NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Heimin Shusshin no Teikoku Shoukan, Munou na Kizoku Joukan wo Juurin shite Nariagaru V2 Chapter 8

 Penerjemah: Nels

Proffreader: Nels


Chapter 8

Hujan yang Tak Kunjung Berhenti

"Uwee... hic."


Malam itu, Mozcoal pulang ke kamarnya dengan langkah terhuyung-huyung. Setelah mendatangi lebih dari lima tempat hiburan dalam satu hari, dia sudah benar-benar mabuk berat. Penyelidikan khusus terhadap Asisten Pejabat Urusan Dalam Negeri Tingkat Atas Nyotai telah berakhir dalam beberapa hari, dan Mozcoal, sang mantan kepala sekretaris pribadi, telah dinyatakan bebas murni.


Di kediaman Nyotai, banyak bukti kecurangan yang ditemukan. Berkat lobi dan manipulasi Mozcoal, kesaksian para sekretaris lainnya pun menjadi seragam. Ditambah lagi, reputasi Nyotai memang sudah buruk sejak awal. Kasus itu akhirnya disimpulkan sebagai "serangan dari orang-orang dunia bawah yang terlibat dalam praktik ilegal."


Tentu saja, para sekretaris pribadi langsung dipecat pada hari itu juga. Namun, keesokan harinya, Hazen mempekerjakan Mozcoal sebagai sekretaris pribadi. Alasannya, "ingin memahami isi pekerjaan yang dilakukan Nyotai," sebuah alasan yang masuk akal sehingga tidak ada yang merasa curiga.


Untuk para sekretaris lainnya, Hazen dengan sigap membantu menyalurkan mereka ke tempat kerja baru. Mozcoal tidak ingin membayangkan koneksi apa yang digunakan Hazen, namun kabarnya Kolonel Gedor dari militer wilayah utara Garuna yang banyak bergerak untuk urusan tersebut.


Dan pada hari pertama dia dipekerjakan, Mozcoal diberikan uang dalam jumlah yang sangat besar, yang kini telah dia habiskan sepenuhnya.


"Uwee. Luar biasa. Pejabat Urusan Dalam Negeri Tingkat Menengah Hazen memang yang terbaik."


Sambil mabuk, Mozcoal langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur. Awalnya dia merasa geram karena dihujani kata-kata yang menghina, namun sekarang dia bisa makan, minum, bahkan menikmati hiburan malam. Bagi Mozcoal, ini adalah situasi yang sempurna.


"......Ah. Tanda terima, tanda terima."


Dia teringat batas waktu penyerahan tanda terima adalah 20 hari sebelum akhir bulan. Pria itu sangat sibuk dan terus berpindah tempat, sehingga hampir mustahil untuk menemuinya kecuali pada larut malam. Jika sampai terlambat dan tidak bisa dibayar, jumlahnya cukup besar untuk melenyapkan seluruh biaya sekolah putrinya dalam sekejap. Dia ingin menyelesaikannya mumpung masih ingat.


Mozcoal bangkit dari tempat tidur. Sambil membawa sebotol anggur sebagai oleh-oleh, dia berjalan sempoyongan menuju kamar Hazen.


"Permisiii—......"


!?


"A-apa yang terjadi, kenapa Anda jadi sekurus ini!?"


Begitu pintu dibuka, pemandangan yang menyambutnya adalah sosok Hazen yang kurus kering. Kulitnya tampak kusam dan pecah-pecah, seolah-olah dia adalah pasien penyakit parah yang berada di ambang kematian. Mozcoal, yang sebenarnya tidak peduli bahkan berharap pria ini mati saja, tanpa sadar melontarkan kata-kata khawatir karena melihat kondisi yang begitu ekstrem.


Rasa mabuknya menghilang seketika.


"Ah, Mozcoal ya. Aku sedang sedikit melakukan puasa makan."


"......Apakah ini karena alasan keagamaan?"


"Tidak. Jika tidak merasakan keadaan yang sama dengan rakyat di sini, aku tidak akan bisa memahami perasaan mereka. Dulu aku pernah mengalaminya di medan perang, namun kelaparan di tengah kehidupan sehari-hari memberikan sensasi yang berbeda, terasa sangat segar."


"......Kh."


"Aku senang melihatmu tampak sehat."


