NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara dai Nana Ouji dattanode Volume 9 Part 1


Aku adalah Lloyd de Saloum, pangeran ketujuh dari Kerajaan Saloum.

Aku hanyalah bocah sepuluh tahun biasa yang sangat mencintai sihir.

Di kehidupan sebelumnya, aku hanyalah penyihir miskin yang tidak berarti.

Suatu hari, aku menarik perhatian kaum bangsawan dan berakhir dieksekusi dalam sebuah duel sepihak.

Saat itu, aku terpaku melihat sihir tingkat tinggi untuk pertama kalinya.

Aku terkena serangan langsung dan tewas, namun saat tersadar, aku sudah bereinkarnasi ke dalam tubuh ini.

Tubuh ini diberkati bakat yang luar biasa, ditambah lagi Kastil ini memiliki perpustakaan dengan koleksi buku terbaik di benua.

Tanah yang luas, peralatan sihir langka, serta uang yang tak akan habis tujuh turunan.

Terlebih lagi, sebagai pangeran ketujuh yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan hak waris takhta, aku dibebaskan untuk hidup semauku.

Berkat itu, aku bisa menikmati hidup sebagai penyihir dengan penuh kebebasan.

"Hei, selamat pagi, Lloyd. Pagi yang indah, ya?"

"Selamat pagi, Kak Albert."

Sosok yang saling bertukar salam denganku adalah pangeran kedua Kerajaan Saloum, Albert de Saloum.

Wajahnya rupawan dan otaknya sangat cerdas.

Sebagai kandidat utama pewaris takhta, ia menangani seluruh urusan dalam negeri dan merupakan sosok yang sangat krusial bagi negara ini.

Dia selalu memperhatikanku dan membawaku ke berbagai tempat yang menyenangkan.

Dia adalah kakak yang sangat menyayangi adiknya dan selalu mengabulkan permintaanku.

Belakangan ini, sepertinya aku sudah cukup mendapatkan kepercayaannya.

Aku bahkan sudah diizinkan untuk bepergian dengan bebas sampai batas tertentu.

Berkat itu, riset sihirku berjalan lancar dan membuahkan banyak hasil. Ini semua pasti karena perilaku baikku sehari-hari.

Ya, benar sekali.

"Bicara apa Anda ini, Lloyd-sama. Padahal Anda cuma sering menyelinap keluar tanpa pamit sama sekali."

"Lagi pula, tempat menyenangkan yang dikunjungi bersama kakak Anda itu kan ekspedisi dan medan perang. Itu pun Anda ikut secara paksa..."

Familiar yang bersembunyi di telapak tanganku, iblis Grim dan malaikat Jiriel, mulai melancarkan protes.

Yah, itu memang benar sih, tapi membeberkan fakta secara gamblang seperti itu tidak baik, tahu.

"Yah, kalau sampai kakak Anda tahu kekuatan asli Lloyd-sama, mereka pasti akan jantungan. Jadi memang harus dirahasiakan."

"Dua kali yang lalu Anda mengalahkan Raja Iblis, dan sebelumnya lagi Anda pergi menemui Dewa di Surga. Itu sudah jauh melampaui batas kata berlebihan."

Kata-kata mereka memang tajam, tapi aku harus mengakui kalau belakangan ini aku mungkin agak terlalu bersemangat.

Mungkin karena kelelahan secara mental, wajah Kak Albert terlihat kurang sehat.

Hmm, sepertinya aku harus menahan diri untuk tidak keluar rumah untuk sementara waktu.

Lagi pula aku sudah mendapatkan cukup banyak informasi berguna dari berbagai tempat.

Ini mungkin kesempatan bagus untuk mencoba riset itu pelan-pelan. Sebenarnya aku ini tipe orang yang lebih suka berdiam di dalam ruangan.

"Nah, mari kita mulai tekun meneliti sihir dengan penuh semangat hari ini!"

Tepat saat aku sedang meregangkan tubuh dengan lebar... Bruk!

Terdengar suara sesuatu yang jatuh di belakangku.

Saat aku menoleh, Kak Albert sudah jatuh terkapar.

Kabar jatuhnya Kak Albert segera menyebar ke seluruh penjuru Kastil dan menimbulkan kegemparan.

Dalam sekejap, orang-orang Kastil dan keluarga kerajaan berkumpul di depan kamar medis.

Namun, dokter segera membubarkan mereka agar tidak membebani pasien dan menyuruh mereka kembali bekerja.

Hanya aku yang diajak masuk dan ditinggalkan di dalam kamar untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

"Muu, ini mengkhawatirkan. Apa kakak Anda akan baik-baik saja?"

"Ya, Lloyd-sama pasti merasa sangat cemas."

Mendengar kata-kata Grim dan yang lainnya, aku membalas dengan nada suara serius.

"Ya... kalau sampai Kak Albert tidak ada, aku akan tertimbun tumpukan masalah yang luar biasa merepotkan. Aku benar-benar khawatir."

Bagaimanapun juga, segala urusan pekerjaan di kerajaan ini melewati tangannya.

Bisa dibilang, dia adalah pusat dari Saloum. Kerugian jika dia tiada akan sangat tak terukur.

Dampaknya pasti akan menjalar sampai kepadaku, dan riset sihirku pasti akan terganggu.

"Kurasa tidak perlu secemas itu... tapi anehnya, wajah Lloyd-sama terlihat agak murung..."

"Bodoh, itu cuma cara Lloyd-sama menutupi rasa malunya. Jauh di dalam hati, beliau pasti sangat mengkhawatirkannya."

...Entah kenapa aku merasa mereka sedang menatapku dengan tatapan hangat yang aneh, tapi mungkin itu cuma perasaanku saja.

Pokoknya, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja.

"Apa tidak bisa diselesaikan dengan sihir Anda, Lloyd-sama?"

"Hmm, sulit. Heal memang efektif untuk luka luar atau memulihkan stamina, tapi tidak bisa mendeteksi bagian tubuh yang rusak akibat penyakit lalu menyembuhkannya."

Sihir tipe penyembuhan pada dasarnya hanya berfungsi untuk mengaktifkan kemampuan penyembuhan alami tubuh.

Karena itu, ada risiko sihir tersebut justru mengaktifkan sel penyakitnya. Itulah sebabnya sihir penyembuhan bukanlah segalanya bagi penyakit.

Ditambah lagi, memaksakan kekuatan sihir ke dalam tubuh untuk menyembuhkan terkadang justru memperburuk keadaan.

...Kenapa aku tahu? Karena aku pernah mencobanya sendiri dulu.

Saat aku terserang flu ringan dan merasa lunglai, aku menggunakan sihir penyembuhan karena ingin cepat sembuh.

Hasilnya, sumber penyakit di dalam tubuhku justru meledak jumlahnya.

Stamina memang pulih, tapi aku berakhir menderita demam yang jauh lebih tinggi.

Apalagi kondisi Kak Albert saat ini tidak diketahui.

Jika orang awam sepertiku sembarangan mengutak-atiknya, entah apa yang akan terjadi.

Kesimpulannya, membiarkan kemampuan penyembuhan alami pasien bekerja adalah cara tercepat dan paling pasti.

Saat kami sedang membicarakan hal itu, pintu kamar medis terbuka.

"……Fuu."

Yang keluar sambil menghela napas adalah pelayan pribadiku yang kini telah menjadi apoteker hebat, Ren. Dia juga menggunakan pengetahuannya untuk membantu pengobatan Kak Albert.

"Bagaimana? Bagaimana keadaan Kak Albert?"

"Kurang baik. Para dokter di dalam sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi mereka tidak tahu penyebab beliau pingsan. Seandainya ada petunjuk... Hei Lloyd, apa ada sesuatu yang aneh sebelumnya?"

"……Tidak, kurasa tidak ada yang aneh. Wajahnya memang sedikit pucat, tapi dia menyapaku seperti biasanya."

"Hmm, Tuan Albert memang pintar menyembunyikan sesuatu... Pemeriksaan fisik saja tidak cukup untuk mengetahui penyebabnya. Kondisinya juga sedang tidak bisa diajak bicara... tidak mungkin juga kami tiba-tiba membedah tubuhnya."

Ren mengerang dengan ekspresi wajah yang sulit.

Meskipun pengobatan intensif sedang dilakukan di dalam, sepertinya mereka sudah angkat tangan.

Jika dibiarkan seperti ini, tidak tahu kapan dia akan sembuh.

Walau kurasa dia tidak akan mati, tapi kita tidak pernah tahu kemungkinan terburuknya.

Sepertinya ini saatnya aku membantu dengan kekuatan penuh.

"Singkatnya, kita hanya perlu tahu apa yang terjadi di dalam tubuh Kak Albert, kan?"

"Iya, tapi dilarang membedah. Memotong tubuh tanpa tahu bagian mana yang sakit itu terlalu berisiko. Lebih baik bertaruh pada penyembuhan alami. Biar kau Lloyd sekalipun, ini mustahil..."

Ren mengatakannya dengan wajah gelisah, tapi aku juga tidak berniat melakukan hal seperti itu.

Aku memikirkan sebuah cara lain.

Aku melangkah masuk ke dalam ruangan dan mendekati Kak Albert yang terbaring.

"Lloyd! Jangan mendekat...!"

Tangan Kak Albert-lah yang memegang lengan baju Ren untuk menghentikannya.

Sepertinya dia sudah sadar. Dia menatapku sambil tersenyum lemah.

"Ti...dak apa-apa... Aku percaya... pada Lloyd... Kalau ada ide... lakukan saja..."

"Kak Albert...!"

Setelah tersadar sesaat, Kak Albert kembali kehilangan kesadaran.

Dia terlihat sangat kesakitan.

...Benar. Kalau ada yang bisa kulakukan, aku harus melakukan segalanya.

"Aku pasti akan melakukan sesuatu untuk menyembuhkanmu."




Kak Albert tampak mengangguk pelan menanggapi kata-kataku. Setelah keluar dari kamar, aku segera menarik Ren masuk ke ruangan sebelah.

"Fuu, benar-benar bikin kaget saja... Jadi Lloyd, apa kamu sudah menemukan sesuatu?"

"Tidak, sama sekali belum."

Bukannya sombong, tapi pengetahuan medisku itu hampir nol besar.

Aku memang terkadang mempelajari pengetahuan dari bidang lain untuk diterapkan pada sihir, tapi biasanya langsung kulupakan begitu saja setelah selesai digunakan.

"Kita baru akan mengetahuinya sekarang. Ren, kamulah yang harus menemukan sumber penyakit Kak Albert."

"A-aku? Tapi para dokter saja bilang tidak tahu..."

"Kalau dibedah pasti ketahuan, kan? Kalau begitu, lakukan saja.──Pakai ini sepuasmu."

Di atas tempat tidur, aku menciptakan replika tubuh Kak Albert.

Tadi aku diam-diam menyentuhnya untuk menyalin struktur tubuhnya, lalu mereproduksinya; mulai dari kondisi organ dalam sampai ke setiap helai pembuluh darahnya. Semuanya.

"Ya ampun... dulu Anda memang pernah membuat replika tubuh sendiri dengan Mana Body, tapi sampai bisa membuat replika orang lain... Lloyd-sama benar-benar bisa melakukan apa saja, ya."

"Hmm... ini seperti boneka kopi yang terbuat dari Mana. Tapi ketelitiannya benar-benar luar biasa sampai bisa semirip ini...!"

Belum lama ini aku memang pernah membuat Mana Body milikku sendiri.

Menggerakkannya memang sangat sulit, tapi kalau hanya membuat boneka yang sangat mendetail, tingkat kesulitannya tidak seberapa.

"I-ini benar-benar boneka...? Rasanya seperti mau bergerak kapan saja. Lagipula, di bawah kulitnya bahkan ada pembuluh darah, dan jantungnya pun berdenyut..."

"Tidak ada gunanya kalau tidak direproduksi sampai sejauh ini, kan? Ren kan belajar ilmu kedokteran, kalau kamu bisa mengendalikan Mana dengan lebih baik, kamu juga bisa membuat yang seperti ini."

"Mustahil, tahu! Benar-benar mustahil!"

Padahal menurutku tidak begitu, lho. Jika Ren yang memiliki landasan pengetahuan yang kuat melakukannya, tidak heran jika dia bisa membuat sesuatu yang kualitasnya lebih tinggi dari ini.

Pengetahuan medisku kan hanya samar-samar, jadi boneka ini hanyalah hasil pelacakan Mana yang kureproduksi berdasarkan insting saja.

"Sudahlah, cepat lakukan. Ini kesempatanmu untuk menggunakan ilmu medis yang sudah kamu pelajari. Aku juga akan membantu."

"……Baiklah. Aku akan memantapkan tekad."

Ren mengangguk mantap, lalu mulai melakukan pembedahan pada boneka Albert.

"Tunggu, kulitnya terlalu keras sampai pisau bedahnya tidak bisa masuk."

"Mungkin itu pengaruh Mana milikku. Bagaimanapun juga, menciptakan manusia seutuhnya itu sulit. Gunakan ini."

"Sekarang malah jadi terlalu tajam!? Apa-apaan ini, pedang sihir?"

"Itu cuma serpihan kaca yang kuberi Enchantment. Jangan kaget terus, cepat selesaikan."

"Uuuh... ini benar-benar tidak masuk akal..."

Sambil terus bercakap-cakap seperti itu, Ren melanjutkan pembedahannya, hingga akhirnya ia menghentikan tangannya.

"……Ada. Ini dia."

Di sekitar area perut boneka Albert, sebagian organ dalamnya sedikit membengkak.

"Ada peradangan di beberapa organ... melihat ukurannya, ini bukan penyakit tertentu, tapi sepertinya disebabkan oleh stres. Tapi tetap saja, membiarkannya sampai jadi separah ini... Kak Albert selalu bilang dia baik-baik saja, jadi aku tidak menyadarinya. Tapi, kurasa sebaiknya kita juga meminta pendapat dokter lain."

"Ah, tunggu sebentar. Kalau kamu tiba-tiba memperlihatkan benda ini, nanti bakal geger. Cari alasan yang bagus untuk menutupinya, ya."

"Iya, iya, aku mengerti."

Sambil mengantar Ren yang membalas dengan wajah lelah karena sudah terbiasa dengan kelakuanku, aku pun membereskan boneka Albert tersebut.

 

"Fuumu, memang benar, jika diperhatikan gejalanya sama dengan peradangan organ. Karena terjadi di beberapa bagian sekaligus, kami jadi sulit mengidentifikasikannya."

"Pasti sangat menyakitkan jika kondisinya sudah separah ini. Beliau benar-benar orang yang luar biasa karena tidak mengeluh sedikit pun."

"Kelainan akibat stres memang sulit dideteksi dari luar. Sepertinya rasa lelahnya juga sudah menumpuk."

"Benar, jika diberikan pengobatan yang tepat, beliau seharusnya akan segera pulih. Tapi kamu hebat bisa menyadarinya, Ren-chan. Luar biasa."

"A, ahahaha~ Kebetulan saya membawa obat uji yang sangat efektif..."

Ren tertawa garing saat dihujani pujian oleh para dokter.

Rencananya adalah berpura-pura menggunakan obat uji yang kebetulan ia bawa untuk menemukan titik penyakitnya.

Ren melirikku dengan tatapan tajam, tapi bukankah itu bagus? Reputasinya di mata para dokter jadi naik, jadi semuanya senang, kan?

Dengan begitu, metode pengobatan telah ditentukan. Albert dibaringkan di tempat tidur dan diberi infus sambil menunggu staminanya pulih.

 

Namun, setelah beberapa hari berlalu, kondisi Albert tidak kunjung membaik.

"Hei Ren, apa keadaannya masih gawat?"

"Hmm... sebenarnya kita kekurangan obat. Stok buah tanaman obat yang menjadi bahan dasarnya habis, dan sepertinya mereka sudah mengeluarkan perintah ke seluruh negeri untuk mencarinya. Tapi karena sekarang bukan musimnya, jadi sulit ditemukan. Kalau terus begini, kita hanya bisa bergantung pada daya tahan tubuh Tuan Albert... jika itu terjadi, kemungkinan terburuknya bisa menyisakan efek samping..."

Wajah Ren tampak sangat sedih.

Aku memang bersiaga untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu, dan sepertinya sekarang adalah giliranku lagi.

"Baiklah, beri tahu aku apa tanaman obatnya. Aku akan berusaha mendapatkannya."

"I-itu mustahil, Lloyd. Soalnya tanaman itu hanya berbuah saat musim dingin. Di musim panas seperti sekarang, mau dicari bagaimanapun juga..."

Tanaman obat yang tumbuh di luar musim, ya? Tidak masalah.

Kalau aku terbang sampai ke ujung benua, di sana pasti ada daratan yang sedang dilanda musim dingin.

Masalahnya adalah bagaimana aku yang tidak punya ingatan geografis sama sekali ini bisa mencarinya, tapi kalau aku membawa Ren──

"Permisi."

Tepat saat aku memikirkan hal itu, pintu kamar medis terbuka dan seorang anak laki-laki dengan jubah putih masuk.

Rambutnya hitam sama sepertiku, sedikit bergelombang dan agak panjang dengan model rambut yang mirip, serta memiliki mata yang tajam.

Tingginya hampir sama denganku, sampai-sampai ujung jubah putihnya hampir menyentuh lantai.

Anak laki-laki itu berdiri berkacak pinggang di depanku, lalu berkata dengan sikap yang ketus.

