NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Bonjin Jujutsushi no Tanoshii Isekai Akuyaku Play Volume 1 Epilog

Epilog

Pagi di Taman Bunga


Taman Bunga.

Sebuah teras taman luas yang terletak di dalam area Akademi Sihir.

Air mancur, bunga-bunga musiman, serta gerombolan putra dan putri bangsawan yang sedang berbincang dengan ceria.

Di tengah ruang yang berkilauan itu, kini terbentuk antrean panjang dari orang-orang yang juga ingin ikut berkilauan.

"Ya, silakan orang berikutnya! Singkat saja ya perkenalannya."

"Haru-chan, caramu bicara dingin sekali. Ehem, halo, salam kenal, bolehkah saya menanyakan keperluan Anda?"

"Y-, ya!! Snow-sama, sejak pertama kali melihat Anda, saya sudah mengagumi Anda, t-, tolong, maukah Anda pergi ke acara Spring Prom bersama saya!?"

"Maaf, sudah ada orang lain yang saya ajak."

"T-, tapi! Kabarnya Anda belum menerima jawaban dari orang itu! Tidak, malah katanya orang itu bukan cuma orang biasa, tapi mantan budak yang—"

"Okee, waktunya habis! Orang berikutnya~!"

Haru-san yang memiliki tenaga cukup kuat itu menarik paksa siswa yang masih berusaha memprotes.

Ini persis seperti acara jabat tangan idola.

Rasanya seperti ada papan bertuliskan "Tempat Pendaftaran Spring Prom untuk Snow von Lichte ada di sini".

"Kau masih populer seperti biasanya ya, Snow-san."

"I-, itu ya…… luar biasa, ternyata antrean pernyataan cinta itu benar-benar ada, ya."

Aku dan Kotori-san mengamati keadaan itu dari kursi teras.

Para penyihir ini, benar-benar tidak punya pendirian ya.

Begitu pangeran tunangannya menghilang, langsung jadi seperti ini.

Sudah satu minggu berlalu sejak insiden itu.

Insiden besar yang mengguncang negara di mana putra mahkota pertama kekaisaran menghilang tanpa jejak.

Namun, kekacauan itu langsung sirna begitu saja saat putra mahkota kedua dinobatkan sebagai Kamiko (Anak Dewa) baru oleh gereja keesokan harinya.

Bahkan bagi kami, murid tahun pertama kelas Naga yang beraksi bersama pangeran, tidak ada tanda-tanda akan dijatuhi hukuman.

Aku?

Setelah kejadian itu, aku langsung pergi ke ladang karena khawatir dengan tanamanku.

Panen kali ini dari "aktivitas Curse"-ku cukup banyak.

Pengoperasian masing-masing teknik yang kukembangkan berjalan lancar.

Teknik memanipulasi darah, Senketsu Ketsubon Kyouten untuk menghentikan pendarahan Aki-kun, hingga intersepsi serangan sihir skala besar dengan teknik manipulasi api, Souen Shoujo Ruri Shinjuu.

Ditambah lagi, penggunaan Final Stage yang berdaya ledak tinggi.

Aku juga sudah mengamankan kutukan yang bisa dijadikan bahan teknik baru…… rasanya tak sabar untuk mengembangkan teknik selanjutnya.

Teknik tebasan sepertinya akan sangat berguna…… ditambah lagi, mungkin aku bisa menciptakan ulang Domain Expansion menggunakan Jujutsu…….

Trial and error demi menjadi lebih kuat itu menyenangkan.

"Yo, Brother, Kotori-kun, boleh kami duduk di kursi itu?"

"Halo, A—Schwarz-kun."

"A-, a-, a-, si-, silakan!"

"Benar-benar, aku tahu adikku memang yang terbaik, tapi…… kelakuan orang-orang itu sungguh tidak punya harga diri…… bukan begitu? Brother."

"Itu, Schwarz-kun, panggilan itu—"

"Panggil saja Aki. Aku sudah mengatakannya berulang kali, Brother."

"……A-, ya, baik."

Kisah akhir dari pertarungan melawan G-Grade Gifted "Pembantai Manusia".

Entah karena kekuatan tebasan tanganku yang kurang atau karena Aki-kun yang ternyata lebih kuat dari dugaanku.

