NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 10 Chapter 2

Chapter 2

Bagaikan Kembang Api yang Hilang dalam Sekejap


……Entah kenapa, aku merasa baru saja melihat mimpi yang sangat erotis.

Tanpa sadar, aku memakaikan seragam pada Miori yang sudah dewasa. Apakah selera seksualku sudah terbalik?

Diriku di ‘masa depan yang benar’ itu sebenarnya sedang apa. Bukan, itu kan hanya mimpi.

Lagipula itu masa depan yang salah. Terutama soal fetish-ku.

Akhir-akhir ini aku sering melihat mimpi yang sangat nyata. Apakah aku sedang frustrasi?

Mungkin karena pengaruh percakapan dengan Hikari di Caribbean Beach tempo hari.

Mimpi tentang garis waktu tanpa time leap——kelanjutan dari ‘masa depan yang benar’.

Hanya mimpi biasa, tapi terasa terlalu nyata dan aku ingat dengan sangat jelas.

Pada saat mimpi sudah terasa meyakinkan saja, itu sudah aneh.

Mimpi seharusnya lebih kacau. Misalnya teman sekelas SMP muncul di masa SMA, atau entah kenapa sedang di luar negeri dengan atasan kantor.

Setelah bangun, biasanya hanya ingat sebagian dan semuanya tidak masuk akal.

Itulah mimpi yang sebenarnya.

Lagipula ini sudah kelanjutan dari mimpi sebelumnya, jelas tidak normal.

…Tapi memikirkan bahwa ada kekuatan supranatural yang sedang memperlihatkan diriku di parallel world juga terlalu berlebihan.

Yah, mengingat aku sendiri sudah melakukan time leap, apa pun bisa terjadi. Sampai sekarang, tidak ada fenomena aneh selain time leap-ku.

Jadi kemungkinan besar aku hanya sedang melihat mimpi yang sangat realistis.

Saat mencari ‘mimpi’ di ponsel, yang pertama muncul adalah ‘manifestasi dari keinginan naluriah’. Bukan, bukan… mustahil!

Kalau keinginan naluriahku adalah memakaikan seragam pada Miori yang sudah dewasa, itu justru lebih bermasalah. Jadi untuk sekarang, aku putuskan bahwa ini adalah fenomena supranatural.

“Iya nih, dunia ini penuh kejadian aneh. Hahaha!”

“Kakak, kenapa tertawa sendiri? Serem banget.”

Tanpa sadar, Namika sudah membuka pintu sedikit dan mengintip ke dalam kamarku.

“Makanya kamu jangan sembarangan buka kamar orang.”

“E~ soalnya Kakak nggak pernah dengar kalau diketuk.”

Namika mengeluh sambil masuk ke kamarku dan duduk di tepi tempat tidur.

“Lagipula kamu datang ke kamarku ada perlu apa?”

“Makan pagi bareng yuk.”

Namika berkata sambil mengayunkan kakinya yang menggantung di tepi tempat tidur.

Dibandingkan putaran pertama yang hanya memandangku dengan mata penuh hinaan, ini benar-benar orang yang berbeda.

Melihat betapa manja dia padaku, aku curiga dia punya kompleks kakak-adik.

“…Kamu nggak terlalu nempel banget sama aku? Natsuki aja sih.”

“Hah? Ihh jijik. Mati aja sana.”

Tiba-tiba tatapan Namika turun sampai titik beku. Padahal aku cuma bercanda…

Tapi mengingat Namika di putaran pertama, ini terasa sangat nostalgia.

Aku makan pagi bersama Namika.

Menu pagi ini adalah corn flakes. Jangan bilang ini malas. Sarapan memang seharusnya seperti ini. Meski aku suka masak, membuat menu mewah setiap pagi tetap repot.

“Kakak.”

Namika yang duduk di seberang meja memanggilku.

“Ada apa?”

“Ehm… itu…”

Namika tampak kesulitan mengucapkan sesuatu sambil gelisah.

Apakah ini… pengakuan? Apa dia suka sama kakaknya!?

“Aku mau minta tolong belajar…”

Ternyata bukan itu sama sekali. Wajar.

Namika sudah kelas tiga SMP. Artinya dia sedang sibuk persiapan ujian.

Selama liburan musim panas, dia ikut les musim panas di juku sambil belajar di rumah.

Namika memang tipe yang serius. Nilainya selalu di peringkat atas.

“Kalau pagi ini aku kosong.”

“…Benar? Makasih.”

Namika tampak lega sambil tersenyum kecil.

…Tapi kenapa Namika begitu manja padaku ya.

Aku merasa tidak terlalu mengubah sikap dibanding putaran pertama.

Ah, tapi aku memang sering masak untuknya.

Di putaran pertama aku baru suka masak setelah kuliah dan tinggal sendiri, jadi aku tidak pernah masak untuk Namika.

Mungkin karena efek memberi makan?

“Ayo ke sini.”

Setelah menghabiskan corn flakes, aku menuju kamar Namika.

Sudah lama sekali aku tidak masuk ke kamarnya. Mungkin sejak SD.

Di meja belajarnya sudah terhampar buku pelajaran, buku referensi, dan catatan.

“Yang mau aku tanya ini…”

Sepertinya dia sudah menyusun soal-soal yang tidak dimengerti sebelumnya.

Namika memang cerdas. Dia tidak pernah bilang “aku tidak tahu apa yang tidak aku tahu”.

“Kakak, bisa jelasin?”

“Tentu saja. Kakak kan juara satu di angkatan.”

Begitu aku sombong, Namika menjawab dengan wajah serius, “Iya, keren banget.”

