NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara dai Nana Ouji dattanode Volume 11 Part 2


Begitulah, kami membagi tugas untuk mencari penyebab kehancuran tersebut.

Celia, yang kemampuannya sebagai Saint paling berpotensi menemukan petunjuk, akhirnya memutuskan untuk pergi bersamaku.

"Ramalanku akan semakin efektif jika aku berada dekat dengan lokasinya. Kita akan berlari keliling istana untuk menemukannya! Ikuti aku, Adikku!"

"Baik, Kak Celia! ...Eh?"

Aku menjawab dan mulai berlari, tapi Celia yang harusnya ada di sampingku tiba-tiba menghilang.

Dia menghilang secara tiba-tiba? Mungkinkah ini Mukjizat baru yang dia pelajari...?

"Lloyd-sama, di belakang Anda..." ujar Grim.

"Dia jatuh tersungkur dengan spektakuler," tambah Jiriel.

Saat aku berbalik, Celia memang sedang jatuh tersungkur di belakang.

Tapi dia langsung berdiri seolah tidak terjadi apa-apa dan mulai berlari lagi.

"Jangan sampai tertinggal, Adikku!"

"..."

Aku menghargai semangatnya, tapi hidungnya mimisan tuh.

Itu salahnya sendiri karena mencoba berlari memakai gaun panjang dan sepatu hak tinggi...

"Lloyd-sama, bukankah berbahaya membiarkan si gadis ceroboh itu berlari keliling istana?" tanya Grim.

"Sepertinya begitu. Kalau begitu, agar dia tidak jatuh lagi... Levitation."

Begitu aku bergumam, tubuh Celia perlahan melayang di udara.

"Hyaa!? Tubuhku... tubuhku melayang!?"

"Ini sihirku. Dengan begini kita bisa bergerak dengan cepat."

"O-oh iya, aku ingat kau memang suka sihir ya... Baiklah, ayo maju! Terbanglah di angkasa seolah itu milikmu sendiri!"

"Ini di dalam istana, lho... Baiklah, kita berangkat."

"Fuhahhahha... Eh, ce-cepat sekali... Kyaaaaaaaa!"

Celia langsung berteriak saat kami mulai bergerak.

Padahal menurutku ini cukup lambat dibanding biasanya, jadi kurasa dia tidak perlu sekaget itu.

"Meskipun begitu, bagi orang normal ini sudah sangat... tidak, ini kecepatan yang berlebihan, Tuan," sahut Grim.

"Sebaiknya Tuan jangan menggunakan standar Tuan sendiri. Kasihan Celia-tan," tambah Jiriel.

Tapi kalau terlalu pelan, kita tidak akan sempat. Bagaimana ya.

"Ja-jangan sungkan! Aku adalah Saint Bulan Purnama yang memimpin Meja Bundar, hal sepele seperti ini tidak akan membuatku menyerah!"

"Baiklah, Kak Celia."

"...Kyaaaaaaaaaaaaaa!"

Maka dari itu, kami kembali bergerak menggunakan Levitation.

Kami terbang menjelajahi istana yang luas itu ke sana kemari tanpa henti.

Setelah selesai berkeliling, kami kembali ke kamar dan aku bertanya pada Celia.

"Bagaimana, Kak Celia? Apa ada yang Kakak temukan?"

"Orororororo..."

Dia malah mau muntah sambil sempoyongan. Hmm? Apa aku terlalu berlebihan ya?

Yah, kami memang terbang berkeliling ke banyak tempat, sih.

Mulai dari dinding luar, puncak menara, lapangan latihan, ruang bawah tanah, hingga ruang singgasana... Kemampuan ramalan Celia sepertinya sangat sensitif, sehingga dia mencoba merasakan hawa mencurigakan dengan mendatangi setiap bagian istana.

Setelah pulih beberapa saat kemudian, Celia berkata dengan penuh tekad.

"...Tidak salah lagi. Ruangan inilah yang paling memancarkan hawa aneh...!"

"Eh? Serius...?"

"Ya, meski sangat lemah, tapi aku yakin titik ini adalah yang paling kuat. Ya, ramalanku mengatakannya begitu. Kegelapan kehancuran bersembunyi di dekat sini..."

Aku terkejut mendengar perkataannya yang tak terduga.

Tiba-tiba, aku menyadari Grim dan Jiriel menatapku dengan tatapan sinis.

"Ternyata Lloyd-sama lagi penyebabnya... yah, aku sudah bisa menduganya sih," gumam Grim.

"Karena ini sudah biasa terjadi, kami tidak akan terkejut. Malah kami merasa ini sangat masuk akal," tambah Jiriel.

Tunggu dulu, itu benar-benar tidak sopan ya. Padahal sudah kubilang jangan menyalahkanku untuk segala hal.

"Apa benar dari ruangan ini, Kak Celia? Apa tidak ada kemungkinan di tempat lain?"

"...Hmm. Kalau kau bilang begitu, aku merasa ada hawa yang sedikit lebih kuat dari arah bawah."

"Bawah? Berarti... ah!"

Tepat di bawah kamarku adalah... Perpustakaan Terlarang.

Memang sangat mungkin ada sesuatu yang tersembunyi di sana.

"Ayo segera ke sana!"

"Eh, tu-tunggu, apa yang kau lakukan, Adikku!?"

Aku menarik tangan Celia dan berlari menuruni tangga.

Begitu menginjakkan kaki di Perpustakaan Terlarang, ekspresi wajah Celia langsung berubah.

"Di-di sini! Di antara sekian banyak barang antik yang menumpuk ini, ada sesuatu yang disembunyikan yang akan menghancurkan negara kita!"

Ternyata benar ya. Di dalam Perpustakaan Terlarang ini tersimpan banyak sihir terlarang dari zaman dahulu kala.

Di antaranya bahkan ada yang belum bisa kupecahkan hingga sekarang.

Jika memang ada penyebab hancurnya istana Saloum, kurasa tidak ada tempat lain selain Perpustakaan Terlarang ini.

"Meski begitu... aku sendiri pun tidak bisa merasakan benda yang mana itu."

Aku mencoba memusatkan konsentrasi, tapi di dalam Perpustakaan Terlarang ini banyak sekali mana mencurigakan yang bertebaran di mana-mana, sehingga sulit untuk menemukan penyebab utamanya.

Hmm, apa aku harus memindahkan barang-barangnya satu per satu ke ruangan lain? Tapi sulit sekali memisahkan barang sebanyak ini, apalagi banyak barang yang berbahaya jika disentuh sembarangan.

Saat aku sedang kebingungan, pintu tiba-tiba terbuka lebar, braakk!

"Yossyaa! Sekarang giliran Tao-chan yang beraksi!"

Muncul Tao yang mengenakan seragam pelayan.

Oh iya, tadi dia mencuri seragam pelayan supaya tidak terlihat aneh saat keliling istana.

"Aku melihat kalian bergegas ke sini dengan wajah tegang. Aku datang karena merasa kali ini aku pasti bisa membantu!"

"Tao, apa kau bisa menemukannya?"

"Serahkan padaku. Kalau jangkauannya sesempit ini... aku pasti bisa menemukannya."

Tao menutup matanya dan mulai memusatkan konsentrasi.

Sama seperti tadi, dia melakukan pencarian menggunakan Qi.

Karena jangkauannya sudah menyempit, dia bisa melakukan pencarian dengan sangat teliti.

"Ooh... ra-rasanya geli sekali, Tuan!" seru Grim.

"Dia menyentuh dan memeriksa setiap detail benda di dalam perpustakaan ini dengan Qi yang disebarkannya. Bahkan sampai menyentuh telapak tangan Lloyd-sama dan kita... Ohoooo, i-ini rasanya seperti sedang dielus-elus! Kalau begini terus, aku bisa membuka pintu dunia baruuuu!"

Abaikan saja Jiriel yang mengeluarkan suara aneh itu... tapi memang benar rasanya seperti seluruh tubuhku sedang disentuh oleh bulu-bulu yang lembut.

Begitu ya, dengan cara ini dia mungkin bisa menemukan keganjilan sekecil apa pun.

Setelah beberapa saat memusatkan Qi dengan ekspresi serius, Tao akhirnya membuka matanya perlahan.

"...Ketemu. Di sebelah sana!"

Dia menunjuk ke arah kotak hitam kecil yang diletakkan di atas rak.

Saat aku mendekat dan mengangkatnya... benar juga. Memang benar aku merasakan hawa aneh yang samar dari sana.

Sepertinya ada sesuatu yang dikurung di dalam kotak ini. Hawa yang merembes keluar dari celah kecil itu pasti tidak akan bisa ditemukan jika bukan oleh Tao.

"A-apa tidak apa-apa menyentuhnya?" tanya Grim.

"Apa Anda akan membukanya? Bukankah itu berbahaya?" tanya Jiriel.

Tentu saja. Kita tidak akan tahu apa pun kalau tidak membukanya.

Meskipun begitu, membukanya secara paksa sepertinya berbahaya, jadi bagaimana ya...

"Serahkan padaku. ...Hnnuugh!"

Tao merebut kotak itu dariku dan mencoba membukanya dengan kekuatan penuh, tapi kotak itu tidak bergerak sedikit pun.

Malah Tao yang mulai berkeringat dingin.

"...Fuu, keras sekali ya. Padahal kalau cuma kotak besi biasa harusnya sudah bisa kuhancurkan dengan mudah."

"Sepertinya ini terbuat dari zat yang sangat keras," komentarku.

Apa mungkin ini barang dari Dunia Iblis?

Kalau bukan karena formula sihir, aku akan mencoba membakarnya dengan kekuatanku sekaligus.

"Fireball... kumpulkan api pertamaku di dalam kotak ini."

Kalau aku langsung meledakkannya sekaligus, istana ini malah bisa hancur karena perbuatanku sendiri.

Aku menaikkan suhu apinya secara bertahap untuk menghancurkan kotaknya saja.

"Wah, kotak yang tadinya hitam sekarang jadi merah membara karena panasnya!" seru Grim.

"Suhu yang luar biasa tinggi! Sampai udara di sekitarnya terdistorsi!" tambah Jiriel.

Aku memusatkan Fireball-ku di satu titik. Bagian dalamnya pasti menjadi sangat panas sekarang.

Sebagai pencegahan, aku melapisi kotaknya dengan penghalang, tapi tetap saja kotak itu mengeluarkan panas yang luar biasa. Panas sekali.

Suara letupan, pusun pusun, mulai terdengar. Begitu muncul retakan kecil di kotaknya, saat itulah kejadian itu terjadi.

"...! Lloyd, jangan! Jangan buka itu..."

"Eh?"

Tepat setelah aku mendengar suara Celia, detik berikutnya...

ZUUDDOOOOOOONNNN!

Suara ledakan menggema di seluruh area.

"Hah!"

Sadar-sadar kami sudah berada di kamarku.

Di depanku, Celia dan yang lainnya sedang mengobrol.

"Tapi kenapa lapornya ke Lloyd? Bukankah sebaiknya lapor ke Albert-sama atau yang lainnya?"

"Tentu saja, aku sudah mengatakannya. Tapi Kakak Albert menyuruhku untuk meminta banLloyd-sama. ...Huh, sepertinya kau mendapatkan kepercayaan yang sangat dalam ya. Memang pantas menjadi Meja Bundarku. Aku jadi bangga padamu. Fuhahhahhahha!"

"E-eto... haha..."

"Seperti yang diharapkan dari Albert-sama. Keputusan yang bijaksana."

"Yah, menyerahkannya pada Lloyd adalah pilihan yang bagus. Karena ada aku juga di sini."

Sylpha dan yang lainnya mengobrol dengan riang.

Ini adalah percakapan yang baru saja kami lakukan tadi.

"A-apa yang terjadi? Kupikir tadi aku mendengar suara ledakan..." gumam Grim.

"Iya, rasanya seolah kotaknya meledak... ugh, kepalaku pening sekali... Berarti ini..." tambah Jiriel.

"Time Reversal telah aktif."

"Berarti waktu telah diputar balik lagi ya!?"

"Kapan Anda memasang formula sihirnya?"

"Saat pemutaran waktu sebelumnya, aku sudah mengubah formula sihirnya supaya bisa aktif secara otomatis jika syarat tertentu terpenuhi."