"Sudah lama ya, Lloyd. Senang melihatmu sehat-sehat saja."

Kelihatannya sombong sekali... tapi, eh, dia ini siapa ya?

Melihat reaksimu, anak itu memiringkan kepala dengan ekspresi tidak percaya.

"Lloyd, jangan-jangan... kamu lupa siapa aku?"

"……E-eh."

Tepat sekali, aku benar-benar lupa. Saat aku sedang berpikir bagaimana cara menjawabnya, Ren angkat bicara.

"Perkenalkan, nama saya Ren. Maaf jika saya salah, tapi apakah Anda... Tuan Leon?"

"Ah!"

Mendengar kata itu, aku akhirnya ingat. Pangeran keenam Kerajaan Saloum, Leon de Saloum. Kakak laki-lakiku yang setahun lebih tua dariku.

Ren yang baru saja menjadi pelayan seharusnya baru pertama kali melihatnya, tapi mungkin dia pernah mendengar ceritanya dari Sylpha atau yang lain. Penyelamatan yang bagus.

Wah, rindu sekali. Waktu kecil dulu dia sering mengajakku main. Tapi karena aku tidak tertarik dengan permainan anak-anak, biasanya aku selalu menolaknya.

"Ahaha... ternyata Kak Leon, ya. Sudah lama tidak bertemu."

"……Lloyd, kamu benar-benar lupa, ya?"

"Tidak, tidak mungkin!"

"Tadi kamu baru saja bilang 'Ah'!"

Ketahuan ya. Heh. Ternyata dia orang yang cukup peka. Aku hanya membalas tatapan tajam Leon dengan tawa garing.

"Ya ampun... yah, karena sudah lama tidak bertemu, akan kumaafkan. Lagi pula kalau kamu sampai tidak mengenalku, itu berarti aku sudah tumbuh cukup pesat dibanding dulu, kan? Hahaha."

"Hahaha, benar juga, ya..."

Tentu saja aku sama sekali tidak ingat rupanya yang dulu, tapi mari kita tertawa saja untuk menutupinya.

"Lloyd-sama tetap tidak kenal ampun kalau soal melupakan saudara sendiri, ya... tapi kakak kecil yang satu ini, aku pun baru pertama kali melihat wajahnya."

"Karena pada dasarnya saudara-saudara Lloyd-sama jarang ada di dalam negeri. Jika melihat pola sebelumnya, mungkin beliau pergi belajar ke negara lain."

Benar juga, terkadang Albert dan yang lainnya membicarakan hal itu.

Kalau tidak salah, dia pergi belajar ke suatu negara untuk mempelajari sesuatu. A, Ace... namanya sudah di ujung lidah.

"Anu, mohon maaf Tuan Leon. Saya tidak keberatan jika Anda ingin merayakan pertemuan ini, tapi Tuan Albert sedang beristirahat di sini. Mohon pindah ke ruangan lain..."

Mendengar kata-kata dokter yang terdengar tidak enak hati itu, Leon mendengus dengan penuh percaya diri.




"Cih, aku ini adiknya Kak Albert. Berarti aku bukan orang asing, kan? Lagipula, aku sudah belajar selama lima tahun di Assembler, negara adidaya medis. Sekarang, ada hal-hal yang bisa kulakukan."

Leon berkata demikian sambil menepis para dokter dan melangkah paksa menuju tempat tidur Albert.

Ah, benar, aku ingat sekarang.

Assembler. Itu adalah negara maju di bidang medis yang berfokus pada pengobatan penyakit yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan sihir.

Mereka mengirimkan tim medis ke berbagai negara.

Meskipun dikelilingi oleh negara-negara yang gemar berperang, mereka tidak pernah sekalipun diserang.

Bahkan ada legenda yang mengatakan bahwa negara-negara yang sedang berperang justru bekerja sama untuk menyelamatkan tim medis yang tertinggal di medan perang.

"Sebenarnya, aku mendengar kabar Kak Albert pingsan saat berada di sana. Makanya aku bergegas kembali. Begitulah ceritanya. Biar kulihat sebentar. ……Hmph, dia mengalami gagal organ. Titik penyakitnya kemungkinan besar ada di sekitar perut. Penyebabnya mungkin stres, karena Kak Albert itu tipe orang yang suka memendam masalah sendiri."

"Bagian itu sudah kami lakukan tadi."

"Ap—!? Be-begitu ya…… ternyata kalian lumayan juga. Aku meremehkan kalian……."

Leon nyaris terjungkal mendengar kata-kataku.

Meski begitu, hebat juga dia bisa langsung menyadari letak titik penyakit yang bahkan para dokter tidak tahu.

Orang ini mungkin aslinya memang hebat.

"Tentu saja, Lloyd-sama. Maksud saya, biasanya tidak ada orang yang pergi belajar ke luar negeri sejak sekecil itu. Usianya hanya satu tahun di atas Anda, tapi bocah sekecil itu sudah mempelajari ilmu kedokteran yang tingkat kesulitannya sangat tinggi. Itu luar biasa."

"Meskipun begitu, dia termasuk yang paling waras di antara kakak-kakak Lloyd-sama lainnya. Kedokteran memang sulit, tapi itu bidang yang sangat bergantung pada jumlah jam belajar. Bisa dibilang itu adalah dunia usaha, daya ingat, dan konsentrasi ketimbang bakat murni. Walau tetap saja, fakta bahwa dia hebat itu tidak berubah."

Perkataan Grim dan yang lainnya ada benarnya juga.

Aku sendiri tidak terlalu percaya diri dengan daya ingatku.

Aku sering langsung melupakan hal-hal yang tidak membuatku tertarik.

Aku pernah membaca buku kedokteran beberapa kali, tapi isinya penuh istilah teknis yang membuatku mengantuk.

……Yah, buku sihir juga mirip-mirip sih, tapi kalau tidak ada minat memang sulit.

……Yah, kalau pakai sihir sih semuanya bisa diatur.

Sayangnya, kapasitas memori aku yang terbatas ini sudah penuh dialokasikan untuk sihir, jadi tidak ada ruang tersisa untuk pengetahuan yang tidak perlu.

"Kami memang sudah sampai di tahap itu, tapi setelahnya—kami kesulitan membuat obat penawarnya……."

"Hmph, pasti karena tidak ada bahan bakunya, kan? Sekarang bukan musimnya untuk mendapatkan buah Kigan-sou."

"Iya, makanya aku berniat pergi mencarinya—"

"Aku punya penggantinya."

Leon memotong kata-kataku sambil mengeluarkan sebuah pil dari dalam sakunya.

"Ini obat yang sangat manjur untuk masalah organ dalam secara umum, terutama gejala yang disebabkan oleh stres. Karena Kak Albert adalah orang yang selalu didera rasa cemas, aku sudah meraciknya untuk berjaga-jaga. Syukurlah ternyata bisa berguna. Cukup minum tiga pil sehari, dia pasti membaik. Sebelum dia sadar, campurkan saja ke dalam infusnya."

"Begitu ya…… Ren, bagaimana menurutmu?"

Aku memberikan pil dari Leon itu kepada Ren.

Sebagai orang yang mampu mengendalikan racun dan obat secara bebas serta terus mengumpulkan pengetahuan tentangnya, Ren pasti tahu seberapa efektif obat ini.

Ren mengikis sedikit pil itu, lalu menjilatnya seolah sedang mencicipi rasa.

"……Lloyd, ini obat yang kelihatannya sangat manjur! Malah jauh lebih efektif daripada obat yang ada sekarang!"

"Hei."

Ren tersentak kaget saat Leon memanggilnya.

Ah, tindakannya tadi agak tidak sopan ya. Wajar saja.

Memeriksa obat yang baru diberikan itu sama saja dengan mengatakan tidak percaya pada pemberinya.

"Hyaa! Ma-maaf! Bukannya aku tidak percaya atau bagaimana……."

"Benar, Kak Leon. Dia adalah pelayan pribadiku yang punya kemampuan khusus dalam hal itu. Maksudku, kalau khasiatnya sudah dipastikan, semua orang di sini juga akan merasa tenang."

Melihat kami yang panik, Leon mendengus pelan sambil tersenyum.

"……Kenapa harus panik? Tidak ada orang bodoh yang akan langsung menggunakan obat tanpa tahu kandungannya. Siapa pun pasti akan melakukan hal yang sama, termasuk aku. Kalian benar."

"Tuan Leon……."

"Tapi kemampuan yang menarik. Apa itu semacam kekuatan Mana? Ren, maukah kamu menjelaskan detail cara kerjanya kepadaku?"

"I-iya, dengan senang hati! Sebenarnya aku—"

Ren mulai menjelaskan kemampuannya secara mendetail, dan Leon mendengarkannya dengan penuh minat.

Sepertinya obrolan tentang medis di antara mereka berdua mulai mengalir. Mungkin karena usia mereka tidak terpaut jauh, jadi mereka merasa cocok.

"Padahal Lloyd-sama juga seumuran dengan mereka."

"Sepertinya beliau sudah sama sekali tidak mendengarkan."

Mau bagaimana lagi. Aku sama sekali tidak tertarik pada obrolan medis. Yah, selama mereka berdua senang, itu sudah cukup.

"……Tapi ini hebat. Obat ini tidak menggunakan buah Kigan-sou. Meramu tanaman obat yang tumbuh di mana-mana dengan takaran yang pas hingga menghasilkan efek sehebat ini…… Ada tanaman Remira, bunga Shojo, kelopak Mint, dan biji Loris…… Apa bahan terakhirnya?"

"Heh, bahan terakhirnya adalah empedu tikus kerdil. Jika dicampur dengan bahan-bahan tadi, efek detoksifikasinya akan menjadi sangat kuat. Dengan mencoba berbagai kombinasi bahan, metode pembuatan obat kini sudah semakin beragam."

"Begitu ya…… Ternyata Assembler sebagai garda terdepan dunia medis benar-benar sudah maju, ya!"

Saat Ren memberikan senyuman manis kepadanya, Leon tampak panik dan segera membuang muka.

"……! Pokoknya, khasiat obatnya sudah terjamin, kan? Bisa segera mulai diberikan?"

"Siap, laksanakan!"

Demikianlah, pemberian obat kepada Albert pun dimulai. Ren menatap proses itu dengan wajah cemas.

"Kira-kira mempan tidak, ya?"

"Bukankah kamu sudah menjaminnya sendiri? Percaya dirilah sedikit."

Saat aku sedang menepuk-nepuk kepala Ren, Leon yang berada di samping berkata.

"Kalau obatnya bekerja dengan benar, dia akan membaik dalam tiga hari. Dia mungkin harus terus meminumnya untuk sementara waktu, tapi keadaannya pasti akan pulih perlahan-lahan."

"Terima kasih. Ini semua berkat Kak Leon."

Leon terdiam kaku mendengar perkataanku. ……? Ada apa ya? Tiba-tiba dia bungkam seribu bahasa. Apa aku salah bicara?

Saat aku sedang memiringkan kepala kebingungan, dia perlahan berbalik membelakangiku. Lalu—

"YOSH—!!!"

Sambil berseru pelan dengan penuh semangat, dia melakukan pose kemenangan dan mulai bergumam sendiri.

"Mantap! Mantap! Aku tadi keren sekali! Bisa dibilang tahap pertama rencana untuk mengembalikan harga diriku sebagai kakak telah sukses besar! Lloyd itu sejak dulu memang anak yang luar biasa. Dia membaca buku-buku yang susahnya minta ampun, tidak pernah bermain dengan anak seumuran, dan aku sendiri dulu sering dibuat menangis olehnya. Tapi aku sadar tidak boleh terus begini, makanya aku belajar ke Assembler. Setelah bertahun-tahun berjuang, akhirnya, akhirnya aku bisa mengembalikan martabatku sebagai seorang kakak! ……Ah, tapi aku tidak boleh lengah. Tanpa kusadari, dia sudah mempekerjakan pelayan semanis itu dan tinggi badannya pun sudah bertambah. Yang paling penting adalah 'sesuatu' yang tak terukur yang terasa dari diri Lloyd……! Berbahaya kalau aku cepat merasa puas. Aku harus tetap bersikap keren sebagai kakak, kalau tidak aku akan kembali seperti dulu lagi……!"

Ada apa dengannya ya? Agak menakutkan.

Saat aku sedang merasa curiga, dia berbalik lagi ke arah kami sambil menyibakkan poni rambutnya dengan gaya.

"……Heh, ini hal yang wajar dilakukan oleh seorang kakak."

Melihat tingkah Leon, Grim dan Jiriel berkata dengan nada heran.

"Gimana ya, kakak Anda yang ini agak sedikit 'begitu' ya…… mengecewakan atau apa ya, gayanya kayak bocah banget."

"Faktanya dia memang masih anak-anak…… Ingin terlihat hebat di depan adik itu adalah hal yang sangat normal."

Meski mereka berdua berkata begitu, sejujurnya menurutku dia hebat.

Dalam proses Ren mempelajari farmasi, aku juga ikut belajar sedikit.

Penggunaan obat itu sangat sulit; takaran, konsentrasi, rasio…… salah sedikit saja sifatnya bisa langsung berubah karena kondisi tertentu.

Obat itu sangat sensitif. Jika tidak manjur itu masih mending, tapi bisa-bisa malah jadi racun. Penanganannya benar-benar sulit.

Dari kombinasi yang hampir tak terbatas itu, menciptakan sesuatu yang lebih baik dari obat yang sudah ada adalah tantangan yang sangat berat.

Satu-satunya cara hanyalah dengan mengetahui dan mencoba berbagai macam racun dan obat seperti yang dilakukan Ren.

Karena itu, aku memegang tangan Leon dan memberikan pujian.

"Iya, Kak Leon benar-benar hebat ya."

"!??"

"Kak Leon adalah kebanggaanku. Aku sangat menghormatimu."

"……I-itu…… tentu saja, kan!? Haha! Hahahaha!"

Tiba-tiba Leon mulai terlihat salah tingkah. Wajahnya merah padam, apa dia sakit ya? ……Yah, sudahlah.

"……Aduh, kenapa kau malah jadi gugup begini, Leon de Saloum. Akhirnya hari di mana kau dihormati sebagai kakak telah tiba, harusnya kau senang saja, malu-malu begitu malah bikin malu tahu. ……Tapi, fufu. Rasanya lumayan enak juga ya, mendapatkan kepercayaan dari adik sendiri."

Leon mulai bergumam lagi, tapi lebih baik aku memastikan apakah obatnya bekerja dengan benar menggunakan Appraisal.

Aku memang tidak paham soal khasiat obat karena tidak punya pengetahuan medis, tapi jika aku menggunakan Appraisal pada setiap bagian terkecil tubuhnya, aku bisa memahami seberapa efektif obat itu secara relatif.

Berkat interaksiku dengan sihir setiap hari dan pemahaman yang semakin dalam lewat berbagai pengalaman, aku jadi bisa melakukan pengendalian yang sangat mendetail.

……Hmm, meskipun perlahan, keadaannya mulai membaik.

Kalau begini terus, sepertinya giliranku sudah selesai.

Kebetulan aku juga baru selesai membaca buku sihir, jadi mungkin aku akan pergi mencari buku baru.

Sambil membiarkan Leon yang masih senyum-senyum sendiri, aku pun keluar dari kamar medis.

Beberapa hari kemudian, akhirnya Albert tersadar kembali.

Karena perkembangannya stabil, Albert menundukkan kepala di depan kami semua yang berkumpul di kamar medis.

"Maaf sudah membuat kalian khawatir."

Sepertinya obatnya manjur karena wajahnya sudah terlihat jauh lebih segar.

Meski terlihat agak kurus, dia pasti akan segera sembuh total.

"Berkat bantuan kalian semua, aku bisa pulih. Izinkan aku berterima kasih satu per satu. ……Pertama, Lloyd. Kalau kamu tidak membawaku, mungkin keadaannya sudah terlambat. Terima kasih."

"Jangan dipikirkan. Aku hanya melakukan hal yang sudah seharusnya."

Aku melambaikan tangan menanggapi Albert yang membungkuk dalam-dalam.

Selama ini dia sudah banyak merawatku, kalau sampai terjadi apa-apa padanya, aku juga yang rugi karena tidak bisa mendapatkan fasilitas dari dia lagi.

"Lalu Kak Shneizel, terima kasih karena sudah menyempatkan diri kembali dari medan perang untuk menggantikan posisiku. Benar-benar maaf sudah merepotkan."

"Hal seperti ini wajar dilakukan seorang kakak."

Pangeran pertama, Shneizel de Saloum. Memiliki tubuh yang kekar dan otak yang cerdas, dia adalah dewa pelindung Saloum.

Agar kami bisa mempelajari hal-hal yang kami sukai, dia bersama pangeran pertama, Cruse, terus berlarian di medan perang sebagai jenderal untuk memberikan gertakan pada negara-negara sekitar.

Karena Albert pingsan, dia segera kembali dan menyerahkan pertahanan pada Cruse agar dia bisa menangani urusan dalam negeri.

Berkat itu, meskipun Albert tumbang, tidak terjadi kekacauan besar di kerajaan.

"Albert. Kamu memang orang yang bisa diandalkan, tapi terkadang kamu terlalu memaksakan diri melakukan semuanya sendirian. Jika ingin menjadi raja, belajarlah untuk mengandalkan orang di sekitarmu."

