Prolog
Aku yang Bahagia, Yang Mana?
Sudah
kuputuskan untuk tidak lagi menangis di depanmu.
Tapi kenapa aku
selalu begitu lemah terhadap air mata? Bahkan sekarang, pandanganku semakin
kabur hingga langit-langit kamar tak lagi terlihat jelas.
Aku tak bisa
terus tinggal di rumah Natsuki seperti itu. Waktunya sudah larut, dan di depan
Natsuki aku pura-pura baik-baik saja sebelum pulang. Padahal sebenarnya, hatiku
sama sekali tidak baik.
Semuanya masih
kacau balau... tapi aku tak ingin menyalahkan Natsuki. Karena jika aku sudah
benar-benar mengakhiri perasaanku padanya, seharusnya tak ada alasan lagi untuk
terguncang seperti ini.
Ketika melihat
Natsuki berdiri sendirian di tengah hujan, tanpa sadar aku sudah berlari
menghampirinya.
Aku bahkan tak
sempat memikirkan bagaimana Hikari-chan akan memandang tindakanku itu.
Kalau hanya
sampai situ, aku masih bisa bersikeras bahwa itu karena kekhawatiran sebagai
teman masa kecil.
Tapi setelah
mendengar kata-kata Natsuki yang memisahkan diri dari Hikari-chan, aku tak bisa
mengatakan bahwa di hatiku hanya ada kekhawatiran semata.
Pada akhirnya,
aku masih belum bisa benar-benar berbohong.
"...Begitu
ya. Aku di dunia lain, menikah dengan Natsuki."
Alasan emosi yang
sudah kucap sejak lama itu muncul kembali adalah karena mendengar cerita itu
dari Natsuki sendiri.
Natsuki juga
berbicara mengikuti perasaannya, jadi aku belum memahami semua detailnya.
Yang jelas
kupahami adalah, Natsuki yang ada di sini sekarang datang dari masa depan.
Natsuki yang saat
itu sudah mahasiswa tahun keempat, rupanya melakukan time leap sebelum masuk
SMA.
Jujur saja,
ceritanya terdengar seperti kebohongan bertumpuk-tumpuk. Mempercayainya saja
sudah aneh.
Tapi... dia tak
terlihat seperti sedang berbohong.
Apalagi, aku
sudah mendengar dugaan Hikari-chan bahwa 'Natsuki-kun mungkin berasal dari masa
depan'. Dan jika dugaan itu benar, banyak hal yang akhirnya masuk akal.
Natsuki berubah
terlalu drastis dari masa lulus SMP hingga masuk SMA.
Ini bukan hanya
soal penampilan. Termasuk kepribadian dan kemampuannya secara keseluruhan.
Perubahan
penampilannya, aku bisa mengerti sebagai hasil usahanya keras untuk 'debut' di
SMA.
Saat bertemu lagi
sebelum masuk SMA, aku merasa kepribadiannya juga agak berbeda. Karena di SMP
kami hampir tak pernah berinteraksi, kupikir dia hanya tumbuh dewasa secara
alami.
Namun, dari segi
kemampuan, itu jelas-jelas aneh.
Pertama, nilai
pelajaran. Dia seolah biasa saja menduduki peringkat satu di angkatan, padahal
Ryomei adalah sekolah unggulan yang cukup ketat.
Aku tak tahu
persis nilai Natsuki di SMP, tapi dia pasti tidak pernah masuk lima puluh
besar.
Di SMP pun, nama
peraih nilai terbaik diumumkan, tapi aku tak pernah melihat nama Natsuki.
Mengingat itu, saja sudah luar biasa dia bisa masuk Ryomei.
Apalagi itu bukan
keberuntungan sekali saja. Natsuki terus mempertahankan peringkat satu. Padahal
dia tidak hanya fokus belajar. Malah, dia sendiri bilang hanya memikirkan masa
mudanya.
Lalu soal basket.
Natsuki seharusnya hampir tidak punya pengalaman basket. Hanya bermain bersama
kami saat SD atau di pelajaran olahraga.
Dari yang
kudengar dari Uta, Natsuki bilang, "Karena ada ring basket di taman dekat
rumah, aku sering main di sana."
...Benarkah?
Memang ada ring basket di taman itu. Tapi yang sering bermain di sana adalah
aku. Aku tak pernah sekali pun melihat Natsuki di sana.
Namun
kemampuan Natsuki tidak bisa dijelaskan tanpa latihan yang cukup banyak.
Bahkan aku
sendiri, dalam one-on-one, sama sekali tak mampu melawannya.
Meski ada
perbedaan fisik antara pria dan wanita, seorang pemula seharusnya tidak bisa
mengalahkanku.
Makanya aku
memaksakan diri untuk percaya bahwa Natsuki pasti berlatih di waktu aku sedang
latihan klub.
Karena di masa
SMP Natsuki memang bukan anggota klub basket, dan di sekitar sini hanya taman
itu yang punya ring basket. Jadi aku hanya bisa percaya penjelasannya.
Selain itu, dia
pandai memasak, pandai bernyanyi... terlalu banyak hal baru yang dikuasainya
dalam tiga tahun yang tak kuketahui. Aku selalu merasa ada yang ganjil.
