NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Osananajimi ni Kareshi ga Dekita Tame, Betsu no Ko ni Obento o Tsukutte Agetara, Osananajimi no Yousu ga Okashiku Natta V1 Chapter 2

 Penerjemah: Noire

Proffreader: Noire


Chapter 2

Jarak yang Memisahkan dan Jarak yang Mendekatkan

『……Iya, sebenarnya, baru beberapa hari yang lalu dia menyatakan perasaannya, dan kami mulai pacaran.』


Akari menunjukkan ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya. Wajahnya yang merona dan senyum tersipunya, ironisnya, terasa sebagai hal yang paling memikat dalam lima belas tahun sejak aku mengenalnya. Aku sering mendengar bahwa perempuan akan menjadi lebih cantik saat jatuh cinta, dan sepertinya aku baru saja menyaksikannya secara langsung.


Masalahnya, objek cintanya bukanlah aku.


『……Begitu ya. Senpai sepertinya orang yang sangat baik.』


Saat kata-kata itu meluncur, aku sendiri tidak tahu seperti apa raut wajahku. Aku berusaha mati-matian menahan suaraku agar tidak bergetar, hingga tidak sempat memedulikan ekspresi wajah. Meskipun teman masa kecilku selama lima belas tahun—sahabatku sendiri—sedang tersenyum bahagia, aku bahkan tidak mampu mengucapkan satu kata "selamat" untuknya.


Akhirnya, aku hanya meninggalkan kalimat,『Perutku sakit, jadi kamu duluan saja ke kelas,』lalu aku lari melarikan diri dari sana.


Aku tidak sanggup melihat sosoknya yang tersipu saat memikirkan Yasaka. Meski itu adalah sosoknya yang paling menawan, aku tetap tidak sanggup melihatnya.


"Kalau saja aku menyatakan perasaanku lebih cepat... apa hasilnya bakal berbeda...?"


Aku berbaring di bangku belakang gedung lama kampus, menatap langit biru tanpa awan dengan wajah mendung. Aku menggumamkan pikiran yang terus muncul meski sudah kucoba tepis berkali-kali. Aku tahu memikirkannya sekarang pun tidak ada gunanya, tapi aku tidak bisa berhenti berandai-andai.


Gedung lama tempatku berada sekarang ini adalah tempat yang hampir tidak pernah didatangi orang sejak gedung baru dibangun sepuluh tahun lalu. Faktanya, aku sudah menghabiskan waktu hampir satu jam di bangku belakang gedung ini tanpa ada satu orang pun yang lewat. Aku sering menggunakan tempat ini saat ingin merenung sendirian.


Embusan angin sepoi-sepoi yang agak dingin terasa nyaman berpadu dengan hangatnya sinar matahari. Meskipun kondisi mentalku berantakan, panas dari matahari tetap terasa nyaman, dan aku yang kurang tidur pun mulai merasa terkantuk-kantuk.


"Akhirnya ketemu juga...!!"


Suara yang terdengar tepat sebelum aku kehilangan kesadaran itu membuatku tersentak bangun seketika.


Saat aku menoleh ke arah suara, aku melihat Takatsuki dengan wajah seram seperti iblis Hannya sedang melangkah lebar mendekatiku.


"Kamu ini, sedang apa di tempat seperti ini! Aku cek di kelas tidak ada, di kantin juga tidak ada! Bolos kuliah itu benar-benar tidak masuk akal!"


"M-maaf." 

Karena tekanannya yang luar biasa, aku refleks meminta maaf. 


"Ngomong-ngomong, Takatsuki... san? Sedang apa di tempat seperti ini...?"


"Itu kalimatku! Padahal aku sudah susah payah mencarimu sampai mendatangi kelasmu, tapi kamu malah bolos! Universitas itu bukan wajib belajar, tahu? Apa kamu tidak merasa bersalah pada orang tuamu yang sudah membayar biaya kuliah?!"


"M-maafkan aku..."


Dicecar dengan bicara cepat oleh Takatsuki, aku meminta maaf untuk kedua kalinya dalam keadaan bingung.


Takatsuki yang sudah sampai tepat di depan bangku memelototiku tajam, namun tiba-tiba matanya membelalak dan ekspresinya berubah menjadi heran.


"Ada apa denganmu... apa kamu habis menangis?"


Mungkin karena area mataku merah dia jadi menyadarinya. Aku buru-buru mengucek mata untuk mengelak.


"T-tidak kok. Mungkin karena aku mengantuk lalu menguap? Daripada itu, ada urusan apa Takatsuki-san denganku?"


Takatsuki menatapku dengan wajah curiga selama beberapa saat, lalu mengeluarkan kotak bekal dan kain furoshiki oranye yang terlipat rapi dari tasnya.


"Aku datang untuk mengembalikan ini." 


Takatsuki menyodorkan kotak bekal itu sambil memalingkan wajah dengan angkuh. 

"...Anu, rasanya tidak buruk kok. Ah, tapi tentu saja masih jauh di bawah masakan nenekmu?"


Saat aku mengulurkan tangan, dia meletakkan kotak bekal itu dengan cepat di atasku.


Itu kotak bekal Akari. ...Aku bisa mengingat saat membelinya seolah baru kemarin. Ukurannya adalah ukuran untuk laki-laki, dan dia memilihnya sambil mengabaikan saranku, berkata, 『Kalau masakan Ken, aku sanggup makan sebanyak apa pun jadi tidak masalah!』 Sesuai ucapannya, dia memang tidak pernah menyisakan makanan sedikit pun.


Gawat, kalau mulai teringat tentang Akari lagi, kelenjar air mataku mulai melemah.


"Haha, berat juga kalau dibandingin sama rasa masakan nenek..."


Mendengar suaraku yang bergetar, Takatsuki tampak kaget.


"I-itu, makanya aku bilang masakanmu juga enak! Maaf sudah membandingkannya dengan nenekmu... Hei, kalau melihat umurmu, kamu sudah melakukannya dengan sangat baik, tahu!"


Sepertinya Takatsuki salah paham dan mengira kata-katanya menyakitiku, sehingga dia mencoba menghiburku. Dia tampak gugup, sesuatu yang tidak terbayangkan dari dirinya yang biasanya. 


Namun, bagi aku yang sekarang, itu justru berdampak sebaliknya; disentuh oleh kebaikan orang lain justru membuat pertahanan air mataku runtuh total.


"Uuuugh... Takatsuki-san, ternyata kamu orang yang baik... Padahal kupikir kamu itu... orang yang dingin dan kejam...!"

Emosiku tidak terkendali lagi, aku bahkan tidak tahu apa yang aku bicarakan sendiri.


"K-kamu... apa kamu pikir itu sebuah pujian...?"


Meskipun pipinya berkedut kesal, Takatsuki mengambil kain furoshiki oranye dari tanganku dan membantu menyeka air mataku. Tercium aroma wangi yang berbeda dari pelembut pakaian yang kugunakan di rumah.


"Terima kasih banyak, terima kasih banyak...!"


Lama-kelamaan, aku terus mengulang kata-kata itu sampai tidak tahu lagi untuk apa aku berterima kasih.


Di belakang gedung lama yang sepi itu, suara isak tangis seorang pria yang menyedihkan dan suara seperti orang yang sedang menenangkan anak kecil—"Iya, iya"—bergema silih berganti.



"Hmm... jadi intinya, teman masa kecil yang kamu sukai sudah punya pacar, ya."


Setelah aku mulai tenang, aku menceritakan semuanya kepada Takatsuki. Termasuk soal Akari yang mulai pacaran dengan senior klub tenis, dan fakta bahwa dia pergi ke rumah senior tersebut.


Mungkin karena bercerita kepada orang asing, aku bisa bicara jujur, dan perasaanku sedikit lebih lega hanya dengan menceritakannya.


"Bukannya suka... tapi memang begitu sih... persis seperti yang kamu katakan."


Harga diri rendahku sempat ingin membantah, tapi aku terdiam saat Takatsuki menyipitkan mata menatapku.


Aku sudah menangis sejauh itu. Mau bilang apa pun sekarang, rahasia bahwa aku menyukai Akari pasti sudah terbongkar.


"Ngomong-ngomong, sejak kapan teman masa kecilmu itu mulai pacaran?"


"Eh? Aku baru dengar tadi pagi, jadi kurasa baru-baru ini. Tapi aku tidak tanya tepatnya kapan..."