"Setiap hari aku selalu berusaha keras agar bisa mengejar Kak Shneizel. ……Tapi kalau sampai merusak tubuh sendiri, semuanya jadi sia-sia ya. Benar-benar memalukan."

Saat Albert menundukkan kepala, Shneizel memejamkan mata sebagai tanda setuju.

Dia adalah orang yang pendiam dan tegas, tapi sepertinya Albert menjadikan Shneizel sebagai tujuannya.

Sebaliknya, Shneizel juga terlihat sangat menghargai sifat Albert yang seperti itu.

Keduanya adalah kandidat terkuat pewaris takhta.

Namun mereka tetap saling menghormati satu sama lain…… benar-benar hubungan yang baik.

"Terakhir, Leon. Aku bisa pulih berkat obat yang kamu buat. Kamu adalah kebanggaanku."

"A—aaaa—terima kasih banyak, Kak Albert! S—s—saya merasa sangat tersanjung!"

Leon membeku kaku saat dipuji oleh Albert. Saking paniknya, dia bahkan tidak bisa bicara dengan benar.

"Tentu saja untuk yang lainnya juga. Maaf sudah merepotkan kalian."

"Sudahlah Kak Al, jangan sungkan begitu."

"Hal sekecil ini bukan masalah bagi kami."

Mendengar perkataan pangeran keempat, Dian, dan pangeran ketiga, Zerov, yang lain juga ikut mengangguk setuju.

Mereka semua adalah orang-orang yang bekerja menggantikan posisi Albert selama dia tidak ada.

Setelah Albert kembali menundukkan kepala pada semuanya, dia meregangkan tubuhnya dengan lebar.

"──Nah, karena tubuhku akhirnya sudah bisa digerakkan, sepertinya aku akan segera kembali bekerja."

"Tidak boleh, Kak Albert! Jangan memaksakan diri dulu! Anda baru saja sembuh, jadi tolong jaga diri untuk sementara waktu."

"Ta—tapi kalau begitu aku malah merepotkan semuanya……."

"Lagipula ini berlaku untuk semuanya juga!"

Leon mengeraskan suaranya. Dia memandang berkeliling pada kakak-kakaknya yang berkumpul di kamar medis.

"Kak Albert sudah pasti. Ayahanda juga sudah lanjut usia. Kak Zerov terlalu gemuk karena kurang olahraga. Kak Dian kemungkinan besar mengalami gangguan mata dan kulit karena terlalu sering bekerja di bengkel pandai besi. Kak Saria menakutkan karena otot wajahnya sama sekali tidak bergerak. Kak Alize selalu dikelilingi terlalu banyak hewan sehingga ada risiko terjangkit penyakit infeksi. Dan Kak Shneizel, tubuh Anda penuh luka sampai saya tidak sanggup melihatnya! Para pelayan juga wajahnya tidak ada yang terlihat segar. Kalau begini terus, aku tidak akan tenang kembali ke Assembler!"

"……"

Sepertinya perkataannya ada benarnya juga, karena semua orang di sana langsung membuang muka dan terdiam.

Yah, memang mereka semua biasanya suka bertindak nekat sih.

Apalagi karena Albert baru saja pingsan, mereka merasa ini bukan masalah orang lain lagi.

"──Ehem, maka dari itu. Besok kita akan mengadakan pemeriksaan kesehatan darurat."

"Pemeriksaan kesehatan?"

"Iya, sebenarnya di Assembler hal ini dilakukan setahun sekali. Sejak dimulai, usia harapan hidup penduduknya meningkat sampai sepuluh tahun, lho. Sebagai orang yang bekerja untuk negara, manajemen kesehatan itu sangat penting. ……Tentu saja termasuk kau juga, Lloyd. Kau selalu membaca buku di tempat gelap dengan posisi yang sama terus-menerus. Apa kau sadar akan kesehatanmu? Hah??"

"Eh, ya, lumayan sih……."

"Pokoknya tidak ada alasan! ……Karena itu, besok pagi jam delapan, semuanya kumpul di aula besar dengan pakaian yang mudah dilepas. Mengerti?"

Melihat ketegasan Leon, semuanya hanya bisa mengangguk pasrah.

"……Tapi Tuan Leon terlihat sangat bersemangat sekali ya."

Sylpha, si pelayan berambut perak, bergumam.

Meski saat ini dia sudah berganti pakaian putih khusus pemeriksaan, jadi aura pelayannya nol besar.

Dia juga akan menjalani pemeriksaan kesehatan…… tapi menurutku sebaiknya dia melepaskan pedangnya.

"Iya, katanya kami juga akan diperiksa. Ah, sepertinya mereka sengaja memanggil dokter wanita juga."

Begitu juga dengan Ren. Kami semua sedang dalam perjalanan menuju aula besar.

"Wuk!"

Omong-omong, Shiro juga akan diperiksa. Ternyata mereka juga melakukan diagnosis pada hewan, benar-benar negara maju medis. Keren juga.

"Hei, Lloyd."

Gadis berkacamata yang berjalan tepat di belakangku, Connie, berbisik di telingaku.

Karena satu dan lain hal, dia memiliki Raja Iblis di dalam tubuhnya, dan sekarang bekerja sebagai pelayanku.

"Pemeriksaan kesehatan sih boleh saja…… tapi apa tidak akan ketahuan? Tentang Raja Iblis Beals."

"Tidak apa-apa kok. Mungkin."

Kalau sampai ketahuan pun tinggal cari alasan seadanya saja.

Lagipula kalau dipikir-pikir, di dalam tubuhku sendiri juga ada iblis Grim dan malaikat Jiriel.

Saat sedang membicarakan hal itu, Dian dan Zerov berjalan bersama dari ujung koridor sana.

"Aduh, repot juga ya Kak Ze. Pakai pemeriksaan kesehatan segala. Tapi, apa kamu tidak merasa agak bersemangat?"

"……Aku malah merasa sangat cemas. Belakangan ini aku terus mengurung diri di dalam ruangan."

"Dahaha! Yah, anggap saja ini kesempatan bagus. Sekali-sekali ayo olahraga bersamaku!"

"Gnuuu…… kenapa sih manusia harus menggerakkan tubuh mereka……."

……Entah kenapa mereka berdua terlihat senang.

Keduanya ternyata sering jalan bareng ya.

Sifat mereka bertolak belakang, tapi sepertinya mereka cocok.

Lalu dari koridor sisi seberang, Saria dan Alize datang.

"Fufufu—sudah lama ya tidak melakukan pengukuran tinggi badan. Dulu kita sering melakukannya bersama ya, Kak Saria. Dulu aku masih kecil, tapi apa sekarang aku sudah tumbuh sedikit ya—?"

"Alize sih tumbuh terlalu banyak di berbagai bagian. ……Padahal aku sama sekali tidak berubah."

Saria menghela napas sambil bergumam sendiri. Apa yang sedang mereka bicarakan ya? Aku tidak mengerti tapi sepertinya bukan hal penting.

"Uooooohhh! Percakapan yang sungguh menggoda dari para wanita cantik……! Aku, aku benar-benar bersyukur datang ke sini……!"

……Sepertinya Jiriel sedang kegirangan, apa sebaiknya kusuruh diam saja ya?

"Apa perlu saya bungkam selamanya saja, Lloyd-sama?"

"Secukupnya saja ya."

Tepat saat aku bergumam demikian.

"Lloyd."

Aku tersentak kaget mendengar suara dari belakang. Shneizel.

Sejak kapan dia ada di belakang…… bikin kaget saja.

"Kak Shneizel juga mau diperiksa sekarang? Apa Anda juga punya kekhawatiran tertentu?"

"……Tubuh ini sudah bertahun-tahun kupaksa bekerja keras. Tidak aneh jika terjadi sesuatu. ……Lagipula, kalau sampai aku pingsan, aku tidak bisa memberikan contoh yang baik pada yang lain."

Shneizel memang hampir selalu berada di medan perang sih.

Kalau dewa pelindung Saloum sampai jatuh sakit, kita semua bakal susah.

"Tapi Kak Leon hebat ya. Di usianya yang baru sebelas tahun, dia sudah punya pengetahuan yang mengalahkan dokter. Sebagai adiknya, aku merasa bangga."

"Heh, kamu yang bicara begitu?"

Shneizel tertawa kecut. Ren, Grim, dan yang lainnya menatapku dengan tatapan yang sangat dingin, tapi mungkin itu cuma perasaanku saja.

"Tentu saja, aku pun menganggap Leon itu orang hebat. Tapi itu bukan karena bakatnya, melainkan murni karena jumlah usahanya."

"Usaha?"

Anggota keluarga kerajaan Saloum, mungkin karena garis keturunan mereka, semuanya menunjukkan berbagai macam bakat. Kupikir Leon juga begitu, tapi apa ternyata bukan?

"Kamu mungkin tidak ingat karena masih sangat kecil, tapi dulu Leon sangat ingin bermain bersamamu. Karena kamu adalah adik tepat di bawahnya, dia pasti ingin menyayangimu. Tapi sepertinya kamu memang tidak suka permainan anak-anak, kamu hanya baca buku terus dan hampir tidak pernah menanggapinya."

……Yah, membaca buku di setiap ada waktu luang memang sudah kulakukan sejak dulu sih.

Mau bagaimana lagi. Bagi aku yang bereinkarnasi, Kastil ini adalah gunung harta karun, aku tidak punya waktu luang untuk bermain dengan anak kecil.

"Mungkin karena dia merasa tersaingi olehmu yang terus membaca buku-buku sulit, Leon bertanya padaku tentang ilmu apa yang paling sulit dan paling berguna bagi orang lain. Tanpa pikir panjang aku menjawab kedokteran, dan keesokan harinya dia langsung mengajukan permohonan belajar ke luar negeri pada Ayahanda."

"Jadi begitu ceritanya…… Kak Leon sampai melakukan hal itu……"

Jika ada minat mungkin tidak masalah, tapi memusatkan tenaga pada hal yang tidak terlalu diminati itu sulit.

Aku sangat paham akan hal itu. Meski begitu, hanya karena rasa persaingan denganku, dia sampai menantang ilmu kedokteran yang membutuhkan segudang pengetahuan…… Leon memang hebat ya.

"……Aku bicara terlalu banyak. Entah kenapa kalau di depanmu aku jadi gampang bicara. ……Tolong rahasiakan hal ini, ya."

"Baik, aku tidak akan mengatakannya pada siapa pun."

Mendengar kata-kataku, Shneizel terbatuk kecil lalu segera pergi dengan langkah cepat. Sylpha menatap kepergiannya dengan mata terbelalak, lalu bergumam pelan.

"……Aku terkejut. Ini pertama kalinya aku melihat beliau berbicara sebanyak itu."

"Kak Shneizel memang irit bicara kalau soal perang, tapi tidak begitu kalau soal saudara-saudaranya."

Dulu waktu kami bertempur bersama di medan perang, dia sering mengkhawatirkanku dan saudara yang lain.

Begitu juga dengan Leon. Dia hanya sering salah paham karena dia pendiam dan wajahnya menakutkan, padahal aslinya dia sangat menyayangi adik-adiknya.

"Tapi kalau dipikir-pikir, sepertinya Tuan Leon memang sangat memperhatikan Lloyd ya."

"Karena Lloyd-sama adalah orang yang luar biasa. Wajar saja jika Tuan Leon memperhatikannya."

Sylpha mengangguk mantap. Kupikir itu cuma karena kami berjarak satu tahun saja sih.

"Lagian, dibandingin sama Lloyd mah manusia mana pun juga bakal ngerasa kurang. Pangeran pertama itu aja bukan tandingannya."

"Benar, posisi Leon yang usianya berdekatan justru adalah kesialannya. Punya adik seperti ini pasti membuatnya merasa sangat tidak berdaya."

Grim dan Jiriel mengangguk seolah merasa kasihan. Kalian ini sebenarnya menganggapku apa sih.

Pemeriksaan kesehatan pun dimulai.

Aula besar disekat menggunakan tirai, dan pintu masuknya dipisahkan antara laki-laki dan perempuan.

"Kalau begitu Lloyd-sama, kami ke sebelah sana ya."

"Iya, sampai nanti."

Setelah berpisah dengan Sylpha dan yang lainnya, aku masuk ke sisi laki-laki.

Dari balik tirai di sisi perempuan, terdengar suara tawa yang ramai. Sepertinya di sana sangat seru.

"Nuoooooo, padahal hanya terhalang selembar kain tapi di sana terbentang taman rahasia yang indah, sedangkan aku…… akuuuuu……!"

"Lloyd-sama, apa sebaiknya makhluk ini saya habisi saja sekarang?"

"……Secukupnya saja ya."

Sambil menanggapi mereka seadanya, aku menuju ke arah kakak-kakakku yang sudah berkumpul lebih dulu.

Di sana tidak hanya ada Dian dan yang lainnya, tapi juga Albert.

"Kak Albert ikut juga?"

"Iya, katanya kalau mau kembali bekerja, aku harus menjalani pemeriksaan kesehatan dengan benar. Repot juga ya."

Albert menggelengkan kepalanya. Bagi Leon, dia pasti tidak mau kalau Albert sampai nekat bekerja lalu pingsan lagi.

"Yosshhaaa! Ayo tanding, Kak Al! Waktu kecil aku selalu kalah soal tinggi badan dan lain-lain. Kali ini aku pasti akan menang!"

"Katanya yang diukur cuma tinggi badan, berat badan, dan penglihatan, Dian. Sepertinya tidak ada pengukuran kekuatan genggaman atau kekuatan lompatan seperti yang kamu mau."

"Apaa!? Serius!? ……Kalau begitu aku akan menang di bagian itu!"

"Tidak, bahkan hanya dengan melihat sekilas pun sudah jelas kalau Kak Albert lebih tinggi……."

"Belum tahu kalau belum dicoba!"

Saat Dian dan Zerov sedang berdebat, Shneizel maju ke depan. Perawat berpakaian putih mengukur tinggi badan dan berat badan Shneizel.

"E-eh…… tinggi badan 229 sentimeter, berat badan 144 kilogram…… benar-benar bentuk tubuh yang sangat indah dan mempesona."

"Umu."

Setelah menjawab singkat, Shneizel lanjut ke pengukuran berikutnya.

"……"

Melihat hasil pengukuran yang luar biasa itu, Dian hanya bisa terdiam seribu bahasa.

Omong-omong, tinggi badan Dian ternyata lebih pendek 5 sentimeter dibanding Albert.

Setelah itu, pengukuran berlanjut dengan lancar.

Ada tes pendengaran, tes penglihatan, tes darah, dan sepertinya mereka juga akan menggunakan alat semacam rontgen yang bisa memotret bagian dalam tubuh.

Wah, teliti juga ya pemeriksaannya.

Sebenarnya aku tidak terlalu suka disuntik karena rasanya sakit, jadi kalau bisa, aku ingin kabur saja.

"Ugh…… kepalaku pusing. Aku memang benci disuntik."

"Hahaha, kamu masih saja tidak tahan disuntik ya, Zerov. Tapi Kak Shneizel memang hebat. Wajahnya tidak berubah sedikit pun."

"Iya, padahal ototnya sangat tebal sampai jarumnya susah masuk saja sudah seperti siksaan, tapi dia bahkan tidak menggerakkan alisnya sama sekali. Kak Shna memang luar biasa."

Albert dan yang lainnya menatap Shneizel dengan penuh kekaguman sambil menekan bekas suntikan mereka, tapi kulihat kursi yang diduduki Shneizel sampai bengkok.

Sepertinya dia meremasnya kuat-kuat untuk menahan rasa sakit.

Menjadi orang berkekuatan super pun ternyata merepotkan ya.

"Nah, selanjutnya giliran Lloyd."

"Baik."

Aku pun tidak terkecuali dalam hal membenci suntikan, jadi aku akan sedikit berbuat curang di sini.

Tepat saat akan disuntik, aku menciptakan replika tubuh dari Mana yang teksturnya persis seperti kulit untuk ditusuk jarum.

Lalu, aku menciptakan lubang Mana mikro di dalam pembuluh darah dan menggunakan Spatial Transfer untuk memasukkan darah secara langsung ke dalam alat suntik. Dengan begini, aku tidak akan merasa sakit sama sekali.

"Aduh, aduh, membuat lubang Mana di dalam tubuh—apalagi di pembuluh darah—itu terlalu berbahaya tahu, Lloyd-sama. Itu jauh lebih berisiko daripada alat suntik."

"Benar sekali. Jika bukan Lloyd-sama yang memiliki ketelitian dan kontrol luar biasa, isi tubuh Anda pasti sudah terhambur ke dimensi lain dan lenyap dalam sekejap."

Grim dan Jiriel tampak sangat ngeri, tapi mau bagaimana lagi, aku kan benci disuntik.

Seharusnya mereka menciptakan teknologi untuk mengambil darah tanpa rasa sakit.

Setelah menyelesaikan semua pengukuran, kami membawa kertas hasil pemeriksaan menuju tempat Leon.

Leon membaca hasil yang tertulis di kertas itu dengan teliti, lalu memberikan saran kepada satu per satu orang.

"Kak Shneizel secara fisik sangat sehat, bahkan terlalu sehat. Kekuatan tubuh Anda bisa dibilang abnormal, tapi Anda terlalu sering memaksakan diri karena mengandalkan itu. Tolong lebih berhati-hati saat bertempur."

"Akan kuusahakan."

