NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Suki na Ko ni Kokuttara, Futago no Imouto ga Omake de Tsuitekita V1 Chapter 6

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 6

Si Kembar Tampaknya Mulai Agresif

Kehidupan sekolah Masaki Nakaba berlangsung sangat biasa. Datang ke sekolah, masuk ke kelas, mengikuti pelajaran, makan roti dari kantin di siang hari, lalu lanjut mengikuti pelajaran sore, dan pulang. Pola ini berulang terus-menerus.


Sebagai catatan, alasannya makan siang dengan membeli roti di kantin adalah karena ia tidak cukup telaten untuk membuat bekal sendiri, orang tuanya yang sibuk di kedai pun tidak mungkin menyiapkannya, dan roti kantin memiliki harga yang paling terjangkau.


Ia tidak mengikuti kegiatan klub. Saat SMP, ia sempat berjuang cukup keras di klub basket, tetapi sejak masuk SMA, ia tidak memiliki motivasi khusus. Postur tubuhnya atletis dan kemampuan motoriknya cukup bagus. Namun, ia tidak bisa berbaur dengan baik di dalam tim. Rekan setimnya cenderung sungkan dan menjaga jarak padanya. Mungkin ketidakharmonisan itu bukan sekadar karena postur dan raut wajahnya.


Di dunia olahraga, ada banyak orang yang jauh lebih kekar atau memiliki wajah yang lebih sangar darinya. Bukan sekadar penampilan fisik, sepertinya ada sesuatu dari dalam dirinya yang memancarkan aura yang membuat orang lain takut. Padahal, ia tidak menaruh permusuhan atau rasa waspada terhadap orang lain.


"Masaki! Hei, hei, lihat video ini! Aku baru saja diberi tahu oleh Riina, ini benar-benar gila, kan? Mereka mencoba mengisi kolam plastik sampai penuh dengan yakisoba super pedas!"


"......Apa yang kamu lakukan, Yuzuki?"


"Eh? Bukankah ini lucu?"


"Tidak terlalu lucu. Jangan mempermainkan makanan. Bukan, bukan itu maksudku."


Di dalam kelas, beberapa orang tampak sedang gaduh.


Yuzuki duduk di pinggir mejaku, memegang bahuku, dan memamerkan layar ponselnya tepat di depanku. Meskipun dia adalah sang "ratu" yang ramah kepada siapa saja, jarak ini benar-benar terlalu dekat.


"Ah, benar juga, Masaki kan anak pemilik kedai makanan. Tapi tenang saja, pada akhirnya semua anggota mereka menghabiskan makanannya dengan lahap, jadi mereka tidak sedang mempermainkan makanan."


"Begitu ya, kalau dimakan habis sih—tunggu, bukan itu poinnya."


"Kalau kamu oke dengan yang tadi, video yang ini juga kurekomendasikan! Ah, aku juga ingin menontonnya dengan jelas!"


"He-hei......!"


Yuzuki mengibaskan ujung roknya, meluncur turun dari meja dengan lincah, lalu duduk di kursiku dengan cara memaksa masuk ke celah tempatku duduk.cMelalui kain roknya, sensasi paha dan pinggul Yuzuki terasa bersentuhan dengan kakiku......!


"Hanya lima menit, kok. Pasti selesai sebelum pelajaran dimulai. Nah, lihat, lihat."


"Yu-Yuzuki...... bukankah ini agak gawat?"


Aku berbisik pelan agar hanya Yuzuki yang bisa mendengar. Ini sudah bukan di level "ramah" lagi. Di mata orang lain, kami pasti terlihat seperti pasangan yang sedang bermesraan.


"Apa kamu berniat mengumumkan kalau kita berpacaran......?"


"Hm? Itu tidak boleh, karena nantinya bisa merepotkan."


"Nantinya......? Tidak, saat ini pun sudah gawat tahu."


Tatapan penuh rasa ingin tahu dan curiga dari teman sekelas mulai menusuk ke arah kami.


Yuzuki justru semakin menempel padaku. Bukan hanya pinggul dan pahanya, tapi dadanya yang berisi pun terasa menekan lenganku dengan kuat. Sensasi itu membuatku teringat kembali kejadian tadi malam......!


"Aku tidak berniat mengumumkan hubungan kita, tapi aku juga tidak berniat menyia-nyiakan waktu saat di sekolah. Masaki juga, mohon kerja samanya. Siapa pun yang bertanya, bersikeraslah dengan jawaban 'kami tidak pacaran, cuma teman akrab'."


"Mana mungkin bisa begitu......!"


Bermesraan seperti pasangan bodoh begini lalu mengaku "cuma teman" itu benar-benar terlalu tidak masuk akal.


"Kalau Masaki yang bicara tegas, kebanyakan orang akan menciut dan bilang 'oh, begitu ya'."


"......Ternyata wajah seramku ada gunanya juga sesekali."


"Aku tidak takut padamu, lho. Akan kukatakan berkali-kali. Meski aku tidak membantah kalau di mata orang lain kamu memang terlihat menakutkan."


"Yah, itu adalah perkembangan yang paling kusyukuri......"


Bagi aku, ditakuti orang lain sudah menjadi makanan sehari-hari. Selama gadis yang kusukai tidak takut padaku, aku tidak peduli jika orang lain gemetar ketakutan. Meski aku belum sepenuhnya paham situasinya, jika ini menguntungkan bagi Yuzuki, aku pun tidak keberatan...... ya kan?


"N-ne, Yuzu?"


"Hm? Ada apa, Rii?"


Yuzuki menjawab gadis yang mendekat itu tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.


Tentu saja aku mengenal gadis itu. Kami teman sekelas.


Takaya Riina —orang nomor dua di kelompok Yuzuki.


Rambut hitamnya dipotong pendek dengan highlight merah, blus seragamnya berwarna merah muda pucat dan bukannya putih, dan roknya tentu saja pendek. Wajahnya cantik serasi dengan rambut dan pakaiannya yang mencolok. Meskipun dadanya tidak terlalu berisi, postur tubuhnya tinggi dan semampai, memiliki proporsi tubuh yang luar biasa.


"Sejak kapan kamu jadi seakrab itu dengan Masaki-kun? Lagipula, bukankah kalian menempel terlalu dekat?"


"Kami baru saja jadi akrab belakangan ini. Tenang saja, Masaki bukan makhluk yang menakutkan selama kamu tidak salah menanganinya."


"Heh, kamu memperlakukannya seperti binatang buas!?"


Sayangnya, aku setuju dengan teguran Takaya.


Aku sudah cukup ditakuti orang, jadi aku ingin dia menahan diri dari candaan yang justru memperparah citraku itu.


"Maksudku, apa jangan-jangan kalian pacaran......?"


"Hm...... Fufufu~"


"Wanita ini malah mengalihkan pembicaraan dengan mencurigakan!"


Aku merasa wajar jika Takaya berteriak kesal.


Yuzuki menyuruhku mengaku sebagai teman, tapi dia sendiri malah mengatakan hal-hal yang mengundang kesalahpahaman—meskipun mungkin itu bukan sepenuhnya kesalahpahaman.


"Yah, tidak usah dipikirkan. Rii dan yang lainnya juga berteman baiklah dengan Masaki. Ah, tapi kalau kalian terlalu akrab, aku akan mempertimbangkan kembali pertemanan kita, lho?"


"Dia malah terang-terangan mengancam! Tunggu, Yuzu, kamu kenapa sih!?"


"......Aku juga sebisa mungkin ingin berteman baik dengan teman-teman Yuzuki. Yah, tidak harus sekarang juga, tapi...... mohon bantuannya."


Aku bangkit berdiri dan menundukkan kepala sedikit kepada Takaya dan gadis-gadis lain yang sedang mengamati di belakangnya.


"O-oh, begitu...... i-iya. Salam...... kenal?"


Jelas sekali Takaya merasa gentar, tapi ini adalah hal yang biasa bagiku. Aku tidak boleh lupa bahwa Yuzuki dan Fuuka, yang sama sekali tidak takut padaku, adalah pengecualian yang istimewa.


Namun, jika begini terus, aku jadi khawatir dengan kehidupan sekolahku ke depannya. Yah, asalkan hubungan kami tidak ketahuan, mungkin lama-lama orang-orang akan berhenti peduli.



"Mohon maaf membuat Anda menunggu, Masaki-san."


"............"


Jam istirahat siang—


Baru saja aku terpikir bahwa ada pesan masuk. Di tempat yang dijanjikan, seorang gadis cantik berseragam pelaut putih dengan rambut hitam panjang yang anggun sudah menunggu.


