Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Epilogue
"Syukurlah ya, kasus perundungannya akhirnya bisa selesai dengan baik."
Pada hari Sabtu berikutnya, seperti biasa setelah selesai menemani Sana-chan bermain di taman, kami sedang beristirahat di bangku taman ketika Mirei-chan melemparkan senyuman itu kepadaku.
Sementara itu, Sana-chan tampaknya sudah kelelahan; dia tertidur dengan sangat lelap sembari membenamkan wajahnya di dadaku.
"Iya, terima kasih banyak untuk waktu itu. Berkat Mirei-chan yang sudah mau mendengarkan keluh kesahku, masalahnya bisa berakhir dengan damai."
Ini sama sekali bukan sekadar basa-basi.
Berkat kesediaannya untuk diajak bertukar pikiran, kasus pelik ini benar-benar bisa terselesaikan. Jika saat itu aku tidak berbicara dengannya, mungkin sampai sekarang aku masih harus memeras otak di sekolah atau di rumah Murakumo-san.
"Aku tidak melakukan sesuatu yang besar, jadi tolong jangan terlalu dipikirkan. Tapi omong-omong, kudengar kamu bergerak sendiri untuk meringankan sanksi hukuman bagi anak-anak yang melakukan perundungan itu?"
"Ah, kamu mendengarnya dari Kamijo-san, ya...... Benar. Setelah mempertimbangkan banyak hal, aku rasa itulah batas kompromi dan jalan keluar yang paling baik."
Jika sanksinya hanya sebatas skorsing, mereka masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki masa depan mereka.
Sejauh ini, Mido-san tampaknya bersikap patuh dan tenang di rumahnya, jadi keputusanku ini sepertinya memang sudah benar. Kuharap setelah ini dia bisa kembali menjadi anak yang baik tanpa memicu masalah lagi......
"Marin sempat mengamuk di rumah karena tidak bisa menerima keputusan itu. Tapi di antara semua kekesalannya, tampaknya kemarahan yang paling besar adalah karena dia tidak habis pikir 'kenapa seseorang tega menyakiti orang lain hanya karena dicampakkan'."
Ah, anak itu ternyata benar-benar mengamuk di rumah, ya...... Tapi ya, wajar saja, sih.
Bagi Kamijo-san yang pengalamannya masih minim, menuntutnya untuk bisa langsung menerima dan mencerna semua kerumitan ini adalah hal yang sangat sulit. Tepat di saat aku membatin demikian──Mirei-chan menyunggingkan sebuah senyuman yang tampak agak kompleks.
"Tapi...... sejujurnya, aku sedikit bisa memahami bagaimana perasaan anak itu...... Aku memang tidak memiliki niat untuk menyakiti orang lain, tetapi ditolak oleh orang yang paling kita cintai itu rasanya memang sangat menyakitkan......"
Sembari mengutarakan kalimat tersebut, Mirei-chan melirik ke arahku seolah-olah sedang membaca ekspresi wajahku. Sama seperti diriku, hal ini tampaknya menjadi sesuatu yang bisa ia pahami secara personal.
Ya, meski begitu, bukan berarti tindakan perundungan tersebut bisa dibenarkan. Namun kalau dipikir-pikir...... Mirei-chan ternyata sudah memiliki orang yang ia sukai sekarang, ya......
Ada perasaan lega, namun di sisi lain rasanya agak sedikit campur aduk...... mengingat dia sudah tidak lagi bersama dengan orang tersebut saat ini, hubungan asmara mereka sepertinya tidak berjalan dengan lancar......
Tepat di saat aku sedang tenggelam dalam nuansa sentimental karena bernostalgia tentang masa lalu──
"Ngomong-ngomong, Murakumo-san yang kamu selamatkan kali ini, sepertinya adalah anak yang sangat manis, ya? Tapi, kamu tidak sedang berpikir untuk macam-macam atau mendekatinya, kan?"
──Entah mengapa, secara mendadak sorot mata Mirei-chan berubah drastis, dari yang semula tampak lembut menjadi penuh dengan tatapan menyelidik yang mengintimidasi.
"Eh......?"
"Dengar ya!? Tidak peduli seberapa manisnya anak itu, seorang guru yang mendekati muridnya sendiri secara romantis adalah tindakan yang paling rendah! Secantik apa pun dia, kamu mutlak tidak boleh macam-macam dengannya!"
"Eeh!? Kenapa tiba-tiba topiknya jadi ke sana!?"
Bagaimana ceritanya alur pembahasan ini mendadak melompat ke arah aku yang ingin mendekati Murakumo-san!? Sejak tadi kita sama sekali tidak sedang membahas hal seperti itu, kan!? Apakah ini ulah Kamijo-san!? Apakah Kamijo-san menceritakan sesuatu yang memicu kesalahpahaman, sehingga Mirei-chan menjadi marah karena berpikir 'apa yang sebenarnya dilakukan pria ini meskipun statusnya adalah seorang guru──'!? Padahal aku benar-benar tidak melakukan tindakan yang macam-macam......!
"Aku tidak mungkin berniat untuk mendekati muridku sendiri......!"