…Aku tidak menyangka dia langsung setuju, malah membuatku kehilangan kata-kata.

“Aku juga ingin jadi seperti Kakak.”

Namika duduk di kursi menghadap meja sambil bergumam.

Adikku ternyata sudah masuk fase dere, aku harus bagaimana?

“Jangan malu-malu, cepat ajarin.”




Namika memutar kursinya dan menoleh, menatapku dengan mata menyipit.

“A-ah——cough! Baiklah, kita mulai.”

Aku berdeham untuk mengalihkan pembicaraan, lalu mulai menjelaskan soal-soal yang tidak dimengerti Namika.

Karena dasarnya sudah bagus, dia cepat memahami. Murid yang sangat berbakat.

Setelah dua jam berlalu, semua soal yang tadinya tidak dimengerti sudah bisa dia kerjakan.

“Istirahat sebentar yuk.”

“Ya. Makasih, Kakak.”

Kami menuju ruang tamu dan duduk di sofa.

Namika yang jarang sekali melakukannya, membuatkan aku iced coffee.

“…Ini hadiah karena sudah mengajariku belajar.”

“Haha, begitu ya. Terima kasih.”

Namika membawa iced coffee miliknya sendiri dan duduk di sebelahku.

“Gimana persiapan ujiannya?”

“Hm… lumayan lah.”

“Ngomong-ngomong, sekolah tujuan utamamu mana sih?”

Di putaran pertama, aku ingat dia masuk SMA Perempuan Maebashi.

“…Suzunari.”

Namika bergumam pelan.

“Eh, begitu?”

“Soalnya Kakak kelihatan senang di sana.”

…Sepertinya aku sudah mengubah jalur hidup Namika.

Apakah ini perubahan yang baik atau buruk, aku sendiri tidak bisa menilai.

“Di simulasi ujian aku dapat B, jadi kalau tambah belajar sedikit, seharusnya bisa lulus.”

Kalau di tengah liburan musim panas sudah dapat B, itu sudah hampir pasti lolos.

Sebenarnya dia bisa menargetkan sekolah yang rankingnya lebih tinggi, tapi.

“Kalau lolos, kita bisa sekolah bareng setahun lagi.”

“…Ya.”

Namika mengangguk pelan.

…Namika hari ini terlalu manis, bikin aku tidak fokus.

“Hei, Kakak kapan belajarnya jadi jago gini?”

“Eh?”

“Soalnya pas sebelum masuk SMA Kakak cuma latihan otot terus, nggak pernah kelihatan belajar. Tapi tiba-tiba jadi juara satu angkatan. Nilai ujian masuk juga pas-pasan, tapi…”

“…Aku cuma serius denger pelajaran di sekolah kok.”

Hanya itu yang bisa kukatakan.

Pertanyaan Namika sebenarnya wajar.

Karena keluarga adalah orang yang paling melihat perubahanku.

“Gitar, nyanyi, masak, semuanya… tiba-tiba jadi jago. Ada triknya? Atau Kakak diam-diam latihan di tempat yang aku nggak tahu?”

“…Yang kedua.”

Memang benar aku latihan di tempat yang Namika tidak tahu.

Tempatnya adalah ‘dunia sebelum time leap’, sebuah cheat yang curang.

Entah bagaimana, aku juga makan siang bersama Namika sebelum akhirnya keluar rumah.

Hari ini aku sengaja tidak ada klub maupun kerja part-time. Lebih tepatnya, aku sengaja mengosongkan jadwal.

Karena hari ini setelah kencan dengan Hikari, kami akan pergi ke festival kembang api bersama semua orang.

Isi kencan dengan Hikari adalah study group untuk menyelesaikan PR liburan musim panas.

Pagi tadi aku juga mengajar Namika, jadi tanpa sengaja hari ini jadi hari penuh belajar.

Tapi, ini bukan kencan biasa.

Pasalnya, tempat study group-nya adalah di rumah Hikari!

Aku naik kereta ke Stasiun Takasaki, lalu berjalan sekitar lima belas menit.

Rumah Hikari berada di daerah yang melewati rumah Nanase yang pernah kudatangi musim dingin lalu.

Rumahnya sangat megah. Bahkan bisa dibilang mansion.

Tentu saja aku sudah menduga, tapi melihat langsung tetap membuatku terpukau.

Memang, Seisan adalah wakil presiden perusahaan besar. Wajar dia kaya.

“Selamat datang, Natsuki-kun.”

Begitu aku menekan bel pintu masuk, terdengar langkah cepat.

Dengan napas agak tersengal, Hikari yang memakai kacamata dan rambut diikat muncul membuka pintu.

Penampilannya sama seperti saat dia menulis novel di kafe musim panas lalu.

Karena study group, dia memang dalam mode kerja. Hikari yang seperti ini juga terasa segar dan lucu.

“Orang tuamu?”

“Papa kerja, Mama shopping.”

Aku sempat tegang, tapi langsung lega mendengar itu.

Aku sudah menduga Seisan sedang kerja, tapi ibunya juga keluar.

“Mungkin mereka sengaja kasih kami waktu berdua?”

“…Mungkin. Katanya hari ini mereka pulang malam.”

Hikari mengangguk sambil pipinya memerah.

Artinya mulai sekarang, kami berdua saja di rumah Hikari.

“Berdua berarti… kita bisa melakukan apa saja ya.”

Hikari bergumam pelan.

A-Apa saja? Bukan, bukan… tidak mungkin semua!

Terlalu agresif. Mungkin maksudnya bukan itu, tapi.

“…Kita study group kan?”

