Hukuman
Pembersihan
dan Penaklukan Jutan Sanahu Nede 1
Saat Patausche dan pasukannya tiba di Benteng Itriaf,
sang surya telah bertahta tinggi di angkasa.
Perjalanan yang dipaksakan menembus pekatnya malam
membuat semburat kelelahan tercetak jelas di wajah semua orang.
Bahkan Sang Saint Yulisa pun tidak terkecuali; dia
berdiri dengan bertumpu pada panji raksasa di tangannya, seolah menjadikannya
sebatang tongkat penopang raga.
Namun, setiap jiwa di tempat itu sadar betul bahwa badai
pertempuran yang sesungguhnya baru saja akan dimulai.
Ketika melangkah masuk ke dalam kamar yang dialokasikan
untuknya di sisi selatan benteng, Patausche merasakan hasrat yang begitu kuat
untuk segera merebahkan diri di atas ranjang──meski dia tahu hal itu haram
dilakukan.
Sebagai seorang perwira, dia dituntut untuk tetap tegak
menjaga kedisiplinan diri, bahkan di saat lepas dari pandangan mata para
prajurit bawahannya. Prinsip itu telah mendarah daging dalam sanubari Patausche.
"Langkah kita... baru dimulai dari sini, kan, Patausche?"
Teoritta memaksakan sebuah senyuman penuh percaya diri di
balik gurat wajahnya yang teramat letih.
Patausche sangat familier dengan cara gadis itu
menyunggingkan senyum.
Xylo Forbartz kerap kali menunjukkan senyuman serupa di
tengah berkecamuknya pertempuran yang hebat.
Tak bisa dimungkiri, gadis ini tampaknya telah tertular
tabiat buruk pria itu.
"Dari sinilah perang agung kita yang sebenarnya akan
dimulai. Saat Xylo kembali nanti, aku akan memamerkan pencapaian ini di depan
hidungnya sampai dia tercengang. Kamu paham, kan?"
"Tentu saja, Lady Teoritta."
Saat Xylo kembali nanti.
Kalimat itu begitu sering meluncur dari bibir
Teoritta.
Selama masa-masa mereka berposisi di Nofan, gadis itu
hampir setiap hari berkeliling ke sana kemari demi mengorek informasi mengenai
keberadaan Xylo.
"Siapa tahu hari ini dia akan pulang bersama Tsave
dan Saritaf."
"Apakah dia sudah berjalan dekat dari sini?"
"Bagaimana kalau kita memacu kuda sedikit lebih jauh
ke luar? Anggap saja sekadar jalan-jalan, sekaligus mencari keberadaan Xylo."
Rangkaian kalimat itu terus diucapkannya, seolah-olah
demi mengusir kabut kecemasan yang menggelayuti hatinya.
"Benar-benar keterlaluan. Berani-beraninya dia
menelantarkan sesosok Goddess dalam waktu sekian lama. Aku tidak akan
memaafkannya."
Teoritta mengerucutkan bibirnya dengan raut wajah masai
yang dibuat-buat. Dengan cara kekanak-kanakan seperti itulah, dia mencoba
melupakan rasa lelah yang menggerogoti fisiknya.
"Bagaimana menurutmu, Patausche?"
"Aku benar-benar sependapat dengan Anda."
Untuk poin yang satu ini, Patausche terpaksa harus setuju
sepenuhnya.
Absennya Xylo dari garis depan membuat dirinya harus
menanggung tumpukan urusan yang luar biasa merepotkan.
Memegang kendali komando atas unit Pasukan Punishment
Hero saja sudah menjadi beban yang sangat menguras energi di pundaknya.
Demi bisa fokus pada gaya bertarungnya sendiri, dia
terpaksa memecah belah kekuatan pasukannya menjadi dua bagian.
Dia hanya membawa sisa personel yang berada di bawah
kendali mutlak kepemimpinannya.
Keputusan itu terbukti sangat tepat untuk mengeksekusi
taktik penerobosan ke arah utara sebelumnya. Namun, jalur pertempuran ke depan
dipastikan akan jauh lebih terjal.
Rhyno, Norgayu, Dotta, dan Vanetim; keempat orang itu
sengaja ditinggalkannya di Nofan.
Watak mereka terlalu liar dan berada di luar batas
kemampuan Patausche untuk mengendalikannya.
Jika saja Tsave berada di sisinya saat ini, mungkin
situasi akan sedikit berbeda.
Di dalam unit Pasukan Punishment Hero, pria itu adalah
satu-satunya sosok─selain Xylo─yang memiliki kapasitas otak yang memadai untuk
diajak berdiskusi mengenai taktik pertempuran.
(Tapi nasi sudah menjadi bubur. Medan perang adalah
tempat di mana kita harus bertaruh murni menggunakan bidak yang tersisa di
tangan.)
Gendering perang berikutnya sudah berdendang tepat di
depan mata.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, operasi
pembersihan hutan belantara akan segera digulirkan dalam waktu dekat.
"Kita sudah mendapatkan panggilan resmi untuk
berkumpul, Lady Teoritta. Rapat koordinasi taktik akan segera dilaksanakan dua
jam lagi, jadi mohon gunakan waktu yang singkat ini untuk sedikit memulihkan
tenaga."
"……Fufu. Tanpa kehadiran Xylo, kamu tampak begitu
kesepian ya."
Teoritta menyunggingkan senyum tipis sembari mendudukkan
tubuhnya di tepi ranjang. Sudut alis Patausche spontan bertaut rapat mendengar
gurauan tersebut.
"Tuduhan Anda sama sekali tidak berdasar. Sosok yang
saat ini sedang didera rasa kesepian adalah Anda sendiri, Lady Teoritta."
"Kamu benar. Tanpa keberadaan Xylo di sisiku,
rasanya sangat sepi dan membuat kekuatanku tidak bisa keluar dengan maksimal.
Eksistensi seorang Goddess memang dirancang seperti itu."
Teoritta mengakui fakta tersebut tanpa ada niat untuk
menutup-nutupinya. Akhir-akhir ini, sang Goddess tampaknya mulai
mengadopsi sebuah bentuk kekuatan mental yang baru. Di mata Patausche,
kemampuan seseorang untuk mengutarakan isi hatinya secara jujur tanpa kepalsuan
adalah sebuah cerminan dari kekuatan jiwa yang sejati.
"Lalu bagaimana dengan perasaanmu yang sebenarnya?
Jujurlah kepadaku."
"Aku tidak akan pernah berani melontarkan kalimat
dusta di hadapan sesosok Goddess. Perasaan kesepian itu sama sekali
tidak ada di dalam hatiku. Hanya saja──"
"Hanya saja?"
"Aku merasa sangat murka saat ini. Mengalami insiden
penculikan secara tiba-tiba seperti itu adalah sebuah tindakan yang sangat
tidak bertanggung jawab. Begitu pria itu menginjakkan kakinya kembali ke tempat
ini, aku bersumpah akan langsung melayangkan sebuah tendangan keras ke
tubuhnya."
"Fufu! Opsi yang sangat menarik... lakukan saja. Aku
akan mendukung tindakanmu itu nanti."
Sembari melepaskan tawa renyahnya, Teoritta merebahkan
tubuhnya secara perlahan di atas kasur. Dia tampaknya berniat untuk memejamkan
mata sejenak demi mengembalikan staminanya yang terkuras.
"Xylo perlu belajar untuk lebih peduli dan
menghadapi orang-orang di sekitarnya dengan benar. Kamu juga harus mulai
memikirkan poin tersebut baik-baik."
"……Aku mengerti."
Hal itu tentu saja tidak perlu diingatkan lagi olehnya.
Ada sebuah untaian kalimat yang ingin disampaikannya kepada pria itu nanti.
Memenangkan jalannya pertempuran besar ini, lalu
menyerahkan kembali tongkat komando tertinggi kepada Xylo dengan sikap tenang
seolah-olah tidak pernah terjadi masalah apa pun sebelumnya.
Jika skenario indah itu gagal diwujudkan, maka kata-kata
yang telah dipersiapkannya hanya akan berakhir menjadi angin lalu.
(Sebelum momen itu tiba──)
Aku tidak boleh mati di tempat ini. Sebuah hasrat
emosional yang sangat kuat mendadak bergejolak hebat di dalam sanubarinya.
Kehilangan seluruh memori ingatan berharga ini serta
lenyapnya eksistensi dirinya dari dunia adalah sebuah kenyataan pahit yang
tidak akan pernah bisa ditoleransi oleh jiwanya.
(Xylo Forbartz. Di mana sebenarnya dirimu berada saat
ini, dan apa yang sedang kamu lakukan?)
Rasa jengkel yang teramat sangat menyelimuti isi
kepalanya saat memikirkan hal tersebut. Di sisi lain, suara deru napas halus
Teoritta yang telah terlelap mulai terdengar samar di dalam kamar.
(Kapan kamu berniat untuk melangkah kembali ke tempat
ini? Berani-beraninya kamu menelantarkan Lady Teoritta seorang diri...)
Patausche mengalihkan pandangan matanya menembus ke luar
jendela kamar. Tindakan bodoh yang mustahil bisa memberikan jawaban mengenai di
mana keberadaan Xylo saat ini, namun insting tubuhnya seolah memaksa matanya
untuk menatap ke arah sana.
Atau mungkin saja, sudut matanya secara tidak sadar telah
menangkap adanya sebuah fenomena janggal yang terjadi di luar sana.
"──Apa-apaan itu?"
Detik berikutnya, tubuh Patausche langsung menegang dalam
kondisi terkesima setelah melihat pemandangan di balik jendela benteng.
Dari posisi kamar ini, pandangannya seharusnya menyajikan
panorama sisi selatan dari Benteng Itriaf──sebuah hamparan perbukitan yang
dibelah oleh aliran Sungai Scar.
Dia sangat mengingat detail lanskap tersebut karena baru
saja melintasi areanya selama perjalanan kemari.
Namun, sejauh mata memandang, objek yang tersaji di
hadapannya saat ini murni hanyalah sebuah lautan hutan belantara yang luas
tanpa ujung.
Pemandangan abnormal seolah-olah Hutan Tidur Sanaph Nede
telah mengalami proses pemekaran berskala masif dalam sekejap mata dan menelan
seluruh area perbukitan tersebut.
"Tidak mungkin."
Sebuah analisis spekulasi langsung terlintas di dalam
benak Patausche.
Fenomena Raja Iblis Deadra──pemilik sah dari otoritas
kekuasaan milik Goddess dari Bumi. Entitas suci yang memiliki
spesialisasi kemampuan untuk memanipulasi bentuk topografi wilayah.
Jika analisisnya terbukti benar, maka fenomena pemekaran
hutan belantara yang aneh ini dipastikan merupakan ulah dari manifestasi
kekuatan tersebut.
Dengan kata lain, posisi mereka saat ini telah terkepung
sepenuhnya oleh musuh.
◆
Rapat koordinasi taktik dilaksanakan di dalam ruang utama
gedung pusat Benteng Itriaf.
Area tersebut tampaknya merupakan bekas ruang kediaman
resmi dari penguasa kastel terdahulu.
Dimensi ukurannya yang terhitung sangat luas membuat
seluruh perwira yang diundang dapat ditampung dengan sangat longgar di dalam
ruangan.
Atau lebih tepatnya, fasilitas gedung ini adalah
satu-satunya tempat representatif yang tersisa di dalam benteng.
(Rasanya tempat ini terlalu megah untuk dihadiri oleh
orang sepertiku.)
Gumam Shiflit Zual di dalam hatinya sendiri. Statusnya
sebagai pengawal pribadi dari Saint Yulisa membuatnya terpaksa harus ikut
melangkah masuk ke dalam ruangan ini bersama dengan Tevy dan beberapa perwira
pengawal lainnya.
Di sisi lain, raut wajah Saint Yulisa juga memancarkan
aura ketegangan yang jauh lebih pekat dari biasanya.
(Hal itu adalah sesuatu yang sangat wajar terjadi,
mengingat jajaran nama besar yang hadir di ruangan ini...)
Seluruh kursi di dalam ruang rapat saat ini telah diisi
oleh barisan sosok perwira tinggi yang memiliki reputasi mentereng di medan
laga.
Shiflit mulai menggerakkan arah pandangan matanya secara
rahasia untuk mengamati profil mereka satu per satu.
Pertama, faksi pasukan yang telah lebih dulu bersiaga di
benteng ini; jajaran perwira dari kelompok Ksatria Suci ke-11 dan kelompok
Ksatria Suci ke-9. Viewks Wintier dan Hode Krivios.
Masing-masing dari mereka tampak didampingi oleh sosok Goddess
rekanan mereka.
Lukjut selaku Goddess dari Matahari, terlihat
seperti sesosok bocah lelaki yang memiliki tingkat hiperaktif yang cukup parah.
Dia terus bergerak aktif tanpa bisa diam; mulai dari
mencoba menyelinap masuk ke dalam cerobong tungku perapian yang padam, hingga
iseng membalikkan permukaan karpet lantai ruangan.
Di sisi lain,
Viewks Wintier tampak sama sekali tidak memiliki niat sedikit pun untuk
menghentikan aksi nakal bocah tersebut.
Permely selaku Goddess dari Racun, memilih untuk
terus berdiri diam dengan posisi kepala yang sedikit tertunduk di samping
kontraktornya, Hode Krivios.
Dia tampak sengaja memalingkan pandangan matanya demi
menghindari aksi berisik yang ditunjukkan oleh Lukjut.
Hubungan di antara sesama entitas suci tersebut tampaknya
terjalin kurang harmonis.
Sesekali dia hanya melontarkan bisikan kecil ke arah
Hode, yang kemudian dibalas dengan anggukan kepala datar oleh pria tersebut.
(Dan jika berbicara mengenai eksistensi dari sesosok Goddess──maka
masih ada satu orang lagi.)
Teoritta selaku Goddess dari Pedang.
Dia melangkah masuk ke dalam ruang rapat dengan posisi
paling depan, seolah-olah dirinyalah yang bertindak memimpin pergerakan dari
Punishment Hero Patausche Kivia.
Langkah kakinya
sempat terhenti sejenak saat matanya menatap ke arah aksi random yang dilakukan
oleh Lukjut dengan tatapan terkesima──namun, tingkat kesabaran dari gadis itu
tampaknya telah mencapai batas puncaknya.
"Hentikan aksi konyolmu itu sekarang juga!"
Kalimat teguran keras langsung dilontarkannya tanpa ragu.
"Tunjukkan sedikit wibawa dan ketenangan yang
selayaknya dimiliki oleh sesosok Goddess! Tindakanmu itu benar-benar
sangat tidak elegan. Contohlah pembawaan diriku dan Permely yang selalu bisa
menunjukkan sikap anggun dan berwibawa di depan umum!"
"He, he, hihi!"
Lukjut justru mengarahkan jari tangannya ke arah Teoritta
sembari melepaskan tawa renyah.
"Kamu ini siapa? Makhluk apa? Tunggu sebentar, aku
rasa aku pernah melihat wajahmu... siapa ya namamu? Te, Te, Teoriotta...?"
"Nama saya Teoritta! Mengarahkan jari tangan ke arah
orang lain adalah sebuah tindakan yang sangat tidak sopan, dan tolong hafalkan
nama orang lain dengan benar!"
Bagaikan sesosok kakak perempuan yang sedang menceramahi
adik lakinya yang nakal, Teoritta melipat kedua tangannya di depan dada sembari
melemparkan tatapan mata tajam ke arah Lukjut.
"Tindakan cerobohmu yang terus merendahkan martabat
suci dari seorang Goddess hanya akan berakhir memberikan dampak yang
merepotkan bagi kami semua! Bagaimana jika umat manusia sampai kehilangan
kepercayaan mereka terhadap keagungan eksistensi kita karena ulah konyolmu
ini!"
"Tapi──tapi, tapi, aku ini sangat kuat tahu!"
Lukjut memberikan jawaban sembari memamerkan senyuman
polos di wajahnya.
"Aku adalah sosok yang paling kuat di antara seluruh
jajaran Goddess yang ada! Viewks sendiri yang mengatakan hal itu
kepadaku. Entitas yang mampu mengimbangi kekuatanku mungkin hanyalah Kelflora
saja! Karena aku sangat ku, ku, kuat, itu berarti aku adalah sosok yang paling
agung!"
"Pernyataanmu barusan benar-benar tidak bisa
kubiarkan begitu saja. Aku juga memiliki tingkat kekuatan yang luar biasa dan
menyandang gelar sebagai entitas yang sangat agung. Kesatria pribadiku sendiri
yang telah mengakui kebenaran fakta tersebut!"
"──Pertemuan resmi, dimulai."
Seolah-olah suara perdebatan dari kedua entitas suci
tersebut sama sekali tidak menjangkau lubang telinganya, Viewks Wintier
mendadak melontarkan kalimat pembuka dengan nada suara yang lantang.
(Dia langsung memulai rapatnya begitu saja. Benar-benar
tanpa basa-basi.)
Tindakan spontan tersebut sukses membuat semua orang di
dalam ruangan terkesima karena terkejut.
Yulisa dan Tevy tampak menunjukkan ekspresi kebingungan,
sementara Patausche dan Hode juga memperlihatkan respons yang tidak jauh
berbeda.
Hanya Teoritta dan Lukjut saja yang tampak masih asyik
melanjutkan aksi adu mulut mereka tanpa memedulikan situasi sekitar.
Sementara itu, Permely telah menutup kedua lubang
telinganya menggunakan tangan, sehingga suara bising tersebut dipastikan tidak
menjangkau indra pendengarannya.
"Aku akan menyampaikan poin instruksi dengan asumsi
bahwa kalian semua telah memahami dengan baik mengenai dinamika situasi terkini
di sekitar Benteng Itriaf."
Intonasi suaranya terdengar sangat datar, disisipi dengan
sedikit nada malas yang kentara.
"Fenomena pemekaran berskala masif dari Hutan Tidur
Sanaph Nede telah membuat basis pertahanan benteng kita terkepung sepenuhnya
oleh musuh. Kita bisa menarik kesimpulan mutlak bahwa fenomena abnormal ini
merupakan hasil dari manipulasi otoritas kekuasaan milik Goddess dari
Bumi yang berada di bawah kendali fenomena Raja Iblis Deadra."
Sebuah peta berukuran besar tampak terhampar di atas
meja kerja taktik.
Di atas permukaannya telah tertera tumpukan coretan
garis strategi yang sangat mendetail, namun dalam situasi darurat saat ini,
seluruh data tersebut dipastikan sudah tidak memiliki nilai guna lagi.
Bagaimanapun juga, pihak lawan memiliki instrumen
hidup yang mampu memanipulasi bentuk topografi wilayah sesuka hati mereka.
"Jumlah kekuatan dari faksi fenomena Raja Iblis
yang diprediksi akan terlibat benturan frontal dengan pasukan kita berjumlah
tiga entitas."
Viewks menggerakkan tangannya untuk meletakkan koin perak
kuno peninggalan era kerajaan terdahulu di atas permukaan peta.
Sebanyak tiga keping koin diposisikan melingkari
titik koordinat Benteng Itriaf.
"Pertama, fenomena Raja Iblis Deadra yang
menguasai otoritas kekuatan milik Goddess dari Bumi. Kedua, fenomena
Raja Iblis Nuckelavee yang memegang kendali atas kekuatan milik Goddess
dari Ratapan──serta masih ada satu eksistensi lagi. Aku masih belum bisa
mengidentifikasi profil aslinya, namun keberadaannya di medan laga adalah
sebuah kepastian. Sosok fenomena Raja Iblis ketiga."
"Apakah kamu memiliki bukti kuat untuk bisa menarik
kesimpulan mutlak seperti itu?"
Sosok yang melontarkan kalimat interupsi tersebut adalah
Hode. Dia melemparkan pandangan mata penuh selidik ke arah posisi Viewks.
"Sepanjang rangkaian pertempuran yang kita lalui,
pihak kita dilaporkan hanya terlibat benturan dengan entitas Deadra dan
Nuckelavee saja."
"Hal itu bisa terjadi karena tingkat ketajaman
intuisimu dalam mengamati medan laga masih berada jauh di bawah level
kemampuanku."
Kalimat balasan yang dilontarkan oleh Viewks spontan
membuat atmosfer di dalam ruangan menjadi sangat tegang.
Seorang perwira muda yang berdiri bersiaga di belakang
punggung Hode tampak mengernyitkan dahinya sembari menggerakkan bibirnya seolah
ingin melayangkan protes keras.
"Komandan
Tertinggi Ksatria Suci Viewks Wintier! Berani-beraninya Anda melontarkan
kalimat merendahkan seperti itu lagi di depan komandan kami──"
"Sudah
cukup. Tarik kembali posisimu ke belakang, Barald."
Meskipun
mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, Hode memilih untuk hanya melepaskan
helaan napas panjang yang sarat akan rasa jengkel.
Tangan
kanannya bergerak menyentuh area di antara kedua alisnya sembari memijatnya
perlahan demi meredakan ketegangan.
Insiden adu mulut semacam ini tampaknya sudah menjadi
konsumsi makanan sehari-hari bagi mereka.
Di sisi lain, Viewks sama sekali tidak menunjukkan
ketertarikan sedikit pun untuk merespons ketegangan tersebut.
"Jika kamu meluangkan sedikit waktu untuk mengamati
karakteristik dari kawanan Aberrant Fairy dengan saksama, maka isi
kepalamu dipastikan akan sampai pada kesimpulan yang sama denganku. Setiap
varietas makhluk terkutuk itu selalu membawa silsilah karakteristik yang
merujuk pada sosok fenomena Raja Iblis yang mengendalikan mereka. Luangkan
waktumu untuk membaca tumpukan berkas laporan yang telah kusediakan
nanti──lagipula, garis besar dari tugas yang harus kita eksekusi saat ini sudah
sangat benderang."
Viewks kembali menggerakkan jemarinya untuk menata
beberapa keping koin tembaga di atas permukaan meja kerja taktik. Jumlahnya
juga berkisar tiga keping.
"Opsi tunggal kita hanyalah melancarkan serangan
ofensif secara total. Demi mengamankan jalannya pertempuran penentu di Spiral
Ridge nanti, kita harus mengikis habis totalitas kekuatan musuh di wilayah ini
sebanyak mungkin."
Jemari Viewks bergerak menyentuh keping koin tembaga
pertama, lalu mendorong posisinya lurus ke arah utara peta.
"Langkah awal, unit pasukan dari kelompok Ksatria
Suci ke-11 milikku bersama dengan kelompok Ksatria Suci ke-9 akan dilebur
menjadi barisan Angkatan Darat Pertama. Kita akan merangsek lurus ke arah utara
dan menghancurkan setiap barisan musuh yang berani menghalangi jalur pergerakan
pasukan... jika pergerakan ini memancing ketiga entitas fenomena Raja Iblis
tersebut untuk memfokuskan seluruh kekuatan mereka ke posisi kami, maka
jalannya pertempuran dipastikan akan menjadi jauh lebih praktis. Meskipun aku
meragukan segalanya akan berjalan semulus itu."
Sebuah pemikiran gila yang berada di luar nalar sehat,
dan Shiflit bisa memahami kengerian di balik strategi tersebut dengan sangat
jelas.
Kalimat barusan mengindikasikan bahwa jika seluruh
kekuatan musuh nekat bergerak menyerbu ke arah posisinya, hal itu justru
menjadi sebuah keuntungan besar karena dirinya telah mempersiapkan instrumen
untuk menyapu bersih mereka semua sekaligus.
Dan intonasi suaranya sama sekali tidak menunjukkan
adanya kesan sedang bergurau.
"Kecuali jika jajaran para fenomena Raja Iblis itu
memiliki tingkat kecerdasan yang sangat jongkok, skenario yang akan tercipta di
medan laga nanti murni hanyalah sebuah aksi saling mengikis totalitas kekuatan
tempur satu sama lain. Ini hanyalah sebatas pertempuran pembuka sebelum momen
pertempuran penentu yang sesungguhnya tiba. Atas dasar logika tersebut, mereka
dipastikan tidak akan sudi menyerbu ke arah posisiku jika hasil akhirnya adalah
sebuah kekalahan mutlak."
Seluruh perwira di dalam ruangan memilih untuk terus
menutup mulut mereka rapat-rapat.
Ekspresi wajah Hode tampak semakin masai menahan
kejengkelan, sementara Lukjut melepaskan suara tawa kecil yang terdengar sangat
mengerikan.
Sisa orang yang berada di dalam ruangan hanya bisa
tertegun membisu karena terkesima; tidak terkecuali bagi Yulisa maupun Tevy.
Apakah pria di depan mereka ini adalah sesosok manusia
yang memiliki tingkat rasa percaya diri yang kelewat tinggi, atau mungkinkah
ada sebuah karakteristik lain yang melandasi tabiat uniknya tersebut.
"Anggap saja penjelasan barusan sebagai angin lalu.
Mari kita lanjutkan ke pembahasan mengenai Angkatan Darat Kedua."
Jemari Viewks bergerak untuk mengambil keping koin
tembaga kedua dari atas meja.
"Unit pasukan ini akan diisi oleh barisan Brigade
Sacred Relic yang berada di bawah komando Yulisa Kidafrenny. Tugas utama kalian
adalah mengamankan pertahanan mutlak dari Benteng Itriaf ini."
"──Tu-tunggu sebentar."
Yulisa akhirnya melontarkan kalimat interupsi untuk
pertama kalinya sejak rapat digulirkan.
"Pasukan milikku juga seharusnya diberikan porsi
tanggung jawab untuk melancarkan serangan ofensif ke arah musuh. Keberadaan
kami dipastikan akan sangat berguna untuk memecah konsentrasi fokus perhatian
dari pihak lawan... tindakan tersebut juga akan membantu mengurangi beban
pertempuran yang harus ditanggung oleh unit pasukan milik kalian. Sebagai
seorang Saint, aku selalu memegang teguh komitmen untuk siap berdiri di garda
terdepan medan laga."
"Kamu..."
Viewks mengarahkan pandangan matanya lurus ke arah Yulisa
sembari sedikit menyipitkan kedua matanya.
"Apakah kamu sedang mencoba untuk melontarkan sebuah
lelucon di depanku? Atau mungkinkah isi kepalamu memang tidak dianugerahi
kapasitas yang mumpuni untuk menyusun sebuah perencanaan taktik
pertempuran?"
"Apa──"
Bibir Yulisa tampak bergetar menahan gejolak emosi. Kedua
tangannya mencengkeram erat tepi meja taktik sembari memosisikan tubuhnya
condong ke arah depan.
"Kau──berani-beraninya kamu melontarkan kalimat
hinaan seperti itu kepadaku!"
Ekspresi wajah Tevy spontan berubah menjadi sangat tegang
setelah mendengar kalimat tersebut. Shiflit juga merasakan letupan emosi yang
sama di dalam dadanya.
Kalimat yang baru saja diucapkan oleh Viewks adalah
sebuah bentuk penghinaan yang teramat sangat kasar untuk diutarakan di depan
umum, namun pria bernama Viewks ini melontarkannya dengan nada suara yang
terkesan sangat datar tanpa beban.
"Rangkaian kegagalan operasi penerobosan jaring
kepungan musuh di Nofan sebelumnya memang murni terjadi karena tingkat
keterbatasan kemampuanku sebagai seorang komandan! Namun, justru karena alasan
itulah aku tidak akan pernah sudi jika harus berakhir mendekam di dalam benteng
belakang ini sembari menerima perlindungan dari orang lain...! Statusku adalah
seorang Saint, dan kali ini aku bersumpah akan mempersembahkan sebuah
pencapaian yang nyata──"
"Segala bentuk argumen yang keluar dari mulutmu sama
sekali tidak bisa dicerna oleh logika berpikirku. Coba jelaskan kembali dengan
menggunakan untaian kalimat yang masuk akal."
"Kau... berani-beraninya kamu memperlakukan diriku
seperti ini!"
"──Baiklah. Jika kamu menuntut sebuah penjelasan
logis dari orang lain, maka aku sendiri yang akan menjabarkan poin tersebut
kepadamu. Dengarkan baik-baik agar isi kepalamu bisa memahaminya dengan
mudah."
Sembari mengabaikan gejolak amarah Yulisa yang
meletup-letup, Viewks mengarahkan jari tangannya tepat ke arah posisi koordinat
Benteng Itriaf di atas peta.
"Faktanya, basis pertahanan benteng ini telah
dikepung sepenuhnya oleh lautan hutan belantara. Sebuah fenomena abnormal yang
dipastikan terjadi akibat manipulasi kekuatan dari otoritas milik Goddess
dari Bumi. Namun, kenapa mereka tidak langsung melancarkan serangan destruktif
memanfaatkan perubahan topografi wilayah tersebut untuk meruntuhkan bangunan
benteng ini? Pola pertempuran yang terjadi di Nofan sebelumnya juga menunjukkan
karakteristik yang serupa. Struktur bangunan benteng seharusnya bisa dihancurkan
dengan mudah memanfaatkan kekuatan tersebut, namun mereka memilih untuk tidak
melakukannya. Mengapa?"
Mendengar pertanyaan retoris tersebut dilemparkan ke
forum, Shiflit menyadari bahwa dirinya sendiri pun tidak memiliki jawaban yang
mumpuni untuk meresponsnya.
Analisis yang dilontarkan oleh Viewks memang sepenuhnya
benar secara logika, namun pria itu tampaknya telah mengantongi sebuah jawaban
pasti beserta keyakinan mutlak di dalam kepalanya.
"Ada beberapa faktor yang melandasi keputusan
tersebut──dan aku tidak memiliki ketertarikan untuk menjabarkan poin-poin itu
satu per satu kepadamu. Namun, alasan utama di balik keputusan tersebut adalah
karena keberadaan dirimu di tempat ini."
Arah telunjuk jari Viewks kini beralih lurus tepat ke
arah wajah Yulisa.
"Saint. Sesosok manusia yang bertindak sebagai wadah
penampung dari sisa jasad milik Goddess dari Benteng."
Mendapatkan sorotan pandangan mata yang begitu tajam dari
arah depan membuat Yulisa langsung terdiam membisu.
Mental bertarungnya tampak berantakan karena tertekan
oleh aura intimidasi pria tersebut.
"Mengapa faksi musuh begitu gigih melancarkan
serangan beruntung demi menghalangi setiap pergerakanmu saat hendak bertolak
dari Nofan? Alasan di baliknya sangat sederhana; karena selama kamu mengantongi
kemampuan suci untuk memanggil struktur bangunan benteng, maka segala bentuk
kerusakan infrastruktur basis pertahanan kita akan selalu bisa dibangun kembali
dalam sekejap mata sesuka hatimu."
Bukan hanya Yulisa seorang, melainkan seluruh perwira di
dalam ruangan kini memilih untuk membisu total.
Skenario analisis tersebut tampaknya telah menjadi sebuah
kesimpulan mutlak yang tidak terbantahkan bagi isi kepala Viewks.
Namun di sisi
lain, Shiflit tidak bisa menyembunyikan rasa ngerinya terhadap jalan pikiran
pria itu.
Jika spekulasi analisis tersebut ternyata meleset dari
fakta lapangan, bukankah keputusan itu sama saja dengan menaruh nyawa ribuan
prajurit ke dalam jurang bahaya yang sangat mengerikan?
Mungkin karakteristik mental tanpa rasa takut seperti
itulah yang menjadi alasan utama mengapa pria ini bisa menyandang nama besar
sebagai seorang Viewks Wintier.
"Atas dasar pemikiran itulah, faksi musuh dipastikan
akan menjadikan basis pertahanan benteng ini sebagai target operasi utama
mereka──karena jika mereka berhasil meruntuhkan tempat ini, atau lebih tepatnya
jika mereka berhasil menghabisi nyawamu, maka peta kekuatan pertempuran akan
langsung beralih menguntungkan pihak mereka secara mutlak. Selama eksistensimu
bersiaga di tempat ini, skenario tersebut adalah sebuah kepastian."
Aliran kalimat yang keluar dari mulut Viewks terdengar
sangat lancar tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Oleh karena itu, bersiaplah di dalam benteng ini
untuk menyambut dan menghancurkan kedatangan dari manifestasi kekuatan Goddess
dari Bumi."
Viewks menggerakkan keping koin perak yang
merepresentasikan simbol kekuatan fenomena Raja Iblis tepat berada di samping
koordinat Benteng Itriaf.
"Rangkaian penjelasan dariku sudah selesai
dijabarkan sepenuhnya. Apakah ada di antara kalian yang berniat untuk
melayangkan nota keberatan? Jika ada, pastikan argumenmu memiliki kualitas yang
mumpuni untuk meruntuhkan cetak biru dari strategi yang telah kususun
ini."
"──Ti-tidak ada... keberatan...!"
Yulisa menggigit bibir bawahnya erat-erat sembari menahan
posisi tubuhnya yang masih membeku kaku di tempat.
Gurat wajahnya tampak memerah padam menahan gejolak emosi
bercampur malu.
Shiflit bisa merasakan dengan sangat jelas betapa
hancurnya perasaan Sang Saint saat ini──sebuah pemandangan yang teramat
menyayat hati.
Tevy segera menggerakkan tangannya untuk merangkul pundak
Yulisa sembari menuntunnya kembali ke posisi duduk semula.
Viewks sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya kembali
ke arah faksi Saint.
"Selanjutnya, Angkatan Darat Ketiga, porsi tugas ini
akan diserahkan sepenuhnya kepada unit Pasukan Punishment Hero."
"……Apa?"
Keputusan tersebut tampaknya berada di luar garis
ekspektasi dari Patausche Kivia, membuat kedua matanya spontan mengerjap karena
terkejut.
"Tugas operasi ini diserahkan kepada unit kami?
Totalitas kekuatan tempur yang berada di bawah kendali komandoku saat ini murni
hanya berkisar empat ratus personel saja. Dengan jumlah seminim itu──"
"Aku sudah mengantongi data mendetail mengenai
kapasitas jumlah kekuatan dari unit pasukamu. Tolong jangan membuatku harus
mengulang kalimat yang sama secara bertubi-tubi karena hal itu sangat
menjengkelkan. Aku telah mengalkulasi segalanya dan menarik kesimpulan bahwa
jumlah tersebut sama sekali tidak menjadi masalah berarti bagi pemenuhan
rencana ini. Jika isi kepalamu meragukan tingkat akurasi dari kapasitas
kemampuan informasiku──maka jawabannya ada di sini."
Viewks mengarahkan jari tangannya ke arah dua orang
perwira yang berdiri bersiaga di sisi kiri dan kanan belakang punggungnya.
Sepasang wanita berambut hitam yang mengenakan setelan
zirah besi berdesain kokoh dan kaku.
Struktur wajah mereka berdua terlihat sangat identik,
memunculkan spekulasi di dalam hati Shiflit bahwa mereka mungkin adalah
sepasang saudara kembar.
"Silakan ajukan pertanyaanmu kepada salah satu dari
asisten pribadiku ini jika kamu membutuhkan kejelasan data. Dan bagi kalian
berdua, berikan jawaban yang mumpuni jika mereka melayangkan pertanyaan."
"Baik."
Jawaban pendek terlontar serentak dari mulut kedua wanita
tersebut, sementara Viewks sama sekali tidak sudi mengalihkan pandangan matanya
ke arah mereka.
Pembawaannya benar-benar memancarkan aura kemalasan yang
sangat akut.
Mengamati tabiat unik dari sosok Viewks membuat sebuah
pemikiran mendadak melintas di dalam benak Shiflit.
(Pria ini... tampaknya memang murni tidak memiliki niat
buruk sedikit pun untuk menghina atau merendahkan harga diri orang lain saat
melontarkan kalimat tajam tersebut.)
Dia hanya sekadar mengutarakan sebuah kesimpulan logis
yang tersusun di dalam kepalanya secara apa adanya.
Karakter suaranya memperlihatkan fakta tersebut
dengan sangat jelas.
"Setelah menganalisis totalitas kekuatan tempur dari
unit Pasukan Punishment Hero, aku secara resmi menjatuhkan perintah ini kepada
kalian. Amankan area jalur belakang. Pertahankan posisi tersebut sampai
mati."
Jemari Viewks bergerak menempatkan keping koin tembaga
ketiga tepat di sisi selatan dari koordinat Benteng Itriaf pada peta.
"Keputusan musuh untuk mengepung basis pertahanan
benteng ini menggunakan lautan hutan belantara mengindikasikan dengan sangat
jelas mengenai adanya sebuah rencana operasi serangan terselubung selain dari
arah utara yang bertindak sebagai jalur utama. Secara spesifik, opsi pemutusan
jalur distribusi logistik adalah pilihan strategi yang paling efektif untuk
melumpuhkan kekuatan kita. Demi merealisasikan taktik tersebut, musuh
dipastikan telah menyiagakan tumpukan kekuatan tempur mereka di sisi selatan
benteng──oleh karena itu..."
Jemari Viewks bergerak menyentil keping koin perak yang
merepresentasikan simbol kekuatan musuh hingga terlempar dari atas meja.
"Sapu bersih seluruh keberadaan mereka dari tempat
itu. Opsi mundur dari medan laga akan langsung diganjar
dengan hukuman mati."
Karakter suaranya terdengar sangat datar; tidak ada
riak emosi kekhawatiran, kebencian, maupun nada merendahkan yang tersisip di
dalamnya.
Nada bicaranya murni menyerupai sesosok mesin yang
sedang membacakan sebuah keputusan mutlak yang telah ditetapkan.
"Rencana itu sangat mustahil untuk dieksekusi."
Patausche melemparkan pandangan mata tajam ke arah Viewks
sembari melontarkan kalimat sanggahan dengan nada suara yang tertahan.
"Unit Pasukan Punishment Hero milik kami memang
memiliki rekam jejak yang solid dalam hal melancarkan operasi taktik serangan
kilat berskala kecil untuk menghabisi sosok inti dari fenomena Raja Iblis.
Namun untuk situasi pertempuran saat ini──"
"Aku sudah menegaskan kepadamu bahwa diriku telah
memahami dengan sangat baik mengenai kapasitas kekuatan tempur kalian, bukan?
Jangan membuatku harus mengulangi kalimat yang sama berkali-kali. Aku tetap
menjatuhkan keputusan bahwa unit kalian mumpuni untuk mengeksekusi tugas
tersebut."
"Dasar apa yang membuatmu bisa memiliki rasa percaya
diri yang kelewat tinggi seperti itu?"
"Apakah kamu juga menuntut sebuah penjabaran logis
dariku? ……Tindakan itu benar-benar sangat merepotkan untuk dilakukan. Mengingat
status hierarki jabatan kepemimpinan berada di bawah kendali mutlakku, maka aku
memilih untuk mengabaikan porsi penjelasan tersebut dan langsung menjatuhkan
perintah kepadamu. Segera eksekusi instruksi operasi ini dengan sukses."
Pria itu tampaknya bersedia meluangkan waktu untuk
memberikan penjelasan taktik sebelumnya murni hanya karena status lawan
bicaranya adalah seorang Yulisa.
Bagi pihak yang bisa digerakkan murni hanya dengan
memanfaatkan jalur instruksi komando resmi, dia memilih untuk mengabaikan porsi
penjelasan secara total.
Sebuah prinsip rasionalitas yang teramat sangat
ekstrem. Karakteristik dingin itulah yang menyusun fondasi dasar dari sosok
pria bernama Viewks Wintier ini.
Patausche tampak masih berusaha untuk menyusun
kalimat sanggahan baru──namun sebelum kata-kata itu sempat meluncur dari
bibirnya, Teoritta telah lebih dulu menggemakan suara lantangnya di dalam
ruangan.
"Luar biasa! Selera dan sudut pandang tokomu
ternyata lumayan menjanjikan juga ya, Viewks Wintier!"
Gadis itu memosisikan dadanya tegak membusung ke
depan, lengkap dengan guratan senyuman penuh kebanggaan yang terukir di
wajahnya.
"Unit Pasukan Punishment Hero yang berada di
bawah panji kepemimpinan dari sang Goddess dari Pedang, Teoritta! Kamu
ternyata mampu mengalkulasi dengan sangat tepat mengenai seberapa dahsyatnya
tingkat kekuatan sejati yang dimiliki oleh kelompok kami!"
"Kamu benar."
Sama sekali tidak ada kesan jengkel ataupun ekspresi
meremehkan yang ditunjukkan oleh Viewks, karena dirinya hanya memberikan
anggukan kepala datar dengan raut wajah tanpa ekspresi.
Sebuah konfirmasi persetujuan yang terhitung sangat
polos, bahkan sampai membuat Teoritta sendiri merasa sedikit mati kutu karena
kehilangan momentum untuk pamer.