Sejujurnya, aku pun tidak mau tahu. Aku tidak yakin mentalku sanggup mendengarkan cerita bagaimana mereka bisa jadian.


Takatsuki bergumam "hmm" seolah tidak peduli, lalu menyilangkan tangan dan memejamkan mata. Setelah terdiam sejenak dengan wajah serius, dia membuka mulut.


"Maaf, aku juga bukan orang yang berpengalaman dalam cinta, jadi aku tidak bisa memberi saran yang tepat." 


Setelah pembukaan itu, dia membuka mata dan menatapku seolah sedang menasihati. 


"Tapi menurutku, kamu harus menganggap ini sebagai titik balik yang bagus. Dari ceritamu, meskipun kamu meneruskan hubungan teman masa kecil ini pun, hubungan kalian mungkin hanya akan berjalan di tempat, kan? Masa kuliah itu terbatas, sangat rugi kalau dibuang-buang. Kamu baru saja mendapatkan kesempatan untuk melangkah ke cinta yang baru. Jangan terus melihat apa yang hilang, tapi sadarilah apa yang bisa kamu dapatkan di depan nanti."


Aku memejamkan mata, merenungkan kata-kata yang diucapkan Takatsuki demi kebaikanku itu di dalam hati.

Apa yang dia katakan benar. Selama ini aku beberapa kali ditembak oleh perempuan lain, tapi aku menolak semuanya karena memikirkan Akari. Meski begitu, aku tidak berani menyatakan perasaan pada Akari karena takut hubungan kami berubah, dan kemungkinan Akari menyatakan perasaan padaku pun hampir mustahil terjadi.


Dengan hubungan yang lama, kami tidak akan pernah bisa maju ke mana pun.


Tapi sekarang, karena aku tahu tidak ada lagi kemungkinan untuk pacaran dengan Akari, aku bisa merelakannya dan melangkah maju.


"Mungkin... kamu benar. Terima kasih banyak, Takatsuki-san."


Aku setuju dengan kata-katanya dan berterima kasih dengan tulus.


Kata-kata Takatsuki punya kekuatan. Dia orang yang bisa diandalkan. Karena kebaikannya, aku hampir saja menangis lagi jika tidak waspada.


Saat aku menggigit bibir bawah menahan tangis, Takatsuki merendahkan nada suaranya dan melanjutkan.


"Lalu, soal imbalan karena aku sudah menghiburmu yang sedang terpuruk ini."


Mendengar kata-kata itu, air mata yang hampir tumpah langsung surut seketika.


Imbalan... imbalan... imbalan?


Dalam kamus, imbalan berarti 'keuntungan materi yang diterima sebagai upah atas penyediaan jasa atau harta kepada orang lain'.

Jadi maksudnya Takatsuki memberikan jasanya bukan murni karena kebaikan, tapi demi keuntungannya sendiri?


Kalau dipikir-pikir, itu wajar. Tidak ada untungnya bagi dia berbuat baik pada orang yang baru dikenal sepertiku.


"Ooh... jadi begitu ya."


Aku tertawa kecut. Ada sedikit rasa kecewa, tapi faktanya dia memang membantuku, dan mungkin hubungan timbal balik seperti ini justru lebih santai.


"Aku benar-benar berterima kasih, jadi aku akan melakukan apa pun yang aku bisa, tapi aku tidak punya uang lho?"


Bagi aku yang sangat biasa—atau lebih tepatnya cenderung miskin—apa yang dia harapkan dariku sebagai imbalan?


Mendengar ucapanku, Takatsuki mendengus tertawa.


"Aku tidak butuh hal semacam itu. Malah, aku sedang berpikir tidak keberatan jika aku yang membayarmu."


"...Eh?"


Aku tidak mengerti maksudnya dan bertanya balik.


Membayar? Takatsuki kepadaku? Apa maksudnya?


Melihatku yang kebingungan, Takatsuki melompat turun dari bangku, berdiri di depanku sambil menyilangkan tangan dan menatapku tajam.


"Mulai besok, bisakah kamu membuatkan bekal untukku? Tentu saja setiap hari."

Meskipun aku sudah bertanya balik, aku benar-benar tidak mengerti arti dari permintaannya.



Keesokan paginya, setelah melepas kepergian adik dan ayahku, aku menghabiskan waktu berdua dengan Akari sambil menonton televisi seperti biasa.


Akari memiringkan kepala melihat dua kotak bekal yang tertata di meja.


"Lho? Hari ini aku makan siang bareng senpai lagi jadi tidak butuh bekal kok? Apa aku belum bilang?"


Ternyata benar akhir-akhir ini dia makan siang bareng Yasaka. Aku merasa syok mendengar ucapan santainya, tapi aku berusaha tidak menunjukkannya.


"Tidak, ini untuk temanku. Dia memintaku membuatkannya, jadi mulai hari ini aku bakal buatkan untuknya sementara waktu."


Entah kenapa aku tidak mau Akari tahu kalau aku membuatkan bekal untuk perempuan, jadi aku menjawab dengan ambigu.


"Teman? Siapa? Sako-kun?"


"Bukan... teman baru yang baru saja kukenal. Orang yang tidak Akari tahu."


Saat aku berkata begitu, Akari hanya bergumam "...ooh?" seolah tidak tertarik, lalu menopang dagu dan kembali menatap televisi. Aku merasa lega karena tidak dikejar lebih jauh.


Setelah beberapa menit menonton televisi dalam diam, Akari bertanya dengan nada ketus.


"Laki-laki?"


Tiba-tiba ditanya apakah dia laki-laki, aku bingung apa maksudnya.


Saat aku bertanya balik "Apa maksudmu?", nada bicara Akari berubah jadi agak kesal.


"Maksudku teman barumu itu. Laki-laki?"


Ternyata topik bekal tadi masih berlanjut. Karena ada jeda beberapa menit, kupikir pembicaraannya sudah selesai.


Aku berpikir sejenak sebelum menjawab.


"...Yah, begitulah."


Aku berbohong. Aku tidak mau bercerita soal membuatkan bekal untuk perempuan lain kepada gadis yang baru saja membuatku patah hati kemarin.


Kupikir aku sudah merapikan perasaanku setelah mengobrol dengan Takatsuki, tapi ternyata fakta bahwa aku berbohong menunjukkan kalau aku belum benar-benar merelakannya.


Akari melanjutkan tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.


"Kotak bekalnya kelihatannya kecil ya? Seperti punya perempuan."


"...Katanya porsi makannya sedikit."


Aku menjawab dengan rasa bersalah karena terus berbohong pada Akari.


Nanti, saat perasaanku padanya sudah hilang, aku akan bercerita padanya kalau aku berteman dengan Takatsuki. ...Meskipun hubungan dengan Takatsuki ini pun masih meragukan apakah bisa disebut teman.


Akari tidak berkata apa-apa lagi, tapi entah kenapa suasana hatinya tampak memburuk. Mungkin dia curiga aku sedang menyembunyikan sesuatu.



Waktu makan siang tiba. Saat aku menuju bangku di belakang gedung lama kemarin, Takatsuki sudah duduk di sana.


Dengan punggung tegak saat membaca buku, sosoknya terlihat sangat anggun hingga bangku kayu tua itu pun tampak seperti barang antik yang modis.


Begitu menyadari kehadiranku, Takatsuki menutup bukunya dan bergeser cukup jauh untuk memberi ruang. Sepertinya dia sengaja melakukannya agar aku bisa duduk.


"Ah, aku cuma mau mengantarkan bekal saja kok."


"Oh ya? Apa kamu pikir kalau ke kantin sekarang masih ada kursi kosong?"


Waktu menunjukkan jam dua belas lewat. Itu adalah waktu di mana kantin sedang penuh sesak oleh mahasiswa yang baru selesai kuliah jam kedua. Seperti katanya, aku pasti tidak akan dapat tempat duduk jika ke sana sekarang. Saat aku terdiam, Takatsuki melanjutkan.


"Aku bakal merasa tidak tenang kalau kamu pingsan di tengah kuliah sore karena tidak makan gara-gara aku."


Mungkin, ini caranya sendiri untuk mengajakku makan bersama.


Setelah bimbang sejenak, aku memutuskan untuk menerima tawaran Takatsuki. Aku duduk agak jauh darinya, lalu menyerahkan bekal yang kukeluarkan dari tas.


