Chapter
5
Sang
Pahlawan yang Memburu Peri
"Sudah kubilang, menyelamatkanku tidak ada
gunanya. Dia masih hidup," ucap Morgraid dengan pupil mata yang memerah.
Morgraid menundukkan wajahnya sembari terisak pelan.
"Peri yang melahirkanku, Sang Bunda Agung…… Ibu
adalah peri pertama yang muncul di dunia ini. Tak ada satu pun yang tahu di
mana jantungnya disembunyikan."
Bunda Agung, peri permulaan.
Tentu saja aku tahu.
"Mungkin kamu tidak tahu siapa peri itu sebenarnya.
Tapi, peri itu memiliki kekuatan untuk memusnahkan umat manusia! Semakin banyak
hati manusia yang dimakan, semakin unggul peri yang dilahirkannya, begitulah
jenisnya!"
Aku tahu, bahkan sejak sebelum aku lahir.
"Karena itu, karena itu……! Kamu harus lari, Mikkanen
akan mati! Alasan namanya tidak tercatat dalam sejarah adalah karena setiap
orang yang menemuinya telah dimakan habis!"
"Itu, gawat ya."
"Begitu, kan? Makanya,
seharusnya kamu tidak perlu menyelamatkanku! Pokoknya, sekarang kamu harus
segera lari……"
Begitu ya, kalau musuhnya adalah bos terakhir dalam game
ini, memang masalah besar.
Mungkin player character yang memiliki kekuatan
jauh di atasku saja akan dipaksa dalam pertarungan sengit menghadapi bos
terakhir game ini. Dan sekarang, dia sedang menuju ke arah sini.
"Lalu, kenapa memangnya?"
Aku mencabut Longsword-ku.
Aku memaksakan tubuhku yang hancur untuk bergerak dengan
sihir. Sembari merangkak menuju hutan peri yang tiba-tiba menjadi gelap dan
sunyi senyap.
Jika aku kabur di sini, umat manusia akan kembali
terdesak ke ambang kepunahan. Menyelamatkan Morgraid dan melindungi umat
manusia—karena aku telah menetapkan jalan hidupku sendiri, aku harus melakukan
itu semua.
"Aku tidak menyesal telah menyelamatkan
Morgraid. Jadi, meski musuhnya adalah Bunda Agung sekalipun, aku harus
bertarung dan menang."
Hanya itu masalahnya.
"……!"
Morgraid menatapku dengan mata yang bergetar.
Dari dalam hutan, tak terhitung banyaknya peri yang
bermunculan. Kemungkinan besar itu adalah para peri yang dilahirkan sebagai
permulaan oleh Bunda Agung yang telah bangkit. Selain
kawanan peri besar, terlihat juga beberapa mala petaka yang bercampur di sana.
Jadi, aku harus menembus kawanan itu dan berlari sampai
ke tempat Bunda Agung, ya.
"Kamu benar-benar bodoh, ya. Kamu
pikir aku akan menjauh darimu sekarang?"
Dari belakang, kehangatan tubuh Morgraid terasa.
Terdengar suara isak tangis, dan di sudut mataku, kelopak
bunga putih yang biasa menghiasi udara kini bertebaran. Melihat hal itu, aku
tersenyum dan mencoba bangkit dengan bertumpu pada Longsword-ku yang
bergoyang.
Sesaat kemudian, kilatan cahaya yang luar biasa melesat,
disusul gelombang ledakan di tengah kawanan peri.
"Melakukan keputusan sepihak tanpa permisi, aku
merasa memiliki atasan yang benar-benar merepotkan."
"Alhansen-sensei, kenapa kalian ada di sini?"
Alhansen-sensei yang selalu tenang dan kalem menyapa.
"No.10, ratakan tanah dengan No.5."
Bersamaan dengan kata-katanya, bayangan hitam raksasa
berbentuk burung turun dari balik awan. Sayapnya yang mengepak di langit
berkilauan.
Seketika, sekitar dipenuhi oleh suara ledakan.
No.5 jatuh dari No.10 di atas sana; bom raksasa sebesar
bukit itu melepaskan kilatan hijau di udara dan melenyapkan kawanan peri di
sekitar dalam sekejap.
"No.3, aku berpendapat sudah saatnya melancarkan
serangan dengan daya ledak maksimal. Dalam kondisi ini, kerusakan pada laras
meriam tidak perlu dipertimbangkan."
Tanpa kusadari, Alhansen-sensei berjalan mendekat ke
sisiku. Sebuah meriam miniatur seukuran pistol yang mengikutinya dari belakang
berhenti dan mulai membidik.
Ke arah tempat No.5 melenyapkan para peri, energi
elektromagnetik yang tak terlihat melesat.
Sembari mengoyak bumi dan menciptakan tebing curam,
No.3 menembus kawanan peri dan memperlihatkan sosok Bunda Agung yang berada di
baliknya untuk sesaat.
Sosok yang berkali-kali kulihat melalui layar game.
Hitam, seperti kabut, kegelapan seperti malam yang
pekat. Hal itu merembes keluar dari hutan seolah hendak menelan segalanya. Di
berbagai sisi tubuhnya, peri-peri terus dilahirkan.
Kawanan peri yang tak terhitung jumlahnya buru-buru
berusaha menutup lubang tersebut.
"Isfarna, si jenius sihir memerintahkan! Kalian
para peri sialan, segera buka jalan!"
Isfarna melompat keluar sembari berteriak.