"Dengan ini, porsi tanggung jawab dari
masing-masing faksi pasukan telah benderang ditetapkan. Mengenai kepastian
waktu dimulainya pergerakan operasi, aku akan mengirimkan memo pemberitahuan
lanjutan setelah melihat momentum yang tepat di lapangan. Jika ada di
antara kalian yang masih menyimpan tumpukan pertanyaan, silakan salurkan hal
tersebut melalui salah satu asisten pribadiku."
Setelah melontarkan kalimat penutup tersebut, Viewks
langsung membalikkan posisi badannya secara instan.
Langkah kaki lebarnya tampak bergerak cepat untuk
meninggalkan ruang utama pertemuan.
Kedua asisten pribadinya segera melangkah lebar untuk
mengekor di belakang punggungnya, disusul oleh Lukjut yang melangkah santai
sembari berusaha keras untuk menahan kantuknya yang tak tertahankan.
"……Ko-Komandan Tertinggi Ksatria Suci Viewks
Wintier!"
Sebuah suara teriakan lantang mendadak dilepaskan oleh
Yulisa ke arah punggung pria tersebut.
"Mengenai porsi tanggung jawab pertahanan benteng
yang diserahkan kepadaku... gaya taktik pertempuran seperti apa yang menurut
pandangan pribadimu paling ideal untuk kuaplikasikan di lapangan nanti!"
"Lakukan sesukamu. Aku sama sekali tidak menaruh
ekspektasi apa pun terhadap hasil kerjamu."
Kalimat balasan yang dilontarkan oleh Viewks terdengar
sangat ringkas dan menohok, bahkan tanpa ada niat sedikit pun baginya untuk
sekadar memalingkan wajah ke belakang.
"Biarpun operasi pertahananmu berakhir dengan sebuah
kegagalan total, hal itu sama sekali tidak akan memengaruhi jalannya rencanaku
karena kemungkinannya telah kumasukkan ke dalam kalkulasi awal."
Sebuah untaian kalimat yang teramat sangat tidak pantas
untuk dilontarkan kepada sesosok wanita yang menyandang status sebagai seorang Saint.
Tangan kanan Yulisa tampak mengepal sangat erat dengan
urat-urat yang menyembul, sementara sepasang matanya menatap tajam ke arah
punggung Viewks dengan letupan amarah yang membara.
Emosi permusuhan yang sangat pekat tercetak jelas di
balik kelopak mata kanannya.
Melihat dinamika tersebut, Shiflit akhirnya bisa memahami
dengan sangat baik apa alasan utama yang membuat sosok Viewks Wintier
dilaporkan sangat jarang mengekspos eksistensi dirinya di depan publik selama
ini.
◆
"Ternyata kita hanya akan bergerak berdua saja untuk
menyapu bersih keberadaan musuh di sisi selatan ya."
Setelah melangkah kembali ke dalam kamar pribadinya, raut
wajah Teoritta tampak menyiratkan adanya sedikit rona kecemasan yang
menggelayuti hatinya.
Meskipun dirinya sempat memamerkan kalimat deklarasi yang
penuh dengan rasa percaya diri di depan Viewks sebelumnya, isi kepalanya tetap
tidak bisa membohongi fakta mengenai adanya keterbatasan jumlah kekuatan tempur
yang berada di bawah kendali mereka saat ini.
Hal itu adalah sebuah reaksi yang sangat manusiawi, dan Patausche
sendiri pun memiliki pandangan yang serupa dengannya.
"Apakah
rencana operasi ini benar-benar akan bisa berjalan dengan sukses? ……T-Tentu
saja! Aku sama sekali tidak memiliki niat untuk meragukan
kapasitas kekuatan sejati dari unit Pasukan Punishment Hero kita sendiri!"
Teoritta mendudukkan tubuhnya di atas kursi sembari
menggerakkan kedua belah kaki kecilnya ke atas dan ke bawah secara tidak
teratur.
"Maksud dari kalimatku barusan... aku hanya ingin
memastikan agar jalannya pertempuran nanti tidak sampai memakan korban jiwa
yang terlalu banyak dari pihak kita, kira-kira seperti itu."
"……Anda benar. Jika situasi ini terjadi dalam
skenario normal, aku dipastikan akan langsung menarik kesimpulan bahwa
instruksi operasi ini murni merupakan bagian dari rangkaian sanksi hukuman mati
terselubung yang sengaja dijatuhkan kepada unit Pasukan Punishment Hero
kita..."
Namun kali ini, keputusan instruksi tersebut dijatuhkan
langsung oleh sesosok pria bernama Viewks Wintier.
(Poin itulah yang terus mengusik ketenangan isi kepalaku.
Apakah dia memiliki sebuah jaminan kemenangan yang pasti?)
Viewks adalah sesosok ksatria yang telah menghabiskan
sebagian besar porsi hidupnya untuk bertarung di garda terdepan medan laga
dalam menghadapi faksi fenomena Raja Iblis.
Demi bisa mengamankan kemenangan, dirinya bahkan
dilaporkan sering kali nekat mengambil tindakan ekstrem berupa pembangkangan
terhadap instruksi komando resmi dari atasan secara berulang kali.
Awalnya Patausche mengira bahwa pria itu murni hanyalah
sesosok manusia gila perang yang haus akan darah──namun setelah melihatnya
secara langsung, karakteristik yang dimiliki oleh pria itu ternyata berada
dalam kasta yang jauh lebih mengerikan.
"……Mengingat keputusan komando ini dijatuhkan
langsung dari mulut seorang Viewks Wintier, ada kemungkinan bahwa dirinya telah
melihat adanya sebuah celah kemenangan yang hanya bisa dieksekusi oleh unit
pasukan milik kita. Sudut pandang pribadiku melihat adanya potensi
tersebut."
"Pernyataanmu memang ada benarnya... jika situasinya
murni mengandalkan ketajaman dari pedang suci milikku, maka jenis fenomena Raja
Iblis sekuat apa pun dipastikan akan bisa ditebas dengan sangat mudah.
Lagipula, tidak ada satu pun eksistensi di dunia ini yang mampu menahan tebasan
dari pedang suci milikku... namun untuk kondisi diriku yang sekarang..."
Teoritta memilih untuk menghentikan aliran kalimatnya
sampai di titik itu saja.
Dirinya saat ini tidak berada dalam kondisi mumpuni untuk
bisa mengaktifkan senjata pedang sucinya.
Tanpa adanya kehadiran dari sosok kontraktor sah di
sisinya, tingkat kapasitas kekuatan sejati dari sesosok Goddess
dipastikan akan mengalami penurunan yang teramat sangat drastis.
Regulasi pembatas tersebut tampaknya merupakan bagian
dari sistem keamanan kuno yang sengaja ditanamkan oleh peradaban manusia
terdahulu ke dalam tubuh mereka.
Sebuah kenyataan yang teramat sangat menjengkelkan, namun
mereka tidak punya pilihan lain selain menerima fakta lapangan tersebut.
Terlebih lagi, dinamika situasi medan laga saat ini
terhitung sangat tidak menguntungkan bagi posisi pasukannya.
Jika skenario pertempuran diposisikan pada area terbuka
yang mumpuni untuk memaksimalkan totalitas pergerakan dari pasukan kavaleri, Patausche
memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi bahwa kapasitas kemampuannya
sebagai seorang komandan tempur tidak akan pernah kalah jika dibandingkan
dengan Xylo.
Dirinya bahkan merasa jauh lebih unggul dalam hal
tersebut.
Fakta bahwa mereka berhasil memenangkan seluruh rangkaian
pertempuran selama operasi penetrasi ke arah utara dari Nofan sebelumnya
terjadi murni karena dirinya berhasil memaksa musuh untuk bertarung dalam
skenario yang menguntungkan bagi unit kavaleri miliknya──atau begitulah
analisisnya.
Namun, medan pertempuran berikutnya dipastikan akan
mengambil tempat di dalam area hutan belantara yang pekat.
Menggerakkan barisan pasukan kavaleri secara bebas di
dalam area yang dipenuhi dengan tumpukan pohon rimbun adalah sebuah
kemustahilan, dan memaksakan taktik tersebut murni merupakan sebuah bentuk
kecerobohan yang sangat fatal.
Melihat tumpukan fakta tersebut mau tidak mau memaksa
Patausche untuk mengakui kehebatan dari bakat genius abnormal yang dimiliki
oleh seorang Xylo Forbartz sebagai sesosok komandan perang sejati.
Kapasitas kemampuannya untuk bisa menelurkan hasil
yang memuaskan di tengah-tengah dinamika situasi medan laga yang terus berubah
secara acak──adalah sebuah bakat yang teramat sangat mengerikan.
Sampai detik ini pun, Patausche masih belum bisa
merangkai untaian kata yang tepat untuk mendeskripsikan secara ilmiah mengenai
formula rahasia apa yang melandasi runtutan kemenangan magis yang selalu
berhasil dipersembahkan oleh pria itu.
(Penyesalan selalu datang terlambat, dan aku sudah
sangat memahami batasan tersebut. Jangan pernah sesekali membiarkan
bibirmu melontarkan kalimat keluhan yang lemah. Oleh karena itu──)
Oleh karena itu, hanya ada satu untaian kalimat tegas
yang wajib disuarakannya saat ini.
"Aku berjanji akan mengerahkan seluruh totalitas
kemampuan terbaik yang ada di dalam diriku demi bisa mengamankan kemenangan
ini, Lady Teoritta."
Bagi seorang Patausche, kalimat penegas tersebut adalah
satu-satunya komitmen mutlak yang bisa dijanjikannya kepada sang Goddess.
"Sebelum sosok ksatria suci pribadi milik Anda
melangkahkan kakinya kembali ke tempat ini, aku bersumpah akan terus berdiri
tegak sebagai perisai hidup demi bisa mengamankan keselamatan nyawa Anda."
Dirinya sengaja memilih untuk tidak menyisipkan untaian
kalimat 'meski harus mengorbankan nyawa sekalipun', karena dia tahu betul bahwa
Teoritta tidak akan pernah merasa bahagia jika mendengar komitmen yang sarat
akan aroma kematian seperti itu.
Sebagai gantinya, Patausche memaksakan sebuah senyuman
penuh percaya diri di wajahnya──berharap agar guratan senyum tersebut
setidaknya bisa terlihat mirip dengan gaya senyuman khas milik Xylo Forbartz.
"Fufu."
Melihat penampilan wajah Patausche saat ini sukses
membuat Teoritta spontan melepaskan tawa renyahnya.
"Guratan wajahmu saat ini terlihat sangat mirip
dengannya, Patausche."
Pernyataan tersebut dipastikan murni hanyalah sebuah
untaian kalimat dusta belaka.
Dan biarpun klaim tersebut terbukti benar, dirinya sama
sekali tidak merasakan adanya letupan rasa senang di dalam hatinya.
"Aku tidak boleh membiarkan mental bertarungku
menjadi lemah seperti ini. Begitu ksatria pribadiku melangkahkan kakinya
kembali ke sini nanti, aku akan langsung memamerkan hasil pencapaian ini di
depan wajahnya sembari menegaskan bahwa inilah tingkat kekuatan sejati dari
kelompok kita."
"Sejak awal, aku memang sudah merencanakan skenario
tersebut."
Persentase probabilitas untuk bisa menyelesaikan
instruksi operasi ini dengan selamat bisa dibilang berada dalam angka yang
sangat tipis.
Patausche segera melayangkan cambukan keras ke dalam
batinnya sendiri demi mengusir kabut pesimisme yang sempat mencoba untuk
merasuki isi kepalanya.
Sudah tidak terhitung lagi seberapa banyak totalitas
situasi kritis yang berada di luar nalar sehat berhasil mereka balikkan
keadaannya selama ini.
Kalimat pengandaian ‘Seandainya ada sosok Xylo Forbartz
di tempat ini’──adalah sebuah untaian kalimat haram yang tidak boleh
terucap dari balik bibirnya sampai kapan pun.
Hukuman
Pembersihan
dan Penaklukan Jutan Sanahu Nede 2
Saat dinding benteng mulai terlihat, waktu masih
menunjukkan sebelum fajar.
Rasa lelah yang teramat sangat membuat pandangan mataku
kabur, hingga benteng itu mendadak tampak seperti kerumunan musuh yang muncul
secara tiba-tiba.
Aku refleks bersiap siaga karena saking lelahnya tubuh
ini.
Sudah berapa hari berlalu sejak aku berpisah dengan
Boojam dan yang lainnya?
Aku bahkan belum mendapatkan tidur yang layak.
(Musuh
lagi? Banyak sekali…… Sedikit lagi. Apa aku sanggup?)
Dengan
pedang patah di tangan, aku baru saja hendak memacu kuda untuk embusan napas
terakhir, ketika Saritaf menghentikanku.
"Hentikan. Itu Nofan. Itu permukiman orang-orang
dataran, Xylo."
Saritaf mungkin jauh lebih tangguh dariku. Dia masih
punya cukup otak untuk membuat penilaian itu.
"Sampai di sini saja," kata Saritaf kepadaku.
"Aku akan kembali. Di pertempuran penentu nanti,
kita mungkin akan bertarung di tempat yang berbeda. Tapi,"
Saritaf bersiul dengan jarinya. Dua kali. Panjang, lalu
pendek. Ada alun nada yang unik di sana.
"Ini isyaratnya──jika suatu hari nanti aliansi
dibutuhkan lagi, aku akan mendengarkan pembicaraanmu. Untuk ukuran orang
dataran, kamu termasuk yang bisa dipercaya."
"Terima kasih banyak kalau begitu."
Aku tidak yakin apakah aku bisa menyampaikan rasa terima
kasih itu dengan benar atau tidak.
Sejak saat itu, aku maju memacu kuda seorang diri dengan
kesadaran yang kabur──aku hanya ingat samar-samar sampai titik di mana
seseorang melakukan sesuatu kepadaku di gerbang kota Nofan.
Wajah-wajah
prajurit yang terkejut.
Wajah-wajah
yang waspada.
Aku
merasa seolah melihat wajah yang tampak senang, tapi mungkin itu hanya delusi
atau halusinasi dari rasa lelahku saja.
◆
Tepat
sebelum Xylo Forbartz kembali, situasi yang mengelilingi Pasukan Pahlawan
Hukuman memburuk secara eksponensial hanya dalam beberapa hari.
Dan
orang yang terpaksa berdiri di garis depan untuk menghadapi situasi itu adalah Vanetim
Leopoor.
Sejak Patausche
dan yang lainnya berangkat menuju utara, mata-mata yang mengawasi Pasukan
Pahlawan Hukuman semakin diperketat.
Itu
wajar saja, mengingat Boojam telah melarikan diri dan Rhyno kembali menghilang.
Wajar
jika mereka diinterogasi dengan kejam terutama oleh faksi Malchoras Esgain, dan
ditempatkan di bawah pengawasan yang ketat.
Jika
Frenshie tidak ada di sini, keadaannya pasti akan jauh lebih merepotkan.
(Orang itu juga benar-benar luar biasa, ya.)
Begitulah pikirnya. Sekarang, Frenshie telah berhasil
menarik beberapa orang berpengaruh di parlemen Nofan ke pihaknya dan memperoleh
hak suara yang besar.
Asosiasi Dagang dan Industri, Guild Penembak Meriam,
dan Persatuan Warga.
Ditambah lagi, dia mendengar beberapa bangsawan yang
memiliki hubungan dekat dengan mereka juga ikut kooperatif.
──Namun, bahkan untuk Frenshie sekalipun, ada situasi
yang tidak bisa dia kendalikan.
"……Apa yang sedang kaupikirkan, Rhyno……! Si
bodoh itu……!"
Mengenai Rhyno, Frenshie melontarkan makian seperti itu.
"Kenapa dia harus menghilang? Itu sama saja dengan
mengatakan kalau dia punya niat buruk, kan……! Kenapa dia tidak menyerahkan diri
saja dengan patuh? Apa dia sebodoh bebek berkarat?"
"Mohon tenanglah."
Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Vanetim.
"Saya akan mencoba mengelabui mereka entah bagaimana
caranya nanti."
"Kata-kata itu lagi. Setelah semua ini, bagaimana
bisa aku memercayaimu?"
"……Benar juga, ya."
"Sudahlah, cari keberadaan Rhyno. Secepat mungkin."
"Anu.
……Apakah Anda benar-benar berpikir saya bisa melakukannya……?"
"Aku cuma sekadar mengatakannya saja."
Ada sesuatu yang menyerupai keputusasaan dalam gema
suaranya. Frenshie pasti sedang panik dengan caranya sendiri.
(Saya juga merasa sebagai pihak yang dirugikan di sini,
tahu.)
Namun, jelas sekali bahwa argumen semacam itu tidak ada
gunanya sekarang.
Bagaimanapun, itu adalah hari yang sangat
sibuk──interogasi demi interogasi. Alasan demi alasan. Hal itu berlanjut
sepanjang malam, dan pada saat dia dibebaskan, matahari sudah sepenuhnya
terbit, membuat Vanetim kelelahan setengah mati.
(Setidaknya, kalau ada Xylo-kun…… apakah keadaannya akan
sedikit berbeda?)
Pria itu kasar, dan jenis orang yang tidak ingin kauajak
berteman sebagai sesama manusia. Namun, kenyataan bahwa ketidakhadirannya
membuat suasana terasa aneh dan tidak dapat diandalkan adalah hal yang pasti.
(Apakah Tsave melakukannya dengan baik? Jika dia bisa
membawa kembali Xylo-kun dengan selamat──)
Berpikir sampai di sana, Vanetim langsung menyangkal
pikirannya sendiri.
Lagipula, bahkan jika Xylo ada di sini, hal baik tidak
akan terjadi. Kemungkinan besar dia malah akan melimpahkan masalah yang lebih
merepotkan kepada Vanetim. Jangan memikirkan hal yang tidak perlu, dia
memperingatkan dirinya sendiri. Ada pepatah yang mengatakan, "Jika kau
membicarakan Fairy, maka Fairy akan datang".
(Mari berhenti memikirkan Xylo-kun. Mengharapkan yang
tidak ada itu tidak ada gunanya.)
──Oleh karena itu, ketika dia melihatnya, dia mengira itu
adalah sejenis halusinasi.
"Lama banget."
Di ranjang kamar Vanetim di barak militer, pria itu
sedang duduk.
Seorang pria berbadan besar dengan raut wajah yang
terlihat sangat kejam. Penampilannya benar-benar compang-camping, dan tampaknya
dia juga menderita beberapa luka di tubuhnya. Meski begitu, hanya sorot matanya
yang tetap sama seperti biasanya──tidak, melainkan karena dia kelelahan, sorot
mata itu terasa lebih tajam dari biasanya.
Itu adalah sosok yang sangat tidak ingin dia lihat. Vanetim
mengucek matanya, mencoba berpikir bahwa itu adalah halusinasi akibat begadang
semalaman. Namun, setelah mengucek matanya dua kali dan mencubit pipinya, sosok
pria itu tetap tidak menghilang.
Dengan kata lain, dia adalah Xylo Forbartz.
Sebelum Vanetim bisa menyuarakan pertanyaan kenapa
dia bisa ada di sini, Xylo kembali membuka mulutnya.
"Sialan.
Ngantuk banget…… Apa yang kaulakukan sepanjang malam? Apa terjadi
sesuatu yang merepotkan lagi?"
"Bukan berarti saya yang menyebabkan masalah
merepotkan itu, ya."
Tanpa sadar, kata-kata yang terdengar seperti pembelaan
diri keluar dari mulutnya. Itu adalah reaksi refleks.
"Ini karena Boojam dan Rhyno. Gara-gara mereka
berdua, situasinya menjadi sangat gawat."
"Kamu selalu saja mengatakan hal yang 'gawat'
melulu."
"Kenyataannya memang gawat tahu. Apa Xylo-kun tahu
apa yang terjadi setelah itu? Pertama, Patausche dan yang lainnya bergabung
dengan pasukan penyerang utara, dan kita ditinggalkan di sini──"
"Nanti saja cerita detailnya. Diamlah sebentar. Aku
tidak yakin bisa memahami semuanya sekarang."
Xylo mengibaskan tangannya dengan kesal. Dia tampak
sangat lelah.
"Sekarang, ada hal yang harus segera
kulakukan."
"Hah."
Datang juga, pikir Vanetim. Pria bernama Xylo Forbartz
ini selalu saja memaksakan tuntutan yang tidak masuk akal seperti ini.
"Sekarang, kita sedang dicurigai atas banyak
hal, dan tidak bisa bergerak bebas, kan?"
"Ya,
begitulah. Kurang lebih…… begitulah jadinya."
"Paham. Aku benar-benar tidak bersemangat untuk
ini, tapi."
Setelah memberikan pengantar seperti itu, dia
menunduk, dan setelah keheningan singkat, Xylo mengangkat wajahnya.
"Jadikan aku penguasa kota ini."
"Eh?"
"Secara hukum, aku masih terhitung sebagai penguasa
Nofan. Begitu dijatuhi Hukuman Pahlawan, hak asasiku hilang, jadi prosedur
pencabutan gelarku pun bahkan tidak bisa dilakukan."
"Hah?"
"Hukum Kerajaan Serikat itu luar biasa ambigu kalau
menyangkut masalah wilayah di luar pusat. Mana mungkin mereka bisa mengelolanya
secara ketat di situasi saat Fenomena Raja Iblis sedang gencar menyerang."
"Hah……"
"Makanya, di atas kertas aku masih menjadi penguasa
Nofan. Anggap saja kenyataannya memang begitu, dan buat semua orang di kota ini
menerimanya. Dengan begitu kita bisa bergerak bebas."
Xylo menundukkan kepalanya. Atau mungkin dia hanya
terlalu lelah hingga tubuhnya condong ke depan.
"Tolong, Vanetim. Kalau kamu, pasti bisa
mengatasinya."
"Yah, begitulah."
Vanetim mengutuk dirinya sendiri yang langsung
menyanggupinya begitu saja. Dia mendapati dirinya mengangguk tanpa sadar.
Namun, pada saat ini──.
"Apa benar-benar hanya itu saja?"
Kenyataan bahwa dia merasa lega juga merupakan fakta. Dia
mengira akan dipaksa melakukan sesuatu yang jauh lebih gawat.
Jika dia diminta untuk menyiapkan berapa ribu pasukan
bantuan seperti yang dipaksakan Patausche dalam pertempuran sebelumnya, dia
mungkin sudah menangis.
Namun, jika dipikir-pikir kembali, perintah dari Xylo
memang tidak pernah sespesifik itu.
Sebaliknya, dia merasa perintah pria itu lebih sering
berupa sesuatu yang ambigu.
Bagian itulah yang menjadi pembeda antara dirinya dengan Patausche──dan
bagi Vanetim, hal itu sangat mudah untuk ditangani.
Xylo memiliki kelemahan berupa jenis keluguan tertentu,
sebuah celah untuk dikelabui.
(Tapi, apa tidak apa-apa?)
Bukankah keambiguan ini adalah sesuatu yang fatal bagi
seorang komandan militer? Bukankah seorang tentara seharusnya
lebih mementingkan perintah yang konkret dan ringkas? Dia memikirkan hal itu,
tetapi tidak menyuarakannya.
"Dengar ya. Jangan lakukan hal tidak perlu
selain itu."
Xylo berkata seolah ingin menegaskan. Hal itu juga terasa
agak longgar, mungkin.
"Jangan lakukan sesuatu yang bisa menimbulkan korban
di kalangan warga sipil. Aku tahu kamu paham, tapi meski kamu paham, kamu
sering salah mengambil tindakan hingga hal seperti itu terjadi."
"Saya juga tidak berniat menimbulkan korban,
tahu."
Itu adalah fakta. Namun, hanya saja tidak ada cara lain
yang bisa dilakukan. Jika dia tidak memberikan hasil, Xylo akan sangat marah,
dan dia tidak ingin dimarahi.
"Atur saja entah bagaimana caranya. Paham?"
"Bahkan
jika saya menolak pun, Xylo-kun tidak akan mendengarkan, kan…… Kalau begitu,
jawabannya cuma ada satu."
"Ya.
Benar. ──Lalu, panggil…… Dotta ke sini. Bocah itu butuh diceramahi……"
Dari
kata-kata Xylo, dia bisa merasakan kekuatannya yang perlahan-lahan menghilang.
(Ah. Apa Xylo-kun mau mati, ya?)
Vanetim mengharapkan kemungkinan itu. Namun, itu tidak
ada gunanya. Lagipula dia akan hidup kembali, dan jika dia hidup kembali dengan
ingatan yang tersisa, Vanetim akan mengalami nasib yang lebih buruk.
"Aku mau tidur sebentar. Bangunkan aku setelah tiga
jam. Tolong……
serahkan situasinya kepadamu……"
Xylo langsung tumbang telentang di atas ranjang.
Suara napas tidurnya segera terdengar.
Setelah memastikan selama beberapa saat bahwa suara
napas tidur itu bukan kepura-puraan, Vanetim akhirnya mengembuskan napas lega.
"──Apa kau mendengarnya, Rhyno?"
"Tentu saja! Wah, aku senang Kamerad Xylo sudah
kembali."
Itu dari luar kamar. Suara itu terdengar dari balik
jendela. Sosok yang menjulurkan wajahnya dari sana adalah seorang pria dengan
senyuman menyegarkan yang terkesan mencurigakan. Dia adalah Rhyno.
Vanetim sebenarnya tahu keberadaan Rhyno. Itu karena Rhyno,
yang bersembunyi di kandang naga, datang menghubunginya terlebih dahulu.
Ini berarti dia telah berbohong kepada Frenshie. Itu
adalah keahliannya. Semakin lawan tahu betul betapa tidak bergunanya dirimu,
semakin mudah trik ini berhasil.
"Kita perlu mengangkat Xylo-kun sebagai penguasa
kota ini, dan untuk itu kami membutuhkan kekuatan Rhyno. Bisakah kau membantuku
sedikit?"
"Tentu saja! Aku akan membantu apa saja. Selama itu
adalah hal yang bisa kulakukan!"
"Kalau begitu, pertama-tama dari metodenya. Dalam
rencanaku──"
Tepatnya, itu tidak bisa disebut sebagai sebuah rencana.
Bahkan dia sendiri berpikir kalau itu terlalu berantakan.
Meski begitu, dia tidak bisa memikirkan hal lain. Jika
dia adalah pemilik otak yang sangat encer, sejak awal dia tidak akan mengalami
nasib sial seperti ini. Dia ingin menangis. Rasanya benar-benar membuat
depresi.
Tampaknya ini akan menjadi kebohongan besar yang dia
lakukan setelah sekian lama.
"──Itu saja. Mari kita selesaikan semuanya selagi Xylo-kun
tertidur."
"Ah! Itu bagus. Aku bisa membayangkan wajah terkejut
Kamerad Xylo."
Rhyno tertawa ceria. Jika ada yang namanya senyuman lebar
yang tulus, mungkin seperti inilah bentuknya.
(Ya──yang dibutuhkan adalah kecepatan.)
Pertama, sebelum Xylo terbangun.
Xylo menyuruhnya membangunkan setelah tiga jam, tetapi
dia sama sekali tidak berniat melakukannya.
Untuk mengulur waktu sebanyak mungkin, dia akan
membiarkan Xylo tidur sesuka hatinya.
Kedua, dia harus menyelesaikan hal-hal krusial sebelum
faksi Malchoras Esgain sempat merespons. Akan merepotkan jika mereka
menyadarinya dan datang mengganggu.
(Apakah saya bisa melakukannya dengan baik?)
Vanetim bertanya pada dirinya sendiri──dan memperoleh
keyakinan bahwa itu pasti mustahil.
Dia tidak akan bisa melakukannya dengan baik. Dia harus
menyiapkan rencana untuk melarikan diri terlebih dahulu.
◆
──Seperti yang sudah diduga, pergerakan Pasukan Pahlawan
Hukuman semacam itu telah terpantau oleh keluarga Torsep sejak awal.
Sejak awal di sini berarti sejak titik di mana Xylo Forbartz
tiba di gerbang kota.
Gerbang kota sempat gempar untuk sementara waktu, dan
sosok Xylo terekspos di depan umum.
Keluarga Torsep adalah salah satu silsilah keluarga yang
telah lama menguasai Nofan.
Mereka memiliki telinga, atau mungkin mata, di setiap
sudut kota.
(Xylo Forbartz──tidak disangka, dia kembali dengan
kekuatannya sendiri.)
Kepala keluarga Torsep, Ilhin Torsep, merasa takjub saat
mendengar laporan tersebut.
(Benar-benar mengerikan, ya.)
Dia berpikir demikian, tetapi tidak menyuarakannya
ataupun menunjukkannya pada ekspresi wajahnya. Dia hanya mengangguk dengan
senyum yang samar.
"Aku sudah memahami situasinya secara garis besar. Di mana Xylo Forbartz sekarang?"
"Dia telah kembali ke barak Pasukan Pahlawan
Hukuman."
Orang yang mengangguk pelan adalah pemimpin dari Hibashiri
(Si Pelari Api).
Dia tampak seperti orang yang sudah sangat berumur,
tetapi di sisi lain juga tampak seperti anak-anak.
Dia adalah pria dengan usia yang tidak bisa ditebak
seperti itu.
"Xylo Forbartz melakukan kontak dengan sang
komandan, Vanetim Leopoor, sekitar satu jam yang lalu. Vanetim sendiri juga
mulai bergerak. Kami sedang membuntutinya, tetapi dia pasti akan melakukan
suatu tindakan."
"Itu sudah pasti, ya."
"Apakah kita harus melaporkan hal ini kepada
Panglima Esgain?"
"Tidak. Belum ada kebutuhan untuk itu."
Torsep menggelengkan kepalanya dengan tegas. Malchoras
Esgain adalah jenis pria yang menuntut 'hasil' dari setiap orang lain. Saat
ini, informasi bahwa Xylo telah kembali sama sekali tidak akan menjadi bahan
evaluasi yang berharga baginya.
"Jika ingin melapor, lakukan setelah kita
mengumpulkan bukti kejahatan para bajingan Pahlawan Hukuman itu dan mengamankan
penahanan mereka."
"Dimengerti."
"Atasi ini terlebih dahulu. Keberadaan Xylo Forbartz
adalah masalah."
Saat ini, Frenshie Mastibolt yang paling di mata
mereka pasti akan bertingkah. Dia mungkin akan mulai mengatakan hal-hal seperti
mengembalikan Xylo sebagai penguasa Nofan.
Jika dia menghasut popularitas massa, situasi yang
lumayan merepotkan bisa saja terjadi.
(Ini semua terjadi karena cara kerja 'Yang Mulia' Esgain
yang buruk, sih──)
Pemimpin yang bodoh adalah apa yang diinginkan oleh para
bangsawan Nofan seperti Torsep. Seseorang di tingkat Esgain bisa diganti kapan
saja, dan dia bisa dikendalikan.
(Jika Xylo Forbartz yang menjadi lawan, situasinya akan
jauh lebih merepotkan.)
Sebelum itu terjadi, mereka harus mengambil tindakan.
Torsep telah memikirkan beberapa skenario.
Cara yang paling efektif adalah dengan membunuh
Frenshie Mastibolt, tetapi rencana ini terus-menerus ditolak.
Ada orang-orang yang ahli dalam berbagai pertempuran
rahasia termasuk pembunuhan di sekitarnya. Tidak ada celah.
Oleh karena itu, mengawasi tindakan Pasukan Pahlawan
Hukuman dan menangkap mereka saat mereka mulai bertindak liar tampaknya menjadi
metode yang paling meyakinkan.
(Lagipula, mereka bukan pasukan yang berfungsi dengan
cara yang benar.)
Pasukan Pahlawan Hukuman pasti akan menggunakan cara-cara
ilegal.
Selama keadaannya begitu, yang menang adalah pihak
ketertiban──yaitu diri mereka sendiri.
"Kalau begitu, tolong siapkan persiapan untuk
meringkus Pasukan Pahlawan Hukuman. Ini agak merepotkan, tapi tangkap Xylo Forbartz
tanpa membunuhnya. Mengenai anggota tim yang lain, bunuh saja mereka."
Meskipun mereka belum bisa memastikan keberadaan Rhyno
saat ini, itu hanya masalah waktu. Mereka telah menyiapkan sarana untuk itu.
Ini adalah satu-satunya metode yang mungkin bisa
mengalahkan Pasukan Pahlawan Hukuman. Menyerang mereka dari tempat yang tidak
mereka sadari.
Mengawasi mereka secara diam-diam, tanpa membiarkan lawan
menyadari pergerakan mereka sama sekali, dan selalu bergerak di luar papan
permainan. Dengan begitu, mereka bisa mengelabui lawan.
Tidak peduli seberapa nekatnya gerombolan Pahlawan
Hukuman itu, mereka tidak akan dibiarkan melakukan apa-apa.
Pada akhirnya, tidak ada metode yang lebih baik dari ini.
"Apakah boleh kami memulainya sendiri? Apakah kita
tidak perlu menunggu Haiju Doumei (Aliansi Pita Abu-Abu)?"
"Tidak perlu. Saat ini kecepatan adalah hal yang
penting. Sebelum mereka mengambil tindakan──"
Torsep tidak bisa menyelesaikan kata-katanya sampai
akhir.
Sebab, suara gemuruh yang dahsyat beserta guncangan gempa
menelan bagian akhir dari kalimat tersebut.
Kaca jendela pecah berkeping-keping. Pemimpin Hibashiri
mendorong Torsep jatuh ke lantai untuk melindunginya, membuat mereka tiarap di
sana.
"Tuan Besar, mohon maaf atas kelancangan saya."
Gugaan, sebuah guncangan yang terasa agak
lambat menjalar. Di luar jendela ternoda oleh cahaya yang menyilaukan.
Menerima cahaya itu, pecahan kaca yang berkilauan tampak
jatuh dengan sangat lambat. Kebingungan kesadaran yang sesaat.
Namun itu hanya berlangsung sebentar, dan Torsep segera
mendapatkan kembali kesadarannya.
"Apa-apaan ini?"
Torsep berpikir dengan getir bahwa itu adalah pertanyaan
yang bodoh untuk dirinya sendiri.
Ledakan telah terjadi. Hal semacam itu sudah sangat jelas
diketahui. Terlebih lagi, ledakan berskala besar──di benteng penguasa kota yang
merupakan pusat dari Nofan.
Apalagi, ledakan itu berlanjut secara berantai. Dua kali.
Tiga kali. Meledak berturut-turut, membuat tanah bergetar.
Di luar jendela yang hancur, dia bisa melihat bangunan
utama bagian pusat perlahan-lahan runtuh. Ini tidak mungkin sebuah kecelakaan.
Itu adalah peledakan yang sudah diperhitungkan.
Jika tidak, mana mungkin kediaman penguasa kota yang
dibangun sebagai benteng untuk masa darurat bisa runtuh hanya dengan dua atau
tiga kali ledakan.
Mereka sedang diserang. Itu adalah hal yang
pasti──tetapi, oleh apa?
Hal itu juga sudah sangat jelas diketahui.
"Tangkap para Pahlawan Hukuman!"
Torsep justru menganggap ini sebagai kesempatan bagus.
Kesempatan untuk menghabisi mereka secara krusial. Esgain mungkin akan
memprotes, tetapi jika mereka menjajarkan kepala semua orang sebelum itu dan
menyeret Xylo yang tertangkap, pria itu pasti tidak akan mengeluh.
"Tangkap mereka! Pertimbangan yang tidak perlu sudah
tidak diperlukan lagi. Tidak apa-apa untuk menggerakkan Pasukan Penjaga
Kota."
Apa yang mereka pikirkan sampai membom kediaman penguasa
kota?
Bagaimana mereka bisa melaksanakannya?
Hibashiri seharusnya sudah melakukan pengawasan
yang ketat.
Jika ada yang bisa lolos dari sana, itu adalah Rhyno yang
pergerakannya memang tidak terpantau sejak awal.
Ataupun Dotta Luzulas. Keduanya sangat mungkin terjadi.
Metode mereka sulit dipahami oleh Torsep, tetapi dia tahu
tujuannya. Mereka pasti sudah putus asa.
Apakah mereka bermaksud melakukan pemberontakan untuk
membunuh Esgain dan menduduki Nofan secara militer?
Mana mungkin hal itu bisa dilakukan. Selama parlemen dan
bangsawan Nofan masih ada, kota ini akan menolak kendali mereka.
"Dimengerti."
Pemimpin Hibashiri hendak segera bergerak──namun,
entah mengapa langkah kakinya terhenti. Dia membeku sambil melihat ke arah
pintu masuk kamar yang dia dapati saat berbalik.
Ada seseorang di sana. Seorang pria yang sangat bertubuh
kecil, dengan bayangan yang tampak kusam berwarna abu-abu.
"Lord
Torsep. Tampaknya, saya tiba tepat waktu, ya."
Pria
bertubuh kecil itu memiringkan kepalanya dan mengulurkan satu tangannya. Di
sana, seutas pita kain abu-abu sedang digenggam. Itu adalah pita kain yang
ditenun dengan seutas benang emas.
Itu juga merupakan bukti sebagai utusan dari Haiju no
Doumei.
"Oh──selamat datang, Tuan Utusan!"
Torsep membuka kedua tangannya lebar-lebar. Saat ini, di
situasi seperti ini, itu adalah bantuan yang sangat dia dambakan. Jika dia bisa
memanfaatkan situasi ini dengan baik, dia bisa menggunakan kekuatan Esgain dan
berdiri di puncak semua bangsawan di Nofan.
"Itu para bajingan Pahlawan Hukuman! Mereka telah
melakukan pemberontakan. Demi ketertiban kota ini, mohon bantuannya."
"Dimengerti."
Bayangan abu-abu itu melangkah maju satu langkah.
Tangannya bergerak sedikit.
"Demi ketertiban, mari kita bekerja sama."
"──Kakh."
Itu adalah suara kering seperti orang yang tersedak.
Pemimpin Hibashiri yang tadinya membeku perlahan-lahan tumbang. Dia bisa
melihat tubuhnya kejang-kejang. Warna wajahnya membiru gelap.
(Apa yang dilakukan orang ini?)
Kemungkinan besar, sejak bayangan abu-abu ini
memasuki ruangan. Sesuatu telah dilakukan kepadaku. Di leher pemimpin yang
tumbang itu, dia bisa melihat sesuatu yang menyerupai duri kecil seukuran ujung
jari tertancap di sana.
"Apa yang sedang kaupikirkan?"
Torsep melangkah mundur. Dia bisa
merasakan suaranya yang meninggi karena panik.
"Bagaimana dengan aliansi kita? Demi menjaga
ketertiban kota ini──"
"Itu adalah kesalahpahaman Anda. Yang harus kami
jaga adalah ketertiban dunia umat manusia ini. Dari sudut pandang tersebut,
Pasukan Pahlawan Hukuman justru lebih dibutuhkan. Demi memusnahkan seluruh
Fenomena Raja Iblis."
"Kau sudah gila. Menggunakan gerombolan abnormal
seperti mereka, ketertiban macam apa itu? Itu adalah penilaian yang
salah!"
"Benar juga, ya. Mungkin, penilaian kami sedikit
bercampur dengan perasaan pribadi."
Bayangan abu-abu itu melangkah maju lebih jauh.
"Mereka bisa diandalkan."
"Bodoh sekali."
Sambil mengulur waktu dengan percakapan, Torsep melihat
ke arah jendela yang hancur.
Dia sempat berpikir apakah dia bisa melarikan diri dari
sana, lalu dia putus asa. Sebab dia tahu ada satu lagi bayangan abu-abu yang
menyelinap masuk dari jendela yang pecah.
Dengan wajah yang berkerut, Torsep mencoba mengulur waktu
lebih banyak lagi.
"Apa kau tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan
sekarang?"
Dia menunjuk ke luar jendela. Api dan
asap membubung tinggi dari kediaman penguasa kota dan sekitarnya.
"Ini pemberontakan, tahu! Mereka menyerang kediaman
penguasa kota!"
"Saya memahaminya. Seperti yang diduga dari Senjata
Suci milik Norgayu Senridge, ya. Itu setara dengan kerusakan besar yang dia
timbulkan saat meledakkan istana kerajaan."
"Norgayu Senridge……"
Nama itu tentu saja dia ketahui. Pria yang meledakkan
istana kerajaan dan memicu pemberontakan. Memang benar, jika itu dia, peledakan
sebesar ini tentu saja bisa dia lakukan dengan mudah. Tapi──bukankah itu tetap
saja perbuatan Pasukan Pahlawan Hukuman?
"Keributan seperti ini, ketertiban macam apa itu!
Kita akan dimanfaatkan oleh para Fenomena Raja Iblis!"
"Ya. Tepat sekali, itu dia."
Dua
bayangan abu-abu yang mendekat. Torsep mencari jalan keluar.