"Hari ini aku buat hamburger. Tolong cek apa ada bahan yang tidak kamu suka?"


Karena aku belum tahu selera Takatsuki, aku memilih menu yang umum. Kurasa tidak ada orang yang benci hamburger.


"Iya, jangan khawatir soal itu. Aku tidak punya makanan yang tidak kusukai."


Tidak punya makanan yang tidak disukai? Mana mungkin. Kalau dia pemakan segalanya, dia tidak mungkin makan shogayaki kantin dengan ekspresi senista itu.


Aku merasa heran, tapi tidak berani mengatakannya.


Karena ada kemungkinan besar bekalku juga akan dikritik pedas, aku memperhatikan setiap gerak-gerik Takatsuki dengan tegang.


Takatsuki membentangkan sapu tangan di atas lututnya, lalu membuka kotak bekal di atasnya. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun saat melihat isi bekal. Takatsuki memotong hamburger menjadi ukuran satu suapan dengan sumpit, lalu memasukkannya ke mulut.


Seketika, ekspresi wajahnya melunak. Kerutan di antara alis yang biasanya ada kini hilang, sudut bibirnya terangkat, dan suara "Hmm~" keluar dari mulutnya.

Melihat ekspresi Takatsuki yang baru pertama kali kulihat itu, aku terpana tanpa sadar. Karena biasanya dia selalu cemberut, senyuman pertamanya ini terlihat sangat memikat.


Setelah beberapa saat, Takatsuki menyadari bahwa dia sedang diperhatikan, lalu kembali ke wajah cemberutnya yang biasa.


"Apa? Aku sulit makan kalau terus diperhatikan."


"A-ah... m-maaf."


Aku buru-buru mengalihkan pandangan ke bekalku sendiri.


Meski ditegur, sepertinya rasa bekalku sesuai dengan seleranya jika melihat reaksinya tadi. Aku menghela napas lega.


Aku pun mencicipi satu suapan hamburger. Teksturnya yang tebal membuat sari daging meluap saat digigit, dan aroma lada hitam yang sengaja kubanyakkan menyebar di dalam mulut.


Sambil makan dan memuji diri sendiri dalam hati, Takatsuki menyapaku.


"Hamburgenya ada dua, apa ada yang berbeda?"


"Ah, yang satunya sausnya beda, pakai saus tomat. Aku coba sedikit bereksperimen, bagaimana menurutmu?"


Agar sausnya tidak menempel di tutup kotak bekal, aku menaruh sausnya di bawah hamburger, jadi perbedaannya tidak langsung terlihat sekilas. Takatsuki membalik hamburgernya, dan saat melihat sausnya berwarna merah, wajahnya mengerut.


"Aku tipe orang yang tidak suka bereksperimen... Kalau hamburger, aku biasanya hanya makan yang pakai saus demi-glace."

"M-maaf. ...Maksudku biar tidak bosan makanya aku coba buat variasi... Tapi sepertinya itu tidak perlu ya...? Kalau tidak bisa dimakan, tidak apa-apa disisakan kok..."


Saat aku mengatakannya dengan nada rendah, Takatsuki berkata, "I-iya, iya, aku mengerti, akan kumakan kok. Tidak akan kusisakan," lalu dia memasukkannya ke mulut dengan ragu.


Seketika setelah masuk ke mulut, mata Takatsuki membelalak, dan dia mendekatkan wajahnya padaku dengan penuh semangat.


"Saus tomat ini... ada aroma basilnya, dan di dalam hamburgenya... keju! Ada kejunya ya! Perpaduannya sangat cocok!"


Karena reaksinya yang melebihi bayangan, aku menjawab sambil sedikit mundur.


"I-iya benar. Aku sedikit bermurah hati memasukkan keju mozzarella di dalamnya."


"Fufu, terkadang bereksperimen itu bagus juga, bisa menemukan hal seperti ini."


Setelah itu, Takatsuki terus memakan hamburger satu per satu sambil tersenyum riang.


Karena aku membuatnya dengan usaha lebih dari biasanya, melihatnya makan dengan lahap memberikan kepuasan yang tak ternilai. Sambil mencuri pandang ke arah Takatsuki yang makan dengan ceria, aku pun melanjutkan makan bekalku sendiri.



Kuliah jam keempat yang merupakan kuliah terakhir hari ini selesai, dan aku pun berjalan pulang. 

Hanya aku satu-satunya di antara kenalanku yang mengambil kuliah jam empat di hari Jumat, jadi aku selalu pulang sendirian.


Namun, tepat saat keluar gerbang kampus, seseorang memanggilku.


"Yo, Ken. Baru mau pulang?"


Yang menyapaku sambil bersandar di gerbang kampus adalah Akari. Biasanya dia sudah pulang duluan atau sedang di klub, jadi seharusnya kami tidak bertemu di sini.


"Eh, kamu menungguku? Ada apa? Biasanya hari Jumat kita pulang masing-masing..."


Mungkin karena aku menunjukkan wajah tidak senang tanpa sengaja, Akari menggembungkan pipinya.


"Apa aku mengganggu? Tadi kelasku baru saja selesai, jadi aku pikir daripada pulang sendirian, lebih baik menunggu sebentar."


"Ah, tidak, tidak apa-apa. Aku cuma sedikit terkejut... sama sekali tidak mengganggu kok."


"Oh ya? Kalau begitu, ayo pulang."


Akari melompat sejajar di sampingku dan mulai melangkah dengan riang. Aku terpaku sejenak, lalu menyusul di belakangnya.

Akari tampak sangat bersemangat, mengayunkan tangannya lebar-lebar sambil berjalan, dan nada suaranya pun lebih tinggi dari biasanya.


"Hari ini Yasaka-senpai menemaniku latihan lho!"


Yasaka-senpai. Hanya mendengar nama itu keluar dari mulut Akari saja sudah membuat perasaanku merosot.


"O-oh, begitu ya... Memangnya sehebat itu ya, Yasaka-senpai?"


"Hebatnya tidak main-main! Aku sama sekali bukan tandingannya! Cara mengajarnya juga bagus, dia memberitahuku kalau form-ku agak aneh, lalu dia berdiri di belakangku begini..."


Akari terus bercerita dengan ceria tentang hal-hal yang bahkan tidak kutanyakan.


Tentang bagaimana Yasaka-senpai memperbaiki posisinya sambil hampir memeluknya dari belakang, tentang rencana pergi ke rumah senior itu lagi untuk belajar bersama, tentang betapa tampan profil wajahnya—benar-benar cerita pamer kemesraan yang sepele. Bagi Akari mungkin sepele, tapi bagiku, ini sama sekali tidak berperasaan.


Sejak tadi aku hanya menanggapi seadanya, tapi cerita Akari tidak kunjung berhenti. Waktu yang terasa seperti neraka ini berjalan lebih lambat dari biasanya. Hingga rumah kami mulai terlihat dan ceritanya masih terus berlanjut, aku terpaksa memotongnya dengan suara agak keras.


"Akari!" 


Akari terdiam, wajahnya tampak terkejut. 


"Kita sudah sampai di rumah. Sampai jumpa besok."


Tanpa menunggu jawaban Akari, aku menyalipnya dan berjalan cepat.


Mungkin, jika aku benar-benar seorang teman yang tulus, aku akan mendengarkan cerita cintanya dengan senyuman, tapi aku tidak bisa. Aku merasa jijik pada diriku sendiri.


"Tunggu... tunggu dulu!"


Ujung bajuku ditarik dari belakang oleh Akari. Aku hanya menolehkan wajah ke arahnya, menunggu apa yang ingin dia katakan.


Akari tampak ragu, mulutnya komat-kamit sebelum akhirnya dia membuka suara sambil menunduk.


"Tadi siang... kamu makan di mana?"


"Eh? Biasanya di kantin..."


"Kamu tidak ada di kantin, kan? Aku mencarimu karena ingin menyapa sebentar, tapi tidak ketemu."


Akari membalas dengan cepat. Ternyata dia sengaja datang ke kantin hanya untuk memastikan siapa temanku.


"...Ah, hari ini 'gadis' yang makan bersamaku merasa tidak nyaman di keramaian, jadi kami pindah tempat."


Karena kepalaku sudah panas mendengar ceritanya tadi, tanpa sadar aku membalasnya dengan menekankan kata 'gadis'.


