NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 11 Prolog

Prolog

Aku yang Bahagia, Yang Mana?


Sudah kuputuskan untuk tidak lagi menangis di depanmu.

Tapi kenapa aku selalu begitu lemah terhadap air mata? Bahkan sekarang, pandanganku semakin kabur hingga langit-langit kamar tak lagi terlihat jelas.

Aku tak bisa terus tinggal di rumah Natsuki seperti itu. Waktunya sudah larut, dan di depan Natsuki aku pura-pura baik-baik saja sebelum pulang. Padahal sebenarnya, hatiku sama sekali tidak baik.

Semuanya masih kacau balau... tapi aku tak ingin menyalahkan Natsuki. Karena jika aku sudah benar-benar mengakhiri perasaanku padanya, seharusnya tak ada alasan lagi untuk terguncang seperti ini.

Ketika melihat Natsuki berdiri sendirian di tengah hujan, tanpa sadar aku sudah berlari menghampirinya.

Aku bahkan tak sempat memikirkan bagaimana Hikari-chan akan memandang tindakanku itu.

Kalau hanya sampai situ, aku masih bisa bersikeras bahwa itu karena kekhawatiran sebagai teman masa kecil.

Tapi setelah mendengar kata-kata Natsuki yang memisahkan diri dari Hikari-chan, aku tak bisa mengatakan bahwa di hatiku hanya ada kekhawatiran semata.

Pada akhirnya, aku masih belum bisa benar-benar berbohong.

"...Begitu ya. Aku di dunia lain, menikah dengan Natsuki."

Alasan emosi yang sudah kucap sejak lama itu muncul kembali adalah karena mendengar cerita itu dari Natsuki sendiri.

Natsuki juga berbicara mengikuti perasaannya, jadi aku belum memahami semua detailnya.

Yang jelas kupahami adalah, Natsuki yang ada di sini sekarang datang dari masa depan.

Natsuki yang saat itu sudah mahasiswa tahun keempat, rupanya melakukan time leap sebelum masuk SMA.

Jujur saja, ceritanya terdengar seperti kebohongan bertumpuk-tumpuk. Mempercayainya saja sudah aneh.

Tapi... dia tak terlihat seperti sedang berbohong.

Apalagi, aku sudah mendengar dugaan Hikari-chan bahwa 'Natsuki-kun mungkin berasal dari masa depan'. Dan jika dugaan itu benar, banyak hal yang akhirnya masuk akal.

Natsuki berubah terlalu drastis dari masa lulus SMP hingga masuk SMA.

Ini bukan hanya soal penampilan. Termasuk kepribadian dan kemampuannya secara keseluruhan.

Perubahan penampilannya, aku bisa mengerti sebagai hasil usahanya keras untuk 'debut' di SMA.

Saat bertemu lagi sebelum masuk SMA, aku merasa kepribadiannya juga agak berbeda. Karena di SMP kami hampir tak pernah berinteraksi, kupikir dia hanya tumbuh dewasa secara alami.

Namun, dari segi kemampuan, itu jelas-jelas aneh.

Pertama, nilai pelajaran. Dia seolah biasa saja menduduki peringkat satu di angkatan, padahal Ryomei adalah sekolah unggulan yang cukup ketat.

Aku tak tahu persis nilai Natsuki di SMP, tapi dia pasti tidak pernah masuk lima puluh besar.

Di SMP pun, nama peraih nilai terbaik diumumkan, tapi aku tak pernah melihat nama Natsuki. Mengingat itu, saja sudah luar biasa dia bisa masuk Ryomei.

Apalagi itu bukan keberuntungan sekali saja. Natsuki terus mempertahankan peringkat satu. Padahal dia tidak hanya fokus belajar. Malah, dia sendiri bilang hanya memikirkan masa mudanya.

Lalu soal basket. Natsuki seharusnya hampir tidak punya pengalaman basket. Hanya bermain bersama kami saat SD atau di pelajaran olahraga.

Dari yang kudengar dari Uta, Natsuki bilang, "Karena ada ring basket di taman dekat rumah, aku sering main di sana."

...Benarkah? Memang ada ring basket di taman itu. Tapi yang sering bermain di sana adalah aku. Aku tak pernah sekali pun melihat Natsuki di sana.

Namun kemampuan Natsuki tidak bisa dijelaskan tanpa latihan yang cukup banyak.

Bahkan aku sendiri, dalam one-on-one, sama sekali tak mampu melawannya.

Meski ada perbedaan fisik antara pria dan wanita, seorang pemula seharusnya tidak bisa mengalahkanku.

Makanya aku memaksakan diri untuk percaya bahwa Natsuki pasti berlatih di waktu aku sedang latihan klub.

Karena di masa SMP Natsuki memang bukan anggota klub basket, dan di sekitar sini hanya taman itu yang punya ring basket. Jadi aku hanya bisa percaya penjelasannya.

Selain itu, dia pandai memasak, pandai bernyanyi... terlalu banyak hal baru yang dikuasainya dalam tiga tahun yang tak kuketahui. Aku selalu merasa ada yang ganjil.

