NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Henkyou Kizoku ni Tensei shita Akuyaku Reijō Suki ga Volume 1 Prolog

Prologue

Reinkarnasi Penggemar Nona Villainess


Aku menyukai Nona Villainess yang sering muncul di dalam

game otome.

Kalian mungkin bertanya-tanya apa yang sedang kubicarakan, tapi tolong dengarkan, karena ini adalah hal yang penting.

 

Sekali lagi, aku menyukai Nona Villainess.

Terutama tipe yang sering muncul di game otome, tipe yang merundung sang heroine agar tunangannya tidak direbut.

 

Tipe seperti itu sangatlah bagus. Bagiku, mereka adalah permata mentah dari heroine yang paling sempurna.

Memang benar ada banyak masalah dalam tingkah laku dan ucapan mereka, dan aku juga bisa mengerti pendapat beberapa orang yang merasa tidak bisa bersimpati pada mereka.

 

Akan tetapi, semua tindakan itu mereka lakukan murni demi sang tunangan. Pada dasarnya mereka itu sangat setia, hanya saja bentuk kesetiaannya itu terlalu berlebihan.

 

Jika kita bisa membalas perasaan mereka, mereka pasti akan selalu mencintai kita seumur hidup.


Selain itu, mereka selalu memiliki pendirian yang teguh dan tangguh dalam segala aspek.

 

Setia dan tangguh—itulah syarat heroine terbaik bagiku, selain Nona Villainess, aku tidak tahu apakah ada yang mampu memenuhi syarat karakteristik tersebut.

Masih banyak hal yang ingin kubicarakan, tapi mari kita sudahi pembahasan tentang preferensiku ini dan masuk ke topik utama.

 

Ada alasan mengapa aku membicarakan tentang Nona Villainess di awal.

 

Kesimpulannya, aku kehilangan nyawaku karena preferensiku itu.

Saat itu, aku hanyalah seorang mahasiswa laki-laki yang suram. Ketika aku hendak pergi ke kampus setelah

semalaman penuh maraton anime, kakiku terpeleset di

jembatan penyeberangan, dan kepalaku pecah terbentur.

Tentu saja, genre anime yang kutonton saat itu berisi tentang Nona Villainess.

 

Benar-benar akhir yang kualami akibat ulahku sendiri, tetapi tidak ada penyesalan sama sekali saat aku menghadapi

kematian.

Namun entah mengapa, aku bereinkarnasi ke dunia lain dengan ingatan dari kehidupan lamaku.


Aku bereinkarnasi sebagai putra sulung Keluarga Margrave Clover yang memerintah bagian selatan Kerajaan Suci

Protea. Namaku adalah Arl.

 

Penampilanku, sama seperti di kehidupan sebelumnya,

seorang remaja laki-laki biasa berambut hitam dan bermata hitam. Tahun ini aku menginjak usia lima belas tahun.

 

Aku belum menemukan kemampuan cheat yang sering ada di cerita reinkarnasi. Dan kemungkinan besar, aku tidak akan pernah membangkitkan hal semacam itu ke depannya.

Meskipun aku tidak memiliki saudara, kedua orang tuaku pada dasarnya sangat baik kepadaku, aku benar-benar diberkahi dengan keluarga yang harmonis.

 

Lalu, jika kalian hanya mendengar cerita sampai di sini, kalian mungkin berpikir kalau aku mati konyol tapi malah mendapat kehidupan yang enak.

 

Tenang saja. Kenyataan itu tidak semanis kelihatannya. “Arl. Kau tahu ini apa?”

Di meja makan Keluarga Clover.

Ayahku, Alan Clover, memperlihatkan sebuah amplop kepadaku.

Pada amplop tersebut, terdapat segel lilin berbentuk bunga Protea yang merupakan lambang dari keluarga Kerajaan


Kerajaan Suci. Dengan kata lain, itu adalah dokumen resmi dari negara.

 

Sebagai dokumen resmi yang diperlihatkan kepadaku—yang belum mewarisi posisi kepala keluarga—hanya ada satu hal yang terlintas di pikiranku.

“Apakah ini surat panduan pendaftaran ke Akademi Bangsawan?”

“Ya, tepat sekali.”

