NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara dai Nana Ouji dattanode Volume 9 Part 3


Aku segera terbang meninggalkan tempat itu menuju rombongan Leon yang berada di tengah perjalanan ke sini.

Begitu aku mencari dari udara, aku langsung menemukannya.

"Oh, itu mereka."

"Uwoooooh!? L-Lloyd!? Jangan muncul tiba-tiba begitu, kau membuatku kaget, tahu!"

Leon melonjak kaget saat aku melompat turun dari langit.

Waduh, karena terburu-buru, aku jadi terlalu mendadak munculnya. Harusnya tadi aku turun lebih pelan. Introspeksi, introspeksi.

"Wah, wah, Lloyd-sama. Ada apa gerangan?"

Sebagai catatan, aku menyuruh Babylon mengambil jalan memutar agar tidak terlihat mencurigakan.

Akan repot kalau dia sampai lebih dulu. Tapi sekarang itu bukan masalahnya.

"Lupakan itu, gawat sekali Kak Leon! Kami beruntung sampai di negeri Elf lebih dulu, tapi gempa besar tadi membuat banyak orang terluka. Kami tidak bisa menangani semuanya sendirian... kumohon, pinjamkan kekuatanmu sebagai dokter, Kak!"

"Apa!? ……Ada banyak hal yang ingin kutanyakan, seperti sejak kapan kalian mendahului kami atau kenapa kau muncul dari langit, tapi sepertinya situasinya memang darurat. ……Baiklah, Lloyd. Segera bawa aku ke sana!"

"Baik! ……Babylon, kau kembali ke istana dan mintalah bantuan pada Kak Albert. Aku percayakan padamu."

"Baik, saya mengerti."

Aku memberi perintah pelan kepada Babylon, lalu memeluk Leon dan terbang dengan Flight.

Aku mempercepat laju dalam sekali hentakan, menerjang pepohonan yang menghalangi dengan pelindung mana sambil terus melesat maju.

"O-Oi, Lloyd! Bukankah ini sedikit terlalu cepaaaaaaaat!?"

"Tidak, tidak, segini mah biasa. Normal, kok, normal."

"Jangan bohoooonnnnggg!!"

Tanpa memedulikan teriakan Leon, aku terus menambah kecepatan.

"Lloyd-sama, meskipun sedang buru-buru, cara Anda menutup-nutupi ini terlalu kasar, lho."

"Apa terbang secepat ini tidak akan membuat identitas Anda ketahuan?"

"Yah, mungkin tidak apa-apa."

Leon bukan penyihir, jadi kurasa dia tidak akan tahu meski aku terbang agak cepat.

Lagipula begini-begini aku sudah sangat menahan diri, tahu. Kalau aku terbang serius, dia pasti sudah gepeng sekarang.

"Begitu ya..."

"Lebih tepatnya, dia sudah pingsan sekarang..."

……Yah, yang penting hasilnya oke. Kalau dia tidak lihat, aku bisa menambah kecepatan lagi.

Beberapa detik kemudian, kami sampai di Elfrieden.

Aku memberikan sedikit kejutan listrik kecil, dan Leon pun tersentak bangun.

"……Hah! D-Di mana ini... Bukankah tadi kita masih di hutan...?"

"Selamat pagi, Kak Leon. Nyenyak sekali tidurnya. Pasti mimpinya indah sekali, ya."

"Lloyd... ah, benar juga, ada orang terluka... maaf, memalukan sekali aku malah jatuh pingsan."

Bagus, sepertinya dia benar-benar melupakan kejadian tadi gara-gara syok saat pingsan.

Sambil berbincang, aku bergegas membawa Leon ke tempat para korban luka.

"Bukannya mimpi indah, itu sih mimpi buruk. Syukurlah dia masih hidup."

"Sihir Flight milik Lloyd-sama itu setara dengan senjata mematikan bagi orang biasa, lho. Syukurlah dia baik-baik saja."

Kurang ajar sekali. Aku sudah menyesuaikan kecepatannya, makanya dia cuma pingsan.

Mana mungkin aku bertindak kasar pada Leon yang akan kusuruh bekerja keras nanti.

"Muu... ini parah sekali."

Begitu sampai di tempat pengungsian, pemandangan mengenaskan dari sekian banyak korban yang terbaring membuat Leon menggigit bibirnya.

Namun dia segera menenangkan diri dan bertanya pada Ren yang sedang sibuk mengobati.

"Kau yang bernama Ren, kan? Serahkan tempat ini padaku dan segera kumpulkan rumput Senju sebanyak-banyaknya. Melihat tanaman di sekitar sini, pasti ada habitat aslinya di dekat sini."

"! Baik, saya mengerti. Itu untuk bius, kan! Saya juga akan mencari tanaman obat lain yang sekiranya berguna."

"Aku mengandalkanmu. Sylpha, obati luka para korban bersama gadis asing itu. Tanyakan padaku jika ada yang tidak mengerti. Aku yang akan menanganinya."

"Saya mengerti. Saya sudah belajar penanganan luka di ksatria kerajaan, jadi kurasa saya bisa membantu sampai batas tertentu."

"Fufun, pilihan bijak memanggilku yang cekatan ini. Memang benar-benar kakak Lloyd, aru."

"Mohon bantuannya—baiklah."

Dalam sekejap, Leon memberikan instruksi kepada semua orang, lalu berbalik menatapku.

"Lloyd, ikutlah denganku. Sihir penyembuhanmu akan sangat berguna. Kita akan berkeliling memeriksa pasien luka parah."

"Baik."

Kami menuju ke area di mana para korban luka parah dikumpulkan. Leon duduk di samping seseorang yang lukanya paling dalam.

"Kau baik-baik saja?"

Namun tidak ada jawaban. Dia masih bernapas, tapi tidak sadarkan diri.

Kondisinya terlihat sangat kritis, namun Leon tetap tenang saat berbicara.

"……Tenanglah. Aku akan segera membuatmu merasa lebih baik."

"Hah, bicara memang mudah!"

Seorang pria yang terbaring di dekat sana mendengus sinis.

Orang-orang lain pun mulai ikut bersuara.

"Benar, benar! Bawa dokter yang benar ke sini, jangan anak kecil seperti ini!"

"Kami tidak butuh kerja kerasmu kalau ujung-ujungnya tidak sembuh!"

"Lagipula, bilang mau membuat kami merasa 'lebih baik' itu terdengar mencurigakan. Kau tidak berniat membunuh kami, kan!?"

Padahal mereka luka parah, tapi masih banyak bicara juga, ya.

Mungkin ini efek sihir penyembuhan areaku yang mulai memulihkan kondisi mereka.

Tapi kalau kuhapus, pasti akan ada beberapa orang yang mati.

"Cih, padahal mau ditolong tapi galak sekali mereka. Kalau aku, sudah kupukul mereka."

"Semoga saja Kakak Lloyd-sama tidak kehilangan motivasi gara-gara perkataan mereka... hm?"

──♪

Alunan melodi mulai mengalir, meredam emosi para pria itu.

Seiring dengan irama yang menenangkan hati, suara langkah kaki di atas tanah pun mendekat.

"Tenanglah sedikit. Kalau kalian berisik begitu, luka yang harusnya sembuh jadi tidak sembuh-sembuh, lho."

Yang muncul sambil memainkan biola adalah Sang Raja Suci.

"Ah, kau ada di sini."

"Tentu saja! Kejam sekali kau melupakanku!"

Aku terus merasa ada yang kulupakan, ternyata dia, ya. Akhirnya ingatanku terasa lega.

"Yah, waktu aku sedang asyik di World Tree, tiba-tiba pohonnya runtuh dan aku kaget sekali. Aku berhasil kabur sih, tapi nyaris mati beneran. Begitu sampai di permukaan, kondisinya malah begini. Sebagai pecinta kedamaian, aku hanya melakukan apa yang kubisa. Ini adalah 'Lagu Pemulihan' untuk meredakan rasa sakit. Mendengarkan ini pasti akan membuat kalian bersemangat!"

Ternyata dia juga menyembuhkan para korban dengan lagu sihir.

Pantas saja sejak tadi aku merasa mendengar suara sayup-sayup.

"Meski niatnya baik, tapi rasa tidak percaya tetap tidak bisa hilang darinya, ya."

"Di tengah situasi seserius ini dia malah asyik main musik, wajar saja kalau orang-orang jadi sinis."

Benar kata Grim, aku bisa melihat beberapa orang menatap Raja Suci dengan pandangan tajam.

Wajar saja kalau orang-orang awam tidak tahu tentang lagu sihir. Main musik di tempat banyak orang terkapar pasti akan dianggap tidak sopan. Kasihan juga dia.

Sementara itu, Leon mulai mempersiapkan operasi dengan tenang.

"O-Oi... kau serius mau melakukannya...?"

"Tidak ada gunanya anak sepertiku banyak bicara. Seseorang tanpa otoritas harus menunjukkan hasil lebih dulu sebelum bisa mendapatkan kepercayaan. ……Meskipun begitu, orang ini bahkan sudah tidak sadarkan diri. Jika dibiarkan, dia tidak akan bertahan setengah hari lagi. Kita tidak punya pilihan. Kalian boleh memutuskan mau dioperasi atau tidak setelah melihat keahlianku."

Setelah berkata begitu, Leon menyuntik pria tersebut.

Pria yang tadinya bernapas tersengal-sengal itu langsung tenang dan seluruh tubuhnya melemas.

"O-Oi... dia berhenti bergerak!?"

"Jangan berisik. Itu hanya obat bius. Kalau dia memberontak saat operasi, tanganku bisa meleset. ──Ayo Lloyd, jangan melamun. Bergeraklah sesuai perintahku!"

"Baik!"

Mendengar kata-kata Leon, kami pun menajamkan fokus.

Dia sudah bicara sebesar itu, jadi tidak boleh gagal. Di tengah suasana yang tegang, operasi pun dimulai.

Aku menyerahkan alat-alat bedah sesuai perintah, dan pekerjaan pun berlanjut.

Hmm, gerakannya sangat lincah. Karena aku tidak punya pengetahuan medis, aku tidak tahu apa yang dia lakukan, tapi aku sadar ini bukan teknik sembarangan.

Para penonton pun terpana melihat keahlian tangan Leon.

……Hanya saja, aku khawatir dengan stamina pasien yang terus menurun. Sepertinya aku harus membantu dengan sihir penyembuhan.

"Uwooh, dia memberikan Healing Light yang sulit dikendalikan ke setiap titik luka... akurasinya mengerikan."

"Padahal dia sedang bekerja, ditambah dia juga sedang menggunakan banyak sihir saat ini... Lloyd-sama benar-benar sosok yang menakutkan."

"Hmm, menggunakan sihir penyembuhan yang aslinya berefek rendah menjadi seefektif ini, Lloyd-kun memang anak yang luar biasa. Tidak heran dia bisa mempermainkan si kuncir itu."

Bagi aku yang sudah terbiasa mengendalikan mana serumit memasukkan benang ke lubang jarum saat membangun entitas mana, hal ini sangat mudah.

Justru nama alat-alat bedahnya yang lebih membingungkan.

Banyak nama yang sulit diingat.

Karena aku tidak tertarik, jadi makin sulit masuk ke otak.

Akhirnya setelah tiga puluh menit, tangan Leon berhenti bergerak.

"──Selesai."

Leon menghela napas panjang.

Luka korban tersebut tertutup dengan sempurna, dan wajahnya yang tadinya pucat pasi mulai kembali merona.

Sepertinya berhasil. Melihat itu, para Elf di sekitar mulai riuh.

"Luar biasa. Dia benar-benar melakukannya..."

"Padahal luka itu kelihatannya mustahil untuk diselamatkan. Keahlian tangannya seperti Dewa saja."

"Oi... jangan-jangan anak laki-laki ini adalah Tuan Penyelamat waktu itu...?"

Di tengah kesunyian, salah satu Elf yang menonton berbisik lirih.

"Kalau dipikir-pikir, memang mirip sekali!"

"Berarti dia menyelamatkan kita lagi seperti waktu itu?"

"Ooh... Tuan Penyelamat di masa lalu telah kembali...!"

Satu per satu suara-suara itu bermunculan, dan tanpa sadar mereka semua mulai menundukkan kepala.

Sepertinya mereka menganggap aku yang dulu dan Leon adalah orang yang sama.

Yah, gaya rambut, warna rambut, dan tinggi badan kami memang agak mirip, lagipula kami saudara. Wajar saja kalau dianggap orang yang sama.

"Uwooo! Tuan Penyelamat! Selanjutnya tolong selamatkan aku!"

"Apa-apaan kau! Tadi kau kan yang paling kencang mencibirnya! Tolong obati aku dulu!"

"Tolong buat aku merasa lebih baik juga—!"

