NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Osananajimi ni Kareshi ga Dekita Tame, Betsu no Ko ni Obento o Tsukutte Agetara, Osananajimi no Yousu ga Okashiku Natta V1 Bonus Chapter

 Penerjemah: Noire

Proffreader: Noire


Bonus Chapter

Natal Penuh Kesalahpahaman

Butiran salju dengan ukuran yang beragam turun membasahi bumi, mengubah pemandangan yang biasanya akrab di mata menjadi putih bersih.


"Ugh, dingin, dingin..."


Aku membuka-tutup payung untuk merontokkan tumpukan salju sambil menaiki tangga luar yang menuju ke pintu depan rumah Takeru dengan lebih berhati-hati dari biasanya.


Sambil tetap mengenakan sarung tangan tebal, aku menekan tombol interkom. Tak lama kemudian, Mayu muncul dengan wajah yang tampak masih mengantuk.


"Lho, Akari-chan? Ada apa?"


"Selamat Natal! Sepertinya pas hari H nanti aku tidak bisa datang, jadi aku datang lebih awal buat ngerayain. Kamu belum dengar dari Ken?"


Sambil berkata begitu, aku mengangkat nampan besar berisi sushi yang baru saja kubeli di supermarket.


Sudah menjadi tradisi setiap tahun untuk merayakan malam malam Natal di rumah Takeru, tapi tahun ini aku sudah punya janji dengan Yasaka. Namun, kalau tidak bisa merayakan di hari H, tinggal dirayakan lebih awal saja. Malah lebih asyik karena bisa merayakan di hari H dan hari sebelumnya, sekali dayung dua pulau terlampaui.


Begitulah pikirku saat menghubungi Takeru beberapa hari lalu dan menjadwalkan pesta Christmas Eve-Eve, tapi jawaban Mayu benar-benar di luar dugaan.


"Akari-chan, Kakak lagi tidak ada di rumah lho?"


"...Eh, bohong?! Kenapa?!"


Mengingat kepribadian Takeru, rasanya tidak mungkin dia membatalkan janji secara sepihak. Aku mengeluarkan ponsel dan memeriksa apakah ada pesan dari Takeru, tapi tidak ada satu pun.


Mayu mengalihkan pandangannya ke arah salju di luar, lalu menjawab dengan suara pelan dan ragu.


"Anu... katanya dia pergi ke Curtain Press bareng Chise-chan... sih."


Curtain Press, kalau tidak salah itu pusat perbelanjaan yang sangat besar.


Ah, si brengsek itu! Dia terlalu kegirangan karena janji dengan Chise sampai melupakan janjinya denganku...!


Aku mencengkeram bahu Mayu dan mengguncangnya, menuntut jawaban.


"Cuma berdua saja?!"


"Ka-kayanya sih begitu, kalau lihat betapa semangatnya Kakak tadi. Tumben-tumbenan dia nanya soal baju ke aku."


"Bukannya dia biasanya cuma pakai baju yang aman dan membosankan?!"


"Tepat sekali, makanya tadi aku yang bantu koordinasi bajunya," kata Mayu sambil mengacungkan jempol dengan bangga.


"Ka-kamu melakukan hal yang tidak perlu...! Lagian kenapa harus pas musim begini sih?!"


"Y-yah... mana aku tahu kalau ditanya begitu?"


Mayu menjawab dengan ragu, tapi tanpa bertanya pun aku sudah tahu. Ini jelas-jelas kencan Natal.


Aku tidak tahu bagaimana perasaan Chise, tapi Takeru jelas-jelas tertarik padanya. Aku sudah yakin akan hal itu saat memakan telur gulung hari itu.


Kencan Natal dengan lawan jenis yang disukai. Kalau situasinya buruk, bisa saja Takeru malah menyatakan perasaannya. Dan aku pernah dengar kalau tingkat keberhasilan pernyataan cinta sebelum Natal itu sangat tinggi.


Aku merasa wajahku pucat seketika.


Apa sekarang pun aku harus menghubungi mereka dan minta ikut bergabung? Atau aku harus berbohong kalau aku sedang tidak enak badan supaya Takeru...


Sampai di sana, aku menggelengkan kepala dan menggigit bibir kuat-kuat.


Aku yang sekarang sudah bukan aku yang dulu. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Aku sudah memutuskan untuk bersikap tenang dan menunggu sampai dia sendiri yang menyadarinya.


Aku memaksakan sudut bibirku naik untuk tersenyum, lalu berusaha bicara dengan nada tenang seolah menunjukkan kedewasaan.

"Hu, hu, hufufufun? Ya, ya sudah, tidak apa-apa kan? Tanggal 23 Desember kan bukan hari Natal atau malam Natal juga. Pergi main bareng teman itu hal yang biasa kan~"


Aku sendiri tidak yakin apakah aku terlihat benar-benar tenang atau tidak.


...Tidak, aku tahu.


Melihat ekspresi heran di wajah Mayu, aku bisa membayangkan betapa konyolnya diriku saat ini. Sebelum Mayu sempat membuka mulut, aku melangkah masuk ke dalam rumah dan berseru dengan suara ceria yang dibuat-buat.


"Mari kita bersenang-senang sendiri saja! Aku numpang ya~"


Setelah hening sejenak, Mayu sepertinya mengerti dan membalas pendek, "Iya juga~" lalu menutup pintu depan.


Sambil merasa lega karena akting burukku tidak dikejar lebih jauh, aku melepas sepatu botku. Saat berpapasan dengan Mayu yang sudah berganti memakai sandal rumah, aku mendengar gumamannya yang terdengar sangat lega.