Ia mengulurkan tangan dan merentangkan lengannya
dengan seluruh kekuatan yang ia miliki. Berpusat pada lubang yang dibuka oleh
senjata Alhansen-sensei, para peri terdorong mundur seolah pintu sedang dibuka
paksa.
"Isfarna!"
"Si bodoh ini! Kamu adalah atasan langsungku,
kenapa kamu pergi berperang meninggalkanku? Apa kamu berniat memonopoli jasa
pertarungan ini?!"
Sekarang, bahkan umpatan itu terdengar melegakan
bagiku.
Isfarna tertawa menyeringai, lalu lanjut memperlebar
celah di kawanan peri tersebut.
Namun, yang berada di depan sana adalah bos terakhir
dalam cerita asli, sang peri permulaan. Tidak mungkin dia membiarkan kami
membuka jalan semudah itu.
Tekanan berat seolah menghimpit bahu kami.
Kawanan peri mulai menutup celah itu perlahan, seolah
mengejek senjata Alhansen-sensei dan sihir Isfarna.
Isfarna berteriak dengan darah yang menetes dari
mulutnya. Lengan yang ia rentangkan kini terus patah seolah ditekan oleh
tanggem yang tak terlihat.
"Hanya peri sepertimu mau beradu kekuatan sihir
denganku?! Jangan sombong!"
"No.2! Selamatkan Isfarna dan jaga jalan itu!"
Gumpalan daging yang melompat keluar dari tabung reaksi
yang dilemparkan Alhansen-sensei mulai tumbuh besar sembari melahap para peri.
Namun, kawanan peri tumbuh lebih cepat dan lebih agresif.
"Sial, secara prinsip makhluk ini seharusnya bisa
mengeringkan air laut sekalipun!"
Alhansen-sensei berteriak tidak percaya. Isfarna
kini sudah mengeluarkan darah dari mata dan telinganya.
Karena kawanan peri yang terus berdatangan, jalan itu
tampak sudah tertutup sepenuhnya.
Namun, kami masih memiliki satu anggota yang bisa
diandalkan. Uap merah yang tumpah dari tungku sihir yang terbakar hingga
batasnya menyelimuti sosok seorang pendeta.
"Sampai-sampai Ingrasius juga……"
Melompat ke dalam jalan yang hampir tertutup layaknya
sambaran petir, Ingrasius mengepalkan tinjunya.
"――――――――!"
Raungan tanpa suara mengguncang bumi.
Tinjunya, yang telah diubah menjadi bongkahan baja oleh
sihir hingga tidak ada siapa pun di dunia ini yang bisa menggoyahkannya,
menghancurkan jalan yang hampir tertutup itu dengan kekuatan fisik murni.
Sosok Bunda Agung kini benar-benar terlihat.
Alhansen-sensei menepuk bahuku ke arah kegelapan
hitam yang mengerikan itu.
"Aku berpendapat bahwa membunuh peri itu
sekarang juga adalah pilihan terbaik. Karena semakin lama waktu berlalu,
sihirnya akan semakin besar, jadi tidak ada waktu untuk berpikir."
"Kalian……"
Jika mereka tetap tinggal di Ibu Kota, mereka bisa
saja berpura-pura tidak tahu dan menyebut tindakanku sebagai tindakan sepihak
yang melanggar aturan militer. Mereka bisa terus meraih jabatan, dan yang
terpenting, mereka bisa selamat.
Namun, Isfarna, Alhansen-sensei, dan Ingrasius
memilih datang ke sini.
"……Ini adalah musuh yang lebih menakutkan dan
kuat daripada peri mana pun yang pernah kita lawan. Apakah kalian masih mau
percaya dan mengikutiku?"
"Setelah sejauh ini, tidak mungkin aku kabur,
kan. Aku akan selalu berada di sisimu."
"Kenapa bertanya sekarang? Kamu adalah satu-satunya
atasan yang dibanggakan oleh jenius sepertiku. Berikan saja perintahmu."
"Untuk sebuah pencarian ilmu, terkadang keberanian
untuk masuk ke sarang harimau memang diperlukan."
『Tentu saja, aku berniat untuk terus bersama selamanya.』
Di sini, telah terkumpul party terbaik yang bisa
kuharapkan.
"Aku yang akan masuk. Aku tahu cara untuk membunuh
peri itu."
Aku tidak menceritakan alasannya.
"Apapun yang terjadi, jangan arahkan sihir kalian ke
Bunda Agung. Kalau aku tidak bertarung sendirian, dia tidak akan
bisa dibunuh."
Meski begitu, tidak ada seorang pun yang meragukan
kata-kataku.
Mereka memberikan punggung mereka kepadaku seolah
percaya sepenuhnya. Itulah sebabnya, aku mulai berlari.
Kawanan peri yang menerjangku diledakkan oleh bom,
mengakhiri hidup mereka sendiri, dihancurkan oleh tinju baja, dan layu oleh
kelopak bunga.
Di tengah situasi itu, aku terus berlari dengan
fokus.
Yang kupertaruhkan adalah pengetahuan dari cerita
aslinya.
Bunda Agung, sang peri permulaan, karena dia adalah
bos terakhir dalam game, maka dia pun memiliki jantung. Karena tidak
mungkin menang dengan bertarung secara terbuka, hanya ada satu jalan.
Mendapatkan jantung itu dengan serangan kilat.
Dan aku tahu betul di mana letak jantung itu berada.
