Chapter 1
Dengan Tenang, Dengan Perlahan
Tiga
belas Januari.
Libur
tahun baru telah usai, dan atmosfer di dalam ruang kelas perlahan-lahan mulai
kembali ke rutinitas harian yang biasa.
Di dalam
kelas yang terasa hangat berkat mesin penghangat ruangan, suara kapur yang
menulis di papan tulis oleh guru sejarah dunia terdengar menggema.
Meski rasanya
malas sekali, aku harus tetap mendengarkan pelajaran sejarah dunia ini dengan
serius.
Jika ini mata
pelajaran IPA, aku masih bisa mengandalkan pengetahuanku dari kehidupan
pertamaku, tapi aku tidak begitu percaya diri dengan mata pelajaran hafalan
rumpun IPS.
Ketuk, ketuk. Kapur putih itu mengetuk papan tulis,
lalu menggoreskan sebuah garis.
Sembari
menanamkan penjelasan sang guru yang terdengar datar ke dalam kepala, aku terus
mencatatnya di buku tulis.
Saat jemariku
sedang senggang, aku mencuri pandang ke arah bangku di sebelahku.
Seorang gadis
dengan rambut sewarna rami yang diselipkan di balik telinga, sedang menatap
papan tulis dengan ekspresi yang sangat serius.
Hoshimiya Hikari.
Gadis tercantik
di angkatan kami, sekaligus sang idola sekolah (menurut klaimnya sendiri).
Matanya
yang bulat besar. Bulu matanya yang lentik. Kulitnya yang putih bersih dan
tampak transparan. Serta fitur wajahnya yang begitu proporsional.
Profil
wajahnya dari samping benar-benar sangat indah, sampai-sampai aku tidak akan
pernah bosan meski terus memandanginya sepanjang waktu.
Rasanya
masih sulit dipercayai kalau gadis seperti dia sekarang sudah menjadi pacarku.
Bahkan, terkadang aku berpikir apakah ini semua hanyalah sebuah mimpi yang
terlalu panjang.
Mungkin karena
menyadari tatapan mataku, Hikari menoleh ke arahku dengan ekspresi wajah yang
tampak heran.
Mata kami saling
bertemu. Hikari memiringkan kepalanya sedikit sambil mengulas senyuman, seolah
sedang bertanya, "Ada apa?"
……Dia terlalu
imut, sampai-sampai aku refleks membuang muka.
Untuk
menyembunyikan perasaan salah tingkah ini, aku menusuk pipi Hikari menggunakan
ujung belakang pensil mekanikku.
Astaga, aku ini
sudah seperti anak SD saja. Sembari merutuki kebodohanku sendiri di dalam hati,
aku kembali mengalihkan pandangan ke arahnya.
Hikari sedang
melotot ke arahku dengan tatapan mata yang tajam, seolah ingin memprotes,
"Kamu sedang apa, sih~?"
Namun, ekspresi
wajahnya yang sengaja menggembungkan pipi itu terlihat dibuat-buat, dan
tampaknya dia tidak benar-benar marah. Imut sekali.
Hikari
mendekatkan wajahnya ke arah telingaku, lalu berbisik pelan.
"Dasar
bodoh."
Sejujurnya, bulu
kudukku langsung merinding seketika. Apa ini yang dinamakan dengan sensasi
ASMR? Rasanya aku baru saja dicerahkan.
Di saat aku
sedang memikirkan hal bodoh seperti itu, Hikari tiba-tiba merebut pensil
mekanik dari tanganku tanpa izin, lalu mulai melanjutkan catatannya di papan
tulis. ……Hei, asal tahu saja, di dalam tempat pensilku cuma ada satu pensil
mekanik, lho?
Apa ini adalah
hukuman karena aku sudah menjailinya saat pelajaran berlangsung?
Karena tidak bisa
mencatat pelajaran di papan tulis, aku akhirnya hanya bisa terus memandangi
sosok Hikari, hingga tak lama kemudian suara bel berbunyi menandakan pelajaran
telah berakhir.
Guru sejarah
dunia yang hemat bicara itu mengucapkan salam penutup, lalu bergegas melangkah
keluar dari ruang kelas.
Tusuk, tusuk.
Hikari balik
menusuk pipiku menggunakan pensil mekanik milikku.
"Tolong
dengarkan pelajaran di kelas dengan serius."
"Ooh…… Aku
tidak menyangka bisa mendengar kalimat seperti itu keluar dari mulutmu,
Hikari."
Rasanya sulit dipercaya kalau kalimat itu diucapkan oleh
gadis yang baru beberapa waktu lalu menangis tersedu-sedu kepadaku karena nilai
ujiannya hancur lebur……
"Memangnya di dalam kepala Natsuki-kun, aku ini tipe
karakter yang seperti apa, sih?"
Putar, putar.
Hikari memperkuat tekanannya pada pipiku dengan ekspresi
tidak puas. Hei, itu sakit tahu.
"Ah, tidak, maksudku, hahaha……"
Tentu saja aku tidak mungkin bisa menjawab kalau dia itu
sebenarnya gadis yang ceroboh, jadi aku memilih untuk membuang muka.
"Ujian yang
kemarin hasilnya memang bagus, tapi tidak akan ada artinya kalau cuma sekali.
Biar bisa terus mempertahankan nilai yang bagus, kita harus mendengarkan
penjelasan guru di kelas dengan serius. Kamu paham, kan?"
Demi mendapatkan
izin untuk mengejar impiannya menjadi seorang novelis, Hikari telah membuat
janji dengan ayahnya, Sei-san, untuk menaikkan nilai akademisnya.
Namun, belakangan
ini nilai-nilai Hikari sempat merosot tajam akibat penyakit kasmaran (?). Oleh
karena itu, pada ujian sebelumnya dia sudah berjuang mati-matian untuk
menaikkan nilainya secara drastis.
Meski begitu, seperti yang dikatakan oleh Hikari sendiri, berhasil di satu ujian saja belum bisa dikatakan kalau dia sudah menepati janji tersebut sepenuhnya.
Makanya
belakangan ini aku mendengarkan pelajaran di kelas dengan jauh lebih serius
daripada biasanya.
"……Maaf, ya.
Aku malah mengganggu kalian."
"Yah,
aslinya nggak masalah, sih. Sejarah dunia itu mata pelajaran yang kusukai dari
awal, jadi nilajku memang bagus."
Mata pelajaran
yang nilainya hancur lebur bagi Hikari adalah rumpun IPA. Kalau terbatas pada
mata pelajaran IPS, dia sama sekali tidak punya masalah.
"Sejarah
dunia itu berguna juga untuk membuat cerita, lho. Kalau berpikir ini demi
menulis cerita fantasi di masa depan, motivasiku langsung muncul. Selain itu,
aku memang merasa sejarah itu seru. Ah, tapi…… jangan salah paham, ya!"
Salah paham? Aku
memiringkan kepalaku, bingung dengan maksud perkataannya.
Melihat reaksimu
yang seperti itu, Hikari menatapku lekat-lekat dengan wajah yang sedikit
memerah saat berbicara.
"Bukannya
aku…… nggak senang…… karena sudah diganggu sama Natsuki-kun, kok……"
Meskipun diucapkan dengan gumaman yang sangat lirih,
kata-katanya terdengar begitu jelas di telingaku.
"O-Oh, begitu ya……"
Daya hancur dari serangannya barusan benar-benar terlalu
besar, sampai-sampai aku hampir saja dibuat tak sadarkan diri. Dia terlalu
menggemaskan.
Dalam kasus Hikari, sulit sekali membedakan kapan dia
melakukan hal seperti ini secara alami dan kapan dia melakukannya dengan
sengaja sebagai bagian dari taktiknya. Namun kalau menurut instingku, yang
barusan itu fiks hasil kalkulasi!
"Makanya,
kalau cuma sesekali, boleh kok……"
Bahkan saat ini
pun, dia masih mencuri-curi pandang untuk mengintip bagaimana reaksiku.
Gadis ini
benar-benar memanfaatkan keimutannya sendiri demi keuntungannya!
"O-Oh……"
Namun karena dia
terlalu imut, aku tidak bisa membalasnya sama sekali! Menyebalkan sekali!
Melihat interaksi
kami yang seperti itu, Hino yang duduk di bangku belakang akhirnya angkat
bicara.
"Aduh,
tolong dong. Meskipun cuma sesekali, bisa kasihanilah aku nggak?"
Nada suaranya
tidak seringan biasanya, melainkan terdengar benar-benar merasa terganggu dari
lubuk hatinya.
"Suasana
kasmaran kalian berdua itu kadar kelembapannya terlalu pekat, tahu. Lakukan itu
di rumah saja sana, di rumah."
Nishimura-san,
gadis berkacamata dengan aura keren yang duduk di sebelah Hino, juga tampak
mengangguk-angguk setuju.
"Benar juga,
ya. Meskipun status kalian berdua sudah menjadi pasangan yang diakui secara
resmi oleh sekolah, tapi kalau begini……"
"Lagian
kalau sudah sedekat ini, bukannya ini sudah hampir sama saja seperti
berhubungan intim?"
Hei,
Nishimura-san! Bisa-bisanya kamu mengatakan hal seperti itu dengan wajah yang
datar tanpa ekspresi!
Di sisi lain,
lelucon itu tampaknya benar-benar mengenai selera humor Hino hingga dia terus
memegangi perutnya sambil memukul-mukul meja dengan heboh.
"E-Eh,
eeeegh……!?"
Tuh, lihat kan,
wajah Hikari langsung berubah menjadi sangat kocak karena syok! Yah, aku juga
sama saja, sih!
"M-Maafkan
kami……"
Pada akhirnya,
aku dan Hikari hanya bisa menyampaikan permohonan maaf dengan wajah yang sudah
merah padam bagaikan tomat.
*
Saat jam pulang
sekolah tiba, para murid di dalam kelas satu per satu mulai melangkah pergi
meninggalkan ruangan.
"Nah……"
Hari ini adalah
hari di mana aku bisa bersantai dengan tenang. Sebab, latihan band maupun sif
kerja paruh waktuku sedang libur.
Hikari yang
sedang mengemas barang-barangnya di bangku sebelah mengalihkan pandangannya dan
menyapaku.
"Natsuki-kun,
ayo pulang bareng!"
"Hari
ini klubmu sedang libur, ya?"
"Yup!
Aku mau langsung pulang ke rumah buat melanjutkan bab baru dari novel
baruku~"
"Sekarang
kamu lagi menulis genre apa?"
"Romansa!
Masa muda! Dan kasus pembunuhan!"
"Genre
yang terakhir kok mendadak ekstrem banget, ya……"
Melihat
Hikari yang tampak begitu bersemangat, sebuah perasaan hangat yang menyenangkan
mengalir di dalam dadaku.
"Semangat,
ya."
"Tentu
saja!"
"……Ah, kalau
Nanase bagaimana?"
Saat aku menyapa
Nanase yang juga sedang bersiap-siap untuk pulang, ekspresi wajahnya berubah
menjadi sedikit bimbang.
"Hari ini
aku harus langsung pulang karena ada latihan piano, sih……"
Artinya, bukannya
dia tidak bisa pulang bersama kami. Hanya saja, responsnya terasa agak ambigu.
Yah…… aku juga
bisa memahami alasan kenapa Nanase bersikap sungkan seperti itu.
Jangankan dia,
aku sendiri pun pasti enggan jika harus pulang bersama dengan sepasang kekasih.
Rasanya pasti seperti menjadi obat nyamuk yang terkucilkan.
Aku mengajaknya
hanya karena terbawa suasana seperti biasanya, tapi sepertinya tindakan itu
kurang tepat.
Tanpa mengetahui
apa yang sedang berkecamuk di dalam kepalaku, Hikari melangkah mendekati meja
Nanase.
"Kalau
begitu, Yuino-chan bisa pulang bareng kami juga, kan?"
"Tentu……"
……Eh? Bukannya
merasa sungkan, tapi bukankah dia malah terlihat seperti tidak suka?
"……Apa aku
tidak akan menjadi pengganggu bagi kalian berdua?"
"Mana
mungkin begitu! Aku kan memang ingin pulang bareng Yuino-chan!"
Hikari
yang tampaknya sengaja mengabaikan kepekaan situasi di sekitar, langsung
memeluk erat lengan Nanase.
"Anu,
bisa tolong baca situasinya tidak? Secara tidak langsung aku sedang mengatakan
kalau aku tidak mau, lho."
"K-Kenapa
begitu!? Yuino-chan, apa kamu sekarang sudah jadi benci denganku!?"
Karena akhirnya
kalimat penolakan yang gamblang keluar dari mulut Nanase, sudut mata Hikari
mulai berkaca-kaca karena sedih.
"Bukannya
begitu…… Hanya saja, kalian berdua belakangan ini kalau sedang bersama terlihat
sangat memalukan, tahu."
"Kamu kejam banget, sih! Lihat nih, Hikari sampai
mematung gara-gara syok!"
Akibat kalimat telak yang menusuk itu, tubuh Hikari langsung
kaku seketika, bahkan tidak bergerak sedikit pun saat aku mengguncang bahunya.
