NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Haibara-kun no Tsuyokute Seishun New Game Volume 11 Interlude I

Interlude 1

(Hondo Serika)


Setelah selesai mandi air panas, kami berkumpul di kamar untuk mengobrol santai.

"Terus, tahu tidak? Mari bilang kalau dia berniat menyatakan cinta pada Saito-kun dari kelas tiga!"

"Wah~, semoga berhasil, ya! Lagipula, seleramu bagus juga mengincar Saito-kun."

"Setuju. Dia memang kelihatan agak pendiam, tapi auranya itu gloomy dan menarik, ya~"

Minami, Akari, dan Kanako berkumpul di satu kasur yang sama.

"Hei, hei, menurut Serika bagaimana?"

Minami melempar pertanyaan padaku.

Hmm, Saito-kun, ya? ...Siapa, tuh?

"Maaf, wajahnya saja aku tidak tahu."

"Eh, bukannya Serika sekelas dengan dia waktu kelas satu?"

" ...Begitukah? Padahal aku di kelas satu."

"Seharusnya Saito-kun juga di kelas satu. Itu lho, anak klub basket!"

"Nama depannya siapa?"

"Kalau tidak salah, Takumi, bukan?"

"Hmm... sepertinya aku tidak pernah bicara dengannya, deh."

Antara itu, atau aku memang benar-benar lupa.

"Aku memang payah sekali dalam mengingat wajah orang."

Bahkan Minami dan yang lainnya yang sering mengobrol denganku pun, baru belakangan ini aku bisa mencocokkan wajah dan nama mereka.

"Ahahaha, khas Serika banget, ya~"

Semua orang mengobrol dengan riang.

---Kecuali Hikari.

Hikari duduk di kasur sebelah, tersenyum tipis.

Dia memang tertawa, tapi pandangannya tidak fokus ke mana pun.

Di permukaan, dia berusaha bersikap biasa saja, tapi dilihat dari sisi mana pun, kondisi Hikari tidak beres.

Yah, bukan hal baru, sih.

Sudah seminggu terakhir ini, dia selalu melamun tak peduli apa yang sedang kami bicarakan.

" ...Hikari? Ada apa?"

Akari yang penasaran dengan kondisi Hikari pun bertanya.

"Eh? Tidak, tidak ada apa-apa, kok?"

Hikari menjawab dengan tawa ambigu untuk mengalihkan perhatian.

"..."

Aku bertukar tatap dengan Minami dan yang lainnya.

Aku sudah bisa menebaknya. Pasti ada sesuatu yang terjadi dengan Natsuki.

Sebab, kondisi Natsuki pun aneh. Dia sering membuat kesalahan saat latihan klub dan tidak bersemangat.

Dia memang berusaha serius, tapi rasanya konsentrasinya buyar. Itu pun sudah terjadi sejak seminggu yang lalu.

Waktunya yang bertepatan seperti ini berarti mereka pasti bertengkar.

"Hikari, ikut aku sebentar."

Aku bangkit dari kasur dan mengulurkan tangan pada Hikari.

"Eh?"

"Ayo, cepat."

" ...Ke, ke mana?"

"Kita eksplorasi keluar sebentar."

Hikari tampak bingung, tapi dia tetap meraih tanganku dan berdiri.

"Kalau begitu, kami pergi dulu, ya."

"Hati-hati~. Jangan lupa kembali sebelum jam tidur, ya."

Semua orang juga menyadari ada yang aneh dengan Hikari.

Diiringi tatapan teman-teman yang peka terhadap suasana, kami pun keluar dari kamar.

"Ke, ke mana kita pergi, Serika-chan?"

"Kalau tidak salah, di lantai satu ada ruang istirahat."

"Bukannya katanya guru berjaga di dekat lift?"

"Kalau lewat tangga, harusnya tidak masalah, kan?"

Aku menarik tangan Hikari dan turun ke lantai satu.

Ruang istirahat itu berada di sisi jendela lobi.

Di ruangan luas yang diterangi cahaya hangat itu, terdapat mesin penjual otomatis dan sofa.

Salah satu sisi dindingnya terbuat dari kaca, memperlihatkan taman tengah yang rimbun dengan pepohonan tropis.