Melihat para Elf yang berbondong-bondong meminta bantuan Leon, Grim dan Jiriel menghela napas.

"Cih, dasar mereka itu cepat sekali membalikkan telapak tangan. Padahal tadi mereka menghina habis-habisan."

"Bisa membungkam mereka dengan kemampuan murni di tengah situasi tertekan seperti itu... benar-benar kakak dari Lloyd-sama."

Yah, aku sendiri merasa bangga.

Selain itu, aku bersyukur masalah yang kubuat di masa lalu bisa ditanggung oleh Leon.

"Kerja bagus, Kak Leon. Kau hebat sekali."

"Hmph... jangan bicara bodoh. Ini berhasil berkat bantuanmu. Dalam kondisi normal, tingkat keberhasilan operasi sulit ini di bawah tiga puluh persen. Tapi karena ada dukungan sihir dari Lloyd, semuanya berjalan lancar. Jika kau tidak memberikan sihir penyembuhan tepat di bagian yang kusayat sehingga beban fisik pasien berkurang drastis, staminanya pasti sudah habis lebih dulu. Di dunia medis sihir penyembuhan memang sering digunakan, tapi aku belum pernah bertemu orang dengan akurasi dan kekuatan sepertimu... Kecepatan Flight yang tidak masuk akal itu juga... jangan-jangan kau penyihir yang jauh lebih hebat dari dugaan orang-orang, Lloyd?"

Bagian akhirnya terlalu pelan sehingga aku tidak terlalu mendengarnya... Tapi pokoknya, jika Leon bisa meningkatkan kesukaan para Elf padanya, hal yang bisa kuselediki akan makin banyak.

Meski Elfrieden hancur bersama World Tree, pengetahuan para Elf pasti masih tersisa. Hehe.

"Tinggal mencari Fiona saja... Benar juga. Raja Suci, kau tidak tahu sesuatu?"

"Maksudmu si dada besar yang bersamamu itu, ya? Sayang sekali, aku tidak tahu."

Raja Suci menggelengkan kepalanya.

……Yah, sejak awal aku tidak berekspektasi padanya, sih. Benar-benar, ke mana sih anak itu pergi.

Tok, tok, suara langkah kaki sepatu yang nyaring bergema di kegelapan.

Pemilik langkah kaki itu adalah Fiona. Dia berjalan menyusuri lorong remang-remang yang dipenuhi akar pohon tanpa ragu, hingga sampai ke sebuah ruangan di ujung.

Di tengah ruangan, di atas kursi yang terbuat dari jalinan kayu, duduklah seorang pemuda.

"Ya ampun, akhirnya kau kembali juga, Fiona. Aku sudah lama menunggumu."

"……Kakak... Clausen……"

Fiona memanggil pemuda itu Clausen──kakaknya.

Memang, fitur wajah mereka terlihat sangat mirip seperti kakak beradik.

"Sepertinya ingatanmu sudah kembali. Aku sudah berkali-kali memanggilmu melalui World Tree tapi tidak ada jawaban, sempat terpikir apa yang terjadi... Memang benar boneka itu tidak bisa dipercaya, ya? Kukuku."

"……Itu, benar sekali."

──Plak! Suara tamparan keras bergema, dan Fiona jatuh tersungkur.

Telapak tangan Clausen menghantam pipinya dengan sangat kuat.

"Oi, apa kau sadar posisimu? Atau kau sedang meremehkanku?"

"Hal... seperti itu tidak..."

"Kau hanyalah pengganti untuk adikku. Sebuah boneka yang hidup hanya untuk menjalankan tugas. Jangan pernah lupakan itu. Apalagi berani-beraninya menghinaku...!"

"……Baik."

Hmph, Clausen menghela napas bosan lalu kembali duduk di kursinya.

Dia menatap Fiona yang masih berlutut di tanah untuk beberapa saat, lalu berkata dengan nada yang lebih lembut.

"……Ah, maafkan aku, aku bicara terlalu kasar. Angkatlah wajahmu, Adikku yang manis."

Kemarahan di wajah Clausen telah lenyap, digantikan dengan ekspresi yang mengerikan karena ketenangannya.

"Jangan gemetar begitu. Tadi aku hanya sedikit kesal. Maafkan aku. Maukah kau memanggilku kakak lagi?"

"……Tentu saja, Kakak Clausen……"

"Oh, anak pintar."

Clausen tersenyum cerah, sangat kontras dengan sebelumnya, lalu mengelus kepala Fiona dengan lembut.

Fiona hanya diam menerima perlakuan itu, namun ekspresi wajahnya terlihat sangat tegang.

"──Lagipula, bocah bernama Lloyd itu benar-benar punya kekuatan tempur yang hebat, ya. Tidak kusangka serpihan World Tree yang kukendalikan dari jarak jauh, bahkan Kelabang Raja sekalipun, bisa dikalahkan dalam sekejap. Padahal mereka punya kekuatan yang setara dengan iblis menengah... Yah, aku masih selangkah lebih maju. Inti yang dibawa oleh Kelabang Raja hanyalah umpan, yang asli sudah kularikan jauh ke dalam tanah. Kukuku... Justru karena aku sengaja meruntuhkan bagian atas World Tree, aku bisa membawanya masuk ke sini di tengah kekacauan itu. ──Coba lihat ini."




Di langit-langit ruangan itu melayang sebuah bola bercahaya merah—Inti World Tree yang memancarkan tekanan mana yang luar biasa.

"Hebat apa pun dia sebagai penyihir, selama benda itu bangkit, dia tidak akan menjadi masalah besar. Dan ambisiku pun akan... meski begitu, lebih baik kita tetap berhati-hati. Fiona, pergilah ke Saloum sekarang juga dan bunuh dia—bunuh Lloyd."

Bahu Fiona gemetar sesaat.

Clausen mengeluarkan sebuah botol berisi cairan transparan dari balik pakaiannya.

"Ini adalah apa yang para Elf sebut sebagai Cairan Kehidupan World Tree. Aslinya memiliki efek untuk membangkitkan vitalitas, namun yang satu ini telah dikonsentrasikan hingga kekuatannya berlipat-pulau puluhan kali. ……Dan ujung dari kehidupan yang berlebihan adalah kematian itu sendiri."

Tik, Clausen menjentikkan jarinya, dan seekor Kelabang Raja merayap keluar dari bawah kakinya.

Dia meneteskan satu tetes cairan itu ke arahnya.

"Gyaaaaaaaaah!?"

Begitu cairan itu menyentuhnya, Kelabang Raja itu membusuk dalam sekejap dan berubah menjadi abu.

Melihat Fiona yang terpaku kaku, Clausen menyunggingkan senyum penuh kenikmatan.

"Kukuku, ini adalah obat bius mematikan yang bahkan bisa menembus cangkang baja kebanggaan Kelabang Raja dan membawanya pada kematian. Yah, karena bocah itu selalu membentangkan pelindung mana, efeknya akan tipis kecuali kau memaksanya meminum ini secara langsung. Dengan ini, kau pasti bisa membunuhnya."

Fiona menelan ludah saat melihat sisa-sisa Kelabang Raja yang masih mengeluarkan asap putih.

"Setiap makhluk hidup memiliki umur. Jika aktivitas kehidupan dipacu secara berlebihan, mereka akan mencapai batas umurnya dalam sekejap dan membusuk—itu adalah keniscayaan. ……Tapi, hmm. Jika situasinya begini, amnesiamu justru menjadi keuntungan. Bocah itu tampak tidak punya kewaspadaan, dia tidak akan curiga jika kau kembali begitu saja. Fiona, buat Lloyd meminum ini dan bunuh dia."

"……! A-Anu……! Apa tidak ada cara lain selain membunuh...?"

Tepat saat Fiona hendak bicara, Clausen mencengkeram kepalanya dan berkata dengan suara rendah.

"Kau adalah boneka hebatku, harusnya tidak ada masalah, kan? Boneka tidak memiliki hati. Mereka hanya perlu mengangguk. Benar begitu, kan? Hmm?"

"……Aku……"

"──Kau bisa melakukannya, kan?"

Mendengar kata-kata yang penuh tekanan itu, Fiona—sang boneka yang diciptakan olehnya—hanya bisa mengangguk dalam diam.

"Anak pintar. ……Kukuku, sedikit lagi. Ayo, sedikit lagi kita bisa bertemu. Adikku tersayang……"

Sambil mengusap kasar kepala Fiona, Clausen menatap ke ruang hampa.

Ekspresi wajahnya kini sangat tenang, berbanding terbalik dengan beberapa saat yang lalu.

Dari balik kegelapan, sebuah bayangan hitam yang mengamati mereka bergumam lirih.

"Hou…… sepertinya ini mulai menjadi menarik."

Setelah menyeringai, bayangan itu lenyap seperti meleleh ke dalam kegelapan.

──Fiona yang menerima perintah dari Clausen membutuhkan waktu sekitar setengah hari untuk sampai di Saloum.

Namun karena tidak memiliki akses untuk masuk, dia hanya bisa berjalan mondar-mandir tanpa tujuan di luar Kastil sambil mengamati situasi.

Melihat hal itu, seorang prajurit mencoba mendekatinya.

"Oi, Nona, ada apa? Apa kau punya urusan di Kastil……"

Tik, terdengar suara seperti jentikan jari dan tubuh Fiona melayang di udara.

Dia terjatuh ke dalam ruang hampa yang tiba-tiba muncul di bawah kakinya.

Saat Fiona membuka mata kembali, dia sudah berada di udara, dan tentu saja dia langsung jatuh bebas.

"Kyaaaaaaah!?"

Tepat sebelum menghantam tanah, tubuhnya tertangkap dengan lembut.

Di bawah bokongnya, Lloyd yang sedang membentangkan pelindung mana tampak membelalakkan mata.

"Oh, bukankah ini Fiona! Ke mana saja kau? Aku mengkhawatirkanmu, tahu."

"Tuan... Lloyd……"

Fiona goyah melihat targetnya tiba-tiba muncul di depan mata.

Tidak, jangan-jangan jebakan tadi juga ulah Lloyd? ……Itu mungkin saja. Sihirnya memang sudah melampaui nalar manusia.

"Aku terus mencarimu dengan deteksi mana. Begitu merasakan respon pagi ini aku langsung keluar, tapi aku kaget karena kau tiba-tiba terbang jatuh dari atas. Apa alasanmu menghilang karena ingatanmu sudah kembali?"

……? Jadi jatuhnya aku ke ruang hampa tadi bukan ulah Lloyd……? Lalu siapa?

Meski pertanyaan melintas di benaknya, Fiona segera beralih fokus.

Perintah Clausen selaku penciptanya adalah mutlak. Aku…… harus membunuh bocah ini.

(Aku adalah boneka. Boneka tanpa hati yang hanya menjalankan perintah……)

Setiap kali dia bergumam untuk meyakinkan dirinya sendiri, dia merasakan sensasi seperti dadanya ditusuk sesuatu.

Sambil berpura-pura tidak menyadarinya, dia melanjutkan kata-katanya.

"Mohon maaf telah membuat Anda khawatir. Mengenai ingatan—sebenarnya saya masih belum bisa mengingatnya dengan jelas. Saya berkeliling di hutan mencoba mengingat sesuatu, tapi akhirnya……"

"He-em, jadi karena itu kau kembali ya."

"Benar. Jika Anda berkenan, saya ingin kembali bekerja di bawah Lloyd-sama……"

"Tentu saja boleh! ……Tapi meski tidak terlalu merepotkan, syukurlah aku tetap memasang deteksi mana. Lagipula aku masih belum tahu siapa sebenarnya dirimu. Jika aku menyelidiki hubunganmu dengan World Tree dan para Elf pelan-pelan, mungkin aku akan menemukan sesuatu yang menarik dalam prosesnya…… Fufu, aku jadi tidak sabar."

Lloyd bergumam sesuatu yang kurang jelas. Fiona menghela napas lega karena sepertinya Lloyd tidak mencurigainya, lalu dia mengikutinya dalam diam.

Tujuan mereka adalah tempat berkumpul para pelayan.

Mereka berjalan menuju Sylpha yang sedang memberikan instruksi di sana.

"Jadi begini, aku memutuskan untuk mempekerjakan Fiona sebagai pelayan. Aku ingin Sylpha menjadi mentornya untuk sementara waktu."

"Saya mengerti, Lloyd-sama."

"Kalau begitu, aku titip ya—"

Lloyd pergi sambil melambaikan tangannya dengan santai.

Ini adalah kesempatan bagus. Jika bekerja sebagai pelayan, peluang untuk melakukan pembunuhan akan ada sebanyak apa pun.

"Mohon bantuannya, Nona Sylpha."

"Ya, mohon bantuannya juga."