Kami berdua juga menjalani hubungan ini dengan serius, tahu!
Tolong jangan katakan kalau kami memalukan begitu, dong!
"……Bi-Biar
begitu, aku tetap mau pulang bareng Yuino-chan!"
Ah, kesadaran
Hikari akhirnya sudah pulih kembali. Dia mempererat pelukannya pada lengan
Nanase dengan lebih erat lagi.
Dada besar Hikari
sampai berubah bentuk karena tertekan, membuat seluruh lengan Nanase tenggelam
di dalamnya. Jujur saja, aku merasa iri melihatnya.
"……Astaga,
benar-benar tidak ada habisnya ya kalau sudah berurusan denganmu, Hikari."
Mengabaikan
pikiran mesumku, Nanase mengulas senyuman yang begitu lembut setelah melihat
keras kepalanya sikap Hikari tersebut.
Dia
benar-benar terlihat seperti sosok ibu bagi Hikari. Rasanya sulit dipercayai
kalau mereka berdua berada di usia yang sama. Eh? Jangan-jangan dia menjalani kehidupan untuk
kedua kalinya juga?
"Horeee!
Ehehe~ Yuino-chan~"
"Sudahlah,
menjauh sedikit, Hikari. Kalau menempel begini kan jadi susah jalan."
Sembari
mendengarkan interaksi mereka yang seperti itu, kami bertiga melangkah keluar
dari ruang kelas. Namun, di saat itulah aku menyadari sesuatu.
Eh? Kalau
situasinya jadi seperti ini, bukannya malah aku yang berubah menjadi pengganggu
di sini?
Atmosfer di
sekitarku benar-benar sudah sepenuhnya menjadi dunia milik mereka berdua saja.
Bahkan rasanya
aura di antara mereka seolah memancarkan pertanyaan, 'Kenapa sih cowok ini
masih ada di sini?'
Mendadak, memori
trauma dari kehidupan pertamaku kembali terlintas di dalam benak.
Namun, karena aku
sudah terlampau sering menghadapi situasi yang mirip seperti ini, mentalitasku
sudah membangun imunitas yang cukup kuat jadi posisinya masih aman (?).
Kemampuanku untuk
menipiskan keberadaan diri sedalam mungkin ini sebenarnya lahir dari kumpulan
pengalaman pahit di masa lalu.
Meski begitu,
levelku tentu saja masih belum bisa menandingi Mei, sih. Anak itu memang
memiliki bakat alami yang mengerikan untuk urusan menghilang.
"Natsuki-kun,
kenapa kamu malah diam saja?"
Padahal aku sudah
berusaha keras untuk menyembunyikan keberadaanku, tapi Hikari ternyata masih
bisa menyadari kehadiranku.
"Terima
kasih ya, Hikari. Seperti yang diharapkan dari pacarku."
"Eh, apa-apaan? ……Seram banget."
Aku malah membuatnya ketakutan. Pacarku sendiri.
*
Setelah mengganti sepatu kami di loker, kami melangkah
keluar menuju halaman sekolah. Hembusan angin dingin yang menusuk kulit
seketika membuat bahuku bergetar hebat.
Hikari dan Nanase yang saling bergumam, "Dingin banget,
ya," "Benar, dingin sekali," kini tampak sedang berbagi syal
yang melingkar di leher Hikari. Bukankah
interaksi mereka ini jatuhnya sudah terlalu mesra secara natural? Lalu atas
dasar apa tadi dia bisa-bisanya mengejek kami dengan berkata, "Kalian
berdua belakangan ini kalau sedang bersama terlihat sangat memalukan,
tahu"? Eh, lalu bagaimana denganku? Aku sendirian di sini.
Mengabaikan
perasaanku yang mengganjal dan tidak puas ini, Hikari mengalihkan topik
pembicaraan ke arah Nanase.
"Eh, iya.
Kalau tidak salah acaranya hari Sabtu minggu ini, kan? Kompetisi piano yang
akan Yuino-chan ikuti itu."
"Benar.
Tapi, aku tidak berniat untuk memaksakan kalian datang mendukungku, kok."
"Aku pasti
datang! Soalnya aku suka banget sama permainan pianomu, Yuino-chan!"
"Begitu, ya.
Kalau memang itu yang Hikari inginkan, aku bisa memainkannya kapan pun untukmu
di rumahku, lho."
"Wah, ini
yang namanya hak istimewa sebagai sahabat, ya! Tapi, aku tetap akan datang ke kompetisinya
juga, kok!"
Melihat
Hikari yang tampak begitu bersemangat hingga energinya meledak-ledak, Nanase
hanya bisa mengulas senyuman pasrah yang getir.
"Selain itu,
Natsuki-kun juga bilang kalau dia mau ikut datang denganku!"
"Oh,
benarkah begitu? Padahal dia tidak terlihat seperti orang yang punya
ketertarikan pada musik klasik sama sekali."
"Aku memang
tidak begitu paham, tapi aku ingin mendengar permainan pianomu, Nanase."
"……Permainanku
tidak sehebat yang kalian bayangkan, kok. Lagipula aku sudah lama vakum, jadi
tolong jangan berekspresi terlalu tinggi."
Sembari
membuang pandangan matanya ke arah lain, Nanase berbicara dengan nada suara
yang terdengar kurang percaya diri. Hal ini terasa sedikit mengejutkan bagiku.
Sebab, Nanase biasanya tidak pernah mengucapkan kalimat yang terkesan mencari
aman seperti ini. Dia selalu memberikan impresi sebagai sosok yang tenang dan
berwibawa dalam situasi apa pun.
"Mana
ada begitu! Piano Yuino-chan itu benar-benar luar biasa hebat, tahu!"
Kepada
Hikari yang menyuarakan pendapatnya dengan nada lantang, Nanase membalas,
"Kalimat itu sudah kudengar tadi," sembari terkekeh pelan.
Kudengar
saat masih kecil dulu dia sempat dijuluki sebagai anak ajaib, bahkan memiliki
rekam jejak memenangkan berbagai penghargaan di kompetisi piano.
"Aku
memang tahu kalau hobimu adalah bermain piano, tapi aku sama sekali tidak
menyangka kalau levelmu ternyata sampai setinggi itu."
"……Tidak
ada gunanya juga kan menyombongkan sesuatu yang sudah kutinggalkan? Meskipun
dulu aku memang berpikir demikian."
Sikap
yang tidak suka memamerkan pencapaian gemilang di masa lalu ini benar-benar
mencerminkan kepribadian Nanase yang sesungguhnya.
Coba
kalau posisinya dibalik dan akulah yang memiliki prestasi seperti itu, aku
pasti sudah mencari-cari kesempatan untuk memancing topiknya keluar demi bisa
pamer dengan wajah penuh kebanggaan.
"Nanase
sendiri sudah mulai bermain piano sejak kapan?"
"Sejak usia
tiga tahun kalau tidak salah? Ibuku adalah seorang pianis, jadi dari awal
memang sudah ada piano di rumah."
"Eh? ……Ibumu itu seorang profesional?"
"Dulu. Beliau sudah lama pensiun, dan sekarang hanya
menjadi seorang ibu rumah tangga biasa."
Pandangan mata Nanase tampak menerawang jauh ke depan.
Seolah-olah dia sedang merindukan kenangan di masa lalunya.
"Ibunya Yuino-chan itu juga hebat banget lho kalau
sedang bermain piano."
"Dulu Hikari memang sesekali suka datang berkunjung
untuk melihat sesi latihan pianoku bersama Ibu, sih."
"Melihat perjuangan keras Yuino-chan saat berlatih itu
seru banget bagi grupku."
Sembari mendengarkan cerita Nanase, kami melewati gerbang
tiket Stasiun Maebashi, lalu melangkah masuk untuk menaiki kereta Ryomo Line.
Suasana di dalam gerbong kereta sore itu terasa sedikit
padat, sehingga tidak ada satu pun kursi kosong yang tersisa untuk kami. Aku
pun mengulurkan tangan untuk meraih pegangan gantungan kereta.
"Kalau begitu, artinya selama ini kamu diajari langsung
oleh ibumu, ya?"
"Secara
garis besar memang begitu. Meskipun
aku juga sempat mendaftarkan diri ke tempat kursus piano untuk beberapa
waktu."
"Hebat
banget, itu sih namanya pendidikan anak berbakat sejak dini……"
Kisah
hidupnya terasa seperti berasal dari dunia yang sama sekali berbeda denganku.
Bagi
orang sepertiku yang lahir dan dibesarkan di dalam lingkungan keluarga biasa
pada umumnya, hal seperti itu benar-benar berada di luar jangkauan imajinasi.
"Karena pada
saat itu, aku memiliki impian untuk menjadi seorang profesional sama seperti
Ibu."
Fakta bahwa dia
menceritakan impiannya tersebut dalam bentuk masa lampau, sedikit mengusik rasa
ingin tahuku.
"Kalau untuk
sekarang, apa kamu sudah tidak berpikir demikian?"
"……Belakangan
ini aku sudah jarang berlatih, jadi kemampuanku pasti sudah sangat
tumpul."
Memang benar jika
melihat fakta bahwa Nanase juga mengambil kerja paruh waktu, atmosfer dirinya
tidak memancarkan kesan sebagai seseorang yang sedang memberikan seluruh fokus
hidupnya untuk piano.
Aku juga sempat
mendengar kabar kalau keikutsertaannya dalam kompetisi piano kali ini merupakan
momen pertamanya setelah sekian lama absen.
Apakah ada suatu
alasan khusus di balik semua ini? Padahal dia dikaruniai dengan bakat yang luar biasa besar seperti itu.
"Sampai
kompetisinya selesai nanti, aku sudah meminta agar sif kerja paruh waktuku
dikurangi sedikit. Karena hal
itu, mungkin jumlah giliran masuk untuk Haibara-kun akan menjadi sedikit lebih
banyak, tapi……"
"Ah, kalau
soal itu serahkan saja padaku. Malahan, sebenarnya aku memang sedang ingin
menambah jam kerja paruh waktuku, kok."
"Oh
ya?"
Hikari menyahut
dengan ekspresi wajah yang tampak melongo penuh kebingungan.
"Kalau
sedang aktif bermain band, uang sebanyak apa pun rasanya tidak akan pernah
cukup untuk memenuhi semua kebutuhan."
Meskipun aku
ingin membeli beberapa peralatan seperti efektor, kapasitas finansial
seorang anak SMA tentu saja memiliki batasan yang jelas. Oleh karena itu, aku
ingin menambah jadwal kerjaku sebanyak mungkin selama situasinya memungkinkan.
Hubungan antar karyawan di Kafe Mares juga sangat harmonis, sehingga aku bisa
bekerja di sana dengan sangat nyaman.
"Terima
kasih ya, aku sangat terbantu."
Ekspresi wajah
Nanase tampak sedikit lebih rileks setelah mendengar jawabanku.
"Omong-omong,
Nanase."
"……Apa kamu
ingin bertanya mengenai alasanku kenapa mendadak kembali memiliki motivasi
untuk bermain piano lagi?"
Memotong
kalimatku yang baru saja ingin terucap, Nanase melontarkan pertanyaan itu
terlebih dahulu.
"Apakah
tebakanku benar?"
"Yah, kurang
lebih begitu."
Sebenarnya hal
yang ingin kutanyakan adalah alasan mendasar kenapa dia sampai kehilangan
motivasi untuk bermain piano di masa lalu.
Namun karena dia
sudah berhasil membaca arah pembicaraanku terlebih dahulu, aku akhirnya tidak
memiliki pilihan lain selain mengiyakan pertanyaannya.
"Ini semua
karena dirimu."
"Eh?"
Mendengar kalimat
yang diucapkan sembari mengulas seulas senyuman tipis itu, aku langsung
membelalakkan mataku karena terkejut.
Otakku
membutuhkan waktu beberapa saat sebelum akhirnya bisa mencerna dan memahami
makna sesungguhnya di balik kalimat tersebut.
"……Aku
memangnya sudah melakukan apa?"
Sama sekali tidak
ada satu pun petunjuk yang melintas di dalam kepalaku.
Lagipula, sejak
awal aku bahkan tidak mengetahui apa pun mengenai rekam jejak maupun prestasi
piano milik Nanase.
"Saat
festival budaya kemarin, kamu mengadakan pertunjukan live, kan?"
Mendengar
petunjuk dari kalimat yang diucapkannya itu, rasa terkejut yang luar biasa
besar sekaligus perasaan bahagia seketika membuncah di dalam dadaku.
"……Aku
merasa sangat terharu saat melihatnya."
Pada saat itu,
Nanase memang menonton pertunjukan kami bersama dengan Hikari dari bawah
panggung. Aku bisa
melihat sosok mereka dengan jelas dari atas panggung tempatku berdiri.
"Aku
sengaja tidak menyampaikannya secara langsung kepadamu karena rasanya terlalu
memalukan, sih."
Mungkin karena
merasa malu, kedua belah pipi Nanase tampak merona kemerahan.
"Setelah
menyaksikan pertunjukan live kalian saat itu, aku…… kembali berpikir
untuk berjuang sekali lagi dalam bermain piano."