Bahkan, aku juga tahu bahwa itu berada di tempat yang hanya bisa dihancurkan
olehku.
Entah dia tahu atau tidak, bayangan yang tampak seperti
Bunda Agung itu mengangkat tangannya ke arahku.
Aku mengepalkan tangan erat-erat. Hanya dengan itu,
tubuhku hancur berkeping-keping, terlipat, dan menjadi segumpal daging.
Namun, aku tidak akan berhenti.
Dari segumpal daging ini, aku menumbuhkan kaki,
tangan, dan kepala, lalu terus berlari. Kawanan peri yang mengulurkan tangan
untuk menjauhkanku dari sana kini bercampur dengan mala petaka dan peri yang
kekuatannya melampaui itu.
Tapi, aku tidak memedulikannya.
Karena aku memiliki rekan seperjuangan yang lebih
bisa diandalkan daripada siapa pun.
Peri yang mencoba memenggal kepalaku dari kiri
ditendang oleh jubah hitam yang bergerak seperti bayangan. Gumpalan daging
Alhansen-sensei berubah wujud menjadi diriku, mengecoh para peri.
Di belakang, para peri saling bertarung. Itu
adalah sihir Isfarna.
"Jangan menghalangi jalanku."
Lalu, Morgraid. Dia menyelimuti sekeliling dengan kelopak
bunga dan melayukan segalanya.
Aku tidak tahu ada rekan seperjuangan yang bisa
diandalkan sebanyak ini. Karena itulah, pertarungan ini harus kuakhiri secepat
mungkin. Jika tidak, teman-temanku akan hancur tergilas.
Aku sampai di tempat Bunda Agung berada.
Sosok bayangan hitam itu—sang peri permulaan yang
bahkan dalam cerita aslinya tidak diketahui detailnya dan serba misterius. Aku
menebas sosok berkabut itu.
Tidak ada efek apa pun.
Tentu saja, peri sekelas Bunda Agung tidak mungkin
terluka oleh Longsword yang terbuat dari besi biasa. Sebagai balasannya,
aku dipelintir dan diremas dalam keadaan hidup.
Dari dada dan tanganku, puluhan jarum menembus
dagingku, lidahku dibakar, dan mataku dibutakan. Kekuatan
yang entah sihir macam apa itu terus melukaiku.
Aku mati lagi.
"Mikkanen!"
Jika aku tidak tahu tentang cerita aslinya, mungkin aku
sudah kehilangan nyawa di sini tanpa tahu alasannya. Sihirku hanya membuatku
tidak kalah, tapi tidak bisa membuatku menang. Jika hatiku hancur, aku akan
mati begitu saja.
Namun, entah karena takdir apa, aku tahu di mana jantung
"Bunda Agung" itu berada.
Sembari memaksakan lengan yang membengkak dengan
mengerikan untuk patuh, aku mengarahkan ujung Longsword ke dadaku
sendiri. Bayangan hitam itu menggeliat seolah panik, lalu berlari ke arahku.
Tapi, sudah terlambat.
Jantung Bunda Agung, sang peri permulaan, adalah jantung
dari orang yang sedang bertarung dengannya.
Karena itulah, sampai sekarang tidak ada yang bisa
membunuhnya dan tidak ada yang menyadarinya. Benar-benar trik picik khas peri.
Jantung dibuat untuk setiap orang yang bertarung
dengannya, dan peri ini tidak bisa dibunuh sampai semuanya dihancurkan. Itulah
kenapa hanya aku yang harus bertarung.
Benar-benar makhluk yang menyebalkan.
Dalam game aslinya pun begitu. Player character mempertaruhkan nyawanya sendiri
untuk membunuh Bunda Agung. Tentu saja, setelah itu ada mukjizat yang terjadi.
Tapi,
aku tidak memiliki hal seperti itu.
Jika
Bunda Agung mati, peri yang mengikutinya akan lari ke hutan. Pertarungan akan
berakhir.
Itu
berarti, sihirku tidak akan bekerja lagi. Tidak ada orang yang bisa selamat
setelah jantungnya tertusuk.
Itulah
mengapa, hanya aku yang bisa melakukannya. Tidak ada orang lain yang bisa
dipercayakan tugas ini.
Aku membalikkan pegangan Longsword.
"Mikkanen!"
Jeritan Morgraid yang seolah menyadari sesuatu menusuk
gendang telingaku.
Aku menikamkan Longsword tepat ke dadaku
sendiri.
◆◆◆
Aku membuka mata.
Aku yang entah sejak kapan sudah berbaring di tempat
tidur, bertatapan langsung dengan Morgraid yang sedang mengintip wajahku. Saat
melihat pupil matanya bergetar tipis, ia segera memalingkan wajah.
"Akhirnya bangun juga. Benar-benar membosankan
sampai rasanya aku hampir mati."
"……Morgraid."
Aku memaksakan kepalaku yang belum bisa berpikir
jernih untuk bekerja, lalu bangkit sembari menahan rasa sakit dan mengedarkan
pandangan. Sepertinya aku berada di ruang perawatan.
Aku meletakkan tangan di dada. Jantungku berdetak
kencang.
"Apakah aku masih hidup?"
Morgraid
mengupas apel yang digenggamnya dengan pisau, lalu bergumam acuh tak acuh.
"Tentu saja."
Itu seharusnya mustahil.
