Chapter
4
Wanita Jahat yang Sesungguhnya
Akibat pembatalan pertunangan Rena, pengaruh Keluarga Hyacinth di dalam faksi Bangsawan telah merosot tajam.
Kemudian, yang perlahan bangkit menggantikan posisi Keluarga Hyacinth
adalah Keluarga Marquis Eryngium.
“Seperti dugaanku, akhirnya jadi begini.”
Di salah satu ruangan di kediaman Eryngium yang terletak di Ibukota
Kerajaan, Kepala Keluarga saat ini, Benoit Eryngium, mengerutkan
dahinya.
Arl secara resmi telah bertunangan dengan Thea.
Arl juga telah menerima putri Keluarga Muscat yang kelak akan memegang
kendali Kerajaan Teokrasi, ditambah lagi ia berhasil mendapatkan Sword Saint
dari Kerajaan Moroheiya.
Keluarga Clover saat ini benar-benar sedang membangun kekuatannya
sebagai seorang Margrave yang sesungguhnya.
Bagi Benoit, hal itu sendiri bukanlah masalah. Kekuatan Keluarga Clover
yang bertambah adalah keuntungan bagi Kerajaan Suci secara keseluruhan, dan
Benoit yang merupakan bangsawan Kerajaan Suci juga ikut diuntungkan.
Yang menjadi masalah adalah kedekatan Arl dengan Alphonse.
“Bisa dipastikan faksi Kerajaan akan memanfaatkan kedekatan Arl dengan
Yang Mulia untuk menarik Keluarga Clover ke pihak mereka.”
Keluarga Hyacinth telah jatuh, dan faksi Bangsawan sedang terdesak oleh faksi
Kerajaan. Jika Keluarga Clover bergabung dengan faksi Kerajaan, maka kekalahan
faksi Bangsawan sudah bisa dipastikan.
“Entah bagaimana, aku harus mencari cara...”
Untungnya, belum ada bangsawan yang memiliki hubungan dekat dengan
Keluarga Clover yang selama ini hanya menyandang julukan 'Margrave Hanya
sebatas Gelar'.
Mengingat hubungannya dengan Alphonse dan Valeria, sangat sulit untuk
menarik mereka masuk ke faksi Bangsawan. Namun, seharusnya bisa diusahakan agar
mereka tetap berada di posisi netral seperti sebelumnya.
Mengenai caranya, Benoit punya satu ide cemerlang.
“Ayah, ini aku.”
“Oh, masuklah.”
Benoit memberikan izin setelah mendengar ketukan dari pintu ruangan.
“Permisi.”
Wanita yang masuk adalah seorang gadis cantik bagai model dengan rambut
hijau limau panjang yang memukau, fitur wajah yang dewasa, serta lengan dan
kaki yang jenjang tanpa lemak berlebih.
“Maaf memanggilmu mendadak, Noelle.”
“Tidak apa-apa. Sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang putri untuk
datang saat ayah memanggilku.”
Seperti sapaannya, Noelle adalah putri tunggal Benoit.
Benoit telah meminta pelayan yang melaporkan pertunangan Arl dan Thea
untuk memanggil putrinya.
“Lalu Ayah, ada keperluan apa memanggilku?”
“Sebenarnya, aku ingin meminta bantuanmu untuk melakukan inspeksi ke
suatu wilayah.”
“Inspeksi...? Kalau boleh tahu, wilayah mana itu?”
“Wilayah Margrave Clover.”
Ekspresi Noelle seketika menjadi muram.
Melihat reaksi yang sudah bisa ditebak itu, Benoit tak kuasa menahan
senyum masam.
Mungkin karena Benoit terlalu memanjakannya, Noelle tumbuh menjadi gadis
yang lebih arogan dan terlalu percaya diri dibandingkan putri bangsawan pada
umumnya. Sikapnya yang sering merendahkan bangsawan dengan status lebih rendah
adalah salah satu buktinya.
Tentu saja Noelle mendambakan pasangan yang berstatus sama atau lebih
tinggi darinya. Namun... Akibat sifatnya itu, semua tawaran pertunangannya
selalu berujung pada kegagalan.
Meski begitu sifatnya tak kunjung berubah, dan di usianya yang sudah
menginjak dua puluh tahun ini, Noelle belum juga mendapatkan calon suami.
Akan tetapi, poin itulah yang menjadi kunci utama dari rencana Benoit.
“Jangan menolak dulu, Noelle. Ini adalah tugas yang hanya bisa dilakukan
olehmu!”
“Hanya bisa dilakukan olehku...?”
“Ya!”
Meskipun Benoit mengatakannya dengan nada yang sedikit berlebihan, itu
sama sekali bukan kebohongan.
Tujuan Benoit adalah mencegah Keluarga Clover bergabung dengan faksi
Kerajaan. Cara yang paling masuk akal adalah dengan mengatur pertunangan antara
Arl dan seseorang dari faksi Bangsawan.
Sebesar apa pun kedekatan Arl dengan keluarga kerajaan atau faksi
Kerajaan, jika ada anggota keluarganya yang berasal dari faksi Bangsawan, Arl tidak
akan bisa dengan mudah berpihak sepenuhnya pada faksi Kerajaan.
Dengan kata lain, jika Benoit bisa menjodohkan Arl dan Noelle, tujuannya
akan tercapai. Benoit juga yakin bahwa Noelle memiliki kriteria yang akan
membuat Arl mempertimbangkan pertunangan tersebut.
Di negara lain, Arl mungkin dikenal sebagai pria tangguh dan pemberani,
namun pandangan di dalam negerinya sendiri berbeda.
‘Seorang pria aneh yang menampung gadis bangsawan bermasalah yang
pertunangannya dibatalkan oleh Alphonse’.
Itulah reputasi Arl di Kerajaan Suci, dan karena Christa serta Thea juga
bisa dianggap sebagai gadis bermasalah tergantung dari sudut pandangnya,
beberapa bangsawan Kerajaan Suci mulai men-cap Arl sebagai pria yang memiliki
selera aneh terhadap gadis bangsawan bermasalah.
Benoit juga termasuk salah satu orang yang memiliki pandangan tersebut
terhadap Arl. Karena alasan itulah, Benoit yakin bahwa Noelle sangat cocok
dengan selera Arl.
Dalam artian itu, rencana ini hanya bisa dijalankan oleh Noelle.
Alasannya menggunakan kata ‘inspeksi’ adalah karena Benoit tahu betul
Noelle yang harga dirinya tinggi pasti akan menolak mentah-mentah jika disuruh
untuk melakukan pertemuan perjodohan biasa, jadi ini hanyalah dalih untuk
menyembunyikan tujuan aslinya.
Dalam benak Benoit, jika Noelle sudah berada di Wilayah Clover, Arl tidak
akan mungkin bisa mengabaikannya begitu saja.
“Bagaimana, Noelle!”
Benoit menatap putrinya dengan pandangan yang dipenuhi semangat membara.
Sebagai catatan tambahan, rencana ini bukan hanya demi masa depan faksi
Bangsawan, tapi juga menyangkut harga diri Keluarga Eryngium.
Sebagai keluarga Marquis, merupakan sebuah aib jika putri mereka yang
sudah cukup umur namun belum juga mendapatkan pasangan.
Maka dari itu, sebagai Kepala Keluarga, ia sangat berharap bisa menghilangkan
kemungkinan putrinya menjadi perawan tua melalui kesempatan ini.
“Kumohon, bisakah kau menerimanya...?”
Selain dengan semangat yang menggebu-gebu, Benoit juga memohon dengan
mengandalkan ikatan keluarga.
“J-Jika Ayah memintanya sampai seperti itu...”
“Oh, benarkah...! Seperti yang diharapkan dari putriku! Segera setelah
aku mengabari Keluarga Clover, aku serahkan sisanya padamu!”
“T-Tunggu sebentar, Ayah...”
Berbeda dari biasanya di mana Noelle akan menolak dengan berbagai
alasan, melihat ayahnya yang begitu putus asa, Noelle akhirnya menerima
inspeksi tersebut (yang sebenarnya adalah sebuah pertemuan perjodohan) dengan
perasaan sedikit enggan namun tidak menolak sepenuhnya.
※※※
Satu minggu setelah pertunanganku dengan Thea ditetapkan.
Untuk menghadiri upacara pertunangan Yang Mulia, aku dan Christa bersiap
untuk menaiki kereta kuda.
Dari semua orang yang berkumpul di depan gerbang utama kediaman, Alan
menjadi orang pertama yang melangkah maju.
“Arl, pengalamanmu di dunia sosial masih dangkal. Kali ini, jangan sekali-kali
mencoba menjauh dari sisi Christa.”
Sesuai perkataan Alan, pengalamanku di pergaulan kelas atas memang
sangat dangkal. Atau lebih tepatnya, hampir nol.
Sebaliknya, Christa memiliki banyak pengalaman di bidang ini, jadi
selama aku terus bersamanya, semuanya pasti akan baik-baik saja.
Setelah Alan, Lucy juga ikut memberikan pesan.
“Arl. Jangan sampai kamu melakukan tindakan yang tidak sopan di hadapan ayahanda
Christa.”
Bertemu dengan ayah Christa sama pentingnya dengan upacara pertunangan
Yang Mulia itu sendiri. Sesuai peringatan Lucy, aku harus sangat berhati-hati
agar tidak membuat kesalahan.
“Baik, Ayahanda, Ibunda.”
Seusai menerima pesan berharga dari kedua orang tuaku, kini giliran Rena
dan Thea yang melangkah maju.
“Arl. Tolong sampaikan salamku pada Yang Mulia. Dan juga,”
Rena memelukku dengan lembut.
“Berhati-hatilah di jalan.”
“Terima kasih.”
Setelah melepaskan pelukan itu secara perlahan seolah enggan berpisah,
kulihat Thea menatapku dengan wajah memerah namun menunjukkan ekspresi sangat
menginginkannya.
Padahal Thea sangat agresif mencoba menyusup ke kamarku, tapi di saat
seperti ini ia malah terlihat sangat malu-malu.
“Thea.”
“—Ghk!? Arl-dono...!”
“Uwa...!”
Saat aku perlahan merentangkan kedua tanganku, Thea langsung menerjang
dan memeluk dadaku dengan begitu erat sampai tulang-tulangku rasanya mau remuk.
“T-Tunggu, Thea. Ini sakit...”
“Arl-dono. Jika terjadi sesuatu padamu, aku akan segera berlari ke
sana.”
Yah, meski sakit, kata-katanya lumayan bisa diandalkan, jadi aku akan
menahan sedikit rasa sakitnya.
Setelah menahan pelukan erat Thea selama hampir satu menit, kami pun
naik ke kereta kuda dan memulai perjalanan menuju Ibukota Kerajaan.
※※※
Aku dan Christa tiba di Ibukota Kerajaan pada waktu menjelang siang
hari, tepat sehari sebelum upacara pertunangan dilangsungkan.
Setelah kami meletakkan barang-barang di kamar tamu yang telah disiapkan
di Istana Kerajaan, Yang Mulia dan Mary segera datang menemui kami.
Kata mereka, jadwal mereka akan sangat padat pada hari upacara dan di
hari kami pulang, sehingga mereka tidak akan sempat menemui kami di hari itu.
“Arl, Christa-jou. Selamat datang.”
“Lama tidak berjumpa, Yang Mulia. Saya sangat bersyukur melihat Anda
tampak sehat walafiat.”
Setelah aku dan Christa membungkuk memberi hormat, aku mengalihkan
pandanganku pada Mary yang berdiri di samping Yang Mulia.
Mary, yang kini bekerja di Istana Kerajaan setelah lulus dari Akademi,
juga terlihat sangat sehat.
“Mary juga, lama tidak bertemu.”
“Sudah lama tidak bertemu, Arl-san.”
“Nah, Mary, izinkan aku memperkenalkannya.”
Christa yang telah dipersilakan melangkah maju, sedikit mengangkat ujung
gaunnya untuk memberi salam pada Mary.
“Senang bertemu dengan Anda untuk pertama kalinya. Saya Christa Muscat.
Mohon bimbingannya.”
“Saya Mary Iris. Suatu kehormatan bisa berkenalan dengan Anda.”
Setelah bertukar salam dengan Christa, Mary kembali menatapku.
“Arl-san. Setelah itu, bagaimana kabar Rena-san?”
Ketika Yang Mulia mengumumkan pembatalan pertunangannya dengan Rena, Mary
merasa sangat terpukul. Sejak saat itu, ia pasti terus mengkhawatirkan keadaan Rena.
Menjawab tatapan gelisah Mary yang bergetar, aku menyunggingkan senyum
dan berkata,
“Dia sangat sehat. Mungkin saat ini dia sedang berlatih pedang bersama
Thea—sang Sword Saint.”
“P-Pedang...?”
Tentu saja hal itu mengejutkan bagi Mary yang hanya mengenal sosok Rena
semasa mereka di Akademi. Meskipun begitu, mengetahui bahwa Rena baik-baik saja
membuatnya menghela napas lega.
“Kalau begitu, Arl. Kami masih ada persiapan untuk upacara besok, jadi
kami harus permisi dulu. Mary.”
“Baik, Yang Mulia. Arl-san, setelah upacara ini selesai, saya dan Yang
Mulia berencana mengunjungi Wilayah Clover untuk melakukan inspeksi. Jadi saat
itu tiba, saya harap bisa bertemu dengan Rena-san juga.”