"Kurasa justru aku yang membuatmu menunggu...... Fuuka, apa yang kamu lakukan di sini?"


"Aku sedang menyelinap ke sekolah Masaki-san?"


Fuuka sedikit memiringkan kepalanya.


Ini adalah area parkir sepeda di belakang gedung olahraga. Tempat ini kabarnya hampir tidak ada orang kecuali saat pagi hari dan jam pulang sekolah. Karena letaknya yang jauh dari gedung sekolah, tidak ada siswa yang menjadikannya tempat nongkrong—begitu katanya.


Dua informasi ini baru saja kudapatkan dari pesan yang dikirimkan oleh Fuuka sendiri. Entah bagaimana caranya Fuuka yang siswa sekolah lain bisa tahu hal yang bahkan aku, siswa sekolah ini, tidak mengetahuinya......


"Dulu, aku biasanya menyelinap masuk saat jam pelajaran sedang berlangsung. Justru saat itulah aku tidak akan menarik perhatian."


"Begitu ya, karena saat jam pelajaran, semua siswa dan guru ada di dalam kelas."


"Benar sekali, apalagi kehadiranku tidak terlalu mencolok, jadi sulit disadari orang lain."


"......Tunggu, bukan itu masalahnya! Tadi kamu bilang 'dulu'—berarti hari ini bukan pertama kalinya!?"


"Kamu bicara seolah-olah ini tindakan kriminal."


"Ini namanya masuk tanpa izin!"


"Tidak apa-apa, sampai sekarang belum pernah ketahuan sekali pun."


"Masalahnya bukan di situ......"


Meski Fuuka terlihat seperti gadis cantik yang santun, sepertinya logika umum tidak berlaku baginya.


"Dengar ya, kalau siswa sekolah lain menyelinap seenaknya, suatu saat pasti akan ketahuan! Setidaknya menyamarlah menjadi Yuzuki! Itulah taktik standar saudara kembar!"


"Eeh, itu terlalu merepotkan......"


"Bukankah menyelinap ke sekolah lain jauh lebih merepotkan......?"


Padahal jika dia menyamar, dia bisa masuk ke sekolah dengan jauh lebih mudah.


"Lagi pula, untuk apa sebenarnya kamu menyusup ke sekolahku?"


"Aku sering mengamati Masaki-san saat pelajaran olahraga."


"......Aku ingin memeriksa aplikasi galeri foto di ponselmu sekarang juga."


Karena kemarin aku hanya melihat foto-foto rahasia itu sekilas saja...... Tak kusangka dia mempertaruhkan diri melakukan pelanggaran demi hal yang sepele itu.


"Aku bisa memperlihatkan foto-fotonya kapan saja. Masaki-san yang sedang berolahraga adalah pemandangan yang jarang bisa kulihat sebagai siswa dari sekolah lain. Itu adalah sesuatu yang sangat langka."


"Tidak ada kelangkaan yang lebih tidak berarti daripada itu."


Kalau yang berolahraga adalah gadis cantik mungkin masuk akal, tapi melihat anak laki-laki SMA kusam yang sedang berolahraga benar-benar tidak penting.


"Tapi ya, keamanan sekolah ini memang cukup ketat. Terkadang aku tidak sengaja berpapasan dengan guru yang sedang berpatroli."


"Berarti kamu sudah ketahuan, dong!"


"Terpaksa, aku berpura-pura menjadi Yuzu-nee untuk mengelabui mereka. Meski mereka curiga kenapa aku memakai seragam pelaut Shuka, aku beralasan kalau itu hanya cosplay lalu melarikan diri. Jadi, tidak berlebihan jika kukatakan aku belum ketahuan."


"Apa alasan seperti itu bisa berhasil......?"


Lagipula, itu malah membuat Yuzuki dicap sebagai orang aneh yang hobi cosplay seragam sekolah lain tanpa alasan.


"Wajah yang sangat mirip ini memang berguna. Karena aku sudah melewati berbagai situasi genting seperti itu, aku sudah memastikan bahwa di sini adalah Anchi."


"Anchi?"


"Singkatan dari Anzen Chitai (Zona Aman). Itu istilah dalam permainan. Artinya posisi di mana serangan musuh tidak bisa menjangkau kita. Jadi, tidak perlu khawatir."


"Tidak perlu khawatir, katamu......"


Di sudut area parkir sepeda, di bawah bayangan pohon besar. Memang benar, jika ada orang yang datang ke area parkir ini, tempat ini tidak akan mudah ditemukan.


"Masaki-san, kamu sudah mengerti, kan? Kami adalah Kembar Takdir dan Dual Twin—kami tidak bisa menahan perasaan kami sendiri......"


Fuuka bergerak mendekat seolah meluncur di depanku, lalu menyandarkan tubuhnya tepat di hadapanku. Sensasi lembut dari dua gundukan terasa menekan......!


Dual Twin.


Rahasia saudari Tsubasa yang baru kudengar tadi malam. Sebagai saudara kembar, mereka berbagi emosi, dan rasa cinta mereka pun bernilai dua orang—


Siapa pun yang dicintai Yuzuki, Fuuka pun akan mencintainya, dan begitu pula sebaliknya. Yuzuki dan Fuuka masing-masing memiliki perasaan cinta dari saudari mereka di saat yang bersamaan.


Sederhananya, rasa cinta Yuzuki dan Fuuka bernilai dua kali lipat— Artinya, cinta mereka sangatlah berat. Mungkin terlalu berat untuk ditanggung oleh manusia biasa.


"Tidak seperti Yuzu-nee, aku terpisah jauh dari Masaki-san di siang hari. Jika sebelumnya aku masih bisa menahannya, sekarang setelah aku mengungkapkan perasaanku pada Masaki-san, aku sudah tidak tahan lagi."


"Tidak tahan lagi maksudnya...... apa sebenarnya yang harus kulakukan agar kamu merasa puas?"


"Kamu sudah mengerti...... kan?"


Dia menatapku dengan tatapan memohon, layaknya seekor anak anjing.


Benar—aku seharusnya tahu apa yang diinginkan Fuuka. Karena kemarin kami sudah saling menginginkan sedalam itu. Aku akan memberikan apa yang mereka cari, dan itu juga merupakan sesuatu yang ingin kuberikan.


Sekarang, tidak ada gunanya lagi berpura-pura. Menghadapi gadis kembar yang cantik ini—aku merasa sangat bergairah.


"Fuuka......"


"Nngh...!"


Aku mendekap Fuuka dan mempertemukan bibir kami. Aku mengisap bibirnya yang manis dan lembut dengan suara kecupan yang dalam, seolah ingin melahap seluruh bibir mungilnya ke dalam mulutku. Suara kecipak yang semakin mesum terdengar, dan Fuuka pun membalasnya dengan menekan bibirnya kuat-kali.


"Ngh, nnmph... ngh, cup, nnh... Masaki-san, maukah kamu... mencoba ciuman yang lebih erotis? Sesuatu yang bahkan belum kamu lakukan dengan Yuzu-nee, ciuman yang... membuat bagian dalam tubuhku terasa berdenyut-denyut."


"Ya, akan kulakukan."


Aku mengangguk, lalu kembali mempertautkan bibirku dengan Fuuka—aku menjulurkan lidah, memautkannya dengan lidahnya yang panas. 


Aku menjilat seolah sedang mengacak-acak bagian dalam mulutnya, membelit lidahnya, dan mengisap bibirnya kuat-kuat. Sambil melakukan ciuman yang sangat dalam itu, aku merengkuh tubuh ramping Fuuka dengan erat. Sensasi dua gundukan bervolume besar yang terhimpit dan melesak di dadaku terasa begitu nyata.


"Nnngh, nnh... hamph, ngh, cup, churup... hah, hah... Masaki-san, lidahmu panas sekali... ngh, nnmph..."


Fuuka menekan tubuhnya semakin rapat, melingkarkan lengannya di leherku, dan semakin menuntut ciuman dariku. Wangi yang samar dan manis tercium dari rambut hitam panjangnya, cukup untuk membuat kepalaku pening. Kami terus mengecap bibir satu sama lain, memautkan lidah dengan liar, dan saling mendekap dengan sangat kuat.


"Hah, ah... Yuzu-nee pasti belum melakukan hal seerotis ini, kan... fufu, aku harus melangkah lebih jauh lebih cepat, kalau tidak, aku tidak akan bisa menandingi Yuzu-nee."


"Aku pasti akan... menyayangi kalian berdua dengan baik."


"Ya, tolong sayangi aku lebih banyak lagi... ngh, cup... ya?"


Aku dan Fuuka sejenak tenggelam dalam ciuman yang rakus—


"Haah... rasanya kakiku lemas..."


