NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Heimin Shusshin no Teikoku Shoukan, Munou na Kizoku Joukan wo Juurin shite Nariagaru V2 Chapter 1

 Penerjemah: Nels

Proffreader: Nels


Chapter 1

Skors

"Letnan Hazen Heim... Kau diskors atas kecurigaan tindak penghinaan terhadap Kaisar!"


Kolonel Gedol, petinggi Distrik Garna Utara, berujar dengan nada kemenangan.


"Dimengerti."


Di sisi lain, Hazen menjawab dengan datar tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun.


Kejadiannya bermula dua hari yang lalu. Di tengah peperangan, Hazen melontarkan kata-kata yang jelas-jelas merupakan bentuk penghinaan terhadap Kaisar kepada atasannya, Mayor Simant: "Jika kau ingin dimaafkan, bawa Kaisar ke sini."


Alhasil, dia dipanggil ke ruang komando militer, dan keputusan sementara pun ditetapkan.


"Kukuku... dasar bodoh. Sepertinya kau sama sekali tidak memahami situasinya. Penghinaan terhadap Kaisar, tanpa pengecualian, hukumannya adalah hukuman mati tiga garis keturunan. Skorsing itu! Ha-nya-lah! Sam-pai! In-struk-si! Da-ri! Pu-sat! Da-tang! Ha-nya! Tin-da-kan! Se-men-ta-ra!"


Orang yang mendekat dengan wajah gembira dan suara lantang itu adalah orang nomor dua di sana, Mayor Simant.


"..."


Di Kekaisaran yang, biar bagaimanapun, tetaplah negara hukum, terdapat prosedur administratif formal untuk menghubungi Kementerian Hukum Istana Langit yang mengelola urusan pusat dan menunggu putusan keluar.


"Yah, meskipun baru tahap kecurigaan, tapi ini seratus persen dari seratus persen bersalah! Karena tidak lain adalah aku sendiri yang mendengarnya! A-ku, a-ta-san-mu!"


"..."


Melihat Hazen yang terus bungkam, Mayor Simant semakin mendekatkan wajahnya dan berbisik dengan suara yang menjijikkan.


"Hmm~? Kalau kau benar-benar ingin dimaafkan, aku akan memaafkanmu jika kau mau memakan kotoran kuda? Lahaplah dengan rakus di de-pan ma-ta ka-mi!"


"..."


Hazen sempat menampakkan ekspresi wajah yang sedikit terganggu untuk sesaat.


"Hmm? Apa itu? Kau marah? Mungkinkah kau sedang me-ra-sa ma-rah?"


"Tidak."


Saat Hazen menggelengkan kepalanya, Mayor Simant semakin, semakin mendekatkan wajahnya dan bertanya.


"Hmm? Lalu, apa? Mungkinkah, mungkinkah, mungkinkah ini, kau punya sesuatu yang ingin kau minta tolong padaku?"


"Ada satu hal."


"...Haaah."


Mayor Simant menyeringai dengan senyum penuh kepuasan yang licik. Akhirnya, pria ini paham juga. Karena kebodohan yang tak berujung, dia melakukan tindakan konyol tingkat dewa terhadap atasannya dalam sekejap kekhilafan.


Kini saatnya menerima ganjaran. Dia akan membuat Hazen bersujud, menyalak seperti anjing, menjilat sepatunya, dan memohon ampun sambil melahap kotoran kuda.


Mayor Simant semakin, semakin, dan semakin mendekatkan wajahnya lalu berbisik dengan suara yang menjijikkan.


"Hmm~? Apa itu? Katakan saja? Mungkin, satu banding sejuta, satu banding semiliar, atau satu banding satu triliun, aku mau mendengarkannya?"


"Napas Anda sangat bau parit, jadi saya akan sangat terbantu jika Anda menyikat gigi atau berbicara sedikit lebih jauh."


"..."


Wajah Mayor Simant memerah padam, lalu dia berbalik ke arah Kolonel Gedol.


"Pria ini sama sekali tidak menunjukkan penyesalan! Tidak ada ruang untuk keringanan hukuman!"


"Hah... Sayang sekali, sepertinya memang begitu."


Pria tua berambut putih itu menghela napas yang sama sekali tidak terdengar menyesal, melainkan terdengar sangat puas.


"Jika hanya itu yang ingin dibicarakan, saya permisi."


Hazen membungkuk sedikit, lalu meninggalkan ruang komando militer dengan langkah tenang.


"Benar-benar. Ketidaktahuan itu sungguh menakutkan. Dia sama sekali tidak mengerti gawatnya situasi ini. Tapi, kita lihat saja sampai kapan dia bisa terus berpura-pura kuat."


"...Uhaah! Sungguh, aku tidak sabar! Benar-benar, momen yang membuat hati berdebar dan sangat dinantikan seperti ini jarang sekali ada!"


"He... Hehehe..."


"Kukuku... Kukukukukuku..."


Kolonel Gedol dan Mayor Simant saling berpandangan dan tertawa bersama.


Pada saat itu, terdengar suara ketukan pintu.


"Ini Kapten Lorenzo. Boleh saya masuk?"


"Oh, kau sudah datang."


Kolonel Gedol menyambutnya dengan suasana hati yang baik. Meski banyak hal terjadi, dia berhasil lolos dari krisis berkat mendengarkan saran bawahannya ini. Namun, fakta bahwa dia telah melawan atasan tetap tidak berubah.


"Yah, sebenarnya tidak aneh jika kau diturunkan pangkatnya, tapi aku akan menganggapnya tidak pernah terjadi sebagai imbalan atas jasa perangmu kali ini."


Pria tua berambut putih itu menepuk pundaknya dengan senyum lebar.


"...Ya, terima kasih banyak."


"Jadi, kapan kira-kira Count Mi Syl akan tiba? Kita telah memberikan pukulan telak kepada babi-babi dari Kadipaten Agung Dioldo itu. Kita harus memanfaatkan momentum ini untuk menaklukkan Benteng Algeido."


"Tidak. Menurut saya itu tidak perlu."


"Hah? Apa maksudmu?"


"Benteng itu sudah ditaklukkan oleh Suku Kumin."


!?


"A-apa!? Ba-ba-bagaimana!? Ba-ba-bagaimana bisa begitu!?"


Mayor Simant bertanya dengan nada panik.


"Selagi kita bertempur dengan Kadipaten Agung Dioldo, mereka melancarkan serangan mendadak dan menguasai benteng tersebut."


"Ja-jadi mereka mengambil keuntungan dari celah kita!?"


"...Bukan. Bisa dibilang, mereka lebih seperti penyelamat kita. Sebelumnya saya tidak mengerti mengapa tentara Kadipaten Agung Dioldo mundur, tapi sekarang misterinya sudah terpecahkan."


"Jangan bercanda! Anjing-anjing suku barbar itu... berani-beraninya mereka."


"Namun, berkat itu para prajurit selamat. Meskipun Letnan Hazen berhasil mengalahkan Jenderal Gizal, jika harus menghadapi pasukan besar berjumlah puluhan ribu, Kekaisaran juga akan menderita ribuan korban jiwa."


"Itu tidak ada hubungannya! Lihat saja kalian, anjing-anjing suku barbar! Aku pasti akan merebut kembali benteng itu."


Mayor Simant bergumam sambil menggigit kuku jarinya.


"Anu... Saya rasa itu mustahil."


"Mustahil? Kau pikir Count Mi Syl akan kalah dari anjing-anjing suku barbar seperti mereka!?"


"Bukan, bukan begitu. Saat ini, Kekaisaran dan Suku Kumin sedang dalam masa perjanjian gencatan senjata selama lima tahun."


"..."


Batasan yang sebelumnya ditandatangani oleh Hazen kini justru menjadi bumerang.


"Per-Perjanjian dengan anjing suku barbar semacam itu, bukankah tinggal dilanggar saja!?"


"Jika dilanggar, kredibilitas Kekaisaran akan menurun. Jika kita melakukan tindakan seperti itu terhadap suku yang kedudukannya lebih rendah, martabat Kekaisaran akan dipertanyakan oleh negara-negara lain di benua ini."


"Kh..."


Mayor Simant terpaksa bungkam. Situasi bergerak ke arah yang aneh. Meski baru saja lolos dari krisis maut, mereka kembali terjebak dalam kesulitan.


"Kalau begitu... apa maksudmu selama lima tahun ke depan kita tidak bisa menyentuh benteng mereka?"


"Begitulah adanya."


"T-Tak mungkin!"


Mayor Simant meraung dengan garang, sementara Kolonel Gedol berteriak dengan kasar.


"Lalu! Ke depannya! Kita! Harus menyerang ke mana!? Jika Suku Kumin menutup perbatasan dengan Kadipaten Agung Dioldo, tidak akan ada lagi wilayah yang bisa kita ambil."


"Saya punya satu usulan, maukah Anda mendengarnya?"


"A-Apa itu!?"


Kapten Lorenzo mengeluarkan peta ke atas meja militer dan mulai menarik garis.


"Ini adalah wilayah kekuasaan Kekaisaran. Dan wilayah ini adalah daerah yang kita ambil dari Suku Kumin. Namun, wilayah pegunungan di utara yang kita miliki ini praktis hampir tidak memberikan keuntungan apa pun."


"Begitu ya. Pertukaran wilayah."


