Penerjemah: Nels
Proffreader: Nels
Short Story Bonus
Makan
Saat Hazen kembali ke kamarnya setelah menyelesaikan pekerjaan, Jan baru saja selesai memasak. Belakangan ini, karena masalah pangan di Wilayah Doktrin sudah teratasi, porsi yang disiapkan cukup banyak.
Jan, yang sangat mencintai kegiatan makan enak, kali ini memasak dengan mengerahkan seluruh kebolehannya.
"Fufufu... pas sekali baru matang, saya siapkan sekarang, ya."
"Ya."
Gadis berambut merah muda itu bergerak dengan gesit penuh kebanggaan, dan selesai menata masakan di meja makan.
"Hari ini, saya coba buat masakan bernama Kari yang terkenal di Wilayah Doktrin. Ini masakan unik yang menggunakan rempah-rempah khusus."
"Ya."
Hazen duduk di kursi dan meminum air seteguk.
"Ray Fa mana?"
"Masih bekerja. Nanti kalau dia pulang, saya masakkan lagi buat dia."
Wanita itu makan 10 kali lipat porsi orang biasa. Karena dia selalu heboh kegirangan sambil bilang enak-enak, rasanya benar-benar membuat semangat untuk memasak baginya.
"Selamat makan."
"Selamat makaaan."
"......"
"......"
"Enak?"
"Ya."
"......Ah, ini! Aku buat jadi crispy, apa cocok di lidah?"
"Ya."
"......"
"......"
"Mukiii! Apa-apaan sih!? Apa apa apa-apaan sih!?"
Jan mulai marah dengan mata berkaca-kaca.
"A, apanya?"
Hazen bertanya sambil memakan kari dengan pipi menggembung.
"Dari tadi, cuma 'ya', 'ya' melulu! Cuma itu yang diucapkan, maksudnya apa sih!?"
Tentu saja, ini bukan pertama kalinya makan bersama Hazen. Biasanya, mereka mengunyah sambil memikirkan hal yang berbeda. Ngobrol pun tidak banyak.
Tapi... hari ini 'kan kari.
Karena dia sudah membuat masakan mewah yang beda dari biasanya, dan karena rasanya enak, mestinya dia berkomentar sedikit, kek.
Namun, ekspresi Hazen tetap datar dan tak bergeming.
"'Ya' itu artinya yes."
"Sa, saya tahu soal itu! Mestinya ada komentar lain kayak 'rasanya spicy' atau 'teksturnya menyenangkan', kan!?"
"......Hmm. Aku tidak terlalu tertarik sama masakan, sih. Jadi aku tidak terlalu merasakan apa-apa kayaknya."
"Meskipun begitu, demi menunjukkan rasa terima kasih dan hormat pada orang yang memasak, memberikan kesan soal makanan itu suatu keharusan!"
"Tidak ada aturan begitu."
"Meski tidak ada aturannya, itu tata krama!"
"Merepotkan."
"Dia mengucapkan hal yang paling pantang diucapkan pada orang yang sudah memasak!?"
Jan mengalami guncangan yang luar biasa.
"Haa... kalau sikap Anda begitu, Anda bakal kehilangan teman, lho. Ngobrol saat makan itu hal yang wajar. Justru selama ini, Anda bagaimana?"
Jan bertanya sambil menopang dagu.
"Hmm. Yah, waktu zaman sekolah aku makan bertiga bersama Emma dan Ray Fa, tapi Emma bicara sendirian dan aku cuma jadi pendengar, terus Ray Fa juga dasarnya cuma makan saja."
"......"
Jan sekali lagi menunjukkan rasa hormat pada dua orang yang bisa berteman dengan Hazen itu.
"Selain itu?"
"......Ibu tiriku pernah menyajikan masakan beberapa kali, tapi karena dimasukkan racun, malah kupaksa dia makan balik sampai dia muntah-muntah huek huek."
"Anda melakukan hal yang tak bisa dipercaya!?"
Jan mengalami guncangan sampai matanya mau copot.
"T, tidak harus topik masakan juga tidak apa-apa, kok. Kalau ada pembicaraan lain, itu juga boleh."
"......Bicara soal pekerjaan boleh?"
"Malah jadi tidak enak dong, hentikan!"
Kerja kerja kerja... apa cuma kerja isi kepala pria ini.
"Kalau begitu, kita bicara soal Mozcoal?"
"Kalau cerita soal si mesum itu, makanan rasanya bakal hambar, hentikan!"
"Egois sekali."
"Bahaya banget kalau topik pembicaraannya cuma kerjaan sama orang mesum!?"
......Dengan begitu, acara makan pun jadi ramai tanpa disengaja.
Previous Chapter | ToC |



Post a Comment