Epilogue
Bersama para Heroine Terbaik
Setelah kembali dari perjalanan inspeksi ke beberapa negara tetangga, Leon Hyacinth tidak memercayai pemandangan yang terpampang di depan matanya saat tiba di kediamannya.
Tidak ada seorang pun yang keluar untuk menyambutnya. Mengingat Keluarga
Hyacinth adalah salah satu keluarga bangsawan besar paling berpengaruh di
Kerajaan Suci, jumlah pelayan mereka harusnya sangat banyak, dan rutinitas
penyambutan pun selalu dilakukan dengan meriah.
Merasakan ada yang tidak beres, Leon langsung menelusuri seluruh area kediaman,
dan di sana ia dihadapkan pada kenyataan yang jauh lebih mengejutkan.
Puluhan pelayan yang biasanya berlalu-lalang, sekarang sudah tidak
terlihat batang hidungnya sama sekali.
Leon pun bergegas menuju ruang kerja sang ayah yang merupakan Kepala
Keluarga.
Di sana, alih-alih sosok ayah yang penuh wibawa, yang Leon temukan
hanyalah seorang pria paruh baya yang sedang mabuk berat hingga terkapar di
atas meja kerjanya.
“Rena, Rena telah...!”
Begitu menyadari kehadiran Leon, sang ayah menunjuk ke arah lantai sambil
mengucapkan sesuatu dengan tidak jelas.
Leon memungut sebuah dokumen yang tergeletak di lantai, yang ternyata
adalah surat pemberitahuan resmi dari keluarga kerajaan. Isinya menyatakan
bahwa Alphonse telah membatalkan pertunangannya dengan Rena.
Pada detik itu juga, Leon langsung memahami akar dari semua kekacauan
ini. Sejujurnya, ia sudah menyadari adanya perubahan drastis pada sikap Rena
semenjak pertunangannya dengan Alphonse ditetapkan.
Leon sama sekali tidak memedulikannya, ia justru menganggap perubahan
itu lebih menguntungkan baginya.
Sebelum berubah, Rena yang dulu adalah gadis yang sangat kaku dan
disiplin. Jika Rena tahu rencana mereka untuk merebut kekuasaan keluarga
kerajaan, ia pasti akan menjadi orang pertama yang menentangnya.
Bahkan, ‘bagaimana cara menjalankan rencana ini tanpa ketahuan oleh Rena’
sempat menjadi salah satu agenda utama bagi Leon dan Keluarga Hyacinth.
Akan tetapi, kenyataannya Rena sama sekali tidak berubah. Sikapnya yang
tidak bisa diatur itu murni adalah sebuah sandiwara, dan Leon telah termakan
oleh kebohongannya mentah-mentah.
Kini, Rena si pelaku pengkhianatan yang telah menghancurkan Keluarga
Hyacinth justru dikabarkan tengah menikmati hidup bahagia di ujung perbatasan.
Bagi Leon, fakta bahwa Rena bisa hidup bahagia setelah menyebabkan
kejatuhan Keluarga Hyacinth adalah sesuatu yang tidak bisa ia terima.
Sebagai langkah awal pembalasan dendamnya dengan niat menyeret mereka ke
dalam masalah internasional, Leon sengaja mengirim Bruno ke Wilayah Clover.
Namun, rencananya itu gagal total. Malahan, bergabungnya Christa ke
dalam Keluarga Clover justru membuat lingkungan hidup Rena menjadi semakin
baik.
Dan seolah belum cukup, baru-baru ini sang Sword Saint juga dikabarkan
telah bergabung dengan Keluarga Clover, membuat mereka kini perlahan
bertransformasi menjadi keluarga Margrave yang sesungguhnya.
(Takkan kumaafkan. Tunggu saja, Keluarga Clover...!)
Tanpa disadari, target balas dendam Leon kini telah meluas hingga
mencakup seluruh Keluarga Clover.