Kolonel Gedol bergumam, dan Kapten Lorenzo mengangguk.


"Benteng Algeido adalah titik krusial bagi Kekaisaran. Selain tanah yang sebelumnya diambil dari Suku Kumin, jika kita menyerahkan beberapa tanah lainnya pun, kita masih akan mendapat keuntungan lebih."


"Fufu... Begitu rupanya. Mendapatkan benteng itu memang akan menjadi pencapaian luar biasa yang jarang terjadi belakangan ini."


Prok prok prok.


Mendengar suara kepuasan atasannya, Mayor Simant memberikan tepuk tangan yang meriah.


"Luar biasa, Kolonel Gedol. Tidak disangka, Anda sendiri yang secara instan memikirkan cara untuk mendapatkan benteng itu tanpa meminjam kekuatan Count Mi Syl."


"Fufufu... Hentikan itu."


Kolonel Gedol yang sedang dalam suasana hati baik melirik ke arah brendi yang diletakkan di rak. Jelas dia sudah kehabisan alkohol dan ingin segera menenggaknya.


"Segera mulai negosiasinya."


"Baik."


"Ah, benar, Kapten Lorenzo. Keluarkan Letnan Hazen dari pengaturan pertemuan ini."


"Kenapa begitu?"


"Ke-na-pa?"


Mayor Simant memiringkan kepalanya sambil memelototi Kapten Lorenzo.


"Satu-satunya pasukan di militer yang bisa berkomunikasi dengan Suku Kumin adalah Kompi ke-4 tempat Letnan Hazen bernaung. Karena itu, mustahil melakukannya jika dia dikeluarkan."


"Hah? Hal seperti itu bisa dilakukan siapa saja! Yang penting kan cuma bisa berkomunikasi!"


"Kekaisaran sudah lama berada dalam status berperang dengan Suku Kumin. Saya tidak yakin jika menugaskan pasukan baru akan bisa menjalin komunikasi yang bersahabat. Hal itu bisa tercapai justru karena itu adalah Letnan Hazen."


"Diam! Apa yang kau katakan hanya soal negosiasi!? Lagipula, si tidak berguna itu sedang diskors atas kecurigaan tindak penghinaan terhadap Kaisar!"


Dia berteriak sambil mencengkeram kerah baju Kapten Lorenzo sekuat tenaga.


"Saya selaku atasan langsungnya tidak mendengar kabar apa pun."


"Aku adalah atasanmu! Dan ini adalah keputusan yang ditetapkan oleh Kolonel Gedol, atasannya atasanmu! Apa kau punya keluhan!? Hah!?"


Saat Mayor Simant mendekatkan wajahnya, ekspresi Kapten Lorenzo sedikit berubah.


"Tidak. (Napasnya bau sekali...)"


"Cih, dasar tidak berguna! Karena sikapmu yang seperti itulah kau dipandang rendah oleh orang seperti Hazen. Kolonel Gedol! Jika Anda menyerahkan segalanya kepada saya, saya akan mengatur negosiasi pertukaran wilayah dengan anjing-anjing suku barbar itu."


"Berapa hari kau sanggup?"


"Jika diberi waktu tiga hari, saya pasti bisa."


Mayor Simant menjawab dengan penuh percaya diri.


"Baiklah. Serahkan semuanya padanya. Jangan sekali-kali menggunakan dia atau orang-orang yang ada di bawah pengaruhnya."


"Dimengerti! Saya pasti akan melakukannya."


"Maaf merepotkanmu. Jika hal ini berhasil, aku akan merekomendasikanmu untuk menjadi Letnan Kolonel berikutnya."


"B-Benarkah itu!?"


"Tentu saja. Untuk saat ini, Letnan Kolonel Kenek sedang diskors, jadi kau harus menangani tugas-tugas Letnan Kolonel juga. Aku membebankan tanggung jawab besar padamu, mohon bantuannya."


"S-Siap!"


Mayor Simant menjawab dengan suara yang bergetar karena haru.


"Kapten Lorenzo. Kau diskors. Sepertinya kau kurang introspeksi diri."


"Baik."


Kapten Lorenzo membungkuk tanpa ekspresi, lalu keluar dari ruangan.


Saat dia berjalan di koridor menuju kamarnya sendiri, Hazen sudah berdiri di depan pintu.


"Ada apa?"


"Tidak, Anda pasti kesulitan ya. Atasan yang tidak kompeten itu jauh lebih merepotkan daripada musuh."


"...Kau mendengarnya?"


"Tidak. Tapi, memang begitu kenyataannya, kan?"


"Hah... Berbahaya jika ada yang melihatmu di sini. Masuklah ke kamarku."


Kapten Lorenzo menghela napas panjang, dan mereka berdua masuk ke dalam kamar.


"Aku juga diskors. Karena akan gawat jika kita terlihat bersama, jangan datang ke sini lagi."


"Dimengerti."


"Mengenai usulan pertukaran wilayah dengan Suku Kumin. Apa benar tidak apa-apa namamu tidak disebutkan?"


"Jika disebutkan, ada kemungkinan usulan itu tidak akan diterima. Melihat situasinya, saya lega karena mereka tampaknya terpancing dengan baik."


"...Mereka berniat menyingkirkanmu, lho?"


"Silakan saja. Jika memang bisa dilakukan, tidak masalah siapa pun yang mengerjakannya. Itulah wewenang seorang atasan."


"Apa ada alasan kenapa mereka tidak akan bisa melakukannya?"


"Saya tidak bisa mengatakannya."


"Kenapa?"


"Karena Anda adalah prajurit Kekaisaran yang cakap."


"..."


Kapten Lorenzo waspada terhadap pujian itu. Mulai sekarang, dia harus menyaring setiap perkataan pria ini sampai tingkat tertentu. Karena dalam arti tertentu, pria ini adalah monster yang lebih tidak bisa dipercaya daripada Kolonel Gedol atau Mayor Simant.


"Seandainya saya mengatakannya, Anda akan mencoba mengambil keputusan dan tindakan terbaik bagi Kekaisaran. Hal itu mungkin saja membahayakan posisi Anda."


"Sudah menjadi kewajiban alami bagi seorang prajurit Kekaisaran untuk bertindak demi kepentingan Kekaisaran."


"Tentu saja. Namun, solusi optimal bagi Kekaisaran menurut Anda dan solusi optimal menurut saya itu berbeda."


"...Maksudmu aku juga termasuk orang yang tidak kompeten?"


"Bukan begitu. Anda memiliki kecenderungan untuk selalu mengorbankan diri sendiri. Bagi saya, itu adalah hal yang sangat merepotkan."


"...Berarti benar kan, kalau aku tidak kompeten."


"Bukan begitu. Anda hanya terlalu jujur."


"..."


Kapten Lorenzo diserang oleh perasaan yang aneh. Cara bicara Hazen seolah-olah seperti seorang guru yang akan pensiun sedang memuji muridnya. Tapi, itu tidak mungkin. Pria ini sepuluh tahun lebih muda darinya.


"Ya sudahlah. Tolong, selama masa skorsing ini, jangan lakukan tindakan yang membuat perutku sakit."


"Saya mengerti. Tapi, saya tidak tahu apakah itu akan menyembuhkan sakit perut Anda."


"...Fuuuh."


Mendengar pernyataan itu, Lorenzo menyadari bahwa sepertinya hal itu mustahil.


Keesokan harinya, Mayor Simant memanggil Letnan Cozart dari Batalion ke-3 ke ruangannya. Karena semua perwira berpangkat Kapten tewas dalam perang sebelumnya, saat ini para Letnanlah yang menjalankan tugas setingkat Kapten.


Mayor Simant menepuk pundaknya dengan akrab dan ceria.


"Oh, kau datang juga. Aku ingin kau yang memimpin perundingan dengan Suku Kumin."


"...Hah?"


"Kau tidak dengar?"


"Ti-tidak. Hanya saja, isinya sedikit..."


"Yah, karena ini tugas setingkat Kapten, wajar jika kau merasa berat. Tapi karena kita sedang kekurangan sumber daya manusia, berusahalah."


"Ta-tapi. Anu, komunikasi dengan Suku Kumin selama ini sepenuhnya ditangani oleh Letnan Hazen—"


"Jangan sebut nama pria itu!"


Mayor Simant menggebrak meja dengan penuh kemarahan.


"Hiik... Mohon maafkan saya."


"Dengar ya? Pria itu! Secara terang-terangan! Melontarkan kata-kata penghinaan terhadap Kaisar! Tidak mungkin aku terus memercayakan tugas penting kepada orang yang sudah dipastikan akan menerima hukuman mati!"


"B-begitu rupanya."


"Pokoknya, tiga hari lagi. Sampai saat itu tiba, siapkan segala sesuatunya agar kita bisa bernegosiasi dengan anjing-anjing suku barbar itu."


"Ta-tapi..."


"Hah? Kau bilang sesuatu?"


"...Tidak. Dimengerti."


Letnan Cozart keluar dari ruangan dengan wajah yang tidak percaya diri.


"Benar-benar. Kenapa sih, padahal ini hal yang mudah."


Ini bukan berarti akan berperang. Mayor Simant menghela napas, berpikir bahwa semua orang terlalu berlebihan hanya untuk mengadakan satu pertemuan.