"Kak Albert, yah…… berdasarkan hasilnya, tidak ada masalah yang mengganggu pekerjaan. Tapi karena Anda baru saja sembuh, tolong sesuaikan aktivitas secara perlahan. Jangan memaksakan diri."

"Iya, aku akan berhati-hati."

"Kak Zerov, posisi tubuh Anda sudah mulai memburuk karena terlalu banyak bekerja di meja. Lakukan peregangan bahu dan leher selama tiga puluh detik sebanyak tiga set setiap hari, jangan malas ya. Lalu, Anda makan terlalu banyak. Kunyah sayuran lebih banyak daripada daging. Tentu saja, jangan lupa olahraga."

"Ugh…… b-baiklah."

"Kak Dian punya bentuk tubuh yang mendekati ideal. Tidak ada stres yang berarti, dan jumlah olahraganya juga cukup."

"Yosshhaaa! Aku menang dari Kak Al!"

"Tapi, hati-hati jangan terlalu banyak minum alkohol. Meskipun masih muda, kalau minum sudah jadi kebiasaan, itu akan berbahaya saat Anda tua nanti, jadi kurangi sedikit."

"……O-oke."

Dian yang tadinya bangga langsung pundung mendengar kata-kata tambahan itu.

Orang ini memang punya banyak kenalan di dalam maupun luar Kastil, jadi hampir setiap hari dia diundang ke berbagai acara.

Meski begitu, sepertinya tidak ada masalah besar pada dirinya, sama seperti kakak-kakak yang lain.

Ternyata lewat tes darah kita bisa mengetahui banyak hal ya.

Karena darah beredar ke seluruh tubuh, hanya dengan mengambil sebagian saja, kondisi seluruh tubuh bisa diketahui.

Dulu aku pernah mengukir formula sihir pada darah, waktu itu aku langsung mengukir sejumlah besar formula ke seluruh tubuh dalam sekali jalan.

Aslinya mungkin harus dialirkan sedikit demi sedikit mengikuti aliran darah dan diselesaikan perlahan-lahan ya.

Wah, tidak sangka aku bisa menemukan metode baru di tempat seperti ini.

Memang selalu ada penemuan sihir di mana-mana. Walaupun merepotkan, syukurlah aku ikut pemeriksaan ini.

"Nah, terakhir Lloyd…… hmm, tidak ada masalah. Padahal gaya hidupmu sangat tidak teratur, tapi anehnya tubuhmu sangat sehat."

Leon mendengus seolah merasa bosan, tapi sebenarnya aku ini lumayan memperhatikan kesehatan, lho.

Pola makan dan gaya hidupku sehari-hari dikelola dengan ketat oleh Sylpha dan yang lainnya.

Jika aku kekurangan waktu tidur, aku akan menggunakan sihir kontrol sistem untuk menggerakkan tubuhku saat latihan pedang sementara aku sendiri tidur nyenyak.

Lalu saat membaca, aku menggunakan sihir agar melayang sehingga bisa mengganti posisi tubuh sesuka hati, jadi tubuhku tidak akan kaku.

Di kehidupanku yang sebelumnya, gaya hidup yang berantakan membawa petaka, dan aku sering menderita karena kondisi fisik yang buruk.

Berbekal pengalaman itu, sekarang aku berusaha sebaik mungkin untuk menjaga diri.

"Dilihat dari sudut pandang mana pun harusnya itu gaya hidup yang sangat tidak sehat, tapi dia menjaga kesehatan pakai sihir dan segala macam…… benar-benar tidak ada celah ya."

"Nuooooh, aku juga mau dirawat oleh Sylpha-tan! Kalau itu tidak bisa, minimal izinkan aku pergi ke balik tirai itu!"

Jiriel yang wajahnya sudah babak belur mengerang kesakitan.

Sepertinya dia sama sekali tidak kapok. Grim pun hanya bisa menatapnya dengan jengah.

"Tapi, hmmm. Manajemen kesehatan ya. Sepertinya semua orang tidak terlalu peduli dengan kondisi fisik mereka sendiri."

Sekarang mungkin masih baik-baik saja, tapi kalau begini terus, suatu saat nanti mungkin akan ada lagi yang tumbang. Itu akan merepotkan.

Belum tentu Leon bisa menyelesaikannya lagi nanti, dan kalau kakak-kakakku yang hebat tidak bisa bekerja, itu pasti akan menghambat riset sihirku.

"Aku harus memastikan semuanya sehat dan panjang umur semaksimal mungkin…… Oh, benar juga."

Aku memikirkan ide bagus. Sambil tersenyum tipis, aku pun meninggalkan aula besar.

"Ooh, Lloyd. Jarang sekali kamu datang menemuiku atas kemauan sendiri. Ayah senang sekali."

Aku segera menjalankan rencanaku dan melangkah menuju tempat ayahku, Raja Charles.

Kepada Charles yang menyambutku dengan senyum lebar, aku bertanya.

"Ayahanda, bagaimana hasil pemeriksaan kesehatan tempo hari?"

"Mu…… ya, yaaa lumayanlah……."

Charles menjawab dengan nada segan.

Aku sempat menguping dari jauh, sepertinya dia kena omel cukup parah oleh Leon.

Mungkin karena faktor usia juga, dan yah, gaya hidup seorang raja memang kelihatannya tidak sehat bagi tubuh.

"Sebenarnya, berkat Kak Leon, aku jadi punya kesempatan bagus untuk memikirkan soal kesehatan…… Aku ingin Ayahanda, dan juga kakak-kakak, panjang umur. Karena itu, aku berpikir untuk mempelajari sesuatu dari ras umur panjang yang katanya tinggal di hutan di ujung timur Saloum."

"Umur panjang…… maksudmu ras Elf!?"

Elf adalah ras yang tinggal di hutan, yang mata pencahariannya adalah berburu dan meramu tanaman liar.

Karena selalu mengurung diri di hutan, mereka jarang terlibat mendalam dengan manusia.

Ciri fisik mereka adalah telinga yang panjang dan runcing, rambut emas yang indah, serta wajah yang rupawan.

Dan ciri paling utamanya adalah ras itu sendiri memiliki umur yang sangat panjang.

"Iya, mereka pasti punya semacam rahasia umur panjang. Aku berniat pergi ke sana untuk mempelajari pengetahuan itu."

"Ooh……! Anak yang sangat baik…… Padahal masih kecil tapi sudah begitu mengkhawatirkan kesehatan kami…… Aku dengar kamu tumbuh menjadi penyihir yang hebat, ternyata moralmu juga berkembang dengan baik ya. Seorang raja harus bisa menguasai hati orang lain untuk menyatukan rakyat. Tapi Lloyd sudah bisa melakukannya. Fufufu, aku jadi tidak sabar menantikan masa depanmu."

Charles bergumam sendiri sambil meneteskan air mata.

Tiba-tiba, dia kembali sadar dan melanjutkan perkataannya.

"Tapi Elf sangat jarang menampakkan diri di depan manusia. Bahkan di Saloum ini hampir tidak pernah ada laporan penampakan, dan desa mereka berada di dalam hutan lebat sehingga ras itu penuh misteri. Meskipun ingin bertemu, rasanya tidak akan semudah itu, kan? Apa rencanamu?"

"Tentu saja aku sudah bersiap. Sebenarnya aku sudah menemukan orang yang akan menjadi pemandu. Orang ini."

Bersamaan dengan jentikan jariku, pintu besar di pintu masuk terbuka.

Seorang pemuda dengan rambut emas panjang yang melambai masuk. Matanya sipit seperti garis tipis.

Telinganya memanjang, persis seperti ciri khas ras Elf.

"Ini Baron dari ras Elf. Aku mengenalnya saat pergi ke kota beberapa waktu lalu."

Mendengar perkenalanku, Baron berlutut dan menundukkan kepala dengan sopan.

"Salam, Raja Charles. Sebuah kehormatan bisa bertemu dengan Anda. Nama saya Baron, saya telah banyak berhutang budi pada Lloyd-sama. Kali ini saya ditugaskan untuk menjadi pemandu. Mohon kerja samanya. Kuku……."

"Luar biasa…… tak kusangka Lloyd punya kenalan Elf, aku benar-benar terkejut…… Oh, maafkan aku. Ini pertama kalinya aku bertemu orang Elf, jadi aku tidak sengaja terus memperhatikanmu."

"Jangan dipikirkan. Kami memang biasanya menyembunyikan telinga kami dengan topi atau semacamnya. Tapi Raja Charles, meskipun Anda bilang ini pertemuan pertama, sebenarnya mungkin saja kita sudah pernah bertemu beberapa kali, lho?"

"Apa!? Benarkah?"

"Iya, Saloum ini adalah negara yang sangat baik. Sebenarnya sejak dulu kami ras Elf sering keluar masuk ke sini. Kami menjual hasil hutan dari negeri kami, lalu membeli berbagai barang unik dari dunia manusia untuk dibawa pulang."

"Hm, begitu ya. Ternyata hanya kami yang tidak tahu, padahal hubungan dagang sudah ada sejak lama ya. Ternyata aku sudah pernah bertemu dengan ras legendaris tanpa menyadarinya, sungguh menyenangkan. Wahaha!"

"Benar sekali, Paduka. Kukuku……."

Keduanya tertawa seolah merasa hal itu sangat lucu. Tak lama kemudian, Charles menepuk lututnya.

"Ya, aku sudah mendengar banyak cerita menarik. Baron, jika menurutmu tidak apa-apa, maka tidak ada alasan bagiku untuk menolak. Tolong pandu Lloyd ke negeri Elf."

"Dengan senang hati."

"Lloyd, belajarlah banyak hal di negeri Elf nanti."

"Terima kasih, Ayahanda."

Aku membungkuk pada Charles, lalu meninggalkan ruang singgasana.

"Kerja bagus."

"Kuku, aku kaget tiba-tiba dipanggil. Ada apa, Lloyd-sama?"

Setelah kembali ke kamarku, aku melepaskan sihir yang kupasang pada Baron.

Yang muncul adalah pemuda berambut abu-abu pendek, Babylon.

Sama seperti Ren, dia adalah salah satu mantan anggota Gilda Pembunuh yang serba bisa dan terampil.

"Akting yang bagus, Babylon. Apa semuanya sehat-sehat saja?"

"Ya, saking sehatnya sampai bikin repot. Mereka semua juga ingin bertemu Ren."

Babylon mengobrol akrab dengan Ren.

Aku menggunakan Mirror Image padanya untuk mengubah penampilannya menjadi Elf, lalu memperkenalkannya pada Charles sebagai Baron, kenalan lamaku yang seorang Elf.

Soalnya kalau aku bilang mau ke negeri Elf tanpa pemandu, pasti aku tidak akan diizinkan pergi.

Syukurlah semuanya berjalan lancar.

"Tapi Lloyd-sama, Anda tahu banyak ya soal ras Elf. Apa jangan-jangan Anda pernah bertemu mereka?"

"Yah, begitulah."

Sebenarnya, aku dulu pernah pergi ke negeri Elf. Sosok Baron tadi adalah gabungan antara pemuda yang kulihat waktu itu dengan sosok Babylon.

"Kalau tidak salah itu sekitar tiga atau empat tahun yang lalu. Aku baca di buku kalau ada negeri Elf di hutan dekat Saloum, jadi aku mampir sebentar ke sana."

"Alasan Lloyd-sama pergi ke negeri Elf…… pasti soal sihir kan. Sudah pasti……."

"Lagipula aura pembicaraan ini, aku sudah punya firasat buruk……."

Babylon dan Ren entah kenapa sudah terlihat jengah, tapi aku tetap melanjutkan ceritanya.

"Hutannya seperti labirin. Kalau berjalan normal, kau tidak akan bisa masuk ke bagian dalam dan tidak akan pernah sampai ke pintu masuknya. Sepertinya seluruh hutan itu adalah kolam Mana yang besar. Hal itulah yang menyesatkan para penyusup."

Mana bumi yang kuat menyebabkan distorsi hebat pada daratan tersebut.

Sama seperti fenomena Cursed yang menyiksa Ren dan kawan-kawan, atau Connie yang dirasuki Raja Iblis, kemungkinan hutan ini juga termasuk jenis yang sama.

"Hutan Penyesat ya. Bahkan saat invasi pasukan iblis dulu, para Iblis pun tersesat dan tidak bisa masuk ke dalam. Yah, karena kelihatannya tidak ada keuntungan apa-apa, makanya kami abaikan saja. Ngomong-ngomong, Lloyd-sama lewat mana?"

"Mau bagaimana lagi, aku terbang lurus dan menembusnya."

"……Sudah kuduga bakal begitu."

"Ujung-ujungnya, tipu daya apa pun bakal tembus kalau kita terjang lurus saja ya. Yah, walau itu mustahil bagi penyihir biasa."

Grim dan Jiriel menunjukkan wajah jengah.

Sebenarnya aku ingin menaklukkannya lewat rute resmi sambil menelitinya, tapi waktu itu aku belum terlalu mahir mengendalikan Mana, dan kalau terlalu lama meninggalkan Kastil nanti bakal mencurigakan. Jadi, cara paksa adalah yang tercepat.

"Nah, aku sih akhirnya sampai di negeri Elf, tapi di pintu masuk sudah ada penjaga yang menunggu. Mereka tiba-tiba menyerangku, jadi aku kerepotan. Padahal aku tidak melakukan apa-apa tapi dianggap musuh, kejam sekali ya."

"Enggak, itu mah karena kamu masuk tanpa izin kali……?"

"Apalagi kalau dari ras lain, wajar saja kan kalau langsung diserang……."

Aku terus menjelaskan pada Ren dan Babylon yang makin ngeri.

"Meskipun begitu, aku berusaha keras menyelesaikannya secara damai, tapi mereka malah memakai api. Gara-gara aku menghindar, apinya malah menyambar hutan dan merembet luas. Karena aku tidak mau negeri Elf yang sudah susah-susah kukunjungi hangus terbakar, aku berusaha memadamkannya dengan sihir air. Tapi ternyata kecepatan apinya lebih cepat dari dugaanku…… Kalau aku melakukannya dengan kekuatan penuh, takutnya bakal ada korban jiwa. Ya ampun, waktu itu aku memang masih belum berpengalaman."

"! Kebakaran besar di hutan itu. Ternyata itu perbuatan Lloyd-sama!?"

"Aku tahu! Kebakaran misterius yang terjadi di Hutan Penyesat! Itu jadi heboh sekali tahu!"

Kalau tidak salah itu juga masuk berita besar di koran. Aduh, jadi malu. Jangan dipuji begitu, dong.

"Saya rasa itu sama sekali bukan pujian deh."

"Malah jatuhnya benar-benar bikin geleng-geleng kepala."

"……Ya pokoknya, akhirnya keadaannya jadi kacau balau. Jadi aku langsung meninggalkan negeri Elf begitu saja."

"Sadis banget!"

Suara mereka semua bersahutan dengan kompak. Jahat sekali. Bukan aku yang menyulut apinya, lho.

Aku hanya tidak menyangka para Elf itu bakal menyerang secara membabi buta.

Aku bahkan sudah membantu memadamkan apinya, harusnya aku ini termasuk orang baik, kan?

"……Nah, karena setelah itu aku belum pernah ke sana lagi, kupikir mumpung suasananya sudah tenang, aku ingin pergi melihat-lihat lagi. Soalnya waktu itu aku sama sekali belum sempat berkeliling negeri Elf."

"Aku yakin pasti bakal berakhir sama lagi……."

"Kali ini aku akan melakukannya dengan baik."

Sejak saat itu aku sudah banyak meneliti sihir, jadi pengendalian kekuatanku sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.

Kalau sekarang, meskipun dihujani ribuan panah api pun, aku bisa melenyapkannya dalam sekejap.

Aku juga punya sihir suci Purification untuk menghilangkan semua rasa permusuhan.

Seandainya hutan terbakar pun, aku tinggal melindungi para Elf dengan penghalang lalu menyiramnya dengan sihir skala besar Water Piercing Dragon.

Semua orang menatapku dengan penuh curiga, tapi kali ini aku yakin bisa berteman baik dengan para Elf.

……Pasti bisa. Percayalah padaku sedikit saja.

Keesokan harinya, saat aku sedang bersiap berangkat ke negeri Elf, Leon berjalan mendekat dengan langkah cepat.

"Ada apa, Kak Leon?"

"Lloyd, kudengar kamu mau ke negeri Elf ya."

"Kakak tahu saja."

"Ras Elf yang berumur panjang adalah subjek penelitian penting bahkan di Assembler, tapi mereka sangat waspada dan jarang mau bekerja sama. Meskipun begitu, hebat juga kamu bisa menemukan pemandu dengan mudah. Padahal sudah lama tidak bertemu, ternyata bakat jeniusmu makin terasah ya. Itulah Lloyd yang kukenal."

Leon mendekat sambil bergumam sendiri, tapi suaranya tertutup oleh suara persiapan kami jadi tidak terlalu terdengar. Leon berdiri tegak di depanku, lalu menunjukku dengan tegas.

"Tapi yang mencemaskan semua orang bukan cuma kamu. Aku juga akan ikut!"

"Eh? Ah—itu tidak bisa."

"Kenapaaaaa!?"

Leon terlihat sangat syok, tapi kalau dia ikut, aku jadi tidak bisa bertindak bebas, kan? Itu merepotkan, jadi aku memberi kode pada Babylon untuk menolaknya.