Aki-kun hanya mengingat sampai titik di mana aku datang menolongnya di dalam domain tersebut.

Di benak Aki-kun dan Snow-san, ceritanya adalah kami berdua sama-sama dibuat pingsan oleh pria misterius yang menamai dirinya Curse.

Tidak ada cara lain untuk mengelak selain itu, jadi kami menyamakan cerita.

Hasilnya, tak satu pun calon protagonisku yang tewas.

Sebagai wajah publik, aku juga jadi cukup akrab dengan Snow-san dan Aki-kun.

Tapi, ada satu dampak buruknya.

Ah, Snow-san datang ke meja ini.

Sepertinya tempat pendaftaran Prom hari ini sudah selesai.

Para siswa akademi sihir pun pulang dengan lesu.

Kenapa murid perempuan juga banyak sekali yang datang ya? Popularitasmu terlalu tinggi.

"Kastani-san."

"Hm?"

Saat aku sadar, Snow-san sudah berdiri tepat di depanku.

Lengket. Dampak buruk nomor satu.

Belakangan ini, tatapan mata Snow-san padaku terasa sedikit, yah, menjijikkan.

"Acara Spring Prom, saya tidak sabar menunggunya."

"Iya, ya."

"Kapan Anda akan memberi jawaban?"

"Eh, anu."

"Jawaban untuk Prom itu. ……Mungkinkah, itu merepotkan?"

"Eh, anu."

"Bukan cuma soal Prom. Saya juga ingin pergi bersama Anda saat latihan bertahan hidup di pulau tak berpenghuni musim panas nanti."

"Uhm, iya."

Kalau sudah akrab sampai sejauh ini, rasanya tidak perlu ikut acara seperti Prom segala.

"Brother, aku tahu kau mengerti—"

Aki-kun, kau adalah benteng pertahanan terakhir. Kau harus menyingkirkan serangga-serangga nakal yang mendekati adikmu!

"Aku yakin, orang yang pantas menjadi pasangan Prom Snow hanyalah Brother."

Ah, terima kasih banyak.

"Lagipula Brother, aku tidak keberatan jika Kotori-kun ikut duduk bersama."

Membawa dua gadis sekaligus itu bakal menarik perhatian negatif, kau tahu?

Tahukah kau? Akhir-akhir ini Kotori-san juga populer di kalangan anak laki-laki yang pemalu, lho.

Kotori-san, kumohon, kau seharusnya satu jenis denganku.

Kau tidak tertarik dengan acara seperti Prom, kan—.

"F-, fue…… e, hehehe, t-, tidak sabar, rasanya."

Wajah macam apa yang terlihat meleleh itu?

"Fufu, Kotori-chan, ayo kita pergi membeli gaun di Urban Razor Fashion di ibu kota bersama-sama."

"Eh, b-, bolehkah? S-, saya akan menemani…… fuhi."

Wah, wajahnya terlihat sangat menikmati itu.

Sial, Kotori-san juga seorang gadis, pencinta berat belanja ternyata.

"Brother, libur nanti, ayo kita pergi membeli setelan jas bersama. Yah, meski terlihat begini, aku adalah seorang High Knight. Aku cukup paham tentang pakaian yang cocok untuk acara dansa, sebagai kakak, biayanya akan kutanggung."

Aku tidak mengerti maksud "sebagai kakak".

Karena sedikit menakutkan untuk dikonfirmasi, aku tidak akan bertanya.

"Haha, Kasu-nyan, pada akhirnya kau disukai oleh semua orang ya. Berteman baiklah dengan kami juga."

Entah sejak kapan, Ayuriver-san sudah memanggilku dengan nama panggilan.

Gadis cantik sekelas yang datang dengan jarak sedekat ini, kumohon benarlah berhenti.

Gawat.

Aku terlalu akrab dengan mereka.

Aku tidak berniat sampai harus sedekat ini.

Karena, aku ini misterius, tahu—

Ah, Tuan Misterius, omong-omong, kami punya satu laporan untuk Anda.

Kau mengejekku, ya?

Aku juga akan mengomentari puisi navigasi saat sedang bersemangat, lho?