"Syukurlah. Kupikir Akari-chan bakal langsung lari ke Curtain Press sekarang dan minta diajak ikut main..."


Aku berpura-pura tidak mendengar gumaman itu.



Waktu masih sore, tapi karena tertutup awan hujan yang tebal, sekeliling sudah mulai gelap dan pepohonan yang dihiasi lampu dekoratif (illumination) bersinar dengan indahnya.


Aku berdiri di bawah atap berbentuk lengkung di pintu masuk Curtain Press, dikelilingi pepohonan yang bercahaya, sambil mengingat kembali kata-kata Takeru beberapa hari lalu.


『Tolong bantu aku memilih kado Natal untuk Akari dan adikku. Kamu kan kemarin sudah bantu aku menyiapkan pembukaan kedai.』


Tentu saja karena aku juga merasa berutang budi pada mereka, aku langsung menyetujui ajakannya.


Namun, hari yang ditentukan adalah sehari sebelum malam Natal. Melihat sekeliling, isinya hanya pasangan kekasih saja. Aku sedikit khawatir, apa Takeru tidak merasa canggung berjalan berdua denganku di tengah suasana seperti ini?


Karena waktu pertemuan masih agak lama, aku melamun menatap salju yang mulai menumpuk.


Daerah ini jarang turun salju lebat, salju yang sampai menumpuk hanya terjadi beberapa tahun sekali. Di masyarakat umum, salju sering dibenci karena mengganggu transportasi atau menyebabkan kecelakaan, tapi aku tidak benci salju yang bisa mengubah pemandangan yang biasa kulihat menjadi berbeda. Bangun pagi dan melihat salju menumpuk memberikan ilusi seolah aku berada di dunia lain.


Aku melangkah sedikit keluar dari bawah atap, menengadah menatap salju yang turun, hingga butiran salju yang besar jatuh di pipiku.


"Dingin... memang sudah mulai menusuk ya."


Aku ingin merasakan salju di tubuhku karena penasaran, tapi rasanya terlalu berat bagi tubuhku yang sudah kedinginan, jadi aku kembali ke bawah atap.


Setelah mengulanginya beberapa kali, tepat saat aku melangkah keluar lagi, sebuah payung menaungi kepalaku.


"Sedang apa, Chise-san...? Padahal kamu bisa menunggu di dalam saja."


Suara Takeru terdengar dari belakang. Aku ketahuan melakukan hal aneh oleh Takeru.


Sambil memikirkan alasan, aku berbalik.


"Itu, habis saljunya jarang-jarang..."


Namun, begitu melihat sosoknya, semua alasan yang sudah kusiapkan langsung lenyap. Itu karena penampilannya sangat berbeda dari yang kubayangkan.


Rambutnya yang biasanya hanya ditata sewajarnya saja agar tidak terlihat aneh, kini bergaya rambut medium yang terlihat sedikit acak namun rapi (bundle look). Pakaiannya juga terdiri dari celana panjang kain dan mantel berwarna hitam, membuatnya terlihat lebih tinggi dan modis dari biasanya.


Dia dandan dengan rapi, seolah-olah sedang datang untuk kencan.


Sambil menatap Takeru dengan terpana, dia seolah salah paham dengan tatapanku dan membuka mulut dengan panik.


"Ah, Chise-san, bajumu cocok sekali."


"Itu kalimatku. Aku memakai baju yang biasa saja kok."

Aku memakai mantel cokelat dan rok panjang hitam, pakaian kasual yang tidak jauh berbeda dengan yang biasa kupakai ke kampus. Mendengar ucapanku, Takeru mengernyitkan dahi sambil bergumam, "Lho? Aneh ya."


Yang aneh itu kamu, Takeru. Tapi apa yang sebenarnya dia pertanyakan? Takeru berdehem untuk mengalihkan gumamannya tadi, lalu melihat bajunya sendiri dan bicara dengan nada lega.


"Syukurlah. Sebenarnya ini pertama kalinya aku memakai baju ini, aku takut ini kelihatan aneh."


"Sama sekali tidak aneh kok. Justru aku terkejut melihat gaya rambutmu."


Aku pernah baca di sebuah majalah kalau tujuh puluh persen kesan pertama orang ditentukan oleh gaya rambut. Tadinya aku mengejek hal itu, tapi melihat perubahan Takeru sekarang, sepertinya itu tidak salah-salah amat.


Sambil aku terus menatapnya lekat-lekat, Takeru sepertinya menangkap maksud ucapanku ke arah yang buruk. "Tuh kan, aneh ya?! Aku rapikan dulu deh!" Dia hampir berlari menuju toilet, jadi aku buru-buru menahannya.


"Tidak aneh, beneran tidak aneh kok! Malah k..."


Sampai di sana, aku buru-buru menutup mulut. Apa boleh aku mengucapkan kata ini begitu saja pada laki-laki? Apa dia tidak akan mengira aku naksir padanya? Apa aku tidak akan dianggap aneh?


Selagi aku sibuk berdebat dengan pikiranku sendiri dalam diam, Takeru berhenti melangkah dan menoleh, "K... apa?" tanyanya meminta kelanjutan kalimatku.


"K... k-kelihatannya imut kok. Tenang saja."


Kalau dibilang imut sepertinya masih aman. "Imut" adalah kata yang biasanya membuat wanita senang. Sambil memujinya, kurasa kesannya bakal seperti memuji sesama teman, bukan sebagai lawan jenis yang disukai.