"……Terima
kasih banyak."
Tanpa sadar,
kalimat yang pertama kali meluncur dari mulutku justru adalah sebuah ucapan
terima kasih.
"Bukannya
seharusnya itu adalah kalimatku?"
Nanase
memberikan koreksi dengan nada suara yang terdengar sedikit geli.
"Biarpun
begitu, aku tetap ingin mengucapkannya."
Demi
mengubah dunia, kami semua telah berjuang bersama untuk mengadakan pertunjukan live
tersebut.
Jika
musik yang kami mainkan saat itu terbukti bisa mengubah dunia milik seseorang
menjadi lebih baik, maka tidak ada pencapaian yang lebih membahagiakan daripada
hal itu bagi seorang musisi.
"Aku
mulai rutin kembali menjalani latihan piano sejak beberapa hari setelah
festival budaya itu berakhir, dan sekarang sudah berjalan sekitar dua bulan.
Akhirnya kemampuanku sudah berhasil kembali ke level di mana aku bisa ikut
berpartisipasi dalam kompetisi."
"Apakah masa
vakum bisa sampai membuat kemampuan seseorang menurun drastis sejauh itu?"
"Pada
awalnya aku bahkan sempat merasa putus asa, tahu. Jemariku sama sekali tidak
bisa digerakkan sesuai keinginan. Tentu saja, bukannya aku sama sekali tidak
menyentuh piano selama ini, hanya saja aku memang sudah lama tidak menantang
diriku untuk memainkan lagu-lagu dengan tingkat kesulitan tinggi."
Melihat
sosok Nanase yang mengeluh seperti ini memberikan impresi yang sangat segar
bagiku.
Dari sana aku
bisa merasakan dengan jelas betapa keras dan kompetitifnya dunia piano yang
digelutinya itu.
"Saat
awal-awal membentuk band bersama Serika dan yang lainnya, aku juga sempat
memegang gitar lagi setelah sekian lama tidak menyentuhnya…… Waktu itu aku juga
terus bermain sambil mencari-cari alasan seperti, 'Padahal dulu aku bisa
memainkannya sedikit lebih bagus dari ini', jadi kurasa aku bisa sedikit
memahami perasaanmu."
Meskipun setelah
itu Serika langsung membalas kalimatku dengan komentar menohok seperti, "Lagian
dari awal kemampuan bermain gitarmu memang tidak sekeren itu, kan?",
sih.
Memang benar,
sih! Tapi tetap saja, setidaknya dulu permainanku sedikit lebih mendingan
daripada saat itu, tahu!
"……Kalian
berdua kok rasanya jadi seperti sedang asyik terhubung ke dalam dunia sendiri,
ya?"
Hikari yang
berdiri sedikit di belakang kami tampak mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
Karena tidak bisa
ikut membaur ke dalam topik pembicaraan mengenai musik, dia tampaknya mulai
merajuk karena merasa diabaikan. Pacarku hari ini juga terlihat sangat imut.
"Ah iya,
kalau Hikari sendiri apa pernah mencoba memainkan suatu alat musik
sebelumnya?"
"Dia sempat
mendaftarkan diri ke tempat kursus piano yang sama denganku dulu, tapi dia
langsung berhenti setelah baru berjalan tiga hari."
"H-Habisnya……
tingkat kesulitannya keterlaluan, tahu! Jemariku mana bisa bergerak secepat dan
selincah itu!"
Sembari
menyaksikan sosok Hikari yang terus mengomel dengan heboh, kereta yang kami
naiki akhirnya tiba di Stasiun Takasaki.
Aku
berpisah dengan mereka berdua di depan gerbang tiket kereta JR.
Setelah itu, aku
beralih menuju kereta swasta untuk melanjutkan sisa perjalanan pulangku.
*
Sesampainya di
rumah, aku langsung melakukan sesi lari sore dan latihan beban sebelum akhirnya
membersihkan diri di kamar mandi.
Karena tidak ada
agenda kegiatan lain yang harus kukerjakan, aku memutuskan untuk mengisi waktu
dengan berlatih gitar.
Aku sendiri
menyadari kalau mentalku ini sangat sederhana, tapi kata-kata dari Nanase saat
di kereta tadi terbukti berhasil mendongkrak motivasi belajarku dengan sangat
pesat.
Uooo, mari kita
lakukan! Aku adalah pria yang ditakdirkan untuk menjadi penerus Jimi Hendrix!
"……Ah, kalau
dipikir-pikir kembali."
Sebuah pemikiran
mendadak melintas di dalam benakku, membuatku refleks menghentikan petikan
gitarku.
Kudengar saat
masih kecil dulu, Nanase sempat menjadi sangat terkenal hingga dijuluki sebagai
anak ajaib.
Jika memoriku
tidak salah, seharusnya jejak digital mengenai informasi seputar Nanase bisa
dengan mudah kutemukan jika aku mencoba mencarinya di internet.
Aku merogoh saku
untuk mengambil ponsel, lalu mengetikkan kata kunci 'Nanase Yuino' di kolom
pencarian.
Sesuai dengan
dugaanku, beberapa video yang menampilkan performa Nanase saat mengikuti
kompetisi piano di masa kecilnya langsung bermunculan di layar ponsel.
Jumlah penayangan
pada video-video tersebut juga terhitung cukup tinggi.
Untuk langkah
awal, aku mengetuk video yang berada di urutan paling atas.
Sosok Nanase di
dalam video tersebut terlihat memiliki postur tubuh yang lebih pendek dan
tampak sangat menggemaskan. Jika melihat dari penampilannya, kurasa usia Nanase
di video ini berkisar di bangku kelas enam sekolah dasar.
Nanase di dalam
video tampak membungkukkan badannya dengan gerakan yang sangat sopan dan
anggun, sebelum akhirnya mengambil posisi duduk di kursi depan piano.
Setelah
menyesuaikan ketinggian kursi, pandangan matanya tertuju lekat-lekat ke arah
deretan tuts di depannya. Gerakan tangannya saat bersiap untuk memetik nada
memancarkan aura kewibawaan yang sangat kuat.
Jemari tangannya
yang ramping dan mungil mulai menekan tuts-tuts piano di hadapannya.
Setiap butir nada
yang lahir dari gerakan lincah jemarinya saling berjalin kelindan dengan indah,
membentuk sebuah melodi lagu yang sangat terstruktur.
Chopin. Fantaisie-Impromptu.
Bahkan bagi orang
awam yang tidak begitu memahami musik klasik sepertiku pun, aku bisa langsung
menyadari betapa luar biasa hebatnya kualitas dari pertunjukan tersebut.
Tanpa disadari,
kesadaranku seolah tersedot ke dalam alunan musiknya, membuatku terus terhanyut
mendengarkan melodi itu hingga detik terakhir pertunjukan selesai.
Padahal durasi
video tersebut mencapai lebih dari lima menit, namun sensasi waktu yang
kurasakan berjalan dengan sangat cepat bagaikan satu kedipan mata saja. Aku
sempat terdiam selama beberapa saat untuk menikmati sisa-sisa emosi yang
ditinggalkan oleh melodi indah tersebut.
"Luar biasa hebat…… Nanase ternyata sekeren ini."
Jujur saja, dari awal aku sama sekali tidak pernah menyangka
kalau level kemampuannya akan sampai setinggi ini.
Bukannya aku
tidak memercayai cerita dari Hikari selama ini. Hanya saja, di dalam lubuk
hatiku yang terdalam, aku secara tidak sadar berasumsi bahwa penilaian tersebut
mengandung sedikit unsur hiperbola karena faktor kedekatan mereka yang
merupakan sahabat karib. Namun, aslinya akulah yang salah besar di sini.
Saat aku berniat
untuk memutar ulang videonya, sudut mataku tidak sengaja menangkap deretan
komentar yang ada di bagian bawah.
'Genius.'
'Apa-apaan
dengan kualitas permainan di usia sedini ini? Ini gila.'
'Kudengar
ibunya adalah seorang pianis profesional.'
'Bakat yang
benar-benar luar biasa berlimpah. Karunianya harus terus diasah dengan baik.'
'Sebuah
pertunjukan dengan tingkat penyelesaian yang sangat matang. Kesalahan penekanan
nadanya bahkan hampir tidak ada.'
Hanya
dengan melihat sekilas saja, kolom komentar tersebut sudah dipadati oleh
berbagai kalimat pujian yang sangat masif.
'Eh,
tapi kalau dipikir-pikir kembali, belakangan ini aku sudah jarang melihat anak
ini tampil, ya. Apa dia sudah berhenti bermain piano?'
Di antara
sekian banyak baris kalimat yang berjejer, satu komentar yang paling baru
mendadak mencuri perhatianku.
Tanggal
pengunggahan dari komentar tersebut menunjukkan keterangan dua tahun yang lalu.
Selain
itu, masih ada beberapa video lain yang diunggah di platform MeTube.
Semua
video tersebut menampilkan performa yang tidak kalah memukau, namun…… tidak ada
satu pun video yang memiliki tanggal pengunggahan lebih baru dari tiga tahun
yang lalu.
Tiga
tahun yang lalu, artinya itu adalah momen di saat Nanase masih duduk di bangku
kelas dua sekolah menengah pertama.
Setelah
melewati fase tersebut, dia tampaknya sudah tidak pernah lagi menginjakkan
kakinya untuk bermain piano di panggung-panggung besar seperti itu.
……Sejujurnya,
aku menjadi sangat penasaran dengan alasan di balik keputusan tersebut.
Namun,
hal ini jelas bukan sebuah topik sensitif yang bisa kutanyakan begitu saja
secara kasual kepadanya.
"……Apakah
Hikari mengetahui alasan di baliknya, ya?"
Mendadak,
ponsel di tanganku bergetar menampilkan panggilan masuk.
Sepertinya
ini yang dinamakan dengan istilah 'pucuk dicinta ulam pun tiba'.
'Na~tsu~ki~kun~'
Sosok
yang menghubungiku lewat sambungan telepon tersebut tidak lain adalah Hikari.
Karena
aku sudah tahu kalau hari ini kami berdua sama-sama tidak memiliki agenda
kegiatan lain, aku memang sudah menduga kalau dia pasti akan meneleponku cepat
atau lambat.
"Iya,
iya."
Aku
menjawab panggilannya sembari merebahkan tubuhku dengan santai di atas tempat
tidur.
'……Kok
rasanya respons Natsuki-kun belakangan ini jadi agak cuek, sih?'
Hikari
melayangkan protesnya karena merasa kurang puas dengan nada suara yang
kugunakan untuk menjawab sapaannya.
"Mana
ada begitu."
'Habisnya,
setiap kali menelepon kan selalu aku duluan yang memulai?'
"Masa,
sih? Padahal barusan aku juga baru saja berniat untuk menghubungimu, lho."
'Benarkah?
Kalau begitu, dimaafkan.'
Yah,
meskipun kalimatku barusan itu murni kebohongan belaka, sih. Tapi setidaknya
faktanya aku memang sedang memikirkan tentang dirinya tepat sebelum teleponnya
masuk.
Belakangan
ini Hikari memang menjadi lebih sering mengekspresikan kekesalannya secara
blak-blakan, namun karena dia adalah tipe orang yang suasana hatinya sangat
mudah untuk ditenangkan kembali, hal itu sangat membantu bagiku.
'Kalau begitu,
kita mulai sesi telepon sambil kerjanya, ya~'
Beriringan dengan
suara lembut Hikari, sayup-sayup terdengar juga suara ketukan tombol papan tik
yang samar dari seberang sambungan telepon.
'Bagian yang ini, mmm…… diubah jadi begini saja, deh……'
Tampaknya dia
sedang fokus menulis novelnya saat ini. Belakangan ini Hikari memang sering
menggunakan metode meneleponku seperti ini sebagai sarana untuk menemaninya
selama proses pengerjaan tulisan. Kemampuannya untuk bisa merangkai jalinan
kalimat sembari mengobrol seperti itu benar-benar membuatku kagum.
Aku sendiri
adalah tipe orang yang sangat payah dalam urusan multitasking, sehingga
sesi telepon sambil bekerja seperti ini sebenarnya bukan keahlianku.
Biasanya fokus
perhatianku akan langsung tersedot sepenuhnya ke salah satu aktivitas saja,
membuat aktivitas yang satunya lagi menjadi terbengkalai. Namun karena aku tahu
Hikari pasti akan langsung membatalkan sesi ini demi mempertimbangkan kondisiku
jika aku berterus terang, aku memilih untuk tetap diam dan tidak mengatakan apa
pun.
Bagaimanapun
juga, aku ingin menghabiskan waktu bersama dengan Hikari selama mungkin.
"Ah iya, omong-omong, Hikari."
'Ada apa~?'
Mengabaikan hal itu, kurasa tidak ada salahnya jika aku
mencoba menanyakan hal yang mengusik rasa ingin tahuku sejak tadi.
"Ini mengenai Nanase, sih."
'……Bisa-bisanya kamu menyebut nama gadis lain di depan
pacarmu sendiri.'
"Eh, seram banget."
'Cuma bercanda, kok…… Lalu, ada apa dengannya?'