Untuk berjaga-jaga... jika terjadi kecelakaan fatal seperti aku mati atau Digardia hancur lagi, aku takut tidak akan bisa menggunakan Time Reversal lagi.

Karena itulah aku mengubah formula sihirnya supaya Time Reversal aktif secara otomatis begitu ada guncangan di atas level tertentu yang menyentuh penghalangku.

Sepertinya ledakan saat aku mencoba membuka kotak hitam tadi telah memicu aktivasi otomatis Time Reversal. Yare-yare, sepertinya aku harus mengulang lagi.

"Loop otomatis jika menerima serangan di atas level tertentu... berarti tidak ada seorang pun yang bisa membunuh Lloyd-sama ya. Yah, meskipun dari awal juga tidak ada yang bisa membunuhnya sih."

"Karena terhubung jarak jauh dengan Digardia, sihir ini bisa aktif di mana pun selama masih di sekitar Saloum. Ini benar-benar kekuatan yang tak terkalahkan..."

Meskipun begitu, cara ini pun tidak bisa dibilang sempurna.

Walaupun hanya sedikit, waktu pemutaran baliknya menjadi lebih pendek daripada sebelumnya.

Aktivasi Time Reversal membutuhkan mana yang sangat besar. Mengumpulkan mana sebanyak itu memberikan beban yang berat pada Altar Digardia.

Sedikit demi sedikit keretakan akan muncul dan efeknya akan semakin melemah, hingga akhirnya ada kemungkinan waktu tidak bisa diputar balik lagi.

Aku harus menyelesaikan penyebabnya dalam beberapa kali percobaan ini.

"Ayo, wahai Meja Bundarku! Mari kita temukan penyebab kehancuran ini bersama-sama! Kita tidak punya waktu untuk bersantai meski cuma sedik—nyat!?"

Sambil mendengar Celia yang menggigit lidahnya, aku pun mengangguk mantap.

"……Ren, Connie, bisa ikut denganku sebentar?"

"Eh? Kami?"

"Aku sih tidak keberatan..."

Sambil membawa mereka berdua yang tampak bingung, aku melangkah menuju Perpustakaan Terlarang.

"Ini dia. Penyebab kehancurannya."

Aku menunjukkan kotak hitam yang tadi meledak kepada mereka.

Sekarang setelah lokasinya kuketahui, aku tidak perlu lagi menemani Kak Celia.

Langkah selanjutnya adalah menganalisis kotak hitam ini, dan kedua orang inilah yang paling cocok untuk tugas itu.

"Aku ingin kalian memeriksa ini. Bahannya sangat keras, dan sepertinya akan meledak kalau dipaksa buka."

"Kenapa kamu bisa tahu secepat ini?"

"Padahal tadi kelihatannya kamu sama sekali tidak tahu apa-apa..."

"Yah, banyak hal yang terjadi."

"Banyak hal, ya... Yah, kalau itu Lloyd, tidak ada yang aneh sih apa pun yang terjadi."

"Sudah biasa, kan."

Rasa percaya mereka yang misterius sangat membantuku hari ini. Setidaknya aku bisa menghemat waktu tanpa perlu menjelaskan panjang lebar.

"Pokoknya, biar kucoba periksa."

Ren segera mengambil kotak hitam itu, dan dengan waspada menyentuhnya sedikit dengan ujung lidahnya.

Saat meneliti berbagai zat, Ren bisa melakukan analisis mendalam hanya dengan menjilatnya.

Lidah manusia memang memiliki indra yang tajam, tapi sebagai pakar racun, Ren mampu mendapatkan informasi yang jauh lebih banyak.

Bukan hanya ada tidaknya racun, tapi juga tingkat kekerasan, komposisi, dan lain sebagainya... kotak hitam ini, aku bahkan tidak tahu ini zat apa.

Kupikir Ren mungkin akan tahu sesuatu, tapi...

"Hmm, aku tidak tahu... Apa ini? Ini material yang sama sekali tidak kukenal."

"Ren pun tidak tahu?"

"Maaf... Tapi rasanya ini tidak ada hubungannya dengan formula sihir, kurasa? Mungkin ini murni zat yang belum pernah ditemukan."

"Mengetahui hal itu saja sudah cukup. Terima kasih."

Mengetahui apa yang 'tidak diketahui' juga merupakan sebuah pencapaian.

"Hehe... sama-sama."

"Coba perlihatkan padaku."

Kali ini Connie mengeluarkan sebuah peralatan sihir.

Dia menempelkan alat yang mirip stetoskop ke kotak itu, lalu sesekali mengetuknya dengan jari. Apa yang sedang dia lakukan?

"Aku sedang mendengarkan apa yang ada di dalam. Dengan mengetuk kotak ini, aku bisa menangkap gema di dalamnya dan memastikan bentuk isinya."

"Oh, aku tahu itu. Yang biasa dilakukan dokter, kan?"

Tapi bukannya itu hanya bisa dilakukan pada tubuh manusia yang sebagian besar terdiri dari air? Apakah kotak misterius seperti ini juga bisa diperiksa dengan cara yang sama?

Seolah menjawab pertanyaanku, Connie berkata.

"Tentu saja ini bukan alat biasa. Alat ini menciptakan penghalang semu yang terhubung dengan material yang diselidiki, lalu memberikan guncangan pada mana yang mengisi bagian dalamnya sehingga apa pun bisa diperiksa. Meski tidak bisa untuk sesuatu yang terlalu kompleks."

"Heh, aku tidak paham strukturnya, tapi kedengarannya menarik. ...Jadi, apa kamu tahu apa isinya?"

"……Yah. Sepertinya, semacam entitas mana."

Mendengar kata-kata Connie, mata kami semua terbelalak.

Entitas mana... artinya ada iblis atau sesuatu yang sejenis di dalamnya?

"Nggak nyangka ada gerombolan iblis di tempat seperti ini... Yah, aku juga dulu tersegel lama sih di Perpustakaan Terlarang ini."

"Belum tentu iblis, kan. Ada kemungkinan besar itu adalah malaikat."

"Heh, mana mungkin makhluk setengah-setengah begitu bersembunyi di kotak seseram ini. Sembilan puluh sembilan persen pasti iblis atau yang sederajat dengannya."

Grim berkata dengan nada mencela diri sendiri, tapi aku setuju dengannya.

Aku sama sekali tidak merasakan mana, tapi hawa aneh terpancar dari kotak hitam ini.

Iblis... dan kemungkinan besar entitas tingkat tinggi yang tersegel di sini.

"Po-pokoknya, sebentar lagi makhluk yang ada di kotak ini akan bangkit dan Saloum akan hancur, kan!?"

"Aku tidak tahu apa istilah 'bangkit' itu tepat. Tapi untuk sementara aku sudah memikirkan langkah pencegahannya. ーHup!"

Melalui pengaktifan penghalang berlapis, aku membungkus kotak itu dengan kuat.

Kemarin aku tidak sempat bereaksi karena kejadiannya mendadak, tapi dengan ini, ledakan pun harusnya bisa diredam.

Jumlah dan kualitasnya beberapa kali lipat dari penghalang yang biasa kupasang di sekelilingku. Karena tujuannya untuk menahan ledakan yang bisa menghancurkan Saloum, level ini memang diperlukan.

"I-ini kekuatan serius Lloyd-sama... Beliau membentangkan penghalang yang belum pernah kulihat sebelumnya!"

"Benar-benar paket lengkap! Dengan ini, ledakan macam apa pun pasti bisa ditahan dengan sempurna!"

……Kuharap begitu.

Kotak hitam ini sudah melampaui dugaanku dalam banyak hal.

Bahkan Ren dan yang lainnya tidak bisa memeriksanya dengan sempurna. Aku harus berasumsi bahwa apa pun bisa terjadi.

"Pokoknya, sisanya tinggal menghancurkan benda ini."

"Menghancurkannya... apa tidak apa-apa? Lloyd."

"Kalau penghalangnya sampai jebol..."

Ren dan Connie tampak cemas. Sepertinya mereka memikirkan hal yang sama denganku.

Meski begitu, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Sumber kecemasan harus segera disingkirkan.

"Tentu saja aku tidak akan melakukannya di sini. Aku akan berteleportasi ke dasar laut yang dalam dan meledakkannya di sana. Dengan begitu, setidaknya Saloum tidak akan terkena dampaknya."

"Begitu ya! Kalau sejauh itu pasti aman!"

"Air akan meredam guncangan dengan drastis. Dampak pada topografi juga kecil, kurasa itu ide bagus."

Setelah mendapat persetujuan dari mereka berdua, aku memegang kotak hitam itu dan mulai merapalkan mantra teleportasi ruang jarak jauh.

"Kalau begitu, aku kirim ya. ー■"

Tepat setelah rapalan mantra selesai.

Zudoooooon! Bersamaan dengan suara gemuruh yang menggelegar, pandanganku memutihー

"ー!?"

Dan ketika tersadar, aku sudah berada di kamarku lagi.

"……Tidak salah lagi. Ruangan inilah yang paling memancarkan hawa aneh...!"

Suara yang terdengar adalah ucapan Kak Celia.

Sepertinya waktu telah diputar balik lagi.

Saat ini sepertinya tepat setelah kami selesai mencari dan kembali ke kamar.

Alur selanjutnya kalau tidak salah... aku teringat ada Perpustakaan Terlarang di bawah kamarku, pergi ke sana, lalu menemukan kotak hitam itu.

"Cih, sakit kepala ini... sepertinya kita terlempar balik lagi ya."

"Apa yang sebenarnya terjadi... memalukan sekali, aku sama sekali tidak paham."

"Tepat saat aku hendak memindahkannya. Kotak hitam itu meledak."

Sesaat setelah aku menyelesaikan formula dan hendak memindahkan kotak itu, guncangan hebat menghantamku.

Singkatnya, kotak itu meledak.

Kemungkinan besar, formula sihirnya sudah diatur sedemikian rupa agar meledak jika dipindahkan dari lokasinya.

Semacam sistem ranjau yang akan aktif jika syarat tertentu terpenuhi.

Kalau dipikir-pikir, ledakan saat dipaksa buka tadi juga karena hal ini. Bahkan tidak bisa dipindahkan ya... merepotkan juga.

"Ta-tapi bukannya Tuan sudah memasang penghalang sebanyak itu!?"

"Benar! Mustahil penghalang itu bisa ditembus!"

"Kalau isinya iblis, mungkin itu serangan berbasis konsep."

Concept Attack... serangan yang mirip dengan perubahan sifat mana.

Serangan yang mengirimkan suatu 'konsep' langsung ke mana tanpa melalui formula sihir, dan memiliki sifat yang bisa menembus penghalang.

Itu adalah teknik spesialisasi kaum iblis. Tentu saja ada penghalang khusus untuk itu, tapi untuk serangan dengan daya sebesar ini, aku merasa sedikit kurang percaya diri.

"Secara teori, Concept Attack seharusnya tidak bisa menghasilkan daya hancur yang besar. Tapi kenapa ini bisa sampai menghancurkan Saloum..."

"Daya keluarnya mengerikan ya... jangan-jangan lawannya adalah entitas yang bahkan melampaui Raja Iblis..."

Artinya, aku harus menemukan cara untuk membuka kotak itu tanpa meledakkannya, lalu mengalahkan iblis yang ada di dalam?

Dan karena tidak bisa dipindahkan, aku harus melakukannya di dalam istana ini... Benar-benar merepotkan.

"Ada apa? Adikku. Kenapa tiba-tiba diam begitu...?"

"A-ah, tidak! Bukan apa-apa! ……E-eto, benar juga. Kita harus mencari penyebab kehancurannya ya. Kira-kira ada di mana ya~"

Aku buru-buru bersandiwara saat ditegur karena melamun.

Yah, aku sudah tahu semuanya, sih... tapi kalau aku langsung menentukan lokasinya di sini, itu hanya akan memicu pemutaran balik yang sia-sia lagi.

Efek Time Reversal semakin melemah setiap kali diulang. Sebaiknya aku menghindari pemutaran balik yang tidak perlu.

"Kami baru saja kembali."

Tak lama kemudian, Sylpha dan yang lainnya pulang.

Tentu saja mereka tidak mendapatkan hasil apa pun, wajah mereka semua tampak kecewa.