"Kenyataannya,
ada informasi mengenai penampakan Fairy yang mengamuk. Apakah itu sesuatu yang
dierosi oleh Pahlawan Hukuman Rhyno…… atau ada kemungkinan dia benar-benar
mengundang Fairy dari luar."
"Itu
benar-benar tidak lain adalah sebuah pemberontakan!"
"Ledakan
tadi dipicu oleh Fenomena Raja Iblis yang menyusup ke dalam kota. Rumor semacam
itu juga sedang beredar."
"Mana
mungkin hal seperti itu dimaafkan. Ini adalah revolusi berbasis kekerasan yang
dilancarkan oleh gerombolan itu bersama Pasukan Pahlawan Hukuman. Kerajaan
Serikat──Galtuile, Parlemen Nofan! Mana mungkin mereka memaafkan hal semacam
itu!"
"Sayang sekali, saya pikir mereka akan
memaafkannya."
Sambil membaca secarik kertas, bayangan abu-abu itu
menggelengkan kepalanya.
"Malchoras Esgain dan faksi yang memihak kepadanya
telah mulai mundur dari Nofan. Kecepatan melarikan diri mereka memang luar
biasa, ya. Padahal jika mereka bergerak dengan dalih melindungi warga, masih
ada peluang untuk membalikkan keadaan."
Kertas yang baru saja diserahkan tadi mungkin adalah
sesuatu yang memberitahukan pergerakan Esgain.
Bayangan abu-abu itu tampak sedikit tersenyum. Atau
mungkin dia mengembuskan napas karena heran.
"Para Pahlawan Hukuman dan pasukan pendukungnya
sedang menghadang para Fairy. Tindakan itu nantinya juga akan disetujui oleh
parlemen. Karena orang-orang yang menentang mereka sudah tidak ada lagi. Mereka
memikirkan hal yang luar biasa, ya. Untuk mendapatkan suara mayoritas dari
parlemen, mereka hanya perlu melenyapkan semua pihak oposisi hingga tidak
tersisa satu orang pun."
Jika Malchoras Esgain dan orang-orang yang memihak
kepadanya telah melarikan diri dari kota, maka situasinya akan menjadi seperti
itu. Dia sedang dihadapkan pada sesuatu yang seharusnya tidak boleh terjadi.
"Lord Torsep," kata suara itu dengan gema yang
terdengar seperti meminta maaf.
"Pada akhirnya, Anda terlalu beradaptasi dengan
dunia yang sempit bernama Nofan ini. Memang benar, jika menyangkut konspirasi
di dalam kota Nofan, tidak ada yang bisa menandingi Anda──meski begitu, bagi
sebuah organisasi intelijen, itu hanyalah seperti permainan anak-anak. Jika
Anda benar-benar berniat untuk menang──"
Bayangan abu-abu itu mengibaskan tangan kanannya. Hal
yang dia rasakan pada saat itu adalah rasa sakit yang sangat tipis di lehernya.
"Anda perlu membuang status dan kekayaan Anda, dan
menjadi sosok yang tidak dipedulikan oleh siapapun. Saya berpikir
demikian."
Pada saat itulah Torsep memahaminya. Itu adalah sebuah
busur silang mekanis berukuran sangat kecil. Benda itu disembunyikan di dalam
lengan baju kanan, diisi dengan anak panah yang sangat kecil seperti duri──dan
ditembakkan──.
Tanpa disadari, Torsep sudah tumbang telentang.
Pandangannya menggelap. Dia tidak bisa bernapas.
"Anda harus keluar dari panggung. Kota ini
membutuhkan penguasa yang sedikit lebih abnormal."
Torsep
terengah-engah untuk meraup udara. Udara terakhirnya tidak sampai masuk ke
paru-parunya. Dia bisa merasakan bayangan abu-abu itu menunduk melihatnya. Dia
bisa melihat bekas luka bakar di wajah orang itu.
Dia
tampak jauh lebih muda dari yang diperkirakan. Mungkin dia
masih anak-anak, pikir Torsep.
Itu menjadi pemikiran terakhirnya.
◆
"──Hadirin sekalian! Ini adalah kemenangan Baginda,
dan kemenangan kita semua!"
Deklarasi kemenangan Norgayu menggema di seluruh
alun-alun kota.
Hal yang mengejutkan adalah jumlah warga yang
mendengarkannya terhitung lumayan banyak. Apakah itu sejenis rasa penasaran
belaka? Atau mungkin mereka tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Namun, sosok Norgayu yang berpidato dengan latar belakang
kediaman penguasa kota yang runtuh secara garis besar adalah sebuah pemandangan
yang menyerupai mimpi buruk.
"Penguasa kota yang jahat telah Baginda hukum!
Rencana pemungutan pajak mereka yang konyol akan dibatalkan, dan pertama-tama
Baginda menjanjikan pengurangan pajak untuk pemulihan serta alokasi aset
negara! Terhadap ancaman Fenomena Raja Iblis, untuk sementara waktu Panglima
Angkatan Darat Xylo Forbartz akan bertindak sebagai wakil Baginda untuk
menjabat sebagai penguasa kota ini──"
Sambil mendengarkan omong kosong semacam itu, Vanetim
bergegas menyusuri jalan dengan sekuat tenaga.
(Aku harus bergegas.)
Rencananya, aku akan membawa barang-barangku dan
melarikan diri dari kota ini. Begitu Xylo terbangun, dia pasti tidak
akan membiarkanku begitu saja. Aku bahkan bisa saja dibunuh olehnya.
Mengenai alasan untuk meninggalkan kota ini, aku bisa
memikirkannya nanti──pilihan paling aman saat ini mungkin adalah mengejar
Malchoras Esgain dan yang lainnya.
Aku akan mencoba membujuknya entah bagaimana caranya, dan
jika situasinya memungkinkan, aku akan melemparkan semua tanggung jawab kepada Xylo
atau Rhyno, sementara aku sendiri bertindak murni sebagai korban──.
Sambil berpikir demikian, aku menyeberangi jalan raya.
Namun, tepat ketika aku melangkah masuk ke dalam gang belakang, sebuah suara
memanggilku.
"Vanetim! Tunggu dulu, mau pergi ke mana?"
"Ah."
Sesosok bayangan bertubuh kecil melompat ke
hadapanku──bersama satu orang lagi. Seorang wanita berambut merah. Sejauh yang Vanetim
ketahui, kombinasi ini hanya merujuk pada satu hal. Dotta dan Trishil.
Tanpa arti khusus, sebuah alasan langsung terlontar
begitu saja dari mulutku.
"Ada sesuatu yang harus saya sampaikan. Sebuah
informasi darurat yang harus segera saya teruskan kepada Patausche──"
"Mana mungkin begitu. Aku tahu kok, kamu mau kabur
dari Xylo, kan?"
Seperti yang diduga, Dotta benar-benar memahamiku. Ternyata
dia memiliki pemikiran yang sama denganku.
"Kenyataan bahwa aku memasang bom Norgayu di
sana-sini juga sepertinya bakal jadi alasan buat Xylo buat menghukumku. Padahal aku tidak paham apa
salahku…… Makanya, aku harus kabur sekarang juga."
"Kalau
aku, setidaknya sudah mencoba menghentikanmu, tahu."
Trishil mendengus, tampak tidak peduli.
"Sudah kelihatan jelas kalau kamu bakal
mengalami nasib yang lebih buruk nanti. Apa kamu bodoh?"
"Tapi sebelum itu terjadi, ada kemungkinan Xylo
bakal mati dan kehilangan ingatannya lagi, kan!"
"Kamu benar-benar punya nyali yang luar biasa
ya, dasar."
"Eh? Ah, te-terima kasih. Entah kenapa, aku memang
sering dipuji kalau menyangkut soal nyali……"
Percakapan yang mengerikan, pikir Vanetim. Jika
dia terus meladeni kedua orang ini, dia akan kehabisan waktu.
"Daripada meributkan hal itu, kalau mau pergi mari
kita bergegas. Kita tidak tahu kapan Xylo-kun akan terbangun──"
Tepat ketika aku hendak mendesak Dotta seperti itu.
"Haha!"
Sebuah suara tawa yang parau dan terdengar pecah.
Tepat ketika aku mengira suara itu terdengar dari bawah
kaki kami, sesosok bayangan seperti serangga mendadak melompat ke atas.
Bagi Vanetim, hanya sejauh itulah pergerakan yang bisa
dia tangkap.
"Ketemu juga. Ternyata ada gunanya juga aku
memercayai Xylo dan terus membuntutinya──Benar-benar petunjuk jalan yang bagus.
Ya, kan? Apa kamu tidak berpikir begitu?"
"Eh."
Dotta mencengkeram lehernya. Sesuatu
yang berukuran kecil telah melompat dan menempel di sana.
Benda itu tampak seperti serangga hitam berukuran
seukuran ibu jari. Aku merasa seolah mendengar suara basah yang menjijikkan, bujikh.
"Ah,
a-apa…… ini……"
"Ini
balasannya, Dotta Luzulas."
Darah
segar mulai mengalir deras dari celah-celah jari yang sedang mencengkeram leher
tersebut.
"Jika mencuri milik orang lain, tentu ada
balasannya. Kamu, apa kamu selama ini hidup tanpa menyadari hal sesederhana
itu? Ya,
kan? Sakit, bukan. Karena…… ia sedang memakanmu seperti itu……"
"Sa-sa……
kith……"
Dotta berlutut di tempat. Tubuhnya tampak mulai
kejang-kejang.
Vanetim tidak bisa melakukan apa-apa. Lebih tepatnya, dia
bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Hal yang sama juga terjadi pada Trishil, meskipun tangan
kanannya telah menghunus pedang, dia hanya bisa berdiri dalam posisi siaga.
Dia bahkan tidak bisa mengayunkannya.
Tampaknya Dotta sudah terlambat untuk ditolong, dan
rasanya mustahil untuk menebas serangga yang menempel di lehernya sambil
menggerogoti pembuluh darah dan dagingnya itu.
Namun, Trishil bertanya dengan suara rendah.
"──Siapa kau?"
"Yukihito. Hase Yukihito…… Tapi, kurasa sebuah nama
tidak terlalu memiliki arti di sini……"
Sebuah pengenalan diri yang terdengar seperti
gumaman.
Di sela-sela waktu itu pun, tubuh Dotta terus keja
ng-kejang, dan darah terus mengalir tanpa henti dari
lehernya. Dia bahkan tidak mampu untuk menjerit.
Namun, fakta bahwa Dotta sedang menjemput ajalnya
adalah satu-satunya hal yang bisa dipastikan.
"Ada
satu hal…… yang ingin kupinta untuk dikembalikan."
Dari celah pakaian Dotta, satu ekor lagi muncul.
Tidak, dua ekor, tiga ekor──serangga hitam mulai
merangkak keluar berbondong-bondong.
Entah berapa banyak jumlah mereka yang bersembunyi di
sana. Vanetim merasakan bulu kuduknya meremang seketika.
Dan salah satu dari serangga itu, tampak sedang membawa sesuatu yang menyerupai kalung yang berkilau keemasan.
"Itu barang yang berharga bagiku. Sekarang, hanya
ini satu-satunya alasan bagiku untuk tetap hidup."
"Memangnya apa peduliku dengan benda seperti
itu?"
"Kesadaran. Bukan, lebih tepatnya hati,
ya."
Menghadapi pertanyaan Trishil, Yukihito memberikan
jawaban yang tidak biasa.
"Hati Goddess milikku. Tanpa benda ini,
dia akan terus tertidur selamanya. Jadi, balasan ini sudah sewajarnya diterima
oleh bajingan ini──bahkan ini masih terlalu berbaik hati, tapi dengan wujud
ini, hanya sejauh inilah batas kemampuanku."
Setelah itu, serangga hitam tersebut melompat menjauh
dari leher Dotta. Dotta terus kejang-kejang, berada di ambang kematiannya.
"Aku peringatkan kalian. Jangan
pernah berniat untuk datang ke Rasenrei. Kalian tidak akan pernah bisa menang
melawan kami, dan itu adalah tindakan yang sia-sia. Selama ribuan tahun,
hukumnya sudah ditetapkan seperti itu. Jadi──ups."
Kilatan bilah pedang melintas. Vanetim tidak bisa
melihatnya dengan jelas, tetapi dia merasa tangan kanan Trishil telah melakukan
gerakan yang tidak biasa. Ujung pedangnya telah menebas habis salah satu dari
serangga hitam tersebut.
Serangga itu hancur, berubah menjadi seperti karat
hitam. Serangga lainnya bergumam dengan nada terkejut.
"Kamu ternyata jauh lebih ganas dari yang
kukira, Trishil."
"Aku juga punya peringatan untukmu."
Ada kekejaman yang luar biasa dalam suara Trishil, hingga
membuat Vanetim merasa merinding seketika.
"Kau telah membunuh pahlawanku tepat di hadapanku.
Aku tidak akan pernah membiarkanmu melakukan tindakan merendahkan seperti itu
untuk kedua kalinya."
"Kau bilang? ──Haha! Bahkan bukan seorang Pahlawan
Hukuman, melainkan cuma inang dari Fairy biasa, mau melawanku?"
Kawanan serangga hitam yang mengaku bernama Yukihito itu
sudah mulai melarikan diri. Entah mengapa, suaranya terdengar menggema dari
kejauhan.
"Kalau kau pikir kau bisa melakukannya, silakan saja
coba. Tapi sebagai sesama inang, aku akan memberi tahu sekadar saran. Urungkan
saja niatmu."
Itu adalah cara bicara yang dipenuhi dengan niat buruk,
pikir Vanetim.
Dan yang terpenting, Vanetim juga harus mengakui fakta
bahwa seluruh rencana pelarian dirinya kini telah lenyap tanpa bekas.
Sebab, Trishil telah mencengkeram kerah baju Vanetim
dengan kuat.
"Kita akan membawa Dotta. Bantu aku."
"……Baik."
Nasib buruk seperti apa yang akan dia terima dari Xylo
nanti?
Bagi Vanetim, hal itu jauh lebih penting untuk dipikirkan
sekarang.
◆
──Dan pada akhirnya, saat aku membuka mata, semuanya
sudah terlambat.
Ini benar-benar keterlaluan, dan aku juga terlalu
bodoh. Berpikir untuk memercayakan sesuatu kepada Vanetim, dan terlebih lagi,
memercayai bahwa tugas itu akan diselesaikan tanpa masalah, aku pasti sudah
tidak waras.
Apakah fakta bahwa aku terlalu lelah bisa dijadikan
sebagai alasan?
"Penampilan yang menyedihkan, Xylo."
Saat aku terbangun di barak, kata-kata itulah yang
pertama kali dilontarkan oleh Frenshie kepadaku.
"Kira-kira setelah menghilang selama
berhari-hari, kau malah terus tertidur sampai jam segini──"
Sinar matahari yang masuk dari jendela barak sudah
menunjukkan waktu senja. Ini berarti aku telah tertidur selama lebih dari
setengah hari.
"Bahkan kura-kura lumut pun tidak akan tertidur
dengan begitu santainya seperti ini."
"Hentikan perumpamaan menggunakan makhluk hidup
yang tidak kupahami itu."
Hanya itu yang bisa kukatakan. Sebab kemarahan Frenshie
adalah hal yang sangat wajar.
Aku sudah mendengar garis besar dari apa yang telah
diperbuat oleh Vanetim. Dia melakukan hal yang benar-benar berantakan. Memang
benar bahwa aku yang memberikan perintah adalah pihak yang memegang seluruh
tanggung jawab, tetapi jika sampai timbul korban di kalangan warga sipil, aku
bahkan tidak akan bisa bertanggung jawab.
Kenyataan bahwa hal itu tidak terjadi adalah sebuah
keberuntungan di tengah kemalangan.
"Mengenai bajingan Vanetim itu, aku akan memberinya
balasan yang setimpal nanti──tapi, apa benar Dotta telah dibunuh?"
"Ya. Karena jasadnya sudah berhasil diamankan,
tampaknya Trishil akan membawanya kembali ke Benteng Block Numea. Ada
pembicaraan kalau dia akan diperbaiki di sana. Oleh karena itu, Dotta dan
Trishil tidak akan ikut serta dalam pertempuran kali ini."
"Sialan. Bajingan Yukihito itu."
Ini juga merupakan salah satu kesalahan fatal dariku.
Berpikir kalau dia berniat membunuh Dotta──tidak, apakah itu adalah balasan
yang setimpal untuknya? Aku sendiri tidak terlalu memahaminya.
Apa sebenarnya tujuan dari bajingan itu? Jika aku bisa
memikirkan hal itu dengan benar, apakah akan ada akhir yang sedikit berbeda
dari ini? Mungkin itu mustahil. Pada saat itu, aku benar-benar tidak memiliki
ruang longgar dalam pikiranku. Bahkan jika semua informasi sudah terkumpul
sekalipun, aku meragukan apakah aku bisa membuat penilaian yang benar.
Aku sama sekali tidak pernah terpikir kalau Yukihito
memiliki kemampuan untuk bergerak dalam wujud serangga kecil seperti itu.
(Tapi──trik itu hanya akan berhasil untuk kali ini saja.)
Sekarang, aku sudah mengetahui trik semacam itu. Aku
tidak akan membiarkannya berhasil di lain waktu.
"Aku akan membuat bajingan itu membayar taruhannya
nanti."
"Lakukan itu setelah kau menyelesaikan pertempuran
yang ada di depan mata, ya. Bagaimanapun, mari kita bergembira untuk saat
ini."
"Di bagian mana yang bisa membuatku bergembira,
hah?"
"Setidaknya ada satu hal. Yaitu kenyataan bahwa kau
telah kembali dengan selamat, dan terus tertidur dengan santainya seperti
kura-kura lumut."
Frenshie menatapku dari atas, lalu berkata dengan dingin
seolah sedang membacakan sebuah deklarasi eksekusi.
"Selamat datang kembali, Xylo."
Itu adalah kalimat yang membuatku tercengang. Rasanya
agak tidak realistis.
"Aku telah menjaga tempat ini selama kau pergi.
Meskipun lumayan merepotkan, tampaknya kerja keras ini sebanding dengan
hasilnya."
Saat aku memilih untuk diam, Frenshie menyentuh ujung
rambutnya yang berwarna abu-abu besi dengan jarinya, lalu sedikit mengernyitkan
alisnya.
Itu adalah hal yang langka bagi seorang Frenshie.
Biasanya sebagai bentuk tata krama bangsawan Malam Janki Selatan, dia jarang
sekali menunjukkan emosinya secara terang-terangan.
"Jadi, Xylo. Apa ada yang ingin kaukatakan?"
"Pertama, alasan kenapa aku bisa sampai ke sini
entah bagaimana caranya adalah berkat bantuan dari Tsave. Aku harus
menceritakan tentang dirinya kepada seseorang. Itu sudah menjadi janjiku
dengannya."
"Begitu, ya. Kau pasti sudah sangat dibantu olehnya.
Sampai-sampai dia menyerahkan dirinya sendiri demi
melindungimu. Itu adalah hal yang patut disyukuri. ──Lalu?"
Pertanyaan yang tajam. Aku
ragu-ragu sejenak, lalu berusaha menyuarakan kata-kata yang kurasa paling
pantas.
"……Maaf karena sudah merepotkanmu."
"Bukan itu."
Frenshie tampak kecewa dari lubuk hatinya yang terdalam.
Aku merasa seolah aku selalu membuatnya kecewa melulu.
"Bukankah setidaknya kau bisa menyuarakan kata-kata
terima kasih kepadaku?"
"……Ah. Maaf."
"Bukan sebuah permintaan maaf. Ayo. Pasti ada,
kan?"
"……Aku sangat terbantu. Terima kasih."
Frenshie mengangguk, tampak sedikit puas. Aku merasakan
kemarahan yang luar biasa bergejolak di dalam diriku. Itu ditujukan untuk
diriku sendiri.
Apa yang sedang kulakukan──tidak peduli bagaimana aku
memikirkannya, aku pasti tidak akan pernah bisa memberikan balasan apa-apa
kepada Frenshie, dan juga kepada keluarga Mastibolt.
(Jangan lakukan hal yang setengah-setengah.)
Aku mengepalkan tangan, lalu membukanya kembali.
Aku menatap Frenshie, berniat untuk membicarakan hal yang
sedikit lebih serius. Seorang wanita dengan mata yang
tampak seperti besi dingin.
"Frenshie."
"Ke utara."
Jawaban Frenshie terdengar ringkas, dan tampaknya
tidak memiliki konteks yang jelas.
"Kita harus bergegas, Xylo. Bahkan pada detik
ini pun pertempuran terus berlanjut. Patausche Kivia juga pasti sedang
menanggung beban yang sangat besar. Itu semua terjadi karena ketidakhadiranmu, tahu."
"Mengenai
hal itu…… aku merasa bersalah."
"Menang
dalam pertempuran penentu. Kita baru akan membicarakannya setelah
itu──lagipula, aku bukan jenis orang yang akan menyelesaikan masalah dalam
situasi yang tidak menguntungkan seperti ini. Pahami hal
sejauh itu. Paham? Sekarang, pikirkan saja tentang pertempuran."
Dia berbicara dengan nada bicara yang cepat berondong.
Ini juga merupakan gaya bicara yang tidak biasa bagi Frenshie.
"Manfaatkan waktu di saat Esgain sedang tidak ada
ini, waktu yang sudah susah payah kupersiapkan dan berhasil diulur oleh Vanetim
Leopoor──Lakukan hal yang hanya bisa kaulakukan sekarang, di saat kau bisa
menyandang gelar sebagai penguasa kota. Paham?"
"Paham."
Kenyatannya, bisa dikatakan kalau situasinya sudah
dipersiapkan dengan hampir sempurna.
Malchoras Esgain telah melarikan diri bersama dengan
faksinya.
Tampaknya mereka mundur ke pangkalan yang dibangun oleh
keluarga Eldarie, yang sudah disiapkan untuk mengantisipasi wilayah selatan.
Mereka tidak akan bisa kembali dalam waktu dekat──mungkin
butuh waktu satu hari, atau beberapa hari sampai mereka kembali.
Di sela-sela waktu itu, aku akan melakukan apa yang harus
kulakukan.
Jika tidak, maka hal ini tidak akan memiliki arti.
"Kumpulkan seluruh Pahlawan Hukuman. Seperti yang
kaukatakan, kita akan menuju ke utara bahkan jika itu lebih cepat satu detik
pun."
"Bukan hanya para Pahlawan Hukuman saja, tahu. Masih
ada pasukan prajurit Malam Janki Selatan, dan pasukan pendukung yang berpusat
pada para bajak laut Zehai Dahe yang tersisa. Ditambah lagi, organisasi milisi
warga di kota ini juga ikut mendaftarkan diri sebagai pasukan
sukarelawan."
"Bajingan semacam itu ternyata ada juga, ya."
"Berbeda dengan gerombolan yang melarikan diri
itu, tahu. Tidak sedikit orang yang tinggal di kota ini dan memiliki motivasi
yang kuat untuk melindungi kota ini. Jika penguasanya adalah kau, dan kau
memimpin pasukan untuk bertarung melawan Fenomena Raja Iblis, mereka akan
bertarung. Jumlah orang seperti itu jauh lebih banyak dari yang kauperkirakan,
tahu."
Mungkin memang begitu. Ini bukan tentang aku atau
bagaimana, melainkan orang-orang yang tidak bisa meninggalkan kota ini begitu
saja. Lahan pertanian, bengkel kerja, usaha turun-temurun dari
nenek moyang. Jika memiliki hal-hal semacam itu, mereka tidak akan bisa
melarikan diri dengan mudah.
"Tampaknya Guild Penembak Meriam juga akan bergerak.
Mereka──aku agak tidak bisa memahaminya, tapi mereka mengatakan akan mematuhi
perintah jika Rhyno yang memimpin jalannya komando."
"Aku juga sudah mendengarnya secara garis besar
tadi, tapi aku benar-benar tidak paham apa alasannya."
"Aku sudah menyerah untuk memahaminya. Mereka pasti
adalah jenis orang yang seperti itu."
Bagi divisi prajurit meriam, ada sesuatu yang bisa
disebut sebagai budaya unik milik mereka sendiri. Mereka memiliki rasa
solidaritas yang sangat kuat. Berbeda dengan prajurit pejalan kaki atau
prajurit penunggang kuda, alih-alih hubungan senior-junior, mereka memiliki
kecenderungan untuk lebih menghormati orang yang murni memiliki keahlian yang
tinggi. Kepribadian sama sekali tidak ada hubungannya.
Guild Penembak Meriam di kota ini mungkin juga memiliki
karakteristik yang sebagian besar mirip seperti itu. Pria bernama Rhyno itu,
jika hanya melihat dari teknik penembakan meriamnya saja, bisa dikatakan kalau
dia adalah sosok yang sangat luar biasa.
"Kalau begitu, gabungkan seluruh gerombolan yang
kaukatakan tadi."
Pasukan Pahlawan Hukuman. Malam Janki Selatan. Bajak laut
Zehai Dahe, milisi warga Nofan. Guild Penembak Meriam. Aku mencoba menghitung
jumlah kekuatan tempur tersebut di dalam kepalaku.
"Kira-kira berapa jumlah total pasukannya?"
"Jika digabungkan dengan kekuatan tempur kita,
jumlahnya sekitar seribu prajurit."
Seribu. Itu adalah jumlah yang lumayan──sebuah jumlah
yang tidak bisa diremehkan. Jika digabungkan dengan pasukan Patausche dan yang
lainnya yang sudah bergerak lebih dulu, jumlahnya akan menjadi sekitar seribu
lima ratus prajurit. Jika ada sebanyak itu, ada banyak cara yang bisa dilakukan
untuk mengatasinya.
Aku sudah terbiasa bertarung dalam kondisi yang jauh
lebih berantakan dari ini melulu. Aku bahkan pernah mencoba menahan pergerakan
lima ribu ekor Fairy hanya dengan dua orang saja. Aku juga pernah mencoba
memusnahkan sekumpulan sepuluh ribu musuh hanya dengan kekuatan tempur beberapa
puluh orang saja.
Jika dibandingkan dengan hal itu, situasi saat ini jauh
lebih mendingan.
"Bagus. Aku sudah memutuskan apa yang harus
dilakukan."
Aku bangkit berdiri.
"Mari kita segera menyusul pasukan Patausche."
"Dari sana, apa yang akan kaulakukan? Rencana
seperti apa yang kaupunya?"
"Tidak perlu terlalu banyak berpikir. Ini
adalah pertempuran yang bisa kita menangkan."
"Aku tidak terlalu memahaminya. Kau tampaknya sangat
percaya diri, apa kau punya semacam taktik?"
"Ini bukan masalah taktik atau semacamnya. Ada Bieux
Wintier di sana."
Aku menyuarakan nama pria yang tidak menyenangkan itu.
"Bajingan itu hanya akan memulai pertempuran di saat
dia pasti bisa menang saja──Pertempuran ini akan segera berakhir."
Mengakuinya memang tidak menyenangkan, tetapi itu adalah
sebuah fakta. Dia bukan jenis pria yang akan melakukan pertempuran yang
mustahil untuk dimenangkan. Hanya hal ini yang bisa kupastikan dengan tegas.
"Jika kau menilai demikian, aku tidak memiliki
keberatan apa-apa. Tapi, sebelum mengumumkan keberangkatan pasukan, bagaimana
kalau kau menunjukkan wajahmu di hadapan semua orang terlebih dahulu?"
"Semua orang itu siapa maksudmu?"
"Warga wilayah kekuasaanmu. Meskipun hanya untuk
waktu yang sangat singkat, karena penguasa yang sah telah kembali, setidaknya
satu buah pidato pasti akan dibutuhkan, kan. Aku sudah mempersiapkan kesempatan
untuk menunjukkan wajahmu. Mereka semua sudah berkumpul sekarang."
"Apa-apaan itu……"
"Jangan menunjukkan wajah seperti burung
layang-layang kotak yang jatuh ke laut begitu. Apa kau benar-benar berpikir
kalau orang-orang yang berkumpul di alun-alun itu datang murni untuk
mendengarkan pidato Norgayu?"
Kemungkinan itu──belakangan ini, saat aku melihat
Norgayu, aku mulai berpikir kalau kemungkinan itu mungkin saja ada.
Namun, tampaknya khusus untuk kali ini saja keadaannya
berbeda.
"Bergegaslah. Aku akan mempersiapkan pakaianmu, jadi
diamlah di tempat."
Hal yang mengerikan adalah, Frenshie bahkan sudah
menyiapkan pakaian untukku. Itu adalah sejenis pakaian tradisional milik Malam
Janki Selatan yang terkesan terlalu berlebihan, membuatku merasa putus asa
seketika.
◆
Norgayu Senridge mengingat pemandangan itu dengan
sangat baik.
Saat Panglima Angkatan Darat Xylo Forbartz
memunculkan sosoknya, dia bisa merasakan sebuah kegemparan yang menjalar di
seluruh alun-alun kota.
(Makhluk yang picik, ya.)
Bahkan di saat dirinya berpidato sebagai seorang raja
pun, reaksi sebesar ini tidak pernah terjadi. Namun, rakyat jelata memang
merupakan jenis makhluk yang seperti itu. Alih-alih seorang raja, mereka lebih
mendambakan sesosok pahlawan.
Hal yang penting adalah, seorang raja tidak boleh
merangkap tugas sebagai seorang pahlawan.
Di saat urusan militer dan kekuasaan bersatu menjadi satu
hal yang sama, sebuah tragedi seringkali akan lahir dari sana.
Jika melihat dari sudut pandang tersebut, Xylo Forbartz
adalah sebuah pilihan personil yang terhitung memiliki keseimbangan yang
lumayan baik.
Penguasa Nofan.
Meskipun dia adalah seorang penguasa, dia hanyalah
sebatas penguasa dari satu wilayah lokal saja.
Menahannya di tingkat sejauh itu adalah sebuah tindakan
yang bijaksana──Oleh karena itu, Norgayu juga bisa merasakan keinginan untuk
merayakannya dari lubuk hatinya yang terdalam.
(Dia juga sudah mendirikan pencapaian militer yang cukup.
Dia harus mendapatkan balasannya.)
Xylo Forbartz, di tengah krisis negara ini, telah terus
bertarung di garis depan paling depan──seharusnya begitu. Ada banyak pencapaian
yang dia miliki.
Saat mencoba mengingat hal-hal tersebut satu per satu,
kepalaku terasa sakit. Aku berpikir untuk memastikan setiap pencapaian itu
nanti saja di lain waktu.
Belakangan ini, entah mengapa aku menjadi sangat pelupa.
Kemungkinan besar ini terjadi karena aku kurang tidur.
Setelah menyelesaikan pertempuran yang ada di depan mata
untuk saat ini, aku harus tidur dengan santai.
Setelah itu, terhadap wilayah negara yang sudah terlalu
banyak terluka ini──.
Di saat Norgayu sedang memutar pemikiran semacam itu di
dalam kepalanya, Xylo Forbartz sudah mulai memulai pidatonya.
"──Maaf karena sudah membuat kalian repot-repot
berkumpul di sini."
Di atas podium yang didirikan di alun-alun kota, suara
itu entah mengapa terdengar seperti bernada canggung.
Jika bukan karena alat pengeras suara yang menggunakan
Segel Suci, suara itu mungkin tidak akan bisa didengar oleh siapapun. Itu
adalah kata-kata yang mendekati sebuah gumaman pendek.
"Sebenarnya, tindakan mendaftarkan diriku sebagai
penguasa kota ini mungkin merupakan sebuah kesalahan."
Sosok Xylo di atas podium tampak mengenakan sebuah jubah
atas berwarna hitam yang berukuran longgar.
Itu adalah pakaian yang biasa dikenakan oleh suku bangsa
di wilayah selatan, dan kalau dipikir-pikir kembali, pria itu tampaknya memang
merupakan sosok yang berasal dari wilayah selatan.
"Tapi, saat ini tidak ada orang lain yang lebih
tepat untuk menjabat. Panglima Esgain dan juga gerombolan bangsawan yang dekat
dengannya tampaknya sudah melarikan diri dari sini melulu. Bagi para bangsawan
yang tersisa──"
Xylo mengarahkan pandangannya ke arah bagian tengah
alun-alun kota.
Di tengah keheningan, suara tepuk tangan mulai menggema.
Meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak, dia merasa itu
adalah sebuah tepuk tangan yang dipenuhi dengan kekuatan yang besar.
(Hal itu memang benar adanya.)
Itu adalah hal yang wajar, pikir Norgayu. Orang-orang
yang tersisa di tempat ini adalah para bangsawan yang sudah membulatkan tekad
mereka untuk bertarung melawan Fenomena Raja Iblis yang menyusup ke dalam kota.
Berbeda dengan pemberontak seperti Esgain atau para
anak buahnya.
Mereka dengan sangat mendambakan kehadiran seorang
pemimpin militer yang memiliki kemampuan dan juga rekam jejak yang nyata.
"Untuk sementara waktu, aku merasa bersalah karena
sudah diterima oleh kalian. Dipimpin oleh sosok seperti Pahlawan Hukuman pasti
akan membuat kalian merasa kesal, tapi saat ini hanya ini satu-satunya cara
yang bisa dilakukan."
Xylo menundukkan kepalanya, tampak merasa tidak nyaman
berada di tempat itu.
"Tolong. Aku benar-benar meminta maaf, tapi bagi
Persatuan Warga, Asosiasi Dagang dan Industri, Guild Penembak Meriam──Bagi
kalian, ini bukan hanya sekadar deretan wajah yang ada di tempat ini saja.
Mohon bantuannya kepada semua orang yang lain untuk bekerja sama dalam
pertempuran demi bertahan hidup ini. Sebagai gantinya."
Xylo yang mengangkat wajahnya menatap tajam ke arah
alun-alun kota──bukan, dia sedang menatap tajam ke arah utara.
"Aku pasti akan membuat kalian menang."
Terhadap pernyataan ini, Norgayu bisa mendengar suara
bisikan dari sekitarnya. Itu adalah suara bisikan yang mengandung senyuman
pahit.
"Tuan penguasa yang aneh, ya. Orang
itu, dia hanya terus meminta maaf melulu."
Reaksi yang menunjukkan kebingungan semacam itu juga
sangat dipahami oleh Norgayu.
Pidato itu benar-benar sangat buruk, dan bukan merupakan
sesuatu yang patut dipuji.
Namun, ada sebuah unsur kejutan di sana.
Hal-hal semacam itulah yang justru bisa mencengkeram
perasaan seseorang.
Terlebih lagi, kata-kata dari Xylo Forbartz memiliki
sebuah bukti nyata di baliknya.
"……Kalian, jangan mengeluh melulu. Aku memilih untuk
percaya."
Suara semacam itu juga mulai terdengar.
"Tuan penguasa yang mengaku dirinya sendiri itu
adalah rekan dari orang bernama Kivia, kan? Ayahku pernah diselamatkan di
tempat yang berbahaya di lahan pertanian wilayah timur tahu. Mereka bukan jenis
orang yang hanya besar di mulut saja."
"Aku juga pernah membacanya di surat kabar tahu.
Orang-orang itu selalu berhasil memenangkan pertempuran yang berbahaya melulu.
Mereka bahkan bisa menjinakkan Fenomena Raja Iblis, Pasukan Pahlawan Hukuman
yang tidak terkalahkan. Nenekku juga memercayai mereka tahu."
"Itu adalah majalah mencurigakan bernama Catatan
Libio itu, kan. ……Aku sih tidak percaya ya. Kakakku bilang kalau keributan ini
juga merupakan sebuah sandiwara yang dibuat-buat oleh para bajingan Pahlawan
Hukuman itu sendiri tahu. Tapi──"
Sebuah gumaman yang terdengar seperti erangan dapat
didengar dengan jelas oleh telinga Norgayu.
"Jika orang-orang seperti mereka yang memimpin,
mungkin mereka bisa menang untuk kita. Itu jauh lebih mendingan daripada
Esgain."
Pada akhirnya, pilihan jalan yang bisa mereka ambil
memang tidak terlalu banyak.
(Seperti halnya tidak semua orang adalah seorang raja,
tidak semua orang adalah seorang prajurit.)
Jika keadaannya begitu, maka mereka perlu memercayakan
pertempuran kepada seseorang.
Sosok yang pantas untuk dipercayakan adalah seseorang
yang dihadapkan pada beberapa keberuntungan, dan juga kemalangan dalam jumlah
yang sama besarnya.
(Dan yang terpenting, itu adalah sebuah kebodohan yang
jauh lebih besar dari itu.)
Dari sudut pandang Norgayu, Xylo Forbartz adalah sosok
yang benar-benar memenuhi seluruh kondisi tersebut.
"Dengar
ya…… Aku akan membebankan banyak hal kepada kalian. Ada banyak hal yang
dibutuhkan untuk bertarung."
Lagi-lagi
terjadi. Xylo Forbartz menyuarakan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dia
katakan di atas podium.
Namun,
saat ini hal itulah yang justru sangat dibutuhkan.
"Aku
berniat untuk memberikan kompensasi sebisa mungkin. Dan aku akan membuat kalian
menang. Bagi sosok sepertiku, ini bukan sebuah kewajiban yang pantas untuk
kuminta, tapi saat ini ada sesuatu yang benar-benar sangat kubutuhkan sekarang.
Mohon bantuannya."
Setelah
itu, hanya kalimat terakhirnya saja yang terdengar dengan sangat jelas dan
penuh kekuatan.
"Aku ingin mengakhiri pertempuran ini. Meskipun
hanya untuk waktu yang singkat, mohon bantuannya."
Sebuah kegemparan yang tipis menjalar.
Hal itu perlahan-lahan berubah menjadi sebuah keriuhan,
dan saat tepuk tangan yang dipenuhi rasa setengah percaya mulai menggema, hal
itu segera berubah menjadi suara sorakan yang menyerupai ejekan sambil
tersenyum pahit.
Itu adalah sebuah pemandangan aneh yang berbeda dari
antusiasme murni saat menyambut seorang pahlawan.
(Seorang penguasa kota yang tidak bisa ditolong lagi,
ya.)
Norgayu juga mendapati dirinya sedang tersenyum pahit
sekarang.
Diterima oleh semua orang meskipun sambil membuat
mereka tersenyum pahit. Pemimpin semacam itu adalah sebuah sosok yang sangat
langka.
Xylo Forbartz mungkin merupakan sosok yang memiliki
bakat untuk menjadi seorang raja dengan bentuk yang berbeda dari dirinya
sendiri.
Hukuman
Pembersihan
dan Penaklukan Jutan Sanahu Nede 3
Pertempuran di bagian utara lautan pohon Sanaf Nede
berjalan sangat menguntungkan hingga terasa anticlimax.
Bahkan, bisa dikatakan pertempuran itu berjalan sangat
dominan. Begitu cepatnya pasukan Kesatria Suci ke-11 yang dipimpin Bieux
mencerai-beraikan musuh, lalu terus maju menembus lautan pohon ke arah utara.
Dari pandangan Hord Kivia, pertempuran mereka tampaknya
mengombinasikan sesuatu yang sangat sederhana dengan taktik yang luar biasa
rumit.
Pasukan utama Bieux dan Lukjut menekan musuh dari depan,
atau sengaja memasang posisi bertahan demi memancing musuh. Sementara itu,
empat atau lima unit terpisah bergerak lincah ke sana kemari untuk memusnahkan
musuh.
Saat musuh mulai waspada terhadap unit terpisah itu,
mereka langsung melancarkan gebrakan hebat di garis depan hingga membuat musuh
kocar-kacir.
Saat bertarung, Lukjut terus menekan musuh sembari
tertawa melengking.
"He, hehehehehe!"
Pekik tawa yang entah mengapa terdengar agak tegang
itu menggema, saat dia mengendalikan Ashraf──baju zirah Segel Suci
miliknya.
"Sem-sem-semuanya boleh kubuat meledak, kan! Bieux!
Aku maju, ya!"
"Diizinkan."
Begitu Bieux mengangguk, kilatan petir yang tak terhitung
jumlahnya melesat dari baju zirah Segel Suci Lukjut.
Cahaya itu menumbangkan pepohonan, meruntuhkan lereng,
dan mengikis tebing. Sebuah daya hancur yang luar biasa.
Pihak yang mendukung daya hancur itu adalah pasukan
infanteri dari unit Bieux. Berondongan tembakan dari tongkat petir mereka
hampir tidak ada jedanya, terus berlanjut hingga musuh terdiam.
Mereka bahkan tidak perlu mengganti magasin baterai
akumulator cahaya. Cahaya yang terpancar dari baju zirah Segel Suci Lukjut
langsung terisi oleh sinar matahari secara otomatis.
Alhasil, Pasukan Kesatria Suci ke-11 mampu menunjukkan
daya hancur yang seolah tanpa batas.