Akari menyipitkan mata sejenak, lalu bahunya berguncang karena tertawa.


"Oalah, ternyata begitu. Memang jam makan siang itu penuh banget sih. Ngomong-ngomong, jadi teman makan siangmu itu perempuan? Bukannya tadi pagi kamu bilang laki-laki?"


"...Maaf, tadi pagi aku sedikit malu jadi aku agak berbohong."


Mendengar itu, Akari tertawa ceria sambil memukul-mukul punggungku.


"Wah, akhirnya musim semi datang juga buat Ken. Baguslah!"


"Bukan... bukan seperti itu..."


Di wajah Akari, tidak terlihat sedikit pun tanda-tanda cemburu.


Aku sudah tahu hal ini sejak mendengar dia pacaran dengan Yasaka, tapi melihat reaksinya sekarang, aku kembali disadarkan bahwa di matanya aku benar-benar hanya seorang teman masa kecil.


Air mata mulai menggenang, jadi aku mencoba berbalik untuk masuk rumah, tapi aku tidak bisa bergerak karena Akari masih memegang ujung bajuku.

Setelah hening beberapa detik, Akari melompat ke depanku, menatap mataku lekat-lekat seolah ingin membaca ekspresiku.


"Jadi, sebenarnya kalian makan di mana?"


Aku merasakan tekanan yang aneh dari tatapan mata Akari.


"Kami makan di luar. Karena hari ini cuacanya bagus..."


"Luar itu di mana?"


Akari terus mengejar tanpa jeda.


Aku punya firasat buruk, jadi aku tidak memberitahunya soal gedung lama dan menjawab dengan ambigu, tapi Akari terus mendesak. Aku menghela napas, menunjukkan sikap ingin segera masuk rumah.


"Lagipula, apa ini hal penting sampai harus menahanku begini? Kenapa Akari harus tahu di mana kami makan siang?"


"Eh? Kan dia teman Ken. Aku cuma mau menyapa saja kok."


Akari mengatakannya seolah-olah itu hal yang wajar. Firasat burukku tepat sasaran.


Kalau diingat kembali, saat aku berteman dengan Sako dan Miyano pun sama. Akari punya kecenderungan ingin ikut akrab dengan semua temanku. Bukan hanya mereka, sejak SMP dan SMA pun, Akari selalu masuk ke dalam komunitas tempatku berada.


Mungkin baginya teman dari temannya adalah temannya juga. Atau dia merasa dirinya adalah pengasuhku? Sekarang aku baru sadar, rasanya lingkaran pertemananku selama ini dikendalikan olehnya.


"Tidak perlu menyapa. Dia temanku, jadi tidak ada hubungannya dengan Akari."


Aku sengaja memilih kata-kata yang menjauhkan.


Aku sudah bertekad untuk merelakan Akari dan melangkah maju. Aku tidak ingin Akari masuk lagi ke komunitas baru yang sedang kubangun.


Seketika, alis Akari menurun dan mulutnya terkatup rapat. Itu adalah ekspresinya saat benar-benar marah.


"Kenapa kamu bicara begitu? Kamu menyembunyikan sesuatu."


"Tidak ada yang kusembunyikan. Aku cuma bilang, Akari tidak perlu ikut campur di semua hubungan pertemananku."


Kehabisan kesabaran karena aku tidak mau memberi jawaban yang dia inginkan, Akari berbalik dengan cepat membelakangiku.


"Ya sudah! Kalau kamu bicara sampai segitunya, terserah! Aku pulang! Aku tidak mau tahu lagi soal Ken!"


"Ah..."


Mendengar suara Akari yang agak serak, aku hampir menahannya, tapi aku mengurungkan niat di detik terakhir. Meskipun kutahan, aku tidak berniat menceritakan soal Chise padanya. Itu hanya akan memperumit masalah.


"Iya... sampai besok."


Aku mengucapkan itu ke punggung Akari yang mulai berjalan cepat.

Dia berjalan dengan langkah lebar yang dilebih-lebihkan, seolah ingin menunjukkan kalau dia sedang marah. Karena biasanya setiap kali kami bertengkar aku yang selalu mengalah dan minta maaf duluan, mungkin dia sedang menunggu aku melakukan hal itu.


Namun kali ini, aku tidak berniat minta maaf.


Aku baru menyadari setelah Akari punya pacar, bahwa hubungan teman masa kecil yang menceritakan segalanya secara terbuka tidak bisa bertahan selamanya. Aku merasa hubungan kami harus berubah mulai sekarang.


Aku berpura-pura tidak sadar bahwa dia sesekali memperlambat langkah dan melirik ke belakang, lalu aku pun berbalik dan masuk ke rumah.



Sejak pagi hari berikutnya, Akari tidak lagi datang untuk sarapan.

Bahkan setelah dua minggu berlalu, tidak ada kontak sama sekali dari Akari, dan aku pun tidak menghubunginya.


Waktu sarapan yang kini hanya diisi aku, adikku, dan ayahku terasa sangat sepi karena Akari yang paling cerewet sudah tidak ada, meskipun hanya berkurang satu orang saja.


"Kak, kamu berantem sama Akari-chan? Terserah sih, tapi mending cepat baikan. Akari-chan itu cantik, kalau Kakak lengah sedikit, bisa-bisa diambil cowok lain lho."


Ucapan Mayu yang tanpa dosa itu terasa sangat berat bagiku.


Seandainya dia mengatakan itu sedikit lebih awal.


"Oi, Takeru, kamu kenapa sih?"

Tiba-tiba sebuah suara memanggilku, menyadarkanku dari lamunan. Saat aku menoleh, wajah Sako yang mengernyit terlihat di depanku.


Aku melihat sekeliling, mahasiswa lain sudah mulai berpindah ruangan. Ternyata kuliah jam kedua sudah selesai saat aku sedang melamun.


"...Ah, Sako. Memangnya kenapa?"


"'Memangnya kenapa' matamu! Dari tadi kamu melamun dan tidak dengerin omongan kami, makanya aku panggil."


Melihat wajah Sako yang cemberut, aku mencoba bercanda sedikit untuk mencairkan suasana.


"Dengerin kok. Aku tim tidak setuju pakai nanas. Buah yang berair tidak cocok sama saus asam manis."


"Eh, padahal itu yang bikin enak tahu... Eh, bukan itu! Tidak ada yang lagi bahas nanas di asam manis!"


Sako memberikan umpan balik yang pas seperti biasanya.


"Tapi kalau nanas di piza, aku setuju sih. Susah jelasin bedanya sama di asam manis, tapi ya gitu..."


"Memang itu enak sih! Tapi bukan itu intinya! Dengerin omongan orang dong!"


Sako menghela napas, lalu menunjuk Miyano yang duduk di depan dengan dagunya.


"Tadi Megumi nanya ke kamu, apa terjadi sesuatu antara kamu dan Sato-san."

Aku menoleh ke arah Miyano dengan terkejut, dia memasang senyum cemas.


"Ahaha, habisnya belakangan ini dia sering melihat ke... maksudku, hari ini Sato-san tidak menyapa kami, dan Shioda-kun kelihatannya lesu, jadi aku pikir mungkin terjadi sesuatu."


Mungkin ini yang namanya intuisi wanita. Dia menyadari kalau ada yang berbeda antara aku dan Akari.


Aku bingung harus menjawab apa. Kabar Akari pacaran dengan Yasaka belum terlalu menyebar luas, jadi rasanya tidak sopan kalau aku yang membocorkannya, tapi karena mereka berdua orang populer, cepat atau lambat pasti akan ketahuan juga.


Setelah bimbang sejenak, aku memutuskan untuk menceritakannya pada mereka berdua.


Aku mendekat ke arah mereka dan merendahkan suara.


"...Tolong jangan disebarkan ya karena bakal berisik, tapi sepertinya Akari... mulai pacaran dengan Yasaka-senpai..."


"HAH?!"


"Eeeh?!"


Sako dan Miyano berdiri sambil berteriak kencang, membuatku panik dan segera menaruh telunjuk di bibir menyuruh mereka diam.


Mereka melihat sekeliling dengan cemas lalu duduk kembali dan merendahkan volume suara.


"Ma-maaf, aku kaget. Tapi itu... berita yang bisa bikin orang mati ya. Aku saja merasa kena damage-nya..."

