Penerjemah: Noire
Proffreader: Noire
Chapter 3
Tabrakan
Angin dingin yang menusuk menembus kemeja lengan panjang tipisku.
Saat itu sudah lewat pukul setengah delapan pagi. Jika mengikuti rutinitas biasanya, seharusnya ini adalah waktu bagiku untuk sarapan. Karena aku jarang keluar rumah sepagi ini, aku menyesal tidak memakai baju yang lebih tebal.
Gerbang kampus memang sudah terbuka, tapi sepertinya gedung universitas belum bisa dimasuki. Aku pun duduk di sebuah bangku kayu, lalu membaca buku untuk membunuh waktu hingga kuliah dimulai.
Ada alasan mengapa aku keluar rumah lebih awal.
『Akari, tolong... jangan datang ke rumahku lagi.』
Kemarin, aku memantapkan hati dan mengambil langkah pertama untuk mengubah hubunganku dengan Akari. Namun, melihat reaksinya, sepertinya dia tidak menganggap serius kata-kataku. Mengingat sikapnya itu, aku menduga dia akan datang lagi ke rumah pagi ini.
Oleh karena itu, aku bangun satu jam lebih awal dari biasanya dan berangkat ke kampus sebelum dia sempat datang. Dengan begini, dia pasti akan menyadari kalau aku benar-benar serius.
Aku biasanya jarang membaca buku, tapi novel berjudul Sureshigai (Salah Paham) yang direkomendasikan Chise ini ternyata sangat menarik. Tanpa sadar, aku tenggelam dalam bacaan hingga melupakan rasa dingin dan waktu.
Latar belakang dalam buku ini—di mana tokoh utama dan pahlawan wanitanya adalah teman masa kecil—mungkin menjadi alasan mengapa aku begitu terhanyut karena merasa bisa memproyeksikan diriku sendiri ke dalamnya.
Yah, meski bagian di mana mereka "sebenarnya saling mencintai" itu sangat jauh berbeda dengan kenyataan di antara aku dan Akari.
Saat aku sudah membaca sekitar setengah buku, tiba-tiba terdengar suara laki-laki dari dekat.
"Kamu Ken-kun, kan?"
Karena terlalu fokus pada buku, aku tidak menyadari ada orang yang mendekat. Aku mendongak dengan terkejut dan melihat Yasaka berdiri di sana, mengenakan jaket penahan angin di atas setelan olahraga. Dia menyandang tas raket tenis, yang menunjukkan kalau dia baru saja selesai latihan pagi klubnya.
Setelah terdiam beberapa detik, aku baru tersadar kalau "Ken" yang dia maksud adalah aku, lalu aku buru-buru menjawab.
"...Ah, sebutan 'Ken' itu cuma nama panggilan yang dia buat sendiri. Namaku Takeru. Shioda Takeru."
"Oh, begitu ya. Maaf, Takeru-kun."
Yasaka tersenyum tipis lalu duduk di sampingku.
"Apa itu buku karya Koki Miura?"
Koki Miura adalah penulis novel Sureshigai yang sedang kubaca sekarang.
"Senpai tahu penulis ini?"
"Iya. Aku belum pernah baca buku yang itu, tapi dulu aku pernah baca buku Koki Miura yang lain karena direkomendasikan teman. Tapi ya, aku menyerah di tengah jalan. Ahaha."
Melihat senyum Yasaka yang sangat menyilaukan, tanpa sadar punggungku jadi tegak.
Selama ini aku belum pernah punya teman dari tipe atletis, jadi sejujurnya aku tidak pandai berbicara dengan orang tipe sepertinya. Entah kenapa aku merasa gugup.
Mungkin karena perasaan itu terpancar di wajahku, Yasaka memasang ekspresi merasa bersalah.
"Maaf sudah mengganggu. Tapi ada yang ingin kubicarakan dengan Takeru-kun. Sebentar saja kok."
Satu-satunya topik yang menghubungiku dengan Yasaka hanyalah Akari. Apa mungkin dia mau membahas soal jarak kami yang terlalu dekat, termasuk fakta bahwa aku berangkat kuliah bersama Akari beberapa hari lalu?
Sebagai pacar, sewajarnya dia merasa tidak senang melihat Akari bersama laki-laki lain, meskipun itu teman masa kecilnya.
Aku pun bersiap-siap jika dia akan memarahiku.
"Belakangan ini Akari kelihatannya kurang bersemangat. Apa kamu tahu sesuatu?"
"...Kurang bersemangat...?"
"Iya. Tepatnya sejak sekitar dua minggu lalu, dia jadi sering melamun... ekspresinya juga terlihat muram. Takeru-kun kan sudah mengenalnya jauh lebih lama dariku. Kalau tahu penyebabnya, mungkin aku bisa membantunya. Jadi kalau kamu tahu sesuatu, tolong beri tahu aku..."
Aku sempat menduga akan dipukul tergantung jawabanku nanti, jadi aku merasa lega sekaligus antiklimaks.
Dua minggu lalu adalah saat aku dan Akari bertengkar.
Akari sendiri kemarin bilang kalau dia merasa kesepian selama kami bertengkar, jadi sudah hampir pasti penyebab dia muram adalah karena pertengkaran itu.
Namun, apakah pantas jika hal itu keluar dari mulutku kepada Yasaka? Aku mencoba membayangkannya.
«Si Akari itu sepertinya sempat murung karena berantem denganku, tapi sekarang kami sudah baikan jadi sudah tidak apa-apa kok. Maaf ya sudah bikin khawatir.» ...Tidak, tidak, tidak! Mana mungkin aku bisa bilang begitu!
Kalau aku sampai bicara begitu, aku benar-benar tidak bisa protes kalau dipukul.
"...Bagaimana kalau senpai tanya langsung padanya?"
Setelah berpikir sejenak, aku memutuskan untuk menyerahkan masalah ini pada Akari.
Akari adalah tipe orang yang akan bicara blak-blakan jika ada sesuatu yang tidak dia sukai, jadi kupikir dia akan menjawab jika ditanya langsung.
Mendengar ucapanku, Yasaka tersenyum sedih.
"Akari itu kalau ada masalah biasanya dipendam sendiri, kan? Dia pasti tidak akan mau cerita apa-apa padaku..."
Di mataku, Akari sama sekali tidak memberikan kesan seperti itu.
Akari selalu bicara terus terang, dan jika ada hal yang tidak enak, dia pasti akan curhat padaku.
Artinya, sisi yang tidak dia tunjukkan padaku itu... mungkin adalah sisi yang hanya dia tunjukkan pada orang yang benar-benar dia sukai. Dia tidak ingin membuat Yasaka khawatir secara berlebihan.
"Maaf, aku tidak tahu penyebabnya..."
Aku membalas tanpa menunjukkan perasaan sedih di wajahku. Yasaka bergumam "begitu ya..." sambil menunduk kecewa.
Dari ekspresinya, terlihat jelas bahwa Yasaka benar-benar tulus mengkhawatirkan Akari.
Otakku berputar cepat, mencoba memikirkan jawaban yang bisa membantunya tanpa harus membocorkan rahasia.
Bukan hanya soal kali ini, tapi bagaimana cara yang benar menghadapi Akari? Jika aku adalah pacar Akari dan berada di posisi Yasaka, apa yang akan kulakukan?
"...Menurutku, sebaiknya pertanyaan seperti itu tetap senpai tanyakan langsung padanya. Senpai mungkin mencoba menahan diri agar tidak terlalu mencampuri urusannya karena ingin menghargai perasaannya, tapi kurasa dia justru tidak suka diperlakukan seperti itu. Dia tipe yang ingin hubungan di mana kalian tidak perlu menahan diri dan bisa saling jujur menyampaikan pendapat... kurasa hubungan seperti itulah yang dia inginkan."
Mendengar kata-kataku, Yasaka mendongak dan membelalakkan matanya.