"I-imut... ya...?"


Entah apakah rencanaku berhasil atau tidak, Takeru menggaruk pipinya dengan wajah bingung harus bereaksi bagaimana. Namun ekspresi polosnya itu pun terasa sangat segar bagiku, hingga karena malu aku memalingkan muka darinya.


Gawat, kalau aku terus mengobrol dengannya dalam kondisi mental yang sedang goyah begini, aku takut bakal melakukan kesalahan bodoh.


"Su-sudahlah, ayo cepat masuk!"


Aku memotong pembicaraan dan mulai berjalan menuju pintu masuk. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki Takeru yang berlari kecil mengikutiku.


Sambil merasa lega karena berhasil menyembunyikan kegugupanku, saat masuk ke toko aku tiba-tiba teringat kalau aku lupa mengucapkan kalimat yang sudah kusiapkan di awal tadi.


『Nanti kalau kita terpisah di dalam kan repot, gimana kalau kita tukar kontak dulu?』


Tadinya aku mau memanfaatkan tujuan Takeru mencari kado Natal untuk bertukar kontak dengannya. 

Aku pikir belum terlambat, jadi sambil melirik profil wajah Takeru yang sudah menyusul di sampingku, aku membuka mulut untuk bicara.


Namun, suaraku tidak keluar.


Padahal dalam simulasi di otakku kemarin rasanya sangat mudah diucapkan, tapi kalimat yang sudah sampai di ujung lidah ini sama sekali tidak mau keluar. Malah keringat dingin mulai membasahi tubuhku karena tegang.


Akhirnya aku hanya menghembuskan napas panjang dan menyerah untuk mengatakannya di sini.


Yah sudahlah, hari ini kan baru dimulai. Pasti masih banyak kesempatan lain untuk bertukar kontak. Ini semua gara-gara Takeru muncul dengan penampilan berbeda dan melakukan hal di luar simulasiku. Rencanaku jadi berantakan sejak awal.


Di dalam hati, aku menyalahkan Takeru yang tiba-tiba jadi ganteng itu.


Sambil masuk ke gedung dan terus mencuri pandang ke arahnya yang sedang menatap peta lantai di papan pengumuman elektronik, aku bertanya.


"Ja-jadi, apa kamu sudah mengincar kado tertentu?"


Suaraku terdengar sedikit melengking saat bertanya, dan Takeru menjawab sambil terus membaca daftar toko.


"Iya, sudah ada bayangan. Untuk adikku, aku terpikir mau membelikannya kacamata."


"Kacamata? Apa mata Mayu-chan minus? Aku belum pernah melihatnya pakai kacamata."


"Tidak kok, mata dia masih satu koma lima. Cuma karena dia hobi main gim, aku kepikiran mau membelikannya kacamata antibiru... menurutmu gimana?"


Kacamata antibiru bisa langsung dibeli tanpa harus menyesuaikan ukuran lensa, dan sebagai kado untuk Mayu yang hobi main gim, itu ide yang cukup bagus. Sambil mengangguk pelan, aku setuju dengannya.


"Iya, kurasa itu ide bagus."


Lagipula, ini kesempatan bagus untuk memakai trik yang pernah kulihat di televisi dulu. Di dalam hati aku menyeringai karena kesempatan bertukar kontak datang lebih cepat dari dugaan, lalu kami menuju ke toko kacamata.


Interior toko itu didominasi warna putih dengan rak-rak panjang yang memajang berbagai macam kacamata. Semuanya dibanderol dengan harga di bawah sepuluh ribu yen.


"Wah, ada toko yang harganya terjangkau begini ya. Kalau dilihat-lihat tampilannya tidak jauh beda sama yang kupunya, mungkin lain kali aku beli di sini saja."


Aku hanya bicara asal saja, tapi reaksi Takeru benar-benar di luar dugaan.


"Eh?! Chise-san punya kacamata?!"


"E-eh... iya, pas masuk SMA aku mulai pakai lensa kontak, tapi pas SMP aku selalu pakai kacamata kok."


Melihat semangat Takeru yang misterius itu, aku menjawab dengan sedikit heran. Takeru membelalakkan matanya dan menatapku lekat-lekat.


Selama beberapa detik kami saling menatap dalam diam. Saat aku mulai merasa malu dan mencari waktu yang pas untuk memalingkan muka, tiba-tiba Takeru mulai berkeliling toko dengan cepat. Lalu dia kembali dengan kedua tangan penuh dengan berbagai macam bingkai kacamata.


"Chise-san itu kan punya citra yang pintar, jadi kurasa bingkai tipis ini cocok... eh, atau sengaja pakai bingkai hitam yang tebal... ah, tapi ini juga bagus."


Takeru terus memakaikan satu per satu kacamata itu padaku, lalu membuat kesimpulan sendiri dan menggantinya lagi berkali-kali.


Ternyata tadi dia menatapku begitu lama karena sedang memikirkan kacamata apa yang cocok untukku. Perasaannya itu memang membuatku senang, tapi hari ini kan tujuannya mencari kacamata untuk Mayu, kalau mencari yang cocok buatku kan tidak ada gunanya.


Memikirkan hal itu, aku melepas kacamata bingkai hitam yang dia pakaikan lalu melotot padanya.


"Takeru, hari ini kan buat Mayu-chan..."


"Hmm, tapi ya, kacamata bingkai hitam ini benar-benar cocok dan bikin Chise-san makin imut lho~"


...

......

.........


