Chapter 1
Sang Pahlawan mendambakan sosok sang Legenda
Rumah-rumah
terbakar.
Desa
kecil yang dikelilingi pegunungan terjal, tempat kami bertahan hidup dengan
peternakan sederhana, kini diserbu oleh peri yang jumlahnya tak terhitung.
Lereng
gunung yang biasanya hijau, tempat domba dan sapi merumput, kini diwarnai merah
oleh api dan percikan darah. Jeritan orang-orang yang dimangsa bergema di
kepalaku dari segala penjuru.
Semuanya
adalah wajah yang kukenal.
Ibu-ibu
tetangga yang biasanya pemarah dan selalu mengomel, kini sedang dikunyah
kepalanya oleh peri. Pendeta tua yang biasanya berceramah panjang lebar, kini
memohon ampun dengan wajah yang kaku karena ketakutan.
Apakah ini peri?
Apakah ini
rasanya dimangsa oleh peri?
"Sial,
mereka sudah sampai sejauh ini!"
Tanganku ditarik
oleh sahabatku.
Seolah menyeret
diriku yang sedang mematung, Kurukutta berlari melewati jalan setapak desa.
Setiap kali melihat sosok peri, kami bersembunyi menahan napas di sisi jalan.
Aku merasa sudah
tahu segalanya.
Bahkan sebelum
aku lahir, aku merasa sudah tahu tentang dunia ini. Karena dunia ini sangat
mirip dengan game yang pernah kumainkan.
Monster yang
memakan manusia, perang abadi antara peri dan umat manusia.
Dalam game
berjudul "Pemburu Peri" (Fairy Hunters) tersebut, pemain akan
menjadi seorang pemburu yang menggunakan sihir untuk membunuh peri dan
menyelamatkan umat manusia.
Karena telah
saling bunuh dengan peri melalui layar monitor dalam game, aku merasa
sudah paham betul betapa mengerikannya peri. Aku bahkan sempat menertawakan anak-anak yang
ketakutan mendengar cerita tentang peri.
Entah bagaimana,
aku terlalu meremehkan situasi.
Aku pikir,
sebentar lagi karakter pemain akan muncul, memusnahkan peri, dan menyelamatkan
umat manusia. Aku bahkan sempat berkhayal konyol ingin menjadi seorang pemburu
dan mengamuk dengan memanfaatkan pengetahuan game-ku.
Semuanya salah.
Aku tidak tahu
apa-apa. Aku tidak tahu betapa mengerikannya peri, tidak tahu rasanya dimangsa
oleh peri, dan tidak tahu bagaimana rasanya ketika seseorang kehilangan nyawa.
Ini adalah
kenyataan.
Jika kepalamu
terpenggal, kau tidak bisa respawn. Dan para penduduk desa yang terus
dibantai saat ini adalah orang-orang yang kukenal.
Seolah
menertawakan diriku yang masih bermimpi dan bersikap santai, para peri
memusnahkan kampung halamanku. Ke mana pun kami lari, peri ada di mana-mana.
Terkepung seperti
tikus, kami tidak punya pilihan selain menerjang masuk ke dalam rumah di dekat
kami.
Mungkin karena
penghuninya sudah dimangsa semua, di dalam rumah tidak ada siapa pun. Kurukutta
dengan tergesa-gesa mengunci pintu dari dalam.
"Kita
bersembunyi di sini sampai mereka pergi. Pasti para peri itu tidak akan
menyadari keberadaan kita."
Kurukutta
memaksakan senyum canggung.
Namun, melihat
nyawa orang-orang terdekat terus melayang, hanya satu pemikiran yang memenuhi
kepalaku.
Aku tidak mau
mati.
Hanya pikiran
egois itu yang muncul di benakku. Kurukutta memeluk diriku yang menyedihkan itu
dengan perlahan.
Pada akhirnya,
aku adalah orang bodoh yang luar biasa.
Hanya karena
merasa tahu tentang dunia ini lewat game, aku merasa seolah-olah diriku
adalah seorang pahlawan. Aku sempat menganggap enteng arti kehidupan.
Setelah kepalsuan
itu hancur, yang tersisa hanyalah ketakutan akan kematian yang begitu lumrah.
"Tidak
apa-apa, tidak apa-apa..."
Kehangatan
merambat dari tangan Kurukutta yang melingkar di tubuhku. Tangan itu gemetar
samar.
Saat kami
berdua menahan napas di dalam rumah yang gelap, itulah saatnya.
Terdengar
suara klik-klik.
Kunci
yang seharusnya sudah tertutup rapat, kini bergetar mengeluarkan bunyi.
Seolah-olah ada seseorang yang memasukkan jari dan mengutak-atiknya.
"......"
Karena ketakutan,
aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
Tidak ada jalan
keluar; rumah ini hanya memiliki satu pintu. Jadi, aku hanya bisa berharap peri
di luar sana menyerah dan meninggalkan tempat ini.
Namun, itu adalah
harapan yang terlalu tipis.
Lengan
Kurukutta yang melingkari tubuhku mengencang.
Aku baru
menyadari hal yang seharusnya sudah jelas: Kurukutta juga takut pada peri. Jika
mengingat kehidupan sebelumnya, aku seharusnya jauh lebih tua darinya, jadi aku
yang harus melindunginya.
Kurukutta adalah
sahabatku.
Anak yang lembut,
yang selalu mengekor di belakangku, dan entah kenapa terlihat lebih dewasa.
Dibandingkan
diriku yang cenderung sok tahu, dia lebih penurut dan disukai oleh orang-orang
dewasa di desa. Anak-anak yang lebih muda pun sangat mengidolakannya.
Karena itu, aku
berpikir bahwa aku harus menyelamatkannya.
Mungkin aku
dilahirkan ke dunia ini justru untuk melindungi Kurukutta dari peri. Jika aku
berteriak dan mengamuk, mungkin aku bisa menarik perhatian peri yang masuk ke
rumah ini dan membiarkan Kurukutta melarikan diri.
Namun, tangan dan
kakiku terasa berat seperti timah.
Kepalaku tidak
bisa diajak berpikir. Meskipun seharusnya aku jauh lebih tua dari Kurukutta,
aku tidak bisa melakukan apa pun karena ketakutan.
Klik, suara yang lebih nyaring
bergema.
Dari balik pintu,
ujung jari dengan kuku tajam perlahan masuk. Melihat hal itu, aku mengucapkan
isi hatiku dengan menyedihkan.
"Sial,
aku tidak mau, aku tidak mau mati..."
Mendengar
kata-kata itu, Kurukutta memejamkan mata rapat-rapat.
"Mikkanen,
ke sini."
"Ah..."
Aku didorong oleh
Kurukutta ke sudut perapian.
Saat aku
mendongak, Kurukutta tersenyum lembut. Sembari menindih tubuhku seolah
melindungiku, dia berbisik lirih.
"Hanya kamu
yang akan aku selamatkan."
Lantai berderit
keras, dan beberapa saat kemudian terdengar suara yang basah.
Kurukutta
menggertakkan gigi rapat-rapat. Keringat dingin bercucuran di dahinya, dan sesekali dia mengeluarkan
jeritan pendek.