"Yang saya izinkan hanya Lloyd-sama. Maaf, meskipun Anda adalah saudaranya, saya tidak bisa memandu Anda. Mohon pengertiannya."

"Lloyd boleh tapi aku tidak boleh……?"

Wajah Leon langsung menegang kesal. Waduh, itu bisa memancing emosinya. Namun Babylon mengedipkan mata padaku dan melanjutkan bicaranya.

"Bukan begitu maksud saya. Saya hanya ingin mengatakan bahwa Anda punya tugas tersendiri. Menganalisis informasi yang dibawa pulang oleh Lloyd-sama secara instan, menelitinya, dan menyebarkannya—itu adalah hal yang hanya bisa dilakukan oleh Anda yang punya segudang pengetahuan medis, bukan?"

"Hal yang hanya…… bisa kulakukan……"

Tadinya aku khawatir, tapi ternyata dia berhasil dikelabui dengan sempurna.

Tadi sempat tegang sebentar…… hmmm, Babylon jago bicara juga ya.

Dia sengaja menjatuhkan mental lawan lalu mengangkatnya lagi. Hebat juga.

Aku tidak akan bisa melakukan itu. Leon terdiam dan mulai berpikir.

"……Begitu ya. Sebagai negeri Elf yang selama ini menolak orang luar, aku paham kalau mereka tidak mau menerima orang dalam jumlah banyak. Tapi kalau hanya satu anak kecil, mungkin masih bisa ditoleransi."

"Benar sekali, seperti yang diharapkan dari kakak Lloyd-sama. Anda sangat cerdas."

"──Artinya, kau menyuruhku mencari pemandu sendiri, kan?"

"Hah?"

Mendengar kata-kata Leon, aku spontan mengeluarkan suara konyol.

Eh, kenapa jadi begitu?

Namun Leon hanya mendengus bangga.

"Fufun, tidak masalah. Kalau Lloyd bisa, tidak mungkin aku tidak bisa! Kita lihat siapa yang sampai di negeri Elf lebih dulu, Lloyd!"

Sambil berkata begitu, Leon menyibakkan poni rambutnya dan pergi begitu saja.

……Yah, sudahlah. Mencari pemandu Elf itu tidak semudah itu, dia pasti akan segera menyerah.

Akhirnya hari keberangkatan pun tiba.

Yang ikut denganku adalah Sylpha sebagai pengawal sekaligus pelayan, Ren, dan Babylon (Baron).

Connie menjaga rumah. Kalau Beals yang ada di dalamnya mengamuk, bisa-bisa terjadi perang dengan para Elf.

"Hmph, aku tidak tertarik pada kroco macam Elf. Lebih baik aku juga pergi dari sini sebentar."

"Begitu ya?"

"Iya, aku berniat kembali ke dunia iblis sebentar.

Aku sudah terlalu lama pergi, sesekali aku harus pulang.

Ada hal yang harus kuselesaikan juga."

"Wah, kedengarannya seru. Apa aku ikut saja ya……"

"Kenapa Lloyd-sama malah mau ikut juga sihhh!?"

Grim langsung memprotes, tapi hal yang menarik memang tidak bisa ditahan.

Tapi karena aku sudah berpamitan pada Charles dan yang lainnya, kali ini aku tidak bisa ikut. Sayang sekali.

"Lain kali aku pasti akan ke sana! Sambut aku dengan meriah ya."

"Baiklah. Nantikan penyambutan yang sempurna dariku."

"Janji ya. ……Ah, tapi apa Connie juga akan dibawa ke dunia iblis?"

"Tidak. Karena tubuh Manaku sudah mulai stabil, aku saja sudah cukup. Tapi karena proses pemisahannya butuh waktu, gadis ini tidak mungkin bisa ikut dengan kalian."

Connie dan Beals memang sudah menyatu, tapi karena dulu pernah kupisahkan, ikatannya jadi melemah.

Jika butuh beberapa hari, pemisahan total pun sangat mungkin dilakukan. Itulah sebabnya dia bisa pulang kampung sendirian.

"Aku akan jaga rumah saja jadi tidak apa-apa. Hati-hati ya kalian berdua."

"Umu, sampai jumpa lagi nanti."

"Iya, kamu juga hati-hati ya."

Saat kami hendak keluar dari Kastil Saloum setelah berpamitan, saat itulah.

"Tunggu, tunggu, tungguuuu—!"

Terdengar suara teriakan dari belakang. Saat menoleh, aku melihat Leon yang terengah-engah bersama kereta kuda dan prajurit yang sudah siap.

"Hah, hah…… hmph, kebetulan sekali ya. Kami juga baru mau berangkat."

"Kak Leon, maksudnya baru mau berangkat itu—"

"Tentu saja, aku sudah menemukan Elf yang akan memandu kami melewati hutan."

Leon tersenyum licik dan memberi kode, lalu seorang gadis berkerudung putih maju satu langkah.

Tinggi badannya sedikit lebih pendek dari Sylpha.

Rambut emasnya yang indah tersembunyi di balik kerudung, dan telinganya yang panjang tampak bergerak sedikit.

Yang paling penting adalah frekuensi Mana yang mengalir di dalam tubuhnya, benar-benar berbeda dari manusia.

Tidak salah lagi, dia adalah Elf asli.

"Kami akan dipandu olehnya melewati hutan. Ayo, perkenalkan dirimu."

"……Fiona, namaku."

Saat gadis itu membungkuk, poni rambutnya yang menjuntai sampai ke bulu mata bergoyang lembut.

"Hou, namanya Fiona-tan ya. Tipe gadis cantik yang belum pernah ada sebelumnya. Mata misterius yang entah apa yang dipikirkannya, aura kewanitaan yang memancar dari luar, dan yang paling penting adalah 'aset' luar biasa yang bahkan kata 'subur' pun terasa kurang pas untuk menggambarkannya……! Luar biasa. Barang sebagus itu sangat jarang bisa ditemui……!"

"Pikiranmu cuma itu saja ya!"

Grim langsung memukul kepala bagian belakang Jiriel yang sedang tertawa menjijikkan sampai dia tersungkur.

Hmm, jadi itu Elf asli ya, bukan palsu seperti Baron.

Di mana ya dia menemukannya?

Saat aku sedang kebingungan, Sylpha dan Ren berbisik di telingaku.

"Beberapa hari yang lalu Tuan Leon menyebarkan pengumuman di kota. Bahwa siapa pun yang bisa memandu melewati Hutan Penyesat akan diberikan hadiah apa pun yang diinginkan."

"Kabarnya Gilda Petualang sampai heboh karena pengumuman itu."

"Heh, hebat juga ada yang benar-benar datang."

Seperti yang sudah kubilang, Elf memang terkadang turun ke pemukiman manusia, tapi mereka sangat waspada dan tidak pernah mengungkap identitas aslinya.

Apalagi memandu manusia sampai ke negeri mereka sendiri…… apa itu mungkin?

Jangan-jangan dia punya niat buruk……

Saat aku sedang curiga, Fiona perlahan mendekat ke arahku.

"Kamu…… Lloyd…… Sama?"

"? Iya, benar……"

Wajahnya tanpa ekspresi, tapi matanya terbuka lebar dan tidak mau beralih dariku.

Begitu Fiona melangkah satu kali lagi—dia tiba-tiba memelukku.

Baru saja aku menyadari kalau aku didekap oleh sesuatu yang terasa sangat empuk, detik berikutnya— Hawa membunuh yang luar biasa menyebar di sekitar.

Saat tersadar, aku sudah dilepaskan dan Fiona sudah tergantung di udara dengan kedua tangan yang melambai-lambai.

Yang mencengkeram kerah bajunya adalah Sylpha dengan tatapan mata yang sangat dingin.

"……Akan kubunuh kau."

"Eh, Sylpha-san!? Tenanglah! Dia tercekik itu!"

"Memang sedang mencekik, kok. Fufu…… Aku adalah pelayan eksklusif Lloyd-sama. Menyingkirkan pengganggu berbahaya yang tiba-tiba mendekat adalah tugasku. Terutama wanita yang tiba-tiba memeluk, dia adalah target pembantaian kelas satu. Fufufufufu."

Sylpha tersenyum tipis. Jangan dibunuh, jangan dibunuh.

Dasarnya dia memang pelayan yang hebat, tapi kalau sudah menyangkut diriku, dia gampang sekali emosi.

"Sudah cukup, Sylpha."

"……Baik."

Setelah kuhentikan, Sylpha akhirnya menurunkan Fiona.

Sayang sekali kalau Elf asli yang menarik ini sampai terbunuh tidak sengaja.

Meski begitu…… aku melirik sedikit, wajah Fiona terlihat seperti orang yang sedang linglung.

Padahal sudah dihujani hawa membunuh sehebat itu, tapi wajahnya tidak berubah sedikit pun.

Sepertinya dia punya mental yang sangat kuat.

Sambil merasa kagum, Fiona berbalik ke arah Sylpha dan menundukkan kepalanya.

"Maaf, tadi…… aku tidak tahu kalau itu perbuatan tidak sopan, aku refleks melakukannya."

Mendengar permintaan maaf yang jujur itu, kemarahan Sylpha seolah langsung luntur.

Dia menghilangkan hawa membunuh yang tadi bergejolak gelap, lalu menghela napas.

"Yah, baiklah. Mungkin aku juga agak keterlaluan bicara tadi. Tapi tidak ada jaminan kalau kau bukan orang mencurigakan yang ingin berbuat buruk pada Lloyd-sama. Kelakuan yang memalukan…… khem, memancing rasa iri tadi itu wajar saja kalau membuat orang salah paham. Berhati-hatilah agar tidak melakukannya lagi."




“…Iya, maaf.”

Aku merasa pasti ada alasan lain selain itu, tapi rasanya percuma jika aku mendebatnya di sini, jadi lebih baik aku diam saja.

Tapi melihat reaksinya tadi, apa mungkin Fiona benar-benar tidak tahu soal norma di sini?

Kebiasaan bisa saja berbeda jika rasnya berbeda.

Mungkin saja di kalangan Elf ada salam berupa pelukan mendadak.

Mungkin itu juga alasan kenapa Sylpha bisa memaafkannya dengan begitu mudah.

Hmm, tapi seingatku waktu aku mengunjungi negeri Elf dulu, alih-alih sambutan hangat, aku malah dihujani anak panah.

Kenapa bisa begitu ya……?

Saat aku sedang memiringkan kepala keheranan, Ren berbisik di telingaku.

"……Hei, apa dia itu kenalanmu, Lloyd? Kelihatannya kalian dekat sekali."

"Tidak, aku sama sekali tidak mengenalnya."

"……Masa, sih? Bukan karena kamu lupa saja, kan?"

Ren menatapku dengan mata menyipit penuh keraguan.

Ditanya begitu pun…… aku hanya bisa menjawab 'mungkin tidak', dan itu cukup menyebalkan. Bukannya sombong, tapi aku memang bukan tipe orang yang percaya diri dengan daya ingatku.

"Mungkin mereka yang ingat sendiri kejadian saat Lloyd-sama pergi ke negeri Elf dulu? Yah, itu cuma tebakanku saja, sih."

"Pasti tanpa sadar Anda sudah menolongnya. Itulah kenapa dia memiliki perasaan suka dan datang sejauh ini. Masuk akal juga jika kita menganggap dia menjawab panggilan kakak Anda hanya demi bertemu dengan Lloyd-sama."

"Hmm……"

Teori Grim dan yang lainnya ada benarnya juga.

Ada kemungkinan aku pernah menolongnya secara asal tanpa kusadari.

Walaupun aku benar-benar tidak ingat sama sekali.

Kalau begitu, gawat juga kalau dia sampai bicara di depan Leon dan yang lainnya soal aku yang pernah mengunjungi negeri Elf di masa lalu. Sepertinya aku harus sedikit bersandiwara di sini.

"Wah, Kak Leon hebat sekali ya. Baru memanggil sedikit saja, Elf langsung datang memenuhi panggilan. Wibawa Kakak luar biasa sekali. Aku sih tidak akan sanggup melakukannya."

"Hm? ……Haha, begitu ya? Yah, begitulah. Hehe."

Aku langsung menyambar Leon yang sedang merasa senang.

"Sebenarnya si Baron ini bilang kalau dia ingin minta maaf karena kemarin sempat bicara tidak sopan pada Kak Leon…… Katanya dia lebih ingin ikut dengan Kak Leon daripada denganku. ……Iya kan, Baron?"

"Eeeh!? ……E-eh…… iya…… saya benar-benar minta maaf atas kejadian waktu itu. Sebagai permintaan maaf, izinkan saya memandu Anda."

Babylon pun menanggapi permintaan asal-asalan dariku.

Kerja bagus, Babylon.

"Hm…… maksudmu, kita bertukar pemandu begitu?"

"Iya, Baron ini sangat hebat. Kupikir akan lebih efisien jika dia membantu Kak Leon yang punya peluang besar menemukan negeri Elf…… Bagaimana?"

"……Hmm."

Leon mendengus sambil menundukkan wajahnya sedikit.

"Kalau begitu mau bagaimana lagi! Fiona ini kelihatannya kenalanmu, dan lagipula tugas seorang kakak adalah mengabulkan permintaan adiknya. Kalau begitu Baron, aku mengandalkanmu."

"Siap, laksanakan segala perintah Anda!"

Sambil berbalik, Babylon mengedipkan sebelah mata padaku lalu melangkah menuju kereta kuda Leon.

Sekalian saja, aku memintanya untuk mengambil jalan memutar yang agak jauh.

Tapi syukurlah. Setidaknya pengganggunya sudah berhasil disingkirkan. Untuk saat ini aku bisa bernapas lega.

"Jadi, namamu Fiona, kan? Siapa sebenarnya dirimu?"

"Saya adalah pemandu. Saya datang untuk membawa Lloyd-sama menuju hutan."

"Apa maksudnya itu?"

"Saya tidak tahu. Saya tidak punya ingatan lain. Saat sadar saya sudah ada di sini…… dan membawa Lloyd-sama…… hanya itu yang saya ingat."

Aduh, aduh, kecurigaannya sama sekali belum hilang, nih.

Tolonglah bicara pakai dipikir sedikit.

Padahal kewaspadaan Sylpha sudah mulai kendur, eh sekarang dia mulai memancarkan hawa membunuh lagi.

"Wanita ini benar-benar mencurigakan, Lloyd-sama. Jangan-jangan ini semacam jebakan?"

"Mungkinkah para Elf yang hutannya pernah dibakar itu mengirim anak ini untuk merencanakan semacam balas dendam?"

Grim dan Jiriel juga merasa curiga, tapi dia tidak sedang berbohong.

Sejak tadi aku sudah menggunakan Appraisal untuk mencari tahu ingatan Fiona, dan jika dia berbohong, setidaknya pasti akan terlihat tanda-tanda kegelisahan.

Kehilangan ingatan maupun niatnya untuk memanduku, keduanya adalah kebenaran, ya…… Menarik.

"Baiklah. Pandu aku, Fiona."

"Lloyd-sama! ……Apa Anda yakin?"

"Iya, kalau ada apa-apa kan kamu yang akan melindungiku, Sylpha."

"……Tentu saja."

Setelah sempat ragu sejenak, Sylpha akhirnya mengangguk pasrah.

Bagaimanapun juga, Sylpha sangat mempercayaiku, jadi kalau aku menyuruhnya ikut, dia akan patuh meski dengan setengah hati.

"Yah, dia pasti tahu kalau Lloyd-sama bisa membereskan masalah apa pun tanpa kesulitan. Ini namanya kepercayaan atau wibawa ya…… atau jangan-jangan fanatisme?"

"Sylpha-tan kan punya sisi masokis yang mengejutkan. Dia terlihat senang sekali diperintah oleh Lloyd-sama. Fuhihi, Sylpha-tan yang seperti itu juga bagus!"

Sambil mengabaikan gumaman Grim dan Jiriel, aku merasa sangat antusias untuk menuju ke negeri Elf.

"Kalau begitu Shiro, tolong bawa kami sampai ke hutan ya."

"Onn!"

Setelah meninggalkan Saloum, kami menuju Hutan Penyesat dengan menunggangi Shiro, monster peliharaanku.

Shiro yang punya bulu sangat lebat ini bisa menyimpan beberapa orang di dalam bulu tubuhnya.

Bagian dalamnya adalah ruang yang nyaman, hampir tidak terasa guncangan, dan posisi duduknya pun sangat pas.

Kami bisa melihat pemandangan luar melalui sihir, dan dengan sihir angin, udaranya pun tidak terasa pengap.

Benar-benar sangat nyaman.

"Ah, itu rombongan Tuan Leon. Harusnya mereka berangkat lebih dulu, tapi sepertinya kita sudah menyusul mereka."

"Kecepatan Shiro tidak bisa dibandingkan dengan kuda. Itu sudah sewajarnya."

"Akan merepotkan kalau ketahuan. Shiro, ambil jalan memutar."

"Onn!"

Shiro mengambil rute memutar sesuai perintahku.

Padahal kami berpisah dengan dalih bertanding siapa yang lebih dulu sampai ke negeri Elf, jadi tidak perlu repot-repot bersentuhan.

Saat Shiro melompati tebing dengan lincah, tiba-tiba.

"Oya, sepertinya aku melihat anjing yang kukenal, nih."

"Suara itu……!"

Aku mendengar suara yang tidak asing dari atas kepala.

Saat aku mengeluarkan kepala dari bulu lebat Shiro, di atas sana ada Tao, si gadis dari negeri asing yang sedang melompat.

