NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Osananajimi ni Kareshi ga Dekita Tame, Betsu no Ko ni Obento o Tsukutte Agetara, Osananajimi no Yousu ga Okashiku Natta V1 Chapter 6

 Penerjemah: Noire

Proffreader: Noire


Chapter 6

Awal Mula

"Aku berangkat!"


Aku bergumam pelan ke arah pintu depan yang sepi seperti biasanya. Di lorong yang gersang tanpa perabotan, suaraku hanya memantul hampa.


Dulu, aku selalu merasa murung setiap hari karena salamku tidak pernah berbalas, tapi suasana hatiku saat ini sudah berbeda dari sebelumnya.


Aku memutuskan untuk makan bersama keluarga sebulan sekali. Sejujurnya, setelah menjadi mahasiswi, makan bersama keluarga terasa sedikit memalukan, tapi aku menyukai waktu mengobrol untuk mengisi kekosongan waktu yang selama ini terbuang karena kami saling berselisih jalan.


Itu semua berkat Takeru yang telah menyiapkan tempat tersebut.


Sambil melewati sisi Kedai Shioda yang merupakan rute ke kampus, aku teringat padanya. Aku sempat menghentikan langkah dan menatap pintu belakang kedai, berharap dia akan melongokkan kepalanya secara tiba-tiba, tapi hal itu tidak terjadi. Setelah menunggu beberapa saat, aku kembali berjalan.


Belakangan ini aku merasa aneh. Di tengah istirahat belajar, saat sedang mandi, atau sebelum tidur, aku tiba-tiba saja teringat padanya. Sedang apa dia sekarang, apa yang sedang dia pikirkan? Aku sering berimajinasi sendiri, lalu sedikit merasa bersalah karena memikirkannya. Hal seperti itu terus berulang.


"Chise."


Begitu sampai di gerbang kampus, seorang pria tiba-tiba menyapaku. Sambil membayangkan pria yang baru saja kupikirkan, aku berbalik dengan cepat.


"Waduh, maaf, apa aku mengagetkanmu?"


Namun yang berdiri di sana bukan dia, melainkan Yasaka yang sedang tersenyum kecut.


"Oalah, ternyata kamu..."


Perasaan yang rumit; antara lega tapi juga kecewa. Mendengar nada suaraku yang tanpa sadar menunjukkan kekecewaan, Yasaka menaikkan alisnya karena heran.


"Hmm? Kamu mengira aku siapa?"


"...Tidak, bukan apa-apa kok."


Yasaka tampak bingung sejenak, tapi dia tidak terlalu memikirkannya dan lanjut bicara.


"Aku sudah dengar, katanya kamu sudah baikan ya dengan orang tuamu?"


Mendengar ucapan Yasaka, aku mengernyitkan dahi tanpa sadar. Baru saja aku hendak bertanya dia dengar dari siapa, tapi tak perlu dipikirkan pun pastinya itu dari pacarnya, Akari Sato.


Aku sengaja menghela napas dan menjawab dengan nada malas.


"Dari awal kami tidak sedang bertengkar kok. Cuma komunikasinya saja yang tidak ada."

Mendengar jawabanku, Yasaka tersenyum kecut dengan ekspresi bingung.


"Haha, itu malah lebih parah daripada bertengkar kan?" 


Setelah berkata begitu, Yasaka menundukkan pandangannya dan lanjut bicara. 


"Tapi syukurlah kalau begitu. Itu masalah yang bahkan aku pun tidak bisa bantu selesaikan... Benar-benar deh, aku tidak berkutik kalau dibanding Takeru-kun."


"...Lagipula aku tidak merasa pernah minta tolong padamu untuk menyelesaikannya."


"Termasuk soal itu juga. Kamu mengandalkan Takeru-kun, bukan aku. Benar, pada akhirnya semua orang akan memilih dia..."


Tak perlu ditanya lagi siapa yang dia maksud dengan "semua orang".


"Aku bersimpati padamu. Tapi sebagai pacar, menurutku harusnya kamu bisa menghentikan Sato-senpai yang suka bertindak semaunya itu."


Mendengar ucapanku, Yasaka tersenyum kecut.


"Tolong jangan berpikir buruk tentang Akari. Dia hanya mencoba melindungi Takeru-kun. Akari sempat curiga kalau kamu menyukaiku. Dari sudut pandang Akari, dia pikir kamu dendam karena aku mulai pacaran dengannya, makanya kamu sengaja mendekati Takeru-kun yang dekat dengannya untuk balas dendam."