"Hap..."

Aku duduk di sofa terdekat dan mengisyaratkan Hikari untuk duduk di sebelahku.

Hikari menanggapi isyaratku dan duduk di sofa dengan ragu-ragu.

" ...Jadi, ada apa, Serika-chan?"

Sudah sekitar setengah tahun kami sekelas. Dibandingkan saat kelas satu, aku jadi cukup dekat dengan Hikari.

Meskipun aku pada dasarnya hanya tertarik pada musik, aku jadi sering mengobrol dengan Hikari mengenai penciptaan karya karena topik novel yang dia bicarakan ternyata ada hubungannya dengan teknik menulis lirik dan lagu.

Meski terkadang teman lain menertawakan kami, "Kalian berdua kalau ngobrol puitis sekali, ya."

Selain itu, ada Natsuki sebagai kesamaan kami.

Bagiku, dia teman satu band. Bagi Hikari, dia adalah kekasih. Topik pembicaraan kami tidak pernah habis.

Aku sering mendengar Hikari memamerkan kemesraan mereka, atau sesekali mendengar keluh kesahnya.

Yah, keluh kesahnya pun sebenarnya hampir mirip seperti pamer kemesraan, sih.

...Namun seminggu terakhir ini, bahkan nama Natsuki pun tidak pernah terucap dari bibir Hikari.

"Kamu sudah tahu, kan, apa yang ingin kutanyakan?"

Hikari itu peka, jadi aku yakin dia langsung mengerti hanya dengan ini.

" ...Memang tidak bisa disembunyikan, ya."

"Kalau memang mau menyembunyikannya, lakukan dengan lebih baik lagi."

Hikari pandai berakting.

Dia tipe orang yang cenderung memainkan peran karakter yang disukai semua orang.

Bagi orang seperti dia, kondisi mencolok seperti ini sangat tidak wajar.

"Maaf."

"Apa sesuatu yang terjadi sampai membuatmu terlalu syok untuk menyembunyikannya?"

Begitu kutanya begitu, Hikari mengedarkan pandangannya dengan gelisah.

Lalu, dia bergumam pelan.

"---Aku sudah putus dengan Natsuki-kun."

Untuk sesaat, aku tidak bisa memahami arti kata-katanya.

Itu adalah satu-satunya pilihan yang tidak ada dalam daftar prediksiku.

"Aku yang memutuskannya."

Aku terlalu terkejut sampai tidak bisa berkata apa-apa.

Melihatku yang mengerjapkan mata, Hikari tersenyum getir.

"Terkejut?"

" ...Jelas saja."

"Iya, ya."

" ...Pantas saja Natsuki tidak bersemangat."

"Memangnya dia kelihatan depresi, ya?"

"Dia berusaha menutupinya, tapi jelas sekali dia tidak bersemangat. Sama sepertimu."

" ...Begitu, ya."

Hikari tampak sedih, seolah sedang memikirkan sesuatu.

Setidaknya, itu bukan ekspresi orang yang baru saja memutuskannya. Sepertinya ada alasan lain.

"Aku sempat berpikir kalian mungkin bertengkar, tapi..."

Aku tidak menyangka pasangan yang selalu terlihat lengket itu akan benar-benar putus.

"Apa yang terjadi?"

Saat kutanya begitu, Hikari terdiam.

"Padahal kamu sangat menyukai Natsuki, tidak mungkin tiba-tiba kehilangan rasa, kan?"

" ...Tentu saja, tidak mungkin tiba-tiba jadi benci, kan."

"Kalau masih suka, kenapa diputuskan? Bertengkar hebat lalu terbawa emosi?"

Membayangkan Hikari berteriak, "Kita putus!" di tengah pertengkaran... sebenarnya bisa kubayangkan, tapi kalau situasinya hanya sesederhana itu, besoknya pasti mereka sudah berbaikan lagi.

"Aku tidak bisa mempercayai Natsuki-kun."

Hikari menjawab dengan lugas.

"Apa dia berbohong tentang sesuatu?"

" ...Ya."