"Apa kamu
tahu alasan kenapa Nanase sempat berhenti bermain piano dulu?"
Tentu saja dia
pasti memahami kalau arah pertanyaanku ini bukan merujuk pada aktivitas bermain
piano sebagai hobi kasual di rumah. Hikari terdiam selama beberapa saat tanpa
mengeluarkan suara sedikit pun dari seberang sana.
'……Aku tidak
tahu.'
Tak lama
kemudian, sebuah jawaban lirih akhirnya terdengar dari mulutnya.
'Aku hanya
tahu kapan tepatnya dia memutuskan untuk berhenti. Kalau tidak salah saat kami
duduk di kelas dua sekolah menengah pertama. Sejak saat itu, waktu yang bisa
dia habiskan untuk menemaniku bermain menjadi jauh lebih banyak. Padahal
biasanya waktu-waktu tersebut selalu diisi oleh jadwal latihan pianonya.'
"Apa kamu
tidak mencoba untuk menanyakan alasan di baliknya?"
'Tentu saja
aku sudah pernah menanyakannya. Tapi, Yuino-chan sama sekali tidak mau menjawab
pertanyaan itu. Karena aku juga tidak tahu seberapa dalam batas privasi yang
boleh kumasuki, pada akhirnya…… sampai sekarang pun aku tetap tidak mengetahui
alasan pastinya.'
……Bahkan Hikari
yang merupakan sahabat masa kecilnya sendiri pun ternyata tidak mengetahui
apa-apa mengenai masalah ini.
Nada suara Hikari
terdengar diselimuti oleh perasaan sedikit kesepian saat menceritakannya, namun
dia kembali melanjutkan kalimatnya dengan nada yang lebih tegar.
'Tapi berkat
bantuan dari Natsuki-kun, dia sekarang sudah mau kembali membangkitkan
motivasinya untuk bermain piano lagi. Bagiku, fakta itu saja sudah lebih dari
cukup. Jika dia memang memilih untuk tidak menceritakan masa lalunya, aku
merasa tidak perlu memaksanya untuk berbicara. Keputusan itu sepenuhnya berada
di tangan Yuino-chan sendiri.'
Argumen yang
dilontarkan oleh Hikari memang sepenuhnya benar.
Meskipun di sisi
lain, aku bisa merasakan kalau kalimat bijak itu tidak sepenuhnya mencerminkan
isi hatinya yang terdalam.
"……Tadi aku
sempat melihat beberapa video pertunjukan piano Nanase di masa lalu.
Permainannya benar-benar luar biasa hebat."
"Tentu saja,
kan? Sahabat karubku itu memang orang yang sangat keren, tahu."
Hikari
mendengus penuh kebanggaan dari seberang telepon. Aku bahkan bisa membayangkan
dengan jelas bagaimana ekspresi wajahnya yang sedang pamer saat ini.
'……Dan
juga, pacarku sendiri ternyata jauh lebih luar biasa hebat.'
"Jangan
mendadak melayangkan pujian setinggi itu, dong."
'Padahal
di dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku sempat berharap kalau sosok yang
berhasil menggerakkan kembali hati Yuino-chan itu adalah novel hasil karyaku
sendiri.'
Mendengar
isi hati jujur yang diutarakan dengan nada suara yang sangat serius itu, aku
seketika kehilangan kata-kata untuk membalasnya.
'Melihatku
yang terus berjuang keras demi meraih impian, lalu membaca novel menarik yang
kutulis dengan sepenuh hati, aku sempat diam-diam berharap semoga hal-hal itu
bisa menjadi pemantik yang membuat Yuino-chan kembali bangkit berdiri.'
Keinginan untuk
bisa menjadi pilar kekuatan bagi sahabat karibnya sendiri.
Menciptakan
sebuah jalinan kisah yang memiliki kekuatan magis untuk menggerakkan hati
pembacanya.
Hikari
menceritakan bahwa ambisi tersebut merupakan salah satu pilar fondasi utama
yang mendasari alasannya kenapa dia begitu gigih dalam mengejar impiannya
menjadi seorang penulis.
'Tapi pada
realitasnya, sosok yang berhasil mengubah dunia Yuino-chan justru adalah musik
yang dimainkan oleh Natsuki-kun dan teman-teman.'
"……Pertunjukan
live saat festival budaya kemarin itu hanyalah sebuah bentuk keajaiban
yang lahir dari perpaduan emosi dan kerja keras dari semua anggota tim, kok.
Hal seperti itu bukan sesuatu yang bisa kami ulangi dengan mudah, dan aku
sendiri pun tidak yakin apakah kami bisa menyajikan kualitas pertunjukan yang
sama jika diminta untuk melakukannya lagi sekarang."
Pencapaian itu
bukan lahir dari kekuatanku sendiri, dan bukan pula sebuah mahakarya yang
tercipta semata-mata karena tingkat kemampuanku yang hebat.
Kalimat ini bukan
bentuk rendah hati yang dibuat-buat, melainkan murni sebuah fakta yang apa
adanya. Aku memang merasa senang saat dipuji, namun aku juga akan merasa
terbebani jika orang-orang memberikan penilaian yang terlalu berlebihan
terhadap kapasitas diriku.
Namun.
'Pacarku itu
orang yang sangat hebat. Jauh lebih luar biasa hebat jika dibandingkan dengan
diriku sendiri.'
Hikari tetap
bersikeras pada pendiriannya tanpa menunjukkan tanda-tanks ingin mengalah
sedikit pun setelah mendengar penjelasanku.
"……Terima
kasih banyak ya, Hikari."
Jika dia begitu
memercayai kapasitas diriku dan menganggapku sebagai sosok yang 'hebat' sampai
sejauh itu, maka tugas yang harus kukerjakan sekarang bukan lagi sibuk
menyodorkan realitas pahit kepadanya, melainkan berjuang mati-matian agar aku
bisa tumbuh menjadi sosok pria hebat yang sesuai dengan ekspektasi dan
kepercayaannya selama ini.
'Aku juga akan
berjuang keras agar bisa menjadi sosok yang tidak kalah hebat dari
Natsuki-kun!'
Tak! Suara ketukan tombol papan tik
yang terdengar sangat lantang bergema dari seberang telepon. Jika melihat dari kekuatannya, kurasa itu
adalah suara penekanan tombol enter.
'Langkah
pertamanya, aku harus segera mengamankan jalan untuk bisa melakukan debut! Asal
kamu tahu saja, novel yang kukirimkan untuk kompetisi penghargaan penulis
pendatang baru kemarin baru saja dinyatakan lolos seleksi tahap kedua, lho!'
"Eh,
serius?"
'Benar!
Pengumuman hasilnya baru saja keluar tadi malam!'
Sebuah pesan
masuk berisi tautan alamat situs web dikirimkan oleh Hikari melalui ruang
obrolan aplikasi RINE milikku.
Begitu aku
mengetuk tautan tersebut, layarku langsung dialihkan menuju halaman resmi
pengumuman penghargaan penulis pendatang baru dari salah satu penerbit ternama.
Di dalam kolom
daftar karya yang dinyatakan berhasil lolos dari seleksi tahap kedua pada
halaman berjudul 'Pemberitahuan Hasil Seleksi' tersebut, deretan judul novel
tampak berjejer dengan rapi. Dan di antara kumpulan judul tersebut, nama 'Gadis
Pemecah Misteri yang Tidak Mengenal Cinta' tertera dengan sangat jelas di
sana.
……Sementara di
kolom nama pena sang penulis, nama yang tercantum di sana adalah 'Natsumi
Hikari'.
'Hebat banget,
kan?'
Hikari
menyuarakan kalimatnya dengan nada yang seolah menuntut agar aku segera
menghujaninya dengan berbagai pujian, namun fokus perhatianku saat ini sudah
teralihkan sepenuhnya ke hal lain.
"Anu,
Hoshimiya-san…… Boleh aku tahu dari mana asal-usul pemilihan nama pena yang
satu ini?"
Tanpa sadar, aku kembali memanggilnya dengan menggunakan
nama marganya akibat rasa terkejut yang luar biasa.
Hikari menjawab pertanyaanku dengan nada suara yang
terdengar sangat riang dan penuh suka cita.
'Ah, kalau soal itu, ya! Aku sempat berpikir kalau
menggunakan nama asli sepertinya agak kurang aman, kan? Nah, di saat aku sedang
bingung memikirkan nama apa yang kira-kira cocok untuk disisipkan ke dalam nama
penaku nanti, pilihan pertamaku tentu saja adalah mengambil karakter
"Natsu" dari nama milik Natsuki-kun!'
"B-Begitu ya…… Luar biasa sekali, Hoshimiya-san memang
tidak pernah gagal membuatku takjub."
Hahaha.
Untuk sementara waktu, aku memutuskan untuk merespons
ceritanya dengan tawa hambar saja terlebih dahulu.
'L-Lho, kok rasanya tanggapanmu malah terdengar asing dan
berjarak begitu, sih!? Padahal
aku sengaja memilih nama itu karena mengira Natsuki-kun pasti akan merasa
sangat senang saat mengetahuinya……'
Waduh, gawat.
Sepertinya aku baru saja melakukan kesalahan fatal.
Bahkan aku yang
biasanya santai pun dibuat terkejut setengah mati sampai refleks mengambil
jarak darinya.
"U-Uhh……"
Sejujurnya, sejak
awal aku menerima hadiah ulang tahun berupa novel pendek darinya sebelum kami
resmi pacaran, aku sudah menaruh sedikit kecurigaan, sih.
Hanya saja,
selama ini aku memilih untuk menutup mata dan pura-pura tidak tahu. Habisnya,
itu menyeramkan.
"……Kalau
kamu debut pakai nama pena ini, apa tidak bakal merepotkan nantinya?"
Aku sempat ragu
apakah harus menyuarakan isi kepalaku ini atau tidak. Namun, demi kebaikan
Hikari di masa depan, aku memantapkan hati dan memberanikan diri untuk
mengatakannya.
Belakangan ini,
entah kenapa aku merasa Hikari terus-menerus memproduksi sejarah kelam masa
muda (kurorekishi) dalam jumlah masif.
Sebagai senior
yang sudah lebih dulu kenyang makan asam garam di dunia sejarah kelam, aku
menilai situasi ini menuntutku untuk memberikan teguran keras kepadanya.
Jika dia terus
menambah koleksi sejarah kelamnya lebih banyak dari ini, di masa depan dia bisa
berakhir menderita akibat efek flashback memalukan yang membuatnya
berguling-guling histeris di atas kasur setiap kali mengingatnya.
Aku sama sekali
tidak mau Hikari berakhir mengenaskan sepertiku! Meskipun ada teori yang
mengatakan kalau situasinya sudah terlambat, sih.
'Kenapa
memangnya?'
Dari seberang
telepon, Hikari balik bertanya dengan nada suara yang terdengar heran dari
lubuk hatinya yang terdalam.
"Ya,
maksudku, siapa tahu kan…… di masa depan nanti ada kemungkinan kalau kita
berdua bisa putus atau semacamnya……"
Meskipun ini
adalah kalimat yang paling ingin kuhindari, aku terpaksa terus melanjutkan
penjelasannya demi memberikan pengertian.
Lagipula,
katakanlah hubungan kami berdua berjalan dengan sangat mulus tanpa kendala
sampai ke depannya, menyelipkan nama pacar sendiri ke dalam nama pena itu
bukankah jatuhnya sudah seperti tipe gadis yang kelewat obsesif? Tindakan itu
bisa berpotensi menjadi tato digital yang memalukan, lho.
'……Kita tidak
bakal putus, kok.'
Hikari menyahut
dengan nada suara yang terdengar tidak puas.
Merasakan
atmosfer di seberang sana mendadak berubah menjadi tidak bersahabat, aku pun
bergegas memberikan klarifikasi dengan panik.
"B-Bukan
begitu! Aku sendiri juga sama sekali tidak punya niat untuk putus denganmu,
kok! Tapi maksudku, ya tahu sendiri kan——"
'Aku dan
Natsuki-kun itu bakal terus bersama sampai mati, tahu! Kenapa sih kamu malah
bicara hal sensitif begitu!?'
Setelah kalimat
itu terlontar, Hikari langsung mengamuk hebat, sampai-sampai aku harus
menghabiskan waktu hampir satu jam penuh hanya untuk menenangkan suasana
hatinya kembali.
Pada titik ini,
tampaknya menghentikan laju kereta ekspres cinta bernama Hoshimiya Hikari sudah
menjadi suatu misi yang mustahil bagi kekuatan seorang manusia biasa sepertiku.
Maafkan aku ya,
Hikari di masa depan. Kamu pasti sedang merutuki nasibmu dan menderita di sana
akibat ulah dirimu yang sekarang……
*
Jam istirahat
makan siang keesokan harinya.
Aku
sedang berada di area kantin sekolah bersama dengan Tatsuya dan Reita.
Sementara
itu, Hikari dan jajaran siswi lainnya memilih untuk menghabiskan waktu
istirahat mereka dengan menyantap bekal di dalam ruang kelas.
"Hooahm……"
Karena
sesi telepon semalam bersama Hikari berlangsung hingga larut malam, hari ini
aku menderita sedikit gejala kurang tidur. Mengantuk sekali rasanya.