Lalu, dia mengangguk pelan seolah tersadar akan sesuatu.
"Benar... kamu benar. Iya, Akari memang sepertinya berpikiran begitu."
Yasaka berdiri dan mengulurkan tangannya padaku.
"Terima kasih. Aku senang sudah berkonsultasi denganmu."
Saat aku menyambut tangannya dengan ragu, Yasaka tersenyum lebar.
"Ah, benar juga."
Seolah baru teringat sesuatu, Yasaka mengeluarkan ponsel dari kantongnya dan menampilkan kode QR.
"Mau tukar kontak? Sebagai imbalan karena sudah membantuku, kali ini aku yang akan melakukan sesuatu untukmu. Kalau ada kesulitan, katakan saja padaku."
Sepertinya tidak ada orang yang bisa menolak tawaran dari Yasaka yang berada di puncak hierarki kampus ini.
Aku buru-buru mengeluarkan ponsel dan bertukar kontak dengannya.
Yasaka mengangguk puas, lalu melepas jaket penahan angin yang dia kenakan dan menyampirkannya ke bahuku. Aroma pelembut pakaian yang wangi tercium samar.
"Pakaianmu itu pasti kedinginan di musim seperti sekarang, kan?"
"Eh, jangan senpai, ini tidak enak..."
"Tidak apa-apa. Aku mau olahraga sekarang jadi nanti pasti panas, ini pas kok. Nanti kembalikan saja lewat Akari."
Setelah berkata begitu, Yasaka langsung lari pergi dengan gerakan yang sangat rapi sebelum aku sempat membantah.
Dia benar-benar orang yang sangat baik. Wajahnya, kepribadiannya, semuanya tidak sebanding denganku.
Dia benar-benar pasangan yang serasi untuk Akari.
Saat aku memasukkan lenganku ke jaketnya, kehangatan tubuh Yasaka masih tertinggal dan terasa nyaman di tubuhku yang kedinginan.
Hampir saja aku sendiri ikut jatuh cinta padanya.
☆
Aku terus membaca buku itu, dan saat aku sadar, waktu sudah hampir jam dua belas siang. Saking asyiknya, aku sampai melewatkan jam mulai kuliah kedua. Bahkan sekarang kuliahnya sudah hampir selesai.
"Aduh, dengan ini aku sudah dapat *dua out* untuk kuliah ini..."
Kuliah di universitas biasanya akan gagal jika absen lebih dari lima kali. Secara teknis aku masih aman, tapi karena tidak ada kelas tambahan, absen berarti aku tertinggal materi kuliah.
Sambil merasa membenci diri sendiri, aku mengecek ponsel dan melihat ada empat pesan masuk.
Satu dari Sako yang isinya cuma, 'Bolos ya?' Ada juga satu dari Miyano yang isinya, 'Kamu tidak apa-apa? Kamu bisa cerita ke aku kapan saja ya, kalau ada apa-apa hubungi saja aku.' Sako seharusnya belajar sedikit dari kebaikan Miyano. Baru absen sekali saja sudah sekhawatir ini, Miyano benar-benar orang yang baik.
Aku membalas Sako dengan satu stiker asal, lalu membalas Miyano dengan sopan berisi ucapan terima kasih dan penjelasan bahwa aku baik-baik saja.
Dua pesan sisanya dari Akari yang dikirim pagi-pagi sekali: 'Kenapa tidak ada di rumah?' dan 'Apa kamu masih marah?' Ternyata benar Akari mampir ke rumahku pagi tadi. Keputusanku keluar rumah pagi-pagi sekali adalah hal yang tepat.
Setelah berpikir sejenak, aku membalas pesan Akari.
『Bukannya marah, tapi demi Yasaka-senpai juga, sebaiknya kamu jangan datang ke rumahku lagi.』
Sesaat setelah pesan terkirim, statusnya langsung berubah menjadi "Dibaca". Sepertinya dia memang sedang membuka aplikasi pesan saat itu.
Sebelum ada balasan masuk, aku langsung menyimpan ponsel dan berlari menuju gedung lama tempat Chise menungguku.
☆
"Fufufufu."
Melihat Chise makan bekal sambil tersenyum begitu, aku pun tanpa sadar ikut tersenyum.
Berbeda dari wajah ketatnya yang biasa, sekarang dia menopang pipi dengan ekspresi bahagia. Jika dia dijadikan karakter kartun, pasti sudah ada bunga-bunga bermunculan di atas kepalanya.
Belakangan ini aku sedang mempelajari selera Chise dan menyesuaikan resep masakan secara keseluruhan.
Chise memang jarang memuji rasa bekalku dengan kata-kata, tapi reaksinya setelah makan sangat jelas. Jika dia tidak terlalu suka, kerutan di antara alisnya akan semakin dalam. Jika dia suka, kepalanya akan dipenuhi bunga seperti sekarang. Ekspresinya jauh lebih jujur daripada mulutnya.
Sepertinya dia suka rasa yang agak manis; reaksinya sangat bagus setiap kali aku menambahkan banyak pemanis seperti gula atau madu, jadi aku terus menyesuaikan rasanya sambil melihat reaksinya.
Aku merasa lega melihat reaksinya hari ini sangat bagus. Saat aku mulai memakan bekalku sendiri, Chise mencoba mencari topik pembicaraan.
"Ngomong-ngomong, novel yang kupinjamkan, apa sudah kamu baca?"
Aku menjawab setelah menelan makanan di mulutku.
"Iya. Sekarang aku sampai di bagian di mana tokoh utamanya sepertinya mau jadian dengan pahlawan wanita pendamping, dan mentalku sedang kena damage karenanya."
Sebenarnya tokoh utama dan pahlawan wanita utamanya (si teman masa kecil) itu saling suka, tapi si pahlawan wanita utamanya tidak menyadari perasaannya sendiri, sehingga ceritanya berkembang ke arah di mana dia hampir direbut oleh tokoh pahlawan wanita pendamping.
Chise menaikkan alisnya, tampak terkejut.
"Eh? Kamu sudah baca sampai sana? Itu kan sudah hampir bagian akhir."
"Iya. Aku biasanya tidak pernah baca novel, tapi ternyata seru. Setiap kali aku mengecek jam di tengah membaca, aku kaget karena rasanya seperti melakukan perjalanan waktu, waktu berlalu cepat sekali."
"Ah, aku paham perasaan itu. Tahu-tahu waktu yang dijadwalkan sudah lewat dan jadwal harian jadi berantakan."
"Benar banget. Gara-gara itu aku melewatkan kuliah jam kedua hari ini..."
Begitu aku bicara sampai di sana, aura yang dipancarkan Chise berubah menjadi mencekam.
Dengan ragu aku mengamati wajahnya. Dia memang tersenyum, tapi tatapan di balik matanya yang menyipit itu tidak sedang tertawa.
"Takeru, kamu bolos kuliah lagi ya?"
Seram. Meskipun nada bicaranya tidak terdengar marah, tatapan matanya terasa menusuk.
"B-bukan sengaja kok...? Cuma keasyikan saja..."
Seperti saat dia memarahiku karena bolos tempo hari, Chise memang punya sisi yang tegas soal peraturan dan kedisiplinan.
Mendengar alasanku yang bahkan tidak layak disebut alasan itu, Chise menghela napas panjang sambil memalingkan muka dengan heran.
"Baiklah, ini juga tanggung jawabku karena sudah meminjamkan buku itu padamu. Keluarkan bukunya sekarang."
Meskipun bingung mau diapakan, aku mengeluarkan buku itu dari tas dengan ragu sesuai perintah Chise.
Lalu, Chise seolah merampas buku itu dari tanganku.
Melihat wajahku yang keheranan, Chise memasang senyum jahil.
"Buku ini kupinjam kembali untuk sementara. Kira-kira kapan ya aku bakal meminjamkannya lagi padamu?"