"A-apa kamu tidak apa-apa? Hei, kalau tidak segera pulang, kamu bisa terlambat masuk pelajaran sore, lho."


"Sudah terlambat, kok. Daripada itu, sebentar lagi... kyaa!"


Tiba-tiba angin berembus kencang, membuat rok selutut Fuuka tersingkap ke atas. Aku sempat melihat sekilas paha putih yang jenjang dan selembar kain putih.


"T-tiba-tiba sekali ya. Haa... bahaya. Hampir saja celana dalamku terlihat."


"Memangnya... tidak boleh kalau terlihat?"


Cukup mengejutkan melihatnya menolak panchira (celana dalam yang terlihat tidak sengaja) padahal kami sudah berciuman sehebat itu.


"Ah, tepatnya bukan begitu..."


Fuuka perlahan meraih ujung roknya dan mengangkatnya sedikit.


"Sebenarnya aku benci dengan yang namanya lucky Sukebe(kejadian mesum yang tidak sengaja). Aku sangat membencinya di dunia ini."


"Hah? Lucky...Sukebe?"


Tentu saja aku tahu istilah internet semacam itu. Kejadian mesum yang terjadi karena kecelakaan di manga komedi romantis atau anime. Seperti tidak sengaja meremas dada gadis karena jatuh, melihat celana dalam yang tersingkap, atau tidak sengaja bertemu di kamar mandi. Yah, selain soal celana dalam, kejadian seperti itu hampir mustahil terjadi di dunia nyata.


"Kita sudah mulai tinggal di rumah yang sama. Terlebih lagi, aku maupun Yuzu-nee sama sekali tidak waspada padamu, Masaki-san. Malah, kami sengaja memberikan banyak celah agar Masaki-san yang sedang bernafsu bisa menyerang kami kapan saja."


"Itu sih... bukannya kalian yang malah sedang bernafsu?"


"Yuzu-nee sering memakai camisole atau tank top tipis, padahal sebenarnya dia tidak memakai bra di baliknya. Kalau kamu perhatikan baik-baik, bentuk putingnya akan terlihat menonjol. Ah, ukuran dan warna puting kami juga sama. Areola-nya kecil, dan warnanya merah muda pucat yang ideal—"


"Penjelasan itu tidak perlu! Aku ingin memastikannya sendiri saat melihatnya nanti!"


"B-begitu ya... aku memang kurang peka."


Gawat, aku terbawa suasana Fuuka sampai melontarkan kalimat yang menunjukkan hasratku secara terang-terangan.


"Tapi, lucky sukebe itu kan seperti kecelakaan? Menunjukkan celana dalam karena ketidaksengajaan hanyalah kejadian sesaat. Itu tidak akan memajukan hubungan kita."


"Y-yah, benar juga."


Tidak akan ada gadis yang langsung menyukai seseorang hanya karena celana dalamnya terlihat secara tidak sengaja. Laki-laki pun kecil kemungkinannya akan langsung jatuh cinta—yah, mungkin saja sih, tapi jarang.


"Karena itu, jika ingin melihat, lihatlah dengan keinginanmu sendiri. Atau, apakah kamu tidak ingin melihat celana dalamku?"


"Dalam hidupku, aku tidak pernah bermimpi akan ditanya seperti itu oleh seorang gadis..."


"Aku pun sebenarnya malu, tahu?"


Fuuka menggembungkan pipinya, memiringkan kepala, dan melirikku dengan tatapan sedikit tajam.


"Aku memakai rok panjang begini karena aku tidak ingin pakaian dalamku terlihat."


"...Kalau begitu, kenapa tidak pakai spats atau celana pendek saja di baliknya?"


"Hal seperti itu tidak lucu. Bagiku, tidak terlihat lucu atau cantik adalah hal terburuk yang sangat fatal. Itulah kenapa aku memakai rok panjang untuk melindungi diri. Tapi, kalau untuk Masaki-san..."


Cup, dia menciumku lagi.


"Silakan lihat... bagian dariku yang tidak ingin kulihat oleh orang lain♡"


"Baiklah, aku akan melihat apa yang ingin kulihat! Tentu saja aku ingin melihat celana dalam gadis secantik Fuuka!"


Aku merasa ini mungkin agak menyimpang dari definisi "kejantanan", tapi aku mendeklarasikannya dengan gagah. Setelah itu, aku mencengkeram rok panjang Fuuka dan mengangkatnya.


Paha putih yang mulus—dan celana dalam yang juga berwarna putih pun menampakkan dirinya. Celana dalam putih bersih dengan hiasan renda di pinggirnya. Itu adalah tipe string panty dengan tali di sampingnya, kainnya sangat kecil dan terlihat sangat menggoda...!


"Aku sudah berusaha... memakai yang lucu dan erotis. Kalau sampai dilihat selain oleh Masaki-san, aku pasti akan mati karena malu..."


"Aku tidak ingin memperlihatkan ini kepada siapa pun selain aku..."


Aku menatap lekat-lekat celana dalam Fuuka. Bagian pribadinya di balik kain itu tampak sedikit menonjol. Entah halusinasiku atau bukan, rasanya bagian itu seolah sedang berdenyut lembut.


"Yaan... jangan melihatnya terus begitu... ngh, rasanya jantungku berdebar-debar..."


"Perlihatkan lebih jelas lagi padaku. Bagian belakangnya juga..."


"I-iya... tapi sebelum itu, ciuman juga..."


Aku mengangguk, lalu mengecap bibir Fuuka berkali-kali. Setelah lidah kami terpaut ringan sejenak, aku menciumnya sekali lagi sebelum akhirnya melepaskan tautan bibir kami.


"Si-silakan... celana dalam erotis Fuuka, tolong dilihat baik-baik..."


"Rasanya seperti aku yang memaksamu mengatakannya saja..."


Sambil terkejut mendengar kalimat erotis yang tiba-tiba dari mulut Fuuka, aku kembali mengangkat roknya. Terlihat bokong kecil dan lembut yang dibalut celana dalam berenda putih bersih. Bokong yang kencang dan tampak sangat halus. Bokong dan celana dalam seerotis ini, tidak akan kubiarkan orang lain melihatnya selain aku...!


"Fuuka..."


"Yaa nnh..."


Sambil tetap mengangkat rok Fuuka, aku memintanya menoleh ke belakang dan kami pun berciuman. Saat lidah kami saling menjulur dan menjilat, aku mengisap lidahnya dalam-dalam.


"Ngh, cup, chururu... nnh, nmmph... nnh... tidak... aku malah berciuman dengan Masaki-san sambil rokku diangkat begini... nnngh..."


"Tapi kalau kita berciuman, celana dalam Fuuka jadi tidak kelihatan..."


"I-iya... apa kamu ingin melihatnya lebih banyak lagi, celana dalamku...?"


"Rasanya aku ingin melihatnya selamanya."


Seandainya aku menertawakan kata-kata Yuzuki tentang "ingin aku memacari adik kembarnya juga" sebagai lelucon belaka, aku tidak akan pernah bisa merasakan pengalaman seperti ini. Aku tidak akan pernah tahu kelembutan dan manisnya bibir Fuuka, celana dalamnya yang tipis dan menggoda, ataupun bokongnya yang indah.


"Kalau begitu, cium aku sekali lagi... setelah itu, silakan lihat sesukamu..."


Aku mengangguk, melumat bibir Fuuka seolah sedang melahapnya—


Setelah melepas ciuman, aku kembali memposisikan rok yang kuangkat. Aku mengatur peganganku pada roknya agar bisa mengagumi celana dalam putih bersih itu dari belakang, samping, hingga ke depan.


"Tidak... haahn... aku jadi bergairah karena celana dalamku dilihat... padahal aku bukan anak yang seerotis ini... Masaki-saan..."


Tiba-tiba tenaga Fuuka hilang, dan dia jatuh terduduk di tempat.


"Hah, haah... kalau dilihat lebih lama lagi, aku akan terlalu bergairah sampai tidak bisa bergerak... dan tidak bisa keluar dari sekolah ini..."


"Itu gawat."


Aku meraih tangan Fuuka dan membantunya berdiri.


"Akan kuantar sampai Shuka. Aku tidak peduli meski aku harus terlambat."


"Ti-tidak apa-apa... aku harus kembali sambil mendinginkan kepala. Kalau Masaki-san ada di dekatku, tubuhku akan terus merasa panas... ngh, cup."


Fuuka memelukku dengan manja dan mencium bibirku. Kemudian, dia mengambil jarak dariku—


"Rasanya sudah terlalu meluap... sampai-sampai aku pun ingin memperlihatkannya padamu... se-seperti ini..."