Bisa menyusul dan melompati Shiro yang sedang berlari kencang, kemampuan fisiknya masih hebat seperti biasa.

"Bukankah kau Tao? Ada apa?"

"Aku sedang latihan. Aku sedang berburu monster di sekitar sini karena ada permintaan, tapi tiba-tiba monsternya menghilang semua. Begitu kutemukan, ternyata penyebabnya adalah Shiro."

Meski terlihat seperti ini, Shiro adalah monster yang sangat kuat.

Mananya bisa mengintimidasi dan mengusir monster di sekitarnya.

Begitu ya, ternyata kami mengganggu latihan Tao. Maaf ya.

"Anda ini benar-benar muncul di mana saja ya. Saya tidak memanggil Anda, jadi silakan pulang."

"Geh, si pelayan. Aku juga tidak mau bertemu denganmu! Ah, tapi kalau Lloyd sih boleh saja."

Sylpha dan Tao saling bertukar tatapan tajam yang memancarkan percikan api.

Ini sudah yang keberapa kalinya ya?

Saat aku sedang bingung, Tao menyadari keberadaan Fiona.

"……Hm? Anak itu, mungkinkah dia seorang Elf?"

"Kau tahu soal Elf?"

"Yah, begitulah. Di negaraku, Elf itu tidak asing lagi. Aku sudah sering mengobrol dengan mereka, ada juga yang tinggal di kota bersama manusia, bahkan ada yang menikah."

Pemukiman Elf tidak hanya ada di hutan itu saja, tapi tersebar di seluruh dunia.

Elf di benua ini memang sangat waspada, tapi di negeri asing kabarnya mereka cukup ramah.

"Sebenarnya begini ceritanya……"

"Hmm—Begitu ya. Kalau kalian mau ke negeri Elf, si Tao-chan yang hebat ini boleh saja ikut menemani. Aku kan tahu banyak soal Elf, apalagi aku ini kuat dan cantik. Tidak ada alasan untuk menolak, kan!"

"Saya menolak dengan hormat."

"Aku tidak tanya padamu! Pelayan sialan!"

Hm, meski keuntungannya hampir tidak ada, mungkin aku bisa mendengar cerita soal Elf dari negeri asing. Jika ada perbedaan mendetail, itu bisa menjadi pemicu bagiku untuk mengunjungi negeri asing juga, jadi sepertinya boleh juga kalau dia ikut.

"Baiklah. Ayo pergi bersama."

"Yatta! Begitu dong!"

"Eeeh……"

Sylpha menunjukkan wajah tidak senang, tapi sepertinya aku harus memintanya untuk bersabar.

Banyak teknik Tao yang bisa diaplikasikan ke sihir, dan sudah lumayan lama juga kami tidak pergi bersama.

Aku juga ingin melihat sejauh mana perkembangannya.

Dan jika ada yang bisa dimanfaatkan untuk sihir, aku akan mempelajarinya. Hmm, hmm.

"Bicara soal Elf, mereka itu ras yang isinya orang-orang tampan. Waktu di kampung halaman dulu aku masih kecil jadi tidak dipedulikan, tapi kali ini aku ingin mendekati mereka. Mereka itu pemalu, jadi kalau dipepet terus…… nyufufufufu."

Tao bergumam sendiri sambil memasang senyum menjijikkan, tapi karena Sylpha langsung mendorongnya masuk ke dalam bulu Shiro, suaranya jadi tidak terlalu terdengar.

……Yah, tidak usah terlalu dipikirkan. Aku pun ikut membenamkan tubuhku di dalam bulu lebat Shiro.

Setelah berlari beberapa saat, hutan lebat yang sangat luas mulai terlihat.

"Oh, sudah kelihatan. Itu hutannya."

Saat terbakar dulu, bagian tengahnya benar-benar gundul, tapi sepertinya sekarang sudah pulih dan hutan yang rimbun telah membentang kembali.

Wah, daya pemulihan alam memang luar biasa ya.

"Kerja bagus, Shiro."

"Kuuun."

Aku mengelus kepala Shiro sambil memandangi arah hutan.

Dulu karena merepotkan aku langsung menerobos masuk dari depan, tapi kali ini karena ada Fiona sebagai pemandu, sebaiknya kami lewat rute resmi saja.

Aku juga ingin melihat langsung mekanisme sihir di hutan ini.

"Nah, kalau begitu tolong pandu kami ya, Fiona."

"Serahkan padaku, Lloyd-sama. ──"

Fiona memejamkan mata dan menggumamkan sesuatu.

Seketika, rumput-rumput yang tumbuh di bawah kaki merunduk, dahan-dahan pohon melengkung, dan sebuah jalan mulai terbentuk di dalam hutan.

"Ooh, jalannya tercipta terus-menerus!"

"Ini sihir, kan? Rasanya aneh sekali."

"Bukan sihir elemen pohon…… kelihatannya lebih dekat ke Bloodline Magic. Sepertinya dia mengintervensi hutan itu sendiri dengan Mana yang memiliki karakteristik unik. Struktur sihir yang sangat aneh. Menarik sekali."

Hutan labirin ini tercipta karena endapan Mana bumi.

Kemudian para Elf mengukir struktur sihir selama bertahun-tahun di sana, hingga terciptalah Hutan Penyesat yang menyesatkan dan menolak penyusup.

Kemungkinan ini adalah labirin alami yang diciptakan oleh puluhan penyihir tingkat tinggi…… semacam altar pemujaan mungkin ya.

Tanpa pemandu, mustahil bisa berjalan di dalam hutan ini.

"……Yah, walau Lloyd pernah menerobosnya dengan mudah sih. Ngomong-ngomong, aku baru kepikiran, apa rencanamu untuk Babylon yang ikut Tuan Leon? Dia kan tidak bisa pakai sihir semacam itu."

"Aku sudah memberinya alat sihir buatan Connie. Dengan itu, dia tidak akan terpengaruh oleh gelombang Mana yang dipancarkan Hutan Penyesat."

Kemarin aku sudah melakukan investigasi awal di Hutan Penyesat, sepertinya gangguan sihirnya akan aktif saat mendeteksi gelombang Mana milik manusia.

Alat sihir yang kuberikan pada Babylon punya efek untuk memblokir hal itu.

Harusnya dia bisa sampai di negeri Elf tanpa tersesat.

"Eeeh…… kalau punya barang seperti itu, harusnya sejak awal tidak butuh pemandu, dong……?"

"Tidak, tidak begitu. Kalau aku pergi sendirian nanti bisa memicu pertempuran lagi seperti dulu, tapi kalau bersama sesama ras mungkin mereka tidak akan terlalu waspada."

Asumsinya aku akan membiarkan Babylon yang menyamar jadi Elf untuk membereskannya, tapi kali ini karena ada Fiona yang merupakan Elf asli, pasti semuanya akan berjalan lancar.

……Kalau tidak lancar ya, tinggal dipikirkan nanti saja.

"Oh, jalannya sudah terbuka. Kerja bagus, Fiona. Ayo Lloyd, cepat berangkat!"

"Berhenti mencoba menggandeng tangan dengan santainya begitu."

"Eh, kau sendiri juga memegang tangannya!"

"Kalau aku tidak apa-apa. Tapi Anda dilarang menyentuhnya."

"Memangnya kau siapa yang berhak menentukan begitu!"

Tao dan Sylpha bertarung memperebutkan tanganku.

Tanpa memedulikan pertengkaran itu, aku pun melangkahkan kaki masuk ke dalam hutan.

Kami terus berjalan menyusuri hutan.

Meski begitu, berkat Fiona, kaki kami tidak terhambat oleh rumput atau dahan pohon, rasanya sangat nyaman.

Tapi membosankan juga kalau cuma jalan kaki terus.

Monster yang muncul juga terlalu lemah, mereka langsung dibantai dalam sekejap oleh Sylpha dan yang lainnya begitu menampakkan diri.

"Fiona, apa ada sesuatu yang mulai kau ingat?"

"Tidak……"

Ingatan Fiona juga tidak kunjung kembali ya.

Saat aku sedang berpikir apa ada hal menarik lainnya, Tao tiba-tiba menyela.

"Hmm, hilang ingatan ya? Kalau begitu aku punya titik saraf yang manjur, nih. Teknik Aura Needle lewat titik saraf…… contohnya yang ini untuk membuka hati, yang ini untuk mengatur kondisi organ dalam, dan yang ini titik saraf untuk kecantikan."

Tao mulai menjelaskan sambil menunjuk ke arah kepala.

Titik saraf ya. Ngomong-ngomong aku pernah baca di buku kalau ada hal seperti itu dalam ilmu medis negeri asing.

Katanya dengan merangsang bagian tertentu pada tubuh, kita bisa mendapatkan berbagai macam efek.

"Dan di sini adalah titik saraf yang mengatur pusat ingatan. Kalau ditusuk di sini, ingatanmu pasti kembali. Wah, aku baru saja mempelajarinya dan ingin mencobanya. Kau beruntung sekali, Fiona♪"

"T-Tao-san? Tunggu sebentar, entah kenapa aku punya firasat buruk……"

Ren yang merasakan aura tidak beres mencoba menghentikannya, tapi Tao sama sekali tidak peduli dan malah membunyikan jari-jarinya.

Oho, apa ini? Kelihatannya dia akan melakukan sesuatu yang menarik.

"Tenang saja, tenang saja. Ayo Fiona, rileks saja ya."

"Baik."

"Iya, iya, percayakan saja tubuhmu padaku begitu♪"

"Aku sih yakin dia cuma tidak paham situasinya saja……"

"Kalau begitu, ini dia—teyaaah!"

Sambil berkata begitu, Tao menusukkan jarum dari hawa keberadaan yang dipusatkan di ujung jarinya ke bagian kepala Fiona.

Tanpa ragu sedikit pun, dia menusukkannya dengan mantap. Uwaa, kelihatannya sakit.

"Fiona-san!?"

Ren segera berlari mendekat, tapi Fiona tetap membuka matanya lebar-lebar seolah tidak terjadi apa-apa. Dia bahkan tidak berkedip sekali pun.

"……Bagaimana?"

"……Tidak…… tidak terasa apa-apa……"

Sayangnya, sepertinya tidak ada efeknya. Melihat hal itu, Sylpha memberikan tatapan merendah.

"Wanita ini benar-benar keterlaluan karena menggunakan pengobatan palsu. Aku sampai ngeri melihatnya."

"Eh, ini benar-benar manjur tahu! Bahkan orang pikun pun bisa langsung ingat kembali kalau ditusuk di situ! Hmm, aneh ya. Apa aku salah sasaran?"

"Yang aneh itu Anda sendiri. Bukankah sebaiknya Anda menusuk kepala Anda sendiri dulu?"

"Nunaa! Akan kutusukkan pedang ini ke kepalamu yang tidak sopan itu!"

Seperti biasa keduanya mulai bertengkar, tapi saat kulihat dengan Appraisal, memang benar kalau Fiona kehilangan ingatannya.

Gadis ini memang benar-benar aneh.

Saat aku sedang memiringkan kepala keheranan, aku menyadari kalau Fiona sedang terpaku melihat pertengkaran mereka berdua.

"……Aneh sekali. Mereka berdua sedang bertengkar, tapi entah kenapa kelihatannya mereka senang……"

"Fufuh, mereka berdua itu sebenarnya akrab, lho. Begitulah kalau sudah terlalu akrab, sampai sering bertengkar. ……Ah, tapi jangan bilang-bilang ya. Mereka berdua bakal marah kalau dibilang begitu."

"Marah……?"

"Soalnya mereka malu. Teman itu memang ada sisi seperti itu juga…… Agak bikin iri ya. Oh iya! Fiona, ayo jadi temanku!"

"Teman……?"

"Yah, aku merasa kita punya kesamaan, seperti aura keberadaan kita yang agak tipis begitu? ……Yah, walau bentuk tubuh kita jauh berbeda sih!"

Tanpa memedulikan Fiona yang terpaku mendengar kata-kata mendadak itu, Ren langsung memegang tangannya.

Memangnya aura Ren tipis ya?

Yah, dibandingkan Sylpha dan yang lainnya memang ada bagian yang tidak bisa dihindari sih.

Meski begitu, sifat ramah Ren adalah kelebihannya yang sangat besar.

"Jadi oke, kan!? Sip, sudah diputuskan! Kalau begitu, mohon bantuannya ya!"

"……I-iya."

Melihat Fiona yang mengangguk meski sempat terbata-bata, Ren tersenyum puas.

Seolah terpengaruh oleh senyuman itu, wajah datar Fiona rasanya sedikit melunak.

"Manusia di sana, berhenti!"

Tiba-tiba, sebuah suara bergema dari atas kepala.

Meski mereka bersembunyi di pepohonan yang rimbun, aku bisa melihat mereka dengan Clairvoyance.

……Elf. Sekitar sepuluh orang Elf sedang mengepung kami sambil menyiapkan busur panah di atas pohon.

"Aku tidak tahu bagaimana kalian bisa masuk sampai sejauh ini, tapi kalian tidak boleh melangkah lebih jauh lagi!"

"Tunggu dulu, tenanglah. Kami datang bukan untuk bertempur—"

"Tidak perlu banyak bicara!"

Anak panah ditembakkan seolah ingin memotong perkataanku.

Namun, sebelum anak panah itu menyentuhku, ia sudah terbelah menjadi dua.

Bahkan sebelum semua orang menyadari fakta itu, tebasan Sylpha kembali berayun.

Sesaat setelah bunyi dentingan tajam bergema, pepohonan di sekitar ditebas hingga tumbang.

"Dowaaaaa!? Apa-apaan ini!?"

"Gyaaah!? A-apa yang terjadi!?"

Di tengah kepulan debu tanah, para Elf terbangun sambil kebingungan.

Aduh, aduh, kan sudah kubilang pelan-pelan dulu saja.

"……Mohon maaf. Saya tidak bisa membiarkan orang-orang yang mengarahkan anak panah pada Lloyd-sama tetap diam saja……"

"Tenang saja. Orang-orang yang dijatuhkan pelayan itu semuanya sudah kutangkap. Fufun, kalian harus berterima kasih padaku."

Tepat sebelum jatuh, Tao melepaskan jarum hawa keberadaan untuk menusuk pakaian para Elf yang terjatuh sehingga mereka bisa mendarat dengan selamat.

Meskipun mereka terlihat sangat ketakutan, setidaknya tidak ada yang terluka, jadi aku lega.

"Siapa pemimpinnya? Aku ingin bicara."

"……A-aku."

Seorang pemuda yang kakinya lemas mengangkat tangannya, lalu aku berjongkok di depannya.

Dia berteriak kecil ketakutan, padahal kupikir dia tidak perlu setakut itu.

"Sudah kubilang tadi, aku tidak ingin bertempur tapi ingin berdialog. Kalau kalian bisa bersikap tenang, itu akan sangat membantu."

"M-manusia jahat! Kami tidak akan tunduk pada orang-orang seperti kalian!"

Semangatnya saja yang besar, tapi suaranya gemetar dan meninggi.

Hmm, gawat nih. Sepertinya mustahil untuk bicara baik-baik.

"Tentu saja, Lloyd-sama. Pelayan perak dan gadis asing itu saja kemampuannya jauh di atas mereka. Apalagi menghadapi Lloyd-sama yang memimpin mereka, mustahil mereka tidak ketakutan."

"Terutama Elf punya kemampuan mendeteksi Mana yang sangat tinggi. Mereka pasti bisa merasakan kekuatan Lloyd-sama lewat alam bawah sadar mereka."

Kalau begitu apa yang harus kulakukan ya…… Oh, benar juga.

Aku akan coba teknik titik saraf yang dilakukan Tao tadi.

Aku memusatkan hawa keberadaan di ujung jari hingga meruncing seperti jarum.

……Hmm, kalau tidak salah titik saraf untuk membuka hati itu di sekitar sini ya.

"……Pussu!"

"Guhwaaaaa!?"

Pemuda Elf itu berteriak kencang, lalu kepalanya terkulai lemas.

Hmm? Apa aku salah sasaran ya?

Saat aku sedang membidik ulang, pemuda itu mengangkat wajahnya pelan-pelan lalu menatapku sambil tersenyum lebar.

"Wah wah, mohon maaf sekali. Tadi saya sempat terbawa suasana…… saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Izinkan kami membantu Anda sekalian."

"Kapteeen!? A-apa yang terjadi!?"

"Anda lihat ke mana! Sadarlah!"

"Ufufufu, ahahaha……"

Meskipun diguncang-guncang, si kapten itu terus tertawa aneh.

Sepertinya dia tidak mendengar perkataan Elf lainnya.

……Uwaah, alih-alih membuka hati, ini mah efeknya terlalu manjur. Sepertinya aku menusuk titik saraf yang aneh.

"Dia pasti berlutut di hadapan kekuatan Lloyd-sama. Keputusan yang bijak."

"Hebat juga ya Lloyd. Kau sudah mulai terbiasa mengendalikan hawa keberadaan."

……Yah, Sylpha dan Tao kelihatannya tidak terlalu memedulikannya, jadi harusnya tidak apa-apa.

Terlepas dari itu, jika efek titik sarafnya memang asli, kenapa tadi ingatan Fiona tidak kembali ya?

Memang ada sesuatu yang aneh dengan gadis ini.

"Sekarang, silakan tanyakan apa saja."