"...Yah, aku sudah menduga hal seperti itu. Mengingat betapa agresifnya Sato-senpai kepadaku selama ini."

Aku sudah bisa menebaknya. Pasti di dalam kepala Sato, aku adalah wanita jahat yang mencoba merebut Takeru, teman masa kecilnya, sebagai bentuk balas dendam karena orang yang kusukai telah direbut.


Yasaka tersenyum kecut dan melanjutkan.


"Aku sudah menjelaskan kalau hubunganku dengan Chise bukan seperti itu, tapi dia sama sekali tidak mau percaya."


Aku mendengus tertawa mendengar ucapan Yasaka.


"Tentu saja dia tidak akan percaya. Di alam bawah sadar Sato-senpai, dia punya keinginan kuat untuk menjauhkan gadis-gadis dari Takeru."


Aku tidak akan mengatakannya di depan Yasaka, tapi Sato jelas-jelas menyukai Takeru. Sangat terlihat jelas kalau dia merasa cemburu melihatku yang tiba-tiba menjadi dekat dengan Takeru.


"Sato-senpai hanya butuh alasan kalau dia sedang melindungi Takeru dari wanita jahat yang mendekat karena kesal pria pujaannya direbut. Intinya, tidak peduli apa perasaanku padamu, dia hanya ingin memisahkanku dari Takeru."


Melihat Yasaka hendak membuka mulut untuk membela Sato, aku buru-buru menambahkan.


"Tentu saja, ini bicara soal alam bawah sadar, jadi aku tidak tahu apa yang Sato-senpai sendiri pikirkan sebenarnya."


Aku pun tidak berpikir Sato menjadikanku orang jahat karena rasa benci yang murni. Buktinya, dia tidak menceritakan soal aku dan Yasaka kepada Takeru. Mungkin di lubuk hatinya, dia sendiri sadar kalau aku tidak sedang melakukan balas dendam. 

Kejadian itu lebih seperti luapan emosi akibat perasaan cintanya pada Takeru yang bahkan tidak dia sadari sendiri.


"Tapi sekarang Sato-senpai sudah menyadari perasaannya pada Takeru... Kira-kira apa yang akan dia lakukan selanjutnya? Dia kan masih pacaran denganmu?"


Mendengar pertanyaanku, ekspresi Yasaka berubah menjadi rumit.


"...Sebenarnya baru beberapa hari lalu, Akari mengajakku putus."


"Fufufu, cepat sekali dia bertindak... Eh?"


Setelah tertawa mengejek Yasaka, aku teringat sesuatu dan ekspresiku menegang. Jika mereka putus, itu artinya Sato mungkin akan menyatakan perasaannya pada Takeru. Dan karena Takeru sejak awal menyukai Sato, mana mungkin dia akan menolaknya.


Aku segera mengeluarkan ponsel dan mencari nama Takeru di aplikasi pesan. Namun, aku tidak menemukan akunnya.


"Ah..."


Aku baru ingat kalau aku belum bertukar kontak dengan Takeru. Tenanglah, aku harus menghubungi Takeru bagaimanapun caranya sebelum Sato menyatakan perasaan padanya.


Gimana nih, gimana, gimana...


Aku tidak bisa memikirkan ide bagus, hingga aku memegangi kepala dan berjalan bolak-balik dengan gelisah. Melihat tingkahku yang mencurigakan sambil memegang ponsel, Yasaka tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.


"Pfft... ahahahaha! Jangan-jangan kamu takut Akari bakal nembak Takeru-kun, makanya kamu bingung mau menghubunginya?"


Aku menatap Yasaka yang tertawa guling-guling itu dengan ekspresi melongo, lalu aku melotot tajam padanya.


"...Kamu barusan berbohong ya?"


Pria yang punya sisi jahil seperti dia sangat mungkin melakukan itu. Melihat ekspresiku, Yasaka buru-buru berdiri tegak, berdeham, dan melambaikan tangan membantah ucapanku.


"Tidak, tidak, aku tidak bohong. Dia memang mengajakku putus kok." Setelah berkata begitu, Yasaka menatap ke kejauhan seolah sedang mengingat-ingat. "Tapi aku memohon-mohon padanya agar jangan putus sekarang. Benar-benar secara menyedihkan lho. Akhirnya dia setuju untuk menunda keputusannya. Meski dengan banyak syarat..."


"Oalah, syukurlah..."


