Chapter 4
Bukti Cinta
Sesampainya di
stasiun terdekat, Hikari sudah menungguku.
Dengan busana
bernuansa musim gugur, Hikari melonggarkan ekspresinya dan segera berlari ke
arahku.
"Na~tsuki-kun!"
"O-oi...!?"
Aku tak
menyangka dia akan langsung memelukku.
Aku
buru-buru menahan tubuh Hikari, lalu memperbaiki posisi kami yang sempat goyah.
"......Aku
cuma mau mencoba melakukan ini sekali saja."
Hikari mungkin
merasa sedikit sadar diri, wajahnya memerah saat mengatakannya.
"Li-lihat
saja! Tidak ada orang di sekitar sini, kan!"
Memang
benar tidak ada orang. Ini adalah stasiun kecil, jadi jarang ada yang naik atau
turun di sini.
"Ini materi
untuk tulisanku! Benar, ini materi untuk tulisanku!"
"Kalau
rasanya semalu itu sampai wajahmu merah padam, harusnya tidak perlu
dilakukan..."
"Jangan
buat pengamatan yang tenang begitu!"
Sambil
berdebat seperti itu, aku mengulurkan tanganku kepada Hikari.
"Ayo
pergi."
"......Un!"
Hikari
menggenggam tanganku, lalu kami berjalan beriringan.
Area di sekitarku
adalah kawasan perumahan. Meski hari libur, hampir tidak ada orang yang berlalu-lalang.
Yah,
semua orang memang pergi menggunakan mobil. Alasan untuk berjalan kaki hanyalah untuk sekadar
jalan-jalan santai.
"Ngomong-ngomong,
baru-baru ini aku diminta untuk menulis lirik lagu."
"Lirik?"
"Iya.
Untuk lagu band Natsuki-kun dan yang lainnya."
"......Itu
informasi yang sangat penting, tapi kau mengatakannya dengan santai
sekali!?"
"Fufu,
soalnya aku baru saja membicarakannya dengan Serika-chan."
Hikari berada di
kelas yang sama dengan Serika saat kelas dua.
Kabarnya, di
kelas dia selalu menghabiskan waktu bersama Serika. Jadi, tidak heran kalau
Hikari sering tahu kabar tentang kegiatan band kami dari Serika.
Walau
begitu... aku tak menyangka Hikari akan terlibat langsung dengan band kami.
"Serika
akhir-akhir ini suka sekali menyuruh orang lain menulis lirik, ya..."
"Serika-chan
bilang dia suka mengomposisi lagu, tapi tidak pandai menulis liriknya."
Ngomong-ngomong,
saat ini kami sedang melatih lagu yang liriknya ditulis oleh Mei—berjudul Ankou
(Cahaya Gelap).
Mei sempat
kesulitan saat Serika memintanya menulis lirik, tapi akhirnya berhasil selesai
selama liburan musim panas.
Isinya adalah
teriakan seorang pria yang keberadaannya tidak dianggap. Liriknya sangat
mencerminkan jalan hidup Mei sendiri.
Sepertinya dia
juga banyak dibantu oleh kekasihnya, Funayama-san.
Setelah aku,
Yamano, dan Mei, akhirnya giliran Hikari yang tidak ada hubungannya dengan band
malah ikut menulis lirik.
"Ini pertama
kalinya aku menulis lirik, tapi aku akan berusaha."
Hikari
mengepalkan tangan dengan penuh semangat.
Tentu saja aku
tidak keberatan Hikari menulis lirik. Sebaliknya, mungkin dia adalah orang yang
paling cocok untuk tugas itu.
"Hikari
pasti bisa. Bagaimanapun, kau kan novelis profesional."
"......Sudahlah,
aku kan belum profesional. Lagi pula, menulis lirik itu beda lagi bagi orang
awam sepertiku, tahu?"
Hikari
menjawab sambil menggembungkan pipinya.
"Meski
bidangnya berbeda, bukankah sama-sama mengolah kata?"
"Itu karena
sudut pandangmu terlalu sempit, Natsuki-kun. Novel dan lirik itu sangat berbeda."
"Tapi, kau
sempat memberiku saran saat aku menulis lirik dulu..."
"Maksudmu
saat lagu 'Hoshi e', ya? Aku masih merasa saran itu sedikit aneh,
Natsuki-kun."
"Yah...
kalau dipikir sekarang, memang agak sinting, sih."
Kenapa juga saat
itu aku meminta saran pada Hikari tentang lirik yang menyampaikan cintaku
padanya?
Yang jelas, saat
itu aku sedang terburu-buru, jadi kepanikan itu bisa dipahami.
"Apa kau
mengerti perasaanku saat itu, Natsuki-kun?"
"......Perasaan
yang seperti apa?"
"Ja-jangan
suruh aku mengatakannya!"
Entah kenapa
bahuku dipukul. Bukankah itu sangat tidak masuk akal?
"......Rasanya
malu, tapi juga senang, dan merasa lega."
"Lega?"
"Iya...
karena aku jadi tahu kalau Natsuki-kun menyukaiku."
"......Begitu
rupanya."
Saat itu,
perasaanku memang sedang goyah antara Hikari dan Uta.
Aku yakin Hikari
juga merasa sangat cemas. Meski rasanya seperti membicarakan orang lain, aku
merasa tidak enak padanya.
"Bagaimana
kalau kali ini aku yang meminta saran pada Natsuki-kun?"
"Hikari
meminta saran padaku?"
"Iya.
Bukankah Natsuki-kun senior dalam membuat lirik?"
"Aku baru
membuat dua lagu, lho."
"Aku suka
lagu 'Hoshi e' maupun 'Monokuro', kok."
Sambil
berkata begitu, Hikari mengayunkan tangan kami yang bertaut dengan ceria.
"Tentu saja.
Kalau kau tidak keberatan, aku akan membantumu."
Sambil
berbincang, kami pun sampai di rumahku.
"......Di
depan pintu, tidak ada sepatu ya."
"Hari
ini, Ibu dan adikku sedang pergi berlibur."
"......Begitu
ya. Kenapa Natsuki-kun tidak ikut?"
"......Karena
aku sudah merencanakannya sejak tahu kau akan datang bermain."
"So-soalnya
begitu, ya~?"
Suara Hikari
terdengar melengking.
...Ya, meski aku
tidak mengatakannya, Ibu dan Namika dengan sengaja memberikan privasi bagi
kami.
Sepertinya
penyebabnya adalah kejadian terakhir kali Hikari datang, di mana Namika
memergoki adegan ciuman (yang gagal) antara aku dan Hikari. Namika pasti
mengadu pada Ibu.
Bahkan mereka
sampai menyiapkan kondom dengan sangat teliti. Aku bisa membelinya sendiri,
tahu!
"Kalau
begitu... kita bisa melakukan apa saja, dong."
"......Bukankah
kau sudah mengatakan itu sebelumnya?"
"......Tadi
aku bilang begitu, ya?"