Pu-, puisi!? J-, jangan-jangan, puisi duka untuk arwah kutukan-kutukan saya, Anda anggap puisi!? S-, saya tidak mau tahu lagi! Pemain seperti Anda seharusnya bertemu dengan event hantu setiap kali bermain!

Aku belum pernah sekalipun bertemu event hantu sampai sekarang!

Eh? Bagaimana denganku?

Di meja seberang, aku melihat seorang gadis cantik boyish berambut biru dengan kaki jenjang sedang melambai.

Dia hanyalah orang mencurigakan yang kebetulan lewat. Biarkan saja dia.

"Fufu, tidak apa-apa, mulai sekarang kita punya banyak waktu. Berteman baiklah denganku, ya, Kastani-san."

Snow-san mendekat ke telingaku dengan lembut.

"Anda adalah protagoni— milikku."

"“““““““WOOOOOOOOOOOOOO””””””””"

Tepat saat Snow-san hendak mengatakan sesuatu.

Kebisingan menyebar di Taman Bunga.

"Keributan apa itu?"

"Tidak tahu. Entah kenapa semua orang terlihat sangat heboh."

Aki-kun dan Haru-san memicingkan mata untuk memastikannya.

Keributan apa ini, eh? Rasanya pandangan orang-orang dan kebisingannya semakin mendekat ke arah sini—.

"Luar biasaaaa, itu pedang perak asliiii."

"Ternyata ada juga petualang kelas satu yang pindah ke akademi, ya."

"Lihat itu, Tuan Weiss sang Pedang Perak……"

"Indahnya……"

"Anggota party beastman lainnya juga, imut sekali."

"Bukan, bukannya seharusnya keren! Itu beastman…… baru pertama kali melihatnya……"

Ada gadis cantik berambut putih yang entah kenapa terlihat sangat familiar……

"Eh? Weiss, chan?"

"Fufu, lama tidak bertemu, Kotori. Sejak dari Perkebunan Tyler, ya."

Ternyata dia juga kenalan Kotori-san.

Wah.

Gadis cantik peri berambut putih bersih bak boneka yang sudah familiar.

White. Tidak, bukan hanya dia—.

"Yo, Mas——Kastani-sama."

"Halo!! Lee——Kastani-sama!"

"Yo, Tuan——Kastani-sama."




"……Eh?"

Siapa……? Siapa mereka? Kenapa mereka memanggilku dengan embel-embel "-sama" padahal baru pertama kali bertemu?

Ada beberapa gadis asing yang sangat lucu dengan telinga dan ekor binatang di sana.

Tiga beastman ini adalah rekan baru Anda. Saya yang merekrut mereka.

"Saya yang merekrut mereka," bukan begitu caranya!

Aku bahkan tidak diberitahu sebelumnya.

Karena saya tidak mengatakannya, kan.

Ini sudah termasuk pemberontakan, tahu.

Tapi, gadis cantik beastman terasa sangat khas dunia fantasi, ya…… Yah, sudahlah.

Lagipula, ada gadis yang punya telinga unik juga, apa ya itu, telinganya bulat, tikus?

"……Apa Anda penasaran? Dengan telinga saya. Kastani Takihito-sama?"

"Eh?"

Gadis berambut putih dengan model bob dan telinga bulat itu memiringkan kepalanya—kuek.

Pose itu entah kenapa terasa tidak asing……

Lagipula, kenapa anak ini tahu nama depanku? Di dunia ini, aku hanya memperkenalkan diri sebagai Kastani—

"……Kastani, Kun."

"Woa."

White mengambil lenganku dan merapatkan tubuhnya.

Tubuhnya yang berkembang dengan baik, kelembutan dadanya bisa kurasakan bahkan menembus kain blazer.

Jarak yang sangat intim dengan aroma yang luar biasa enak.

Wah, Snow-san dan Kotori-san, tatapan mereka belum pernah kulihat sebelumnya…….

Namun, White—tidak, nama samaran publiknya, Weiss-san—mengabaikan hal itu.

Dia langsung mengedipkan mata ke arahku dengan kecantikan proporsi emasnya.

Sekalian telinga manusia tiruannya bergerak-gerak kecil.

"Maukah Anda pergi ke acara Spring Prom bersama saya?"

"……Aku juga ingin ikut."

"Aku juga!"