Aku orang yang paling tahu karena tangan inilah yang
menikamkan Longsword ke jantungnya. Aku sudah menghancurkannya dengan
teliti agar Bunda Agung tidak mungkin bisa bertahan hidup.
Saat Bunda Agung mati, sihirku pun akan berhenti bekerja.
Aku seharusnya sudah mati.
"Apa yang terjadi pada Bunda Agung?"
"Dia belum mati, tapi dia juga tidak tidak
terluka. Dia mungkin akan bersembunyi di hutan dan beristirahat selama beberapa
tahun ke depan."
Dia menyuapkan potongan apel ke mulutku menggunakan
garpu. Lidahku bersuka cita menikmati rasa manis buah itu, yang entah sudah
berapa lama tidak kurasakan.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Padahal aku yakin
sudah mati bersama Bunda Agung……"
"Kalau boleh dibilang, justru akulah yang hidup
bersamamu."
Aku memiringkan kepala, bingung mendengar perkataan
Morgraid yang sulit dimengerti.
Morgraid menghela napas, lalu entah kenapa meraih
tanganku. Ia menekankan telapak tanganku ke dadanya sendiri.
Aku menahan napas.
"T-tunggu sebentar."
"Nah, sekarang kamu mengerti, kan?"
Aku tersadar.
Tidak ada detak jantung yang terasa dari dada
Morgraid. Kulitnya pun terasa lebih dingin dari biasanya, seolah-olah tidak ada
darah yang mengalir di sana……
"Kamu tahu, kan, kalau peri yang kuat bisa
menyembunyikan jantungnya di mana saja?"
"Apa maksudmu……"
Aku melihat ada bekas luka di kulitnya.
Bekas luka itu terlihat seperti ada sesuatu yang baru
saja dikeluarkan dari dada Morgraid, dan seketika itu juga aku memahami
segalanya.
"Aku menyembunyikan jantungku di dalam dirimu. Sekalian
menyelamatkan nyawamu."
Bagi peri, jantung adalah sumber kehidupan. Selama
jantung itu ada, mereka tidak akan terbunuh, dan jika jantung itu hancur,
mereka akan mati. Morgraid memberikan hal sepenting itu, bahkan menyia-nyiakan
kesempatan emas untuk membunuh Bunda Agung, hanya demi menyembuhkanku.
Aku tak bisa menahan diri untuk tidak meninggikan
suaraku.
"Kenapa kau melakukan hal bodoh seperti itu! Itu
seharusnya aku……"
"Kamu itu! Di depan mata sendiri melihat orang yang
paling dicintai di dunia ini merenggut nyawanya sendiri! Lalu kamu pikir aku
harus diam saja sambil menonton?!"
Morgraid berteriak marah.
Aku terpaksa membisu. Karena, itu adalah pertama kalinya
aku melihat luapan emosi sedahsyat itu dari Morgraid.
"Jangan seenaknya menyelamatkanku, lalu pergi
seenaknya juga! Aku tidak bisa hidup tanpamu. Mengertilah……"
Isak tangis Morgraid bergema pelan di ruang perawatan.
Aku hanya bisa terdiam menatapnya dengan kosong.
Jika kupikirkan dengan kepala dingin, mungkin memang
akulah yang melakukan berbagai hal bodoh selama ini.
Tak lama kemudian, keheningan kembali menyelimuti ruang
perawatan.
Aku menatap Morgraid yang telah berhenti terisak.
Morgraid yang dulu menggila di tengah badai kelopak
bunga benar-benar telah ternoda warna putih murni dan kehilangan
kemanusiaannya. Namun, sosok yang ada di sini adalah Morgraid yang biasanya.
"Apa kamu masih lapar?"
"Karena terhubung melalui jantung, perasaanmu mau
tidak mau meresap masuk. Jadi, selama kamu ada di sini, aku tidak akan lapar
lagi. Anggap saja ini sebagai hukuman karena kamu melakukan hal
seenaknya," ucap Morgraid ketus.
"Begitu ya, syukurlah kalau begitu."
Yah, banyak hal telah terjadi, tapi pada akhirnya
Morgraid tetap hidup seperti ini. Mungkin itu saja sudah menjadi hal yang patut
dibanggakan.
Aku tersenyum kecil karena senang rekan seperjuanganku
tidak sampai mati.
Melihat senyumku, Morgraid menundukkan wajahnya.
Setelah itu, keheningan kosong melayang di ruangan yang
didominasi warna putih tersebut.
"……Terima kasih, karena telah menyelamatkanku. Dan karena telah mengajariku tentang hati."
"Tidak perlu dipikirkan. Kita ini adalah rekan
seperjuangan."
Tiba-tiba, aku menyadari tumpukan kulit apel merah yang
menggunung di tempat sampah. Ngomong-ngomong, sejak kapan Morgraid berada di
sisiku?
"Kamu tidak sadarkan diri selama satu bulan penuh,
lho," gumam Morgraid pelan.
"Tapi aneh, ya. Padahal aku harusnya menatap wajahmu
selama sebulan ini, tapi aku masih ingin terus melihatnya. Perasaanku padamu
meluap sedemikian rupa sampai tidak ada kata bosan sedikit pun."
"Mo-Morgraid?"
Kelopak bunga putih putih mengalir dari tubuh Morgraid
seolah hendak menyelimutiku.
Morgraid, yang dulu mengurungku dalam badai bunga, kini
menatapku lekat-lekat dengan mata birunya.
"Ah, jadi inikah yang namanya hati?"