Hikari bertanya
seolah ragu, tapi jelas dia sengaja melakukannya. Dia licik sekali.
Aku mengajak
Hikari masuk ke kamarku dan menyuruhnya duduk di atas bantal duduk yang sudah
kusiapkan.
"Teh atau
kopi? Mana yang kau mau?"
"Kalau
begitu, kopi saja."
Aku menyeduh dua
cangkir kopi lalu kembali ke kamar.
Setelah
meletakkan cangkir di atas meja, aku duduk di samping Hikari yang bersandar
pada tempat tidur.
"Selamat
atas penghargaannya, Hikari."
Aku memberikan
kantong yang sudah kusiapkan di rak dekat situ kepada Hikari.
"Waa...
terima kasih!"
Mata Hikari
berbinar saat dia berterima kasih.
"Boleh
kubuka?"
"Tentu
saja."
Hikari
mengeluarkan isi kantong itu.
"......Tempat
kartu nama?"
Yang kuberikan
adalah tempat kartu nama yang sedikit mewah.
Aku sempat
memikirkannya matang-matang, tapi rasanya memberikan aksesori sebagai perayaan
penghargaan terasa kurang pas. Jadi, kupikir lebih baik memberikan sesuatu yang
berguna untuk kariernya sebagai novelis.
"Kurasa kau
akan menggunakannya untuk pekerjaan, dan mungkin kau belum memilikinya."
"......Be-benar
juga ya. Karena sudah jadi profesional, berarti ini adalah pekerjaan."
Hikari memang
masih SMA, jadi reaksi itu wajar.
Yah, aku sendiri
melakukan time leap saat masih kuliah, jadi aku belum punya pengalaman
sebagai pekerja kantoran sih.
"Aku harus
membuat kartu nama, ya. Aku sama sekali belum memikirkannya."
"Bukankah
akan ada upacara penghargaan nantinya? Bukankah sebaiknya disiapkan dari
sekarang?"
"Natsuki-kun...
kau punya pemikiran yang dewasa sekali ya."
Bagi Hikari itu
mungkin pujian, tapi aku jadi merasa gugup.
"......A-ah,
begitu ya?"
"Iya.
Menurutku keren."
Hikari tersenyum
bahagia setelah mengatakannya.
"Terima
kasih, Natsuki-kun. Akan kujaga baik-baik."
"Aku senang
kalau kau menyukainya."
Semua
kegelisahanku saat memilih kado ini akhirnya terbayar.
"Aku akan
berusaha keras. Meski mimpiku akan segera terwujud, ini baru garis
start-nya."
"Apa mimpi
selanjutnya?"
"Tentu saja
menjadi penulis best-seller! Tapi, pertama-tama mungkin aku harus
membuat naskah debutku jadi jauh lebih menarik. Aku menang sih, tapi kalau
dilihat lagi sekarang, ada banyak poin yang bisa diperbaiki."
"Begitukah?"
"Tentu saja.
Saat mengirim karya ke lomba, aku merasa itu adalah karya terbaikku. Tapi,
setelah menulis beberapa karya lain, karya lamaku jadi terasa kurang
matang."
"Itu artinya
kau juga sedang berkembang, Hikari."
"......Iya,
kurasa begitu."
"Kapan karya
debutmu akan dirilis?"
"Aku juga
tidak tahu pastinya... tapi kalau melihat pemenang sebelumnya, biasanya sekitar
satu tahun setelah pengumuman. Tergantung karyanya, bisa maju atau mundur
beberapa bulan."
Alasan dia bisa
menjawab dengan lancar, pasti karena dia sudah merisetnya sendiri.
Meskipun dia
bicara dengan tenang sekarang, kebahagiaan di dalam hatinya tersampaikan
padaku.
"Kalau buku
Hikari sudah terbit, ayo kita bagikan ke semua orang."
"Eh, eeh~,
rasanya malu sekali kalau dibaca semua orang."
"Bukannya
nanti karyamu akan dibaca oleh pembaca di seluruh negeri?"
"Memang
benar begitu... tapi kalau dibaca kenalan, nanti ketahuan kalau anak laki-laki
yang dicintai protagonisnya mirip sekali dengan Natsuki-kun. Aku pasti akan
digoda habis-habisan..."
"Apa yang
kau katakan? Aku saja menyanyikan lagu 'Hoshi e' di depan seluruh siswa."
"Jangan
samakan aku dengan orang yang tak terkalahkan sepertimu."
"Siapa yang
tak terkalahkan, siapa."
Hikari terkikik
geli.
Lalu, dia
menatap langit-langit kamar sambil bergumam samar.
"Saat
karya itu dirilis, mungkin kita sedang sibuk belajar untuk ujian masuk
universitas, ya."
"......Benar
juga."
Kata "ujian
masuk" perlahan mulai terasa nyata.
Seperti halnya
senior Iwano dulu, ini adalah waktu di mana orang-orang mulai serius belajar.
"Hikari
sepertinya harus membagi waktu antara revisi naskah dan belajar, ya."
"Mungkin
lebih baik menyelesaikan revisinya lebih awal, lalu fokus ujian sampai
lulus."
"......Hikari
mau masuk universitas mana?"
"Belum
memutuskan, tapi mungkin jurusan yang ada hubungannya dengan sastra.
Natsuki-kun sendiri?"
"Aku...
mungkin jurusan teknik."
"Ngomong-ngomong,
kau sempat bilang ingin masuk perusahaan konstruksi, kan."
"Tidak juga,
bukan berarti aku ingin masuk perusahaan konstruksi..."
"Lalu... kau
memang ingin masuk jurusan teknik?"
"Tidak,
bukan begitu juga..."
"Apa
itu. Kau tetap saja
aneh."
Aku hanya
melakukan pilihan yang bisa memanfaatkan pengalamanku dari putaran pertama.
Aku tidak terlalu
suka teknik, tapi itu bidang yang paling kukuasai.
Menurutku, itu
adalah solusi optimal untuk mendapatkan masa depan yang stabil sembari tetap
serius bermusik.
"Apakah kau
akan pergi ke Tokyo?"
Hikari
bertanya dengan ekspresi serius.
Mungkin dia sudah
ingin menanyakannya sejak lama.
"......Sepertinya
begitu."
Serika sangat
ingin berkiprah di Tokyo.
Kemungkinan besar
Serika dan Mei sedang mempertimbangkan untuk kuliah di Tokyo.
Karena Yamano
setingkat di bawah kami, frekuensi aktivitas kami mungkin akan berkurang selama
setahun, tapi kupikir prioritas kami adalah memperluas jangkauan aktivitas
band. Meski kami belum bicara secara spesifik tentang itu.
"Bagaimana
dengan Hikari?"
"Kalau
begitu, mungkin aku juga akan pergi ke Tokyo."
"Kau
yakin?"
"Ayah
mungkin akan protes, tapi kurasa akan baik-baik saja."