"Eh, t-tunggu sebentar...! Padahal sekarang lagi seru-serunya sebelum bagian klimaks?!"
Sekarang ceritanya sedang di bagian di mana tokoh utama hampir jadian dengan pahlawan wanita lain... ini adalah waktu terburuk untuk disuruh menunggu.
Chise mengabaikan protesku dan melanjutkan.
"Hmm, bagaimana kalau satu minggu lagi...?"
Mendengar kata-kata tanpa ampun dari Chise, aku meringis.
Berarti aku harus menahan rasa penasaran ini selama satu minggu...
Chise terus memperhatikan ekspresiku seolah mencari durasi hukuman yang pas.
"Tidak jadi, bagaimana kalau satu bulan saja?"
Wajahku semakin muram. Tolong, kalau satu bulan jangan sampai deh.
Eh, tunggu dulu. Novel kan harganya tidak sampai seribu yen, apa aku beli sendiri saja ya?
"Sekadar info, buku ini sudah tidak dicetak lagi, jadi meskipun kamu mau beli pun tidak akan mudah menemukannya."
Kata-katanya seolah bisa membaca pikiranku, dan wajahku pun berubah menjadi penuh keputusasaan.
Seketika, Chise tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
"Fufu... ahahaha! Takeru, wajahmu lucu sekali tahu!"
Aku terpana melihatnya tertawa ceria, sesuatu yang jarang kulihat. Ternyata Chise saat tertawa itu sangat memikat.
Matanya yang tajam dan biasanya memberikan kesan galak kini berubah menjadi lembut dan manis saat tertawa. Caranya menutup mulut dengan tangan saat tertawa lebar pun tetap menunjukkan keanggunannya.
Meskipun aku yang ditertawakan, aku malah lupa hal itu karena terpesona melihatnya.
Setelah beberapa saat, aku tersadar dan buru-buru memasang wajah kesal yang dibuat-buat.
"...Kalau kamu berpikir begitu, tolong beri sedikit keringanan untuk durasi hukumannya..."
Sejujurnya, aku sudah tidak peduli lagi soal novel itu, tapi aku sengaja berkeras.
Aku ingin melihat senyumannya ini selama mungkin. Jika bisa, aku ingin dia tertawa lebih banyak lagi.
Menjadi badut untuk itu adalah harga yang murah.
"Fufufu, baiklah, soal durasinya akan kupertimbangkan."
Tumben sekali dia sedang bersemangat, dia mengatakannya sambil memberikan kedipan mata.
Kedipan mata yang manis itu seolah menembus otakku dan membuat pikiranku kosong seketika.
Chise tidak menyadari keadaanku itu, dan kembali makan seolah percakapan sudah selesai.
Lalu tiba-tiba, dia berubah kembali menjadi sosok yang ekspresi bahagianya membuat bunga-bunga bermunculan di atas kepalanya.
Saat pertama kali bertemu, aku mengiranya seperti robot tanpa ekspresi, tapi sekarang citranya berubah menjadi orang yang ekspresif dan jujur.
Apa itu artinya kami sudah semakin akrab?
Sambil memikirkan itu, aku mulai memakan bekalku sendiri. Tiba-tiba, suara yang sangat kukenal terdengar dari arah depan.
"Ken, ternyata kamu ada di sini."
Hanya ada satu orang yang memanggilku "Ken".
Aku mendongak perlahan untuk memastikan arah suara itu, dan seperti dugaanku, Akari berdiri di sana.
Alisnya menurun, bibirnya terkatup rapat, dan kemarahan tersirat jelas di raut wajahnya.
"Ke... kenapa Akari ada di sini?"
Meskipun banyak hal terjadi, seingatku aku tidak pernah memberi tahu Akari bahwa aku makan siang di gedung lama. Lalu, kenapa dia bisa ada di sini?
Bahu Akari tampak naik-turun, dan meskipun musim sedang dingin, dia terlihat sedikit berkeringat. Jangan-jangan, dia tadi berlari berkeliling mencariku?
Akari mengabaikan pertanyaanku, melangkah lebar mendekati aku dan Chise, lalu menatap Chise dengan tajam.
"...Jadi Chise-chan... ya, teman baru Ken itu."
Chise yang namanya dipanggil menanggapi tanpa mengubah ekspresi.
"Lama tidak bertemu, Sato-senpai."
Logikaku tidak bisa mengejar situasi ini. Kedatangan Akari yang tiba-tiba. Dan meskipun belum kuperkenalkan, sikap mereka berdua seolah sudah saling mengenal. Apakah mereka memang sudah kenal sebelumnya? Aku mencoba mencari titik temu di antara mereka, tapi tidak ada satu pun kesamaan yang muncul di kepalaku.
Selagi aku merapikan informasi, pandangan Akari kembali tertuju padaku.
"Yah, lupakan dulu soal itu. Ken, ada banyak hal yang ingin kutanyakan, bisa ikut aku sebentar?"
Akari menunjuk ke arah gedung kampus dengan jempolnya, suaranya terdengar berat dan mengancam. Cara dia mengajakku sudah seperti preman yang sedang menantang berkelahi. Karena merasa jika aku menolak hanya akan membuatnya semakin marah, aku baru saja hendak berdiri, namun Chise bersuara.
"Tunggu sebentar, Takeru sedang makan siang denganku. Apa tidak bisa setelah ini selesai?"
Mendengar kata-kata Chise, alis Akari berkedut. Lalu, sambil satu pipinya bergetar, dia memberikan senyum yang dipaksakan ke arah Chise.
"Ta-takeru, ya... Chise-chan, bagaimanapun kami ini seniormu, lho? Bukankah sebaiknya kamu memanggilnya Shioda-senpai, atau Shioda-san?"
Sikap Akari memiliki tekanan yang tak terlukiskan hingga membuat punggungku merinding, namun Chise membalas dengan sikap teguh.
"Takeru dan aku tidak berada di klub yang sama seperti aku dan Sato-senpai, jadi kurasa tidak perlu terlalu memedulikan hierarki senior-junior. Lagipula, Takeru sendiri yang memintaku memanggilnya begitu."
Chise mengatakannya sambil sangat menekankan nama depanku. Ternyata Chise dulu pernah berada di klub tenis yang sama dengan Akari. Chise sangat suka buku dan aku sama sekali tidak punya bayangan dia orang yang atletis, jadi ini sangat mengejutkan.
Jika mereka satu klub, masuk akal kalau mereka saling kenal, tapi suasana mencekam macam apa yang menyelimuti mereka berdua ini? Setelah mendengar kata-kata Chise, Akari memelototiku seolah ingin mengonfirmasi kebenarannya.
Meski terintimidasi oleh auranya, aku berusaha menjawab.
"U-um, benar, aku memang meminta Chise-san memanggilku begitu. Selama aku tidak keberatan, bukankah panggilannya terserah saja...?"
Seketika Akari memegangi kepalanya, menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan, lalu bergumam dengan bingung.
"Ken memanggil Chise-chan yang lebih muda dengan embel-embel 'san'... hubungan macam apa sebenarnya kalian berdua ini..."
Akari tampak sangat bingung dengan hubunganku dan Chise. Kalau dipikir-pikir, itu wajar saja. Antara aku dan Chise memang tidak ada titik temu sama sekali. Andai saja saat itu Chise yang kelaparan tidak ada di depan kantin... Andai saja tidak ada bekal sisa karena Akari menolak menerimanya... hubungan kontrak "jasa antar bekal" yang aneh ini tidak akan pernah lahir.
Akari sempat tampak bimbang sejenak, lalu menghela napas panjang seolah menyerah.
"Ya sudah, kalau begitu aku tanya di sini saja."
Akari berkata dengan nada mantap, lalu melihat bergantian antara aku dan Chise, dan membuka mulut dengan raut wajah sedikit cemas.