“B-Benar juga. Aku ngomong apa sih. Ahahaha…”

Hikari mengipas wajahnya yang memerah sambil tertawa gugup.

…Jelas sekali maksudnya itu!

“…”

“…”

Suasana jadi aneh.

Tapi ini pasti bukan salahku!

“A-ayo, aku antar ke kamarku dulu!”

Hikari buru-buru membalikkan badan dan memimpinku.

Aku melepas sepatu dan mengikutinya. Koridornya sudah tidak seperti rumah biasa.

Melalui ruang tamu yang sangat luas, kami naik tangga.

Hikari membuka pintu pertama di lantai dua dan masuk.

“Silakan.”

“Permisi…”

Kamar Hikari yang pertama kali kumasuki ternyata cukup sederhana.

Dibanding kamar Nanase yang penuh barang otaku, ini terasa jauh lebih luas.

Meski begitu, kamarnya tidak terlalu besar. Sekitar delapan tatami.

Ada tempat tidur, rak, meja belajar, dan kursi. Di tengah kamar ada karpet besar dengan meja lebar. Di kedua sisi meja ada bantal duduk.

“Aku ambil minum dulu, duduk saja.”

“Terima kasih.”

Sesuai instruksi Hikari, aku duduk di bantal dan menunggu minuman.

Sambil menunggu, aku melihat-lihat kamar Hikari karena gelisah.

Di meja belajar ada laptop yang masih menyala. Layarnya menampilkan novel yang sedang ditulis. Mungkin novel SF remaja yang dia ceritakan tempo hari.

Hari ini Hikari juga sedang mengejar mimpinya sebagai novelis.

“Maaf lama~”

Hikari datang membawa nampan dengan dua gelas barley tea.

Aku minum barley tea sambil mengeluarkan alat tulis dari tas.

“Hikari, PR-mu sudah sampai mana?”

“Eh? Ehm… belum satu pun selesai.”

Pantas dia gelisah tadi. Hikari menjawab malu-malu.

“Liburan sudah setengah lewat lho…”

“A-Aku pasti bisa! Nilai aku kan bagus!”

Memang sejak musim dingin tahun lalu, nilai Hikari naik drastis.

Setelah naik kelas dua, dia terus berada di peringkat atas.

Tapi PR liburan musim panas, meski bisa dikerjakan lancar, jumlahnya sangat banyak.

“Ya sudah, kita kerjakan saja.”

“Benar!”

…Meski begitu, tahun ini aku juga tidak bisa ceramah Hikari. Karena klub dan kerja part-time, aku baru mengerjakan sekitar dua puluh persen.

Kalau begini bahaya. Aku tidak mau buru-buru mengerjakan semuanya di hari terakhir liburan.

Hari ini harusnya bisa menyelesaikan sebagian besar sebelum malam.

Begitu mulai mengerjakan PR, suasana menjadi sunyi.

Hanya terdengar suara jarum jam dan bunyi pensil di kertas.

Saat melirik Hikari, dia sedang mengerjakan soal dengan konsentrasi luar biasa.

“Uhm…”

Tapi sepertinya menemui soal sulit, alisnya berkerut.

Hikari menatapku. Mata kami bertemu.

“Aaah, Natsuki-kun tidak konsentrasi.”

“Yah… ada bagian yang tidak dimengerti?”

Hikari mengeluh “Dia mengalihkan…” sambil mendekat ke sebelahku.

“Ini nih…”

“Pantas, memang agak rumit.”

“Gimana caranya?”

“Pakai teorema binomial dua kali atau pakai rumus multinomial.”

“Ah… begitu ya.”

Hanya sedikit penjelasan, Hikari langsung mengerti.

Titik kesulitannya di matematika sudah jauh berkurang dibanding tahun lalu.

Meski mengerjakan PR liburan bersama, jarang sekali aku perlu mengajarnya.

“Istirahat sebentar yuk.”

Hikari berkata sambil meregangkan tubuh.

Karena mengangkat tangan ke atas, bagian tertentu Hikari jadi sangat menonjol.

Pandanganku tanpa sadar tertarik, tapi aku buru-buru memalingkan muka. Kekuatannya luar biasa…

“…Kamu lihat kan.”

“…Bukan, lihat apa?”

Akhir-akhir ini Hikari sering sengaja menegur kalau merasa dilihat.

Dulu dia pasti pura-pura tidak tahu… eh, yang salah yang melihat? Iya.

“Begitu tertarik ya?”

“Ya… aku kan juga cowok.”

Aku memutuskan tidak bisa berpura-pura lagi dan mengaku jujur.

Boleh dong! Melihat dada pacar sendiri itu salah apa! (pembelaan diri)

“…………Kalau begitu, mau sentuh?”

Hikari menunduk dengan wajah merah sambil bergumam pelan.

Baru saja dia bilang apa? Sentuh? …Sentuh di mana?

“…B-Boleh?”

“…Kalau Natsuki-kun mau sentuh.”

Karena Hikari sudah mengizinkan, aku pindah ke sebelahnya melewati meja.

Hikari lalu bergerak ke depanku. Dia duduk di antara kakiku dan menyandarkan punggungnya.

“…D-Dari depan… agak malu.”

Rambut cokelat panjang Hikari terlihat sangat dekat. Telinganya yang sedikit terlihat sudah merah padam.

Dengan hati-hati aku menyentuh bahu Hikari. Tubuhnya tersentak.

Lalu kedua tanganku bergerak ke depan. Memeluk tubuh Hikari dari belakang.

Biasanya aku akan berhenti di titik kedua tangan bersilang. Yang agak keras itu pasti bra.