"Siapa yang tahu......! Shirasaki-san, kan, tipe orang yang sepertinya akan langsung takluk dan jatuh hati jika dirayu oleh gadis yang manis......!"
"Apakah di matamu aku terlihat sebagai pria se-gampangan itu!?"
Aneh, kenapa arah pembicaraannya bisa bergeser sejauh ini......!? Apakah tanpa sadar aku baru saja menginjak tombol ranjau emosinya......!?
"Dengar ya......!? Anak-anak muda mungkin memang terlihat sangat menarik, tapi tolong pertimbangkan juga faktor usiamu sendiri......! Bagaimanapun, jika kamu ingin menjalin sebuah hubungan asmara, aku rasa akan jauh lebih baik jika kamu memilih seseorang yang usianya sebaya dengannmu......!"
"Ini sebenarnya sedang membahas apa, sih!? Tanpa perlu kamu khawatirkan pun, aku sudah bilang kalau aku tidak akan macam-macam dengan muridku......!"
"Justru karena itu, poin yang sedang kubahas sekarang adalah bukan hanya sebatas murid, tetapi mendekati anak yang usianya terpaut terlalu jauh pun adalah sebuah masalah......! Tolong jalinlah hubungan asmara yang sesuai dengan usiamu......!"
Mirei-chan terus mendesakku sembari menggembungkan kedua belah pipinya karena kesal.
Aneh, arah pembicaraan ini jelas-jelas sudah melenceng jauh. Namun, aura yang dipancarkan oleh Mirei-chan saat ini teramat intens hingga membuatku tidak memiliki celah untuk menyela perkataannya.
"Atau jangan-jangan......!? Di matamu, wanita seusia diriku ini sudah dianggap sebagai tante-tante, sehingga sama sekali tidak masuk ke dalam radar perhatianmu......!?"
Apakah karena aliran darahnya sudah terlanjur naik ke kepala, Mirei-chan mulai menyuarakan sebuah argumen yang teramat ekstrem. Padahal, tidak ada satu orang pun yang mengucapkan kalimat seperti itu sejak tadi......
"Jika kamu menggunakan standar itu, aku juga akan terhitung sebagai om-om, bukan? Lagipula, Mirei-chan sama sekali tidak perlu merisaukan masalah usia......! Seiring berjalannya waktu, kamu justru terlihat jauh lebih cantik dan menawan dibandingkan dengan dirimu yang dulu......!"
Karena merasa terdesak oleh tekanan aura Mirei-chan yang teramat kuat, aku secara tidak sengaja membiarkan kalimat tersebut lolos begitu saja dari mulutku. Akibatnya, kedua belah mata Mirei-chan seketika langsung terbelalak lebar.
"M-Menawan, katamu......!"
"Ah......! T-Tidak, maksudku, ini...... ini bukan seperti itu......!"
Seketika itu juga aku langsung menyadari bahwa aku baru saja melayangkan sebuah ucapan yang sangat tidak pantas kepada seorang wanita yang berstatus sebagai mantan kekasih sekaligus orang tua dari muridku sendiri. Aku pun bergegas mencoba untuk merangkai kalimat pembelaan diri dengan panik.
Namun──
"っ!"
──Belum sempat aku merangkai kalimat pembelaan diri, wajah Mirei-chan sudah memerah padam sempurna.
Ia mengeluarkan sebuah pekikan suara yang tak jelas, lalu sembari menggeliat salah tingkah, ia langsung menyambar Sana-chan dari atas pangkuanku dan bergegas pergi dari hadapanku dengan kecepatan yang luar biasa.
"......Eh?"
Aku tidak mampu menyembunyikan rasa kebingunganku selagi menatap area kosong yang ditinggalkan olehnya dalam sekejap mata itu.
Tidak, umm...... serius, kenapa dia malah kabur......? Karena sama sekali tidak bisa mencerna rangkaian perilaku aneh yang ditunjukkan oleh Mirei-chan, aku hanya bisa terduduk seorang diri dalam kedunguan di atas bangku taman sembari mempertanyakan situasi tersebut kepada diriku sendiri.
Tampaknya, aku masih teramat jauh dari kata memahami sosok Mirei-chan yang sebenarnya......
──Meskipun pada akhirnya aku selalu dibuat bingung oleh perubahan sikap yang ditunjukkan oleh Mirei-chan yang berstatus sebagai mantan kekasihku ini, namun berbekal janji yang kumiliki dengan Sana-chan, serta fakta bahwa Kamijo-san yang merupakan anak perempuan Mirei-chan adalah muridku sendiri, hubungan interaksiku dengan Mirei-chan dipastikan akan terus berlanjut di masa depan.
Sejak hari di mana aku kembali dipertemukan dengannya, hari-hari yang kulewati memang selalu terasa sangat sibuk dan melelahkan, dan dinamika itu sepertinya tidak akan berubah ke depannya.
Namun──secara misterius, alih-alih merasa terganggu, aku justru menganggap hari-hari yang kuhabiskan ini sebagai sebuah untaian momen yang membahagiakan.
Meskipun ini adalah sebuah bentuk ikatan hubungan yang tidak biasa, namun aku pribadi berpikir bahwa melewati hari-hari yang seperti ini pun tidak ada salahnya.




Post a Comment