ya. Benar, waktu pelajaran itu saya habiskan untuk tidur."


"......Mungkin begitu. Yah, di luar candaan itu. Karena suatu saat kau pasti akan melampauiku, sebaiknya kau melihat segala sesuatu dari posisi yang sedikit lebih rendah."


"Begitu ya...... Baiklah, akan aku jadikan pelajaran."


"......Seperti biasa, kau pria yang sulit ditebak isi hatinya."


"Begitukah? Padahal aku cukup sederhana."


"Fuh......"


Kapten Lorenzo kembali menampakkan senyum lelah.


***


Dua minggu kemudian. Surat perintah pindah tugas turun secara resmi. Hazen mengemasi barang-barangnya dengan tenang.


"Jan. Begitu tiba di Ibu Kota, serahkan ini."


"Funnuuu! Tolong bantu sedikit dong!"


"Kerja fisik adalah tugas Ray Fa. Urusan tetek bengek adalah tugas Jan. Pembagian peran."


"Kh...... gila...... Apa ini?"


Jan bertanya sambil memandangi dokumen yang diterimanya.


"Keduanya adalah dokumen mengenai Mospizza. Yang ini adalah surat pengaduan yang akan diajukan ke Kementerian Kehakiman. Satunya lagi adalah surat yang ditujukan untuk keluarganya, mendesak agar mereka memutuskan hubungan dengannya. Keduanya berisi catatan harian kejahatan masa lalunya, jadi ditambah dengan bantuan pelarian tempo hari, dia pasti akan turun kasta menjadi budak kelas atas."


"I-iblis! Teganya Anda melakukan ini pada bawahan sendiri."


"Karena surat tugas sudah turun, dia bukan lagi bawahanku."


"......"


"Lagi pula, jika melihat kemampuannya, menjadi budak adalah tempat yang paling tepat. Dia ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan kapasitasnya, jadi seharusnya dia berterima kasih daripada mencela."


"A-ada alasan untuk mencela, banyak sekali malah!"


Sambil berkata demikian, Jan yang tahu bahwa dirinya tidak akan bisa menghentikan tindakan Hazen, menghela napas dan melanjutkan mengemas barang.


Tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu. Saat dipersilakan masuk, Bintara Baz dan Prajurit Satu Edal berada di sana. Keduanya tampak pucat dan kehabisan napas.


"Hah...... hah...... apa benar surat tugas Anda sudah turun!?"


"Ya. Begitu barang-barang selesai dikemas, aku akan meninggalkan benteng ini."


"Mendadak sekali."


"Takdir perwira sewaan. Makanan dan orang-orang di sini cocok denganku, jadi rasanya agak berat untuk pergi."


"......"


Jan menampakkan ekspresi kaget, namun sebaliknya, kedua orang itu bahunya lunglai dan menunduk.


"......Kami benar-benar menyesal Letnan Hazen harus pergi."


"Tidak perlu basa-basi. Aku sepertinya memang tipe yang tidak disukai orang."


Mendengar itu, Jan bergumam, "Kupikir itu hanya karena sifatmu buruk."


Namun, Bintara Baz menggelengkan kepalanya dengan kuat.


"Tidak begitu. Letnan Hazen adalah orang yang adil sampai akhir. Aku selalu tegang saat berhadapan dengan Anda, tapi...... entah mengapa itu adalah ketegangan yang menyenangkan."


"......Begitu ya. Jika kau berpikir demikian, mungkin memang begitu."


Hazen memalingkan muka dan mulai merapikan buku-bukunya. Prajurit Satu Edal melanjutkan pembicaraan.


"Berkat Letnan, saya bisa memiliki kebanggaan pada pekerjaan saya. Belajar bahasa Suku Kumin yang Anda ajarkan adalah hal tersulit seumur hidup saya, namun saat berinteraksi dengan Suku Kumin, semua orang mengandalkan saya."


"......Yang mengajarimu itu Jan. Lagi pula, aku hanya menyarankan, bukan memaksa. Itu adalah hasil dari pilihan dan usahamu sendiri."


"Tidak. Saya tidak percaya diri dengan kemampuan pedang saya, namun berkat Anda menarik keluar kelebihan saya yang sedikit ini. Saya benar-benar berterima kasih."


"......Yah, jika kau ingin berpikir begitu, silakan saja."


Hazen mulai merapikan barang-barangnya tanpa melihat ke arah Prajurit Satu Edal.


"Ah, ada satu lagi. Edal, aku punya permintaan, maukah kau mendengarnya?"


"Ya, apa saja."


"Karena kau pandai merangkai kata, kirimkanlah informasi mengenai Utara secara berkala padaku."


"Dimengerti."


"......Jika terjadi masalah di sana dan sulit untuk diselesaikan, tuliskan juga hal itu."


"Si-siap!"


"Tapi aku tidak akan menyelesaikannya. Masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan oleh pihak yang terlibat. Dan jika itu tidak bisa diselesaikan, itu juga tanggung jawab sendiri."


"......Baik."


"Hanya saja...... sebagai imbalan atas informasi yang kau kirimkan, aku akan memberikan saran."


"Si-siap!"


Prajurit Satu Edal menjawab dengan penuh semangat.


"Nah, sudah saatnya aku harus serius mengemas barang. Bisa kita akhiri di sini?"


"......Anu, jika berkenan kami akan membantu."


"Tidak perlu. Kalian sedang dalam masa latihan, kan? Seharusnya tidak ada waktu luang."


"Si-siap. Mohon maaf. Kalau begitu......"


Kepada dua orang yang terburu-buru hendak pergi itu, Hazen menggumamkan satu kalimat.


"......3 tahun."


"Eh?"


"3 tahun. Jika kalian terus mengasah diri dan menjadi orang yang mumpuni, aku akan menarik kalian keluar dari posisi bintara."


"Anu...... secara hukum bukankah itu mustahil......"


"Mungkin kau lupa, tapi aku adalah seorang perwira tinggi. Satu atau dua hukum akan aku ubah."


"Ha...... haha. Benar juga. Jika itu Letnan Hazen, rasanya itu mungkin saja."


Jan menatap Hazen yang sedang memandangi dua orang yang pergi sambil tersenyum itu dengan pandangan geli.


"Dasar tidak jujur. Padahal sebenarnya Anda senang."


"Jangan bicara sembarangan. Lokasi penempatan berikutnya lebih keras. Karena—"


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close