NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jinrui Metsubou Sunzen Game Sekai de Jibun wo Gisei ni Teki wo Taoshitetara Volume 2 Chapter 1

Chapter 1

Sang Pahlawan mendambakan sosok sang Legenda


Rumah-rumah terbakar.

Desa kecil yang dikelilingi pegunungan terjal, tempat kami bertahan hidup dengan peternakan sederhana, kini diserbu oleh peri yang jumlahnya tak terhitung.

Lereng gunung yang biasanya hijau, tempat domba dan sapi merumput, kini diwarnai merah oleh api dan percikan darah. Jeritan orang-orang yang dimangsa bergema di kepalaku dari segala penjuru.

Semuanya adalah wajah yang kukenal.

Ibu-ibu tetangga yang biasanya pemarah dan selalu mengomel, kini sedang dikunyah kepalanya oleh peri. Pendeta tua yang biasanya berceramah panjang lebar, kini memohon ampun dengan wajah yang kaku karena ketakutan.

Apakah ini peri?

Apakah ini rasanya dimangsa oleh peri?

"Sial, mereka sudah sampai sejauh ini!"

Tanganku ditarik oleh sahabatku.

Seolah menyeret diriku yang sedang mematung, Kurukutta berlari melewati jalan setapak desa. Setiap kali melihat sosok peri, kami bersembunyi menahan napas di sisi jalan.

Aku merasa sudah tahu segalanya.

Bahkan sebelum aku lahir, aku merasa sudah tahu tentang dunia ini. Karena dunia ini sangat mirip dengan game yang pernah kumainkan.

Monster yang memakan manusia, perang abadi antara peri dan umat manusia.

Dalam game berjudul "Pemburu Peri" (Fairy Hunters) tersebut, pemain akan menjadi seorang pemburu yang menggunakan sihir untuk membunuh peri dan menyelamatkan umat manusia.

Karena telah saling bunuh dengan peri melalui layar monitor dalam game, aku merasa sudah paham betul betapa mengerikannya peri. Aku bahkan sempat menertawakan anak-anak yang ketakutan mendengar cerita tentang peri.

Entah bagaimana, aku terlalu meremehkan situasi.

Aku pikir, sebentar lagi karakter pemain akan muncul, memusnahkan peri, dan menyelamatkan umat manusia. Aku bahkan sempat berkhayal konyol ingin menjadi seorang pemburu dan mengamuk dengan memanfaatkan pengetahuan game-ku.

Semuanya salah.

Aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak tahu betapa mengerikannya peri, tidak tahu rasanya dimangsa oleh peri, dan tidak tahu bagaimana rasanya ketika seseorang kehilangan nyawa.

Ini adalah kenyataan.

Jika kepalamu terpenggal, kau tidak bisa respawn. Dan para penduduk desa yang terus dibantai saat ini adalah orang-orang yang kukenal.

Seolah menertawakan diriku yang masih bermimpi dan bersikap santai, para peri memusnahkan kampung halamanku. Ke mana pun kami lari, peri ada di mana-mana.

Terkepung seperti tikus, kami tidak punya pilihan selain menerjang masuk ke dalam rumah di dekat kami.

Mungkin karena penghuninya sudah dimangsa semua, di dalam rumah tidak ada siapa pun. Kurukutta dengan tergesa-gesa mengunci pintu dari dalam.

"Kita bersembunyi di sini sampai mereka pergi. Pasti para peri itu tidak akan menyadari keberadaan kita."

Kurukutta memaksakan senyum canggung.

Namun, melihat nyawa orang-orang terdekat terus melayang, hanya satu pemikiran yang memenuhi kepalaku.

Aku tidak mau mati.

Hanya pikiran egois itu yang muncul di benakku. Kurukutta memeluk diriku yang menyedihkan itu dengan perlahan.

Pada akhirnya, aku adalah orang bodoh yang luar biasa.

Hanya karena merasa tahu tentang dunia ini lewat game, aku merasa seolah-olah diriku adalah seorang pahlawan. Aku sempat menganggap enteng arti kehidupan.

Setelah kepalsuan itu hancur, yang tersisa hanyalah ketakutan akan kematian yang begitu lumrah.

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa..."

Kehangatan merambat dari tangan Kurukutta yang melingkar di tubuhku. Tangan itu gemetar samar.

Saat kami berdua menahan napas di dalam rumah yang gelap, itulah saatnya.

Terdengar suara klik-klik.

Kunci yang seharusnya sudah tertutup rapat, kini bergetar mengeluarkan bunyi. Seolah-olah ada seseorang yang memasukkan jari dan mengutak-atiknya.

"......"

Karena ketakutan, aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.

Tidak ada jalan keluar; rumah ini hanya memiliki satu pintu. Jadi, aku hanya bisa berharap peri di luar sana menyerah dan meninggalkan tempat ini.

Namun, itu adalah harapan yang terlalu tipis.

Lengan Kurukutta yang melingkari tubuhku mengencang.

Aku baru menyadari hal yang seharusnya sudah jelas: Kurukutta juga takut pada peri. Jika mengingat kehidupan sebelumnya, aku seharusnya jauh lebih tua darinya, jadi aku yang harus melindunginya.

Kurukutta adalah sahabatku.

Anak yang lembut, yang selalu mengekor di belakangku, dan entah kenapa terlihat lebih dewasa.

Dibandingkan diriku yang cenderung sok tahu, dia lebih penurut dan disukai oleh orang-orang dewasa di desa. Anak-anak yang lebih muda pun sangat mengidolakannya.

Karena itu, aku berpikir bahwa aku harus menyelamatkannya.

Mungkin aku dilahirkan ke dunia ini justru untuk melindungi Kurukutta dari peri. Jika aku berteriak dan mengamuk, mungkin aku bisa menarik perhatian peri yang masuk ke rumah ini dan membiarkan Kurukutta melarikan diri.

Namun, tangan dan kakiku terasa berat seperti timah.

Kepalaku tidak bisa diajak berpikir. Meskipun seharusnya aku jauh lebih tua dari Kurukutta, aku tidak bisa melakukan apa pun karena ketakutan.

Klik, suara yang lebih nyaring bergema.

Dari balik pintu, ujung jari dengan kuku tajam perlahan masuk. Melihat hal itu, aku mengucapkan isi hatiku dengan menyedihkan.

"Sial, aku tidak mau, aku tidak mau mati..."

Mendengar kata-kata itu, Kurukutta memejamkan mata rapat-rapat.

"Mikkanen, ke sini."

"Ah..."

Aku didorong oleh Kurukutta ke sudut perapian.

Saat aku mendongak, Kurukutta tersenyum lembut. Sembari menindih tubuhku seolah melindungiku, dia berbisik lirih.

"Hanya kamu yang akan aku selamatkan."

Lantai berderit keras, dan beberapa saat kemudian terdengar suara yang basah.