Bibirnya yang seperti bunga sakura mendekat ke arahku,
seolah serangga yang terpikat oleh madu.
Meski aku mencoba menghindar dengan menarik diri,
Morgraid terus mengejarku. Saat jarak kami hampir tidak tersisa, aku memejamkan
mata erat-erat.
"……Tamu yang tidak tahu diri datang, ya."
Saat itu, sebuah jubah hitam jatuh dari ventilasi di
langit-langit. Ingrasius melepaskan pukulan secepat kilat ke arah Morgraid.
Morgraid buyar menjadi kelopak bunga, lalu bersandar ke
jendela sembari mengerutkan kening dan kembali ke wujud manusianya.
"Ada apa, Ingrasius? Aku rasa aku tidak perlu
diganggu olehmu yang secara diam-diam menyimpan kain lap bekas keringat
Mikkanen."
"O ( ( ، . > □ < . ، ) ) O Ci-Ciuman itu tidak sopan!"
Ingrasius mengangkat buku sketsanya dengan wajah memerah
padam. Batu ubin di bawah kakinya hancur berkeping-keping.
Tak lama kemudian, terdengar suara derap langkah kaki
berlarian dari arah pintu.
Pintu terbuka dengan bantingan keras, memperlihatkan
anggota party lainnya yang masuk dengan penuh semangat.
"Hei bodoh, kalau sudah bangun katakan sesuatu!
Tidak tahukah kamu kalau membuat jenius sepertiku khawatir itu perbuatan tidak
sopan!"
Isfarna menerjang masuk begitu saja, membuatku mengerang
kesakitan karena luka yang belum sepenuhnya sembuh ikut berdenyut hebat.
Alhansen-sensei segera mencengkeram kerah Isfarna—yang
sedang memeluk dan menepuk-nepuk wajahku—lalu melemparkannya ke samping.
"Jika Isfarna mengaku sebagai jenius, seharusnya dia
tahu bahwa tidak boleh memperlakukan orang sakit dengan kasar. Dengan kata
lain, dia itu bodoh."
Keduanya saling melempar tatapan tajam.
Aku menghela napas melihat pemandangan party-ku
yang kini kembali ke rutinitas biasa; sesuatu yang entah kenapa terasa begitu
membuat rindu.
◆◆◆
"Nah, kamu telah pergi ke medan tempur tanpa
melapor dan meninggalkan jabatan instrukturmu.
Tentu saja, daftar pelanggaran aturan militer yang
kamu lakukan—termasuk menumpang gerobak tambang tanpa izin—sudah setinggi
gunung."
Agrastain mengetuk-ngetuk meja dengan irama pelan. Aku
hanya bisa menciutkan bahu sembari menundukkan kepala dalam-dalam.
"Tapi, aku sebagai atasanmu yang membiarkanmu begitu
saja juga memiliki tanggung jawab. Mempertimbangkan hal itu, jika kamu
menandatangani dokumen ini, semuanya akan kuanggap tidak terjadi."
Ternyata, pembicaraan mengenai jabatan instruktur itu
dibatalkan. Aku akan tetap melanjutkan tugasku sebagai Hunter di
reruntuhan Kastil Ogdanel seperti sebelumnya.
Yah, kalau bayarannya adalah nyawa rekan seperjuanganku,
mungkin ini memang jalan yang harus ditempuh.
Aku menatap tumpukan kertas yang diberikan Agrastain.
Tertulis di sana bahwa aku akan kehilangan hak asasi sebagai Hunter
selama satu tahun.
……Begitu ya, khas sekali tindakan si shota sinting
itu.
Aku bahkan tidak ingin membayangkan apa yang akan mereka
lakukan padaku selama setahun ke depan.
Aku jadi curiga, mungkin alasan dia membiarkanku begitu
saja saat aku mencoba menyelamatkan Morgraid adalah demi momen ini.
Namun, aku tidak punya pilihan selain patuh.
Agrastain mengambil dokumen yang sudah kutandatangani,
lalu ia menunjukkan senyum yang membuat bulu kudukku berdiri untuk pertama
kalinya setelah sekian lama.
"Dengan ini, semuanya beres."
"Hah?"
Agrastain mengambil lembaran paling belakang dari
tumpukan dokumen tersebut.
Di sana tertulis tanda tanganku yang sudah tersalin
dengan sempurna pada dokumen yang jelas-jelas bukan milik militer. Tentu
saja, aku sama sekali tidak menyadarinya saat menandatangani tumpukan kertas
tadi.
"Ini sudah tidak diperlukan lagi."
Si shota sinting itu justru melempar dokumen
tentang kehilangan hak asasi tersebut ke dalam api perapian. Aku memiringkan
kepala, benar-benar tidak mengerti. Agrastain hanya menyeringai lebar padaku.
"Kau tahu apa ini?"
"Su, rat, ni, kah……?"
"Tepat sekali. Dengan kata lain, sekarang aku
memegang surat nikah dengan namamu tertulis di dalamnya."
Tiba-tiba, firasatku menjadi sangat buruk.
Jangan-jangan, aku baru saja menandatangani sesuatu yang
jauh lebih menakutkan daripada dokumen yang dibakar tadi? Aku gemetar ketakutan
dan mundur perlahan.
"Nah, wahai para anggota party pahlawan yang
pasti sudah mendengar pembicaraan ini dari tadi, mari kita bicara."
Si shota sinting itu mengayun-ayunkan surat nikah
bertanda tanganku di udara.