Namun, keesokan harinya. Letnan Cozart datang dengan wajah lesu.


"Anu, mohon maaf, tapi sepertinya saya tidak sanggup melakukannya."


"...Hah?"


Mayor Simant mendekatkan wajahnya dengan tatapan mengancam yang luar biasa.


"Hiik... Saya mencoba meminta bantuan Prajurit Satu Edal dari Kompi ke-4 sebagai penerjemah, tapi—"


"Kau! Bukankah dia itu bawahan pria itu!?"


"Ta-tapi, tanpa penerjemah, negosiasi tidak bisa dilakukan."


"Cih... Lalu?"


"Prajurit Satu Edal tidak ada di benteng ini karena sedang menjalankan tugas mata-mata di Kadipaten Agung Dioldo."


"Haaah!?"


"Anu... karena itu, saya rasa usulan yang paling realistis adalah meminta bantuan Letnan Hazen."


"Jangan bercanda! Sampaikan padanya untuk 'segera kembali'!"


"I-itu... sepertinya dia baru bisa kembali paling cepat dua bulan lagi."


"Jangan bercanda!?"


"Hiik... ta-tapi, lokasi mata-mata Prajurit Satu Edal berada di Machania, ibu kota Kadipaten Agung Dioldo. Dia sedang dalam penyamaran dan lokasinya tidak diketahui, jadi dipikirkan bagaimana pun pasti akan memakan waktu selama itu."


"Kalau begitu, berikan usulan alternatif! Gunakan otakmu sedikit untuk berpikir!"


"Ba-baik."


Letnan Cozart keluar dengan gontai.


"Sialan! Dasar tidak berguna!"


Mayor Simant mengumpat lalu menendang kursi.


Dan keesokan harinya, Letnan Cozart datang kembali.


"Bagaimana? Tentu saja ini laporan yang bagus, kan?"


"Anu, itu... saya terpikir untuk meminta bantuan pedagang bernama Nandal yang menjalin hubungan dengan Suku Kumin sebagai penerjemah, tapi—"


"Singkat saja! Ka-ta-kan! Ha-sil-nya! Sa-ja!"


"Tidak bisa! Mohon maafkan saya!"


Letnan Cozart menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan ekspresi wajah yang tampak hampir menangis.


"Ke-kenapa!? Bagaimana bisa!? Mengapa!?"


"Itu... dia juga dikabarkan sedang berada di wilayah Sargaha di bagian timur Kekaisaran saat ini, dan katanya akan memakan waktu tiga bulan—"


"Kh... kau ini cuma bisa menderetkan alasan tidak bisa saja... Pikirkan cara agar bisa!"


"Mohon maaf. Saya sudah memikirkan berbagai cara, tapi saya rasa membiarkan Letnan Hazen yang melakukannya adalah pilihan terbaik. Saya tidak sanggup menanganinya."


"Cukup! Bawa semua perwira setingkat Letnan ke sini, kecuali pria itu!"


"Si-siap!"


Tiga puluh menit kemudian, seluruh perwira setingkat Letnan selain Hazen telah berkumpul di tempat itu.


"Siapa pun boleh! Dengar, sampai besok! Sam-pai! Be-sok! Atur pertemuan dengan Suku Kumin! Tentu saja, tanpa bantuan pria itu... tanpa bantuan Letnan Hazen! Dengar, ini adalah pertemuan bersejarah! Jika berhasil, aku akan langsung mempromosikan kalian menjadi Kapten!"


"..."


"Mana jawabannya!? Kalian pa-ham!?"


"Ya, kami paham."


Semuanya menjawab dengan nada lemas.


Dan keesokan harinya.


"Jadi! Persiapannya sudah beres, kan!?"


"..."


"Hah? Kalian semua sudah berkumpul tapi tetap tidak bisa melakukan hal seperti itu? Apa kalian ini sekumpulan orang tidak berguna!? Katakan sesuatu!"


"..."


Semuanya tetap bungkam.


"Sampai besok! Aku beri kelonggaran sampai besok! Dengar, ini mutlak! Lakukan bagaimanapun caranya!"


"...Tidak mungkin."


Letnan Labernon bergumam pelan.


"..."


Mayor Simant sontak melotot. Karena seorang Letnan... hanya selevel Letnan, berani menjawab omongan dirinya yang seorang Mayor.


"..."


Tidak, mungkin dia salah dengar. Karena beban kerja yang berat akhir-akhir ini, mungkin dia mengalami halusinasi pendengaran, begitulah awalnya dia meragukan telinganya sendiri. Mayor Simant bertanya kembali dengan tenang.


"Hmm~? Apa katamu? Akhir-akhir ini telingaku agak bermasalah. Coba ka-ta-kan! Sekali lagi!?"


"Yang tidak bisa ya tetap tidak bisa. Selain Letnan Hazen, tidak ada orang lain yang bisa melakukannya."


"..."


Itu bukan halusinasi. Ternyata bukan halusinasi.


Terlebih lagi, dari sudut lain, Letnan Dagolde menyerang balik dengan penuh amarah.


"Malah kalau Anda punya ide, tolong beri tahu kami!"


"I-itu pikirkan sendiri!"


Mayor Simant seketika memutuskan penurunan pangkat untuk pria ini. Berani-beraninya pria ini bersikap tidak sopan. Padahal hanya selevel Letnan, berani membantah dirinya yang merupakan seorang Mayor dan calon Letnan Kolonel.


Namun, berlawanan dengan pemikiran itu, serangan balik Letnan Dagolde tidak berhenti.


"Tuh kan, Mayor Simant sendiri juga tidak bisa memikirkannya."


"B-berisik! Aku adalah pihak yang memberi instruksi! Berpikir dan melaksanakan itu adalah tugas kalian, kan!"


"Jangan bicara sembarangan! Semuanya sudah berpikir mati-matian!"


"Se-semuanya? Apa kalian semua memberikan jawaban payah seperti itu?"


Menanggapi pertanyaan Mayor Simant, semuanya menganggukkan kepala.


"Menyedihkan sekali! Melakukan hal sepele seperti ini saja tidak bisa, mau jadi apa kalian!"


"Kalau begitu, coba Mayor Simant tunjukkan pada kami!"


Satu lagi Letnan lain ikut bersuara.


"Ka-kau! Apa kau tidak mengerti kalau aku bilang aku adalah pihak yang memberi instruksi!?"


"Bukankah Mayor Simant sendiri yang tidak mengerti!?"


Lagi, Letnan yang lain ikut bersuara. Kemudian, ekspresi semua orang berubah seketika. Mereka memelototi Mayor Simant, dan seperti bendungan yang jebol, mereka mulai melontarkan protes satu demi satu.


"Mentang-mentang tidak bisa melakukannya sendiri, seenaknya membentak dan memaksa orang lain, itu jahat sekali."


"Bukankah tugas seorang atasan itu memberikan saran solusi?"


"Justru kalau memang tidak bisa, Anda harus melaporkan kepada atasan bahwa ini 'tidak bisa'."


"..."


Terkena serangan kata-kata itu, Mayor Simant mundur beberapa langkah. Mengapa aku harus mengalami hal seperti ini? Dulu saat aku masih berpangkat Letnan, perintah Mayor yang pangkatnya dua tingkat di atas adalah kepatuhan mutlak.


Apakah karena zamannya sudah berbeda? Apa ini yang disebut kesenjangan generasi? Tidak, bukan itu. Karena mereka begini, makanya mereka selamanya hanya mentok di level Letnan. Aku terus mengejar perintah atasan dan menyelesaikannya, makanya aku bisa menjadi Mayor... tidak, makanya aku memiliki status sebagai calon Letnan Kolonel.


"Ka-kalian... Aku ini Mayor, tahu? Atasan kalian yang pangkatnya dua tingkat lebih tinggi, dan aku punya wewenang untuk menurunkan pangkat kalian!"


"..."


Para Letnan itu terdiam serentak, membuat Mayor Simant berteriak penuh semangat seolah telah menang.


"Sebenarnya, berkat pencapaian kali ini, sudah ada pemberitahuan internal bahwa aku akan menjadi Letnan Kolonel berikutnya. Berani sekali kalian membantah orang sepertiku? Aku berada di posisi di mana aku bisa menghukum ka-li-an se-mu-a!"


Benar, aku adalah calon Letnan Kolonel. Kenapa harus takut pada sampah-sampah ini? Jika atasan bilang "lakukan", maka lakukan. Aku harus menanamkan hal itu ke otak sampah-sampah ini.


"...Hah, konyol sekali."


"A-apa katamu!?"


Yang bergumam adalah Letnan Labernon.


"Aku tidak tahan lagi! Kami semua bersatu melindungi benteng ini. Seharusnya kami mendapat pencapaian besar. Tapi, diturunkan pangkat karena hal seperti ini? Dihukum? Jangan bercanda."


"Ha-hal seperti ini? Kau, perundingan dengan Suku Kumin ini adalah hal yang akan mengukir nama dalam sejarah Kekaisaran, tahu? Beraninya kau menyebutnya 'hal seperti ini'? A-pa!? Ma-ksud-mu!?"


"Bukan begitu. Maksudku, kalau begitu kenapa tidak segera beri instruksi pada Letnan Hazen saja? Habisnya, Mayor Simant kan tidak bisa melakukannya sendiri."


"Kh..."


