Prologue
Reinkarnasi Penggemar Nona Villainess
Aku menyukai
Nona Villainess yang sering muncul
di dalam
game otome.
Kalian mungkin
bertanya-tanya apa yang sedang kubicarakan, tapi tolong dengarkan, karena
ini adalah hal yang penting.
Sekali lagi, aku menyukai Nona Villainess.
Terutama tipe yang sering
muncul di game otome, tipe yang
merundung sang heroine agar
tunangannya tidak direbut.
Tipe seperti itu sangatlah bagus.
Bagiku, mereka adalah permata mentah dari heroine yang paling sempurna.
Memang benar
ada banyak masalah
dalam tingkah laku dan
ucapan mereka, dan aku juga bisa mengerti pendapat beberapa orang yang merasa
tidak bisa bersimpati pada mereka.
Akan tetapi, semua tindakan itu mereka
lakukan murni demi sang tunangan. Pada dasarnya mereka
itu sangat setia, hanya
saja bentuk kesetiaannya itu terlalu berlebihan.
Jika kita bisa membalas perasaan
mereka, mereka pasti
akan selalu mencintai kita seumur hidup.
Selain itu, mereka selalu
memiliki pendirian yang teguh dan tangguh dalam segala aspek.
Setia dan tangguh—itulah syarat
heroine terbaik bagiku,
selain Nona Villainess, aku tidak
tahu apakah ada yang mampu memenuhi syarat karakteristik tersebut.
Masih banyak hal
yang ingin kubicarakan, tapi mari kita sudahi
pembahasan tentang preferensiku ini dan masuk ke
topik utama.
Ada alasan mengapa
aku membicarakan tentang
Nona Villainess di awal.
Kesimpulannya, aku kehilangan nyawaku
karena preferensiku itu.
Saat itu, aku hanyalah
seorang mahasiswa laki-laki
yang suram. Ketika aku hendak pergi ke kampus setelah
semalaman penuh maraton
anime, kakiku terpeleset di
jembatan penyeberangan, dan kepalaku pecah
terbentur.
Tentu saja,
genre anime yang kutonton saat itu berisi tentang
Nona Villainess.
Benar-benar akhir yang kualami
akibat ulahku sendiri, tetapi tidak ada penyesalan sama
sekali saat aku menghadapi
kematian.
Namun entah mengapa, aku bereinkarnasi ke dunia lain dengan ingatan dari kehidupan
lamaku.
Aku bereinkarnasi sebagai
putra sulung Keluarga Margrave Clover yang
memerintah bagian selatan Kerajaan Suci
Protea. Namaku adalah Arl.
Penampilanku, sama seperti
di kehidupan sebelumnya,
seorang remaja laki-laki biasa berambut hitam dan bermata hitam. Tahun ini aku menginjak
usia lima belas tahun.
Aku belum menemukan kemampuan cheat yang sering ada di cerita reinkarnasi. Dan kemungkinan
besar, aku tidak akan pernah membangkitkan hal semacam itu ke depannya.
Meskipun aku tidak memiliki
saudara, kedua orang tuaku
pada dasarnya sangat baik kepadaku, aku benar-benar diberkahi dengan keluarga
yang harmonis.
Lalu, jika kalian
hanya mendengar cerita
sampai di sini,
kalian mungkin berpikir kalau aku mati konyol tapi malah mendapat
kehidupan yang enak.
Tenang saja. Kenyataan
itu tidak semanis
kelihatannya. “Arl. Kau tahu ini apa?”
Di meja makan Keluarga
Clover.
Ayahku, Alan Clover, memperlihatkan sebuah amplop kepadaku.
Pada amplop
tersebut, terdapat segel lilin berbentuk bunga Protea yang merupakan lambang dari keluarga Kerajaan
Kerajaan Suci. Dengan kata lain, itu adalah dokumen
resmi dari negara.
Sebagai dokumen resmi
yang diperlihatkan kepadaku—yang belum mewarisi posisi
kepala keluarga—hanya ada satu hal yang terlintas di pikiranku.
“Apakah ini surat panduan
pendaftaran ke Akademi Bangsawan?”
“Ya, tepat sekali.”