Setelah meninggalkan pesan tersebut, Yang Mulia dan Mary berjalan
perlahan meninggalkan ruangan.
“Arl-san. Tentang calon tunangan Yang Mulia itu...”
“Ya, kemungkinan besar adalah dia.”
Meski belum dikonfirmasi secara resmi, aku dan Christa sudah bisa
menebak arah hubungan mereka.
※※※
“Oh, jadi kamu yang bernama Arl...!”
Beberapa saat setelah Yang Mulia dan Mary pergi, seorang pria paruh baya
memasuki ruangan kami dan segera menghampiriku sambil tersenyum.
“Senang bertemu denganmu untuk pertama kalinya. Aku adalah ayah Christa,
Christoph. Mohon bantuannya.”
“Saya Arl Clover. Saya juga memohon bimbingan Anda.”
Sesuai perkenalannya, pria yang baru saja masuk ini adalah Christoph
Muscat, ayahanda Christa. Dengan postur tubuh sedang, rambut perak dan mata
hijau zaitun yang identik dengan putrinya, ia memiliki wajah yang terlihat awet
muda.
Malam ini, kami dijadwalkan untuk makan malam bersama. Lalu, begitu
acara makan malam dimulai, Christoph-san dengan antusias mulai bercerita.
“Pertama-tama, Arl-kun. Aku sungguh berterima kasih atas bantuanmu dalam
menangani Pangeran Bodoh itu.”
“Ah tidak, saya rasa yang saya lakukan—“
Tunggu, barusan dia bilang ‘Pangeran Bodoh'?
“Jangan merendah. Memang Pangeran Bodoh itu yang salah, tapi jika aku
berada di posisimu, aku tidak akan mampu melakukan hal senekat itu.”
Pendengaranku ternyata tidak salah.
Aku memang pernah dengar bahwa beliau sangat marah terkait insiden
Christa, dan sepertinya amarahnya benar-benar nyata.
“Iyahaha, aku benar-benar tidak bisa berhenti tertawa mendengar apa yang
kamu lakukan pada Pangeran Bodoh itu. Pftt, bahkan saat aku mengingatnya
sekarang pun...”
“T-Tunggu sebentar, Ayah...!”
Melihat ayahnya tertawa sendiri mengingat kejadian tersebut, Christa
menutupi wajahnya dengan kedua tangan karena malu.
Awalnya, kukira Christoph-san adalah sosok yang kaku dan sulit didekati,
tapi aku merasa lega karena ternyata beliau orang yang sangat ramah.
Setelah tawanya sedikit mereda, Christoph-san memancarkan senyum yang
lembut.
“Arl-kun, apakah hubunganmu dengan Christa berjalan lancar?”
“Ya, Christa sangat banyak membantu saya.”
“Oh, dalam hal apa saja?”
“Mulai dari mengurus pekerjaan administratif harian, hingga memberikan
saran-saran berharga terkait masalah Sword Saint, dia benar-benar sangat
membantu di berbagai aspek.”
“Begitu ya, syukurlah kalau dia bisa berguna.”
Christoph-san mengangguk puas, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Christa.
“Bagaimana denganmu, Christa? Apakah kau menikmati hidup di Wilayah
Clover?”
“Ya, kehidupan di sana sangatlah memuaskan. Baru-baru ini saya juga ikut
serta dalam Ekspedisi Penaklukan sebagai tim pendukung barisan belakang lho.”
“Oh, Ekspedisi Penaklukan monster di Hutan Agung perbatasan itu?”
Setelah itu, kami menghabiskan waktu makan malam dengan obrolan hangat
tentang keseharian di Wilayah Clover, kedatangan Thea, dan berbagai topik
menarik lainnya.
“Kalau begitu, sekali lagi aku ingin mengucapkan terima kasih, Arl-kun.
Berkat dirimu, bukan hanya Keluarga Muscat yang terselamatkan, tetapi juga
seluruh Kerajaan Teokrasi. Kini, yang tersisa hanyalah mencarikan pasangan yang
pas untuk Pangeran Bodoh itu, dan segalanya akan sempurna.”
“H-Hahaha...”
Aku tertawa getir mendengar komentar yang terdengar berlebihan itu...
tapi mungkin ada benarnya juga. Jika Bruno sampai naik takhta menjadi Raja, Kerajaan
Teokrasi Dorian benar-benar bisa hancur berantakan.
Pangeran itu sebodoh dan seburuk itu.
“Kalau begitu Arl-kun, tolong jaga Christa baik-baik, ya.”
“Baik, serahkan pada saya.”
“Christa, kau juga, jangan sampai menyusahkan Arl.”
“Tentu saja, Ayah.”
Setelah meninggalkan pesan singkat untuk kami berdua, Christoph-san pun
pamit dan meninggalkan ruangan.
※※※
Keesokan harinya, ketika kami melangkahkan kaki ke tempat upacara
pertunangan, sebuah ruangan yang hanya bisa dideskripsikan dengan kata “megah”
terbentang di hadapan kami.
“Jadi inikah yang namanya pergaulan kelas atas...”
Hidangan yang mewah, para putri bangsawan berbalut gaun yang gemerlap,
serta berbagai sapaan formalitas yang saling bersahutan di penjuru ruangan.
Di saat aku sedang menikmati suasana yang tidak biasa kurasakan ini, aku
menemukan sebuah wajah yang kukenal. Sepertinya dia juga menyadari
keberadaanku, karena ia mengangkat tangannya sedikit sambil tersenyum senang.
“Lama tidak berjumpa, Arl.”
“Lama tidak berjumpa juga, Ralph.”
Aku bereuni dengan temanku semasa di Akademi Bangsawan dan kami saling
berjabat tangan.
“Arl-san, siapakah orang ini?”
“Saya Ralph Kelp. Selama di Akademi, saya berteman baik dengan Arl.”
“Oh...perkenalkan, nama saya Christa Muscat.”
“Begitu rupanya, jadi Anda adalah...”
Tentu saja para bangsawan lain juga mengetahui insiden mengenai Bruno,
sehingga Ralph menatap Christa dengan raut wajah yang serius.
“Bisa tolong jangan menatap tunanganku terus-terusan seperti itu?”
“Ups, kau benar. Maafkan ketidaksopanan saya, Christa-jou.”
“Tidak, jangan dipikirkan. Arl-san, sepertinya sudah saatnya...”
“Hm, apanya yang...”
Begitu mengedarkan pandangan ke sekeliling, aku menyadari banyak pasang
mata dari para bangsawan lain sedang tertuju ke arah kami.
“Sekarang kau sedang menjadi pusat perhatian ya, Arl. Cukup sapa aku
sampai di sini saja, pergilah untuk menyapa tamu yang lain.”
“K-Kau benar...”
Setelah berpisah dengan Ralph, kami saling berbasa-basi dengan para
bangsawan yang silih berganti datang untuk memberi salam.
Kemudian, saat kerumunan bangsawan yang memberi salam mulai mereda,
seorang pria paruh baya menyapaku.
“Permisi. Apakah benar Anda adalah Arl Clover-dono?”
“Benar, saya Arl Clover. Anda sendiri siapa?”
“Saya bernama Benoit Eryngium. Bolehkah saya berbicara sebentar dengan
Anda?”
Eryngium... kalau tidak salah itu adalah keluarga Marquis dari Kerajaan
Suci, ‘kan?
“Ada keperluan apa?”
“Ada sesuatu yang ingin saya diskusikan. Rencananya kapan Anda akan
meninggalkan Ibukota Kerajaan?”
“Besok siang.”
“Kalau begitu, bolehkah saya meminta sedikit waktu Anda besok pagi?”
Aduh, Bagaimana ini. Kalau ada Christa, aku pasti bisa segera mengambil
keputusan, tapi sayangnya saat ini ia sedang tidak ada di sisiku karena pergi
ke kamar kecil.
Namun, pihak lawan adalah keluarga Marquis. Selama aku tidak punya
jadwal lain yang mendesak, aku tidak bisa menolaknya begitu saja.
“Baiklah. Kalau hanya sekitar satu jam.”
“Oh, saya sangat berterima kasih...”
Setelah ini, aku benar-benar dimarahi habis-habisan oleh Christa karena
membuat janji sembarangan.
Ngomong-ngomong, seperti yang sudah diduga, tunangan Yang Mulia adalah Mary.
Selama berbincang dengan Mary yang bekerja di Istana Kerajaan,
sepertinya Yang Mulia mulai menaruh hati padanya.
Tentu saja, karena status Mary, reaksi orang-orang di sekitar sangat
beragam. Namun, mungkin karena mereka belajar dari kasus Rena, sedikit sekali
yang secara terang-terangan menyuarakan ketidakpuasan.
Aku hanya bisa berharap mereka berdua akan hidup bahagia mulai sekarang.
※※※
Keesokan paginya, sesuai janji, Benoit Eryngium datang mengunjungi kamar
tamu kami.
“Arl-dono, Christa-jou. Saya berterima kasih karena Anda bersedia
meluangkan waktu untuk pertemuan ini.”
Begitu kami duduk berhadapan dibatasi sebuah meja, Benoit langsung
menundukkan kepalanya. Berdasarkan hierarki gelar kebangsawanan, posisinya jauh
lebih tinggi dari kami, namun ia tak disangka sangat merendah.
Sikapnya itu justru membuatnya semakin mencurigakan, tetapi sambil
berusaha bersikap tenang aku bertanya padanya.
“Jadi, Benoit-sama, apa yang ingin Anda diskusikan seperti yang Anda
katakan kemarin?”
“Ya. Ini mengenai putri tunggal saya.”
Aku dan Christa saling bertatapan.
Sebelumnya aku sudah mencoba menebak isi pembicaraan ini dengan Christa,
dan salah satu tebakan kami adalah tawaran perjodohan antara putrinya yang
bernama Noelle dan diriku.
Menurut Christa, Noelle ini memiliki masalah kepribadian dan masih belum
menikah di usianya yang sudah menginjak dua puluh tahun.
Dari cerita Ralph kemarin, sepertinya selain dikenal sebagai pria yang
pemberani, kini aku juga dirumorkan sebagai 'pria yang menyukai gadis bangsawan
bermasalah'.
Rena dan Christa yang pertunangannya dibatalkan oleh anggota keluarga
kerajaan, ditambah Thea yang memasuki Kerajaan Suci secara ilegal.
Walaupun ada alasan di balik itu semua, secara objektif mereka memang
bisa dibilang sebagai gadis bangsawan yang bermasalah. Mengingat aku menjadikan
mereka sebagai tunanganku, wajar saja jika orang-orang menganggapku punya
selera seperti itu.
Mungkin terdengar tidak sopan, tapi sepertinya Benoit berpikir “kalau
dengan Arl, Noelle pun pasti bisa diterima”, begitulah kira-kira.
Sambil berdoa dalam hati agar dugaanku salah, aku mendengarkan
kelanjutan ceritanya.
“Sebenarnya saya memiliki seorang putri bernama Noelle. Ini sedikit
memalukan, tapi Noelle kurang begitu paham tentang dunia luar. Untuk memperluas
wawasannya, saya ingin meminta bantuan Anda untuk memperlihatkan Wilayah Clover
padanya.”
Benoit menyebutnya sebagai ‘inspeksi untuk memperluas wawasan’, tapi
kemungkinan besar itu hanyalah alasan semata.
Karena aku sudah tahu latar belakang Noelle, aku bisa langsung
memahaminya. Benoit pasti berencana untuk memuluskan jalan pertunangan selama masa
tinggal Noelle di Wilayah Clover.
“Hanya kepada Arl-dono yang berhati luas inilah saya bisa meminta
tolong. Bagaimana?”
“Begitu ya...”
Sejujurnya aku sangat ingin menolaknya. Walaupun aku belum pernah
bertemu langsung dengannya, kurasa Noelle ini bukanlah Villainess (Akuyaku
Reijo), melainkan murni seorang wanita jahat (Akujo).
Antara Villainess dan wanita jahat itu memang terdengar mirip, tapi
menurutku keduanya berbeda.
Yang pertama adalah tipe yang mengambil tindakan ekstrem karena terlalu
memikirkan seseorang, sementara yang kedua adalah tipe egois yang hanya
memikirkan dirinya sendiri.
Tipe egois seperti ini, sekeras apa pun tekadnya, tidak akan pernah
memiliki sifat setia. Dengan kata lain, ia sama sekali tak punya potensi untuk
menjadi heroine idaman bagiku.
Lagipula, aku sudah memiliki tiga orang tunangan yang luar biasa. Jika
aku menambah lagi, itu benar-benar tindakan yang tidak setia pada mereka
bertiga—terutama kepada Rena.
Namun, lawanku adalah keluarga Marquis. Terlebih lagi, mereka dari faksi
Bangsawan. Jika aku menolak permintaan ini, ada kemungkinan seluruh faksi
Bangsawan akan memusuhi kami. Aku harus menghindari kemungkinan itu.
Christa sepertinya juga memiliki pemikiran yang sama. Tanpa
menggelengkan kepala tanda menolak, ia hanya diam menahan perasaan tak nyaman.
“Baiklah... saya akan menerimanya.”
“Oh, benarkah...!”
Benoit menunjukkan reaksi gembira yang berlebihan. Tapi, aku tidak bisa
menerimanya tanpa syarat apa pun.