Dia memang orang yang pintar bicara kalau soal alasan kenapa sesuatu tidak bisa dilakukan. Itulah sebabnya orang-orang ini tidak berguna.


"Jujur saja, demi gengsi dan harga diri Anda yang tidak berguna itu, Anda tidak mau meminta bantuan Letnan Hazen dan malah memaksakan hal yang mustahil pada kami. Itu sangat mengganggu."


"Kau... apa kau mau berhenti hari ini? Ucapan kasar seperti itu tidak akan selesai hanya dengan penurunan pangkat, tahu?"


Ketidaksopanan orang-orang ini sudah keterlaluan.


"Kalau begitu, aku juga berhenti."


"Aku juga. Tidak sudi lagi."


"Aku juga."


"Aku juga, aku juga."


"Aku cabut satu."


"Ah, konyol sekali."


"..."


Para perwira setingkat Letnan itu satu per satu pergi sambil melontarkan protes.


"Ka-kalian! Tung-tunggu! Tungguuuuuuuuuuuuuu!"


...Dan kemudian, tidak ada siapa pun lagi.


"..."


Mayor Simant berdiri terpaku di sana untuk beberapa saat. Semuanya pergi. Kapten yang aktif semuanya tewas perang. Jika tidak ada Letnan yang mumpuni...


!?


"Uwaaaaaaaaaaaaaaaaa!"


Dia berteriak sambil memegang kepalanya. Kenapa jadi begini? Kenapa, bagaimana bisa? Dia memeras otaknya, tapi tidak ada lagi pion yang bisa diandalkan.


"Eh... ja-jadi bagaimana ini? Bagaimana iniiiiiiiiiiiiii!?"


Gumamannya tidak berhenti. Jika tidak bicara, dia merasa akan menjadi gila. Hanya ada satu pilihan yang terpikirkan, beri instruksi pada Letnan Hazen dan buat pertemuan dengan Suku Kumin berhasil.


"Uhaaan!? Itu tidak mungkin, kan!? Ti-dak mun-gkin!"


Setelah sesumbar seperti itu, tidak mungkin dia menarik kata-katanya sekarang. Kolonel Gedol pasti akan sangat kecewa dan muak. Jika itu terjadi, rekomendasi menjadi Letnan Kolonel pasti akan dibatalkan.


"Khua! Ugoooooooooeeeeee!"


Karena stres berat, asam lambungnya naik. Fakta bahwa semua Letnan melakukan boikot juga pasti akan disalahkan padanya. Tidak heran jika dia dicap tidak layak sebagai pengelola.


"Hawawa... kalau begitu kenaikan pangkat menjadi Letnan Kolonel akan terancam! Bisa ter-an-cam!"


Dia berteriak sepuasnya. Dia harus bersuara untuk menenangkan mentalnya, jika tidak, semua isi perutnya akan keluar.


"Harus melakukan sesuatu... harus melakukan sesuatu..."


Mayor Simant bergumam sambil menggigit kukunya sampai hampir pecah. Apa diserahkan pada Letnan Dua? Tidak, tidak mungkin. Itu bukan pekerjaan yang bisa dilakukan oleh anak baru yang baru bertugas beberapa tahun.


"Sialan. Kapten Lorenzo... dasar sampah tidak berguna. Berani-beraninya dia diskors sendirian di saat seperti ini! Hmm... Kapten Lorenzo... Kapten Lorenzo!?"


Dia menyebut nama itu berulang kali.


"Haha! Benar, kenapa aku tidak menyadarinya! Biarkan saja dia yang melakukannya."


Mayor Simant menari kegirangan. Masih ada satu perwira setingkat Kapten yang tersisa. Terlebih lagi, dia adalah bawahan langsungnya. Karena ini semua adalah akibat kurangnya pengawasan darinya, maka biarkan dia yang bertanggung jawab.


Segera dia membuka pintu ruangan dan berlari sekuat tenaga menuju kamar Kapten Lorenzo. Lalu dia menggedor pintu dengan keras sambil berteriak.


"Kapten Lorenzo! Kau ada di dalam? Kalau ada, jawab!"


"A-ada apa!?"


Kapten Lorenzo keluar dengan wajah terkejut.


"Apa kau bilang... kh."


Hampir saja dia berteriak, tapi Mayor Simant segera bungkam. Jika Kapten Lorenzo juga melakukan boikot seperti para Letnan lainnya, maka benar-benar tidak ada lagi jalan keluar.


"Anuuu, aku cuma berpikir apa kau baik-baik sajaaa. Habisnyaaa, aku kan atasanmu, jadi aku khawatiiir."


Mayor Simant mengeluarkan suara yang sengaja dibuat-buat manis dan menjijikkan.


"Ya, begitulah... Karena sedang diskors, saya tidak tahu apakah harus bilang baik-baik saja, tapi tubuh saya sehat."


"Kalau begitu syukurlah. Yah, aku khawatir kalau-kalau kau sedang merasa tertekan."


"...Terima kasih banyak."


"Jadiii... anuuu, aku punya satu usulan buat kauuu."


"Apa itu?"


Mayor Simant berbisik dengan tatapan memelas yang dibuat-buat dan bibir yang dimanyunkan.


"Kalau kau mau menuruti perkataanku, aku bisa saja mencabut skorsingmu, lhooo?"


"...Tidak, terima kasih."


!?


"Ooooooooooy!? Kenapa!? Kenapa begitu!?"


Mayor Simant mati-matian menahan Kapten Lorenzo yang hendak menutup pintu kamarnya.


"Saya sudah menerima hukuman skorsing ini. Meskipun saya menghargai kebaikan Anda, saya harus menolaknya."


"Ke-kenapaaa!? Kapten Lorenzo. Aku sih merasa Kolonel Gedol cuma salah paham sajaaa. Kau kan bertindak karena berpikir itu yang terbaik bagi Kekaisaran. Aku rasa itu cuma masalah salah paham kecil sajaaa."


"...Lalu, mengapa harus ada syarat pertukaran?"


"Itu... anu... begini, lho. Bukankah sesama rekan harus saling membantu saat kesulitan?"


"Mohon maaf, karena saya sedang diskors, saya harap Anda bisa menyelesaikannya sendiri."


"To-tolonglah! Lakukan sesuatu!?"


Mayor Simant tidak bisa menyerah begitu saja. Selama ini, demi kenaikan jabatan, dia sudah bekerja mati-matian hingga memeras keringat. Dia terus merendahkan diri dan bersujud meski sebenarnya tidak mau. Karena itu, dia tidak sudi jika kariernya terhenti hanya karena tersandung kerikil kecil seperti Hazen.


"...Hah."


Kapten Lorenzo menghela napas panjang seolah menyerah.


Seketika, di dalam hatinya, Mayor Simant melakukan selebrasi kemenangan. Dia menyeringai, berpikir bahwa pria ini adalah orang bodoh yang terlalu baik hati dan tidak tega menolak permohonan yang putus asa.


"Tapi, pertama-tama Kolonel Gedol harus mencabut skorsing saya dulu, kalau tidak saya tidak bisa melakukan apa-apa."


"...Bolehkah jika kita beralasan bahwa Kapten Lorenzo yang 'mati-matian memohon' agar skorsing itu dicabut?"


"Tentu saja tidak boleh. Sepertinya saya juga tidak sebaik hati itu."


"Kh..."


"Pria yang tidak berguna," umpat Mayor Simant dalam hati. Berbeda dengan dirinya yang diajarkan bahwa perintah atasan adalah mutlak, orang-orang di bawahnya ini dengan tenang berani melawan atasan.


"Benar-benar, anak muda zaman sekarang," pikir Mayor Simant.


"Baiklah. Soal itu biar aku yang urus nanti. Jangan khawatir, aku pasti akan mencabut skorsingmu."


"...Yang saya khawatirkan bukanlah dicabut atau tidaknya skorsing saya, melainkan apakah Anda benar-benar akan membicarakannya dengan Kolonel Gedol."


"Sudah kubilang akan kulakukan! Kau meragukan kata-kata atasanmu!?"


"Bagaimanapun juga, saya tidak bisa bergerak sebelum menerima keputusan resmi dari Kolonel Gedol. Itu adalah aturan militer."


"Kh..."


"Pria yang kaku," umpat Mayor Simant lagi dalam hati. Tanpa mau berpikir lebih dulu, dia langsung menyerah dengan bilang 'tidak bisa' atau 'mustahil'. Singkatnya, dia tidak punya nyali untuk menghadapi kesulitan. Dengan sikap seperti itu, mana mungkin dia bisa naik jabatan.


"Benar-benar, anak muda zaman sekarang," pikir Mayor Simant.


"Tapi, bisakah Anda menyampaikan dulu apa urusannya? Karena percuma saja skorsing saya dicabut jika pada akhirnya saya tidak bisa membantu apa-apa."


"I-itu..."


Dengan enggan, Mayor Simant mulai menjelaskan. Kapten Lorenzo mendengarkannya dalam diam, namun setelah penjelasan berakhir, dia menghela napas yang sangat panjang.


"...Begitu rupanya. Sepertinya saya tidak bisa membantu Anda."


!?


"Ooooooooooy! Ooooooooooooy! Ini tidak sesuai kesepakatan! Ka-mu-bi-lang-mau-mem-ban-tu!"