Kurukutta menggertakkan gigi rapat-rapat. Keringat dingin bercucuran di dahinya, dan sesekali dia mengeluarkan jeritan pendek.

"Ku-Kurukutta?"

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa..."

Byur, terdengar suara percikan air.

Kehangatan yang licin terasa di tanganku yang menyentuh lantai. Setelah mengetahui apa yang sedang terjadi, aku ingin berteriak.

Aku dilindungi oleh Kurukutta. Dia membiarkan dirinya dimangsa hidup-hidup oleh peri, namun tetap melindungiku.

Bibirku gemetar.

Saat aku mencoba merangkai kata, Kurukutta tersenyum di tengah cucuran keringat dinginnya.

"Jangan, nanti kalau kamu bersuara..."

"......"

Aku tidak bisa melakukan apa pun.

Tepat di depan mata, sahabatku sedang dimangsa oleh peri, namun aku tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku terlalu menyedihkan, terlalu takut, dan justru berusaha untuk terus hidup menggantikan Kurukutta.

Aku merasa sangat malu.

"Aku akan menjadi pemburu dan mengamuk," katamu? Hanya dengan mengendalikan karakter melalui tombol lewat layar monitor, aku merasa sudah tahu segalanya.

Aku menutup telingaku dengan tangan, seolah berusaha melarikan diri.

Di bawah sosok Kurukutta yang sudah tidak lagi mengeluarkan suara, aku terus meminta maaf. Kepada penduduk desa yang telah tiada, kepada Kurukutta, dan kepada orang-orang yang hidup di dunia ini.

Karena aku tahu.

Aku tahu tentang Kurukutta dari game.

Sebelum karakter pemain menyelamatkan umat manusia, dialah pahlawan lain yang terus melindungi manusia dari serangan peri.

Seorang pemburu ahli yang dikagumi dan menjadi target karakter pemain.

Namun, pada malam ini, akulah yang membunuh Kurukutta itu.

Aku terbangun dengan tiba-tiba.

Hal pertama yang tertangkap oleh mataku adalah sosok Isfarna yang sedang tidur sambil memelukku erat-erat. Dia memelukku begitu kuat sampai-sampai kulitku memucat.

Mendengar napas tidurnya yang kecil, hatiku perlahan menjadi tenang.

Aku menutup wajahku dengan tangan dan menghela napas.

Itu benar-benar mimpi yang buruk.

Mimpi yang membuat kenangan lama terasa kembali perih.

Dosa yang tidak bisa kulupakan, dosa yang tidak boleh kulupakan.

"Sedikit lagi."

Aku berbisik pada diriku sendiri.

Keempat Raja Iblis telah kubunuh semua.

Perang antara manusia dan peri telah berbalik arah, dari ambang kehancuran hingga mencapai reruntuhan Kastil Ogdanel.

Selain fakta bahwa Kurukutta tidak ada, semuanya berjalan dengan lancar.

Aku berhasil mengikuti skenario game sampai sejauh ini.

Setelah ini, karakter pemain akan muncul bagaikan bintang jatuh, memusnahkan peri, dan menyelamatkan manusia.

Sebelum itu terjadi, aku harus berhenti dari militer; itulah satu-satunya hal yang tersisa untuk kulakukan.

Kurukutta di cerita aslinya pun kehilangan satu kaki dalam pertempuran dan pensiun dari militer sebelum karakter pemain muncul. Aku seharusnya mengikuti jejak itu.

Masalahnya, sepertinya aku tidak akan diizinkan keluar dari militer hanya karena kehilangan satu kaki.

Namun, jika hari di mana aku bukan lagi seorang pemburu tiba, maka saat itulah.

Perlahan, mataku tertuju pada Longsword yang disandarkan di samping tempat tidur.

◆◆◆

"Jadi, kamu masih ingin keluar dari militer?"

"Kamu, masih membicarakan hal itu?"

Dia menghela napas panjang seolah merasa kesal.

Saat aku sedang menyantap sarapan yang terlambat di kantin, Morgraid tiba-tiba sudah duduk di seberangku. Dia menuangkan gula ke dalam tehnya dengan terburu-buru.

"Kalau kamu keluar dari militer, Isfarna, Ingrasius, bahkan Alhanzen-sensei pasti akan ikut keluar menyusulmu. Tentu saja, aku juga akan terus menempel padamu."

Morgraid mengaduk tehnya dengan sendok hingga menimbulkan bunyi gemerincing.

"Agrastain tidak akan membiarkan hal itu terjadi semudah itu. Jadi, bukankah dia sengaja menggantung 'wortel' berupa surat nikah itu di depan hidung kita?"

Aku merasa muak dan membenamkan wajah ke meja.

"Kalian masih saja membahas soal pernikahan itu. Itu pasti hanya gurauan konyol dari Agrastain."

"Hmm, kurasa Isfarna tidak berpikir begitu."

Gedebuk.

Suara logam misterius menggema di kantin pagi itu.

Saat aku menunduk dengan ngeri, borgol raksasa yang entah dari mana asalnya sudah mengunci pergelangan tanganku. Di ujung rantai itu, tampak Isfarna dengan tatapan mata yang gelap.

"Hei, si bodoh. Jangan bilang kamu mencoba melarikan diri lagi dari aku yang jenius ini?"

"......!"

Ada rasa dingin yang merambat di sepanjang tulang belakangku.

"Wah, wah, sepertinya kamu ketahuan oleh Isfarna."

Morgraid menyapa sambil menyeringai. Aku mencoba membujuknya dengan keringat dingin yang mengucur deras.

"Tidak, ini hanyalah kiasan kata-kata..."

"......Agrastain berkata."

Isfarna memotong ucapanku dengan wajah tertunduk.

"Agrastain bilang, kalau dia mengikatmu di militer, maka dia akan menyerahkanmu padaku. Dia bertanya apakah aku tidak menginginkan ikatan seumur hidup yang jauh lebih kuat daripada sekadar hubungan atasan dan bawahan di militer."

Ah, ini gawat.

Tidak mungkin aku bisa membujuk Isfarna yang sudah kemakan hasutan Agrastain hanya dengan kata-kata.

Aku tidak mungkin menang melawan lidah berbisa si shota sinting itu.

"......Hei, si bodoh."

Isfarna tersenyum manis dengan mata yang kehilangan cahayanya.

"Jadilah keluargaku."

Aku mundur perlahan dengan senyum yang kaku.

Itu adalah kalimat yang terlalu tajam untuk sekadar lelucon.

Isfarna menarik rantai itu tanpa bicara, seolah ingin menegaskan bahwa dia tidak akan membiarkanku kabur. Dia terus menatapku sampai terasa sakit, tanpa sepatah kata pun.

"Tu-tunggu sebentar, mari kita tenang dulu, ya, Isfarna...!"

Tepat saat aku berusaha menenangkannya sekuat tenaga, itu terjadi.

"......"