“Benoit-sama. Saya memang menerimanya, tapi ada satu syarat.”
“Syarat... apakah itu?”
“Saya ingin masa tinggal Noelle-jou dibatasi paling lama hanya satu
bulan saja.”
“Satu bulan, ya... Baiklah. Waktu selama itu seharusnya cukup untuk
membuat putriku menjadi sedikit lebih baik.”
“Terima kasih.”
Setelah itu kami membicarakan soal jadwal keberangkatan. Karena Benoit
meminta agar lebih cepat lebih baik, akhirnya diputuskan bahwa Noelle akan ikut
pulang bersama kami hari ini juga.
Sepertinya Benoit sudah menyuruh putrinya bersiap-siap sejak awal karena
sudah menduga hasilnya akan begini.
“Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih karena Anda telah
mengabulkan permintaan yang tidak masuk akal ini. Sampai jumpa nanti.”
Setelah menunduk dengan sangat sopan, Benoit meninggalkan kamar tamu
kami.
“Berangkat hari ini juga, apakah benar-benar tidak apa-apa?”
“Ya.”
Memang ini akan merepotkan orang-orang di rumah, tapi ini yang terbaik.
Setelah upacara pertunangan Yang Mulia ini selesai, aku berencana untuk
segera mengadakan upacara pertunanganku dengan Rena. Aku tidak bisa membiarkan
masalah ini berlarut-larut dan membuat Rena menunggu lebih lama.
Karena itulah aku membatasi masa tinggalnya hanya satu bulan.
“Mari kita siapkan surat untuk Ayahanda dan yang lainnya.”
Jika dikirim menggunakan kuda cepat, surat itu pasti akan tiba dua atau
tiga hari sebelum kami sampai.
Selain menyuruh mereka bersiap menerima Noelle, kami pun mulai bersiap
untuk perjalanan pulang.
※※※
Sekembalinya dari Istana Kerajaan, Benoit memberitahu Noelle untuk
berangkat ke Wilayah Clover hari ini juga.
Karena sudah menyiapkan segalanya untuk kemungkinan tersebut, Noelle
sama sekali tidak terkejut mendengar instruksi itu. Tanpa menunda waktu, ia
segera keluar dari rumah bersama Benoit.
“Noelle. Aku mohon jangan sampai kau berbuat tidak sopan pada Keluarga
Clover.”
“Tentu saja. Aku mengerti.”
Selama perjalanan di dalam kereta kuda, Noelle mengangguk dengan penuh
percaya diri menjawab peringatan Benoit yang duduk di hadapannya.
Meskipun sifatnya bermasalah, Noelle memiliki segudang pengalaman
sebagai seorang putri Marquis. Kemampuannya dalam membaca niat lawan bicara
yang diasahnya di pergaulan dunia sosial sangatlah tajam.
Oleh karena itu, Noelle tahu bahwa 'inspeksi’ kali ini hanyalah alasan,
dan ia sangat memahami niat ayahnya yang ingin menjodohkannya dengan Arl.
Menyadari hal itu, Noelle berpikir.
(Arl Clover yang dirumorkan itu ya, aku jadi tidak sabar
ingin bertemu dengannya.)
Menurut penilaian Noelle, dibandingkan dengan para bangsawan yang pernah
menolak perjodohannya selama ini, Arl memiliki potensi besar untuk meraih
kesuksesan dan nama besar di masa depan.
Walaupun statusnya hanya bangsawan perbatasan, potensi keuntungannya
cukup untuk menutupi kekurangan tersebut. Gelarnya memang hanya Margrave,
tetapi potensinya sangat menjanjikan.
Noelle berpikir bahwa Arl adalah pasangan yang pantas untuknya. Akan
tetapi──
(Karena kami akan bertunangan, sudah jelas aku harus
menjadi istri sah. Menjadi selir sama sekali tidak bisa kuterima.)
Jika pertunangan ini langsung diresmikan begitu saja, status Noelle
hanya akan menjadi selir. Harga diri Noelle sama sekali tidak bisa menoleransi
hal itu.
Beruntungnya, Arl saat ini belum meresmikan pernikahan dengan siapa pun.
Artinya, posisi istri sah secara teknis masih kosong.
(Sekarang tinggal bagaimana cara meyakinkan orang-orang
di sekitarku.)
Mempertimbangkan latar belakang dari ketiga tunangan Arl, Noelle yakin
ini bukanlah masalah besar.
Rena telah dibuang oleh keluarga Marquis-nya, bahkan menyebutnya sebagai
bangsawan pun rasanya sulit.
Christa memang berasal dari keluarga Duke, tapi bagaimanapun juga dia hanya
bangsawan dari kerajaan lain.
Sementara Thea, meskipun dia Sword Saint, keluarganya hanya seorang
Baronet. Sangat tidak selevel.
Sebagai bangsawan dari negerinya sendiri yang lahir dari keluarga Marquis,
dirinyalah yang paling pantas menjadi istri sah Arl. Dengan fakta ini, pasti
tidak akan ada yang bisa membantahnya.
(Yah, selama aku menginap di sana, akan kuajari mereka
dengan baik siapa yang sesungguhnya paling pantas duduk di posisi istri sah.)
Saat Noelle sedang terbuai dalam kebahagiaan membayangkan masa depannya
sebagai istri sah, kereta kuda berhenti.
“Noelle, kita sudah sampai.”
“Baiklah, Ayah.”
Dengan kesadaran penuh bahwa Noelle sedang diperhatikan oleh orang-orang
di sekeliling, ia turun dari kereta kuda dengan sangat anggun.
Kemudian, Benoit yang sudah turun lebih dulu memperkenalkannya.
“Noelle, pria ini adalah Arl Clover-dono.”
“Senang bertemu dengan Anda untuk pertama kalinya. Saya Arl Clover.
Mohon bantuannya mulai dari sekarang.”
“E-Eh...”
“Noelle. Cepat perkenalkan dirimu.”
“—Ghk, s-salam kenal. S-Saya adalah Noelle Eryngium.”
“Bersikaplah yang lebih sopan. Maafkan kami, Arl-dono—“
Benoit menatap Noelle dengan pandangan khawatir akan apa yang akan
terjadi selanjutnya. Namun, dalam makna yang berbeda, Noelle pun mulai
merasakan kekhawatiran.
(Arl Clover, kenapa penampilannya sangat biasa-biasa
saja...!?)
Berbeda dengan para pria berwajah rupawan yang selama ini dijodohkan
dengannya, wajah Arl terlihat sangat biasa.
Fakta itu membuat nilai Arl di mata Noelle merosot tajam.
※※※
Satu minggu setelah kami berangkat dari Ibukota bersama Noelle.
Dari balik jendela kereta kuda, pemandangan Wilayah Clover mulai
terlihat. Wilayah pelosok yang sangat terpencil seperti biasanya.
“Noelle-jou, kita sudah memasuki Wilayah Clover.”
Saat aku memanggil Noelle yang duduk di depanku, ia melirik sejenak ke
luar jendela dan raut wajahnya seketika berubah muram secara terang-terangan.
Keluarga Eryngium adalah keluarga bangsawan yang tinggal di Ibukota
secara turun-temurun. Wajar saja jika reaksinya seperti itu.
Memang menyakitkan melihat Wilayah Clover diberi kesan buruk, namun jika
hal itu bisa membuatnya menyerah untuk bertunangan denganku, aku malah berharap
Noelle semakin membenci tempat ini.
Setelah terguncang-guncang di dalam kereta kuda selama tiga jam lagi,
kami pun tiba di kediaman.
Saat pintu utama dibuka, Alan dan Lucy, beserta beberapa pelayan
termasuk Bertrand, menyambut kedatangan kami.
Rena dan Thea pasti sengaja tidak ikut menyambut demi menghindari
kecanggungan dengan Noelle.
“Ayahanda, saya sudah pulang.”
“Hmm. Lalu Arl. Siapakah wanita di sebelahmu itu?”
“Ya. Beliau adalah Noelle Eryngium.”
Menyusul perkenalanku, Alan membungkuk memberi hormat pada Noelle.
“Senang bertemu dengan Anda untuk pertama kalinya, Noelle-jou. Saya
adalah Kepala Keluarga Clover saat ini, Alan Clover, dan di belakang saya ini
adalah istri saya, Lucy. Mohon bantuannya selama Anda berada di sini.”
“Terima kasih atas sambutan Anda. Kalau boleh tahu, sepertinya saya
tidak melihat tunangan Arl-san?”
Ditanya mengenai absennya Rena dan Thea, Alan membalas dengan senyuman.
Hanya saja, matanya sama sekali tidak tersenyum.
“Mereka saat ini sedang berlatih pedang.”
“Latihan pedang? Apakah hal semacam itu lebih penting daripada menyambut
kedatanganku?”
“Seperti yang mungkin sudah Noelle-jou ketahui, Hutan Perbatasan di sini
adalah habitat para monster, sehingga latihan pertahanan adalah prioritas utama
kami.”
“—Ghk, b-begitu rupanya...”
Mendengar jawaban Alan yang sangat lugas tanpa basa-basi, raut wajah
Noelle terlihat kaku.
Memang benar latihan pedang memiliki prioritas yang ttinggi Tetapi,
tidak sampai pada titik di mana hal itu lebih diutamakan daripada menyambut
kepulanganku.
Noelle pastinya juga cukup peka untuk menyadari sindiran tersebut. Rasanya
seolah ia baru saja ditegaskan bahwa ‘kami menerimamu di sini semata-mata hanya
karena statusmu sebagai putri Marquis’.
“Karena sesi perkenalan sudah selesai. Bertrand, tolong antar Noelle-jou
ke kamar tamu.”
“Segera laksanakan.”
Masih dengan wajah yang kaku, Noelle dibimbing oleh Bertrand menaiki
tangga.
Begitu sosok Noelle menghilang dari pandangan, Lucy yang sejak tadi
hanya diam mengamati situasi, melangkah mendekat.
“Arl.”
Hanya dari nada suaranya saat memanggil namaku, aku merasakan firasat
buruk. Lucy sudah pasti sedang marah besar.
“Y-Ya, ada apa, Ibunda...?”
“Tidak mungkin wanita seperti dia akan menjadi menantuku, ‘kan?”
“...”
Wajah Lucy datar tanpa ekspresi.
Namun, kata ‘TIDAK LULUS’ tergambar dengan sangat jelas di raut
wajahnya.
“Itu... saya akan berusaha sebaik mungkin.”
“Entah apa yang akan kamu usahakan, tapi aku menantikan hasilnya.”
“B-Baik.”
Setelah itu, Alan menepuk pundakku, tapi aku hanya sanggup membalasnya
dengan senyuman masam.
※※※
Sesampainya di kamar tamu, Noelle langsung naik ke atas kasur dan
meninju bantalnya sekuat tenaga dengan kedua tangannya.
“Wilayah macam apa ini...!”
Pada titik ini, Noelle sudah benar-benar muak dengan Wilayah Clover.
Pertama, hamparan dataran kosong sejauh mata memandang tanpa ada
bangunan apa pun. Ia memang tahu tempat ini wilayah pelosok, tapi ia tak
menyangka akan separah ini.
Kemungkinan besar tak ada satupun fasilitas hiburan yang layak di sini. Bagaimana
pun Noelle memikirkannya, ini adalah bukti kemalasan sang penguasa wilayah.
Kedua, jumlah pelayan yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan
ukuran kediamannya. Ukuran rumahnya memang hampir sama dengan kediaman Keluarga
Eryngium, namun jumlah pelayannya bahkan tak sampai setengah dari pelayan di
rumahnya.
Dengan kondisi seperti itu, Noelle jadi ragu apakah mereka bisa mengurus
keperluannya dengan baik. Dan yang paling membuatnya marah adalah sambutan
mereka yang sangat tidak ramah.
“Terutama penguasa wilayah itu. Berani-beraninya dia merendahkanku
seperti itu!”
Faktanya, dia memang sedang diremehkan, dan Noelle tidak sebodoh itu
untuk tidak menyadarinya. Meski begitu, Alan bagaimanapun juga adalah Kepala
Keluarga Clover saat ini.
Jika Noelle memancing kemarahannya, pertunangannya dengan Arl tidak akan
dapat terwujud. Pembalasan dendamnya pada Alan harus disimpan dulu sebagai
hiburan setelah resmi menjadi istri sah nanti.
Akan tetapi, jika ditanya apakah Noelle akan diam saja dan bersikap tenang,
jawabannya tentu tidak. Ia tidak memiliki kesabaran setinggi itu untuk memendam
kekesalannya atas penghinaan dari hari ini sampai menjadi istri sah.
“Sebagai pelampiasan kekesalanku, pertama-tama mari kita siksa para
tunangan itu. Sekaligus sebagai bentuk edukasi agar mereka tahu siapa yang
paling pantas duduk di posisi istri sah.”
Karena sudah diputuskan, sekarang tinggal menentukan urutannya.
Rena adalah mantan putri Marquis dari faksi Bangsawan. Mendekatinya
adalah tindakan yang pasti paling diantisipasi oleh Arl dan keluarganya saat
ini.
Sementara putri Duke, Christa, adalah lawan yang paling tangguh, bukan
orang yang bisa dilawan tanpa berbekal informasi apa pun.
Kalau begitu, target pertamanya hanya ada satu.