Akademi Bangsawan adalah fasilitas seperti sekolah tempat anak-anak bangsawan Kerajaan Suci (dari keluarga Baron ke atas) akan belajar selama tiga tahun, dari usia enam belas hingga delapan belas tahun.

 

Aku, yang saat ini berusia lima belas tahun, dijadwalkan untuk masuk akademi tersebut tahun depan.

 

“Arl. Aku tanya sekali lagi, kau tahu ‘kan apa hal yang paling penting di Akademi Bangsawan?”

“...Iya.”

 

Aku menjawab pertanyaan Alan dengan nada lesu.

Ibuku, Lucy yang mendengar tanggapanku itu menatap tajam ke arah Alan yang duduk di sebelahnya.

 

“Alan. Sikap macam apa itu?”


“Eh, itu, um...”

“Jangan khawatir. Berbeda dengan Alan, kalau itu Arl pasti akan baik-baik saja.”

“Tidak, sebagai anggota keluarga Clover—“ “Apa kamu mengatakan sesuatu?”

“Tidak, bukan apa-apa...”

Alan tidak bisa membalas apa pun di bawah tekanan Lucy. Seperti yang kalian lihat, Alan sang kepala keluarga,

sepenuhnya tunduk di bawah kendali istrinya, Lucy.

“Pokoknya. Demi mencari jodoh di Akademi Bangsawan nanti, perbaikilah dirimu sedikit demi sedikit dari sekarang.”

 

“—Saya mengerti.”

Mendengar kata ‘mencari jodoh’, aku mengangguk dengan nada yang lebih lesu dari sebelumnya.

 

※※※

 

Keluarga Clover tempatku dilahirkan itu ‘spesial’ dalam artian yang buruk.


Meskipun wilayah kami berada di sepanjang perbatasan negara, populasi kami kurang dari dua ribu jiwa, tidak sampai satu persen dari total penduduk negara ini.

 

Hal ini dikarenakan Hutan Agung yang berfungsi sebagai perbatasan negara adalah habitat bagi kawanan monster.

Ditambah lagi, Populasi yang sedikit itu juga tidak berkumpul di satu tempat. Mereka tersebar dan membentuk desa-desa pertanian di wilayah yang luasnya tidak masuk akal ini.

 

Selain area permukiman, yang ada hanyalah alam liar yang subur. Ini adalah wilayah yang sangat pantas disebut sebagai pelosok yang sangat terpencil.

 

Ditambah lagi, di kalangan bangsawan, keluarga kami dijuluki ‘Keluarga Margrave Hanya sebatas Gelar’.

Kerajaan Suci Protea menerapkan sistem aristokrasi (kebangsawanan), dan gelar Margrave diberikan kepada keluarga yang memimpin wilayah di perbatasan negara sebagai penjaga wilayah tersebut.

 

Dalam urutan hierarki, posisi ini berada tepat di bawah Keluarga Kerajaan, Duke, dan Marquis. Tergantung pada

wilayah yang dikuasai, mereka terkadang memiliki kekuasaan yang melebihi seorang Marquis.

Akan tetapi, kekuasaan yang dimiliki Keluarga Clover paling- paling hanya setara dengan Baron atau di bawah Viscount—


tidak, bahkan bisa dibilang hampir setara dengan keluarga Baron.

 

Alasannya terletak pada tugas penjagaan perbatasan yang diberikan kepada Keluarga Clover.

Perbatasan yang dijaga oleh Keluarga Clover adalah Hutan Agung Flawable yang terletak di selatan wilayah kami.

 

Tempat ini adalah habitat monster. Jika ada yang mencoba melewati rute ini untuk pergi ke negara tetangga─Kerajaan Moroheiya─mereka akan selalu diiringi oleh bahaya serangan monster.

 

Jika Kerajaan Moroheiya ingin melancarkan serangan ke Kerajaan Suci dan memaksakan pasukan mereka melewati

rute ini, sudah pasti mereka akan kehilangan sebagian besar kekuatan tempurnya sebelum tiba di tempat kami.

 

Oleh karena itu, tidak seperti perbatasan yang dijaga oleh keluarga Margrave lainnya, tidak ada kekhawatiran wilayah ini akan segera berubah menjadi medan perang saat hubungan antarnegara memburuk.