Meskipun aku sedikit penasaran dengan kata "syarat" itu, tapi saat ini rasa legaku jauh lebih besar, hingga pundakku jadi rileks. Merasa heran dengan tingkahku, Yasaka mendekatkan wajahnya dengan penuh minat.


"Tapi serius deh, ada apa? Ini pertama kalinya aku melihatmu sampai panik begitu. Bukan Chise yang biasanya ya."


Bukan Chise yang biasanya, kata-kata itu membuatku menganalisis kondisi mentalku barusan. Aku pun terkejut karena tubuhku bergerak lebih dulu sebelum sempat berpikir. Saat membayangkan Takeru dan Sato mulai pacaran, aku dirundung rasa cemas luar biasa dan hanya berpikir bagaimana cara menghentikannya.


Aku tidak tahu kenapa bisa begitu. Apa karena jika mereka pacaran, Takeru tidak akan membuatkan bekal untukku lagi? Karena aku akan kehilangan teman makan siang? Atau karena...


Aku menggelengkan kepala untuk menepis pikiran yang muncul, lalu melotot pada Yasaka yang masih menyeringai senang.


"Aku balikkan kata-kata itu padamu. Sampai memohon-mohon pada Sato-senpai agar tidak diputusin itu sama sekali bukan gayamu kan?"


Yasaka yang biasanya selalu menjadi pihak yang memutuskan hubungan, pasti tidak akan melakukan hal seperti memohon-mohon jika dia tetap menjadi dirinya yang dulu. Mendengar sindiranku, Yasaka mengerutkan dahi lalu tertawa mengejek dirinya sendiri.


"Haha, mungkin kamu benar. Sejujurnya, aku sendiri kaget ternyata aku bisa jadi pria yang seobsesif ini."


"...Aku pun ingin membalikkan kata-kata itu padamu."


Yasaka memasang wajah melongo, dia terdiam sejenak seolah memikirkan arti kata-kataku, lalu dia tertawa paling keras hari ini.



"Selamat pagiii!"


Begitu membuka pintu depan, aku melihat Akari yang penuh energi seperti biasanya, membuatku hanya bisa memegangi kepala.


"Hah... Akari, kan sudah berkali-kali kubilang jangan ke rumah."


Baru saja aku hendak menegurnya, Akari melakukan hormat grak dan melanjutkan kalimatnya.

"Soal itu tenang saja! Aku sudah dapat izin kok!"


Aku tidak paham apa maksudnya dan hanya bisa memiringkan kepala heran.


"Hmm? Dapat izin dari siapa?"


"Makanya, aku sudah dapat izin buat sarapan di rumah Ken setiap pagi! Aku sudah jelaskan baik-baik ke Yasaka-senpai, dan dia bilang boleh kok!"


Oalah, jadi dia sudah dapat izin dari pacarnya untuk datang ke rumah laki-laki lain. Kalau begitu, aku tidak punya alasan lagi untuk melarangnya. Aku akan menyiapkan sarapan untuk Akari seperti dulu dan...


"MANA MUNGKIN BEGITU!!"


Mendengar teriakan kencangku, Akari menutup telinga rapat-rapat sambil memejamkan mata.


"Ada apa sih tiba-tiba? Suaramu berisik tahu."


"Ya jelas aku teriak! Apa kamu benar-benar sudah menjelaskannya pada Yasaka-senpai?! Kalaupun dia bilang oke, itu pasti cuma karena dia baik hati saja, di lubuk hatinya dia pasti keberatan!"


Mendengar ucapanku, Akari memasang wajah masam sambil mengibas-ngibaskan tangannya.


"Soal itu kami sudah bicarakan kok~"


"Jangan bohong ya. Aku sudah tukar kontak dengan Yasaka-senpai. Tunggu sebentar, aku tanya langsung ke orangnya."

Sambil berkata begitu, aku membuka ponsel untuk mengirim pesan pada Yasaka, tapi ternyata sudah ada pesan masuk darinya.


『Aku sudah tahu alasan Akari kurang bersemangat belakangan ini. Sepertinya karena dia mulai menjauh darimu, Takeru-kun. Mungkin dia melakukannya demi menghargaiku, tapi tolong jangan hiraukan aku dan bersikaplah seperti biasa padanya.』


...Orang ini hatinya luas sekali. Tidak mudah untuk lebih memprioritaskan perasaan orang lain daripada emosi diri sendiri.


Selama ini aku melarang Akari datang karena ingin menghargai Yasaka sebagai pacarnya, tapi kalau Yasaka sendiri bilang tidak keberatan, apa sebaiknya aku membiarkan Akari masuk saja?