Mayor Simant mati-matian menahan Kapten Lorenzo yang kembali hendak menutup pintu.


"To-tolong lepaskan. Tanpa Letnan Hazen, negosiasi seperti itu tidak mungkin bisa dilakukan."


"Bisa! Di mana ada kemauan, di situ ada jalan!"


"Bagaimana caranya? Penerjemah Prajurit Satu Edal maupun pedagang Nandal tidak akan bisa bergerak selama beberapa bulan, kan? Kalau begitu, tidak ada cara lain selain mengandalkan Letnan Hazen, bukan?"


"...Itu..."


Mayor Simant mengertakkan gigi. Padahal ini semua terjadi karena bawahanmu. Kenapa kau bisa bersikap seolah ini bukan urusanmu? Benar-benar mentalitas yang tidak masuk akal. Dan berani-beraninya dia menyuruh atasannya berpikir, dia benar-benar tidak paham lagi dengan jalan pikiran anak muda zaman sekarang.


"Ka-Kapten Lorenzo bisa memberi instruksi pada pria itu, jadi secara teknis bukan aku yang mengandalkan pria itu."


"...Sejujurnya, saya tidak pernah terpikirkan cara berpikir seperti itu."


"Kan! Itulah kekuatan seorang atasan!"


"Hah..."


Saat Simant membusungkan dada, Kapten Lorenzo entah kenapa menghela napas panjang lagi.


"Tapi, seandainya Letnan Hazen bersedia menjadi penerjemah pun, pada akhirnya dia sendiri yang akan menerjemahkannya secara langsung. Saya rasa pada saat itu Kolonel Gedol akan mengetahuinya."


"...Itu hal yang harus dipikirkan. Misalnya dengan menyuruhnya menghafal dialog saat latihan sebelumnya."


"Hah... Apa Anda berniat menyuruh 'Ratu Biru' yang menyatukan suku-suku di sekitarnya untuk membaca naskah?"


"Kh..."


Sedari tadi, Kapten Lorenzo ini terus saja menghela napas sambil menatap ke arahnya. "Betapa tidak sopannya bawahan ini," pikir Mayor Simant dalam hati.


"Kolonel Gedol itu adalah atasan tertinggi, tahu! Mengatur alur pertemuan itu adalah hal yang paling mendasar!"


"Itu memang benar, tapi menyuruh seorang kepala suku mengatakan 'tolong ucapkan ini di sini' adalah tindakan yang sangat tidak sopan."


"Kita ini Kekaisaran, tahu!? Kau pikir seberapa besar perbedaan kekuatan tempur kita dengan anjing-anjing suku barbar itu!"


"Itu hanya berlaku jika kita memiliki kartu negosiasi yang lebih unggul, bukan? Karena kendali sepenuhnya ada di tangan mereka, justru kita yang harus merendah agar negosiasi bisa berjalan."


"Guu..."


"Sudah tidak berguna, beraninya dia hanya mengutarakan argumen yang logis," pikir Mayor Simant.


"Pokoknya, aku akan mengusahakan izin dari Kolonel Gedol, jadi beri instruksi yang jelas pada pria itu."


"Tunggu... itu mus—"


Sebelum Lorenzo sempat membantah, Simant menutup pintu dan berjalan menuju ruangan Kolonel Gedol dengan bahu lunglai.


"Hah..."


Mayor Simant berjalan gontai sambil menghela napas. Dia selalu begini jika harus menyampaikan laporan yang tidak menyenangkan. Pada dasarnya, dia hanya memberikan laporan bagus kepada atasan, sementara laporan buruk dia serahkan kepada bawahannya untuk diselesaikan. Bagi dia yang selama ini naik jabatan dengan cara seperti itu, tindakan ini memberikan tekanan yang luar biasa.


Tok tok tok.


"Ko-Kolonel Gedol. Apakah Anda ada di dalam? Ini Mayor Simant."


"Oh, masuklah."


Mendengar suara yang terdengar dalam suasana hati yang baik, Simant sedikit merasa lega. Dalam memberikan laporan, pemilihan waktu adalah segalanya.


"Permisi."


"Bagaimana perkembangannya?"


"Ya. Secara garis besar berjalan lancar... kh."


Gawat. Mulutnya menjawab secara refleks. Padahal kenyataannya sama sekali tidak lancar, melainkan hampir hancur berantakan. Namun, tanpa mengetahui hal itu, Kolonel Gedol tersenyum cerah.


"Begitu ya, memang tidak salah mengandalkan Mayor Simant. Aku menaruh harapan padamu."


"Ya-ya. Terima kasih banyak... Anu, lalu soal itu."


"Hmm? Masih ada hal lain?"


"Tidak... itu, mengenai perlakuan terhadap Kapten Lorenzo."


"Oh, soal pria itu?"


"Ya. Itu... apa hukuman skorsingnya tidak terlalu berat ya... begitu pikir saya."


"...Kau menganggap keputusanku salah?"


"B-bukan begitu!"


Suara Kolonel Gedol merendah, membuat Mayor Simant buru-buru membantah. Dia merasa malu atas perkataannya sendiri. Menyuarakan ketidaksetujuan atas keputusan atasan adalah hal yang tidak boleh terjadi.


"Hanya saja, karena ketidakmampuan saya... mohon maaf, saat ini kami kekurangan tenaga."


"Hmm..."


Bagus. Dengan sengaja menunjukkan kekurangannya sendiri, dia berhasil menghindari kesan membantah Kolonel Gedol. Jika sekali saja atasan menutup hatinya, mereka tidak akan mau mendengarkan lagi.


Karena hampir mustahil bagi seorang atasan untuk mengakui kesalahannya sendiri. Dan jika kegagalan itu disebabkan oleh faktor luar yang tidak bisa dihindari, ada kemungkinan atasan akan memaafkan bawahannya.


"Anu... Kapten Lorenzo memohon kepada saya sambil menangis. Saya pun sebagai manusia, terkadang tidak tega bersikap kejam pada bawahan. Lagipula, dia sudah bekerja keras di faksi kita selama ini... bagaimana ya mengatakannya, saya jadi merasa kasihan."


Mayor Simant terus menderetkan kata-kata. Sebenarnya, Kolonel Gedol menyukai dan menyayangi Kapten Lorenzo. Jadi, dia ingin Kolonel Gedol mengingat masa-masa itu dan mempertimbangkannya kembali.


"...Memang benar, bebanmu cukup berat tanpa adanya Letnan Kolonel Kenek. Maafkan aku, pertimbanganku kurang."


!?


"Selain itu, kita juga harus mempertimbangkan jasa Kapten Lorenzo. Yang terpenting, maafkan aku karena tidak menyadari bahwa kau merasa bertanggung jawab sebagai atasan."


"Kh... Betapa mulianya kata-kata Anda."


Betapa luas dan hangatnya kata-kata itu. Mayor Simant melihat sosok pemimpin besar dalam diri Kolonel Gedol. Tidak disangka dia menunjukkan kebesaran hati dengan mengakui kesalahannya di sini. Padahal bagi seorang atasan, menunjukkan kesalahan di depan bawahan itu sama malunya dengan menari telanjang di depan umum.


Dan Simant merasa semakin malu karena telah membuat atasannya mengalami hal seperti itu.


"Kolonel Gedol."


"Hmm?"


"Sayalah yang sebelumnya bilang agar menyerahkan segalanya kepada saya. Anda sama sekali tidak bersalah sedikit pun. Lagipula, kesalahan Kapten Lorenzo adalah kesalahan saya sebagai atasannya. Meskipun begitu, saya mohon maafkanlah saya yang mengajukan permintaan seperti ini."


Mayor Simant menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"...Tidak. Kau juga calon Kolonel, jadi kau pasti mengerti bahwa aku bertanggung jawab atas segala kejadian yang terjadi di benteng ini. Aku ingin kau menanamkan hal itu dalam hatimu."


"Ooh..."


Betapa dalam dan berbobotnya kata-kata itu. Benar. Seorang Kolonel memang haruslah seperti ini. Di tengah tatapan penuh kekaguman dari Mayor Simant, Kolonel Gedol menulis surat keputusan pencabutan skorsing dan menyerahkannya.


"Segera beri instruksi untuk mencabut skorsing Kapten Lorenzo... tidak, sampaikanlah langsung padanya."


"Siap, tentu saja! Terima kasih banyak!"


Dengan membungkuk hingga membentuk sudut siku-siku, Mayor Simant memberikan hormat yang sedalam-dalamnya. Dia kembali menyadari 'seperti apa seharusnya sosok seorang atasan'.


Dia membungkuk sekali lagi di depan pintu sebelum keluar, lalu segera menuju kamar Kapten Lorenzo.


"Lihat, ini surat keputusan pencabutan skorsing yang kau inginkan. Aku baru saja berhasil menggerakkan gunung besar, lho!"


Mayor Simant berkata sambil membusungkan dada.


"...Padahal aku sama sekali tidak menginginkannya."


"Kau bilang sesuatu?"


"...Tidak."


"Kalau begitu, segera pergi ke kamar Letnan Hazen. Kau harus berhasil. Harus, ya!"


"Karena ini perintah, saya akan berusaha semaksimal mungkin."


"Jangan banyak alasan! Pokoknya harus berhasil!"


Setelah meninggalkan kata-kata itu, Mayor Simant pergi dari kamarnya.