Tiba-tiba, kepala Isfarna terkulai. Aku menangkap tubuhnya sesaat sebelum dia jatuh pingsan.

"Sungguh, si jenius itu selalu melompat pada logika yang konyol. Kurasa dia perlu belajar untuk menghargai prosedur dan langkah-langkah yang ada."

Alhanzen-sensei muncul dengan tenang dari balik punggungku.

Seperti biasa, dia mencoba menendang-nendang Isfarna yang kugendong dengan wajah yang tidak bisa dibaca. Saat aku melindunginya, dia malah berdecak kesal.

Yah, dia memang cukup kejam.

"......Apa pun itu, si jenius tidak akan bangun untuk sementara waktu."

Senjata No. 0.

Itu adalah senjata rahasia yang seharusnya tidak ada.

Di antara semua senjata yang diciptakan Alhanzen-sensei, inilah yang dikelola paling ketat—sebuah senjata biologis yang ditanamkan langsung ke dalam tubuh para prajurit.

Tujuannya adalah sebagai langkah terakhir jika militer itu sendiri berubah menjadi musuh umat manusia.

Ini adalah hal mengerikan yang memungkinkan Alhanzen-sensei melumpuhkan prajurit atau memanipulasi ingatan mereka hanya dengan satu perintah.

Tentu saja, hal seperti ini tidak boleh diaktifkan semudah itu.

Tapi yah, Alhanzen-sensei sepertinya tidak tertarik dengan urusan pernikahanku. Karena dia adalah tipe yang mengutamakan logika dan penelitian, mungkin dalam hal ini aku bisa merasa sedikit lega.

"Lagipula, bodoh sekali memaksakan kehendak untuk mengikat seseorang demi kepentingan pribadi dengan mengabaikan harapan Mikkanen. Kurasa jalan hidup seperti diriku, yang mendedikasikan seluruh hidup untuk pengukuran, jauh lebih baik."

"......?"

Bukankah pembicaraannya agak melenceng?

Aku memiringkan kepala.

"Ehm, sebenarnya apa rencanamu terhadapku, Alhanzen-sensei?"

"Tidak ada, aku tidak berniat melakukan apa-apa. Aku tidak peduli dengan siapa Mikkanen menikah. Aku hanya ingin Mikkanen membiarkanku terus melakukan pengukuran tanpa absen satu hari pun sampai dia masuk ke liang kubur."

Apakah itu benar-benar bisa disebut "hanya"?

Setelah dideklarasikan sebagai target penguntit seumur hidup tepat di depan hidungku sendiri, aku menyesap kopi seolah berusaha melarikan diri dari kenyataan.

Alhanzen-sensei sedang memotong rantai borgol itu menggunakan alat pemotong mesin hingga menimbulkan bunyi ngiiing yang nyaring—entah dia dapat alat itu dari mana. Dia tampak cukup menikmatinya.

Tidak ada pilihan lain.

Aku membaringkan Isfarna di atas kursi kantin. Khawatir jalan napasnya tersumbat, setelah berpikir sejenak, aku memutuskan untuk menjadikannya bantal di pangkuanku.

Saat aku akhirnya bisa bernapas lega, seseorang bicara.

"Sungguh, seorang komandan akan menderita jika memiliki pemburu yang merepotkan."

"......Kalimat itu seharusnya aku yang katakan padamu, tahu."

Morgraid, yang sepertinya sedang menikmati buah-buahan sambil menonton drama ini, tertawa kecil. Aku hanya bisa menatapnya tajam dengan diam.

"Kejam sekali, padahal aku tidak mengatakan apa pun, kan?"

"......"

"Wah, kejam. Kamu mencurigaiku, ya."

Mungkin dia membaca pikiranku lagi.

Aku menghela napas menanggapi Morgraid yang masih tersenyum jahil.

Faktanya, sekarang aku—baik suka maupun tidak—telah terhubung sehingga semua emosi yang kurasakan akan mengalir langsung ke Morgraid.

Semuanya bermula saat aku bertarung melawan Bunda Agung, peri pertama.

Dalam pertarungan itu, aku berusaha membunuh Bunda Agung dengan mengorbankan nyawaku sendiri. Tapi, Morgraid tidak mengizinkannya.

Dia malah menanamkan jantungnya ke dalam tubuhku.

Itu adalah tindakan nekat yang mengandalkan kemampuannya sebagai blasteran peri untuk menyembunyikan jantung di mana saja. Berkat itulah, nyawaku terselamatkan oleh Morgraid.

Tentu saja, karena aku tetap hidup, Bunda Agung pun tidak mati.

Saat ini, mungkin dia sedang bersembunyi di kedalaman Hutan Peri, sibuk memulihkan luka-lukanya. Tanpa tahu bahwa dia akan dibunuh oleh karakter pemain dalam beberapa tahun ke depan.

Terlepas dari itu semua, ikatan misterius tercipta di antara aku dan Morgraid sejak saat itu. Semua gejolak emosi dan perasaan di hatiku akan tersampaikan ke Morgraid melalui jantung tersebut.

Karena Morgraid memiliki darah peri, dia akan mati kelaparan jika tidak "memakan" hati seseorang.

Aku tidak menyesal karena ikatan ini membuat Morgraid tidak lagi menderita kelaparan, tapi aku juga tidak bisa bilang kalau aku tidak punya masalah.

Coba pikirkan baik-baik.

Perasaan terdalamku diketahui oleh Morgraid—orang yang bisa dibilang paling mengerti diriku, sahabat yang selalu menggodaku—selama siang dan malam tanpa henti.

Itu adalah masalah yang sangat besar bagiku.

"Wah, wah, kamu masih malu-malu sekarang? Manis sekali."

"Haa..."

Aku bersikap ketus menanggapi Morgraid yang terus menggodaku.

Melihatku seperti itu, Morgraid tertawa kecil, namun tiba-tiba dia terdiam.

Di meja yang kini sunyi, terdengar bunyi gesekan.

Ternyata Alhanzen-sensei sedang jongkok di sampingku dan mencoret-coret wajah Isfarna. Kenapa dia harus menargetkan Isfarna?

Lalu, dia mendongak menatap wajahku dan Morgraid secara bergantian, lalu memiringkan kepala.

"Kurasa, sebaiknya aku pulang sekarang. Apakah itu tidak apa-apa, Morgraid?"

"......Ya, tolong lakukan."

Mata Morgraid bergerak gelisah.

"Mikkanen, aku punya sesuatu yang ingin dibicarakan juga. Akan sangat berterima kasih jika kamu berkunjung ke laboratorium nanti."

Alhanzen-sensei pergi sambil menyeret jubah putihnya yang kotor.

Setelah terdiam cukup lama dan berulang kali mencoba bicara lalu mengurungkan niatnya, Morgraid bertanya padaku dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

"Ngomong-ngomong, apa semalam kamu bermimpi buruk? Aku terkejut saat merasakan perasaan sedih yang sangat dalam mengalir darimu."