“Target pertamanya adalah Thea Mayqueen. Aku tidak peduli dia Sword
Saint atau apa, bagaimanapun dia hanya keturunan keluarga Baronet. Wanita tanpa
pendidikan tinggi seperti dia bukanlah tandinganku.”
Tawa melengking khas wanita jahat dari Noelle bergema di dalam kamar
tamu tersebut.
※※※
Satu minggu berlalu semenjak kedatangan Noelle di kediaman Clover.
“Thea. Apakah ada kejadian aneh hari ini?”
“Tidak. Tidak ada apa-apa.”
“Syukurlah.”
Semenjak kedatangan Noelle, setiap malam sebelum tidur aku rutin
mengunjungi kamar para tunanganku seperti ini.
Tujuannya adalah untuk memeriksa apakah Noelle melakukan sesuatu yang
mengganggu mereka. Dan, sejauh ini belum terjadi masalah apa pun.
Ketenangan ini justru terasa menakutkan bagiku, namun karena belum
terjadi apa-apa, saat ini aku hanya bisa terus menjaga kewaspadaan.
“Thea. Kalau ada apa-apa, segera beri tahu aku ya.”
“Aku mengerti. Kalau begitu, Arl-dono.”
Thea melebarkan kedua tangannya, memintaku untuk memeluknya.
Sejak aku berangkat untuk upacara pertunangan Yang Mulia tempo hari, Thea
sudah sama sekali tidak canggung lagi.
“Arl-dono?”
“Iya, iya.”
Untuk mengabulkan permintaan tunanganku, aku melingkarkan lenganku di
pinggang Thea dan membalas pelukannya dengan hangat.
“Kalau begitu, selamat tidur Thea.”
“Selamat tidur, Arl-dono.”
Setelah itu, aku juga mampir ke kamar Christa untuk memastikan hal yang
sama.
Sama seperti Thea, Christa juga bilang tidak ada kejadian aneh apa pun
hari ini.
Setelah memastikan kondisi mereka berdua aman, aku pun kembali ke
kamarku.
“Apakah mereka berdua baik-baik saja?”
Rena yang sedang duduk di atas kasur bertanya dengan nada khawatir.
Semenjak insiden Thea yang menyelinap ke tempat tidur malam itu, Rena
terus menemaniku tidur setiap malam.
Sebenarnya ada rencana untuk membuat sistem gilir menemani tidur antar
tunangan, namun karena Rena adalah target yang paling berisiko diincar oleh
Noelle, sistem gilir itu untuk sementara ditunda.
“Sejauh ini sepertinya mereka aman. Kalau kamu sendiri bagaimana, Rena?”
“Aku juga tidak mengalami kejadian aneh apa pun. Kuharap keadaan terus
damai seperti ini...”
“Kamu benar.”
Setelah saling membagi sedikit kecemasan, kami pun berbaring
berdampingan dan terlelap tidur.
Dan pada keesokan paginya.
“Arl-san, gawat...!”
Aku terbangun karena suara pintu yang dibuka dengan sangat kuat. Saat
aku melihat ke arah pintu, tampak Christa berdiri dengan raut wajah yang
terlihat panik.
“Christa, ada apa?”
“Thea-san menghilang.”
“Eh, Thea...?”
“Iya. Lalu, aku menemukan ini di kamarnya.”
Christa menyodorkan selembar kertas kecil sambil mengucapkan kata-kata
itu.
“—Ghk, ini...!?”
Setelah membaca isinya, aku kehilangan kata-kata.
『Aku akan kembali
ke rumah keluargaku.』
Hanya satu kalimat pendek itulah yang tertulis di surat peninggalan
tersebut.
“Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Thea...”
Padahal tadi malam dia bilang tidak ada kejadian apa-apa.
※※※
Ada dua tempat yang mungkin dimaksud dengan ‘rumah keluarga’ di dalam
surat peninggalan Thea.
Yang pertama, secara harfiah adalah kediaman Keluarga Mayqueen yang
berada di negara asalnya.
Sedangkan yang kedua, adalah salah satu desa pertanian yang terletak di
Wilayah Clover.
Sejak Thea bertunangan denganku, ayahnya memutuskan untuk mengembalikan
gelar kebangsawanannya kepada negara dan pindah ke Wilayah Clover. Sepertinya beliau
merasa kehidupan mereka akan jauh lebih baik jika tinggal di sini.
Karena masih harus mengurus berbagai prosedur terkait pengembalian gelar
dan lain-lain, kedua orang tuanya saat ini belum datang, tetapi ketiga adiknya sudah
lebih dulu pindah sebelum pertunangan diresmikan.
Dengan artian tempat itu kelak akan menjadi ‘rumah keluarga’-nya, tempat
itu bisa disebut sebagai rumah keluarganya yang lain.
“Arl-sama, sebenarnya apa yang terjadi... !?”
Karena lokasinya cukup dekat, aku mengunjungi rumah tempat tinggal
adik-adik Thea, dan langsung disambut oleh seorang gadis yang penampilannya
menyerupai versi lebih muda dari Thea.
Gadis itu adalah Mia, adik perempuan Thea. Kalau tidak salah
usianya enam belas tahun. Dia adalah anak tertua di rumah ini sekarang.
Melihat reaksi Mia, aku langsung tahu bahwa tebakanku benar. Jika itu
Thea, tidak aneh rasanya kalau dia mencoba menerobos perbatasan lagi, jadi aku
merasa lega untuk saat ini.
Setelah menjelaskan situasinya kepada Mia, aku masuk ke dalam dan
diantar ke kamar tempat Thea berada.
“Thea, ini aku. Boleh aku masuk?”
Karena tidak ada jawaban walau aku sudah mengetuk pintu, aku langsung
masuk ke dalam.
Thea tampak duduk menekuk lututnya di atas ranjang yang sederhana,
mengurung diri dalam kemurungan. Meskipun emosinya memang mudah meledak-ledak,
ini pertama kalinya aku melihatnya begitu terpuruk.
Aku perlahan duduk di sebelahnya.
“Thea.”
“Maafkan aku, Arl-dono.”
“Kamu tidak perlu meminta maaf. Lebih penting dari itu, apa yang
sebenarnya terjadi?”
“...”
'Apakah aku boleh menceritakannya?’
Thea menatapku dengan sorot mata yang menyiratkan kecemasan tersebut
sambil perlahan mengangkat wajahnya yang murung.
“Tidak apa-apa. Ceritakanlah padaku.”
“Baiklah...”
Thea sedikit menggeser posisinya lebih dekat padaku, lalu perlahan mulai
bercerita.
※※※
Tadi malam. Saat Thea sedang terbuai dalam kehangatan sisa pelukan Arl,
pintu kamarnya diketuk.
Thea mengira Arl melupakan sesuatu untuk disampaikan, lalu membuka
pintu, namun yang berdiri di sana ternyata adalah Noelle.
“Oh, Noelle-jou. Ada keperluan apa Anda datang selarut ini?”
“Ada yang ingin aku bicarakan sedikit. Bolehkah aku masuk ke kamarmu?”
“...Jika memang begitu.”
Setelah sempat ragu sejenak, Thea mengizinkan Noelle masuk ke kamarnya.
Tentu saja Thea tetap waspada terhadap Noelle, tetapi jika ia menolaknya
sekarang hanya akan membuat masalah ini terus berulang.
Kalau begitu, masalah yang merepotkan lebih baik diselesaikan
secepatnya.
“Jadi, Noelle-jou. Apa yang ingin Anda bicarakan?”
Saat Thea bertanya, seketika itu juga hawa di sekitar Noelle berubah.
“Kau, sampai kapan kau berniat menetap di rumah ini?”
“...Apa maksud perkataan Anda?”
“Sebagai orang yang lahir dari keluarga Baronet, sampai kapan kau akan
berdiam di kediaman Keluarga Clover, itulah yang kukatakan.”
“—Ghk, dengan kata lain, Noelle-dono menganggap saya tidak pantas
berada di rumah ini?”
Menanggapi pertanyaan Thea, Noelle melepaskan tawa meremehkan.
“Tentu saja... Atau lebih tepatnya, bukankah aku sudah memberitahumu
sejak awal?”
Mendengar ucapan Noelle, Thea mencoba mengingat kembali. Memang benar,
termasuk hari ini, Thea sudah beberapa kali mendengar ucapan merendahkan dari
Noelle terkait latar belakang keluarganya yang hanya seorang Baronet.
Akan tetapi, sejak Thea tinggal di negara asalnya pun, cemoohan semacam
itu adalah makanan sehari-hari baginya. Oleh karena itu, ia menganggapnya
sebagai hal sepele dan merasa tidak perlu melaporkannya kepada Arl, tapi
ternyata...
“Sepertinya kau akhirnya sadar. Benar-benar sesuai dengan gelar
Baronet-mu, otakmu sangat lamban.”
“—Ghk.”
Secara tersirat, Noelle menyuruhnya untuk segera angkat kaki dari
Keluarga Clover. Dan karena Thea tidak peka akan hal itu, Noelle sampai
repot-repot datang menyampaikannya secara langsung.
“Nah, aku akan mengawasimu di sini, jadi cepatlah bersiap-siap untuk
pergi.”
“Hal seperti itu—“
“Astaga, kau masih berkata begitu? Atau lebih tepatnya, jauh di dalam
lubuk hatimu kau juga menyadarinya, bukan?”
“Apa maksudmu—“
“Bahwa dirimu tidak pantas menjadi tunangannya... Bukan, tapi bahwa
dirimu jauh lebih rendah dibandingkan tunangannya yang lain.”
“—Ghk!?”
Selama menghabiskan waktu di Wilayah Clover, Thea sebenarnya sudah
menyadari hal tersebut. Senjata utama Thea adalah ilmu berpedang, namun Wilayah
Clover pada dasarnya sangat damai.
Selain untuk Ekspedisi Penaklukan monster setiap enam bulan sekali, bisa
dibilang keunggulannya itu hampir tidak ada gunanya.
Sebaliknya, kedua tunangan Arl yang lain sangatlah berbeda.
Mereka berdua memiliki kecerdasan dan tingkat pendidikan yang jauh
mengungguli Thea, dan mereka secara terus-menerus berkontribusi bagi Keluarga
Clover menggunakan kelebihan tersebut. Ditambah lagi, soal usianya...
“Sepertinya, kau menyadari betul akan hal itu ya.”
“...”
Merasa emosi yang selama ini terpendam di dalam hatinya berhasil
ditebak, ia mendadak dilanda rasa cemas.
(Apakah aku benar-benar pantas berada di sisi Arl-dono?)
Dan, Thea tidak bisa langsung menjawab ‘iya’ pada dirinya sendiri. Itu
artinya, ia belum bisa sepenuhnya mempercayai Arl.
Tepat saat ia menyadari fakta memalukan itu, Thea dikuasai oleh rasa
bersalah yang tak tertahankan.
“Setidaknya, aku harus meninggalkan pesan.”
Demikianlah Thea akhirnya melarikan diri dari kediaman tersebut.
※※※
Setelah mendengar apa yang sebenarnya terjadi tadi malam, dua bentuk
amarah langsung meluap di dalam diriku.
Yang pertama, tentu saja tertuju pada Noelle yang telah menjebak Thea. Dan
yang kedua, tertuju pada diriku sendiri karena tak mampu menyadari kecemasan
Thea.
Karena aku memiliki ingatan kehidupanku di masa lalu sebagai orang
Jepang, aku bukanlah penduduk murni dari dunia ini. Karena itu, ada bagian dari
diriku yang masih kurang memahami konflik batin khas para bangsawan.
Tetapi, hal itu sama sekali tak bisa dijadikan alasan.
“Maaf. Maaf karena aku tidak menyadarinya.”
“—Ghk, Arl—“
Aku memeluk Thea dengan sangat erat. Sama eratnya dengan pelukan yang
biasanya membuatku kesulitan bernapas.
Jika dipikir-pikir lagi, akhir-akhir ini Thea sering meminta pelukan
dariku mungkin karena secara tidak sadar ia memendam rasa cemas tersebut.
“Tidak apa-apa, Thea. Aku ingin kamu terus berada di sisiku.”
“—Ghk, ugh...”
Thea, yang selama ini selalu menunjukkan senyuman di hadapanku apa pun
yang terjadi, untuk pertama kalinya menitikkan air mata.
Kecemasan itu pasti sangat membebaninya.
Aku terus mengusap punggung Thea selama hampir satu jam sampai
tangisannya mereda.
Mempertimbangkan keberadaan Noelle, aku memutuskan agar Thea tinggal
sementara bersama Mia dan adik-adiknya sampai masalah ini terselesaikan.
“Kalau begitu, Thea. Aku akan datang menjemputmu nanti.”
“Aku mengerti. Terakhir, bolehkah aku...”
“Aku tahu kok.”
Aku mengambil inisiatif untuk menarik dan memeluk Thea dengan erat.
Mengingat kami tidak bisa bertemu untuk sementara waktu, aku memeluknya
dalam-dalam supaya Thea tidak merasa cemas lagi.
“Terima kasih, Arl-dono. Aku sudah tidak apa-apa.”
Setelah Thea memamerkan senyuman lembut, aku pun merasa lega dan segera
menempuh perjalanan pulang.
Sesampainya di rumah nanti, aku harus berbicara dengan kedua tunanganku
yang lain. Bisa jadi mereka berdua juga memendam rasa cemas yang sama seperti
Thea.