Jadi saat mendengar hipotesis Hikari-chan, aku tak bisa sekadar tertawa dan menganggapnya konyol.

Meski begitu, sampai kudengar langsung dari mulut Natsuki, aku masih setengah percaya setengah ragu. Tapi sekarang, aku percaya.

Sampai sini baru premisnya. Masalah sebenarnya bukan di situ.

Menurut cerita Natsuki, time leap-nya terjadi saat dia mahasiswa tahun keempat. Tapi akhir-akhir ini, kenangan dari masa depan yang lebih jauh seolah mengalir masuk. Secara spesifik, sampai usia tiga puluh tahun.

Natsuki sendiri sepertinya tak paham mekanisme fenomena seperti ramalan masa depan ini.

Yang jelas, yang Natsuki lihat dalam mimpinya bukanlah masa depan dunia ini, melainkan masa depan dunia sebelum dia melakukan time leap. Natsuki menyebut dunia itu sebagai 'Putaran Pertama'.

Artinya, dunia yang kita tinggali sekarang ini adalah 'Putaran Kedua' bagi Natsuki.

Terlepas dari itu, rupanya di masa depan Putaran Pertama, aku bertemu lagi dengan Natsuki dan menikah dengannya.

...Mengejutkan, tapi sebenarnya tidak juga ya?

Meski dunia lain, aku tetap aku.

Jika bertemu lagi dengan Natsuki, wajar jika aku menyadari perasaan cinta yang hampir kulupakan.

...Lalu, aku yang menikah dengan Natsuki, hidup bahagia bersama dengannya.

Aku merasa iri.

Kenapa masa depan itu tak datang juga kepada aku yang ada di sini?

Jika Natsuki tak melakukan time leap dan mengubah dunia, seharusnya aku yang dipilihnya.

...Tapi memikirkan hal itu pun sia-sia.

Karena tak ada cara untuk kembali ke dunia Putaran Pertama.

Intinya, yang harus kupikirkan sekarang adalah masa kini.

Karena kenangan Putaran Pertama terus mengalir masuk dan membuatnya mual, Natsuki tak bisa menguatkan cinta dengan Hikari-chan.

Aku tak mendengar detailnya, tapi sepertinya itu yang terjadi. Wajar jika Hikari-chan merasa cemas.

Hikari-chan pun akhirnya mengungkapkan hipotesis time leap yang sudah lama dia selidiki kepada Natsuki.

Natsuki kehilangan rahasia yang selama ini dia sembunyikan bahkan dari Hikari-chan, orang yang dicintainya.

Hanya itu saja sudah cukup membuat kepercayaan Hikari-chan goyah, tapi masalah sebenarnya baru dimulai di sini.

Hikari-chan sepertinya berpikir bahwa Natsuki datang dari masa depan di mana dia menikah denganku.

Itu salah.

Tapi untuk menjelaskan semuanya, Natsuki harus menceritakan tentang masa depan di mana dia bersamaku.

Fakta itu pasti akan melukai Hikari-chan.

Makanya Natsuki tak bisa mengatakan apa-apa saat Hikari-chan mengejarnya.

Hasilnya, Natsuki kehilangan kepercayaan Hikari-chan. Itulah akhir dari segalanya.

Ceritanya rumit, jadi mungkin pemahamanku ada yang salah.

Tapi ada satu hal yang bisa kukatakan dengan pasti.

Perpisahan mereka berdua adalah karena aku.

Menurutku, Natsuki pasti tidak bermaksud menyampaikan hal itu.

Malah, sejak awal dia seharusnya tak berniat memberitahuku. Dia hanya sedang patah hati setelah ditolak Hikari-chan, lalu tanpa sadar mengeluarkan keluh kesah di depanku yang kebetulan ada di sisinya.

Aku muak pada diriku sendiri yang malah merasa senang karena dia mau mengeluh di depanku.

"Kasian... aku gagal total..."

Seharusnya seperti musim semi dulu, aku melempar bantal ke arahnya.

Seharusnya aku memarahinya, bilang dia benar-benar bodoh, lalu membantunya bangkit.

Tapi aku tak bisa. Karena aku yang bodoh ini malah menangis.

Pasti karena aku menangis, Natsuki merasa bertanggung jawab. Padahal ini salahku.

"...Pokoknya, aku harus melakukan sesuatu."

Karena aku, Natsuki ditolak oleh Hikari-chan.

Makanya, aku ingin bagaimana pun juga memperbaiki hubungan mereka berdua.

Perasaanku sendiri sekarang tak penting.

Aku hanya ingin Natsuki yang ada di sini ini menjadi bahagia.

Aku tak ingin dia berpikir bahwa dia tak seharusnya mengulang hidupnya.

Aku tak ingin melihat masa mudamu berakhir dengan warna abu-abu.

"——Sekali lagi saja, aku akan membantumu dalam 'Rencana Masa Muda Penuh Warna'-mu."

Karena itu, aku menyatakannya.

Meski Natsuki mungkin tak menginginkannya, itu tak masalah.

Aku memutuskan untuk dengan sepihak menghidupkan kembali kerjasama yang sudah lama kuhentikan.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close