"Anu... jangan-jangan, kalian berdua... pacaran?"
Aku tanpa sadar tersedak tertawa. Memang benar, jika kami makan berdua saja di tempat yang sepi seperti ini, wajar jika dia salah paham. Baru saja aku hendak membuka mulut untuk membantah, Chise mengulurkan tangan ke depanku untuk menghentikanku, dan dia yang menjawab pertanyaan Akari.
"Seandainya aku dan Takeru pacaran, apakah ada keharusan untuk memberitahukannya kepada Sato-senpai?"
" " "Apa...!!" " "
Aku dan Akari membelalakkan mata karena terkejut di saat yang bersamaan. Apa-apaan yang dia katakan tiba-tiba? Aku mencoba membantah, tapi Chise melanjutkan lebih cepat.
"Lagipula Sato-senpai juga tidak memberi tahu Takeru kan, kalau senpai pacaran dengan Yasaka-senpai."
Aku bingung dan tidak bisa memahami kata-kata Chise. Tidak memberi tahu aku kalau dia pacaran dengan Yasaka...? Apa yang sedang Chise bicarakan? Aku jelas-jelas mendengarnya sendiri dari mulut Akari, dan aku pun sudah menjelaskan hal itu kepada Chise.
Aku membuka mulut untuk mengoreksi perkataan Chise.
"Chise-san, soal Akari dan Yasaka-senpai yang mulai pacaran, seperti yang kuceritakan bulan lalu, aku mendengarnya langsung dari Akari, lho."
"Dengarkan ya Takeru, Sato-senpai dan Yasaka-senpai itu mulai pacaran tak lama setelah aku masuk kuliah. Sato-senpai terus merahasiakan hal itu darimu sampai kamu sendiri yang bertanya."
Mendengar kata-kata Chise, wajah Akari mengerut seolah rahasianya baru saja dibongkar di titik yang menyakitkan. Aku baru tahu kalau Akari dan Yasaka pacaran pada bulan lalu. Jika apa yang Chise katakan benar, itu berarti selama hampir setengah tahun, Akari merahasiakan hal itu dariku.
"A-apa itu benar, Akari?"
"I-itu...!"
Akari hanya menunduk dan tidak menjawab pertanyaanku. Jika ini benar, aku merasa ada yang janggal dengan tindakan Akari. Dengan kepribadiannya, dia seharusnya langsung memamerkannya begitu punya pacar. Aku tidak bisa membayangkan dia diam saja selama setengah tahun.
Setelah hening beberapa detik, Chise menyipitkan mata dan berkata dengan tajam.
"Mungkin... sebagai 'cadangan'?"
"BU-BUKAN!!"
Akari tiba-tiba berteriak keras membantah kata-kata Chise. Cadangan... Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi Akari tampak bereaksi sangat keras terhadap kata itu. Sambil meremas ujung bajunya sendiri dengan kuat, Akari memelototi Chise dan melanjutkan.
"...Kamu jahat, Chise-chan, sampai bicara seperti itu...!"
"..."
Namun Chise tidak mau kalah, dia membalas tatapan itu dalam diam. Suasananya berubah menjadi seperti neraka. Karena aku tidak tahu arti kata "cadangan" dalam konteks ini dan tidak paham kenapa Akari sampai semarah itu, aku tidak tahu harus bagaimana menengahi mereka.
Pipipipi, pipipipi.
Saat itu, ponselku berbunyi. Itu alarm yang kusetel sepuluh menit sebelum kuliah jam ketiga dimulai.
Biasanya itu adalah alarm menyebalkan yang menandakan berakhirnya waktu makan siang yang menyenangkan, tapi hari ini suara itu terdengar seperti lonceng penyelamat.
Chise memalingkan wajahnya dari Akari tanpa sepatah kata pun, menyerahkan kotak bekal yang entah sejak kapan sudah habis dia makan kepadaku, lalu membereskan barang-barangnya dan berdiri.
"Nah, aku ada kuliah jam ketiga jadi aku pergi dulu. Takeru, terima kasih makanannya hari ini."
"I-iya... sama-sama..."
Chise pergi begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa. Setelah Chise pergi, Akari mulai bergumam sesuatu sambil tetap menunduk, sehingga aku merasa khawatir dan menyapanya.
"...Um, Akari? Kamu tidak apa-apa?"
Namun sepertinya kata-kataku tidak sampai padanya. Akari tetap menunduk dengan tatapan kosong dan menggumamkan sesuatu.
"...Chise-chan tidak boleh... pokoknya tidak boleh... karena Chise-chan itu..."
Percuma, sepertinya dia tidak mendengar ucapanku sama sekali. Aku menyerah untuk mengajaknya bicara, merapikan bekal yang baru kumakan setengah, membereskan barang, lalu berdiri. Dan saat berpapasan dengan Akari, aku teringat sesuatu yang penting dan menyapanya sekali lagi.
"Ah, benar juga. Aku tidak pacaran dengan Chise-san, jadi jangan menyebarkan rumor aneh-aneh."
Setidaknya aku harus mengatakan ini, jika tidak, bisa-bisa Chise yang kena masalah. Ternyata kata-kata ini sampai padanya. Akari langsung mencengkeram kedua bahuku dan mengguncang-guncangkannya.
"S-serius?! Kamu tidak bohong, kan?!"
Aku menjawab sambil sedikit bergidik melihat auranya yang menyeramkan.
"I-iya, benar kok. Jadi tolong jangan ganggu Chise-san lebih dari ini. Dan juga... jangan datang ke sini lagi. Hari ini benar-benar... aku tidak suka."
Aku mengucapkan bagian terakhir dengan nada marah. Lalu tanpa melihat wajah Akari, aku melepaskan tangannya dan berlari menuju ruang kuliah jam ketiga.
☆
Kuliah jam ketiga berakhir, dan aku pulang ke rumah sedikit lebih lambat dari biasanya. Ada alasannya. Kejadian siang tadi tidak bisa lepas dari kepalaku, hingga aku menghabiskan waktu kuliah dengan melamun. Tepat sebelum kuliah berakhir aku baru tersadar, lalu aku membungkuk memohon kepada profesor agar tidak menghapus papan tulis lebih dulu, dan aku pun terburu-buru menyalin catatan. Kalau Chise tahu soal ini, aku pasti bakal dimarahi lagi.
Sambil memikirkan hal itu, saat aku melewati taman di perjalanan pulang, aku mendengar suara tangisan anak kecil. Karena merasa penasaran, aku mengintip ke dalam taman dan menemukan seorang anak perempuan berusia sekitar empat atau lima tahun sedang berjongkok di kotak pasir sambil menangis.
Aku merasa khawatir dan hendak masuk ke taman, namun tiba-tiba seorang wanita berlari menghampiri dan menyapa anak itu. Cukup satu orang saja yang membantu. Begitu pikirku dan aku baru saja hendak berbalik, namun aku menghentikan langkah saat melihat punggung wanita yang terasa familiar itu.
Aku memutar ke samping untuk melihat profil wajahnya, dan seperti dugaanku, wanita itu adalah Chise. Chise tampak panik, sesuatu yang sangat jarang kulihat. Dia bergerak dengan tidak tenang sambil menggerak-gerakkan tangannya.
"Ja-jangan menangis. Tu-tunggu sebentar, kakak carikan plester dulu."
Chise baru saja hendak berdiri, namun anak perempuan itu menarik ujung bajunya sambil menangis lebih kencang, "Jangan pergi...".
"I-iya, iya, kakak tidak akan ke mana-mana. Hah... aduh... bagaimana ya."
Chise mengelus kepala anak itu dengan wajah bingung. Aku mendekat dan menyapanya.
"Chise-san, ada masalah apa?"
Seketika Chise menoleh padaku dan matanya membelalak kaget.