"Iya, kalau begitu aku tidak sungkan. ……Tapi sebelum itu, kalian ini orang-orang dari negeri Elf, kan?"

"Siap, kami adalah pasukan penjaga hutan dari Kerajaan Elfrieden. Kami diperintahkan untuk segera mengusir siapa pun yang mendekat."

"Maaf soal itu. Kalau begitu, bisakah kau bicara pada orang-orang di atas sana agar mengizinkan kami masuk?"

"Tentu saja, itu urusan gampang!"

Setelah memberi hormat, si kapten pergi sambil memimpin anak buahnya yang terlihat heran. Bagus, bagus, dengan begini sepertinya kami bisa masuk ke negeri Elf dengan tenang.

"Ah, tunggu sebentar. Apa kalian kenal anak ini?"

"Gadis itu? Entahlah…… sepertinya saya tidak pernah melihatnya."

Aku bertanya pada para penjaga soal Fiona, tapi semuanya hanya bisa memiringkan kepala.

Kupikir kalau ada kenalan, ingatannya bakal kembali, tapi kalau tidak ada ya mau bagaimana lagi.

"Aneh ya. Elf itu ras yang sangat menghargai ikatan sesama ras. Harusnya mereka tidak akan pernah lupa wajah sesama anggota pemukiman mereka."

"Mungkin skala pemukiman di negeri asing dan di benua ini berbeda. Apalagi mereka sampai menyebutnya kerajaan."

Padahal seingatku waktu aku mengunjungi negeri Elf dulu, penduduknya paling cuma sekitar seribu orang, semacam negara kecil begitu.

Jika yang dikatakan Tao benar, harusnya tidak aneh kalau mereka mengenalnya…… yah, karena mereka ini pasukan penjaga, mungkin saja mereka memang tidak mengenal semua orang.

"Kalau begitu, tolong bantuannya ya—"

"Serahkan saja pada kami!"

Sambil mengantar kepergian rombongan penjaga itu, kami memutuskan untuk menunggu di tempat.

"Sambil menunggu, mari kita siapkan teh. Ren, bantu aku."

"Baik!"

"Woi pelayan, siapkan juga bagianku ya."

"Akan kusiapkan teh dari daun bambu yang kupetik di sekitar sini untuk Anda."

"Jangan anggap aku panda!"

Saat Sylpha dan yang lainnya sedang sibuk menyiapkan jamuan teh di tengah keributan itu, saat itulah.

"……Biar saya yang menyiapkannya."

Tepat setelah dia bergumam, kedua tangan Fiona mulai bersinar keemasan.

Seiring dengan itu, pepohonan di sekitar mulai berdesir dan berubah bentuk.

Di bawah kaki kami tercipta permadani dari dedaunan, di bagian tengah ada meja kayu dan kursi sesuai jumlah orang.

Bahkan dahan pohon yang memanjang seperti pelayan menuangkan teh yang terbuat dari dedaunan, dan di wadahnya tersedia potongan buah kering sebagai teman minum teh.

Seolah menandakan selesainya persiapan meja makan, dedaunan di atas kepala terbuka dan cahaya matahari mulai menyinari tempat itu.

"Wah…… hebat banget, Fiona! Kamu benar-benar menyiapkan tempat minum teh dalam sekejap!"

"Elf memang punya kekuatan misterius untuk memanipulasi pepohonan, tapi…… aku belum pernah melihat ketepatan dan kecepatan seperti ini."

"Aroma tehnya tidak buruk, dan camilan manis berupa buah kering serta kacang-kacangan ini sangat cocok dengan tehnya…… Kamu cukup paham juga ya."

Sebagai ras yang hidup berdampingan dengan hutan, para Elf memang sangat mahir dalam menggunakan sihir elemen pohon.

Dia pasti menyeduh teh dari remasan pucuk daun dan air yang ditarik langsung dari pepohonan, lalu mengeringkan buah dan kacang-kacangan sebagai pelengkapnya.

Tetap saja, kecepatan dan presisi ini luar biasa. Jika aku diminta melakukan hal yang sama hanya dengan sihir elemen pohon, aku pun akan merasa kesulitan.

"Ya, ini enak, Fiona. Kamu hebat juga."

Tehnya sendiri memiliki rasa yang agak ringan, namun saat diminum bersama buah kering, aroma buahnya merebak di dalam mulut, dan kacang-kacangannya memberikan tekstur yang pas di tenggara yang kering.

Hasil yang luar biasa. Sylpha dan yang lainnya juga tampak mendesah puas.

Menikmati jamuan teh di tengah hutan ternyata terasa sangat berkelas.

"……Hanya bagian ini saja yang terkadang membuatku dipuji."

Ekspresinya tetap datar seperti biasa, namun profil wajahnya entah mengapa terlihat sedikit tersenyum.

Dipuji? ……Apa dia mengingat sesuatu?

Jika benar begitu, mungkin vas itu memang ada efeknya.

"Yah, menurutku dia mulai membuka hatinya sedikit demi sedikit, Tuan. Dibandingkan awal-awal, ekspresinya sekarang jadi lebih kaya, 'kan?"

"Mustahil bagi Lloyd-sama untuk merasakan kehalusan perasaan seperti itu. Menyerahlah, wahai Iblis."

……Rasanya aku baru saja mendengar sesuatu yang sangat tidak sopan.

Kalian benar-benar seenaknya saja bicara tentangku, ya.

"Hebat ya. ……Ah, tapi jangan-jangan peranku malah terebut……?"

Ren mendadak memasang wajah serius saat menyadari sesuatu.

Hubungan semacam ini mungkin yang biasa disebut sebagai 'teman tapi rival'. Berjuanglah, Ren.

Tepat saat kami selesai meminum teh dan beristirahat sejenak, para penjaga tadi kembali.

"Mohon maaf telah membuat Anda menunggu. Sang Ratu bersedia menemui Anda sekalian. Silakan lewat sini."

"Kalau begitu, tolong pandu kami."

"Baik! Serahkan pada kami!"

Dipandu oleh para penjaga yang sekarang menjadi sangat patuh, kami melangkah masuk ke dalam hutan hingga menemukan akar pohon raksasa yang saling tumpang tindih.

Akar-akar yang saling melilit itu menjulang tinggi, menyatu dengan dahan dan daun hingga puncaknya tak terlihat.

Benar-benar terlihat seperti sebuah dinding.

"Ternyata mereka bersembunyi di tempat seperti ini. Pantas saja negara Elf tidak pernah ditemukan."

"Umu, sekilas ini hanya terlihat seperti bagian dari hutan biasa. Langkah pencegahan penyusupnya benar-benar sempurna."

Bisa dibilang ini adalah kamuflase sekaligus dinding pertahanan.

Semakin dekat ke sini, kabutnya semakin tebal, dan jika tidak tahu jalannya, tidak akan ada orang yang terpikir untuk menerobos masuk.

Omong-omong, terakhir kali aku datang ke sini lewat jalur udara, jadi hal-hal seperti ini tidak berpengaruh bagiku.

Penjaga itu menempelkan tangannya ke dinding pohon sambil merapalkan sesuatu, lalu sebuah pintu terbuka dan kami pun dipersilakan masuk.

Begitu melewati dinding tersebut, sebuah kota terbentang di hadapan kami.

"Wah…… jadi ini negara Elf! Nuansa eksotisnya terasa sekali, cantik sekali!"

Ren berlari-lari sambil menoleh ke sana kemari, tapi kalau dia tidak memperhatikan jalan, dia bisa menabrak sesuatu.

Meski skalanya kecil, gairah di kota ini tidak kalah dengan Saloum.

Padahal saat terakhir kali aku berkunjung, suasananya jauh lebih suram……

"Mengingat tempat ini pernah Anda bakar, ternyata pemandangan kotanya masih tersisa dengan cukup indah ya, Lloyd-sama."

"Wajah orang-orangnya pun cerah, sama sekali tidak terlihat seperti kota yang pernah dihancurkan habis-habisan oleh Lloyd-sama."

Oi, oi, bukan aku yang menyulut apinya, tahu.

Aku merasa keberatan jika dianggap sebagai penyebab utama dari semua kekacauan itu.

"Lihat itu, Lloyd! Ada pohon yang luar biasa besar!"

Di ujung jari yang ditunjuk Tao, sebuah pohon raksasa yang tak masuk akal berdiri tegak di pusat kota.

Batangnya seukuran puluhan rumah yang dijajarkan, dengan ketinggian yang membuat puncaknya tak kasat mata.

Benar-benar pohon raksasa yang mengintimidasi.

"Itu adalah World Tree."

World Tree adalah pohon suci yang telah ada sejak zaman kuno di tanah ini dan telah membesarkan banyak kehidupan.

Khususnya pohon yang berada di tengah benua ini, konon katanya sudah tumbuh sejak dunia ini pertama kali diciptakan.

"Jadi itu yang legendaris…… Ini pertama kalinya aku melihatnya dari dekat."

"Hoheee, di negara asing juga ada pohon sejenis, tapi yang ini levelnya beda jauh!"

Sylpha dan yang lainnya mendongak menatap World Tree dengan suara kagum.

Kalau diingat kembali, saat kunjungan terakhirku, hutannya sedang terbakar jadi aku tidak sempat melihatnya baik-baik.

Dilihat seperti ini, pohon ini memancarkan energi sihir yang luar biasa. Benda ini kemungkinan……

"Anu…… apa tidak apa-apa jika kita lanjut menuju istana?"

"Maaf, maaf. Tolong bantuannya, ya."

Waduh, gawat. Saat ini yang satu ini harus diprioritaskan.

Dipandu oleh para penjaga, tujuan kami adalah pangkal dari World Tree.

Di sana, sebuah istana dibangun dengan bentuk yang seolah menyatu ke dalam bagian dalam pohon tersebut.

"Jadi itu istananya. Dibangun di tempat yang unik, ya."

"Daripada itu, tatapan di sekitar sini benar-benar mengganggu."

Sylpha menghela napas sambil memperhatikan sekeliling.

Sejak tadi, para Elf yang melintas di jalan memberikan tatapan yang aneh kepada kami.

"Hei, lihat itu. Manusia sungguhan."

"Heh—, jadi itu yang digosipkan……"

"Ya ampun. Telinga mereka benar-benar pendek ya."

Para Elf itu berbisik-bisik sambil melemparkan pandangan penuh rasa ingin tahu.

Hanya saja, aku tidak merasa ada kebencian di sana. Padahal saat aku datang sebelumnya, mereka jauh lebih waspada.

Bahkan meski kami dipandu oleh kaum mereka sendiri, kurangnya rasa tegang ini terasa agak aneh.

"Kira saya para Elf membenci manusia, tapi ternyata mereka menerima kita dengan cukup baik ya."

"Setidaknya mereka seharusnya punya kewaspadaan yang tinggi. Itulah alasan kenapa selama ini mereka menghindari kontak dengan manusia, 'kan?"

Sylpha dan yang lainnya pun merasa heran.

Di tengah keheranan itu, Tao menunjuk ke arah taman yang ada di dekat sana.

"Patung itu, bukankah mirip dengan Lloyd?"

Saat aku melihat ke arah pusat alun-alun, sebuah patung bocah misterius telah didirikan di sana.

Tingginya hampir sama denganku, dan mengenakan pakaian yang mirip…… entahlah, perasaanku saja atau memang begitu.

"Kalau dibilang mirip, memang mirip sih. Malahan kalau dilihat-lihat, patung itu ada di mana-mana di kota ini ya."

"Ada tulisan di bawah patungnya. Apa ini? ……Pahlawan penyelamat negeri, sosok agungnya terpatri di sini. Jangan-jangan Lloyd, kamu pernah ke sini sebelumnya?"

"A—Apa yang kamu katakan! Mana mungkin begitu~ ahahaha……"

Tao dan Ren menatapku lekat-lekat.

……Gawat. Entah mengapa, aku merasa mereka menaruh kecurigaan yang aneh padaku.

Saat aku kebingungan menghadapi tatapan dingin mereka, Sylpha menggelengkan kepala seolah menganggap hal itu omong kosong.

"Bodoh sekali. Lihat baik-baik, kalian berdua. Sosok Lloyd-sama jauh lebih mulia dari ini."

Munzu, Sylpha mengangkatku dan menyejajarkanku dengan patung itu agar mereka berdua bisa melihat.

"Lihat, matanya tidak setajam ini, dan raut wajahnya tidak terlihat sebodoh ini. Dilihat dari mana pun, ini adalah orang yang berbeda, 'kan?"

"Eh…… menurutku mirip banget, lho……"

"Lagipula kalau patung kayu, memang susah untuk dibuat persis. Ini masih masuk kategori sangat mirip, tahu."

Mendengar ucapan Sylpha, mereka berdua menyipitkan mata dan membandingkan wajahku dengan patung itu. Hentikan, ini memalukan.

"Tapi bukankah ini aneh? Menurut cerita, kaum Elf seharusnya mendendam pada Lloyd-sama. Tapi kenapa patung seperti ini malah didirikan?"

"Melakukan hal sejauh itu tapi dianggap pahlawan itu aneh. Tatapan orang-orang di jalan juga tertuju pada Lloyd-sama, dan sikap penjaga tadi juga mendadak berubah di tengah jalan……"

Benar juga. Kalau dipikir-pikir, mengizinkan pendatang tiba-tiba untuk bertemu Ratu itu juga agak aneh.

Muu…… bocah yang mirip denganku itu, sebenarnya siapa sih dia……

"Tidak, tidak mungkin ada orang lain selain Lloyd-sama!"

"Bukankah Anda sendiri yang bilang pernah berkunjung ke sini beberapa tahun lalu!"

Ugh, sepertinya memang begitu, ya.

Sambil menerima cercaan dari Grim dan Jiriel, kami pun melangkah masuk ke dalam istana.

Istana yang dibangun di dalam rongga World Tree itu juga terbuat dari kayu, dan aroma kayunya entah mengapa membuat hati terasa tenang.

Bagian dalam istana tidak terlalu luas, dan dalam sekejap kami sudah sampai di ruang singgasana.

"Selamat datang, para manusia sekalian. Saya adalah Ratu dari ras Elf, Vivian Leelia Elfried. Senang bertemu dengan Anda."

Yang menyambut kami adalah Ratu Elf yang dikelilingi oleh para prajurit.

Penampilannya sangat cantik dan anggun…… mungkin itu deskripsi yang tepat, tapi sejujurnya bagiku para Elf punya wajah yang hampir mirip jadi agak susah diingat.

Karena mereka ras yang berumur panjang, usia mereka terasa tidak jauh berbeda, dan satu-satunya cara membedakannya hanyalah lewat pakaian, yang mana itu cukup merepotkan.

"Saya Pangeran Ketujuh dari Kerajaan Saloum, Lloyd di Saloum. Senang bertemu dengan Anda juga."

"Oh, jadi Anda yang orang itu…… Saya sudah sering mendengar rumornya. Penyihir jenius kebanggaan Saloum, yang meski baru berusia sepuluh tahun, namanya sudah masuk dalam bursa calon pewaris takhta. Rumor itu sudah menggema hingga ke negara ini."

Dia mengatakannya sambil tersenyum…… Serius nih?

Aku tahu para Elf sering menyelinap ke kota di bawah istana, tapi aku tidak menyangka informasi bisa sampai ke tempat seperti ini.

"Anda terlalu memuji. Itu hanya rumor tanpa dasar. Saya tidak punya hak waris takhta, saya hanyalah pangeran ketujuh santai yang hanya disuruh hidup bebas. Mungkin Anda salah sangka dengan kakak-kakak saya yang lebih hebat."

"Fufu, mari kita anggap saja begitu."

Vivian menyunggingkan senyum penuh arti. Bahkan Sylpha dan yang lainnya ikut mengangguk-angguk.

Rasanya ada kesalahpahaman luar biasa yang menyebar, tapi sudahlah, tidak ada gunanya terlalu dipikirkan.

"……Ngomong-ngomong Lloyd, sepertinya saya pernah melihat Anda di suatu tempat…… Apa Anda pernah berkunjung ke sini sebelumnya?"

Deg, apa patung bocah itu benar-benar aku? Vivian menatapku tajam. Gawat, aku harus mencari cara untuk mengelak.

"T—Tidak, tidak! Mana mungkin! Itu hanya perasaan Anda saja! Hanya perasaan!"

"Hm…… Benar juga ya. Mohon maaf. Bagi kami, wajah bangsa manusia terlihat hampir sama. Sepertinya Anda orang yang berbeda dengan sosok yang berkunjung sebelumnya. Mohon maaf atas kelancangan saya."

"Ya, jangan terlalu dipikirkan. Haha, hahaha……"

Fuh, untung saja masalah 'sulit membedakan wajah' berlaku untuk kedua belah pihak.

Namun jika patung bocah itu memang aku, satu pertanyaan muncul.

Entah mengapa para Elf sepertinya tidak memiliki perasaan buruk terhadap perbuatanku yang dulu. Padahal aku dihujani panah begitu banyak, apa yang sebenarnya terjadi? ……Coba kutanyakan saja.

"Anu, ngomong-ngomong, apa orang yang berkunjung sebelumnya itu adalah bocah yang dijadikan patung di berbagai sudut kota?"