"............!"


Fuuka mengangkat ujung roknya tinggi-tinggi dengan satu tangan, memamerkan celana dalam putih bersihnya padaku. Kemudian dengan tangan satunya, dia sedikit menurunkan celana dalam itu. Bagian yang paling krusial memang tidak terlihat, tapi bagian yang biasanya tidak akan pernah terlihat dalam kejadian panchira biasa kini terpampang nyata.


"Aku ingin memperlihatkan bagian erotisku lebih banyak lagi, tapi... fufu, aku takut kalau terlalu mendahului Yuzu-nee."


"......Yah, dia memang menyeramkan."


"Jadi, hari ini cukup sampai di sini saja."


Fuuka mengeluarkan ponsel dari saku roknya dengan tangan yang tadi menurunkan celana dalam, lalu memotret bagian pribadinya yang terbuka tadi.


"Ini foto celana dalam Fuuka hari ini. Akan kukirimkan nanti. Dan juga—"


"Oh..."


Fuuka berfoto selfie sambil mengecupku ringan. Di layar ponsel terlihat sosokku dan Fuuka yang sedang menempelkan bibir. Foto ciuman dan foto celana dalam—sesuatu yang terlalu merangsang bagi siswa SMA sepertinya akan segera masuk ke ponselku sebentar lagi.



Pelajaran terakhir hari ini adalah olahraga. Untuk siswa laki-laki, sepertinya jadwalnya bermain sepak bola di lapangan. Belakangan ini suhu mulai naik dan terasa seperti awal musim panas, membuat olahraga di luar ruangan terasa malas. Tubuh yang dulu terlatih di klub basket ini pun sudah cukup melemah karena tidak olahraga dengan serius selama setahun lebih sejak masuk SMA.


Kalau dipikir-pikir, Fuuka tadi bilang kalau barang-barangku akan sampai... Ini bukan bercanda, karena pasti benar-benar akan sampai, jadi aku harus membongkar dan merapikannya sendiri. Itu pekerjaan yang cukup berat. Apakah tubuhku yang sudah melemah ini sanggup melakukannya? Tapi aku juga tidak mungkin membiarkan si kembar yang mungil itu membantuku. Terutama Fuuka, dia pasti akan memaksa ingin membantu...


Omong-omong, Fuuka sudah kembali ke sekolahnya sendiri.


Pesan bertuliskan 《Tsubasa Fuuka telah kembali dengan selamat》 sudah masuk, jadi aku lega. Meski di foto yang sepertinya diambil di dalam kelas, matanya masih terlihat sayu. Hanya karena ciuman dan celana dalamnya dilihat, dia bisa sekacau itu—apakah saudari Tsubasa ini tidak hanya memiliki cinta yang berat, tapi juga hasrat yang berlebihan?


Cinta dua kali lipat, dan mungkin hasrat yang menyertainya juga dua kali lipat... kemungkinan itu sangat besar. 


Aku pun tidak bisa bilang bahwa perasaanku pada Yuzuki hanyalah perasaan cinta yang murni tanpa nafsu. Aku sudah tak terhitung lagi membayangkan hal-hal yang tidak-tidak. Tapi, jika aku benar-benar melakukan imajinasi yang juga diinginkan oleh si kembar ini—meski aku senang Fuuka menginginkanku, jika ini menjadi semakin radikal, aku tidak tahu akan jadi seperti apa diriku nanti. Padahal saat ini pun logikaku sudah hampir runtuh...


"Hei, Masaki."


"Eh?"


Saat keluar dari ruang ganti menuju lapangan, seseorang memanggilku. Tanpa menoleh pun aku sudah tahu siapa dia. Di sekolah ini, hanya ada satu orang yang memanggilku dengan begitu akrab.


"Ikut aku sebentar, dong."


Yang sedang bersandar di dekat jendela koridor tentu saja adalah Yuzuki.


"Ikut sebentar katamu... bukannya sebentar lagi pelajaran olahraga?"


Yuzuki yang sekelas denganku pun tentu saja harus mengikuti pelajaran olahraga yang sama. Dia sudah berganti pakaian olahraga; atasan jaket yang lengannya digulung, dan bawahan celana pendek. Di balik kain jaket itu, dadanya yang besar tampak menonjol dengan jelas, benar-benar cobaan bagi mataku.


"Yuzuki, apa kamu tidak kepanasan memakai jaket?"


"Panas sih, tapi jaket sekolah kita keren, kan?"


Memang benar, jaket olahraga sekolah kami yang berwarna hitam putih memiliki desain modis yang sangat populer. Apalagi jika dipakai oleh gadis cantik seperti Yuzuki, tampilannya jadi terlihat sangat pas. 


Sepertinya sang ratu kasta sekolah lebih mementingkan gaya daripada kenyamanan.


"Ada yang ingin kubicarakan. Terlambat sedikit tidak apa-apa, kan. Hmm... ah, benar juga."


"Apa?"


"Mumpung ada kesempatan, akan kubawa Masaki ke tempat suci yang tidak boleh dimasuki laki-laki mana pun♡"


"Te-tempat suci?"


Tanganku ditarik oleh Yuzuki, dan tempat tujuannya adalah—


"Hei, tunggu sebentar! Kalau di sini, keterlaluan!"


"Sudah tidak ada orang lagi, jadi aman," ujar Yuzuki sambil menyeringai.


Aku dan Yuzuki sekarang berada tepat di depan—ruang ganti perempuan. Yuzuki membuka pintu ruang ganti itu dan menarik tanganku masuk dengan paksa.


"Bagaimana? Tidak jauh berbeda dengan ruang ganti laki-laki, kan?"


"Ugh... tidak, ini benar-benar berbeda..."


Struktur ruangannya sendiri memang hampir sama. Luasnya setara ruang kelas dengan deretan loker yang berjejer di sepanjang dinding. 


Di ruang ganti laki-laki juga ada cermin panjang, tapi hanya satu, sedangkan di sini ada tiga—mungkin itulah salah satu perbedaannya. Namun, perbedaan besar lainnya adalah—tentu saja aromanya. Aroma manis dan segar tercium di udara. Benar-benar berbeda dengan bau keringat di ruang ganti laki-laki.


"Pakaian dalam bahkan seragam pun semuanya ada di dalam loker, jadi tidak ada hal menarik yang bisa dilihat, kan?"


"Tidak juga..."


"Ah, soal aromanya, kamu boleh menghirupnya sepuasmu. Tidak akan habis ini."


"Apa aku ketahuan sedang memperhatikan aromanya!?"


"Tentu saja, karena kamu tadi mengendus-endus. Aku tidak melewatkannya!"


"Tolong abaikan saja hal itu..."


Sikapku memang tidak sopan, tapi aku berharap dia berpura-pura tidak melihatnya demi rasa kemanusiaan. Memperhatikan aroma gadis-gadis benar-benar membuatku terasa seperti orang mesum.


"Aku tidak keberatan, jadi tidak apa-apa, kan. Lebih dari itu, bagaimana?"


"Bagaimana apanya... tetap saja ini gawat. Biarpun tidak ada orang..."


"Tenang saja, kita kan tidak sedang mengintip orang berganti pakaian atau melihat pakaian yang berserakan. Sebenarnya, aku dan beberapa siswi lain pernah masuk ke ruang ganti laki-laki, lho."


"Apakah untuk mencium aromanya juga...?"


"Mana ada yang tertarik dengan bau keringat laki-laki! Kami tidak punya selera aneh seperti itu!"


"O-oh, begitu ya."


Di dunia ini memang ada orang dengan berbagai macam hobi, mungkin ada saja perempuan yang suka bau keringat laki-laki. Namun setidaknya, minat Yuzuki berada di tempat lain.


"Kalau begitu, untuk apa kalian masuk ke sana...?"


"Hmm... rasa penasaran? Anak laki-laki di kelas memasukkan kami karena menganggapnya lucu. Tapi saat itu tidak ada yang sedang berganti pakaian, sih."


"Ya iyalah."


Yuzuki maupun siswi lainnya pasti tidak tertarik melihat pemandangan anak laki-laki kusam yang sedang berganti baju.


"Yah, di sana cuma bau laki-laki dan sama sekali tidak menarik... lagipula tidak ada seragam bekas pakai Masaki di sana."


"Hm?"


Barusan Yuzuki menggumamkan sesuatu yang luar biasa, ya?


"Hei, Yuzuki... kamu tertarik pada seragamku...?"


"A-ah! Tapi, bukankah bagi laki-laki, melihat ruang ganti perempuan itu menyenangkan?"


"Tidak juga, sih..."