Saat aku sedang berpikir, Akari mengintip ponselku dan berseru kaget.


"Eh? Sejak kapan Ken akrab banget sama Yasaka-senpai sampai tukar kontak segala?!"


"...Jangan mengintip ponsel orang sembarangan. Yah, ada banyak hal yang terjadi."


Aku menjawab secara ambigu sambil mengatur sudut layar ponsel agar pesannya tidak terbaca oleh Akari. Tidak perlu kuberitahu kalau aku sempat dicurhati Yasaka soal dia.


Tiba-tiba Akari memasang wajah cemberut dan mundur beberapa langkah.


"Hmm, tapi... Apa Ken tidak punya perasaan apa gitu soal Yasaka-senpai?"


"Perasaan apa? Umm... Dia orang yang sempurna... mungkin?"


Wajah tampan, pintar, jago olahraga. Kepribadiannya juga sangat baik sampai bisa memprioritaskan kekasihnya. Kalau dipikir-pikir benar-benar tidak ada celah. Sebagai sesama pria, rasanya ingin iri padanya.


Namun Akari sepertinya tidak puas dengan jawabanku, dia condong ke depan sambil melotot padaku.


"Bukan itu!" Setelah berseru keras, Akari tampak bimbang sejenak sebelum akhirnya menatapku dengan tatapan memelas. "Maksudku... dia kan... pacarku?"


Pacar Akari... Jika itu beberapa bulan lalu, kata-kata itu pasti akan terasa sangat berat di hatiku. Namun anehnya sekarang aku bisa menerimanya dengan lapang dada. Apa mungkin karena waktu yang telah menyembuhkannya? Ataukah berkat gadis yang terlintas di pikiranku saat mendengar kata itu?


Aku menepuk kepala Akari pelan, lalu mengucapkan kata yang tak sempat kuucapkan beberapa bulan lalu dengan senyuman.


"Akari, selamat ya. Kamu mendapatkan pacar yang sangat baik."


Kalimat itu jujur. Akhirnya aku bisa merayakan kebahagiaan temanku dengan tulus. Aku merasa beban yang selama ini mengganjal di hatiku akhirnya hilang.


Meski aku sudah susah payah mengucapkannya, entah kenapa Akari malah cemberut tidak puas dan bilang, "...Cih, makasih ya!", lalu dia mendorongku dan masuk ke rumah begitu saja.


"H-hei." 

Refleks aku mau menghentikannya, tapi teringat pesan Yasaka tadi aku menarik kembali tanganku. Aku berpikir mungkin jika aku menolak Akari, dia akan murung dan itu malah membuat Yasaka semakin khawatir.


"Yah, waktu sarapan tanpa Akari memang terasa sepi sih, tidak apa-apa deh."


Aku bergumam pelan lalu merapikan sepatu Akari yang dilepas asal-asalan seperti biasa. Begitu aku mendongak, Akari sudah memegang gagang pintu ruang tamu, dia menoleh dan menatapku lekat-lekat. Matanya membelalak dan dia menyeringai senang. Sepertinya dia kaget sekaligus senang mendengar gumamanku barusan.


Akari segera berlari kembali ke arahku dengan mata berbinar-binar penuh rasa ingin tahu.


"Eh? Apa tadi? Ken merasa kesepian ya kalau tidak ada aku?"


"Duh berisik, berisik! Tidak usah balik lagi, sana cepat masuk!"


Mendengar usiranku, Akari tertawa riang dan kembali berlari ke ruang tamu. Namun tepat di depan pintu, dia berbalik dengan cepat dan berseru lantang dengan senyum lebar.


"Ken sepertinya belum sadar ya, tapi kamu pasti bakal mengalami hal yang sama denganku... eh bukan, kamu pasti bakal menyesal kenapa tidak sadar lebih cepat! ...Kalau kamu sudah menyesal, cepat kasih tahu aku ya, aku sudah siapkan banyak hal kok!"


Meninggalkan aku yang bingung dengan deklarasi misteriusnya, Akari masuk ke ruang tamu dengan sapaan yang sangat bersemangat.


"Halo."


Di sore hari yang cerah, aku menyapa Chise yang sedang duduk anggun membaca buku di bangku belakang gedung lama kampus. Begitu menyadari kehadiranku, Chise menutup bukunya dan bergeser sedikit untuk memberiku ruang duduk.