"Aduh, capek banget keliling istana. Hei, pelayan di sana, siapkan sepotong kue untuk aku yang sudah bekerja keras ini."

"Kucing betina yang tidak tahu diri ya... Yah, mengabaikanmu, Lloyd-sama pasti lelah juga, jadi apa sebaiknya aku membuatkan panekuk?"

"Fuhun, lakukanlah dengan baik~♪"

"Aku hanya akan memberimu remahannya saja. Menangislah sambil bersyukur."

"APA KATAMUUU!?"

……Nah, abaikan saja dua orang berisik itu.

Aku harus memikirkan rencana.

Sambil meminum teh yang dituangkan Ren, aku mulai merapikan informasi yang sudah kudapatkan sejauh ini.

Pertama, kotak hitam di Perpustakaan Terlarang... benda itu terbuat dari zat misterius menurut Ren dan kawan-kawan, dan di dalamnya ada sesuatu yang mirip iblis yang sangat kuat.

Lalu masalah ledakannya. Serangan konsep penghancur massal dengan jangkauan super luas.

Dipaksa buka, gagal. Dipindahkan, juga gagal... ya.

Hmm, harus bagaimana ya. Saat aku sedang berpikir sambil bersandar di kursi, aroma harum mulai tercium.

"Silakan dinikmati."

Di depanku diletakkan tiga tumpuk panekuk.

Di atasnya terdapat mentega yang meleleh, dan aroma harum yang menggugah selera mulai menyebar ke seluruh ruangan.

"Ooh, kemampuan memasakmu masih hebat seperti biasa ya!"

"Aku sudah mencoba beberapa kali, tapi tidak pernah bisa mendapatkan tekstur selembut ini."

"Ini panekuk yang artistik ya. Seperti yang diharapkan dari Sylpha-san."

Aku sangat setuju.

Kemampuan memasak panekuk Sylpha meningkat pesat dari hari ke hari, bahkan sekarang lebih enak daripada toko mana pun di kota.

Tapi aku tidak tahu kenapa Sylpha sampai melakukan hal semacam ini... yah, sudahlah.

Wah, benar-benar enak. Apalagi akhir-akhir ini di dalam panekuknya ada krimnya.

Saat dibelah menjadi dua dengan pisau, krimnya akan meleleh keluar, terlihat sangat lezat...

"……Hm?"

Kalau dipikir-pikir, hari ini hanya ada garpu.

Biasanya dia selalu menyertakan pisau pemotong... apa dia lupa?

"Sylpha, pisaunya..."

"Tidak perlu, Anda bisa langsung menikmatinya begitu saja."

"?"

Sambil bingung, aku hendak menusukkan garpu, tapi kemudian aku menyadarinya.

Jika dilihat baik-baik, panekuk itu ternyata sudah diberi sayatan.

"Seperti yang diharapkan dari Lloyd-sama, Anda langsung menyadarinya. Benar sekali, dengan lancang saya sudah memotongnya terlebih dahulu."

"Be-benar, ada bekas sayatan di panekuknya!"

"Wah, hebat! Aku sama sekali tidak sadar sampai disentuh... Padahal krimnya tidak bocor sama sekali dari bagian potongannya..."

"Teknik memotong yang luar biasa... Bahkan panekuknya sendiri tidak sadar kalau dia sudah dipotong... Cih, kemampuannya naik lagi ya."

Saat aku mengangkat potongan panekuk itu, barulah krim di dalamnya meleleh keluar.

Dengan memberikan sayatan melalui tebasan kecepatan super tinggi, panekuk itu baru akan hancur saat diangkat.

Aku pernah mendengar di negeri asing ada juru masak yang bisa membedah ikan dalam keadaan hidup, dan setelah dimasukkan ke air, ikan itu masih tetap hidup.

Ini adalah versi yang jauh lebih hebat dari itu. Membuat target bahkan tidak menyadari bahwa mereka telah dipotong.

Teknik pedang Sylpha sudah mencapai level segila ini ya. Benar-benar luar biasa. Saat aku sedang kagum, tiba-tiba aku menyadarinya.

……Hah, tunggu sebentar? Mungkinkah, ini jangan-jangan... Saat aku sedang berpikir keras, Sylpha yang menyadari sesuatu buru-buru menundukkan kepalanya dengan panik.

"Ma-maafkan saya Lloyd-sama! Apakah saya sudah merampas kesenangan Anda untuk memotong panekuk itu sendiri!?"

"Ah, tidak. Bukan begitu. Begini malah lebih mudah dimakan... lagipula, aku baru saja melihat sesuatu yang bagus. Dengan ini, mungkin masalahnya bisa diatasi."

"?"

Sylpha tampak bingung mendengar kata-kataku.

Sambil mengunyah panekuk yang sudah terpotong itu, aku pun menyeringai.

"Eeto, di mana ya? Bukan di sini, bukan juga di sana..."

Aku mendatangi area luar istana, kompleks tempat tinggal para pelayan yang menetap di sana.

Dengan menggunakan sihir atribut angin Hermit untuk menghilang, aku mengintip kamar mereka satu per satu sambil bersembunyi... tapi aku tidak bisa menemukan tempat yang kucari.

"Oooooooh...! Taman bunga para pelayan muda... Ah, aku benar-benar menikmati keuntungan tugas kali ini...!"

"Malaikat sialan jangan berisik! ...Ngomong-ngomong, buat apa kita ke tempat seperti ini? Lloyd-sama."

"Ah, aku ada urusan di kamar Sylpha."

"Ooh! Ke kamar Sylpha-tan! Ini benar-benar harapan besar, aku merasa akan jadi gila karena antisipasi dan kegembiraan... guhakh!"

"Mati saja sana sampah!"

Pukulan telak Grim mendarat, membuat Jiriel pingsan dengan mata memutih.

Oi, oi, memukulnya dengan serius itu agak kejam lho, Grim.

...Yah, kalau dia berisik terus juga menyebalkan sih. Kali ini kutinggalkan saja dan lanjut bicara.

"Kenapa ke kamar pelayan itu? Biasanya Tuan tidak pernah mau menginjakkan kaki ke sini."

"Iya, makanya aku bingung sekali... Padahal katanya bakal langsung ketemu."

Dulu Ren pernah bilang.

Katanya kamar Sylpha itu sangat luar biasa sampai-sampai bisa dikenali hanya dengan sekali lihat.

Makanya kupikir akan segera ketemu... Hmm, tapi di mana ya.

Sambil menyelip di antara para pelayan yang lalu lalang, aku mengintip kamar mereka satu per satu. Bukan ini, bukan itu.

"Nggak, tapi kenapa harus ke kamar pelayan itu... eh, uwoh!?"

Grim berteriak kaget. Aku pun merasakan hal yang sama.

Soalnya, di kamar itu berjejer boneka yang mirip denganku dalam jumlah yang tidak masuk akal, lengkap dengan poster, ilustrasi, dan berbagai pernak-pernik lainnya.

"……Jangan-jangan, ini tempatnya?"

"Nggak salah lagi... bau pelayan itu tercium sangat kuat dari sini."

Kalau dipikir-pikir, kamar ini memang beraroma parfum Sylpha, dan pakaian yang biasa kulihat juga tergantung di sana.

……Memang benar, langsung ketahuan. Jika dilihat teliti, di depan pintu pun ada boneka kecilku yang tergantung. Pokoknya tidak salah lagi, ini tempatnya.

"Tolong beri tahu aku alasannya kemari, Lloyd-sama."

"Ah, aku lupa menjelaskan ya. Aku mencari sesuatu. Formula Blade."

ーFormula Blade adalah pedang yang dijalin dari formula sihir densitas tinggi.

Bilah pedangnya, yang dibuat dengan menumpuk berbagai lapisan formula sihir tipe tebasan tingkat tinggi, memiliki ketajaman yang luar biasa.

Bahkan iblis pun bisa terpotong dengan mudah. Karena tidak ada gunanya jika aku yang memegangnya, aku memberikannya kepada Sylpha.

Namun, karena bilah pedangnya adalah kumpulan formula sihir, pedang itu sangat rapuh; sedikit saja salah mengatur tenaga, pedang itu akan langsung patah. Itulah kekurangannya, bahkan Sylpha yang ahli pedang pun tidak bisa selalu membawanya, jadi dia menyimpannya di kamar.

"! Begitu ya! Kalau pakai itu, kotak hitam itu pasti bisa dipotong!"

"Tepat sekali. Lagipula, kalau Sylpha tahu pasti bakal merepotkan. Kalau aku menyalin teknik pedangnya, aku pun..."

"Bau Sylpha-tan~~~~!"

Tiba-tiba Jiriel bangkit kembali.

Grim segera bertindak untuk membungkamnya.

"……Tidur saja selamanya, dasar bodoh."

"Bu-bukan, memang benar kamar ini penuh dengan aroma harum Sylpha-tan yang luar biasa... tapi bukan itu! Sekarang orangnya sedang mendekat!"

Klek! Pintu terbuka.

Secara refleks aku bersembunyi di dalam lemari, padahal kalau dipikir-pikir aku kan pakai Hermit, jadi harusnya tidak akan ketahuan.

Bagaimanapun, saat aku mengintip dari celah pintu lemari, tatapan mata Sylpha terlihat semakin tajam.

"……Siapa di sana!"

Suara lantang bergema di dalam ruangan.

Gawat, ketahuan ya. Padahal sejak masuk aku tidak menyentuh apa pun dan sudah menghilangkan hawa keberadaan dengan sempurna, kenapa dia bisa tahu?

Seolah bisa membaca pikiranku, Sylpha melanjutkan.

"Meskipun Anda menghilangkan hawa keberadaan, saya tetap tahu. Aliran udara yang sedikit berubah, aroma benda luar yang bercampur... dan yang paling jelas, bau khas manusia yang tertinggal. Sudah jelas ada yang bersembunyi di sini."

Masa cuma karena bau sih...?

Apalagi dia berjalan lurus menuju lemari tempatku bersembunyi.

Sampai tahu lokasinya tepat, penciumannya benar-benar seperti monster. Sudah setara anjing.

"Memangnya tercium? Bau manusia... Padahal ruangan ini sendiri penuh bau parfum."

"Mungkin justru karena itulah dia menyadarinya. Bau yang bercampur dengan hal lain akan menciptakan keganjilan kecil. Bagi aku si Smell Master, aku bisa tahu kapan terakhir kali baju ini dipakai hanya dari bau yang tertinggal."

"Jangan pasang muka bangga sambil ngomong hal menjijikkan begitu!"

Hmm, sepertinya lebih baik Jiriel dibuat pingsan saja tadi... Eh, bukan saatnya memikirkan itu.

Sylpha mencabut pedang dari pinggangnya, memasang kuda-kuda dengan haus darah yang terpancar jelas, dan mendekat.

"Karena sudah berani masuk ke kamarku tanpa izin, Anda harus menerima hukuman yang setimpal. Sekarang menyerahlah dan buka pintunya. Silakan pilih mau dicincang halus atau ditusuk sampai tembus."

……Gawat. Sepertinya tidak mungkin bisa berpura-pura lagi.

Sebelum keributan semakin besar, lebih baik aku keluar dengan patuh. Sambil menghela napas, aku membuka pintunya.

"Ah, itu... maaf Sylpha, sebenarnya aku sedang mencari sesuatu..."

Saat aku keluar sambil meminta maaf, wajah Sylpha langsung memucat.

"Lo-Lloyd-sama... Kenapa Anda bisa ada di tempat seperti ini... Ah, tidak, lupakan itu, saya benar-benar minta maaf. Padahal Anda sudah mau datang, tapi saya malah menunjukkan sikap memalukan seperti ini... Be-benar juga. Saya akan ambilkan teh! ...Tolong tunggu sebentar, saya akan segera membawanya!"

Sylpha mulai berlari dengan panik ke sana kemari.

……Cepat sekali dia berubah pikiran.

Apa tidak apa-apa begitu, Sylpha? Padahal tadi kamu bilang hal yang sangat berbahaya. ……Yah, karena aku selamat, sebaiknya jangan dipikirkan terlalu dalam.

"Saya benar-benar minta maaf. Saya, Sylpha, sudah berani berkata seperti itu kepada Lloyd-sama... bagaimana saya harus menebus kesalahan ini."