(Mengerikan sekali. Masalah topografi seperti lautan
pohon pun menjadi tidak berarti.)
Taktik Bieux hampir terlihat seolah ditentukan secara
spontan di tempat──namun, pasti ada panduan tindakan yang jelas. Jika tidak,
unit-unit terpisah tidak akan bisa bergerak secepat itu.
(Bawahannya sudah terlatih untuk menghadapi pertempuran
seperti ini. Benar-benar terlatih sampai ke akar-akarnya.)
Sampai-sampai Hord dan Pasukan Kesatria Suci ke-9
miliknya harus bersusah payah untuk mengimbangi pergerakan maju mereka.
Namun, semua ini terasa terlalu mudah.
"Komandan Pasukan Kesatria Suci, Bieux Wintier. Aku
ingin memberi saran."
Itu adalah waktu istirahat panjang setelah mereka terus
melanjutkan pergerakan maju yang cepat selama sehari penuh. Matahari sudah
terbenam.
Di sinilah Hord akhirnya bisa berbicara kepada Bieux.
"Ini terlalu mudah. Aku tidak meragukan ketangguhan
pasukanmu, tapi tetap saja perlawanan musuh terlalu lemah."
"Ah."
Bieux yang mengangguk bahkan tidak duduk untuk
beristirahat. Hal yang sama juga dia lakukan saat istirahat pendek sebelumnya.
Jika ada waktu luang, dia selalu mendedikasikan dirinya
untuk merawat baju zirah Segel Suci yang dikendarai Lukjut. Dia tidak
menyerahkannya kepada ahli penala Segel Suci dari pendeta militer. Tampaknya
itu sudah menjadi prinsipnya.
"Aku mengerti apa yang ingin kaukatakan."
Tanpa menolehkan wajahnya ke arah sini, Bieux membenarkan
saran Hord.
"Musuh
berniat memancing kita keluar. Itu sudah jelas, dan kau ingin memperingatiku
tentang hal itu, kan? Benar-benar ucapan yang sangat mencerminkan dirimu."
Cara
bicaranya membuat kesal. Namun, Hord berusaha keras menahan emosinya, karena
ada hal lain yang harus dia katakan.
"Melanjutkan
pergerakan maju yang terburu-buru lebih dari ini sangat berbahaya. Kita akan
terjebak dalam perangkap musuh."
"Hal
yang sedang dipikirkan musuh kemungkinan besar adalah penyergapan. Memancing
kita masuk, lalu mengepung kita dengan pasukan jebakan."
"Jika
kau sudah tahu sampai sejauh itu, seharusnya kau memikirkan rencana lain. Ada
pilihan untuk bekerja sama dengan pasukan Saint."
Bagi Hord, itu adalah pilihan terbaik. Jika mereka terus
maju seperti ini, kemungkinan besar hal yang sedang menunggu adalah──.
"Jika Nuckelavee muncul, itu akan sangat berbahaya.
Kita bisa saja hancur dalam serangan mendadak."
Itu adalah kemungkinan terburuk yang ada di dalam benak
Hord. Otoritas dari Goddess Ratapan. Hanya dengan mendengar suaranya
saja, pergerakan pasukan akan langsung terhenti.
Meskipun mereka sudah mengatasinya sampai batas tertentu
dengan menggunakan unit yang menyumbat pendengaran, jika menerima serangan
serius dari Nuckelavee, ada kemungkinan seluruh pasukan akan musnah. Hord
berpikir demikian.
"Kau salah paham."
Seolah bisa membaca isi hati Hord, Bieux bergumam.
"'Lagu' yang dipanggil oleh Nuckelavee tidak
sepraktis itu."
"Apa maksudmu?"
"Sesuai ucapanku. Benda itu awalnya adalah otoritas
yang digunakan oleh Megami. Megami Ratapan, kan──sebuah kemampuan
untuk bertarung melawan Fairy. Artinya, 'lagu' yang dia panggil juga akan
memberikan pengaruh kepada Fairy yang menjadi bawahannya. Jika tidak berpikir
begitu, pertempuran sampai saat ini tidak akan bisa dijelaskan. Seharusnya
mereka sudah menyerang dengan lebih agresif."
Megami Ratapan. Dari dokumen kuno, Hord
juga mengetahui tentang Megami tersebut. Informasi itu sebagian besar
adalah hasil penyelidikan dari seorang Komandan Pasukan Kesatria Suci bernama
Siguria.
Menurut dokumen kuno, lagu tersebut bisa membuat para
Fairy jatuh ke dalam kondisi panik, atau bahkan membuat mereka tertidur sesuka
hati.
Artinya, kemampuan itu pada dasarnya adalah kekuatan
untuk menghadapi Fairy. Mengenai efeknya yang juga bekerja pada manusia, apakah
itu ditujukan untuk penggunaan yang sama seperti Megami Permery, yang
juga bisa memanggil racun untuk keperluan medis?
"Kemungkinan besar, Fairy yang bergerak di bawah
perintahnya sebagian besar adalah mereka yang pendengarannya sudah dihancurkan.
Tentu saja tidak semuanya. Karena kawanan yang direnggut pendengarannya dengan
terburu-buru seperti itu akan sangat sulit untuk berkoordinasi."
Bieux mengarahkan tatapan lesu ke arah Hord. Kalau
dipikir-pikir, pria ini memang selalu menunjukkan wajah yang muram.
Itu agak berbeda dengan ekspresi datar. Ekspresinya
baru akan benar-benar lenyap saat membicarakan tentang Ryufen Cowlon, atau saat
membicarakan tentang Xylo Forbartz. Mungkin hanya sebatas itu saja.
"Kesimpulannya adalah hal yang tadi. Lagu
Nuckelavee juga memengaruhi kawanan Fairy. Karena
itulah sampai saat ini mereka tidak melancarkan serangan yang menentukan. Sudah
jelas kalau mereka hanya fokus untuk menahan pergerakan kita."
"……Jika demikian."
Hord mengerang. Karena dia sudah memahami apa yang ingin
dikatakan oleh Bieux.
"Jika ada Fenomena Raja Iblis yang memancing kita
dan berniat memusnahkan kita, maka itu adalah──sosok yang selama ini
kaukekhawatirkan. Sosok yang bisa disebut sebagai musuh alami dari Lukjut, sang
Megami Matahari, ya."
"Tampaknya namanya Empusa."
Dengan santai, Bieux mengatakannya.
"Dia menggunakan otoritas dari Megami
Rembulan. Fenomena Raja Iblis yang seperti itu. Sekitar tiga jam yang lalu, ada
laporan yang masuk dari Nofan."
"Otoritas Megami Rembulan?"
"Memanggil rembulan dengan metode khusus, lalu
menyerap sinar matahari. Membuat senjata Segel Suci tidak bisa digunakan.
Tergantung situasinya, ada kemungkinan Stigmata juga akan kehilangan
efeknya."
"Bagaimana kau bisa tahu hal itu? Tidak, jika hal
itu benar──"
Bukankah itu akan menjadi hal yang fatal, baik bagi
Lukjut maupun bagi Bieux?
"Nah, tampaknya mereka sudah mulai datang."
"Apa katamu?"
"Artinya musuh sudah bergerak. Lebih cepat dari
perkiraan. Lawan yang ini ternyata sangat terburu-buru, ya. Baguslah, jadi
lebih mudah dihadapi."
Bieux bangkit berdiri. Di salah satu tangannya terdapat
sebuah papan komunikasi berukuran kecil. Benda itu bergetar secara samar.
"Lukjut. Waktunya tampil."
"Ah. Ah? U──um!"
Dengan suara hantaman yang keras, cangkang luar dari baju
zirah Segel Suci──bagian yang berfungsi sebagai penutup──terbuka ke atas.
Lukjut langsung meregangkan tubuhnya lebar-lebar.
Setelah itu, seperti seekor reptil, dia memutar bola matanya dan menatap Bieux.
"W-waktunya tampil? Padahal baru saja, setelah
sekian lama, aku merasa seperti bisa sedikit tidur!"
"Itu hanya perasaanmu saja."
"He, hehe, tidak mungkin begitu! Tadi aku
b-bermimpi!"
"Jangan berbohong untuk hal yang tidak ada gunanya. Megami Matahari, tidak mungkin kau bisa tidur dengan
normal."
Setelah itu, Bieux mengangkat pedangnya sendiri. Itu
adalah sebuah pedang besar yang diukiri Segel Suci, jenis pedang yang bahkan
untuk mengangkatnya saja akan membuat orang dengan kekuatan fisik normal merasa
kesulitan.
"Lawan
yang dimaksud sudah datang. Musuh alamimu. Kita lakukan sesuai
rencana."
"Hehehehehehe! B-bagus, bagus sekali. Kalau kita
menang melawannya, artinya kita adalah yang terkuat, kan?"
"Tanpa menang melawannya pun kita sudah yang
terkuat, tapi ini bisa menjadi semacam pembuktian. Kita berangkat, tutup
wadahmu."
"Ohhh!"
Kembali terdengar suara hantaman saat cangkang luar baju
zirah itu menutup. Setelah itu, Bieux berbalik.
"Hord Kivia. Tetaplah bertahan di tempat ini. Musuh
sudah mengepung kita. Fairy yang bersembunyi di arah belakang serta kedua sisi
samping sudah mulai bergerak. Jumlahnya lumayan banyak. Aku yang akan menangani
bagian depan, tapi sampai semuanya berakhir, kalian harus bertahan."
"Apa katamu?"
Apakah komunikasi yang tadi adalah laporan semacam itu?
Namun, menyuruh untuk tetap bertahan──sebenarnya apa yang direncanakan oleh
Bieux dan yang lainnya?
"Bagaimana cara kalian akan bertarung? Jika
perkiraanmu tepat, senjata Segel Suci tidak akan mempan melawan musuh ini,
kan?"
"Seperti biasa."
Jawaban Bieux terdengar ringkas.
"Tepat dari depan. Maju dan mencerai-beraikan
mereka. Empusa sendiri adalah lawan yang membosankan, tapi dia memiliki nilai
guna di pertempuran penentu. Aku akan menanganinya dengan santai. Justru
seberapa banyak kita bisa mengurangi jumlah pasukan Fairy miliknya adalah kunci
utamanya."
"Itu──"
"Pembicaraan selesai. Ayo pergi."
"He, hehe! Serahkan padaku!"
Setelah itu, tidak ada waktu lagi untuk menghentikan
mereka. Keduanya bergerak maju sembari menyibak dan menumbangkan pepohonan di
hadapan mereka.
Jika sudah begini, Hord juga tidak punya pilihan selain
bergerak.
"──Permery!"
"Ya. Aku ada di sisimu."
Sebuah suara yang terdengar agak muram. Permery selama
ini terus bersiap di belakang Hord──dan dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Memang benar kalau dia tidak terlalu banyak berbicara
dengan orang lain selain Hord atau anggota Pasukan Kesatria Suci ke-9, tetapi
saat ada Bieux dan Lukjut, kecenderungan itu menjadi jauh lebih menonjol.
Hord berpikir kalau Permery mungkin benar-benar membenci
Lukjut dari lubuk hatinya yang terdalam.
Saat Lukjut sedang berbicara, sesekali ketika Hord
melihat keadaannya, Permery tampak sedang menyumbat telinganya, atau bahkan
menunjukkan ekspresi wajah yang seolah tidak bisa menahannya lagi.
Hord pernah bertanya secara langsung kepadanya
sekali──tentang Lukjut.
'Setiap kali membuka mulut, dia hanya membicarakan
tentang siapa yang paling kuat. Terus berbicara tanpa henti……'
Begitulah penilaian Permery mengenai Megami
tersebut.
'Pada akhirnya, dia akan menegaskan kalau dirinya
sendirilah yang paling kuat. Benar-benar buruk.'
──Begitu, ya, pikir Hord. Tampaknya di antara sesama Megami
pun, ada kecocokan dan ketidakcocokan semacam itu.
Jika keadaannya begitu, maka membagi barisan depan yang
berbeda dengan cara seperti ini adalah hal yang paling aman.
"Musuh telah mengepung kita. Kita akan bertahan di
sini. Tolong persiapkan Nomor Satu Merah. Untuk mengantisipasi hal yang tidak
terduga, persiapkan juga Nomor Nol Perak. Kamu bisa, kan?"
"Ya. Tidak masalah. Berkat Hord yang sudah
mengizinkanku beristirahat, kondisi fisikku sudah siap."
Permery tersenyum tipis setelah mengatakan hal itu.
Namun, warna kulit Permery tidak terlihat bagus. Seperti yang diperkirakan,
kondisi fisiknya masih belum bisa dikatakan sepenuhnya pulih.
Meski begitu, ini jauh lebih mendingan daripada
beberapa hari yang lalu. Mereka tidak punya pilihan selain melewatinya di sini.
"Hord. Jika ini selesai, kamu akan memujiku, kan?
Jika bisa, aku ingin memakan masakan buatanmu."
"Disetujui. Tidak masalah."
Hord mengalihkan pandangannya dari senyuman gembira
Permery. Dia telah mempekerjakannya dengan sangat keras. Balasan yang bisa dia
berikan untuk membalasnya terasa terlalu remeh.
Demi melenyapkan rasa benci pada dirinya sendiri, Hord
mulai meneriakkan instruksi dengan suara keras.
"Kita mulai! Rifus, Barald! Kenakan zirah dan bangun
garis pertahanan awal! Unit penembak jitu, berkumpul! Unit Godney, bersiap
untuk menyerang!"
Sebuah pertempuran untuk bertahan hidup. Dirinya hanya
bisa sebatas bertahan.
Kenyataan bahwa arah dari pertempuran ini sepenuhnya
bergantung pada Bieux adalah hal yang masih membuat hatinya merasa tidak
tenang.
◆
Cara bertarung tidak perlu diputuskan melalui diskusi
terlebih dahulu.
Fenomena Raja Iblis adalah makhluk yang seperti itu.
mengenai hal itu, Empusa bahkan tidak perlu menegaskannya lagi.
Deirdre sedang menggebu-gebu untuk merebut benteng tempat
Saint Yulisa berada, sementara Nuckelavee berniat untuk memutus jalur menuju
Nofan, dan berniat untuk membunuh manusia sebanyak mungkin dengan sangat
hati-hati.
(Kedua strategi itu benar. Bukan sebuah kesalahan.)
Empusa juga berpikir demikian.
(Namun, kami tidak akan bekerja sama. Memang seharusnya
tidak perlu.)
Itulah pertempuran dari Fenomena Raja Iblis──akan tetapi
untuk kali ini saja, ada satu instruksi jelas yang dikeluarkan.
Mereka diperintahkan oleh Anis dari Black Crown
untuk mematuhi strategi yang disusun oleh Towitz Hukar. Meskipun hal ini agak
merepotkan, namun pertempuran yang dilancarkan oleh Towitz terhitung sangat
menarik.
Terlebih lagi, dia kuat. Empusa juga mengakui hal itu.
(Dia memang pantas menjadi ahli strategi untuk Kak
Anis──pada akhirnya, menyerahkan segala sesuatunya pada kebijakan individu juga
bukan hal yang buruk. Dia sangat memahami kami.)
Melancarkan serangan dengan koordinasi yang matang adalah
hal yang mustahil bagi mereka. Terutama bagi diri mereka sendiri.
Nuckelavee tidak akan sudi untuk bekerja sama dengan
Empusa, dan pihak sini pun tidak memiliki niat untuk melakukan hal itu. Cara
berpikir mereka terlalu berbeda. Kemudian Deirdre, dia tidak memiliki niat
untuk bekerja sama dengan siapa pun.
(Anak itu masih terlalu kecil.)
Jika ketidakmatangan sebagai Fenomena Raja Iblis diubah
ke dalam bahasa manusia, maka akan menjadi seperti itu.
Oleh karena itu, pertempuran di lautan pohon Sanaf Nede
yang tertidur ini akan menjadi tempat di mana ketiga Fenomena Raja Iblis
bertarung secara terpisah. Nuckelavee mungkin saja akan membantu Deirdre atas
dasar pribadi, tetapi kemungkinan besar dia tidak akan memiliki ruang longgar
untuk melakukan itu.
Pertempuran penentu sudah dekat. Ini adalah pertempuran
awal, tetapi hasilnya pasti akan memberikan pengaruh yang besar.
(Lawanku adalah Pasukan Kesatria Suci ke-11. Bieux
Wintier, ya.)
Bukan lawan yang mengecewakan. Empusa juga berpikir bahwa
dirinya yang memiliki otoritas dari Megami Rembulan adalah pihak yang
paling diuntungkan dalam pertempuran ini.
(Hanya saja, ini sangat disayangkan.)
Xylo Forbartz kemungkinan besar tidak ikut serta dalam
pasukan musuh yang bergerak ke utara ini. Jika ada kesempatan untuk bertarung,
dia berniat untuk menangkapnya. Ini adalah masalah yang serius bagi Empusa.
(Bagaimanapun juga dia sangat dibutuhkan. Sosok yang
memiliki keberuntungan besar untuk bisa lolos dariku, dan juga memiliki
ketangguhan──seorang Pahlawan.)
Demi tujuan itu, pertama-tama dia harus membereskan Bieux
Wintier ini terlebih dahulu. Persiapan sudah dilakukan dengan matang.
Musuh yang bergerak ke utara dengan kecepatan yang bahkan
terkesan bodoh itu kini telah sepenuhnya terkepung. Fairy yang bersembunyi juga
sudah mulai bergerak.
Kenyataan bahwa dia sama sekali tidak menggunakan Fairy
berukuran besar dan hanya menggunakan individu berukuran kecil telah membuahkan
hasil yang baik.
(Bieux Wintier. Jika dia adalah seorang ahli taktik
seperti yang dirumorkan, dia pasti juga sudah membaca otoritas milikku.)
Hal seperti otoritas Megami Rembulan pasti bisa
diketahui dengan mudah jika menangkap satu atau dua orang dari faksi
koeksistensi dan menyiksa mereka. Berbeda dengan hal itu, Bieux terkesan maju
menerobos begitu saja tanpa persiapan apa-apa.
Pasukan Kesatria Suci ke-11 yang dirumorkan sebagai yang
terkuat.
Sebagian besar dari kekuatan itu terletak pada daya
hancur mereka yang luar biasa. Pengoperasian senjata Segel Suci yang seolah
tanpa batas, yang dibawa oleh Megami Matahari. Hanya dengan kawanan
Fairy saja tidak akan bisa mengimbanginya, dan bagi Fenomena Raja Iblis
sekalipun, menaklukkannya adalah hal yang sulit.
Oleh karena itu, bagi Empusa, dia adalah lawan yang
membosankan.
(Jika dia tetap menjadi pria yang membosankan seperti
yang diperkirakan, aku hanya perlu menghabisinya di sini──tapi, bagaimana
menurutmu?)
Empusa melihat ke bawah ke arah Pasukan Kesatria Suci
ke-11 yang sedang menerobos masuk. Di dalam lautan pohon, terdapat topografi
yang menyerupai bukit kecil. Ini juga merupakan sesuatu yang dipanggil oleh
Deirdre.
Dari tempat ini, sosok Bieux Wintier dan Megami
Matahari, Lukjut, bisa terlihat dengan jelas.
Seperti yang diperkirakan, pergerakan maju mereka tampak
seperti sebuah tekanan fisik yang mengandalkan daya hancur dari senjata Segel
Suci. Meskipun terkepung, mereka terus bergerak maju tanpa memedulikannya.
Serangan dari arah samping berhasil ditahan menggunakan penghalang Segel Suci.
Kemudian, tidak ada cara untuk menghentikan pergerakan
maju Bieux dan Lukjut. Saat Bieux perlahan mengangkat pedang besarnya dan
mengacungkannya ke atas kepala, serbuan langsung dilaksanakan. Jika sudah
begitu, mereka akan mulai bergerak dengan kecepatan yang menyerupai ombak besar
yang mengamuk.
Petir dan penghalang biru diaktifkan secara bersamaan
dalam jumlah yang besar. Mereka bergerak maju dengan mengandalkan kekuatan
fisik tanpa membiarkan kawanan Fairy mendekat.
"Membosankan sekali," gumam Empusa secara
terang-terangan.
"Kudengar kau memiliki Stigmata, Bieux Wintier. Jika
kau berpikir otoritas Megami Rembulan tidak akan bisa merebut cahaya
dari Stigmata tersebut, maka itu adalah sebuah kesombongan."
Empusa menggunakan kekuatan dari Megami Rembulan.
Dengan tangan kirinya, dia menyentuh mata
kirinya──bersamaan dengan cahaya putih kebiruan, benda itu dipanggil ke dalam
pupil matanya. Sebuah rembulan berukuran sangat kecil.
Senjata Segel Suci berbentuk benda langit yang pernah
diciptakan oleh umat manusia di masa lalu. Saat ini tidak ada seorang pun yang
mengetahui cara menggunakannya, itu hanyalah sebuah bola yang bersinar dengan
cara menyerap sinar matahari.
Megami Rembulan bisa memanggil mekanisme yang
sama seperti itu dan menyimpannya di dalam pupil matanya sendiri.
Empusa menatap Pasukan Kesatria Suci ke-11 dengan mata
hitamnya. Senjata Segel Suci milik mereka kehilangan cahayanya, lalu mulai
berhenti berfungsi.
"Maju. Musuh sudah terdesak ke depan. Serang dari
tiga arah."
Di dalam suara Empusa, entah mengapa ada sesuatu yang
mendekati rasa iba yang bercampur di sana.
"Meskipun dia adalah lawan yang membosankan, mari
kita buat akhir cerita yang meriah. Berikan penghormatan terakhir
untuknya!"
Fairy mulai berteriak dan melancarkan serangan balasan.
Senjata Segel Suci telah berhenti beroperasi. Berondongan tembakan dari tongkat
petir juga tidak bisa dilakukan. Tidak akan ada cara bagi mereka untuk
menghentikan jumlah massa sebanyak ini.
──Dan seolah sedang menunggu serbuan tersebut, lautan
pohon tiba-tiba saja berkobar.
Teriakan dari para Fairy berubah menjadi pekikan yang
disebabkan oleh rasa takut dan rasa sakit. Mereka yang sedang menuju ke arah
musuh terasa seperti melompat tepat ke dalam kobaran api dari arah depan.
Lautan pohon di sisi selatan terbakar hebat seolah sedang
mewarnai malam dengan cahaya yang benderang.
"Api, ya."
Unit milik Bieux dan yang lainnya perlahan mundur ke sisi
lain dari kobaran api. Itu adalah bagian dalam lautan pohon yang dipenuhi oleh
asap hitam. Kawanan Fairy yang berusaha mengejar mereka dengan paksa justru
menerima serangan balasan yang menyakitkan.
Di balik kobaran api dan asap, pandangan Empusa tidak
bisa menjangkaunya. Di tempat itulah mereka mengaktifkan senjata Segel Suci
mereka.
"──Jangan mengejar!"
Empusa segera mengubah cara bertarungnya.
"Lautan pohon sudah menjadi lautan api.
Manusia-manusia itu yang akan menyerah lebih dulu."
Angin berembus dari utara menuju selatan. Itu adalah
angin utara yang terasa berat khas awal musim panas. Kobaran api tidak akan
merembet sampai ke sini.
"Perkuat pertahanan! Mereka juga tidak akan bisa
masuk ke dalam jangkauan pandanganku!"
Begitu dia memberikan perintah, para Fairy segera berlari
kembali sembari menjerit. Tidak apa-apa begitu. Empusa menghitung jumlah
mereka. Kerugian yang dialami bahkan tidak sampai sepuluh persen. Dia menilai
itu adalah kerugian yang ringan.
(Hanya sebatas ini? Meskipun sempat membuat terkejut,
tapi hanya sejauh itu.)
Jika melihat dari jumlah pasukan, pihak sini masih jauh
lebih diuntungkan. Unit milik Bieux Wintier pada dasarnya hanyalah sebagian
kecil dari unit yang menonjol ke depan. Selama memperkuat pertahanan, mereka
tidak akan bisa dihancurkan.
(Jika bertarung dengan normal, tidak mungkin kalah.)
Dia bisa meyakini hal itu. Jika tanpa senjata Segel Suci,
perbedaan kekuatan tempur sudah lebih dari dua kali lipat. Terlebih lagi musuh
melepaskan api atas kehendak mereka sendiri, membuat pertempuran jangka panjang
menjadi mustahil dilakukan.
Jika terus memperkuat pertahanan dan fokus pada serangan
balasan seperti ini, kemenangan akan menjadi milik pihak sini. Dia akan
menunggu dengan tenang saat di mana musuh mencapai batas kemampuan mereka.
Kenyatannya, setelah membuat para Fairy mundur, musuh
juga tidak melancarkan serangan apa-apa. Suasananya sangat sunyi──tidak,
terkecuali satu hal.
(Terlalu sunyi.)
Saat dia berpikir demikian, dia dilingkupi oleh perasaan
menggelitik di tengkuknya.
Itu adalah sesuatu yang mendekati intuisi──di lautan
pohon sisi utara. Di sana terdengar suara teriakan perang. Itu adalah suara
dari para manusia.
"Membentang
memutar, ya! Cepat sekali……!"
Tanpa
sadar Empusa bergumam.
Menahan
pengejaran pihak sini menggunakan api, lalu berputar menuju sisi utara begitu
saja. Sebuah kecepatan yang luar biasa.
Mungkin
mereka menggunakan semacam senjata Segel Suci yang ditujukan untuk pergerakan.
Bukan untuk menyerang, melainkan senjata Segel Suci untuk bergerak──apakah ada
benda lain yang mirip seperti baju zirah Segel Suci yang dikendarai oleh Megami
Matahari, Lukjut?
Namun,
tidak ada waktu untuk memutar pemikiran. Dari celah pepohonan di sisi utara,
hujan anak panah melesat terbang.
Kawanan pihak sini yang terdiri dari Fairy berukuran
kecil menerima kerugian yang besar akibat berondongan tembakan tersebut.
Langkah awal mereka untuk melakukan serangan balasan berhasil dihentikan.
Kemudian, benda-benda yang menyerupai obor mulai dilemparkan ke dalam.
Saat jatuh di atas rumput yang ada di bawah kaki, benda
itu langsung terbakar dengan hebat.
Kemungkinan ada semacam mekanisme untuk membuat api
merembet, tetapi saat ini menebak hal itu tidak ada gunanya. Di atas segalanya,
arah angin adalah angin utara. Kali ini pihak sinilah yang berada dalam situasi
harus menghindari kobaran api.
Apakah mereka harus menerobos ke arah utara dengan siap
menerima kerugian? Demi membalas serangan pihak sini, seberapa besar persiapan
yang ada di dalam lautan pohon itu?
(Jumlah musuh tidak terlalu banyak. Jika dengan kekuatan
tempur pihak sini yang sebanyak ini)
Menghancurkan musuh di sisi utara. Seharusnya bisa
dilakukan──berpikir demikian justru terasa seolah sudah menjadi bagian dari
pancingan musuh.
"……Ini adalah sebuah kekalahan, ya."
Tiba-tiba, sebuah suara terdengar dari arah samping.
Soula Odd.
Memang benar kalau pria ini juga ikut serta dalam unit
miliknya. Tampaknya tanpa disadari dia sudah berada di dekatnya.
"Aku diperintahkan oleh Towitz untuk membuatmu
melarikan diri dengan selamat. Ini adalah batasnya. Mundurlah."
"Apa yang kaukatakan. Menang atau kalah masih belum
ditentukan, Soula Odd."
"Asal tahu saja, lautan pohon di sisi utara penuh
dengan perangkap. Entah kapan dan bagaimana cara mereka memasangnya."
"Jika begitu, aku akan menerobos lautan pohon di
sisi selatan seperti ini, lalu menghancurkan pasukan pelapis mereka sepenuhnya.
Jika dilakukan begitu, Pasukan Kesatria Suci ke-11 akan terisolasi──"
"Kau berniat bergerak ke selatan menembus lautan
pohon yang terbakar, lalu bertarung melawan Pasukan Kesatria Suci ke-9? Melawan
Megami Racun? Sungguh pemberani."
Senyuman sinis dari Soula Odd terasa sangat mengganggu
telinga.
"Otoritas Megami Rembulan hanya efektif untuk
unit yang menjadikan senjata Segel Suci sebagai kekuatan utama mereka. Dalam
situasi saat ini di mana jumlah keunggulan dari Fairy mulai menghilang, jika
bertarung maka akan memperlihatkan situasi tragis yang mendekati kemusnahan
total."
"Kau, beraninya bicara begitu."
"Aku sih tidak peduli, ya. Aku
tidak diperintahkan untuk ikut mati bersama dengan orang yang ingin bunuh diri.
Aku pergi dulu."
Tidak ada kata-kata yang bisa diucapkan kembali. Empusa
menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya kembali.
Dirinya terasa seperti sosok yang sangat tidak
berguna. Sebuah perasaan yang berbeda dari kemarahan terasa sulit
untuk dia kendalikan.
"Aku paham."
Empusa tidak punya pilihan selain mengakuinya. Dirinya
mungkin hanya sebatas bertarung melawan musuh yang lemah saja selama ini.
Keberadaannya hanya sebatas itu. Jika dia bisa memahami hal itu, maka
berikutnya dia bisa melakukan hal yang sedikit berbeda.
"Bagi Bieux, akulah lawan yang membosankan. Begitu,
ya. Sebelum pertempuran penentu, aku adalah lawan yang tidak berharga untuk
diambil nyawanya. Tidak lebih dari sekadar nilai untuk mengurangi jumlah
Fairy."
Kenyatannya memang demikian. Memperlihatkan ketidakgunaan
yang tidak bisa dijadikan alasan, dan sekarang seperti ini, para Fairy yang
menjadi bawahannya dibunuh satu demi satu.
Dari lautan pohon di sisi utara, Bieux tampak mulai
melangkah maju. Pria dengan rambut merah yang menyala-nyala itu menggenggam
pedang besarnya dengan kedua tangan, lalu perlahan mengangkatnya──saat benda
itu mencapai di atas kepalanya, serbuan serentak dimulai.
(Oh──)
Tengkuknya terasa bergetar hebat. Tanpa adanya
senjata Segel Suci, hanya sebuah serbuan infanteri sederhana yang menggunakan
tombak dan pedang.
Meskipun mereka sempat gemetar akibat kobaran api,
para Fairy yang menjadi bawahan Empusa berhasil dicerai-beraikan dengan mudah.
Dampak yang diterima oleh kawanan musuh terasa
merembet hingga ke tempat Empusa berada.
"……Luar biasa sekali. Jika hal itu dilakukan
berkali-kali, mereka bisa saja mencapai tempat ini."
Sesuai dengan apa yang dikatakan Soula Odd. Bieux dan
yang lainnya berputar seolah sedang mengikis habis para Fairy, dan justru
dengan santai kembali masuk ke dalam lautan pohon.
Bisa dikatakan itu adalah sebuah tingkat kemahiran yang
mengerikan.
Saat pihak sini mencoba melancarkan serangan balasan,
mereka sudah mundur.
Kenyataan bahwa pengepungan tidak bisa berjalan lancar
akibat kobaran api juga ikut memberikan pengaruh.
(Begitu, ya.)
Empusa menyadari kalau dirinya sedang tertawa, entah
mengapa rasanya seperti melihat orang lain.
(Ini menarik. Apakah ini yang disebut pertempuran?)
Bukan sekadar suara dari tenggorokan, melainkan sebuah
tawa dari lubuk hatinya yang terdalam. Sebuah ketertarikan yang luar biasa
hingga terasa tidak bisa ditahan lagi.
(Diriku tidak akan bisa menang melawan musuh ini. Jika ada orang yang bisa menandinginya──)
Bagaimanapun juga, dia menjadi sangat menginginkan Xylo
Forbartz untuk menjadi bidak miliknya. Itu adalah sebuah keinginan yang sama
sekali berbeda dari objek peliharaan, dan merupakan sebuah kegilaan yang baru.
"──Mari kita mundur. Ini kekalahanku."
Sembari tertawa hingga membuat perutnya terasa sakit,
Empusa entah bagaimana caranya berhasil memeras kata-kata tersebut.
Dia ingin berbagi kekalahan ini dengan Deirdre dan
Nuckelavee. Entah mengapa dia sangat memikirkan hal itu, dan segera
menyadari alasannya.
Karena mereka berdua kemungkinan besar juga akan
mengalami kekalahan.
Penghinaan yang sedang dirasakan oleh Empusa saat ini,
bahkan Nuckelavee sekalipun mungkin akan bisa memahaminya.
Asalkan masih hidup──Empusa hanya bisa berdoa agar mereka
berdua baik-baik saja. Kenyataan bahwa tidak ada hal lain yang bisa dia lakukan
juga merupakan sebuah pengalaman yang baru untuknya.
◆
Pertempuran itu tampaknya berakhir dalam waktu yang
sangat singkat hingga membuat terkejut. Hord mendengar laporan kemenangan
tersebut melalui papan komunikasi.
'Pertempuran selesai sampai di sini. Segera bergerak
maju, dan sesuai rencana, buat formasi di ujung utara lautan pohon. Kita akan
segera membangun pangkalan.'
Kata-kata dari Bieux terkesan sangat tegas seperti biasa,
dan sama sekali tidak memperlihatkan adanya emosi kegembiraan atas kemenangan.
'Ini akan menjadi pangkalan untuk pertempuran penentu.
Diperlukan pangkalan yang besar.'
"Tunggu. Kau bilang sudah berhasil membuat musuh
mundur, kan. Sebenarnya bagaimana cara yang kau lakukan?"
'Norgayu Senridge adalah seorang jenius.'
Pertanyaan Hord justru mendapatkan jawaban yang sama
sekali tidak terduga. Rasanya seperti tidak memiliki konteks yang jelas.
'Api yang menyebar bahkan di atas permukaan air.
Perangkap kawat yang bisa dirangkai dalam sekejap. Ditambah lagi mekanis
terbang buatan untuk pasukan petir──semuanya memberikan referensi yang baik.
Merancang teknologi semacam itu dalam bentuk yang bisa digunakan oleh siapa
saja. Hal itulah yang paling mengagumkan. Menghabiskan isi kepala pria itu
untuk urusan perang mungkin merupakan sebuah kemalangan bagi umat manusia.'
"Ucapanmu tidak jelas maksudnya. Jika kau
berniat memberikan penjelasan, buatlah agar bisa dipahami."
'Nanti saja. Saat ini aku sedang sibuk. Kami akan beralih
ke tahap pembersihan. Menghabisi Fenomena Raja Iblis Empusa memang memiliki
nilai yang rendah, tapi aku akan memburu pasukannya sebanyak yang kubisa.
Karena akan merepotkan jika bagian belakang kita diganggu. Dan juga──'
Setelah menyampaikan kata-kata dengan nada datar, Bieux
memotong kalimatnya sejenak.
'Untuk kali ini, aku telah memanfaatkanmu. Hord Kivia.
Kau memang bukan seorang jenius dalam pertempuran, tapi kau memiliki nilai yang
cukup untuk mengimbangi pertempuranku. Teruslah tunjukkan nilai tersebut.
Selesai.'
Komunikasi terputus secara tiba-tiba di tempat itu.
"……Komandan."
Di antara para bawahan yang bersiap di sebelah dan ikut
mendengarkan komunikasi tersebut, Barald bergumam dengan nada tidak puas.
"Orang itu benar-benar apa-apaan, sih? Berani sekali
bicara sombong di hadapan Komandan!"
"Jangan dimasukkan ke dalam hati.……Bagi pria itu,
ucapan tadi kemungkinan besar sudah merupakan bentuk pujian tertinggi yang bisa
dia berikan."
Atau mungkin, itu adalah sejenis bentuk rasa suka. Hord entah mengapa berpikir demikian.
Hukuman
Pembersihan
dan Penaklukan Jutan Sanahu Nede 4
Angin utara yang bertiup terasa berat dan lembap.
Di dalam lautan pohon yang ada di daratan, embusan angin
itu pun pasti tidak akan terasa──Jace berpikir demikian.
Lautan pohon yang tercipta hanya dalam waktu semalam itu
sangat tebal dan padat. Dalam kondisi seperti ini, dukungan dari langit dirasa
hampir mustahil untuk dilakukan.
Asal melepaskan tembakan api justru akan mendatangkan
bahaya bagi sekutu sendiri.
(Meski begitu, bukan berarti tidak ada cara, sih──)
Sesekali, pergerakan pasukan musuh terlihat di antara
celah pepohonan di bawah sana. Membidik ke arah itu, Neely menyemburkan api
yang dayanya sudah disesuaikan. Dukungan dalam skala kecil seperti itu mungkin
masih bisa dilakukan.
Namun, hal itu tampaknya akan menjadi mustahil.
Patausche dan yang lainnya memutuskan untuk terus
memajukan pasukan lebih jauh ke selatan, dan akan bertarung di aliran Sungai Tsumeato
(Bekas Cakar). Mereka berniat menggunakan sungai sebagai benteng pertahanan.
Bagaimana cara mereka menghadapi musuh hanya dengan empat
ratus pasukan di sana? Jace tidak mengetahuinya.
Terlebih lagi, sekarang dia juga memiliki pertempurannya
sendiri.
"Mereka datang, Jace-kun," ucap Neely dengan
suara yang menyerupai bisikan.
"Itu Valkyrie."
Makhluk yang terbang beriringan sembari mengepakkan sayap
itu memiliki wujud seperti seekor burung berukuran besar dengan warna hitam
kemerahan yang terpuntir.
"Pasukan di bawah komando dari Fenomena Raja Iblis
Odin, ya."
Valkyrie adalah sejenis Peri Ganjil yang memiliki sayap
burung. Biasanya, Peri Ganjil yang bermutasi dari spesies burung akan disebut
Harpy, tetapi individu yang diciptakan oleh Fenomena Raja Iblis Odin secara
khusus disebut Valkyrie.
Hal yang membedakannya dengan Harpy adalah ukuran
tubuhnya. Tubuh mereka sama besarnya dengan naga, tetapi anehnya, mereka
memiliki mobilitas yang tinggi.
Kemampuan akselerasi maupun kemampuan berputarnya sangat
luar biasa. Dan di atas segalanya, mereka memiliki metode
serangan yang unik.
Kemampuan
itu disebut Smoky Spear. Secara mengejutkan, benda itu merupakan jenis Stigmata──atau
sejenis senjata Segel Suci yang terukir di dalam tubuh Valkyrie.
Kudengar
Odin memiliki otoritas yang seperti itu. Saat diaktifkan, mereka akan
meluncurkan sesuatu yang menyerupai tombak pendek yang terbang sembari
mengepulkan asap hitam, lalu mengejar dan meledak di dekat musuh.
"Neely,
untuk awal fokuslah pada menghindar terlebih dahulu. Kita
patahkan momentum musuh terlebih dahulu. Untuk menyerang, biar aku yang
lakukan."
"Boleh aku meminta bantuanmu? ■■■, aku akan
menghindari semuanya untukmu."
"Ah."
Sambil mengangguk, Jace menatap tajam ke arah kawanan
Valkyrie.
"Ayo pergi, Neely."
Jumlahnya sekitar sepuluh ekor. Tidak terlalu
banyak──bisa dikatakan ini hanyalah sebatas unit pengintai untuk melihat
situasi. Mereka pasti sedang mencari tahu apakah Neely ada di medan pertempuran
ini.
Namun, jika sampai meloloskan satu ekor saja, serangan
akan beralih ke daratan. Bagi Patausche dan yang lainnya, menerima beberapa
provokasi dari Smoky Spear saja bisa berakibat fatal.
"Mari──putri-putri ■■■■■. Bersiaplah untuk
menantangku!"
Sesuatu yang langka bagi Neely untuk meraung seperti itu.
Raungan tersebut terdengar seperti sebuah deklarasi perang.
"Aku sendiri, sosok yang menyandang gelar
Quetzalcoatl di era ini, yang akan menjadi lawan kalian!"
"Pertempuran dimulai."
Jace bergumam ke arah papan komunikasi.
"Bergeraklah sesuka kalian. Jangan mengganggu aku dan Neely. Jika kalian mengganggu, akan kubakar
sampai mati."
Itu adalah komunikasi yang ditujukan untuk para
penunggang naga lainnya. Jumlah penunggang naga yang terbang di langit saat ini
terhitung cukup banyak.
Kudengar sebagian besar unit yang dikerahkan telah
berkumpul sebelum pertempuran penentu di ujung paling utara dilaksanakan.
"Dimengerti! Kalian semua, jangan sampai mengganggu
sang putri!"
"Aku tahu. Jangan mendekati Jace dan Neely. Kita
bisa ikut terkena imbasnya nanti."
"Itu yang dinamakan Valkyrie, kan? Kelihatannya
cepat. Serahkan pada Jace dan fokuslah menghindar, paham!"