“…Boleh dilepas?”

Saat aku berbisik di telinganya, Hikari mengangguk pelan.

Aku memasukkan tangan ke balik bajunya dari belakang dan menyentuh kaitan bra.

Kemarin di mimpi, aku pernah melihat tipe yang sama. Entah kenapa jariku ingat caranya.

Klik, bunyi terdengar dan kaitan terbuka. Bra langsung melonggar.

“…Kamu terbiasa ya?”

“Bukan, bukan. Kebetulan bisa aja.”

Tidak mungkin aku bilang aku pernah melepas kaitan yang sama di mimpi.

“H-Hm…”

Suara Hikari sedikit gemetar.

Tanganku masih di balik bajunya, lalu bergerak ke depan.

“Hei, langsung?”

“…Nggak boleh?”

“Bukan nggak boleh sih…”

Dengan izin Hikari, aku menyentuh dadanya.

Kenyal, halus, dan lembut. Tanganku tenggelam di dalamnya.

“Ha… ha…”

Hikari yang bersandar di dadaku bernapas semakin berat.

Saat aku melirik wajahnya dari samping, ekspresinya campuran antara gairah dan tegang.

Hikari menyadari aku sedang mengintip dari bahunya dan menoleh. Aku langsung mencium bibirnya.

Karena ciuman mendadak, Hikari sempat tersentak.

“N-Natsuki-kun…?”

Setelah menciumnya lama, aku melepaskan bibir. Napas Hikari sudah semakin kasar.

Sambil meremas dada Hikari dengan lembut menggunakan kedua tangan, aku terus menatap matanya. Aku entah bagaimana tahu seberapa kuat harus meremas.

Sensasi yang aneh. Aku tidak punya pengalaman, tapi tubuhku bergerak seolah sudah berpengalaman. Meski tegang, gerakan tanganku terasa terbiasa.

Lebih besar daripada Miori yang sudah dewasa, pikirku.

Di tengah gunung yang lembut dan empuk, tonjolan yang terus disentuh tanganku semakin mengeras.

“Ha, ha… ah…!?”

Saat ujung jariku menyentuh tonjolan yang mengeras, napas Hikari berubah menjadi desahan.

Sambil memutar-mutar tonjolan itu dengan ujung jari, aku berhati-hati agar tidak terlalu kuat.

Semakin lama, tubuh Hikari semakin menggeliat.

Secara alami, tanganku bergerak ke perut bawah Hikari.

“Na… Natsuki-kun… tunggu, jangan.”

Saat tanganku masuk ke balik celana dalam, aku merasakan kelembapan.

Tangan Hikari memegang lenganku, tapi tidak ada tenaga. Hanya perlawanan pura-pura.

Di balik celana dalam yang basah, aku mengelus lembut tonjolan itu.

“Ini… sudah… ah…!?”

Akhirnya Hikari menegangkan kedua kakinya dan tubuhnya bergetar hebat.

Setelah getaran itu mereda, dia masih bernapas dengan berat.

“…Kenapa kamu… sangat mahir?”

Hikari bersandar di dadaku sambil bertanya dengan mata sayu.

Aku sendiri juga tidak tahu.

Sensasi aneh seolah melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan. Ada rasa tidak nyaman.

Tapi aku saat ini tidak cukup tenang untuk memikirkan ketidaknyamanan itu.

“Padahal aku sendiri… biasanya tidak secepat ini…”

“…Kamu juga melakukannya sendiri?”

“…Anggap saja tadi tidak terdengar.”

Hikari memalingkan wajahnya yang memerah.

Meski sedang mengobrol seperti itu, Hikari pasti menyadari sesuatu yang sedang menegang di bawah.

Karena benda yang besar dan keras itu menempel di pinggangnya.

“Itu punya Natsuki-kun…”

Hikari berkata seolah sudah memutuskan.

“…Sebaiknya diatasi ya…?”

Saat aku hendak menjawab pertanyaannya,

Kedua ponsel kami di meja bergetar bersamaan.

Di layar ada notifikasi RINE.

Di grup ‘Keluarga Natsuki’, Uta mengirim chat ‘Aku sudah mau berangkat!’

Melihat jam, sudah pukul enam belas.

Kami janjian untuk festival kembang api pukul delapan belas. Kami juga harus mulai bersiap.

Saat aku menoleh, Hikari sedang menatapku dari jarak sangat dekat. Menunggu jawabanku.

Entah kenapa, pemandangan itu tumpang tindih dengan sosok Miori yang sudah dewasa.

“…Sebaiknya kita bersiap ya.”

“…Ya.”

Saat aku menjawab sambil pelan memalingkan muka, Hikari mengangguk.

Dalam diam, aku berjalan menuju Stasiun Maebashi bersama Hikari.

Karena ada festival kembang api, kereta lebih ramai dari biasanya.

Kami berhasil mendapatkan tempat duduk dan duduk berdampingan tanpa berkata apa-apa.

Suasana canggung… atau entah bagaimana, sunyi yang aneh.

Karena terbawa suasana, kami melakukan hal yang sangat berani.

Dan sekarang, kami harus bertemu dengan semua orang…

“…Gimana ya, aku harus pasang wajah apa saat bertemu mereka?”

Sepertinya Hikari memikirkan hal yang sama, pipinya memerah.

“Tadi kita… melakukan hal seperti itu…”

Hikari memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua lengan.

“…Jangan diingatkan.”

Lagipula kamu yang menggodanya dulu!

Well, aku yang langsung terpancing juga salah sih.

“Hei, Natsuki-kun… pernah melakukan hal seperti itu dengan orang lain?”