Dalam benak Leon, jangan-jangan keputusan Keluarga Clover menampung Rena
sejak awal memang merupakan bagian dari konspirasi untuk menghancurkan Keluarga
Hyacinth.
Karena pada kenyataannya tindakan Arl memang menjadi penyebab jatuhnya
keluarga Hyacinth, maka dugaan Leon itu tidak sepenuhnya salah sasaran.
(Tch, pasukan pengejar lagi, ya.)
Setelah upacara pertunangan Alphonse, Leon kini berstatus sebagai
buronan resmi. Kerajaan telah menjatuhkan vonis resmi bahwa insiden Bruno
didalangi oleh campur tangan Leon.
Akibatnya, saat ini pasukan pencari disebar dan berpatroli di seluruh
penjuru Ibukota Kerajaan. Situasi ini membuatnya tidak bisa leluasa untuk bergerak.
(Hanya untuk saat ini saja... Suatu saat aku pasti
akan...)
Bersumpah akan memberikan balasan setimpal atas runtuhnya Keluarga
Hyacinth, Leon pun pergi meninggalkan Ibukota Kerajaan.
※※※
Setengah bulan telah berlalu sejak kepergian Noelle dari Wilayah Clover.
Kehidupan di kediaman Keluarga Clover mulai berangsur normal. Sebagai
buktinya, hari ini aku bisa kembali berlatih pedang di bawah pengawasan Thea
setelah sekian lama.
“Arl-dono. Pusat gravitasimu di kaki kiri sedikit goyah.”
Sembari memperhatikan ayunan pedangku, Thea memberikanku koreksi dari
dalam sel tahanan.
Karena aku tidak sempat berlatih selama masalah Noelle kemarin, kemampuanku
menurun jauh lebih buruk dari yang kubayangkan.
“Hei, Arl-dono.”
“Ada apa?”
“Kira-kira, kapan aku diizinkan keluar dari sini?”
Di tengah ayunan pedangku, Thea bertanya dengan nada gelisah. Tempat
yang disebut ‘sini’ merujuk pada sel tahanan tempat ia dikurung saat ini.
Sejujurnya, aku pun ingin mempertanyakan hal yang sama padanya tentang
mengapa Thea bisa sampai berakhir di sana lagi.
Dari cerita yang kudengar, setelah perayaan penyambutan Mary, Lucy
memanggil ketiga tunanganku untuk menceramahi mereka karena membiarkan diri
mereka diinjak-injak oleh Noelle.
Di antara mereka bertiga, Lucy sepertinya paling murka pada Thea yang
kabur dari rumah tanpa pamit, dan itulah alasan utama kenapa hanya Thea yang
berujung dikurung di dalam sel tahanan.
Intinya, mengingat keputusan ini mutlak ada di tangan Lucy, aku pun tidak
bisa menebak sampai kapan masa hukumannya akan berlangsung.
“Ya, begitulah ceritanya. Berjuanglah.”
“Apa maksudnya ‘ya begitulah ceritanya’, Arl-dono...!”
Thea berteriak dengan menyedihkan sambil mencengkeram erat jeruji besi menggunakan
kedua tangannya.
Pemandangan ini seketika mengingatkanku pada insiden di mana Thea juga sempat
dikurung di tempat ini karena berusaha menyusup ke kamarku malam itu, mengingat
hal itu membuatku tertawa tanpa sadar.
“J-Jangan malah tertawa, tolong pikirkan nasibku dengan serius...!”
“Hahaha, maaf, maaf. Tapi tenang saja, setidaknya besok kau pasti sudah
bisa keluar.”
“B-Benarkah itu...!”
“Tentu saja.”
Memang benar aku tidak tahu sampai kapan Lucy akan memberinya hukuman
perenungan diri di dalam sel ini, tapi seperti yang kubilang barusan, hari esok
adalah pengecualian khusus.
Besok, sebuah acara yang sangat penting bagi Keluarga Clover akan
dilangsungkan. Oleh karena itu, akan sangat merepotkan jika Thea tidak hadir
dalam acara tersebut.