Akademi Bangsawan adalah fasilitas
seperti sekolah tempat anak-anak bangsawan Kerajaan Suci
(dari keluarga Baron ke atas) akan belajar selama tiga tahun, dari usia enam
belas hingga delapan belas tahun.
Aku, yang saat ini berusia lima belas tahun,
dijadwalkan untuk masuk akademi tersebut tahun depan.
“Arl. Aku tanya sekali lagi, kau tahu ‘kan apa hal yang paling
penting di Akademi Bangsawan?”
“...Iya.”
Aku menjawab pertanyaan Alan dengan nada lesu.
Ibuku, Lucy yang mendengar tanggapanku itu menatap tajam ke arah Alan yang duduk di
sebelahnya.
“Alan. Sikap macam apa itu?”
“Eh, itu,
um...”
“Jangan khawatir.
Berbeda dengan Alan, kalau itu Arl pasti
akan baik-baik saja.”
“Tidak, sebagai anggota
keluarga Clover—“ “Apa kamu
mengatakan sesuatu?”
“Tidak, bukan apa-apa...”
Alan tidak bisa membalas
apa pun di bawah tekanan
Lucy. Seperti yang kalian lihat, Alan sang kepala keluarga,
sepenuhnya tunduk
di bawah kendali
istrinya, Lucy.
“Pokoknya. Demi mencari jodoh di Akademi
Bangsawan nanti, perbaikilah dirimu sedikit demi sedikit dari sekarang.”
“—Saya mengerti.”
Mendengar kata ‘mencari jodoh’,
aku mengangguk dengan nada yang lebih lesu dari
sebelumnya.
※※※
Keluarga Clover tempatku
dilahirkan itu ‘spesial’ dalam artian yang
buruk.
Meskipun wilayah
kami berada di sepanjang perbatasan negara, populasi kami kurang dari dua ribu jiwa, tidak sampai
satu persen dari total penduduk negara ini.
Hal ini dikarenakan Hutan Agung yang
berfungsi sebagai perbatasan negara adalah
habitat bagi kawanan monster.
Ditambah lagi, Populasi yang sedikit itu juga tidak
berkumpul di satu tempat. Mereka tersebar dan membentuk desa-desa
pertanian di wilayah yang luasnya tidak masuk akal ini.
Selain area permukiman, yang ada hanyalah
alam liar yang subur. Ini adalah
wilayah yang sangat pantas disebut
sebagai pelosok yang sangat terpencil.
Ditambah lagi, di kalangan bangsawan, keluarga kami dijuluki ‘Keluarga Margrave Hanya sebatas Gelar’.
Kerajaan Suci
Protea menerapkan sistem aristokrasi (kebangsawanan), dan gelar Margrave
diberikan kepada keluarga
yang memimpin wilayah di perbatasan negara sebagai penjaga wilayah tersebut.
Dalam urutan
hierarki, posisi ini berada tepat di bawah Keluarga Kerajaan, Duke, dan Marquis. Tergantung pada
wilayah yang dikuasai,
mereka terkadang memiliki
kekuasaan yang melebihi seorang Marquis.
Akan tetapi,
kekuasaan yang dimiliki
Keluarga Clover paling- paling hanya setara dengan Baron
atau di bawah Viscount—
tidak, bahkan
bisa dibilang hampir setara dengan
keluarga Baron.
Alasannya
terletak pada tugas
penjagaan perbatasan yang diberikan kepada Keluarga Clover.
Perbatasan yang dijaga oleh Keluarga Clover
adalah Hutan Agung Flawable yang terletak di selatan wilayah
kami.
Tempat ini adalah habitat monster. Jika ada
yang mencoba melewati rute ini untuk pergi ke negara tetangga─Kerajaan Moroheiya─mereka akan selalu diiringi
oleh bahaya serangan monster.
Jika Kerajaan Moroheiya ingin melancarkan
serangan ke Kerajaan Suci dan memaksakan pasukan
mereka melewati
rute ini, sudah pasti mereka akan kehilangan sebagian besar
kekuatan tempurnya sebelum tiba di tempat kami.
Oleh karena itu, tidak seperti perbatasan yang dijaga oleh keluarga Margrave
lainnya, tidak ada kekhawatiran wilayah ini akan segera berubah menjadi
medan perang saat hubungan antarnegara memburuk.