"T-takeru?! I-ini bukan apa-apa kok, aku bukan sedang menculik dia lho?! Memang sih, aku melihatnya karena kupikir dia lucu, tapi ini beneran bukan seperti itu!"
"Tenanglah Chise-san, aku tidak salah paham seperti itu. Malah alasanmu itu yang bikin kamu kelihatan mencurigakan."
"Eh, i-iya...?"
Aku membiarkan Chise yang masih kebingungan dengan mata yang berputar-putar, lalu melihat ke arah si anak perempuan. Aku melihat darah menetes dari lutut hingga tulang keringnya. Sepertinya dia terjatuh atau semacamnya hingga lecet.
Aku menggendong anak itu seperti gaya princess carry, membawanya ke keran air, lalu membilas lututnya yang lecet dengan air. Anak itu sepertinya merasa perih, dia menggigit bibir bawahnya sambil gemetaran menahan sakit.
Aku bilang "Kamu hebat sudah menahannya," sambil mengelus kepalanya, lalu menyeka lukanya perlahan dengan sapu tangan basah. Kemudian, aku mengeluarkan plester dari dompet dan menempelkannya. Setelah selesai dengan pertolongan pertama sederhana, anak itu tampak lega dan wajahnya berubah ceria.
"Wah! Terima kasih, Kakak ganteng dan Kakak cantik!"
Anak itu memeluk kaki Chise dengan erat sebagai tanda terima kasih. Chise menggaruk pipinya dan tersenyum kecut sambil bergumam, "Padahal aku tidak melakukan apa-apa..."
☆
Setelah berpisah dengan anak itu, aku dan Chise berjalan pulang bersama. Chise membuka suara dengan nada kagum.
"Kamu hebat ya bawa plester segala? Cara menanganinya juga sangat terbiasa..."
"...Mungkin karena dulu aku sering bermain dengan orang yang hobi terluka."
Aku menjawab sambil teringat teman masa kecilku yang dulu seperti bos anak-anak. Akari saat SD itu tomboi sekali, dia sering main kejar-kejaran, panjat pohon, dan permainan lain yang banyak luka. Begitu masuk SMP dia tiba-tiba jadi feminin, sehingga peran plesterku pun menghilang, tapi sepertinya kebiasaan menyimpannya di dompet membawa hasil yang bagus.
"Terima kasih, kamu sangat membantuku. Jujur saja, aku memang berani menyapa saat melihatnya menangis, tapi aku tidak terlalu pandai menghadapi anak kecil..."
Chise mengatakannya sambil menunduk. Mengingat rasa tanggung jawabnya yang besar, mungkin dia merasa menyesal karena tidak bisa berbuat apa-apa sendirian. Aku menyeringai dan menyapanya dengan nada yang sengaja menggoda.
"Tumben Chise-san mau menyapa duluan. Kupikir kamu tipe yang bakal bilang, 'Jangan nangis cuma karena luka segitu, urus sendiri sana'."
Tentu saja itu bercanda, tapi mengingat sifat Chise yang stoik, aku merasa itu bukan hal yang mustahil. Seketika Chise memonyongkan bibirnya dengan wajah cemberut.
"Jahat sekali, kamu menganggapku apa sih."
Setelah berkata begitu, dia memasang senyum seperti anak kecil yang baru kepikiran ide jahil.
"Baru saja aku menyapa laki-laki yang menangis gara-gara ditolak lho?"
Mendadak serangan balik datang. Aku memasang wajah masam dan melihat ke arah lain.
"Ugh... lupakan soal itu..."
Teringat kejadian itu saja sudah membuat wajahku terasa panas karena malu. Ditenangkan saat menangis karena orang yang disukai punya pacar... itu adalah aib terbesar dalam hidupku. Lagipula saat itu, bukankah kita sepakat kalau Chise menghiburku bukan karena kebaikan tapi demi keuntungan timbal balik (bekal)? Kenapa sekarang dia malah bilang kalau dia menghiburku karena baik hati, itu kan curang.
Chise tertawa kecil melihat wajahku yang merah padam karena malu. Sambil memalingkan muka, aku merasa lega mendengar suara tawanya. Setelah puas tertawa, Chise tiba-tiba mengganti topik pembicaraan.
"Soal kejadian siang tadi, maaf ya. Aku tidak bermaksud menyudutkan Sato-senpai... tapi bagiku yang sudah melihat air matamu, tindakannya itu keterlaluan, jadi aku tidak tahan untuk bicara."
Kejadian siang tadi memang terus membebani pikiranku. Setelah ragu apakah harus bertanya atau tidak, aku akhirnya memantapkan hati untuk menanyakan pertanyaan yang terus terngiang-ngiang di kepalaku selama kuliah jam ketiga.
"Kenapa... kamu berbohong bilang kalau kita pacaran?"
Mendengar itu, Chise menaikkan kedua alisnya seolah terkejut.
"Habisnya, aku kesal."
Chise menjawab dengan enteng, lalu menyilangkan tangan dan mengerutkan dahi.
"Dia sendiri punya pacar, tapi saat Takeru akrab dengan perempuan lain dia malah marah, itu kan egois sekali. Aku cuma ingin melihat bagaimana reaksinya jika Takeru benar-benar pacaran dengan orang lain."
Memang benar sikap Akari saat itu aneh. Mungkin Akari merasa temannya direbut saat melihat aku dan Chise akrab. Tapi meskipun begitu, seperti kata Chise, marah hanya karena aku akrab dengan teman itu benar-benar tidak masuk akal. Sepertinya Chise merasa marah dengan pemikiran egois Akari itu, sehingga dia berbohong untuk melihat reaksi Akari.
"Oalah, ternyata begitu."
Aku bergumam pelan. Di satu sisi aku merasa itu sangat khas Chise, tapi di sisi lain aku merasa sedikit kecewa. Rasanya bodoh sekali aku sempat merasa berdebar-debar sendirian. Seketika Chise mengerutkan dahi dengan wajah curiga, sehingga aku buru-buru mengalihkan pembicaraan.
"O-omong-omong, apa maksud dari kata 'cadangan' tadi?"
Akari membantah keras kata itu. Sejak saat itu aku berkali-kali mengingat kembali alur percakapannya dan memikirkan artinya, tapi aku sama sekali tidak paham. Chise menaruh tangan di dagunya seolah sedang berpikir sebelum menjawab.
"...Sepertinya orang yang tidak pernah berpikir memang tidak akan paham artinya ya?"
"Chise-san? Orang yang tidak pernah berpikir... jangan-jangan kamu sedang mengejekku?"
"Eh? Ah, bukan. Tentu saja itu maksudnya positif, lho? Positif."
"Masa 'orang yang tidak pernah berpikir' bisa jadi positif? Kamu salah besar kalau mengira semua hal beres cuma dengan bilang itu positif."
"Lho, tidak juga. Misalnya... benar, saat kamu pusing memikirkan hubungan manusia yang rumit, terkadang kamu terbantu oleh pendapat sederhana dari orang yang tidak berpikir terlalu rumit, kan?"
"...Yah, itu mungkin memang benar."
Manusia terkadang terlalu banyak berpikir hingga tidak bisa bertindak. Misalnya saat ingin memberikan kursi di kereta. Kamu mungkin ragu karena takut dianggap menganggap orang itu sudah tua, atau merasa risih dengan pandangan orang sekitar. Tapi sebenarnya itu hanya pikiran yang berlebihan, kebanyakan orang tidak akan merasa buruk menerima kebaikan, dan orang sekitar pun tidak peduli. Terkadang memang lebih baik bertindak tanpa berpikir terlalu banyak.
"Benar kan, terkadang orang bodoh itu sangat membantu."
"Akhirnya kamu bilang bodoh juga! Ternyata kamu memang mengejekku ya!"