“Baiklah, kurasa cukup sampai di sini saja untuk hari ini.”
Setelah menerima beberapa koreksi dari Thea dan berulang kali
memperbaikinya hingga cukup memuaskan, aku pun mengakhiri latihan hari ini.
“Terima kasih, Thea. Nanti aku minta tolong lagi, ya.”
“Tentu saja. Kapan pun kau butuh, aku selalu siap.”
Berhubung kami tak mungkin berpelukan terhalang jeruji besi, kami pun
sekadar melakukan high five ringan lewat celah jeruji, lalu aku pun
beranjak meninggalkan sel tahanan.
Tepat setelah keluar dari area sel, aku berpapasan dengan Christa. Sepertinya
ia memang sedang mencariku, karena begitu melihatku, ia langsung berlari
menghampiri.
“Arl-san.”
“Ada apa, Christa?”
“Yang Mulia Alphonse sudah tiba di sini. Dan katanya ada hal yang ingin
beliau sampaikan kepada Arl-san segera.”
“Begitu ya. Aku mengerti.”
Karena aku sudah mendapat kabar sebelumnya bahwa beliau akan tiba di
Wilayah Clover hari ini, aku lega mendengarnya sampai dengan selamat.
※※※
Aku dipandu oleh Christa memasuki ruang tamu tempat Yang Mulia berada.
“Lama tidak berjumpa, Yang Mulia.”
“Arl, aku juga senang melihatmu tampak sehat.”
Setelah bertukar sapaan basa-basi, kami pun duduk saling berhadapan.
“Jadi Yang Mulia, apa yang ingin Anda bicarakan?”
“Pertama-tama, ini mengenai masa depan Noelle dan Keluarga Eryngium.”
Yang Mulia menjabarkan hasil akhir dari insiden tempo hari kepadaku.
Sesuai rencana awal, diputuskan bahwa Noelle akan bertunangan dengan
Bruno. Sedangkan untuk Keluarga Eryngium, mereka ditugaskan untuk tetap berada
di faksi Bangsawan sebagai mata-mata bagi faksi Kerajaan.
Jika hukuman bagi Noelle adalah sebuah ganjaran yang setimpal, mengenai
hukuman untuk pihak keluarganya, aku tidak bisa menahan rasa kasihan.
Pada saat upacara pertunangan Yang Mulia, aku berkesempatan menyapa
banyak bangsawan di sana, dan dari pengalaman singkat itu aku menyadari bahwa
interaksi antarbangsawan hanyalah ajang saling tikam di balik senyuman.
Menyatukan faksi Bangsawan sambil bertindak sebagai mata-mata faksi Kerajaan...
Membayangkannya saja sudah membuat perutku mual.
“Mengenai insiden ini, aku sekali lagi ingin mengucapkan terima kasih
padamu, Arl.”
“Ah tidak, saya tidak melakukan apa-apa.”
“Tidak perlu merendah begitu. Dengan menempatkan Keluarga Eryngium di
pusat kekuatan faksi Bangsawan, keamanan keluarga kerajaan telah terjamin.
Terlebih lagi, hubungan persahabatan dengan Teokrasi sekarang menjadi jauh
lebih solid dari sebelumnya.”
Saat mendengar penjelasan seperti itu, rasanya skalanya jadi membengkak
ke mana-mana, padahal aku cuma mengusir Noelle.
Lebih baik aku menerima ucapan terima kasihnya dengan lapang dada.
Begitu aku menerimanya, Yang Mulia pun mengganti topik pembicaraan.
“Arl. Kau mungkin juga sudah punya firasat, tapi banyak bangsawan yang
memiliki niat yang sama dengan Keluarga Eryngium, yaitu ingin menjodohkan putri
mereka denganmu. Dan inilah buktinya.”