"Ku-Kurukutta?"
"Tidak
apa-apa, tidak apa-apa..."
Byur, terdengar suara percikan air.
Kehangatan yang licin terasa di tanganku yang menyentuh
lantai. Setelah mengetahui
apa yang sedang terjadi, aku ingin berteriak.
Aku
dilindungi oleh Kurukutta. Dia membiarkan dirinya dimangsa hidup-hidup oleh
peri, namun tetap melindungiku.
Bibirku
gemetar.
Saat aku
mencoba merangkai kata, Kurukutta tersenyum di tengah cucuran keringat
dinginnya.
"Jangan,
nanti kalau kamu bersuara..."
"......"
Aku tidak bisa
melakukan apa pun.
Tepat di depan
mata, sahabatku sedang dimangsa oleh peri, namun aku tidak bisa melakukan
apa-apa.
Aku terlalu
menyedihkan, terlalu takut, dan justru berusaha untuk terus hidup menggantikan
Kurukutta.
Aku merasa sangat
malu.
"Aku akan
menjadi pemburu dan mengamuk," katamu? Hanya dengan mengendalikan karakter
melalui tombol lewat layar monitor, aku merasa sudah tahu segalanya.
Aku menutup
telingaku dengan tangan, seolah berusaha melarikan diri.
Di bawah sosok
Kurukutta yang sudah tidak lagi mengeluarkan suara, aku terus meminta maaf.
Kepada penduduk desa yang telah tiada, kepada Kurukutta, dan kepada orang-orang
yang hidup di dunia ini.
Karena aku tahu.
Aku tahu tentang
Kurukutta dari game.
Sebelum karakter
pemain menyelamatkan umat manusia, dialah pahlawan lain yang terus melindungi
manusia dari serangan peri.
Seorang
pemburu ahli yang dikagumi dan menjadi target karakter pemain.
Namun, pada malam
ini, akulah yang membunuh Kurukutta itu.
Aku
terbangun dengan tiba-tiba.
Hal
pertama yang tertangkap oleh mataku adalah sosok Isfarna yang sedang tidur
sambil memelukku erat-erat. Dia memelukku begitu kuat sampai-sampai kulitku
memucat.
Mendengar
napas tidurnya yang kecil, hatiku perlahan menjadi tenang.
Aku
menutup wajahku dengan tangan dan menghela napas.
Itu
benar-benar mimpi yang buruk.
Mimpi yang
membuat kenangan lama terasa kembali perih.
Dosa yang tidak
bisa kulupakan, dosa yang tidak boleh kulupakan.
"Sedikit
lagi."
Aku
berbisik pada diriku sendiri.
Keempat Raja
Iblis telah kubunuh semua.
Perang antara
manusia dan peri telah berbalik arah, dari ambang kehancuran hingga mencapai
reruntuhan Kastil Ogdanel.
Selain fakta
bahwa Kurukutta tidak ada, semuanya berjalan dengan lancar.
Aku berhasil
mengikuti skenario game sampai sejauh ini.
Setelah ini,
karakter pemain akan muncul bagaikan bintang jatuh, memusnahkan peri, dan
menyelamatkan manusia.
Sebelum itu
terjadi, aku harus berhenti dari militer; itulah satu-satunya hal yang tersisa
untuk kulakukan.
Kurukutta di
cerita aslinya pun kehilangan satu kaki dalam pertempuran dan pensiun dari
militer sebelum karakter pemain muncul. Aku seharusnya mengikuti jejak itu.
Masalahnya,
sepertinya aku tidak akan diizinkan keluar dari militer hanya karena kehilangan
satu kaki.
Namun, jika hari
di mana aku bukan lagi seorang pemburu tiba, maka saat itulah.
Perlahan, mataku
tertuju pada Longsword yang disandarkan di samping tempat tidur.
◆◆◆
"Jadi, kamu
masih ingin keluar dari militer?"
"Kamu, masih
membicarakan hal itu?"
Dia menghela
napas panjang seolah merasa kesal.
Saat aku sedang
menyantap sarapan yang terlambat di kantin, Morgraid tiba-tiba sudah duduk di
seberangku. Dia menuangkan gula ke dalam tehnya dengan terburu-buru.
"Kalau kamu
keluar dari militer, Isfarna, Ingrasius, bahkan Alhanzen-sensei pasti akan ikut
keluar menyusulmu. Tentu saja, aku juga akan terus menempel padamu."
Morgraid mengaduk
tehnya dengan sendok hingga menimbulkan bunyi gemerincing.
"Agrastain
tidak akan membiarkan hal itu terjadi semudah itu. Jadi, bukankah dia sengaja
menggantung 'wortel' berupa surat nikah itu di depan hidung kita?"
Aku merasa muak
dan membenamkan wajah ke meja.
"Kalian
masih saja membahas soal pernikahan itu. Itu pasti hanya gurauan konyol dari
Agrastain."
"Hmm,
kurasa Isfarna tidak berpikir begitu."
Gedebuk.
Suara
logam misterius menggema di kantin pagi itu.
Saat aku
menunduk dengan ngeri, borgol raksasa yang entah dari mana asalnya sudah
mengunci pergelangan tanganku. Di ujung rantai itu, tampak Isfarna dengan tatapan mata yang gelap.
"Hei,
si bodoh. Jangan bilang kamu mencoba melarikan diri lagi dari aku yang jenius
ini?"
"......!"
Ada rasa
dingin yang merambat di sepanjang tulang belakangku.
"Wah,
wah, sepertinya kamu ketahuan oleh Isfarna."
Morgraid
menyapa sambil menyeringai. Aku mencoba membujuknya dengan keringat dingin yang
mengucur deras.
"Tidak, ini
hanyalah kiasan kata-kata..."
"......Agrastain berkata."
Isfarna memotong ucapanku dengan wajah tertunduk.
"Agrastain bilang, kalau dia mengikatmu di militer,
maka dia akan menyerahkanmu padaku. Dia bertanya apakah aku tidak menginginkan
ikatan seumur hidup yang jauh lebih kuat daripada sekadar hubungan atasan dan
bawahan di militer."
Ah, ini gawat.
Tidak mungkin aku bisa membujuk Isfarna yang sudah kemakan
hasutan Agrastain hanya dengan kata-kata.
Aku tidak mungkin menang melawan lidah berbisa si shota
sinting itu.
"......Hei, si bodoh."
Isfarna tersenyum manis dengan mata yang kehilangan
cahayanya.
"Jadilah keluargaku."
Aku mundur perlahan dengan senyum yang kaku.
Itu adalah kalimat yang terlalu tajam untuk sekadar lelucon.
Isfarna menarik rantai itu tanpa bicara, seolah ingin
menegaskan bahwa dia tidak akan membiarkanku kabur. Dia terus menatapku sampai terasa sakit, tanpa
sepatah kata pun.
"Tu-tunggu
sebentar, mari kita tenang dulu, ya, Isfarna...!"
Tepat saat aku
berusaha menenangkannya sekuat tenaga, itu terjadi.
"......"