Jadi saat
mendengar hipotesis Hikari-chan, aku tak bisa sekadar tertawa dan menganggapnya
konyol.
Meski begitu,
sampai kudengar langsung dari mulut Natsuki, aku masih setengah percaya
setengah ragu. Tapi sekarang, aku percaya.
Sampai sini baru
premisnya. Masalah sebenarnya bukan di situ.
Menurut cerita
Natsuki, time leap-nya terjadi saat dia mahasiswa tahun keempat. Tapi
akhir-akhir ini, kenangan dari masa depan yang lebih jauh seolah mengalir
masuk. Secara spesifik, sampai usia tiga puluh tahun.
Natsuki sendiri
sepertinya tak paham mekanisme fenomena seperti ramalan masa depan ini.
Yang jelas, yang
Natsuki lihat dalam mimpinya bukanlah masa depan dunia ini, melainkan masa
depan dunia sebelum dia melakukan time leap. Natsuki menyebut dunia itu sebagai
'Putaran Pertama'.
Artinya, dunia
yang kita tinggali sekarang ini adalah 'Putaran Kedua' bagi Natsuki.
Terlepas dari
itu, rupanya di masa depan Putaran Pertama, aku bertemu lagi dengan Natsuki dan
menikah dengannya.
...Mengejutkan,
tapi sebenarnya tidak juga ya?
Meski dunia lain,
aku tetap aku.
Jika bertemu lagi
dengan Natsuki, wajar jika aku menyadari perasaan cinta yang hampir kulupakan.
...Lalu, aku yang
menikah dengan Natsuki, hidup bahagia bersama dengannya.
Aku merasa iri.
Kenapa masa depan
itu tak datang juga kepada aku yang ada di sini?
Jika Natsuki tak
melakukan time leap dan mengubah dunia, seharusnya aku yang dipilihnya.
...Tapi
memikirkan hal itu pun sia-sia.
Karena tak ada
cara untuk kembali ke dunia Putaran Pertama.
Intinya, yang
harus kupikirkan sekarang adalah masa kini.
Karena kenangan
Putaran Pertama terus mengalir masuk dan membuatnya mual, Natsuki tak bisa
menguatkan cinta dengan Hikari-chan.
Aku tak
mendengar detailnya, tapi sepertinya itu yang terjadi. Wajar jika Hikari-chan merasa cemas.
Hikari-chan pun
akhirnya mengungkapkan hipotesis time leap yang sudah lama dia selidiki kepada
Natsuki.
Natsuki
kehilangan rahasia yang selama ini dia sembunyikan bahkan dari Hikari-chan,
orang yang dicintainya.
Hanya itu saja
sudah cukup membuat kepercayaan Hikari-chan goyah, tapi masalah sebenarnya baru
dimulai di sini.
Hikari-chan
sepertinya berpikir bahwa Natsuki datang dari masa depan di mana dia menikah
denganku.
Itu salah.
Tapi untuk
menjelaskan semuanya, Natsuki harus menceritakan tentang masa depan di mana dia
bersamaku.
Fakta itu pasti
akan melukai Hikari-chan.
Makanya Natsuki
tak bisa mengatakan apa-apa saat Hikari-chan mengejarnya.
Hasilnya, Natsuki
kehilangan kepercayaan Hikari-chan. Itulah akhir dari segalanya.
Ceritanya rumit,
jadi mungkin pemahamanku ada yang salah.
Tapi ada satu hal
yang bisa kukatakan dengan pasti.
Perpisahan mereka
berdua adalah karena aku.
Menurutku,
Natsuki pasti tidak bermaksud menyampaikan hal itu.
Malah, sejak awal dia seharusnya tak berniat memberitahuku.
Dia hanya sedang patah hati setelah ditolak Hikari-chan, lalu tanpa sadar
mengeluarkan keluh kesah di depanku yang kebetulan ada di sisinya.
Aku muak pada diriku sendiri yang malah merasa senang karena
dia mau mengeluh di depanku.
"Kasian... aku gagal total..."
Seharusnya seperti musim semi dulu, aku melempar bantal ke
arahnya.
Seharusnya aku memarahinya, bilang dia benar-benar bodoh,
lalu membantunya bangkit.
Tapi aku tak
bisa. Karena aku yang bodoh ini malah menangis.
Pasti karena aku
menangis, Natsuki merasa bertanggung jawab. Padahal ini salahku.
"...Pokoknya,
aku harus melakukan sesuatu."
Karena aku,
Natsuki ditolak oleh Hikari-chan.
Makanya, aku
ingin bagaimana pun juga memperbaiki hubungan mereka berdua.
Perasaanku
sendiri sekarang tak penting.
Aku hanya ingin
Natsuki yang ada di sini ini menjadi bahagia.
Aku tak ingin dia
berpikir bahwa dia tak seharusnya mengulang hidupnya.
Aku tak ingin
melihat masa mudamu berakhir dengan warna abu-abu.
"——Sekali
lagi saja, aku akan membantumu dalam 'Rencana Masa Muda Penuh Warna'-mu."
Karena itu, aku
menyatakannya.
Meski Natsuki
mungkin tak menginginkannya, itu tak masalah.
Aku memutuskan untuk dengan sepihak menghidupkan kembali kerjasama yang sudah lama kuhentikan.



Post a Comment