Saat aku duduk, aku merasa sedikit tegang karena bahuku bersentuhan dengan bahunya. Apa dia sadar kalau belakangan ini jarak kami menjadi sangat dekat? Jika dilihat orang lain, jarak ini sudah seperti sepasang kekasih. Namun karena ruang yang dia berikan sedikit sempit, aku tidak punya pilihan selain menempel padanya. Takut dia malah menjauh jika aku menegurnya, aku memilih untuk pura-pura tidak sadar.


"Halo, ada menu apa hari ini?"


Aku menyerahkan kotak bekal padanya sambil menjawab pertanyaan yang sudah jadi kebiasaan itu.


"Hari ini ayam goreng. Yang dekat dengan nasi itu rasa shio-koji (asin gurih), yang jauh itu rasa kecap asin."


Menunya standar bekal juara; empat potong ayam goreng, salad selada dan tomat ceri, serta telur gulung. Chise membuka kotak bekal dan langsung mencicipi ayam goreng rasa shio-koji. Karena ini untuk bekal, ayamnya tidak renyah seperti baru digoreng, jadi aku memakai lebih banyak terigu daripada tepung maizena agar tekstur daging paha ayam yang empuk dan sari dagingnya tetap terjaga. Chise mengangguk pelan sambil mengunyah dan menyuap nasi.


Selanjutnya, Chise mencicipi ayam goreng rasa kecap asin. Seketika, wajah Chise melunak dan bunga-bunga bermunculan di atas kepalanya. Satu, dua... sepertinya ada sembilan bunga. Aku segera mengeluarkan buku catatan.

『Chise-san. ○ Karaage (Shio-koji): Tidak buruk tapi biasa saja. Bunga nol, poin 65. ○ Karaage (Kecap asin): Lebih suka yang ini. Bunga sembilan, poin 90.』


Sepertinya dia lebih suka rasa kecap asin. Mungkin karena aku mencampurkan sedikit rasa manis dari mirin. Setelah menulis catatan dan sedang menganalisis hasilnya, tiba-tiba buku catatanku disambar oleh Chise yang menyadari gerak-gerikku yang mencurigakan.


Aku buru-buru mau mengambilnya kembali, tapi Chise menjauhkan tangannya dariku sambil membaca catatan itu, lalu dia mengernyitkan dahi.


"Takeru, kamu mencatat hal seperti ini? Apalagi poin ini... Apa kamu bisa membaca pikiran orang?"


Sepertinya poin yang kutulis sangat tepat sasaran. Chise menatapku dengan sedikit risih.


"Eh, ahaha... tidak kok... itu cuma penilaian pribadiku saja."


Aku tertawa kecut untuk mengelak. Aku memilih untuk tidak memberitahunya kalau ekspresinya sangat mudah dibaca. Takutnya nanti dia malah jadi menyembunyikan ekspresinya, dan aku tidak bisa memberi poin lagi.


"Tapi di awal catatan ini ada namaku?"


Gawat. Ada bukti yang tidak bisa dibantah. Saat aku sedang mati-matian mencari alasan, Chise terus memberondongku dengan pertanyaan.


"Ngomong-ngomong, 'bunga' ini maksudnya apa? Di sini tertulis nol dan sembilan..."

"Ah, itu... m-maksudnya... itu indikator perasaan? Seperti bintang lima... begitulah?"


"Kalau begitu kenapa tidak pakai bintang saja sampai sembilan... kenapa harus bunga?"


Mana mungkin aku bilang "Karena bunga-bunganya terbang di atas kepalamu". Aku benar-benar terdesak dan tidak punya alasan lagi. Chise menatapku yang sedang gelagapan dengan pandangan heran, lalu dia menghela napas dan menaruh buku catatan itu di lututku.


"Ya sudah lah. Itu artinya kamu benar-benar memikirkan isi bekalku. Bagus kalau kamu rajin bekerja."


Sepertinya dia memaafkanku karena menganggap itu bagian dari semangat kerjaku. Aku melirik ke arah Chise yang kembali makan dengan ceria, lalu aku menghela napas lega dan mulai memakan bekalku sendiri.


Setelah selesai makan, Chise berbicara seolah baru teringat sesuatu.


"Ngomong-ngomong, rasa telur gulungnya berubah ya dibanding awal-awal dulu?"


Mendengar ucapan Chise, aku baru tersadar. Benar, dulu aku memakai garam karena menyesuaikan selera Akari, tapi sekarang aku membuatnya manis dengan gula.