Itulah kekuatan
Hikari yang sekarang.
"Lagipula,
kalau bisa tinggal di tempat baru, wawasan jadi lebih luas. Dan karena untuk
menulis novel yang menarik itu butuh pengalaman, pengalaman hidup itu penting.
Kalau bisa sering bertemu Natsuki-kun, itu seperti sekali mendayung dua pulau
terlampaui!"
"......Terima
kasih, Hikari."
"Yah,
kalaupun kuliah di Gunma, jaraknya tidak jauh-jauh amat sih."
"Benar juga.
Toh naik kereta cuma butuh dua setengah jam. Kalau niat sedikit, kita tetap
bisa bertemu."
Kalau naik
Shinkansen cuma butuh satu setengah jam. Selama punya uang, itu tidak terlalu
jauh.
Walaupun
begitu... aku ingin bertemu Hikari setiap hari. Kalau Gunma dan Tokyo, mungkin
tidak bisa sering bertemu. Jadi, sejujurnya aku senang Hikari bilang ingin
pergi ke Tokyo.
"Aku
tak sabar untuk hidup mandiri di Tokyo~! Aku ingin segera bebas dari aturan
rumah."
Meski jam
malamnya sudah dilonggarkan, sepertinya Hikari masih merasa banyak aturan yang
merepotkan.
Ternyata
nona dari keluarga terpandang juga punya masalah sendiri, ya.
"Eh...
jangan-jangan, apa aku tidak perlu memaksakan diri hidup sendiri?"
Hikari bergumam
pelan. Aku tidak sebodoh itu sampai tidak mengerti maksudnya.
"Tidak...
bukankah Seisei-san tidak akan mengizinkannya?"
"I-iya juga
ya... kalau masih mahasiswa rasanya terlalu dini untuk tinggal bersama,
ya."
Hikari menggaruk
pipinya dan berkata dengan malu-malu.
Orang tuaku
mungkin tidak akan komplain, dan kalau bisa aku ingin melakukannya, tapi...
yah, rasanya tidak mungkin.
"......"
"......"
Entah kenapa,
keheningan menyelimuti kami.
"Mau nonton
film?"
Televisi hanya
ada di ruang tamu, tapi karena hari ini tidak ada orang di rumah, tidak masalah
jika memakai ruang tamu sepuasnya.
"Ah, ide
bagus. Mau nonton apa?"
"Sebenarnya
kalau berjalan sepuluh menit, ada Staya."
Saat kusebutkan
nama tempat penyewaan video itu, Hikari mengangguk.
Karena zaman
sekarang situs streaming sedang naik daun, untuk film lama kita biasanya
memang harus menyewa.
"Kalau
begitu, ayo kita pergi menyewa. Aku juga ingin tahu lingkungan sekitar rumah
Natsuki-kun."
Aku keluar rumah
bersama Hikari dan berjalan menyusuri jalanan yang dikelilingi perumahan dan
sawah.
"Damai
sekali, ya."
Ke mana pun mata
memandang, pemandangan yang sama membentang luas. Inilah kampung halamanku.
Namun, aku tidak
benci suasana yang santai seperti ini. Kota besar terlalu berisik.
"Kalau
dibandingkan dengan Takasaki, ini pasti pelosok desa, kan?"
"Kalau
dilihat dari sudut pandang Tokyo, Takasaki juga pelosok, kok."
Saat
berbincang seperti itu, kami sampai di Staya.
Tempat
ini tipe toko yang tempat parkirnya lebih luas daripada bangunannya (bukti khas
pedesaan).
"Apa yang
ingin kau tonton?"
Di
deretan film baru, berjejer film-film yang sempat populer beberapa waktu lalu.
Yah,
bagiku semuanya adalah film lama. Tentu saja, aku juga sudah banyak menonton
film-film itu.
"Aku
mau yang ini~."
Film yang
dipilih Hikari adalah mahakarya fiksi ilmiah bertema perjalanan waktu.
Aku pernah
menontonnya, tapi karena sudah lama sekali, aku hampir tidak ingat isinya.
"Tadi kau
bilang menulis fiksi ilmiah, kan? Aku sedang belajar banyak hal."
"Mengerti.
Kalau begitu, kita ambil ini saja."
Termasuk film
pilihan Hikari, kami menyewa lima film.
Alasannya karena
ada promo diskon jika menyewa dalam satu paket. Sekalian saja, kan.
*
"......Film
tadi menarik sekali, ya."
Hikari yang duduk
di sampingku bergumam sambil meresapi isi filmnya.
Kami baru saja
selesai menonton film berdurasi dua jam itu.
"Bagaimana
menurut Natsuki-kun?"
"Tentu saja
aku merasa menarik."
Saat menonton
tadi, ingatanku perlahan kembali.
Memang benar,
mahakarya tetap menarik meskipun ditonton berkali-kali.
"......Tapi,
kenapa ekspresimu agak murung?"
"Eh,
benarkah...?"
Yah, jujur saja
perasaanku mungkin memang tidak terlalu baik.
Melihat alur
cerita di mana tindakan protagonis yang ingin memperbaiki masa lalu malah
membawa dampak buruk ke masa depan, itu membuatku tidak tenang. Karena
situasiku sendiri, aku jadi lebih merasa emosional daripada dulu.
"Aku lapar.
Aku akan siapkan makanan."
Aku buru-buru
mengalihkan pembicaraan. Keadaan hatiku ini sulit dijelaskan pada Hikari.
"Eh...
jangan-jangan, Natsuki-kun yang akan memasak?"
Hikari memekik
kaget.
"Iya. Apa
yang ingin kau makan?"
Di lemari es
tersedia hampir semua bahan makanan. Kalau kurang, aku tinggal ke supermarket.
"Kalau begitu... Omurice."
"Itu bidang
keahlianku. Kau suka?"
"Iya.
Lagipula... waktu itu aku melihat foto Omurice yang terlihat sangat
lezat."
"Waktu
itu?"
"Foto
yang diposting Uta-chan di Minsta."
"............Ah!
Jangan-jangan, musim semi tahun lalu!?"
Aku ingat saat
Uta dan kawan-kawan datang ke Cafe Males dan aku menyajikan masakanku.
"Ehm,
ketemu! Ini dia!"
Hikari
menunjukkan ponselnya padaku.
Di atas meja Cafe
Males, tersaji tiga piring: sup spaghetti, pancake, dan Omurice. Kalau tidak
salah, yang memesan Omurice adalah Tatsuya. Porsi yang ditambah.
"Rasanya
nostalgia sekali..."
"Aku merasa
sangat iri saat melihat ini, tahu?"
"Memang kau
pernah bilang begitu di telepon... tapi, hebat juga kau bisa menemukan
fotonya."
"Aku
menyimpannya saat melihatnya di Story Uta-chan."
"Eh,
seram..."
"Jangan
bilang seram dong!?"
Mata
Hikari berkaca-kaca.