Tolong kembalikan waktu yang kugunakan untuk mencoba membenarkan perkataannya di dalam hati tadi. Chise bilang "Hanya bercanda" lalu tertawa riang, sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih tenang.
"Kamu tidak bisa paham itu karena kamu tidak melihat Sato-senpai dengan cara yang bias. Itu karena kamu mempercayainya. Menurutku sifat jujurmu itu adalah kelebihanmu, Takeru."
Aku bingung harus bereaksi apa, tidak jelas apakah ini pujian atau dia sedang merasa heran denganku.
"Sebaliknya, melihat Sato-senpai langsung paham maksud perkataanku, itu berarti meskipun mulutnya membantah, pasti di suatu tempat di hatinya dia memang berpikiran begitu."
"Eh? Apa maksudnya...?"
Chise memalingkan mukanya seolah tidak berniat menjawab lebih lanjut. Karena tidak ada jawaban meski aku sudah menunggu sebentar, aku menyerah untuk bertanya lebih jauh dan menanyakan hal lain yang membuatku penasaran.
"Ngomong-ngomong, Chise-san ternyata masuk klub tenis ya."
Chise menjawab seolah baru teringat sesuatu.
"Iya, lagipula aku sudah main tenis sejak SMP."
"Aku ingin melihat Chise-san main tenis. Apa tidak ada pertandingan?"
Aku tidak punya bayangan sebelumnya, tapi membayangkan Chise berlari di lapangan dengan rambut hitam panjangnya yang berkibar, rasanya itu akan terlihat sangat artistik, jadi aku ingin sekali melihatnya.
"Tidak ada. Aku sudah keluar dari klub."
Chise menjawab dengan singkat.
"Eh? Kenapa?"
"Yah, bukan masalah besar sih. Cuma soal hubungan manusia di dalam klub... begitulah."
"Ah, begitu ya."
Aku mengangguk-angguk seolah mengerti. Mengingat sifatnya, aku merasa masuk akal jika hubungan senior-junior yang khas klub olahraga akan terasa berat baginya.
Dia yang berkemauan keras dan tidak mau berkompromi sepertinya tidak akan bisa menjadi junior yang disukai senior. Seketika Chise mengerutkan dahi tanda tidak senang.
"...Takeru, barusan kamu berpikir hal yang tidak sopan kan?"
"T-tidak, bukan begitu..."
"Dengarkan ya, aku bisa bicara sopan pada orang yang lebih tua, dan waktu SMP-SMA pun aku tidak punya masalah dengan hubungan senior-junior di klub."
Kalau dipikir-pikir, saat bertemu Ayahku pun dia bisa bicara sopan tanpa cela. Begitu juga saat menghadapi Akari siang tadi.
"Lho, kalau begitu kenapa saat denganku perlakuanmu begitu tajam?"
Aku masih ingat jelas saat pertama kali bertemu dia langsung memelototiku dan memaksaku menerima set menu shogayaki kantin. Kalau dipikir-pikir, hanya kepadaku saja dia tidak menunjukkan rasa hormat sejak awal.
Melihat ekspresiku yang aneh, Chise membuka suara dengan nada malas.
"...Waktu itu karena kamu melihatku terus, jadi kupikir kamu mau menggodaku. Aku tidak tahu kalau kamu ternyata seniorku."
Setelah berkata begitu, Chise berdiri di hadapanku seolah menghalangi jalan, lalu menatapku dari bawah dengan nada menggoda.
"Atau, kamu mau aku mengubah panggilanku mulai sekarang? Ta-ke-ru-sen-pai?"
Suaranya yang terdengar sangat merdu itu membuat otakku berhenti bekerja. Suaranya terdengar sangat manis sampai aku ragu apakah itu benar-benar suara dari mulutnya. Dipanggil senior dengan suara seperti itu rasanya hampir membukakan pintu dunia baru bagiku.
Melihatku yang mulutnya mangap karena terkejut, Chise tertawa terbahak-bahak.
"Pfft... ahahaha, hanya bercanda kok. Jangan memasang wajah seperti melihat makhluk aneh begitu dong. Aku sendiri tahu kok kalau aku tidak cocok memanggil begitu. Iya, bagiku memanggil Takeru saja terasa lebih pas."
Setelah berkata begitu, Chise berbalik dan terus melangkah. Makhluk aneh? Mana mungkin. Otakku cuma sedang mengalami korsleting karena daya hancur dan keimutannya yang luar biasa. Aku benar-benar ingin dipanggil senior lagi. Tapi kalau aku sengaja menahannya di sini dan memintanya mengubah panggilan, takutnya dia malah merasa jijik, jadi aku menahannya sekuat tenaga dan hanya mengikutinya dari belakang.
Tak lama kemudian, rumahku terlihat. Saat aku merasa sedikit menyesal karena waktu yang menyenangkan dengan Chise akan berakhir di sini, aku melihat Mayu dari seberang jalan.
"Ah, Chise-chan, yuhuuu—"
Begitu menyadari kehadiran kami, Mayu berlari menghampiri Chise sebelum menyapa kakaknya sendiri. Chise sedikit mengangkat sudut birirnya dan membalas sapaan Mayu.
"Halo, Mayu-chan. Sepertinya kamu pulang cepat hari ini, baru pulang sekolah ya?"
"Iya, benar sekali. Soalnya aku anak klub pulang-cepat jadi memang cepat pulangnya."
Mayu menjawab lalu menarik tangan Chise kuat-kuat ke arah rumah.
"Daripada itu Chise-chan, mampir dulu yuk ke rumahku. Kemarin aku baru nemu kombo baru di gim, aku butuh lawan tanding nih."
Bantuan yang bagus dari adikku sendiri. Aku ikut menimpali ajakan Mayu untuk mengajak Chise mampir.
"Iya, mampir saja Chise-san. Hari ini aku juga mau ikut main ah."
Kemarin aku sibuk membuat shogayaki jadi tidak bisa ikut main gim, padahal sebenarnya aku iri melihat Mayu yang bisa main gim dengan Chise. Mendengar ucapanku, Mayu memasang wajah tidak senang.
"Eeeh, Kakak ikut main juga?"
"Hmm? Kenapa Mayu? Kamu takut kalah ya?"
Mendengar provokasi yang jelas itu, Mayu berdecak keras lalu mengabaikanku dan kembali menatap Chise.
"Sudahlah, abaikan saja Kakak. Tolong Chise-chan! Sebentar saja juga tidak apa-apa kok!"
Melihat Mayu yang merapatkan kedua telapak tangannya sambil membungkuk dalam-dalam, Chise memasang senyum bingung.
"E-um... kalau begitu... bolehkah aku mampir sebentar? Benar-benar sebentar saja ya?"
☆
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan aku berjalan berdampingan dengan Chise di jalan yang diterangi lampu jalan. Turnamen gim tadi sangat seru, kami terus bermain sampai matahari benar-benar terbenam, dan akhirnya Chise pun ikut makan malam bersama kami seperti tempo hari.
"Maaf ya, aku jadi merepotkan sampai ikut makan malam lagi..."
Chise mengatakannya dengan wajah merasa bersalah sambil mencuri pandang ke arahku.
"Ahaha, padahal tadi kamu bilang bakal berhenti kalau sudah menang sekali, tapi ternyata kamu sulit menang ya?"
Seketika Chise cemberut.
"Wajar saja kan, aku baru mulai main gim sekarang. Lain kali aku akan bertarung lebih baik." Chise mengatakannya dengan nada marah, lalu memelototiku dengan tatapan tajam. "Lagipula Takeru, kamu terlalu kuat tahu... Mayu-chan saja bukan tandinganmu."
"Ahaha, Mayu itu cuma suka gim saja tapi tidak terlalu jago. Chise-san juga sudah cukup jago untuk orang yang baru main dua kali, kurasa sebentar lagi kamu bakal bisa menang lawan Mayu."