Hikari mengangguk, lalu memanyunkan bibirnya seperti orang yang sedang merajuk.

"Padahal aku kekasihnya... tapi hal penting seperti itu, dia tidak mau memberitahuku."

Sepertinya Natsuki menyembunyikan sesuatu.

"Hal penting itu apa?"

" ...Aku juga tidak tahu detailnya..."

Hikari tampak buntu, sesuatu yang jarang terjadi padanya.

Merasa pembicaraan ini akan panjang, aku membeli dua botol teh dari mesin penjual otomatis.

"Ini, untuk Hikari."

" ...A-ah, terima kasih."

Aku melempar botol teh itu kepada Hikari yang sedang melamun.

Saat aku membuka tutup botol dan membasahi kerongkongan, Hikari memberanikan diri mendongak.

"A-anu... Serika-chan. Boleh aku tanya sesuatu yang lancang?"

"Kita kan teman, tidak perlu sungkan."

"Kalau begitu, anu... Serika-chan itu... masih perawan?"

Aku nyaris menyemburkan teh yang sedang kuminum.

Teh yang salah masuk ke tenggorokan membuatku terbatuk-batuk.

"Uhuk, uhuk...!"

"A-apa kamu tidak apa-apa...!?"

Aku berusaha menelan teh itu agar tidak tumpah.

"A-apa-apaan itu, tiba-tiba saja?"

Bahkan aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku.

Ini sudah bukan level lancang lagi.

Yah, tentu saja sesama gadis seusiaku kadang membicarakan hal semacam itu...

"Aku tidak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut Hikari."

"Itu memang bukan imejku, ya..."

"Soalnya kamu biasanya bersikap sok suci."

"Sok suci? Kamu bilang sok suci?"

Aku salah bicara. Terlalu jujur.

Hikari menatapku tajam dengan senyum yang dipaksakan. Matanya tidak tertawa. Seram.

"I-itu... kenapa tiba-tiba tanya begitu?"

Aku buru-buru mengalihkan pembicaraan—atau lebih tepatnya, kembali ke topik utama.

" ...Kalau Serika-chan punya pengalaman, ada hal yang ingin kutanyakan."

Hikari memerah wajahnya dan bertanya dengan malu-malu.

"Oke. Tanya saja apa pun."

Aku sengaja menepuk dadaku, menjawab dengan penuh percaya diri.

"A-asexpected Serika-chan!"

Wajah Hikari menjadi cerah.

Karena gayaku yang seperti gyaru, orang sering salah paham mengenai hal itu.

Padahal kenyataannya, aku tidak punya pengalaman cinta sedikit pun.

Tapi kalau aku berakting seolah berpengalaman, dia mungkin akan memberitahuku.

Aku tidak bohong, kok. Aku kan tidak pernah bilang kalau aku bukan perawan.

Hikari bertanya dengan suara pelan dan malu-malu.

"A-anu... saat suasana dengan pacar sedang mengarah ke sana, kalau... anu, punya si dia tidak bisa... bangun... itu artinya dia tidak menyukaiku, ya!?"

Bagaimana ini?

Level pembicaraannya lebih tinggi dari dugaanku.

Aku sama sekali tidak ingin mendengar kisah nyata pasangan yang menjalin kasih, tapi...

Tapi ini bisa jadi bahan inspirasi untuk lirik atau musikku.

"Yah... mungkin saja."

Dengan keputusan yang berat, aku memasang wajah serius untuk menutupi kebodohanku.

"Benarkah ternyata begitu!?"

Hikari tampak emosional, seolah perasaan yang ia tahan selama ini meluap.

"Hi-Hikari, suaramu terlalu keras."

Aku meletakkan jari telunjuk di bibir, dan Hikari buru-buru menutup mulutnya.

Meskipun saat ini tidak ada orang, tempat ini bisa saja didengar siapa pun.

"Jadi maksudnya... Natsuki tidak 'bangun'... begitu?"

Apa yang sedang kutanyakan ini? Wajahku terasa panas.

Hikari mengangguk dengan wajah merah padam. Tolong jangan mengangguk.

" ...Jadi begitu, Natsuki-kun memang tidak menyukaiku."