Sembari mendengarkan komunikasi tersebut, Jace mulai
menegangkan sarafnya──mulai dari sini, pertempuran penentu bagi dirinya dan
Neely akan dimulai. Dia tidak bisa mengurusi urusan di daratan.
(Seberapa lama Patausche bisa bertahan?)
Jace sudah melihat pertempuran ofensif Patausche yang
memanfaatkan pasukan kavaleri secara bebas. Di lautan pohon tempat kavaleri
terkurung, akan menjadi seperti apa pertempuran bertahannya nanti?
Saat akan memikirkan hal yang tidak perlu itu, Jace
menggelengkan kepalanya.
"Mereka datang, Jace-kun."
Sembari mengepulkan asap hitam, tombak-tombak melesat
terbang.
Para Valkyrie tampaknya memuntahkan benda itu dari dalam
mulut mereka.
Neely menghindarinya dengan melakukan gerakan berputar
yang masih menyisakan ruang longgar.
(Benar. Melindungi Neely. Itulah tugasku.)
Sekarang dia hanya punya pilihan untuk fokus pada
pertempurannya sendiri.
Jika pasukan darat milik Patausche dan yang lainnya
hancur, maka semuanya akan berakhir sampai di sana.
Selama beberapa hari ke depan, mereka berada dalam
kondisi di mana satu sama lain tidak akan bisa memberikan bantuan.
Jace tidak memikirkan tentang apa yang akan terjadi saat
itu──karena dia tidak memiliki ruang longgar untuk melakukannya.
◆
Menggunakan pasukan kavaleri untuk menggerakkan musuh.
Memecah barisan dan mengacaukan mereka.
Patausche harus membuang cara bertarung seperti itu
terlebih dahulu. Pasukan kavaleri tidak bisa digunakan.
Lautan pohon yang muncul seolah mengepung Benteng Itriaf
ternyata memiliki skala yang lebih besar dari yang diperkirakan. Menurut hasil
pengintaian, tampaknya lautan pohon ini terus berlanjut hingga ke sekitar
wilayah Nofan.
(Ke mana pun pergi tetap lautan pohon, ya.)
Jika sudah begini, dukungan dari langit juga tidak bisa
diharapkan.
(Pasukan kita untuk menghadapi musuh hanya berjumlah
empat ratus orang.)
Sebaliknya, jumlah musuh diperkirakan setidaknya mencapai
sepuluh kali lipat dari jumlah itu.
Jika menggunakan metode biasa, ini bukanlah perbedaan
kekuatan tempur yang bisa dilewati dengan mudah.
(Kalau begitu, apakah harus bertarung dengan metode
yang tidak biasa?)
Pilihan itu terlintas di dalam benaknya.
Apakah dia harus mempersiapkan semacam taktik aneh,
saat memikirkan hal itu, Patausche segera menyangkalnya.
Itu adalah cara yang tidak cocok untuknya. Dia
sangat merasakan hal itu.
Meskipun situasinya terasa sangat tidak
menguntungkan, dia akan tetap terus mengambil langkah yang adil. Itu adalah
pilihan terbaik.
(Melakukan cara bertarung yang 'biasa'. Jika hal itu,
aku memiliki rasa percaya diri.)
Sebelum musuh datang menyerang, perangkap sudah
dibuat sebanyak mungkin yang bisa disiapkan.
Jika memikirkannya sebagai pertempuran bertahan, bisa
dikatakan topografi ini justru menguntungkan bagi pihak Patausche dan yang
lainnya.
Meskipun musuh memiliki keunggulan jumlah yang
mutlak, mereka tidak akan bisa memanfaatkannya secara maksimal.
Lautan pohon ini akan menghalangi musuh untuk
mengepung dan menghancurkan mereka dengan pasukan besar.
Terlebih lagi, musuh pasti tidak berpikir kalau
jumlah pasukan di sini hanya empat ratus orang.
Di situlah letak kesempatannya.
(Atau lebih tepatnya, tidak ada pilihan selain
menusuk titik itu.)
Oleh karena itu, pertama-tama mereka segera bergerak ke
selatan.
Perjalanan menuju Sungai Tsumeato hampir menjadi
sebuah bentuk pergerakan pasukan secara paksa.
Semuanya dilakukan demi menguasai titik penyeberangan
sungai.
Meskipun musuh adalah jenis amfibi seperti Undine, hanya
sedikit individu yang bisa menyeberangi tempat yang alirannya terlalu deras
atau terlalu dalam.
Alhasil, Patausche mempersempit titik penyeberangan
menjadi dua tempat.
Dia membaginya menjadi dua unit, yaitu eks Pasukan
Kesatria Suci ke-13 yang dia pimpin sendiri, dan unit dari Guild Petualang yang
dipimpin oleh Madritz, untuk saling menjaga posisi masing-masing.
Itu adalah bentuk pembagian dari pasukan yang aslinya
sudah sedikit, tetapi karena tujuannya adalah untuk mengulur waktu, maka ini
sudah cukup.
(Titik penyeberangan sudah berhasil dikuasai.)
Meskipun tampaknya lautan pohon telah dipanggil,
kenyataan bahwa aliran Sungai Tsumeato tidak berubah adalah sebuah kabar
baik.
(Dan juga, musuh ini sengaja tidak terburu-buru untuk
menyerang kita.)
Bagi musuh, memutus koordinasi dengan Nofan kemungkinan
adalah tujuan utama mereka. Di sela-sela waktu itu, apakah mereka akan
menyerang Benteng Itriaf secara langsung, atau membuat pasukan utara
menghentikan pergerakan maju mereka.
Jika salah satu dari medan pertempuran itu menang, maka
itu sudah cukup. Musuh ini justru sedang mewaspadai serangan dari arah Nofan.
(Karena itulah mereka bersikap tenang, dan berusaha
menggunakan cara bertarung yang seolah sedang mencekik kita sampai mati.)
Patausche melihat ke bawah ke arah pergerakan maju musuh
yang lambat dari posisinya di pangkalan yang dibuat dengan terburu-buru.
Meskipun landai, dia mengambil posisi di atas tanah
yang miring. Ini juga merupakan metode yang 'biasa'.
"……Patausche. Mereka sudah datang. Tampaknya
jumlahnya lumayan banyak, ya."
Teoritta berbicara dengan suara yang menyerupai
bisikan. Dia mengecilkan suaranya karena musuh sudah dekat──bukan hanya sebatas
itu saja.
Ketidakhadiran sang kontraktor dalam jangka waktu
yang lama jelas telah memengaruhi tubuh dan pikirannya.
Kondisi fisiknya yang memburuk dari hari ke hari
dapat dipahami dengan jelas oleh Patausche yang bersiap di dekatnya. Tingkat
akurasi pemanggilannya juga semakin menurun.
"Namun, serahkan saja hal ini kepadaku! Aku adalah Megami
yang memimpin puluhan pasukan dan menyapu bersih Fenomena Raja Iblis di
Pegunungan Khajit. Pasti akan ada perlindungan untuk kita."
"Terima kasih atas ucapan Anda. Saya merasa sangat
tenang, Teoritta-sama."
Apa yang dikatakan Teoritta memang benar adanya. Jika
dibandingkan dengan pertempuran di Pegunungan Khajit, kondisi saat ini jauh
lebih menguntungkan.
(Hanya saja, dalam pertempuran itu ada Xylo Forbartz. Aku
tidak akan bisa melakukan hal yang sama seperti pria itu.)
Meski begitu, dia tidak punya pilihan selain
melakukannya──bertarung dengan gigih dan menahan musuh sedikit demi sedikit.
Melakukan pertempuran yang 'biasa' sampai akhir.
Tampaknya hanya di sanalah satu-satunya jalan keluar.
"Mari kita mulai, Teoritta-sama. Di pertempuran
awal, kita beri kejutan kecil pada musuh, lalu segera mundur."
"Apakah kita tidak menyerang lebih dalam dan
mencerai-beraikan mereka? Aku bisa melakukannya, tahu."
Teoritta yang tersenyum dengan wajah pucat jelas sedang
memaksakan diri tanpa bisa menyembunyikannya. Seperti yang diperkirakan,
penggunaan kekuatan Megami harus dihemat sampai batas paling akhir.
"Saat ini, musuh sedang bergerak dengan sangat
hati-hati. Mereka tidak maju dengan mengandalkan jumlah
pasukan."
Di saat-saat seperti ini, Patausche selalu menyampaikan
seluruh strategi kepada Teoritta. Karena Xylo juga selalu melakukan hal itu.
"Fenomena Raja Iblis kemungkinan besar sedang
memimpin mereka. Artinya, mereka memiliki kecerdasan yang lebih dari cukup.
Jika kita menyerang, memberikan sedikit pukulan telak lalu mundur, mereka akan
berpikir kalau itu adalah sebuah pancingan──jika mereka tidak berpikir demikian
dan melakukan pengejaran, kita bisa memberikan pukulan lewat beberapa
perangkap."
Namun, hal itu justru akan menjadi lebih tidak
menguntungkan. Karena mereka akan menghabiskan perangkap yang sebenarnya
berniat digunakan nanti. Musuh ini tidak seberani itu. Patausche menilai
demikian.
"Kita pasti akan menang. Karena Teoritta-sama ada
bersama kita."
"Tentu saja," Teoritta mengangguk.
"Saat kesatriaku kembali nanti, kita pasti bisa
melihat wajahnya yang terkejut. Karena hanya dengan kita saja, kita bisa
bertarung──dan memajukan pasukan sampai sejauh ini!"
"Ya. Tanpa ragu, pasti akan menjadi seperti
itu."
Terhadap Teoritta yang membicarakan harapan, Patausche
mengangguk dalam-dalam.
Itu jelas merupakan sebuah gertakan sambal.
Namun, itu adalah hal yang diperlukan. Xylo Forbartz
selalu melakukan hal itu.
◆
Unit Pendukung Pahlawan Hukuman, Madritz Guinan sedang
sangat bersusah payah.
Atau lebih tepatnya, pertempuran di mana dia tidak
bersusah payah adalah sesuatu yang belum pernah dia rasakan sekali pun.
Sejak dia mulai terlibat dengan Pahlawan Hukuman,
pertempuran selalu berada dalam posisi tidak diuntungkan, dan dia selalu dibawa
melewati medan pertempuran yang menyerupai neraka.
Terutama lautan pohon ini, bisa dikatakan sebagai yang
terburuk di antara semuanya.
Udara yang panas, kelembapan yang tinggi, dan pepohonan
yang mengganggu.
Kaki terperosok ke dalam lumpur. Musuh banyak, sedangkan
sekutu sedikit──namun, khusus untuk bagian itu adalah hal yang biasa terjadi.
(Meski begitu, alasan kenapa aku melakukan pertempuran
semacam ini)
Terhadap Peri Ganjil yang menyerang, Madritz
menusukkan tombaknya.
(Kenapa, ya? Diriku sendiri pun tidak mengerti
alasannya.)
Lawan yang dihadapi adalah Undine berukuran kecil
yang cocok untuk pertempuran di lautan pohon seperti ini.
Menghadapi kawanan musuh yang melompat masuk.
Entah bagaimana caranya serangan berhasil mengenai
sasaran.
Sensasi yang berat dan lunak merambat ke ujung mata
tombak miliknya.
Sekutu yang berbaris di sampingnya tampaknya juga
sebagian besar berhasil melancarkan serangan balasan dengan cara yang sama.
Menghadapi musuh yang menyeberangi Sungai Tsumeato
secara paksa sebenarnya tidak terlalu sulit.
Bahkan bagi Undine sekalipun, mereka tidak bisa
bergerak bebas di dalam sungai.
Karena tidak bisa melompat, mereka hanya bisa
berenang.
Setelah itu, barulah giliran tongkat petir yang
beraksi.
"Te-tembak! Berondongan tembakan, sekali!"
Menghentikan langkah kaki musuh, lalu menghabisinya
dengan tembakan. Itu hanyalah sebatas taktik dasar yang sangat sederhana untuk
menghadapi Peri Ganjil.
Madritz meyakini bahwa dirinya hanya bisa sebatas
mengulangi hal itu dengan tekun.
Melakukan hal yang tidak perlu justru tidak akan
mendatangkan hal yang baik.
"Kapten Madritz! Yang berukuran besar
datang!" seseorang berteriak.
Pria itu adalah mantan anggota pasukan keamanan lokal
yang bergabung sebagai pasukan sukarelawan.
(Dia memanggilku kapten, ya.)
Salah satu sosok berpengaruh di Guild Petualang.
Dirinya yang paling-paling hanya sebatas itu, di
tempat seperti ini, melakukan hal seperti ini──dipanggil sebagai kapten.
Tanpa sadar dia ingin tertawa.
Tentu saja, sekarang bukan waktunya untuk itu.
Sosok yang mendekat dari arah depan memang merupakan
individu yang agak besar untuk ukuran seekor Undine.
Makhluk itu melompat di antara celah pepohonan dan
mendekat──seorang prajurit berbadan besar yang berniat membalas serangan
terlempar dan terguling begitu saja. Madritz merasa seperti melihat tulang
leher pria itu patah.
(Sialan.)
Pria itu adalah seorang lelaki besar yang tangguh, yang
dulunya bekerja sebagai penambang di Zewan-Gan. Dia tewas dengan begitu
mudahnya.
"Mundur!" teriak Madritz.
"Serahkan yang besar pada Kakek Old, mundur!"
Tanpa perlu diberikan instruksi, ada satu unit yang
melesat maju. Kakek Old──sebuah unit khusus yang terdiri dari dirinya dan
beberapa prajurit infanteri yang sedang dia 'latih'.
Mereka tidak membawa tombak atau tongkat petir, melainkan
bergerak hanya dengan pedang saja.
Mereka
disebut sebagai unit penerobos.
Kakek
Old adalah seorang pria tua yang sudah bekerja bersama dengannya sejak masa
Guild Petualang di Ibu Kota Kerajaan Kedua.
Asal-usulnya
sama sekali tidak diketahui, tetapi kemampuan pedangnya luar biasa hebat.
Dan dia
adalah sosok yang lebih menyukai peperangan daripada siapa pun.
Pada saat ini pun, dia menjadi yang paling pertama
menebas Undine berukuran besar tersebut.
Mengincar tempatnya melompat, dia menebas kaki
belakang makhluk itu saat berpapasan.
Undine yang kehilangan mobilitasnya langsung dihabisi
oleh sisa anggota unit penerobos lainnya.
Mereka dulunya pasti adalah para petualang yang tidak
berbeda jauh dengan berandalan, tetapi kemampuan mereka sudah sangat meningkat.
Jika sudah begini, pertahanan musuh mulai hancur. Tidak sedikit individu yang melarikan diri.
"Bagus, kita bisa! Serang, serang, serang! Jangan
loloskan satu ekor pun!"
Madritz juga mengganti tombaknya dengan tongkat petir,
lalu melancarkan serangan susulan.
Unit penerobos yang berpusat pada Kakek Old menerobos
masuk seolah sedang menyibak musuh.
Selama satu jam dari sana, mereka membunuh sebanyak yang
bisa dibunuh. Bukan hanya unit penerobos saja, dia bisa memahami kalau tingkat
kemahiran semua orang telah meningkat.
Ditambah lagi, orang-orang dari 'Pasukan Forbartz'.
Mereka yang bergabung dari Pegunungan Khajit hanya berjumlah sekitar sepuluh
orang, tetapi siapa pun dari mereka memiliki kemampuan yang hebat.
Mengaktifkan tongkat petir dari jarak yang sulit
dipercaya, mereka berhasil mengenai lawan yang berada di kejauhan dengan baik.
Jika tidak ada mereka yang bertindak sebagai penembak
jitu, unit penerobos juga pasti sudah terisolasi dan dimusnahkan.
Siapa pun dari mereka──sekarang sudah menunjukkan
wajah yang menyerupai seorang prajurit veteran yang tangguh.
(Padahal mereka pasti lelah akibat pergerakan pasukan
secara paksa sampai ke sini, tapi mereka benar-benar melakukannya dengan baik.)
──Meski begitu, korban tetap berjatuhan.
"Yang tadi adalah yang terakhir! Laporan
kerugian, tolong!"
Setelah berhasil menangani kawanan musuh, Madritz
berteriak. Cara bicara yang seperti ini pun sudah sangat dia kuasai.
"Dua orang terluka hingga tidak bisa bergerak……,
korban tewas berjumlah empat orang……!"
"Begitu, ya," jawabnya singkat.
Dengan ini, jumlah korban tewas sudah melebihi dua puluh
orang.
Unit milik Patausche tampaknya sedikit lebih mendingan,
tetapi jika menggabungkan kedua unit, itu berarti sekitar sepuluh persen dari
total pasukan telah berkurang.
Terlebih lagi, unit yang baru saja bertarung tadi
hanyalah sebatas unit pengintai.
Tidak membiarkan satu pun dari mereka kembali
hidup-hidup──karena mereka melakukan pertempuran seperti itu, skala pasukan di
sini kemungkinan besar masih belum diketahui oleh musuh.
Meski begitu, tidak lama lagi musuh akan menyerang dengan
sungguh-sungguh.
Berpikir kalau mereka akan terus memantau situasi
selamanya adalah hal yang terlalu optimis.
"Bagaimana langkah selanjutnya, ya, bagi Kakak Patausche,"
gumam salah satu bawahannya.
"Di seberang sungai penuh dengan musuh, tahu. Apakah
kita bisa melancarkan serangan balasan dari sini, Kapten Madritz?"
(Aku pun tidak tahu, bodoh.)
Meskipun berpikir demikian, dia menelan kembali kata-kata
itu. Sekarang, dirinyalah pemimpin dari kelompok ini. Dia tidak boleh membuat
mereka merasa cemas──hal itu akan memengaruhi moral pasukan.
Sebelum menyuarakan hal yang melemahkan semangat, dia
sengaja memaksakan diri untuk berpura-pura kuat dan melontarkan lelucon ringan.
"Meskipun Kakak Patausche tidak bisa, aku yang akan
memikirkan sesuatu. Lagipula, aku sudah ingin melancarkan serangan balasan
secepatnya."
"Apakah itu benar? Karena Kapten Madritz biasanya
hanya pintar membual saja, sih."
"Itu adalah ucapan yang tidak sopan kepada kapten.
Akan kubawa kau ke pengadilan militer nanti!"
"Kejam sekali! Marah karena diucapkan hal yang
sebenarnya!"
Tawa tipis terdengar. Mereka juga pasti sedang memaksakan
diri sekarang.
◆
Seluruh lautan pohon telah mulai bergerak.
Patausche Kivia merasakan hal yang seperti itu.
Tampaknya Nuckelavee akhirnya mulai melancarkan serangan
dengan sungguh-sungguh.
Apakah dia menilai kalau pasukan di sini berjumlah
sedikit, atau dia memutuskan untuk mengambil tindakan yang tegas.
Patausche juga tidak mengetahuinya.
Hanya saja, dia berpikir kalau ini adalah titik penentu
yang pertama. Mungkin juga menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir.
(Madritz dan yang lainnya bertarung dengan jauh lebih
baik dari yang kuperkirakan.)
Madritz Guinan. Pria eks petualang itu kini tengah
berkembang sebagai seorang komandan. Para bawahannya juga tengah bertumbuh
menjadi sebuah unit yang bisa dikatakan telah melewati banyak pertempuran.
(Bagaimanapun juga, jumlah dan beban dari medan
pertempuran yang mereka lewati berbeda dengan unit biasa.)
Pertarungan sengit mereka telah memicu serangan dari
Nuckelavee yang terkesan agak terburu-buru.
Dia menghentikan serangan yang menyerupai pemantauan
situasi ke dua titik penyeberangan sungai, dan langsung memusatkan kekuatan
tempurnya sekaligus.
Tidak peduli seberapa banyak korban yang berjatuhan,
tampaknya dia berniat untuk menyeberang di sini sekaligus.
Patausche berpikir kalau musuh sudah mulai memahami arti
dari dikuasainya titik penyeberangan sungai lebih dulu oleh pihak sini.
(Keputusannya agak lambat. Tampaknya dia adalah lawan
yang berhati-hati, ya. Alih-alih tidak bisa menerobos sesuai keinginan, dia
bahkan tidak tahu skala pasukan kita……situasi semacam itu terus berlanjut, dan
dia baru melancarkan serangan sekarang, ya.)
Penilaian itu sama sekali bukan merupakan sebuah
kesalahan.
Terjebak dalam unit pengintai yang ditangkap satu demi
satu, lalu dihancurkan secara terpisah adalah langkah yang paling buruk.
Jika kekuatan tempur tidak bisa dikerahkan bersama-sama,
maka pasukan besar tidak akan memiliki arti.
Saat ini musuh sedang berusaha menyeberangi Sungai Tsumeato
secara paksa.
"Patausche. Apakah masih belum tiba giliranku untuk
tampil?"
Teoritta tampak seperti sudah ingin melompat ke garis
depan saat ini juga.
Entah mengapa ada aura yang terkesan terburu-buru
dari dirinya.
"Aku bisa melakukannya kapan saja, tahu!"
"Terima kasih atas ucapan Anda yang selalu
menenangkan. Mohon tunggu sebentar lagi."
Musuh sudah mulai menyeberang sungai.
Jumlahnya terlalu banyak──mereka tidak akan bisa
bertarung dengan normal. Jumlah total dari mereka, jika hanya melihat dari
jangkauan pandangan saja, kemungkinan berada di kisaran dua ribu ekor.
Di bagian belakang pasti ada kawanan yang jumlahnya jauh
lebih banyak lagi.
Situasi di mana musuh juga harus bersiap menghadapi Nofan
adalah sebuah keselamatan, sekaligus menjadi faktor penyebab dari pertempuran
sengit ini.
(Kalaupun ada pasukan bantuan dari Nofan, artinya musuh
sudah bersiap menghadapi hal itu.)
Jika tidak menerobos pertahanan musuh, mereka tidak akan
bisa bergabung dengan pihak sini. Lebih dari itu, apakah mereka bisa menerobos
menghadapi Nuckelavee yang menggunakan 'lagu' tersebut?
Khusus untuk urusan menahan pergerakan, 'lagu' milik
Nuckelavee adalah sebuah ancaman yang nyata. Kesimpulannya, pasukan bantuan
dari Nofan tidak bisa diharapkan.
Andai──andai andaikata ada satu banding sepuluh ribu
kemungkinan kalau Xylo Forbartz telah kembali, tidak akan ada cara baginya
untuk bisa mencapai tempat ini dan bergabung.
"──Apakah sudah waktunya, Komandan?"
Sosok yang menyuarakan suara dari arah belakang adalah
Zofrek.
Dia adalah kavaleri dari eks Pasukan Kesatria Suci ke-13,
dan sekarang dia sudah tidak lagi memanggil 'Mantan Komandan Pasukan',
melainkan murni memanggil 'Komandan'.
"Persiapan serangan balasan sudah selesai."
Di pihak sini, Siena menjabat sebagai pemimpin penembak
jitu. Tugasnya masih tetap sama sampai sekarang. Dia membuat sekitar lima puluh orang unit penembak jitu
bersiap.
"Bagus."
Patausche
mengangkat salah satu tangannya, memutarnya sekali dengan lebar, lalu
mengayunkannya ke bawah. Itu adalah tandanya.
"Serangan balasan dimulai, silakan lakukan."
"Ya, dimengerti."
"Paham."
Zofrek mengangguk dengan ekspresi yang entah mengapa
terkesan jenaka, sementara Siena mengangguk dengan tenang.
Hal yang pertama kali dimulai adalah serangan dari
arah samping yang dilancarkan oleh unit yang dikerahkan di sebelah kiri dan
kanan sepanjang sungai.
Mereka menyerang kawanan Peri Ganjil yang telah
selesai menyeberang sungai.
Jumlah musuh yang mendarat masih terhitung sedikit.
Meskipun hanya untuk sementara waktu, situasi di mana keunggulan jumlah pasukan
berpihak pada pihak sini berhasil tercipta.
Di saat yang sama, unit musuh yang sedang menyeberang
sungai mulai bertumbangan satu demi satu.
Di antara mereka ada juga yang tidak kembali muncul
ke permukaan begitu saja.
Hal itu terjadi karena dari arah hulu sungai, batang
kayu yang ujungnya dibuat runcing seperti pasak dihanyutkan mengalir ke bawah.
Beberapa batang kayu diikat menjadi satu menggunakan
tali, sehingga meskipun berhasil menghindari pasak, mereka akan tersangkut lalu
terjatuh. Itu adalah mekanisme yang dibuat seperti itu.
Itu adalah hasil perbuatan dari Madritz dan yang
lainnya yang menguasai titik penyeberangan sungai di arah hulu.
(Hal semacam ini jelas hanyalah sebatas trik kecil.)
Karena benda semacam itu sama sekali tidak akan bisa
memusnahkan musuh.
Jika berada di tempat dangkal di mana orang bisa
berdiri dan berjalan, maka hampir tidak ada artinya, dan tidak akan mempan
untuk individu yang berukuran agak besar.
Benda itu hanya sebatas berada di tingkat mengganggu
pandangan saja.
(Namun, dengan ini bagaimana tindakanmu selanjutnya?
Apakah kau masih berniat bertarung dengan hati-hati, Nuckelavee? Atau──)
Tekanan dari musuh meningkat. Dia bisa merasakannya
dengan jelas. Jumlah musuh yang mencoba menyeberang sungai bertambah banyak.
Meskipun harus mendorong atau bahkan memukul jatuh Peri
Ganjil yang ada di depan mereka, mereka terus menerobos masuk secara paksa.
(Seperti yang diperkirakan, mereka menekan di sini, ya.
Baguslah kalau begitu.)
Di sepanjang aliran sungai, suara tabuhan genderang mulai
bergema. Itu adalah tanda untuk melanjutkan strategi ke tahap berikutnya.
"Teoritta-sama, mohon bersiap. Kita maju."
"Ya!"
Dia berlari bersama dengan Teoritta. Di bawah bukit,
kuda-kuda sudah disiapkan.
Meskipun jumlahnya sedikit, mereka adalah pasukan
kavaleri inti. Zofrek juga menyusul untuk naik ke atas kuda.
"Bagus, bagus! Bagaimanapun juga pasukan kavaleri
memang harus menunggangi kuda, ya!"
Zoflek melontarkan lelucon ringan yang terasa salah
tempat.
"Ini adalah titik penentunya. Mari kita pergi!
Siena, mohon bantuannya, ya."
"Komandan, mohon instruksinya."
Siena menyiapkan tongkat petirnya seolah tidak
mendengarkan ucapan dari Zofrek.
Pasukan hanya akan bergerak di bawah perintah dari
komandannya. Sebuah sikap yang patut dicontoh. Zofrek tersenyum pahit.
"Maaf, aku paham──Komandan, silakan berikan
instruksi Anda!"
"Sesuai rencana, serangan balasan dimulai."
Patausche memberikan bantuan tangan kepada Teoritta, lalu
menaikkannya ke atas punggung kuda.
"Serbu! Desak mereka!"
Sembari meneriakkan hal tersebut, pasukan kavaleri mulai
melancarkan serbuan. Itu adalah bentuk pergerakan untuk memotong aliran sungai
secara paksa. Jalan yang bisa dilewati oleh kaki kuda sudah berhasil ditemukan
sebelumnya.
Bagi para Peri Ganjil yang bergerak maju sembari saling
mendorong satu sama lain, ini menjadi sebuah serangan balasan yang tidak
terduga.
"Niskef Nistagis!"
Kombinasi kata-kata tersebut ditujukan untuk mengaktifkan
dua fungsi Segel Suci secara bersamaan.
Medan kekuatan untuk bertahan, dan dinding api untuk
menyerang yang tersimpan di dalam Niskafor.
Jika mengaktifkan kedua hal ini secara bersamaan,
maka sebuah penghalang yang menyala bisa tercipta.
Meskipun konsumsi akumulator cahayanya besar, daya
bunuhnya sangat tinggi.
"Minggir!"
Ujung mata tombak yang dilesatkan oleh Patausche
membentuk sebuah penghalang yang bersinar putih kebiruan, dan setelah itu
berkobar dengan hebat.
Pasukan kavaleri yang berbaris di sisi kiri dan kanan
serta Zofrek juga melakukan hal yang sama. Itu seperti gumpalan baja menyala
yang berbaris dan melakukan serbuan langsung. Peri Ganjil berukuran kecil sama
sekali tidak akan bisa mengatasi hal ini.
Ujung mata tombak menusuk musuh ke atas. Atau
menusuknya hingga tumbang.
Peri Ganjil yang menghindari hal ini dan melompat ke
dalam sungai menjadi sasaran empuk bagi unit penembak jitu Siena dan yang
lainnya.
Dalam sekejap, aliran sungai berubah warna menjadi
merah akibat darah dari para Peri Ganjil.
Sebuah pembantaian yang mengerikan──Patausche bisa
merasakan kalau lengan Teoritta yang sedang memeluk erat pinggangnya menjadi
semakin bertenaga.
Meskipun itu adalah darah dan daging dari Peri
Ganjil, tetap saja bukan merupakan sesuatu yang menyenangkan untuk dilihat.
"Kita akan menerobos tempat ini,
Teoritta-sama."
Patausche menyuarakan suaranya. Hanya dengan melakukan
hal itu, perasaan Teoritta pasti akan menjadi sedikit lebih mendingan. Dan di
atas segalanya, hal yang penting adalah menunjukkan kalau dia sangat
mengandalkan Teoritta.
"Mohon pegangan yang erat! Dan berikan kami
berkah!"
Sembari menendang cipratan air, mereka menerobos masuk ke
dalam sungai.
Ini adalah saatnya untuk berlari melewatinya sekaligus. Dia mendengarkan suara angin yang menderu.
"Serahkan──kepadaku!"
Teoritta berteriak, lalu mengulurkan ujung jarinya ke
arah kekosongan. Saat dia mengusapnya, percikan api berhamburan.
Pemanggilan pedang. Seperti yang diperkirakan, jika
dibandingkan dengan beberapa hari yang lalu, daya hancur maupun tingkat
akurasinya telah jauh menurun.
Alih-alih hujan pedang yang turun, beberapa bilah
pedang tampak jatuh begitu saja. Meski begitu, kekuatannya masih cukup untuk
menembus beberapa ekor Undine dan membuka jalan yang ada di depan mereka.
"H-hal seperti ini……bukanlah kemampuan asliku,
tahu……!"
Napas Teoritta terengah-engah, dan dia tampak berusaha
untuk mencoba melakukan pemanggilan lagi. Di salah satu tangannya, dia tampak
sedang menggenggam sebuah pisau kecil.
Sebuah pisau dengan bilah yang mengilat, jenis pisau yang
panjang bilahnya terkesan tidak meyakinkan. Benda itu sudah seperti sebuah
jimat pelindung saja.
"Meskipun kesatriaku tidak ada. Demi menjaga nama
baik sebagai……Megami, aku pasti akan……!"
"Tidak apa-apa, Teoritta-sama! Ini sudah lebih dari
cukup. Jalan sudah terbuka──setelah ini."
Patausche menatap tajam ke arah depan.
Tujuan mereka hanya satu. Menyeberangi sungai dan
melancarkan serbuan sekaligus adalah demi meraih kemenangan. Angin dari utara yang terasa berat dan lembap mendorong punggung mereka
dari belakang. Suara
angin yang kencang.
(Nuckelavee
telah maju ke garis depan. Tidak salah lagi.)
Pergerakan
fleksibel dari para Peri Ganjil ini tidak akan bisa dipikirkan selain karena
alasan tersebut.
Menekan
dengan jumlah, melihat respons dari pihak sini lalu melancarkan tekanan fisik
yang lebih besar lagi.
Jika
hanya sebatas Peri Ganjil saja, hal seperti itu tidak akan terjadi.
Mereka
akan mundur, atau berputar memutar──setidaknya mereka tidak akan menyerbu masuk
dengan siap menerima korban jiwa.
Oleh
karena itu, keberadaan Nuckelavee di depan sana adalah hal yang pasti. Peluang
kemenangan ada di tempat itu.
(Jika
membunuh makhluk itu, kawanan musuh akan hancur.)
Demi tujuan itulah, sebuah terobosan menggunakan pasukan
kavaleri dilakukan. Bagaimanapun juga mereka harus mencapainya, dan
menghabisinya.
"……Patausche!"
Teoritta memeluknya dengan sangat kuat dari belakang.
Tidak apa-apa, Patausche menyampaikannya dengan menegakkan punggungnya. Setelah
itu dia berteriak.
"Tujuan kita hanya Nuckelavee, itu saja sudah cukup!
Ikuti aku!"
Seperti halnya ujung mata tombak, Patausche berada di
posisi paling depan.
Dia menyerbu lurus ke depan. Di bagian dalam pepohonan
lautan pohon, dia berusaha menemukan sosok dari Fenomena Raja Iblis tersebut.
Benda itu pasti ada di sana.
Jika dia tidak hanya sebatas memimpin musuh melainkan
juga berniat menangkap pergerakan pihak sini dalam jangkauan 'lagu' miliknya,
maka itu adalah hal yang menguntungkan──.
(Seharusnya, begitu. Namun……!)
Perlawanan musuh jauh lebih kuat dari perkiraan.
Aku yakin setidaknya sudah menghancurkan hampir seratus
dari mereka.
Namun, musuh sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar.
Sambil melompati mayat rekan-rekannya, para Fuah, Bogey,
dan Goblin terus menerjang maju.
Bahkan Alraune yang merupakan tipe tumbuhan pun tidak
takut pada api dan tetap merangsek ke depan.
"Patausche, ini—!"
Teoritta meneriakkan sesuatu.
Di depan, seekor Alraune berukuran agak besar tampak
diselimuti api, tetapi monster itu tidak peduli dan tetap melompat menerjang.
Sebuah tabrakan paksa yang seolah-olah hendak memelukku.
"Kapten, biar bajingan itu urusanku!"
Zofrek mendesak masuk dari arah samping.
Dia menusukkan tombaknya dan menghempaskan Alraune
itu—namun, cakaran musuh berhasil menyayatnya saat mereka berpapasan.
Baju zirahnya pecah, membuat darah menyembur keluar.
Di saat yang sama, Patausche juga menyapu bersih dua
Goblin sekaligus.
"Zofrek, lukamu—"
"Belum apa-apa, Kapten! Aku
tidak bisa berhenti di tempat seperti ini!"
Sama sekali tidak memedulikan rasa sakit dari lukanya,
Zofrek tertawa.
Itu adalah tawa yang mengerikan.
Lengan kanannya tersayat dalam.
Kondisinya begitu parah, hingga dia hanya bisa
memegang tombaknya dengan susah payah.
"Nuckelavee ada di depan, 'kan! Kalau
begitu, bagaimanapun caranya, kita harus menembus tempat ini!"
"Tunggu."
Sorot mata Zofrek yang seperti itu seketika membuat
kesadaran Patausche sedikit lebih tenang.
Dia bukanlah pria yang biasa menunjukkan ekspresi seperti
itu.
Biasanya, dalam situasi apa pun, dia selalu memasang
wajah yang sedikit jenaka—.
"Patausche! Tolong dengarkan, itu 'Lagu'!"
Teriakan Teoritta akhirnya terdengar jelas di telinganya.
"Meski jaraknya cukup jauh, saya bisa mendengar
'Lagu'. Bukankah itu kekuatan dari Dewi Ratapan?"
Di sana, Patausche akhirnya menyadari sesuatu.
Angin utara yang menderu.
Yang tadinya dia kira suara angin, ternyata adalah suara
nyanyian Dewi Ratapan—jika memang begitu, maka situasi ini....
(Gawat.)
Tepat ketika pikiran itu terlantas, sebuah suara
menggelegar terdengar dari tepi sungai.
Itu adalah suara aktivasi dari tongkat petir yang
volumenya sengaja diperbesar untuk digunakan sebagai sinyal perintah.
Suara itu berasal dari pasukan Madritz.
Patausche sudah berpesan untuk membunyikannya jika
pasukan penyerbu miliknya melakukan pergerakan yang melenceng dari rencana.
Suara gemuruh yang membuat telinga mati rasa.
Bunyi itu seketika meredam suara nyanyian Dewi yang
menderu, mengembalikan ketenangan ke dalam benak Patausche.
"—Mundur!"
Patausche berteriak lantang sembari memutar arah kudanya.
"Semua anggota, mundur! Kembali ke posisi
cadangan!"
"Mundur! Mundur!"
Zofrek ikut berteriak bersamanya dengan wajah yang pucat
pasi.
Tombak terjatuh dari lengan kanannya yang terluka.
Tampaknya luka itu sudah terlalu parah hingga dia tidak
sanggup lagi memegangnya—dalam kondisi normal.
(Kalau begitu, 'Lagu' yang tadi adalah...)
Apakah itu sejenis nyanyian yang membakar semangat
tempur dan memaksa seseorang untuk terus bertarung?
Perlawanan musuh yang begitu kuat pasti juga
disebabkan oleh hal itu.
Baik Zofrek maupun dirinya sendiri, tidak ada yang
menyadari bahwa waktu operasi yang ditentukan telah terlampaui.
Seharusnya, jika waktu yang dihabiskan sudah
sepanjang ini, mereka diwajibkan untuk mundur—dan Madritz menyadari hal
tersebut.
"Wahai Pedang!"
Teoritta berteriak.
Beberapa bilah pedang terwujud dan melesat di udara
bagaikan anak panah.
Pedang-pedang yang terbang itu menusuk para Goblin
dan memaku mereka di tempat.
Setidaknya hal ini memberikan sedikit kelonggaran
waktu.
"Mari bergegas."
Napas Teoritta memburu.
Dia sudah memaksakan dirinya terlalu jauh.
"Dengan yang tadi, bahkan saya pun sudah hampir
mencapai batas kemampuan."
"Baik."
Patausche mengangguk, lalu menggigit bibirnya sambil
memacu kudanya sekencang mungkin.
(Jarak menuju 'Lagu' itu jauh. Karena itu, pengaruhnya
tidak terlalu kuat pada kami—tapi ternyata kekuatan itu bisa digunakan dengan
cara seperti ini juga. Sebuah 'Lagu' untuk memperkuat semangat tempur sekutu.)
Jika begini caranya, selama kubu mereka berada dalam
posisi yang menguntungkan, musuh tidak perlu repot-repot maju ke garis depan.
(Tidak ada pilihan selain mundur. Kami gagal
memperhitungkan total kekuatan musuh...!)
Sebuah kegagalan.
He akan merenungkan hal itu nanti.
Seorang komandan tidak memiliki waktu untuk meratapi
nasib saat ini.
Rencana untuk membuat musuh kocar-kacir dengan membunuh
Nuckelavee kini bisa dikatakan telah hancur total.
◆
Jumlah prajurit yang kehilangan kemampuan bertempur,
termasuk mereka yang tewas, kini telah melampaui seratus orang.
Sementara yang berhasil mundur entah bagaimana caranya,
jumlahnya tidak sampai tiga ratus orang.
Di antara jajaran perwira, yang menderita luka paling
parah adalah Zofrek.
Lengan kanannya terluka begitu hebat hingga nyaris putus.
Walau tindakan pertolongan pertama telah dilakukan
menggunakan Sprite dari Dewi Darah, jumlahnya terlalu sedikit.
Itu hanya cukup untuk mencegah lengannya diamputasi.
"Maafkan aku, Kapten."
Zofrek berbaring telentang sambil memaksakan senyum
di wajahnya yang pucat.
"Bisa-bisanya aku malah menjadi yang paling
bersemangat. Padahal, kupikir tugasku adalah untuk menahan Kapten yang suka
menerjang maju, atau Sienna yang terlalu serius... tapi ternyata...."
"Dalam situasi seperti ini, jangan bicara yang
tidak penting."
Patausche menyahut dengan nada tegas.
"Istirahatlah sejenak. Aku akan mengurus
sisanya. Setelah kamu sembuh, aku akan mempekerjakanmu lagi."
Semua orang telah kehabisan tenaga.
Namun, hanya dirinya yang harus tetap memasang wajah
seolah masih sanggup bertarung sebanyak apa pun.
Karena dia adalah seorang komandan.
Terlebih lagi, Teoritta juga melakukan hal yang sama
atas kehendaknya sendiri.
"Benar-benar luar biasa, para kesatria yang
telah kuberkati."
Dia menggenggam tangan mereka yang terluka dan kelelahan,
lalu membisikkan kata-kata penyemangat itu.
Meskipun wajahnya sendiri tampak pucat bagai orang sakit,
dia tetap bersikap tegar.
Sikapnya itulah yang menahan runtuhnya moral pasukan di
batas jembatan yang kritis.