Ya, ya sudahlah, waktunya juga masih banyak, tidak ada salahnya menemaninya sebentar lagi. Aku pun kembali memakai kacamata bingkai hitam itu dalam diam.


Setelah dijadikan boneka peraga oleh Takeru selama beberapa menit, aku mulai bosan dengan peragaan busananya (atau busanaku?), dan aku mulai menyusun rencana untuk menjalankan taktik tadi.


Langkah pertama rencanaku adalah membuat Takeru memakai kacamata. Aku berpikir kira-kira kacamata mana yang cocok untuknya. Citra Takeru itu... lembut, baik, rapi, dan wajahnya agak imut... Bagaimana kalau kacamata ini biar ada efek kejutan (*gap*)?


"Hup."


Aku memakaikan kacamata yang kuambil asal ke wajah Takeru. Sontak Takeru menatapku dengan wajah terkejut, sehingga mata kami bertemu tepat di depan wajah masing-masing.


Aku benar-benar meremehkan pilihanku sendiri.


Takeru yang biasanya punya aura lembut dan tenang, saat dipakaikan kacamata model kotak yang agak kaku ini, sisi "dingin" yang biasanya tidak terlihat jadi terpancar keluar, menciptakan daya tarik yang luar biasa.


Padahal aku baru saja mulai terbiasa dengan penampilannya yang sekarang, tapi kalau ditambah perubahan seperti ini lagi, aku takut bakal gugup lagi dan gagal menjalankan rencana.


Sebelum hal itu terjadi, aku segera melancarkan langkah selanjutnya. Aku segera membuka aplikasi kamera di ponsel dan memotretnya.


"Ah, hei, Chise-san!"

"Fufufu, salah Takeru sendiri karena lengah kan?"


Sambil bicara begitu, aku menyimpan fotonya. Kalau memotretnya tiba-tiba memang terasa aneh, tapi kalau memotretnya saat dia sedang berpenampilan beda (memakai kacamata), sebagai teman itu hal yang sangat wajar kan.


Langkah kedua rencana sukses.


Namun rasa legaku hanya sesaat. Takeru yang tadinya mengernyitkan dahi karena dipotret tiba-tiba, mendadak menyeringai seolah mendapatkan ide jahil.


"Kalau begitu, ayo kita foto berdua."


Takeru menyalakan aplikasi kamera, menggantinya ke kamera depan, lalu mendekatkan wajahnya ke arahku agar kami berdua masuk dalam satu bingkai.


Tidak bisa, tidak bisa, tidak bisa!


Takeru belakangan ini aneh sekali. Setiap kali aku melakukan hal yang sedikit aneh, dia seolah mencoba membalas dengan melakukan hal yang jauh lebih aneh. Pertempuran "aku juga suka" gara-gara telur gulung tempo hari adalah contoh yang jelas.


Meskipun dalam hati berteriak begitu, aku tidak mau menunjukkan kegugupanku karena merasa itu tandanya aku kalah. Aku pun memasang wajah tenang, membuat tanda peace, dan menyandarkan bahuku padanya.


Tepat saat tubuhnya tersentak kaget, suara rana kamera pun berbunyi. Klik!


Setelah itu, Takeru dengan cepat memilih kacamata untuk Mayu yang entah kapan sudah dia incar, lalu pergi ke kasir. Kacamata yang dipilih Takeru punya bingkai berwarna merah muda pucat dengan desain lensa yang agak besar. Meski dipilih dalam waktu singkat, seleranya cukup bagus dan aku merasa itu akan sangat cocok untuk Mayu.


Meskipun merasa lelah secara misterius, aku menyeringai karena rencanaku berjalan mulus. Sampai di sini, rencanaku bisa dibilang sudah sukses.


Saat Takeru kembali dari kasir, aku melancarkan langkah terakhir rencanaku.


"Foto yang tadi mau kukirim... ah iya, kita kan belum tukar kontak."


Kalimat yang sangat pura-pura dari diriku sendiri. Bertukar kontak dengan alasan ingin mengirim foto yang tadi diambil—metode yang sangat alami tanpa terkesan agresif. Ini adalah metode klasik yang pernah kulihat di televisi sebagai cara untuk mendekati lawan jenis. Aku tidak menyangka akan memakainya sendiri.


Sekarang tinggal menunggu Takeru bilang "Ah, benar juga," lalu memberikan ID pesannya padaku.


Tapi sekali lagi, dia menghianati dugaanku.


"Ponsel Chise-san itu Landroid kan?"


"Eh? Iya benar."


"Kalau begitu, coba lihat gambar yang tadi kamu ambil?"


Sesuai arahan Takeru, aku mengoperasikan ponselku, dan dalam sekejap mata, foto yang aku ambil tadi sudah muncul di ponsel Takeru. Proses berbagi fotonya selesai begitu saja—tanpa perlu bertukar kontak.


Aku melongo tidak percaya, sementara Takeru bicara dengan nada bangga.


"Lho, Chise-san tidak tahu? Pakai Bluetooth bisa langsung dikirim lho."


"Eeeh..."


Teknologi klasik pun akhirnya tergerus oleh teknologi baru. Memang bagus kalau dunia jadi makin praktis, tapi di balik itu, budaya yang lahir justru karena ketidakpraktisan pun ikut menghilang. Apa cuma aku saja yang merasa ini tidak adil?


Yah, meski yang menghilang itu cuma metode pendekatan lawan jenis saja sih, jadi mungkin itu hal yang bagus.