“…Belum pernah.”

“E~h, benar?”

Entah kenapa Hikari menatapku dengan mata curiga.

“Aku tidak bohong.”

Benar, aku memang tidak berbohong.

Meski sesaat bayangan Miori melintas di benakku, itu hanya di dalam mimpi.

“Hm… memang sepertinya tidak bohong…”

Hikari yang terus menatapku akhirnya mengambil kesimpulan itu.

“…Kok kamu bisa tahu? Memang aku tidak bohong sih.”

“Soalnya Natsuki-kun itu mudah dibaca.”

“…Observasi Hikari memang selalu menyeramkan.”

“Kenapa takut? Itu bukti aku selalu memperhatikanmu kan.”

Hikari mengerucutkan pipi sambil mengeluh.

Hikari yang tahu betul aku tidak punya pengalaman cinta malah curiga, berarti gerakanku tadi terasa terlalu mahir. Tapi soal ini, aku benar-benar tidak bisa menjelaskan.

Aku sendiri juga merasa aneh.

Rasa tidak nyaman yang muncul saat melepas kaitan bra yang seharusnya tidak kukenal.

Tidak mungkin sesuatu yang tidak kukenal muncul di mimpi lalu tiba-tiba aku menguasainya.

…Sebenarnya apa yang sedang terjadi padaku?

Setelah berpisah sebentar dengan Hikari, aku menuju Taman Shikishima yang menjadi lokasi utama Festival Kembang Api Maebashi.

Matahari sudah mulai terbenam, tapi langit masih cukup terang.

Di tempat janjian, Reita dan Tatsuya sudah menunggu.

“Ouh, Natsuki.”

“Kamu jalan kaki dari stasiun? Lumayan jauh kan?”

“Lumayan. Lagipula bus hari ini pasti sangat ramai.”

Malah jadi olahraga yang bagus.

Belakangan aku jarang ke gym karena sibuk klub dan kerja part-time.

“Kalian berdua naik sepeda kan?”

“Tentu saja. Tapi tempat parkir sepeda juga sudah penuh, repot sekali.”

“Tempat pertama yang kami coba sudah penuh, jadi buru-buru ke sini.”

Reita dan Tatsuya tertawa pahit.

Ada alasan kenapa para cowok sudah berkumpul lebih dulu.

“Oh, chat dari Uta. Katanya sudah mau sampai.”

Tatsuya bergumam sambil melihat ponsel.

Saat aku melihat sekeliling, tiga gadis terlihat di bagian dalam taman.

Meski di tengah keramaian festival kembang api, ketiganya sangat mencolok.

Karena mereka bertiga memakai yukata.

Penampilan yang sudah menonjol semakin terlihat istimewa dengan efek yukata.

“Hoi, semuanya!”

Uta melambai-lambaikan tangan sambil berlari menghampiri.

Yukata merah cerah dengan motif bunga-bunga warna-warni.

Itu adalah yukata yang sama dengan yang dikenakannya di Festival Tanabata tahun lalu.

“Seperti janji, aku sudah paksa Hikari dan YuiYui memakai yukata!”

Uta berkata sambil menoleh ke belakang.

Hikari memakai yukata biru muda, Nanase memakai yukata biru.

Keduanya juga mengikat rambut. Penampilan baru ini terasa segar.

“Gimana?”

“Cocok nggak ya?”

Seminggu lalu, Uta mengusulkan, “Karena ini kesempatan bagus, ayo pakai yukata!”

Hikari dan Nanase ikut setuju, jadi ketiganya menyewa yukata di toko kimono dekat rumah Uta. Aku berpisah sebentar dengan Hikari tadi karena itu.

Ketiga gadis yang sudah memakai yukata kemudian naik mobil ibu Uta menuju Taman Shikishima.

“Ketiganya sangat cocok.”

Reita berkata sambil tersenyum seperti biasa.




Seperti biasa, dia sangat mahir memuji orang lain dengan santai.

“Terima kasih, Shiratori-kun. Lalu bagaimana menurut Haibara-kun?”

Nanase bertanya padaku sambil tersenyum menggoda.

“Ehm… sangat cocok.”

“Fufu, seharusnya kamu puji Hikari dulu.”

Pipiku ditarik oleh Nanase. Dia memasang jebakan!?

“Hm… ternyata yang pertama dilihat Natsuki-kun adalah Yuino-chan ya.”

Seperti dugaan, Hikari langsung cemberut.

“Bukan, bukan. Tentu saja Hikari yang paling cantik.”

“Tidak percaya sama sekali~ Soalnya kamu memuji Yuino-chan duluan.”

“Bukan begitu, Hikari. Aku dijebak oleh Nanase!”

Aku buru-buru membela diri, tapi Hikari memalingkan wajah.

Nanase yang melihat itu terkikik senang. Aku catat ini.

Di sisi lain, agak jauh dari kami, Tatsuya dan Uta sedang berbicara.

“Ehehe~ gimana?”

“Kenapa dari tadi kamu muter-muter di sekitarku?”

“Soalnya ini penampilan yukata pacarku kan? Aku ingin tahu apakah Tatsuya suka!”

“…Begitu ya. Yah, cocok lah.”

Tatsuya memalingkan wajah sambil berkata demikian.

“Jangan malu-malu, lihat yang benar dong!”

Uta tersenyum nakal sambil berusaha berputar ke depan Tatsuya.

“Apaan sih kamu, dari tadi mengganggu!”

“Yang salah Tatsuya karena nggak mau lihat!”

Seperti biasa, keduanya sangat ramai.

Tidak… sebenarnya “seperti biasa” bukan ungkapan yang tepat.