"Aku juga, tolong ya!"

Mulai dari ucapan White, ketiga gadis beastman itu pun mengangkat tangan dengan riang.

Udara mendadak terasa membeku.

Semua orang di Taman Bunga menatapku dengan tatapan tajam bagaikan laser.

Aku tidak begitu paham situasinya, tapi.

"Aku simpan dulu jawabannya."

Snow-san membuka matanya lebar-lebar dan menatap White dengan senyum seorang putri bangsawan.

"Weiss-san? ——Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

"Entahlah? Bagaimana ya? Saya tidak punya ingatannya. Nona Putri Adipati Lichte."

"Begitu ya. ……Bukankah itu…… tidak baik, seorang wanita menempel begitu erat pada pria?"

Snow-san, bukankah kelopak matamu berkedut? Mungkin hanya perasaanku saja.

White mendengkur pelan, lalu merapatkan tubuhnya lagi sambil tetap menggandeng lenganku.

Dadanya yang penuh terus menekan lenganku, aku ingin dia berhenti.

"Tidak masalah. Kami ini——teman masa kecil."

Kalau dipikir-pikir, benar juga.

Mendengar ucapan itu, Snow-san tersenyum——.

"Hah?"

"Heh."

White dan Snow-san saling menatap dengan senyum yang tetap terpatri. Mungkin mereka cocok satu sama lain.

Ya, ya, sebagai sesama protagonis yang mungkin suatu saat nanti akan membunuhku, senang rasanya melihat kalian akur.

Semuanya berjalan lancar. Sensasi di mana segalanya bergerak sesuai kehendakku di telapak tanganku ini……

Rasanya seperti penjahat ya…… Oke!

Kalau begitu, aku pergi melihat kondisi ladang dulu, ya.

◇◇◇◇

Alam Dewa.

Sebuah rumah kecil di atas bukit landai.

Jeritan terdengar menggema.

"Waaaaaaah! Jari telunjukku terluka!!! Curse, dia itu sebenarnya manusia macam apa sih! Zozozoz, huhu, makan mi instan dengan tenang saja tidak bisa……"

Sambil menangis dan merengek, sang dewi menyeruput mi instan di dalam kotatsu.

Ada plester yang menempel di jari telunjuknya.

Pertarungan antara Curse dan Lux di dalam domain.

Dewa yang meminjamkan kekuatan kepada Lux tidak lain adalah Dewi Lutus.

Namun, hasilnya——.

"Kenapa aku yang suci dan bersih ini harus mengalami hal seperti ini…… Padahal aku tidak melakukan kesalahan apa pun…… Hanya sekadar mengacaukan nasib manusia, atau mencuri ingatan untuk dijadikan rasul demi bersenang-senang, kenapa sampai begini…… Sialan, Curse, kau orang yang kejam tak berperasaan……"

Sang dewi kalah telak dengan memalukan.

Kerusakan pada Kamiko yang dipinjamkan kekuatan juga akan memantul balik kepada sang Dewa.

Hasilnya, Dewi Lutus——kuku jari telunjuknya terlepas.

Dan Kamiko yang kalah, Lux Mira Arteria——.

Dewa saya…… kali ini……

Dalam wujud jiwa transparan, dia terdampar di Alam Dewa.

"——Ah, kau masih di sana ya, eh, siapa namamu tadi, Lumis?"

Suasana seperti karyawan kantoran yang tidak kompeten tadi lenyap.

Yang ada di sana adalah entitas tingkat tinggi.

Wajahnya sebagai dewa dingin yang eksistensinya jauh di atas manusia.

Bu, bukan, saya——Lux——

"Hah? Kau pikir aku salah?"

Sama sekali tidak! To-, tolong beri saya satu kesempatan lagi! Kali ini, saya sendiri yang akan——

"Tidak bisa. Aku sudah memilih Kamiko baru. Aku tipe yang langsung tidak tertarik pada karakter yang sudah kalah sekali, lho."

Karakter……? Apa yang kau bicarakan?

"Lagipula, caramu payah sekali. Membunuh gagak yang merupakan utusan kami, Tujuh Dewa Besar? Menempelkannya di meja Snow dan teman-temannya? Payah!! Caramu bertindak itu payah! Masih pantas disebut mantan Kamiko!? Pedang kesayanganku juga musnah kan~. Lagipula, membunuh binatang itu seleranya buruk, tahu."