Tiba-tiba, kepala
Isfarna terkulai. Aku menangkap tubuhnya sesaat sebelum dia jatuh pingsan.
"Sungguh, si
jenius itu selalu melompat pada logika yang konyol. Kurasa dia perlu belajar
untuk menghargai prosedur dan langkah-langkah yang ada."
Alhanzen-sensei
muncul dengan tenang dari balik punggungku.
Seperti
biasa, dia mencoba menendang-nendang Isfarna yang kugendong dengan wajah yang
tidak bisa dibaca. Saat aku melindunginya, dia malah berdecak kesal.
Yah, dia
memang cukup kejam.
"......Apa
pun itu, si jenius tidak akan bangun untuk sementara waktu."
Senjata No. 0.
Itu adalah
senjata rahasia yang seharusnya tidak ada.
Di antara semua
senjata yang diciptakan Alhanzen-sensei, inilah yang dikelola paling
ketat—sebuah senjata biologis yang ditanamkan langsung ke dalam tubuh para
prajurit.
Tujuannya adalah
sebagai langkah terakhir jika militer itu sendiri berubah menjadi musuh umat
manusia.
Ini adalah hal
mengerikan yang memungkinkan Alhanzen-sensei melumpuhkan prajurit atau
memanipulasi ingatan mereka hanya dengan satu perintah.
Tentu saja, hal
seperti ini tidak boleh diaktifkan semudah itu.
Tapi yah, Alhanzen-sensei
sepertinya tidak tertarik dengan urusan pernikahanku. Karena dia adalah tipe
yang mengutamakan logika dan penelitian, mungkin dalam hal ini aku bisa merasa
sedikit lega.
"Lagipula,
bodoh sekali memaksakan kehendak untuk mengikat seseorang demi kepentingan
pribadi dengan mengabaikan harapan Mikkanen. Kurasa jalan hidup seperti diriku,
yang mendedikasikan seluruh hidup untuk pengukuran, jauh lebih baik."
"......?"
Bukankah
pembicaraannya agak melenceng?
Aku memiringkan
kepala.
"Ehm,
sebenarnya apa rencanamu terhadapku, Alhanzen-sensei?"
"Tidak ada,
aku tidak berniat melakukan apa-apa. Aku tidak peduli dengan siapa Mikkanen
menikah. Aku hanya ingin Mikkanen membiarkanku terus melakukan pengukuran tanpa
absen satu hari pun sampai dia masuk ke liang kubur."
Apakah itu
benar-benar bisa disebut "hanya"?
Setelah
dideklarasikan sebagai target penguntit seumur hidup tepat di depan hidungku
sendiri, aku menyesap kopi seolah berusaha melarikan diri dari kenyataan.
Alhanzen-sensei
sedang memotong rantai borgol itu menggunakan alat pemotong mesin hingga
menimbulkan bunyi ngiiing yang nyaring—entah dia dapat alat itu dari
mana. Dia tampak cukup menikmatinya.
Tidak ada pilihan
lain.
Aku membaringkan
Isfarna di atas kursi kantin. Khawatir jalan napasnya tersumbat, setelah
berpikir sejenak, aku memutuskan untuk menjadikannya bantal di pangkuanku.
Saat aku akhirnya
bisa bernapas lega, seseorang bicara.
"Sungguh,
seorang komandan akan menderita jika memiliki pemburu yang merepotkan."
"......Kalimat
itu seharusnya aku yang katakan padamu, tahu."
Morgraid, yang
sepertinya sedang menikmati buah-buahan sambil menonton drama ini, tertawa
kecil. Aku hanya bisa menatapnya tajam dengan diam.
"Kejam
sekali, padahal aku tidak mengatakan apa pun, kan?"
"......"
"Wah, kejam.
Kamu mencurigaiku, ya."
Mungkin dia
membaca pikiranku lagi.
Aku menghela
napas menanggapi Morgraid yang masih tersenyum jahil.
Faktanya,
sekarang aku—baik suka maupun tidak—telah terhubung sehingga semua emosi yang
kurasakan akan mengalir langsung ke Morgraid.
Semuanya
bermula saat aku bertarung melawan Bunda Agung, peri pertama.
Dalam
pertarungan itu, aku berusaha membunuh Bunda Agung dengan mengorbankan nyawaku
sendiri. Tapi, Morgraid tidak mengizinkannya.
Dia malah
menanamkan jantungnya ke dalam tubuhku.
Itu
adalah tindakan nekat yang mengandalkan kemampuannya sebagai blasteran peri
untuk menyembunyikan jantung di mana saja. Berkat itulah, nyawaku terselamatkan
oleh Morgraid.
Tentu
saja, karena aku tetap hidup, Bunda Agung pun tidak mati.
Saat ini, mungkin
dia sedang bersembunyi di kedalaman Hutan Peri, sibuk memulihkan luka-lukanya.
Tanpa tahu bahwa dia akan dibunuh oleh karakter pemain dalam beberapa tahun ke
depan.
Terlepas dari itu
semua, ikatan misterius tercipta di antara aku dan Morgraid sejak saat itu.
Semua gejolak emosi dan perasaan di hatiku akan tersampaikan ke Morgraid
melalui jantung tersebut.
Karena Morgraid
memiliki darah peri, dia akan mati kelaparan jika tidak "memakan"
hati seseorang.
Aku tidak
menyesal karena ikatan ini membuat Morgraid tidak lagi menderita kelaparan,
tapi aku juga tidak bisa bilang kalau aku tidak punya masalah.
Coba pikirkan
baik-baik.
Perasaan
terdalamku diketahui oleh Morgraid—orang yang bisa dibilang paling mengerti
diriku, sahabat yang selalu menggodaku—selama siang dan malam tanpa henti.
Itu adalah
masalah yang sangat besar bagiku.
"Wah, wah,
kamu masih malu-malu sekarang? Manis sekali."
"Haa..."
Aku bersikap
ketus menanggapi Morgraid yang terus menggodaku.
Melihatku seperti
itu, Morgraid tertawa kecil, namun tiba-tiba dia terdiam.
Di meja yang kini
sunyi, terdengar bunyi gesekan.
Ternyata Alhanzen-sensei
sedang jongkok di sampingku dan mencoret-coret wajah Isfarna. Kenapa dia harus
menargetkan Isfarna?
Lalu, dia
mendongak menatap wajahku dan Morgraid secara bergantian, lalu memiringkan
kepala.
"Kurasa,
sebaiknya aku pulang sekarang. Apakah itu tidak apa-apa, Morgraid?"
"......Ya,
tolong lakukan."
Mata
Morgraid bergerak gelisah.
"Mikkanen,
aku punya sesuatu yang ingin dibicarakan juga. Akan sangat berterima kasih jika
kamu berkunjung ke laboratorium nanti."
Alhanzen-sensei
pergi sambil menyeret jubah putihnya yang kotor.
Setelah
terdiam cukup lama dan berulang kali mencoba bicara lalu mengurungkan niatnya,
Morgraid bertanya padaku dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ngomong-ngomong,
apa semalam kamu bermimpi buruk? Aku terkejut saat merasakan perasaan sedih
yang sangat dalam mengalir darimu."
Aku
merasa sesak.