Saat dia menundukkan kepala, Sylpha menatapnya dengan tatapan dingin.

Fiona gemetar di dalam hati melihat mata biru tua yang seolah bisa menembus segalanya itu. Apa dia ketahuan? Tidak, tidak mungkin……

"Jangan terlalu khawatir. Nona Sylpha memang terlihat menakutkan, tapi selama kau bekerja dengan serius dia tidak akan marah kok. Sekali lagi, salam kenal ya, Fiona."

"Salam kenal. Namaku Conny, aku sudah dengar ceritanya. Jadi kau seorang Elf ya? Mungkin nanti aku akan memintamu membantuku dalam beberapa eksperimen…… yah, salam kenal."

"M-Mohon bantuannya……"

Diapit oleh Ren dan Conny, Fiona mengangguk dengan ragu.

──Aku terlalu meremehkannya.

Karena tiga orang termasuk Sylpha selalu berada di sisi Lloyd, dia tidak bisa melakukan tindakan mencurigakan.

Namun dia tetap harus melakukannya. Itulah tugasnya sebagai boneka.

(Aku harus... mengumpulkan informasi……)

Sambil mempelajari pekerjaan pelayan, Fiona mencoba menggali informasi tentang Lloyd dari orang-orang di sekitarnya untuk mencari tahu kapan Lloyd sendirian.

Pertama, dia bertanya pada orang terdekatnya, Sylpha.

"Lloyd-sama adalah sosok yang luar biasa. Kita hanya perlu memercayai Lloyd-sama sepenuhnya, itu saja sudah cukup."

"O-Oh……"

Mendengar jawaban itu dengan wajah yang datar, Fiona merasa lemas.

Sepertinya dia memang diwaspadai, dia tidak mendapatkan jawaban yang berguna.

Nada bicaranya menunjukkan bahwa dia tidak meragukan Lloyd sedikit pun.

Karena tidak mungkin mendapatkan jawaban lebih lanjut dari Sylpha, dia memutuskan bertanya pada yang lain.

"Awalnya memang banyak kejadian…… tapi ujung-ujungnya dia sangat bisa diandalkan. Kami ada di sini sekarang karena diselamatkan oleh Lloyd. Aku benar-benar berterima kasih padanya."

"Gairahnya terhadap sihir benar-benar hebat. Aku merasa diriku sudah cukup banyak belajar, tapi aku tidak akan pernah bisa menandingi keluasan ilmu Lloyd-sama. ……Yah, dia memang sedikit, ah tidak, sangat aneh, tapi pada dasarnya dia orang baik. Bersamanya tidak pernah membosankan, aku menyukainya."

Di tengah pembicaraan, Ren dan Conny menceritakan bagaimana mereka akhirnya bisa bekerja di bawah Lloyd.

Lloyd telah menyelamatkan anak-anak yang memiliki cara hidup yang bisa dibilang sesat itu.

Sesaat, Fiona berpikir apakah Lloyd juga mau menolongnya, namun dia segera teringat bahwa dia tidak memiliki hak untuk itu.

Tidak ada waktu untuk berhenti.

Dia harus melakukannya.

Dia terus bertanya pada orang-orang di sekitar satu demi satu.

Beruntung karena jaraknya dengan keluarga kerajaan cukup dekat, dia juga berhasil mendapatkan cerita dari kakak-kakak Lloyd.

"Kau ingin tahu tentang Lloyd? Dia adalah kebanggaanku. Tentu saja itu berlaku untuk semua adik-adikku yang lain!"

"Aaah? Ingin dengar tentang Lloyd? Yah, dia hebat. Pedang sihirku tidak akan pernah selesai tanpa bantuan bocah itu."

"Hmm, keberhasilan menciptakan Digardia, sang pelindung Saloum, sebagian besar berkat kekuatan Lloyd. Bukan hanya teknisnya, tapi kemampuannya dalam menghubungkan hati kami…… eh, jangan membuatku mengatakan hal yang memalukan!"

"Lloyd~? Dia anak yang baik sekali~ ufufufufufu."

"Tanyakan saja pada hatimu sendiri."

"Tanpa perlu bertanya padaku, bukankah kau yang berada di dekatnya yang paling tahu?"

Mendengar kata-kata Leon yang disertai helaan napas, Fiona tersentak.

Apa…… yang sedang kulakukan. Apa gunanya mengetahui kepribadian orang yang akan aku bunuh.

Mungkin tanpa sadar, dengan mengenal sosoknya lebih dalam, dia sedang mencari alasan mengapa dia boleh membunuh Lloyd.

Berpikir bahwa dia bisa membunuhnya tanpa penyesalan jika Lloyd adalah orang jahat. ……Tapi hasilnya justru sebaliknya.

Yang harus dia tanyakan adalah kapan Lloyd sendirian, kesempatan untuk membuatnya meminum Cairan Kehidupan World Tree. Kali ini, kali ini pasti……!

"Cih, dasar lamban…… kau membuatku kesal."

Sesaat setelah dia merasa mendengar suara yang bergema dari dasar kegelapan, tubuh Fiona kembali melayang di udara.

Kali ini dia jatuh di atas tumpukan jerami. Di sini…… apa ini kandang sapi?

Di depan mata Fiona yang sedang melihat sekeliling──

Tampak Lloyd sedang duduk di atas tumpukan jerami sambil membaca buku dengan cangkir teh di satu tangannya.

"Hmm? Bukankah ini Fiona."

"Kenapa... Anda ada di tempat seperti ini……?"

"Ini adalah salah satu tempat rahasiaku untuk membaca buku. Biasanya tidak ada yang mendekat ke sini, tapi ternyata kau menemukannya ya. Rahasiakan ini dari yang lain, oke?"

"O-Oh……"

Benar-benar tidak ada orang lain di sini. Hanya mereka berdua.

Kalau diingat-ingat, saat dia bertanya tentang Lloyd, semua orang memang bilang kalau dia selalu sedang membaca buku di suatu tempat.

Tempat ini pasti salah satunya. Di sini, di saat ini, tidak ada yang akan mengganggu, dia pasti bisa melakukannya.

"Pas sekali. Tehku baru saja habis. Tolong tuangkan yang baru."

Deg, jantung Fiona berdegup kencang mendengar kata-kata Lloyd.

Ini benar-benar kesempatan emas. Lloyd sedang fokus pada bukunya, sepertinya dia benar-benar percaya padanya karena dia tidak melirik ke arah Fiona sedikit pun.

Ujung jari Fiona gemetar menghadapi kesempatan sempurna yang datang tiba-tiba ini.

"Kalau begitu…… izinkan saya……"

Dia mengambil teko teh, memasukkan daun teh baru, lalu menuangkan air panas.

Teh yang dibuat dengan takaran sesuai ajaran Sylpha, lalu ke dalamnya dia meneteskan satu tetes Cairan Kehidupan World Tree.

Dia bisa membunuhnya. Dia akan membunuhnya sekarang.

Sambil menahan tangannya yang gemetar, dia menuangkan teh ke dalam cangkir.

"──Emosimu sekarang jadi jauh lebih kaya ya."

Fiona tersentak mendengar kata-kata Lloyd.

Tanpa sadar meja itu sudah basah kuyup karena teh yang dia tuangkan terlalu banyak.

"M-Mohon maafkan saya. Saya akan segera mengelapnya──"

"Fiona."

Lloyd menggenggam tangan itu.

Dengan nada suara yang tenang namun tegas, dia melanjutkan kata-katanya.

"Aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan, tapi jika kau mau bicara, aku akan mendengarkannya."

"T-Tidak…… sebenarnya, tidak ada apa-apa……"

Fiona hendak mengelak lalu terdiam, namun ekspresi penuh kepercayaan dari orang-orang yang menceritakan tentang Lloyd tidak bisa lepas dari kepalanya.

Saat Fiona mencoba mengusir bayangan itu dengan paksa, kata-kata Sylpha terlintas di benaknya.

──Kita hanya perlu memercayai Lloyd-sama sepenuhnya, itu saja sudah cukup.

Apakah kata-kata itu diucapkan untuk mengantisipasi situasi sekarang?

……Jika benar begitu, mungkin aku tidak akan menang.

Mungkin aku harus memercayai Lloyd saja.

Setelah hening sejenak, Fiona membuka mulutnya.

"Anu…… ini hanya andai-andai, tapi apa yang akan Lloyd-sama lakukan jika orang yang sangat berharga bagi Anda, meminta Anda untuk membunuh seseorang……?"

Mendengar pertanyaan Fiona, Lloyd tampak berpikir sejenak sebelum menjawab.

"Jika itu memang diperlukan bagiku, mungkin aku akan melakukannya. Jika tidak, aku pasti tidak akan melakukannya."

"Meski dengan alasan apa pun……?"

"Aku hanya bergerak berdasarkan pemikiranku sendiri. Tidak peduli apa yang dipaksakan orang lain padaku."

Fiona mengernyitkan dahi mendengar pernyataan tegas Lloyd.

Benar, orang ini memiliki kekuatan luar biasa dan selalu bergerak demi kepentingannya sendiri.

Tekad orang kuat seperti dia tidak mungkin goyah hanya karena perkataan orang lain.

Pasti dia tidak pernah sekalipun mencari bantuan dari orang lain. Karena dia sangatlah kuat.

Harusnya aku tidak bertanya. Saat Fiona hendak tertunduk lesu, Lloyd melanjutkan.

"Aku telah melakukan apa yang ingin kulakukan. Tapi itu bisa terjadi justru karena ada kakak-kakakku. Berkat mereka semua aku bisa melakukan sesukaku begini, jadi aku tidak akan goyah. Demi mereka semua yang telah mendukungku, aku tidak boleh goyah. Sebagai adik yang memiliki kakak-kakak hebat."

"Lloyd-sama... bergantung pada orang-orang di sekitar Anda……?"

Sulit dipercaya. Orang ini terlihat seperti tipe yang memadatkan sifat egois ke dalam tubuh manusia.

Dia terlihat sama sekali tidak perlu bergantung pada orang lain…… Melihat Fiona yang kebingungan, Lloyd melanjutkan.

"Kak Albert sering bilang. 'Jadilah manusia yang bisa bergantung pada orang lain'."

"Bukan 'jadilah orang yang bisa diandalkan'?"

"Ya, bisa bergantung pada orang lain berarti kau tahu apa yang harus kau lakukan. Dia bermaksud mengatakan agar aku memiliki keyakinan yang cukup kuat hingga berani bergantung pada orang lain demi hal yang harus dilakukan. Memang Kak Albert hebat ya, kata-katanya sangat bagus."

Lloyd mengangguk-angguk setuju.

Mungkin memang benar begitu. Justru karena tahu apa yang harus dilakukan, dia bisa bergantung pada orang lain untuk hal yang tidak bisa dia lakukan sendiri.

Masing-masing menempuh jalan yang mereka sukai tanpa ragu, dan bisa bekerja sama tanpa rasa sungkan satu sama lain. Mungkin itulah kekuatan Lloyd—dan kakak-kakaknya.

"Tentu saja mereka semua juga bergerak dengan keyakinan mereka. Karena itulah semua kakakku adalah orang-orang yang hebat. Jadi aku yang bisa melakukan sesukaku berkat orang-orang seperti mereka, tidak boleh merusak keyakinanku hanya karena kata-kata orang lain, kan."

"──!"

Fiona kehilangan kata-kata.

Dia pikir Lloyd memiliki kepercayaan diri mutlak pada kekuatannya sendiri. Ternyata bukan.

Dia berusaha untuk menjadi kuat agar bisa hidup tanpa mempermalukan kakak-kakaknya yang terhormat.

Tanggung jawab kuat yang dipupuk dengan mengandalkan kakak-kakak yang dia hormati, keyakinan yang lahir dari sanalah yang menjadi esensi kekuatan Lloyd.

Pantas saja semua orang menaruh kepercayaan besar padanya. Fiona menggigit bibirnya kuat-kuat.

Begitu kuat hingga dia bahkan tidak menyadari rasa darah di mulutnya.

"Fiona, kau……?"

Tanpa sadar sesuatu yang panas mengalir di pipinya. ──Air mata.

Meski bingung dengan air mata yang seharusnya tidak dimiliki oleh seorang boneka, Fiona berpikir.

Apakah aku bisa menjadi seperti orang ini?

Meski tidak bisa, setidaknya bukankah aku harus mencoba mendekatinya sedikit saja?

Setidaknya, menjadi cukup kuat untuk bisa meminta bantuan──

"Tolong... bantu saya……!"

Suara lirih itu bergema di area tersebut.