Dan, beberapa jam kemudian.


"Ternyata tetap tidak bisa."


"..."


Kapten Lorenzo datang melapor.


Setengah hari kemudian. Mayor Simant mondar-mandir di sekitar kamar Hazen. Setelah menceramahi dan memprovokasi si tidak berguna itu (Kapten Lorenzo) selama lima jam namun tetap tidak membuahkan hasil, dia terpaksa harus turun tangan sendiri.


Atasan memberi instruksi pada bawahan. Itu hal yang wajar. Benar-benar hal yang wajar dan mutlak. Apalagi, dia hanyalah bawahan dari bawahannya. Begitu pikirnya berkali-kali untuk meyakinkan diri sendiri.


"Dasar bawahan tidak becus. Karena kalian dipandang rendah, makanya hal seperti ini saja tidak bisa," gumamnya dengan suara yang sangat kecil, lalu mengetuk pintu dengan tangan gemetar.


"Letnan Hazen. Ini aku, Mayor Simant. Aku masuk."


"Silakan."


Saat membuka pintu dan masuk, Hazen sedang bersama seorang gadis muda. Keduanya saling berpandangan, lalu menatap tajam ke arah Simant. Dia sempat heran kenapa ada anak kecil di benteng ini, tapi saat ini dia tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu.


Hazen tetap membaca bukunya, memutar kursi ke arah Simant dan menyilangkan kakinya dengan sikap yang menyebalkan.


"Jadi? Ada urusan apa?"


"..."


Benar-benar sikap yang tidak sopan. Seorang Letnan yang baru bertugas tiga bulan, bahkan tidak berdiri apalagi memberi hormat kepada dirinya yang seorang Mayor yang sudah bertugas selama lebih dari 20 tahun di benteng ini.


Sambil sekuat tenaga menahan amarah dan kebencian yang meluap, Simant menarik napas dalam-dalam.


"Letnan Hazen. Ini perintah untukmu. Ikutlah bersamaku dan hadapi perundingan dengan Suku Kumin."


"Saya menolak."


!?


"Kau... menolak?"


"Ya."


"Ini perintah atasan, lho."


"Saya tidak mau."


"Kh... Apa kau tidak tahu prinsip kepatuhan pada atasan, haaaah!?"


"Mau dipatuhi atau tidak, bukankah pada akhirnya saya akan tetap dihukum mati?"


"I-itu tidak benar. Kalau kau melakukan pekerjaan ini dengan baik, bukan tidak mungkin aku akan memberikan keringanan."


"Saya tidak yakin orang selevel Mayor punya wewenang seperti itu. Anda kan cuma kotoran ikan mas Kolonel Gedol."


"Kh... jangan bercanda ya."


"Saya tidak sedang bercanda. Saya juga tidak memercayai Anda. Anda berniat memanfaatkan saya, lalu membuang saya setelah negosiasi ini berhasil, kan? Saya sama sekali tidak sudi membantu hal semacam itu."


"..."


Tepat sasaran. Sangat tepat sasaran. Seluruh niatnya telah terbongkar.


"Lagipula, saya tidak ingin memakan kotoran kuda."


!?


"Ka-Kapten Lorenzo ya... Dasar pengkhianat!"


"Bukan dia. Dia justru sudah bernegosiasi dengan gigih dan jujur saja dia lawan yang tangguh. Dia mencoba memeras habis sedikit kelebihan yang Anda miliki serta keuntungan bagi Kekaisaran."


"Kalau begitu... kenapa..."


"Dinding ruang komando militer seharusnya dibuat kedap suara. Suara tawa Anda yang menjijikkan itu sangat menyiksa telinga."


"Kh... kau mendengarnya."


Mayor Simant merasa putus asa saat menyadari dirinya sudah dianggap sebagai musuh sepenuhnya. Harus melakukan sesuatu... harus melakukan sesuatu... kata-kata itu terus berputar di otaknya.


Seketika, Mayor Simant langsung menjatuhkan lutut, kepala, dan telapak tangannya ke lantai.


Dia bersujud.


"Tolong! Aku mohon! Lakukanlah demi masa depan Kekaisaran. Aku minta maaf atas ketidaksopananku padamu selama ini."


"...Hah."


Hazen menghela napas panjang dan menutup bukunya. Dia mendekat ke arah Mayor Simant dengan senyum di wajahnya.


"Angkat wajah Anda."


"Letnan Hazen... gakk."


Sesaat kemudian, telapak kaki Hazen mendarat tepat di wajahnya.


"Jika minta maaf saja sudah cukup, maka perwira Kekaisaran tidak akan diperlukan. Gara-gara perkataan Anda yang menyinggung itu, visi masa depan saya jadi berantakan. Bagaimana Anda akan bertanggung jawab?"


"Gugu... benar-benar maaf. Mohon maafkan aku. Aku akan melapor langsung pada Kolonel Gedol dan memastikan tuduhan penghinaan Kaisar itu dihapuskan! Aku pasti akan melakukannya!"


"Kata-kata Anda tidak bisa dipercaya. Minimal, jika tidak melakukan sihir kontrak yang mengikat, rasanya sangat mustahil."


"I-itu..."


"Tuh kan, bohong, kan? Minta maaf di mulut saja, lalu menusuk dari belakang saat orang merasa aman. Atasan tipe seperti Anda ini sepertinya jumlahnya sangat banyak di Kekaisaran."


Hazen menginjak-injak dan menggosokkan kakinya ke wajah Mayor Simant.


"Fugyuuruuu... a-aku lakukan! Aku akan melakukannya! Kita ikat dengan sihir kontrak. Apa itu cukup? Jika ada hal lain yang bisa kulakukan, aku akan lakukan apa saja. Uang? Kenaikan pangkat? Aku akan memberikan kemudahan sebanyak mungkin."


"...Apa saja?"


Seketika, perkataan Hazen terhenti.


"Y-ya. Apa saja! Koin emas besar? Promosi khusus menjadi Kapten? Katakan saja apa pun."


"Begitu ya... kalau begitu. Jan."


Hazen memanggil gadis yang sedari tadi memperhatikan situasi dengan wajah terperangah di sampingnya.


"A-ada apa?"


"Bawakan aku kotoran kuda."


...Waktu seolah berhenti.


"Eh?" Mayor Simant bertanya balik.


"Eh?" Jan pun bertanya balik.


"Benar-benar. Sudah tidak punya daya tangkap, pendengaran Anda pun buruk ya, Mayor Simant. Jan, kau tidak perlu berakting seperti itu. Kau pasti mengerti apa yang ingin kukatakan, kan?"


Mendengar itu, gadis berambut merah muda tersebut mundur beberapa langkah.


"Bukannya lebih tepat dibilang, meskipun aku mengerti, tapi tetap saja aku tidak bisa memahaminya? Maksud Guru, apakah Guru benar-benar menyuruh Mayor Simant untuk 'makan kotoran kuda'?"


"Hmm? Begitulah."


"..."


"..."


"APA-APAAN HAL BODOH YANG GURU KATAKAN ITU—!"


Suara Jan menggema di seluruh ruangan.


"Bodoh bagaimana?"


"Ja-jangan menganggapnya enteng begitu! Kenapa Guru menyuruhnya melakukan hal seperti itu? Bukankah dia sangat malang!?"


"Malang? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau katakan. Bukankah yang berniat menyuruhku melakukan hal itu tidak lain adalah Mayor Simant sendiri? Dia dengan liciknya berencana menyuruhku melakukan tindakan memalukan itu saat dia memegang kelemahan orang lain. Itu adalah hal yang tidak bisa dimaafkan."


"Biarkan saja, tidak masalah! Lagipula, mana mungkin dia bisa benar-benar menyuruh Guru melakukan hal seperti itu!?"


"Hasil bukanlah masalahnya. Prinsipku adalah membalas sebelum dibalas. Tidak akan sempat jika aku baru membalas setelah lawan melakukan tindakannya. Karena itu, aku melakukan pembalasan sebelum lawan bertindak."


"I-itu sih namanya penindasan sepihak!?"


"Kalau aku melakukan itu pada orang yang tidak punya niat jahat, barulah disebut begitu. Tapi aku merasakan niat jahat yang jelas dari Mayor Simant, jadi aku akan membalasnya habis-habisan. Aku tidak akan memberi ampun pada pedang yang diarahkan kepadaku."


"Hiik..."


Benar-benar orang gila. Mayor Simant gemetar dari lubuk hatinya. Sedari tadi, dia sama sekali tidak bisa memahami apa yang dibicarakan pria ini. Apakah dia, atasan dari atasannya pria ini, harus dipaksa bersujud, ditendang, dan berakhir dipaksa makan kotoran kuda oleh bawahan dari bawahannya sendiri?


Siapa yang memikirkan perlakuan kejam seperti ini?


"Kalau Anda tidak mau, ya sudah tidak apa-apa. Justru saya ingin Anda segera keluar karena ini hanya membuang-buang waktu saya."


Hazen tersenyum cerah. Mayor Simant menatap Hazen yang menginjaknya melalui celah sepatu. Tentu saja dia tidak mau makan kotoran kuda. Karena itu adalah penghinaan paling buruk yang bisa dia pikirkan sendiri.


Namun...