Sylpha terus-menerus meminta maaf. Padahal kalau dipikir-pikir, yang salah itu aku yang masuk sembarangan.

Meski begitu, jarang sekali melihat Sylpha yang biasanya tenang menjadi sebingung ini. Wajahnya juga memerah.

"Aku yang salah karena masuk tanpa izin, jadi jangan dipikirkan."

"Tidak bisa begitu. Meskipun baunya bercampur dengan aroma terapi yang saya bakar di ruangan ini, tidak menyadari bau Lloyd-sama adalah... rasanya saya ingin menghilang saja. Ini semua karena kurangnya latihan saya. Silakan berikan hukuman apa pun!"

Rasanya standar hal yang dia anggap memalukan itu agak aneh.

"Sudahlah... ngomong-ngomong, wangi yang ada di ruangan ini bau apa?"

Aku mencoba mengganti topik untuk mencairkan suasana.

Biasanya aroma terapi itu berbau lavender atau semacamnya, tapi ini wangi yang tidak pernah aku cium sebelumnya.

"Ini, itu... sejujurnya ini adalah aroma terapi yang saya pesan khusus dari ahli parfum dengan membayangkan citra Lloyd-sama. Saat dikelilingi wangi ini, rasanya seperti sedang mendekap Lloyd-sama, hati saya jadi merasa sangat tenang... hehe, hehehe..."

Sylpha tertawa dengan cara yang menyeramkan dan wajah yang tampak mabuk kepayang.

……Entah kenapa, sepertinya lebih baik aku tidak bertanya lebih dalam lagi.

"Omong-omong, ada perlu apa Anda datang ke sini?"

"Ah, benar juga. Aku ingin meminjam Formula Blade."

"Begitu ya. Padahal kalau Anda bilang, saya akan segera membawakannya."

Kalau aku bilang, nanti Sylpha pasti mau ikut, makanya aku malas. ……Tentu saja aku tidak bisa mengatakannya.

"Ah, maaf. Saya akan segera menyiapkannya. ...Eeto, kalau tidak salah di sekitar sini... Ketemu!"

Yang dia tarik keluar dari lemari adalah sebuah sarung pedang yang disegel dengan sangat ketat. Itulah Formula Blade.

Ooh, ini dia. Dengan ini, kotak itu pasti bisa terbelah dua.

Yah, kalau Sylpha tahu pasti bakal merepotkan, jadi aku akan melakukannya diam-diam. Kalau aku diam saja, dia juga tidak akan bertanya...

"Jadi Anda berniat menebas penyebab kehancuran Saloum dengan ini ya."

Deg!

Rasanya jantungku mau copot dari mulut.




Kenapa dia bisa tahu? Padahal aku tidak mengucapkan sepatah kata pun.

"Wajah Anda seolah bertanya 'kenapa'. ……Saya mengerti, kok. Karena saya selalu memperhatikan Anda, Lloyd-sama. Anda pasti sudah menyadari di mana benda itu berada, dan berniat menyelesaikannya sendirian, kan?"

"A-apa maksudmu ya—haha, hahahaha……"

"Agar tidak ada orang lain yang terancam bahaya, Anda berniat mengakhirinya sendirian. Sungguh kemuliaan hati yang luar biasa dan lembut…… tapi tolong, biarkan Sylpha ini membantu. Meski kemampuan saya terbatas, saya ingin menjadi kekuatan bagi Anda. Setidaknya jika hanya sebagai pengayun pedang, saya rasa saya bisa berguna."

"Yah, tapi, gimana ya—……"

Sejujurnya, aku repot kalau Sylpha ikut.

Jika kotak hitam itu dibuka, kemungkinan besar sesuatu yang luar biasa akan melompat keluar.

Dalam pertarungan, bahkan Sylpha sekalipun hanya akan menjadi beban. Tentu saja aku percaya diri bisa menang, tapi akan sangat gawat kalau kekuatanku yang sebenarnya terlihat olehnya.

Lagipula, sepertinya dia sudah sedikit banyak tahu tentang kemampuanku, jadi memperlihatkannya lebih dari ini sangatlah berbahaya.

"Saya mohon dengan sangat, Lloyd-sama. Tolong, apa pun permintaannya!"

"Maaf, tapi aku meno—"

"Mohon bantuannya!"

"Bukan, kan sudah kubilang meno—"

"Saya mohon!"

……Cih, sepertinya dia benar-benar tidak akan membiarkanku menolaknya.

Sylpha kalau sudah begini akan menjadi sangat keras kepala.

Bagaimana cara meyakinkannya ya…… saat aku sedang berpikir begitu, pintu terbanting terbuka.

"Aku sudah dengar semuanya!"

Yang muncul adalah Tao.

Rasanya kemunculan seperti ini sudah terjadi beberapa kali, dan itu pasti bukan karena efek loop semata.

"Fufufun, jangan pelit-pelit begitu dong♪ Tidak perlu mengandalkan pelayan itu, kan ada hubungan antara aku dan Lloyd. Aku pasti akan sangat berguna."

"Maaf Lloyd, aku sudah mencoba menghentikannya, tapi……"

"Tekad Tao-san terlalu kuat……"

Bukan hanya Tao, di belakangnya bahkan ada Ren dan Connie.

"Kukuku, tidak mungkin bisa membohongi aku, sang Saint Bulan Purnama! Lagipula Meja Bundarku adalah satu kesatuan, aku tidak akan membiarkan siapa pun mencuri start. Bahkan jika kalian mencemaskan keselamatan kami! Fuhahhahhahha!"

"……Haa."

Ditambah kehadiran Kak Celia, sudah mustahil bagiku untuk bersandiwara lagi.

Sambil menghela napas panjang, aku pun mengangguk pasrah.

Begitulah, pada akhirnya aku terpaksa membawa mereka semua menuju Perpustakaan Terlarang.

Yare yare, harus bagaimana ya.

"Mau bagaimana ini Lloyd-sama? Tergantung isi kotaknya nanti, tapi sepertinya akan sulit bergerak jika bersama mereka, kan?"

"Dengan rombongan sebesar ini, mustahil bagi Anda untuk menyembunyikan kekuatan, Lloyd-sama. Bukankah lebih baik jujur saja……"

"Hmm, benar juga ya…… eh, tunggu dulu? Kalau sudah begini, bukankah pilihan 'aku tidak perlu bertarung' juga bisa diambil?"

Tergantung caranya, Sylpha dan yang lainnya mungkin bisa memberikan perlawanan yang seimbang.

Umu, itu ide yang lumayan bagus.

"Maksud Tuan, Anda akan menyokong para pelayan itu dengan Physical Enhancement…… begitu?"

"Ditambah lagi dengan memberikan tumpukan Debuff pada lawan…… ya. Tapi, apa akan berjalan selancar itu?"

"Yah, itu tergantung lawannya juga, sih."

Jika lawannya setingkat Raja Iblis Beals atau lebih, seberapa banyak pun aku memberikan sokongan, itu hanya akan jadi sia-sia.

Dalam kasus itu, aku terpaksa harus serius, tapi…… ini layak untuk dicoba.

"Kalau begitu sudah diputuskan—■"

Aku merapalkan Physical Enhancement secara berlapis-lapis. Namun tidak sekaligus, melainkan memperkuat efeknya sedikit demi sedikit.

Kalau langsung jadi kuat secara mendadak, mereka pasti akan curiga.

Butuh waktu sekitar sepuluh menit berjalan kaki sampai ke Perpustakaan Terlarang. Jika diperkuat perlahan selama itu, saat sampai nanti, kemampuan fisik mereka mungkin akan meningkat sekitar sepuluh kali lipat.

"Nggak, meski pelan-pelan, tapi bukannya ada batasnya……"

"Bahkan kalau dilakukan selama beberapa tahun pun, sepertinya akan tetap ketahuan……"

Tidak, tidak, aku yakin akan baik-baik saja. Sylpha dan yang lainnya terbiasa menahan kekuatan demi pekerjaan mereka. Jadi, peningkatan potensi akibat penguatan fisik ini pasti akan mereka anggap sebagai kondisi tubuh yang sedang sangat fit saja.

"Mu…… entah kenapa kondisi tubuhku terasa sangat luar biasa ya……?"

"Iya, rasanya sekarang aku bisa menghajar siapa pun!"

"Lloyd, apa kau melakukan sesuatu?"

"Itu sihir penguatan fisik, kan? Kau melakukannya agar kami bisa bertarung melawan musuh kuat."

Apa!? Jadi ketahuan……?

Cih, kalau sudah begini, ini adalah langkah terakhir.

"Se-seperti yang diharapkan dari Kak Celia! Tubuhku jadi terasa hangat!"

"Hah?"

"Kakak sedang memperkuat kami dengan kekuatan Saint, kan? Hebat sekali, benar-benar luar biasa!"

Aku terus mencecar Kak Celia yang sedang melongo kebingungan dengan kata-kata.

"Kita semua mendapatkan penguatan fisik…… aku baru dengar dari Holy King belum lama ini. Katanya Kak Celia mulai bangkit sebagai seorang Saint. Aku sudah dengar ceritanya, tapi tidak menyangka sampai sehebat ini…… aku terkejut!"

Mendengar kata-kataku, Kak Celia berkedip beberapa kali. Setelah itu,

"Fu-fuhahhahhahha! Kau menyadarinya ya! Benar-benar adikku yang cerdas! Tentu saja, inilah Mukjizat dari aku, sang Saint Bulan Purnama! Aku telah meningkatkan kemampuan fisik kalian semua!"

Kak Celia mulai tertawa terbahak-bahak.

……Sip, sesuai rencana. Aku sudah menduga dia akan mengikuti alurnya.

"Jadi ini kekuatan Celia-sama……! Benar-benar kekuatan yang di luar nalar."

"Hee, jadi ini perbuatan Kak Celia ya. Hebat banget."

"Tentu saja, tentu saja! Wahai Meja Bundarku, nikmatilah kekuatanku ini! Fuhahhahhahha!"

Umu, yang lainnya juga berhasil tertipu dengan baik.

ーSingkatnya, aku membuat seolah-olah penguatan fisik yang kuberikan adalah perbuatan Kak Celia.

Banyak kekuatan Saint yang bangkit tanpa disadari, dan konon sebagian besar darinya sangat sulit dikendalikan.

Efeknya pun berbeda-beda tiap orang, jadi kupikir sebaiknya kusemprotkan saja semuanya ke Kak Celia.

Aku memang memanfaatkan kepribadiannya, tapi…… dia lebih bersemangat dari dugaanku, jadi ini sangat membantu.

"Ng-ngomong-ngomong, kalau berada di dekat Celia-sama, entah kenapa kondisi tubuhku jadi terasa sangat fit ya~?"

"Aku juga, mungkin. Sepertinya ini berkat Celia-sama. Mungkin, pasti."

Ren dan Connie sepertinya menyadari maksudku, mereka berusaha keras mengikuti alur ceritanya.

"Benar sekali, benar sekali! Wahai para ksatria suci yang dipandu cahaya bulan, kini saatnya kita mengalahkan kejahatan bersama! Serang, wahai Meja Bundarku! Fuhahhahhahha!"

……Tapi, Kak Celia benar-benar terbawa suasana.

Terserah sih, tapi tolong jangan berpose aneh sambil tertawa begitu. Agak memalukan melihatnya.

Yah, karena kemudahannya membantu, aku diam saja deh. Tapi aku akan menjauh sedikit.

"Benar-benar rencana yang asal-asalan ya……"

"Yah, kalau dibilang seperti biasa, memang seperti biasa sih……"

Habisnya, dari awal semuanya sudah berantakan, mau bagaimana lagi.

Tapi apa pun itu, sandiwara selesai. Dengan ini, meski makhluk yang keluar dari kotak nanti cukup kuat, mereka pasti bisa mengatasinya. Umu, umu.

Sambil bercakap-cakap, kami pun sampai di Perpustakaan Terlarang.

"……Di dalam kotak ini seharusnya ada penyebab kehancuran Saloum."

"Begitu ya, memang benar terasa aura yang sangat mengerikan…… benar-benar Kotak Bencana! Tapi masih ada harapan. Dan harapan itu adalah kau yang menemukannya, Lloyd. Benar-benar adikku yang hebat!"