"......Kh-kh."


Mozcoal baru saja menghabiskan setiap malam dengan bersenang-senang dan berat badannya naik lima kilogram. Dia bahkan sempat melakukan berbagai permainan mewah, seperti menyelipkan tumpukan uang ke dalam celana dalam pelayan atau melakukan tantangan minum anggur mahal dalam satu tegukan. Minuman yang dibeli dengan uang orang lain memang terasa sangat lezat.


Mozcoal tanpa sadar menyembunyikan botol anggur oleh-olehnya ke belakang punggung.


"Jadi? Bagaimana hasilnya?"


"Mo-mo-mohon maaf. Sebenarnya... saya belum mendapatkan hasil yang signifikan. Itu... tempat hiburan malam sangat mengutamakan kepercayaan, jadi butuh waktu lama untuk menghabiskan uang sebelum bisa mendapatkan informasi..."


Mozcoal memberikan alasan sambil berkeringat dingin. Dia memang benar-benar berkeliling tempat hiburan malam sesuai instruksi. Justru karena dia melakukan persis seperti perintah pria ini, seharusnya dia tidak perlu takut. Namun, melihat situasi sekarang, dia merasa seolah-olah akan dibunuh tanpa ampun.


"......Yah, saat ini adalah waktunya untuk mengeluarkan uang. Ini bukan sesuatu yang bisa membuahkan hasil dalam waktu singkat. Teruslah berkeliling ke tempat hiburan malam."


"Be-benar juga ya."


Melihat Hazen bicara dengan tenang, Mozcoal menghela napas lega.


"Namun, ingatlah bahwa dalam jangka menengah dan panjang, kau harus memberikan hasil. Jika tidak ada hasil sama sekali, aku akan memberikan hukuman. Lakukanlah dengan sungguh-sungguh."


"Hu-hukuman......"


Wajah Mozcoal menjadi pucat pasi.


"......Argh."


"Guru! Ini sudah lewat sepuluh hari! Makanlah sesuatu! Anda benar-benar bisa mati!"


"Tidak masalah. Besok malam, ada hal yang harus kulakukan."


Melihat tubuh Hazen yang sudah lunglai, gadis bernama Jan itu berusaha menahannya dengan sekuat tenaga sambil terisak. Namun, Hazen yang tidak sanggup menahan beban tubuhnya sendiri terhuyung menabrak meja, menyebabkan botol kaca berisi makanan awetan terjatuh. Wadah itu pecah, dan isinya berhamburan di lantai.


"......Hahaha."


Hazen terdiam sejenak menatap pemandangan itu, lalu tertawa tipis.


"Ke-kenapa Anda malah tertawa!?"


"Aku mengerti sekarang...... jika seseorang tidak makan dalam waktu lama...... dia akan menginginkannya bagaimanapun caranya...... bahkan jika harus berlutut dan menjilati apa yang tumpah di lantai...... bahkan jika dia harus melakukan kejahatan apa pun."


"......Ugh."


Air mata mengalir deras dari mata sang gadis.


"Makanlah. Tidak ada orang lain selain Anda yang sanggup menahan diri sampai sejauh ini. Lagipula, apa perlu sampai melakukan hal semacam ini!?"


"Perlu...... besok malam...... saat malam bulan purnama. Aku akan segera berangkat setelah ini."


"Dengan tubuh seperti ini, Anda mau pergi ke mana!?"


Jan menangis dengan wajah yang sudah berantakan. Menatap ekspresi itu dengan mata yang mulai kabur, Hazen akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah Mozcoal.


"Ah, maaf tadi. Mari kita periksa isi tanda terima dan tindakan yang kau lakukan."


"......."


Mozcoal berpikir, ini benar-benar sulit dikeluarkan.



Malam ke-11 tanpa makan dan minum. Hazen pergi melintasi gurun dengan kuda bersama Ray Fa dan Jan. Mereka telah menyiapkan beberapa kuda di jarak tertentu sebelumnya, dan segera menggantinya jika kuda mulai kelelahan. Dengan metode ini, mereka mencapai titik di tengah gurun dalam waktu kurang dari satu hari—perjalanan yang biasanya memakan waktu lima hari.