"Benar. Bocah itulah pahlawan yang telah menyelamatkan negeri kami. Tiga tahun lalu, kami bangsa Elf dilanda kelaparan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di hutan, buah dan sayuran tidak bisa dipanen dalam waktu yang lama, dan karena tidak ada makanan, hewan-hewan pun pergi. Seluruh negeri kekurangan bahan pangan. Apakah kami harus meninggalkan hutan, atau menunggu ajal bersama…… Kami berdebat setiap hari namun tak menemukan jawaban. Di tengah keputusasaan fisik dan mental kami, bocah itulah yang muncul. Kami yang sejak lama menghindari manusia merasa bingung dan langsung melancarkan serangan kepada bocah yang tiba-tiba muncul itu. Namun, bocah itu sama sekali tidak mempedulikannya, dia hanya diam menerima serangan-serangan kami."

Umu, itu pasti aku.

Tapi ternyata ada situasi seperti itu, ya. Berarti alasan mereka mendadak menyerangku karena mereka sedang dalam kondisi sensitif.

"Di tengah pertempuran, tiba-tiba api muncul dan membakar hutan. Kami tidak pernah menggunakan panah api atau sihir agar tidak merusak hutan. Kemungkinan besar bocah itulah yang melakukannya dengan suatu cara…… namun sampai saat ini kami tidak tahu pasti apa yang dia lakukan."

──Ah, aku ingat.

Kalau tidak salah, waktu itu aku terkejut karena tiba-tiba dihujani panah, jadi aku refleks menangkisnya dengan Fireball.

Saat itu aku belum bisa mengaktifkan Magic Barrier secara permanen. Aku berniat langsung memadamkannya, tapi ternyata tidak padam sepenuhnya dan malah merembet. Iya— itu sebuah kegagalan.

"Ternyata benar-benar Lloyd-sama yang melakukannyaaaaa!"

"Sesuai dugaan saya. Benar-benar Lloyd-sama, sosok yang tidak pernah mengecewakan ekspektasi."

Grim dan Jiriel tampak tercengang dan jengah, tapi itu hal yang wajar.

Aku pun tidak bisa melakukan segalanya dengan sempurna. Terutama dulu, aku masih punya banyak sisi amatir.

Yah, sebut saja itu kesalahan masa muda. Anggap saja itu satu lembar halaman masa remaja yang pahit. Aku pun sudah tumbuh dewasa sekarang.

"Saat kami kebingungan, tanpa sadar api sudah padam dan bocah itu menghilang. ……Di hadapan kota yang telah menjadi puing, kami hanya bisa terpaku tak berdaya."

Oh, bagian itu aku ingat jelas.

Aku berkeliling memadamkan api yang meloncat ke mana-mana dengan sihir. ……Yah, meskipun tetap saja banyak yang hangus sih.

"Namun sejak saat itulah, kehidupan kembali ke hutan ini. Pepohonan tumbuh rimbun, buah-buahan berbuah lebat, hewan-hewan bertambah banyak, dan negeri ini kembali ke bentuk asalnya dalam sekejap. ……Kami yang merasa aneh pun mencari penyebabnya dan mengetahui tentang suatu penyakit di negara manusia. ──Death Tree Disease, sebuah penyakit yang menyerang pepohonan, membuat mereka tidak bisa berbuah dan berubah menjadi pohon kematian. Kecepatan penyebarannya sangat luar biasa, dan jika terlambat ditangani, seluruh hutan akan hilang. Satu-satunya cara menanganinya adalah dengan membakar hutan itu sekali saja. Pada pohon yang terbakar, ditemukan jejak bahwa mereka memang terjangkit penyakit tersebut. Kemungkinan besar bocah ini mengetahui segalanya dan sengaja membakar hutan. Menjadikan dirinya sendiri sebagai penjahat……! Berkat itu, kami bisa kembali hidup di tanah ini, dan kami pun memuja bocah penyelamat negeri itu sebagai pahlawan."

"He— heee—…… Jadi begitu ya……"

Ya ampun. Aku sama sekali tidak menyangka terjadi situasi seperti itu saat aku berkunjung ke negara Elf tanpa rencana.

"Death Tree Disease ya, itu penyakit di mana di hutan tua, pohon-pohon kuno menyerap semua nutrisi sehingga tunas baru tidak bisa tumbuh. Jika tidak membersihkan pohon tua secara berkala, itu penyakit menakutkan yang bisa membunuh seluruh hutan."

"Aku pernah dengar kalau membakar kayu akan menjadikannya pupuk dan menjadi sumber kehidupan baru. Jika dia membakar hutan dengan perhitungan itu, bocah itu sungguh berpengetahuan luas."

"Hm, setidaknya dia punya kemiripan dengan Lloyd-sama. Bocah yang luar biasa."

Sylpha dan yang lainnya mengangguk-angguk setuju.

Ini benar-benar kebetulan belaka…… tapi sepertinya perbuatanku saat itu tidak akan dipermasalahkan. Syukurlah kalau begitu.

"Berkat bocah itu, kami sadar bahwa di antara manusia pun ada orang-orang baik. Dan betapa bahayanya jika kami menutup diri dari dunia…… Karena itulah, belakangan ini muncul gerakan di kalangan kami untuk berhenti mengisolasi diri. Kami menyambut kehadiran kalian sekalian."

Aku mengangguk menanggapi senyuman Vivian.

Begitu rupanya. Ternyata suasana penyambutan ini berasal dari sana.

Apa pun itu, berkat hal ini reputasi kami naik dengan sendirinya dan mempermudah pergerakan kami.

Mari anggap ini sebagai hasil yang menguntungkan.

Nah, setelah mendengar hal yang diperlukan, mari lanjut ke topik utama sebelum aku dicecar lebih jauh.

"Ehem, langsung saja, izinkan saya masuk ke topik utama. Kami berkunjung ke sini untuk mempelajari rahasia kesehatan dari ras Elf yang berumur panjang. Apa kami boleh belajar banyak hal di sini?"

"Tentu saja. Kami para Elf pun belajar banyak hal dari bangsa manusia. Silakan berkeliling dengan santai."

"Terima kasih banyak. Ini adalah barang tanda terima kasih kami. Mohon diterima."

Aku membentangkan barang oleh-oleh yang kubawa.

Ada pedang sihir yang kubuat dulu, golem kecil yang kubuat dari bahan seadanya, alat sihir pemberian Connie yang katanya sudah tidak dipakai, dan lain sebagainya.

"Oh…… Semuanya adalah barang luar biasa yang membuat siapa pun berdecak kagum. Terima kasih banyak."

Vivian dan para Elf lainnya membelalakkan mata karena terkejut.

Sepertinya mereka senang menerimanya.

"Padahal ini benar-benar cuma cuci gudang inventaris……"

"Tetap saja mereka terkejut, bukan? Karena ini adalah barang buatan Lloyd-sama, jadi wajar saja."

Cuci gudang itu bahasa yang kasar sekali.

Aku hanya membawa tumpukan barang rongsok—maksudku barang menganggur yang muncul dalam jumlah besar saat aku merapikan gudang.

"Kami sangat berterima kasih atas kebaikan Anda. Saya berjanji akan menyiapkan pemandu dan penginapan terbaik selama Anda berada di sini."

"Suatu kehormatan jika Anda menyukainya. ……Ngomong-ngomong, ada satu hal yang ingin saya tanyakan, apa Anda mengenal gadis ini?"

Aku menyodorkan Fiona ke depan, namun Vivian menggelengkan kepala.

"Mohon maaf, tapi……"

Vivian menggeleng. Muu, Ratu pun tidak tahu ya.

Kemampuan Fiona tergolong hebat bahkan untuk ukuran Elf. Karena keturunan bangsawan biasanya memiliki kekuatan sihir yang besar, aku sempat berpikir mungkin dia mengenalnya, tapi sepertinya tebakanku meleset.

Yah, asalkan tetap di sini, cepat atau lambat pasti akan bertemu dengan seseorang yang mengenalnya. Tidak ada gunanya terlalu dipikirkan.

Kami dipandu menuju sebuah penginapan indah yang berada tepat di samping istana.

Setelah selesai makan dan mandi untuk melepas lelah, hari sudah larut malam, jadi kami memutuskan untuk segera tidur demi persiapan besok.

Omong-omong, kami semua berada dalam satu kamar besar. Sebenarnya mereka sudah menyiapkan kamar individu, tapi Sylpha merengek soal keamanan yang mengkhawatirkan dan akhirnya jadi begini.

"Sayang sekali ya Fiona, belum ada satu pun orang yang mengenalmu."

"Jangan…… terlalu dipikirkan."

Wajah Fiona tetap datar dan sulit dibaca seperti biasa, tapi karena dia kehilangan ingatan, dia pasti merasa cemas.

Aku pun memiliki ingatan masa lalu yang samar, jadi aku tahu rasanya tidak tahu apa yang mungkin muncul secara tiba-tiba.

"Lloyd-sama 'kan sedang melakukan banyak hal aneh di masa sekarang. Anda pasti cuma lupa karena terlalu banyak berbuat kekacauan."

"Menurutku itu lebih ke masalah kepribadian. Dibandingkan dengan Fiona-tan itu agak……"

Oi, kalian tidak sopan sekali. Aku benar-benar tulus mengkhawatirkannya. Aku sangat merasa keberatan.

"Sudahlah, Ratu pun tidak mungkin tahu segalanya, 'kan? Kalau kita pergi ke kota, pasti kita akan bertemu dengan kenalanmu."

"Keluarga kerajaan dan rakyat biasa itu jaraknya jauh. Kita bisa minta tolong untuk mencarikan orang. Apalagi mereka menjanjikan pemandu terbaik."

Semua yang mereka katakan benar. Dari pandangan sekilas, negara ini tidak terlalu luas dan penduduknya tidak terlalu banyak.

Jika menginap beberapa hari, kami pasti bisa menemukan satu atau dua orang kenalan.

Lagipula, pemandu seperti apa yang akan datang ya? Karena Ratu sendiri yang merekomendasikannya, dia pasti orang yang cukup bisa dipercaya.

……Kalau boleh egois sih, aku ingin seorang penyihir. Akan sangat hebat jika dia paham soal sihir Elf. Aku harus menanyakan banyak hal padanya.

Dengan dada yang berdebar penuh antisipasi, aku pun terlelap.

"Uun…… tidurnya nyenyak sekali."

Sambil mengucek mata yang masih mengantuk, aku bangun dan melihat yang lain sudah selesai bersiap-siap.

"Selamat pagi, Lloyd-sama. Sepertinya si pemandu itu sudah datang. Ayo, cepat ganti baju."

Kata Sylpha sambil melepaskan bajuku.

Saat aku melongok keluar jendela, di depan pintu masuk penginapan, berdiri seorang pria dengan pakaian mencolok seperti seorang calo.

Bendera yang dia pegang bertuliskan 'Selamat Datang di Elfrieden' dan 'Duta Wisata', lalu pakaian serta topinya menggunakan warna-warna primer seperti merah dan kuning, benar-benar menarik perhatian orang sekitar.

"……Tapi mencolok sekali ya. Dia benar-benar jadi pusat perhatian."

"Banyak orang berkumpul karena penasaran. Jangan sampai jadi kerumunan yang merepotkan, ayo cepat turun."

Kata Ren sambil mengusap wajahku.

Benar juga. Ada banyak hal yang harus dilakukan, membuang-buang waktu dengan bersantai itu rugi.

Setelah selesai bersiap dengan terburu-buru dan keluar dari penginapan, pria yang menyadari kehadiranku itu langsung menyapa seolah sudah lama menunggu.

"Yaaah, akhirnya keluar juga. Kalian membuat pelanggan ini menunggu terlalu lama. Eh, katanya pelanggan adalah Dewa, tapi itu 'kan cuma soal mentalitas pihak kami saja, bukan berarti pelanggan boleh bertindak seenaknya, 'kan? Kalau aku bukan seorang pasifis, aku pasti sudah melayangkan satu dua protes. Begitulah, yoroshiku."

"Gaya bicara panjang lebar yang tidak berguna ini……"

Mata hitam, rambut hitam, tubuh yang sedang-sedang saja, tinggi rata-rata, wajah yang biasa saja.

Penampilannya sangat tidak berkesan, namun cara bicaranya yang khas merusak segalanya. Dialah sang Holy King.

Sosok yang bertahta di puncak Tahta Suci sebagai utusan Dewa, terutama kemampuannya menggunakan Magic Melody yang bahkan mampu menyegel Raja Iblis Beals.

"Oya, bukankah ini Lloyd-kun. Bertemu di tempat seperti ini benar-benar sebuah kebetulan yang ajaib, serius deh."

"Justru kamu sendiri, kenapa ada di sini?"




Beberapa waktu lalu, aku dan dia sempat bersama-sama menyelesaikan sebuah insiden di Dunia Langit, dan seharusnya setelah itu dia sudah kembali ke Tahta Suci.

Namun, kenapa dia bisa ada di tempat seperti ini?

"Hmm, kalau dijelaskan bakal panjang sih, tapi singkatnya... aku terdampar?"

"Terdampar katamu... bukannya kamu datang pakai kereta kuda? Seingatku waktu kita berpisah, kamu sudah menunggu di sana, 'kan?"

"Memang benar! Tapi waktu aku jalan-jalan sebentar untuk wisata di Saloum, mereka malah pulang duluan! Padahal baru kutinggal tiga hari, teganya mereka. ……Yah, kupikir sesekali pulang jalan kaki tidak ada salahnya, jadi aku pun berjalan lunglai sendirian. Tapi pas kulihat peta, aku baru sadar kalau lewat hutan ini bakal lebih dekat! Eh, tahu-tahu malah tersesat."

"Bodoh amat, ya."

"Tolol sekali."

Grim dan Jiriel menatap Sang Suci dengan wajah jengah.

Ini adalah Hutan Penyesatan, sebuah wilayah iblis yang tidak bisa dimasuki tanpa persiapan matang.

Lagipula, meski ini hutan biasa pun, mustahil bagi Sang Suci yang tidak bisa menggunakan sihir dengan becus untuk menyeberanginya hanya dengan berjalan kaki.

"Hei, hei! Aku bukannya tanpa persiapan, lho!? Aku menggunakan lagu sihir untuk menjinakkan hewan-hewan hutan dan mencoba pergi ke sisi seberang. ……Hanya saja, sepertinya mereka tidak paham konsep 'sisi seberang hutan', jadi kami cuma berputar-putar saja di dalam!"

"Tetap saja bodoh, Tuan."

"Memang tolol, Tuan."

Pikiran manusia memang tidak akan tersampaikan pada hewan yang merupakan ras berbeda.

Meski bisa memberikan instruksi sederhana, itu hanya terbatas pada perintah-perintah pendek saja.

Memberikan perintah tingkat tinggi seperti menyeberangi hutan sampai ke sisi seberang itu mustahil dilakukan. ……Yah, mungkin Kak Alize si penakluk hewan bisa saja melakukannya, sih.

"Lalu begitulah, setelah luntang-lantung di hutan, tanpa sadar aku sampai di negara ini dan diselamatkan oleh para Elf. Ya ampun, aku sendiri pun kagum dengan keberuntunganku! Apa ini berkat amal ibadahku sehari-hari? Ya ampun, memang benar-benar aku, sosok yang paling dekat dengan Dewa! Hahahaha!"

"Sama sekali bukan sesuatu yang patut dibanggakan, Tuan……"

"Dia pasti sama sekali tidak berpikir panjang……"

Grim dan Jiriel memberikan tatapan dingin kepada Sang Suci yang tertawa terbahak-bahak.

Dia benar-benar orang yang serampangan seperti biasanya. Aku saja akan bertindak sedikit lebih terencana.

Meski begitu, seharusnya sudah cukup banyak waktu berlalu sejak saat itu, tapi kenapa dia tidak pulang-pulang juga?

Mengingat betapa baiknya para Elf itu, mereka pasti bersedia mengantarnya sampai ke luar hutan…… Apa dia sedang membalas budi karena sudah dirawat?

Ternyata dia tipe orang yang tahu terima kasih juga ya, tak disangka.

"Jadi dia itu Sang Suci yang tersohor itu…… Entah kenapa, citranya langsung hancur berantakan ya……"

"Iya, gimana ya…… serampangan?"

"Aku sih nggak tertarik sama cowok berwajah pas-pasan."

"Tegaaa banget!"

Menerima penilaian yang begitu pedas, Sang Suci pun jatuh tersungkur.

Kalau dipikir-pikir, ini memang pertama kalinya Sylpha dan yang lainnya bertemu dengannya secara langsung.

……Benar juga. Ada hal yang ingin kutanyakan kalau bertemu dengan orang ini.

"Ngomong-ngomong Sang Suci, soal Guisarme……"

"Ayo berangkat, berangkat! Ini tugas Duta Wisata. Aku akan memandu kalian sampai ke pelosok terkecil negara Elf, jadi bersyukurlah!"

Ucapanku terpotong begitu saja.

Dulu, sosok iblis yang kukalahkan, Guisarme, berada bersama Sang Suci.

Aku ingin menanyakan alasannya, tapi…… yah, normalnya Sang Suci pasti menjadikannya sebagai famili.

Lagu sihirnya menunjukkan kekuatan yang aneh terhadap kaum iblis. Tidak heran jika dia bisa membangkitkan Guisarme yang telah musnah.

Yah, seandainya dia menyerang lagi pun, dengan kekuatanku yang sekarang aku bisa menghabisinya dalam sekejap, jadi sudahlah.

……Lagipula di sini ada Ren. Mungkin itu akan membangkitkan kenangan pahitnya, jadi tidak perlu sengaja dibahas.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close