"Hanya tinggal selangkah lagi. Berikutnya, aku juga
akan mengerahkan seluruh kekuatanku. Kita pasti akan menang."
Suaranya terdengar bergetar, namun diucapkan dengan
begitu tegas dan jelas.
Seperti yang dikatakan Teoritta, mereka harus menang di
sini.
Ada dua syarat untuk menang.
Membinasakan seluruh musuh, atau bertahan hidup.
Mengamankan kekuatan tempur sebanyak mungkin, lalu
mundur.
Mengingat syarat yang pertama sudah mustahil dalam
situasi sekarang, maka syarat kedua harus diwujudkan bagaimanapun caranya.
(Sekrung, aku harus membawa pulang kurang dari tiga ratus
orang yang tersisa di sini kembali ke Benteng Itriaf sebisa mungkin.)
Itu akan menjadi tujuan utama mereka saat ini.
Sebagai seorang Ksatria Hukuman, mundur dari medan
perang berarti hukuman mati baginya.
Hal itu adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari.
Namun, ada orang-orang yang tidak boleh hilang di
sini.
Mereka yang jika terbunuh, tidak akan bisa bangkit
kembali.
Dan yang terpenting dari semuanya, adalah Teoritta.
"Teoritta-sama."
"Ya?"
Patausche memegang pundak Teoritta yang sedang
berbalik.
Pundak itu terasa begitu kecil dan rapuh.
"Apapun yang terjadi, kami akan mengantarkan
Anda kembali ke Benteng Itriaf dengan selamat. Itulah tujuan utama kami."
"Apa yang Anda katakan? Aku akan terus bersama
kalian—"
"Ini bukanlah pertarungan untukku, dan bukan juga
pertarungan untuk Anda."
Patausche memotong dengan penuh penegasan.
Teoritta tampak terkejut mendengar hal itu.
"Dan ini juga bukan pertarungan untuk semua
orang yang ada di sini. Kita bertarung demi mereka yang tidak ada di tempat
ini. Aku percaya Anda pun berpikiran sama, Dewi
Teoritta."
"Patausche. Anda..."
"Dalam pertempuran ini, aku telah menjadikan Anda
sebagai umpan untuk memancing Nuckelavee."
Dia sengaja memilih kata-kata kasar itu.
Dia merasa memang harus melakukannya.
Menjadikannya umpan agar Nuckelavee mau menampakkan diri
di garis depan.
Dia ingin menaikkan probabilitas itu meski hanya sedikit.
Karena itulah dia bertarung dengan mencolok.
Namun, hasilnya tidak berjalan mulus.
Dirinya pantas untuk disalahkan.
Tetapi, Teoritta pasti tidak memiliki niat untuk
melakukan hal itu.
"Oleh karena itu, aku tidak bisa menghormati
keinginan Anda. Demi pertempuran yang akan datang, keselamatan Anda jauh lebih
berharga daripada apa pun. Bahkan jika harus ditukar dengan nyawa semua orang
yang ada di sini sekali pun. —Tentu saja,"
Sebuah senyuman ironis tersungging di bibirnya.
Ida adalah usaha terbaiknya untuk melontarkan lelucon
ringan yang dia bisa.
"Nyawaku adalah yang paling tidak berharga di sini.
Aku akan memastikan sebanyak mungkin sekutu kita bisa melarikan diri. Tolong
naiki kuda di belakang Sersan Penembak Jitu Sienna. Aku mohon,
Teoritta-sama."
Sebuah permohonan yang tulus dari lubuk hatinya.
Dia berlutut dan menundukkan kepala bagai sedang berdoa
kepada seorang Dewi.
Teoritta memasang ekspresi yang teramat sedih.
Ada jeda beberapa detik saat gadis itu tampak menahan
sesuatu di dalam dirinya.
Namun pada akhirnya, dia mengangguk pelan.
"...Aku mengerti. Aku tidak boleh bersikap egois
di saat seperti ini, 'kan."
"Benar."
Patausche menjawab singkat, lalu menengadah menatap
langit.
Bukan hanya karena dia tidak ingin melihat wajah
Teoritta yang tampak seperti hendak menangis.
Namun, suara seperti deruan angin mulai terdengar
kembali.
Sebuah suara yang membuat perasaan menjadi tidak
tenang.
Dengan kata lain, ini adalah 'Lagu' Nuckelavee—musuh
datang.
"Sumbat telinga kalian dan bertarunglah. Untuk
koordinasi, aku akan memberikan isyarat tangan. Jangan sampai terlewat."
Dia meminta mereka untuk memasang penyumbat telinga.
Hal seperti ini memang diperlukan saat bertarung
melawan Nuckelavee.
"Tiga puluh orang yang terpilih tadi akan
mengemban tugas sebagai pasukan lini belakang bersamaku. Sesuai kesepakatan,
yang muda silakan mundur terlebih dahulu. Aku yang terakhir."
Semua orang sebenarnya ingin tetap tinggal di lini
belakang, tetapi hal itu tidak memungkinkan.
Orang-orang yang dipilih oleh Patausche adalah mantan
anggota dari Ksatria Suci ke-13.
Mereka semua adalah orang-orang yang lebih ahli dalam
pertarungan individu ketimbang pertarungan kelompok.
Dalam pertempuran semacam ini, cara tersebut memiliki
tingkat bertahan hidup yang lebih tinggi.
Terakhir, Teoritta menggenggam tangan Patausche.
"Patausche. Ini adalah pertarungan yang berat,
tetapi tolong jangan menyerah untuk hidup. Aku ingin Anda mengingat bahwa kita
pernah berbicara seperti ini."
"Terima kasih atas kata-kata Anda."
Setelah menyumbat telinganya, Patausche melangkah maju ke
depan.
Dia tidak menunggangi kuda.
Karena ini adalah pertarungan untuk menahan musuh di
tempat.
Mereka yang mundur jauh lebih membutuhkan kuda, walau
hanya satu ekor sekali pun.
"Majulah!"
Dia berteriak, walau dia sendiri tidak tahu apakah
suaranya sampai ke telinga lawan atau tidak.
Yang pasti, musuh terus merangsek maju.
Yang memimpin di depan adalah segerombolan Bogey.
Patausche mengangkat pedangnya untuk menghadang mereka.
"Niskef!"
Sebuah penghalang berwarna biru menahan terjangan tanduk
Bogey.
Dua ekor.
Tiga ekor.
Penghalang itu tidak akan hancur hanya karena jumlah
segitu.
Sembari melanjutkan gerakan, dia mengaktifkan Segel
Suci.
Kali ini, sebuah Segel Suci yang berfungsi untuk
mementalkan lawan.
"Rada!"
Dia menghempaskan para Bogey itu sekaligus untuk
menciptakan jarak.
Di sela-sela celah yang tercipta, dia melangkah masuk dan
menebas mereka.
Pertama, satu ekor tumbang.
Dia mencengkeram pedangnya dengan kedua tangan, lalu
mengayunkannya memutar di atas kepala untuk melepaskan tebasan berikutnya.
Ekor kedua, lalu ekor ketiga pun ikut bertumbangan.
Itu adalah teknik yang sangat kontras dengan ilmu pedang
wilayah selatan yang menggunakan pedang melengkung yang ringan.
Sebuah teknik bertarung wilayah utara yang diciptakan
untuk mengayunkan pedang besar yang berat.
Memanfaatkan gaya sentrifugal untuk mengendalikan
pedang.
Teknik ini mampu menghasilkan gerakan yang jauh lebih
presisi daripada penampilannya yang terlihat kasar.
(Pertama-tama, hentikan pergerakan awal mereka.)
Pada saat itu, mata pisau yang diayunkan Patausche telah
merobohkan tiga ekor Bogey secara berturut-turut.
Namun, musuh tetap tidak menunjukkan rasa gentar.
Ini pasti karena pengaruh 'Lagu' yang membakar semangat
tempur mereka.
(Kalau begitu—tidak ada cara lain selain menghentikan
mereka dengan kekuatan penuh!)
Patausche tidak bertahan di posisinya, melainkan
melangkah maju dengan lebih kuat lagi.
Dia membelah Bogey yang terus menerjang tanpa kapok—dan
dalam sekali tebas, dia juga menyapu bersih Goblin yang melompat keluar dari
balik bayangan monster tersebut.
"Niskef!"
Sebuah penghalang yang bersinar biru tercipta.
Dia hanya bisa mempertahankan benteng itu paling lama dua
atau tiga detik saja.
Namun, pelindung itu bisa digunakan sebagai perisai tanpa
bobot.
Seberapa mahir seseorang mengendalikan kemampuan ini akan
menentukan tingkat bertahan hidup mereka sebagai seorang prajurit.
"O—Ooooh!"
Sambil berteriak lantang, dia menebas beberapa ekor
musuh lagi.
Dengan ini, untuk sementara waktu situasi bisa diatasi.
Sisanya, tinggal berharap Teoritta dan pasukan lini
belakang bisa melarikan diri dengan selamat.
Memikirkan hal itu, dia mengalihkan pandangannya ke arah
belakang sesaat.
(Apa-apaan itu?)
Pasukan lini belakang ternyata sudah terlibat dalam
pertempuran.
Apakah
mereka sudah dikepung sejak awal?
Meskipun
yang ada di sana hanyalah Fuah yang bertubuh kecil, mereka cukup merepotkan
untuk menahan pergerakan.
Serangan
dengan cara memutar—tampaknya pihak lawan juga telah mempelajari taktik kami.
(Nuckelavee. Dia bukan sekadar bertindak hati-hati.)
Musuh mengamati kami, lalu meniru taktik yang kami
gunakan.
Jika itu adalah Fenomena Raja Iblis yang memiliki
tingkat kecerdasan di atas rata-rata, hal seperti ini sangat mungkin terjadi.
Namun, sekarang bukan saatnya untuk memikirkan hal
semacam itu.
Meskipun tidak ada suara yang terdengar, dia tahu
Teoritta sedang berteriak.
Bersama percikan cahaya yang menyilaukan, gadis itu
memanggil pedang-pedangnya, berusaha sekuat tenaga untuk membuka jalan keluar.
Mustahil, pikir Patausche.
Kekuatan untuk melakukan pemanggilan pasti sudah hampir
mencapai batasnya.
Sienna memacu kudanya sambil melepaskan tembakan tongkat
petir berulang kali.
Bahkan Zofrek pun memaksakan diri mengayunkan tombak
hanya dengan tangan kirinya.
Karena itu bukan tangan utamanya, hampir tidak ada hasil
yang bisa diharapkan dari serangannya.
Dalam situasi seperti ini, jika bukan karena keberadaan
pasukan Madritz, garis pertahanan pasti sudah hancur sejak tadi.
Pasukan pemotong garis depan bertarung dengan tubuh
yang berselimutkan darah.
Jika makhluk yang disebut iblis perang itu nyata
adanya, mungkin rupa mereka akan terlihat seperti itu.
Meski begitu, satu per satu dari mereka mulai
bertumbangan.
Semua orang telah melangkahkan kaki ke dalam ranah
kematian.
(Apakah ini saatnya untuk termangu? Lakukan apa yang
harus kamu lakukan!)
Sembari mencambuk dirinya sendiri, Patausche kembali
menggenggam erat pedangnya.
Rencana operasi harus disusun ulang.
(Sampai di sini, tindakanku tidak salah. Kartu as masih
ada di tangan. Jika bisa bertahan di sini, bahkan masih ada kemungkinan untuk
menang. Peluang kemenangan ada pada Nuckelavee, jika bajingan itu mau
menampakkan dirinya sendiri...!)
Namun, posisi mereka benar-benar berada dalam kondisi
yang sangat tidak menguntungkan.
Demi memancing Nuckelavee keluar, entah berapa banyak
prajurit lagi yang harus dikorbankan.
Tapi, bagaimana jika sejak awal Nuckelavee memang
tidak berniat untuk keluar sampai akhir?
Fakta bahwa jumlah pasukan kami sedikit pasti sudah
terbongkar oleh mereka.
Jika demikian, bahkan di hadapan umpan yang berupa
Dewi Pedang Teoritta sekalipun, dia tidak akan mengambil risiko untuk dirinya
sendiri—bisa jadi Fenomena Raja Iblis itu memiliki kepribadian yang licik
seperti itu.
(Apa yang harus kulakukan?)
Patausche dirundung keraguan.
Di tengah kegamangan itu, dia tetap menebas
musuh-musuhnya, sambil menyaksikan rekan-rekannya yang bertumbangan di sisinya.
Kemudian, gelombang musuh kembali berdatangan.
Sesosok Fairy Abnormal bertubuh raksasa tampak melangkah
maju sambil merobohkan pepohonan di sekitarnya.
Kemungkinan besar itu adalah Khairach.
Sebuah pemandangan yang memutus harapan.
Musuh juga telah mengeluarkan kartu as mereka di tempat
ini.
Tampaknya mereka berniat untuk segera mengakhiri
pertempuran.
Hampir tidak ada cara yang terlintas di benaknya untuk
menghentikan makhluk raksasa itu.
(Namun. Aku... !)
—Dan tepat ketika Patausche hendak mengambil keputusan
terakhirnya.
Tiba-tiba saja, barisan gerombolan musuh tampak
berguncang.
Dia merasakan firasat seperti itu.
Sebuah guncangan—atau lebih tepatnya, sesuatu yang
menyerupai sebuah hantaman besar.
Para Bogey yang tadinya berhadapan dengan Patausche,
secara serentak memalingkan moncong mereka ke arah barat.
Perhatian mereka teralih.
Memanfaatkan celah itu, Patausche kembali menebas satu
ekor lagi hingga terlempar.
Sembari melangkah maju, dia menyadari bahwa napasnya
terasa menjadi lebih lega.
Perlawanan musuh jelas-jelas telah melemah.
Fairy Abnormal lainnya tampak berlari menuju ke arah
barat.
Sesuatu sedang terjadi di sana.
Dia merasa seolah-olah mendengar seseorang sedang
berteriak.
Bahkan Khairach sekalipun mengeluarkan raungan keras ke
arah tersebut.
(Ada apa sebenarnya?)
Patausche ikut memalingkan pandangannya ke arah barat.
Pada saat itu, sebuah cahaya putih bersama suara gemuruh
yang membuat keberadaan penyumbat telinga terasa sia-sia, bergaung dengan
hebat.
Getaran dahsyat bagaikan gempa bumi menjalar di atas
tanah.
Getaran itu terjadi berantai, membuat pandangannya
terbakar oleh warna putih hingga tidak bisa melihat apa-apa.
Pepohonan dan puluhan Fairy Abnormal tampak bertumbangan
dan terlempar sekaligus, hanya itu yang samar-samar bisa dia tangkap dengan
matanya.
"Apa yang..."
Dia bergumam lirih melontarkan kata-kata itu.
Tanpa disadari dia telah bertumpu pada salah satu
lututnya, tetapi tidak ada musuh yang datang menyerang.
Tampaknya para Fairy Abnormal itu sedang tidak berada
dalam kondisi untuk memedulikannya.
Mereka panik, dan beberapa di antaranya bahkan mulai
melarikan diri.
Hal itu terjadi karena suara gemuruh yang dahsyat sempat
meredam suara 'Lagu' untuk sesaat.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
『—Seperti yang diduga dari Eight Holy Gates milik
Kota Artileri Nofan, ya.』
Meskipun telinganya seharusnya tersumbat, suara itu tetap
bisa terdengar dengan jelas.
Sebuah komunikasi suara.
Sebuah panggilan suara yang terhubung melalui Segel Suci
di leher, yang biasa digunakan di antara para Ksatria Hukuman.
Begitu rupanya—jika menggunakan cara ini, suara tetap
bisa terdengar meski telinga dalam keadaan tersumbat.
『Daya hancurnya benar-benar membuat mata terbelalak. Dan
jarak tembaknya pun sungguh di luar dugaan. Aku tidak menyangka serangan itu
bisa dilontarkan hingga mencapai tempat yang sejauh ini... Efek dari peluru
kendali tipe baru yang dikembangkan oleh Kamerad Norgayu juga melampaui
perkiraan, ya.』
Penglihatan Patausche berangsur-angsur mulai pulih.
Tampaknya, sebuah tembakan artileri yang sangat dahsyat
baru saja dilontarkan secara bertubi-tubi di tempat ini.
Pepohonan tampak bertumbangan, dan lautan pohon terlihat
mengeluarkan asap yang membubung tinggi.
『Mengenai akurasi bidikan, aku merasa sedikit banyak
telah memberikan kontribusi... Aku
benar-benar merasa bangga dari lubuk hatiku. Hal yang awalnya kurang dari
serikat penembak muda Nofan hanyalah niat membunuh saja. Ah... niat membunuh
milik manusia, benar-benar sesuatu yang luar biasa...!』
Suara
yang terdengar begitu ramah namun menjengkelkan di telinga itu.
Tidak salah lagi, itu pasti suara Rhyno.
Hal itu sendiri sudah menjadi sebuah tanda tanya besar.
"Kenapa kamu bisa... tidak."
Patausche menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri
bagaimana gerombolan Fairy Abnormal itu mulai cerai-berai.
"Bagaimana cara kalian bisa sampai ke tempat
ini?"
Sebuah
bantuan dari Nofan, Patausche segera memahami hal tersebut.
Tidak ada pilihan lain selain berpikir demikian, tetapi
metode yang mereka gunakan masih menjadi misteri.
Seharusnya mereka tidak akan bisa sampai ke tempat ini
tanpa menerobos barisan pasukan Nuckelavee terlebih dahulu.
Fakta bahwa mereka muncul dari arah barat membuatnya
semakin tidak mengerti.
Terhadap pertanyaan itu, jawaban Rhyno terdengar begitu
singkat dan padat.
『Kami memanfaatkan Sungai Kizurato. Sungai itu terhubung dengan danau yang ada di sisi barat Nofan, 'kan?
Para perompak dari Zehai Dahe memiliki kemampuan yang sangat luar biasa. Kami
bisa mudik dengan cepat dan memutar ke arah samping.』
"Sungai, ya. Begitu rupanya...! Tapi, bagaimana
dengan kapalnya? Dari mana kalian mendapatkan kapal-kapal itu?"
『Atas perintah dari Penguasa Nofan, kami mendapatkan kerja
sama dari Perserikatan Warga Nofan. Karena dana untuk kompensasi telah
disiapkan dalam jumlah yang melimpah. Tampaknya Tuan Esgain adalah seorang
penguasa yang sangat kompeten dalam hal pemerintahan.』
Penguasa Nofan.
Patausche sudah tahu siapa orang yang dimaksud dari
sebutan itu.
Rasa ingin memaki dengan suara lantang muncul bersamaan
dengan dorongan kuat yang membuatnya ingin tertawa terbahak-bahak.
Musuh kini benar-benar berada dalam kondisi hancur
total—hal itu disebabkan oleh pasukan yang melakukan serangan dadakan dari arah
barat.
Pasukan yang merangsek maju paling depan sambil
mengayunkan pedang melengkung itu kemungkinan besar adalah pasukan Night Goblin
wilayah selatan.
Sementara mereka yang melepaskan tembakan anak panah
adalah para perompak.
Di antara barisan itu, bahkan tampak Wood Goblin ikut
membaur di dalamnya.
Serangan balasan dari Fairy Abnormal yang sudah terdesak,
berhasil dipatahkan sepenuhnya oleh mereka.
"Maju!"
Teriakan Frayncy samar-samar terdengar di telinganya.
Sambil merapatkan barisan pedang, mereka melompat
menerjang masuk.
Sosok berzirah merah kehitaman yang berada di barisan
belakang tidak salah lagi adalah Rhyno.
Tembakan artileri dari jarak dekat berhasil
menghempaskan beberapa ekor musuh sekaligus dalam sekali serang.
Sebuah kekuatan yang teramat dominan.
Selain itu, sisanya—ada juga sosok yang meluncur
turun dari langit bagaikan burung pemangsa, mengacaukan barisan musuh.
Kilatan cahaya dan suara ledakan.
Dia menendang Goblin yang menyerang dari arah kiri dan
kanan, lalu meledakkan mereka menggunakan pisau yang dilemparkannya.
Akibat dari serangan dadakan itu, sebuah lubang besar
seolah tercipta di tengah-tengah gerombolan musuh.
"BwooooOOOOOOOOh!"
Fairy Abnormal berukuran raksasa, Khairach, tampak
menggetarkan tubuh besarnya yang masif.
Monster itu berusaha untuk melakukan serangan balasan,
namun gerakannya tidak sempat.
Tubuh raksasanya tampak limbung setelah menerima ledakan
kilatan cahaya tepat di bagian moncongnya.
Disusul oleh satu hantaman lagi.
Kepalanya ditendang dengan keras dari arah samping,
membuatnya roboh ke tanah secara perlahan.
(Sebuah kekuatan yang tidak masuk akal.)
Patausche berpikir bahwa orang itu benar-benar
mengamuk sesuka hatinya di medan perang.
Bisa dikatakan efek dari serangan kejutan ini
berhasil dengan sangat gemilang, melebihi apa yang bisa diharapkan.
Pergerakan para prajurit pun tampak begitu presisi hingga
terasa tidak wajar.
Pasukan baru dikerahkan dengan cara memutar untuk
menghadang musuh yang berusaha melarikan diri dan menyusun kembali barisan
mereka.
Menghancurkan kelompok musuh yang baru mulai berkumpul
sebelum mereka sempat menyatukan kekuatan.
Sebuah metode yang sangat kontras dengan taktik pemusatan
kekuatan tempur, namun cara ini bekerja dengan tingkat akurasi yang
mengejutkan.
Tampaknya sistem yang digunakan adalah dengan membagi
pasukan menjadi beberapa kelompok kecil, lalu melakukan serangan secara
bergantian secara berurutan.
Apakah mereka sudah menentukan pergerakan tersebut sejak
awal?
Apakah hal seperti itu mungkin untuk dilakukan?
Dan jika memang mungkin, mekanisme seperti apa yang
mereka terapkan di dalamnya?
Patausche tidak mampu memikirkan hal itu sampai sejauh
sana.
(Tidak ada pilihan selain mengakuinya, ya.)
Pria bernama Xylo Forbartz itu adalah seorang komandan
yang teramat luar biasa.
Bukan sekadar masalah ketelitian dalam menyusun rencana
atau kecermatan dalam pelaksanaan operasi, melainkan dia memiliki sesuatu yang
lain di dalam dirinya.
(Namun—)
Patausche berniat untuk melontarkan satu atau dua patah
kata keluhan—namun sebelum hal itu sempat terwujud, sesosok bayangan bertubuh
kecil tampak berlari melewati sisinya.
Sosok itu adalah Teoritta.
Karena keberadaan penyumbat telinga, suaranya tidak bisa
terdengar, tetapi Patausche tahu apa yang diteriakkan gadis itu dari gerakan
bibirnya.
—Bahkan, dia merasa tidak perlu sampai melihat gerakan
bibirnya sekali pun untuk mengetahui hal itu.
"Kesatriaku!"
Tangan Teoritta tampak mengusap udara kosong, memanggil
pedang yang jumlahnya tak terhitung.
Pedang-pedang itu turun menghujani bumi bagaikan rintik
hujan, dalam sekejap mata menghancurkan gerombolan musuh hingga binasa.
Tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil meloloskan
diri.
Apakah perbedaan daya hancur seorang Dewi bisa menjadi
sejauh ini jika dia berada bersama dengan sosok yang mengikat kontrak
dengannya?
Kata-kata Teoritta berikutnya, kemungkinan besar adalah
kalimat seperti ini.
"Kamu terlalu lama, Xylo!"
Setelah itu, Teoritta langsung menghambur dan memeluk leher Xylo Forbartz dengan erat.
"Kurang ajar,"
Aku yakin Xylo mengatakannya dengan ketus. Sambil
menggendong Teoritta.
"Waktunya serangan balik. Bantu aku."
Xylo mengangguk ke arah Patausche—dan demi apa pun,
wajah pria itu rasanya ingin sekali kupukul.
◆
Serangan kejutan kami terbukti menjadi pukulan
mematikan, membuat pasukan Fairy Abnormal lumpuh total.
Hal ini sebagian besar berkat perjuangan pasukan Patausche.
Jika mereka tidak bertahan sampai sejauh ini dan
memancing seluruh kewaspadaan musuh, efek dramatis dari serangan kejutan tadi
tidak akan pernah terwujud.
Fokus dari kawanan Nuckelavee sepenuhnya terarah pada Patausche
dan garis belakang mereka.
Hasilnya, gempuran dari arah barat berhasil mengerahkan
daya hancur yang maksimal.
Bukan hal sulit untuk membereskan sisanya. Terlebih sejak
kami bergabung, perbedaan kekuatan tempur kini paling banyak hanya berkisar
tiga kali lipat saja. Itu pun terus menyusut dengan cepat.
"—Wahai Pedang Perlindungan!"
Teoritta berteriak sambil mengusap udara kosong. Percikan
cahaya samar pun muncul.
"Turunlah!"
Bilah-bilah pedang menghujani bumi, menembus tubuh musuh,
lalu tertancap hingga membentuk barisan kokoh bagaikan pagar yang melindungi
kami.
Teknik ini memang pernah kulihat di terowongan tambang
Zewan-Gan, namun kekuatan Teoritta telah berevolusi jauh lebih tinggi.
"Niskef!"
Merespons kata-kata Teoritta, pedang-pedang yang
tertancap di tanah memicu munculnya penghalang biru keputihan.
Bilah pedang yang menghujam bumi itu teraktivasi secara
berantai, menciptakan dinding bercahaya.
Dinding itu tidak hanya menahan serangan balasan Fairy
Abnormal, tetapi juga menciptakan jarak yang memungkinkan pasukan kami
melakukan pengisian ulang tongkat petir dan bersiap melakukan cegatan.
Petir dari tongkat-tongkat itu seketika berkilat
serentak, mengikis habis jumlah Fairy Abnormal secara drastis.
"Bagaimana menurutmu, Kesatriaku!"
Sembari memamerkan senyum yang tampaknya dikerahkan
dengan seluruh sisa tenaganya, Teoritta menatapku.
"Ini adalah hasil dari latihanku di bawah bimbingan Patausche
selama kamu diculik kemarin. Hebat, 'kan? Kamu boleh memujiku sesuka hatimu,
lho!"
"Ah, ya."
Aku sendiri tidak bisa tinggal diam dan
bermalas-malasan. Aku melompat, menerjunkan diri tepat di tengah-tengah
kerumunan musuh. Kemudian aku melemparkan pisau—Segel Peledak Zatte Finde
berfungsi dengan sangat sempurna.
"Hebat, Teoritta. Perkembangan yang luar
biasa."
Mata pisau yang telah diresapi Segel Suci itu
menancap telak pada seekor Bogey berukuran sangat besar, membuat tubuhnya
meledak hancur.
Di saat yang sama, aku mencabut salah satu pedang
yang dipanggil Teoritta, lalu menebas Goblin yang melompat turun dari atas
pohon.
Setelah kutendang dan kuhempaskan ke tanah, makhluk
itu tidak lagi bergerak.
"Tamu-tamu tak diundang di atas pohon itu agak
mengganggu, ya."
Teoritta menggerakkan tangannya bagai seorang
konduktor orkestra. Percikan cahaya muncul di ujung jarinya.
"Mari kita tebas mereka!"
Sebuah pedang berukuran sangat besar yang menyerupai
sebilah parang besar berhasil dipanggil.
Pedang itu menebas dahan-dahan pohon dengan sangat mudah,
menjatuhkan para Goblin yang bersembunyi di atas sana.
Mereka yang tidak beruntung langsung tewas seketika
akibat hantaman langsung parang besar tersebut.
Begitu rupanya. Teoritta sekarang sudah bisa
melakukan trik semacam ini.
(Ucapan tentang latihan itu tampaknya memang benar.)
Atau mungkin, karena sempat terpisah dari sang
kontraktor, kekuatan imajinasinya justru menjadi semakin terasah dan terlatih.
"Fufun."
Sambil tetap berada di dalam dekapanku, Teoritta
membusungkan dadanya dengan penuh kebanggaan.
"Aku mengizinkanmu untuk mengelus kepalaku. Selain
itu, aku juga siap menerima permintaan maafmu. Kamu harus benar-benar
merenungkan perbuatanmu karena telah meninggalkanku begitu lama!"
"Benar juga. Maaf. Aku yang kurang
waspada."
Aku mengelus kepala Teoritta dengan sedikit kasar. Aku
merasa itu adalah opsi terbaik untuk saat ini. Sembari menerima elusan itu,
Teoritta menyandarkan dahinya di bahuku.
"Benar-benar... renungkanlah, ya. Jangan sampai hal seperti ini terulang lagi. Aku juga akan
berhati-hati... dan terus mengawasimu."
"Sangat membantu. Jika seorang Dewi yang
mengawasiku, rasanya tentu sangat melegakan."
Aku mengutarakan isi hatiku yang sejujurnya, lalu
berbalik. Di sana, Patausche tampak memasang ekspresi wajah yang agak tidak
puas.
"Aku juga minta maaf kepadamu. Sudah
merepotkanmu."
"Bukan sekadar merepotkan."
Jawaban yang keluar dari mulut Patausche terasa kaku dan
dingin, persis seperti saat pertama kali kami bertemu dulu.
"Namun, jika aku mulai menuntut permintaan maaf
darimu, seratus kali pun tidak akan pernah cukup. Karena itu, saat ini kuanggap
masalah selesai."
"Tentu saja."
Di sela-sela obrolan kami, jumlah Fairy Abnormal terus
berkurang drastis. Secara garis besar, garis pertahanan di sini sudah bisa
dianggap aman.
Dengan kata lain, kemenangan sudah ada di tangan kami.
Tidak peduli apakah Nuckelavee ada di sana atau tidak.
"Jujur saja, aku terkejut."
Aku mengutarakan kesan jujurku kepada Patausche.
"Jadi kamu sengaja menyimpan kartu asmu sampai
sejauh ini? Hanya demi menang?"
"Benar. Demi kemenangan. Untuk memusnahkan
seluruh Fenomena Raja Iblis, aku tidak boleh membiarkan satu ekor pun
meloloskan diri."
"Jadi kamu belum menyerah, ya. Soal
pengampunan itu."
"Tentu saja. Kamu juga—"
Patausche mengatakan sesuatu. Namun, bagian akhir dari
kalimatnya sama sekali tidak terdengar olehku.
Sebab dari kejauhan, sebuah suara nyanyian yang
melengking tinggi mulai bergema. Itu adalah 'Lagu'—sebuah 'Lagu' milik
Nuckelavee, yang seharusnya menjadi otoritas milik Dewi Ratapan.
"Xylo!"
Teoritta langsung menggelayut erat di leherku. Aku
mencoba mendekap tubuhnya. Kakiku terasa goyah.
Saat mencoba bertahan agar tidak jatuh,
keseimbanganku justru semakin runtuh. Rasanya seolah-olah aku sedang terjebak
di dalam kubang lumpur.
"Patausche."
Aku berusaha mengarahkan pandangan ke arahnya. Namun, yang berdiri di sana justru sosok yang sama sekali berbeda. Nalk
Dexter.
Lalu Sevil Dexter, dan—Milete. Masih ada lagi. Mereka
adalah orang-orang dari Ksatria Suci ke-5 masa lalu. Si kembar Deele, dan juga
Efmat.
Semua orang menatapku dengan pandangan mata yang seolah
ingin menyampaikan sesuatu.
Omong kosong. Ini hanya halusinasi. Sebuah ilusi yang
diciptakan dari sisa ingatanku.
'Lagu' milik Nuckelavee ini memang memiliki fungsi
semacam itu. Hanya sebatas itu. Meski terus meyakinkan diri sendiri, ilusi itu
tetap tidak mau hilang.
Sensasi Teoritta yang seharusnya berada di dalam
dekapanku pun mendadak lenyap. Aku memaksakan seluruh tenagaku ke keempat
anggota gerakku.
(Tahan. Jangan bergerak.)
Nuckelavee pasti sudah berada di dekat sini. Fakta bahwa
suara nyanyian ini bisa menjangkau kami mengindikasikan bahwa jaraknya sudah
teramat dekat.
Dan bajingan itu tidak akan pernah melewatkan kesempatan
emas untuk membunuhku dan Teoritta.
(Dia pasti ada di sekitar sini. Kalau begitu—)
Aku memejamkan mata. Bahkan indra perabaku pun kini
terasa mengambang dan kabur. Tidak ada celah untuk melakukan perlawanan.
Suara nyanyian Dewi Ratapan tidak selembut itu hingga
bisa ditahan hanya dengan mengandalkan keteguhan mental semata.
(Tahan.)
Aku memerintahkan diriku sendiri untuk tetap diam
tidak bergerak. Setidaknya hanya itu yang bisa kulakukan. Jika aku bisa
melakukannya—
(...Kartu as kami akan datang.)
Suara angin yang terbelah. Aku bisa merasakannya
tepat di dekat telingaku.
Dan disusul sebuah hantaman dahsyat.
"Vakh!"
Aku menyadari diriku telah jatuh tersungkur di atas
tanah. Padahal aku berniat untuk tetap berdiri tegak, namun tampaknya tubuhku
bahkan tidak sanggup melakukan hal sesederhana itu.
Meski begitu, Teoritta masih berada aman di dalam
pelukanku.
Dengan tubuh berselimutkan keringat dan wajah yang pucat
pasi, dia menengadah menatapku.
Namun, ini sudah lebih dari cukup. Kemenangan sudah
menjadi milik kami.
"Vau—"
Aku melihat tubuh Nuckelavee terlempar jauh di udara.
Itu karena dia gagal menangkis hantaman telak dari kapak
tempur.
"Ugh."
Suara kaki yang menghentak dan mengikis tanah terdengar.
Sesosok bayangan hitam tampak melesat cepat.
"—JIIIIIIRRRRRAAAAAAAA!"
Sebuah lesatan cepat bagaikan badai bersama lengkingan
teriakan menggema di udara.
Tatsuya melompat tinggi. Nuckelavee mencoba memasang
posisi cegatan—jubah hitam yang dikenakannya seketika berkibar, terurai, dan
berubah menjadi sulur-sulur tak terhitung jumlahnya yang menggeliat mengerikan.
Pakaian yang dikenakannya itu tampaknya bukan sekadar
busana biasa, melainkan bagian dari organ tubuhnya sendiri. Sulur-sulur itu
menyerang Tatsuya bagaikan cambuk.
Namun, serangan sekadar itu tentu tidak akan mampu
menghentikan Tatsuya.
Kapak tempurnya menebas dan membelah seluruh sulur itu
sekaligus.
Nuckelavee membuka lebar mata ketiganya yang berada di
dahi—dia segera memangkas jarak, mencoba mencengkeram leher Tatsuya, namun
lengannya justru patah mendadak.
Itu karena Tatsuya melayangkan sebuah tendangan ke atas
yang teramat keras.
Memanfaatkan momentum dari tendangan tersebut, tubuh
Tatsuya berputar di udara—dan yang tersisa setelahnya hanyalah satu hantaman
final.
Tepat ketika kapak tempur itu berkilat, tubuh monster
tersebut telah terbelah menjadi dua bagian.
(Hebat juga dia... Kunci kemenangannya adalah karena
tidak menggerakkan Tatsuya sampai detik terakhir.)
Patausche berhasil bertahan hingga akhir.
Tidak peduli seberapa genting dan meruginya situasi yang
dihadapi, dia tidak pernah membuang satu peluang kemenangan ini.
Jika itu adalah Tatsuya, dia bisa melancarkan serangan
tanpa terpengaruh oleh 'Lagu' milik Nuckelavee sedikit pun. Karena makhluk ini
tidak memiliki apa yang disebut dengan kesehatan mental atau jiwa.
Tidak peduli seberapa besar bahaya yang mengancam nyawa
mereka—bahkan saat keselamatan Teoritta sekalipun ikut dipertaruhkan, dia tetap
tidak melepaskan kartu truf ini.
Jika aku yang berada di posisinya—apa yang akan
kulakukan?
Aku sendiri tidak yakin apakah memiliki keteguhan hati
untuk bersikap sekejam dan sedingin itu dalam mengambil keputusan. Patausche Kivia
berhasil melakukannya.
Dia terus menyembunyikan Tatsuya sebagai kartu trufnya
sampai detik terakhir, demi menunggu momen emas ini.
"Kh... guh, bufkh!"
Nuckelavee mencoba bergerak hanya dengan mengandalkan
paruh atas tubuhnya yang telah terbelah.
"Hanya... selevel ini..."
Nuckelavee mengerang. Tubuhnya tampak menggeliat
aneh. Otoritasnya sebagai bagian dari Fenomena Raja Iblis mungkin memang
memiliki karakteristik semacam itu. Mirip seperti Empusa.
"Mana
mungkin aku binasa... Aku adalah...!"
Meskipun
bagian bawah tubuhnya telah terputus, dia tetap berusaha untuk bangkit berdiri.
Benar-benar kegigihan yang luar biasa.
"Xylo
Forbartz."
Nuckelavee
mengeluarkan suara yang terdengar keruh dan berdeguk.
Tampaknya
dia masih sanggup bergerak. Seluruh tubuhnya mulai terurai dan runtuh. Itu
adalah fase yang terjadi tepat satu langkah sebelum sebuah transformasi besar.
"Hanya
kamu... yang harus... kubunuh terlebih dahulu. Melemahkan kekuatan itu. Karena
hal ini... akan berdampak buruk... bagi Deadora... akh?!"
"Haha."
Baki, sebuah suara kering yang
renyah terdengar bergaung. Ada seorang pria yang kini sedang menginjak kepala
Nuckelavee dengan keras.
Dia
adalah seorang prajurit artileri yang mengenakan baju ziarah merah kehitaman. Tentu
saja, dia adalah Rhyno. Aku sudah menduga dia pasti akan keluar.
"Dialog yang sangat membosankan. Benar-benar
klise, hambar, dan tidak bermutu! ...Bagaimana menurutmu tentang hal ini?"
Bajingan itu menembakkan sebutir peluru artileri
tepat ke arah punggung Nuckelavee.
Nuckelavee spontan mengeluarkan jeritan yang aneh,
dan saat tubuhnya meliuk ke belakang, seluruh geliat tubuhnya yang sempat
terurai tadi seketika terhenti total.
"Dulu kamu pernah memburuku dan berniat
membunuhku. Kamu masih ingat, 'kan?"
"Pack Puck..."
Nuckelavee mengerang lirih.
"Seharusnya... aku juga membunuhmu saat itu. Ini
adalah... kegagalanku. Menjadi... duri bagi kami, akh!"
"Nah,
itu dia. Aku benar-benar kecewa... Kupikir kamu akan menjadi sedikit lebih
bermutu setelah sekian lama. Ini benar-benar sangat membosankan."
Rhyno
menginjak kepala Nuckelavee dengan jauh lebih keras lagi, memaksanya untuk
bungkam.
"Harus ada alasan yang sedikit lebih menarik. Kamu
hanya menilai segala sesuatu berdasarkan efisiensi dan untung rugi dari
Fenomena Raja Iblis secara keseluruhan. Bahkan di saat-saat terakhir seperti
ini pun, kamu sama sekali tidak memiliki rasa benci atau penyesalan,
'kan?"
"Untuk apa... menyimpan perasaan tidak berguna
seperti itu. Aku hanya... menjalankan tugasku."
"Benar juga. Karena itu, aku tidak berniat untuk
menyiksamu ataupun membiarkanmu tetap hidup. Berbeda dengan Spriggan atau Boojam,
kamu sama sekali tidak memiliki daya tarik yang menarik. Oleh karena itu,"
Aku tidak memiliki niat untuk menghentikannya, dan
lagipula tidak ada waktu untuk melakukan hal itu.
Dengan gerakan yang terkesan santai, Rhyno menempelkan
moncong meriam dari zirah artilerinya tepat ke kepala Nuckelavee, lalu
mengaktifkannya.
"Akan kukonsumsi kamu di sini sekarang, sebagai
sedikit sarana hiburan bagiku."
Suara yang terdengar begitu bahagia, seolah-olah sedang
menikmati sepiring makanan manis yang lezat. Benar-benar sesuatu yang
mengerikan dan menjijikkan.
Untuk berjaga-jaga—ya, benar-benar hanya untuk
berjaga-jaga, aku menutup mata Teoritta menggunakan tanganku.
Di saat yang sama, sebuah suara gemuruh yang dahsyat
bergaung, menghancurkan keberadaan Nuckelavee sepenuhnya.
Menerima tembakan artileri dari jarak yang sedekat itu,
tubuh monster tersebut hancur berkeping-keping tanpa menyisakan bentuk aslinya
sama sekali.
Di detik-detik terakhirnya, aku merasa Nuckelavee sempat
membuka lebar ketiga matanya dan gemetar hebat.