"──Saya adalah boneka yang diciptakan oleh kekuatan World Tree. Atas perintah Pencipta, saya seharusnya memandu Lloyd-sama menuju World Tree untuk merebut mananya. Namun dalam perjalanan, saya mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatan. Saat saya masih berada di bawah kendali beliau, saya hanyalah sebuah boneka yang bergerak sesuai perintah. Namun di saat ingatan saya kosong, sosok kalian semua terlalu menyilaukan bagi saya. Beberapa hari yang lalu, saya akhirnya berhasil mendapatkan kembali ingatan saya, namun sekarang saya tidak lagi tahu apa yang benar. ……Oleh karena itu, saya akan menceritakan segalanya, dan menyerahkan semua keputusan pada Anda. Memalukan memang, tapi izinkan saya bergantung pada Anda."

"He-em."

Lloyd menjawab dengan wajah yang tampak sama sekali tidak tertarik.

……Dia orang yang baik. Dia sengaja memberikan jawaban santai agar aku lebih mudah bercerita.

"Saat Lloyd-sama meninggalkan saya untuk bertarung dengan Kelabang Raja, akar World Tree melilit saya dan masuk langsung ke kepala saya…… Begitulah saya mendapatkan kembali ingatan saya dan pergi menemui Tuanku. Di sana, saya diperintahkan untuk membunuh Lloyd-sama."

"Jadi itu alasan sikapmu aneh sejak tadi ya. Apa teko teh itu berisi racun?"

Dia menundukkan kepala dan mengangguk.

Karena dia sudah menyerahkan keputusan pada Lloyd, dia tidak keberatan jika harus dibunuh di sini.

Itulah keyakinan Fiona sebagai boneka.

"Begitu ya…… Coba kulihat."

Tanpa memedulikan perasaan Fiona, Lloyd menatap teh di cangkirnya sesaat──lalu meminumnya sekaligus.

"T-Lloyd-sama!?"

Dia mencoba menghentikannya dengan panik, tapi cangkir itu sudah kosong.

Padahal itu adalah racun mematikan yang bahkan bisa membuat pembusukan hanya dengan satu tetesan.

Bagaimana jika terminum…… Fiona memucat, namun dia segera menyadari keanehan.

Bahkan setelah meminum habis Cairan Kehidupan World Tree yang bisa mengubah Kelabang Raja menjadi debu dalam kurang dari sedetik, Lloyd hanya menjilat bibirnya dengan santai.

"Hmm, jadi kau ingin menghancurkanku dengan menyuntikkan vitalitas berlebihan ya. Meski kedengarannya hebat, pada intinya ini hanyalah peningkatan paksa sihir penyembuhan. Sihir jenis ini masih ada di beberapa gereja sebagai aliran sesat, tapi bagi pengguna sihir penyembuhan tingkat menengah pun, ini bisa dinetralkan dengan pembalikan efek. Tadinya kupikir akan ada yang lebih menarik──tapi hal seperti ini tidak akan bisa membunuhku."

"──!"

Melihat Lloyd yang bergumam dengan wajah tenang, Fiona jatuh terduduk.

Dia benar-benar di luar nalar, keinginan untuk mendekatinya benar-benar sebuah pemikiran yang terlalu lancang. Begitulah yang dia pikirkan.

Dari kejauhan melintasi dimensi ruang, sebuah bayangan mengawasi interaksi mereka.

"……Hmph, yah, begitulah. Aku memang sudah mengira racun tidak akan bisa mengalahkannya…… Khukhukh, tapi sebagai gantinya aku melihat sesuatu yang menarik."

Bayangan itu tersenyum licik sambil menutup formula sihirnya.

Kemampuan kontrol mikro yang bahkan tidak disadari oleh Lloyd.

Ironisnya, karena kekuatannya disegel, formula sihirnya justru berevolusi.

"Orang-orang di sekitarnya ya…… Begitu, sepertinya itu bisa digunakan untuk menyegel kekuatannya. Khukh…… Fuhahahahahah!"

Bayangan yang tertawa terbahak-bahak itu—Gisarm—tiba-tiba menyadari cahaya matahari yang menerangi sekitarnya meredup.

Yang melayang di langit saat dia mendongak adalah──

"Lupakan itu Fiona, aku ingin tanya tentang orang yang menciptakanmu──"

Tepat saat dia hendak bicara.

Gung! Bumi berguncang hebat.

"Owah! A-Apa ini?"

"Di luar!"

Saat mereka berdua membuka jendela dan melihat ke luar, kepulan asap putih raksasa membubung dari arah hutan.

Dari tengah asap itu, muncul sebuah bayangan raksasa. Itu adalah──

"Istana……?"

Yang muncul sambil menghancurkan daratan dan hutan adalah sebuah istana raksasa.

Wujudnya yang sangat besar bahkan bisa terlihat jelas dari tempat ini yang berjarak puluhan kilometer, lalu bangunan itu melayang naik ke langit.

"Ooh, istananya terbang di langit."

Sambil menjulurkan badan dari jendela, aku terpana melihat pemandangan itu.

Ukurannya luar biasa besar bahkan dari jarak sejauh ini, mungkin sebesar hutan Elf.

Benda seperti itu tertidur di bawah hutan Elf ya…… Saat aku terheran-heran, langit bersinar biru pucat.

"Selamat siang, wahai umat manusia!"

Sebuah suara bergema. Saat mendongak, sosok seorang pria terpantul pada awan yang menyelimuti istana itu.

Rambut pirang, telinga panjang, sosoknya seperti Elf. Dia memakai sesuatu seperti kacamata hitam, sehingga ekspresinya tidak terbaca.

Melihat ekspresi Fiona saat mendongak, aku bisa menebak identitasnya.

"Begitu ya. Jadi itu orang yang kau sebut Pencipta?"

"Benar, itu adalah... Kakak Clausen."

"Kakak? Bukankah dia Penciptamu? Apa maksudnya?"

"Saya…… diciptakan sebagai pengganti adik perempuan beliau……"

Dia menggigit bibir dengan ekspresi sedih.

Begitu ya, kalau diingat-ingat di World Tree memang ada banyak boneka berbentuk Fiona yang dibuang begitu saja.

Artinya dia sudah dibuat ulang berkali-kali. Aku tidak tahu bagian mana yang dia tidak suka…… Clausen, sepertinya dia orang yang punya masalah kejiwaan yang cukup berat.

"Masalahnya istana itu benar-benar terlalu besar. Aku sempat bingung bagaimana dia akan menggunakan mana besarku yang dicurinya…… ternyata untuk menerbangkan benda luar biasa seperti itu ya."

"Mana sebanyak itu, pengoperasiannya pasti membutuhkan kekuatan yang sepadan. Bisa mengaktifkannya tanpa kendala, sepertinya dia bukan sekadar penyuka adik perempuan biasa……"

Sebenarnya, menerbangkan massa sebesar itu ke udara memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi.

Setidaknya, mustahil dilakukan hanya dengan mana yang dicuri dariku.

Mungkin dia melipatgandakannya dengan suatu formula sihir tertentu…… aku jadi penasaran.

"Aku adalah penguasa dunia ini, Clausen. Mulai saat ini, aku adalah raja atas benua ini. Bersujudlah kalian, rakyat jelata! Fuhahahahahaha!"

Penguasa dunia ya, bicaranya besar sekali.

Charles, Albert, dan yang lainnya yang bergegas keluar dari istana hanya bisa menatap ke langit dengan bengong melihat pemandangan luar biasa itu.

"──Nah, kalian memiliki kewajiban untuk menyerahkan persembahan kepadaku sang Raja. Istana Langit ini membutuhkan mana yang sangat besar untuk bergerak. Untuk menutupinya, aku membutuhkan seratus penyihir setiap harinya. Serahkan mereka sebagai persembahan."

Oi, oi, jangan bicara sembarangan. Bahkan di Saloum yang sangat fokus pada sihir, jumlah penyihir hanya sekitar seribu orang.

Jika mereka ditarik dengan kecepatan seperti itu, penyihir akan habis dalam sekejap.

"Lagipula untuk mempertahankan istana sebesar itu, apa penyihir biasa ada gunanya? Itu seperti menambah air ke laut dengan kencing saja."

"Mungkin dia berniat mengubah vitalitas secara langsung menjadi mana. Dengan begitu, dia bisa memeras mana dalam jumlah besar bahkan dari penyihir biasa sekalipun."

Mengerikan sekali…… Jika hal itu dilakukan, objek penelitianku yang berharga akan habis dong.

Permintaan seperti itu mustahil untuk dikabulkan. Ekspresi semua orang yang awalnya kebingungan dan terpaku, perlahan-lahan berubah menjadi tajam dan penuh amarah.

"Jangan bercandaaaaaa!"

Di tengah ketegangan itu, sebuah suara menggelegar di angkasa.

Saat aku menoleh ke arah sumber suara, di sana beridiri naga merah tua──Digardia. Sepertinya Zerov berada di dalamnya.

"Sejak tadi bicaramu melantur sesuka hati! Siapa juga yang bakal mengizinkan kesewenang-wenanganmu itu! Penjaga Saloum, Digardia, dan Pangeran Ketiga Zerov di Saloum akan menghukummu, aru!"

Sosoknya yang membentangkan sayap dan terbang ke langit memicu sorak-sorai riuh dari warga kota.

Namun, Clausen yang melihat hal itu hanya menyeringai.

"Hou, jadi itu yang namanya Golem. Di zaman ini, rupa mereka seperti itu ya. ……Boleh saja. Pasti banyak yang belum paham jika aku tiba-tiba mengaku sebagai penguasa. Mari kutunjukkan kekuatanku sebagai seorang Raja."

Seiring perkataannya, bagian ujung yang menonjol dari sisi bawah Kastil mulai memancarkan cahaya menyilaukan.

Aliran mana yang luar biasa dahsyat. Ini gawat.

"Kak Zerov!"

Sesaat kemudian, Zudoooooon!

Ledakan besar meletus. Kilatan cahaya menembus langit dan menghantam pegunungan di kejauhan.

Dari balik kepulan asap yang tebal, muncul sosok Digardia yang sayapnya telah tercabik, cahayanya meredup, dan jatuh terhempas ke tanah.

Getaran dan gelombang kejut menyusul mengguncang bumi.

Kekuatan destruktif yang mengerikan, mungkin setara dengan sihir tingkat tinggiku.

"Kukuku, kalian lihat? Inilah kekuatan Kastil Tenchu. Barusan aku menahan keluarannya, tapi perlu kalian tahu, jika aku menembakkannya dengan kekuatan penuh, menghancurkan satu negara bukan hal sulit. Sudah mulai terpikir untuk menentukan pilihan? Hahahaha!"

Clausen tertawa terbahak-bahak dengan wajah puas.

Kata-katanya soal menahan keluaran energi sepertinya jujur.

Masih ada mana dalam jumlah besar tersimpan di dalam sana.

"Tidak mungkin…… padahal Lloyd-sama tidak ada di sana, tapi zirah Digardia punya tingkat kekerasan yang bahkan tidak bisa kami hancurkan……!"

"Menghancurkannya hanya dengan satu serangan…… sebenarnya apa kilatan cahaya dahsyat itu……!"

"Spesifikasinya sedikit berbeda, tapi pada dasarnya itu mirip dengan Meriam Formula Sihir yang terpasang di Digardia. Bedanya, musuh kali ini berukuran raksasa. Kekuatannya tidak bisa dibandingkan."

Memanfaatkan ukuran raksasa untuk menuliskan formula sihir dalam jumlah besar adalah langkah yang cerdas.

Memang butuh waktu, tapi sekali jadi bisa digunakan berkali-kali, dan dengan formula raksasa, menghasilkan mana dalam jumlah besar bukanlah hal yang sulit.

"Ucapannya soal menghancurkan negara dalam satu serangan sepertinya bukan bualan semata. Kastil Tenchu, ya? Barang yang cukup menarik."

"Ini bukan waktunya mengagumi hal seperti itu!"

"Ledakan sebesar tadi, entah bagaimana nasib Kak Zerov……!"

"Jangan cemas. Di saat ledakan terjadi, aku membentangkan pelindung mana. Kak Zerov baik-baik saja."

Saat jatuh pun aku sudah memperlambatnya dengan Levitation, jadi bagian kokpit seharusnya tidak mengalami kerusakan. Sepertinya Albert sudah mengirim tim penyelamat, dia akan segera dievakuasi.

"──Hmm, tapi sepertinya sulit untuk segera mengambil keputusan. Aku pun bukan iblis, jadi aku akan memberi kalian waktu tujuh hari. Para raja di setiap negara silakan tentukan apakah ingin berlutut kepadaku atau tidak sebelum waktu habis. Biar kuperjelas, suara dan bayanganku ini tersiar ke seluruh penjuru benua. Pura-pura tidak tahu itu mustahil! Kalau begitu, selamat tinggal!"