Sako memegang dadanya dengan ekspresi kesakitan, sementara Miyano kelihatannya lebih terkejut daripada syok.


"Tapi, bukannya Sato-san itu pacaran dengan Shioda-kun?"


Aku membantah ucapan Miyano sambil menghela napas.


"Tidak, tidak, tidak. Benar-benar cuma teman masa kecil. Kami tidak pernah punya hubungan seperti itu. Kan dulu sudah pernah kubilang?"


Miyano masih tampak tidak yakin dan bergumam, "Tapi... kalau begitu kenapa...?"


Aku menyilangkan tangan dan menatap langit-langit sambil berpikir.


"Makanya, aku juga bingung bagaimana harus bersikap di depan Akari..."


Sambil berkata begitu, aku melihat jam dan ternyata sudah lewat jam dua belas.


Itu waktu Chise menungguku. Aku buru-buru membereskan barang dan berdiri.


"Maaf, aku harus pergi makan siang ke suatu tempat..."


Sako memasang wajah masam.


"Kamu belakangan ini makan di mana sih? Susah tahu cari kursi kosong di kantin."


Dulu aku yang selalu mengamankan kursi karena membawa bekal, jadi sekarang mereka kesulitan.

Aku menjawab dengan senyum kecut.


"Maaf, maaf. Belakangan ini aku makan bareng teman baru."


"Ooh? Siapa?"


"Hmm, beda angkatan sih, kurasa Sako tidak kenal."


Mendengar jawabanku, Sako hanya bergumam "Ooh" tanpa rasa tertarik, lalu mulai membereskan barangnya sendiri tanpa mengejar lebih jauh.


Benar, kalau sesama teman, reaksi normalnya ya seperti ini. Keinginan Akari untuk sampai menyapa temanku itulah yang tidak normal.


Saat aku hendak pergi, Miyano berdiri dan memanggilku.


"Anu! Shioda-kun, kalau ada apa-apa, kamu boleh cerita ke aku kapan saja ya?"


Seingatku dia pernah mengatakan hal yang sama sebelumnya.

Miyano pasti menyadari perasaanku pada Akari makanya dia berkata begitu. Teman yang sangat baik.


"Miyano, terima kasih. Mungkin nanti aku akan minta bantuanmu."


Setelah berpamitan, aku bergegas menuju bangku di belakang gedung lama.



"Halo, menu hari ini apa?"


Saat aku sampai di gedung lama, Chise mengangkat pandangan dari bukunya. Meskipun dia masih memasang wajah ketat, aku merasa sikapnya sudah jauh lebih melunak dalam dua minggu ini.


Aku duduk di sampingnya dan menyerahkan kotak bekal.


"Hari ini shogayaki, balas dendam dari minggu lalu."


Sebelumnya, Chise pernah bilang kalau rasa shogayaki-ku masih kalah dari masakan nenekku, dan aku rasa aku tahu penyebabnya. Resep dari nenek yang diajarkan padaku sempat kuubah takarannya karena Akari tidak terlalu suka rasa jahe yang kuat.


Mungkin karena aku mengubah bumbunya sesuai selera Akari, rasanya jadi terasa kurang.


Shogayaki hari ini kubuat persis sesuai resep asli nenek, jadi seharusnya rasanya sudah sesuai dengan yang dia cari.


Aku memperhatikan Chise dengan seksama saat dia mencicipi bekalnya.


"Tidak buruk... tapi, tetap saja rasanya sedikit berbeda."


Dia bergumam dengan ekspresi serius setelah mencicipinya.


"Eh? Masa sih..."


Semua bahan dalam resep nenek sudah kucatat di buku. Takarannya tidak mungkin salah.


"Aku tidak bisa menjelaskan bagian mana yang berbeda... tapi, ini sudah cukup kok. Tidak masalah."


"..."

Entah kenapa aku merasa Chise hanya sedang mencoba berbaik hati padaku, dan itu membuatku terdiam.


Di buku resep hanya ada catatan bahan dan poin penting saja, prosedur detailnya tidak tercatat. Mungkin aku salah di urutan memasaknya.


Atau mungkin...


"Mungkin nenek mengubah bumbunya setelah mengajariku?"


"Eh?"


Mendengar ucapanku, Chise menghentikan sumpitnya dan menoleh padaku.


"Takatsuki-san, kapan terakhir kali kamu makan di kedai keluargaku?"


"Hmm... kalau tidak salah waktu aku kelas 5 atau 6 SD, jadi sekitar tujuh tahun yang lalu?"


Aku diajari resep ini dan mencatatnya saat aku kelas 5 SD, jadi itu sekitar sembilan tahun yang lalu. Waktunya tidak jauh berbeda, tapi dalam rentang dua tahun itu sangat mungkin nenek mengubah resepnya.


Kalau begitu, karena Chise tidak bisa menjelaskan rasanya dengan kata-kata, satu-satunya cara adalah mencoba berbagai bumbu satu per satu, tapi aku tidak bisa memberinya bekal *shogayaki* setiap hari. Kalau begitu...


"Takatsuki-san, mau datang ke rumahku?"


"...Hah?"

Mendengar ucapanku yang tiba-tiba, Chise membalas dengan tatapan dan nada suara yang sangat dingin.


Aku segera menyadari kalau kata-kataku terdengar aneh dan buru-buru membela diri.


"E-eh, bukan maksud yang aneh-aneh! Maksudku untuk mencari rasa shogayaki nenek! Kupikir bakal lebih cepat kalau kamu mencicipinya langsung saat aku memasak!" aku menjelaskan dengan cepat, tapi tatapan dingin Chise tidak berubah. 


"Lagipula ada adikku di rumah, jadi kita tidak bakal berduaan saja! Jadi—"


"Baiklah, aku akan datang."


"Iya kan, tidak mungkin mau... eh, b-boleh?!"


Aku sendiri malah terkejut dengan perkembangan yang tidak terduga ini.


Chise memalingkan muka, tampak sedikit malu.


"Meskipun kita baru mulai bicara beberapa minggu, aku tahu kamu bukan tipe orang yang berpikiran aneh." 


Lalu, Chise menunduk dan bergumam. 


"...Lagipula, aku juga ingin makan shogayaki itu sekali lagi."


Mendengar gumamannya, aku teringat kata-katanya saat pertama kali bertemu di depan rumahku.


"Daripada itu, kedai ini tutup terus, apa kamu tahu sesuatu?"

Dia bilang "tutup terus". Sepertinya dia sudah berkali-kali datang ke rumahku sebelum pertemuan itu. Dia datang karena ingin merasakan masakan nenek sekali lagi.


Entah apa alasannya, tapi Chise sepertinya punya kenangan mendalam dengan shogayaki nenek.


Aku ingin membalas kebaikannya kemarin dengan memberikan rasa itu sekali lagi padanya.


Begitu terpikir, aku langsung beraksi. Saat aku sedang semangat mencatat bumbu-bumbu yang sekiranya cocok untuk shogayaki di buku catatan, Chise bersuara seolah teringat sesuatu.


"Ah, ngomong-ngomong ini akhir bulan kan? Bisa berikan tanganmu sebentar?"


Meski heran, aku mengulurkan tanganku sesuai permintaannya, dan tiba-tiba beberapa lembar uang kertas diletakkan di telapak tanganku.


Uang makan siang ya? Seingatku kami belum membicarakan soal harga per porsinya.


Namun, saat melihat uang itu, aku tidak percaya pada mataku sendiri. Semua lembaran uang itu adalah uang sepuluh ribu yen.


Di saat aku gemetaran memegang uang sebanyak itu, Chise melanjutkan dengan santai.


"Itu uang makan siang. Karena bulan ini cuma dua minggu jadi kuberikan seratus ribu yen, untuk bulan depan karena ada empat minggu bagaimana kalau dua ratus ribu yen?"


"Tidak, tidak, aku tidak butuh sebanyak ini! Kenapa kamu bisa memberikan uang sebanyak ini dengan santai?!"


"Ah, maaf, apa sebaiknya aku membungkusnya dengan sesuatu? Tapi sayangnya aku tidak punya amplop... tunggu sebentar, akan kubungkus pakai tisu sekarang."


"Bukan itu maksudku! Membungkus uang pakai tisu itu kebiasaan nenek-nenek tahu!"