"Ah... Terima kasih, Nuckelavee. Ekspresi wajahmu
yang terakhir tadi lumayan menghiburku."
Rhyno menengadah menatap langit, melontarkan kalimat
sarat rasa terima kasih dari mulutnya. Aku merasa ingin mengucapkan satu atau
dua patah kata untuk menyentil seleranya yang teramat buruk itu.
Namun sebelum sempat kulakukan, aku menyadari ada satu
lagi sorot mata yang sedang menatap ke arahku dengan pandangan yang seolah
ingin menuntut penjelasan.
Sosok itu adalah Patausche Kivia.
"Xylo. Sebenarnya ada banyak sekali hal yang ingin
kusampaikan kepadamu."
"Ah, ya."
Aku mengangguk pasrah bagai seorang kriminal yang bersiap
menerima hukuman. Karena aku sudah terbiasa dengan posisi ini, perasaanku
terasa santai-santai saja.
"Aku benar-benar minta maaf. Kamu pasti sudah sangat
kesulitan, 'kan?"
"Benar. Itu adalah sebuah perkara yang teramat
sulit. Karena mengendalikan Pasukan Ksatria Hukuman bukanlah sesuatu yang bisa
dilakukan oleh manusia berakal sehat. Hal yang ingin kusampaikan adalah
mengenai itu."
Tatapan mata Patausche tampak jauh lebih serius dari
biasanya, dan jujur saja, aku merasa sedikit terintimidasi olehnya.
"Kamu jangan terlalu merendahkan dirimu sendiri.
Sikapmu itu sudah terlalu berlebihan hingga tidak bisa dibiarkan lagi."
"Apa maksudmu?"
"Arti kata-kataku sudah sangat jelas. Aku telah
memimpin pasukan ini, merebut garis depan, dan berhasil mencapai titik ini.
Hanya dengan mengandalkan pasukan yang jumlahnya cuma beberapa ratus orang
saja. Dan aku juga berhasil mempertahankan kartu as di hadapan Nuckelavee.
Sebuah pencapaian yang luar biasa, 'kan?"
"Tentu saja."
Aku menyunggingkan senyum kecut. Kupikir ini adalah
sejenis kesombongan yang mirip seperti yang biasa dilakukan oleh Jace. Aku
sendiri juga sesekali suka melakukannya.
"Aku terkejut. Karena kupikir kita masih membutuhkan
banyak usaha keras lagi untuk bisa menumbangkan Nuckelavee."
"Orang yang berhasil melakukan hal itu sekarang
sedang berbicara kepadamu. Xylo Forbartz adalah seorang
komandan yang teramat luar biasa."
"...Kamu."
"Seorang militer yang kemampuannya terpaksa
harus kamu akui sendiri kini sedang memberikan penilaian tinggi kepadamu. Jadi
hentikan sikap merendahkan diri itu sekarang juga. Jangan pernah melakukannya
lagi. Benar-benar... hanya untuk menyampaikan hal ini saja, aku harus melalui
perjuangan yang teramat melelahkan."
Patausche melotot menatapku, mengucapkan kalimat
panjang itu dengan intonasi yang sangat cepat.
"Hanya itu saja hal yang ingin kusampaikan. Kamu
paham?"
Dia bilang dia harus melalui perjuangan yang teramat
melelahkan hanya untuk menyampaikan hal ini kepadaku. Aku seketika dibuat
termangu. Aku bisa merasakan Teoritta pun ikut melongo mendengarnya.
Benar-benar wanita yang luar biasa. Aku bahkan sampai
merasa ingin memberikan hormat ala militer kepadanya.
Begitu rupanya—jika sosok seperti dia sampai berkata
demikian, mungkin aku memang termasuk ke dalam jajaran orang yang lumayan hebat
juga.
◆
Sepertinya masih ada satu hal lagi yang seharusnya
disampaikan saat itu. Patausche Kivia bertanya-tanya di dalam hatinya sendiri.
(Kenapa aku tidak mengatakannya?)
Ini adalah perkara yang berkaitan dengan Xylo Forbartz.
Fakta bahwa pria itu menyimpan perasaan suka terhadap
dirinya adalah sebuah kebenaran yang sudah hampir bisa dipastikan.
Jika tidak demikian, maka ada banyak hal yang menjadi
tidak masuk akal untuk dijelaskan.
Oleh karena itu, dia seharusnya memberikan penolakan
dengan sangat tegas.
Selama masih menyandang status sebagai Ksatria Hukuman,
perasaan semacam itu sama sekali tidak memiliki arti apa-apa—itu adalah sebuah
jawaban yang sangat sederhana.
(Hal ini juga akan memengaruhi moral serta pergerakan
di dalam unit tempur.)
Hubungan emosional semacam itu sama sekali tidak tepat
untuk dipertahankan. Dia merasa harus menyampaikan poin tersebut secara
gamblang dan jelas kepada pria itu.
(Sebenarnya apa yang sedang kulakukan?)
Pertempuran penentuan sudah berada di depan mata.
Sebuah pertarungan yang akan mempertaruhkan kelangsungan hidup umat manusia
melawan Fenomena Raja Iblis telah menunggu mereka.
Perkara tidak penting seperti ini tidak seharusnya
dibawa ke dalam medan perang, dan dia wajib menyelesaikannya sebelum semua itu
dimulai. Terlebih jika kesimpulan yang didapat sudah sangat jelas sejak awal.
Namun, dia ternyata tidak mampu melakukannya.
(Konyol sekali.)
Patausche Kivia tidak sanggup menatap lurus ke arah
dirinya sendiri yang menolak untuk memikirkan jawaban dari akhir kesimpulan
tersebut.
Sebab dia tahu, jika sampai menyadarinya sekarang, dia
pasti akan merasa sangat muak dan teramat kecewa terhadap dirinya sendiri.
Hukuman
Pembersihan
dan Penaklukan Jutan Sanahu Nede 5
Pertempuran di Benteng Itriaf berlangsung sengit
sejak detik pertama dimulai.
Saint, Yulisa Kidafrenny, selalu berdiri di garis
paling depan.
Semuanya bermula dari gempa mblat-mblut yang seolah
mengocok seisi lautan hutan. Dari sisi barat benteng, permukaan tanah perlahan
mulai bergetar hebat dan mendesak naik ke permukaan.
(Sudah datang. Ini adalah Otoritas Dewi Bumi...!)
Melalui serangkaian pertempuran yang telah
dilaluinya, Yulisa mulai memahami garis besar Otoritas Dewi Bumi yang kerap
digunakan oleh Fenomena Raja Iblis, Deadora.
Medan yang dipanggil oleh Otoritas Dewi Bumi bisa
memiliki kecepatan manifestasi yang sangat kontras, tergantung pada ruang yang
menjadi titik fokusnya.
Khususnya, jika di area tersebut terdapat objek yang
menyerupai struktur buatan manusia, kecepatan pemanggilannya akan merosot
drastis.
Tavy pernah menganalisis bahwa ini kemungkinan adalah
bagian dari sistem pengaman yang dipasang oleh manusia zaman purba.
(Komandan Ksatria Suci Views juga pernah bilang.
Alasan kenapa Deadora tidak bisa menghancurkan benteng atau kota secara
langsung, salah satunya pasti karena hal ini. Kalau dia bertindak terlalu
lambat, posisinya akan terlacak dan dia bisa langsung diserang.)
Karena itulah, Deadora terlebih dahulu memanggil
hutan lebat ini untuk menyembunyikan eksistensinya sebelum melancarkan
serangan.
Ditambah lagi, skala serangannya jauh lebih masif
dari yang diperkirakan.
Yulisa menyaksikan sendiri ribuan Fairy Abnormal yang
merangsek maju bagaikan longsoran salju.
Jika situasinya sudah seperti ini, mereka tidak bisa
lagi bertahan dan bertarung di dalam benteng.
Secara jumlah pasukan, mereka mungkin masih
berimbang—dan jika mereka bisa bertarung dari dalam benteng, mereka pasti bisa
memukul mundur musuh dengan mutlak.
Namun, benteng tersebut kini sedang berusaha
dihancurkan. Biarpun Yulisa bisa membangun kembali benteng itu dengan otoritas
miliknya, kerugian yang ditimbulkan tetap akan terlalu besar.
Mereka harus keluar ke medan laga dan menghabisi
Fenomena Raja Iblis Deadora. Tentunya, secepat mungkin.
"Maju!"
Yulisa meneriakkan instruksi yang sudah tak terhitung
berapa kali diucapkannya. Sebuah kata yang sederhana.
Sebuah perintah yang memaksa semua orang untuk
bertaruh nyawa. Terkadang, dia merasa ngeri sendiri mendapati dirinya yang
mulai terbiasa dengan hal itu.
Meski begitu, Yulisa tetap memacu kudanya di posisi
paling depan. Dengan berdiri mendahului siapa pun, dia merasa perbuatannya
barusan bisa sedikit dimaafkan.
"Pukul mundur mereka! Fenomena Raja Iblis
Deadora pasti akan kutumbangkan dengan tanganku sendiri!"
Sembari berseru lantang, dia mengayunkan pedangnya
dan memacu kudanya kencang.
"……Dinding, datanglah……!"
Ujung pedang yang diayunkannya memercikkan cahaya
samar, memanggil barisan dinding kastel ke dunia nyata.
Struktur itu langsung menjadi tempat berlindung bagi
sekutu sekaligus menjadi barikade yang memecah barisan musuh.
Dan yang terpenting, keberadaan dinding ini bahkan
sanggup menghambat perubahan medan yang dilakukan oleh Fenomena Raja Iblis
Deadora sampai batas tertentu.
"Pasukan Infanteri Pertama dan Kedua, ikuti aku!
Pasukan Ketiga, tetap di posisi kalian!"
Tavy melontarkan serangkaian perintah dengan sangat
cepat.
Jika situasinya sudah berubah menjadi pertempuran
semrawut, urusan instruksi mendetail seperti ini memang hanya bisa diserahkan
kepada Tavy.
Yulisa sendiri sudah sangat kewalahan hanya untuk fokus
melakukan pemanggilan.
Jika dipikir-pikir, peran Tavy sudah hampir seperti sosok
Ksatria Suci bagi Yulisa.
Dia adalah perisai yang melindungi Yulisa dari gempuran
musuh, sekaligus tombak yang menggerakkan pasukan untuk mengancam lawan.
(Apakah Dewi Dinding Kastel, Senerva, dan Xylo Forbartz
dulu juga memiliki hubungan yang seperti ini?)
Sebuah fantasi tak berdasar mendadak melintas di
benaknya—namun itu hanya bertahan selama beberapa detik saja.
Di hadapannya kini ada musuh yang harus dihadapi, dan
pertempuran yang harus dimenangkan. Tavy kembali berteriak lantang.
"Ada Fairy Abnormal berukuran raksasa!
Kairak, jumlahnya sepuluh ekor!"
Kairak adalah monster Fairy Abnormal yang berasal dari
mutasi binatang herbivora besar.
Menilik dari ukuran tubuhnya, makhluk ini membutuhkan
tumbal yang teramat banyak hanya untuk mempertahankan eksistensinya.
Terlebih di dalam lautan hutan seperti ini, pergerakannya
seharusnya akan sangat terbatas.
Fakta bahwa musuh mendatangkan sepuluh ekor sekaligus di
garis depan dan langsung merangsek maju membuktikan bahwa mereka sudah tidak
main-main sejak awal.
Yulisa bisa merasakan kegoyahan dari barisan sekutunya.
Dia pun langsung mengerahkan seluruh kekuatan suaranya.
"Jangan gentar. Hadapi mereka!"
Yulisa secara bertahap mulai memperdalam pemahamannya
tentang objek apa saja yang sebenarnya bisa dipanggil oleh Dewi Dinding Kastel.
Setiap bangunan arsitektur sejatinya memiliki
karakteristik bawaan yang menyertainya. Yulisa terus mengasah dirinya agar bisa
memanfaatkan karakteristik tersebut untuk kepentingan ofensif.
(Misalnya——seperti ini. Kalau musuhnya berukuran besar!)
Yulisa kembali mengayunkan pedangnya, memercikkan cahaya
terang.
"Menara Lancip……, datanglah……!"
Aura angin mendadak terasa berpusar hebat. Beberapa
menara lancip mencuat dari dalam tanah seolah-olah tumbuh secara instan.
Itu adalah menara berbahan besi dengan ujung yang
meruncing tajam layaknya sebuah tombak.
Struktur itu langsung menusuk beberapa Kairak yang sedang
menyeruduk maju, menewaskan mereka dalam satu hantaman telak.
Sisanya terpaksa menghentikan laju karena terhalang
menara dan saling bertabrakan satu sama lain——pada akhirnya, hanya ada sekitar
tiga ekor saja yang berhasil lolos tanpa luka. Jika jumlahnya cuma segitu,
mereka masih bisa diatasi dengan mudah.
(Sebelumnya, aku tidak akan pernah bisa melakukan hal
seperti ini. Kekuatanku sudah menjadi lebih besar……)
Ini bukan sekadar masalah pembiasaan diri semata. Yulisa
tahu betul bahwa ini adalah berkat andil dari kekuatan Ragi Ensegref.
Baju Ziarah Suci milik keluarga kerajaan Met yang
menyerap cahaya matahari dan menyalurkan kekuatan bagi pemakainya ini terbukti
memiliki performa yang jauh lebih kuat dari perkiraan.
"Pasukan Artileri! Tembak serentak!"
Mengikuti aba-aba Tavy, para prajurit artileri yang
dibalut Zirah Meriam putih bersih langsung melepaskan tembakan mereka secara
bersamaan.
Suara gemuruh dan kilatan cahaya seketika meledak.
Sebuah dampak dahsyat yang seolah mampu melenyapkan
sebagian dari lautan hutan——berhasil menyapu bersih sisa-sisa Kairak tanpa
sisa.
Sembari menerobos kepulan asap yang membubung tinggi,
pasukan Yulisa terus merangsek maju. Pasukan Ksatria Suci terus meneriakkan
seruan perang mereka. Moral pasukan jelas sedang berada di puncaknya. Dengan
momentum sebesar ini, peri-Fairy Abnormal berukuran kecil yang berkerumun di
sekitar mereka sama sekali bukan tandingan yang berarti.
"Terobos barisan mereka! Semuanya, jangan sampai
tertinggal!"
Yulisa mengayunkan pedangnya, memimpin di depan untuk
menerjang kerumunan musuh.
Bilah pedangnya mencabik-cabik sesosok Fuath, sementara
seekor Goblin langsung terkapar akibat terhantam tapak kaki kudanya.
Tavy dan unit pengawal terus mengikutinya dari belakang.
Seolah mendapat dorongan dari keberadaan mereka, Yulisa terus memacu dirinya ke
depan.
(Tangguh juga.)
Pikirnya. Perlawanan dari pihak musuh ternyata jauh lebih
sengit dari yang diduga.
(Ini akan menjadi pertarungan adu otot. Aku harus mencari
celah untuk meruntuhkan formasi mereka.)
Dia mulai bisa mengambil keputusan taktis semacam itu.
Tugasnyalah untuk menciptakan momentum peruntuhan tersebut.
Dia harus jeli melihat titik terlemah musuh dan
menjadikannya sebagai jalur penerobosan.
Dia harus segera menyelesaikan ini dalam satu sentuhan
melalui pemanggilan skala besar.
"Pasukan Infanteri Pertama balik arah, Pasukan Kedua
tetap bertahan di posisi. Unit Tombak Petir, tembak!"
Tavy terus melontarkan perintah dengan tempo yang sangat
cepat. Unit Tombak Petir adalah pasukan khusus yang menggunakan tombak-tombak
pendek yang telah diukiri Segel Suci.
Senjata itu dilontarkan menggunakan mesin peluncur
khusus. Meski masih berstatus sebagai senjata eksperimental, tombak yang
tertancap di tanah mampu melepaskan sengatan listrik dalam jangkauan luas.
Efek sengatan petir ini juga memiliki durasi bertahan
yang lumayan lama.
Tombak Petir sangat efektif untuk memberikan perlindungan
bagi pasukan sekutu yang sedang menarik diri.
Senjata ini tidak bisa digunakan saat melancarkan ofensif
karena berisiko ikut menyengat pasukan kawan yang sedang melakukan serbuan.
"Pasukan Ketiga, masuk dari sayap kiri!
Lindungi Saint!"
Tavy mengeksekusi perannya dengan sangat sempurna. Yulisa
merasa dirinya juga harus bisa berkontribusi lebih.
(Di mana? Di mana celah musuh…… pasti ada di suatu
tempat……!)
Yulisa memfokuskan seluruh indranya pada pergerakan
musuh. Dia berkali-kali menerjang untuk mencari celah, lalu menarik diri
kembali saat gagal meruntuhkan pertahanan lawan.
Di sela-sela proses itu, getaran tanah secara bertahap
justru menjadi semakin kuat.
Perasaannya mulai didera kepanikan. Jika dia tidak segera
menghabisi Deadora, benteng mereka bisa hancur berantakan.
(Benar——aku
harus membunuh Deadora.)
Itulah
tugas yang harus dia penuhi. Semua orang menaruh harapan besar padanya. Yulisa
merasakan beban ekspektasi itu hingga ke lubuk hatinya yang terdalam.
Setiap kali dia memimpin serbuan atau memanifestasikan
Otoritas miliknya, dia selalu bisa merasakan sorot mata dari para prajurit yang
tertuju padanya.
Itu bukan lagi sekadar rasa percaya, melainkan sudah
mendekati sebuah kultus pemujaan. Bahkan ada beberapa orang yang sampai membuat
gestur Segel Suci Besar sambil menengadah menatapnya.
Karena itulah, dia tidak boleh mundur di sini. Yulisa
terus memanggil dinding kastel dan menara lancip secara beruntun, mengikis
jumlah musuh sedikit demi sedikit.
(Masih belum runtuh juga? Musuh benar-benar bertarung
dengan serius. Tapi, aku juga tidak akan kalah……!)
Yulisa kembali mengangkat tinggi pedangnya, bersiap untuk
melancarkan serbuan yang kesekian kalinya.
Sedikit lagi. Dia merasa baru saja melihat adanya titik
kekacauan di dalam kerumunan musuh.
——Mungkin karena terlalu fokus pada hal itu, dia menjadi
sedikit terlambat untuk menyadari ancaman yang mengintai.
"Nona Yulisa!"
Seseorang berteriak kencang. Dia adalah salah satu
anggota dari unit pengawal. Wajahnya tampak menghitam akibat cipratan darah
musuh.
"Di belakang kita! Fenomena Raja Iblis——Deadora ada
di sana!"
Yulisa berbalik dan langsung menyaksikan pemandangan
tersebut.
Permukaan tanah tampak hancur berantakan. Suara gemuruh
bumi yang dahsyat layaknya sambaran petir terus bergaung secara berantai.
Sebuah pemandangan yang terasa sangat tidak nyata. Tanah
yang runtuh dengan cepat menelan pasukan yang berada di garis belakang.
(Bagaimana bisa dia muncul di belakang——tidak, bukan
begitu.)
Dia sudah melangkah terlalu jauh ke depan. Tanpa
disadari, jarak antara dirinya dan pasukan belakang sudah terlampau renggang.
Dengan merangsek maju sendirian sambil terus
memamerkan kekuatan pemanggilan secara masif seperti ini, itu sama saja dengan
mengumumkan posisinya dengan berteriak lantang kepada musuh.
Ini adalah sebuah blunder yang sangat fatal. Yulisa
meratapi kebodohannya sendiri.
(Panas.)
Yulisa merasa tubuhnya mendadak menjadi sangat panas. Dia
mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa rasa panas ini timbul akibat luapan
rasa bersalah——namun, dia merasa sensasi ini berasal dari sesuatu yang lain.
"Aku yang akan pergi! Aku akan menghabisi Fenomena
Raja Iblis Deadora!"
Sosok yang menyerang pasukan belakang mereka. Deadora
sudah pasti berada di antara kerumunan itu.
"Bahkan jika harus menukarnya dengan nyawaku
sendiri, aku pasti akan memusnahkannya!"
Yulisa memacu kudanya secepat kilat. Bahkan jika harus
mengorbankan nyawanya sendiri. Dia merasa hanya dengan cara itulah taruhannya
baru bisa dianggap setimpal.
(Begitu rupanya……)
Pada saat itulah, Yulisa akhirnya menyadari sesuatu.
Perasaan membara yang bergejolak di dalam dadanya ini sama sekali bukan berasal
dari rasa bersalah.
Melainkan rasa malu.
Hanya sebatas itu, pikirnya dengan perasaan mencemooh
diri sendiri.
Untuk ukuran seseorang yang telah menggiring ratusan
hingga ribuan nyawa menuju gerbang kematian, emosi yang dimilikinya ini
benar-benar terasa teramat picik dan dangkal.
Sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang Saint.
Sesuatu yang tidak akan pernah bisa dia ceritakan kepada siapa pun.
Seolah ingin meremukkan emosi tersebut, Yulisa
mencengkeram gagang pedangnya dengan sangat erat.
(Lebih kuat lagi.)
Dia membutuhkan metode pemanggilan yang jauh lebih
agresif dan destruktif.
(Lebih
kuat lagi…… berikan aku sesuatu yang bisa memusnahkan musuh!)
Yulisa merasakan denyut nyeri yang teramat sangat di mata
kanannya.
Mata kanan milik Dewi Senerva memperlihatkan sebuah
lanskap dari dunia lain kepada Yulisa.
Di antara deretan arsitektur bangunan yang tak terhitung
jumlahnya, Yulisa akhirnya berhasil menemukan sebuah struktur yang dirancang
khusus untuk menggempur dan memusnahkan musuh.
Struktur itu memancarkan aura kekuatan yang teramat
mengerikan dan terkutuk, namun Yulisa sudah tidak peduli lagi.
(Jangan ragu.)
Ini akan menjadi sebuah proses pemanggilan dalam skala
yang teramat masif.
Dia harus mengerahkan seluruh sisa kekuatan yang
dimilikinya tanpa sisa.
(……Dewi Senerva. Pinjamkan aku kekuatanmu.)
Dan dengan begitu, sang Saint Yulisa Kidafrenny, memanggil sebuah
neraka yang membara merah ke dunia nyata.
◆
——Sifrit Zual, anggota dari Unit Pengawal Pertama Pasukan
Ksatria Suci, menyaksikan fenomena tersebut dari jarak yang sangat dekat.
Beberapa struktur yang menyerupai menara raksasa berwarna
merah menyala mendadak mencuat tinggi dari dalam tanah.
Struktur itu tampak dilapisi oleh cairan magma yang siap
membakar siapa saja yang mendekat dan melelehkan apa pun yang menyentuhnya.
(Makhluk apa sebenarnya ini……!)
Kilatan cahaya merah tampak merambat cepat di bawah kaki
kerumunan musuh. Itu adalah sebuah retakan besar.
Permukaan tanah seketika ambles ke bawah. Ini sama sekali
bukan proses pemanggilan medan yang biasa dilakukan oleh Dewi Bumi.
Ini adalah sesuatu yang dipanggil oleh Yulisa. Sebuah struktur bangunan buatan manusia.
Jika dilihat dari bentuknya, struktur itu tampaknya
adalah sebuah tungku peleburan raksasa yang teramat mengerikan. Sebuah tungku
yang ukurannya terlampau masif hingga sanggup menelan bulat-bulat seisi
benteng.
Namun, auranya terasa sangat terkutuk.
Jika struktur ini memang benar-benar sebuah tungku
peleburan, lalu benda raksasa macam apa yang sebenarnya ingin dilelehkan di
dalamnya?
Dari balik celah retakan yang menyala merah, Sifrit
sekilas seperti melihat adanya bayangan seekor binatang raksasa yang mendekam
di dasar bumi.
Namun, pemandangan itu hanya bertahan selama sekejap mata
saja.
Sembari menyemburkan kobaran api, cairan batu dan besi
yang meleleh mulai meluap keluar dari balik retakan tanah tersebut.
(Ini sudah seperti neraka.)
Salah satu representasi dunia bawah yang sering
dikhotbahkan di dalam kuil.
Sebuah tungku api yang digunakan untuk menempa kembali
jiwa-jiwa manusia yang penuh dengan dosa.
Apakah Saint Yulisa baru saja memanggil tempat terkutuk
semacam itu?
Tidak ada penjelasan lain yang lebih masuk akal——atau
mungkin, bentuk dari tungku peleburan dari dunia lain yang tidak diketahui
memang memiliki rupa yang seperti ini.
Kobaran api dan hawa panas tampak berpusar hebat,
meluncurkan pilar-pilar api ke udara seiring dengan meluapnya cairan magma ke
permukaan.
Kawanan Fairy Abnormal langsung tertelan oleh luapan
magma tersebut, memekikkan jeritan histeris sebelum akhirnya tewas mengenaskan.
Dari balik kekacauan itu, sesosok bayangan tampak
melompat keluar.
Menggunakan gundukan tanah yang mencuat naik sebagai
pijakan, sosok itu melesat cepat——seorang gadis berambut putih dengan sepasang
tanduk kambing di kepalanya.
"Ah.
……Jadi kamu orangnya."
Yulisa
menengadah menatap sosok tersebut, berucap dengan nada suara yang terdengar
parau bagai geraman serigala. Mata kanannya tampak mengalirkan sekaum
darah segar.
"Fenomena Raja Iblis, Deadora!"
Sosok di hadapannya sama sekali tidak memperkenalkan
namanya.
Selain keberadaan sepasang tanduk kambing di kepalanya,
penampilannya secara garis besar sama sekali tidak berbeda dengan seorang gadis
manusia biasa.
Meski begitu, Yulisa tampaknya memiliki semacam keyakinan
mutlak mengenai identitas aslinya.
Merespons ucapan tersebut, Deadora diyakini langsung
melepaskan sebuah lengkingan teriakan yang sangat nyaring.
Sifrit sendiri tidak bisa mengingat dengan jelas rentetan
kejadian setelahnya.
Sebab, benturan kekuatan antara dua entitas Dewi yang
teramat masif itu langsung memicu terjadinya amukan badai dalam skala yang
sangat mengerikan.
Orang-orang yang berada di sekitar Yulisa langsung ikut
terlempar akibat terkena dampak dari benturan tersebut.
"Maju, Deadora!"
Tepat saat Yulisa mengayunkan pedangnya, sebuah pilar
magma seketika menyembur keluar bersamaan dengan percikan cahaya terang.
"Kamu——Saint! Jangan terus-terusan mengganggu
urusanku!"
Teriakan Deadora kali ini terdengar dengan sangat
jelas di telinga semua orang.
"Aku bukan Brigid. Sekarang, giliran akulah yang
memegang kendali!"
Makna dari kalimat itu tidak dapat dipahami, namun
satu hal yang pasti adalah sosok tersebut menyimpan rasa benci yang teramat
mendalam terhadap Yulisa.
Begitu Deadora mengusap udara kosong, sebuah tebing
tinggi langsung termanifestasi untuk menahan gempuran pilar magma, dan di saat
yang sama, sebuah air terjun raksasa yang menderu kencang mendadak tercipta.
Saat aliran air yang deras itu meluap dan menghantam
pilar magma, benturan tersebut langsung memicu terbentuknya kepulan uap air
yang sangat pekat di udara.
Saat Yulisa memanggil dinding kastel untuk menahan
laju aliran air terjun, Deadora meresponsnya dengan memanggil gundukan bukit
untuk melompati barikade tersebut.
"Datanglah. Menara Tombak……, Paviliun
Besi……!"
"Benar-benar, selalu saja begini!
Memangnya kamu tidak punya pekerjaan lain selain
menggangguku, hah?!"
Struktur menara lancip serta paviliun besi berbahan
logam tampak saling berbenturan keras dengan pepohonan raksasa dan tebing
tinggi yang mencuat ke permukaan.
Di sela-sela rentetan serangan itu, ada satu momen di
mana keduanya sempat saling memangkas jarak hingga sangat dekat.
Yulisa melayangkan hantaman pedangnya, sementara Deadora
mengayunkan lengan kirinya yang meliuk lentur bagaikan seutas cambuk.
Benturan fisik itu membuat keduanya sama-sama terlempar
mundur ke belakang.
Sifrit dan para prajurit lainnya hanya bisa terpaku
menyaksikan jalannya pertempuran yang berlangsung dengan tempo yang sangat
cepat tersebut.
Situasinya sama sekali tidak memungkinkan bagi mereka
untuk sekadar menggerakkan tubuh.
"Lindungi! Saint!"
Tavy terus meneriakkan perintahnya dengan lantang, namun
ini jelas bukan jenis pertempuran yang bisa diintervensi oleh prajurit biasa.
(Kekuatan pemanggilan mereka berdua berada di tingkat
yang setara——tidak, tunggu dulu.)
Jumlah menara lancip yang dipanggil oleh Yulisa perlahan
mulai melampaui kuantitas pepohonan raksasa milik Deadora.
Dan yang terpenting, keberadaan retakan tanah bercahaya
merah yang merambat di permukaan bumi serta semburan pilar api yang keluar dari
dalamnya terbukti sukses membatasi ruang gerak Deadora untuk menghindar.
(Pemanggilan struktur buatan manusia melawan
pemanggilan bentuk medan bumi. Ditinjau dari struktur kekuatan Dewi, objek
buatan manusia ternyata jauh lebih diuntungkan……!)
Untuk bisa menghancurkan struktur buatan manusia
dengan hanya mengandalkan bentuk medan alami, seseorang membutuhkan konsumsi
kekuatan yang jauh lebih besar.
Berkat keunggulan absolut tersebut, rentetan serangan
Yulisa kini mulai berhasil mengenai tubuh Deadora.
Bentuk menara yang dipanggil oleh Yulisa juga
perlahan mulai mengalami perubahan struktur——berubah wujud menjadi bentuk yang
ganjil dan meliuk menyerupai sepasang tanduk spiral.
Itu adalah sebuah bentuk modifikasi yang dirancang
khusus untuk memburu dan menusuk Deadora yang sedang melompat di udara.
"——Guh, ugh."
Setelah melalui serangkaian adu mekanik dalam skala
masif, Deadora akhirnya kehilangan keseimbangannya.
Salah satu menara lancip yang dipanggil Yulisa
berhasil menutup jalur pelariannya di udara, mencabik kulit tubuhnya dalam
jarak yang teramat tipis.
Yulisa tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas
ini.
"Wahai menara lancip."
Yulisa berbisik lirih sembari mengarahkan ujung pedangnya
tepat ke arah Deadora.
"Tusuk dia! Jangan biarkan dia meloloskan
diri!"
Puluhan menara lancip seketika termanifestasi secara
beruntun, menciptakan sebuah serangan yang mustahil untuk dihindari.
Sifrit menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri
bagaimana salah satu menara berhasil menusuk telak bagian pinggang Deadora,
memaksa gadis itu untuk memamerkan ekspresi wajah yang teramat menderita.
Yulisa terus memanggil menara lancip secara bertubi-tubi,
memojokkan Deadora ke dalam situasi yang semakin terjepit.
Setiap kali menara-menara itu menggores tubuhnya, jumlah
luka di tubuh Deadora terus bertambah dengan sangat cepat. Dalam sekejap mata,
seluruh tubuh monster itu telah berselimutkan luka.
"Maju.
Belum selesai…… Maju!"
Sebuah
kilatan cahaya yang sangat terang mendadak meledak di udara.
Bilah-bilah
menara lancip tanpa ampun langsung menusuk tubuh Deadora, mengunci posisinya
hingga tergantung kaku di udara.
"——Kamu——pasti akan——kubunuh. Fenomena Raja Iblis
Deadora!"
Intonasi suara Yulisa terdengar seperti memuat kombinasi
antara rasa benci yang mendalam sekaligus luapan euforia yang menggebu-gebu.
Pilar api raksasa seketika menyembur keluar, menelan
bulat-bulat tubuh Deadora yang berada di dalamnya.
Diiringi oleh lengkingan jeritan yang memekakkan telinga,
tubuh Deadora yang telah hangus terbakar dan telanjur tertusuk menara tampak
menggeliat hebat menahan rasa sakit.
"Mati kamu."
Yulisa berniat untuk segera melancarkan satu serangan
pemungkas yang mematikan.
Kemungkinan besar, sebuah proses pemanggilan lain yang
memiliki daya hancur yang jauh lebih masif dari sebelumnya.
Dari balik permukaan tanah yang hancur, sebuah pancaran
cahaya merah kehitaman mulai mengintip keluar.
Pada detik itulah, Deadora melepaskan sebuah pekikan
suara yang teramat aneh.
"GI, IIIIIIIIIIII——IIIIIIIIIIIIII!"
Sebuah lengkingan suara yang terdengar mengerikan
bagaikan suara besi yang patah secara paksa.
Deadora nekat menarik tubuhnya dengan sangat ekstrem
hingga terlepas dari tusukan menara lancip, mencabik-cabik daging tubuhnya
sendiri dalam prosesnya.
Mengingat tindakan nekat yang dilakukannya, mustahil bagi
tubuhnya untuk bisa lolos tanpa cedera——namun, bagian tubuhnya yang telah
hancur mendadak merekah lebar menyerupai sepasang sayap.
Tanpa membuang waktu, dia langsung mengepakkan sayapnya
dan terbang tinggi ke angkasa, melesat cepat menuju ke arah utara.
"Tunggu!"
Menara lancip meliuk yang dipanggil oleh Yulisa mencoba
untuk mengejar jalur pelarian Deadora.
Namun tepat ketika dia menjulurkan pedangnya dan kilatan
cahaya mulai berkedip-kedip tak menentu, tubuh Yulisa mendadak mengalami kejang
hebat.
Seluruh menara lancip yang dipanggilnya seketika berubah
warna menjadi cokelat karat sebelum akhirnya runtuh dan hancur berantakan.
Tidak hanya itu, seluruh objek arsitektur yang telah
dimanifestasikannya ke dunia nyata juga ikut lenyap tanpa sisa.
"Nona Saint!"
Tavy langsung berlari kencang menghampirinya. Sifrit bisa
melihat darah segar yang kini mengalir deras dari mata kanan serta hidung
Yulisa.
Akibat benturan kekuatan yang terlampau dahsyat dan
ekstrem tadi, Sifrit memang tidak bisa melihatnya dengan jelas, namun Yulisa
tampaknya juga telah menerima luka dalam yang cukup serius.
Kondisinya sudah hampir bisa dikatakan berselimutkan
darah. Baju Ziarah Suci putih bersih Ragi Ensegref yang dikenakannya
kini telah berubah warna menjadi merah kehitaman akibat pekatnya noda darah.
Pedang yang digenggamnya pun telah patah menjadi dua bagian dari tengah.
Dan yang paling mengerikan adalah ekspresi wajahnya.
Sisi sebelah kanan wajahnya tampak retak-retak mengerikan.
(Sebuah kemenangan——kurasa begitu. Saint Yulisa telah
memenangkan pertarungan ini.)
Deadora berhasil dipukul mundur. Kawanan Fairy Abnormal
yang tersisa kini dilanda kepanikan massal dan mulai melarikan diri dari medan
laga, sementara Benteng Itriaf pun berhasil dipertahankan dengan aman tanpa
kerusakan berarti.
(Tapi, kalau melihat penampilannya yang sekarang)
Sifrit menatap profil wajah Yulisa dari samping. Di balik
retakan yang menghiasi sisi kanan wajahnya, sekilas tersungging sebuah senyuman
yang teramat ganjil dan mengerikan.
Sama sekali tidak mencerminkan rupa seorang Saint——penampilannya
dari samping kini tidak lebih dari rupa seekor monster yang mengerikan.
Kemungkinan besar, semua orang yang berada di tempat ini
juga memikirkan hal yang sama.
Meskipun mereka baru saja meraih kemenangan mutlak, semua
orang justru didera rasa takut yang teramat sangat saat menatap sosok Saint
Yulisa.
"……Kemenangan……
adalah milik kita. Kita menang…… Aku, telah berhasil melindungi kalian semua……
dari ancaman Fenomena Raja Iblis Deadora……"
Dengan intonasi suara yang terdengar parau dan habis, Yulisa berbalik menatap pasukannya, seolah sedang memohonkan sebuah pengakuan dari mereka semua.
"Aku sudah memenuhi harapan kalian semua. ……Benar,
'kan?"
Ada nada suara yang terdengar seperti sebuah permohonan
pasrah dari sana.
──Pada akhirnya, retakan yang menghiasi sisi sebelah
kanan wajah Saint Yulisa tidak pernah bisa kembali seperti semula.
Jumlah prajurit yang tewas mengenaskan akibat ikut
tertelan ke dalam pusaran pertempuran antara Yulisa Kidafrenny melawan Deadora,
mencapai angka seribu orang.
Hukuman
Akhir dari
Pembersihan dan Penaklukan Jutan Sanahu Nede
Di Benteng Itriaf, hari-hari yang teramat panas terus
berlanjut tanpa henti.
(Suhu udara mendadak melonjak naik.)
Ditambah lagi, hawanya sangat pengap dan lembap—membuatku
benar-benar merasa muak.
Di wilayah Mastivolt tempatku menghabiskan masa kecil
dulu, cuaca seperti ini tidak pernah ada. Biarpun sama-sama musim panas, hawa
panas di sana entah mengapa terasa jauh lebih kering.
(Benar-benar tidak bisa terbiasa. Hawa
panas di sini membuatku sesak napas.)
Awal musim panas telah berlalu, dan kini mereka sudah
hampir memasuki puncak musim panas yang sesungguhnya.
Rencana ofensif menuju Puncak Spiral bisa dikatakan telah
mencapai fase final. Di ujung paling utara lautan hutan, Views dan yang lainnya
telah berhasil membangun satu lagi pangkalan militer baru.
Dan semua persiapan ini, seharusnya akan segera rampung
dalam waktu dekat.
"Sebentar lagi, pertempuran penentuan akan dimulai,
ya."
Karena tidak memiliki pekerjaan untuk sementara waktu,
aku menjadi cukup sering melangkahkan kaki menuju ke kandang naga.
Keberadaan Jace di sana sebenarnya agak merepotkan, namun
suasana di dalam kandang naga terasa sangat sejuk.
Itu karena ruangan tersebut didinginkan menggunakan Segel
Suci khusus pendingin ruangan.
Lagipula, jika ingin membicarakan masalah taktik
pertempuran untuk ke depannya, Jace adalah sosok lawan bicara yang paling
ideal.
Dalam pertarungan memperebutkan Puncak Spiral nanti,
bajingan inilah yang akan memegang peran paling krusial.
"Bagaimana
menurutmu tentang hal itu?"
Aku mencoba melemparkan pertanyaan kepada Jace.
"Perkara yang itu. Fenomena Raja Iblis Odin, 'kan?
Kudengar dia itu kuatnya bukan main?"
"Sangat kuat. Tapi, aku dan Neely pasti akan
menang."
Sembari membersihkan leher Neely menggunakan sebuah
sikat, Jace menyahut dengan intonasi ketus seperti biasanya.
"Kekhawatiranmu itu sama sekali tidak berguna
bagiku."
"Kuharap juga begitu. Lagipula, kenapa cuma Fenomena
Raja Iblis Odin saja yang kalian waspadai sampai sebegininya?"
Ini adalah perkara yang sudah membuatku penasaran sejak
lama.
Pria yang selalu sesumbar bahwa dirinya dan Neely adalah
kombinasi terkuat ini, entah mengapa menjadi sangat sensitif jika sudah
menyangkut perkara Fenomena Raja Iblis Odin.
Tingkat kewaspadaannya bahkan sudah berada di taraf yang
agak tidak wajar.
"Sebenarnya Otoritas seperti apa yang dimiliki oleh
Odin?"
"Dia bisa mengukirkan Segel Suci ke tubuh para Fairy
Abnormal. Bukankah aku sudah pernah mengatakannya kepadamu dulu?"
Jace menghentikan gerakan tangannya yang sedang
memandikan Neely, lalu menatapku dengan pandangan yang seolah mengisyaratkan
bahwa aku ini sangat merepotkan.
Neely sendiri tampak mendengus pelan seolah sedang
menertawakan situasiku.
"Odin juga menerapkan metode itu pada tubuhnya
sendiri. Sederhananya, dia itu sudah seperti sebuah kapal perang terbang yang
dipenuhi oleh jajaran Senjata Segel Suci. Kita harus memikirkan cara untuk bisa
mendaratkan serangan sembari menerobos pertahanan dan gempuran masif miliknya.
Diperlukan strategi khusus untuk itu——karena itulah,"
Jace mengarahkan ujung sikatnya tepat ke wajahku.
"Kami tidak akan sempat untuk mengurus perkara
kalian. Selain Fenomena Raja Iblis Anis, keberadaan entitas bernama Tao Wu dan
Balor juga sudah bisa dipastikan. Lebih baik kamu mengkhawatirkan nasib kalian
sendiri menghadapi mereka."