Hikari memeluk lututnya dan memanyunkan bibir.

"Ada pria yang tidak terangsang dengan tubuh Hikari, ya?"

"Iya... padahal aku cukup percaya diri..."

"Padahal saat kita di pemandian umum tadi, aku saja sampai terangsang."




"Se-, Serika-chan?"

Hikari buru-buru menjaga jarak.

"Aku cuma bercanda. Tapi, tadi aku sampai berpikir kamu itu model gravure."

Itu jujur. Tubuhnya begitu indah sampai-sampai membuatku tak sengaja terpesona.

"A-, jangan begitu. Memalukan... tapi, bukan itu masalahnya sekarang, ini soal Natsuki-kun!"

"Kalau mau bicara serius, kurasa itu tidak ada hubungannya dengan apakah dia menyukaimu atau tidak."

Sambil mengingat obrolan porno anak laki-laki di kelas, aku memberikan saran pada Hikari.

"......Begitukah?"

"Kalau laki-laki hanya terangsang pada gadis yang mereka sukai, mereka tidak akan menonton video dewasa, kan?"

Jujur saja itu asal jawab, tapi Hikari tampak yakin dan bergumam, "......Begitu ya."

Aku juga gadis remaja pada umumnya.

Meski tidak punya pengalaman cinta, bukan berarti aku sama sekali tidak tertarik pada hal-hal semacam itu.

Aku pernah melihat video dewasa, dan setidaknya punya pengetahuan dasar.

"Mungkin dia gugup?"

Menurutku itu kemungkinan yang paling besar.

Tidak sulit membayangkan Natsuki yang sangat gugup saat mereka hendak melakukannya.

Bukan berarti aku ingin membayangkannya, sih. Lebih tepatnya, tolong jangan buat aku membayangkannya.

"......Aku juga ingin berpikir begitu," kata Hikari dengan suara lesu.

"Kamu yakin bukan itu penyebabnya?"

"Tentu saja, kurasa dia memang gugup, tapi... kurasa bukan itu penyebab utamanya."

Hikari menyipitkan matanya, seolah melihat ke kejauhan.

"Pasti ada gadis lain di dalam hati Natsuki-kun."

"Di dalam hati Natsuki... ada gadis lain?"

Apakah hal seperti itu benar-benar mungkin terjadi?

Aku tahu perasaan yang Natsuki tujukan untuk Hikari.

Karena aku terus melihat Natsuki menulis lirik lagu demi Hikari.

"Saat kami melakukannya, dia seperti melihat gadis lain melalui diriku. Dia seperti melihatku, tapi sebenarnya tidak melihatku. Itu... sangat menyedihkan."

"Apa mungkin kamu salah paham?"

"......Natsuki-kun orang yang jujur."

Sepertinya Hikari sudah benar-benar yakin dengan perasaannya sendiri.

"Seperti yang Serika-chan bilang, kurasa terangsang atau tidak, tidak ada hubungannya dengan suka atau tidak. Tapi... dia tidak bisa melakukannya dengan orang yang tidak dia cintai. Itulah kenapa wajah Natsuki-kun terlihat sangat tersiksa."

......Begitu ya. Aku bisa membayangkannya.

Karena Natsuki orang yang serius.

Jika dia harus berhubungan intim sementara hatinya sudah menjauh dari Hikari, dia pasti akan merasa tersiksa.

Meski begitu, gadis lain di dalam hati Natsuki selain Hikari itu... siapa?

Jika ada yang terlintas di pikiranku, hanya ada satu orang.

"Miori?"

Hikari tidak membantah maupun membenarkannya.

"......Sudah begini saja sudah cukup."

Artinya, memang begitulah kenyataannya. Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh Hikari.

"Selain itu... seperti yang kubilang tadi, Natsuki-kun menyembunyikan sesuatu dariku."

"Kenapa kamu berpikir begitu?"

"Soal itu... ada hal yang bisa kubicarakan, dan ada yang tidak..."

Hikari mengerang dengan ekspresi bingung.

"Boleh tanya satu hal lagi pada Serika-chan?"

Kemudian, Hikari bertanya dengan sedikit ragu-ragu.