Hubungan keduanya perlahan berubah seiring waktu.

Musim panas lalu, yang pertama melihat yukata Uta seharusnya adalah aku.

Atau mungkin masih begitu. Itu adalah masa depan yang sudah kubuang sendiri.

Aku tidak menyesal dengan pilihan yang kuambil, dan tidak ada perasaan berlebih lagi. Ini bukan sekadar gengsi.

Melihat interaksi Uta dan Tatsuya, aku hanya merasa hangat.

Satu tahun ini benar-benar mengubah perasaanku terhadap Uta. Pasti Uta juga merasakan hal yang sama.

“Hikari.”

Saat aku menggenggam tangannya, Hikari akhirnya menoleh.

“Ada apa~?”

Hikari yang ekspresinya jelas mengatakan ‘aku sedang tidak senang’.

“Kamu cantik sekali. Yang paling cantik di dunia ini.”

Begitu aku katakan dengan tulus, Hikari berkedip beberapa kali.

“…J-Jangan bilang hal seperti itu di depan semua orang!”

Hikari memerah sambil mengeluh. Aku harus bagaimana!

Area sungai di Taman Shikishima yang menjadi venue festival kembang api sudah ramai dengan pengunjung.

Kami berjalan pelan mengikuti langkah para gadis yang memakai yukata.

“Kita duduk di mana?”

“Di sana tempatnya bagus! Orangnya sedikit tapi pemandangannya bagus!”

Uta menunjuk ke area yang agak jauh dari pusat, dengan kepadatan pengunjung yang rendah.

“Memang beda orang lokal, tahu banyak.”

“Sudah lebih dari sepuluh tahun aku lihat kembang api di sini!”

Uta berkata dengan bangga sambil menggembungkan dada.

Kesannya sedikit berbeda, dan itu bukan halusinasi.

“Mungkin… kamu bertambah tinggi?”

“Ah, Natsuki bisa lihat!? Sebenarnya sejak musim panas lalu aku bertambah dua senti!”

Uta berkata dengan senang. Ternyata benar.

“Aku juga bertambah dua senti.”

Tatsuya berkata seolah menantang Uta.

Aku memang melihat dia semakin kekar, ternyata tingginya juga bertambah.

Ngomong-ngomong, aku sama sekali tidak bertambah tinggi. Tinggiku berhenti sejak kelas tiga SMP.

Yah, aku sudah 178 cm, jadi tidak terlalu keberatan.

“Dua senti itu, bagi ke aku dong~!”

Uta memohon sambil cemberut ke Tatsuya.

“Kalau bisa dibagi, aku juga nggak bakal susah. Aku masih mau tambah tinggi.”

Tinggi Tatsuya sekarang sekitar 185 cm, bertambah dua senti sejak kelas satu.

Memang termasuk tinggi untuk ukuran umum, tapi untuk yang ingin jadi pro, masih rendah.

Kalau guard mungkin masih oke, tapi Tatsuya adalah forward. Forward sebaiknya 190 cm ke atas.

Pada akhirnya, tinggi badan adalah senjata terbesar di basket. Rendahnya tinggi badan adalah kerugian besar. Makanya klub basket penuh dengan orang tinggi.

…Lagipula, tinggi Tatsuya mungkin hanya akan bertambah satu atau dua senti lagi.

Karena tidak ada hubungannya dengan time leap-ku, tidak akan ada perubahan besar.

Realita memang keras, tapi aku yakin Tatsuya sekarang bisa mewujudkan mimpinya.

Dia memang bukan tipe yang malas berlatih, dan sepertinya secara mental juga lebih matang dibanding putaran pertama.

“Enak ya, aku juga mau tambah tinggi sedikit lagi.”

“Ara, menurutku Hikari dan Uta justru paling lucu di tinggi sekarang.”

“Muu… YuiYui melihat dari atas!”

Sambil mengobrol seperti itu, kami tiba di tempat tujuan.

Kami membentangkan lembaran lebar yang dibawa Reita di lapangan rumput.

Agar tidak terbang tertiup angin, kami meletakkan batu-batu sedang di empat sudut.

Sambil melakukan itu, langit sudah berubah menjadi merah jingga. Jam di ponsel menunjukkan pukul delapan belas lewat tiga puluh. Kembang api mulai diluncurkan setelah pukul sembilan belas. Masih ada waktu.

“Tempat sudah aman, ayo ke stan!”

Uta mengusulkan dengan semangat.

“Perutku lapar. Mau makan takoyaki.”

“Aku mau okonomiyaki!”

“Kenapa? Makan okonomiyaki buatan ibumu saja.”

“Aku mau tahu rasa yang bukan buatan Mama!”

Uta berkata dengan gembira sambil bersenandung.

Kami semua berjalan mengikuti Uta menuju area tengah venue festival.

Di kedua sisi jalan sungai, banyak stan makanan berjajar. Jumlah orang semakin bertambah.

“Ramai banget ya?”

“Tidak juga sih, lumayan.”

Seperti yang dikatakan Reita.

Memang banyak orang, tapi jalannya lebar sehingga tidak terlalu padat.

…Meski bagi kelompok enam orang, tetap susah agar tidak berpisah.

“Hikari mau makan apa?”

Sambil minum air yang sudah kubeli sebelumnya, aku bertanya pada Hikari.

“Hm~ aku mau…”

Hikari berpura-pura berpikir, lalu berbisik di telingaku.

“Tahun lalu, kamu makan apa dengan Uta-chan?”

“Cough cough!?”

Aku tersedak.