Aku merasa sesak.

Benar juga, sungguh merepotkan kalau pikiranmu dibaca. Karena dengan begini, bahkan hal yang tidak ingin kuketahui pun akan tercium olehnya.

"Tidak, itu hanya mimpi tentang masa lalu. Bukan hal yang perlu kamu cemaskan."

"Begitu ya, kalau begitu baguslah."

Morgraid menyesap tehnya.

"Tapi, ada satu hal yang ingin aku katakan."

Morgraid menarik kerahku hingga wajah kami berdekatan. Sebelum aku sempat memotong pembicaraannya, bibir sakura itu mendekat ke telingaku.

"Apa pun yang terjadi, aku akan meminjamkan kekuatanku padamu."

Itu adalah kalimat yang tenang, namun penuh penekanan.

"Agrastain mungkin mengandalkan sistem umat manusia dengan pernikahan atau apa pun itu, tapi aku tidak tertarik sama sekali. Jika Mikkanen punya niat untuk itu, aku akan membiarkan umat manusia begitu saja dan membawamu lari sejauh mungkin."

Jika ada orang lain yang mendengar ini, itu sudah cukup untuk membawanya ke pengadilan militer. Namun, Morgraid tidak merasa ragu sedikit pun.

"Kamu sudah menyelamatkan nyawa peri tidak berguna ini, jadi aku akan sangat repot jika kamu tidak terus bersamaku selamanya."

Mata biru itu menatapku lekat-lekat. Aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari wajah Morgraid, seolah-olah terpaku oleh paku.

"Eh, apa ini mimpi? Kenapa aku dipangku oleh si bodoh..."

Terdengar gumaman lirih.

Tak lama kemudian, terdengar suara gemetar yang seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Ti-tidaaaak..."

Merasakan firasat buruk, aku perlahan menundukkan kepala. Hal pertama yang kulihat adalah Isfarna dengan wajah semerah apel, bibirnya bergetar hebat.




"A-apa yang sedang kau lakukan! Si bodoh ini milikku, meski itu kau, Morgraid, hal tidak senonoh seperti itu... tidak boleh!"

Isfarna bangkit berdiri dengan kasar, memisahkan aku dan Morgraid.

Morgraid sempat memasang wajah sedih sesaat, namun segera saja dia membalas dengan senyuman nakal untuk menggoda Isfarna.

"Wah, wah, apa kata-katamu itu pantas keluar dari seseorang yang diam-diam sering menyelinap ke tempat tidur Mikkanen? Si jenius sihir ini sebenarnya sedang melakukan apa di bawah selimut?"

"......Di-diam kau!"

Setelah terdiam sesaat, wajah Isfarna berubah semakin merah padam.

Eh, mungkinkah selama ini ada sesuatu yang dilakukan Isfarna padaku tanpa aku sadari? Aku merasa ngeri melihat Isfarna mencoba membungkam mulut Morgraid sambil telingaku sendiri ikut memerah.

Dengan seringai jahil, Morgraid dengan mudah menghindar dari tangan Isfarna.

"Sungguh, kalau iri, kenapa Isfarna tidak manja saja? Atau mungkin kamu malu karena tidak bisa melakukannya?"

"I-ini aku manja pada si bodoh ini?! Tidak mungkin, dia itu hanya, hanya..."

"Hanya apa?"

"~~~gh!"

Isfarna membuka-tutup mulutnya seperti ikan yang terdampar di daratan.

Lebih tepat disebut sebagai perselisihan satu arah di mana yang satu terus menggoda, namun aku hanya bisa diam karena tidak tahu harus berkomentar apa.

"Lagipula, bukankah kamu harus membersihkan coretan yang ada di wajahmu itu?"

"Hm? Coretan apa maksudmu..."

Isfarna yang menerima cermin dari Morgraid menatap wajahnya sendiri dalam diam. Perlahan-lahan, bahunya mulai gemetar hebat.

"A-a-apa-apaan ini...!"

Isfarna berteriak dengan mata yang terbakar amarah.

"Apa maksud dari tulisan 'Sepertinya dia seperti anak anjing yang kurang diperhatikan pemiliknya hingga nafsu birahinya meluap, seharusnya dia malu' ini! Pasti Alhanzen yang menulis ini!"

"Oh, argumen yang masuk akal."

"......gh!"

Terdengar bunyi klik seolah ada sesuatu yang terputus di dalam dirinya.

Dengan wajah tertunduk dan leher yang memerah, Isfarna menggunakan sihirnya untuk melayangkan peralatan makan yang tadi sempat jatuh ke udara. Sebuah cangkir kayu terbang melesat ke arah Morgraid.

Morgraid menghindar dengan lincah layaknya seorang akrobat, lalu meninggalkan kantin dengan ceria.

"Kalau begitu, lariii!"

"......gh!"

Mungkin karena terlalu sering digoda, Isfarna terlihat sangat marah. Dia mengejar Morgraid yang melarikan diri. Sangat mencerminkan sifat Isfarna, dia sempat membersihkan kotoran di lantai sebelum pergi.

Saat aku ditinggalkan sendirian sambil mengunyah daging asap yang kenyal seperti karet, seorang biarawan kecil duduk di sebelahku.

"Ingrasius. Selamat pagi."

Selamat pagi!

Tanpa kusadari, Ingrasius sudah duduk di sana sambil tersenyum lebar, menutupi mulutnya dengan buku sketsanya.

"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan novel yang kupinjamkan tempo hari?"

Cerita tentang Dokter Kecil di Kota itu, kan? Ceritanya sangat lembut, hatiku jadi terasa hangat saat membacanya.

Sejak dia tanpa sengaja menemukan hobi untuk mencari apa yang dia sukai, aku sering meminjamkannya novel atau bermain board game bersama.

Baru kemarin kami bermain Indian Poker, tapi karena Ingrasius terlalu jujur hingga perasaannya langsung terlihat dari wajahnya, dia terus-menerus kalah.

Namun sebaliknya, jika bermain Blackjack atau permainan yang mengandalkan keberuntungan, dia tak terkalahkan dan justru aku yang dibantai habis-habisan. Mungkin bakat kami memang saling menyeimbangkan satu sama lain.

Ngomong-ngomong, tadi saya melihat Isfarna-san mengejar Morgraid-san di lorong kantin. Apa yang sedang terjadi, ya?

"Ah, Morgraid hanya terlalu banyak menggodanya, jadi mereka sedang bermain kejar-kejaran."

Aku menjawab dengan malas, merasa terlalu lelah untuk menceritakan kronologinya. Mendengar itu, wajah Ingrasius pucat pasi.

Ja-jangan-jangan, mereka sedang bertengkar!

Dia bangkit berdiri dengan terburu-buru.

Aku mencoba menenangkannya.

"Tidak, tidak perlu terlalu khawatir..."