"Mereka yang disebutkan oleh unit investigasi kuil
itu, ya."
Khusus untuk nama Tao Wu, aku justru mengetahuinya dengan
teramat sangat baik hingga ke taraf yang tidak tertolong lagi.
Dialah bajingan yang telah memusnahkan Wilayah Forbartz,
tepat sebelum aku diangkat anak oleh keluarga Mastivolt.
Bahkan sampai sekarang, aku tidak bisa menampik adanya
luapan rasa takut yang merayapi dadaku setiap kali mendengar nama itu gaungkan.
Dia adalah sosok utama dari Fenomena Raja Iblis yang
memegang Otoritas 'Pusaran', kekuatan terkutuk yang sanggup memuntir dan
menghancurkan apa saja——bahkan permukaan bumi sekalipun.
Akibat ulah bajingan ini, Wilayah Forbartz tetap menjadi
sebuah tanah mati yang tidak bisa ditinggali oleh manusia hingga detik ini.
Lalu untuk Fenomena Raja Iblis bernama Balor, kudengar
dia memiliki kemampuan khusus yang sanggup mengunci pergerakan siapa saja yang
masuk ke dalam jarak pandang matanya.
Jika kedua makhluk ini sampai bekerja sama untuk
melancarkan serangan, mereka akan menjadi sebuah ancaman yang teramat
mengerikan.
Dan yang terpenting dari semuanya, tentu saja adalah
Fenomena Raja Iblis Anis.
Ditambah lagi, di sana masih ada sosok misterius bernama
Yukihito yang hingga kini belum diketahui identitasnya, dan juga keberadaan Boojam.
Nuckelavee memang telah berhasil dihabisi dan Deadora
dikabarkan menderita luka yang sangat serius, namun ironisnya, Empusa justru
dilaporkan berhasil menarik diri dengan selamat dari medan laga.
(Views bajingan, jangan-jangan kamu sengaja membiarkan
Empusa meloloskan diri.)
Maksudku, dia sengaja melakukannya hanya untuk
mempersulit posisiku.
Namun, pria kaku seperti dia mana mungkin sudi melakukan
perbuatan tidak berguna semacam itu, dan lagipula dia tidak mungkin mengetahui
seluk-beluk permasalahanku.
Dia pasti memiliki intensi khusus lain hingga memilih
untuk melepaskannya.
Pendek kata, tumpukan masalah yang harus dihadapi masih
menggunung setinggi langit.
Meski begitu, aku sendiri tidak terlalu merasa
khawatir. Tentu saja, aku memiliki alasan tersendiri untuk itu.
"Urusan di darat pasti akan bisa diatasi. Views
sudah dikonfirmasi akan memegang kendali penuh atas komando pertempuran."
Bukannya aku menganggap Views sebagai sosok manusia
terkuat di dunia atau semacamnya. Aku juga sama sekali tidak menaruh rasa
percaya kepadanya.
Hanya saja, fakta bahwa Panglima Tertinggi Galtuille yang
bernama Marcolas Esgain telah ditarik mundur dari posisi komando garis depan
adalah sebuah berita yang teramat mengembirakan.
Keputusan mundur yang diambilnya dari Kota Artileri
Noafan kabarnya memicu gelombang kecaman yang sangat masif dari kalangan
bangsawan serta perwira militer yang sejak awal memang berada di faksi
anti-Esgain.
Seorang Panglima Tertinggi justru lari terbirit-birit
karena didera rasa takut terhadap Fairy Abnormal. Begitulah rumor miring yang
kini beredar luas di masyarakat.
Akibat sentimen negatif tersebut, Esgain tampaknya
menjadi enggan untuk terlibat langsung dalam urusan komando di pertempuran
penentuan nanti.
Jika dia sampai melakukan blunder lagi, performanya
pasti akan langsung dibanding-bandingkan dengan Views atau Saint. Dia sangat
membenci opsi itu.
Pada akhirnya, Esgain yang menjabat sebagai Panglima
Ekspedisi akan berjaga di garis belakang.
Sementara Views dan Saint akan berdiri di komando
garis depan.
Pembagian peran akhirnya diputuskan menjadi seperti
itu. Mengetahui fakta bahwa dia masih sempat-sempatnya mengincar nama baik di
fase segenting ini, aku justru merasa agak kagum pada keteguhan mentalnya.
Namun bagi para prajurit serta perwira di garis
depan, keputusan ini tentu menjadi sebuah berkah yang sangat patut disyukuri.
"Asalkan Esgain tidak melakukan tindakan bodoh
yang tidak perlu, kita pasti akan menang."
"Bajingan itu bukankah ditugaskan untuk menjaga
basis logistik di garis belakang? Bukankah posisi itu justru terasa jauh lebih
mengkhawatirkan?"
"Fungsi artileri pertahanan Noafan sudah pulih
total hampir seratus persen. Selama basis tersebut masih berada di dalam
jangkauan tembak meriamnya, tempat itu tidak akan bisa ditembus dengan
mudah."
"Begitu rupanya."
Jace mendengus pelan dengan raut wajah yang terkesan
meremehkan.
"Ucapanmu itu terdengar sangat meyakinkan, mengingat
statusmu yang merupakan mantan Penguasa Noafan."
"Berisik. Gelar itu sudah kukembalikan. Atau lebih tepatnya, sudah
dicabut paksa."
Itu
adalah sebuah konsekuensi yang sudah sewajarnya terjadi.
Fakta
bahwa seorang Ksatria Hukuman sempat memegang gelar sebagai penguasa wilayah
sejak awal memang sudah menyalahi kodrat.
Akibat
insiden tempo hari, proses amandemen hukum yang rumit berhasil diselesaikan
dengan kecepatan yang tidak lazim, dan hak kepemilikanku atas wilayah tersebut
resmi dicabut secara hukum.
Untuk saat ini, perwakilan dari Aliansi Sipil yang akan
memegang kendali atas jalannya pemerintahan kota sementara waktu.
Meski begitu, posisi dan reputasi kami perlahan mulai
membaik kembali di mata publik.
Di luar masalah kepribadian kami yang bobrok, rumor yang
menyebutkan bahwa kami adalah sebuah unit kelompok yang 'sangat bisa
diandalkan' mulai santer terdengar di mana-mana.
Keberhasilan kami dalam menumbangkan Nuckelavee pada
pertempuran sengit di Benteng Itriaf kemarin memegang andil yang sangat besar
untuk urusan ini.
Jika digunakan dengan metode yang tepat, kami pasti akan
sangat berguna di pertempuran penentuan nanti. Kami berhasil menanamkan kembali
doktrin pemikiran tersebut ke kepala mereka.
Mengenai urusan komando unit eksternal, tingkat kebebasan
serta otoritas yang diberikan kepada kami kini juga telah meningkat secara
drastis.
Ini adalah sebuah keuntungan besar lainnya yang berhasil
kami dapatkan.
Dalam pertempuran penentuan nanti, kami kabarnya bahkan
direncanakan untuk memegang kendali atas sekitar dua ribu personel pasukan di
bawah komando kami.
Jika kondisinya sudah seperti ini, kami tentu bisa
bertarung dengan modal yang jauh lebih ideal dibandingkan sebelumnya.
Di area Puncak Spiral yang berada di sisi utara nanti,
kami juga dijadwalkan untuk melakukan marger pasukan dengan unit milik Lyufen
serta Adif yang saat ini sedang bergerak memutar dari arah barat——karena
kabarnya Pasukan Ksatria Suci ke-4 pimpinan Savette juga direncanakan untuk
ikut bergabung di sana.
Ini adalah struktur formasi perang terbaik yang bisa
diupayakan oleh umat manusia untuk saat ini.
Jika mereka masih saja gagal meraih kemenangan dengan
modal sebesar ini, maka habislah sudah nasib umat manusia. Karena itulah, tidak
ada pilihan lain selain maju bertaruh nyawa.
"Kamu optimis sekali——kalau begitu, sebaiknya kamu
mulai memikirkan apa yang akan kamu lakukan setelah pertempuran penentuan ini
berakhir nanti."
Jace menggumam lirih dari balik mulutnya.
"Kamu harus menyelesaikannya dengan benar. Neely
juga mengatakan hal yang sama."
"Apa maksudmu? Dan lagipula, sejak kapan Neely bisa
mengatakan hal semacam itu?"
"Tentu saja bisa."
Tepat saat Jace mengarahkan pandangannya, Neely tampak
memiringkan kepalanya seolah sedang berusaha untuk mengintip ke arahku.
Dia sedang tertawa——atau lebih tepatnya, sedang
mengolok-olok posisiku. Entah mengapa, aku bisa merasakan intensi tersebut
dengan sangat jelas.
"Dia bilang, dia merasa sangat cemas mengenai
bagaimana caramu dalam mengelola hubungan antarmanusia."
"Dia benar-benar bilang begitu? ——Tunggu
dulu."
Ini adalah sebuah perkara yang sudah membuatku
penasaran sejak lama sekali.
"Apakah rumor yang beredar itu memang benar
adanya? Kamu benar-benar bisa berkomunikasi dengan Neely? Lagipula, terkadang
kamu juga seperti mengerti apa yang sedang diucapkan oleh Tatsuya, 'kan?"
"Benar."
Jace menyentuh ujung rambutnya menggunakan jari
telunjuk.
Sehelai rambut berwarna merah menyala bagaikan
kobaran api.
Itu adalah sebuah bukti otentik bagi mereka yang
terlahir ke dunia dengan membawa kemampuan khusus yang kerap disebut sebagai
Stigma.
"Aku bisa memahaminya. Aku memiliki Stigma
semacam itu."
"……Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya secara
jujur kepadaku sejak awal?"
"Karena kamu tidak pernah bertanya."
"Kamu memang selalu memiliki sifat menyebalkan yang
seperti itu, ya."
Merespons kalimat yang baru saja kulontarkan, Neely
mendadak mengeluarkan suara lengkingan kecil dari balik tenggorokannya yang
terdengar seperti suara kururu.
Jace menyunggingkan senyum tipis sembari menganggukkan
kepalanya pelan. Sebuah reaksi yang entah mengapa terasa sangat mengganjal di
mataku.
"Hei. Apa yang baru saja dikatakan oleh Neely?"
"Dia bilang, 'Jangan berkaca pada diri sendiri'.
Dan satu lagi, 'Kamu harus benar-benar menyelesaikannya dengan benar'."
Bajingan kecil ini, kenapa isi ucapannya malah jadi mirip
seperti perkataan Teoritta, pikirku kesal.
——Dan momen ini, menjadi lembaran hari-hari santai
terakhir yang bisa dinikmati oleh kami, Pasukan Ksatria Hukuman.
◆
Pemandangan yang membentang di ujung paling utara lautan
hutan terasa sangat gersang dan sunyi.
Ini adalah sebuah lanskap baru yang juga baru pertama
kali disaksikan oleh mata kepala Haurd Clivios sendiri.
Pertama, di sana terdapat hamparan situs reruntuhan kuno
yang berdiri tegak layaknya barisan batu nisan yang pucat.
Mayoritas dari struktur arsitekturnya masih berdiri kokoh
mempertahankan bentuk aslinya tanpa termakan oleh usia.
Itu adalah material bangunan yang berasal dari era
peradaban kuno yang teramat lampau, yang mutunya tidak akan pernah bisa
direplikasi menggunakan teknologi manusia di zaman sekarang.
Sebuah material ganjil yang teksturnya terasa sehalus
permukaan tulang.
Dan tepat di balik hamparan situs reruntuhan purba
tersebut, Puncak Spiral tampak berdiri menjulang tinggi mencakar langit dengan
bentuknya yang meliuk ekstrem.
"Situs reruntuhan ini akan menjadi barikade
pertahanan terakhir yang harus kita tembus."
Views Wintier membuka suara.
"Kita wajib memetakan dan memahami struktur medannya
sedetail mungkin. Mulai besok, aku akan mengerahkan unit khusus untuk melakukan
pengintaian secara berkala."
Namun sebelum hal itu dilakukan, Views bersikeras bahwa
dirinya harus menyaksikan kondisi medannya secara langsung menggunakan mata
kepalanya sendiri.
Karena merasa tindakan pria itu terlampau ceroboh, Haurd
akhirnya memutuskan untuk ikut mendampingi perjalanannya.
Bagaimana tidak, pria itu berniat melakukan pengintaian
ke wilayah berbahaya hanya dengan ditemani oleh Dewi Matahari, Lukjut, seorang
diri.
(Pria yang benar-benar tidak masuk akal.)
Haurd secara sepihak memaksa untuk membawa sekitar
lima puluh personel pasukan pengawal miliknya untuk ikut serta.
Permery sempat memamerkan ekspresi wajah yang agak
tidak suka——tampaknya berada di dekat Lukjut adalah sebuah perkara yang teramat
menguras energi mentalnya.
Faktanya, sejak awal perjalanan tadi Lukjut terus
mengajaknya berbicara secara sepihak, dan Permery hanya meresponsnya dengan
jawaban-jawaban pendek yang terkesan malas.
"Hei, hei, hei, hei, hei!"
Metode Lukjut saat memulai sebuah obrolan hampir selalu
diawali dengan intonasi yang seperti itu.
"Tempat ini adalah situs reruntuhan, 'kan?
Si-si-situs purba kuno! Menurutmu mana yang lebih kuat antara tempat ini dengan
aku? Permery, apa kamu bisa menghancurkan semua bangunan di sini? Hei, apa kamu
bisa?"
"……Kekuatan milikku tidak dirancang untuk tujuan
semacam itu. Dan lagipula, membandingkan tingkat kekuatan melawan sebuah
struktur kota…… adalah sebuah perkara yang sama sekali tidak berguna."
"Eeeh, membosankan sekali! Ayo kita uji coba saja!
Siapa yang bisa menghancurkan lebih banyak bangunan, dialah pemenangnya!"
"Aku benar-benar tidak mau……"
Sembari mengernyitkan dahinya dalam, Permery
melemparkan pandangan ke arah Haurd seolah sedang memohon bantuan untuk
diselamatkan dari situasi ini.
Karena tidak ada pilihan lain, Haurd menghela napas
panjang lalu mengarahkan suaranya ke arah Views yang berjalan di posisi paling
depan.
"Komandan
Ksatria Suci Views Wintier. Kurasa ini sudah lebih dari cukup. Mari
kita segera menarik diri sebelum matahari tenggelam."
"Sedikit lagi. Aku harus memastikan letak dari jalur
terowongan bawah tanahnya terlebih dahulu. Tempat itu yang akan menjadi titik
fokus utamanya."
"Ini terlalu berbahaya. Wilayah ini masih berada di
dalam area kekuasaan Fenomena Raja Iblis."
"Ada kamu dan unit pasukanmu di sini. Karena itulah,
aku memutuskan untuk melangkah sedikit lebih jauh."
Tanpa repot-repot membalikkan badainya, Views terus
melangkahkan kakinya ke depan dengan tempo yang lebar dan cepat.
"Alasan kenapa aku mengizinkan kalian ikut serta
adalah sebagai bentuk langkah antisipasi jika sampai terjadi skenario terburuk.
Bagaimanapun juga, aku sangat menghargai kapabilitasmu khusus untuk urusan
pertempuran defensif."
"Anda ini benar-benar——"
Haurd mendadak kehilangan kata-kata untuk
meresponsnya. Tergantung dari cara bagaimana seseorang mengartikannya, kalimat
barusan sebenarnya bisa dikategorikan sebagai sebuah penghinaan.
Seseorang bahkan mungkin akan memilih untuk mengumpat
kesal dan pergi meninggalkannya sendirian di tempat ini.
Namun, Haurd telanjur mengetahui fakta bahwa pria di
hadapannya ini sama sekali tidak memiliki niat jahat sedikit pun di balik
setiap kalimat yang dilontarkannya.
Hanya saja, jumlah orang yang tidak bisa memahami
karakteristik uniknya tentu jauh lebih banyak.
"Komandan. Bagaimana kalau kita tinggalkan saja pria
menyebalkan itu dan langsung pulang……?"
Sebagai contoh, adalah Barald. Perwira infanteri yang
usianya masih tergolong muda ini tampak menggumamkan keluhannya dengan nada
suara yang sangat lirih.
"Dia jelas-jelas sedang meremehkan kapabilitas
Komandan. Aku benar-benar tidak bisa menerimanya."
"Aku sendiri juga tidak berniat untuk memaafkan
sikapnya. Namun, dia adalah sosok pria yang kontribusinya sangat dibutuhkan
dalam pertempuran penentuan nanti."
Haurd mengibaskan sebelah tangannya, mengisyaratkan
Barald untuk segera menutup mulutnya.
"Lagipula, penilaian yang diberikannya mengenai
kapabilitasku memang adalah sebuah fakta yang akurat. Setidaknya bagi standar
pria seperti dia."
"——Tidak. Penilaian itu sebenarnya tidak terlalu
akurat."
Sebuah jawaban mendadak terdengar dari arah Views.
Biarpun mereka berdua sudah berbicara dengan volume
suara yang sangat lirih, pria itu tampaknya tetap bisa menangkap isi obrolan
mereka.
Wajah Barald seketika berubah menjadi sangat kikuk
dan salah tingkah.
"Ada sedikit bias personal yang ikut tercampur
di dalam penilaianku."
"Bias personal? Sosok seperti Anda bisa memiliki
hal semacam itu?"
Sebuah kalimat yang hampir mustahil untuk dipercaya
keluar dari mulut pria sekaku dia.
Haurd merasa karakteristik semacam itu adalah sesuatu
yang tidak akan pernah dimiliki oleh Views.
Namun, rentetan kalimat yang mengudara setelahnya
justru terbukti jauh lebih mustahil untuk bisa diterima oleh akal sehat.
"Benar, sebuah bias. Penilaian yang diberikan
kepada seorang teman, biasanya memang akan sedikit melibatkan perasaan di
dalamnya."
Kali ini, Haurd benar-benar dibuat bungkam seribu
bahasa.
Tanpa sadar, dia langsung saling melempar pandangan
dengan Permery.
Sang Dewi juga tampak memamerkan ekspresi wajah yang
teramat terkejut. Untuk memastikan bahwa pendengarannya tidak salah, Haurd
mencoba untuk bertanya kembali.
"Apakah Anda baru saja menyebut kata teman?"
"Apakah ada yang salah dengan pilihan kata tersebut?
Ya sudahlah, lupakan saja. Aku tidak tahu harus menggunakan diksi apa lagi
selain kata itu."
Views menggumam lirih. Dan seperti biasa, dia tetap tidak
membalikkan badannya sama sekali.
"……Entah mengapa, rasanya aneh sekali."
Barald menyunggingkan senyum kecut.
"Komandan. Pria itu, sebenarnya makhluk macam
apa sih?"
"Jaga bicaramu. Bagaimanapun juga, statusnya
adalah seorang——"
Statusnya adalah seorang Komandan Ksatria Suci.
Volume suara Barald yang awalnya berniat disamarkan justru terdengar terlampau
keras di telinga.
Tepat saat Haurd berniat untuk menegur kelalaian
bawahannya tersebut, dia menyadari adanya sebuah kejanggalan yang teramat
ganjil.
Barald kini sedang menggenggam sebilah tongkat petir
di tangannya.
Sembari menyunggingkan senyum kecut di wajahnya, dia
menjulurkan senjata tersebut——dan moncong meriamnya kini sedang diarahkan tepat
menuju ke posisi garis depan.
"Pada akhirnya, bajingan itu sama sekali tidak
membiarkan adanya celah sedikit pun di pertahanannya, ya. Ini benar-benar
terlampau menguras tenaga, batas kesabaranku sudah mencapai titik maksimal di
sini."
Sebuah suara ledakan kering seketika bergaung keras.
Disusul oleh ledakan kilatan cahaya yang teramat intens dan mengerikan.
Haurd sendiri tidak bisa langsung mencerna rentetan
kejadian yang baru saja berlangsung di depan matanya.
Daya hancur yang dilepaskan senjata tersebut berada
di taraf yang terlampau ekstrem——sebuah performa yang mustahil untuk bisa
dihasilkan oleh senjata standar yang dipasok oleh pihak militer kepada mereka.
Jika demikian, maka senjata tersebut adalah sebuah
produk modifikasi ilegal.
Kenapa Barald bisa memiliki barang berbahaya semacam
itu di tangannya?
Dan untuk apa dia menembakkannya?
Apakah ada serangan mendadak dari pihak musuh?
Apakah dia sedang mencoba untuk melancarkan cegatan?
——Skenario tersebut langsung tereliminasi dari kepalanya
dalam sekejap mata.
Sebab di saat yang sama, dia melihat tubuh Views telah
jatuh tersungkur di atas permukaan tanah.
Ada sebuah lubang menganga berukuran sangat besar yang
kini menghiasi bagian pinggangnya.
"Ah——ugh."
Sebuah suara erangan parau yang terdengar teramat lirih
keluar dari balik mulutnya.
"Jadi kalian akhirnya memutuskan untuk melancarkan
serangan lewat jalur ini, ya…… Benar juga. Menumbangkanku di dalam sebuah
pertempuran terbuka adalah sebuah perkara yang mustahil untuk dilakukan…… Karena itulah kalian memilih
opsi pembunuhan berencana…… Menyusupkan agen ke dalam barisan pasukan pengawal
milik Haurd. Hanya bagian itu saja…… yang berada sedikit di luar estimasi
perhitunganku."
"Anda memang sosok yang luar biasa. Jujur saja,
aku benar-benar angkat topi untuk performa Anda barusan. Bahkan dalam jarak
sedekat itu pun, Anda masih sempat-sempatnya menghindar di detik-detik
terakhir."
Barald menghela napas panjang. Pemandangan di hadapannya
kini terasa sangat tidak nyata.
Bagaimanapun juga, fakta bahwa sosok sekuat Views Wintier
bisa ditumbangkan dengan cara seperti ini adalah sebuah skenario yang tidak
akan pernah bisa diimajinasikan oleh siapa pun.
(Sebenarnya apa yang)
Sedang terjadi di tempat ini? Haurd merasa dirinya
seolah sedang dihadapkan pada sebuah lelucon yang teramat buruk dan keji.
"Views! Apa-apaan, apa, apa, apa yang sebenarnya
terjadi!"
——Lukjut melepaskan sebuah lengkingan teriakan yang
sangat histeris.
Dia langsung berlari kencang menghampiri Views dan
menjatuhkan tubuhnya tepat di atas raga pria tersebut.
"Targetnya adalah pemilik Stigma Penjinak Iblis.
Senjata tongkat petir standar tentu tidak akan bisa menorehkan luka yang
berarti pada tubuhnya——karena itulah, senjata yang kugunakan ini adalah sebuah
produk khusus yang dirancang secara eksklusif oleh Yang Mulia Odin
sendiri."
Ekspresi wajah Barald tampak meliuk ekstrem.
Atau lebih tepatnya, struktur wajahnya kini mulai
runtuh dan hancur berantakan.
Dari balik reruntuhan kulit tersebut, sebuah wajah
ganjil dengan tekstur halus menyerupai kulit hewan air tampak menyembul keluar.
Fairy Abnormal. Haurd meyakini identitas asli makhluk
tersebut dalam sekali lihat.
"Bajingan, siapa"
Haurd langsung menarik keluar tongkat petir miliknya,
lalu segera mengaktifkannya dalam sekali sentuhan.
"Kamu sebenarnya?!"
Kilatan petir melesat cepat membelah udara kosong.
Serangannya terbukti tidak mengenai sasaran.
Makhluk yang baru saja menggunakan tubuh Barald itu
berhasil menghindar dengan cara melompat tinggi ke udara.
Tanpa membuang waktu, dia langsung menempelkan
tubuhnya di atas permukaan dinding situs reruntuhan bangunan kuno.
"Apakah kalian masih ingat dengan Fenomena Raja
Iblis bernama Spriggan? Aku
ini…… dipaksa untuk meniru karakteristik kemampuannya, lho. Ya,
hanya karena mereka menganggapku memiliki sedikit bakat untuk urusan itu.
Proses latihannya benar-benar terasa bagai neraka, namun hasil yang kudapatkan
sekarang terbukti sangat sepadan dengan semua penderitaan itu……"
"——Permery! Seluruh pasukan, jangan biarkan bajingan
itu meloloskan diri! Bentuk barisan pengepungan——"
Haurd menarik tubuh Permery ke dalam dekapannya untuk
memberikan perlindungan.
Di saat yang sama, dia mencoba untuk meneriakkan
instruksi kepada pasukan di sekitarnya.
Namun, tindakan yang disebut terakhir terbukti sama
sekali tidak membuang hasil apa-apa.
Lima puluh personel pasukan pengawal miliknya kini telah
sibuk melancarkan serangan balasan untuk mempertahankan diri mereka sendiri.
Mereka telah dikepung. Seisi area kini telah dipenuhi
oleh kerumunan Fairy Abnormal yang tak terhitung jumlahnya.
Dari balik bayang-bayang arsitektur bangunan kuno yang
menyerupai struktur tulang putih, kawanan Goblin tampak merangsek keluar
bagaikan air bah.
Mereka adalah varian Goblin berukuran kecil yang
dipersenjatai dengan tongkat petir di tangan masing-masing.
Biarpun kuantitas jumlahnya tidak terlalu masif, namun
ini adalah sebuah serangan kejutan yang teramat fatal.
(Gawat. Situasi ini……!)
Sebuah penyergapan yang telah direncanakan dengan sangat
matang.
Haurd menyadari fakta mengerikan tersebut tepat saat
gelombang rasa sakit yang teramat sangat mulai menginvasi tubuhnya.
Kawanan Goblin melepaskan tembakan tongkat petir mereka
secara bersamaan.
Satu atau dua tembakan di antaranya terbukti berhasil
menembus telak tubuh Haurd.
Sensasi rasa terbakar yang teramat menyiksa seketika
meledak.
Namun, Haurd memilih untuk mengabaikan rasa sakit yang
mendera tubuhnya tersebut.
Permery yang berada di dalam dekapannya sama sekali
tidak terkena sambaran petir.
Dia berhasil melindunginya dengan selamat.
Haurd merasa itu adalah satu-satunya berkah yang
paling patut disyukuri dari situasi semrawut ini.
"……Haurd!"
Permery meneriakkan namanya dengan sangat histeris.
Namun, suara lengkingan itu terdengar teramat jauh di
telinganya.
(Ini adalah luka yang mematikan. Nyawaku
sudah tidak akan bisa diselamatkan lagi.)
Bagian dada sebelah kiri. Dia bisa merasakan adanya
sebuah lubang menganga yang kini tercipta di sana.
Permery tampak menempelkan kedua telapak tangannya di
atas lubang tersebut, mencoba menahan aliran darah yang keluar.
Kedua telapak tangannya dalam sekejap langsung berubah
warna menjadi merah pekat.
"Aku akan segera menyembuhkanmu……! Jika menggunakan
racun milikku, luka ini pasti……!"
"Jangan lakukan. Aku tidak memberikan izin."
Haurd menahan pergerakan tangan Permery. Tenaga di kedua
lengannya kini sudah hampir sirna sepenuhnya.
"Sembuhkan……
Views. Fokuskan kekuatanmu…… untuk menyembuhkannya, jangan…… padaku……"
Intonasi suaranya sendiri kini terdengar teramat jauh dan
kabur. Hawa dingin yang teramat sangat mendadak merayapi sekujur tubuhnya.
"Gunakan…… Cairan Perak Nomor Nol…… Jika menggunakan obat itu, lukanya
pasti bisa disembuhkan…… Untuk urusan efek sampingnya, pria seperti dia…… pasti
akan bisa memikirkan jalan keluarnya……"
Views
Wintier adalah sosok yang berbeda jika dibandingkan dengan dirinya.
Dari
balik dekapan Lukjut yang terus menangis histeris, Haurd sekilas bisa melihat
tubuh pria itu masih bergerak sedikit dan mengutarakan sesuatu dari balik
mulutnya.
Kesempatan
untuk selamat masih terbuka lebar bagi dirinya.
Lagipula,
jika Views berhasil selamat, dia pasti akan bisa membawa Permery meloloskan
diri dengan aman dari tempat terkutuk ini.
Skenario
tersebut juga akan membuka peluang bagi keselamatan seluruh anggota pasukannya
yang tersisa.
"……Benar
sekali."
Sebuah
suara erangan parau dari Views terdengar mengudara di dekatnya.
"Sembuhkan aku, jangan sembuhkan Haurd. Alasan
kenapa aku membawa kalian ikut serta ke tempat ini adalah untuk mengantisipasi
skenario seperti ini. Bukankah aku sudah pernah mengatakannya kepada kalian
dulu? Jika sampai terjadi situasi darurat…… keberadaan kalian berdua pasti akan bisa menyelesaikan
masalah ini…… Karena itulah……"
Sembari
menekan luka menganga di bagian pinggangnya, intonasi suara pria itu tetap
terdengar dengan sangat lantang dan jelas.
"Segera
ambil keputusanmu sekarang juga. Jika ingin memilih opsi yang memberikan
keuntungan paling maksimal, maka sosok yang harus kamu selamatkan adalah
aku."
"……Bajingan!
Jadi kamu sengaja membawa kami ikut serta hanya untuk menjadikan kami sebagai
alat bantu semacam ini……?!"
Permery
menatap Views dengan sorot mata yang dipenuhi oleh luapan rasa benci yang
teramat mendalam.
Ini
adalah sebuah pemandangan yang sangat langka, mengingat karakteristiknya yang
biasanya sangat jarang memamerkan emosi permusuhan secara terang-terangan
kepada orang lain.
"Siapa
juga yang sudi menyelamatkan pria brengsek seperti kamu?!"
"Hentikan,
Permery."
Sembari
menahan getaran hebat di sekujur tubuhnya, Haurd menggenggam erat jemari tangan
Permery.
"Semua kalimat yang dilontarkannya barusan…… adalah
sebuah kebenaran yang akurat."
Mendengar penuturan tersebut, Permery seketika dibuat
bungkam seribu bahasa.
Views Wintier tidak pernah mengambil keputusan yang
salah.
Kalimat yang dilontarkannya selalu memuat kebenaran yang
mutlak.
Bahkan dalam situasi sekritis ini pun, kalkulasi
perhitungannya tetap terbukti akurat.
Jika satu-satunya metode yang bisa digunakan oleh pihak
musuh untuk bisa menumbangkan Views adalah melalui skenario 'pembunuhan
berencana', maka dia wajib memancing agen penyusup tersebut untuk
memperlihatkan dirinya di suatu tempat.
Demi menyukseskan rencana tersebut, dia sengaja
menciptakan sebuah celah yang matang.
Demi tujuan itu pula, dia sengaja membawa Haurd untuk
ikut mendampingi perjalanannya.
Skenario terburuk yang dimaksudkannya sejak awal adalah
kondisi pelik ini——sebuah situasi di mana Haurd dipaksa untuk menimbang bobot
nilai kehidupan antara nyawanya sendiri melawan nyawa milik Views, dan pria itu
percaya bahwa Haurd pasti akan bisa mengambil keputusan yang paling rasional.
Views, dengan kepribadiannya yang polos, menaruh rasa
percaya yang teramat besar kepada Haurd untuk urusan ini.
(Diksi kata 'teman' yang digunakannya tadi, tampaknya
memang adalah sebuah pernyataan yang jujur dari lubuk hatinya. Karena itulah,
dia berani mempertaruhkan nyawanya untuk memercayai kapabilitasku.)
Benar-benar pria yang konyol dan menyebalkan, pikir Haurd
pasrah.
"……Sembuhkanlah Views. Kapabilitas miliki tidak akan
cukup…… untuk bisa membawa kita memenangkan pertempuran penentuan nanti."
Jika mereka tidak bergerak cepat, semuanya akan
telanjur terlambat. Formasi pasukan sekutu kini jelas-jelas sedang berada di
ambang kehancuran total.
Sembari melepaskan raungan teriakan yang menyerupai
lolongan binatang buas, Lukjut terus menembakkan senjata tongkat petir miliknya
secara membabi buta.
Luapan cahaya terang yang memancar dari sekujur
tubuhnya terbukti sukses menyalurkan pasokan amunisi tak terbatas kepada
senjata miliknya——dan juga kepada seluruh senjata tongkat petir yang berada di
sekitarnya.
Namun, kuantitas jumlah musuh yang datang merangsek
kini sudah terlampau masif untuk bisa dibendung.
Ditambah lagi, karena eksistensi sang kontraktor kini
sedang berada di ambang kematian, intensitas cahaya yang dipancarkan oleh
Lukjut perlahan juga mulai meredup dengan sangat cepat.
Momen ini adalah batas maksimal yang bisa mereka
upayakan. Haurd mencengkeram erat jemari tangan Permery.
"Sosok yang paling membutuhkan berkah
penyembuhanmu saat ini bukanlah aku. ……Kamu paham maksudku, 'kan,
Permery?"
"Aku tidak mau."
Dengan gestur yang teramat tegas, Permery
menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Sebuah respons yang sudah bisa diprediksi
sejak awal oleh Haurd.
Di balik penampilannya yang terkesan rapuh, dia
sejatinya adalah sosok Dewi yang memiliki keteguhan hati yang sangat keras dan
keras kepala.
Haurd bahkan sampai merasa ingin tertawa keras
mendapati karakteristiknya tersebut.
Jika ada satu hal yang luput dari kalkulasi
perhitungan akurat milik Views, maka karakteristik unik milik Permery inilah
yang menjadi satu-satunya variabel pengacau utamanya.
Dan fakta tersebut, entah mengapa membuat perasaan
Haurd menjadi sedikit merasa terhibur.
"Aku adalah Permery, Haurd. Asalkan
kamu bisa tetap hidup dengan selamat di sisiku…… bagiku, hanya hal itu saja
yang paling penting……!"
"Jangan lakukan. Aku tidak memberikan izin."
Sembari mengumpulkan sisa-sisa tenaga terakhir yang masih
mendekam di dalam tubuhnya, Haurd melontarkan kalimat penolakan tersebut dengan
intonasi suara yang dibuat sedingin mungkin.
Alasan kenapa dia bersedia memikul tanggung jawab sebagai
Ksatria Suci bagi Permery sejak awal adalah demi bisa mengeksekusi tindakan
semacam ini.
Semua ini dilakukan demi kemenangan umat manusia, dan
demi masa depan dunia yang lebih baik.
Esensi dari tindakan ini sejatinya tidak jauh berbeda
dengan ritual memanjatkan doa bagi kedamaian di kehidupan setelah kematian.
Sebuah perkara yang sudah mendekati taraf kultus keyakinan yang mutlak.
Dan tindakan ini, tentu saja bukanlah sebuah perkara yang
bisa dibenarkan secara moral.
Kalimat keji yang dilontarkannya untuk menyakiti perasaan
Permery barusan mana mungkin bisa dikategorikan sebagai sebuah kebenaran.
(Meski begitu, aku akan dengan senang hati menerima
dosa ini dengan kedua tanganku sendiri.)
Jika tidak salah mengingat——Xylo Forbartz dan Lyufen
Kauron dulu pernah menyebut sudut pandang nilai kehidupan semacam ini dengan
menggunakan istilah nama yang lain. Jauh di masa lalu.
Tepat sebelum Xylo Forbartz dijatuhi vonis Hukuman
Pahlawan, Haurd sekilas pernah mendengar kedua pria itu membicarakan perkara
ini di sela-sela obrolan santai mereka.
Namun entah mengapa, di detik-detik terakhirnya ini,
dia sama sekali tidak bisa mengingat nama istilah tersebut tidak peduli
seberapa keras pun dia berusaha.
"……Berjanjilah kepadaku, Views."
Haurd memaksakan suaranya yang sudah teramat parau
untuk mengudara. Hanya ada satu hal ini saja.
Sebuah perkara dari sikap Views yang sama sekali tidak
akan pernah bisa dimaafkan olehnya.
"Jangan pernah membiarkan Permery terluka lagi.
Cukup sampai di sini saja…… Sebagai seorang teman, berjanjilah kepadaku untuk
mematuhi poin ini."
"Aku mengerti. Aku berjanji."
Views memberikan anggukan kepala pendek yang terkesan
ringkas.
Biarpun dia adalah sosok pria yang egois, namun
perkataannya adalah sesuatu yang sangat bisa dipercaya.
Dia adalah tipe pria yang menyimpan karakteristik
kesederhanaan yang teramat ganjil di dalam dirinya.
"Permery. Maafkan aku."
Dari balik jarak pandang matanya, Haurd bisa menyaksikan
tubuh para bawahannya yang mulai bertumbangan satu demi satu di atas tanah.
Perjuangan mereka untuk bertahan sejauh ini sudah sangat
luar biasa——namun, formasi pertahanan mereka kini sudah berada di titik
maksimalnya.
"Sembuhkanlah……
Views. Aku mohon kepadamu."
"Aku tidak mau. ……Aku tidak akan pernah mematuhi
perintahmu yang satu ini, Haurd. Perkara yang seperti ini, benar-benar……"
Butiran air mata tampak mengalir deras membasahi wajah
Permery.
Haurd bisa merasakan sebagian dari gejolak emosi yang
sedang berkecamuk di dalam dada sang Dewi saat ini.
"Aku benar-benar tidak mau! Ini adalah sebuah
perintah mutlak dari seorang Dewi, aku melarangmu untuk mati! Aku tidak akan
pernah mengizinkanmu untuk menjemput kematian, Haurd! Aku mohon kepadamu,
tataplah mataku! Perintah
konyol yang kamu lontarkan barusan…… tidak akan pernah……!"
Haurd
sangat ingin mengulurkan tangannya untuk mengusap butiran air mata yang
menghiasi wajah sang Dewi——namun alih-alih mengeksekusi tindakan tersebut,
Haurd memilih untuk mendaratkan telapak tangannya tepat di atas kepala Permery.
Bagaimanapun
juga, dia tahu betul bahwa Permery adalah sosok yang sangat suka jika kepalanya
dielus, dan dia sendiri juga sangat suka menyentuh kelembutan rambut milik sang
Dewi.
Dia membiarkan jemarinya menelusuri kelembutan helai
rambut tersebut.
Tepat di ujung jemarinya, dia merasakan tekstur dari
jepit rambut yang menghiasi kepala Permery.
Sebuah sensasi yang memicu luapan rasa rindu yang teramat
mendalam di dalam dadanya. Itu adalah sebuah jepit rambut perak yang dulu
sengaja dia hadiahkan secara khusus untuk Permery.
Berkat keberadaan benda kenangan tersebut, dia akhirnya
bisa menyunggingkan senyum tipis di wajahnya di detik-detik terakhir sebelum
kesadarannya sirna sepenuhnya.
"Selebihnya kuserahkan kepadamu, Permery. Dewi-ku
yang agung."
Itu menjadi untaian kalimat terakhir yang diucapkan oleh
Haurd Clivios sebelum mengembuskan napas terakhirnya.
Sebenarnya, masih ada banyak hal yang ingin dia
sampaikan, dan ada teramat banyak perkara yang harus dia pikirkan.
Namun, hal terakhir yang terlintas di dalam benak Haurd
justru adalah sebuah kekhawatiran mengenai apakah Views Wintier akan baik-baik
saja.
Asalkan pria itu berhasil selamat, umat manusia pasti
akan bisa meraih kemenangan. Dan Permery pun, tidak perlu lagi menerima luka
yang lebih dalam dari ini.
◆
Pada hari yang sama, gelombang kawanan peri menyimpang
melancarkan sebuah serangan fajar yang teramat masif menuju ke basis pertahanan
paling utara di Lautan Hutan Sanaf Nede.
Berdasarkan laporan pascapertempuran yang dibawa oleh
para penyintas dari Pasukan Ksatria Suci ke-9, rentetan lembaran fakta berikut
akhirnya berhasil terungkap ke permukaan:
Komandan Ksatria Suci ke-9, Haurd Clivios, dinyatakan
gugur dalam tugas.
Sementara Komandan Ksatria Suci ke-11, Views Wintier,
bersama dengan Dewi Matahari Lukjut serta Dewi Racun Permery,
resmi dinyatakan hilang tanpa jejak.
Akibat insiden fatal ini, Saint Yulisa Kidafrenny secara
resmi langsung diangkat untuk mengemban tanggung jawab sebagai Panglima
Tertinggi di garis depan.
Pasukan Militer Kerajaan Aliansi kini dipaksa untuk
melakukan restrukturisasi total pada rantai komando mereka, sekaligus melakukan
revisi besar-besaran terhadap draf rencana operasi yang telah disusun
sebelumnya.
Sebagai konsekuensinya, garis waktu untuk pelaksanaan pertempuran penentuan di wilayah utara terpaksa diundur hingga akhir musim panas.



Post a Comment