"Apa?"

Aku punya firasat buruk.

Jika pembicaraannya menjadi lebih mendalam dari ini, pengetahuanku yang dangkal tidak akan bisa memberi saran apa-apa.

"Padahal kami sama-sama pemula, tapi rasanya sangat nikmat... itu aneh, kan!?"

Mana kutahu.

Aku nyaris saja menepis pertanyaannya, tapi aku berusaha tenang dan menutup mulut.

"Itu... artinya Natsuki jago, mungkin?"

Setelah mencerna kata-kataku, Hikari mengangguk dengan wajah yang memerah padam.

Kenapa aku harus mendengar tentang kehebatan ranjang pacar temanku?

Ini adalah pengetahuan yang paling tidak kubutuhkan di dunia ini.

"Aku... anu, aku sampai beberapa kali..."

Gawat. Tingkat detailnya semakin vulgar.

Tolong hentikan.

Mungkin ini salahku karena berpura-pura punya pengalaman.

Apa ini yang disebut karma?

"Pria yang masih perjaka tidak mungkin sejago itu, kan!?"

"Mana kutahu. Mungkin dia latihan lewat bayangan atau semacamnya."

"Levelnya tidak seperti itu! Dia mulai dengan menyentuh telingaku dan..."

"Tolong tidak perlu penjelasan detailnya."

Tolong, jangan naikkan level vulgar pembicaraan ini lagi.

Malah... kalau Natsuki punya pengalaman, dengan siapa?

...Satu-satunya orang yang terlintas di pikiranku, lagi-lagi hanya satu orang.

Karena, mereka berdua kan teman masa kecil.

Jangan-jangan, Natsuki menyembunyikan hubungan masa lalunya?

Aku tidak berpikir Natsuki tipe yang akan berselingkuh.

Namun, ada kemungkinan dia menyembunyikan hubungan masa lalunya.

Jika benar begitu, Hikari pasti akan merasa tidak percaya.

Apa mungkin masalahnya itu?

"Kalau dia sudah terbiasa, wajar saja kalau kita berpikir dia punya pengalaman."

Aku memberikan pendapat yang paling aman dan bisa diterima siapa saja.

"Benar juga, ya!"

Hikari mengangguk-angguk setuju.

"Aku sudah tidak bisa mempercayai Natsuki-kun lagi."

Sekarang aku sudah cukup mengerti dengan alasan Hikari.

Hati Natsuki saat ini diisi oleh gadis lain.

Selain itu, dia berbohong mengenai pengalaman hubungannya dengan wanita.

Itulah kenapa dia tidak bisa mempercayai Natsuki.

Sepertinya ada hal lain yang tidak bisa diceritakan... tapi untuk saat ini, biarkan saja.

"Terus? Kamu sudah tidak suka lagi padanya?"

"Eh, ah, tidak..."

Hikari buntu menjawab.

"Emm... ya, benar. Memang begitu!"

Dilihat dari mana pun, dia masih belum bisa move on.

Sosok Hikari yang duduk melipat lutut di sofa mengingatkanku pada seekor tupai.

"Padahal kalau dia mau bicara jujur, mungkin semuanya akan baik-baik saja..."

Kata Hikari dengan nada merajuk.

Yah, aku juga paham kalau Natsuki punya sisi misterius.

Ada banyak episode di mana aku terpikir, "Di mana dia mendapatkan pengalaman seperti itu?"

Meski begitu, aku tahu Natsuki bukan tipe orang yang bisa berbohong.

"Kamu yakin dengan keputusan ini?"

Aku memastikan sekali lagi pada Hikari.

"......Ya, begini saja sudah cukup."

Hikari bergumam seolah meyakinkan dirinya sendiri.

Ekspresinya tampak seperti hendak menangis.

"Kalau aku terus berada di sisinya, Natsuki-kun hanya akan menderita."

Artinya, Hikari memutuskan untuk berpisah demi kebaikan Natsuki.

......Apakah benar itu jalan yang terbaik?

Saat ini, aku baru mendengar cerita dari sisi Hikari saja.

Untuk sementara, aku harus mencoba mendengar cerita dari orang lain juga.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close