Sembari berkata demikian, Yang Mulia mengeluarkan setumpuk dokumen
setebal kurang lebih sepuluh surat dari tas kulit cokelatnya dan menyerahkannya
padaku.
“Ini adalah daftar para putri bangsawan yang tertarik untuk menjadi
tunanganmu.”
Benar saja, persis seperti penjelasan Yang Mulia, kertas-kertas tersebut
berisi lukisan potret para gadis bangsawan beserta biodata singkat mereka.
“Bagaimana keputusanmu?”
Mau tidak mau aku segera memeriksa sekilas profil para kandidat tunangan
tersebut.
Dari yang kulihat, separuhnya adalah para gadis bangsawan normal,
sementara separuh sisanya adalah gadis bangsawan bermasalah yang tipenya kurang
lebih sama dengan Noelle.
Apa pun itu, bagiku keberadaan Rena, Christa, dan Thea saja sudah lebih
dari cukup.
“Tolong anggap saja penawaran ini tidak pernah ada.”
“Begitu ya. Hanya saja, tawaran perjodohan semacam ini kemungkinan besar
akan terus berdatangan tanpa henti.”
Terlepas dari rumor konyol tentang seleraku pada gadis bangsawan yang
bermasalah, posisi Keluarga Clover saat ini memang sangat strategis dan
menggiurkan.
Seperti kata Yang Mulia, tawaran perjodohan pasti tidak akan ada
habisnya. Di saat aku memegangi kepalaku dengan kedua tangan meratapi masalah
baru ini, Yang Mulia tertawa kecil.
“Arl. Kali ini aku yang punya satu tawaran untukmu.”
“T-Tawaran, maksud Anda?”
“Aku bisa saja mengeluarkan perintah atas namaku, memerintahkan para
bangsawan untuk menghentikan pengajuan tawaran perjodohan ke Keluarga Clover,
tapi...”
“Tolong, saya mohon dengan sangat...!”
“B-Begitu ya...”
Mungkin karena kesungguhanku telah tersampaikan, Yang Mulia sempat
menunjukkan senyum yang sedikit kaku selama sepersekian detik.
Akan tetapi, Yang Mulia langsung mengembalikan ekspresinya dan
melanjutkan perkataannya.
“Kalau begitu sebagai penutup, bisakah kau menceritakan bagaimana
keadaan Mary selama di sini?”
Pertanyaan soal bagaimana keadaannya itu pastilah bermaksud menanyakan
apakah Mary berhasil bersantai.
“Ya. Mary terlihat sangat bahagia setiap harinya. Terutama dengan Rena,
mereka berdua kini jadi sangat akrab.”
Aku rasa tidak berlebihan jika mengatakan selama menginap di sini, waktu
yang Mary habiskan bersama Rena jauh lebih banyak ketimbang denganku.
“Jika Yang Mulia melihatnya secara langsung, Anda pasti akan terkejut.”
“Syukurlah kalau begitu.”
Sepertinya laporanku membuatnya merasa lega, Yang Mulia pun mengembuskan
napas panjang.
“Dengan ini urusanku sudah selesai, apakah ada sesuatu yang ingin kau
sampaikan padaku, Arl?”
“Jika demikian, bolehkah saya mengetahui kapan Anda berencana untuk
kembali?”
“Oh, mengenai itu, rencananya aku akan berangkat besok siang.”
Ternyata lebih cepat dari dugaanku.
“Ada masalah?”
“Tidak, sebenarnya masalah utamanya ada di besok siang itu.”
Aku pun menceritakan pada Yang Mulia mengenai acara yang akan
dilangsungkan besok.
“—Ghk, jadi begitu ya.”
“Benar. Seandainya memungkinkan, saya sangat berharap Yang Mulia
bersedia menghadirinya.”
“Apa yang kau bicarakan, Arl. Tentu saja aku akan menghadirinya.”
“Apakah Anda benar-benar yakin?”
“Ya. Apalagi ini menyangkut momen bersejarah bagi temanku sendiri.”