Chise mengerutkan alis mendengar kata 'nenek-nenek'. Karena merasa dalam bahaya, aku segera menyambung kata-kataku.


"Maksudku bukan soal pembungkusnya, tapi aku tidak bisa menerima uang sebanyak ini! Sepuluh ribu yen per porsi itu jelas-jelas pemerasan!"


Aku mencoba mengembalikan uang itu, tapi dia malah memasang wajah masam dan tidak mau menerimanya.


"Kupikir itu harga yang pantas jika dibanding set menu shogayaki kantin yang tidak enak itu?"


"Aku menghargai penilaianmu, tapi lagipula aku memasaknya sekalian buat keluargaku, jadi benar-benar tidak perlu uang."


"Tidak bisa begitu. Kerja keras harus dibayar dengan imbalan yang pantas."


Chise menyilangkan tangan dan memelototiku. Matanya menunjukkan tekad yang kuat, dan melihat kepribadiannya, aku tahu dia tidak akan merubah pendapatnya dengan mudah.


Setelah berpikir sejenak, aku mengambil satu lembar sepuluh ribu yen.

"Baiklah, aku terima segini saja. Tapi ini pun masih terlalu banyak untuk dua minggu, jadi anggap saja ini sudah termasuk untuk bulan depan."


Chise mengernyitkan dahi, tampak tidak puas, tapi melihat keseriusan di mataku, dia akhirnya menghela napas pasrah.


"...Kamu benar-benar orang yang rendah hati ya. Baiklah."


Dia bergumam lalu akhirnya menerima uang dari tanganku.


Maksudku, dia menerima kembali uang sembilan puluh ribu yen yang kukembalikan.


"Bukan yang itu, ambil yang sembilan puluh ribu yen-nya!!"


Mengambil sembilan puluh ribu yen untuk uang makan siang setengah bulan itu sama sekali tidak rendah hati.


Setelah negosiasi selama hampir satu jam, akhirnya kami sepakat di harga lima ratus yen per porsi.


Karena Chise kelihatannya masih belum puas, aku terpaksa memaksanya setuju. Aku baru sadar betapa kacaunya selera keuangan Chise.



Setelah membeli berbagai macam bumbu di supermarket, aku mengajak Chise masuk ke rumah dengan perasaan tegang.


"...P-permisi."


Chise pun kelihatannya tegang, suaranya terdengar lebih tinggi dari biasanya.

Setelah Chise melepas sepatu di pintu depan, secara refleks aku ingin merapikan sepatunya, tapi aku melihat sepatunya sudah tertata rapi dengan ujung menghadap ke luar.


Benar, dia bukan Akari. Bagi Chise yang sopan, merapikan sepatu adalah hal yang lumrah.


Kebiasaan bertahun-tahun itu menakutkan ya. Saat aku tertawa kecut pada diriku sendiri, Chise melihatku dengan wajah tegang.


"Ka-kamu... kenapa senyum-senyum sambil mau memegang sepatuku...? S-selera macam apa itu...?"


"B-bukan begitu! Ini cuma kebiasaan lama...!"


"Kebiasaan lama?! Kamu punya hobi aneh sejak kecil?!"


"Bukan! Dulu aku punya teman yang tidak pernah merapikan sepatu, jadi aku yang selalu merapikannya!"


Awal yang sangat buruk. Kalau di pintu depan saja sudah begini, aku jadi makin cemas.


Meski Chise masih tampak curiga, aku berhasil meyakinkannya dan mengajaknya ke ruang tamu.


"Aku pulang—"


Saat aku masuk ruang tamu, Mayu menjawab "Yoo".


Mayu sedang duduk di kursi meja ruang tamu, makan es krim vanila dengan santai sambil melirik ke arahku.


Lalu, gerakannya berhenti tepat saat dia mau memasukkan sesendok es krim ke mulutnya.

"Permisi."


Dia pasti terkejut melihat Chise yang mengikutiku dari belakang. Mayu membelalakkan mata dan mulutnya terbuka lebar, diam membeku seolah waktu berhenti.


Chise mendekatinya dan memperkenalkan diri.


"Salam kenal, kamu adiknya Shioda-kun... kan? Namaku Chise Takatsuki, adik kelas Shioda-kun."


Aku merasa terkejut dalam hati karena ini pertama kalinya Chise memanggil namaku, dan ternyata dia bisa bicara sopan pada orang lain. Aku mewakili Mayu yang masih membatu untuk memperkenalkannya.


"Ini Mayu, adikku yang wajahnya lagi konyol karena mangap. ...Eh, beneran tidak gerak lho dia. Oi, Mayu?"


Aku melambaikan tangan di depan wajahnya dan mengguncang bahunya, tapi tidak ada reaksi.


Beberapa saat kemudian, Mayu menjatuhkan sendoknya ke meja lalu berteriak kencang.


"KAKAK SELINGKUH GARA-GARA BERANTEM SAMA AKARI-CHAN!!!!"


Seketika aku memberikan potongan tangan ke dahi Mayu.


Gawat, aku lupa kalau aku belum menjelaskan soal Akari secara detail pada Mayu.



"Oalah, jadi Kakak diputusin sama Akari-chan ya? Semangat, semangat!"


Setelah aku menjelaskan semuanya, Mayu tertawa ceria sambil memukul-mukul punggungku.


Aku meringis kesakitan sambil menjawab.


"Bukannya diputusin, aku saja belum pernah nembak dia."


"Sama saja kali. Kan sekarang Akari-chan sudah punya pacar."


"Uh..."


Kata-kata Mayu menusuk dadaku berkali-kali. Meskipun adik sendiri, dia benar-benar tidak kenal ampun. Atau mungkin justru karena adik sendiri ya.


Setelah puas tertawa, Mayu bergumam dengan tatapan kosong.


"Tapi... berarti Akari-chan tidak bakal datang lagi ke sini ya... bakal sepi nih."


Bagi Mayu, Akari yang sering mengajaknya main sejak kecil sudah seperti kakak sendiri. Pasti dia juga merasa kesepian dengan perpisahan ini.


"Mau bagaimana lagi, kamu kan tahu ini tidak bakal bertahan selamanya. Kamu pun suatu saat nanti bakal menikah dan pindah dari sini, kan?"


"...Kupikir kalian berdua bakal... ah, lupakan. Kamu benar."


Mayu menatap wajahku, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi mengurungkannya.

Aku berpura-pura tidak sadar dan berdiri.


"Baiklah, aku mau mulai masak, Takatsuki-san silakan tunggu saja dengan santai."


"Iya. Kalau begitu aku baca buku saja..."


Saat Chise mengeluarkan buku dari tasnya, Mayu berdiri dan menarik tangan Chise.


"Takatsuki-san! Takatsuki-san suka main gim tidak?!"


"Eh? Gim? Maksudmu gim video? Aku jarang memainkannya sih..."


"Kalau begitu ke sini! Ayo ke sini! Main bareng aku!"


"Eh... tapi..."


Chise ditarik paksa oleh Mayu, dia memasang senyum bingung dan menatapku seolah minta tolong.


Aku hanya tersenyum balik.


"Maaf, tolong temani Mayu sebentar. Dia bakal puas kalau sudah main beberapa kali."


"Apa...!!"


Chise akhirnya diseret masuk ke kamar Mayu.



Satu jam kemudian. Setelah selesai memasak beberapa variasi shogayaki, saat aku hendak mengetuk pintu kamar Mayu, terdengar suara dari dalam.


"T-tunggu, sekali lagi! Tadi itu curang! Aku baru saja mulai paham gerakannya!"


"Hehe, Chise-chan masih butuh latihan ya! Aku bakal ladeni kapan saja!"


Sepertinya mereka sudah akrab. Adikku bahkan sudah memanggilnya "Chise-chan". ...Padahal aku saja masih memanggilnya dengan nama belakang.


Saat aku mengetuk dan membuka pintu, Chise tampak terkejut.


"Lho, cepat sekali. Apa masakannya bisa selesai cuma dalam beberapa menit?"


"Tidak, karena aku buat beberapa macam bumbu, ini sudah lewat satu jam lho."


"Eh?! Lama sekali?!"


Chise terkejut saat melihat jam tangannya. Sepertinya dia sangat asyik bermain sampai lupa waktu.


Mayu mengayunkan kontroler dengan bangga.