Tapi, kadang
bagian yang "menyeramkan" itu menurutku juga manis.
"Apa ini
kali pertama aku memakan masakan Natsuki-kun sejak kau kabur dari rumah
dulu?"
"......Bukankah
waktu itu aku membuat sarapan dari sisa makanan semalam?"
"Meski
begitu, aku merasa sangat senang saat itu."
"Kalau
begitu, aku akan membuat yang jauh lebih lezat sampai kenangan itu
tergantikan."
"Aku tidak
sabar. Aku merasa tidak enak karena dilayani sampai sejauh ini."
"Tidak
apa-apa, ini kan perayaan penghargaan. Tunggu saja di sana."
"......Terima
kasih, Natsuki-kun."
Aku
segera mulai memasak di dapur.
Selama itu,
Hikari duduk di sofa sambil menonton televisi.
Kalau kami
memulai hidup bersama, apakah pemandangan seperti ini akan jadi keseharian
kami?
Aku yakin masa
depan itu pasti akan membahagiakan.
*
Saat selesai
menghabiskan Omurice yang kubuat, langit di luar sudah gelap gulita.
"Terima
kasih atas makanannya."
Hikari melipat
kedua tangannya dengan ekspresi puas.
"Benar-benar
lezat sekali!"
Tentu saja aku
juga membuat bagianku sendiri, dan menurutku hasilnya sangat memuaskan.
Aku tahu pujian
Hikari bukan sekadar basa-basi. Keterampilan memasak yang kupelajari selama
bertahun-tahun akhirnya terbayar.
"Biarkan aku
yang mencuci piringnya, ya."
"Eh,
tapi..."
"Tidak
apa-apa! Aku ingin melakukannya."
"Kalau kau
sampai berkata begitu, aku akan mengandalkanmu saja, ya."
Sementara Hikari
mencuci piring dan peralatan masak, aku duduk di sofa sambil berpikir.
...Masalahnya
adalah setelah ini.
Aku melihat jam.
Karena kami makan malam lebih awal, sekarang baru pukul 18.30.
Hikari punya jam
malam. Paling lambat pukul 20.00 dia harus sudah pulang.
Kalau
dipikir-pikir, waktunya tidak banyak... tapi sebaliknya, kami masih punya waktu
satu setengah jam.
Satu setengah jam
tersisa di rumah yang tidak ada orang lain ini, apa yang harus dilakukan? Apa
yang sedang dipikirkan Hikari?
"~♪"
Aku tidak bisa
membaca pikirannya dari cara dia bersenandung saat mencuci piring.
Aku berpura-pura
menonton televisi, tapi isi acara kuis itu sama sekali tidak masuk ke kepalaku.
"Kalau
begitu... kita bisa melakukan apa saja, dong."
Kata-kata Hikari
saat dia tahu tidak ada orang di rumah terlintas di pikiranku.
Melakukan apa
saja... apa maksudnya boleh!? Benarkah!?
Saat aku sedang
gelisah dengan pikiranku sendiri, Hikari dengan sigap menyelesaikan cucian
piringnya.
"Terima
kasih."
"Sama-sama."
Saat Hikari
kembali duduk di sebelahku, keheningan yang canggung menyelimuti kami.
"......"
"......"
...A-apa yang
harus kulakukan!?
Langkah
apa yang benar untuk diambil sekarang!?
Karena aku masih
perjaka, aku sama sekali tidak mengerti!
"......Jadi,
mau bermesraan?"
Hikari berkata
pelan sambil bersikap malu-malu.
"......Maksudnya
secara spesifik?"
"Peluk
aku."
Hikari perlahan
mempersempit jarak di antara kami.
"......Baiklah."
Sesuai permintaan
Hikari, aku melingkarkan tanganku di punggungnya.
Jantungku
berdegup kencang.
"Fufu,
hangat sekali."
Hikari
menyandarkan kepalanya padaku.
Aku mengeratkan
pelukan lenganku untuk menopang tubuhnya.
"Kalau
bersentuhan dengan Natsuki-kun, aku jadi merasa bahagia."
Hikari
menempelkan wajahnya di dadaku dan melingkarkan lengannya di punggungku.
Meski aku terlalu
gugup sampai tidak bisa berbuat apa-apa, serangan Hikari tidak berhenti.
Aku menatap
Hikari yang berada dalam pelukanku. Dia menutup matanya perlahan.
Karena dia
menutup mata... itu artinya... hal itu, kan?
Kami menempelkan
bibir.
Sudah lama sekali
sejak ciuman terakhir kami.
Karena kalau
bertemu di luar, sulit mencari waktu yang tepat untuk berciuman.
Namun, ciuman
dengan orang yang disukai memang membuat perasaan jadi bahagia.
Sentuhan bibir
yang lembut itu terasa nyaman. Saat aku berpikir sudah waktunya untuk
melepaskan, benda basah meluncur ke dalam mulutku.
Sesuatu yang
hangat itu adalah lidah Hikari. Aku sempat kaget, tapi aku membalasnya dengan
melilitkan lidahku.
Tentu saja, aku
tahu setidaknya istilahnya.
Di jalanan, hal
itu disebut deep kiss. Meskipun, gerakan lidah kami berdua masih sangat
canggung.
"......I-istirahat
sebentar."
"Puh..."
Hikari menjauhkan
bibirnya untuk mengambil napas. Air liur kami tersambung membentuk benang.
Hikari menyeka
bibirnya dengan sapu tangan lalu berkata.
"......Hei,
kau pikir aku ini gadis yang nakal, ya?"
"..................Tidak
berpikiran begitu."
"Padahal
ada jeda panjang tadi!?"
Tentu
saja aku berpikiran begitu!
Serangan
Hikari sejak tadi kekuatannya terlalu besar!
"Ini semua
salah Natsuki-kun."
Saat aku sedang
memprotes di dalam hati, Hikari melanjutkan kata-katanya.
"......Ini
salahku?"
"Karena,
meski kau laki-laki yang sedang pubertas, kau sama sekali tidak menunjukkan
tanda-tanda seperti itu."
"......Kalau
itu yang terlihat, berarti aku hanya menyembunyikannya dengan baik, kan."
Hasrat seksual
laki-laki remaja sedang di puncak-puncaknya sekarang.
Tentu saja, aku
merasa terpesona oleh penampilan Hikari yang cantik dan tubuhnya yang berisi.
"Tidak perlu
disembunyikan. Karena... aku kan kekasihmu?"
"......Apa
kau ingin hubungan kita melangkah lebih jauh, Hikari?"
Hikari mengangguk
mantap.
"Apa
Natsuki-kun tidak ingin melangkah lebih jauh?"
Tidak
mungkin aku tidak ingin.
Aku selalu
menyimpan keinginan untuk bisa melampaui batas dengan Hikari.
"......Aku
rasa, aku takut."
Aku masih
perjaka. Aku belum pernah punya pengalaman melakukan hal seperti itu.