Tunggu!! Dewa saya, bukan! Bukan saya yang membunuh gagak itu——

"Tanpa bantahan, kau sudah tidak berguna."

Dewa saya, tunggu——Aaaaaaaa!!??

Lutus meliriknya sekali.

Hanya itu. Api dewa yang membakar habis bahkan jiwanya pun melahap Lux.

Mengapa, Tuhan, saya, begitu banyak korban, aaaaaaa……

Bahkan jeritannya pun ikut terbakar habis, dan dia pun menghilang.

Tanpa meninggalkan apa pun di dunia ini.

"Ah, tapi kalau dipikir-pikir, bukankah mustahil anggota Saint Assembly mencelakai gagak utusan dewa…… Hm? Ngomong-ngomong, akhir-akhir ini, gagakku dan gagak dewa lain jumlahnya berkurang…… Hei, Lumis. Ah, sudah hilang ya, hah, tidak berguna."

Lutus menghela napas ke arah abu jiwa yang terbakar.

Oh ya, kalau begitu?

Siapa yang meletakkan bangkai gagak utusan dewa di meja kelas Naga?

Plung.

Dewi keberanian dan kewajiban itu bergumam sendirian sambil memasukkan nasi sisa yang dihangatkan ke dalam sisa kuah mi instannya.

"……Siapa yang membunuh gagakku?"

◇◇◇◇

Aku menyukai malam.

Hari ini, dia menjalani kehidupan sekolah ideal yang menyenangkan dan mengakhiri hari sebagai siswa.

Mengenakan kacamata, berdandan, waktu untuk dirinya yang lain di malam hari pun dimulai.

Di Hutan Terlarang, dia duduk di dahan pohon besar.

"Eih!"

『『『Gya!』』』

"Eeeih!"

『『『Gaaa!!??』』』

Puchu.

Dia membuka dan menutup tangannya. Membuka, menutup.

Gagak utusan dewa dan mata-mata Saint Assembly yang bersembunyi di hutan, semuanya hancur, mengering, dan mati.

Dia adalah seorang Gifted.

"Luar biasa, Tuanku."

"He-, hebat. Master."

Di dahan di belakangnya, dua gadis melayaninya.

Elf berambut merah dengan mata merah.

Vampir berambut hitam dengan mata hitam.

Bawahan miliknya.

Gadis-gadis yang disembunyikan oleh gereja, yang mengutuk dunia, namun diselamatkan olehnya.

"Ya, akhir-akhir ini mata Tuhan semakin banyak, ya. Agar dia tidak terganggu, aku harus berhati-hati."

Setelah menyelesaikan tugas malam, dia diam-diam kembali ke kamar asrama sendirian.

Dia menarik buku keempat dari kanan di rak buku tingkat kedua.

Klik.

Bentuk rak buku berubah, dan seketika itu menjadi pintu masuk ke ruang bawah tanah.

Bangunan tua Maris Gear memiliki banyak mekanisme yang bahkan tidak diketahui oleh pihak akademi.

Ruang bawah tanah itu dipenuhi dengan benda-benda kesukaannya.

Cangkul, pisau, sekop, sabit panen.

Semuanya adalah replika yang terbuat dari garam.

Yang dipajang berpasangan di dinding adalah pisau alat sihir yang dibuatnya saat pelajaran bersama orang yang dicintainya.

Pisau itu pun, yang sangat mirip dengan pisau buatannya, terbuat dari garam.

"Hari ini pun, hari yang menyenangkan."

Dia duduk di sofa ruang bawah tanah dan menoleh ke belakang untuk merenungkan hari ini.

Hari ini, kami mengadakan pesta teh bersama semua orang di Taman Bunga.

Aku bisa minum teh bersama orang-orang yang kusayangi di tempat sekeren itu.

Sejak datang ke akademi ini bersamanya, hanya ada hal-hal menyenangkan.

Tidak, sebelum datang ke akademi, saat kami bertemu di pertanian itu, bukan——salah.

Saat kelas 3 SMA. Sejak hari itu, saat dia mengajakku yang tidak kebagian kelompok karya wisata, aku jadi sangat menyukainya——

Itu dia! Jangan pakai Taira-san, pakai aku saja!!