Terutama Rena, yang telah kehilangan statusnya sebagai putri Marquis.
※※※
Pada saat Arl sedang keluar mencari Thea.
(Akhirnya, aku berhasil menyingkirkan satu
pengganggu...!)
Sambil berbaring telentang di atas tempat tidur, Noelle bersorak
kegirangan atas kepergian Thea dari kediaman tersebut.
Ini adalah pertama kalinya Noelle merasa begitu gembira semenjak
menginjakkan kaki di Wilayah Clover.
(Nah, sekarang tinggal dua orang lagi yang harus
kusingkirkan...)
Christa adalah lawan yang tangguh, dan sampai saat ini ia masih belum
menunjukkan kelemahan apa pun. Di sisi lain, Rena dijaga ketat oleh kewaspadaan
Arl dan yang lainnya, sehingga menyulitkan pergerakannya.
(Kalau bisa aku ingin menyingkirkan Christa Muscat paling
akhir, tapi...)
Waktu yang tersisa hanya tinggal tiga minggu lagi. Langkah apa yang
harus aku ambil selanjutnya?
Tepat saat Noelle sedang memikirkannya, pintu kamarnya diketuk.
“Siapa di luar?”
“Saya Rena.”
“—Ghk!?”
Mendapati kunjungan dari orang yang sama sekali tidak disangka-sangka,
Noelle sontak bangkit dari tempat tidurnya.
(Sepertinya keberuntungan akhirnya berpihak padaku...!)
Rena sama sekali tidak pernah mendekatinya atas inisiatif sendiri. Oleh
karena itu, kedatangan Rena di saat Noelle sedang memikirkan cara untuk
menjebaknya adalah sebuah kesempatan emas.
Noelle pun segera membukakan pintu kamarnya.
“Wah, Rena-san. Ada keperluan apa sampai datang kemari?”
“Ada hal yang ingin saya bicarakan dengan Noelle-jou, apakah Anda punya
waktu?”
Walaupun nada bicaranya terdengar sopan, namun ekspresinya terlihat
sangat kaku. Sudah jelas bahwa kondisi mental Rena saat ini berbeda dari
biasanya.
(Menilai dari sikapnya, kemungkinan besar yang ingin ia
bicarakan adalah soal wanita dari keluarga Baronet itu.)
Sebuah kesempatan untuk berbicara berdua saja dengan Rena. Terlebih
lagi, bukan dalam keadaan tenang, melainkan dalam kondisi pikiran yang tengah
dikuasai oleh emosi kemarahan. Ini adalah peluang sempurna untuk menjatuhkan Rena.
Setelah mengatakan tidak keberatan, Noelle mempersilakan Rena masuk.
Kemudian, dalam posisi sama-sama berdiri saling berhadapan, Noelle pun
bertanya.
“Jadi, apa yang ingin Anda bicarakan?”
“Tentu saja mengenai Thea-san.”
“Ara, memangnya apa yang terjadi dengan Thea-san?”
“—Ghk.”
Melihat Noelle yang secara terang-terangan berpura-pura bodoh, raut
wajah Rena langsung menggelap.
(Hanya dengan provokasi murahan seperti ini dia sudah
memberikan reaksi seperti itu. Sepertinya dia jauh lebih marah dari yang
kuduga.)
Jika demikian, ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk
menyudutkannya.
“Ngomong-ngomong, aku memang belum melihatnya hari ini—Ah, benar
juga...! Aku ingat, aku sempat memberinya sebuah nasihat yang sangat bagus.”
“Nasihat yang bagus...?”
“Ya. Dan itu benar-benar demi kebaikan Keluarga Clover.”
“Demi Keluarga Clover? Sebenarnya apa yang—“
“Hanya hal yang sangat masuk akal kok. Aku bilang bahwa tempat ini tidak
pantas dihuni oleh orang yang berlatar belakang Baronet.”
“—Ghk, Kamu... !?”
Rena melangkah maju selangkah mendekati Noelle. Akan tetapi, respons ini
masih belum cukup bagi Noelle.
“Kalau bicara soal tidak tahu diri, sejak awal keberadaanmu di sini pun
sudah sangat tidak masuk akal!”
“I-Itu...”
“Oh, aku yakin Arl-san pasti juga memikirkan hal yang sama di dalam
hatinya.”
“Hal semacam itu sama sekali tidak mungkin!”
“Ara, kau sangat memercayainya ya.”
Wajar saja, di antara para tunangan, yang paling lama menghabiskan waktu
bersama Arl adalah Rena.
Berbeda dengan Thea, hanya dengan kata-kata seperti itu saja tidak akan
cukup untuk menghancurkan pertahanannya.
(Tapi, aku jamin dia pasti takkan bisa menahan yang satu
ini.)
Menyunggingkan senyuman paling culas di dalam hatinya hari ini, Noelle
kembali melanjutkan.
“Jika kau begitu yakin, sepertinya Arl-san juga butuh sedikit dididik.”
“—Dididik?”
“Ya. Sepertinya kehidupan di daerah perbatasan yang serba kekurangan ini
telah membuat kesadaran Arl-san sebagai seorang bangsawan merosot tajam. Jadi,
sebagai istri sah nanti, aku harus mengajarinya banyak hal dengan tegas,
bukan?”
“Barusan, kamu mengatakan apa?”
“Astaga, kau tidak dengar ya?”
“Coba katakan sekali lagi...!”
Seakan tidak sanggup lagi membendung amarahnya, Rena mencengkeram kerah
baju Noelle.
“Wah, wah, aku tidak menyangka kalau tunangannya ternyata wanita yang begitu
barbar. Sudah kuduga Arl-san memang perlu memperbaiki matanya dalam memilih
wanita.”
Meski wajahnya berkerut menahan amarah, setitik air mata menggenang di
pelupuk mata Rena.
Mungkin itu adalah campuran antara amarah karena pria yang dicintainya
dihina, dan rasa frustrasi karena menganggap semua ini terjadi akibat
kesalahannya.
(Semuanya berjalan sangat lancar...!)
Kini tinggal menunggu emosi Rena meledak tidak terkendali hingga ia
melukai tubuh Noelle walau hanya sebatas goresan, maka rencananya akan
sempurna.
“Ayo, luapkan saja semua amarahmu”, provokasi Noelle dari dalam
hatinya.
Tepat pada saat itu, pintu kamar dibuka dengan keras.
“Rena...?”
“—Ghk, Arl...”
Mungkin karena bentakan Rena terdengar sampai ke luar, Arl yang baru
saja memasuki ruangan menatap situasi tersebut dengan mata terbelalak.
(Ah. Hari ini aku benar-benar sangat beruntung...!)
Semangat Noelle pun memuncak ke titik tertingginya.
※※※
Sekembalinya ke kediaman, aku langsung bergegas mencari Rena untuk
memberitahukan bahwa Thea baik-baik saja.
Mengingat biasanya Rena sedang belajar di kamarnya pada jam-jam segini,
aku pun naik ke lantai tempat kamar pribadi kami berada.
Tiba-tiba, aku mendengar suara keras seperti sesuatu yang dibanting dari
salah satu ruangan. Dilihat dari arahnya, suara itu berasal dari kamar tamu
Noelle.
Firasat buruk langsung menyergapku, dan aku pun segera membuka pintu
kamar Noelle.
“Coba katakan sekali lagi...!”
Begitu pintu terbuka, kulihat Rena sedang mencengkeram kasar Noelle.
“Rena...?”
“—Ghk, Arl...”
Di hadapan pemandangan yang sulit kupercaya ini, otakku langsung
berhenti bekerja.
Sebenarnya, apa yang sedang terjadi...?
“Arl-dono. Tolong saya!”
Di saat aku belum mampu memproses situasi tersebut, Noelle berlindung ke
belakang punggungku.
“Rena-san tiba-tiba datang ke kamar saya dan langsung berbuat hal kasar
seperti itu...!”
Mendengar ucapan Noelle, aku refleks menatap Rena.
“Arl, aku—“
Dengan sorot mata bergetar, Rena melirikku sejenak sebelum akhirnya
berlari meninggalkan ruangan.
“T-Tunggu, Rena...!”
Aku bermaksud mengejarnya, namun seseorang menarik bajuku dari belakang.
“—Ghk, Noelle-jou...!”
“Maafkan saya. Kaki saya tiba-tiba terasa lemas...”
Aku menoleh dan mendapati kedua kaki Noelle yang sedang mencengkeram
bajuku memang gemetar.
“—Ghk.”
Sebagai tuan rumah, aku tidak mungkin meninggalkan Noelle yang berstatus
sebagai tamu dalam kondisi seperti ini.
Menekan paksa keinginanku untuk mengejar Rena, aku menggendong Noelle
dan membaringkannya ke tempat tidur.
“Terima kasih banyak, Arl-san.”
“Sama-sama. Kalau begitu permisi.”
Setelah keluar dari kamar, aku segera mencari Rena. Akan tetapi, aku tak
berhasil menemukannya di mana pun.
※※※
Di dalam ruang kerja pribadi yang disediakan khusus untuknya, terpisah
dari kamarnya, Christa sedang memegangi kepalanya yang pening.
(Kalau akhirnya begini, seharusnya dulu aku menolak
kedatangan Noelle-jou meski harus memaksakan diri.)
Keluarga Eryngium, tempat Noelle berasal, adalah pemimpin faksi
Bangsawan saat ini. Jika Keluarga Clover menolak permintaan mereka secara
mentah-mentah, itu sama saja dengan menanam benih dendam di faksi Bangsawan.
Mengingat belakangan ini Keluarga Clover sering menjadi pusat perhatian
karena masalah internasional, banyak bangsawan—bahkan yang tidak terafiliasi
dengan faksi Bangsawan—yang sebenarnya diam-diam tidak menyukai mereka.
Meski Arl sangat akrab dengan Alphonse, sebisa mungkin mereka harus
menghindari pertambahan jumlah musuh politik.
Atas dasar alasan itulah, dengan berat hati Christa menyarankan untuk
menerima permintaan Keluarga Eryngium. Namun rupanya, keputusan itu adalah
sebuah kesalahan fatal.
(Sungguh di luar dugaan, aku tidak menyangka kelakuan Noelle-jou
jauh lebih buruk dari rumor yang beredar...)
Noelle adalah wanita jahat dengan tingkat kelicikan yang melampaui
ekspektasi Christa.
Christa sempat berpikir bahwa sifat buruknya mentok pada sekadar
memarahi pelayan, namun tebakannya itu terbukti sangat naif.
(Setelah menyerang Thea-san, target berikutnya kalau
bukan aku pasti Rena-san...)
Besar kemungkinan, ambisi Noelle adalah untuk merebut kursi sebagai
istri sah. Harga dirinya yang terlalu tinggi tidak akan pernah bisa mentolerir
posisinya sebagai istri keempat.
Berdasarkan asumsi tersebut, sangat masuk akal bila Noelle menjadikan
Thea sebagai target pertama. Thea sangat rentan terhadap serangan psikologis
yang mengandung niat buruk. Jika Christa berada di posisi Noelle, ia pasti akan
mengincar Thea lebih dulu.
Permasalahannya sekarang, siapa target selanjutnya, Rena atau Christa.
(Aku terus mengawasi gerak-gerik Noelle-jou, dan aku
kebal terhadap kelicikan orang-orang seperti dia. Rena-san juga selalu dijaga
oleh Arl-san, jadi seharusnya tidak akan ada masalah—tunggu dulu...!?)
Arl saat ini sedang tidak ada di rumah karena pergi mencari Thea. Artinya,
saat ini Rena sedang sendirian.
(Tidak mungkin dia secepat itu menyerang Rena-san,
padahal dia baru saja berulah kemarin...)
Jika melihat rekam jejak agresivitas Noelle, hal itu bukannya tidak
mungkin.
Seiring dengan membengkaknya rasa cemas dalam dirinya, suara ketukan
terdengar dari arah pintu.
“—Ghk, Rena-san...!?”
Begitu membuka pintu, Christa mendapati Rena berdiri mematung dengan
wajah seolah akan menangis saat itu juga.
Christa dengan sigap menyambut dan merangkul tubuh Rena yang nyaris
ambruk dari arah depan.
“Rena-san, apa yang terjadi?”
“Christa... aku...”
Sambil menangis di pelukan Christa, Rena menceritakan semua rentetan
kejadian yang melibatkan Noelle.
(Ini tak bisa dimaafkan...)
Sembari membelai punggung Rena yang terguncang hebat karena isak tangis,
dua bongkahan amarah meledak di dalam dada Christa.
Amarah pertama, tentu saja tertuju pada Noelle. Dosa menghina Arl hanya
demi kursi istri sah benar-benar tidak dapat dimaafkan.
Seandainya Christa berada di posisi Rena, bisa dipastikan ia akan
melakukan tindakan fisik.
Dan bongkahan amarah kedua tertuju pada Arl. Sejujurnya, amarah yang
satu ini jauh lebih masif ketimbang kemarahannya pada Noelle.
(Arl-san. Kenapa kamu tidak langsung mengejar Rena-san?!)
Secara rasional, Christa paham bahwa Arl tidak bisa begitu saja
menelantarkan Noelle yang berstatus tamu. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia
sangat berharap Arl memprioritaskan Rena.
Bagi pria sekaliber Arl yang sanggup merebut wanita idaman dari cengkraman
keluarga kerajaan negara lain sebanyak dua kali, urusan sepele seperti ini
seharusnya bukan masalah besar.