Mereka berdua adalah teman. Tidak boleh saling membenci!

Namun, melihat tatapan matanya yang tulus, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku hanya bisa memandangi Ingrasius yang berlari mengejar mereka.

Bertengkar itu tidak boleh!

Sambil mengangkat papan tulis di buku sketsanya dengan tulisan itu, dia melompat ke tengah-tengah dua orang yang sedang berlarian di kantin.

Secara pribadi, aku terlalu takut untuk mendekati Isfarna dalam kondisi seperti itu. Tapi melihat Ingrasius berani melerai, dia jauh lebih dewasa dan bisa diandalkan daripada aku.

Aku pun menyadari bahwa Ingrasius adalah orang yang paling bisa diandalkan di party-ku.

Sungguh, aku sangat merasakannya.

Hanya saja, dari mana dia mendapatkan sendok yang digenggamnya di tangan kiri saat berlari tadi? Omong-omong, sendok di cangkir kopi milikku sudah menghilang entah ke mana.

◆◆◆

"Hei, Alhanzen-sensei. Tidak apa-apa kita bicara, tapi kau harus makan dulu."

Aku diberitahu oleh staf kantin bahwa Alhanzen-sensei belum menyentuh sarapan selama empat hari terakhir. Aku pun membawa nampan berisi berbagai macam makanan dan mengunjungi laboratorium Alhanzen-sensei.

Tak lama kemudian, pintu terbuka dengan sendirinya.

Saat melangkah masuk, aku melihat banyak sekali cetak biru berserakan di mana-mana, sepertinya dia sedang merancang senjata baru. Alhanzen-sensei sendiri sedang menghadap meja gambar dengan pena yang bergerak cepat.

"Ah, Mikkanen."

Dia menghentikan tangannya dan menatapku perlahan. Setelah melepas kacamata dan mengucek matanya, dia memberiku isyarat tangan.

Saat aku mendekat sesuai perintahnya, dia menyandarkan kepalanya di bahuku tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Itu, Alhanzen-sensei?"

"Untuk memulihkan otakku yang lelah akibat kerja keras dalam waktu lama, aku rasa cara ini adalah yang paling optimal. Berdasarkan eksperimen sejauh ini, cara ini terbukti jauh lebih manjur daripada sekadar istirahat atau bermain."

"......"

Karena dia mengatakannya dengan wajah tanpa ekspresi sedikit pun, Alhanzen-sensei memang selalu sulit dimengerti. Yah, kalau hanya sekadar menyandarkan kepala, itu bukan masalah besar yang harus kuhindari.

Aku menarik kursi di dekatnya lalu duduk.

"Ngomong-ngomong, pastikan kau setidaknya makan sesuatu. Aku tahu kau mungkin sibuk, tapi..."

"Ini bukan sekadar sibuk."

Alhanzen-sensei menghela napas panjang.

"Agrastain terus-menerus memberikan tugas yang mustahil, aku benar-benar pusing. Aku diminta untuk merancang senjata dengan jumlah yang jauh lebih banyak daripada biasanya."

Alhanzen-sensei memijat pelipisnya dengan jari sembari mendesah dengan wajah masam. Ini hal yang langka, mengingat tidak ada yang bisa mengungguli Alhanzen-sensei dalam hal meneliti ekologi peri maupun merancang senjata.

"Sehebat apa pun diriku, ada hal-hal yang tidak bisa kulakukan, atau yang terlalu sulit."

Alhanzen-sensei menggerutu dengan wajah cemberut.

Mulai dari masalah tenggat waktu, kalau saja mereka bicara lebih awal dia tidak perlu bekerja lembur seperti ini, sampai soal betapa sulitnya menerapkan teknologi baru yang mereka inginkan...

Alhanzen-sensei sepertinya sedang benar-benar kesulitan akhir-akhir ini.

"Aku juga butuh asupan nutrisi. Demi efisiensi, sekaligus mengistirahatkan otot lenganku, kurasa akan lebih cepat jika Mikkanen membantuku makan."

"......Ya, baiklah."

Aku menyuapi Alhanzen-sensei roti yang sudah dilunakkan dengan sup. Saat dia selesai, dia menyodorkan mulutnya lagi seolah meminta tambah, membuatku tersenyum pahit.

Setelah menyuapinya beberapa saat, dia menarik lengan bajuku pelan.

"Alhanzen-sensei?"

"Ada satu hal yang ingin kutanyakan."

Alhanzen-sensei bertanya dengan mata tenangnya yang biasa. Aku memiringkan kepala, menunggu apa yang akan dia katakan.

"Selama beberapa hari terakhir, tampaknya kau menanggung stres yang cukup besar saat tidur. Jika ada yang bisa kubantu, tolong katakan padaku."

Napasku tertahan sejenak.

Wajah sahabatku dari kampung halaman terlintas di benakku, dan kenangan masa lalu yang terus muncul dalam mimpi belakangan ini terasa menusuk-nusuk perih.

Beberapa hari terakhir ini, aku terus memimpikan Kurukutta.

Kurukutta, sahabat masa kecilku yang melindungiku dan akhirnya dimangsa peri menggantikanku. Aku tidak mengerti kenapa mimpi itu muncul kembali sekarang.

Melihat kenangan yang tidak ingin kuingat kembali setiap malam bukanlah hal yang menyenangkan. Tapi, terlepas dari Morgraid, bagaimana bisa Alhanzen-sensei tahu tentang hal ini?

"Aku menyelipkan alat yang dimodifikasi dari Senjata No. 0 di dekatmu."

Katanya, itu dia gunakan sebagai alat pengukur untuk diriku.

"Itu diperlukan agar standar eksplorasiku bisa diselaraskan secara akurat dengan Mikkanen."

"Hahaha...... Alhanzen-sensei memang hebat, ya."

Tidak, mungkin aku seharusnya marah karena dia menanamkan benda semacam itu tanpa izinku, tapi aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk itu.

"Kupikir kau mendengar sesuatu dari Morgraid."

"Begitu ya, maksudmu jantung peri itu?"

Alhanzen-sensei bergumam pelan.

"......Aku iri."

"Alhanzen-sensei?"

"Tidak, lupakan. Lebih penting lagi, jika kau mengalami masalah seperti insomnia, aku bisa memberikan obat atau semacamnya..."

Aku memiringkan kepala karena merasa Alhanzen-sensei baru saja mengatakan hal yang tidak kumengerti. Namun, dia langsung mengalihkan pembicaraan.

"Tidak, tidak perlu. Aku baik-baik saja."

"Kalau begitu, baiklah. Tapi ingatlah bahwa aku percaya sepenuhnya pada Mikkanen apa pun yang terjadi. Jadi, jika kau menemui masalah, tolong katakan padaku."

Alhanzen-sensei berkata seperti itu, tapi ini kan hanya masalah mimpi.

Aku menggelengkan kepala.