Takeru menggeser layar ponselnya, mungkin ingin kembali ke menu utama, tapi dia melakukan kesalahan teknis hingga gambar selanjutnya terpampang. Di layar muncul foto berdua yang diambil Takeru tadi.


" " "Ah..." " "


Di foto itu terlihat aku yang sedang tersenyum sambil berpose peace, dan Takeru yang wajahnya merah padam. Takeru si pencetus ide foto berdua itu ternyata ekspresinya sama sekali tidak tenang dan senyumnya tampak kaku, menunjukkan kalau dia pun sebenarnya sedang memaksakan diri sama sepertiku.


Aku sempat terpikir ingin menggodanya soal itu, tapi ada hal lain yang lebih prioritas bagiku saat ini. Sambil menunduk, aku memanggilnya.


"Anu... i-itu... foto yang itu juga..."


Sambil aku berkata begitu, aku menyalakan tombol Bluetooth di ponselku. Takeru sepertinya mengerti dan menjawab, "...Ah, i-iya. Aku kirim ya...?"


Sepertinya teknologi baru tidak buruk juga kalau dipikir-pikir. Andai saja tadi kami bertukar kontak, mungkin foto yang ini tidak akan kuterima.



Suara musik elektronik yang komikal bercampur dengan gemerincing koin berkali-kali membuatku mengernyitkan dahi karena kebisingan yang memekakkan telinga.


Aku diam saja mengikutinya karena Takeru dengan percaya diri bilang sudah tahu apa kado yang pas untuk Sato-senpai, tapi aku tidak menyangka akan dibawa ke tempat seperti ini. Sambil menatap punggung Takeru yang berjalan di depanku, aku menghela napas panjang dengan nada heran.


"Kado dari mesin pencapit... Memangnya pantas ya dijadikan hadiah buat lawan jenis?"


Mendengar ucapanku, Takeru tertawa renyah sambil terus berjalan di area mesin pencapit.


"Ahaha, tidak apa-apa kok. Buat Akari mah segini juga cukup. Tiap tahun juga begini kok."


"Tiap tahun... ya."


Aku bergumam pelan agar tidak terdengar Takeru. Jadi selama ini dia dan Sato-senpai memang selalu bertukar kado Natal? Apa sikap santainya dalam memilih kado ini juga berkat hubungan mereka yang sangat dekat?


Sambil merasa kesal dalam hati aku terus mengikuti Takeru, sampai akhirnya dia berhenti di depan sebuah mesin pencapit yang berisi boneka besar.


"Yang ini saja."


Aku mengintip hadiah di dalam mesin itu. Di dalamnya tertata boneka besar menyerupai beruang berwarna krem. Seluruh tubuhnya berwarna krem, tapi bagian atas kepalanya ada lingkaran berwarna cokelat, mirip seperti puding.


"Beruang mirip puding ini...? Apa boneka ini dianggap imut? Ekspresinya galak sekali lho."


Desain karakternya yang merupakan perpaduan beruang dan puding menurutku memang imut, tapi kerutan di antara alisnya dan mulutnya yang terbuka lebar seolah sedang mengancam itu lebih condong ke arah menyeramkan bagiku. Takeru tertawa kecil mendengar komentarku lalu menjelaskan soal karakter itu.


"Ini karakter dari Dekkawa, katanya motifnya bukan puding tapi bakpao kacang (kurimanju). Sekarang lagi jadi wallpaper ponsel Akari, dan kemarin dia sempat menceritakannya dengan sangat semangat padaku, jadi dia pasti senang."


Dekkawa... aku pernah dengar kalau itu sedang populer, tapi ini pertama kalinya aku melihatnya langsung. 

Kalau diperhatikan baik-baik, matanya yang bulat di balik ekspresi galak itu memang memberikan efek kejutan yang imut... mungkin.


Takeru memasukkan koin, lalu dengan lihai dia mengarahkan pencapit tepat di atas kepala boneka itu. Pencapit itu pun berhasil mencengkeram kepala si boneka dan mengangkatnya.


"Eh, hebat."


Aku berseru tanpa sadar. Aku dengar mesin pencapit itu sangat sulit. Berhasil mengambilnya dalam sekali coba bukankah itu hal yang luar biasa?


Begitu pikirku, tapi saat pencapit itu sudah sampai di titik tertinggi, mesin itu tersentak keras hingga bonekanya terjatuh kembali.


"Eeeh?! Padahal sudah dicengkeram sekuat itu tapi tetap jatuh?! Apa mesin ini beneran bisa bikin kita menang?"


"Haha, yah begitulah. Kayanya butuh waktu sedikit lagi, Chise-san mau coba main yang mana?"


Takeru malah tertawa dan memasukkan koin lagi padahal dia baru saja diperlakukan secara tidak adil oleh mesin itu. Sejujurnya bagiku, kalau sudah dicengkeram sempurna tapi tetap tidak bisa diambil itu artinya buang-buang uang, tapi mungkin ada kesalahan teknis yang tidak dipahami oleh amatir sepertiku.


Sambil berpikir begitu, aku melihat ke mesin di sebelah Takeru. Di sana ada boneka Dekkawa yang memegang kartu pesan bertuliskan 'Merry Christmas'. Kartu itu punya bagian kosong yang sepertinya memang disediakan agar kita bisa menuliskan nama seseorang di sana.


Melihat boneka itu, sebuah ide muncul di kepalaku.

Bagaimana kalau aku menyelipkan kertas berisi kontakku di kartu pesan itu, lalu memberikannya pada Takeru sebagai hadiah? Jika aku memberikannya sebagai kado Natal, aku bisa memberikan ID pesanku tanpa harus merasa gugup saat memintanya langsung, dan alurnya pun akan terasa sangat alami.


