NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha Party wo Oidasareta Kiyoubinbou: Party Jijou de Fuyojitsushi wo Yatteita Kenshi ~ Bannou e to Itaru Volume 10 Side Story 2

Gaiden 2

Stella dan Iris


──Tahun ■■ tahun ke-■■ dari kalender.

Seperti biasa, August sedang memasukkan data ke terminal di laboratoriumnya ketika ia memasukkan tangan ke saku.

Yang dikeluarkannya adalah terminal genggam. Layar perangkat itu berkedip dengan notifikasi panggilan masuk.

“……Iris ya.”

Ia bergumam pelan sambil mengoperasikan layar dengan ujung jari. Tampilan pun berganti, memperlihatkan wajah seorang wanita berambut perak.

“Yahhoo~ August!”

“……Ada apa?”

“Eh, kok kamu kelihatan tidak bersemangat begitu?”

“Hanya capek karena setiap hari tenggelam dalam penelitian.”

“Hee~ Kamu memang selalu giat ya~”

Iris tersenyum lebar tanpa merasa bersalah sama sekali.

“Lebih dari itu, ada masalah nih! Tebak aku sekarang berada di mana!”

“Tidak tahu.”

“Waa~ Dingin sekali jawabannya. Jawaban yang benar adalah Negeri Pasir!”

“……Negeri Pasir?”

“Benar, lihat ini!”

Terminal Iris diputar, memperlihatkan gurun berwarna keemasan dan keramaian pasar di belakangnya.

“Keren kan? Manusia visioner sepertiku ini memang harus berkelana keliling dunia seperti ini untuk memperluas wawasan.”

“……Intinya kamu cuma suka jalan-jalan, kan?”

“Kasar sekali. Yah, memang benar sih. Tapi ini semua demi ‘masa depan’! Toh kalau terus melihat ke belakang, tidak ada yang akan berubah. Aku──selalu hanya memandang ke depan!”

Iris menyatakan dengan senyum cerah.

“Kalau begitu, tolong hadapi juga masalah yang dihadapi dunia ini dong……”

“Eh, bukankah itu tugas August sebagai penyelamat?”

“Ha!? Kenapa langsung jawab begitu!”

“Karena penyelamat dunia kan memang seperti itu? Karena aku percaya pada August, aku bisa berkelana seperti ini. Aku yakin ada petunjuk untuk membuka ‘masa depan’ yang tersebar di mana-mana!”

“……Niat utamamu cuma ingin jalan-jalan, kelihatan banget.”

“Eeh~ Padahal aku sudah berusaha membuat alasan yang bagus.”

Iris tertawa riang sambil mengangkat bahu.

“…………”

“Baiklah, laporan sudah selesai. Aku tutup dulu ya. Dah!”

Panggilan terputus begitu saja. Laboratorium pun kembali sunyi.

‘Manusia yang berhubungan dengan Tuan semuanya menyenangkan ya.’

Titania yang berwujud kabut putih dan mendengarkan percakapan mereka berdua berkata dengan nada geli.

Sebuah speaker baru telah dipasang di samping Titania, sehingga suaranya keluar dari sana.

“……Dia memang sudah seperti itu sejak dulu. Karena tidak ada niat jahat, malah jadi semakin merepotkan.”

August meletakkan terminal di meja dan mengulurkan tubuhnya ringan.

Setelah keramaian dari layar menghilang, keheningan di laboratorium terasa semakin pekat.

Ia tersenyum getir melihat perbedaan itu, lalu melirik ke arah kabut.

“Ngomong-ngomong, cara bicaramu semakin lancar ya.”

‘Tentu saja. Karena aku terus mengamati kata-kata Tuan.’

“……Hei, soal panggilan itu──”

Begitu August hendak melanjutkan, pintu laboratorium terbuka.

Yang datang adalah Stella yang baru selesai bekerja.

‘Tuan, Stella datang.’

“……Eh?”

Stella tanpa sadar berhenti melangkah.

Ia berkedip-kedip sambil meragukan telinganya sendiri.

“Ba-barusan…… kau memanggil August dengan ‘Tuan’?”

‘Ya. August bilang supaya memanggilnya seperti itu.’

August menoleh ke Stella dengan wajah kikuk.

“……Ah…… itu…… awalnya cuma bercanda, tapi dia malah suka.”

‘Aku cukup menyukainya.’

“Yah, kalau dia sendiri yang suka, aku tidak akan bilang apa-apa sih……”

Stella menekan dahinya sambil mengembuskan napas pendek.

August meliriknya sekilas, lalu tersenyum lebar.

“Oh iya, soal kata ganti diri. ‘Watashi’ itu biasa sekali dan membosankan.”

August melanjutkan dengan santai.

‘Begitu ya? Lalu, yang mana yang bagus?’

Saat Titania tertarik pada usul itu, August menatap Stella sambil tersenyum.

Ekspresinya persis seperti anak kecil yang sedang merencanakan kenakalan.

“Bagaimana kalau ‘Uchi’?”

“!? ”

Bahu Stella tersentak. Wajahnya langsung memerah.

“Ti-tidak boleh! Itu……!”

‘Uchi……? Kedengarannya bagus. Aku suka.’

“Titania! Yang itu saja jangan!”

Stella menentang dengan putus asa, tapi justru semangatnya itu semakin membangkitkan minat Titania.

‘Kenapa kau menentangnya sepenuh hati?’

“Ka-karena itu……”

“……Stella memanggil dirinya sendiri seperti itu waktu kecil dulu.”

“August……!”

‘Pantas. Kalau begitu, sudah diputuskan. Mulai sekarang aku akan memanggil diriku “Uchi”.’

Titania menyatakan dengan gembira, sementara Stella menutupi wajah merahnya dengan kedua tangan.

Di sisi lain, August tak mampu lagi menahan tawanya dan tertawa senang.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close