Benar
juga, sungguh merepotkan kalau pikiranmu dibaca. Karena dengan begini, bahkan
hal yang tidak ingin kuketahui pun akan tercium olehnya.
"Tidak,
itu hanya mimpi tentang masa lalu. Bukan hal yang perlu kamu cemaskan."
"Begitu
ya, kalau begitu baguslah."
Morgraid menyesap
tehnya.
"Tapi, ada
satu hal yang ingin aku katakan."
Morgraid menarik
kerahku hingga wajah kami berdekatan. Sebelum aku sempat memotong
pembicaraannya, bibir sakura itu mendekat ke telingaku.
"Apa pun
yang terjadi, aku akan meminjamkan kekuatanku padamu."
Itu adalah
kalimat yang tenang, namun penuh penekanan.
"Agrastain
mungkin mengandalkan sistem umat manusia dengan pernikahan atau apa pun itu,
tapi aku tidak tertarik sama sekali. Jika Mikkanen punya niat untuk itu, aku
akan membiarkan umat manusia begitu saja dan membawamu lari sejauh
mungkin."
Jika ada orang
lain yang mendengar ini, itu sudah cukup untuk membawanya ke pengadilan
militer. Namun, Morgraid tidak merasa ragu sedikit pun.
"Kamu sudah
menyelamatkan nyawa peri tidak berguna ini, jadi aku akan sangat repot jika
kamu tidak terus bersamaku selamanya."
Mata biru itu
menatapku lekat-lekat. Aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari wajah
Morgraid, seolah-olah terpaku oleh paku.
"Eh, apa ini
mimpi? Kenapa aku dipangku oleh si bodoh..."
Terdengar gumaman
lirih.
Tak lama
kemudian, terdengar suara gemetar yang seolah tidak percaya dengan apa yang
dilihatnya.
"Ti-tidaaaak..."
Merasakan firasat buruk, aku perlahan menundukkan kepala. Hal pertama yang kulihat adalah Isfarna dengan wajah semerah apel, bibirnya bergetar hebat.
"A-apa yang
sedang kau lakukan! Si bodoh ini milikku, meski itu kau, Morgraid, hal tidak
senonoh seperti itu... tidak boleh!"
Isfarna
bangkit berdiri dengan kasar, memisahkan aku dan Morgraid.
Morgraid
sempat memasang wajah sedih sesaat, namun segera saja dia membalas dengan
senyuman nakal untuk menggoda Isfarna.
"Wah,
wah, apa kata-katamu itu pantas keluar dari seseorang yang diam-diam sering
menyelinap ke tempat tidur Mikkanen? Si jenius sihir ini sebenarnya sedang
melakukan apa di bawah selimut?"
"......Di-diam
kau!"
Setelah terdiam sesaat, wajah Isfarna berubah semakin merah
padam.
Eh, mungkinkah
selama ini ada sesuatu yang dilakukan Isfarna padaku tanpa aku sadari? Aku
merasa ngeri melihat Isfarna mencoba membungkam mulut Morgraid sambil telingaku
sendiri ikut memerah.
Dengan
seringai jahil, Morgraid dengan mudah menghindar dari tangan Isfarna.
"Sungguh,
kalau iri, kenapa Isfarna tidak manja saja? Atau mungkin kamu malu karena tidak
bisa melakukannya?"
"I-ini
aku manja pada si bodoh ini?! Tidak mungkin, dia itu hanya, hanya..."
"Hanya
apa?"
"~~~gh!"
Isfarna
membuka-tutup mulutnya seperti ikan yang terdampar di daratan.
Lebih tepat
disebut sebagai perselisihan satu arah di mana yang satu terus menggoda, namun
aku hanya bisa diam karena tidak tahu harus berkomentar apa.
"Lagipula,
bukankah kamu harus membersihkan coretan yang ada di wajahmu itu?"
"Hm? Coretan
apa maksudmu..."
Isfarna yang
menerima cermin dari Morgraid menatap wajahnya sendiri dalam diam.
Perlahan-lahan, bahunya mulai gemetar hebat.
"A-a-apa-apaan
ini...!"
Isfarna berteriak
dengan mata yang terbakar amarah.
"Apa maksud
dari tulisan 'Sepertinya dia seperti anak anjing yang kurang diperhatikan
pemiliknya hingga nafsu birahinya meluap, seharusnya dia malu' ini! Pasti Alhanzen yang menulis
ini!"
"Oh,
argumen yang masuk akal."
"......gh!"
Terdengar
bunyi klik seolah ada sesuatu yang terputus di dalam dirinya.
Dengan
wajah tertunduk dan leher yang memerah, Isfarna menggunakan sihirnya untuk
melayangkan peralatan makan yang tadi sempat jatuh ke udara. Sebuah cangkir
kayu terbang melesat ke arah Morgraid.
Morgraid
menghindar dengan lincah layaknya seorang akrobat, lalu meninggalkan kantin
dengan ceria.
"Kalau
begitu, lariii!"
"......gh!"
Mungkin
karena terlalu sering digoda, Isfarna terlihat sangat marah. Dia mengejar
Morgraid yang melarikan diri. Sangat mencerminkan sifat Isfarna, dia sempat
membersihkan kotoran di lantai sebelum pergi.
Saat aku
ditinggalkan sendirian sambil mengunyah daging asap yang kenyal seperti karet,
seorang biarawan kecil duduk di sebelahku.
"Ingrasius.
Selamat pagi."
『☆Selamat pagi!』
Tanpa kusadari,
Ingrasius sudah duduk di sana sambil tersenyum lebar, menutupi mulutnya dengan
buku sketsanya.
"Ngomong-ngomong,
bagaimana dengan novel yang kupinjamkan tempo hari?"
『Cerita tentang
Dokter Kecil di Kota itu, kan? Ceritanya sangat lembut, hatiku jadi terasa
hangat saat membacanya.』
Sejak dia tanpa
sengaja menemukan hobi untuk mencari apa yang dia sukai, aku sering
meminjamkannya novel atau bermain board game bersama.
Baru kemarin kami
bermain Indian Poker, tapi karena Ingrasius terlalu jujur hingga
perasaannya langsung terlihat dari wajahnya, dia terus-menerus kalah.
Namun sebaliknya,
jika bermain Blackjack atau permainan yang mengandalkan keberuntungan,
dia tak terkalahkan dan justru aku yang dibantai habis-habisan. Mungkin bakat
kami memang saling menyeimbangkan satu sama lain.
『Ngomong-ngomong,
tadi saya melihat Isfarna-san mengejar Morgraid-san di lorong kantin. Apa yang
sedang terjadi, ya?』
"Ah,
Morgraid hanya terlalu banyak menggodanya, jadi mereka sedang bermain
kejar-kejaran."
Aku menjawab
dengan malas, merasa terlalu lelah untuk menceritakan kronologinya. Mendengar
itu, wajah Ingrasius pucat pasi.
『Ja-jangan-jangan,
mereka sedang bertengkar!』
Dia
bangkit berdiri dengan terburu-buru.
Aku
mencoba menenangkannya.
"Tidak,
tidak perlu terlalu khawatir..."