Begitu diputuskan, langkah pertama adalah mendapatkan boneka itu. Aku pun mencoba meniru gerakan Takeru tadi, memasukkan koin, lalu menekan tombol pencapit sebentar.


Namun, pencapit itu hanya bergerak sedikit ke samping lalu langsung berhenti. Bonekanya ada di tengah, jadi aku harus menggerakkannya lebih jauh ke samping, tapi tombolnya sudah tidak merespons lagi.


"Ta-Takeru! Ini rusak! Apa jangan-jangan aku yang merusaknya?!"


Saat aku berkata begitu, Takeru melihatku yang sedang memencet tombol berkali-kali lalu dia tertawa terbahak-bahak.


"Tombolnya itu harus ditekan terus sampai ke titik yang kamu mau. Tunggu sebentar ya."


Takeru menekan tombol vertikal sebentar, lalu pencapit itu pun turun mengambil udara kosong dan kembali ke posisi semula. Setelah pencapit kembali ke titik awal, Takeru memasukkan koin lagi lalu pindah ke belakangku. Kemudian, dia menumpangkan tangannya dengan lembut di atas tanganku yang sedang memegang tombol.


"Ah..."


Tanpa sadar suara desahan lolos dari bibirku.  


Sensasi kulit manusia yang halus dan hangat membungkus punggung tanganku.  


Seluruh tubuhku menegang hingga tidak bisa digerakkan, namun jantungku justru mulai berdegup kencang dengan liar.  


Takeru berbisik dengan lembut tepat di telingaku, sambil memberikan tekanan pada tanganku untuk menekan tombol arah samping.  


"Selama kamu menekan lama seperti ini, mesinnya akan terus bergerak, lalu lepaskan tanganmu di titik yang ingin kamu hentikan."  


Suara berat Takeru masuk ke telingaku, namun isinya sama sekali tidak terserap ke otak.  


Kapasitas pemrosesan otakku sudah penuh sesak hanya karena sensasi sentuhannya yang terasa di punggung dan tanganku.  


『Wah, lihat deh pasangan itu, mesra banget ya.』


Suara melengking dari seorang mahasiswi yang lewat seketika menyadarkanku.  


"Hih!"  


Aku melepaskan tangan dari tombol dan menjaga jarak sedikit dari Takeru.  

Akibatnya, capit mesin itu mulai turun. Karena aku melepaskan tangan di waktu yang aneh, posisinya jauh lebih maju di depan boneka yang diincar.  


Melihat hasilnya, Takeru tersenyum kecut.  


"Aduh, gagal. Tapi ya sudah, setidaknya kamu sudah tahu caranya..."  


Takeru menggantung kalimatnya. Karena merasa heran, aku mengikuti arah pandangannya.  


Ternyata, saat capit yang turun di depan boneka dan mencengkeram udara kosong itu naik kembali, si boneka ikut melayang di udara. Saat aku memperhatikan lebih saksama, ternyata label boneka itu tersangkut pada kuku capit dan ikut terangkat.  


Takeru berseru dengan nada bersemangat.  


"I-itu tersangkut labelnya! Hebat, Chise-san! Apa kamu memang mengincar itu?!"  


"E-eh? Yah, b-begitulah."  


Padahal itu murni ketidaksengajaan, tapi karena Takeru fokus pada mesin capit dan sepertinya tidak menyadari kekacauan hatiku, aku menjawab asal saja.  


Saat mengambil boneka yang jatuh ke lubang pengambilan, aku menyadari telapak tanganku basah oleh keringat.  


Syukurlah tadi yang bersentuhan dengannya adalah punggung tanganku, aku menghela napas lega dalam hati.  


Aku berpura-pura pergi ke toilet untuk memasukkan secarik kertas bertuliskan ID pesan pribadiku ke dalam wadah kartu pesan boneka tadi. Saat kembali menghampirinya, ternyata Takeru belum juga mendapatkan boneka Dekkawa Kurimanju pilihannya. Dia terus memainkan mesin yang sama.  


Melihat waktu yang sudah berlalu, dia pasti sudah mencoba belasan kali.  


"Lho? Takeru-san, belum dapat juga? Mau aku yang tadi cuma butuh dua kali percobaan ini yang mengambilkannya untukmu?"  


Saat aku menggodanya begitu, Takeru membalas dengan senyum kecut.  


"Haha, ini beda dengan yang dimainkan Chise-san tadi. Di sini keahlian tidak berpengaruh, karena ini mesin probabilitas."  


"Mesen probabilitas?"  


Aku mengernyit mendengar istilah yang asing, lalu Takeru menjelaskan sambil tersenyum.  


"Capitnya punya tiga kuku, kan? Tipe mesin capit seperti ini biasanya disebut mesin probabilitas. Kekuatan cengkeraman kuku capitnya diatur agar menguat sesuai dengan peluang yang sudah disetel pada mesinnya. Kamu tidak akan bisa mendapatkannya kecuali di waktu yang tepat itu."  


Begitu rupanya. Alasan kenapa pada percobaan pertama Takeru capitnya terlihat mencengkeram boneka dengan sempurna namun jatuh lagi adalah karena "undiannya" meleset dan tenaga capitnya melemah.  


"Hmm, tapi hal semacam itu tidak tertulis di mana-mana. Sistem yang cukup kejam, ya?"  