Itulah kenapa,
aku takut akan melukai Hikari.
Lagipula, kami
masih anak SMA. Apakah boleh jika kami melampaui batas sekarang?
"Un... aku
juga sama. Kudengar, kali pertama itu menyakitkan, jadi..."
Meski Hikari
sempat menunjukkan keraguan,
"——Meski
begitu, aku ingin menjadi satu dengan Natsuki-kun."
Dia mengatakannya
dengan tegas, seolah sudah membulatkan tekad.
Setelah dikatakan
sampai sejauh itu, aku tidak punya pilihan selain membulatkan tekad juga.
Aku seharusnya
malu karena membiarkan Hikari sampai harus mengatakan hal itu.
"......Ayo
ke kamar."
"......Un."
Aku
membaringkan Hikari dengan lembut di atas tempat tidur.
"Kalau
terang aku jadi malu... jadi, tolong matikan lampunya."
Sesuai
permintaannya, aku mematikan lampu.
Awalnya aku tidak
bisa melihat apa-apa, tapi perlahan mataku mulai terbiasa dengan kegelapan.
Hikari
menatapku sambil tetap berbaring di atas tempat tidur.
"......Baunya
seperti Natsuki-kun."
Tatapan
matanya yang sayu seolah sedang menggodaku.
"......Akan
kubuka pakaianmu."
"......Un."
Aku menjangkau
pakaian Hikari dan mulai melepasnya sedikit demi sedikit.
Tak lama
kemudian, tubuh sintal Hikari hanya tertutup selembar kain tipis di bagian atas
dan bawah.
Meski di tengah
kegelapan, siluet tubuhnya tetap terlihat jelas. Pinggangnya ramping, bahkan
sampai membuatku khawatir.
Proporsi tubuhnya
benar-benar tidak kalah dengan model majalah dewasa.
"Kalau
ditatap terus seperti itu... aku jadi malu."
Hikari berusaha
menggeliat untuk menghindari tatapanku, namun rasa malunya itu justru hanya
memperbesar gairahku. Sembari menciumnya, aku menyentuh tubuh Hikari dengan
lembut. Tubuhnya tersentak kecil saat tersentuh.
"Natsuki-kun."
"......Hikari."
Sembari saling
memanggil nama, aku mendekap tubuh Hikari.
Saat kembali
mencium Hikari, aku menyelipkan tanganku ke balik pakaian dalamnya.
Tubuh Hikari
tidak hanya hangat, tapi terasa panas. Aku tidak tahu cara menyentuh yang benar.
Namun,
tepat saat aku mencoba mencari jawaban dengan caraku sendiri,
"Aku suka
padamu, Natsuki-kun."
Aku suka
padamu, Miori.
Wajah Hikari
tumpang tindih dengan sosok Miori dari masa lalu.
Ingatan itu
perlahan kembali. Pengalaman yang seharusnya tidak kumiliki.
"......Ada
apa, Natsuki-kun?"
"......Bukan
apa-apa. Aku juga suka padamu, Hikari."
......Un. Aku
juga suka padamu, Miori.
Aku
menepis bayang-bayang Miori dan terus menyentuh tubuh Hikari.
Entah kenapa, aku
tahu caranya. Aku benar-benar tahu. Aku hanya perlu melakukannya seperti yang
kulihat dalam mimpi.
Aku akan
membuatmu bahagia.
"Ah,
aaah......!"
Hikari tampak
menikmatinya.
Pengalaman yang
seharusnya tidak ada itu memberiku kemampuan teknis.
Akan tetapi...
gairahku menurun dengan cepat.
Perasaan janggal
yang teramat sangat ini bahkan membuatku merasa mual.
Apa yang
sebenarnya terjadi pada tubuhku?
"Aku juga
ingin membuat Natsuki-kun merasa nikmat."
Tangan Hikari
yang sudah mengatur napasnya terulur ke arah bawah, lalu berhenti.
"............Natsuki,
kun?"
Tanpa kusadari,
milikku sudah melunak.
Dalam kegelapan,
Hikari memasang ekspresi seolah dia terluka.
"Maafkan
aku......"
Apa yang sudah
melunak itu tidak bisa kembali lagi.
Melihat tubuh
Hikari pun, aku tidak lagi bergairah. Bahkan bukan itu masalah utamanya.
Hari itu, kami
yang seharusnya akhirnya bersatu, justru tidak bisa melakukannya sampai akhir.
*
"......"
"......"
Di tengah
suasana canggung yang mengalir, kami berjalan pulang.
"Tidak
apa-apa, kok. Aku pernah dengar kalau gugup memang bisa terjadi hal seperti
itu."
Hikari
mengatakannya untuk menghiburku, tapi kepercayaan diriku sebagai laki-laki
telah hancur lebur.
Terlebih
lagi, aku harus memikirkan kembali fenomena yang sedang menimpaku.
Jelas,
aku tidak bisa lagi bersikap optimis dan membiarkan hal ini begitu saja.
"......Maaf."
Hikari terluka.
Akulah yang telah
melukai Hikari.
Alasan Hikari
bersikap tegar hanyalah agar aku tidak merasa terluka.
"......Sudah
kubilang tidak perlu minta maaf."
Udara di luar
terasa lembap. Langit malam sedang mendung.
Kami berjalan
menyusuri kawasan perumahan yang minim lampu jalan tanpa saling menggenggam
tangan.
Tidak butuh waktu
sepuluh menit untuk sampai ke stasiun terdekat.
Saat aku sedang
memikirkan apa yang harus dibicarakan, kami pun sampai di stasiun.
"......Kalau
begitu, sampai jumpa."
Meski sudah
kukatakan begitu, Hikari terus menatapku lekat-lekat.
Padahal kereta
akan segera tiba, tapi dia tidak beranjak menuju peron.
"Itu bohong,
kan, Natsuki-kun?"
Hikari bergumam
pelan.
Rasanya seperti
wadah yang sudah penuh, miring, dan akhirnya meluap.
"......Apa
maksudmu?"
"Melakukan
hal seperti tadi, itu bukan kali pertamamu, kan?"
Mungkin ini yang
disebut sebagai "darah yang membeku". Aku merasa sangat tidak tenang.
"......Itu
bukan bohong."
Hanya itu
jawaban yang sanggup kuberikan.
"Kalau
begitu, tidak mungkin kau bisa selihai itu."
Itu
adalah pertanyaan yang paling sering kutanyakan pada diriku sendiri.
Pengalaman
yang seharusnya tidak ada, telah berakar menjadi kemampuan di tubuhku.
Ini
situasi yang tidak masuk akal. Karena itulah aku tidak bisa menjelaskannya pada Hikari.
"......Apa
Hikari mencurigaiku selingkuh?"
Dari posisi
Hikari, wajar saja jika dia curiga.
Pacar yang kukira
perjaka, ternyata sangat lihai.
Padahal dia tahu
kalau saat awal pacaran dulu, aku tidak terbiasa dengan percintaan.