“Apaan sih tiba-tiba…”

“Kalian pergi ke Festival Tanabata kan.”

“Itu kan bukan festival kembang api.”

“Mirip lah. Ada stan, ada yukata.”

“…Kok kamu tahu Uta memakai yukata tahun lalu?”

“Jadi benar ya. Yukata itu sama dengan tahun lalu kan?”

Ini interogasi terselubung! Aku takut dengan kemampuan deduksi Hikari.

“Makanya kamu melihatnya dengan mata nostalgia.”

“…Benar. Tapi tidak ada perasaan lain.”

“Hm… yah, itu aku percaya.”

Uta yang berjalan di depan kami sedang mengobrol dengan Tatsuya sambil riang.

“Cerita dong. Kalian makan apa waktu itu?”

“…Yakisoba.”

Kalau dipikir lagi, itu seperti ciuman tidak langsung.

“Kalau begitu, aku beli yakisoba ya.”

“…Ini perlawanan?”

“Aku akan menimpa kenangan Natsuki-kun~”

Hikari-san, kamu agak menyeramkan!

“Natsuki-kun, sini sini!”

Aku mengikuti Hikari yang menuju stan yakisoba.

Sambil aku dan Hikari membeli yakisoba, Tatsuya membeli takoyaki, Uta okonomiyaki, Nanase apel candi, Reita jagung bakar dan karaage. Masing-masing membeli makanan favoritnya.

Setelah keluar dari deretan stan, kami kembali ke tempat lembaran kami bentangkan.

Saat kami duduk bersila di atas lembaran dan menghela napas, langit sudah gelap gulita.

Satu-satunya penerangan adalah lentera festival dan lampu jalan yang jarang. Karena cukup jauh, suasana cukup gelap. Bahkan wajah teman-teman di lembaran yang sama pun sulit terlihat jelas.

“Sebentar lagi mulai ya?”

“Sepuluh menit lagi? Takoyakinya enak banget.”

“Aku juga mau satu!”

“Aku juga. Boleh satu?”

“Ara, kalau begitu aku juga mau.”

“Hei, jangan ambil seenaknya! Nanti tinggal setengah!”

“Yah yah Tatsuya, aku kasih okonomiyakiku.”

“Tanpa ragu dibagi berarti rasanya biasa aja kan?”

“Ahaha!”

“Jangan tertawa sambil mengalihkan!”

“Kalau dibanding okonomiyaki di rumahku, ya wajar.”

“Yuino-chan, apel candi saja sudah cukup?”

“Tidak cukup, makanya aku ambil satu takoyaki milik Nagiura-kun.”

“Beli sendiri dong!”

“Sebenarnya aku sudah makan sedikit tadi, jadi perutku belum terlalu lapar.”

“Kalau begitu kembalikan! Itu takoyakiku!”

“Kenapa kamu jadi sewot. Makan apel candi dan tenanglah.”

“Jangan! Kenapa aku harus makan apel candi yang sudah kamu jilat!?”

Sambil makan makanan dari stan, mereka ribut dengan riang.

Suasana itu terasa sangat nostalgia dan menyenangkan. Sampai-sampai aku hampir menangis.

Meski wajah mereka tidak terlihat jelas karena gelap, aku bisa membayangkan ekspresi mereka.

“Natsuki-kun.”

Hikari yang duduk di sebelahku menepuk bahuku pelan.

“Ini, aa~n.”

Dia menyodorkan yakisoba dengan sumpit. Aku membuka mulut dan menerimanya.

Jahe merahnya pas, enak sekali. Ini benar-benar rasa yakisoba stan yang kucari.

“Ah, Natsu dan Hikari diam-diam mesra-mesraan!”

Begitu Uta menunjuk, kami berdua tersentak.

“Ma-maaf…”

Hikari meminta maaf dengan wajah canggung.

“Masih mesra sekali ya. Sudah hampir satu tahun kan?”

“Sejak Oktober tahun lalu, jadi sekitar sepuluh bulan.”

Reita dan Nanase mengobrol seperti itu.

Meski gelap dan tidak terlihat jelas, pasti mereka sedang nyengir.

“Menurut kalian sudah sampai mana?”

“Fufu, pasti masih sebatas ciuman.”

Karena suasana festival, mereka mulai membahas hal-hal vulgar yang biasanya tidak dibahas.

Lagipula topiknya sangat tepat waktu bagi kami.

Karena… baru saja kami melakukan hal yang lebih dari ciuman.

Aku dan Hikari yang duduk berdampingan saling pandang. Tapi segera memalingkan muka.

“Sudah-sudah. Di sini ada anak kecil.”

Tatsuya menepuk kepala Uta sambil menenangkan Reita dan yang lain yang sedang usil.

“Siapa yang anak kecil!” teriak Uta. Melihat itu, senyum muncul di antara kami.

Sepertinya Tatsuya sedang memikirkan kami. Meski Uta yang jadi korban terlihat kasihan.

Sesaat kemudian, suara besar terdengar.

Aku mendongak ke langit malam yang tanpa awan. Langit penuh bintang.

Di antara bintang-bintang yang berkelap-kelip, seberkas cahaya meluncur lurus ke atas.

Lalu cahaya itu meledak dengan bunyi “boom”, mekar menjadi bunga di langit.

“Wah!” sorak-sorai terdengar dari sekitar.

“Kembang api!”

Seseorang berteriak.

Serbuk api berwarna-warni larut ke dalam langit.

Setelah itu, satu demi satu, bunga cahaya mekar dan menghilang di langit malam.

“Indah sekali.”

Hikari bergumam sambil mendongak ke langit.

“…Benar.”