Dia benar-benar mengalihkan pembicaraan. Mengingat Fuuka yang tadi pun sama, sepertinya saudara kembar ini memiliki minat padaku jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.


"...Hm? Itu apa?"


Tiba-tiba aku menemukan perbedaan besar lainnya dengan ruang ganti laki-laki. Di sudut ruangan, ada sesuatu yang menyerupai bilik yang disekat dengan tirai.


"Kelihatannya seperti kamar pas."


"Oh, itu? Itu 'Ruang Pengakuan Dosa'."


"Ruang Pengakuan Dosa!?"


Seperti bilik di gereja tempat orang membisikkan dosa mereka kepada pendeta?


"Itu cuma julukan karena bentuknya seperti itu. Sebenarnya itu ruang ganti untuk satu orang... katanya disediakan karena ada beberapa siswi yang merasa malu berganti pakaian di depan orang lain. Padahal sesama perempuan, menurutku tidak perlu merasa malu."


"Yah, mungkin ada orang yang sensitif."


"Maaf ya kalau aku tidak sensitif," ujar Yuzuki sambil menciumku singkat.


Sejak kejadian kemarin, si kembar mulai menciumku tanpa ragu. Bahkan mereka terkesan ingin melakukannya secara agresif. Aku pun merasa senang, jadi aku tidak berniat menolak.


"Tapi sekarang tidak ada yang memakainya. Kalau berganti pakaian di tempat seperti itu, orang-orang malah akan curiga jangan-jangan dia punya tato yang menyeramkan."


"Aku juga sering dibilang sepertinya punya tato yang menyeramkan."


"Seperti gambar naga di punggung?"


"Kamu tahu banyak, ya. Lagipula, hal seperti itu lebih baik disebut rajah atau irezumi daripada tato... ah, lupakan saja. Omong-omong, aku tidak punya tato, lho."


"Kalau namaku dan Fuuka, boleh kok kalau mau kamu tato di tubuhmu."


"Itu malah menakutkan..."


Aku pernah dengar soal orang yang menato nama kekasihnya di lengan, tapi zaman sekarang sepertinya sudah tidak ada... ya kan?


"Yah, ruang seperti itu memang rasanya tidak ada gunanya."


Sepertinya akan lebih banyak orang yang memakainya jika tempat itu benar-benar dijadikan ruang pengakuan dosa.


"Ups. Jadi... pada akhirnya, apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Ah, benar juga. Duh, Masaki, kamu ini benar-benar..."


Tiba-tiba, Yuzuki memelukku erat. Karena dia memakai jaket dan baju olahraga dari bahan yang lembut, keempukan dadanya terasa sangat jelas.


"A-ada apa?"


"Hei... hari ini saat jam istirahat siang, kamu bertemu Fuuka, kan?"


"Apa dia menghubungimu?"


Fuuka juga mengirim pesan padaku, jadi tidak aneh kalau dia juga menghubungi kakaknya.


"Tidak, dia tidak menghubungiku. Kami jarang sekali menelepon atau berkirim pesan."


"Eh? Begitukah? Agak mengejutkan ya."


"Kami tidak perlu saling lapor. Kami masing-masing entah bagaimana bisa tahu... apa yang sedang dilakukan dan dipikirkan satu sama lain."


"............"


Aku ingin menganggap hal gaib semacam itu mustahil. Namun, mengingat situasi tidak normal sejak kemarin, tidak ada yang aneh jika sesuatu terjadi di antara si kembar ini.


"Daripada itu... kalian bermesraan berdua, kan? Ih—padahal ini sekolahku. Teganya kamu bermesraan dengan Fuuka padahal ada aku di sini."


Yuzuki memelukku semakin erat.


"Yuzuki, kamu... apa kepribadianmu sedang berubah?"


Rasanya dia jadi kekanak-kanakan, atau lebih tepatnya, manja.


"Secara sosial, aku ini kakaknya. Di depan anak itu, aku tidak bisa menunjukkan sisi kekanak-kanakan seperti ini."


"Kemarin saat kita berdua saja, bukannya kamu biasa saja?"


"Waktu itu aku tegang, tahu. Kan aku cuma berduaan dengan cowok yang aku suka."


"............"


Makhluk macam apa yang bisa mengatakan hal seimut ini?


"Tapi sekarang sudah tidak apa-apa. Aku sudah dapat izin untuk memacarimu berdua sekaligus dengan Fuuka, jadi sekarang tinggal waktunya menyerang."


"Membawaku masuk ke ruang ganti perempuan bukannya sudah terlalu agresif?"


"Kamu diperlihatkan celana dalam Fuuka, kan?"


"Hah!?"


Dia memotong alur pembicaraan dan langsung menyerang tepat sasaran!


"Kamu... ternyata Fuuka benar-benar menghubungimu ya!"


"Ooh—aku sendiri terkadang takut dengan diriku sendiri. Aku cuma menebak karena punya firasat begitu, tapi tak sangka ternyata benar."


Yuzuki membelalakkan matanya dan menatap wajahku lekat-lekat. Eh, jadi dia benar-benar cuma asal tebak? Mana mungkin kata spesifik seperti "celana dalam" bisa muncul begitu saja?


"Walaupun aku sendiri agak ragu dengan istilah Kembar Takdir, tapi karena hal-hal seperti ini sering terjadi, aku jadi tidak punya pilihan selain percaya."


"Apa maksudmu dengan punya firasat..."


"Tadi siang, tiba-tiba saja bagian dalam rokku terasa... berdenyut-denyut♡. Aku yakin aku belum sebucin itu sampai-sampai bisa merasa bergairah tanpa sebab saat sedang mengobrol dengan teman-teman."


"Kegairahan Fuuka... tersampaikan padamu juga?"


"Ini juga bagian dari berbagi emosi... karakteristik Dual Twin. Kalau sudah begini, rasanya sudah mirip kekuatan super ya."


"Bukan mirip lagi, itu sih sudah benar-benar kekuatan super."


Mungkin aku masih belum sepenuhnya paham. Mendapat jawaban 'ya' dari gadis cantik seperti Yuzuki, ditambah lagi adik kembarnya yang punya wajah yang sama cantiknya ikut sebagai "bonus". 


Aku masih sedikit ragu apakah keberuntungan semacam ini nyata adanya. Namun, mungkin ini bukan sekadar "keberuntungan". Si kembar ini benar-benar mencari seseorang yang bisa menerima mereka apa adanya—dan mereka berharap orang itu adalah aku.


"Ternyata, si kembar yang mirip fenomena gaib ini... tetap terasa menakutkan ya meski mereka cantik?"


"Rasa percaya dirimu yang bilang kalau kamu cantik itu mungkin yang agak menakutkan."


Aku tertawa sambil merangkul pinggang ramping Yuzuki.


"Kalau orang lain takut, itu malah menguntungkan buatku. Dengan begitu, aku bisa tenang memiliki Yuzuki dan Fuuka hanya untuk diriku sendiri, kan?"


"Waw, sombong sekali bicaranya. Hmm, cup cup."


Sambil tetap dalam dekapanku, Yuzuki mengecup bibirku berkali-kali dengan ringan.


"Kalau begitu, kamu harus menjadikanku milikmu lebih dalam lagi. Fuuka sudah berusaha keras menunjukkan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia perlihatkan, jadi aku juga... harus melakukannya, kan?"


"Melakukan apa..."


"Masaki, bagian tubuhku yang mana... yang ingin kamu lihat?"


Yuzuki menekan dua gundukannya ke tubuhku. Volume, kelembutan, dan elastisitas yang luar biasa itu menyerangku sekaligus—


"...Aku ingin melihat dada Yuzuki Tsubasa."


"............!"


Seketika wajah Yuzuki memerah padam.


"...T-tunggu, kamu mengatakannya lebih blak-blakan dari dugaanku... Apa kamu jadi terbiasa bicara nekat begini gara-gara menghadapi Fuuka tadi...?"


"Kurasa aku tidak senekat itu..."


Bahkan dengan pacar sekalipun, rasanya jarang ada orang yang menatap celana dalam seorang gadis dengan begitu intens.


"Aku kan kakaknya, jadi aku harus menunjukkan bahwa aku bisa menahan situasi yang lebih memalukan daripada adikku. Kalau mau lihat... lihatlah sendiri, ya?"


"Bahkan dalam hal ini pun, kamu mengatakan hal yang sama dengan Fuuka..."


Karena ini sudah yang kedua kalinya, aku tidak boleh ragu. Aku memegang ujung baju olahraga Yuzuki dan—menariknya ke atas dengan kuat. Perut yang putih bersih, pusar, dan juga— dua gundukan ranum yang dibalut bra hitam muncul sambil memantul-mantul akibat sentakan saat aku mengangkat bajunya.