"Tidak."
Namun, Hikari
menggelengkan kepalanya.
"Aku juga
tidak berpikir kau punya kekasih di masa lalu."
Hikari terus
menatapku.
Dari matanya yang
bening itu, aku tidak bisa membaca emosinya.
Apa yang sedang
dipikirkan Hikari sekarang?
"......Kalau
begitu, kenapa kau pikir aku berbohong?"
Hujan mulai
turun. Gerimis.
Butiran air hujan
yang kecil sedikit demi sedikit membasahi kami tanpa suara.
"Ini delusi
yang sangat tidak masuk akal, jadi kalau salah tolong tertawakan saja
ya——"
Aku
mengira itu tidak mungkin.
Sekali pun itu
Hikari, seharusnya dia tidak akan bisa menebaknya.
Asumsiku yang
penuh harap itu hancur berkeping-keping.
"——Natsuki-kun,
bukankah kau datang dari masa depan?"
Seharusnya
kutertawakan saja betapa konyolnya itu.
Seharusnya
kuangkat bahu dan bilang dia terlalu banyak membaca novel.
Namun,
aku justru berdiri mematung karena terkejut.
Sebab,
aku tidak ingin membohongi Hikari.
Aku tidak
ingin menumpuk kebohongan demi kebohongan.
"......Reaksi
itu, berarti memang benar begitu ya."
Kereta yang
seharusnya dinaiki Hikari tiba di peron.
Meski begitu,
Hikari tetap menatapku.
"Dulu, saat
aku sering bertanya padamu untuk keperluan novelku, aku merasa aneh. Karena
setiap kali kupikirkan, selalu ada bagian yang tidak cocok dengan kondisi
sekarang. Kau mungkin tidak bohong, tapi cerita yang kudengar darimu tidak
tersambung denganmu yang sekarang. Karena itulah, aku merasa ada bagian yang
tidak kau ceritakan."
Kereta
yang berhenti di peron berangkat.
Meninggalkan
suara gemeretak besi yang beradu.
"Natsuki-kun
punya semacam rahasia. Aku sudah tahu itu sejak lama."
"......"
"Aku selalu
merasa ada yang ganjil. Ketidaksesuaian antara apa yang dikatakan orang sekitar
dengan kondisi saat ini. Kurangnya rasa percaya diri atas kemampuanmu yang luar
biasa, keterikatanmu pada masa muda, jumlah pengetahuanmu yang tidak wajar; sisi
misterius itulah yang menjadi salah satu pesonamu. Tapi, aku baru terpikir
hipotesis ini baru-baru saja."
Aku tahu Hikari
punya kemampuan observasi dan deduksi yang luar biasa.
Namun, aku tidak
menyangka rahasia yang konyol ini akan terbongkar.
"Waktu kita
membicarakan film Hero Detective, kau bilang 'Aku sudah pernah
menontonnya', kan? Padahal film itu belum dirilis. Setelah itu kau
mengoreksinya dengan bilang maksudmu adalah novelnya... tapi kupikir itu
aneh."
......Itu
pembicaraan yang sudah lama sekali. Saat musim hujan tahun lalu, sepenggal
obrolan santai dengannya.
"Kau juga
tahu banyak tentang Ayahku. Kau bilang karena melihat di situs web perusahaan,
tapi aku penasaran dari awal kenapa kau tahu tentang perusahaan Ayah. Padahal
aku tidak pernah cerita apa pun padamu soal perusahaan Ayah. Selain itu, waktu
pertama kali melihat Ayah... kau memanggilnya 'Direktur', kan? Waktu itu kau
bilang salah lihat... tapi Ayah baru saja diangkat menjadi direktur akhir-akhir
ini."
......Itu
percakapan saat kami tidak sengaja bertemu Seisei-san di Keyaki Walk sebelum
libur musim panas tahun lalu.
"Kau pernah
mengajakku makan malam full course. Padahal itu bukan restoran yang
biasa dikunjungi anak SMA, tapi etika makanmu sangat terlatih."
......Itu saat
kencan kami di malam Natal tahun lalu.
"Pilihan
masa depanmu sangat konkret. Padahal kau tidak sedang membidik profesi itu,
tapi kau bicara seolah-olah kau tahu itulah pilihan yang paling optimal."
......Itu baru
saja terjadi. Benar, aku memang menyebut perusahaan konstruksi tanpa berpikir
panjang.
"Aku dengar dari Yuino-chan. Natsuki-kun sudah pandai
memasak sejak hari pertama kerja paruh waktu. Aku juga bertanya pada
Namika-chan, dan dia bilang tiba-tiba saja masakannya jadi enak. Padahal masakan bukan hobi Natsuki-kun. Jadi,
latihan di mana? ......Aneh, kan?"
......Sepertinya
dia sudah akrab dengan Namika tanpa kusadari.
Kalau ditanya
pada Namika, kebohonganku akan terbongkar dengan mudah. Ada terlalu banyak hal
yang tidak wajar.
"Saat
memikirkan setting novel fiksi ilmiah, aku mencoba menerapkannya pada
Natsuki-kun."
Hikari
sempat bilang kalau dia sedang memikirkan novel tentang protagonis yang
melakukan time leap.
"Lalu,
anehnya... hal-hal tidak wajar pada dirimu jadi punya penjelasan."
Kalau dipikir
sekarang, percakapan itu pun mungkin untuk memancing reakksiku.
"Yang
menentukan mungkin saat sesi belajar kelompok liburan musim panas."
Sesi belajar
liburan musim panas. Itu adalah hari di mana kami pergi ke festival kembang api
setelah mengunjungi rumah Hikari.
Hari itu, untuk
pertama kalinya aku menyentuh dada Hikari.
"Kau sangat
lihai, padahal kau tidak berbohong. Tapi, ada sesuatu yang kau
sembunyikan."
Hikari menatapku
tajam dengan mata beningnya.
"Maksudnya,
apakah ini berarti di garis waktu ini, kau belum pernah melakukan hal seperti
itu dengan siapa pun?"
Hipotesis Hikari
hampir semuanya benar. Tapi detailnya salah.
"Hari ini,
kenapa kau tidak bisa melakukannya denganku... karena wajah orang lain muncul
di benakmu, kan?"
Mengatakan
"salah" itu mudah.
Kenyataannya, aku
memang tidak pernah berpacaran dengan siapa pun selain Hikari.
"——Itu pasti
Miori-chan, kan?"
Tapi memang benar wajah Miori muncul. Tidak diragukan lagi,
hal itu sangat memengaruhiku.
"......Jawaban
seperti apa yang benar untuk pertanyaan itu?"
Kepalaku kacau
balau, dan aku tidak percaya diri bisa menjelaskannya dengan benar.
Hikari memang
menemukannya sendiri, tapi deduksinya sedikit meleset.
Kalau begitu, aku
harus memberitahu Hikari kebenarannya.