Meskipun posisi pengambilan sudah sempurna, tapi kalau sudah dipastikan tidak akan dapat, itu sama saja dengan membuang uang ke selokan.  


Mendengar komentarku, Takeru memasang senyum pasrah namun tetap memasukkan koin lagi ke dalam mesin.  


"Tapi sebaliknya, itu berarti jika kita melakukannya beberapa kali, peluang menangnya akan naik dan dipastikan akan dapat. Mesin tipe keahlian yang kadang tetap tidak bisa didapat meski dicoba berkali-kali malah bisa menghabiskan lebih banyak uang. Tergantung sudut pandang saja, selera orang beda-beda kan?"  


Aku hanya menjawab "Ooh, begitu ya," sambil terus memperhatikan boneka Kurimanju yang berulang kali terangkat lalu jatuh lagi.  


Kurimanju yang sedang berpose mengancam itu, lama-lama terlihat imut juga setelah dilihat berkali-kali, tapi apa benar ini cocok untuk kado? Aku pun bertanya pada Takeru.  


"...Apa kamu yakin kadonya ini saja? Bukankah aksesoris, dompet, atau barang semacam itu bakal lebih membuat Sato-senpai senang?"  


Mendengar pertanyaanku, Takeru bergumam "Hmm..." cukup lama sambil berpikir, lalu menjawab sembari memasukkan koin lagi.  


"Aku justru tidak mau memberi Akari barang praktis yang dipakai sehari-hari."  


"Kenapa begitu?"  


"Umm, Akari itu orangnya terlalu awet dalam menyimpan barang. Dia akan memakai barang pemberianku terus-menerus."  

"Bukannya itu hal yang bagus?"  


Barang pemberian kita dipakai dengan baik tentu merupakan keinginan setiap pemberi kado.  


Takeru terus fokus mengoperasikan capit, namun dia menjawab dengan nada bicara yang pelan.  


"Waktu SD dulu, Akari pernah lupa membawa pulpen merah ke sekolah. Karena aku punya dua, aku memberikan satu yang sudah lama padanya."  


Aku bingung kenapa dia tiba-tiba menceritakan hal itu, tapi aku tetap mendengarkannya dalam diam.  


"Pulpen merah itu masih dipakai Akari sampai sekarang setelah kami jadi mahasiswa. Bisa percaya tidak? Padahal itu bukan pulpen merah mahal, cuma pulpen biasa yang tidak ada istimewanya. Apalagi waktu itu aku memberinya yang tintanya sudah mau habis. Tapi dia terus membeli tinta isi ulangnya dan memakainya sampai sekarang."  


Akari memang orang yang seperti itu sejak dulu. Nada bicara Takeru yang melanjutkan ceritanya dengan nostalgia itu terdengar seperti campuran antara rasa heran, jengah, dan sedikit nada menggoda tentang temannya itu.  


Namun di sisi lain, profil wajahnya yang menatap lurus ke arah kado untuk Akari itu tampak penuh dengan kelembutan. Seolah-olah dia sedang menyayangi salah satu sisi dari gadis yang sudah dikenalnya sejak lama itu.  


"Aku memang senang sih, tapi kalau aku memberinya aksesoris, aku jadi berpikir jangan-jangan dia bakal merasa sungkan lalu memaksakan diri memakainya sampai rusak, atau apa barang pilihanku ini pantas untuk Akari... aku jadi kepikiran banyak hal."  

Aku merasa alasan itu sangat khas dirinya. Memilih kado yang sekadar diletakkan di rumah adalah bentuk pemahamannya yang tinggi terhadap Akari, sekaligus kebaikan yang lahir dari rasa rendah diri Takeru. Itu adalah jarak hubungan yang hanya bisa dipahami karena mereka sudah bertahun-tahun bersama.  


Setelah menatap boneka yang terangkat capit dengan rasa sedikit iri, aku menggelengkan kepala pelan. Kemudian, aku mengambil kembali catatan ID yang kumasukkan ke wadah kartu pesan boneka tadi dan menyimpannya di tas.  


Capit mesin itu akhirnya berhasil menahan guncangan saat mencapai titik tertinggi, dan membawa boneka itu sampai ke lubang pengambilan tanpa menjatuhkannya.  



Setelah selesai berbelanja dan keluar dari Curtain Press, hari sudah benar-benar gelap.  


Takeru mempercepat langkahnya hingga berada satu langkah di depanku, lalu berbalik menghadapku dan membuka suara.  


"Chise-san, terima kasih ya sudah menemaniku hari ini."  


"Tidak kok, ujung-ujungnya aku tidak melakukan apa-apa. Aku bahkan sampai khawatir apa ada gunanya aku ikut tadi."  


Aku benar-benar tidak melakukan apa pun. Aku hanya berjalan di belakangnya dan sesekali bilang "boleh juga" untuk kado yang sudah dia pikirkan sebelumnya. Aku merasa tidak enak karena tidak bisa membantu banyak.  


Mendengar ucapanku, Takeru mengaruk pipinya dengan senyum malu-malu.  

"Maaf... sebenarnya soal kado itu cuma alasan saja."  


"Eh? Alasan?"  


Karena tidak mengerti maksud sebenarnya, aku bertanya balik. Takeru mengalihkan pandangannya dengan malu-malu dan menjawab.  


"...Hari ini, aku cuma ingin pergi berdua saja dengan Chise-san."  


Deg! Jantungku berdenyut kencang.  


"I-itu maksudnya...?"  


Selagi aku mencoba mencerna perkataannya, Takeru memasang wajah mantap seolah sudah membuat keputusan, lalu melangkah satu langkah mendekatiku.  