"Semalam
ada kejadian sesuatu, ya?"
Melihatku
yang terus menguap lebar sejak tadi, Tatsuya melayangkan pertanyaan.
Jika
ditanya apakah ada sesuatu yang terjadi, jawabannya adalah iya, ada banget.
Hanya
saja, aku agak ragu apakah topik sensitif ini boleh diceritakan kepada orang
lain atau tidak.
"……Tolong
jaga rahasia ini baik-baik, ya?"
Setelah
menimbang-nimbang selama beberapa saat, aku memutuskan kalau menceritakannya
kepada mereka berdua sepertinya masih tergolong aman. Aku pun mulai membeberkan
kronologi masalah yang menimpaku semalam.
"Ah,
begitu rupanya……"
Reita
mengangguk-angguk berkali-kali tanda memahami situasi.
"Gimana
ya bilangnya…… Intinya kamu juga punya porsi perjuangan yang berat ya,
Natsuki……"
Tatsuya menatapku dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh
rasa simpati yang mendalam.
Benar sekali! Realitasnya, aku ini sebenarnya juga sedang
berjuang mati-matian menghadapi tekanan hidup yang berat, tahu!
"Meskipun kalau dipikir-pikir kembali, sisi obsesifnya
yang seperti itu sebenarnya terlihat sangat imut, sih."
"Apa-apaan,
ujung-ujungnya malah pamer kemesraan. Kesimpulannya kalian berdua itu memang
pasangan serasi yang klop banget, sih. Rugi bandar aku repot-repot mendengarkan
keluhanmu."
Cuih. Tatsuya mendecih pelan seolah ingin
membuang ludah, lalu kembali fokus melahap menu nasi kari katsu miliknya dengan
rakus.
"Lagipula,
fakta bahwa Hoshimiya-san itu tipe gadis yang memiliki cinta terlalu berat dan
cenderung merepotkan kan sebenarnya sudah bisa terbaca dengan jelas hanya
dengan melihat gelagatnya sehari-hari."
Sembari
melontarkan kalimat menohok tersebut, Reita terus menyuap menu mangkuk nasi
ayam dan telur ke dalam mulutnya dengan cepat.
"A-Apakah
benar-benar sekelihatan itu?"
"Meskipun
ada juga teori yang mengatakan kalau kamulah aktor utama yang membuat gejalanya
bertambah semakin parah, Natsuki."
Begitu poin itu
disuarakan, aku langsung bungkam seketika tanpa bisa membalasnya. Sebab, aku
menyadari kalau tuduhan itu sepenuhnya akurat.
"Yah,
mengingat kamu adalah tipe pria yang berani menyatakan cinta secara blak-blakan
di tengah-tengah pertunjukan live festival budaya kemarin, kurasa posisi
kalian berdua sekarang sudah sama-sama seimbang, sih."
"Ugh……"
Karena bagian
sensitif dari masa laluku kembali disentuh, aku refleks mengeluarkan suara
erangan pelan karena malu.
"Sudah tidak
perlu didebat lagi. Kalian berdua adalah pasangan yang paling serasi di dunia
ini, tidak ada yang lebih klop dari kalian."
Reita mengedikkan
kedua bahunya dengan santai. Bersama dengan Tatsuya, mereka berdua kini tampak
sedang menyunggingkan senyuman jahil ke arahku.
"Tapi
biarpun begitu, penggunaan nama 'Natsumi Hikari' sebagai nama pena sih tetap
saja tidak masuk akal bagi grupku."
"Mmm……
Benar-benar di luar nalar, sih. Itu adalah jenis nama yang bakal membuat
orang langsung memasang wajah datar tanpa ekspresi begitu mendengarnya."
"Hei, aku
ingin memperingatkan kalian berdua sekali lagi ya…… Jangan pernah membahas
masalah nama ini langsung di depan orangnya, lho!"
"Kami tahu,
kok. Mana berani aku
mengangkat topik sensitif modelan begini di depannya. Cara penanganannya seram
banget, tahu."
"Kurasa
kamu masih harus bersyukur karena dia tidak memilih nama 'Haibara
Hikari'."
"Kudengar
alasan kenapa dia tidak memakai nama itu karena nama tersebut adalah opsi yang
sengaja disimpan untuk menjadi nama aslinya di masa depan nanti, jadi statusnya
tidak boleh dipakai sekarang."
"Pacarmu
itu…… bukannya sudah masuk kategori agak ekstrem, ya?"
"Levelnya sudah bukan lagi sekadar berat atau
merepotkan, sih."
"——Kalian sedang asyik membicarakan tentang apa,
nih?"
Sreg, sreg. Suara gesekan kursi dan peralatan makan
terdengar menggema dari arah belakang kami.
Tanpa disadari oleh kami bertiga, sosok Hikari, Uta, dan
Nanase ternyata sudah berdiri di dalam area kantin.
"Eh? Ah, tidak, ini…… kami cuma sedang berdiskusi
mengenai menu makanan kantin apa yang kira-kira punya cita rasa paling lezat di
sini, kok!"
Melihatku yang berusaha mengalihkan topik pembicaraan dengan
panik, Reita dan Tatsuya langsung mengangguk-angguk dengan gerakan yang sangat
cepat.
"B-Benar banget…… Kalau menurut pendapat pribadiku,
menu nasi kari katsu yang sedang kumakan sekarang ini adalah pilihan yang
terbaik di sini."
Ini adalah momen pertama kalinya bagiku melihat Reita bisa
sampai menunjukkan gestur panik yang luar biasa seperti itu. Hei, sadar bodoh!
Menu yang sedang kamu makan saat ini itu mangkuk nasi ayam dan telur, tahu!
Bukan kari katsu!
"Hahaha, lagipula kalau dipikir-pikir kembali, atmosfer
hari ini rasanya sudah seperti musim panas saja ya~"
Tatsuya,
tolong tenangkan dirimu! Sekarang ini realitasnya sedang berada di puncak musim
dingin! Jangan malah membawa-bawa kata 'musim panas' yang diambil dari nama
pena tadi, dong!
"Ahaha,
Tatsuya-kun bicara apa, sih? Kamu benar-benar tidak pernah gagal membuat orang
tertawa, ya."
Meskipun saat ini
keringat dingin sudah mengucur deras bagaikan air terjun di sekujur tubuh kami,
namun untungnya mereka bertiga tampaknya tidak mendengar isi percakapan kami
sebelumnya.
Setelah saling
bertukar pandangan mata dengan kedua temanku, aku diam-diam menghembuskan napas
lega di dalam hati.
"L-Lalu, ada
perlu apa kalian bertiga datang berkunjung ke area kantin?"
"Kami cuma
sedang berjalan-jalan santai saja kok setelah selesai makan siang. Lagipula
kalau mengecualikan Uta, kami berdua kan aslinya jarang sekali melakukan
aktivitas olahraga."
Tampaknya tujuan
mereka ke sini murni hanya sekadar mampir sembari berkeliling area gedung
sekolah.
"Selain itu,
Hoshimiya-san juga terus mengeluh kalau dia ingin bertemu dengan Haibara-kun,
jadi aku terpaksa mengantarkannya ke sini."
"T-Tunggu
dulu! Padahal posisi bangku kita saja saling bersebelahan, mana mungkin aku
sampai mengatakan hal memalukan seperti itu!?"
Hikari
mengayun-ayunkan kedua tangannya dengan panik di udara, berusaha menyangkal
kalimat godaan yang dilontarkan oleh Nanase.
"Fufu, itu cuma bercanda, kok."
Sembari terkekeh pelan, Nanase mengulurkan tangannya untuk
mengusap-usap puncak kepala Hikari yang tampak cemberut tidak puas.
"Tapi, tadi
kamu memang sempat mengeluh kalau atmosfer jam istirahat makan siang terasa
sepi karena jajaran anak laki-laki memilih pergi ke kantin, kan~?"
"T-Tunggu
sebentar, Uta-chan!"
Kini giliran Uta
yang ikut bergabung bersama Nanase untuk menggoda Hikari.
Interaksi di
antara mereka sebenarnya terlihat sangat hangat dan menyenangkan untuk
ditonton. Dengan catatan, jika posisinya aku bukan merupakan aktor utama yang
terlibat di dalamnya. Karena realitasnya akulah pihak yang menjadi bahan
pembicaraan, rasanya memalukan sekali.
"Omong-omong,
Natsu dan yang lainnya sudah menentukan pilihan untuk pembagian jurusan tahun
depan belum?"
Sembari mengambil
posisi duduk di sebelah Reita, Uta melayangkan sebuah pertanyaan kepada kami.
Memang
benar jika mengingat sekarang kalender sudah menunjukkan bulan Januari di tahun
yang baru. Artinya, ini sudah memasuki semester ketiga, masa di mana para murid
tingkat pertama harus segera menentukan pilihan untuk fokus jurusan mereka di
tingkat selanjutnya.
"Ah,
kalau dipikir-pikir kembali, lembar formulir pengisian angket pilihan jurusan
memang sudah dibagikan kemarin, ya."
Meskipun
batas akhir pengumpulan formulirnya masih terhitung cukup lama, kami memang
harus segera memantapkan pilihan sejak dini.
"Kalau
aku sendiri sudah memantapkan hati untuk mengambil rumpun IPA."
"Wah, Reita
memilih IPA, ya. Kalau aku rencananya mau mengambil jurusan IPS saja!"
Reita dan Uta
saling bertukar cerita mengenai pilihan mereka. Keputusan yang mereka ambil
ternyata sama persis dengan apa yang terjadi di kehidupan pertamaku dulu.
"Kalau aku……
jujur saja sampai sekarang masih bimbang harus memilih yang mana."
Tatsuya menggaruk kepalanya dengan ekspresi wajah yang
tampak beralih penuh kebingungan.
Pada garis waktu di kehidupan pertamaku dulu, Tatsuya
berakhir mengambil jurusan IPS. Alasan mendasar yang melatarbelakangi keputusan
tersebut adalah karena nilai-nilai akademisnya di bidang sains dan matematika
berada dalam kondisi yang hancur lebur.
Namun, kondisi Tatsuya yang sekarang sudah jauh berbeda.
Berkat kerja kerasnya, nilai-nilai akademisnya di seluruh mata pelajaran berada
dalam kondisi yang sangat seimbang dan memuaskan.
"Tapi dari informasi yang beredar di luar, jajaran
jurusan IPA katanya memiliki peluang kerja yang jauh lebih luas dan
menjanjikan, sih."
"Benar
banget, hal itu yang membuatku bimbang…… Kalau kamu sendiri bagaimana, Natsuki?"
"Aku…… kemungkinan besar akan mengambil jurusan IPA,
sih."
Meskipun aku menyuarakan jawaban tersebut, di dalam lubuk
hatiku yang terdalam sebenarnya muncul sebuah keraguan, apakah kembali
mengambil jalan hidup yang sama persis seperti di kehidupan pertamaku dulu
adalah sebuah keputusan yang tepat?
Namun, jika melihat potensi diri, bidang keahlianku jelas
berada di rumpun IPA, dan seluruh bekal pengalaman dari masa depan yang bisa
kumanfaatkan juga berfokus di bidang sains.
Mengambil jurusan IPA tidak diragukan lagi adalah opsi yang
paling aman dan rasional bagiku.
"Begitu, ya.
Ternyata Natsuki-kun memilih jurusan IPA……"
Hikari bergumam
dengan ekspresi wajah yang mendadak tampak sedikit diselimuti perasaan
kesepian.
"……Kalau
Hikari sendiri mengambil jurusan IPS?"
"Iya, benar.
Habisnya aku kan sangat payah jika sudah berurusan dengan mata pelajaran sains
dan matematika."
Hikari
menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaanku. Namun, keputusan yang
diambilnya kali ini ternyata melenceng dari apa yang terjadi di kehidupan
pertamaku.
Pada garis waktu
di masa lalu, fokus jurusan yang dipilih oleh Hikari adalah IPA. Aku yakin
tingkat kesulitan yang dihadapinya dalam mata pelajaran sains saat itu sama
payahnya dengan kondisinya yang sekarang, namun keputusan tersebut diambil
karena adanya intervensi dari keinginan ayahnya, Sei-san. Sebab, perusahaan
Star Flat yang nantinya akan dipimpin oleh Sei-san adalah sebuah perusahaan
yang bergerak di bidang manufaktur komponen mesin. Dengan kata lain, fondasi
dasarnya berada di lingkup IPA.
Namun, Hikari
yang sekarang sudah bertransformasi menjadi sosok yang lebih tegar. Dia kini
memiliki impian besar untuk menjadi seorang novelis, dan dia sudah berani
menyuarakan isi kepala serta keinginannya sendiri alih-alih hanya pasrah
menuruti segala kehendak orang tuanya. Kurasa hal itulah yang melatarbelakangi
alasannya memilih jurusan IPS kali ini.
"Kalau
situasinya seperti ini, artinya susunan kelas kita di tahun depan nanti bakal
terpisah-pisah, ya."
Uta
bergumam dengan nada suara yang lirih.