『Mereka berdua
adalah teman. Tidak boleh saling membenci!』
Namun, melihat
tatapan matanya yang tulus, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku hanya bisa
memandangi Ingrasius yang berlari mengejar mereka.
『Bertengkar itu
tidak boleh!』
Sambil mengangkat
papan tulis di buku sketsanya dengan tulisan itu, dia melompat ke tengah-tengah
dua orang yang sedang berlarian di kantin.
Secara pribadi,
aku terlalu takut untuk mendekati Isfarna dalam kondisi seperti itu. Tapi
melihat Ingrasius berani melerai, dia jauh lebih dewasa dan bisa diandalkan
daripada aku.
Aku pun menyadari
bahwa Ingrasius adalah orang yang paling bisa diandalkan di party-ku.
Sungguh, aku
sangat merasakannya.
Hanya saja, dari
mana dia mendapatkan sendok yang digenggamnya di tangan kiri saat berlari tadi?
Omong-omong, sendok di cangkir kopi milikku sudah menghilang entah ke mana.
◆◆◆
"Hei, Alhanzen-sensei.
Tidak apa-apa kita bicara, tapi kau harus makan dulu."
Aku diberitahu
oleh staf kantin bahwa Alhanzen-sensei belum menyentuh sarapan selama empat
hari terakhir. Aku pun membawa nampan berisi berbagai macam makanan dan
mengunjungi laboratorium Alhanzen-sensei.
Tak lama
kemudian, pintu terbuka dengan sendirinya.
Saat melangkah
masuk, aku melihat banyak sekali cetak biru berserakan di mana-mana, sepertinya
dia sedang merancang senjata baru. Alhanzen-sensei sendiri sedang menghadap meja gambar dengan pena yang
bergerak cepat.
"Ah,
Mikkanen."
Dia menghentikan
tangannya dan menatapku perlahan. Setelah melepas kacamata dan mengucek
matanya, dia memberiku isyarat tangan.
Saat aku mendekat
sesuai perintahnya, dia menyandarkan kepalanya di bahuku tanpa mengucapkan
sepatah kata pun.
"Itu, Alhanzen-sensei?"
"Untuk
memulihkan otakku yang lelah akibat kerja keras dalam waktu lama, aku rasa cara
ini adalah yang paling optimal. Berdasarkan eksperimen sejauh ini, cara ini
terbukti jauh lebih manjur daripada sekadar istirahat atau bermain."
"......"
Karena dia
mengatakannya dengan wajah tanpa ekspresi sedikit pun, Alhanzen-sensei memang
selalu sulit dimengerti. Yah, kalau hanya sekadar menyandarkan kepala, itu
bukan masalah besar yang harus kuhindari.
Aku menarik kursi
di dekatnya lalu duduk.
"Ngomong-ngomong,
pastikan kau setidaknya makan sesuatu. Aku tahu kau mungkin sibuk,
tapi..."
"Ini bukan
sekadar sibuk."
Alhanzen-sensei
menghela napas panjang.
"Agrastain
terus-menerus memberikan tugas yang mustahil, aku benar-benar pusing. Aku
diminta untuk merancang senjata dengan jumlah yang jauh lebih banyak daripada
biasanya."
Alhanzen-sensei
memijat pelipisnya dengan jari sembari mendesah dengan wajah masam. Ini hal
yang langka, mengingat tidak ada yang bisa mengungguli Alhanzen-sensei dalam
hal meneliti ekologi peri maupun merancang senjata.
"Sehebat apa
pun diriku, ada hal-hal yang tidak bisa kulakukan, atau yang terlalu
sulit."
Alhanzen-sensei
menggerutu dengan wajah cemberut.
Mulai dari
masalah tenggat waktu, kalau saja mereka bicara lebih awal dia tidak perlu
bekerja lembur seperti ini, sampai soal betapa sulitnya menerapkan teknologi
baru yang mereka inginkan...
Alhanzen-sensei
sepertinya sedang benar-benar kesulitan akhir-akhir ini.
"Aku juga
butuh asupan nutrisi. Demi efisiensi, sekaligus mengistirahatkan otot lenganku,
kurasa akan lebih cepat jika Mikkanen membantuku makan."
"......Ya,
baiklah."
Aku menyuapi Alhanzen-sensei
roti yang sudah dilunakkan dengan sup. Saat dia selesai, dia menyodorkan
mulutnya lagi seolah meminta tambah, membuatku tersenyum pahit.
Setelah
menyuapinya beberapa saat, dia menarik lengan bajuku pelan.
"Alhanzen-sensei?"
"Ada satu
hal yang ingin kutanyakan."
Alhanzen-sensei
bertanya dengan mata tenangnya yang biasa. Aku memiringkan kepala, menunggu apa
yang akan dia katakan.
"Selama
beberapa hari terakhir, tampaknya kau menanggung stres yang cukup besar saat
tidur. Jika ada yang bisa kubantu, tolong katakan padaku."
Napasku tertahan
sejenak.
Wajah sahabatku
dari kampung halaman terlintas di benakku, dan kenangan masa lalu yang terus
muncul dalam mimpi belakangan ini terasa menusuk-nusuk perih.
Beberapa hari
terakhir ini, aku terus memimpikan Kurukutta.
Kurukutta,
sahabat masa kecilku yang melindungiku dan akhirnya dimangsa peri
menggantikanku. Aku tidak mengerti kenapa mimpi itu muncul kembali sekarang.
Melihat kenangan
yang tidak ingin kuingat kembali setiap malam bukanlah hal yang menyenangkan.
Tapi, terlepas dari Morgraid, bagaimana bisa Alhanzen-sensei tahu tentang hal
ini?
"Aku
menyelipkan alat yang dimodifikasi dari Senjata No. 0 di dekatmu."
Katanya, itu dia
gunakan sebagai alat pengukur untuk diriku.
"Itu
diperlukan agar standar eksplorasiku bisa diselaraskan secara akurat dengan
Mikkanen."
"Hahaha...... Alhanzen-sensei memang hebat, ya."
Tidak, mungkin aku seharusnya marah karena dia menanamkan
benda semacam itu tanpa izinku, tapi aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk
itu.
"Kupikir
kau mendengar sesuatu dari Morgraid."
"Begitu ya,
maksudmu jantung peri itu?"
Alhanzen-sensei
bergumam pelan.
"......Aku
iri."
"Alhanzen-sensei?"
"Tidak,
lupakan. Lebih penting lagi, jika kau mengalami masalah seperti insomnia, aku
bisa memberikan obat atau semacamnya..."
Aku
memiringkan kepala karena merasa Alhanzen-sensei baru saja mengatakan hal yang
tidak kumengerti. Namun, dia langsung mengalihkan pembicaraan.
"Tidak,
tidak perlu. Aku baik-baik saja."
"Kalau
begitu, baiklah. Tapi ingatlah bahwa aku percaya sepenuhnya pada Mikkanen apa
pun yang terjadi. Jadi, jika
kau menemui masalah, tolong katakan padaku."
Alhanzen-sensei
berkata seperti itu, tapi ini kan hanya masalah mimpi.