Aku refleks memejamkan mata, lalu merasakan sesuatu yang halus melingkar di leherku. Aku membuka mata.  


"Selamat Natal, Chise-san."  


Takeru mengatakannya dengan senyum lebar.  


Yang melingkar di leherku adalah sebuah syal berwarna cokelat.  


"T-tunggu, ini tidak enak. Aku tidak menyiapkan apa-apa untukmu..."  


Saat aku hendak melepas syal itu, Takeru memegang kedua pergelangan tanganku.  


"Aku mengajak Chise-san hari ini memang untuk memberikan ini. Kalau kamu tidak menerimanya, justru kedatanganmu hari ini jadi tidak ada artinya."  

"Ugh..."  


Curang. Kalau dibilang begitu, aku jadi tidak punya pilihan selain menerimanya.  


Begitu aku melemaskan tanganku, Takeru melepaskan pegangannya dengan lega.  


Saat menyentuh syalnya, teksturnya terasa lembut seperti kasmir, menunjukkan bahwa ini bukan barang murahan.  


"Tapi tetap saja, aku tidak mau cuma menerima. Takeru, apa ada sesuatu yang kamu inginkan? Ayo kita beli sekarang."  


"Eh? Tidak usah, tidak apa-apa kok."  


"Aku yang tidak bisa terima. Takeru mau apa? Mobil? Rumah?"  


"Skalanya kegedean! Barang begitu tidak dijual di sini!"  


"Ooh, rendah hati sekali. Kalau begitu jam tangan bagaimana? Tadi di Lerox ada yang bagus."  


"Orang yang sanggup menerima barang begitu tidak bisa disebut rendah hati tahu! Lagipula, bukannya dulu kita pernah berdebat begini juga?!"  


Setelah menghela napas panjang, Takeru menggoyangkan ranselnya sambil tersenyum padaku.  


"Kalau gitu, boneka yang tadi Chise-san dapatkan, boleh buat aku saja?"  


Boneka yang kudapat dari mesin capit tadi memang sedang dititipkan pada Takeru.  

"Eh... aku tidak keberatan sih, tapi apa benar cuma itu?"  


Itu hanya hadiah dari mesin pencapit seharga 200 yen yang didapat cuma dalam dua kali coba. Rasanya sama sekali tidak sebanding dengan syal ini.  


Meskipun aku berpikir begitu, Takeru menggelengkan kepalanya pelan dan menjawab.  


"Karena hari ini sangat menyenangkan, jadi anggap saja itu sebagai kenangannya."  


Dia mengucapkannya dengan senyuman yang sangat cerah.  


Dadaku terasa sesak dan perih.  


Meskipun aku sudah mulai terbiasa dengan penampilannya hari ini, aku tetap tidak sanggup menatap matanya.  


Perasaan yang selama ini kucoba kunci rapat-rapat mulai menampakkan dirinya sedikit demi sedikit. Aku mengeluarkan secarik kertas dari kantong dan menyodorkannya pada Takeru.  


"Ini! Ini ID pesan pribadiku!"  


Hanya itu yang kuucapkan sebelum aku berbalik membelakanginya dan segera melarikan diri dari sana sebelum dia sempat membalas.  


Ini kan musim Natal, jadi hal seperti ini pasti dimaafkan, aku membuat alasan sendiri di dalam hati sambil terus berjalan cepat mengabaikan suara Takeru dari belakang.  


Setelah berjalan sampai ke titik di mana dia tidak bisa melihatku lagi, aku berhenti. Aku menoleh untuk memastikan dia tidak mengejarku, lalu sambil mengatur napas aku mengingat kembali kejadian hari ini.  


Sepanjang hari aku sudah memikirkan berbagai taktik untuk bertukar kontak, tapi ujung-ujungnya aku malah memberikan ID-ku secara langsung di saat yang tidak tepat tanpa ada kesan elegan sedikit pun. Kalau jadinya begini, harusnya aku minta tukar kontak di awal pertemuan saja tadi.  


"!!"  


Rasa malu mulai menyelimutiku, hingga aku membenamkan wajahku ke dalam syal pemberian Takeru.  


Aku sudah merapikan perasaanku.  


Aku sudah menyadarinya. Sekadar bertukar kontak adalah hal yang dilakukan teman, bahkan orang yang baru kenal pun melakukannya. Tapi kenapa aku tidak bisa mengatakannya secara jujur? Kenapa aku harus segugup ini? Kenapa aku harus merasa bersalah seperti ini?  


Karena pipiku mulai terasa panas, aku menggeser syalku agar hidung dan mulutku bisa keluar, namun aku merasakan ketidaknyamanan seperti ada label yang menusuk di sekitar tengkuk. Saat aku meraba-raba untuk membetulkan posisi labelnya, aku menyadari itu bukan label, melainkan tekstur seperti kartu.  


Apa label harga ya? pikirku sambil mengeluarkannya untuk mengecek.  


Setelah tertegun sejenak, aku pun tanpa sadar tertawa.  


Butiran salju yang besar jatuh di pipiku.  


Terasa dingin dan nyaman. Aku menengadahkan wajah untuk mendinginkan mukaku yang memerah.  


Jangan dipikirkan. Jangan menginterpretasikan segalanya demi keuntungan sendiri. Jangan salah paham. Aku hanyalah seorang teman. Meskipun dia melakukan hal yang sama denganku, alasannya pasti karena kami berteman, hanya itu. 


Karena, orang yang disukai Takeru adalah...


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close