Aku tidak bisa membiarkan anggota lain melihatku dalam kondisi tidak prima hanya gara-gara mimpi. Aku pun meminta satu hal kepada Alhanzen-sensei.

"Tolong jangan bicarakan hal ini pada anggota lain. Aku hanya sedang sulit tidur, beberapa hari lagi pasti akan membaik."

◆◆◆

"Mikkanen. Ada seorang pemburu pemula yang ingin kuperkenalkan padamu. Dia adalah bibit unggul yang selalu menempati peringkat pertama di akademi militer selama tiga tahun berturut-turut."

Agrastain memberikan perintah itu sembari tetap menatap dokumen di depannya.

Ah, benar juga, musim ini sudah tiba ya, pikirku sambil menghela napas dalam hati.

Musim dingin telah berakhir, dan musim semi telah tiba. Karena upacara kelulusan akademi militer baru saja berlangsung beberapa hari lalu, ini adalah saatnya para pemburu pemula berdatangan ke reruntuhan Kastil Ogdanel satu demi satu.

Berbeda dengan belasan tahun lalu saat umat manusia di ambang kepunahan, kini umat manusia sudah mampu mencurahkan tenaga untuk melatih para pemburu.

Mereka yang memiliki bakat sebagai pemburu akan dikumpulkan di akademi militer ibu kota, diajarkan segala hal mulai dari disiplin militer, taktik, hingga teknik bertahan hidup.

Setelah itu, mereka akan bergabung dengan party pemburu berpengalaman di berbagai tempat untuk belajar dasar-dasar berburu peri.

Party kami pun sudah melatih beberapa pemburu pemula. Mungkin karena kami dianggap sebagai party pahlawan, selalu saja pendatang baru yang paling berbakat dari akademi militer yang dikirim kepada kami.

Dan dengan ini, pembicaraan soal keluar dari militer jadi semakin jauh saja.

Sekali seorang pendatang baru masuk ke dalam party, aku tidak punya pilihan selain terus menjadi pemburu sampai mereka benar-benar siap. Padahal, aku harus keluar sebelum karakter pemain masuk ke dalam cerita.

"Jadi, kapan mereka akan bergabung dengan party kami?"

"Maaf sekali, tapi mulai hari ini. Bukan berarti aku beralasan, tapi tumpukan dokumen belakangan ini luar biasa banyaknya, jadi aku terlambat menyadari dokumen dari akademi militer."

Agrastain mengatakannya dengan wajah tanpa dosa.

Jangan-jangan, aku mulai mencurigai si shota sinting itu. Jangan-jangan dia sengaja terus menumpuk tugas militer agar aku tidak punya keinginan untuk keluar dari militer?

"Jalur kereta dari ibu kota ke reruntuhan Kastil Ogdanel akhirnya selesai dibangun. Memang benar kita jadi bisa memasukkan tenaga tempur jauh lebih banyak daripada sebelumnya, tapi masalah yang muncul pun tidak ada habisnya dan aku terus disibukkan oleh hal itu."

"Begitu, ya."

Kalau soal membantai peri, aku mungkin bisa melakukannya, tapi soal strategi atau pengiriman amunisi, aku benar-benar tidak paham. Yah, itu wajar karena aku terus bertarung tanpa pernah dididik dengan layak sebagai tentara.

Melihatku yang hanya menanggapi dengan acuh tak acuh, Agrastain menghela napas.

"......Yah, percuma saja menjelaskan hal ini padamu."

Aku merasa sangat diremehkan, tapi karena apa yang dia katakan benar, aku tidak bisa membela diri. Untuk mengalihkan rasa canggung, aku pun bertanya.

"Yah, sudahlah. Siapa nama pendatang baru itu?"

"Kurasa akan lebih cepat jika kau mendengarnya sendiri darinya. Lagi pula, dia sudah ada di sini."

Dengan bunyi berderit berat yang biasa, pintu baja itu terbuka.

Sungguh, mereka tidak sabaran sekali. Aku menghela napas dan memalingkan wajah ke arah pintu mengikuti tatapan Agrastain.

Itu adalah momen pertama kali aku melihat wajah pemburu pemula yang datang.

"Radim Lionhearts, mohon bimbingannya."

Kepalaku mendadak kosong.

Aku mengenal nama itu dengan sangat baik—terlalu baik, sampai rasanya menyakitkan.

Nama yang terus kucari tanpa sadar sejak aku lahir ke dunia ini. Nama standar dari karakter yang dikendalikan pemain dalam Fairy Hunters tersebut.

Rambut hitam pekatnya dipotong pendek, dan tinggi badannya hanya mencapai dadaku. Radim, yang dalam game bisa dimainkan baik sebagai pria maupun wanita, ternyata di dunia ini berjenis kelamin pria.

Mata kuningnya yang bagaikan permata bergetar hebat.

"Pahlawan, Mikkanen-sama......"

Kalimat itu terucap lirih dengan nada tidak percaya.

Di depanku berdiri karakter pemain dari cerita aslinya—yang seharusnya dilatih oleh Kurukutta—pahlawan yang nantinya akan menyelamatkan umat manusia.

Dia adalah Radim Lionhearts.




◆◆◆

Pintu baja itu tertutup dengan suara berat di belakangku.

Ditinggalkan sendirian di ruang kerja oleh Agrastain yang masih dipenuhi tumpukan dokumen, aku diam-diam melirik Radim yang berdiri di sampingku. Setiap kali melihat rambut hitam pekatnya, parasnya, dan sosoknya, ingatan jauh itu kembali tumpang tindih.

Ilustrasi yang digambar di sampul game. Model karakter yang dulu kukendalikan melalui layar monitor. Semakin sering kulihat, jiwaku semakin menjerit.

Pemburu pemula yang berdiri kaku di sampingku saat ini adalah karakter player yang selama ini kuharapkan; pahlawan yang akan menyelamatkan umat manusia.

Sejenak, aku ingin membuang segalanya dan menginterogasi Radim. Apakah dia benar-benar akan menyelamatkan umat manusia? Apakah dia benar-benar akan membunuh Bunda Agung itu?

Namun, aku menahan diri di detik terakhir.

Menanyakan hal semacam itu pada Radim yang sekarang hanya akan membuatnya bingung. Hanya akulah satu-satunya orang yang mengetahui skenario game dan jalan yang akan ditempuh dunia ini ke depannya.

"Kalau begitu, Radim, akan sangat membantu jika kamu bisa menceritakan tentang dirimu."

Pertama-tama, aku ingin memastikan apakah latar belakang Radim ini benar-benar sama dengan karakter player di game. Mungkin saja, nama dan wajahnya hanyalah kebetulan semata.

"Pi, piya! Siap, saya mohon bimbingannya!"

Sambil mengeluarkan jeritan yang membingungkan, Radim mulai bercerita dengan lancar.