Yang Mulia tersenyum masam sambil bergumam kalau ia sampai absen di
acara ini, entah ceramah macam apa yang akan diterimanya dari Mary.
Melihat senyuman Yang Mulia, tekadku untuk menjadikan acara besok
sebagai momen yang tak terlupakan semakin berkobar.
※※※
Keesokan harinya, sesudah waktu tengah hari.
Di halaman kediaman Clover yang hari-harinya biasa sepi, kini dipenuhi
oleh para penduduk desa yang datang dengan balutan pakaian terbaik mereka.
Sambil menatap pemandangan itu dari balik jendela, aku merasakan detak
jantungku perlahan mulai berpacu.
“Arl-san. Persiapan Rena-san sudah selesai.”
“Baiklah.”
Aku pun keluar dari kamar ditemani oleh Christa yang datang memanggilku,
lalu segera melangkah menuju tempat Rena berada.
Sesampainya di sana, siluet belakang tunangan tercintaku yang mengenakan
gaun serba putih bersih tertangkap oleh pandanganku.
“Rena. Ini aku.”
Begitu namanya kupanggil, Rena perlahan membalikkan badannya
menghadapku, dan dengan rona kemerahan yang menghiasi kedua pipinya, dia
berkata.
“Arl. I-Itu, bagaimana penampilanku...?”
“Ya. Kamu sangat cantik.”
Sejujurnya aku ingin memberinya pujian dengan kosakata yang jauh lebih indah.
Namun, dihadapkan pada kecantikan Rena yang memukau seperti ini, kepalaku tidak
mampu menyusun kata-kata seperti itu.
“Anu, Arl.”
“A-Ada apa?”
“Arl juga terlihat sangat gagah ‘lho.”
“—Ghk.”
Mendapat pujian terkait rambutku yang disisir rapi ke belakang dan
setelan tuksedo biru tua yang kukenakan, aku refleks memalingkan muka dari Rena
karena malu.
Tiba-tiba, mataku bertemu dengan mata Thea yang sedang membantu
persiapan Rena.
“Arl-dono. Tolong kuatkan dirimu. Kalau dari sekarang saja sudah seperti
itu, nanti aku yang akan repot”
“Benar kata Thea-san. Aku juga bisa ikut repot nanti.”
Menyusul teguran Thea, Christa pun ikut memberikan dorongan keras
padaku.
Seperti kata mereka berdua, aku tidak boleh bertingkah memalukan seperti
ini dari sekarang.
Karena untuk acara seperti ini, aku masih punya 'dua kali' lagi di masa depan.
Mendapat teguran keras sekaligus penyemangat dari mereka berdua, aku
kembali mengalihkan pandanganku pada Rena.
“Rena. Ayo kita jadikan acara ini sebagai upacara pertunangan yang terbaik.”
“—Ghk, tentu...!”
Senyuman manis yang terpancar dari wajah Rena, seketika memancing senyum
di wajah Thea dan Christa juga.
“Kalau begitu, mari kita bersiap menuju ke sana.”
Mendengar arahan Christa, aku mengulurkan tanganku untuk membantu Rena
berdiri, lalu dengan lengan yang saling bertautan, kami melangkah keluar menuju
lorong.
“Arl.”
“Ya, ada apa?”
“Mulai sekarang, mari kita semua hidup bahagia bersama-sama, ya.”
Sambil menyuarakan kata-kata itu, Rena menoleh ke belakang untuk menatap
Christa dan Thea yang mengikuti kami.
Bahkan di hari istimewanya ini, dia masih saja bisa bersikap begitu
lembut dan memikirkan orang lain. Yah, justru itulah sosok heroine yang
membuatku jatuh cinta.
Sama sepertinya, aku pun menatap Rena, Christa, dan Thea, lalu menjawab.
“Tentu. Kita semua pasti akan hidup bahagia.”
Setelah kembali mengikrarkan sumpah untuk mengarungi masa depan yang
bahagia bersama para heroine berhargaku, kami pun tiba di depan pintu
masuk kediaman.