Mayu itu tipe orang yang mengandalkan serangan membabi buta di gim apapun. Sebaliknya, meski sedikit-sedikit, aku melihat Chise mencoba memikirkan alasan kenapa dia kalah secara logis dan mencoba membuat strategi. Dia pasti tipe orang yang akan jadi jago jika terus berlatih.
Setelah tertawa kecil, aku tersenyum pada Chise.
"Nah, jangan dipikirkan soal pulangnya kemalaman. Mayu dan Ayah juga suka keramaian kok, jadi mereka justru senang. ...Lagipula, aku juga senang."
Tiba-tiba Chise terlonjak kaget seolah terkejut, dia memainkan rambutnya dengan melingkarkannya ke jari telunjuk sambil memalingkan muka.
"Kalau begitu... syukurlah..."
Saat dia bergumam malu-malu begitu, dia terlihat sangat manis sekali. Saat aku sedang menatapnya sambil tersenyum, Chise sepertinya menyadari hal itu, dia tiba-tiba berjalan sangat cepat hingga aku hanya bisa melihat punggungnya saja.
Sesampainya di apartemen Chise, aku kembali mengagumi kemewahan apartemennya. Aku kembali tersadar bahwa Chise memang tinggal di dunia yang berbeda dariku.
"Kenapa Chise-san mau makan di rumahku?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku, dan Chise mengerutkan dahi seolah tidak paham apa maksud pertanyaanku. Aku buru-buru menambahkan penjelasan.
"Ah, tidak, maaf. Cuma... kedai keluargaku itu sangat sederhana untuk rakyat jelata... kurasa bukan tempat yang pantas dikunjungi orang kaya sepertimu."
Chise menjawab pertanyaanku sambil bilang "Hanya soal itu ternyata."
"Keluargaku juga tidak kaya sejak dulu. Waktu aku SD, kami tinggal di apartemen tua yang sempit, bahkan kami sempat khawatir soal makanan untuk besok."
"Eh?!"
Aku berteriak kaget tanpa sengaja. Melihat Chise yang dari ujung kepala sampai kaki memakai barang bermerek dan terlihat hidup sangat mewah, aku tidak percaya... tidak, aku bahkan tidak bisa membayangkan kalau dia dulu miskin.
Melihat wajahku yang terkejut, Chise tertawa kecil lalu melanjutkan ceritanya.
"But bukan berarti itu kenangan yang buruk. Justru karena itu orang tuaku jadi lebih sering berada di rumah, dan rasanya jauh lebih... bahagia...? Hmm, bukan itu... kata-katanya sulit, tapi kami adalah keluarga yang sangat hangat."
Chise mengatakannya seolah merindukan masa lalu. Suasana gelap membuatku tidak bisa melihat jelas ekspresinya, tapi dari nada suaranya aku tahu dia pasti sedang tersenyum lembut.
"Bisa dibilang itulah alasannya, shogayaki di Kedai Shioda sangat membantu kami. Aku sering menabung uang sakuku untuk makan di sana."
"Ooh begitu ya. Memang di kedaiku itu yang paling murah sih. Kalau tidak salah harganya sekitar tiga ratus yen?"
"Harganya dua ratus delapan puluh yen termasuk pajak."
Mengingat itu harga zaman dulu, sekarang terdengar seperti perusakan harga yang parah.
Seingatku itu zaman di mana semangkuk gyudon masih seharga dua ratus tiga puluh yen. Nenek pasti juga kesulitan dalam persaingan harga itu.
"Dipikir-pikir itu zaman yang hebat ya. Sekarang saja beli bekal bisa sampai hampir lima ribu yen."
"Tidak lho, inflasi tidak separah itu kali! Kamu beli bekal di toko mewah mana sih!"
Meski dia memasang wajah seolah sedang bernostalgia, tapi dunia kami terlalu berbeda sampai aku tidak bisa bersimpati sama sekali.
"Nah, saking sukanya aku dengan shogayaki yang murah dan enak itu, saat ulang tahun orang tuaku bertanya mau makan apa, aku jawab: Kedai Shioda! Lalu aku membawa mereka berdua ke sana."
"Ooh..."
"Fufufu, saat itu pemilik kedainya... nenekmu Takeru, dia memperlakukanku seperti pelanggan tetap. Aku ingat aku memamerkan pada orang tuaku kalau aku adalah pelanggan tetap di sana. Lalu, aku merekomendasikan shogayaki, tapi akhirnya Ibu memesan mapo tofu dan Ayah memesan ayam goreng... mereka berdua tidak mendengarkan rekomendasiku sama sekali. Jahat sekali, kan? Makanya aku meminta nenekmu membawakan shogayaki juga di piring kecil..."
Sepertinya itu kenangan yang sangat menyenangkan baginya. Setelah itu, Chise terus asyik bercerita tentang kenangan bersama orang tuanya. Sambil menimpali ceritanya, aku merasa ada kehangatan yang menjalar di dalam dadaku.
Sejak kecil aku selalu melihat punggung Nenek yang bekerja keras di Kedai Shioda. Aku melihatnya mengayunkan wajan dengan keringat bercucuran, aku melihatnya memegangi kepala saat melihat hasil penjualan, dan saat itu sebagai anak SD aku sempat bertanya-tanya kenapa dia harus berusaha keras sejauh itu.
Tapi sekarang aku mengerti. Nenek pasti berusaha keras demi pelanggan seperti Chise.
Di kedai yang dia bangun dengan susah payah, dia berusaha demi pelanggan yang membangun kenangan berharga seperti Chise.
Saat aku sedang mendengarkan cerita Chise sambil memikirkan hal itu, tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
"Chise?"
Itu suara wanita paruh baya. Saat menoleh, seorang wanita memakai setelan bisnis dan kacamata berdiri di sana. Wajahnya sangat mirip dengan Chise dan terlihat cantik, tapi tatapan matanya jauh lebih tajam dari Chise, dan auranya benar-benar menunjukkan sosok wanita karier yang tangguh.
"I-ibu..."
Seperti dugaanku dari wajahnya, dia memang ibunya Chise. Keceriaan Chise yang tadi ada langsung sirna, dia menunduk sambil merapatkan bahunya seolah sedang mengecil.
"Tumben sekali kamu pulang selambat ini, apa biasanya kamu selalu pulang jam segini?"
"...Aku kan sudah mahasiswi. Wajar saja kalau aku pulang malam karena main bersama teman."
"...Teman?"
Di saat itulah tatapan mata ibunya Chise untuk pertama kali tertuju padaku. Seketika punggungku merinding. Tatapannya yang menusuk itu jelas-jelas tidak menunjukkan keramahan, dia melihatku dari ujung kepala sampai kaki seolah sedang menilai hargaku. Seharusnya aku memperkenalkan diri, tapi aku terlalu terintimidasi hingga pikiranku jadi kosong.
Chise menyadari keadaanku, dia berdiri di tengah-tengah antara aku dan ibunya, lalu memperkenalkanku sebagai penggantiku.
"Iya, dia teman seampusku, namanya Takeru. Lagipula tumben sekali Ibu pulang cepat hari ini. Biasanya kan selalu pulang lewat tengah malam?"
Mendengar ucapan Chise yang sedikit menyindir, ibunya menghela napas panjang seolah merasa heran.
"Chise, dengar, Ibu bekerja begini itu demi kamu, tahu?"
"..."
"Tapi kamu malah asyik bermain dengan lawan jenis sampai selambat ini, santai sekali ya?"
Chise hanya menunduk dan tidak menjawab apa-apa dengan mulut terkatup rapat. Hanya mendengar dua-tiga kalimat saja, aku sudah bisa mengerti kalau hubungan anak dan orang tua ini tidak berjalan baik. Ibunya Chise adalah orang yang tegas, dan sepertinya dia tidak suka melihat Chise bersama laki-laki sampai larut malam. Memikirkan itu, aku memberanikan diri untuk ikut bicara.