Setelah kalimat
itu terucap, atmosfer di sekitar kami seketika diselimuti oleh keheningan
selama beberapa saat.
Sistem pembagian
kelas di sekolah kami untuk tingkat kedua nanti diatur dengan ketentuan: kelas
1 sampai 3 dialokasikan untuk rumpun IPS, sedangkan kelas 4 sampai 6
diperuntukkan bagi rumpun IPA.
Meskipun rincian
pastinya akan disesuaikan kembali dengan jumlah kuota murid yang ada, namun
secara garis besar ketentuannya adalah seperti itu.
Artinya, kecil
kemungkinan bagi murid dari rumpun IPS dan IPA untuk bisa berada di dalam satu
ruang kelas yang sama.
"……Rasanya
bakal sepi sekali, ya."
Mendengar kalimat
tulus yang meluncur begitu saja dari lubuk hatiku yang terdalam ini, seluruh
temanku tampak mengangguk setuju.
Tentu saja,
meskipun susunan kelas kami terpisah di tahun depan, hal itu tidak akan merusak
ikatan pertemanan yang sudah terjalin di antara kami.
Namun, aku juga
sangat memahami bahwa ada beberapa momen emosional tertentu yang hanya bisa
tercipta dan dibagikan jika status kami berada di bawah naungan ruang kelas
yang sama sebagai teman sekelas.
"Sisa waktu
yang bisa kita habiskan bersama sebagai teman sekelas paling tinggal sekitar
dua setengah bulan lagi, ya."
"Tidak
terasa sebentar lagi masa-masa tingkat pertama kita bakal selesai. Waktu
berjalan cepat sekali, ya."
Setelah
menghabiskan seluruh porsi menu kari katsunya, Tatsuya mengusap sisa makanan di
area mulutnya menggunakan selembar tisu sambil berbicara.
"Ahaha!
Bukankah orang-orang sering bilang kalau momen-momen yang menyenangkan itu
jalannya selalu terasa secepat kilat!"
"Yah……
Meskipun untuk bisa melabeli masa-masa ini sebagai momen yang sepenuhnya
menyenangkan, ada banyak sekali rentetan drama yang sudah kita lalui bersama
selama ini, sih."
"……Benar juga, ya."
Memang tidak bisa dimungkiri, ada banyak sekali rentetan
peristiwa yang sudah kami lalui bersama sepanjang tahun ini.
Ada momen-momen di mana kami berhasil meraih kesuksesan, dan
ada juga fase di mana kami harus menelan pil pahit kegagalan.
Melalui semua itu, aku belajar memahami sebuah realitas
bahwa memilih suatu jalan hidup berarti kita harus siap untuk merelakan jalan
hidup yang lainnya.
Kami
sempat merasa bimbang, terpuruk, hingga menderita. Masa-masa yang kami lalui
bersama jelas bukan sebuah perjalanan yang hanya berisi tawa dan kesenangan
semata.
Namun,
jika dibandingkan dengan masa laluku yang suram dan kelabu di kehidupan pertama
dulu, kualitas hidup yang kujalani saat ini terasa jauh lebih bermakna dan
berwarna.
Fakta
bahwa Hikari kini berada di sisiku sebagai kekasih, ditambah dengan kehadiran
teman-teman luar biasa yang selalu sedia mendampingiku di sekitar.
Berkat
kontribusi dari kehadiran mereka semua, dunia di sekitarku kini tampak berkilau
indah layaknya warna-warni pelangi. Aku bisa mendeklarasikan dengan penuh
kebanggaan bahwa saat ini aku sedang menikmati masa muda terbaik dalam hidupku.
Oleh karena itu,
aku sama sekali tidak menyesali keputusan apa pun yang sudah kuambil selama
ini.
"Eh, iya.
Kalau Yui-Yui sendiri bagaimana?"
Berusaha
mencairkan atmosfer sekitar yang mendadak berubah menjadi melankolis (?), Uta
bergegas menarik kembali topik pembicaraan ke arah Nanase.
Berdasarkan
memoriku dari kehidupan pertama dulu, jurusan yang dipilih oleh Nanase adalah
IPA. Aku bisa mengingat informasi tersebut dengan sangat valid karena setelah
memasuki tingkat kedua, pemeringkatan nilai ujian harian dipisah berdasarkan
rumpun jurusan, dan posisi peringkat pertama di rumpun IPA selalu diamankan
oleh Nanase sepanjang waktu.
"Aku masih
belum memantapkannya secara penuh, sih…… Tapi kemungkinan besar aku akan
mengambil jurusan IPS."
"Eh……!?"
Karena aku
berasumsi dia pasti akan mengambil keputusan yang sama seperti di masa lalu,
jawaban yang keluar dari mulut Nanase barusan benar-benar sukses membuatku
terkejut setengah mati.
"Ada yang
salah, Natsuki-kun?"
Nanase
mengalihkan pandangannya ke arahku dengan ekspresi heran.
"Ah, tidak,
bukan apa-apa. Aku cuma sempat mengira kalau kamu pasti akan mengambil jurusan
IPA, sih."
Melihat ekspresi
kebingungan dari teman-teman yang kini tertuju ke arahku, aku pun bergegas
menyodorkan kalimat klarifikasi untuk meredakan situasi.
"Wah, kalau
begitu kita bisa berada di rumpun jurusan yang sama, Yui-Yui! Horeee!"
"Opsi itu
belum mutlak kok, karena saat ini aku juga masih bimbang. Lagipula sisa waktu
pengumpulannya juga masih sedikit longgar, kan."
Nanase
menghembuskan napas pelan dengan ekspresi wajah yang tampak bimbang.
Mendadak, memori
percakapan kami saat berada di perjalanan pulang tempo hari kembali terlintas
di dalam kepalaku.
'Ini semua
karena dirimu.'
……Apakah
tindak-tandukku selama ini secara tidak langsung telah berhasil mengubah arah
masa depan milik Nanase? Yah, meskipun status pilihannya saat ini masih belum
berada di tahap final, sih.
"Omong-omong…… kalau Miori atau Serika sendiri
bagaimana?"
"Ah, kalau
Miori-chan kemarin sempat bercerita kepadaku kalau dia berniat mengambil
jurusan IPA, kok."
Hikari yang
belakangan ini hubungannya menjadi semakin akrab dengan Miori menyodorkan
jawaban.
"Kalau Celie
kurasa sudah pasti mengambil jurusan IPS, sih? Habisnya dia kan sangat anti
dengan mata pelajaran sains."
Untuk
informasi mengenai Serika, kali ini Uta yang bertindak memberikan penjelasan.
Keputusan
yang diambil oleh dua orang tersebut ternyata masih berjalan selaras dengan apa
yang terjadi di kehidupan pertamaku dulu. Fakta tersebut setidaknya membuatku
bisa sedikit bernapas lega.
Namun di
sisi lain, Hikari, Nanase, dan Tatsuya terbukti menunjukkan potensi yang besar
untuk mengambil langkah yang berbeda dari garis waktu di masa lalu.
Tercatat
sudah sekitar sepuluh bulan berlalu sejak momen pertamaku melakukan time
leap ke masa ini. Rasanya
perubahan-perubahan nyata yang terjadi di sekitarku kini intensitasnya berjalan
semakin masif saja.
*
Saat jarum jam
menunjukkan waktu istirahat makan siang sudah berjalan melewati paruh waktu.
Kami semua
melangkah kaki bersama-sama untuk kembali menuju ke ruang kelas sembari asyik
mengobrol santai.
Namun begitu kami
menginjakkan kaki di depan pintu masuk kelas 1-2, atmosfer di dalam ruangan
terasa berisik dan tampak jauh lebih ramai daripada biasanya.
"Ada
kejadian sesuatu, ya?"
"Entahlah……
Kira-kira ada apa, ya?"
Begitu sosok kami
melangkah masuk, fokus perhatian dari seisi ruang kelas seketika langsung
tertuju penuh ke arah kami.
Namun untungnya,
aura yang terpancar dari tatapan mereka sama sekali tidak terasa mencekam atau
mengintimidasi seperti situasi saat insiden kekerasan Reita terjadi waktu itu.
"Oh,
akhirnya kalian kembali juga."
Hino menyapaku
dengan menggunakan nada suara kasual yang terkesan santai seperti biasanya. Dia
kemudian langsung mengulurkan tangannya untuk merangkul bahuku dengan akrab.
"Kami semua
tidak bisa mengambil keputusan final jika kamu tidak ada di sini,
Natsuki."
Gaya
interaksi anak populer jika sedang bergaul dengan temannya memang selalu
melibatkan kontak fisik yang kelewat dekat seperti ini, ya.
Padahal
bagi jajaran anak kuper sepertiku, batasan ruang privasi kami itu aslinya
sangat luas, tahu!
"Tolong jaga
sikap dan sopan santunmu sedikit, Hino."
"Kejam
banget, sih! Apa begini cara sikapmu dalam memperlakukan teman sekelas yang
sudah menghabiskan waktu berjuang bersama selama hampir satu tahun
penuh!?"
Hino merespons
kalimatku dengan menampilkan gestur tubuh yang sengaja dibuat kelewat
hiperbola.
Melihat interaksi
kami berdua, jajaran teman sekelas yang berada di sekitar kami pun langsung
meledak dalam tawa.
"Aku sengaja
bersikap begini karena kemarin semua orang baru saja mengajariku kalau level
penanganan seperti inilah yang paling pas untuk menghadapi tipe orang
sepertimu."
"Plot
perkembangan cerita macam apa ini!? Jadi maksudmu sekarang seisi kelas sudah
berbalik menjadi musuhku, begitu!?"
Meskipun Hino
terus memegangi kepalanya dengan ekspresi pasrah, namun gestur tersebut justru
menjadi bukti nyata betapa kehadirannya sangat diterima dan disayangi oleh
seisi kelas.
Tapi karena dia
pasti akan langsung besar kepala jika aku menyuarakan hal itu secara
blak-blakan, aku memilih untuk tetap menyimpannya di dalam hati saja.
Melalui dinamika
yang kami lalui sepanjang tahun ini, aku tahu betul kalau Hino aslinya adalah
sosok pria yang sangat baik.
Dan penilaian
tersebut tidak hanya berlaku untuk Hino seorang. Seluruh teman di kelas ini
juga memiliki kepribadian yang sama baiknya.
Belakangan ini,
intensitas kami berenam untuk terus berkumpul bersama memang intensitasnya
menjadi sedikit berkurang.
Namun perubahan
tersebut bukan didasari oleh adanya konflik atau keretakan hubungan dalam
kelompok kami, melainkan murni karena ruang lingkup pergaulan kami yang kini
sudah semakin meluas ke jajaran teman sekelas yang lainnya.
Mengingat durasi
kebersamaan kami sebagai teman sekelas sudah berjalan selama hampir satu tahun,
wajar rasanya jika hubungan pertemanan di kelas ini bisa terjalin dengan sangat
erat tanpa perlu lagi terkotak-kotak berdasarkan kelompok pergaulan tertentu.
Terutama setelah
kami semua berhasil melewati dan menyelesaikan konflik insiden Reita tempo
hari, aku merasa pilar solidaritas dan persatuan di kelas ini perkembangannya
berjalan menjadi jauh lebih kokoh.
Atmosfer
keakraban di kelas ini kurasa jauh lebih sehat jika dibandingkan dengan apa
yang terjadi di kehidupan pertamaku dulu.
Pada masa lalu,
susunan kelas kami selalu terbelah menjadi beberapa kelompok pergaulan yang
kaku, dan keberadaan diriku di sana hanyalah dianggap sebagai angin lalu yang
tidak dianggap.
Meskipun di awal
semester pertama aku sempat menjadi pusat perhatian seisi kelas, sih. Tentu
saja dalam konotasi yang negatif.
Bahkan saat ini
pun, begitu kami melangkah masuk ke dalam kelas, Uta dan yang lainnya langsung
bergerak lincah membaur ke dalam lingkaran obrolan jajaran anak perempuan yang
tampak ceria, sedangkan Tatsuya dan Reita memilih melangkah mendekati
Okajima-kun dari klub sepak bola dan Tachibana-kun dari klub basket untuk
membuka obrolan.
……Eh? Kalau
situasinya seperti ini, bukannya artinya satu-satunya orang yang tertinggal
sendirian dalam kesendirian di sini hanyalah aku seorang?
Di saat aku
sedang mematung meratapi kenyataan pahit yang menusuk hati ini, sosok Hino yang
masih merangkul bahuku setia berdiri di depanku.
"……Maafkan
aku ya, Hino. Kamu adalah sahabat terbaik yang paling berharga dalam hidupku.
Tolong terus bantu aku ke depannya, ya."
"E-Eh?
Apa-apaan, sih? Mengapa kamu mendadak melontarkan kalimat menggelikan seperti
itu, seram tahu."
Padahal aku baru
saja berniat untuk memperbaiki sikapku setelah menyadari betapa berharganya
kehadiran dirinya di sisiku, namun entah kenapa Hino justru langsung melangkah
mundur untuk mengambil jarak dariku dengan ekspresi ngeri.