“Kenapa kembang api bisa sempurna begini ya?”

Pertanyaan Hikari sebenarnya bukan pertanyaan, tapi aku tidak tahu jawabannya.

“Karena bentuknya berubah dalam sekejap, pasti.”

Yang menjawab adalah Uta.

“Keindahan yang hanya ada sesaat… justru membuat cahayanya semakin kuat.”

Jawaban Uta sama dengan perasaanku terhadap masa muda.

Aku terobsesi dengan masa muda karena aku tahu ia akan berakhir.

Kalau masa muda tidak pernah berakhir, mungkin aku tidak akan pernah menyesal.

“…Aku tidak mau berubah.”

Sambil menatap kembang api yang mekar berlapis-lapis, Uta melanjutkan.

“Aku tahu tidak ada yang abadi… tapi tetap saja.”

Aku tahu apa yang dimaksud ucapannya.

Dia sedang membicarakan hubungan kami berenam.

“Aku ingin percaya.”

Hikari bergumam pelan.

“Meski banyak hal yang berubah, ada juga yang tetap tidak berubah.”

Akhirnya, kembang api memasuki klimaks.

Puluhan kembang api diluncurkan bersamaan, langit malam bergoyang dengan bulir emas.

“Seberapa pun bentuknya berubah, selama akarnya sama, itu tidak apa-apa kan?”

“Apa maksudnya, YuiYui?”

Reita yang menjawab pertanyaan Uta yang bingung.

“Meski kelas kami terpisah, kita tetap bersama. Begitu kan maksudnya?”

“Haha, kamu bilang hal yang tidak seperti dirimu.”

“Apa sih? Kadang-kadang aku juga bisa sentimental kok.”

Tatsuya yang menggoda disambut Nanase yang malu-malu.

“Ikatan kita abadi. Setidaknya, kita bisa percaya itu. Benar kan?”

Begitu aku bertanya pada semua orang, mereka saling pandang di kegelapan.

Lalu mereka tertawa riang. Aku ikut tertawa melihat senyum mereka.

Kami terus tertawa sampai kembang api terakhir mekar.

Setelah itu kami diam. Tapi itu bukan diam yang canggung.

Sambil menikmati sisa-sisa kembang api, kami terus mendongak ke langit.

Kami sedang berbagi waktu. Hidup bersama saat ini. Karena itu, kami bahagia.

“…Sudah selesai ya.”

Nanase bergumam dengan nada sayang.

Dari speaker jauh, terdengar pengumuman penutupan yang samar.

Sambil menikmati sisa-sisa kembang api, tiba-tiba Uta berkata dengan suara kecil yang hampir hilang.

“Aku tadi kebawa suasana festival dan tiba-tiba jadi puitis…”

“Hei Uta-chan!? Jangan tiba-tiba jadi waras! Aku jadi malu!”

“Kalau dibahas, aku juga malu kok…”

“Aku hanya menerjemahkan kata-kata Nanase-san, jadi aman.”

“Yang bilang ‘ikatan kita abadi’ malah Natsuki yang paling memalukan.”

“Hei, jangan sebutin satu-satu! Aku juga tahu itu memalukan!”

Suasana pasca kembang api hancur total.

Setelah berpisah dengan semua orang, aku pulang ke rumah.

Senang sekali bisa berkumpul berenam setelah lama.

Di grup chat, foto-foto hari ini sudah menjadi album.

Frekuensi grup chat ini aktif jauh lebih rendah dibanding saat kelas satu.

Kalau melihat riwayat chat sejak kelas dua, tanpa banyak scroll sudah sampai ke masa kelas satu. Wajar, karena waktu yang kami habiskan bersama semakin sedikit.

Mungkin memang tidak ada yang abadi.

Tapi aku juga ingin percaya bahwa ada hal yang tetap tidak berubah.

Setelah pulang dan mandi, tubuh yang berkeringat terasa segar.

Hari ini tidak terlalu panas, malamnya juga cukup sejuk, tapi tetap saja berkeringat karena lama di luar. Aku mengambil es krim dari freezer, Namika sedang tidur di sofa.

Dia tidur sambil menghadap kipas angin. Bajunya naik sampai perutnya terlihat.

“Hei, nanti masuk angin.”

“Hm~ capek habis festival kembang api…”

Sepertinya Namika juga pergi ke festival dengan teman-temannya.

“Dengan siapa?”

“Diajak cowok sekelas…”

“Hah!?”

Ternyata Namika juga sudah di usia yang melakukan aktivitas masa muda.

“Tapi… kurang seru mungkin.”

…Semangat, cowok sekelas yang tidak kukenal namanya.

“…Ngantuk.”

Saat aku makan es krim, Namika sudah tertidur lagi.

“Tidur di kamar.”

Karena dia tidak bangun meski aku goyang-goyang tubuhnya, aku terpaksa menggendongnya.

Saat membawanya ke kamar, Namika membuka mata setengah sadar.

“Eh… Kakak ya…”

Dia berkata sambil memejamkan mata lagi dengan wajah lega.

Aku merebahkannya di tempat tidur dan menyelimutinya.

“Namika. Kalau mau pacaran, cari cowok yang lebih ganteng dari Kakak ya.”

“…………Ya, aku mengerti.”

Dia benar-benar mengerti. Padahal cuma bercanda.

Aku keluar dari kamar Namika, menggosok gigi, lalu kembali ke kamarku.

Saat berbaring di tempat tidur, aku sadar tubuhku cukup lelah.

Sambil terhanyut ke alam tidur, aku punya firasat.

―Malam ini aku pasti akan melihat mimpi aneh itu lagi.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close