"Wah, Chise-chan sepertinya cepat belajar, pasti bakal cepat jago. Tapi ya, tidak bakal bisa ngalahin aku sih."


"Grrr... sombong sekali bicaramu...!!"


Chise tampak kesal dengan provokasi murahan Mayu.

Dia melihat bergantian antara kontroler dan aku, mengerang seolah sedang bimbang, lalu dengan berat hati menaruh kontroler ke lantai dan berdiri.


Melihat wajahnya yang galau ingin menantang Mayu sekali lagi, sepertinya Chise adalah tipe orang yang sangat tidak mau kalah.


Setelah mencicipi semua variasi shogayaki, Chise menyilangkan tangan dengan wajah serius.


"Hmm... tetap saja belum ada yang terasa pas..."


Mendengar ucapan Chise, bahuku merosot. Aku sudah mencoba berbagai rempah seperti jintan atau rosemary yang sekiranya cocok dengan jahe, tapi semuanya salah.


Saat aku tertunduk lesu, Mayu membawa sumpitnya dari dapur dan mencicipi satu per satu masakan percobaanku tanpa izin.


"Hmm, kalau menurutku sih, rasa bekal tadi siang yang lebih mendekati. Rasanya bikin kangen dan mengingatkanku pada Nenek."


Sepertinya selera Mayu sama denganku, dia bergumam dengan tatapan rindu.


Setelah itu, saat kami sedang mencoba-coba menaburkan banyak lada hitam ke sisa masakan, terdengar suara pintu depan terbuka.


Aku buru-buru melihat jam, ternyata sudah lewat jam tujuh malam. Ayahku, Koichi, sudah pulang.


Begitu masuk ruang tamu, Koichi membelalakkan mata melihat Chise.


"Aku pulang—lho, ada tamu?"

Chise berdiri dan membungkuk dengan sangat anggun. Berbeda dengan saat menyapa Mayu, sapaannya kali ini terasa lebih formal untuk orang dewasa.


"Mohon maaf sudah mengganggu. Nama saya Takatsuki, adik kelas Takeru-kun."


Seketika Koichi berdiri tegak dan memberikan hormat.


"...S-saya Koichi Shioda, ayah Takeru! Umur empat puluh empat tahun, bekerja di perusahaan IT!"


"Duh, kenapa Ayah jadi tegang begitu. Dia tidak nanya umur atau pekerjaan Ayah lho."


"Ah, benar juga. Habisnya sapaannya sopan sekali sih. Hahaha!"


Menanggapi sindiran Mayu, Koichi tertawa kencang untuk menutupi rasa malunya, lalu melepas jas dan menuju kamar mandi.

Aku menghentikan Koichi.


"Ah, maaf. Makan malam dan air hangat buat mandi belum siap."


Aku terlalu asyik dengan sesi mencicipi masakan sampai lupa waktu.


Koichi menjawab "Oh, begitu ya?" lalu melambaikan tangan seolah tidak keberatan.


"Tidak apa-apa, biar Ayah yang siapkan air mandinya. Takeru tolong siapkan makan malamnya ya. Temanmu mau sekalian makan di sini kan?"


"Ah, tidak, saya rasa akan merepotkan jika saya di sini terus, jadi sebaiknya saya pulang saja—"

"Lho, apa orang tuamu sudah menyiapkan makanan di rumah?"


"Bukan begitu, tapi..."


"Kalau begitu makanlah di sini. Lagipula masakan Takeru itu warisan koki profesional lho. Jauh lebih enak daripada beli bekal di luar."


Koichi bicara dengan bangga seolah-olah itu prestasinya sendiri.

Chise tampak bingung dan menatapku seolah meminta persetujuanku.


"Iya, makanlah di sini. Sebenarnya hari ini aku belanja bahan makanan sudah termasuk untuk porsimu buat jaga-jaga."


Saat aku berkata begitu, Chise mengangguk pelan dengan ragu, "Kalau begitu... mohon izin untuk ikut makan..."


"Sip!"


Aku mengepalkan tangan dengan semangat sendirian di dapur. Karena Chise mau ikut makan, aku jadi makin bersemangat memasak lebih dari biasanya.


Saat aku sedang mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas dan menatanya di meja, ponselku berbunyi.


Di layar notifikasi, ada pesan dari Akari.


Isinya adalah satu stiker kelinci yang sedang mengintip dari balik tembok.


Setelah dua minggu tidak ada kabar darinya, aku merasa sangat lega sampai aku sendiri terkejut.


Saat aku sedang berpikir mau membalas apa, Mayu mengintip dari ruang tamu.


"Kak, lapar nih! Cepat masaknya! Chise-chan perutnya bunyi kencang banget padahal tadi habis makan shogayaki lho."


"H-hei...!!"


Suara panik Chise terdengar dari belakang Mayu yang sedang menyeringai.


"Ah, benar juga, aku juga pernah dengar sebelumnya, suaranya sudah seperti petir."


Ucapanku membuat Koichi dan Mayu tertawa kencang, lalu Chise yang wajahnya merah padam menyembul dari belakang Mayu.


"Kamu! Jangan bicara yang aneh-aneh!"


"Ahaha, cuma bercanda kok."


Aku memutuskan untuk membalas pesan Akari nanti saja, dan mulai memasak makan malam.



"Keluarga Shioda benar-benar ramai ya."


Setelah makan malam selesai dan aku sedang mengantar Chise pulang, dia bicara sambil tertawa kecil seolah teringat kejadian tadi.


"Ah... maaf! Ayah dan adikku pasti sangat berisik tadi..."


Chise terus dicecar pertanyaan oleh Koichi dan Mayu, pasti dia merasa tidak nyaman.

Namun, Chise menggelengkan kepalanya pelan.


"Bukan, bukan begitu maksudku. Rasanya sangat hangat... menurutku itu keluarga yang luar biasa."


"Eh? Masa sih? Padahal kami miskin dan banyak susahnya lho..."


Keluarga Shioda hidup pas-pasan dengan uang belanja bulanan yang diberikan Ayah. Aku memasak pun salah satunya demi penghematan. Keluarga Chise pasti makan makanan yang jauh lebih mewah dan hidup lebih nyaman.


Chise tertawa kecut.


"Sebanyak apa pun uang yang dimiliki... tidak, justru karena punya uanglah ada hal-hal yang tidak bisa didapatkan. Dan biasanya hal itu... adalah hal yang paling kuinginkan."


"Begitu... ya?"


Aku tidak terlalu paham maksudnya.


Kalau punya uang, kita bisa beli alat masak apa saja, bahan makanan mewah apa saja, dan aku tidak perlu menyuruh Mayu menahan diri saat dia ingin gim baru yang iklannya bikin ngiler.


Hal yang tidak bisa dibeli dengan uang... kira-kira apa ya...


Saat aku sedang berpikir, Chise tiba-tiba berhenti melangkah.


"Ngomong-ngomong, kenapa kamu bicara sopan padaku? Padahal kamu itu seniorku, kan?"


Benar juga. Aku pun berhenti dan memikirkan penyebabnya sebelum menjawab.

"Anu, entahlah... rasanya secara biologis kamu itu berada di level yang lebih tinggi dariku...?"


Aku mengatakannya dengan sedikit berlebihan, tapi itu jujur. Dia pintar, kaya, dan rasanya berasal dari dunia yang berbeda denganku yang rakyat jelata.


Mendengar ucapanku, Chise tertawa terbahak-bahak.


"Fufufu, apa-apaan itu. Kita kan sama-sama manusia, tidak ada level atas atau bawah secara biologis tahu."


Wajahnya yang secantik boneka itu mengerut saat dia tertawa, dan senyumannya terlihat sangat manis.


Chise yang tidak sadar aku sedang terpana, berhenti tertawa lalu tersenyum padaku.


"Panggil saja aku Chise. Aku juga akan memanggilmu dengan nama depan. Boleh aku panggil Takeru-san?"


Tiba-tiba dipanggil dengan nama depan membuat wajahku terasa panas, jadi aku memalingkan muka agar tidak ketahuan.


"P-panggil Takeru saja tidak usah pakai 'san'. Takatsu... eh, Chise-san kalau memanggilku pakai 'san' rasanya aneh."


"Baiklah, Takeru. Ngomong-ngomong, panggilanku juga tidak perlu pakai 'san' lho."


"Ch-Chi... maaf, kalau itu aku tidak bisa."