"Aku sedang sangat pusing karena Mikkanen
terus-menerus ingin keluar dari militer. Karena itulah, aku akan memberikan
dokumen ini kepada siapa pun yang paling berkontribusi dalam mengatasi
masalahku."
Aku pun sadar.
Saat menoleh ke jendela, kelopak bunga putih beterbangan
di sana.
Di lantai, gumpalan daging kecil berjalan dengan suara ceplok-ceplok.
Ventilasi di atasku terdengar berisik, dan ada suara kepala yang terbentur dari
pintu di belakangku.
"Intinya, jika kalian ingin menikah dengan si barang rongsokan ini, pastikan dia tidak kabur dari militer sampai perang berakhir."
◆◆ Selingan: Monolog Seorang Perwira ◆◆
Saat aku mengalihkan pandangan dari Mikkanen yang
melarikan diri bagai angin, seorang perwira yang baru saja masuk berpapasan
dengannya mengernyitkan dahi.
"Apakah membiarkannya seperti itu tidak apa-apa?
Jika kita percaya pada perkataan Morgraid, bukankah itu adalah kesempatan emas
yang takkan terulang untuk mengakhiri perang ini?"
Pertanyaan yang dilontarkan perwira menengah muda itu
menunjukkan bahwa dia bahkan tidak terpikir sedikit pun tentang kemungkinan
umat manusia meraih kemenangan. Aku menghela napas.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan jika tiba-tiba
muncul lagi peri yang bisa melahirkan peri baru? Lagipula, keempat Raja Iblis
terdahulu adalah bukti nyata bahwa peri bukanlah makhluk yang bisa dihadapi
dengan cara biasa."
Harusnya dia bisa berpikir lebih jauh.
Memang benar, jika kita membunuh makhluk yang disebut
Bunda Agung itu, mungkin tidak akan ada lagi peri baru yang lahir.
Namun, itu hanya jika kita mempercayai perkataan Morgraid
yang sudah lama menjauh dari hutan. Bisa saja dia berbohong, dan tidak ada
bukti kuat yang menjamin kebenarannya.
"Aku tidak bisa memastikannya. Umat manusia bahkan
belum pernah menginjakkan kaki di kedalaman Hutan Peri. Bisa jadi masih banyak
peri seperti Bunda Agung yang bersembunyi di sana, atau mereka mungkin akan
lahir kembali."
Aku menambahkan bahwa di antara para Raja Iblis, ada satu
yang memiliki sihir serupa dengan Bunda Agung.
Dalam pertempuran selama ini, aku telah belajar betapa
konyolnya para peri. Sifat alami peri adalah selalu melampaui segala ekspektasi
kita.
"Seandainya kita berhasil membunuh Bunda Agung pun,
tidak ada yang berubah. Umat manusia tidak akan pernah bisa beristirahat dengan
tenang sampai hari di mana kita memusnahkan peri dari muka bumi ini."
Untuk itu, dibutuhkan kekuatan militer luar biasa untuk
menyerbu Hutan Peri dan membantai seluruh peri hingga ke akarnya. Aku tidak
punya waktu untuk membuang pion-pion berharga dalam pertempuran kecil di
perbatasan hutan.
"Para Hunter saat ini, dengan Mikkanen
sebagai ujung tombak, adalah yang terbaik dalam sejarah umat manusia. Pion-pion
itu harus disimpan sampai hari di mana umat manusia melancarkan serangan
besar-besaran ke Hutan Peri."
"Ta-tapi……"
"Lagipula, jika kau mengira kau bisa mendapatkan
kedamaian sementara hanya dengan melenyapkan satu peri, seberapa besar kau
pikir itu akan membuat umat manusia lengah?"
Aku sudah benar-benar muak dengan kehangatan semu di Ibu
Kota.
Saat ini adalah masa krusial di mana umat manusia menang
atau kalah dalam perang besar yang mempertaruhkan nasib ini, namun para
politisi dan jenderal justru sibuk dengan perebutan kekuasaan.
Strategi untuk memperkaya garis belakang memang bagus,
tapi optimisme tak berdasar bahwa peri tidak akan lagi lahir hanya akan membuat
umat manusia membusuk dari dalam, dan aku sudah melihatnya dengan jelas.
"Lagipula, bukankah mereka hanya akan memulai
pertikaian kotor memperebutkan kekuasaan daripada melatih para Hunter?"
Setidaknya, tidak akan ada yang mengizinkan operasi
penyerbuan ke Hutan Peri. Padahal, bisa saja sewaktu-waktu muncul peri baru
yang bisa melahirkan peri di suatu tempat.
"Jika begitu, keadaan seperti ini jauh lebih
baik."
"A-ah, saya mengerti. Terima kasih atas
pelajarannya."
"Ingat itu baik-baik sebagai perwira dari reruntuhan
Kastil Ogdanel. Jika kau tidak memahami hal mendasar seperti itu, kau hanya
akan menjadi beban bagi umat manusia."
Aku memberikan teguran pada prajurit yang baru lulus dari
akademi militer itu sembari menerima dokumen.
"Siap!"
Aku menghela napas panjang melihat punggungnya yang
menjauh setelah memberi hormat.
Apa yang kukatakan tadi memang bukan kebohongan, tapi
alasan sebenarnya adalah hal lain. Namun, alasan itu pun terlalu konyol bagi
diriku sendiri, sehingga aku harus menyimpannya rapat-rapat.