"——Memang
benar seperti katamu, aku adalah orang yang datang dari masa depan."
Hikari
membelalakkan matanya sedikit.
Meski cara
bicaranya yakin, ternyata dia tetap terkejut.
Wajar
saja. Orang normal tidak akan percaya pada fenomena supranatural. Kecuali itu menimpa diri sendiri.
"......Alasanku
merahasiakannya karena aku pikir kau tidak akan percaya cerita seperti
ini."
Saat aku mulai
bercerita, Hikari mendengarkan dengan diam.
"Masa SMA-ku
adalah masa muda yang abu-abu. Aku mencoba melakukan high school debut
demi memimpikan masa muda yang penuh warna, tapi gagal... lalu aku terisolasi.
Setelah lulus SMA, aku terus menyesali hal itu."
Sedikit demi
sedikit, aku membuka jalan hidup yang kulalui sampai ke titik ini kepada
Hikari.
"Lalu, saat
aku menjadi mahasiswa tingkat empat, saat aku sadar, aku sudah kembali ke waktu
sebelum masuk SMA. Aku tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi, tapi karena aku
mendapatkan kesempatan untuk mengulang masa muda yang berakhir kelabu, aku bertekad
untuk berusaha. ——Kali ini, demi mendapatkan masa muda yang penuh warna."
Aku
menatap Hikari yang berdiri di depanku.
"Tapi,
tidak ada orang yang kupacari di masa depan. Itu bukan Miori."
Aku
memberitahu Hikari bagian yang paling krusial.
"Lalu...
kenapa kau sangat lihai?"
"Itu
karena..."
Katakanlah
"karena aku melihatnya dalam mimpi", dia pasti tidak akan mengerti.
Karena
aku sendiri pun tidak mengerti.
......Lagipula,
aku tidak ingin menceritakan isi mimpi itu pada Hikari.
Pasti itu akan
melukainya.
"Padahal kau
lihai... kenapa, kau tidak bisa melakukannya denganku?"
Air mata menetes
satu demi satu dari sudut mata Hikari.
Aku tidak punya
jawaban untuk pertanyaan itu.
Justru akulah
orang yang paling ingin tahu jawabannya.
"Aku... aku
tidak bisa mempercayaimu yang sekarang, Natsuki-kun."
Di tengah hujan
gerimis yang terus turun, Hikari duduk di tangga.
Aku tidak bisa
melakukan apa pun untuk Hikari yang tertunduk dengan posisi duduk bersimpuh.
Aku bahkan
kehilangan kata-kata untuk menghiburnya.
Saat aku berdiri
mematung, kereta berikutnya tiba di peron.
"Selamat
tinggal."
Hikari bangkit
dengan terhuyung-huyung, lalu menghilang ke dalam kereta.
Aku hanya bisa
terus menatap punggung Hikari yang pergi menjauh.
*
Tanpa kusadari,
gerimis berubah menjadi hujan deras.
Suara hujan yang
menderu menghantam tanah dengan keras.
Meski akalku tahu
percuma saja diam di sini, tubuhku tidak bisa bergerak.
"......Ada
apa?"
Suara itu
terdengar tepat dari belakangku. Tiba-tiba hujan berhenti. Bukan, bukan berarti
hujannya benar-benar reda. Namun, tubuhku entah sejak kapan sudah tidak lagi
dipukul oleh tetesan air. Saat aku menengadah, terlihat sebuah payung sedang
terkembang di atasku.
"Kalau
berada di tempat seperti ini terus, kau bisa kena flu, tahu."
Itu Miori. Dia
memayungiku, berdiri dengan jarak yang cukup dekat sampai bahu kami
bersentuhan.
"......Sekarang,
aku tidak ingin bertemu siapa pun kecuali dirimu."
"Kata-kata
yang kasar ya, padahal aku sudah berbaik hati seperti ini."
Miori
berkata begitu sambil tersenyum kecut.
"Jadi,
apa yang terjadi? Demi hubungan masa kecil kita, aku akan mendengarkan
ceritamu."
"............Aku,
diputuskan oleh Hikari."
"..................Eh?"
Mulut Miori
terbuka lebar karena terkejut.
"Ini
salahku."
Aku tidak tahu
apakah ini air mata atau air hujan. Semuanya terasa berantakan.
"......Ya-ya
sudah, untuk saat ini ayo kita pulang dulu."
Tanganku ditarik
oleh Miori, dan kami menyusuri jalan yang tadi kulewati.
Pakaianku basah
kuyup, dan tubuhku terasa dingin. Hanya tangan yang digenggam Miori yang terasa hangat.
Tanpa kusadari,
aku sudah sampai di depan rumahku sendiri.
"Hah... aku
juga jadi ikut basah kuyup, deh..."
Miori
mendesah sambil melangkah masuk ke rumahku.
"Tidak
ada sepatu di luar, sepertinya Namika-chan dan Ibu tidak ada di rumah ya."
Sambil
berkata begitu, dia mengambil handuk mandi dari ruang cuci dan membawanya ke
depan pintu dengan sigap, seolah dia sudah sangat hafal dengan rumahku.
Wush, handuk itu dilemparkan dan menutupi
kepalaku. Pandanganku jadi gelap.
"Kau terlalu
tinggi, jadi susah untuk mengeringkannya..."
Miori berjinjit,
mendahulukan untuk mengeringkanku yang basah kuyup daripada dirinya sendiri.
Saat aku
membiarkannya melakukan itu, perlahan rasa nyata mulai kembali.
"......Terima
kasih."
"Hm,
sama-sama. Aku sudah menyalakan air hangat di bak, hangatkan tubuhmu
sana."
"......Kenapa
kau sampai melakukan sejauh ini?"
Miori sedikit
kesulitan menjawab, lalu akhirnya mengeluarkan jawaban, "......Karena kita
teman masa kecil."
Aku tidak
mengejar jawaban itu lebih jauh dan menurut untuk masuk ke bak mandi. Aku
menghangatkan tubuhku yang ternyata lebih dingin dari yang kukira, lalu keluar.
Di ruang cuci, piyama sudah disiapkan. Dia benar-benar melayaniku dengan sangat
baik.
Saat kembali ke
kamar, Miori sedang duduk di tepi tempat tidur.
Tangannya sedang
memegang kondom yang tadi gagal kami gunakan.
"......Miori."
Saat aku
memanggilnya, bahu Miori terlonjak kaget.
"Wawa!?
Ma-maaf! Tadi aku lihat ini tergeletak di sana!"
Miori memerah
padam dan buru-buru meletakkannya di atas meja.
"Ja-jadi
kalian sudah sampai tahap itu ya! Aku tidak bisa lagi memanggilmu 'Si Perjaka'
nih~"
"......Tidak,
aku masih perjaka. Aku belum lulus."
Aku
mendesah dan duduk di samping Miori.
"......O-oh,
begitu ya."
Miori
tumben-tumbennya melepas kuncir kudanya dan membiarkan rambutnya tergerai.