Karena itulah, Christa merasa sangat kecewa dan tidak bisa memaafkan Arl.
“Rena-san. Aku akan pergi mengobrol sebentar dengan Arl-san.”
Christa memapah dan mendudukkan Rena di kursi, kemudian ia melangkah
mantap meninggalkan ruang kerjanya.
※※※
Setelah kembali ke kamarku, aku langsung duduk di kursi dan meremas
kepalaku kuat-kuat.
“Bagaimanapun kau memikirkannya, sudah pasti Noelle melakukan sesuatu,
kan...!”
Adegan klise seperti ini bertaburan di berbagai anime yang pernah
kutonton di kehidupanku sebelumnya.
Dan setiap kali menonton adegan itu, aku selalu merasa frustrasi karena
si tokoh utama pria yang bodoh tidak segera mengejar heroine-nya.
“Padahal dulu aku sempat yakin aku tidak akan pernah melakukan kebodohan
yang sama...”
Rasa penyesalan yang mendalam membuat kuku-kuku jariku menancap erat di
telapak tanganku.
Ketika mataku menangkap momen Rena mencengkeram kasar Noelle, pikiranku
mendadak menjadi kosong.
Bukannya langsung menyalahkan Noelle, pikiranku justru mempertanyakan
alasan di balik tindakan nekat Rena yang biasanya selalu bersikap tenang.
“Sial, aku harus bagaimana...”
Setelah kejadian itu, aku telah menelusuri seisi kediaman namun gagal
melacak keberadaan Rena.
Tidak ada laporan yang menyebutkan Rena berlari keluar, jadi kemungkinan
terbesarnya ia masih bersembunyi di suatu tempat di dalam rumah.
“Rena...”
Aku menggumamkan nama tunanganku dengan nada yang menyedihkan.
Tepat pada saat itu.
“Arl-san, ini aku.”
Suara ketukan pintu bergema beberapa kali, disusul oleh suara Christa
dari balik pintu.
Jika itu Christa, ada kemungkinan besar ia memegang petunjuk terkait
keberadaan Rena.
Saat kubukakan pintu, Christa melangkah masuk dengan raut wajah super
dingin dan datar.
“Ada apa, Christa?”
“Baru saja, Rena-san menceritakan semuanya kepadaku.”
“—Ghk, apa keadaan Rena baik-baik saja?”
“Tentu saja tidak. Tadi Rena-san terus-terusan menangis, tahu.”
“—Ghk.”
Bahkan ketika Yang Mulia mengumumkan pembatalan pertunangan di pesta perayaan
kelulusan dan badai caci maki menghujani dirinya dari segala arah, Rena sama
sekali tidak meneteskan air mata, tapi sekarang...
“Arl-san. Adakah yang ingin kamu jadikan alasan pembelaan diri?”
“Tidak...”
Ini murni seratus persen kesalahanku.
“Kalau begitu, hanya satu hal yang ingin aku pastikan. Arl-san. Apa yang
akan kamu lakukan terhadap Noelle-jou?”
“Apanya yang...”
Tepat di detik aku terbata-bata mencari jawaban, telapak tangan Christa mendarat
keras di pipiku.
Kerasnya tamparan ini seketika membuatku mengerti alasan Bruno bisa terjatuh
ke lantai saat menerima tamparan seperti ini.
“C-Christa...?”
“Arl-san. Apakah kamu sebegitu takutnya pada Keluarga Eryngium... tidak,
pada faksi Bangsawan?”
“Itu...”
Tentu saja aku takut.
Belum sempat aku menyuarakan balasan tersebut, Christa kembali
menghadiahkan tamparan di pipiku yang satunya.
Bahkan kali ini terasa jauh lebih menyakitkan dari tamparan pertama.
“Ketakutanmu yang sesungguhnya, bukanlah hal rendahan semacam itu ‘kan?”
“...”
Benar, sesuatu yang paling menakutkan bagiku sama sekali bukan Keluarga
Eryngium apalagi faksi Bangsawan. Melainkan membiarkan Noelle berbuat
semena-mena hingga menghancurkan keluargaku.
Itulah malapetaka yang paling kutakuti.
Karena terlalu sibuk mempertimbangkan masalah politik, aku melupakan sesuatu
yang paling penting dalam hidupku tanpa sadar.
Benar-benar memalukan.
“Arl-san. Kamu adalah pria yang sangat tangguh. Bukankah kamu berhasil
melindungi aku dan Thea-san dari cengkeraman keluarga kerajaan? Situasi kali
ini pun tidak ada bedanya.”
“Kau benar. Terima kasih banyak, Christa. Aku akhirnya sadar.”
“—Ghk, Arl-san. Kalau begitu—“
“Namun sebelum kita mengurus hal itu, bolehkah aku menemui Rena?”
Karena Christa datang ke sini, kemungkinan besar Rena berada di ruang
kerjanya.
Di dalam ruangan tersebut tersimpan tumpukan dokumen rahasia yang dipercayakan
Alan pada Christa, sehingga siapa pun selain Alan dilarang keras memasukinya
tanpa izin.
“Aku ingin bicara dengan Rena sekarang juga.”
Saat ini, aku ingin meluruskan kesalahpahaman dengan Rena sesegera
mungkin. Masalah bagaimana membereskan Noelle bisa dipikirkan nanti setelah ini
selesai.
“Baiklah.”
Christa mengangguk dengan senyum puas setelah mengatakan itu.
※※※
Setelah mendapat izin dari Christa, aku langsung menginjakkan kaki ke
ruang kerjanya.
Rena sedang menelungkupkan wajahnya diatas meja, sepertinya dia sangat
kelelahan.
“Rena.”
“—Ghk, Arl...”
Saat aku memanggilnya, baju Rena terlihat sedikit gemetar. Melihat dia tidak
mencoba menjauhiku, sepertinya aku bisa mengajaknya bicara.
Karena itu, aku memutuskan untuk menyampaikan apa yang harus kusampaikan
terlebih dahulu.
“Rena. Tentang kejadian tadi, aku benar-benar minta maaf...! Aku terlalu
takut memancing amarah faksi Bangsawan sampai aku tidak bisa memprioritaskan Rena.”
“...”
Entah marah atau kecewa berat, Rena tidak menanggapi sepatah kata pun.
Meski begitu, aku terus merangkai kata-kata permohonan maaf,
“Benar-benar menyedihkan ya. Padahal aku selalu mengatakan sangat
mencintai Rena, tapi...”
Pada akhirnya, aku hanya mengutarakan ketidakmampuanku sendiri.
Pada saat itulah, Rena yang sebelumnya terdiam tiba-tiba menggebrak
permukaan meja dengan kedua tangannya.
“Rena...?”
“Sebenarnya apa yang sejak tadi kamu bicarakan, Arl?”
Suara yang gemetar. Kemarahan yang sangat nyata terpancar di dalam
suaranya.
“Mau dipikir bagaimanapun jelas-jelas akulah yang bersalah...!”
Rena meneriakkan kata-kata itu tepat di depanku sembari mengangkat
wajahnya yang dari tadi menunduk.
Jejak air mata masih membekas jelas di bawah mata ungunya, membuatku
ingin segera memeluknya dengan erat.
“Lagi pula, seandainya aku tidak berbuat ceroboh mendatangi Noelle-jou,
kekacauan ini tidak akan terjadi!”
“T-Tapi kamu melakukannya demi Thea...”
“Itu sama sekali tidak ada hubungannya...!”
“—Ghk!?”
Ketika aku terdesak oleh ledakan emosi Rena yang belum pernah kusaksikan
sebelumnya, di saat bersamaan tetesan air mata kembali menggenang matanya.
“Gara-gara kesalahanku, kamu dan Keluarga Clover harus menanggung hinaan
serendah itu... Kenyataan itu benar-benar membuatku merasa bersalah... Karena itulah—“
Rena menatap lurus ke arahku dan mengucapkan,
“Tarik kembali semua permohonan maafmu barusan. Semua ini sepenuhnya kesalahanku!”
Kekuatan dalam kata-katanya hampir membuatku menyerah dan menerima
argumennya. Namun aku tidak bisa membiarkan semua beban kesalahan ini
ditanggung oleh Rena sendirian.
“Maaf, tapi aku tidak bisa menariknya. Yang pantas disalahkan adalah
aku.”
“—Ghk, kenapa begitu...!”
“Jika kita bicara awal masalahnya, ini semua karena kesalahanku yang
menyetujui kedatangan Noelle-jou.”
“T-Tapi itu kan karena posisimu sebagai bangsawan—“
“Justru itu yang tidak ada hubungannya! Jika aku lebih memprioritaskan
keselamatan keluarga, keputusan itu jelas-jelas sebuah kesalahan!”
Jika dilihat dari sudut pandang orang lain, ini mungkin terlihat seperti
perdebatan yang konyol. Benar-benar seperti pepatah 'pertengkaran suami istri
yang bahkan anjing pun enggan ikut campur’.
Meski begitu, ini tidak bisa dihindari mengingat kami sama-sama gagal mengendalikan
amarah pada diri kami sendiri.
Entah sudah berapa kali kami memutarbalikkan argumen yang repetitif ini.
Tepat di saat napas Rena mulai tersengal-sengal, aku memeluknya dengan
segenap tenaga yang kumiliki.
“—Ghk, Arl...!?”
“Aku mencintaimu, Rena.”
Sungguh menjengkelkan menyadari aku tidak mampu mengekspresikan
perasaanku pada Rena selain melalui kalimat itu.
Meski begitu, aku terus-menerus membisikkan perasaan cintaku kepada
Rena.
“Anu, Arl...”
“Ada apa?”
“Pelukanmu sedikit terlalu keras...”
“—Ghk, m-maaf...”
Terlalu terbawa perasaan.
Saat aku terburu-buru melonggarkan pelukanku, namun alih-alih
melepaskan, kali ini Rena membalasku dengan pelukan yang sama eratnya.
“Anu, Rena?”
“Aku juga sangat mencintaimu.”
“—Ghk.”
Ada apa denganku ini. Padahal tidak ada masalah saat aku menyampaikan
perasaan cintaku, tapi ketika aku yang diberitahu seperti ini, rasanya luar
biasa memalukan.
Aku melanjutkan percakapan untuk menutupi rasa maluku,
“Anu, pelukan seerat ini entah kenapa membuatmu terasa seperti Thea, ya.”
“Jadi Thea-san selalu memelukmu seerat ini ya.”
“Y-Yah, begitulah.”
“Kalau begitu, bukankah pelukan Arl yang tadi itu juga pengaruh dari
Thea-san?”
“—Ghk.”
Aku teringat momen berpelukan dengan Thea pagi tadi, mungkinkah bukannya
aku terbawa suasana, tapi sensasi pelukan ala Thea tanpa sadar telah ter-setting
sebagai standar mutlak di alam bawah sadarku...
“M-Maaf soal itu.”
“Fufu.”
Mungkin reaksiku terlihat lucu, karena untuk pertama kalinya sejak tadi,
Rena menyunggingkan sebuah senyuman.
Karena wajahnya sempat terlihat begitu sedih sebelumnya, sekarang ini Rena
tampak berkali-kali lipat lebih menarik di mataku.
“Arl.”
“Rena.”
Pipi yang merona merah serta tatapan mata yang sedikit sayu saat ia
memanggil namaku, membuat jarak di antara wajah kami terkikis secara alami—
Seolah ingin memastikan ikatan cinta yang semakin mendalam di antara
kami, tanpa ada komando siapa yang memulai, kami saling menyatukan bibir dalam
sebuah kecupan manis.
※※※
Setengah bulan telah berlalu sejak hari itu, dan siang hari pun tiba.
Semenjak kejadian tersebut, di meja makan Keluarga Clover kini hanya
terlihat sosokku, Noelle, Alan, dan Lucy yang berjumlah empat orang.
Thea sedang menanti di rumah keluarganya hingga masalah Noelle mereda, Rena
mengurung diri di kamarnya, sementara Christa sibuk mengurusinya.
“Alan-sama, Lucy-sama. Hari ini pun yang lainnya tidak bergabung, ya.”
Melihat suasana meja makan yang sepi, Noelle berkomentar seperti biasa,
yang kemudian ditanggapi oleh helaan napas kecil dari Lucy.
“Mereka bertiga itu benar-benar kurang memiliki kesadaran sebagai
tunangan Arl, ya.”
“Benar kata Lucy.”
Menerima lemparan topik dari Lucy, Alan pun ikut menghela napas pelan.
“Bila dibandingkan dengan mereka bertiga, Noelle-jou sungguh luar
biasa.”
“—Ghk, astaga, tolong hentikan pujian itu, Alan-sama. Saya ini
tidak...”
“Tak perlu merendah. Arl, bukankah ini saat yang tepat untuk
membicarakan 'hal itu’?”
“Hal itu...?”
Menanggapi ucapan Alan, Noelle menatapku dengan sorot mata yang penuh
harap.
“Ayahanda, apakah benar tidak apa-apa jika saya yang menyampaikannya?”
“Ya, kaulah yang paling tepat. Lucy juga berpikir seperti itu 'kan?”
“—Ya.”
“Saya mengerti.”
Setelah mendapatkan izin dari kedua orang tuaku, aku menoleh dan berkata
pada Noelle.
“Noelle-jou, nanti ada hal penting yang ingin saya bicarakan.”