Aku menggelengkan
kepala.
Aku tidak bisa
membiarkan anggota lain melihatku dalam kondisi tidak prima hanya gara-gara
mimpi. Aku pun meminta satu hal kepada Alhanzen-sensei.
"Tolong
jangan bicarakan hal ini pada anggota lain. Aku hanya sedang sulit tidur,
beberapa hari lagi pasti akan membaik."
◆◆◆
"Mikkanen.
Ada seorang pemburu pemula yang ingin kuperkenalkan padamu. Dia adalah bibit
unggul yang selalu menempati peringkat pertama di akademi militer selama tiga
tahun berturut-turut."
Agrastain
memberikan perintah itu sembari tetap menatap dokumen di depannya.
Ah, benar juga,
musim ini sudah tiba ya, pikirku sambil menghela napas dalam hati.
Musim dingin
telah berakhir, dan musim semi telah tiba. Karena upacara kelulusan akademi
militer baru saja berlangsung beberapa hari lalu, ini adalah saatnya para
pemburu pemula berdatangan ke reruntuhan Kastil Ogdanel satu demi satu.
Berbeda dengan
belasan tahun lalu saat umat manusia di ambang kepunahan, kini umat manusia
sudah mampu mencurahkan tenaga untuk melatih para pemburu.
Mereka yang
memiliki bakat sebagai pemburu akan dikumpulkan di akademi militer ibu kota,
diajarkan segala hal mulai dari disiplin militer, taktik, hingga teknik
bertahan hidup.
Setelah itu,
mereka akan bergabung dengan party pemburu berpengalaman di berbagai
tempat untuk belajar dasar-dasar berburu peri.
Party kami pun sudah melatih beberapa pemburu
pemula. Mungkin karena kami dianggap sebagai party pahlawan, selalu saja
pendatang baru yang paling berbakat dari akademi militer yang dikirim kepada
kami.
Dan dengan ini,
pembicaraan soal keluar dari militer jadi semakin jauh saja.
Sekali seorang
pendatang baru masuk ke dalam party, aku tidak punya pilihan selain
terus menjadi pemburu sampai mereka benar-benar siap. Padahal, aku harus keluar
sebelum karakter pemain masuk ke dalam cerita.
"Jadi, kapan
mereka akan bergabung dengan party kami?"
"Maaf
sekali, tapi mulai hari ini. Bukan berarti aku beralasan, tapi tumpukan dokumen
belakangan ini luar biasa banyaknya, jadi aku terlambat menyadari dokumen dari
akademi militer."
Agrastain
mengatakannya dengan wajah tanpa dosa.
Jangan-jangan,
aku mulai mencurigai si shota sinting itu. Jangan-jangan dia sengaja
terus menumpuk tugas militer agar aku tidak punya keinginan untuk keluar dari
militer?
"Jalur
kereta dari ibu kota ke reruntuhan Kastil Ogdanel akhirnya selesai dibangun.
Memang benar kita jadi bisa memasukkan tenaga tempur jauh lebih banyak daripada
sebelumnya, tapi masalah yang muncul pun tidak ada habisnya dan aku terus
disibukkan oleh hal itu."
"Begitu,
ya."
Kalau soal
membantai peri, aku mungkin bisa melakukannya, tapi soal strategi atau
pengiriman amunisi, aku benar-benar tidak paham. Yah, itu wajar karena aku
terus bertarung tanpa pernah dididik dengan layak sebagai tentara.
Melihatku yang
hanya menanggapi dengan acuh tak acuh, Agrastain menghela napas.
"......Yah,
percuma saja menjelaskan hal ini padamu."
Aku merasa sangat
diremehkan, tapi karena apa yang dia katakan benar, aku tidak bisa membela
diri. Untuk mengalihkan rasa canggung, aku pun bertanya.
"Yah,
sudahlah. Siapa nama pendatang baru itu?"
"Kurasa akan
lebih cepat jika kau mendengarnya sendiri darinya. Lagi pula, dia sudah ada di
sini."
Dengan bunyi
berderit berat yang biasa, pintu baja itu terbuka.
Sungguh, mereka
tidak sabaran sekali. Aku menghela napas dan memalingkan wajah ke arah pintu
mengikuti tatapan Agrastain.
Itu adalah momen
pertama kali aku melihat wajah pemburu pemula yang datang.
"Radim
Lionhearts, mohon bimbingannya."
Kepalaku mendadak
kosong.
Aku mengenal nama
itu dengan sangat baik—terlalu baik, sampai rasanya menyakitkan.
Nama yang terus
kucari tanpa sadar sejak aku lahir ke dunia ini. Nama standar dari karakter yang dikendalikan
pemain dalam Fairy Hunters tersebut.
Rambut
hitam pekatnya dipotong pendek, dan tinggi badannya hanya mencapai dadaku.
Radim, yang dalam game bisa dimainkan baik sebagai pria maupun wanita,
ternyata di dunia ini berjenis kelamin pria.
Mata
kuningnya yang bagaikan permata bergetar hebat.
"Pahlawan,
Mikkanen-sama......"
Kalimat itu
terucap lirih dengan nada tidak percaya.
Di depanku
berdiri karakter pemain dari cerita aslinya—yang seharusnya dilatih oleh
Kurukutta—pahlawan yang nantinya akan menyelamatkan umat manusia.
Dia adalah Radim Lionhearts.
◆◆◆
Pintu baja itu
tertutup dengan suara berat di belakangku.
Ditinggalkan
sendirian di ruang kerja oleh Agrastain yang masih dipenuhi tumpukan dokumen,
aku diam-diam melirik Radim yang berdiri di sampingku. Setiap kali melihat
rambut hitam pekatnya, parasnya, dan sosoknya, ingatan jauh itu kembali tumpang
tindih.
Ilustrasi
yang digambar di sampul game. Model karakter yang dulu kukendalikan
melalui layar monitor. Semakin sering kulihat, jiwaku semakin menjerit.
Pemburu
pemula yang berdiri kaku di sampingku saat ini adalah karakter player
yang selama ini kuharapkan; pahlawan yang akan menyelamatkan umat manusia.
Sejenak,
aku ingin membuang segalanya dan menginterogasi Radim. Apakah dia benar-benar akan menyelamatkan umat
manusia? Apakah dia benar-benar akan membunuh Bunda Agung itu?
Namun, aku
menahan diri di detik terakhir.
Menanyakan hal
semacam itu pada Radim yang sekarang hanya akan membuatnya bingung. Hanya
akulah satu-satunya orang yang mengetahui skenario game dan jalan yang
akan ditempuh dunia ini ke depannya.
"Kalau
begitu, Radim, akan sangat membantu jika kamu bisa menceritakan tentang
dirimu."
Pertama-tama, aku
ingin memastikan apakah latar belakang Radim ini benar-benar sama dengan
karakter player di game. Mungkin saja, nama dan wajahnya hanyalah
kebetulan semata.
"Pi, piya!
Siap, saya mohon bimbingannya!"
Sambil
mengeluarkan jeritan yang membingungkan, Radim mulai bercerita dengan lancar.