"Terserah deh, cepat buka saja. Pelayan."

"Tidak perlu Anda suruh pun saya akan melakukannya. ……Kalau begitu, saya mulai! Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, semuanya mohon bersiap."

Setelah berkata begitu, Sylpha mencabut Formula Blade yang dipegangnya.

Kring! Bersamaan dengan suara dingin yang bergema di sana, kotak hitam itu terbelah menjadi dua.

ーSip, sesuai rencana, tidak ada ledakan.

Karena tebasannya yang terlampau cepat, dia memotong formula sihir kotak itu sebelum jebakannya sempat aktif.

Teknik pedang Sylpha yang digabung dengan Formula Blade-lah yang membuat teknik ini memungkinkan.

Tapi kalau dilihat-lihat, tadi itu cukup mepet. Tanpa penguatan fisik, mungkin akan berbahaya.

"Luar biasa, Sylpha! Membelah Kotak Bencana menjadi dua! Benar-benar Meja Bundarku, Putri Pedang Perak!"

"Tidak…… ini bukan kekuatan saya sendiri. ……Benar kan, Lloyd-sama?"

"A-ah! Benar! Itu berkat Kak Celia! Haha, hahahaha……"

Dia menatapku dengan penuh arti sampai membuatku kaget.

Dia…… nggak sadar, kan?

Saat aku sedang berdebar tidak keruan, Tao berteriak.

"Lihat! Ada asap hitam keluar dari kotaknya!"

Saat aku mendongak, asap hitam pekat mulai menutupi langit-langit Perpustakaan Terlarang. Asap itu perlahan menyatu dan mulai membentuk wujud manusia.

Hmm, kepadatan mananya sangat tinggi. Memang benar dia iblis tingkat tinggi.

Dari mana yang dikeluarkannya, kekuatannya sepertinya setara dengan Beals atau setingkat di bawahnya.

Entitas mana yang berwarna hitam pekat, mata yang merah menyala, dan mulut yang robek hingga ke telinga itu bergerak dengan aneh.

"Gigi…… Mustahil…… Kenapa segel kotaknya bisa hancur……? Kalian para manusia! Kaliankah yang telah membebaskanku……?"

"Sebelum itu, perkenalkan dirimu dulu. Susah memanggilmu kalau tidak tahu namamu."

"Hou, tidak gemetar di hadapanku, hebat juga untuk ukuran manusia…… baiklah, aku beritahu sebagai bekalmu ke alam baka. Namaku adalah Dewa Jahat Tartaros! Sang penjaga yang menguasai penjara neraka!"

Dewa Jahat ya. Aku tidak terlalu paham, tapi sepertinya tidak salah lagi kalau dia adalah jenis iblis.

……Eh? Ngomong-ngomong, aku merasa pernah dengar nama Tartaros di suatu tempat……?

"Itu adalah nama yang diberikan pada Golem yang dibuat oleh Ido dulu," ujar Grim.

"Iya, iblis yang konon bisa melahap segala hal dan tumbuh tanpa batas…… mungkinkah ini adalah orisinalnya?" tambah Jiriel.

Ah, iya, iya. Aku ingat sekarang.

Ido, klonku yang merupakan Homunculus, pernah menciptakan Golem dengan nama itu untuk pertarungan terakhir melawanku.

Tartaros yang mencapai wujud sempurna setelah menyerap golem-golem di seluruh arena itu punya kekuatan yang lumayan, seingatku. Jadi ini adalah asalnya ya.

"Tapi kenapa makhluk seperti itu bisa tersegel di tempat seperti ini?"

"Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaan kalian! Obrolan selesai. Terimalah balasan karena telah mengganggu tidurku!"

Ah, sial. Dia mengabaikan pertanyaanku. Tipe orang yang tidak mau mendengarkan pembicaraan orang lain ya.

Saat aku sedang berpikir begitu, Wush! Aliran mana yang sangat deras meledak ke segala arah.

Kalau terkena ini secara langsung, semuanya selain aku akan berada dalam bahaya. Yang kukeluarkan seketika adalah Anti-Magic Canopy.

Sebuah penghalang yang secara drastis menurunkan konsentrasi mana di sekitar, membuat segala jenis efek yang menggunakan mana akan berkurang secara drastis.

Karena sifatnya, efek ini juga berpengaruh pada penggunanya sehingga sulit digunakan, tapi demi menekan kerusakan pada yang lain, aku terpaksa menggunakannya.

"Uwoh, konsentrasi mana di sekitar menipis drastis. Kalau begini, tekanan mana si brengsek itu cuma terasa seperti sepoi-sepoi."

"Berarti ini adalah sihir untuk bertarung bersama rekan ya. Bagi Lloyd-sama yang biasanya bertarung sendirian, rasanya tidak ada gunanya," komentar Jiriel.

Tidak juga, sebenarnya ini ada gunanya.

Dulu saat aku masih lebih kecil dan belum mahir menahan kekuatan, aku sering menggunakan ini saat melakukan eksperimen sihir besar agar tidak menghancurkan istana.

Yah, karena kekuatannya jadi terlalu lemah, ini benar-benar hanya bisa digunakan untuk uji coba, tapi khasiatnya sudah terjamin.

"Manaku terpangkas drastis……? Tapi, ini sudah lebih dari cukup untuk membantai kalian!"

Bersamaan dengan raungannya, Tartaros mengisi seluruh tubuhnya dengan mana.

Guncangan terjadi di seluruh tubuhnya, membelah menjadi tak terhitung banyaknya, dan mulai membentuk wujud seperti ular.

"Itu adalah Naga Berwarna Seratus yang tinggal di Dunia Iblis! Meski kekuatannya tidak sebanding dengan yang asli, sih……!" seru Grim.

"Sepertinya dia menyerap kemampuan itu…… Menelan segalanya dan menjadikannya kekuatan, benar-benar kekuatan yang pantas bagi si Tartaros ini……!" tambah Jiriel.

Makhluk Dunia Iblis, ditambah kekuatannya sendiri ya.

Dalam situasi di mana konsentrasi mana menipis, serangan yang menggunakan mana—terutama serangan jarak jauh—akan berkurang drastis.

Mengubah bentuk tubuhnya sendiri untuk menyerang adalah cara yang lumayan pintar dengan memanfaatkan sifatnya sebagai entitas mana.

Ratusan hujan ular hitam menghujani Sylpha dan yang lainnya.

"Akan kujatuhkan! ーGaya Pedang Langris, Hedgehog!"

"Tidak perlu kau suruh pun aku tahu! ーHyakkaken, Dragon Wolf Fang!"

Untuk membalasnya, Sylpha dan Tao melancarkan serangan bertubi-tubi.

Setiap kali benturan terjadi, gelombang kejut menyapu ke segala arah, menciptakan badai di sekeliling mereka.

Aku berusaha sebisa mungkin menahan gelombang kejut itu agar Kak Celia dan yang lainnya tidak terpental.

"Ugh, gelombang kejutnya hebat banget…… Tapi Perpustakaan Terlarang ini luar biasa kuat ya…… Aku juga sempat berpikir begitu saat bertarung melawan Tuan dulu……" gumam Grim.

"Meskipun konsentrasi mana menipis, dengan jual beli serangan sehebat ini, bangunan biasa pasti sudah hancur lebur…… Apakah Lloyd-sama melakukan sesuatu?" tanya Jiriel.

"Yah, dulu pernah sedikit kuperkuat."

Di Perpustakaan Terlarang banyak benda berbahaya dan berharga.

Jadi agar apa pun yang terjadi tetap aman, aku selalu memasang penghalang yang sangat kuat.

Apalagi sekarang konsentrasi mananya sedang ditipiskan, serangan seperti apa pun tidak akan mampu membakar satu lembar buku pun.

"Ugh…… Seranganku bisa dinetralkan oleh orang-orang selevel ini……!"

Untuk saat ini mereka seimbang, dan Tartaros tampak menggertakkan gigi karena kesal.

Kemungkinan saat ini kemampuannya berada di bawah sepuluh persen. Tentu saja dia tidak puas.

Sayangnya, aku tidak akan melepaskan segelnya. Hahahaha.

"……Benar-benar monster yang mengerikan. Tapi entah kenapa kami bisa mengimbanginya."

"Aku juga. Apa ini berkat penguatan fisiknya?"

Sylpha dan yang lainnya tampak masih punya sedikit ruang meski harus mengatur napas.

Umu, sepertinya mereka bisa bertarung dengan cukup baik.

"Bahkan tanpa ikut bertarung pun kekuatannya tetap luar biasa…… Lloyd-sama memang benar-benar terlalu kuat ya……"

"Baff dan debuff super hebat, ditambah penghalang mana…… Bukankah ini sama saja dengan Lloyd-sama yang sedang bertarung?"

Grim dan Jiriel menatap dengan pandangan takjub sekaligus heran.

Mengatakan aku bertarung sendirian itu berlebihan. Sylpha dan yang lainnya juga sedang berjuang keras, kan.

Bagaimanapun, pertempuran semakin sengit.

Setiap kali Tartaros melancarkan serangan, Sylpha akan menebas semuanya, dan Tao akan mengincar celah tersebut.

Ren terkadang menyembuhkan luka dengan tanaman obat dan sesekali memberikan racun, sementara Connie membalas dengan peralatan sihir, sangat membatasi pergerakan Tartaros.

"Bagaimanapun juga ini pertarungan yang seimbang. Meski sepertinya mereka tidak bisa dibilang santai juga sih."

"Perlahan-lahan mereka mulai terdesak. Tapi kalau Sylpha-tan, dia pasti bisa melakukan sesuatu……!"

Grim dan Jiriel fokus pada pertarungan, tapi kesadaranku tertuju pada hal lain.

Kak Celia. Dia terlihat kebingungan di depan pertempuran yang sengit…… namun mana yang terkandung di dalam dirinya mulai aktif secara luar biasa.

Jika diibaratkan warna, warnanya adalah putih. Mana yang hanya bisa disebut unik itu terlihat sangat mirip dengan mana milik Holy King.

"Jangan-jangan pertarungan melawan iblis ini memicu kebangkitan kekuatannya sebagai Saint……?"

Menurut Holy King, 'Mukjizat' yang mereka gunakan bukanlah teknik yang dipelajari melalui latihan, melainkan kemampuan khusus yang bangkit karena suatu pemicu.

Misalnya saja Holy King menggunakan biola untuk memainkan berbagai lagu dan mengeluarkan berbagai kemampuan—Sihir Lagu—namun katanya hal itu terjadi karena "suatu hari saat sedang melamun, tiba-tiba ada sesuatu yang turun".

Saat mempelajari lagu baru pun, dia seolah mendapatkan inspirasi setelah melihat sesuatu, atau tiba-tiba saja dia menghafalnya.

Kak Celia juga sudah bisa menggunakan kemampuan ramalan sejak kecil tanpa disadari, dan sekarang mungkin dia sedang bangkit ke kekuatan baru di hadapan iblis.

Jika benar begitu, ini adalah kejutan yang menyenangkan.

Mungkin aku bisa melihat sesuatu yang menarik. Aku jadi sedikit bersemangat.

Saat aku sedang berpikir begitu, hiu hitam pekat yang tercipta dari Tartaros menyerang Sylpha.

"SHAAAAAAAAGYAAAAAAAA!"

"ー! Gaya Pedang Langris, Phoenix Tail Sweep!"

Bilah pedang diayunkan seolah ekor burung Phoenix yang berkilat untuk menebas perut hiu itu, namun pada detik berikutnya,

Giging!

Kulit yang keras menahan tebasannya, dan hiu itu berputar dengan hebat.

Putaran bor berkecepatan super tinggi, dan benturan itu mematahkan pedang Sylpha.

(Ngomong-ngomong pedang yang dia pegang itu pedang biasa, Formula Blade-nya sudah disimpan dengan benar tanpa disadari.)

Sylpha terbelalak kaget, sementara hiu itu melakukan salto di udara dan menghantamkan ekornya ke arah ubun-ubun Sylpha.

"Sylpha!"

"Kuー!?"

Dia berusaha keras menahannya dengan pedang yang patah, namun lawan selangkah lebih cepat.

