Kata Penutup
Halo, semuanya.
Saya HaLu. Terima kasih banyak karena telah memilih dan membaca buku "Eroge
no Utsu End kara Heroine-tachi wo Kyuusai Shitara" (Jika Aku Menyelamatkan
Para Heroine dari Ending Depresi Eroge) ini.
Karya ini telah
saya poles habis-habisan, baik untuk kalian yang sudah mendukung sejak versi
web, maupun untuk kamu yang baru pertama kali membacanya lewat versi buku.
Bagaimana
menurutmu? Jika kamu merasa buku ini "menarik!", saya akan sangat
senang sekali……
Eh, tapi tunggu
dulu! Coba lihat sekali lagi ilustrasi sampul dari Sensei Ame yang luar biasa
ini! Dan ilustrasi bagian dalamnya yang sangat imut!
Belum lagi, komik
preview yang digambar oleh Sensei Shunsuke Himuro! Reo! Akari! Semuanya
bergerak hidup di sana! Saya benar-benar tidak tahu bagaimana harus membalas
kebaikan mereka. Terima kasih banyak!
Tentu saja,
karena ini adalah pengalaman pertama saya melakukan pekerjaan seperti ini, saya
sempat kesulitan karena ada begitu banyak hal yang tidak saya mengerti.
Namun, seiring
berjalannya waktu, ada banyak hal menyenangkan yang terjadi, seperti menerima
kiriman ilustrasi yang sangat imut, melihat draf komik yang sedang dikerjakan,
dan bisa menulis kisah Reo serta yang lainnya yang tampak begitu seru.
Teruslah dukung
saya dan karya-karya saya ke depannya.
Sampai jumpa
lagi.
Bonus E-book: Cerita Pendek Tambahan
"Krisis Baru yang Mendekati Mereka……?"
"Tak
disangka ya, ternyata Fujita berpacaran dengan berandalan seperti itu?
Benar-benar pergaulan bebas yang tidak pantas," suara pria rendahan itu
menggema di dalam gudang olahraga yang remang-remang.
Di depan
pria itu, ada tiga siswi yang pakaiannya tampak berantakan.
"Memangnya
kenapa kalau begitu……? Aku tidak sudi mendengar ceramah dari seorang pria yang
bahkan rela menculik dan mengurung siswinya sendiri, meski dia berstatus
guru," ujar salah satu dari mereka, Fujita Shiori, ketua OSIS di sekolah
ini.
Meski nyawanya
terancam, Shiori terus menatap tajam pria itu, menunjukkan perlawanan.
"Shiori-chan…… bagaimana ini…………?"
Kinoshita Nanami memeluk lengan Shiori dengan erat karena
ketakutan. Dia berusaha menahan air mata yang hampir tumpah, sementara tubuhnya
gemetar hebat.
"…………Tenanglah, kalian berdua," ujar siswi
lainnya.
Dia adalah Sera Akari, seorang gadis tomboi yang, meski sama
takutnya dengan Nanami, masih memegang teguh harapan terakhir mereka. Akari tersenyum getir sembari memberikan
kata-kata penyemangat pada kedua temannya.
"Reo-senpai
kita…… kalau dia orangnya, pasti dia akan datang menyelamatkan kita!"
"……Benar
juga."
"Iya……
kau benar."
"Hah……
kalau begitu, biarkan aku bersenang-senang dulu sebelum itu terjadi!"
Tangan kotor pria itu mulai mendekat ke arah mereka bertiga.
Tepat saat situasi tampak sudah berakhir, aku menendang pintu gudang olahraga
itu dengan sekuat tenaga.
"Hiaaa!"
"Apa…… ughh!?"
Pria yang berada di dekat pintu tertimpa daun pintu yang
tertendang, dan hantaman itu membuatnya jatuh pingsan. Aku segera berlari ke arah mereka bertiga untuk
memastikan keadaan mereka.
"Kalian
tidak apa-apa!? Tidak diapa-apakan, kan!?"
"Ah…… aku
tidak apa-apa. Terima kasih, Reo."
"Ughh…… aku
takut sekali, Reo-kun……"
Shiori
tersenyum lega dengan ekspresi lembut. Nanami memeluk lenganku erat-erat
sembari meneteskan air mata yang deras.
"Senpai…………"
Akari,
yang mungkin baru saja melepas ketegangan, terduduk lemas di lantai sambil
menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. Aku pun merentangkan tangan ke arahnya.
"Nah,
kemarilah."
"Eh…………
Senpai!! Tackle!!"
"Woi!? Aku tidak bilang kau boleh menambah kecepatan
sampai seperti itu──"
"Gah!?"
Aku terbangun
karena hantaman di tubuhku. Sesuatu jatuh tepat di atasku saat aku sedang
tidur.
"Sakitnya………… ah…… Akari rupanya……"
Begitu membuka mata, aku melihat wujud benda yang menimpaku
itu—ternyata Akari yang masih mengenakan baju tidur. Sepertinya dia terjatuh
dari tempat tidur di sebelahku. Mungkin tempat tidur itu terlalu sempit untuk
ditiduri bertiga bersama Shiori dan Nanami.
"Suuu………… suuu……"
Padahal
hantamannya cukup keras, tapi Akari masih saja tidur dengan nyenyak. Memang tidak seharusnya aku
membentangkan kasur di samping tempat tidur. Lain kali, aku akan menjauhkannya.
Omong-omong
soal itu…… kupikir ada yang ganjil, ternyata itu hanya mimpi. Tapi,
mimpi itu terasa sangat nyata. Tiga gadis yang diancam dan diserang oleh guru
sampah yang tidak pernah kukenal. Harusnya akhir cerita seperti itu tidak ada.
Aku bisa saja menganggapnya sebagai mimpi biasa. Namun,
seandainya itu adalah semacam mimpi pertanda, dan sesuatu yang buruk menimpa
mereka bertiga……
"……Aku tidak
akan membiarkan hal itu terjadi."
Aku memeluk Akari
dengan lembut, dan bersumpah dalam hati untuk terus melindungi kebahagiaan
semua orang yang telah kugapai ini──
"Fuhehe………… Suuu…… hehehe……"
Tepat saat aku
hendak kembali tidur, aku menyadari napas Akari mulai memburu.
"Woi."
"…………Aku
lagi tidur."
Saat kucoba
memanggilnya karena curiga, dia menjawab dengan racauan tidur yang terlalu
jelas.
"……Kalau
begitu, setidaknya tidurlah di sampingku."
"Cih. Guling-guling."
Akari menuruti
permintaanku tanpa membuka matanya, meski aku bahkan sudah tidak berniat untuk
berdebat lagi. Tubuhku terguling perlahan, dan akhirnya kami kembali tertidur
berdampingan untuk beberapa saat lagi.



Post a Comment