Setelah meninggalkan pesan itu, seiring menghilangnya tayangan, Kastil itu pun ikut lenyap tanpa jejak.

Keesokan harinya, aku mengunjungi kamar perawatan Zerov.

Di matanya yang menatap ke luar jendela sambil terbaring di ranjang, terpantul sosok Digardia yang hancur.

"……Kak Zerov, apa lukamu baik-baik saja?"

"Ya, secara ajaib tidak ada luka serius. Walau sepertinya aku belum bisa banyak bergerak…… Aduh."

"Tentu saja. Jatuh dengan cara sembrono seperti itu…… hidup saja sudah merupakan keajaiban."

Leon yang berada di dalam ruangan menyahut dengan nada sedikit tajam.

"Aku tahu Kakak mengkhawatirkan Digardia yang rusak, tapi Kak Zerov sendiri juga luka parah. Tolong istirahatlah dengan tenang di ranjang."

"Maaf. Tapi aku tidak punya waktu untuk tenang. Lagi pula, hanya ada tujuh hari tersisa sampai pertempuran melawannya……!"

Benar, batas waktu yang diberikan Clausen hanya tujuh hari.

Sampai saat itu, mereka harus memilih antara bertarung atau tunduk.

Di Kastil sejak kemarin sudah sangat gempar.

Sepertinya pertemuan yang melibatkan Shnizel, Albert, hingga para pemimpin negara tetangga terus berlanjut tanpa henti.

"Tapi Digardia tidak akan kalah! Kali ini kita akan meraih kemenangan! Hanya itu satu-satunya cara kita bisa bertahan hidup! Benar kan, Lloyd!"

Melihat Zerov yang menatapku tajam sambil mengepalkan tangan, aku menjawabnya dengan tenang.

"Aku mengerti perasaan Kak Zerov, tapi sekarang Kakak harus istirahat. Untungnya, para teknisi Golem yang datang dari negara lain serta Ido turut membantu. Tujuh hari lagi pasti semuanya akan beres."

Yang sedang bekerja di bawah sana adalah kawan seperjuangan yang pernah dilawan Zerov di Turnamen Golem.

Ido, homunculus ciptaanku yang dijuluki jenius alkimia, segera datang dan memimpin jalannya perbaikan.

Masih tetap cekatan seperti biasanya. Tidak seperti kopianku saja. Dengan begini, tak sampai tujuh hari, dua atau tiga hari pun perbaikan sudah selesai.

"Seperti yang Lloyd katakan. Tenanglah dan sembuhkan lukamu secepat mungkin, Kak Zerov."

"Benar. Selain itu, aku ingin bertanya soal pertempuran kemarin…… lho?"

Saat aku hendak menanyakan intinya, Zerov ternyata sudah kehilangan kesadaran.

"Selama beberapa jam terakhir, dia terus terbangun, mencoba bangkit, lalu langsung tumbang karena kehabisan tenaga. Harusnya dia tidur, tapi rasa tanggung jawab itulah yang menggerakkan Kak Zerov. Biar aku yang menanyakan informasinya nanti, sekarang biarkan dia istirahat perlahan."

"……Begitu ya. Baiklah, Kak Leon."

Leon mengangguk, lalu kembali ke ruang dalam.

"Sayang sekali ya Lloyd-sama. Anda tidak bisa mendengar cerita dari kakak Anda."

"Ini masih dalam perkiraan, jadi tidak masalah. Tanpa melakukan itu pun, saat dia tidur aku bisa langsung mengintip isi kepalanya dengan Appraisal."

Malah ini lebih membantu karena aku bisa mendapatkan informasi yang lebih akurat daripada bertanya langsung.

Mari kita lihat, rekaman mengejutkan apa yang tersisa di sana.

Aku mengaktifkan Appraisal dengan perasaan antusias.

──Pandangan Zerov tumpang tindih dengan pandanganku.

Setelah Digardia yang terbang ke langit berbincang dengan Clausen, Kastil Tenchu bercahaya.

Tanpa sempat menghindar, cahaya itu menembus Digardia.

Pelindung mana yang kubentangkan sempat terlihat sekilas, tapi Zerov sepertinya tidak menyadarinya. Sisanya, terjun bebas ke tanah──ya. Begitu rupanya.

"Aku mendapatkan informasi yang kuinginkan. Memang benar lebih baik jika melihatnya secara langsung."

"Hanya dengan informasi segitu, apa yang bisa diketahui?"

"Panjang gelombang serangan mana yang ditembakkan musuh. Sebenarnya tadi malam, saat semua orang terlelap, aku pergi ke Kastil itu sendirian."

"Meninggalkan kami sendirian!? Kejam sekali Lloyd-sama!"

"Biarpun kubilang begitu, kalau kalian ikut, itu akan berbahaya. Kalian bisa saja mati."

"A-Apa maksud Anda!?"

"Kastil Tenchu bergerak menggunakan mana yang diserap dariku. Artinya, panjang gelombang mananya sama denganku. Sebagai familiar, jika kalian terkena serangan itu secara langsung, kerusakannya tidak akan terbayangkan."

Mana memiliki panjang gelombang individu masing-masing.

Seperti aliran sungai yang berbeda-beda, tidak ada satu pun yang benar-benar sama.

Pada dasarnya ini tidak berpengaruh dalam pertarungan, tapi ada beberapa pengecualian.

Pertama, familiar yang terikat kontrak akan sulit melawan panjang gelombang tuannya, sehingga sihir serangan akan sangat mudah mempan terhadap mereka.

Alasan Fiona tidak bisa melawan Clausen juga karena itu. Ceritanya akan beda jika lewat perantara Golem seperti Ido.

Karena Kastil Tenchu menggunakan manaku, membawa mereka berdua adalah tindakan yang terlalu berisiko.

"Kalau alasannya begitu, mau bagaimana lagi."

"Tapi jika panjang gelombang mananya sama……"

"Orang dengan panjang gelombang mana yang dekat akan sulit memberikan kerusakan satu sama lain. Apalagi jika benar-benar sama, sihirku pun hampir tidak mempan."

Dan satu lagi, sihir hampir tidak bisa menembus lawan dengan panjang gelombang mana yang identik.

Berkat hal ini, penyihir tidak akan menerima kerusakan besar dari sihirnya sendiri, tapi kali ini hal itu justru dimanfaatkan balik oleh lawan.

"Aku sudah mencoba berbagai hal, tapi perubahan kecil di tingkat teknis tidak bisa menangani itu. Aku menyerah, menyerah."

"Ternyata…… ada metode seperti itu untuk menangkis sihir Lloyd-sama……!"

"Yah, kalau aku serius mungkin bisa saja ditembus, tapi dalam kasus itu area beberapa kilometer di sekitar sini akan lenyap."

"Anda bisa menembus pelindung dengan panjang gelombang mana yang sama!? Anda tetap tidak masuk akal seperti biasanya ya……"

Yah, bukan berarti kerusakan bisa dicegah sepenuhnya, sih.

Ditambah lagi, itu membutuhkan keluaran tenaga yang setimpal.

Artinya, tanah akan hancur dan gelombang kejutnya bisa membuat seluruh Saloum terkubur tanah.

Jelas itu tindakan yang buruk.

"Lagipula dampaknya pasti tidak cuma di Saloum. Biarpun ditembakkan agar getarannya tidak keluar ke permukaan tanah, serpihannya tetap akan berjatuhan."

"Benar, debu tanah yang membubung akan menutupi cahaya matahari, dan musim dingin yang panjang akan tiba. Tanaman tidak akan tumbuh, hewan akan punah, dan kehidupan manusia akan hancur…… persis seperti kiamat."

Kalau tidak salah, aku pernah membaca di buku kuno tentang kehidupan yang lenyap dari dunia gara-gara letusan gunung berapi atau tsunami besar.

Kiamat atau apalah namanya. Benua ini bisa terancam gara-gara sihirku. Memang lebih aman jika tidak dilakukan.

"Andai saja aku bisa mengubah panjang gelombang manaku……"

Panjang gelombang mana adalah ritme mana yang mengalir dalam tubuh.

Bisa dibilang seperti detak jantung. Mengubahnya secara sengaja memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi.

"Maksudnya, mengubah hal seperti itu kan mustahil!?"

"Tidak juga, jika diberi waktu aku bisa melakukannya, tapi batas waktu tujuh hari ini sangat mepet. Minimal aku butuh waktu satu bulan."

"Satu bulan sudah bisa ya…… Entah harus dibilang hebat atau bagaimana……"

Selain itu, mengubah panjang gelombang mana adalah pekerjaan yang sangat sensitif.

Jika aku menggunakan sihir kuat saat sedang proses modulasi, sensornya akan kacau dan harus diulang dari awal.

Mengingat kemungkinan adanya serangan, itu sedikit tidak realistis.

"Kalau ada Bear, mungkin bisa diatasi."

Dia yang punya kekuatan setara denganku namun dengan panjang gelombang mana yang berbeda pasti tidak akan kesulitan menjatuhkan Kastil Tenchu…… tapi sayangnya, Bear sedang pulang kampung. Dasar, malah tidak ada di saat-saat penting.

"Haruskah aku lari sebentar ke Dunia Iblis?"

"Jarak ke Dunia Iblis terlalu jauh, tidak akan sempat. Lagipula aku tidak yakin dia bisa melakukan pertarungan defensif yang rapi seperti Lloyd-sama."

"Benar juga……"

Gaya bertarung Bear sangat mengandalkan tenaga dan kasar.

Karena itu, dia tidak cocok untuk pertarungan melindungi sesuatu. Saloum malah bisa hancur olehnya.

"Jadi, Lloyd-sama pun tidak bisa berbuat apa-apa?"

"Apa kita hanya bisa menunggu keputusan tujuh hari lagi……"

"Tidak, aku sudah menyusun rencana."

Keberangkatan Zerov dan jatuhnya Digardia menyadarkanku pada sebuah kemungkinan.

Kebetulan dia juga sedang datang. Fufu, aku mulai merasa bersemangat. Aku menuju hanggar sambil tersenyum.

"All right, all right. Komponen kecil akan diganti jadi bawa ke sini, komponen rusak akan diproses dari bahan mentah jadi bawa ke tungku. Tuan Lugor tolong periksa sistem penggerak. Tuan Dian tolong cek bagian pemasangannya!"

"Yo, rajin sekali."

Aku menyapa Ido yang sedang sibuk memberi instruksi di tengah kerumunan.

"Lloyd! Ya, aku tidak bisa diam saja jadi aku langsung datang ke sini. Bagaimana keadaan Tuan Zerov?"

"Ah, dia selamat. Sekarang sedang tidur nyenyak."

"Syukurlah. Untungnya Digardia tidak mengalami kerusakan besar. Sayapnya hanya terlepas karena benturan, dan tungku mananya tidak rusak. Pasti karena Tuan Zerov mengendarainya dengan hati-hati, ini benar-benar mesin yang tangguh. Terutama kerusakan akibat jatuhnya hampir tidak ada, jangan-jangan Lloyd melakukan sesuatu?"

"Ah—begitulah. Karena ini barang yang dibuat semua orang dengan kerja keras…… dan yang terpenting, karena akan segera digunakan."

Benar, kunci penaklukan Kastil Tenchu adalah Digardia.

"Begitu ya, Golem! Jika bertarung secara tidak langsung, panjang gelombang mananya akan lebih mudah berubah. Gaya bertarungnya juga lebih ke arah fisik, sangat cocok untuk menembus pelindung musuh."

"Tapi Digardia langsung hancur hanya dengan satu tembakan meriam musuh. Meskipun Lloyd-sama yang mengendalikannya, aku rasa tetap ada batasnya……"

"Yah, nantikan saja."

Tentu saja aku sudah punya sedikit rencana. Yah, karena tidak ada yang bisa dilakukan sampai perbaikan selesai, aku akan menunggu sebentar.

"Baiklah, pemeriksaan terakhir! Sirkuit nomor satu sampai tujuh aman, selanjutnya kita jalankan mulai dari nomor delapan!"

"Siap!"

Seiring dengan aba-aba, ujung jari Digardia bergerak dengan mulus. Pemeriksaan berlanjut dari tangan ke kaki hingga area leher, sepertinya tidak ada masalah.

"Kerja bagus Ido, dan semuanya juga. Dengan ini kita bisa melawan mereka."

"Ya…… tapi Lloyd, lawan kita punya daya hancur yang bisa menjatuhkan Digardia dalam satu serangan. Apa Anda punya rencana?"

"Tentu saja. Sini, dekatkan telingamu…… bisik-bisik."

"Eh? Eh? Eeeeh!? I-Itu…… soal itu memang aku sendiri yang mengusulkannya, jadi tentu saja aku ingat, tapi……"

"Berarti bisa, kan?"