Serangan itu telak. Saat semua orang mengira begitu,

Cahaya yang sangat menyilaukan menerangi sekeliling. Uwoh, silau!

Di pusat cahaya yang bersinar terang itu ada Kak Celia. Mana yang sedari tadi aktif di dalam tubuhnya kini terpancar keluar menjadi cahaya.

"A-apa…… cahaya ini…… eh? Cuma aku? Jangan-jangan ini penyakit aneh!?"

Bahkan Kak Celia sendiri pun tampak bingung dengan keanehan tersebut.

Tenang saja, menurutku itu bukan penyakit.

"Hah, ngomong-ngomong Sylpha……!"

Aku teringat dia baru saja akan terkena serangan, lalu aku menoleh ke arahnya.

Dan di sana, tampak Sylpha yang berdiri terpaku setelah membelah hiu itu menjadi dua.

Wajahnya menunjukkan bahwa dia sendiri tidak paham apa yang baru saja terjadi.

Namun yang paling mencolok adalah pedang patah yang dipegang Sylpha, dari sana cahaya memanjang lurus membentuk wujud sebilah pedang.

"A-apa-apaan pedang cahaya itu……? Hiu yang tidak mempan dengan pedang biasa tadi langsung hancur dalam satu tebasan…… Ketajaman macam apa itu?" tanya Grim.

"Ini berbeda dengan Light Weapon biasa ya. Terasa mirip, tapi aku merasakan kekuatan anti-iblis yang jauh lebih kuat……! Lagipula cahaya itu seolah beresonansi dengan Celia-tan……" komentar Jiriel.

Benar, pedang cahaya Sylpha mirip dengan Light Weapon dari sihir suci, tapi menyelimuti atmosfer yang jauh lebih murni.

Bukan hanya pedangnya saja.

Cahaya itu menutupi seluruh tubuh Sylpha bagaikan jubah, dan sepertinya meningkatkan seluruh kemampuannya.

"Ini…… kekuatan yang luar biasa mengalir di seluruh tubuhku……! Kalau begini……!"

Dia bergumam pelan, lalu menjejak tanah.

"Cih! Jangan harap!"

Tartaros yang menyadarinya menciptakan kelinci hitam yang tak terhitung jumlahnya untuk membentuk dinding penghalang jalan.

……Namun, Sylpha sudah berada di belakangnya. Kecepatan yang luar biasa, bahkan aku pun hampir kehilangan jejaknya.




Zan! Tebasan tak kasat mata yang tercipta secara bersamaan mencabik-cabik Tartaros.

"Nu...! Guuuh! Mustahil... Kecepatan ini bahkan melampaui para Kelinci Hitam yang membanggakan kecepatan dan jumlah serangan mereka...!?"

"Ya, aku sendiri pun terkejut. Ini benar-benar curang."

Sambil bergumam pada Tartaros yang sudah setengah hancur, Sylpha menghunjamkan tebasan tambahan.

Slash, slash, slash, slash! Tiap kali pedang cahaya itu diayunkan, tubuh Tartaros terpotong-potong menjadi bagian kecil.

Ini... luar biasa. Sylpha yang biasanya saja sudah hebat, tapi yang sekarang benar-benar berada di dimensi yang berbeda.

Benar-benar mendominasi. Rasanya sulit dipercaya kalau beberapa saat lalu kami semua masih kesulitan melawannya. Kalau dia mau, mungkin kekuatannya bisa menandingi aku saat sedang serius.

"A-apa-apaan pelayan itu...! Kekuatannya tidak masuk akal, lho!?"

"Sebenarnya apa yang terjadi? Sylpha-san tiba-tiba jadi sangat kuat!?"

"Monster. Dari dulu dia memang sudah seperti itu, tapi Sylpha-san yang sekarang benar-benar layak dipanggil dengan sebutan itu."

Tao dan yang lainnya pun terpaku melihat gaya bertarung yang dahsyat itu.

Wajar saja. Lagipula aku pun ikut terkejut. Sebenarnya apa yang—

"Izinkan aku menjelaskan!"

Tiba-tiba muncul seorang pemuda berambut hitam, sang Holy King.

Hei, waktumu benar-benar tidak tepat. Dan selama ini kamu sembunyi di mana saja, sih?

"Fuh, di mana ada kegelapan, di situ ada cahaya. Di mana ada kejahatan, di situ ada keadilan. Dan di mana ada iblis, di situ ada aku! ...Begitulah. Jika iblis sekuat ini muncul, tidak mungkin aku, sang pencinta damai sekaligus pembela keadilan, tidak menampakkan diri."

Holy King mengatakannya dengan penuh percaya diri, padahal dia tidak pernah muncul sekali pun saat aku bertarung melawan iblis.

Malah, bukannya ini pertama kalinya dia muncul? Mungkin karena menyadari tatapan curigaku, dia menggoyang-goyangkan jarinya ke kiri dan kanan.

"Begini-begini aku juga sibuk, tahu. Terkadang ada saat-saat di mana aku tidak bisa segera datang. Meski aku pencinta damai, bukan berarti aku adalah eksistensi mahakuasa yang bisa menengahi semua konflik."

Entah dari mana datangnya kepercayaan diri itu.

Yah, bagaimanapun juga aku tidak berharap banyak padanya sejak awal. Paling tidak, aku akan memintanya menjadi narator penjelasan saja.

"...Lalu?"

"Singkat amat—!? ...Yah, sudahlah. Baiklah, baiklah, akan kujelaskan! Sebagian kecil Saint—maksudku Selia-chan—memiliki kemampuan untuk melahirkan sosok Brave."

Brave...? Apa itu? Istilah yang baru pertama kali kudengar.

Melihatku memiringkan kepala, Grim dan yang lainnya menambahkan penjelasan.

"A-aku pernah dengar soal itu. Eksistensi yang dijuluki pembantai iblis legendaris. Konon mereka membantai habis para iblis yang mengacaukan dunia manusia. Mereka adalah sosok mengerikan yang bisa menjagal iblis sendirian... Meski tentu saja, tidak sehebat Lloyd-sama."

"Saya pun mengetahuinya. Mereka adalah ksatria terkuat yang menggunakan kekuatan cahaya untuk menjagal iblis tingkat tinggi sekalipun meski mereka hanya manusia. Tak disangka sosok itu dilahirkan dari kekuatan Saint... Tentu saja, mereka bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Lloyd-sama."

Kenapa jadi bawa-bawa aku, sih.

Yah, sihir biasa memang hampir tidak mempan pada iblis.

Bahkan bagiku, jika lawannya adalah iblis tingkat tinggi, akan sulit untuk menghabisinya secara tuntas tanpa melibatkan sihir suci.

Sejauh yang kutahu, manusia yang bisa berhadapan satu lawan satu dengan kelas Demon Lord hanyalah Holy King. Namun Sylpha yang sekarang jelas melampaui itu.

"Humu, jadi dia seperti versi upgrade dari Holy King, ya."

"Cara bicaramu itu, lho—! ...Tapi ya, penilaian itu memang tepat."

Holy King menghela napas pasrah.

...Jika dijelaskan lebih detail, mungkin dia terasa seperti Holy King yang dikhususkan untuk bertarung.

Saat kulihat Sylpha yang sudah menjadi Brave dengan Appraisal, sepertinya dia akan kehilangan kekuatan jika menjauh dari Selia. Efeknya pun tampak hanya sebatas peningkatan kemampuan fisik yang masif.

Di sisi lain, Holy King punya berbagai kemampuan selain bertarung, dan aku pun masih belum tahu sejauh mana kedalaman kekuatannya.

Yah, soal detailnya, lebih baik aku bertanya pelan-pelan pada Sylpha nanti.

"Guoooooh!? Mustahil! Mustahil, mustahil, mustahiiiiil!?"

Tartaros mengerang kesakitan. Dia benar-benar hanya bisa bertahan.

"Sepertinya pertarungan ini akan segera berakhir sementara kita mengobrol."

Kekuatan Sylpha dalam mode Brave benar-benar dominan.

Awalnya mereka tampak seimbang, namun seiring Sylpha terbiasa dengan kekuatannya, pertarungan itu berubah menjadi pembantaian sepihak.

Sepertinya Barrier milikku sudah tidak diperlukan lagi.

"Wah, memang hebat ya versi upgrade dariku. Kuat sekali, ya."

Abaikan saja Holy King yang bicara dengan nada merajuk itu... Yang penting sekarang adalah memastikan lawan tidak kabur.

Kalau dia terbunuh, aku tidak bisa menanyakan banyak hal. Idealnya adalah melemahkannya lalu menangkapnya.

Jika beruntung, aku ingin menjadikannya bahan eksperimen sekaligus menggali informasi. Saat aku mengirim pandangan ke arah Sylpha, dia seolah memahami pikiranku dan membalas dengan anggukan kecil.

"Guh...! Sial! Hanya manusia rendahan...!"

"Berhentilah meronta sia-sia. Tuanku adalah orang yang murah hati. Jika kamu menyerah sekarang, setidaknya nyawamu akan diampuni."

"Yah... soal murah hati itu agak meragukan, sih..."

"Malah mungkin kamu akan mengalami hal yang lebih buruk daripada kematian..."

Grim dan Jiriel memberikan komentar yang tidak sopan.

Kurang ajar. Seingatku aku tidak pernah melakukan hal sekejam itu, lho.

Kalian berdua, daripada bicara begitu, lebih baik bantu membujuknya. Dengan begitu kita mungkin bisa mengetahui banyak hal.

"Tu...an? Maksudmu bocah itu...?"

"Bocah, katamu?"

Ekspresi Sylpha seketika berubah tajam.

Namun Tartaros justru menyeringai seolah telah mendapatkan jawaban yang diinginkannya.

"...Kuku, reaksi itu... sepertinya tidak salah lagi kalau bocah di sana adalah tuanmu... Begitu ya, begitu ya. Aku baru saja mengetahui hal yang menarik...!"

"Banyak bicara... Terimalah hukuman karena telah menghina Tuanku."

Sylpha yang tampak sangat marah langsung menerjang.

Cepat. Bukan, dia benar-benar lupa caranya menahan diri. Pedang cahaya itu membesar seiring dengan amarah Sylpha yang meluap-luap.

"Eh, tunggu..."

Aku mencoba menghentikannya, tapi sudah terlambat.

Ayunan pedang cahaya itu membelah Tartaros menjadi dua.

Membelah... atau lebih tepatnya, bagian tubuh yang tersisa hanya tinggal sedikit di kedua ujungnya...

Sepertinya itu serangan yang fatal. Sisa tubuhnya yang sedikit itu mulai berubah menjadi partikel dan menghilang.

...Aduh, padahal aku ingin dia tetap hidup.

"Ah! M-mohon maafkan saya, Lloyd-sama! Tanpa sengaja saya..."

"Ah, tidak apa-apa. Jangan dipikirkan."

Aku melambaikan tangan menenangkan Sylpha yang meminta maaf sedalam-dalamnya.

Kemarahan Sylpha saat aku dihina memang benar-benar mengerikan.

Apalagi sekarang dia belum terbiasa dengan kekuatannya. Pasti sulit untuk menahan diri, jadi mau bagaimana lagi.

"Tapi sayang sekali ya. Kalau dia dibiarkan hidup, kita bisa menggali banyak informasi."

"Apa tidak ada sisa-sisa yang tertinggal? Kalau ada, kita bisa memberinya kekuatan sihir untuk membangkitkannya lagi."

...Tidak, aku masih merasakan sedikit hawa keberadaan sihir.

Di mana? Rasanya tidak terlalu jauh dari sini... Saat aku sedang mencari keberadaannya,

"...Kukuku."

Terdengar tawa yang tertahan.

Hawa keberadaan itu tiba-tiba meningkatkan kekuatan sihirnya dan mewujud tepat di telingaku.

Tartaros—sambil memasang senyum miring yang aneh, dia menempelkan bilah tajam ke pelipisku.

"Keadaan berbalik, wahai wanita! Yang kau kalahkan tadi hanyalah tubuh buatanku, tubuh asliku bersembunyi di balik bocah ini! Nah, jika kau sayang pada nyawanya, turuti kata-kataku...!"

"Kh... Lloyd-sama...!"

Sylpha menggertakkan gigi dengan rapi.

Di belakangnya, Ren dan Connie justru memasang wajah datar.