Benar-benar
membingungkan. Padahal aku sudah memperlakukannya dengan sangat sopan sesuai
dengan keinginannya, lho.
"……Jadi,
sebenarnya apa topik yang sedang kalian diskusikan sejak tadi?"
Karena
aku menyadari sejak awal diriku sama sekali tidak mengetahui apa yang menjadi
inti pembahasan utamanya, aku pun memilih untuk menanyakannya langsung.
"Ah,
kalau soal masalah itu…… daripada aku yang menjelaskan, rasanya bakal lebih pas
kalau orangnya sendiri yang berbicara. Oi, Kanata!"
Hino berteriak memanggil nama Fujiwara yang saat itu sedang
asyik mengobrol bersama dengan Hikari dan yang lainnya.
"Padahal aku sudah berkali-kali memperingatkanmu untuk
tidak memanggil nama kecilku secara sembarangan di depan banyak orang,
lho……"
Fujiwara
melangkah mendekati posisi kami sembari terus melontarkan kalimat omelan kecil
ke arah Hino. Karakteristik tsundere-nya terlihat sangat imut.
"Ehem…… Ini
mengenai agenda festival musik sekolah nanti, katanya susunan untuk posisi
dirigen dan pemain pengiring piano harus segera ditentukan dalam waktu
dekat."
"Ah, benar juga. Ternyata sekarang sudah memasuki musim
pengerjaan untuk agenda itu, ya."
Sistem kegiatan di sekolah kami mengagendakan sebuah acara
perayaan kecil bernama festival musik yang diselenggarakan tepat pada awal
bulan Februari.
Meskipun fokus utamanya adalah kompetisi paduan suara antar
kelas, namun pihak sekolah juga menyediakan slot pertunjukan hiburan yang diisi
oleh jajaran klub musik sekolah sebagai acara selingan.
Klub musik ringan juga terhitung mendapatkan slot tampil di
sana, namun untuk tahun ini giliran performa akan diserahkan kepada jajaran
band yang lain.
Lagipula, jika mengingat struktur band kami yang melibatkan
kehadiran Yamano yang statusnya merupakan pihak luar sekolah, kami baru bisa
berpartisipasi dalam agenda resmi sekolah setelah anak itu resmi terdaftar
sebagai murid di sini tahun depan.
"Mulai
minggu depan nanti, alokasi jam pelajaran musik sepertinya akan mulai dialihkan
sepenuhnya untuk agenda latihan paduan suara kelas."
"Kalau
ketentuannya seperti itu, artinya penentuan penanggung jawabnya memang harus
segera diselesaikan secepat mungkin, ya."
Berdasarkan
memoriku dari kehidupan pertama dulu, sosok yang bergerak aktif memimpin seisi
kelas sembari terus meneriakkan kalimat, "Dengar dulu dong, jajaran
anak laki-laki~!!" dengan ekspresi kesal tidak lain adalah Fujiwara
sendiri.
Meskipun tugas
tersebut pasti akan sangat menguras energi, aku berharap dia bisa kembali
memberikan performa terbaiknya untuk memimpin kelas kali ini.
"Benar
sekali. Oleh karena itu, aku ingin meminta saran dan mendiskusikan masalah ini
bersamamu, Haibara-kun."
"……Kenapa
harus meminta saran dariku?"
Mendengar
pertanyaanku yang dilontarkan sembari mengernyitkan dahi, Fujiwara mengerjapkan
kedua belah matanya beberapa kali dengan ekspresi wajah yang tampak melongo
heran.
"Tentu saja
karena statusmu di kelas ini adalah sebagai sosok pemimpin bagi kami
semua."
"Sebuah
lelucon yang sangat menghibur."
Aku
hampir saja meledak dalam tawa karena mengira kalimatnya barusan hanyalah
sebuah candaan belaka, namun begitu aku mengalihkan pandangan, seisi kelas
ternyata sedang menatap ke arahku dengan ekspresi serius.
Atmosfer
yang terpancar dari ekspresi mereka seolah-olah menyiratkan pesan, 'Ya
ialah, memangnya siapa lagi kalau bukan kamu?'. Eh? Apakah keadaannya
benar-benar seperti itu?
"Aku
sama sekali tidak sedang bercanda, tahu."
"……Tuh
kan, intinya Kanata-ku yang imut ini juga menaruh harapan yang besar pada
kapasitas dirimu, lho. Bagaimana tanggapanmu, Wahai Tuan Pemimpin?"
Hino
kembali ikut nimbrung memeriahkan suasana sembari menyunggingkan senyuman jahil
yang sangat menyebalkan untuk dilihat.
Sosok
pemimpin kelas? Jujur saja, aku sama sekali tidak memiliki ketertarikan untuk
mengemban tanggung jawab sebesar itu.
Ya,
memang tidak bisa dimungkiri kalau di masa lalu aku sempat menaruh rasa kagum
yang besar pada jajaran anak populer yang selalu menjadi pusat perhatian di
kelas, sih.
Namun,
hal itu bukan berarti aku mau dengan sukarela mengajukan diri untuk memikul
tanggung jawab dari sebuah posisi yang melelahkan seperti ini.
"Alur
dramanya kok rasanya mirip sekali dengan insiden penunjukan panitia pelaksana
turnamen olahraga waktu itu, ya……"
Fujiwara
bergumam, "Ah, ternyata taktikku ketahuan, ya," sembari menjulurkan
lidahnya dengan ekspresi tanpa dosa.
"Jangan
melimpahkan urusan yang merepotkan kepadaku secara sepihak, dong."
"Tapi
realitasnya, seisi kelas baru bisa bekerja dengan solid dan kompak jika
Haibara-kun yang bertindak memegang kendali kepemimpinan, tahu."
"Eeeh……"
Apakah pada
akhirnya aku memang harus turun tangan langsung untuk mengawal jalannya diskusi
mengenai penentuan posisi ini?
Meskipun tanggung
jawab dari tugas ini terasa sangat melenceng dari kapasitas kepribadianku yang
sebenarnya hingga membuat bulu kudukku merinding, namun melihat Fujiwara yang
berdiri menanti jawabanku dengan penuh harap membuatku tidak memiliki pilihan lain
selain menyodorkan sebuah opini netral yang aman untuk meredakan situasi.
"……Aku
sendiri tidak begitu paham dengan urusan seperti ini, tapi bukankah langkah
awal yang paling ideal adalah memastikan terlebih dahulu apakah ada kandidat
yang tertarik untuk mendaftarkan diri secara sukarela?"
"Poin yang
bagus. Kalau memang pada akhirnya tidak ada satu pun orang yang tertarik untuk
mengajukan diri, aku tidak keberatan jika harus mengemban posisi sebagai
dirigen kelas, tapi masalahnya untuk posisi pemain pengiring——"
Tepat di saat
Fujiwara sedang mengutarakan kalimatnya, suara bel yang menandakan berakhirnya
jam istirahat makan siang menggema di seluruh penjuru gedung sekolah.
"Mari kita
lanjutkan kembali sisa pembicaraan ini nanti, ya."
Aku menganggukkan
kepala untuk merespons kalimat Fujiwara, lalu bergegas melangkah kaki untuk
kembali ke bangku milikku sendiri.
Posisi
dirigen dan pemain pengiring piano, ya. Berdasarkan arah pembicaraannya
barusan, kapasitas Fujiwara tampaknya sudah memadai untuk mengamankan posisi
sebagai dirigen kelas.
Sementara
untuk penanggung jawab posisi pemain pengiring piano…… bukankah menyerahkan
tugas tersebut kepada Nanase adalah opsi yang paling sempurna?
……Eh? Tunggu sebentar. Seingatku, sosok yang bertanggung
jawab memegang posisi sebagai pemain pengiring piano di kelas kami pada
kehidupan pertama dulu bukan Nanase, kan?
Berdasarkan memoriku, posisi tersebut diisi oleh seorang
siswi dengan kepribadian pendiam bernama Onozawa-san.
Pada masa lalu, karena aku sama sekali tidak mengetahui
informasi bahwa Nanase memiliki kemampuan bermain piano yang sangat hebat, aku
tidak pernah menaruh curiga sedikit pun pada keputusan tersebut.
Namun jika dipikirkan kembali sekarang, apa yang
melatarbelakangi alasan Nanase sampai memilih untuk tidak mengambil posisi
tersebut?
Apakah dia sengaja mengalah karena tahu Onozawa-san tertarik
untuk mengajukan diri?
*
Jam pulang sekolah.
Aku melangkah kaki menuju ke area mimbar kelas dengan
didampingi oleh Fujiwara di sisiku.
Karena seisi kelas sudah memahami bahwa agenda yang akan
dibahas kali ini berfokus pada persiapan festival musik sekolah, mereka semua
dengan sukarela menghentikan aktivitas mengemas barang maupun persiapan klub
mereka untuk mendengarkan kalimat kami.
"Tes, berhubung aku tahu banyak di antara kalian yang
sedang buru-buru karena ada jadwal kegiatan lain, aku akan menyampaikannya
secara singkat saja. Demi kelancaran agenda paduan suara kelas untuk festival
musik nanti, kita dituntut untuk segera menentukan penanggung jawab untuk
posisi dirigen dan pemain pengiring piano. Apakah ada di antara kalian yang
tertarik untuk mengajukan diri secara sukarela?"
Aku mengedarkan pandangan mataku ke seluruh penjuru ruangan,
namun sepertinya tidak ada satu pun murid yang menunjukkan ketertarikan untuk
mengangkat tangan mereka.
"Jika memang pada akhirnya tidak ada kandidat yang
berminat, aku pribadi tidak keberatan untuk mengambil tanggung jawab sebagai
dirigen kelas…… Tapi untuk posisi pemain pengiring piano, apa benar-benar tidak
ada yang bersedia?"
Melihat situasi yang sudah mulai kondusif, Fujiwara
melayangkan pertanyaan susulan untuk memancing respons seisi kelas. Namun, keheningan tetap melanda ruangan
tanpa ada satu pun jawaban yang menyahut.
Pandangan mata
Nanase tampak lurus menatap ke arah luar jendela sejak tadi, sedangkan
Onozawa-san memilih untuk terus menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Di sisi lain,
Hikari menatap lekat-lekat ke arah Nanase dengan ekspresi wajah yang dipenuhi
oleh rasa khawatir.
Atmosfer di dalam
ruang kelas seketika berubah menjadi canggung, menampilkan raut wajah bimbang
dari hampir seluruh murid di dalam ruangan.
"Bukannya
kami enggan untuk membantu, tapi kapasitas kemampuan kami memang tidak memadai
untuk bisa memainkan alat musik sesulit itu……"
"Maaf banget
ya, tapi kalau pembahasannya masih lama, aku bisa telat menghadiri jadwal
latihan klub sore ini."
Beberapa kalimat
bernada bimbang mulai terdengar bersahutan dari beberapa sudut ruangan.
Karena aku
menyadari situasi ini tidak akan membuahkan hasil jika terus dipaksakan, aku
memutuskan untuk menyudahi sesi diskusi sore ini.
"Baiklah,
intinya kami sudah paham kalau untuk saat ini tidak ada kandidat yang
mengajukan diri secara sukarela. Sisa evaluasinya akan kami diskusikan lebih
lanjut nanti. Sesi diskusi resmi kububarkan."
Mendengar kalimat
pembubaran tersebut, jajaran murid yang aktif di klub olahraga langsung
bergegas merapikan barang mereka dan melangkah keluar meninggalkan kelas dengan
terburu-buru. Maaf ya, karena sudah menyita waktu kalian yang berharga.
"Seperti
yang diharapkan dari Haibara-kun. Kemampuan diplomasimu luar biasa sekali,
jalannya diskusi pasti tidak akan bisa sekondusif ini jika aku yang memimpin
sendirian di depan."
Fujiwara
menyapaku dengan menampilkan seulas senyuman lebar yang ceria di wajahnya.
"Padahal
realitasnya kita sama sekali belum berhasil mencapai kesepakatan final mengenai
penentuan posisinya, lho……"
"Ya, memang
benar, sih. Tapi setidaknya jajaran anak laki-laki terbukti mau duduk tenang
dan mendengarkan seluruh kalimatmu dengan khidmat, kan?"
"Dan kamu
menganggap pencapaian itu murni terjadi karena kontribusi dari pengaruh
diriku?"
Fujiwara
menganggukkan kepalanya dengan yakin, namun aku sendiri sejujurnya tidak
merasakan adanya perubahan yang signifikan pada kapasitas diriku.
Apakah bobot
pengaruh yang kumiliki di kelas ini memang sudah tumbuh sebesar itu?
"Tapi kalau
situasinya mampet seperti ini, ke depannya kita harus bagaimana?"
Fujiwara
menyilangkan kedua belah tangannya di depan dada dengan ekspresi wajah yang
tampak buntu.
"Karena dari
awal tidak ada kandidat yang berminat mengajukan diri, pilihan terakhir yang
tersisa hanyalah mendatangi orang yang kompeten secara personal untuk meminta
bantuannya, kan?"
"Haibara-kun
sendiri tidak memiliki kemampuan untuk bermain piano?"