“Hal penting...?”
“Ya. Ini mengenai pertunangan Anda.”
Begitu aku mengucapkan kalimat itu, raut kegembiraan langsung terpancar
di mata Noelle.
“Saya mengerti!”
Pasti di dalam benak Noelle, ia mengira bahwa aku akan segera menawarkan
posisi istri sah kepadanya. Namun sayangnya, hal semacam itu sama sekali takkan
pernah terjadi.
Mulai hari ini juga, Noelle Eryngium harus angkat kaki dari Keluarga
Clover.
※※※
Setelah merasa telah memberikan pukulan telak pada Rena, Noelle menjadi
sangat besar kepala.
Sejak hari itu, Rena mengurung diri di kamar, dan Christa yang
merawatnya jadi jarang sekali menampakkan diri di ruang keluarga.
Mengenai Thea, bahkan tidak ada tanda-tanda dia akan kembali ke
kediaman.
Seolah muak dengan kelakuan para tunangan tersebut, Alan dan Lucy mulai
memberikan perhatian lebih kepada Noelle.
Terutama Lucy, ia setiap hari mengeluhkan ketidakpuasannya terhadap
ketiga wanita itu, dan di setiap kesempatan ia selalu melontarkan kata-kata
manis kepada Noelle.
Dan yang paling penting, Arl sendiri mulai sering menyapanya dan
menunjukkan ketertarikan untuk mengetahui pandangan serta nilai-nilai yang diyakini
oleh Noelle.
Melalui semua hal itu, Noelle merasa keberadaannya mulai diakui, dan ia
yakin tak lama lagi akan diterima sebagai istri sah.
Hingga akhirnya hari ini tiba, hari di mana Arl menyatakan ingin
membicarakan tentang pertunangannya.
(Nah, kira-kira apa yang akan dia katakan ya ♪)
Meski di dalam hati ia sudah setengah yakin dengan isinya, Noelle
berpura-pura bertanya-tanya sambil menunggu jam makan selesai. Jika lengah
sedikit saja, rasanya ia bisa tak sadar menyenandungkan lagu karena terlalu
gembira.
Begitu makan selesai, Alan dan Lucy meninggalkan aula besar, menyisakan Arl
dan Noelle berdua saja.
(Nah, sekarang waktunya kita bicara..!)
Setelah saling menatap dalam posisi berhadapan, Noelle membuka
pembicaraan dengan raut wajah malu-malu.
“Jadi, hal apa yang ingin Anda bicarakan terkait pertunangan saya?”
Merespons sikap malu-malunya itu, Arl menyunggingkan senyuman tipis.
“Noelle-jou, tolong jangan terlalu terburu-buru. Saya juga butuh waktu
untuk mempersiapkan mental.”
“Astaga, aku ini, benar juga ya!”
Aku terlalu terburu-buru mengharapkan hasilnya, tegur Noelle pada
dirinya sendiri.
“Untuk mencairkan ketegangan, maukah Anda mengobrol santai sedikit
dengan saya?”
“Tentu, dengan senang hati!”
Setelah Noelle menyetujuinya dengan ramah, Arl pun melanjutkan.
“Kalau begitu sekali lagi, bolehkah saya mengetahui pandangan Noelle-jou
tentang sebuah pertunangan?”
“Ara, kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu...?”
“Itu karena... terkadang saya merasa cemas, apakah Keluarga Clover
benar-benar pantas...”
Dengan kata lain, Arl mempertanyakan apakah Keluarga Clover pantas
bersanding dengan Keluarga Eryngium──tidak, Arl sedang merasa tidak percaya
diri apakah dirinya pantas untuk Noelle.
(Rupanya, akhirnya dia mulai menyadari perbedaan kasta di
antara kami ya.)
Upayanya dalam mendidik Arl melalui pembicaraan selama ini rupanya tidak
sia-sia.
Dengan perasaan yang semakin melambung tinggi, Noelle pun menjawab.
“Tentu saja, Anda masih memiliki beberapa kekurangan. Akan tetapi, ada
hal-hal membanggakan yang Anda miliki juga lho.”
“Noelle-jou...!”
Arl terlihat sangat tersentuh mendengar ucapan Noelle.
Apa yang baru saja Noelle katakan sama sekali bukan kebohongan. Meski
fakta bahwa Wilayah Clover adalah wilayah pelosok tidak dapat ditoleransi,
Noelle merasa ia bisa memakluminya demi Arl.
Bagi Noelle, tidak seperti para kandidat tunangan sebelumnya, Arl adalah
satu-satunya pria yang mau berempati dengan seluruh prinsip yang ia pegang.
“Jawaban ini sudah memuaskan, bukan?”
“Belum, masih ada satu pertanyaan lagi.”
Ini masih kurang? batin Noelle sedikit jengkel, namun ia memakluminya
karena Arl butuh keberanian ekstra untuk merayu wanita sehebat dirinya.
Sambil menikmati rasa bangganya, Noelle mempersilakan Arl melanjutkan
pertanyaannya.
“Saya ingin tahu, bagaimana pendapat Noelle-jou mengenai pertunangan
Yang Mulia dengan Mary?”
“Pertunangan Yang Mulia...?”
Noelle ingin bertanya kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu, namun ia
segera berpikir sejenak.
Arl sejak awal bilang ingin mengetahui pandangannya mengenai
pertunangan.
(Apakah dia mencoba menilai kelayakanku melalui jawaban
atas pertanyaan ini...?)
Jika memang begitu, bagaimana ia harus menjawabnya.
Berdasarkan prinsip yang dianut Noelle, pertunangan antara anggota
kerajaan seperti Alphonse dengan wanita berlatar belakang Baronet seperti Mary
adalah sebuah penghinaan terhadap tatanan sosial.
Namun, mengutarakan hal itu sama saja dengan mengkritik keluarga
kerajaan secara langsung. Walaupun Keluarga Eryngium adalah faksi Bangsawan,
mereka tetap harus menjaga tata krama terhadap keluarga kerajaan.
(Di sini aku harus memihak keluarga kerajaan... tidak,
tunggu.)
Noelle menyadari sesuatu yang sangat krusial.
Apa yang terjadi jika Noelle mengakui pertunangan Alphonse? Itu sama
saja dengan mengakui bahwa perbedaan status sosial bukanlah masalah, yang mana
secara otomatis juga mengakui posisi Rena dan Thea sebagai tunangan.
Jika itu terjadi, Rena yang susah payah ia singkirkan bisa kembali
merebut posisi istri sah.
(Kalaupun aku mengelak dengan mengatakan bahwa keluarga
kerajaan adalah pengecualian, aku hanya akan diserang balik dengan dalih ‘lalu
apa salahnya meniru keluarga kerajaan yang posisinya paling tinggi’ ... Kalau
begitu,)
Noelle merasa harus menjawab dengan jujur sesuai dengan prinsip yang ia
pegang agar tidak bertentangan dengan ucapannya selama ini.
(Tidak perlu cemas, Arl yang sekarang pasti akan percaya
padaku.)
“Tentu saja saya tidak mengakuinya. Orang dari keluarga Baronet itu pada
dasarnya hampir tidak ada bedanya dengan rakyat jelata!”
“Begitu rupanya.”
Mendengar Noelle menegaskan pendapatnya tanpa ragu, Arl
mengangguk-angguk kecil berulang kali.
“Noelle-jou. Riwayat Anda sudah tamat.”
“—Hah?”
Mendapat kecaman mendadak tersebut, otak Noelle tidak mampu
memprosesnya.
“K-Kenapa Anda tiba-tiba berkata begitu?”
Tanpa repot-repot menjawab pertanyaan Noelle, Arl berjalan menuju pintu
keluar ruangan dan membukanya.
“Eh—“
Isi kepala Noelle seketika menjadi kosong melompong.
Alphonse, sosok yang seharusnya tidak mungkin ada di sana, entah bagaimana
sudah berdiri tepat di hadapan Noelle.
※※※
Tentu saja aku tidak bisa memaafkan Noelle yang telah berusaha
menghancurkan hubunganku dengan Rena dan yang lainnya.
Kalau bisa, aku ingin segera mengirimnya ke pangeran mesum mana pun
detik itu juga. Hanya saja, dunia bangsawan tidak semudah itu untuk ditaklukkan
hanya bermodalkan rasa dendam tanpa perhitungan.
Jika aku memperlakukan Noelle dengan sewenang-wenang tanpa adanya alasan
yang kuat (dalih resmi), itu sama saja dengan mendeklarasikan perang pada
seluruh faksi Bangsawan.
Oleh karena itulah, selama kurang lebih setengah bulan ini aku
menghabiskan waktu semata-mata untuk mencari cara memberikan serangan balasan
kepada Noelle.
Walau dengan perasaan muak, aku terus mendekati Noelle dan berusaha
memahami sifat serta pandangannya, semuanya adalah bagian dari rencanaku untuk
menemukan titik lemahnya.
Akan tetapi, sekeras apa pun aku memutar otak, aku selalu menemui jalan
buntu untuk melancarkan serangan penutup.
Pada akhirnya aku selalu melihat skenario di mana Noelle akan berhasil
meloloskan diri dengan berlindung di balik tameng statusnya sebagai putri
Marquis.
Apakah aku akan membiarkan Noelle menghabiskan batas waktunya di sini
dan sekadar memulangkannya begitu saja?
Tidak, kalau itu masih mending. Yang paling mengerikan adalah jika Noelle
menggunakan masa tinggalnya kali ini sebagai dalih untuk terus mengganggu kami
di masa mendatang.
Apakah tidak ada jalan keluar untuk memecahkan kebuntuan ini?
Tepat di saat itu, sebuah surat datang untukku. Pengirimnya adalah Yang
Mulia Alphonse.
Isinya menyebutkan bahwa ia akan segera datang berkunjung ke Wilayah
Clover untuk melakukan inspeksi.
Membaca surat itu, aku baru teringat janjinya yang mengatakan bahwa
tugas resmi pertama mereka seusai bertunangan adalah perjalanan inspeksi
nasional, dan mereka akan menyempatkan diri singgah di Wilayah Clover.
Inspeksi dari Yang Mulia──itulah kartu as pamungkas yang selama ini
kucari.
“Maafkan saya karena harus merepotkan Anda, Yang Mulia.”
“Tidak apa-apa, Arl. Ini ‘kan permintaan dari seorang teman.”
“A-Apa maksud semua ini? K-Kenapa Yang Mulia bisa ada di sini...”
Noelle memandangiku dengan raut wajah seolah tidak percaya.
Sangat wajar Noelle bereaksi seperti itu. Biasanya, kedatangan anggota
keluarga kerajaan akan disambut dengan perayaan besar-besaran yang melibatkan
seluruh penjuru wilayah.
Namun, ini adalah Wilayah Clover yang letaknya di ujung perbatasan. Tidak
ada keramaian berskala besar seperti di wilayah lain, melainkan hanya sekadar
perjamuan kecil yang diadakan di beberapa desa pertanian.
Bagi Noelle yang sama sekali tidak menaruh minat pada kondisi wilayah
dan terus-terusan mengurung diri di kediaman, mustahil ia bisa menyadari
perubahan sekecil itu.
Menatap Noelle yang tubuhnya kini gemetar halus, aku pun
mendeklarasikan.
“Noelle-jou. Saya telah meminta agar Yang Mulia datang ke sini untuk
mengusir Anda.”
“—Ghk!?”
Alasan kuat yang sah untuk mengusirnya adalah dengan meminta seseorang
yang kastanya lebih tinggi darinya untuk memerintahkan penghentian inspeksi
ini.
Dan di negara ini, tidak ada orang yang kastanya lebih tinggi dari keluarga
kerajaan.
“Arl Clover. K-Kau telah menjebakku, ya...!”
“Apa yang Anda bicarakan? Pihak yang pertama kali mengusik ketenteraman
Keluarga Clover adalah Anda, Noelle-jou.”
“S-Saya tidak pernah sekalipun melakukan hal semacam—“
Sepertinya dia benar-benar tidak menganggap perbuatannya pada kami
sebagai sebuah dosa besar.
Dalam persepsinya, Noelle mungkin hanya merasa telah membantu
‘menyingkirkan para tunangan yang tak tahu diri’, hanya sebatas itu
pemikirannya.
“Yang Mulia, saya serahkan sisanya pada Anda.”
“Baiklah. Noelle Eryngium.”
“Y-Ya...”
“Barusan kau telah melontarkan pernyataan yang sama sekali tidak bisa kubiarkan
begitu saja.”
“—Ghk, i-itu karena...”
Wajah Noelle langsung memucat seputih kertas dalam sekejap.
“Perkataanmu itu jelas-jelas merupakan bentuk penghinaan terhadap
keluarga kerajaan, tidak, lebih tepatnya penghinaan terhadap Mary.”
“—Ghk.”
Meskipun Mary adalah keturunan Baronet, karena kini ia telah resmi
menjadi tunangan Yang Mulia, statusnya setara dengan anggota keluarga kerajaan.
Karena Noelle secara terang-terangan mengatakan ketidaksukaannya, sudah
sewajarnya perbuatannya dicap sebagai tindak pidana penghinaan terhadap Mary (dan
keluarga kerajaan) .
“Noelle Eryngium, dengan ini kuperintahkan agar inspeksimu di Wilayah
Clover dihentikan hari ini juga, dan kau harus kembali ke Ibukota bersamaku.”