Lalu, mungkin
ada yang berpikir
bahwa sebagai gantinya, ada bahaya monster yang akan menyerang masuk ke dalam negeri.
Sayangnya, kemungkinan itu juga hampir
tidak ada. Alasan pastinya tidak diketahui, tetapi
selama jumlah mereka
dikurangi secara berkala,
monster tidak pernah keluar dari Hutan Agung untuk menyerang pemukiman
warga.
Berdasarkan catatan yang ada, situasi
yang sama ini telah
berlangsung selama hampir seribu tahun. Oleh karena itu, kami hampir
tidak perlu khawatir
tentang perang, maupun serangan monster.
Dana bantuan dari negara yang jauh lebih
sedikit
dibandingkan keluarga Margrave lainnya juga menjadi bukti nyata
yang sangat masuk akal jika keluarga kami disebut 'Margrave Hanya sebatas
Gelar'.
Maka dari itu,
tidak ada keluarga bangsawan yang ingin menjalin hubungan dengan Keluarga
Clover, sehingga tidak ada kesempatan─tempat
pertemuan─bagi kami untuk diundang ke lingkaran pergaulan sosial bangsawan.
Singkatnya, Akademi
Bangsawan adalah satu-satunya tempat pertemuan yang tersisa untukku.
Sampai di sini, kalian
pasti mengerti maksud
perkataanku di awal bahwa
kenyataan itu tidaklah manis.
“Aah~, aku tidak mau mencari
jodoh...!”
Padahal aku ingin menikmati
kehidupan di Ibukota
Kerajaan selama masa sekolah di Akademi Bangsawan, tapi kenapa
harus begini—
“Lagi pula, mencari
jodoh bagi orang
sepertiku itu ibarat
game yang
mustahil, tahu...!”
Pada dasarnya, banyak anak-anak bangsawan yang menikah bersamaan
dengan kelulusan mereka dari Akademi Bangsawan. Terlebih lagi, sudah menjadi
rahasia umum
bahwa sebagian bangsawan berpengaruh sudah memiliki tunangan sebelum mereka masuk
akademi.
Bagi diriku sebagai seorang otaku yang seumur hidup tidak pernah punya pacar, berburu
jodoh di lingkungan seperti itu
rintangannya terlalu tinggi.
Akan tetapi,
bukan berarti aku bisa diam saja tanpa
melakukan apa-apa.
Jika aku tidak bisa menemukan
pasangan, yang menantiku adalah pertunangan dengan wanita jahat yang
memiliki masalah kepribadian tingkat tinggi.
Kenyataannya, ayahnya
Alan sepertinya mengalami
hal itu.
Umurnya memendek
akibat stres menghadapi istri yang
terus-menerus berselingkuh.
Pantas saja Alan
begitu setia pada Lucy, tidak pernah mengeluh, dan bahkan rela tunduk padanya. Bagi Alan di masa Akademi
Bangsawan dulu, Lucy pasti sudah seperti
seorang dewi.
Pertanyaannya, Apakah
sosok seperti itu akan muncul di hadapanku...? Apa tidak ada ya,
Nona Villainess yang
diasingkan ke tempat
ini...
※※※
Akhirnya
hari ini tiba juga.
“Kalau begitu Tuan Muda,
berhati-hatilah di jalan.”
“Ya, aku berangkat. Bertrand, tolong sampaikan salamku pada Ayahanda dan Ibunda.”
Aku mengucapkan perpisahan pada Bertrand
(pria paruh
baya yang keren), kepala
pelayan yang mengantarku sampai ke Ibukota Kerajaan.
Lalu, aku melangkahkan kaki memasuki kawasan
perumahan mewah para bangsawan pusat, tempat Akademi Bangsawan
berada.
Kemudian, aku berhenti tepat di depan sebuah bangunan berbahan batu bata yang tampak
bersejarah.
Apakah neraka pencarian jodohku akan dimulai dari sini?
Dengan perasaan
tragis, aku melangkahkan kaki memasuki area
Akademi Bangsawan. Dan pada saat itu—
“Hei. Kau itu hanya bangsawan kelas bawah, tolong
jangan bersikap terlalu akrab dengan Yang Mulia!”
Aku menemukan pertemuan takdirku.



Post a Comment