Gaiden 2
Stella dan Iris
──Tahun ■■
tahun ke-■■ dari kalender.
Seperti
biasa, August sedang memasukkan data ke terminal di laboratoriumnya ketika ia
memasukkan tangan ke saku.
Yang
dikeluarkannya adalah terminal genggam. Layar perangkat itu berkedip dengan
notifikasi panggilan masuk.
“……Iris
ya.”
Ia
bergumam pelan sambil mengoperasikan layar dengan ujung jari. Tampilan pun
berganti, memperlihatkan wajah seorang wanita berambut perak.
“Yahhoo~
August!”
“……Ada
apa?”
“Eh,
kok kamu kelihatan tidak bersemangat begitu?”
“Hanya
capek karena setiap hari tenggelam dalam penelitian.”
“Hee~
Kamu memang selalu giat ya~”
Iris
tersenyum lebar tanpa merasa bersalah sama sekali.
“Lebih dari
itu, ada masalah nih! Tebak
aku sekarang berada di mana!”
“Tidak tahu.”
“Waa~ Dingin
sekali jawabannya. Jawaban
yang benar adalah Negeri Pasir!”
“……Negeri
Pasir?”
“Benar,
lihat ini!”
Terminal
Iris diputar, memperlihatkan gurun berwarna keemasan dan keramaian pasar di
belakangnya.
“Keren
kan? Manusia visioner sepertiku ini memang harus berkelana keliling dunia
seperti ini untuk memperluas wawasan.”
“……Intinya
kamu cuma suka jalan-jalan, kan?”
“Kasar
sekali. Yah, memang benar sih. Tapi ini semua demi ‘masa depan’! Toh kalau terus melihat ke belakang,
tidak ada yang akan berubah. Aku──selalu hanya memandang ke depan!”
Iris
menyatakan dengan senyum cerah.
“Kalau
begitu, tolong hadapi juga masalah yang dihadapi dunia ini dong……”
“Eh, bukankah
itu tugas August sebagai penyelamat?”
“Ha!? Kenapa
langsung jawab begitu!”
“Karena
penyelamat dunia kan memang seperti itu? Karena aku percaya pada August, aku
bisa berkelana seperti ini. Aku yakin ada petunjuk untuk membuka ‘masa depan’
yang tersebar di mana-mana!”
“……Niat
utamamu cuma ingin jalan-jalan, kelihatan banget.”
“Eeh~ Padahal
aku sudah berusaha membuat alasan yang bagus.”
Iris
tertawa riang sambil mengangkat bahu.
“…………”
“Baiklah,
laporan sudah selesai. Aku tutup dulu ya. Dah!”
Panggilan
terputus begitu saja. Laboratorium pun kembali sunyi.
‘Manusia yang
berhubungan dengan Tuan semuanya menyenangkan ya.’
Titania yang
berwujud kabut putih dan mendengarkan percakapan mereka berdua berkata dengan
nada geli.
Sebuah
speaker baru telah dipasang di samping Titania, sehingga suaranya keluar dari
sana.
“……Dia memang
sudah seperti itu sejak dulu. Karena tidak ada niat jahat, malah jadi semakin
merepotkan.”
August
meletakkan terminal di meja dan mengulurkan tubuhnya ringan.
Setelah
keramaian dari layar menghilang, keheningan di laboratorium terasa semakin
pekat.
Ia
tersenyum getir melihat perbedaan itu, lalu melirik ke arah kabut.
“Ngomong-ngomong, cara bicaramu semakin
lancar ya.”
‘Tentu saja.
Karena aku terus mengamati kata-kata Tuan.’
“……Hei, soal
panggilan itu──”
Begitu August
hendak melanjutkan, pintu laboratorium terbuka.
Yang datang
adalah Stella yang baru selesai bekerja.
‘Tuan, Stella
datang.’
“……Eh?”
Stella tanpa
sadar berhenti melangkah.
Ia
berkedip-kedip sambil meragukan telinganya sendiri.
“Ba-barusan…… kau memanggil August
dengan ‘Tuan’?”
‘Ya.
August bilang supaya memanggilnya seperti itu.’
August
menoleh ke Stella dengan wajah kikuk.
“……Ah…… itu…… awalnya cuma bercanda,
tapi dia malah suka.”
‘Aku cukup menyukainya.’
“Yah, kalau dia sendiri yang suka, aku
tidak akan bilang apa-apa sih……”
Stella menekan dahinya sambil
mengembuskan napas pendek.
August meliriknya sekilas, lalu
tersenyum lebar.
“Oh
iya, soal kata ganti diri. ‘Watashi’
itu biasa sekali dan membosankan.”
August
melanjutkan dengan santai.
‘Begitu
ya? Lalu, yang mana yang bagus?’
Saat
Titania tertarik pada usul itu, August menatap Stella sambil tersenyum.
Ekspresinya
persis seperti anak kecil yang sedang merencanakan kenakalan.
“Bagaimana
kalau ‘Uchi’?”
“!? ”
Bahu Stella
tersentak. Wajahnya
langsung memerah.
“Ti-tidak
boleh! Itu……!”
‘Uchi……?
Kedengarannya bagus. Aku suka.’
“Titania!
Yang itu saja jangan!”
Stella
menentang dengan putus asa, tapi justru semangatnya itu semakin membangkitkan
minat Titania.
‘Kenapa kau
menentangnya sepenuh hati?’
“Ka-karena
itu……”
“……Stella
memanggil dirinya sendiri seperti itu waktu kecil dulu.”
“August……!”
‘Pantas.
Kalau begitu, sudah diputuskan. Mulai sekarang aku akan memanggil diriku
“Uchi”.’
Titania
menyatakan dengan gembira, sementara Stella menutupi wajah merahnya dengan
kedua tangan.
Di sisi lain, August tak mampu lagi menahan tawanya dan tertawa senang.



Post a Comment