“Baik──tunggu, b-bersama Yang Mulia...?”
“Benar. Aku bermaksud untuk berbicara langsung secara empat mata dengan
ayahmu.”
“T-Tidak mungkin...”
Ekspresi Noelle seketika berubah menjadi keputusasaan yang seolah-olah
dunia telah kiamat.
Jika reaksinya sudah separah parah di tahap awal, masa depannya sungguh
terlihat suram.
Wajar saja, karena takdir yang menanti Noelle nanti adalah pertunangan
dengan mantan tunangan Christa, si pangeran bodoh Bruno Dorian.
※※※
Proses untuk mengusir Noelle selesai dalam waktu yang jauh lebih singkat
dari dugaanku. Pasti ada banyak pelayan yang telah menanti-nantikan datangnya
hari ini.
Mengingat betapa banyaknya pihak yang direpotkan akibat kekacauan ini,
aku merasa sangat tidak enak hati.
“Yang Mulia. Terima kasih banyak.”
Begitu persiapan keberangkatan selesai, aku kembali menundukkan kepala
untuk menyampaikan rasa terima kasihku pada Yang Mulia.
“Sama-sama. Bagi pihak kami pun, ini bukanlah penawaran yang buruk.”
Walaupun berkata demikian, saat pertama kali kusampaikan rencanaku,
beliau sempat menunjukkan keraguan. Karena rencanaku ini sengaja memancing
Noelle untuk melontarkan hinaan terhadap Mary.
Meski begitu, menghancurkan Keluarga Eryngium akan semakin melumpuhkan
faksi Bangsawan, yang pada akhirnya akan menjamin stabilitas keluarga kerajaan.
Jika dilihat dari sudut pandang tersebut, ini bukanlah sebuah
kesepakatan yang merugikan bagi faksi Kerajaan.
“Mary. Tolong jangan merepotkan Keluarga Clover, ya.”
“Baik, Yang Mulia.”
Yang Mulia melempar senyum lembut pada Mary yang berdiri tepat di
sebelahku.
Selama Yang Mulia kembali ke Ibukota Kerajaan, diputuskan bahwa Mary
akan menginap di kediaman Clover. Tujuannya adalah untuk memulihkan staminanya
yang terkuras akibat rutinitas inspeksi yang belum terbiasa ia jalani.
“Kalau begitu, aku berangkat. Arl, kutitipkan Mary padamu.”
“Baik. Serahkan saja pada saya.”
Setelah menitipkan tunangan yang sangat dicintainya padaku, kereta kuda
yang ditumpangi Yang Mulia beserta Noelle melaju meninggalkan kediaman.
Jika berjalan sesuai jadwal, beliau akan kembali menjemputnya dua minggu
lagi. Sampai waktu itu tiba, aku akan berusaha agar Mary bisa bersantai sebaik
mungkin.
Sebagai langkah awal, sebuah perjamuan kecil diadakan di kediaman kami
guna menyambut kedatangan Mary.
Tentu saja, acara tersebut turut dihadiri oleh ketiga tunanganku yang
selama ini harus menelan pil pahit menjalani kehidupan terkekang karena ulah Noelle;
yakni Rena, Christa, dan Thea.
Mengenai reuni Mary dan Rena, karena Rena kini tidak perlu lagi
repot-repot bersandiwara─seperti saat di Akademi─ia menanggapi Mary dengan
sangat santai, sehingga tidak ada insiden apa pun yang terjadi.
Jika melihat interaksi hangat mereka, kurasa saat Yang Mulia kembali
nanti, ikatan pertemanan mereka sudah akan terjalin sangat erat.
Terlepas dari segalanya, badai Noelle akhirnya resmi berlalu. Dengan
begini, persiapan untuk acara upacara pertunanganku akhirnya bisa mulai
dilaksanakan. Ke depannya akan menjadi sangat sibuk.
※※※
Satu minggu berlalu sejak kepergian Noelle dari Wilayah Clover.
Rasa cemas yang samar mulai menyelimuti batin Benoit.
Hingga saat ini, surat dari Noelle yang berfungsi ganda sebagai laporan
rutin selalu tiba seminggu sekali. Akan tetapi, tiba-tiba saja rutinitas itu terputus.
Benoit mencoba mengingat kembali isi surat terakhir yang diterimanya. Di
sana tertulis bahwa tidak lama lagi kursi istri sah akan segera jatuh ke dalam genggamannya.
(Mungkinkah, anak itu melakukan kesalahan yang fatal...)
Meski awalnya Benoit menyambut laporan Noelle dengan ledakan
kegembiraan, mendapati situasi saat ini justru menimbulkan benih-benih
keraguan.
Sejak awal, apakah mungkin Noelle bisa menyingkirkan ketiga tunangan itu
dan menduduki takhta istri sah?
“Tidak, aku harus percaya pada Noelle.”
Secara logika murni, mustahil Noelle bisa menang melawan Rena yang
pernah menjalani pendidikan calon ratu, Christa yang seorang putri Duke,
apalagi Thea sang Sword Saint.
Bahkan dari sudut pandang seorang ayah, ia sadar betul bahwa putrinya
itu memiliki segudang masalah kepribadian.
Namun, karena nasi sudah menjadi bubur dan Benoit telanjur
mengirimkannya ke sana, tidak ada jalan lain selain percaya dan menunggu
hasilnya.
Seolah sengaja mengoyak penantian Benoit yang penuh kebimbangan itu,
pintu ruang kerjanya didobrak dengan keras.
“Tuan Besar, Noelle-ojōsama telah kembali ke kediaman.”
“—Ghk, Noelle...!”
“B-Benar. Hanya saja, masalahnya...”
“Ada apa. Kalau ada masalah cepat laporkan dengan jelas!”
“Masalahnya, Yang Mulia Alphonse juga turut serta bersamanya.”
“...Apa?”
Mendengar laporan sang Kepala Pelayan, akal sehat Benoit tidak mampu mencernanya.
Alphonse belum lama ini baru saja melangsungkan upacara pertunangan, dan
seharusnya saat ini ia sedang berkeliling melakukan perjalanan inspeksi
nasional.
(Inspeksi... tunggu, jangan-jangan...!?)
Firasat sangat buruk seketika menghantamnya, membuat Benoit berlari
kesetanan menuju area depan kediaman.
“Halo Benoit-dono. Maaf jika aku merepotkanmu untuk datang menyambut.”
Pemandangan yang menunggunya di depan pintu utama adalah Alphonse yang
tersenyum ramah, bersanding dengan Noelle yang wajahnya pucat pasi.
(Ini, sungguh-sungguh sudah berakhir...)
Bahkan sebelum mendengar penjelasannya, Benoit sadar betul bahwa
rencananya telah hancur berantakan.
※※※
Dosa yang diperbuat oleh Noelle jauh melampaui imajinasi terburuk
Benoit.
Terobsesi pada kursi istri sah, Noelle melontarkan berbagai kata-kata
kasar kepada para tunangan Arl.
Dan yang paling fatal, keluhannya terkait pertunangan Alphonse justru
terdengar langsung oleh Alphonse sendiri saat ia sedang melakukan inspeksi.
Jika itu hanya sebatas poin pertama, mungkin masih bisa dicari jalan
keluarnya, namun poin yang kedua mutlak sudah tidak tertolong lagi.
Begitulah tingkat kefatalan tindak pidana karena tidak menaruh hormat
pada keluarga kerajaan.
“Benoit-dono. Apakah ada pembelaan yang ingin kau sampaikan?”
“Tidak, saya tidak punya pembelaan apa pun. Ini sepenuhnya akibat
kelalaian saya dalam mendidik.”
Harapannya bahwa Benoit cukup mencoret nama Noelle dari daftar keluarga
untuk cuci tangan terbukti terlalu naif.
Saat ini, Keluarga Eryngium sedang berdiri di ujung tanduk, nyaris
terseret ke dalam lubang kejatuhan yang sama seperti Keluarga Hyacinth.
(Dengan ini Keluarga Eryngium benar-benar hancur...)
Sambil meratapi nasib garis keturunan keluarganya yang harus musnah di
generasinya, Benoit menunduk pasrah menanti vonis hukuman dari Alphonse.
Menanggapi Benoit yang seperti itu, dengan memamerkan senyuman yang
entah benar-benar menyegarkan atau menyimpan racun tersembunyi, Alphonse
berkata.
“Benoit-dono. Ada dua opsi yang kusiapkan untukmu.”
“Dua opsi... maksud Anda?”
“Ya. Opsi pertama adalah membiarkan Keluarga Eryngium hancur, atau opsi
kedua, mencegah kehancuran tersebut.”
Bila opsinya seperti itu, maka jawabannya hanya ada satu.
“Kalau begitu, tentu saja saya memilih opsi yang kedua!”
“Begitu rupanya. Kalau begitu, ada dua tuntutan yang harus kau penuhi.”
Alphonse kembali melanjutkan kata-katanya kepada Benoit.
“Pertama, Keluarga Eryngium harus melaporkan setiap informasi faksi
Bangsawan kepadaku tanpa terkecuali.”
“—Ghk.”
Tuntutan pertama tak lain adalah instruksi untuk berkhianat dari faksi
Bangsawan.
Masalahnya, sekadar berkhianat tidak serta-merta membuat mereka diterima
masuk ke dalam faksi Kerajaan.
Faksi Kerajaan tidak punya kebaikan hati yang begitu murah untuk
langsung menerima bangsawan yang tadinya merupakan bagian dari faksi Bangsawan.
Singkatnya, mulai Keluarga Eryngium akan selamanya hidup dalam posisi yang
terjepit di antara faksi Kerajaan dan faksi Bangsawan.
Padahal selama ini posisinya sebagai ujung tombak faksi Bangsawan saja
sudah membuatnya pusing tujuh keliling, kini beban tekanan mentalnya justru
akan semakin membengkak.
Meski begitu, mengingat mencegah kejatuhan keluarga adalah harga mati, tidak
ada opsi menolak bagi Benoit di sini.
“Saya bersedia mematuhinya. Saya bersumpah, mulai saat ini Keluarga
Eryngium akan mempersembahkan segalanya demi ketenteraman keluarga kerajaan.”
“Bagus. Lanjut ke poin kedua──”
Alphonse menyudahi kalimatnya, lalu memalingkan pandangannya ke arah
Noelle yang sejak tadi tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
“Noelle-jou harus menjalin pertunangan dengan seseorang.”
“—Ghk, siapa seseorang yang Anda maksud...?”
“Bruno Dorian.”
“—Ghk, Bruno-dono... maksud Anda, pangeran yang itu...?”
“Benar.”
“—Ghk.”
Bruno Dorian. Pangeran bodoh yang belum lama ini membuat tindakan
memalukan di Wilayah Clover, sehingga meski ia seorang bangsawan tinggi, semua
haknya dicabut secara paksa kecuali hak sebagai pewaris takhta.
Sosok pria yang dirumorkan akan segera berakhir sebagai boneka pajangan
bagi para bangsawan papan atas, terutama Christoph, yang merupakan ayah dari
Christa.
Sejujurnya, menikahkan putrinya dengan pria yang reputasinya sudah
terpuruk serendah itu adalah hal yang paling dihindari bagi seorang ayah. Namun,
permintaan ini pun tidak diperbolehkan untuk ia tolak.
“Saya, bersedia mematuhinya... Dengan senang hati, saya menyerahkan
putri saya kepada Bruno-dono.”
“—Ghk, Ayah...!”
“Kau, tutup mulutmu!”
“T-Tapi...!”
“Kau pikir semua ini terjadi gara-gara siapa!”
“—Ghk.”
Mendapat bentakan serius dari ayahnya, Noelle langsung terdiam membisu.
“Jadi, bisa kuanggap kau telah menyetujui persyaratannya?”
“Ya. Maafkan saya telah menunjukkan pemandangan yang tidak pantas di
hadapan Anda.”
“Terakhir aku ingin memastikan, kau benar-benar tidak menyesalinya,
bukan?”
Menjawab pertanyaan Alphonse, Benoit melirik sekilas ke arah Noelle,
lalu mengangguk dengan sisa-sisa tenaganya.
“Baiklah kalau begitu. Sisanya akan kuserahkan pada pihak lain untuk
mengurusnya. Silakan masuk.”
Menanggapi instruksi Alphonse, pintu ruang tamu dibuka dan seorang pria
paruh baya berwajah awet muda melangkah masuk.
“Lama tidak berjumpa ya, Benoit-dono. Terakhir kali kita bertegur sapa adalah
saat acara upacara pertunangan Yang Mulia tempo hari, bukan?”
“Y-Ya. Benar sekali... Christoph-dono.”
Pria yang baru saja memasuki ruangan tak lain adalah ayah Christa,
Christoph.
Christoph melemparkan senyum ramah pada Benoit, lalu menoleh dan
menyorotkan tatapan super dingin layaknya semburan es kepada Noelle.
“Noelle-jou. Kudengar, putriku Christa mendapat perlakuan ‘sangat
istimewa’ dari Anda selama di Wilayah Clover.”
“Ugh...”
“Kalau begitu Christoph-dono. Sisanya kuserahkan pada Anda."
"Baik."
Berbanding terbalik dengan Alphonse yang meninggalkan ruangan dengan
ekspresi yang sangat tenang, keringat dingin Benoit terus mengucur tanpa henti.



Post a Comment