Prolog
Masa Depan Bersamamu
Malam di
Tokyo tetap ramai seperti biasa.
Dalam
keadaan sedikit mabuk, aku berjalan menyusuri trotoar yang ramai.
“Kenapa,
Natsuki?”
Miori
menatap wajahku dengan ekspresi bingung.
“Kamu
kelihatan melamun tadi.”
Miori
yang kini berusia dua puluh delapan tahun terlihat jauh lebih cantik daripada
saat SMA dulu.
Rambut
yang dulu diikat ponytail kini menjadi semi-long dengan ujung sedikit
bergelombang.
Kesan
polosnya sudah hilang. Lebih tepat disebut cantik daripada imut.
“Fufu,
jangan-jangan kamu terpesona melihatku?”
Cara dia menggoda
dengan bangga itu masih sama seperti dulu.
“Memang begitu.”
Pada saat seperti
ini, aku bisa menjawab tanpa malu-malu. Mungkin berkat pengalaman hidup.
Meski sebenarnya,
aku hampir tidak pernah berbicara dengan gadis lain selain Miori.
“Hah!? Tiba-tiba
bilang apa sih!?”
“Kamu sendiri
yang nanya duluan.”
“Aku
nggak nyangka kamu bakal mengiyakan!”
Wajah Miori
jelas-jelas memerah.
Ekspresi itu
terlihat sangat menggemaskan karena kontras dengan wajahnya yang sudah dewasa.
“Memang
boleh mengiyakan, kan? Kita kan sedang pacaran.”
Miori
memalingkan wajahnya yang merah sambil bergumam pelan.
“Itu sih…
memang benar, tapi…”
Dia suka
menyerang duluan, tapi lemah kalau diserang balik. Itu salah satu sifat Miori
yang baru aku ketahui belakangan.
“…Natsuki,
kamu memang nggak pernah punya pacar sebelumnya ya?”
Miori menatapku
dengan mata menyipit.
“Pertanyaan apa
itu? Kamu lagi mengejek aku yang nol pengalaman cinta ini?”
“…Karena
kamu masih virgin tapi bisa bilang hal-hal manis dengan santai. Sok
berpengalaman banget.”
“Bisa nggak sih
berhenti menutupi malu dengan nyakitin aku?”
Maaf ya sudah
virgin di usia dua puluh delapan!
…Kalau
dipikir-pikir, Miori sendiri bagaimana?
Miori
pernah bilang bahwa dia hanya pernah pacaran dengan Reita.
Dan hubungan itu
pun tidak bertahan lama. Mungkin Miori juga minim pengalaman. Tapi lebih baik
aku tidak bahas itu.
“Ke tempat kedua
yuk?”
Hari ini adalah
Jumat malam yang indah.
Kami baru saja
keluar dari izakaya setelah minum-minum seusai kerja.
Jam tanganku
menunjukkan pukul sepuluh malam. Masih ada waktu sekitar dua jam sebelum kereta
terakhir.
“Nggak deh, hari
ini cukup sampai sini saja.”
Miori
menggelengkan kepala setelah berpikir sebentar.
“Kalau
begitu, pulang saja ya.”
Sudah
tiga bulan sejak aku mulai pacaran dengan Miori.
Meski
begitu, kami hampir belum melakukan hal-hal yang biasa dilakukan pasangan.
Tempat
yang kami datangi berdua biasanya hanya izakaya. Tidak ada nuansa romantis sama sekali.
Kami berdua
memang sibuk, dan rumah kami juga agak jauh.
Untungnya kantor
kami dekat, jadi lebih mudah bertemu di malam hari kerja daripada akhir pekan.
Dan malam hari
kerja biasanya berakhir di izakaya. Soalnya kami sudah kehabisan tenaga untuk
bermain setelah kerja.
“…Kapan kita bisa
ketemu lagi ya?”
“Sabtu depan gimana? Ada film yang mau aku tonton.”
“Hmm. Jarang-jarang kamu mau ngajak hal yang kayak pasangan
gini.”
“…Nggak boleh?”
“…Bukan nggak boleh sih.”
Memang, karena
Miori adalah teman masa kecilku, kesadaran sebagai teman masih kuat.
Kalau mencoba
melakukan hal-hal romantis, dia langsung jadi malu.
Miori pasti
merasakan hal yang sama. Makanya di usia dua puluh delapan, kami masih saling
malu hanya untuk menggenggam tangan.
“Fufu, genggaman
kekasih.”
“Begini benar
nggak ya?”
“Ahaha, kamu
khawatir apa sih?”
Kami
berjalan menuju stasiun sambil bergandengan tangan.
Dalam
tiga bulan ini, kami sudah beberapa kali bergandengan.
Tapi aku
masih belum terbiasa. Hanya bergandengan saja sudah membuat jantungku berdegup
kencang.