 

Lalu, mungkin ada yang berpikir bahwa sebagai gantinya, ada bahaya monster yang akan menyerang masuk ke dalam negeri.

Sayangnya, kemungkinan itu juga hampir tidak ada. Alasan pastinya tidak diketahui, tetapi selama jumlah mereka


dikurangi secara berkala, monster tidak pernah keluar dari Hutan Agung untuk menyerang pemukiman warga.

 

Berdasarkan catatan yang ada, situasi yang sama ini telah berlangsung selama hampir seribu tahun. Oleh karena itu, kami hampir tidak perlu khawatir tentang perang, maupun serangan monster.

 

Dana bantuan dari negara yang jauh lebih sedikit

dibandingkan keluarga Margrave lainnya juga menjadi bukti nyata yang sangat masuk akal jika keluarga kami disebut 'Margrave Hanya sebatas Gelar'.

Maka dari itu, tidak ada keluarga bangsawan yang ingin menjalin hubungan dengan Keluarga Clover, sehingga tidak ada kesempatan─tempat pertemuan─bagi kami untuk diundang ke lingkaran pergaulan sosial bangsawan.

 

Singkatnya, Akademi Bangsawan adalah satu-satunya tempat pertemuan yang tersisa untukku.

Sampai di sini, kalian pasti mengerti maksud perkataanku di awal bahwa kenyataan itu tidaklah manis.

 

“Aah~, aku tidak mau mencari jodoh...!”

Padahal aku ingin menikmati kehidupan di Ibukota Kerajaan selama masa sekolah di Akademi Bangsawan, tapi kenapa

harus begini—


“Lagi pula, mencari jodoh bagi orang sepertiku itu ibarat

game yang mustahil, tahu...!”

 

Pada dasarnya, banyak anak-anak bangsawan yang menikah bersamaan dengan kelulusan mereka dari Akademi Bangsawan. Terlebih lagi, sudah menjadi rahasia umum

bahwa sebagian bangsawan berpengaruh sudah memiliki tunangan sebelum mereka masuk akademi.

 

Bagi diriku sebagai seorang otaku yang seumur hidup tidak pernah punya pacar, berburu jodoh di lingkungan seperti itu rintangannya terlalu tinggi.

Akan tetapi, bukan berarti aku bisa diam saja tanpa

melakukan apa-apa. Jika aku tidak bisa menemukan pasangan, yang menantiku adalah pertunangan dengan wanita jahat yang memiliki masalah kepribadian tingkat tinggi.

Kenyataannya, ayahnya Alan sepertinya mengalami hal itu.

Umurnya memendek akibat stres menghadapi istri yang terus-menerus berselingkuh.

Pantas saja Alan begitu setia pada Lucy, tidak pernah mengeluh, dan bahkan rela tunduk padanya. Bagi Alan di masa Akademi Bangsawan dulu, Lucy pasti sudah seperti seorang dewi.

 

Pertanyaannya, Apakah sosok seperti itu akan muncul di hadapanku...? Apa tidak ada ya, Nona Villainess yang

diasingkan ke tempat ini...


※※※

 

Akhirnya hari ini tiba juga.

 

“Kalau begitu Tuan Muda, berhati-hatilah di jalan.”

“Ya, aku berangkat. Bertrand, tolong sampaikan salamku pada Ayahanda dan Ibunda.”

 

Aku mengucapkan perpisahan pada Bertrand (pria paruh

baya yang keren), kepala pelayan yang mengantarku sampai ke Ibukota Kerajaan.

Lalu, aku melangkahkan kaki memasuki kawasan perumahan mewah para bangsawan pusat, tempat Akademi Bangsawan berada.

 

Kemudian, aku berhenti tepat di depan sebuah bangunan berbahan batu bata yang tampak bersejarah.

 

Apakah neraka pencarian jodohku akan dimulai dari sini?

Dengan perasaan tragis, aku melangkahkan kaki memasuki area Akademi Bangsawan. Dan pada saat itu—

 

“Hei. Kau itu hanya bangsawan kelas bawah, tolong jangan bersikap terlalu akrab dengan Yang Mulia!”

Aku menemukan pertemuan takdirku.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close