Tentang bagaimana dia menjadi yatim piatu dan dibesarkan oleh sepasang lansia. Tentang bagaimana dia mendaftar ke militer untuk menjadi pemburu setelah tahu dia punya bakat sihir. Tentang bagaimana dia tidak pernah sekalipun melewatkan posisi sebagai lulusan terbaik di akademi militer.

Semakin kudengar, semakin yakin aku bahwa Radim ini benar-benar Radim dari skenario game. Riwayat hidupnya tidak berbeda satu kata pun dengan teks flavor yang muncul di awal permainan.

Tidak perlu diragukan lagi.

Radim ini benar-benar karakter player yang sesungguhnya.

"Begitu, ya. Terima kasih."

"Ti, tidak sama sekali. Ini adalah kehormatan yang luar biasa bagi saya."

Radim memberikan hormat, namun entah mengapa dia gemetar. Matanya bergerak gelisah, bahkan membuatku merasa seolah dia sedang ketakutan.

Aku menjadi cemas.

Jangan-jangan, apakah aku baru saja mengatakan sesuatu yang menakutinya? Padahal baru beberapa menit kami bertemu, tapi keadaannya sudah seperti ini.

Aku langsung merasa ngeri membayangkan apa yang akan terjadi jika skenario ini melenceng dari jalur.

Radim inilah satu-satunya harapan agar manusia bisa menang melawan peri. Padahal aku sudah mati-matian berjuang menggantikan Kurukutta hingga detik ini, tapi kalau di sini semuanya berakhir sia-sia, aku tidak tahu harus bagaimana.

"E-ehm, itu, jangan-jangan ada kata-kata yang tidak seharusnya kuucapkan...?"

Saat aku bertanya dengan ragu, dia menyahut.

"Mana mungkin! Saya hanya tidak menyangka bisa melihat langsung wajah Mikkanen-sama yang agung, saya hanya merasa begitu terhormat sampai rasanya hampir pingsan!"

Radim berkaca-kaca seolah baru saja bertemu dengan Tuhan.

"Saya sudah menghormati Mikkanen-sama sejak lama sekali. Anda adalah idola saya, sosok yang ideal."

Aku memiringkan kepala melihat Radim yang tampak hampir menangis.

Tunggu, bukankah Radim tidak seperti ini karakternya?

Radim yang kukenal, karakter player dalam skenario aslinya, adalah seseorang yang suram, sama sekali tidak tertarik pada orang lain, dan memiliki kepribadian mekanis yang hanya memikirkan cara membunuh peri.

Bagaimanapun, dia memikul beban berat karena di masa kecilnya dia melihat dengan mata kepala sendiri orang tuanya dikunyah sampai mati oleh peri tepat di depan hidungnya, yang membuatnya trauma dan menjauhkan diri dari orang lain.

Inti skenario dari Fairy Hunters adalah bagaimana Radim akhirnya mengenal hati manusia dan belajar menjalin hubungan dengan sesama.

Dia jelas-jelas bukan karakter seperti otaku yang sedang bertemu idolanya seperti ini.

"Itu, bisakah kamu berhenti memanggilku 'Mikkanen-sama'?"

"Mana bisa! Mana mungkin saya berani menghilangkan akhiran '-sama'. Menyebut nama besar Mikkanen-sama yang agung secara langsung, itu adalah bentuk ketidaksopanan yang keterlaluan!"

Apakah aku ini Tuhan atau apa? Aku tidak bisa menahan diri untuk memegang kepala.

Apakah ini sindiran bernada tinggi yang dibungkus pujian, atau sekadar pujian yang berlebihan? Namun, mata Radim yang berbinar-binar sepertinya tidak sedang berbohong sama sekali.

Aku sampai pada kesimpulan yang tidak ingin kupikirkan.

Entah kenapa, Radim benar-benar menghormatiku dari lubuk hatinya dan merasa bahwa tanpa akhiran "-sama", dia bahkan tidak pantas menyebut namaku.

"Karena Mikkanen-sama adalah legenda hidup yang nyata, bukan? Anda adalah orang besar yang akan tercatat dalam sejarah, yang memusnahkan empat Raja Iblis yang mengerikan dalam sekejap dan menyelamatkan umat manusia. Anda adalah pahlawan yang diidamkan semua orang di kerajaan ini!"

Ini luar biasa.

Aku tahu bahwa karena si shota sinting itu, aku sering dijadikan alat propaganda sebagai "pahlawan". Sudah tak terhitung berapa banyak kisah heroik palsu yang dikarang-karang oleh departemen propaganda militer.

Namun, mengetahui hal itu lewat koran atau radio sangat berbeda dengan didengar langsung oleh orang yang baru saja kutemui, sampai-sampai aku mengira dia sedang bercanda.

Aku mencoba membujuknya dengan cara halus.

"Hmm, meski begitu. Aku merasa terganggu jika harus diagung-agungkan sebagai pahlawan, rasanya memalukan. Lagipula, aku tidak punya kapasitas untuk itu. Jadi..."

"Ti-tidak, itu salah! Mana mungkin itu benar!"

Namun, ucapanku tertelan oleh antusiasme Radim.

Saat Radim mencondongkan tubuh ke arahku, aku pun mundur secara refleks. Tanpa mempedulikan wajahku yang kaku, Radim terus bercerita dengan penuh semangat.

"Melihat kemampuan Anda menumbangkan para Raja Iblis itu, serta semangat Anda yang mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan siapa pun, Mikkanen-sama adalah pemburu yang paling hebat! Bagaimana mungkin Anda bilang Mikkanen-sama bukan pahlawan!"

Cara bicaranya begitu penuh gairah.

Orang-orang di sekitar mulai berkumpul karena penasaran. Aku merasa ingin menangis di dalam hati.

Kenapa aku harus mengalami ini? Kenapa di depan banyak orang yang kukenal, aku harus dicecar oleh pendatang baru dengan pujian manis yang membuat sesak napas?

Radim saat ini tampak seperti penggemar fanatik level kultus.

"Cara bicara ini juga, sebenarnya saya tiru dari Mikkanen-sama."

Radim berkata dengan wajah memerah karena malu.

Kalau dipikir-pikir, memang benar, aku tidak pernah mendengar Radim di dalam skenario menyebut dirinya dengan sebutan "ore" (aku). Wajahku menegang.

Mungkin menyebutnya sebagai "penganut fanatik" lebih tepat.

Meskipun aku sudah memohon dengan merendahkan diri, Radim tidak pernah berhenti memanggilku dengan akhiran "-sama".

Aku menghela napas panjang dan tenang.

Sepertinya mulai sekarang Radim akan terus memberikan rasa hormat yang konyol ini padaku. Kalau Morgraid tahu, dia pasti akan tertawa terbahak-bahak. Memalukan sekali.

Tapi, lupakan soal itu.

Aku memejamkan mata dengan tenang. Radim Lionhearts, karakter player dari karya aslinya, sang pahlawan yang akan menyelamatkan umat manusia.