Di sana, rakyat yang telah diselamatkan Jan sudah berkumpul. Atas instruksi Hazen, Jan sebelumnya telah memberikan perintah agar mereka datang ke tempat ini. Melihat skalanya, sepertinya hampir semua orang hadir. Begitu melihat sosok Jan, mereka semua berlutut. Sang pemimpin pun berdiri dan mendekat.


"Ooh, Saint-sama. Terima kasih Anda sudi datang ke tanah gersang ini."


"Aku terkejut. Tidak kusangka semuanya benar-benar datang ke sini."


Perjalanan menuju titik ini sangatlah berat. Meski telah dibekali makanan dan air yang cukup, perkiraannya tadinya hanya sekitar 100 orang yang sanggup sampai.


"......Oi," perintah sang pemimpin.


Dari balik cakrawala, muncul ratusan orang yang menunggangi binatang mirip kuda dengan punuk di punggungnya. Mereka adalah para gelandangan yang sebelumnya kelaparan. Meski tubuh mereka kurus kering, mereka tampak penuh dengan kebanggaan dan rasa percaya diri.


"Namanya Lada. Hanya kami, rakyat gurun, yang mengetahui keberadaan binatang ajaib ini. Punuk di punggungnya menyimpan energi dalam bentuk lemak. Selain itu, binatang ini hampir tidak mengeluarkan keringat, yang membantu pembuangan panas tubuhnya."


"Sampai...... ratusan ekor begini."


"Binatang ini tidak masalah meski tidak minum selama beberapa hari. Kukunya pun telah beradaptasi untuk berjalan di gurun, dengan kecepatan dua kali lipat kuda biasa. Perjalanan yang membutuhkan lima kuda bergantian pun bisa ditempuh oleh satu ekor saja. Karena tenaganya kuat, kami membuat papan darurat untuk mengangkut anak-anak dan lansia."


"......Kenapa kalian tidak memakan binatang ini?" Jan melontarkan pertanyaan yang wajar. Di antara mereka, ada orang-orang yang mati kelaparan.


"Inilah...... kebanggaan kami, segalanya bagi kami. Memakan Lada sama saja dengan melenyapkan harapan kami sebagai rakyat gurun."


"......"


"Dan...... yang bisa kami lakukan hanyalah mempersembahkan harta karun kami ini kepada Saint-sama. Mohon, terimalah."


"Itu......" Jan kehilangan kata-kata.


"Anda telah memberikan berkah kepada kami yang tidak memiliki apa-apa. Anda membangkitkan kembali harga diri kami sebagai rakyat gurun yang telah kalah. Kami semua berdiskusi tentang apa yang bisa kami lakukan, dan tidak ada satu orang pun yang menentang hal ini."


"......Mulai sekarang, setengah dari kalian harus tinggal di gurun ini."


"Tinggal di gurun ini......?"


Wajah semua orang berubah. Wajar saja, gurun ini hanyalah hamparan tanah gersang tanpa akhir. Bertahan di tempat tanpa oase ini sama saja dengan maut.


"Tak lama lagi, hujan akan turun di tanah ini selama berhari-hari. Tampunglah air itu, tumbuhkan pepohonan, dan buatlah oase di sini."


"......Hujan. Mana mungkin hal seperti itu terjadi."


Jan tersenyum tipis dan bergerak menjauh ke tempat di mana Hazen berada. Di sana, Hazen berada dalam kondisi kesadaran yang kabur, namun ujung jarinya tetap bergerak mantap menggambar di atas pasir.


"Guru. Aku sudah melakukan sesuai naskah. Tapi, apakah benar-benar bisa menurunkan hujan?"


Tentu saja, Jan belum pernah melihat tongkat sihir semacam itu, apalagi mendengar sihir yang bisa menurunkan hujan.


"Jika tidak benar-benar...... menginginkannya, sihir ini tidak akan bisa digunakan."


Hazen menggambar lingkaran sihir raksasa di pasir, sangat rumit dan mendetail.


"Dahulu kala...... anak Tuhan, Aristo...... konon menurunkan hujan di tanah yang kering."


"......"


Hazen bergumam tak jelas dalam kondisi setengah sadar. Dia tidak sedang bicara pada siapa pun. Entah fatamorgana atau halusinasi, yang jelas kondisinya berbahaya.