"Seharusnya secara fungsi tidak ada masalah. ……Sebenarnya aku sudah sedikit memodifikasinya dan baru saja selesai kemarin…… ehehe."

"Oh, sehati ya kita! Benar-benar homunculus ciptaanku."

Saat aku sedang berbisik-bisik dengan Ido, aku menyadari Grim dan Jiriel menatap kami dengan pandangan dingin.

"Apa yang kalian berdua bicarakan sambil bisik-bisik begitu?"

"Tolong beri tahu kami juga."

Menanggapi pertanyaan Grim dan Jiriel, kami saling pandang lalu menjawab bersamaan.

"──Gattai (Penggabungan)."

Yang dibawa masuk adalah Golem berbentuk singa yang dulu pernah dikendarai Ido──Leonheart. Golem ini pernah kuhancurkan di Festival Alkimia dulu, tapi perbaikannya sudah selesai dan dia berdiri tegak dengan rupa yang sama seperti sebelumnya.

"Tapi apa mungkin Golem yang benar-benar berbeda bisa bergabung?"

"Lagipula aku belum pernah mendengar Golem bisa bergabung."

Seperti kata Grim dan Jiriel, aslinya memang tidak ada artinya menggabungkan Golem yang berbeda.

Lebih efisien jika sejak awal dibuat menjadi satu kesatuan tanpa fungsi sia-sia itu. Namun kali ini urusannya berbeda.

"Leonheart awalnya dibuat sebagai komponen penggabungan untuk Tartaros."

Ido yang menampakkan wajah dari kokpit yang terbuka menjawab.

"Tartaros yang kududuki dulu adalah mesin yang mirip dengan Digardia, kan? Jadi dengan sedikit modifikasi, dia bisa bergabung dengan Digardia! Dua Golem yang dulunya rival kini menyatukan kekuatan untuk membasmi kejahatan besar! Bukankah itu sangat luar biasa!?"

Aku menatap datar ke arah Ido yang berbicara berapi-api sambil mengepalkan tangan ke atas.

"……Enggak juga, sih."

"Kejamnya!"

Suara semua orang menyahut bersamaan dengan kompak. Ido menyembunyikan wajahnya di balik topeng dan berteriak malu-malu.

"A-Apa salahnya anak laki-laki bersemangat soal penggabungan!"

"Tidak, lakukan saja sesukamu, aku cuma bilang aku tidak tertarik."

"Kata-kata seperti itu yang paling menyakitkan, tahu!"

Mau bagaimana lagi. Aku memang tidak tertarik pada hal yang tidak menarik bagiku.

Bagiku alkimia hanyalah produk sampingan dari sihir.

Cuma bonus. Hobiku dan Ido yang sangat mencintai Golem memang kurang cocok.

"Sedih sekali ya. Padahal aku sudah memodifikasinya dengan tulus agar bisa membantu Lloyd-sama."

"Memang mustahil mengharapkan Lloyd-sama untuk memahami perasaan manusia."

Grim dan Jiriel memberikan tatapan kasihan, tapi kalian berdua tidak sopan sekali ya bicaranya.

"……Terlepas dari itu, karena perbaikan sudah selesai, mari segera kita gabungkan! Kita tidak punya banyak waktu."

"Benar juga. Mari kita coba dulu."

Aku memang tidak tertarik pada penggabungannya, tapi aku cukup menantikan inovasi dan efek sinergi yang dihasilkan dari kreativitas Ido.

Lagi pula, dengan Digardia aku tidak bisa mengeluarkan sepuluh persen dari manaku.

Jika bisa dua kali lipatnya, sekitar dua puluh persen, mungkin aku bisa menghancurkan pelindung mana Kastil Tenchu.

"Jangan bengong saja. Ayo berangkat, Lloyd! Leonheart, Transformasi Penggabungan!"

"O-Oh……"

Ido terlihat sangat bersemangat. Leonheart melompat seiring dengan aba-aba tersebut.

Bentuknya berubah dengan suara dentuman logam, lalu bergabung dengan Digardia seperti baju zirah──tidak jadi.

Bakin! Kedua Golem itu terpental di udara. Sepertinya penggabungannya gagal.

"Ke-Kenapa…… padahal secara perhitungan harusnya bisa bergabung…… Sial, sekali lagi!"

Tapi tetap gagal. Mereka kembali terpental di udara dengan cara yang sama.

"Kenapa bisa……?"

"Hmm, setelah itu aku juga sudah banyak memodifikasi Digardia di sini, sih."

Sejak turnamen Golem, Zerov, Dian, dan aku juga sempat memodifikasinya macam-macam.

Beberapa waktu lalu malah sempat dijadikan alat musik.

Mungkin karena itu ada perubahan kecil pada bodinya yang menghambat penggabungan.

"Pasti itu alasannya! Penggabungan adalah pekerjaan sensitif yang tidak mengizinkan celah sedikit pun, ini adalah seni!"




"Tak pernah kusangka bakal jadi begini. ……Ya sudah, mau bagaimana lagi. Aku akan memikirkan cara lain—"

"Apa yang Anda katakan! Kita akan segera masuk ke tahap modifikasi ulang! Aku pasti akan menyelesaikannya tepat waktu!"

"O-Oh……"

……Entah kenapa, sepertinya dia mendadak bersemangat sekali. Sebaiknya kuserahkan saja urusan ini pada Ido.

Begitulah awal dari proyek modifikasi Digardia.

Berkat bantuan para ahli Golem dan pekerja yang dikumpulkan oleh Ido, pengerjaan tampak berjalan lancar.

Meski begitu, waktu kami tidak banyak.

Batas waktunya cuma tujuh hari, tapi sepertinya jumlah tenaga kerja masih kurang.

Pekerjaan terkait Golem membutuhkan pengetahuan dan pengalaman tingkat tinggi.

Kalau soal ini, keberadaanku pun tidak akan membantu banyak. Rasanya gemas sekali hanya bisa menonton saja.

"Ngomong-ngomong, Lloyd-sama, bukannya penontonnya jadi makin banyak ya?"

"Bukan cuma Raja Saloum, tapi kakak-kakak Anda sampai bangsawan dari negara lain juga ada di sini."

Begitu merasa ada banyak pasang mata yang mengawasi, kulihat Albert dan yang lainnya sudah berkumpul di depan pintu masuk pabrik. Ada urusan apa mereka ke sini?

"Anu, Ayah? Ada apa ya?"

"Oh, Lloyd ya. Maaf kalau kami mengganggu. ……Yah, kalau kakek-kakek seperti kami berdiri berderet di sini, semuanya pasti jadi penasaran, kan."

Tentu saja, kalau orang-orang hebat berkumpul sebanyak ini, para pekerja mana bisa fokus.

Karena merasa tidak enak, Charles naik ke atas meja kerja, lalu berdehem pelan.

"Maaf jika kedatangan kami mengganggu. Aku adalah Raja negeri ini, Charles. ……Ah, kalian tidak perlu menghentikan pekerjaan. Silakan lanjut sambil mendengarkan."

Meski dibilang begitu, mana mungkin mereka bisa melakukannya.

Charles berdehem sekali lagi, lalu mengeraskan suaranya.

"Kalian tahu kan kalau sejak kemarin kami terus mengadakan rapat dengan para pemimpin negara lain? Kami berdiskusi panjang untuk melawan tirani sosok bernama Clausen itu, tapi kami menemui jalan buntu. Mengingat Digardia, salah satu kekuatan terkuat negeri ini, dikalahkan dengan mudah."

"Karena tidak ada ide bagus, diskusi kami hanya berputar-putar. Bahkan ada yang mulai patah arang dan menyarankan untuk tunduk saja. ……Tapi, di tengah situasi putus asa itu, ternyata masih ada mereka yang tidak kehilangan cahaya harapan. Itulah kalian!"

Di tengah kasak-kusuk para pekerja yang saling pandang, Charles melanjutkan bicaranya.

"Aku sudah dengar ceritanya. Bahwa kalian sedang mencoba menciptakan Golem terkuat dengan menggabungkan dua unit Golem. Aku juga dengar kalau kalian kekurangan tenaga. ……Astaga, kenapa ide sehebat itu tidak segera diberitahukan pada kami? Padahal kalau bilang, kami pasti akan langsung membantu."

Saat dia menjentikkan jari, tumpukan koin emas dalam jumlah besar diangkut masuk ke dalam pabrik.

Jumlahnya luar biasa. Semua yang ada di sana terperangah hingga kehilangan kata-kata.

"Pertama, aku sudah menyiapkan modalnya. Jika ada hal lain yang bisa kami lakukan, katakan saja. Uang, tenaga kerja, peralatan, apa pun yang kalian butuhkan, akan kusiapkan saat ini juga! Ya, ini adalah perang skala nasional! Mari kita kumpulkan seluruh kekuatan Saloum, tidak, seluruh dunia, untuk menyelesaikan Digardia yang baru!"

"Uoooooooooo!"

Para pekerja bersorak seolah terbawa suasana. Memang benar-benar raja, langkah yang diambil sangat spektakuler.

Semangat semua orang pun terbakar hebat.

"Dengan uang sebanyak ini, kita bisa mengumpulkan orang dalam jumlah besar!"

"Bukan cuma itu! Kita bisa pakai material sesuka hati!"

"Siapa pun, pakai uang ini dan pekerjakan orang sebanyak-banyaknya! Pekerjaan kita masih menumpuk!"

Begitulah, dalam hari itu juga banyak surat pesanan dibuat, dan kabarnya Charles menyetujui semuanya tanpa membacanya terlebih dahulu.

Besoknya, kecepatan kerja meningkat sepuluh kali lipat karena banyaknya tenaga bantuan.

Ido yang memberi instruksi terlihat sangat sibuk, tapi di saat yang sama dia tampak bahagia.

Ada beberapa orang yang tumbang karena kelelahan, tapi berkat bantuan tim medis pimpinan Leon, pengawasan dan instruksi kesehatan dilakukan dengan tepat.

……Yah, aku tidak tahu banyak karena waktu itu aku sedang tidur.

"Lloyd-sama…… Hebat ya Anda bisa tidur nyenyak dalam situasi begini……"

"Mau bagaimana lagi. Dia pun sedang melakukan apa yang harus dia lakukan saat ini."

Menaklukkan Kastil Tenchu tidak akan mungkin hanya dengan Digardia yang bergabung.

Aku pun sedang melakukan bagianku sendiri.

Lagi pula, menjaga waktu tidur dalam situasi apa pun adalah rahasia kesehatan yang utama.

──Begitulah, pengerjaan modifikasi yang melibatkan seluruh negeri Saloum terus berlanjut siang dan malam, hingga akhirnya tuntas pada pagi hari keenam.

Para pekerja yang tertidur dalam kondisi berantakan itu memiliki raut wajah yang bangga.

Dan sampailah pada pagi hari keberangkatan──

"Selamat pagi, Lloyd."

"Ido ya. Kau kelihatan mengantuk sekali, apa tidak apa-apa?"

Aku menyapa Ido yang berjalan dengan langkah gontai sambil memegang kopi.

Dia tampak sangat kurang tidur. Sepertinya dia memberikan instruksi hampir tanpa memejamkan mata.

Meski kau seorang homunculus, isimu tidak jauh berbeda dengan manusia biasa, jadi kau harus tidur dengan benar.

"Iya, begitulah. Rasanya mengantuk sekali, tapi aku tidak boleh menyerah…… Wups."

Leon menahan bahu Ido yang hampir terjatuh.

"Ya ampun, apa kau bisa mengendalikan Golem dengan langkah kaki seperti itu? Kalau mau, aku bisa menggantikanmu, lho."

Leon bilang begitu, tapi dia sendiri punya lingkaran hitam di bawah matanya.

Aku tahu kau juga bangun sampai larut malam kemarin.

"Tidak! Aku yang akan naik! Izinkan aku mengendarainya! ……Soalnya, kesempatan penggabungan dengan Lloyd pasti tidak akan ada dua kali. Aku ingin berguna suatu saat nanti. Ini adalah kesempatan pertama dan terakhirku yang tadinya kupikir mustahil. Aku tidak akan menyerahkannya pada siapa pun……!"

"Aku tahu, kok. Mana mungkin aku bisa mengendalikan Golem. Aku cuma ingin memberimu semangat. Astaga Lloyd, aku benar-benar iri kau punya pengikut yang begitu setia padamu."

Ido dan Leon bergumam sendiri, tapi suara di dalam pabrik ini bising, jadi aku tidak bisa mendengar suara pelan mereka.

"……Huh, sepertinya aku bisa memercayakannya padamu. ──Ini hadiah perpisahan. Pakailah koyo spesial ini. Rasanya akan sedikit lebih baik."