Mungkin
karena rambutnya basah, dia mengeringkannya dengan handuk yang tersampir di
bahunya.
Sosok itu
tumpang tindih dengan Miori di masa depan yang sudah dewasa.
"Kau
mau mandi?"
"Tidak,
aku tidak sebasah dirimu. Pinjamkan pengering rambut saja."
"......Aku
yang akan melakukannya."
"Eh,
tapi..."
"......Gara-gara
aku kau jadi basah, kan."
"Kalau
begitu... tolong ya."
Sambil
berkata dengan malu-malu, Miori memunggungi aku.
Aku
mencolokkan kabel pengering rambut dan mulai mengeringkan rambut Miori.
Rambutnya
lurus dan agak kaku, panjangnya mencapai sekitar punggung.
Aku
merasa sudah berulang kali melakukan hal yang sama. Padahal, seharusnya tidak
ada ingatan seperti itu di kepalaku.
"Jadi, ada
apa sebenarnya?"
"......Aku
tidak mau mengatakannya."
"Mungkin
kalau cerita, perasaanmu akan sedikit lega."
"......Kalau
aku menceritakan ini, aku pasti juga akan melukaimu."
"Tapi, kalau
terus dibiarkan seperti ini, kau hanya akan terus terluka."
"Lagipula...
kurasa kau tidak akan mengerti apa yang kubicarakan kalau aku cerita."
"......Apa
itu sesuatu yang rumit?"
Setelah
rambut Miori kering, aku mematikan pengering rambutnya.
"Yah...
mungkin begitu."
Mengesampingkan
Hikari yang sudah membongkar rahasia ini dengan deduksinya sendiri, kalau aku
tiba-tiba bercerita tentang time leap kepada Miori yang tidak tahu
apa-apa, dia pasti mengira aku sudah gila.
"Beberapa
waktu lalu, Hikari-chan sempat bertanya padaku, lho."
Namun, Miori
mulai bicara seolah dia sudah merasakan sesuatu.
"......Tentang
apa?"
"Tentang
perubahan dirimu dari saat SMP hingga SMA."
Sepertinya Hikari
sudah melakukan penyelidikan tanpa sepengetahuanku.
Orang yang paling
tahu perubahan diriku sebelum dan sesudah time leap, selain keluarga,
adalah Miori.
"Kenapa dia
menanyakan hal seperti itu, pikirku. Padahal itu hal yang wajar saja,
kan."
"......Ah."
"Hikari-chan
memberitahuku hipotesisnya. Dia mungkin berharap aku bilang 'Kau terlalu banyak
baca novel', tapi... aku tidak bisa menertawakannya. Karena penjelasannya
terasa sangat meyakinkan."
Di luar jendela,
hujan masih terus turun.
"Kau berubah
terlalu drastis di musim semi antara lulus SMP dan masuk SMA."
Miori menatap ke
luar jendela. Dia tidak menatap wajahku.
"......Bisa
kau dengarkan tanpa menertawakanku?"
"Un.
Beritahu aku tentang dirimu yang tidak kuketahui. Dirimu yang sebenarnya."
"Aku
adalah——"
Aku menceritakan
apa yang kuceritakan pada Hikari kepada Miori juga.
Sedikit demi
sedikit, aku mengeluarkan perasaan yang berantakan itu.
"......Aku
mengerti ceritamu. Dan aku percaya."
Tak lama
kemudian, Miori mengangguk dengan ekspresi serius.
"Hikari-chan
sudah membongkar rahasiamu, ya?"
"......Ah."
"Tapi...
bagaimana ceritanya sampai kalian jadi putus?"
"Karena
aku... tidak bisa melakukannya dengan Hikari."
Saat kukatakan
itu, Miori mengangguk meski tampak terguncang, "Be... begitu ya."
"Aku tahu
alasan kenapa tidak bisa melakukannya. Akhir-akhir ini aku selalu bermimpi
aneh."
"Mimpi
aneh...?"
Lalu, aku
menceritakan hal yang bahkan belum kuceritakan pada Hikari kepada Miori.
Aku tahu
menceritakan hal ini akan melukai Miori.
Padahal Miori
sudah mengkhawatirkanku... tapi aku malah bersandar pada kebaikannya.
"Mimpi di
mana aku bertemu kembali denganmu di garis waktu yang berbeda dan kita
menikah."
Mendengar
kata-kataku, Miori mengerjapkan matanya karena terkejut.
"......Itu
cerita yang terdengar seperti mimpi ya."
Lalu dia menunduk
dan bergumam dengan sedih.
"......Mungkin
itu bukan mimpi."
"......Apa
maksudnya?"
"Pasti
ingatan dari dunia yang seharusnya tidak kuketahui itu mengalir ke dalam
diriku."
Aku berusaha
untuk tidak memikirkannya.
Aku berusaha
pura-pura tidak tahu.
Tapi, itu
mustahil. Akhir-akhir ini aku selalu merasa cemas.
Mimpi itu bukan
sekadar mimpi. Itu adalah masa depan dari garis waktu yang seharusnya.
Masa depan itu
terus mendesakku. Bahwa mengulang masa muda itu tidak diperlukan.
Bahwa penyesalan
itu suatu saat akan hilang. Bahwa aku bisa bahagia. Bahwa aku akan menikah
dengan orang yang kucintai.
Kalau begitu,
kenapa aku ada di sini sekarang?
Apa arti dari
semua tindakan yang kulakukan selama ini?
Itu bahkan tidak
menjadi kepuasan diri sendiri. Tapi, mau bagaimana lagi?
Aku tidak meminta
untuk melakukan time leap.
Aku hanya mencoba
menulis ulang masa muda yang penuh penyesalan karena aku melakukan time leap.
Hasilnya, aku
sempat mendapatkan masa muda yang penuh warna.
"Aku...
aku tidak bisa mempercayaimu yang sekarang, Natsuki-kun."
Tapi, bagaimana
sekarang?
Aku membuat
Hikari menderita.
Padahal aku sudah
bersumpah akan membahagiakannya, tapi aku justru membuat Hikari menangis.
"......Begitu
ya. Ternyata hal seperti itu yang terjadi."
Miori mungkin
tidak benar-benar memahaminya secara akurat.
Karena ceritaku
berantakan dan hanya didorong oleh emosi semata.
Namun, Miori
tetap mendengarkan ceritaku sampai akhir.
"......Jadi,
ada masa depan di mana aku menikah denganmu, ya."
Miori bergumam
pelan.
Aku berharap dia
akan melemparkan bantal padaku seperti musim semi dulu.
Aku berharap dia
akan memarahiku dengan bertanya apakah aku sudah benar-benar gila.
Namun, Miori
justru membuang muka dariku dengan ekspresi yang tampak kesakitan.
"......Maaf
ya. Aku tidak tahu harus bilang apa lagi."
Satu tetes air mata jatuh dari sudut mata Miori.



Post a Comment