"Yaan... kasar sekali ya."


"M-maaf. Tapi ini... luar biasa..."


"Hei, jangan dipandangi terus... ra-rasanya hanya dengan dilihat begitu saja aku jadi merasa aneh..."


Wajah Yuzuki merah padam sambil membuang muka. Meski terhalang bra, tentu saja dia malu jika dadanya ditatap sedalam itu. Ekspresinya benar-benar sama dengan Fuuka saat ia tersipu malu karena celana dalamnya dilihat.


"Ini hebat sekali... bagaimana dengan ukurannya?"


"Ka-kalau menurut standar model... lingkar dadanya 90 sentimeter... cup G..."


"Cup G...!"


Tak kusangka pemilik dada seperti itu benar-benar ada di dunia nyata! Tidak, tentu saja ada, tapi aku tidak pernah bermimpi punya kesempatan melihat dada sebesar itu secara langsung! Dada yang begitu besar dan menggoda ada tepat di depan mataku...!


"Kya...!?"


"Ah...! Ma-maaf..."


Tanpa sadar, aku mencengkeram dan meremas dada cup G milik Yuzuki. Volumenya benar-benar tidak muat dalam genggaman tanganku, teksturnya sangat lembut, namun terasa memiliki elastisitas yang kenyal...!


"Ti-tidak apa-apa. Yah, silakan remas sesukamu. Kalau adikku sudah menunjukkan celana dalamnya... aku juga harus membiarkanmu melakukan hal yang lebih dari itu."


"............!"


Sekali lagi, situasi ini terlalu menguntungkan bagiku, tapi melihat payudara sebesar ini dari jarak dekat tanpa menyentuhnya benar-benar siksaan. 


Agar tidak terlihat terlalu bernafsu, aku meremas payudaranya pelan-pelan untuk memastikan elastisitasnya. Terasa kencang, seolah-olah membalas tekanan tanganku. Bra hitamnya juga terlihat sangat erotis—jika kutarik sedikit, sepertinya putingnya akan terlihat. 


Gawat, ternyata dada perempuan senyaman ini saat disentuh. Rasanya tidak akan pernah cukup meski diremas terus-menerus.


"T-tunggu... ngh, hah... ah... se-sebanyak itu... kamu meremasnya...? Ngh, ah, ah, padahal niatnya tadi cuma memperlihatkannya saja... nnh, apa yang sebenarnya kulakukan..."


"Apa sebaiknya aku berhenti...?"


"Da-dasar bodoh. Aku juga perempuan, lho. Karena aku sudah bilang silakan lakukan sesukamu, maka aku akan membiarkanmu. Ni-nikmati... dadaku."


"Kalau begitu, aku terima tawaranmu..."


Aku sudah benar-benar tenggelam dalam gairah, meremas-remas dada Yuzuki sepuasnya. Aku menyentuhnya dengan kedua tangan, meremasnya dengan gerakan mengangkat dari bawah, lalu menariknya ke samping. Dada yang seukuran buah melon itu berubah bentuk secara luar biasa setiap kali aku mencengkeram, menarik, atau mengangkatnya. Tak kusangka gadis yang kusukai ini menyembunyikan sesuatu yang begitu erotis di balik seragamnya.


"Tu-tunggu... ini, bolehkah aku melepas... bra-mu?"


"E-eh...? Ya... bo-boleh... tapi sebentar saja, ya?"


Izin diberikan dengan begitu mudah. Aku baru saja hendak menyentuh pengaitnya—tetapi malah berakhir mencengkeram bagian bawah bra tersebut. Aku menggesernya sedikit demi sedikit ke atas. Daripada melepasnya sama sekali, rasanya jauh lebih erotis jika bra itu hanya digeser. Sepertinya, kewarasanku sudah mulai runtuh.


"Yaan... bra-nya bisa rusak... ngh, kalau kamu menariknya sekuat itu... ah, nanti tersangkut di putingku..."


"Ma-maaf."


"Ti-tidak apa-apa. Toh suatu saat nanti kamu akan melihatnya juga, jadi sekarang atau nanti sama sa—"


""............!""


Aku dan Yuzuki bereaksi hampir bersamaan. Terdengar suara langkah kaki yang ringan seolah sedang berjingkrak. Tidak salah lagi, seseorang sedang mendekati ruang ganti perempuan ini—


Tanpa ragu, aku membuka tirai "Ruang Pengakuan Dosa" itu dan melompat masuk. Tak kusangka benda seperti ini akan berguna.


"H-hampir saja..."


"Tapi, tunggu dulu. Yuzuki, kenapa kamu malah ikut masuk juga?"


Sayangnya, ruang pengakuan dosa ini tidak cukup luas untuk menampung pendeta dan pendosa sekaligus. Tempat ini benar-benar hanya untuk satu orang. Ya wajar saja, karena ini adalah tempat bagi siswi yang malu dilihat orang lain saat berganti baju, jadi tidak butuh ruang untuk dua orang atau lebih.


"Entahlah, aku cuma ikut terbawa suasana...?"


"............"


Adiknya tadi benar-benar tepat menyebut kakaknya ini ceroboh.


"...Eh? Itu kan Rii."


"Hm? Ah, benar juga. Takaya, ya."


Aku dan Yuzuki membuka tirai sedikit untuk memastikan siapa yang masuk ke ruang ganti. Ternyata itu adalah si cantik berambut pendek hitam dengan highlight merah—sahabat Yuzuki, Takaya Riina. Takaya melemparkan tasnya ke dalam loker dan mulai menatap layar ponselnya.


"Apa yang dia lakukan? Kenapa tidak segera pergi olahraga?"


"Pasti dia pikir 'karena sudah terlambat, sekalian saja santai dulu'. Rii memang orangnya agak sembarangan."


Saat kami sedang berbisik-bisik, Takaya tiba-tiba memasukkan ponselnya ke dalam loker, lalu melepas blus dan roknya dalam sekejap.


"Wah..."


"Ah, hei. Jangan melihatnya—tapi, kurasa tidak apa-apa juga, sih."


"Te-tentu saja ini tidak boleh!"


Aku buru-buru membuang muka dari Takaya. Mengintip adalah tindakan rendah yang sangat jauh dari prinsip kejantanan.


"Habisnya, Rii memakai tank top dan spats di baliknya."


"Tetap saja itu hampir seperti pakaian dalam, kan."


"Rii terkadang menari di luar ruangan dengan pakaian seperti itu, kok."


"Menari?"


"Ah, Masaki belum tahu ya. Hmm... tuh, lihat."


Meski aku merasa ragu saat disuruh melihat, aku tetap mengintip sedikit dari celah tirai. Takaya, dengan ponsel di tangannya, mulai melangkah mengikuti irama sambil bersenandung kecil.


"Dia tidak hanya menari di jalanan, tapi juga ikut sekolah tari. Dia benar-benar serius soal menari."


"Begitu ya, dia memang terlihat mahir."


Aku tidak paham soal tarian, tapi aku bisa tahu kalau langkah kaki Takaya bukan level amatir.


"...Tapi, kalau kita bicara terus, kita bisa ketahuan."


"Kurasa tidak apa-apa. Rii pakai earphone, kok. Dia pasti tidak bisa mendengar apa-apa."


"Oh..."


Benar saja, kalau diperhatikan baik-baik, ada wireless earphone yang terpasang di telinga Takaya. Sepertinya dia sedang memeriksa contoh tarian di ponselnya dan sama sekali tidak menyadari keberadaan kami.


"Kalau sekarang, sepertinya kita bisa menyelinap keluar diam-diam..."


"Itu terlalu nekat. Tapi, kita memang harus terus memantau situasinya... kalau sampai ketahuan, Masaki yang akan berada dalam masalah besar..."


"............"


Sepertinya Yuzuki merasa bertanggung jawab karena telah menyeretku ke ruang ganti perempuan. Padahal dia tidak perlu terlalu merasa bersalah, karena aku pun bisa menolak jika memang mau.


"Hm...?"


"Ngh, cup... nnh..."


"He-hei...!"


Entah apa yang dia pikirkan, tiba-tiba Yuzuki menciumku. Dia memelukku erat, membuat dadanya yang terbuka menekan tubuhku.


"A-apa yang kamu lakukan?"


"Tidakkah jantungmu berdebar kencang... melakukan hal seperti ini padahal temanmu ada tepat di samping kita?"


"Kamu sudah benar-benar gila—ngh."


Yuzuki menyeringai, lalu kembali mengecup bibirku berkali-kali.