Kenapa aku tidak menghentikan Mikkanen yang mencoba
menyelamatkan Morgraid? Itu karena aku percaya bahwa Mikkanen adalah seorang
pahlawan.
Morgraid atau siapa pun itu, aku tidak peduli meski
mereka mati. Bahkan diriku sendiri—demi kemenangan umat manusia—aku tidak
peduli apakah aku hidup atau mati.
Namun, Mikkanen berbeda.
Mikkanen adalah pahlawan. Hingga saat di mana umat
manusia akhirnya mengalahkan peri nanti, orang yang harus memegang Longsword
itu dan berlari di garis depan hanyalah Mikkanen.
Mikkanen tidak boleh kehilangan nyawanya, apa pun yang
terjadi.
Aku tahu ini pemikiran yang sangat gila. Berpegang teguh
pada satu prajurit tanpa alasan yang jelas, tidak ada hal yang lebih konyol
bagi seorang komandan.
Namun, aku tetap percaya bahwa inilah cara terbaik agar
umat manusia bisa menang.
Aku teringat akan operasi di mana aku pertama kali
melihat pahlawan bernama Mikkanen itu. Tentang hari di mana dia merasa telah
kehilangan segalanya.
Tentang hari di mana dia menelan kegilaan itu.
Dari seberang saluran telepon, terdengar jeritan terakhir
sang komandan batalion. Prajurit yang wajahnya pucat pasi segera memberi hormat
padaku.
"Mulai saat ini, komando batalion diserahkan kepada
Anda, Tuan Agrastein."
Pasukan yang seharusnya menjaga kota dari posisi mereka
di gunung sudah hancur lebur. Di hadapan kawanan peri yang tak terhitung
jumlahnya, dan di belakang mereka, berdiri salah satu dari Raja Iblis, Peri
Bintang Surgawi.
Begitu banyak prajurit yang tewas dalam mimpi buruk itu.
Aku gemetar karena rasa putus asa dan ketidakberdayaan.
Aku lahir dari keluarga militer ternama dan bersumpah
akan mendedikasikan hidup ini demi kemenangan umat manusia. Namun, kenyataan
yang terjadi justru sebaliknya.
Seberapa keras pun aku berusaha, umat manusia tetap terus
terdesak mundur.
Bagi umat manusia yang mengandalkan senjata api dan
meriam, kota yang memiliki industri tersisa ini seharusnya menjadi pertahanan
terakhir. Namun, lihatlah apa yang terjadi.
Jika tempat ini jatuh, tidak ada lagi cara bagi umat
manusia untuk meloloskan diri dari kepunahan.
"Haha."
Di tengah medan tempur yang putus asa, aku tertawa kering
sembari terus memberikan perintah yang sia-sia bagaikan menyiram air ke atas
api yang berkobar. Berhenti membohongi dirimu sendiri.
Sudah berapa banyak kota yang "tidak boleh
jatuh" yang akhirnya kutinggalkan begitu saja?
Perintah mundur turun dari komando pusat untuk seluruh
pasukan. Saat itu, aku menyerah dan berpikir bahwa umat manusia telah kalah.
Apa pun yang kulakukan sekarang, tidak akan bisa menang.
Tanggung jawab atas semua itu ada pada militer yang tidak
becus melindungi umat manusia.
Jika begitu, tidak ada gunanya membiarkan prajurit mati
demi militer itu. Aku harus berusaha agar setidaknya satu orang prajurit bisa
hidup lebih lama. Dengan itulah aku berniat memimpin operasi penarikan diri
yang bagaikan neraka.
"Apakah komandan batalion ada di sini?"
Saat itu, seorang Hunter yang berlumuran darah
datang tergopoh-gopoh. Kata-kata yang diucapkan oleh Hunter bayaran
bernama Mikkanen itu membuatku tertegun.
"Meminta kami mengulur waktu sampai unit lain
mundur, itu sama saja dengan memerintahkan kami menjadi umpan mati! Beraninya
kau memberikan perintah seperti itu dengan wajah tanpa dosa!"
Aku mencengkeram dada Hunter itu dengan amarah
meluap. Mikkanen membiarkannya, lalu membuka mulut.
"Aku juga berpikir itu aneh. Karena itulah, aku
punya rencana."
Saat ini, berkat perjuangan kerasnya, batalion ini berada
di posisi yang paling jauh menembus pertahanan peri dibandingkan unit lain.
Itulah mengapa, lebih mudah untuk menerobos kawanan peri dari sini.
"Aku akan menyerbu sendirian. Lalu, aku akan mencoba
membunuh Raja Iblis itu dengan serangan mendadak dari belakang."
Apa yang diucapkan Mikkanen adalah taktik konyol yang
bahkan tidak bisa disebut sebagai rencana. Sudah jelas itu tidak mungkin
berhasil.
Selama ini, tidak ada satu pun manusia yang mampu
membunuh Raja Iblis.
Dan sekarang, Mikkanen—seorang pemula—mengatakan dia akan
membunuhnya. Bahkan bayi pun akan menertawakan hal itu.
"Batalion, berpura-puralah kalian sedang bertarung
lalu mundurlah perlahan. Cukup dengan aku yang menyerbu, itu sudah cukup untuk
menjadi barisan belakang."
Namun, kalimat selanjutnya membuatku terhenyak.
Pemuda Hunter ini mengatakan dia akan
mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan batalion ini. Jika memikirkan betapa
berharganya seorang Hunter, seharusnya aku menolak hal ini. Komandan
yang waras tidak akan setuju.