"Iya benar. Kupikir Chise-san lebih suka rasa manis. Apa... kamu tidak suka rasa yang sekarang? Lebih enak rasa asin yang dulu ya...?"


Saat aku bertanya dengan ragu, Chise memberikan senyum manis yang riang, lalu menatap langsung ke mataku.


"Tidak kok, aku suka."


Seketika CPU di otakku mengalami kelebihan beban.


"Eh... ah... umm..."


Aku tidak tahu harus bicara apa dan hanya bisa mengeluarkan suara yang tidak jelas. Meskipun pikiranku menjadi kosong, wajahku memerah padam dan terasa panas. Aku tahu, dia cuma lupa menyebut subjeknya. Dia hanya sedang bicara soal telur gulung. Namun, melihat senyum bahagianya dengan pipi merona serta keseriusan di matanya, kata-kata itu memiliki daya hancur yang luar biasa.


Chise sempat melongo melihat tingkahku yang mendadak aneh, tapi dia sepertinya langsung menyadari kesalahannya dan buru-buru menambahkan penjelasan.


"Ma-maksudku aku suka rasa yang manis! Soal telur gulung tadi!"


"Iya tahu, aku paham kok."


Aku memalingkan muka karena tidak sanggup menatap wajahnya. Chise seolah mendapatkan ide jahil, dia tiba-tiba mendekatkan bahunya padaku dan mulai menggoda.


"Eh? Memangnya Takeru tadi mengira aku bicara soal apa? Selain soal telur gulung, memangnya ada hal lain?"


Ugh... mana mungkin aku bilang kalau aku mengira dia bilang suka padaku. Aku mencuri pandang ke arah Chise, dia sedang menyeringai jahil dan sepertinya sedang masuk ke mode "si tukang bully".


Selalu saja aku yang dipermainkan, rasanya kesal juga. Sesekali aku ingin membalasnya. Berpikir begitu, aku langsung memegang kedua bahu Chise dan menatap matanya dari depan.


"...Eh... a-ada apa tiba-tiba?"


Mengabaikan Chise yang terkejut, aku langsung menyambung kata-kataku tanpa jeda.


"Aku juga suka padamu!"


Mendengar itu, mata Chise membelalak dan mulutnya terbuka sedikit. Itu adalah wajah konyol Chise yang sangat langka. Chise membatu selama beberapa detik, dan saat aku mulai cemas apakah aku gagal, wajahnya memerah padam seperti mesin pemanas air yang mendidih, lalu matanya bergerak gelisah ke sana kemari. Bahu yang kupegang terasa sangat kaku, kegugupannya benar-benar terasa nyata.


"A-apa... apa-apaan tiba-tiba... m-meskipun kamu bilang begitu mendadak..."


Saat aku mendekatkan wajahku ke telinga Chise, dia mengeluarkan teriakan kecil "Ah!". Lalu aku berbisik pelan di telinganya.


"Soal telur gulung manisnya."


Seketika, ketegangan di bahu Chise langsung hilang. Aku melepaskan tangannya dan tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut.


"Hahaha! Baru kali ini aku melihat Chise-san panik begitu! Ahahahaha!"


Saat aku sedang tertawa, tiba-tiba tangan Chise melesat dan mencengkeram kerah bajuku. Aku ditarik paksa hingga wajah Chise berada tepat di depan dadaku. Chise melotot tajam ke arahku.


"Aha... ha..."


Tawaku perlahan berubah menjadi senyum kaku melihat ekspresi Chise. Melihat Chise hendak membuka mulut, aku bersiap mendengar makian darinya.


"Aku juga, suka padamu!"


Aku tidak menyangka dia akan membalas lebih jauh. Serangan balik yang tak terduga itu membuat jantungku berdegup sangat kencang sampai rasanya mau meledak, dan wajahku pun terasa sangat panas.


Lagipula, Chise yang melakukan serangan balik itu pun wajahnya sedang merah padam. Seniat itu dia mau membalas dendam, benar-benar Chise yang tidak mau kalah.


Permainan ini benar-benar tidak sehat. Hal seperti ini harusnya dilakukan sepasang kekasih, bukan sesama teman. Aku sadar aku juga salah karena memulainya, nanti aku akan bilang pada Chise agar berhenti bercanda berlebihan seperti ini.


Sambil berpikir begitu, di dalam hati aku berharap suatu saat nanti kata-kata itu diucapkan bukan untuk telur gulung, melainkan untuk diriku sendiri.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close