“…Hangat ya.”
Musim dingin.
Miori berkata sambil mengembuskan napas putih.
Akhirnya kami
tiba di depan pintu masuk Stasiun Shinjuku. Aku naik JR, Miori naik kereta
bawah tanah.
Jadi, di sini
waktu berdua kami berakhir.
Kami baru
bisa bertemu lagi minggu depan. Hanya satu minggu, tapi aku sudah merasa kesepian.
“Ya sudah, sampai
ketemu…”
“…Ya.”
Aku melepaskan
tangan Miori dan membalikkan badan.
Saat hendak
menuju gate, lengan jasku ditarik.
Tidak perlu
bertanya siapa. Pasti Miori.
Begitu menoleh ke
belakang, Miori yang wajahnya sudah merah padam berkata.
“Anu… aku
sebenarnya… nggak mau pulang.”
Dia tidak mau ke
tempat kedua, tapi juga tidak mau pulang.
Hanya ada satu
kesimpulan dari sikap manja Miori ini.
“…Baiklah.”
Aku menggenggam
tangan Miori yang tadi mencengkeram lengan jasku.
“Oh iya, Miori.”
“…A-apa?”
“Love hotel… di mana ya?”
“Nuansanya
kurang banget nggak sih?”
Miori
mengerucutkan pipi sambil menabrak bahuku pelan.
“Sini.”
“Kamu tahu
tempatnya?”
“…Baru saja aku
cek tadi.”
Miori menjawab
dengan malu-malu.
Memang
saat di izakaya tadi, dia sempat sibuk dengan ponsel di akhir.
“Gadis
yang mengajak ke love hotel, rasanya aku sebagai cowok ini sangat menyedihkan.”
“Nggak
apa-apa kok. Aku memang nggak berharap kamu jadi tipe yang agresif.”
Kata-katanya
cukup menyakitkan.
Miori
melihat wajahku lalu tersenyum kecil.
“Aku yang akan
memimpinmu. Seperti dulu.”
Selama tiga bulan
ini, mungkin aku terlalu berhati-hati.
Keinginanku untuk
menjaga Miori justru membuat hubungan kami berkembang lambat.
“Tidak.
Tidak boleh seperti dulu. Kali
ini aku yang akan memimpinmu.”
“Eh…?”
“Kita harus
saling menopang. Kalau tidak, hubungan ini pasti tidak akan bertahan lama.”
Itu adalah
pelajaran yang kudapat dari kehidupanku selama ini.
Hubungan yang
hanya bergantung pada satu pihak tidak akan berhasil.
“Jadi meski nggak
punya pengalaman, aku juga akan berusaha keras.”
Begitu aku
katakan, Miori menunduk malu.
“…Anu, aku…
sebenarnya malu bilang ini sekarang, tapi…”
“Ada apa?”
“…Aku juga…
pertama kalinya…”
“Memang aku sudah
menduga.”
“Maksudnya apa!?
Kamu sendiri juga virgin!”
“Sttt! Suaramu
keras banget! Lihat, orang-orang pada melirik kita!”
Para pejalan kaki
memandang kami dengan mata hangat.
Meski kami
bertengkar dengan suara keras, tangan yang saling genggam itu tidak pernah
lepas.
“…Makanya… kalau begitu, aku ingin kamu yang memimpinku…”
“…Baiklah.”
Hanya itu yang
bisa kukatakan.
*
“Gimana?”
“Geli… dan malu.”
“Yang malu tolong
tahan ya.”
“Aku tahu, tapi…
jangan dilihat terus dong…”
Kami memilih
kamar yang agak mewah untuk ukuran kami.
Dengan gugup kami
saling mencium, menyentuh tubuh satu sama lain dengan kikuk, dan merasakan
kehangatan tubuh masing-masing.
Tubuh Miori yang
pertama kali kulihat begitu indah, anggun, dan cantik.
Jujur,
aku tidak terlalu… bergairah. Rasa tegang karena pengalaman pertama jauh lebih kuat.
Karena Miori
memintaku memimpin, aku ingin melakukannya dengan baik. Aku ingin dia merasa
senang.
“Aku suka kamu,
Natsuki.”
Setelah semuanya
selesai, Miori berkata demikian.
Meski tidak bisa
dibilang sempurna, aku dipenuhi rasa bahagia.
Akhirnya aku
mengerti arti dari “saling menguatkan cinta”.
Dalam pelukanku,
Miori menempelkan dahinya ke dadaku. Tangannya melingkar di punggungku.
“…Ya, aku juga
suka kamu, Miori.”
Sambil
mengelus rambutnya dengan lembut, aku terhanyut ke alam mimpi.
“Aku akan
membahagiakanmu.”
Aku bersumpah untuk selalu menjaga Motomiya Miori ini, selamanya.



Post a Comment