"Ini adalah…… Wah! Kepalaku terasa dingin dan rasa kantuknya hilang! Terima kasih, Kak Leon!"

"Itu obat penghilang kantuk hasil rebusan berbagai macam herbal. Lloyd, kau pakai juga."

"Aku sebenarnya tidak apa-apa, sih……"

"Sudahlah. Kau harus nurut apa kata kakakmu."

Begitu koyo ditempelkan di bagian leher, rasa kantukku langsung terbang seketika. Ooh, manjur juga.

Ido menempelkannya di dahi. Matanya yang tadi mengantuk kini terlihat sangat segar.

Setelah melihat itu dengan puas, Leon tiba-tiba membuka mulutnya.

"Lloyd, jujur saja, dulu aku merasa takut padamu. Aku yang saat itu menjadi anak bungsu awalnya senang dengan kelahiran adik baru, tapi aku segera menyadari kalau kau bukanlah anak biasa. Meski kau berakting menjadi anak aneh, kehebatanmu tetap terpancar meski aku tidak mau melihatnya.

Kecepatan menyerap ilmu yang tidak masuk akal, daya paham yang melampaui orang dewasa…… terutama soal sihir. Saat itu, aku benar-benar tersiksa oleh rasa rendah diri. Rasanya sangat memukul mental ketika kalah dari adik sendiri. Kalau aku tetap di sini, aku bisa jadi gila—karena itulah aku pergi ke Assembler untuk belajar kedokteran.

Untuk melarikan diri, dan untuk memperkecil jarak itu sedikit saja. Namun saat pulang, jarak di antara kita justru makin lebar. Kau bukan cuma makin kuat, tapi temanmu makin banyak, dan kau bahkan mendapatkan kepercayaan semua orang…… Aku mengakuinya.

Kau adalah orang yang hebat. ……Tapi anehnya, sekarang aku tidak lagi merasa takut padamu. Malah aku bisa bilang kalau aku bangga padamu. Aku dengar orang akan mulai bisa mengakui orang lain seiring pertumbuhannya, mungkin itu artinya aku juga sudah tumbuh dewasa? Haha."

Hmm, ternyata dia memikirkan hal itu tentangku ya.

Dulu aku memang kurang peka dengan situasi sekitar. Mungkin aku sudah melakukan hal buruk pada Leon.

Tapi sepertinya sekarang dia sudah tidak terlalu memikirkannya, jadi syukurlah. Di tengah rasa legaku, dia meninju pelan dadaku.

"──Menanglah, Lloyd. Karena kau adalah adik kebanggaanku."

"Baik! Kak Leon!"

Setelah berkata begitu, Leon pergi sambil melambaikan tangan dan menguap.

"……Heh, pemandangan yang bagus. Ikatan persaudaraan yang hangat ya. Ternyata dia kakak yang baik juga, sialan!"

"Yah, biarpun dia bilang begitu, dia pasti tidak paham sedikit pun soal kedalaman kekuatan Lloyd-sama. Mengingat kami pun masih belum bisa mengukurnya sampai sekarang."

Grim dan Jiriel bergumam sendiri, tapi biarkan sajalah.

Nah, sekarang saatnya pertunjukan dimulai. Aku jadi bersemangat.

"Kakak yang baik ya. Kita tidak boleh mengecewakan harapan Kak Leon! Ayo Lloyd, kali ini mari kita bergabung!"

"O-Oh……"

Semangatnya masih tidak kumengerti seperti biasa…… tapi ya sudahlah. Aku menuruti katanya dan naik ke Digardia.

Dua unit Golem berdiri, pintu langit-langit terbuka dan memperlihatkan pemandangan di luar pabrik. Di sana, banyak orang bersorak sorai saat melihat sosok kami.

"Waduh, banyak bangsawan yang berkumpul ya. Sepertinya harapan mereka tinggi sekali."

"Bukan cuma itu, rakyat jelata juga banyak. Jangan-jangan orang dari seluruh negeri berkumpul di sini?"

Menerima semua tatapan itu, Ido menelan ludah.

"……Pertempuran ini, kita tidak boleh kalah!"

"Ya, benar sekali."

Sejujurnya aku tidak ingin terlalu mencolok, tapi mau bagaimana lagi.

Lagi pula kali ini hampir semuanya kuserahkan pada Ido, dan aku pasti dianggap sebagai pelengkap saja, jadi tidak perlu terlalu dipikirkan.

"Ayo berangkat, Lloyd! Tou!"

Seiring aba-aba, Leonheart yang dikendarai Ido melesat ke udara dan mulai berubah bentuk.

Digardia juga ikut berubah wujud, dan aku hanya mengikuti arusnya saja.

Ooh, kali ini lancar. Setiap komponen berubah dengan mulus, dan seiring kilatan listrik, dua Golem itu menyatu menjadi satu. Dan kemudian──

"Uooooooooo! Penggabungan Super Dahsyat! Great Digardian X!"

Bersama dengan raungan, Digardia—maksudku, Great Digardian X—memasang pose keren.

"Namanya berubah kalau bergabung? Terus kalau 'Great' sih masih paham, tapi 'X' itu datang dari mana?"

"Memang aturannya harus begitu!"

"O-Oh……"

Karena dia menjawab dengan penuh penekanan, aku hanya bisa terdiam.

Meski begitu, sosoknya sangat berbeda dari Digardia yang lama.

Bagian kepala naga berubah menjadi seperti wajah manusia, dan di bagian dada, wajah singa bersinar dengan gagah.

Dengan cakar tajam yang menonjol dari kedua bahu, sosoknya lebih terlihat seperti manusia berbaju zirah daripada seekor naga.

Omong-omong, kokpitnya juga menyatu, dan Ido duduk tepat di bawah pandanganku.

"Uooooooooooooooooooo!! Gattai (Penggabungan)──!!"

Seketika, sorakan luar biasa pecah dari kaum pria.

Para wanita sepertinya tidak terlalu bersemangat…… tapi yah, setidaknya ini bisa dibilang sukses.

Dua tungku mananya juga beroperasi dengan stabil. Hmm, aku bisa merasakan kekuatan yang cukup besar. Dengan ini, pelindung mana Kastil Tenchu sepertinya bisa ditembus.

"──Ngomong-ngomong, ke mana perginya Kastil Tenchu?"

Aku menatap ke langit, tapi awan hitam menutupinya sehingga Kastil itu tidak terlihat sama sekali.

"Kastil itu sepertinya sudah bersembunyi di balik awan tanpa kita sadari."

"Sulit mencarinya kalau tidak ada petunjuk. Apa tidak bisa pakai deteksi mana?"

"Hmm…… jarak jangkauannya tidak akan sanggup menutupi area seluas ini."

Jarak efektif deteksi manaku paling-paling hanya beberapa kilometer saja.

Langit itu terlalu luas. Mencari Kastil Tenchu yang pasti melayang sangat tinggi di langit luas itu bukanlah hal yang realistis.

Aku sudah mencoba mendeteksi, tapi tetap tidak merasakan respon apa pun.

"Sepertinya akan sulit menemukannya kalau cuma terbang asal-asalan. Apa artinya kita harus menunggu mereka menyerang duluan?"

"Tapi kalau mereka menyerang dari ketinggian yang tidak terlihat oleh mata, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana ya?"

Kalau cuma Saloum sih masih bisa, tapi negara lain tidak ada yang melindungi.

Terbang mencari juga tidak realistis, dan bahan bakar Grediga (singkatan Great Digardian X. Kepanjangan soalnya) tidaklah tak terbatas.

Saat aku sedang berpikir mencari cara, tempat penyimpanan di belakang kokpit mendadak bergerak-gerak.

Yang keluar dari sana adalah──Fiona.

"Maafkan saya. Saya menyelinap tanpa izin…… Tolong bawa saya juga! Saya pasti akan berguna untuk Anda!"

"Fiona……?"

Bukan wajah datar seperti biasanya, kata-katanya mengandung tekad yang kuat.

Melihatku yang heran, Grim dan yang lainnya berbisik.

"Waktu Lloyd-sama bicara dengan Kakak Anda tadi, Fiona juga ikut mendengarkan dari dekat. Wajahnya kelihatan sangat serius."

"Mungkin setelah mendengar ikatan kalian berdua, dia jadi berpikir ingin…… soalnya Fiona-tan menganggap Clausen sebagai kakaknya."

Boneka yang dibuat sangat mirip dengan adik perempuannya, Fiona ya.

Mungkin jalan pikirannya mirip dengan adik aslinya.

Dia ingin pergi bersama untuk menghentikan kakaknya yang sudah salah jalan, begitu ya. Tapi rasanya ini berbahaya……

"Lloyd-sama, Anda sedang bingung mencari lokasi Kastil Tenchu, kan. Kalau saya, saya tahu di mana lokasinya."

Fiona mendekat dan seberkas cahaya redup menyala di ujung jarinya.

Cahaya itu memanjang menembus Grediga dan menunjuk lurus ke arah langit.

"Wah, cahayanya memanjang ke langit……!"

"Ini adalah cahaya mana yang menghubungkan saya dengan Kastil Tenchu. Jika kita mengikuti ini, kita akan sampai di sana."

"Begitu ya. Jalur mana."

Fiona pasti memiliki hubungan mana yang kuat dengan penciptanya, Clausen.

Sebenarnya lebih baik dia ditinggal saja, tapi kemungkinan besar Fiona yang tahu situasi di sana akan sangat berguna untuk menaklukkan Kastil Tenchu.

Yah, kalau terjadi apa-apa, aku tinggal melindunginya saja.

"Baiklah. Ikutlah. Kokpitnya akan berguncang, jadi pegangan yang kuat ya."

"Lloyd-sama…… terima kasih banyak."

Sambil dipeluk erat oleh Fiona, aku mengarahkan Grediga menuju arah cahaya itu. ──Lalu, sesuatu terlihat di balik awan.

"Lloyd! Ada sesuatu yang sangat besar jatuh dari langit!"

Saat aku mendongak, yang muncul menembus awan adalah seekor kelabang raksasa. Itu adalah jenis yang muncul saat World Tree hancur dulu.

"Kelabang raksasa itu! Kekuatannya membuat kita kesulitan bertarung dulu!"

"Dan jumlahnya bukan cuma satu atau dua! Ada puluhan ekor!"

"Sepertinya mereka tahu lokasi kita dan menyerang lebih dulu…… itu artinya Kastil Tenchu memang ada di arah cahaya ini."

"Kekuatan tempur Kelabang Raja jauh melampaui Golem biasa. Jika benda-benda itu jatuh ke tanah, negeri ini akan……!"

Akan hancur, ya. Fiona terlihat panik, tapi aku tetap bersedekap tanpa bergerak sedikit pun.

──Karena Ido yang duduk di kursi kendali satunya sedang menyeringai penuh percaya diri.

"Tapi kalau cuma segini, kau bisa mengatasinya kan?"

"Tentu saja, ini adalah pemanasan yang pas. ──Tungku Mana Ganda, mulai rotasi!"

Menjawab singkat, Ido memutar tuas gasnya sampai maksimal.

Burner yang terpasang di punggung Grediga menyemburkan api, dan kami melesat masuk ke tengah-tengah kerumunan musuh.

Nah, mari kita lihat kemampuanmu.

Grediga menerjang ke tengah musuh. Cakar yang terpasang di kedua tangan mencuat keluar dengan suara dentuman logam!

"──Leon Claw Fang Break!"

Serangan yang dilepaskan menyapu bersih kawanan kelabang yang mendekat di depan mata.

Wah, tajam sekali. Kawanan yang tadinya berjumlah puluhan itu hancur berkeping-keping dalam satu serangan.

"Jangan lengah! Kawanannya bukan cuma ini saja! Ada gumpalan besar yang jatuh ke arah sana!"

"Tidak akan kubiarkan. ──Fire Dragon Flash!"

Seiring teriakan Ido, mata Grediga bersinar merah.

Dari sana memancar kilatan cahaya merah tua yang menghanguskan seluruh kawanan di jalur lurusnya.

"Di sebelah sana juga!"

"Hah!"

Saat Grediga memutar lehernya, kilatan cahaya itu menyapu secara horizontal mengikuti gerakannya.

Ledakan meletus mengikuti lintasannya, mewarnai langit dengan warna merah.

Boom! Boom boom! Di tengah gema suara ledakan, Grediga berdiri dengan gagah di angkasa.

"Luar biasa! Jadi begini ya kekuatan Golem itu!"

"Terlebih lagi, sinar panas tadi punya daya hancur setara dengan Fireball milik Lloyd-sama!"

Seluruh tubuh Grediga terukir formula sihir, ditambah lagi dua tungku mana yang saling bersirkulasi membuat kekuatan luar biasa mengalir ke seluruh tubuhnya.