"Toh, Rii tidak akan keluar dari sini dalam sepuluh menit ke depan. Sayang kan kalau kita cuma melamun saja. Atau, kamu lebih suka menonton sosok Rii yang sedikit erotis itu?"


"...Aku lebih suka melihat sosok Yuzuki yang erotis."


"Nah, begitu dong. Ngh, cup."


Kami kembali saling mengecap bibir, memautkan lidah, dan mengisapnya hingga mengeluarkan suara kecipak yang basah. Suara sekecil ini tidak akan terdengar oleh Takaya yang sedang memakai earphone.


"Ngh, hei...!"


Aku jadi terbawa suasana; sambil berciuman, aku mulai meremas dada Yuzuki. Aku mencengkeram payudaranya yang terbuka, meremasnya dengan gerakan mengangkat, lalu menariknya ke kiri dan ke kanan untuk mengubah bentuknya.


Aku ingin menikmati kelembutan dan elastisitas dada ini sampai sepuas-puasnya.


"Nnnh...... ngh, cup, nnh......"


Yuzuki mengeluarkan suara-suara kecil yang lucu saat dadanya diremas, sambil terus menghujani bibirku dengan ciuman. Bolehkah aku sebahagia ini? Bisa berciuman dengan gadis luar biasa cantik seperti Yuzuki sambil bebas meremas dada cup G-nya sesuka hati.


"Nnh, tunggu...... terlalu kencang...... nanti suaraku keluar...... nnnnh......! Ka-kalau sampai Rii dengar...... nnnnnnh......!"


Aku membungkam bibir Yuzuki yang mulai mengerang, melumatnya dengan sengaja hingga menimbulkan suara kecipak yang basah, dan saling memautkan lidah dengan liar. Jika kami berciuman seperti ini, suara erangannya tidak akan menggema keluar.


"Ah...... nnh...... Ri-Rii, dia tidak melihat ke sini, kan......? Ahn...... ka-kalau ketahuan, ahn, memalukan sekali......"


"Bukankah di depan adikmu tadi kamu biasa saja?"


"A-adik dan teman itu beda sekali tahu...... ahn......!"


Saat aku meremas dadanya dengan kuat, Yuzuki membusungkan dadanya dan seluruh tubuhnya gemetar hebat. Yang barusan itu jangan-jangan──


"Tu-tunggu...... sudah...... aku tidak kuat lagi...... tapi, mau cium sekali lagi......♡"


"Tentu......"


Aku mengangguk dan kembali menikmati bibir lembutnya. Sepertinya dadanya menjadi sangat sensitif, jadi rasanya kasihan jika aku terus menggodanya lebih jauh. Yah, meski mungkin sudah terlambat untuk bersikap penuh perhatian setelah aku puas melakukan apa yang kuinginkan tadi.


"Haah...... ah, Rii sudah berhenti menari. Dia mau ikut pelajaran olahraga, ya......?"


"Sepertinya begitu."


"Ahn♡"


Terakhir, aku mendekap Yuzuki dengan erat. Meski aku merasa terlalu memperturutkan hawa nafsu──bukan berarti aku tidak ingin bersikap lembut. Situasi ini memang terlalu menguntungkan bagiku, tapi aku tidak ingin lupa untuk tetap menghargai si kembar. Biarpun terdengar kuno, seorang laki-laki harus tetap bersikap lembut kepada perempuan.



Sepulang sekolah──


Hari ini pun, aku pulang sendirian. Meskipun disebut "pulang", tujuannya adalah apartemen saudari Tsubasa. Karena barang-barangku akan sampai, aku harus segera kembali untuk bekerja. 


Pulang bersama Yuzuki akan mengundang perhatian orang sekitar, jadi sebaiknya dihindari. Lagipula, Yuzuki juga butuh waktu bersama teman-temannya. Meski kami sudah terlibat hubungan yang aneh, aku merasa bersalah jika harus mengubah gaya hidup si kembar secara drastis.


Setelah mengganti sepatu di loker dan keluar dari gedung sekolah──


"Hei, Masaki-kun."


"Hm?"


Saat menoleh, aku melihat sosok Riina Takaya. Rambut hitam pendek dengan highlight merah, dan postur tubuh yang semampai. Mungkin karena sudah tahu dia bisa menari, cara berjalannya pun terasa luwes bagiku. Tanpa sadar aku menatap sosok Takaya──dan langsung merasa berdebar saat teringat kejadian di ruang ganti perempuan tadi. Ini adalah pertama kalinya dia memanggilku saat aku sedang sendirian. Itu artinya──


"Maaf, apa kamu punya waktu sebentar?"


"MOHON MAAFKAN AKUUUUUUUU!"


"Hah?"


"Maksudku, ini soal kejadian saat pelajaran olahraga tadi, kan? Aku benar-benar minta maaf!"


Aku berdiri tegak dengan kaku dan membungkukkan badan sedalam-dalamnya. Aku tidak akan mencari alasan. Karena ini salahku, aku hanya bisa minta maaf.


"Olahraga......? Apa maksudnya? Kenapa kamu minta maaf?"


"Eh? Bukan soal itu?"


"Bukan...... memangnya ada apa dengan pelajaran olahraga?"


"Kamu tadi sedang menari sambil mendengarkan musik di ruang ganti perempuan, kan."


"Hah? Bagaimana Masaki-kun bisa tahu?"


"Karena waktu itu aku sedang bersembunyi di balik tirai."


"APA!?"


Takaya membelalakkan matanya dan wajahnya langsung memerah padam. Ternyata dia punya reaksi yang cukup feminin, kontras dengan penampilannya yang mencolok.


"Ja-jangan-jangan...... Ruang Pengakuan Dosa? Kamu bersembunyi di sana?"


Tapi ini bukan saatnya memikirkan hal yang tidak sopan. Apa pun reaksi Takaya, aku harus tetap minta maaf.


"Maafkan aku! Aku tidak sengaja melihatmu saat kamu hanya memakai tank top dan celana ketat. Silakan laporkan ke sekolah, atau serahkan saja aku ke polisi, aku tidak keberatan!"


"Tu-tunggu sebentar. Lagipula, kenapa Masaki-kun bisa ada di ruang ganti perempuan──ah, pasti Yuzu."


Takaya menghela napas pendek sambil menatap ke langit.


"Dasar bodoh itu, apa yang dia lakukan. Ah, aku mengerti, aku mengerti. Sewajarnya pun, orang tidak akan menyelinap ke ruang ganti perempuan hanya untuk mengintip."


"......Ini tidak ada hubungannya dengan Yuzuki. Padahal aku bisa saja langsung keluar dari sana."


"Haah...... ya sudahlah. Bukan pakaian dalam juga, dan aku yakin kamu cuma korban Yuzu, jadi kumaafkan."


"Tidak, yang korban itu seharusnya Takaya......"


Sepertinya Takaya sangat paham kalau Yuzuki adalah tipe orang yang tindakannya tidak terduga, tapi tetap saja......


"A-apakah benar-benar tidak apa-apa?"


"Ja-jangan diingat-ingat dan jangan melakukan hal yang aneh! Itu saja!"


Dengan wajah merona, Takaya menjawab dengan ketus.


"Aku mengerti. Aku bersumpah tidak akan melakukan hal aneh saat mengingatnya."


"Tidak perlu diulangi! Itu malah membuatku semakin malu......!"


Dia tampak benar-benar tersipu, tangannya bergerak mengipasi wajahnya yang panas.


"Su-sudah, masalah ini selesai! Jangan dibahas lagi! Daripada itu...... yang ingin kutanyakan adalah soal Yuzu."


"Soal Yuzuki......?"


Sejujurnya aku lega karena topik utamanya bukan soal intip-mengintip, tapi aku bingung jika ditanya soal Yuzuki.


"Bukan cuma aku, semuanya juga penasaran. Masaki-kun, kenapa tiba-tiba saja kamu jadi akrab dengan Yuzu?"


"Ah......"


Begitu ya, intinya sebagai teman dia mengkhawatirkan pergaulan Yuzuki.


Itu wajar saja, karena Yuzuki yang berada di puncak kasta sekolah tiba-tiba menjadi akrab dengan laki-laki yang hanya dikenal karena kesan buruknya.


Aku ini, jangankan berada di kasta bawah, levelku bahkan sudah di luar sistem kasta itu sendiri. Benar-benar tidak sebanding dengan Yuzuki Tsubasa. Kalau begitu──


"......Aku sudah menembak Yuzuki."


"Eh, serius?"