"M-maaf, ini salah saya sampai selambat ini. Saya meminta bantuan untuk mengerjakan tugas, tapi sayanya yang lambat mengerjakan..."
Itu bohong belaka. Aku pikir ketegangannya akan mereda jika aku bilang kami terlambat karena mengerjakan tugas kampus, tapi tatapan tajam ibunya Chise tidak memudar sedikit pun dan tetap tertuju padaku.
"Kamu, orang tuamu bekerja apa?"
Tatapan itu lagi. Tatapan seolah sedang menilai hargaku. Sambil berkeringat dingin di punggung, aku menjawab.
"O-orang tua saya... karyawan biasa."
Mendengar jawabanku, alis ibunya Chise berkedut. Sambil bergumam "Ooh..." seolah sudah paham, dia menyipitkan mata dan melihat penampilanku dengan tatapan meremehkan.
Lalu, Chise berbicara dengan nada jengah.
"Ibu! Kan sudah kubilang hentikan sikap seperti itu!"
"Dengar Chise, kamu harus memilih teman bergaul—"
Chise memotong ucapan ibunya, menarik lengannya, dan menyeretnya paksa menuju arah apartemen.
"Maaf ya Takeru. Sampai jumpa di kampus."
Setelah berkata begitu, Chise terus menyeret paksa ibunya masuk ke apartemen meski ibunya sempat melawan, "T-tunggu sebentar Chise!". Aku membungkuk pelan dan terpana melihat kepergian mereka berdua.
☆
Saat makan siang keesokan harinya, Chise langsung membungkuk meminta maaf begitu bertemu denganku.
"Maafkan aku! Kemarin Ibuku sudah tidak sopan padamu...!"
Aku melambaikan tangan menjawabnya.
"Tidak apa-apa kok. Aku beneran tidak memikirkannya."
Setelah berkata begitu, aku menyerahkan bekal padanya sambil melanjutkan.
" Aku yang seharusnya minta maaf... Aku sepertinya tidak terlihat baik di mata ibumu ya?"
Andai saja aku orang seperti Yasaka, pasti aku tidak akan dipandang seperti itu oleh ibunya Chise. Memikirkan itu membuatku merasa tidak berguna. Mendengar kata-kataku, Chise menggelengkan kepala dan kembali meminta maaf.
"Bukan, ini murni kesalahanku. Maafkan aku... Ibuku itu memang sering menilai orang hanya dari penampilannya saja..."
Ternyata tatapan menilai tadi bukan perasaanku saja. Bagi aku yang selalu memakai baju murah, pasti kesannya sangat buruk bagi ibunya. Sambil mengingat sosok ibunya Chise, aku menjawab.
"Tidak, beneran jangan dipikirkan. Cuma aku terkejut karena sosok ibumu berbeda jauh dari bayanganku."
Dari cerita pesta ulang tahun yang Chise ceritakan dengan ceria, bayanganku tentang orang tuanya adalah sosok yang jauh lebih lembut. Chise mengerutkan dahi di antara alisnya dan menunduk.
"Ibuku dulu tidak seperti itu. Sebelum aku masuk SMP, Ayah dan Ibu memulai bisnis sendiri, dan seiring dengan bertambahnya kekayaan kami, waktu untuk mengobrol dengan keluarga pun semakin berkurang. Makan di Kedai Shioda yang kuceritakan kemarin... ternyata itu menjadi makan bersama terakhir untuk seluruh anggota keluarga kami. Sekarang aku bahkan tidak tahu lagi apa yang dipikirkan oleh Ibuku..."
Chise mengatakannya dengan nada sedih. Chise masih ingat dengan jelas detail apa yang dipesan orang tuanya saat pesta ulang tahun di Kedai Shioda. Biasanya ingatan akan kabur dan tertumpuk jika ada kejadian serupa. Faktanya, aku sama sekali tidak ingat apa yang dipesan Ayah atau adikku saat kami makan di luar waktu aku SD. Tapi bagi Chise, karena itu adalah ingatan terakhir, dia menyimpan kenangan satu-satunya itu dengan sangat hati-hati di dalam dadanya, hingga ingatannya tetap kuat tanpa pernah tertumpuk.
"...Begitu ya, makanya kamu ingin merasakan shogayaki rumahku sekali lagi."
Mendengar kata-kataku, Chise mendongak dengan wajah terkejut sejenak, lalu kembali mengerutkan dahi sambil menaruh tangan di dagunya seolah sedang berpikir keras.
"Aku sendiri tidak tahu... tapi kalau dipikir-pikir, mungkin memang benar begitu."
Chise pasti ingin merasakan lagi rasa shogayaki yang tertinggal bersama kenangan manisnya itu. Aku memejamkan mata, teringat ucapan favorit Nenek.
『Keluarga makan dari periuk yang sama, itulah kemewahan yang paling utama. Dari dulu sampai sekarang, hal itu tidak pernah berubah.』
Saat masih kecil, aku pikir itu hanya aturan merepotkan karena tidak boleh makan sebelum semuanya berkumpul. Tapi setelah belakangan ini Akari tidak lagi datang sarapan, dan setelah mendengar cerita Chise barusan, aku menyadari betapa pentingnya hal itu.
Makan bersama keluarga adalah tempat berkomunikasi. Kamu tidak perlu menahan diri seperti saat bicara dengan senior atau atasan, kamu tidak perlu memikirkan bagian lucu dari ceritamu seperti saat bicara dengan teman, dan kamu tidak perlu khawatir rahasiamu disebarkan orang lain. Kamu bisa mendapatkan rasa tenang dengan menceritakan keluh kesah pada keluarga yang merupakan pendukung setiamu, dan kamu bisa mengetahui keadaan satu sama lain dengan berbagi cerita sepele tentang kejadian hari itu. Terkadang mungkin akan ada pertengkaran karena perbedaan pendapat, tapi itu pun perlu untuk mengetahui pikiran masing-masing. Jika waktu makan bersama keluarga hilang, komunikasi pun akan terputus, dan meskipun kalian adalah orang-orang dengan jarak terdekat, kalian tidak akan tahu apa yang dipikirkan satu sama lain.
Sekarang, yang Chise butuhkan adalah waktu bersama keluarga seperti itu.
"Sip!!"
Sebuah ide muncul di kepalaku, dan aku berdiri sambil berteriak kencang. Dan aku bertanya pada Chise yang menatapku dengan mata membulat karena aku tiba-tiba berteriak.
"Hei, kapan hari ulang tahun Chise-san?"
"Eh? Tanggal tiga Desember, tapi..."
"Hah?! Dekat sekali?!"
Aku mengecek kalender di ponsel. Hari ini tanggal 28 November, berarti ulang tahun Chise tinggal lima hari lagi. Rencanaku hampir gagal di awal, aku memegangi kepalaku. Persiapan rencanaku rasanya tidak akan sempat jika hanya dalam beberapa hari. Saat aku mulai berpikir tak apa meski bukan di hari ulang tahunnya... Chise melanjutkan dengan nada tak acuh.
"Benar juga. Ulang tahun bagiku sama saja seperti hari biasa, jadi aku sampai lupa."
Tadinya aku hampir menyerah untuk melakukannya di hari ulang tahunnya, tapi mendengar kata-kata Chise itu aku memantapkan hati. Aku tersenyum pada Chise.
"Chise-san, maaf ini mendadak, tapi maukah kamu datang ke rumahku bersama orang tuamu di hari ulang tahunmu? Aku akan membuka Kedai Shioda kembali, khusus untuk satu hari saja!"
Keinginanku untuk membantu Chise mengalahkan rasa cemas karena waktu persiapan yang singkat. Aku bertekad untuk membuat Chise memiliki kenangan tak terlupakan sekali lagi di Kedai Shioda.




Post a Comment