Rasanya mustahil memanggilnya tanpa embel-embel 'san'.


Setelah mengantar Chise sampai apartemennya, aku berjalan pulang.


Apartemen tempat tinggal Chise persis seperti bayanganku. Apartemen mewah yang sangat tinggi sampai kepalaku terasa mau jatuh saat melihat puncaknya. Aku kembali tersadar bahwa dia memang berasal dari dunia yang berbeda.


Tapi, Chise sekarang jauh lebih ekspresif dan lebih enak diajak bicara dibanding saat pertama kali bertemu.


Jarak di antara kami pasti sudah semakin dekat. Memikirkan hal itu membuatku merasa sedikit lancang, tapi di saat yang sama aku juga merasa sangat senang.


Sambil memikirkan Chise, langkahku terasa ringan dan tak terasa sudah sampai di dekat rumah.


Namun di sana, aku menyadari ada sesosok bayangan mencurigakan yang sedang berkeliaran di depan pintu. Orang mencurigakan itu sepertinya sedang mengintip ke dalam rumah melalui kaca jendela kecil di samping pintu.


Aku mengambil sapu yang bersandar di tangga, mendekati orang itu, lalu menegurnya.


"Hei! Sedang apa kamu!"


Orang itu terlonjak kaget lalu membungkuk berkali-kali.


"Hii!! Maaf, maaf! Aku temannya orang rumah sini kok...!!"


Mendengar suara yang sangat familiar itu, aku menyalakan lampu ponsel ke arahnya, dan wajah yang sangat kukenal pun terlihat.


"Sedang apa kamu, Akari..."


Akari mengangkat kepalanya, wajahnya mengerut karena silau terkena cahaya lampu.


Saat aku menjauhkan lampu ponsel, Akari tampak lega setelah menyadari itu aku.


"Oalah, Ken ya. Jangan bikin kaget dong. Silau tahu!"


"Itu kalimatku... sedang apa kamu di sini?"


Aku sengaja menyorotkan lampu ke mata Akari lagi, dia pun meronta seperti vampir yang kepanasan.


"Hentikan! Cahaya tidak cocok dengan saya, sang Kaisar Kegelapan...!"


"Kaisar Kegelapan apanya... namamu itu Akari, kamu itu jelas-jelas berada di pihak cahaya tahu."


"Benar, dulu memang begitu. Tapi aku sudah jatuh dan menjadi Kaisar Kegelapan... aduh!"


Aku memberikan sentilan kecil di dahi Akari yang sedang berlagak konyol.


Akari memegang dahinya dengan kedua tangan, menatapku dengan cemas dari sela-sela tangannya.


"Ken... kamu masih marah...?"


Aku tersenyum padanya.


"Tidak kok, aku tidak marah. Lama tidak bertemu ya, Akari."

"...Hehe, iya, lama tidak bertemu."


Dia tersenyum senang mengikuti senyumanku, senyuman malu-malu yang tidak berubah sejak dulu.


"Kupikir Ken pasti merasa kesepian karena tidak ada aku."


"...Iya, aku kesepian."


"Eh?"


Mendengar jawabanku yang di luar dugaan, Akari membelalakkan mata dan mulutnya ternganga.


"Kan sudah kubilang aku kesepian. Kita selalu sarapan bareng sejak SD, berangkat ke sekolah bareng, ini pertama kalinya kita tidak ada kontak sama sekali dalam waktu selama ini, kan? Aku baru tersadar betapa besarnya keberadaan Akari dalam hidupku."


Itu adalah perasaan jujurku.


Selama dua minggu ini, setiap pagi aku selalu melihat kursi tempat duduk Akari dan memikirkannya, merasa ada lubang besar di hatiku apapun yang kulakukan.


Akari sempat terpana sejenak, tapi setelah memahami kata-kataku, pipinya merona merah dan dia menyeringai senang.


"O-oh begitu ya. ...Ehehe, jadi malu nih. Aku juga merasakan hal yang sama kok. Aku juga merasa kesepian."


"Begitu ya... syukurlah kalau Akari juga merasa begitu."


Setidaknya baginya, keberadaanku bukan hal sepele. Melihat situasinya sekarang, dia sampai datang ke rumahku tengah malam hanya karena pesannya tidak kubalas.


Aku lega ternyata perasaanku bukan cinta bertepuk sebelah tangan (sebagai teman).


Aku berbalik membelakangi Akari yang sedang memainkan ujung rambutnya dengan malu-malu, lalu mulai berjalan.


"Sudah malam, ayo kuantar pulang."


"Iya! Terima kasih!"


Akari melompat kecil untuk berjalan di sampingku, lalu seperti biasa dia berjalan sedikit di depanku.


Sampai di depan rumah Akari, kami saling bercerita tentang apa saja yang terjadi selama dua minggu ini. Kami berdua punya banyak cerita yang menumpuk, dan cerita kami seolah tidak ada habisnya.


Bahkan setelah sampai di depan rumahnya pun, kami masih terus mengobrol di depan pintu.


"Ahaha, sudah lama aku tidak merasa sesenang ini. Memang Ken itu teman terbaik!"


"...Iya, aku juga senang."


Benar, bicara dengannya memang sangat menyenangkan sampai lupa waktu. Aku merasa tidak akan pernah bertemu teman lain yang bisa saling memahami sejauh dia.


Akari melompat riang lalu memegang gagang pintu depan dan berbalik arah.

"Sampai jumpa besok."


"Iya, sampai jumpa di kampus."


Mendengar jawabanku, Akari tertawa sambil melambaikan tangan tanda tidak setuju.


"Bukan, bukan itu. Mulai besok aku mau sarapan lagi di rumah Ken, jadi tolong siapkan sarapan buatku juga ya?"


"Tidak bisa."


Aku mengatakannya dengan nada datar tanpa emosi.


Mungkin karena dia pikir aku akan langsung setuju setelah kami asyik mengobrol, Akari mengerjapkan matanya berulang kali, tidak bisa mencerna situasi.


Sangat berat rasanya mengatakan ini pada dia yang baru saja berdamai denganku dan tersenyum tulus... tapi agar kami berdua bisa melangkah maju, aku harus mengatakannya.


Aku menatap Akari yang membeku dengan senyum bingung, lalu sekali lagi berkata dengan jelas.


"Akari, tolong... jangan datang ke rumahku lagi."


"...Eh?"


"Makanya kubilang, jangan datang ke rumahku lagi. Kamu sudah punya pacar, aneh rasanya kalau kamu datang ke rumah laki-laki lain... ke rumahku."


Akari mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

"Ahaha, kamu bicara apa sih~ Laki-laki lain apanya, ini kan Ken?"


Ternyata baginya, aku bahkan tidak dianggap sebagai laki-laki.


"Dengarkan ya, mungkin di mata Akari memang begitu, tapi bagi Yasaka-senpai..."


Ucapanku terpotong saat pintu yang dipegang Akari terbuka, dan ibunya Akari mengintip dari dalam.


"Akari...? Sedang apa di depan pintu dari tadi?" 


Tatapan ibunya berpindah dari Akari kepadaku, dan matanya membelalak. 


"Astaga, Takeru-kun?! Belum lama tidak bertemu kamu sudah jadi tambah ganteng sekali!!"


Bagi ibunya Akari, mungkin aku masih terlihat seperti anak SD, jadi setiap kali bertemu dia selalu memuji betapa dewasanya aku sekarang. Rasanya tidak buruk, tapi agak sedikit malu.


"Sudah lama tidak bertemu. Terakhir kali kita bertemu saat kelulusan SMA, jadi tidak banyak berubah kok."


"Tidak lho, sini coba Ibu lihat lebih dekat..."


Ibunya Akari membuka pintu lebar-lebar untuk keluar, tapi Akari segera mencegahnya dan mendorongnya masuk ke dalam.


"Ibu tidak usah keluar segala! Baiklah Ken, sampai nanti!"


Akari menutup pintu sambil masuk ke rumah bersama ibunya.

Suara mereka berdua yang sedang berdebat masih terdengar sampai ke luar.


『Eeeh, Ibu kan masih mau mengobrol sama Takeru-kun!』


『Jangan merepotkan Ken! Ibu selalu saja bicara yang tidak perlu!』


Melihat mereka berdua yang masih akrab seperti biasa, aku pun tanpa sadar tertawa.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close