Jika tidak makan, dia akan turun pangkat. Jika makan, dia jadi Letnan Kolonel. Jika tidak makan, turun pangkat. Jika makan, Letnan Kolonel. Pikirannya berputar-putar seperti komedi putar. Akhirnya, dia bertanya sambil menghela napas berat.


"...Jika aku memakannya, kau akan membantuku, kan?"


"Ya. Tentu saja. Jika Anda sanggup menerima penghinaan sejauh itu, saya akan menghargai tekad Anda."


"...Ba-baik—"


"FUNNUUU! CUKUP, YA! AKU SUDAH TIDAK TAHAN LAGI!"


Seketika, Jan yang sedang marah besar menepis kaki Hazen dari wajah Mayor Simant.


"Aku yang akan menerima tugas penerjemah Suku Kumin itu! Jadi tidak perlu melakukan hal seperti itu!"


"Eh... kau juga bisa bahasanya?"


Mayor Simant menatap Jan dengan ekspresi tidak percaya. Anak sekecil ini? Tapi dia ingin percaya. Karena sejujurnya... dia benar-benar tidak mau makan kotoran kuda.


"To-tolonglah! Jan atau siapa pun namamu. Jadilah penerjemahku—"


"Mana mungkin aku mengizinkan hal seperti itu."


"HA... HAZEN HEIM—!"


Mayor Simant kehilangan akal sehatnya dan menyerang dengan membabi buta. Namun sesaat kemudian, dia tiba-tiba merasakan beban berat dan tersungkur ke lantai.


"Ga-gahah!?"


"Mohon maaf ya. Sepertinya ada kotoran yang jatuh di sini."


Hazen menjawab sambil menatap rendah ke arah Mayor Simant yang terbenam di lantai. Karena ini adalah kamarnya sendiri, tentu saja tidak mungkin ada kotoran yang jatuh, tapi tatapannya hanya tertuju pada satu titik. Dia menatap tajam Mayor Simant.


Tanpa disadari, Simant sudah dianggap sebagai kotoran.


"Guru!? A-a-apa yang Anda lakukan... Bukankah itu Tifu?"


Jan menatap Hazen dengan wajah kaget. Tifu adalah senjata pengendali gravitasi yang digunakan untuk menghabisi Komandan Kavaleri Nidel pada perang tempo hari.


"Ini pertahanan diri. Lagipula, aku tidak mengerahkan banyak tenaga. Aku hanya punya kebiasaan menyatukan kotoran dengan tanah untuk mempercepat dekomposisi. Dengan begitu kotorannya akan cepat menjadi pupuk dan tanaman akan tumbuh subur. Itu lebih berguna bagi dunia."


"Kejam sekali tindakan Anda! He-hei, Anda tidak apa-apa?"


Jan berusaha membangkitkan Simant, tapi dia tetap terbenam di lantai dan tidak bergerak sedikit pun.


"Ti-tidak bisa. Ray Fa! Cepat kemari!"


"A-ada apa! Musuh!?"


Ray Fa yang baru sembuh dari sakit dan berada di kamar sebelah masuk dengan tergesa-gesa.


"Situasi macam apa ini!?"


"Apa kau sudah tidak apa-apa bangun dari tempat tidur?"


"Situasi sekarang sama sekali tidak baik-baik saja!"


Gadis yang sedang panik itu mencoba menolong Mayor Simant dengan kekuatan monsternya.


"Hei, kotoran ini adalah pria yang tidak layak dibantu. Terlebih lagi, kau tidak perlu menolongnya."


"Hah... Hazen. Manusia itu kalau terbenam, ya ditarik keluar."


"...Yah, lakukan sesukamu. Kau punya hak untuk menolak perkataanku."


"Kenapa Ray Fa boleh tapi aku tidak?"


Jan memelototi Hazen.


"Dia adalah teman dari akademi. Kami memiliki hubungan kerja, tapi pada dasarnya kami setara. Karena itu, dia bebas menolak permintaan atau usulanku. Namun, Jan, kau memiliki hubungan subordinasi karena uang, jadi kau harus patuh mutlak kecuali kau melunasinya."


"Kalau begitu, bagaimana kalau begini?"


Jan mengeluarkan selembar perkamen ke atas meja.


"..."


Seketika, ekspresi Hazen yang tadinya tenang langsung berubah.


"Surat kuasa... Sejak kapan?"


"Apa Guru pikir aku tidak akan membaca kontraknya? Kemarin saat aku pulang ke panti asuhan, aku mengambilnya. Aku sudah meminta tanda tangan dari kepala panti. Dengan begini sudah tidak masalah, kan?"


"...Namun, jika kau ingin membatalkan kontraknya, kau harus membayarku sepuluh koin emas besar. Kemungkinan besar kau berniat mengandalkan Nandal atau Ratu Basia, tapi uang sebanyak itu tidak mungkin bisa mereka sediakan."


"Fuffuffu, bukankah orangnya ada di sini? Benar kan, Mayor Simant?"


"...Eh?"


"Tolong bayarkan sepuluh koin emas besar itu, dan jalinlah kontrak denganku."


Jan menampakkan senyum cerah.


"Begitu rupanya. Memang benar, keluarga Mayor Simant berasal dari garis keturunan bangsawan kelas atas. Dan omong-omong... kau punya hubungan kerabat dengan Mospizza."


"Jangan sebut si gagal itu!?"


"...Ironisnya, kalian berdua sangat mirip."


"Kh..."


"Namun, yah, aku tidak yakin dia akan membayar uang sebanyak sepuluh koin emas besar."


Hazen menunjukkan ekspresi tenang.


Wajar saja dia berpikir begitu. Satu koin emas besar setara dengan gaji seumur hidup perwira setingkat Mayor. Sepuluh kali lipatnya adalah jumlah yang jauh melampaui gaji seumur hidup perwira setingkat Kolonel.


Namun.


"Aku akan bayar."


"...Apa?"


"Sudah kubilang aku akan bayar! Letnan Hazen! Apa otak, telinga, dan sifatmu itu buruk semua!?"


Mayor Simant berteriak-teriak meski masih terbaring telentang dan tidak bisa bergerak.


"...Saya tidak mengerti. Anda mau mengeluarkan uang yang melebihi jumlah gaji seumur hidup yang bisa Anda peroleh?"


"Ini bukan soal uang! Bukan soal uang..."


Betapa besarnya perjuangan yang dia lalui untuk mencapai pangkat Mayor ini. Sebagai putra kedua, dia selalu diabaikan oleh keluarganya. Namun, militer adalah dunia berdasarkan kemampuan. Bahkan di kalangan bangsawan kelas atas, pandangan terhadap pangkat Mayor itu berbeda.


Dia sudah bersujud berapa kali? Berapa lama dia hidup dengan menjilat orang lain? Dia selalu menjawab 'YA' untuk semua perkataan atasan. Sampai sekarang, dia hidup mati-matian dengan cara seperti itu.


Status sebagai prajurit adalah segalanya bagi dia.


"...Perlu saya sampaikan, tidak ada janji di mulut untuk jumlah sebesar ini. Anda harus menjalin kontrak secara resmi, memverifikasi aset, dan mengaturnya. Dengan kemampuan Anda, saya rasa itu akan memakan waktu lebih dari enam bulan."


"Mayor Simant. Jika Anda menyerahkannya padaku, aku akan membereskannya dalam satu hari. Dalam pasal kontrak, terdapat masa percobaan yang disediakan untuk memverifikasi kemampuan tersebut."


"Ja-Jan. Kau..."


Untuk pertama kalinya, Hazen menampakkan ekspresi panik. Mayor Simant merasa yakin. Gadis bernama Jan inilah yang menjadi tumit Achilles dari orang gila ini.


"Kukuku... Hahahaha! Hahahahaha! Mengenaskan sekali! Kau meremehkannya karena berpikir telah memegang kartu as, hah!? Sekarang hanya hukuman mati yang menantimu. Sudah terlambat untuk menyesal sekarang. Yah, kalau kau mau makan kotoran kuda, aku bisa saja mempertimbangkannya—!"


"Hei! Mayor Simant! Apa yang Anda pikirkan dengan memprovokasi Guru!? Anda bisa dibunuh, tahu!? Tolong hentikan!"


Di tengah usaha Jan yang mati-matian menghentikannya, Hazen menampakkan ekspresi seolah merasa tersinggung.


"...Apa kau menganggapku binatang buas atau semacamnya? Tak kusangka kau akan ikut campur di sini. Jika ini adalah pembatalan kontrak yang sah secara hukum, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Ray Fa. Aku tidak ingin mendengar suaranya yang menjijikkan itu lagi, bawa pria itu ke ruang medis."


"Ba-baiklah."


Ray Fa memapah Mayor Simant yang telentang dan membawanya keluar ruangan.


"Apakah aku menang... Benarkah... melawan pria itu..."


Mayor Simant yang masih linglung berkali-kali membayangkan kejadian tadi, dan akhirnya bergumam pelan.


"Menang... benar, aku menang!"


Dia berhasil melakukannya. Hal yang tidak bisa dilakukan oleh Kapten Lorenzo maupun para Letnan lainnya.


"Ahahahahahaha, ahahahahahaha!"


Suara tawa Mayor Simant menggema keras di sepanjang koridor.



"Apa ini sudah benar?"


Jan menghela napas panjang di kamar Hazen.


"Ya, akting yang bagus. Kupikir kau tadi benar-benar marah."