Tapi, bukankah umat manusia memang tidak bisa menang?
Kita sudah kalah sejak awal.
Lalu, kenapa aku harus mengorbankan batalion ini hanya
untuk menyelamatkan seorang Hunter? Aku memutuskan untuk menyetujui
rencana Mikkanen, meski aku sadar konsekuensinya adalah tiang gantungan.
Anggap saja ini hanya cara seorang Hunter pemula
untuk mati lebih cepat, kataku pada diri sendiri.
Aku pun mulai memimpin mundurnya batalion sembari
memalingkan muka dari Mikkanen yang menyerbu kawanan peri bagaikan dewa perang.
Aku menyadari tanganku gemetar.
Benarkah ini sosok militer yang kuimpikan? Mengirim
seorang pemuda yang bahkan mungkin belum pernah minum alkohol ke tempat
kematian demi kelangsungan hidupku sendiri? Apakah ini militer yang kusembahkan
hidupku untuknya?
Hunter bernama Mikkanen itu terlalu
bodoh.
Begitu bodohnya, sampai-sampai aku merasa ikut gila. Aku
meraih pistol yang bahkan belum pernah kutembakkan sejak lulus dari akademi
militer.
"Batalion, teruskan mundur! Aku memiliki tugas yang
harus kulaksanakan sendiri."
Mengatakan hal itu pada wakilku, aku melangkah menuju
medan tempur yang dipenuhi peluru meriam.
"Apa yang Anda pikirkan? Tidak mungkin seorang
komandan harus bertarung sendirian. Itu adalah tugas Hunter."
"T-tapi..."
Lenganku ditarik dan dihentikan.
Wakilku menghela napas melihat diriku yang tetap
bersikeras melangkah dengan wajah penuh penderitaan. Di tangannya yang
menyusul, ia juga menggenggam sebuah pistol.
"Setidaknya saya akan menemani Anda."
"Hei, hei, jangan berpikir hanya perwira yang
boleh menyerbu. Kami para prajurit juga harus ada untuk bertarung dalam
perang."
"Selain itu, kalau tidak ada kurir, kita akan
kesulitan. Kita tidak bisa memberi perintah ke unit masing-masing."
Prajurit batalion ikut bersiap, seolah-olah terjadi
longsoran keberanian. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat.
"Tidak perlu disembunyikan lagi. Kita semua tahu
sebagian besar batalion akan mati kalau kita mundur sekarang. Jika memang
begitu, bukankah lebih baik kita mati setelah memberikan perlawanan?"
"Mata Hunter yang bernama Mikkanen itu, lurus
sekali. Jika memang harus mati, lebih baik mati dengan
bertarung sambil mengacungkan jari tengah ke arah para peri."
"Begitu, ya. Haha, hahahahaha!"
Aku tertawa seperti orang gila. Lalu,
aku menggenggam erat bendera batalion dengan tanganku sendiri.
Yang terpatri di kepalaku adalah binar mata Hunter
bernama Mikkanen itu. Sinar penuh harapan yang terlalu terang bagi umat
manusia, yang bahkan belum menyerah pada kemenangan.
"Ini adalah perintah terakhir batalion: Ikuti
Mikkanen!"
Hari itu, batalion yang terjun ke dalam rencana yang jauh
dari kata taktis itu berhasil mengalahkan peri bersama Mikkanen, meski tujuh
puluh persen prajuritnya gugur.
Sesuatu yang dipercaya tidak mungkin dilakukan oleh siapa
pun berhasil tercapai: membunuh salah satu Raja Iblis, Peri Bintang Surgawi
yang ditakuti semua orang.
Sembari mengelus pistol yang ditinggalkan oleh wakilku
yang tewas di dalam pelukanku saat itu, aku kembali memikirkan Mikkanen.
Di akademi militer, kami diajarkan bahwa perang selalu
diikuti oleh hal-hal yang tidak masuk akal.
Bahwa jika kita bisa memenangkan perang hanya dengan
mengirim pasukan sesuai rencana, maka tidak akan ada kekalahan. Bahwa seberapa
hebat pun taktik yang ada, pada akhirnya keberuntungan atau nasib akan
menentukan hasil akhir.
Tentu saja, tugas militer adalah memikirkan taktik
semaksimal mungkin.
Namun, menurut pendapatku dulu hingga sekarang, tidak ada
satu jalan pun bagi umat manusia untuk menang di sana. Jika begitu, pasti ada sesuatu yang melampaui strategi militer dalam
kemenangan tersebut.
"Ya, misalnya saja, karena ada seorang pahlawan di
sana."
Aku bergumam pelan.
Aku menganggap diriku sebagai komandan yang cakap. Tapi,
kemenangan umat manusia atas peri membutuhkan lebih dari sekadar kecakapan.
Seorang pahlawan yang membalikkan ketidakmasukakalan dan
menjadikan yang mustahil menjadi mungkin.
Karena ada Mikkanen, umat manusia bisa menang. Artinya,
aku tidak boleh kehilangan Mikkanen, apa pun yang terjadi.
Mikkanen harus terus bertarung.
Itulah kesimpulan yang diambil oleh Agrastein Lorelei.
"Pahlawan, ya. Bahkan bagiku sendiri, ini terdengar
seperti ajaran agama."
◆◆ Selingan: Monolog Seorang Perwira Selesai ◆◆



Post a Comment