Saat dia melindungiku dari dewa itu, aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya.

"Kastani Takihito-kun, aku menyukaimu."

Di dinding kamar, ada banyak lukisan.

Anak laki-laki yang sedang bertani. Anak laki-laki yang sedang menggigit sayuran. Anak laki-laki yang sedang membuat alat sihir.

Semuanya adalah gambar Kastani Takihito.

"Fufu, Sensei benar-benar, kusukai, kusayangi, kau selalu, selalu menjaga aku yang tidak bisa melakukan apa pun ini——dari masa lalu pun aku sudah menyukaimu."

Gadis itu, sejak awal mengingat semuanya.

Tentang kehidupan masa lalu, semuanya, semuanya, semuanya.

"Berkat Sensei, aku bisa berteman dengan Snow-sama. Aku benar-benar bahagia. Karena kau mengajakku pergi ke prom, padahal aku ini orang yang suram, jelek, dan tidak bisa apa-apa. Karena kau bilang mari kita mencari teman bersama."

Suka, suka, suka.

Gadis itu meminum kopi sembari memandangi lukisan garam yang memenuhi dinding.

"Dia keren sekali tadi."

Pembuluh darah di lengannya yang terlihat sekilas saat membersihkan sesuatu.

Mata hitam seperti kucing yang menatap bangkai gagak dengan lekat.

Suka, suka, suka. Semuanya aku suka.

Itu memang taktik yang kulakukan untuk membongkar Saint Assembly, tapi dia benar-benar keren.

"Tuanku."

"Master."

Tanpa disadari, bawahannya sudah berada di belakangnya.

"Sudah diselidiki. Orang yang membunuh Lux adalah pria bernama Curse. Yah, aku terkejut. Padahal kami sudah kewalahan hanya dengan menghentikan perluasan domain."

"Ta-, pi, tidak diketahui identitasnya."

"Hmm…… begitu ya. Curse. Pria yang muncul saat [peristiwa] Fais itu, kali ini pun, ya. Tapi, itu artinya dia ikut campur dengan akademi, kan? Kuat, dan tidak bisa ditebak apa yang dia pikirkan. Menyebalkan sekali."

Sambil meminum kopi, dia terus menatap lukisan orang yang dicintainya.

Lalu, dia bergumam.

"Ya sudah, kalau begitu Curse, ayo kita bunuh."

"Aku tidak akan memaafkan siapa pun yang berpotensi merusak kehidupan sekolahku, entah itu gereja atau pria misterius. Kehidupanku bersama Sensei dan teman-temanku, tidak akan kubiarkan siapa pun mengotorinya."

Mendengar kata-kata itu, bawahan yang dipercayainya mengangguk pelan.

"Dimengerti, Tuanku. Sepertinya ini akan menjadi perang yang menyenangkan. Kami akan terus mengumpulkan informasi."

"Ini akan jadi menyenangkan, ya, Master."

"Fufu, terima kasih selalu. Malaikat perang, malaikat penyakit——pelayan-pelayanku yang manis."

"“Sesuai kehendakmu——Songbird——Raja kegelapan——kami”"

Para transenden itu berlutut dengan hormat di hadapannya.

Kepada para pengikutnya, dia tersenyum masam dengan bingung.

"Sudahlah. Sekarang bukan waktunya untuk mode Bud-katsu. Nama itu salah. Scarlet-chan."

"Ups, maafkan aku, Tuanku. Karena wujud itu, aku jadi……"

"Ah, begitu ya, begitu ya. Maaf, ya, akan kukembalikan ke wujud sekolah."

Dia tersenyum masam dan berdiri, lalu melepas kacamata tanpa bingkainya.

Dia mengurai rambut yang diikat ponytail panjang, dan menutupi matanya sedikit dengan poni.

Tinggi badannya yang semampai, dia mengembalikan punggungnya yang tegak ke posisi membungkuk.

"Aku tidak begitu suka diriku yang satu ini, tapi——"

Dia——tersenyum dengan sudut mulut yang memiliki tahi lalat kecil.

"Mulai sekarang——aku adalah Kotori Tyler."

Volume 1 Selesai



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close