"Nah, pertama-tama buang pedang itu! Aku menang! Bagaimanapun kalian hanyalah manusia! Entah itu Brave atau apa, tidak mungkin kalian bisa menang melawanku, sang penjaga dunia iblis!"

Dengan tangan gemetar, Sylpha melepaskan pedang cahayanya.

Begitu terlepas, pedang itu kembali menjadi pedang patah biasa dan berguling di tanah.

Tao pun menyaksikan pemandangan itu sambil mengorek telinga dengan jari kelingkingnya.

"A-apa-apaan kalian! Kenapa kalian semua memasang wajah tenang begitu!? Dia adalah tuan kalian, kan!? Apa kalian tidak khawatir!?"

"Nggak juga..."

"Sama sekali tidak..."

"Sedikit pun tidak..."

Tartaros kebingungan dengan jawaban datar Tao dan yang lainnya.

Hei, kalian jahat sekali. Yah, meski aku mengerti perasaan kalian, sih.

"Kau! Lepaskan Lloyd! Di hadapan aku, Saint dari Moonlight, perbuatan licik dan rendah sepertimu tidak akan dimaafkan!"

"B-benar! Reaksi seperti itulah yang kubutuhkan! Hei, ada apa dengan kalian! Jangan melihatku dengan tatapan seperti—"

"Fireball."

Begitu aku bergumam, api meledak tepat di samping telingaku.

Di balik pelindung transparan, Tartaros yang hangus terbakar menampakkan ekspresi terkejut yang luar biasa.

"M-mustahil... Fireball dari telinga...?"

"Sihir tidak harus dikeluarkan dari bagian tubuh tertentu, tahu."

Selama mengikuti prosedur yang tepat, sihir bisa dikeluarkan bukan hanya dari tangan, tapi juga kaki, punggung, atau bahkan telinga.

Yah, secara teknis memang lebih kuat kalau dikeluarkan dari tangan, sih.

"Saya tahu sihir bisa ditembakkan dari mana saja, tapi seharusnya bagian yang saluran sihirnya tipis seperti telinga tidak akan menghasilkan kekuatan yang berarti..."

"Apalagi meskipun dia sudah melemah, mengalahkan iblis tingkat tinggi sekelas Tartaros hanya dengan satu serangan Fireball... Seperti biasa, Lloyd-sama benar-benar tidak masuk akal..."

"Sudah kuduga, aru."

"Yah, namanya juga Lloyd... Lawannya juga sudah lemah."

"Lagipula kalaupun lawannya masih segar bugar, sepertinya bakal langsung tamat juga..."

Berbanding terbalik dengan reaksi dingin Tao dan kawan-kawan,

"Lloyd-samaaaa!"

Mugyu, Sylpha langsung memelukku erat.

"Ah! Mohon maafkan saya! Saya telah lengah, sebuah kecerobohan yang tidak pantas dilakukan oleh pengawal Lloyd-sama! Saya, Sylpha, bersedia menerima hukuman apa pun! Ah, tapi sungguh sihir yang luar biasa! Bahkan kekuatanku yang sekarang pun tidak ada apa-apanya! Benar-benar luar biasa, Lloyd-sama!"

Dia membenamkan wajahnya padaku sambil menekankan dadanya dengan luapan emosi yang besar. Sakit, sakit. Dalam dua arti sekaligus.

"A-api tadi... dilakukan oleh Lloyd...? Bagaimana bisa...?"

Ah, benar juga, aku kan harus merahasiakannya dari Selia.

Sepertinya karena sudah mengulang berkali-kali, kewaspadaanku dalam bertindak jadi agak longgar. Aku harus berhati-hati.

"E-eto... itu karena Sylpha sudah mencicil kerusakannya. Dia sudah hampir mati, kok. Hahaha..."

"B-begitukah... Hmm? Tapi tetap saja, kekuatannya sulit dipercaya..."

"Benar! Ya kan, Sylpha!"

"Eh? Ah, ya..."

Aku memaksa Sylpha untuk mengangguk. Tidak ada cara lain selain memaksanya percaya dengan momentum ini.

"...Yah, mungkin memang begitu. Hebat juga adikku! Serangan yang luar biasa! Fuhahaha!"

"Benar, benar! Memang seperti itu! Ahahaha..."

...Fuh, sepertinya dia percaya.

Aku mengabaikan tatapan hangat (tapi kasihan) dari yang lainnya.

Nah, daripada itu, sekarang soal Tartaros. Aku harus menginterogasinya dan memaksanya membocorkan berbagai informasi.

Saat aku mengalihkan pandangan ke arah Tartaros yang hangus,

"Ga...! A-aaah...!"

Tiba-tiba, dia mulai mengerang kesakitan.

Matanya terbelalak lebar, dan tubuhnya gemetar karena kejang-kejang kecil.

Air liur menetes dari mulutnya, dan terdengar suara derit seolah seluruh tubuhnya sedang diremukkan dari dalam.

"Hen... tikan... Tolong...! Maafkan aku...!"

"H-hei, ada apa denganmu?"

Cara dia menderita ini tidak wajar.

Di hadapan kami yang kebingungan, sebuah sirkuit sihir mulai muncul di sekujur tubuh Tartaros. Hmm, ini—

"Gu..."

Sesaat sebelum dia sempat membocorkan sesuatu, tubuh Tartaros membengkak seketika lalu meledak.

Kilatan cahaya yang menyilaukan menyelimuti area sekitar, mengubah pandangan menjadi putih bersih.

—Ledakan itu lagi. Sepertinya kemampuan memutar balik waktu aktif secara otomatis.

Begitu sadar, aku sudah berdiri sendirian di kamarku.

"Nuu, sepertinya kita harus mengulang lagi ya..."

"Kh, apa karena kita tidak segera membunuh Tartaros makanya dia meledakkan diri...?"

"Tidak, sesaat sebelum ledakan, aku melihat sirkuit sihir muncul di permukaan kulitnya. Kemungkinan besar itu adalah sirkuit sihir jenis peledak diri."

"Ah benar juga, tadi saya sempat melihat sekilas. Meski tidak terlalu jelas sih."

"Peledakan diri ya... Jika demikian, masuk akal kalau kekuatannya sedahsyat itu."

Aku menjawab sambil mengangguk pada ucapan Jiriel.

Pada dasarnya, sihir tipe serangan akan semakin kuat jika bayaran (cost) yang dikeluarkan semakin besar.

Terutama sihir peledakan diri yang menjadikan tubuh sendiri sebagai bayaran, kekuatannya akan sangat luar biasa. Jadi wajar saja jika Barrier milikku tidak sanggup menahannya jika itu berasal dari iblis tingkat tinggi.

Aku sempat bertanya-tanya bagaimana bisa ada ledakan sekuat itu, tapi kalau itu adalah peledakan diri dari iblis kuat seperti Tartaros, aku mengerti.

Tapi apa alasannya menanamkan sirkuit sihir seperti itu pada dirinya sendiri...?

Lagipula, kenapa iblis tingkat tinggi berada di tempat seperti ini di dalam sebuah kotak? Apa tujuannya? Ekspresi terakhirnya tadi, rasanya bukan seperti orang yang siap meledakkan diri, melainkan lebih mirip ekspresi terkejut.

"Meski begitu, bisa membaca dan bahkan menguraikan sirkuit sihir dalam waktu sesingkat itu, benar-benar luar biasa Lloyd-sama."

"Kami hanya berpikir, 'Wah, ada yang bersinar', tadi. Kemampuan observasi yang mengagumkan."

"Tidak... itu karena sirkuitnya mirip dengan yang ada di dunia manusia."

Sehebat apa pun aku, aku tidak akan bisa menguraikan sirkuit sihir yang ditulis dengan bahasa sihir dunia iblis hanya dalam sekejap mata.

Alasan aku bisa memahaminya begitu melihatnya adalah karena basisnya berasal dari dunia manusia.

Tentu saja, banyak sirkuit sihir dunia iblis yang digabungkan di dalamnya. Rasanya seperti sirkuit sihir yang dibuat oleh iblis yang mempelajari sihir di dunia manusia.

"Kemungkinan besar... itu ditanamkan oleh orang lain."

"A...! Masa! Bukankah sihir peledakan diri hanya bisa sekuat itu jika dilakukan atas kehendak sendiri!? Lagipula, meledakkan orang lain... mana ada perbuatan sekeji itu dibiarkan!?"

"Benar-benar perbuatan yang tidak manusiawi... Namun yang lebih penting, jika seseorang bisa melakukan hal semacam itu pada iblis tingkat tinggi, sudah pasti dia adalah penyihir yang sangat hebat... Kenapa orang semacam itu mengirim kotak tersebut ke Saloom...?"

Grim dan Jiriel terdiam sejenak lalu menatapku lekat-lekat.

"M-mungkin tidak mungkin, tapi..."

"Itu bukan perbuatan Lloyd-sama, kan?"

"Tentu saja bukan..."

Aku menjawab dengan wajah datar.

Bagaimanapun juga, sesibuk apa pun aku, kalau aku melakukan pekerjaan besar seperti menanamkan sirkuit sihir serumit itu pada iblis, tidak mungkin aku lupa.

"Benar juga, kalau Lloyd-sama, beliau pasti akan bilang sayang sekali kalau bahan eksperimennya diledakkan. Meski kita tidak bisa menjamin 100% sih."

"Lagipula beliau biasanya tidak akan melakukan hal yang membahayakan Saloom. Meski itu pun tidak bisa dibilang mutlak."

Aku mengabaikan tatapan curiga mereka... Nah, dengan mengulang waktu berkali-kali, banyak hal yang mulai terungkap.

Kotak hitam yang terbuat dari material misterius, Tartaros yang bersembunyi di dalamnya, dan dalang yang mengendalikannya dari balik layar...

Yah, aku sudah mulai bosan mengumpulkan informasi. Saatnya membongkar semuanya dengan serius.

"Semuanya... tentu saja, termasuk sihir yang mereka gunakan."

"Jadi, karena sekarang kita berada di asrama pelayan..."

"Berarti ini tepat sebelum kita menyusup ke kamar Sylpha-tan, ya."

Nah, mari kita selesaikan ini dengan cepat.

Kalau santai-santai, nanti ketahuan lagi. Aku sudah tahu tempat persembunyiannya, jadi mari segera ambil Pedang Sirkuit itu.

Dengan sihir pemindahan ruang, aku berpindah ke kamar Sylpha dan mengambil Pedang Sirkuit yang tersimpan di balik lemari.

"Sip, barang yang dicari sudah didapat, sekarang ke Perpustakaan Terlarang."

"Tunggu sebentar Lloyd-sama! Biarkan saya menikmati aroma Sylpha-tan sedikit la—"

"Oraaa! ...Ayo berangkat, Lloyd-sama."

Tinju besi Grim menghantam Jiriel.

Sepertinya seberapa pun waktu diulang, takdirnya adalah tetap dihajar.

Sesampainya di Perpustakaan Terlarang, aku segera menemukan kotak hitam itu.

Aku mencabut Pedang Sirkuit dan mengaktifkan sihir pengendalian. Target Trace-nya tentu saja adalah Sylpha.

"—Gaya Pedang Langris, Unari Kouga (Taring Hiu Mengerang)."

Tebasan secepat kilat bak membelah riak air permukaan sungai terjadi, dan kotak yang terbelah atas-bawah itu jatuh terpisah.

Zudoon!

Ledakan terjadi secara bersamaan, tapi kekuatannya masih dalam level menggemaskan yang bisa ditahan dengan Barrier.

Ternyata aku belum bisa membelah seindah Sylpha, ya.

Yah, karena tidak ada dampak ke sekeliling, tidak masalah.

"Tentu Saja Ini Masalah, Bodooooh!"

Bersamaan dengan raungan itu, asap hitam keluar dan mulai membentuk wujud.

Yang muncul adalah Tartaros Origin.

Dia adalah biang keladi dari semua ini... atau begitulah pikirku, sebelum dia diledakkan oleh seseorang sesaat sebelum aku menggali informasi.

Ledakan dahsyat itulah yang menjadi penyebab kehancuran Saloom.

Artinya, aku harus melumpuhkannya tanpa membunuhnya.