Aku tidak menyangka dia akan dididik di dalam party-ku.

Dalam karya aslinya, dia bergabung ke dalam party setelah Kurukutta kehilangan satu kakinya dan pensiun dari dunia pemburu. Dalam hal itu, tidak aneh jika akhirnya tugas itu jatuh kepadaku.

Aku panik.

Dalam skenario aslinya, seharusnya Kurukutta sudah pensiun dari militer dan tidak ada lagi jejaknya di reruntuhan Kastil Ogdanel. Padahal sekarang, karakter player-nya malah sudah datang.

Apalagi, dia justru bergabung ke party-ku.

Bagaimanapun juga, alur skenario harus dijaga.

Bagaimanapun juga, aku harus membesarkan Radim, lalu segera keluar dari militer. Kurukutta sudah mati gara-gara aku, dan skenarionya sudah kacau sejak saat itu.

Agar Radim bisa memusnahkan peri di masa depan, aku harus melakukan sesuatu.

◆◆◆

Waktu senja.

Di stasiun reruntuhan Kastil Ogdanel, di peron tempat bongkar muat barang. Beberapa kereta api mengistirahatkan tubuh raksasanya di sana untuk persiapan pengiriman malam hari.

Dari salah satu kereta itu, seekor tikus terjatuh.

Hal yang biasa. Muatan yang dibawa militer penuh dengan biskuit keras dan dendeng—makanan lezat bagi tikus.

Tentu saja militer pusing memikirkan masalah kebersihan, tapi hal-hal seperti ini memang tidak bisa dibasmi sepenuhnya. Oleh karena itu, langkah terbaik hanyalah menyebarkan racun tikus.

Masinis kereta menyadari tikus itu, tapi dia hanya berdecak kesal.

Masih banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan sang masinis. Jadi, dia tidak punya waktu untuk mempedulikan satu ekor tikus.

Malam hari adalah kesempatan emas untuk mengangkut barang karena peri lebih sulit menyadari keberadaan kita dibandingkan siang hari. Dia harus memeriksa kereta dari atas ke bawah untuk memastikan tidak ada kerusakan.

Masinis itu mengintip ke bawah kereta.

Seperti biasa, roda-roda dingin yang gelap pekat menghadap ke arahnya. Rekan seperjuangan yang bisa diandalkan. Sambil menyinari mesin dan roda dengan lampu, dia terus melakukan pengecekan.

Masinis itu mengangguk tenang. Tidak ada satu pun kerusakan yang ditemukan. Malam ini pun kereta akan bekerja layaknya kuda penarik beban.

Begitu sang masinis mendongak, matanya bertatapan dengan tikus itu.

Tikus yang terjatuh dari kereta tadi. Tikus itu berdiri tepat di depan mata sang masinis, seolah ada sesuatu yang ingin dikatakan.

"Cepat pergi sana, atau kubunuh kau!"

Masinis itu berteriak dengan bosan.

Pencuri yang selalu mencuri muatan yang diangkut masinis. Sebenarnya dia bisa saja memukul mati tikus itu dengan sapu yang ada di dekatnya. Manusia seharusnya jauh lebih kuat daripada tikus.

Namun, tikus itu tidak mencoba melarikan diri.

Tikus itu justru menatap wajah sang masinis dengan saksama seolah sedang tertarik pada sesuatu.

Tikus seharusnya tahu bahwa mereka tidak bisa melawan manusia dan biasanya akan lari mengumpat. Tapi ini pertama kalinya sang masinis menemui tikus yang tidak merasa takut sama sekali.

"A-apa maumu..."

Masinis itu merasa sedikit ketakutan.

Begitu sadar, tidak ada siapa pun di sekitarnya. Masinis lain sepertinya sedang beristirahat untuk persiapan malam hari.

"Tikus yang aneh sekali kau ini."

Masinis yang mulai merasa takut itu memutuskan untuk kembali ke stasiun.

Dia pusing memikirkan alasan apa yang harus diberikan pada masinis lain. Tidak mungkin dia bilang dia lari karena takut pada seekor tikus. Kalau dia tidak berbohong karena kedinginan atau alasan lain, dia pasti akan ditertawakan.

"Hm?"

Saat itu, sang masinis tiba-tiba menyadari sesuatu.

Di punggung tikus itu, ada sesuatu yang menempel. Sesuatu yang berwarna agak kemerahan dan kuning pucat.

Apakah dia makan ham atau semacamnya, dan sisanya menempel di punggungnya? Masinis itu menyipitkan mata ke arah punggung tikus.

"Hah?"

Itu adalah telinga manusia.

Telinga manusia tumbuh dari punggung tikus, persis seperti jamur yang tumbuh dari batang pohon. Sang masinis akhirnya tersadar.

"Pe-peri......!"

Bak, terdengar suara sesuatu pecah, dan kepala masinis itu dikunyah. Yang tersisa hanyalah seekor tikus yang mengunyah dengan mulut yang membesar secara aneh.

"Tidak enak ya. Padahal aku menantikan dia jadi lebih gemuk karena tidak ada orang di sini, tapi mengecewakan! Bahkan untuk camilan jam tiga sore pun tidak layak."

Sebuah suara dengan nada kesal berbisik.

Bentuk tikus itu mulai berubah secara perlahan. Tangan dan kaki tumbuh, perlahan mengambil bentuk manusia. Lalu, satu ekor peri muncul.

"Tapi ya sudahlah! Akhirnya bisa makan daging lagi setelah sekian lama."

Peri itu memiliki wajah yang tampak sangat ramah.

Dengan rambut emas yang berkilau dan senyum lebar seperti bunga matahari yang seolah terdengar bunyinya. Aroma gadis desa yang tumbuh dengan sehat tercium dari kulitnya yang terbakar matahari.

Gaun yang dia kenakan tidak terlihat menggoda, melainkan memancarkan aura ceria yang hidup. Dia tidak terlihat seperti peri sama sekali, benar-benar mirip manusia.

Manusia namun bukan manusia. Tidak seperti peri namun peri.

"Dan, ah...... Pahlawan-chan sungguh dingin ya, padahal aku sudah sangat tergila-gila padanya, jangan-jangan dia bahkan tidak menyadarinya?"

Peri itu meredupkan senyumnya dan menghela napas dengan bosan.

"Padahal aku sangat mencintai Mikkanen! Aku ingin lebih mengenal Pahlawan-chan, ingin bersama dengannya! Apa yang harus kulakukan dengan gairah ini, dengan cinta ini!"

Setiap kali peri itu berteriak, muatan di sekitarnya bergetar seolah setuju. Udara bergetar, dan sihir gelap melemparkan bayangan ke tanah.

Setelah beberapa saat, peri itu tertawa kecil seolah mendapat ide.

"......Jadi, meski tidak sopan, bagaimana kalau aku pergi menemuinya saja?"



Previous Chapter | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close