Di balik pintu ini, Yang Mulia dan seluruh tamu undangan yang kulihat
dari jendela tadi sedang menunggu kehadiran kami.
“Kalau begitu, ayo kita pergi.”
“Ya.”
Setelah saling melempar senyuman dan anggukan sebagai tanda kesiapan,
kami pun membuka pintu itu dan melangkah menuju masa depan yang cerah.
Kata Penutup
Halo bagi kalian yang baru pertama kali membaca karya saya, dan lama
tidak berjumpa bagi kalian yang mengikuti cerita ini sejak dari versi WEB. Saya
9bumi.
Ditulis 9bumi dan dibaca ‘Kubumi’.
Jika ditulis menggunakan Kanji, jadinya ‘Kyuubun’. Ini adalah nama pena
sederhana yang hanya menggabungkan angel number saya yaitu ‘Sembilan’
(Kyuu) dan karakter untuk ‘Kalimat/Tulisan’ (Bun). Mohon perkenalannya mulai
sekarang.
Nah, cukup sekian untuk perkenalannya, sekarang saya ingin menyinggung
sedikit tentang karya ini (Peringatan: mengandung spoiler, jadi
sangat disarankan untuk membacanya setelah menyelesaikan ceritanya).
Bagaimana pendapat kalian setelah membaca karya ini?
Pertama-tama, sepertinya saya bisa mendengar suara-suara protes yang
bilang, “Di judulnya ada kata Villainess, tapi kok Villainess-nya tidak muncul
sama sekali?” (Rena hanya berpura-pura menjadi Villainess, dan Noelle tidak
masuk dalam definisi Villainess menurut Arl, jadi dia tidak dihitung).
Sebenarnya, pada tahap sebelum diunggah ke WEB—dengan kata lain, pada
tahap penyusunan alur—Rena benar-benar seorang Villainess tulen.
Rencana awalnya, saya ingin menulis cerita di mana Rena sang Villainess
datang ke Keluarga Clover, lalu Arl harus bersusah payah untuk memangkas jarak
dengannya sedikit demi sedikit.
Lalu, mengapa saya tidak jadi melakukannya?
Bagaimana caranya menyadarkan seorang Villainess?
Saya tidak bisa menemukan jawaban untuk pertanyaan itu. Intinya, ini
semua karena kurangnya kemampuan saya.
Setelah itu, saya melakukan berbagai trial and error hingga
ceritanya menjadi bentuk yang sekarang, tapi entah kenapa saya kurang ingat
bagaimana prosesnya sampai bisa jadi begini.
Oleh karena itu, pembahasan tentang hal ini kita akhiri saja sampai di
sini (dihentikan paksa).
Selanjutnya, mari kita bicarakan tentang masing-masing heroine.
Pertama, Rena.
Arl pernah bilang kalau dia menyukai wanita yang keras kepala namun
setia, dan hal itu juga berlaku untuk saya.
Ditambah lagi, sifatnya yang tidak segan-segan mengorbankan diri sendiri
sangatlah menawan dan benar-benar tipe saya.
Yah, intinya, saya murni menulis karakter wanita yang menjadi tipe ideal
saya. Makanya sudah pasti saya sangat menyukainya.
Selanjutnya, Christa.
Karakter gadis baik-baik yang sangat tipikal. Sejujurnya, saat masih
ditulis di versi WEB, rasa sayang saya padanya sedikit lebih rendah
dibandingkan dengan dua heroine lainnya. Namun, sekarang berbeda.
Saya benar-benar ingin menjadikannya anak perempuan saya!
Saat sketsa ilustrasinya pertama kali keluar, saya langsung berpikir
begitu. Saya sangat mengerti kenapa Papa Christoph begitu memanjakannya.
Christoph, aku iri padamu. Oh ya, dari sudut pandang seorang ayah, saya jadi
tidak ingin melihat adegan di mana ia bermesraan dengan Arl (hei!).