"Kau kah yang telah mengganggu tidurku? Sulit dipercaya, hanya seorang bocah—"

Sebelum dia selesai bicara, aku mengayunkan Pedang Sirkuit ke arah Tartaros.

Aku tidak punya kewajiban untuk mendengarkan kata sambutan yang panjang lebar.

"Uooh! Kau... menyerang secara tiba-tiba, belajarlah sedikit tentang etika pertarungan..."

Aku sudah mendapatkan hampir semua informasi, jadi tidak ada alasan untuk bertanya. Lagipula tadi kamu tidak menjawab pertanyaanku sama sekali, kan? Aku tahu itu.

Kalaupun mau bicara, aku sudah mengonfirmasi di pengulangan sebelumnya kalau kamu adalah tipe yang baru bisa diajak bicara setelah dibuat lemah. Karena itu, serangan berlanjut.

"—Gaya Pedang Langris, Midare Jaga (Taring Ular Kacau)."

Ja! Bilah pedang melesat dengan lintasan yang berubah-ubah secara aneh.

Mengikuti lintasannya, jari kelingking kiri, lengan kanan, pergelangan kaki kanan, dan paha kiri terpotong seolah hanya dibelai lembut.

Inilah Pedang Sirkuit. Ini pertama kalinya aku menggunakannya sendiri, dan ketajamannya benar-benar luar biasa. Tidak sehebat sihir, tapi ini cukup menarik.

"Kh, pedang apa ini! Tapi kalau hanya segini—"

Tartaros berputar dan mencoba melancarkan tendangan.

Pada saat itu, bilah pedang sudah membelah hingga setengah bagian batang tubuh Tartaros.

Secara otomatis, karena tubuhnya dipelintir untuk membalas serangan, beban kecil menekan sisi samping bilah pedang.

"Ah..."

Sekali lagi, izinkan aku menjelaskan.

Pedang Sirkuit adalah benda di mana sirkuit sihir yang dikhususkan untuk 'memotong' ditenun dengan konsentrasi sangat tinggi, hingga membentuk wujud bilah pedang itu sendiri.

Oleh karena itu, ia memiliki kemampuan menebas yang dahsyat, namun di sisi lain sangat rapuh.

Saat menebas, jika lintasan pedang melenceng sedikit saja, ia akan patah. Benar-benar pedang kaca.

Bahkan Sylpha pun tidak menggunakannya untuk sehari-hari dan menyimpannya dengan pengawasan ketat tanpa membawanya ke mana-mana (kenyataannya, saat melawan Tartaros di pengulangan sebelumnya, dia bertarung dengan pedang biasa setelah membuka kotak tersebut). Artinya—

Pakiin!

Dengan suara yang kering, Pedang Sirkuit itu hancur berkeping-keping.

"Aah... patah ya... Pedang Sirkuitnya..."

"Hanya karena lawan memelintir tubuhnya sesaat... sungguh rapuh sekali."

...Gawat juga. Tak kusangka bakal patah semudah ini.

Karena rasanya sangat enak saat menebas, aku jadi terlalu asyik sendiri.

Aku tahu ini mudah patah, tapi kalau sampai begini... yah, mau bagaimana lagi.

Segala yang berwujud pasti akan hancur suatu saat. Aku harus menerimanya sebagai takdir. Humu humu.

"Lloyd-sama, keringat dingin Anda bercucuran tuh..."

"P-pasti Sylpha-tan akan memaafkan Anda!"

Memaafkan sih mungkin iya... tapi Sylpha itu tipe orang yang suka kepikiran dalam waktu lama.

Latihan pedang harianku mungkin akan jadi lebih berat. ...Yah, aku harus menerimanya dengan lapang dada.

Selagi kami mengobrol, Tartaros yang tadi tercincang mulai memulihkan dirinya.

"Fufun! Hebat juga, pedang tadi luar biasa tapi sekarang sudah tidak ada! Tidak perlu dijelaskan lagi kan betapa ruginya seorang ksatria yang kehilangan pedangnya? Kukuku, paling-paling kau hanyalah anak manja yang mendapatkan pedang iblis lalu mencoba sombong dengan melepas segelnya. Dasar bodoh! Menantangku, Tartaros-sama, rasakan penyesalanmu—"

"Fireball."

Zudoggooooon!

Bersamaan dengan suara gemuruh yang dahsyat, bagian atas tubuh Tartaros terpental hancur.

Tentu saja, aku sudah memasang pelindung di bagian belakang untuk memastikan kerusakan di dalam Perpustakaan Terlarang tetap minimal.

"M-mustahil... Aku, iblis tingkat tinggi, menerima kerusakan sebanyak ini hanya dari Fireball...!?"

Karena sebagian besar tubuhnya hancur oleh Fireball milikku, sepertinya dia bahkan kesulitan untuk memulihkan diri.

"Guoooo... tidak bisa pulih! Kenapa!? Hanya dengan Fireball yang digunakan ksatria... tidak mungkin... tidak mungkiiiin."

"Kekuatan asli Lloyd-sama bukan di situ, lho."

"Kalau beliau menggunakan sihir, tentu saja akan berakhir dalam sekejap."

Seharusnya sihir tidak mempan pada iblis... tapi aku juga terus berkembang.

Meskipun lawannya adalah iblis tingkat tinggi, aku bisa mengatasinya dengan sihir yang ditempa dengan kepadatan mana yang ekstrem, atau sihir yang memiliki efek mengabaikan resistensi.

Sebagai informasi, Fireball tadi adalah tipe yang pertama. Untuk lawan selevel ini, level Fireball saja sudah cukup untuk mengalahkannya.

"Selevel ini, katamu... bukankah tadi Anda bilang dia sekelas Demon Lord...?"

"Bagi Lloyd-sama yang sekarang, dia memang hanya 'selevel ini'... meski ini sulit dipercaya."

Aku mengabaikan Grim dan Jiriel yang sedang bergumam entah apa.

"Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu. Kau akan bicara."

"……Cih, siapa juga yang mau menjawab pertanyaan manusia sepertim—Guaaaaaaaaah!?"

"Lupa memberitahumu, selagi kamu memulihkan tubuhmu tadi, aku sudah menanamkan sirkuit sihir di sekujur tubuhmu. Setiap kali kamu melawan, rasa sakit yang luar biasa akan menjalar."

Di tubuh makhluk itu memang sudah terukir sirkuit sihir untuk peledakan diri.

Begitu aku menghancurkannya tadi, aku menulis ulang sebagian isinya dan menyusunnya kembali menjadi sirkuit penyiksaan.

Peledakan diri maupun penyiksaan pada dasarnya adalah sirkuit untuk mengekang pergerakan lawan. Jika tipenya serupa, menulis ulangnya sangatlah mudah.

"Menurutku menulis ulang sirkuit sihir yang dipasang orang lain itu sama sekali tidak mudah, sih... tapi yah, bagi Lloyd-sama hal semacam ini memang sudah biasa."

"Saat tubuh mana itu meledak hancur, beliau menyusunnya kembali seperti potongan puzzle dan menulis ulang sirkuitnya saat itu juga. Benar-benar teknik tingkat dewa."

Nah, karena peledakan dirinya sudah disegel, mari kita mulai interogasinya pelan-pelan.

Aku tidak boleh terlalu santai juga, karena seseorang mungkin akan datang ke sini jika terlalu lama.

"Tubuhmu itu bisa menyerap berbagai macam hal, kan? Apa ada batasannya? Bagaimana kondisi tubuh mana yang sudah terserap itu?"

"Apa kamu menggunakan semacam sirkuit sihir? Atau itu hanya kondisi fisik unik? Pokoknya, aku akan menelitimu sampai ke akar-akarnya...!"

"T-tunggu, Lloyd-sama! Ini bukan waktunya untuk melakukan hal seperti itu!"

"Benar! Bukankah Anda tadi sedang terburu-buru!?"

...Ehem, benar juga.

Kebiasaan lamaku muncul lagi, aku malah menanyakan hal-hal yang membuatku penasaran.

Di sini aku harus menahan diri dan masuk ke topik utama.

"Siapa identitas orang yang menanamkan sirkuit sihir padamu?"

"Ka-kalau aku mengungkapkannya... Guaaaaaaaaah!?"

Tartaros meronta-ronta sambil memercikkan bunga api listrik.

Setiap kali dia mencoba melawanku, sirkuit penyiksaan—modifikasi dari sirkuit peledakan diri—akan aktif.

"Gaah! Gigigi, gagaaaaah!"

"Lebih baik kau bicara jujur demi keselamatanmu sendiri, lho."

Ucapku pada Tartaros yang terus mengerang kesakitan.

Sengatan listrik yang kugunakan untuk penyiksaan ini telah kugabungkan dengan sihir suci, sehingga memberikan kerusakan berkelanjutan bagi iblis.

Sihir tipe petir memiliki kecocokan yang baik dengan sihir suci, dan memberikan efek yang luar biasa saat melawan kaum iblis.

Apalagi serangan berupa 'rasa sakit' sangat efektif terhadap iblis.

Bagaimana tidak, mereka biasanya hampir tidak pernah merasakan apa yang disebut kerusakan fisik. Mereka tidak terbiasa dengan rasa sakit.

Karena itulah, serangan ini benar-benar manjur. Efeknya sangat luar biasa.

"Lagipula sihir ini bahkan mempan pada Tuan Behal. Kami juga pernah merasakannya sedikit, dan rasanya mau mati. Lebih baik cepat mengaku demi kebaikanmu sendiri."

"Bahkan aku yang seorang malaikat pun rasanya hampir pingsan karena rasa sakit itu. Tak kusangka Anda menjadikan Raja Iblis sebagai rekan latihan sihir... tapi kalau dilihat-lihat, Anda benar-benar tampak seperti penjahat sekarang."

Dulu aku pernah meneliti sihir anti-iblis menggunakan Behal sebagai objeknya, tak disangka itu akan berguna di tempat seperti ini.

Meski begitu, aku sudah menaikkan kekuatannya cukup tinggi, tapi dia masih bisa bertahan... Dia lebih gigih dari dugaanku.

"Aku tidak bisa mengatakannya... Ra-rasa sakit level ini... tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mengkhianati 'Beliau'..."

"Hooo, setia sekali ya. Apa kamu begitu memercayainya?"

"Bukan percaya! Tapi takut! Apa yang akan terjadi jika aku melawan Beliau... membayangkannya saja sudah membuatku gemetar... Daripada mengkhianati Beliau dan menerima ganjarannya, rasa sakit seperti ini tidak ada artinya!"

Sepertinya sang dalang adalah orang yang sangat kejam.

Hmm, kalau begini saja dia belum menyerah, sepertinya akan sulit memaksanya bicara lewat penyiksaan.

Mau bagaimana lagi. Mungkin aku harus menggunakan sirkuit sihir yang sedikit lebih rumit... Saat aku sedang berpikir begitu, tiba-tiba muncul sebuah hawa keberadaan.

"A-Anda... jangan-jangan... Ke-kenapa Anda ada di tempat seperti ini...?"

Tartaros tiba-tiba mulai gemetar ketakutan karena hawa yang muncul itu.

Pandangannya tertuju ke belakangku, tapi di sana hanya ada Grim.

Namun melihat ketakutannya ini... ada sesuatu yang datang...? Aku bersiap dengan waspada, tapi tidak terjadi apa-apa.

...Hanya perasaanku saja? Tapi wajah Tartaros benar-benar menegang karena ketakutan.

"Hei, sebenarnya ada—"

Baru saja aku akan bicara, saat itulah terjadi.

Rasa dingin menjalar di punggungku. Sebuah gumpalan mana yang sangat kuat tiba-tiba muncul tepat di belakangku.

Pengguna pemindahan ruang? Tidak, yang lebih mengejutkan adalah gelombang mana yang dipancarkan dari belakang.

Perasaan ini, sepertinya aku mengenalnya...?

Sambil aku berbalik perlahan, sebuah bayangan berkata dari atas.

"Kupikir sirkuit sihirnya dihancurkan jadi aku datang mengecek... ternyata situasinya benar-benar menyedihkan, ya. Benar begitu, Tartaros?"

"M-mohon maafkan saya! Tuan Grimoire!"

Di sana berdiri seorang iblis dengan wujud kambing hitam raksasa—Grimoire.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close