"Seribu tahun sejak saat itu...... tidak ada satu orang pun yang mampu mencapai tingkat yang sama...... kecuali satu orang."


"......"


"Orang itu...... dulu membasahi bumi dengan hujan kesuburan dan mendapatkan sorak sorai dari ribuan orang. Namun kemudian, orang itu...... memenuhi bumi dengan racun, memangsa ribuan jiwa...... dan mandi dalam kegilaan jerit kepedihan."


Hazen selesai menggambar lingkaran sihir dan menutup matanya dengan tenang.


"......eh"


Seketika, Jan merasakan gelombang energi yang luar biasa. Seolah-olah seluruh area ini dipenuhi oleh kekuatan sihir yang saling bersahutan. Tidak ada tongkat sihir di tangan Hazen. Namun setiap kata yang dia ucapkan seolah mengandung kekuatan sihir yang sangat dahsyat.


《Mengutuk langit, membenci bumi, menatap angkasa, merayakan berkah kehidupan》── Air Mata Dewa Kekacauan, Il-Chaos


Tak lama kemudian, awan hujan mulai terbentuk di sekitar mereka.


"......Kh."


Ini adalah fenomena yang mustahil. Terbentuk di zona kering tanpa kelembapan seperti ini. Jan gemetar melihat Hazen yang masih memancarkan aura yang sangat kuat.


Perlahan, tetesan air mulai membasahi pipi Jan.


"Hujan...... Hujan...... HUJAANN!"


Rakyat berteriak histeris. Bersamaan dengan itu, semua orang menari dengan penuh sukacita.


"......"


Sambil melihat pemandangan itu, Hazen terduduk di tanah, menengadahkan wajahnya, dan merasakan berkah tersebut di mulutnya.


"Jan, aku lapar. Berikan aku sesuatu untuk dimakan."


Hujan terus mengguyur.


Di tengah badai jerit kepedihan.


Di sanalah mereka berada.


Seorang gadis yang tak kunjung bangun dengan mata terpejam.


Dan seorang pria berambut putih yang menarikan waltz.


Pemandangan yang dilihat Hazen...


Benar-benar gila.


Di saat yang sama,


Penyesalan karena telah menciptakan monster ini,


Rasa tak berdaya karena tak bisa membebaskan monster ini,


Dan beban karma yang dirasakannya,


Bahwa suatu hari nanti, dialah yang harus menghadapi monster ini.



Saat kesadarannya kembali, Hazen menyadari dirinya berada di dalam kereta kuda. Sepertinya dia sempat pingsan. Hazen menggerakkan jari-jari tangan dan kakinya untuk memastikan fungsi tubuhnya. Kemudian, saat dia membuka matanya yang masih sedikit kabur, tampak seorang gadis berambut merah muda sedang duduk dengan wajah yang sembap karena menangis.


"Hiks... hiks... hiks..."


"Jan... kenapa kau menangis?"


"Hiks... hiks..."


"Bukankah kau sangat membenciku?"


"Aku sangat membenci Anda! Guru itu dingin, jahat, kepribadiannya paling buruk!"


"......"


"Dan pada akhirnya, Anda bahkan tidak mengizinkanku untuk merasa khawatir!? Apakah menangis saat orang terdekat jatuh pingsan pun tidak diperbolehkan!? Bodoh, bodoh bodoh bodoh... Guru bodoh!"


"......"


Hazen dengan tenang mengetuk dahi Jan. Seketika, gadis itu kehilangan kesadaran dan terkulai lemas, lalu bersandar pada tubuh Hazen yang masih terbaring.


"Ja-Jan! Ada apa!?"


"Ketahanan fisik dan mentalnya sudah mencapai batas. Karena emosinya sedang kacau, aku membuatnya tidur sebentar," jawab Hazen kepada Ray Fa yang berada di luar kereta.


Hazen kemudian mengarahkan ujung jarinya ke lantai, menggerakkannya dengan mahir untuk menggambar sebuah pola. Tak lama, cahaya hitam pekat muncul di sana, membentuk sebuah lingkaran sihir yang tercipta dari kilauan kegelapan tersebut. Hazen menghentikan gerakan tangannya, dan gumpalan petir hitam mulai menyelimuti lingkaran sihir itu.


《Dengan kegelapan itu, panggillah iblis Berzelius》


Pop.