Dan yang terakhir, Thea.
Si gadis polos yang otaknya dipenuhi otot. Saya rasa tipe ini lumayan
mengundang pro dan kontra soal selera. Kenyataannya, saat di versi WEB pun
respons para pembaca juga begitu.
Omong-omong, saya sangat menyukainya. Bukankah dia benar-benar
menggemaskan?
Arl pernah bilang bahwa jika ini di kehidupan masa lalunya, ia pasti
sudah melamarnya. Kata-kata itu adalah perasaan saya yang sesungguhnya.
Demikianlah, saya telah menyampaikan perasaan menggebu-gebu (?) saya
terhadap masing-masing heroine.
Nah, sepertinya ini saatnya beralih ke ucapan terima kasih.
Mengingat ini adalah karya debut saya, awalnya saya ragu apakah saya
sanggup menulis Kata Penutup sampai lima halaman, tapi ternyata saya bisa
menuliskannya juga ya.
Rasanya saya masih sanggup menulis dua atau tiga halaman lagi dengan
santai, tapi mari kita beralih ke ucapan terima kasih.
Dalam menyelesaikan karya ini, saya telah menerima bantuan dari banyak
pihak.
Pertama-tama, kepada Editor-sama.
Terima kasih telah memungut penulis seperti saya. Saya benar-benar
terkejut saat pertama kali dihubungi. Lalu, karena ini adalah proses penerbitan
buku pertama saya, saya yakin telah banyak merepotkan Anda. Saya benar-benar
berterima kasih. Jika memungkinkan, saya berharap kita bisa terus bekerja sama
untuk waktu yang lama.
Ah, saya lupa menyampaikannya. Sebenarnya, karya ini berhasil meraih
Penghargaan Khusus di Kakuyomu Contest 10, sehingga saya bisa mendapatkan
kesempatan untuk menerbitkannya (Kenapa nggak bilang dari tadi!).
Selanjutnya, kepada Kuzumachi Aoru-sama yang telah bertugas sebagai
ilustrator karya ini.
Katanya ini adalah pengalaman pertama Anda mengerjakan genre komedi
romantis fantasi, tapi itu bohong, ‘kan? Terima kasih banyak atas ilustrasi
yang sangat menawan sampai-sampai membuat saya berpikir seperti itu.
Sekali lagi, jujur saja, saat ceritanya masih berjalan di WEB saya
sempat beberapa kali ragu apakah cerita ini benar-benar menarik. Tapi tepat di
detik saat desain karakternya selesai dibuat, saya langsung tersenyum lebar
saat membacanya. Kekuatan sebuah ilustrasi memang luar biasa. Terima kasih
banyak.
Berikutnya, kepada Proofreader-sama dan Designer-sama.
Terima kasih banyak. Tanpa Proofreader-sama, saya pasti akan
menyajikan tulisan yang berantakan kepada para pembaca. Saya memang sadar kalau
bahasa Jepang saya kurang bagus... saya akan berintrospeksi diri.
Untuk Designer-sama, terima kasih atas logo karya ini yang sangat
indah. Saya yakin Anda pasti cukup kesulitan dalam proses pembuatannya. Sekali
lagi, terima kasih banyak.
Dan yang terakhir, kepada para pembaca sekalian yang telah berkenan
mengambil dan membaca karya ini.
Terima kasih banyak. Saya sangat bahagia jika karya ini, sebagai salah
satu bentuk hiburan, mampu menghadirkan senyuman bagi kalian semua walau hanya
sedikit.
Untuk ke depannya, demi mempersiapkan diri pada kesempatan kita bertemu
lagi di suatu tempat, saya akan terus berusaha keras memperbaiki diri agar bisa
memberikan karya yang lebih menghibur bagi kalian semua.
Dengan ini, izinkan saya menutup Kata Penutup ini. Terima kasih banyak.
9bumi



Post a Comment