Tentang bagaimana
dia menjadi yatim piatu dan dibesarkan oleh sepasang lansia. Tentang bagaimana
dia mendaftar ke militer untuk menjadi pemburu setelah tahu dia punya bakat
sihir. Tentang bagaimana dia tidak pernah sekalipun melewatkan posisi sebagai
lulusan terbaik di akademi militer.
Semakin kudengar,
semakin yakin aku bahwa Radim ini benar-benar Radim dari skenario game.
Riwayat hidupnya tidak berbeda satu kata pun dengan teks flavor yang
muncul di awal permainan.
Tidak
perlu diragukan lagi.
Radim ini
benar-benar karakter player yang sesungguhnya.
"Begitu, ya.
Terima kasih."
"Ti, tidak
sama sekali. Ini adalah kehormatan yang luar biasa bagi saya."
Radim
memberikan hormat, namun entah mengapa dia gemetar. Matanya bergerak gelisah,
bahkan membuatku merasa seolah dia sedang ketakutan.
Aku menjadi
cemas.
Jangan-jangan,
apakah aku baru saja mengatakan sesuatu yang menakutinya? Padahal baru beberapa
menit kami bertemu, tapi keadaannya sudah seperti ini.
Aku langsung
merasa ngeri membayangkan apa yang akan terjadi jika skenario ini melenceng
dari jalur.
Radim inilah
satu-satunya harapan agar manusia bisa menang melawan peri. Padahal aku sudah
mati-matian berjuang menggantikan Kurukutta hingga detik ini, tapi kalau di
sini semuanya berakhir sia-sia, aku tidak tahu harus bagaimana.
"E-ehm, itu,
jangan-jangan ada kata-kata yang tidak seharusnya kuucapkan...?"
Saat aku bertanya
dengan ragu, dia menyahut.
"Mana
mungkin! Saya hanya tidak menyangka bisa melihat langsung wajah Mikkanen-sama
yang agung, saya hanya merasa begitu terhormat sampai rasanya hampir
pingsan!"
Radim
berkaca-kaca seolah baru saja bertemu dengan Tuhan.
"Saya sudah
menghormati Mikkanen-sama sejak lama sekali. Anda adalah idola saya, sosok yang
ideal."
Aku memiringkan
kepala melihat Radim yang tampak hampir menangis.
Tunggu,
bukankah Radim tidak seperti ini karakternya?
Radim
yang kukenal, karakter player dalam skenario aslinya, adalah seseorang
yang suram, sama sekali tidak tertarik pada orang lain, dan memiliki
kepribadian mekanis yang hanya memikirkan cara membunuh peri.
Bagaimanapun,
dia memikul beban berat karena di masa kecilnya dia melihat dengan mata kepala
sendiri orang tuanya dikunyah sampai mati oleh peri tepat di depan hidungnya,
yang membuatnya trauma dan menjauhkan diri dari orang lain.
Inti
skenario dari Fairy Hunters adalah bagaimana Radim akhirnya mengenal
hati manusia dan belajar menjalin hubungan dengan sesama.
Dia
jelas-jelas bukan karakter seperti otaku yang sedang bertemu idolanya
seperti ini.
"Itu,
bisakah kamu berhenti memanggilku 'Mikkanen-sama'?"
"Mana bisa!
Mana mungkin saya berani menghilangkan akhiran '-sama'. Menyebut nama besar
Mikkanen-sama yang agung secara langsung, itu adalah bentuk ketidaksopanan yang
keterlaluan!"
Apakah aku ini
Tuhan atau apa? Aku tidak bisa menahan diri untuk memegang kepala.
Apakah ini
sindiran bernada tinggi yang dibungkus pujian, atau sekadar pujian yang
berlebihan? Namun,
mata Radim yang berbinar-binar sepertinya tidak sedang berbohong sama sekali.
Aku sampai pada
kesimpulan yang tidak ingin kupikirkan.
Entah kenapa,
Radim benar-benar menghormatiku dari lubuk hatinya dan merasa bahwa tanpa
akhiran "-sama", dia bahkan tidak pantas menyebut namaku.
"Karena
Mikkanen-sama adalah legenda hidup yang nyata, bukan? Anda adalah orang besar
yang akan tercatat dalam sejarah, yang memusnahkan empat Raja Iblis yang
mengerikan dalam sekejap dan menyelamatkan umat manusia. Anda adalah pahlawan
yang diidamkan semua orang di kerajaan ini!"
Ini luar biasa.
Aku tahu bahwa
karena si shota sinting itu, aku sering dijadikan alat propaganda
sebagai "pahlawan". Sudah tak terhitung berapa banyak kisah heroik palsu yang
dikarang-karang oleh departemen propaganda militer.
Namun,
mengetahui hal itu lewat koran atau radio sangat berbeda dengan didengar
langsung oleh orang yang baru saja kutemui, sampai-sampai aku mengira dia
sedang bercanda.
Aku mencoba membujuknya dengan cara halus.
"Hmm, meski begitu. Aku merasa terganggu jika harus
diagung-agungkan sebagai pahlawan, rasanya memalukan. Lagipula, aku tidak punya
kapasitas untuk itu. Jadi..."
"Ti-tidak, itu salah! Mana mungkin itu benar!"
Namun, ucapanku
tertelan oleh antusiasme Radim.
Saat Radim
mencondongkan tubuh ke arahku, aku pun mundur secara refleks. Tanpa
mempedulikan wajahku yang kaku, Radim terus bercerita dengan penuh semangat.
"Melihat
kemampuan Anda menumbangkan para Raja Iblis itu, serta semangat Anda yang
mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan siapa pun, Mikkanen-sama adalah
pemburu yang paling hebat! Bagaimana mungkin Anda bilang Mikkanen-sama bukan
pahlawan!"
Cara bicaranya
begitu penuh gairah.
Orang-orang
di sekitar mulai berkumpul karena penasaran. Aku merasa ingin menangis di dalam
hati.
Kenapa aku harus
mengalami ini? Kenapa di depan banyak orang yang kukenal, aku harus dicecar
oleh pendatang baru dengan pujian manis yang membuat sesak napas?
Radim
saat ini tampak seperti penggemar fanatik level kultus.
"Cara bicara
ini juga, sebenarnya saya tiru dari Mikkanen-sama."
Radim berkata
dengan wajah memerah karena malu.
Kalau
dipikir-pikir, memang benar, aku tidak pernah mendengar Radim di dalam skenario
menyebut dirinya dengan sebutan "ore" (aku). Wajahku menegang.
Mungkin
menyebutnya sebagai "penganut fanatik" lebih tepat.
Meskipun aku
sudah memohon dengan merendahkan diri, Radim tidak pernah berhenti memanggilku
dengan akhiran "-sama".
Aku menghela
napas panjang dan tenang.
Sepertinya mulai
sekarang Radim akan terus memberikan rasa hormat yang konyol ini padaku. Kalau
Morgraid tahu, dia pasti akan tertawa terbahak-bahak. Memalukan sekali.
Tapi, lupakan
soal itu.
Aku memejamkan
mata dengan tenang. Radim Lionhearts, karakter player dari karya
aslinya, sang pahlawan yang akan menyelamatkan umat manusia.