"Ta-tapi aku memang benar-benar marah besar, tahu."


Gadis berambut merah muda itu berkata demikian sambil kembali menghela napas.


Prediksi tindakan Mayor Simant sudah disampaikan sebelumnya kepada Jan. Berdasarkan hal itu, dia diinstruksikan untuk berpura-pura sepakat dan mengusulkan pembatalan sihir kontrak.


"Uuu... aku merasa sangat bersalah."


"Rasa bersalah tidak diperlukan untuk sampah."


"Bukan cuma parah, ini benar-benar keterlaluan!"


Jan menampakkan ekspresi kaget.


"Jadi, ini kontrak barunya ya."


"..."


Jan, sebagai pihak yang terlibat, tidak bisa membuat kontrak dengan tujuan sengaja menipu. Namun, bagi Hazen yang merupakan pihak ketiga, memungkinkan baginya untuk membuat draf kontrak yang menguntungkan dirinya sendiri.


"...Apa benar dia akan tertipu dengan kontrak seperti ini? Banyak sekali celahnya."


"Manusia cenderung memercayai apa yang ingin mereka percayai. Saat ini, dia tidak akan meragukan Jan yang merupakan penyelamatnya."


"..."


Sulit untuk dipercaya. Jika melihat kontrak ini, niat terselubung untuk melakukan manipulasi terlihat di sana-sini. Pertama-tama, Jan sendiri tidak akan mau menandatangani kontrak ini.


Dalam kontrak ini, tindakan penipuan yang dilakukan Jan terhadap Mayor Simant sebelum penandatanganan akan dianggap sah. Selain itu, isinya sangat longgar karena Jan tidak perlu mengakuinya. Dan kerahasiaan mengenai tindakan Hazen yang mencoba menjebak Mayor Simant sudah diatur dalam kontrak lain yang telah ditandatangani sebelumnya.


"Ini kesempatan yang bagus. Belajarlah seberapa bobroknya lapisan atas Kekaisaran."


"...Memangnya perlu belajar hal seperti itu?"


"Kemampuan menilai orang hanya bisa diasah melalui pengalaman. Ada pandangan yang hanya bisa diasah dengan melihat sampah."


"..."


Saat kontrak diperbarui, Jan akan dipaksa untuk bertindak demi Mayor Simant. Secara otomatis, dia harus melakukan tindakan yang benar-benar menguntungkannya.


"Apa tidak masalah jika aku benar-benar melawan Guru?"


"Tidak masalah. Mungkin akan berbeda beberapa tahun lagi, tapi bagi dirimu yang sekarang, itu semudah membalikkan telapak tangan."


"Kh... Benar-benar puncak dari sifat buruk."


Kalau begitu, dia akan berusaha melawan sebisanya. Mungkin akan menarik melihat wajah menyesal Hazen.


"Daripada itu, segera kemasi barang-barangmu dan pergilah. Jika kau berlama-lama di sini, orang-orang di sekitar akan curiga."


"Aku tahu."


"Selain itu, bawalah Ray Fa bersamamu."


"Ke-kenapa?"


"Mayor Simant adalah sampah murni. Ada kemungkinan dia akan menggunakan kekerasan. Pada saat itu, kau butuh seseorang yang bisa melindungimu."


"Ray Fa adalah pengawal Guru, kan? Apa dia mau menerimanya..."


"Gampang, kok. Orang seperti dia."


"Pe-penilaian Anda benar-benar buruk."


Jan menghela napas sambil menyiapkan barang-barangnya. Tak lama kemudian, Ray Fa masuk, dan persiapan kepindahan akhirnya selesai.


"...Yah, terima kasih untuk segalanya sampai sekarang."


Gadis berambut merah muda itu membungkuk dalam-dalam. Bagaimanapun juga, panti asuhannya jadi makmur. Meskipun sangat sulit, tidak bisa dipungkiri bahwa dia belajar banyak berkat Hazen.


"Aku tidak yakin soal Mayor Simant sebagai majikan, tapi yah, semoga kau baik-baik saja."


"Guru... Anda itu seribu kali lebih mendingan daripada dia."


"Haha."


"Aku tidak sedang bercanda."


Setelah memberi peringatan kepada pemuda yang tidak peka itu, Jan keluar dari ruangan. Kemudian, bersama Ray Fa yang membawakan barang-barangnya, dia pindah ke ruangan baru.


"Tapi, Ray Fa, kok Anda mau mengabdi pada Guru?"


"Haha..."


"Kenapa dia bisa sejahat itu? Aku benar-benar tidak sanggup mengikuti orang yang punya kepribadian yang tidak memanusiakan orang lain seperti dia."


"Yah, kalau dia marah memang tidak ada ampun, sih."


Ray Fa menampakkan senyum pahit.


"Marah? Maksud Anda zombie dingin tak berperasaan yang seolah tidak punya darah itu?"


"Terutama kepada Mayor Simant, ya. Lagipula, pria bernama Hazen Heim itu tidak akan mengatakan hal-hal yang keterlaluan kepada orang baik. Biasanya, dia hanya menyudutkan orang jahat saja."


"..."


Sepertinya Ray Fa ingin mengatakan bahwa Mayor Simant adalah orang jahat. Tapi, mau jahat atau apa pun itu, Mayor Simant terasa jauh lebih mendingan daripada Hazen.


"Yah, sepertinya dia cukup menghargaimu, Jan. Meskipun dia memang tidak jujur dengan perasaannya."


"Bo-bohong."


Gadis berambut merah muda itu menampakkan ekspresi terkejut dan menatap Ray Fa.


"Tidak, kok. Aku rasa itu terlihat dari sikap dan perkataannya, apa kau tidak menyadarinya?"


"Sa-sama sekali tidak."


Sama sekali tidak terasa hal semacam itu, baik dari sikap maupun perkataannya. Namun, kemampuan Ray Fa melihat sisi positif seperti itu memang terasa sangat mencerminkan kepribadiannya.


Jan masuk ke dalam ruangan dan segera mulai mengerjakan tugas inventarisasi aset.


Keesokan harinya, Mayor Simant datang ke ruangan. Tubuhnya tampak sudah pulih sepenuhnya.


"Bagaimana? Apa kau betah di sini? Kamar ini beberapa tingkat lebih mewah daripada kamar pria menyebalkan itu, kan? Kau suka?"


"Te-terima kasih banyak."


Mayor Simant menatap Jan dengan wajah yang tampak sangat senang. Sepertinya Jan benar-benar disukai olehnya. Namun, saat melihat Ray Fa, ekspresinya langsung berubah drastis.


"Mengapa pengawal pria itu ada di sini?"


"Dia membawakan barang-barang saya. Lagipula, meski perjanjian gencatan senjata sudah ditandatangani, saya menariknya agar ikut dengan saya sebagai bentuk pencegahan terhadap mereka."


"...Mencurigakan. Apa dia bukan mata-mata pria itu?"


"Sepertinya dia sudah benar-benar muak dengan kepribadian Guru, tahu."


Jan sempat berpikir apakah alasan itu terlalu dipaksakan, namun Mayor Simant mengangguk seolah merasa yakin.


"Kukuku... yah, wajar saja karena pria itu adalah sampah yang paling rendah. Terpaksa, apa boleh buat kalau aku harus mempekerjakannya juga."


"Sekadar mengingatkan, yang memperkerjakannya adalah saya."


"Cih. Yah, terserah saja. Ngomong-ngomong, apa inventarisasi asetnya sudah selesai?"


"...Ya. Kurang lebih."


Keberadaan Ray Fa sepertinya tidak terlalu mengganggunya. Dan meski masalah siapa majikannya adalah bagian yang cukup penting, dia mengabaikannya begitu saja. Sepertinya dia memang benar-benar tidak kompeten dalam bekerja.


"Jika Anda menandatangani dokumen ini dengan Hofude, maka Guru... tidak, Letnan Hazen akan menerima sepuluh koin emas besar."


Hofude adalah sejenis alat sihir berbentuk pena khusus yang digunakan saat membuat kontrak. Meski pencairan dana secara resmi baru akan dilakukan nanti, dengan menandatanganinya, aset tersebut dapat disita berdasarkan hukum Kekaisaran.


"Begitu ya, baiklah. Aku tinggal menulis di sini, kan?"


"...Saya peringatkan, jika ingin berhenti, sekaranglah saatnya. Sepuluh koin emas besar ini benar-benar jumlah yang nyaris mencapai batas penilaian setelah menghabiskan 99,9% harta Anda. Begitu Anda menandatanganinya, Anda akan menjadi tidak punya uang sepeser pun."


"Huh... Hal semacam itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan status Letnan Kolonel. Lagipula, itu awalnya adalah uang yang kutabung untuk menyuap atasan."


"..."


"Berani sekali orang ini mengatakan hal memalukan seperti itu dengan bangga," pikir Jan.


"Dari awal aku tidak punya nafsu duniawi. Tidak berlebihan jika kubilang status sebagai prajurit adalah segalanya bagiku. Begitulah besarnya taruhan yang kuberikan untuk pekerjaan ini."


"..."


Mayor Simant tersenyum dengan wajah yang tampak bangga pada dirinya sendiri. Meski Jan merasa bersalah di dalam hatinya, dia tetap mengangguk dengan senyum lebar.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close