"Tentu saja
tidak bisa. Kalau aku punya keahlian di bidang itu, aku pasti sudah mengajukan
diri sejak awal."
"Sayang
sekali, padahal di dalam lubuk hatiku yang terdalam aku sempat menaruh harapan
siapa tahu Haibara-kun ternyata bisa melakukan segalanya."
Memangnya dia
menganggap kapasitas diriku ini sebagai sosok manusia super macam apa, sih?
Mengapa dia bisa berasumsi seolah aku memiliki kemampuan untuk menyelesaikan
segala hal?
"Eh, tapi
omong-omong…… kemarin aku sempat mendengar sedikit cerita dari Hoshimiya-san,
katanya Nanase-san itu sebenarnya memiliki kemampuan yang sangat hebat dalam
bermain piano, ya?"
Fujiwara melayangkan pertanyaan ke arahku dengan menggunakan
nada suara yang sangat lirih.
Sepertinya selama ini Nanase memang memilih untuk tidak
pernah membagikan kisah mengenai latar belakang keahlian pianonya kepada
jajaran teman sekelas.
Oleh karena itu, bahkan sosok Fujiwara yang memegang kendali
sebagai pemimpin bagi jajaran siswi di kelas pun tidak memiliki informasi yang
valid mengenai kebenaran berita tersebut.
"……Kurasa berita itu memang benar, sih."
Aku sempat dilanda kebimbangan apakah memberikan jawaban
pembenaran adalah opsi yang tepat atau tidak, namun pada akhirnya aku memilih
untuk menyodorkan sebuah kalimat jawaban yang menggantung.
"Kalau keadaannya seperti itu, bagaimana jika kita coba
mendatangi bangunnya langsung untuk meminta bantuan?"
Tepat di saat fokus perhatian kami sedang tertuju ke arah
sudut ruangan, sosok Nanase tampak sedang bersiap-siap untuk mengemas
barang-barangnya di atas meja.
Untuk satu momen singkat, pandangan mata kami sempat saling
bertemu, sebelum akhirnya dia bergegas membuang mukanya ke arah lain dengan
ekspresi wajah yang tampak canggung.
Ini adalah momen pertama kalinya bagiku melihat Nanase bisa
sampai menampilkan gestur canggung yang seperti itu.
Biasanya dia
selalu menyambut tatapan mataku dengan senyuman manis sembari melambaikan
tangan mungilnya dengan ceria.
Padahal ekspresi
yang seperti itulah yang paling kusukai dari dirinya. Sisi imut yang menjadi
alasan mendasar kenapa aku mengidolakan Nanase sebagai oshi-ku.
"A-Anu…… Nanase-san."
Sosok yang melangkah kaki mendekati meja Nanase untuk
membuka percakapan ternyata adalah Onozawa-san.
Berdasarkan pengamatanku, hubungan kedekatan di antara
mereka berdua seharusnya tidak berada di tingkat yang terlalu akrab.
Onozawa-san adalah tipe gadis dengan kepribadian yang sangat
pendiam, dan ruang lingkup interaksi hariannya biasanya terbatas pada beberapa
gelintir teman dekatnya saja.
Realitas tersebut terbukti dari ekspresi terkejut yang kini
terpancar jelas dari wajah Nanase saat menatap kehadiran Onozawa-san di
depannya.
"A-Ada perlu
apa, ya?"
"……Anu,
sebenarnya, aku sangat menyukai kualitas permainan piano milik
Nanase-san."
Nanase
mengerjapkan kedua belah matanya beberapa kali dengan ekspresi wajah yang
tampak sangat terkejut setelah mendengar kalimat tersebut.
"……Bagaimana
kamu bisa mengetahui informasi bahwa aku memiliki latar belakang sebagai
seorang pemain piano?"
"H-Habisnya
aku sendiri sebenarnya juga sempat mendalami dunia piano untuk beberapa waktu.
Meskipun tingkat kemampuanku jelas tidak ada apa-apa jika dibandingkan dengan
kehebatan milik Nanase-san, sih."
Onozawa-san
tampaknya memang tipe orang yang tidak begitu mahir dalam merangkai kalimat
saat berbicara dengan orang lain.
Meskipun begitu,
dia terlihat berjuang mati-matian untuk terus menyampaikan isi kepalanya dengan
tulus.
"Oleh karena
itu, aku menjadi penasaran saat melihat jalannya diskusi tadi. Mengapa
Nanase-san tidak mencoba untuk mengambil posisi sebagai pemain pengiring
kelas?"
"……Lalu jika
situasinya seperti itu, mengapa kamu sendiri memilih untuk tidak mengangkat
tanganmu untuk mengajukan diri?"
Alih-alih
menyodorkan jawaban untuk menjelaskan alasannya, Nanase justru memilih untuk
melayangkan sebuah pertanyaan balik ke arah Onozawa-san.
"Kalau aku……
statusnya sudah lama berhenti dan tidak pernah lagi menyentuh alat musik itu
sekarang. Jika hanya sebatas memainkan melodi pengiring sederhana, aku
mungkin masih bisa mengusahakannya, tapi mengingat kelas kita dikaruniai dengan
kehadiran sosok hebat seperti Nanase-san, aku merasa posisi tersebut akan jauh
lebih sempurna jika diserahkan kepadamu……"
Karena kalimat yang diutarakannya murni lahir dari lubuk
hatinya yang terdalam, Onozawa-san rela mengumpulkan seluruh keberanian yang
dimilikinya hanya demi bisa menyampaikan pemikiran tersebut secara langsung
kepada Nanase.
"……Terima kasih banyak, ya. Aku akan mempertimbangkan
usulanmu dengan baik."
Nanase menyunggingkan seulas senyuman manis yang begitu
hangat saat menyodorkan kalimat jawaban tersebut kepada Onozawa-san.
*
Setelah menyelesaikan urusan dan berpisah dengan Fujiwara di
area sekolah, aku melangkah kaki bersama dengan Nanase untuk berjalan
beriringan menuju ke tempat kerja paruh waktu kami.
Hari ini, Hikari harus menghadiri kegiatan klub sastra, jadi
perjalananku menuju tempat kerja paruh waktu hanya dihabiskan berdua saja
dengan Nanase.
Sebagai catatan, aku sudah mendapatkan izin resmi dari
Hikari untuk pulang bersama Nanase dalam kurun waktu berkala karena tuntutan
pekerjaan paruh waktu kami.
Lagipula, rasanya agak aneh jika kami yang bekerja di tempat
yang sama harus berangkat secara terpisah.
Sejujurnya, izin ini bisa keluar kemungkinan besar karena
pihak yang bersamaku adalah Nanase.
Jika posisinya
digantikan oleh Uta atau Miori, aku yakin lampu hijau tidak akan pernah
menyala. Namun, jika pelakunya adalah Serika, kurasa izinnya tetap akan keluar.
Yah, meskipun ini semua murni barisan spekulasi pribadiku saja, sih.
"……"
"……"
Hanya suara
ketukan langkah kaki dari dua orang yang terdengar saling bersahutan di
sepanjang jalan.
Intensitas bicara
Nanase hari ini terasa jauh lebih sedikit daripada biasanya.
Hal itu membuatku
menjadi ragu apakah aku boleh menanyakan perihal kejadian di ruang kelas tadi
atau tidak.
"……Raut
wajahmu itu seolah sedang menuntut penjelasan kenapa aku tidak mau mengajukan
diri sebagai pemain pengiring, ya."
Keheningan di
antara kami akhirnya pecah saat Nanase mendadak melontarkan kalimat gumaman
tersebut.
Tebakannya
sepenuhnya akurat, dia memang selalu bisa membaca dengan jelas hal apa yang
sedang mengusik isi kepalaku.
"Sejujurnya……
apakah karena kamu menganggap agenda pengiring piano di sekolah itu hanya
sebagai urusan yang merepotkan?"
Jika alasannya
karena itu, aku bisa sangat memahaminya. Mengingat dia adalah tipe orang yang
sudah terbiasa bermain musik di level yang sangat tinggi, adalah sebuah
keputusan yang rasional jika dia enggan membuang-buang waktu berharganya hanya
demi mengiringi agenda paduan suara kelas yang kualitasnya biasa saja.
"Alasannya
bukan karena hal itu, kok…… Aku hanya merasa kurang percaya diri saja."
"Kurang
percaya diri? Seorang Nanase?"
Aku
benar-benar tidak percaya kalimat seperti itu bisa meluncur dari mulut
seseorang yang memiliki kualitas permainan piano sejenius dirinya.
"Bukan
begitu, maksudku…… bukannya aku tidak percaya diri dengan kualitas kemampuanku
saat bermain musik…… Hanya saja, setidaknya aku harus memiliki sebuah keyakinan
yang pasti terlebih dahulu……"
"Keyakinan
yang pasti?"
Apa maksud dari
kalimatnya itu?
Saat aku mencoba
melayangkan pertanyaan susulan, Nanase justru kembali bungkam dengan ekspresi
wajah yang tampak beralih rumit.
"……Sama
seperti kalimat yang kusampaikan kepada Onozawa-san tadi, tolong berikan aku
sedikit waktu untuk memikirkannya terlebih dahulu, ya."
"……Apakah
kamu tidak berniat untuk membagikan alasan di baliknya kepadaku?"
"Untuk saat
ini, aku masih belum mau menceritakannya."
"……Baiklah,
aku paham."
Sebelum berpisah
tadi, aku dan Fujiwara sempat mengobrol sedikit dengan Onozawa-san.
Dari sana, kami
sudah mendapatkan kepastian bahwa Onozawa-san tidak keberatan untuk mengambil
alih tanggung jawab posisi tersebut jika pada akhirnya Nanase memilih untuk
menolak.
Artinya,
keputusan final sekarang sepenuhnya berada di tangan Nanase sendiri. Sisa
kelonggaran waktu yang kami miliki juga masih terhitung cukup aman.
"……"
"……"
Kami kembali
melanjutkan langkah kaki di dalam keheningan tanpa ada satu pun obrolan yang
tercipta.
Seiring dengan
posisi kami yang semakin berjalan mendekati area stasiun, intensitas pejalan
kaki yang berpapasan dengan kami mulai bertambah padat, membuat atmosfer di
sekitar kami bertransformasi menjadi semakin bising.
Nanase terbukti
menunjukkan gestur yang sangat defensif untuk menutup rapat informasi mengenai
urusan pribadinya.
Namun, mengingat
fakta bahwa urusan piano miliknya merupakan sebuah area sensitif yang bahkan
tidak bisa dimasuki oleh sahabat karibnya sendiri seperti Hikari, aku sadar
bukan kapasitas diriku untuk bertindak lancang mengusik bagian tersebut.
Meski begitu, di
dalam lubuk hatiku yang terdalam sebenarnya muncul sebuah perasaan mengganjal
yang aneh.
Berbeda dengan
Reita yang memang memiliki kepribadian super tertutup, Nanase aslinya bukan
tipe orang yang terlalu menutup diri dari lingkungan sekitar.
Dia terhitung
sering membagikan cerita mengenai dirinya kepadaku, dan bahkan kemarin dia
dengan sukarela membeberkan alasan mendasarnya kembali bermain piano tanpa
perlu kupancing terlebih dahulu.
"……Ah, kalau
tidak salah, tadi Haibara-kun sempat menceritakan kalau kamu berniat untuk
mengambil jurusan IPA, kan?"
Nanase mendadak
menyodorkan sebuah topik obrolan kasual yang aman untuk meredakan situasi. Dia
sengaja mengalihkan arah pembicaraan secara blak-blakan.
"Ya……
Habisnya bidang keahlianku memang berada di mata pelajaran sains dan
matematika, sih. Meskipun keputusan itu statusnya masih belum
final."
"Begitu, ya. Kondisiku sebenarnya juga kurang lebih
sama denganmu. Apakah pada akhirnya mengambil jurusan IPA adalah opsi yang
terbaik bagi grupku, ya……"
Mendengar kalimat yang meluncur dari bibirnya tersebut,
sebuah deja vu yang aneh mendadak menyergap benakku.
……Benar juga. Di kehidupan pertamaku dulu, aku sempat
terlibat dalam sebuah percakapan yang mirip seperti ini bersama dengan Nanase.
Bagi Nanase, momen itu mungkin hanyalah dianggap sebagai
satu cuplikan interaksi harian biasa yang tidak berarti.
Namun bagi diriku yang pada masa itu sangat jarang
mendapatkan kesempatan untuk mengobrol dengan orang lain, ingatan mengenai
momen tersebut terekam dengan sangat valid di dalam kepala.
Aku ingat betul, pada saat itu Nanase sempat mengucapkan
kalimat——
'Kondisiku juga sama denganmu. Meskipun aku sama sekali
tidak menyukai bidang tersebut.'
'Mengapa kamu tetap bersikeras mengambil jurusan IPA
padahal kamu sendiri tidak menyukainya?'
'Sebab bagiku, seluruh akses jalan untuk bisa hidup
bersama dengan hal yang kucintai…… saat ini jalurnya sudah sepenuhnya tertutup
rapat.'
——Ya, aku yakin betul kalau kalimat tragis itulah yang
diucapkannya saat itu.



Post a Comment