Untuk menghapus kecurigaan Takaya, aku tidak punya pilihan selain mengatakan yang sebenarnya. Rahasia si kembar memang tidak bisa kuungkapkan, tapi setelah mengintipnya tadi, aku merasa bersalah jika harus membohongi Takaya lagi.


"Banyak sih yang menembak Yuzu, tapi tak sangka kalau Masaki-kun...... eh, tunggu. Apa jangan-jangan Yuzu menerimanya?"


"Kalau itu...... aku tidak bisa mengatakannya."


Lagipula, Yuzuki sudah berpesan agar aku mengaku sebagai teman saja.


"Ceritanya agak mengambang ya...... tapi untuk memastikan, aku mau tanya satu hal. Masaki-kun benar-benar suka pada Yuzu, kan?"


"Itu sudah pasti. Aku menyukai Yuzuki Tsubasa."


"......Duh, mendengarnya malah membuatku malu sendiri. Ah, panas, panas!"


Takaya kembali mengipasi wajahnya dengan tangan.


"Yuzu memang sering ditembak, tapi orang yang seblak-blakan ini jarang sekali ada...... atau mungkin, baru pertama kali ini."


"Begitu ya......"


Alasan si kembar menaruh minat padaku mungkin karena dalam arti tertentu aku ini orang yang aneh. Jika Takaya yang merupakan sahabat Yuzuki berkata demikian, sudah pasti aku memang berbeda.


"Omong-omong, apakah Takaya sudah lama berteman dengan Yuzuki?"


"Eh? Hmm, tidak juga sih. Kami baru berteman sejak masuk SMA. Lagipula, aku hampir tidak pernah mendengar cerita Yuzu saat zaman SMP."


"Lalu, kembarannya──"


"Eh?"


Aku langsung terdiam di saat yang genting. Hampir saja aku bertanya apakah dia tidak tahu kalau Yuzuki punya kembaran.


Gawat, soal kembaran itu──meskipun mereka tidak menyembunyikannya, bukan wewenangku untuk membeberkannya. Karena Takaya terlihat akrab dengan Yuzuki, aku hampir saja kelepasan bicara...... benar-benar berbahaya.


"Ti-tidak, bukan apa-apa."


"Hm? Kembaran...... eh, Masaki-kun juga tahu kalau aku punya kembaran?"


"Hah?"


Sesaat aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Namun, Takaya tidak sedang membicarakan hal yang rumit.


"Eh...... tunggu sebentar. Takaya juga──Takaya itu kembar...... ya?"


"Iya, aku tidak menyembunyikannya kok. Tapi adikku bukan murid di sini."


"Dia sekolah di tempat lain?"


"Hmm...... karena banyak hal, dia tidak sekolah. Tapi bukan berarti dia menarik diri dari pergaulan atau membolos ya."


"Begitu ya......"


Jika bukan keduanya, aku tidak bisa membayangkan alasannya. Namun, meski tidak bisa dibilang aneh, ini cerita yang unik. Setelah Yuzuki dan Fuuka, ternyata Takaya juga anak kembar. Selama tujuh belas tahun hidupku aku tidak pernah bertemu anak kembar, tapi dalam beberapa hari ini aku malah bertemu dua pasang.


"Lupakan soal kami. Yang penting sekarang soal Yuzu."


"A-ah, iya."


"Aku selalu merasa aneh, padahal dia sangat populer tapi dia tidak pernah mau pacaran dengan siapa pun."


"Bukankah itu hal biasa? Mungkin...... dia cuma belum menemukan orang yang sesuai kriterianya saja."


Takaya pasti tidak akan pernah menduga bahwa Yuzuki mencari seseorang yang bersedia memacari mereka berdua sekaligus.


"Banyak hal yang membuatku penasaran soal Yuzu. Entah kenapa, dia terasa seperti tidak pernah benar-benar membuka hati pada siapa pun."


"Bukankah dia tipe yang ramah kepada siapa saja?"


"Memang benar sih, tapi......"


Raut wajah Takaya menunjukkan dia belum puas dengan jawaban itu. Karena Yuzuki menyimpan rahasia sebagai kembar yang istimewa, mungkin dia tanpa sadar menarik garis pemisah dengan orang lain. Takaya mungkin bisa merasakannya karena dia cukup dekat dengan Yuzuki.


"Yang paling membuatku penasaran adalah──bagaimana ya mengatakannya, itu...... hmm...... dia seperti punya insting gaib."


"G-gaib?"


"Kamu paham maksudku?"


"Sedikit banyak......"


Secara harfiah, itu berarti keadaan seperti dirasuki dewa. Atau mungkin, keadaan di mana seseorang menunjukkan ucapan atau tindakan yang luar biasa hingga tidak terasa seperti manusia biasa.


"Baru-baru ini juga terjadi."


"Ke-kejadian seperti apa?"


"Saat kami sedang menyanyi di karaoke, tiba-tiba Yuzu bergumam, 'Ah, hujan'. Di dalam ruang karaoke, lho! Tidak ada jendela, dan suasananya bising jadi mana mungkin suara hujan terdengar. Selain itu, dia sedang tidak memegang ponsel, jadi dia tidak mungkin melihat informasi cuaca."


"............"


Kembar Takdir──mungkinkah saat itu Fuuka sedang berada di luar dan kehujanan? Apakah si kembar itu sampai bisa merasakan hal semacam itu?


"Dia juga sering menatap ruang kosong dengan lekat seperti seekor kucing. Mungkin sisi misterius itulah yang jadi rahasia popularitasnya."


"......Aku tidak pernah menyadari hal seperti itu."


"Sepertinya dia selalu waspada jika di kelas. Kalau bukan aku yang sering bermain dengannya sepulang sekolah, pasti tidak akan ada yang sadar."


Entah kenapa, Takaya terlihat bangga. Aku pun merasa sudah cukup sering memperhatikan Yuzuki, tapi aku sama sekali tidak menyadari sisi darinya yang itu.


"Mungkin saja,"


"Eh?"


"Yuzuki ingin Takaya tetap menjalin pertemanan biasa dengannya tanpa harus mempedulikan hal-hal semacam itu."


Yuzuki membatasi kepada siapa ia mengungkap rahasia tentang saudari kembarnya. Menurutku, itu bukan karena ia tidak memercayai Takaya, melainkan karena ia sangat ingin menjaga hubungan nyaman yang telah terjalin selama ini agar tidak berubah. Itu hanyalah dugaanku saja, tapi aku merasakannya.


"......Aku sempat berpikir wajah dan auramu sangat menyeramkan, Masaki-kun, tapi citraku tentangmu sekarang berubah."


"Maaf kalau wajahku menyeramkan. Kamu tidak perlu takut pada raut muka atau auraku. Lagipula, aku tidak bermaksud memberi tekanan pada orang-orang di sekitarku."


"Sepertinya begitu. Ternyata kalau sudah membicarakan Yuzu, kamu jadi bicara banyak ya. Sepertinya kamu memikirkannya jauh lebih dalam daripada aku."


"Sepertinya aku juga membuatmu salah paham──tidak, ini salahku sendiri."


Aku tersenyum getir sambil menggelengkan kepala.


"Benar juga, mungkin aku sudah terlalu terbiasa menerima kenyataan bahwa aku ditakuti orang lain."


"Yah, semua orang memang salah paham. Aku pun begitu. Bahkan mungkin sampai sekarang aku masih sedikit salah paham."


"Jika aku tidak berusaha meluruskan kesalahpahaman ini, aku bisa saja malah merepotkan Yuzuki."


"......Entah kenapa, apa semua pikiranmu sekarang berpusat pada Yuzu, Masaki-kun?"


"Mungkin saja."


Tepatnya, berpusat pada saudari Tsubasa; Yuzuki dan Fuuka. Karena aku telah menjadi pacar si kembar, aku harus selalu memikirkan mereka. Aku tidak bisa hanya memperturutkan hawa nafsu dan terus bermain-main dengan mereka.


"Sepertinya masih banyak hal tentang Yuzu yang tidak kuketahui. Siapa tahu, justru Masaki-kun yang akan menjadi pembuka jalan bagiku untuk bisa lebih mengenal Yuzu."


"Semoga saja begitu."


"Ya sudah, mungkin kita tidak bisa langsung akrab secara mendadak, tapi mari kita mulai sedikit demi sedikit."


"Tentu."


Aku menjabat tangan kanan yang diulurkan oleh Takaya dengan erat. Tangannya terasa mungil dan lembut.


Sahabat Yuzuki, dan sama-sama anak kembar seperti saudari Tsubasa──


Entah mengapa, aku memiliki firasat bahwa hubunganku dengan Riina Takaya pun akan mengalami perubahan besar mulai sekarang.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close