Aku tidak
menyangka dia akan dididik di dalam party-ku.
Dalam
karya aslinya, dia bergabung ke dalam party setelah Kurukutta kehilangan
satu kakinya dan pensiun dari dunia pemburu. Dalam hal itu, tidak aneh jika
akhirnya tugas itu jatuh kepadaku.
Aku
panik.
Dalam
skenario aslinya, seharusnya Kurukutta sudah pensiun dari militer dan tidak ada
lagi jejaknya di reruntuhan Kastil Ogdanel. Padahal sekarang, karakter player-nya
malah sudah datang.
Apalagi,
dia justru bergabung ke party-ku.
Bagaimanapun
juga, alur skenario harus dijaga.
Bagaimanapun
juga, aku harus membesarkan Radim, lalu segera keluar dari militer. Kurukutta
sudah mati gara-gara aku, dan skenarionya sudah kacau sejak saat itu.
Agar Radim bisa
memusnahkan peri di masa depan, aku harus melakukan sesuatu.
◆◆◆
Waktu senja.
Di
stasiun reruntuhan Kastil Ogdanel, di peron tempat bongkar muat barang. Beberapa kereta api mengistirahatkan tubuh
raksasanya di sana untuk persiapan pengiriman malam hari.
Dari salah satu
kereta itu, seekor tikus terjatuh.
Hal yang biasa.
Muatan yang dibawa militer penuh dengan biskuit keras dan dendeng—makanan lezat
bagi tikus.
Tentu saja
militer pusing memikirkan masalah kebersihan, tapi hal-hal seperti ini memang
tidak bisa dibasmi sepenuhnya. Oleh karena itu, langkah terbaik hanyalah
menyebarkan racun tikus.
Masinis kereta
menyadari tikus itu, tapi dia hanya berdecak kesal.
Masih banyak
sekali pekerjaan yang harus diselesaikan sang masinis. Jadi, dia tidak punya
waktu untuk mempedulikan satu ekor tikus.
Malam hari adalah
kesempatan emas untuk mengangkut barang karena peri lebih sulit menyadari
keberadaan kita dibandingkan siang hari. Dia harus memeriksa kereta dari atas
ke bawah untuk memastikan tidak ada kerusakan.
Masinis itu
mengintip ke bawah kereta.
Seperti biasa,
roda-roda dingin yang gelap pekat menghadap ke arahnya. Rekan seperjuangan yang
bisa diandalkan. Sambil menyinari mesin dan roda dengan lampu, dia terus
melakukan pengecekan.
Masinis itu
mengangguk tenang. Tidak ada satu pun kerusakan yang ditemukan. Malam ini pun
kereta akan bekerja layaknya kuda penarik beban.
Begitu sang
masinis mendongak, matanya bertatapan dengan tikus itu.
Tikus yang
terjatuh dari kereta tadi. Tikus itu berdiri tepat di depan mata sang masinis,
seolah ada sesuatu yang ingin dikatakan.
"Cepat pergi
sana, atau kubunuh kau!"
Masinis itu
berteriak dengan bosan.
Pencuri yang
selalu mencuri muatan yang diangkut masinis. Sebenarnya dia bisa saja memukul
mati tikus itu dengan sapu yang ada di dekatnya. Manusia seharusnya jauh lebih
kuat daripada tikus.
Namun, tikus itu
tidak mencoba melarikan diri.
Tikus itu justru
menatap wajah sang masinis dengan saksama seolah sedang tertarik pada sesuatu.
Tikus seharusnya
tahu bahwa mereka tidak bisa melawan manusia dan biasanya akan lari mengumpat.
Tapi ini pertama kalinya sang masinis menemui tikus yang tidak merasa takut
sama sekali.
"A-apa
maumu..."
Masinis itu
merasa sedikit ketakutan.
Begitu sadar,
tidak ada siapa pun di sekitarnya. Masinis lain sepertinya sedang beristirahat
untuk persiapan malam hari.
"Tikus yang
aneh sekali kau ini."
Masinis yang
mulai merasa takut itu memutuskan untuk kembali ke stasiun.
Dia pusing
memikirkan alasan apa yang harus diberikan pada masinis lain. Tidak mungkin dia
bilang dia lari karena takut pada seekor tikus. Kalau dia tidak berbohong
karena kedinginan atau alasan lain, dia pasti akan ditertawakan.
"Hm?"
Saat itu, sang
masinis tiba-tiba menyadari sesuatu.
Di punggung tikus
itu, ada sesuatu yang menempel. Sesuatu yang berwarna agak kemerahan dan kuning
pucat.
Apakah dia makan
ham atau semacamnya, dan sisanya menempel di punggungnya? Masinis itu
menyipitkan mata ke arah punggung tikus.
"Hah?"
Itu adalah
telinga manusia.
Telinga manusia
tumbuh dari punggung tikus, persis seperti jamur yang tumbuh dari batang pohon.
Sang masinis akhirnya tersadar.
"Pe-peri......!"
Bak, terdengar suara sesuatu pecah, dan
kepala masinis itu dikunyah. Yang tersisa hanyalah seekor tikus yang mengunyah
dengan mulut yang membesar secara aneh.
"Tidak enak
ya. Padahal aku menantikan dia jadi lebih gemuk karena tidak ada orang di sini,
tapi mengecewakan! Bahkan untuk camilan jam tiga sore pun tidak layak."
Sebuah suara
dengan nada kesal berbisik.
Bentuk tikus itu
mulai berubah secara perlahan. Tangan dan kaki tumbuh, perlahan mengambil
bentuk manusia. Lalu, satu ekor peri muncul.
"Tapi ya
sudahlah! Akhirnya bisa makan daging lagi setelah sekian lama."
Peri itu memiliki
wajah yang tampak sangat ramah.
Dengan rambut
emas yang berkilau dan senyum lebar seperti bunga matahari yang seolah
terdengar bunyinya. Aroma gadis desa yang tumbuh dengan sehat tercium dari
kulitnya yang terbakar matahari.
Gaun yang dia
kenakan tidak terlihat menggoda, melainkan memancarkan aura ceria yang hidup.
Dia tidak terlihat seperti peri sama sekali, benar-benar mirip manusia.
Manusia namun
bukan manusia. Tidak seperti peri namun peri.
"Dan, ah...... Pahlawan-chan sungguh dingin ya, padahal
aku sudah sangat tergila-gila padanya, jangan-jangan dia bahkan tidak
menyadarinya?"
Peri itu
meredupkan senyumnya dan menghela napas dengan bosan.
"Padahal aku
sangat mencintai Mikkanen! Aku ingin lebih mengenal Pahlawan-chan, ingin
bersama dengannya! Apa yang harus kulakukan dengan gairah ini, dengan cinta
ini!"
Setiap kali peri
itu berteriak, muatan di sekitarnya bergetar seolah setuju. Udara bergetar, dan
sihir gelap melemparkan bayangan ke tanah.
Setelah beberapa
saat, peri itu tertawa kecil seolah mendapat ide.
"......Jadi, meski tidak sopan, bagaimana kalau aku pergi menemuinya saja?"



Post a Comment