"Sympho-chan... bu-bukan, itu salah. Anak itu, bagaimana ya... anu..."


Muncullah seorang bocah lelaki kecil berusia sekitar 5 tahun. Sayap hitam kecil hinggap di punggungnya. Taring kecil yang lucu sesekali terlihat. Iblis kecil yang tampak manis itu keluar sambil memegang setangkai mawar hitam.


"Lama tidak berjumpa, Berzelius."


"Hiiik... Hazen Heim!" raut wajah iblis kecil itu menegang seketika.


"Maaf, apakah aku mengganggumu?"


"Sama sekali tidak. Sama sekali tidak terganggu. Malahan, Anda membantu saya di waktu yang sangat tepat. Sungguh, hari ini, saat ini, momen ini benar-benar keberuntungan yang luar biasa. Waktunya sangat tepat seperti keajaiban ilahi, benar-benar ilahi!"


Meskipun dia iblis, Berzelius terus mengulang kata "keajaiban ilahi".


"Baguslah kalau begitu. Sekarang, seperti biasa, segel ingatan Jan secara bertahap."


"Ba-baik! Tentu saja!"


"......Asal kau tahu saja, jika kau mencoba melakukan hal yang aneh-aneh, aku akan memutilasi tubuhmu, mengikatmu, dan mengurungmu selamanya agar kau tidak bisa kembali ke duniamu lagi. Jadi, camkan itu baik-baik."


"......Kh!"


Hazen tersenyum ramah.


"Ja-ja-jangan begitu dong. Mana mungkin saya melakukan hal seperti itu kepada orang yang telah menjadikan iblis tingkat tinggi Lokiel sebagai hewan peliharaan."


Iblis kecil itu menjawab sambil menggelengkan kepalanya sekuat tenaga.


"Aku tidak pernah memercayai perkataan iblis, jadi aku tidak butuh jawabanmu."


"......Kh, ba-baik!"


Berzelius yang panik segera meletakkan tangannya di kepala Jan. Iblis ini hampir tidak memiliki kemampuan bertarung, namun dia bisa membaca hati manusia dan memanipulasi ingatan secara bebas. Meskipun pemalsuan ingatan tingkat tinggi membutuhkan imbalan yang setimpal dari targetnya, namun membuat seseorang tidak bisa mengingat sesuatu dalam jangka waktu tertentu adalah hal yang mudah baginya.


"Segel seluruh kejadian hingga hujan turun tadi. Aku minta durasinya dibatasi hanya untuk lima tahun saja. Dan serahkan kunci ingatannya kepada wanita yang berada di luar kereta sekarang."


"Ba-baik."


Berzelius melakukan persis sesuai instruksi. Hazen tidak perlu menjelaskan secara mendetail karena iblis kecil ini mampu membaca pikirannya.


"......Kau menghapus ingatannya lagi?" Ray Fa bertanya dari balik dinding kereta.


"Untuk saat ini, pengetahuan ini tidak diperlukan oleh Jan. Aku akan membuatnya mempelajari sihir yang menggunakan tongkat sihir, jadi aku khawatir bentuk sihir dari Benua Barat ini akan menghambat pertumbuhannya."


"......"


"Namun, saat dia sudah dewasa nanti, ingatan ini mungkin bisa menjadi petunjuk baginya untuk melompat lebih jauh lagi."


"Kenapa kau menceritakan itu padaku?" suara lembut Ray Fa terdengar di telinga Hazen.


"......Mungkin saja, suatu saat Jan akan menempuh jalan yang berbeda dariku. Dalam hal itu, ada kemungkinan besar kami akan saling berhadapan."


"......"


"Ray Fa. Aku tidak akan memberi ampun kepada siapa pun yang memusuhiku. Jan maupun kau bukanlah pengecualian. Jika seandainya kau mengarahkan pedangmu kepadaku, aku akan menghancurkanmu tanpa ragu."


"Aku mengerti."


Setelah keheningan sejenak, Hazen kembali berbicara.


"......Meskipun begitu. Kelak, jika Jan memusuhiku, dan kau memilih untuk memihaknya... Aku memang tidak akan menahan seranganku, namun... aku tidak akan pernah menyalahkan pilihanmu."


"......"


Di luar kereta, hujan yang tak kunjung reda terus mengguyur bumi.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close