Hmm, Tungku Mana Ganda ya?

Keluaran tenaganya hebat juga.

Tadinya aku pikir penggabungan itu tidak ada gunanya, tapi ternyata tidak bisa diremehkan juga.

"Hou, lumayan juga. Jadi itu kartu as kalian."

Tiba-tiba, sebuah suara bergema dari langit. Clausen muncul di tayangan yang terpantul pada awan.

"Benar! Inilah kekuatanku, kekuatan kami! Menyerahlah selagi sempat!"

"Hmph, harusnya aku yang bicara begitu…… coba lihat ke arah bawah."

"Apa!?"

Saat aku melihat ke bawah, terlihat sisa-sisa bangkai kelabang berjatuhan.

Memangnya ada apa dengan itu? Saat aku bertanya-tanya, bangkai-bangkai itu menggeliat menjijikkan, lalu meledak.

Yang keluar dari dalam adalah ribuan kelabang kecil.

Bilang kecil pun itu jika dibandingkan dengan kelabang raksasa tadi, ukuran satuannya tetap sebesar monster berukuran besar.

"Hahaha! Kelabang Raja yang kujatuhkan tadi mengandung ratusan telur Kelabang Prajurit di dalamnya! Kelabang Prajurit yang baru menetas sangatlah lapar. Mereka akan memangsa apa saja!"

Kelabang yang menetas memakan bangkai induknya, lalu setelah selesai mereka mulai menyebar dengan cepat.

Sambil menyebar, mereka memakan habis hutan dan rumput. Apa yang terjadi jika mereka masuk ke pemukiman warga…… tidak perlu dibayangkan lagi.

"Sial……!"

Ido berniat melepaskan sinar panas tadi lagi, tapi dia langsung ragu.

Karena di dekat sana sudah ada pemukiman.

"Kenapa? Tidak menembak? ……Kukuku, sepertinya Golem itu tidak pandai melawan musuh dalam jumlah banyak yang ukurannya kecil ya?"

Benar, persenjataan Grediga memang dikhususkan untuk daya hancur tinggi demi menaklukkan Kastil Tenchu.

Jika menembak musuh sekecil itu dari jauh, sudah pasti pemukiman warga akan ikut hancur.

Tapi jika turun ke bawah untuk bertarung, mereka hanya akan terjebak dalam pertarungan defensif.

Kalau begitu, menaklukkan Kastil Tenchu akan jadi mustahil.

Kita akan kalah perlahan karena kehabisan sumber daya.

"Nah, apa yang akan kalian lakukan?"

"Cara yang…… licik……!"

Grediga mengepalkan tangannya dengan gemetar.

Di bawah sana, terlihat kawanan kelabang sudah mendekati Saloum.

Menghancurkan ladang, merobohkan rumah-rumah di pinggiran kota, dan menuju ke arah pusat kota tempat orang-orang berkumpul──

Jika dibiarkan masuk, banyak orang akan mati.

Harus bertarung atau kembali untuk melindungi semua orang? Tapi, aku menginjak bagian belakang kepala Ido, lalu berkata.

"──Pergilah, Ido."

"Aduh! Ta-tapi Lloyd……!"

"Tidak apa-apa. Lihat, perhatikan itu baik-baik."

Tayangan yang aku operasikan memperlihatkan sosok Sylpha dan yang lainnya yang sedang bertarung melawan para kelabang.

"Kali ini kita akan tentukan siapa yang terbaik. Hei pelayan! Ayo tanding siapa yang paling banyak mengalahkan mereka!"

"Ya ampun, kau tidak kapok-kapok juga ya. ──Yah, karena jumlahnya banyak, boleh saja."

"Aku akan menyebarkan racun. Sepertinya cukup untuk menghentikan gerakan mereka!"

Tiga orang itu membantai musuh dengan kecepatan luar biasa.

Perlahan-lahan kecepatan serang kawanan kelabang mulai menurun.

Dan dari arah belakang musuh yang mulai melambat itu, serangan yang lebih dahsyat diluncurkan.

"Pasukan Sihir Saloum, bidik target! ……Tembak!"

"Mengaumlah, Magicamillia! Hanguskan kawanan musuh itu!"

Meriam mana milik Pasukan Sihir pimpinan Albert dan Pasukan Golem pimpinan Lugor memuntahkan api, meledakkan kawanan kelabang.

Meski daya hancurnya tidak sebesar Grediga, berkat mereka kerusakan kota sepertinya bisa diminimalisir.

"Pasukan satu maju, pasukan dua mundur. Pasukan enam dan tujuh, ambil jalan memutar dan lakukan serangan jepit. ……Jangan biarkan satu pun lewat."

Penempatan yang tanpa celah, serangan bergelombang yang diluncurkan dengan efisiensi maksimal itu tentu saja dikomandoi oleh orang ini, Shnizel.

Dia mengoordinasikan pasukan Albert dan Lugor dengan sangat sempurna, memperlihatkan pertahanan yang kokoh.

"Tolong kumpulkan korban luka ke arah sini!"

Lebih jauh di belakang, Leon dan timnya sedang mengobati para korban luka.

Padahal dia sendiri yang bilang aku terlalu banyak bekerja dan harus istirahat, tapi dia sendiri malah bekerja semalam suntuk tanpa henti.

Ini yang namanya "dokter yang sakit sendiri" ya. Ya ampun, kakak yang merepotkan.

Saat aku memikirkan hal itu, Leon menatapku dan mengacungkan jempolnya.

Oh, ada wajah-wajah yang kukenal juga di sana.

"Ya ampun, ini utang satu ya, Lloyd-sama—Song of Control."

Berkat lagu sihir yang dimainkan oleh Holy King, kawanan kelabang itu kini terkendali dan mulai saling serang satu sama lain.

Bisa mencegah terjadinya pertarungan itu sendiri…… memang luar biasa, lagu sihir itu.

"Utang satu itu kata-kataku. Dasar bodoh."

"Hahaha, ini sangat membantu, beneran. Berkat ini kebajikanku juga jadi meningkat."

"……Kukuku, yah, melayani rakyat di sini agar tidak mati sia-sia bukanlah pilihan yang buruk. Ini adalah titik lemah yang susah-susah kutemukan. Lebih baik kusimpan dan kugunakan sebagai kartu as di saat yang tepat. Karena semakin tinggi tumpukan baloknya, semakin besar pula guncangan saat dijatuhkan……!"

Serangan nyasar yang sesekali terbang pun dipukul mundur oleh bayangan hitam yang bergerak menempel.

Apa ada orang lain lagi ya?

……Yah, kemampuan Holy King memang beragam, sih.

Tidak perlu terlalu dipikirkan.

"Ti-Tidak mungkin…… Serangan seperti itu bisa ditahan oleh manusia biasa……!?"

Clausen terlihat sangat kesal, tapi waktunya sangat buruk jika dia ingin mengincar kota ini.

Di tengah situasi di mana semua tokoh hebat berkumpul, kalau mau menjatuhkan Kastil Saloum, dia harus membawa seratus kali lipat pasukan dari ini.

"Kalaupun terjadi apa-apa, kalau Lloyd-sama turun tangan pasti mereka tewas seketika."

"Kalau bilang begitu mah tamat sudah ceritanya. Yah, tapi sepertinya Lloyd-sama tidak ingin terlalu mencolok."

Yah memang benar begitu, sih. Karena semuanya terlihat bersemangat, lebih baik kuserahkan saja pada mereka.

"Cih…… dasar manusia rendahan……! Kalau begitu, bagaimana dengan yang ini!"

Tayangan di awan berguncang, dan muncul bayangan raksasa.

Yang muncul adalah sebuah bola, dengan cangkang seperti baju zirah yang bertumpuk-tumpuk, dan dari sana muncul delapan buah kaki.

Di bagian wajahnya terdapat puluhan mata yang menatap tajam ke arah kami.

"A-Apa-apaan benda itu!?"

"Kutu kayu raksasa!?"

Ukurannya berkali-kali lipat lebih besar dari Kelabang Raja. Wah, wah, kalau benda sebesar itu jatuh ke tanah, urusannya tidak akan sederhana.

"Ido!"

"Aku mengerti!"

Berkas sinar laser yang ditembakkan Grediga untuk menghancurkan musuh justru terpantul oleh cangkang si kutu kayu. Benda ini keras sekali.

Aku pun menahan tubuh kutu kayu yang berjatuhan agar tidak merosot ke bawah.

"Guh!"

Ukurannya beberapa kali lipat lebih besar dari Grediga.

Perbedaan bobotnya terlalu jauh untuk didorong kembali.

Saat aku mencoba melemparkannya, kutu kayu itu membuka tubuhnya dan—Gashii!—dia malah menjepit tubuh Grediga.

Puluhan matanya yang bersinar merah menyala menatap kami dengan haus darah.

"Huhaha! Inilah serangga terkuat pelindung World Tree, Oumaru! Cangkangnya memiliki tingkat kekerasan yang sama dengan kaca jendela Kastil Tenchu! Golem kalian memang hebat, tapi di hadapan Oumaru, kalian tidak bisa berbuat apa-apa!"

Gelak tawa Clausen bergema di langit.

Di saat yang sama, si kutu kayu terus mengerahkan tenaga untuk meremukkan Grediga.

Meski terus terdesak, Ido tetap mempertahankan senyumnya sambil mati-matian menahan beban tersebut.

"……Aku terkejut makhluk seperti ini ada. Tapi, aku memikul harapan semua orang! Great Digardian X milikku dan Lloyd tidak akan tumbang oleh hal sepele begini! Uooooooooo!"

Seiring dengan raungannya, Grediga mengeluarkan tenaga besar.

Tubuh kutu kayu itu perlahan mulai terbuka sambil mengeluarkan suara derit yang nyaring.

Padahal tadi tidak bergeming sedikit pun, tapi sekarang kekuatannya luar biasa.

Tungku Mana Ganda mengerang hebat.

Hoho, jadi dengan mengalirkan mana, output-nya bisa diamplifikasi lebih jauh lagi ya. Menarik.

"Ido, gantian sebentar."

"Eeeh!? D-Di saat genting begini!?"

"Boleh, kan? Aku juga ingin mencobanya…… Hei!"

Sambil berkata begitu, aku merebut tuas kendali secara paksa dan mulai mengalirkan mana hingga batas di mana tungkunya tidak akan meledak. Heh, jadi ini yang namanya Tungku Mana Ganda.

Kapasitasnya jauh lebih besar dari biasanya.

Dengan sistem sirkulasi, endapan mana berkurang, dan pembuangan energi berlebih membuat output-nya menjadi sangat besar.

Hmm…… kekuatan ini bukan sekadar dua kali lipat biasa.

Dengan kapasitas ini, sepertinya tidak akan rusak meski aku memasukkan mana agak banyak──mari kita coba sedikit lebih kuat.

"Ah, sebentar Lloyd, itu berlebi—"

"OOOOOOOOOOOOOOON!!"

Bersama raungan itu, sorot matanya bersinar menyilaukan, menghancurkan cengkeraman si kutu kayu.

Di tengah suara berbagai benda yang patah dan remuk, Grediga merentangkan kaki dan tangannya dengan penuh tenaga.

"GUGYAAAA!?"

BAGYAA!

Diiringi suara hantaman yang dahsyat, tubuh kutu kayu yang menangkap Grediga pun patah.

Aku mencengkeram tubuh kutu kayu yang tertekuk ke arah berlawanan itu, lalu──melemparnya begitu saja.

Wuuuuzzz!

Gumpalan massa itu melesat membelah udara, menembus lapisan awan yang bertumpuk-tumpuk.

Benda itu terbang lurus mengikuti arah cahaya menuju Kastil Tenchu dan──PRANG!──terdengar suara seperti kaca yang pecah berantakan.

"……Sepertinya dia baru saja menghancurkan pelindung mana yang menyelimuti Kastil Tenchu ya……"

"……Padahal katanya serangan dengan gelombang mana yang sama tidak akan mempan, tapi apa-apaan tadi itu……"

"……Padahal kita sudah menyiapkan senjata rahasia untuk menghancurkan pelindung mana, tapi Lloyd malah menghancurkannya dengan cara sekasar itu. Benar-benar tidak masuk akal……"

Grim dan yang lainnya tampak tercengang, tapi tanpa kekerasan dan massa si kutu kayu ini, pelindung mana itu tidak akan pecah.

Ditambah lagi, tanpa kekuatan Grediga yang sudah bergabung, tidak mungkin bisa melemparnya sejauh itu. Jadi tidak sia-sia. ……Mungkin.

"Nah, mari kita masuk."

"I-Iya……"

Tanpa memedulikan Ido dan yang lainnya yang masih shock, aku membentangkan sayap menuju Kastil Tenchu.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close