NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Eroge no Utsu End kara Heroine-tachi o Kyuusai Shitara Volume 1 Chapter 3

Chapter 3

Heroine Otaku Ingin Mendukung Idola


Tiba-tiba saja, aku ingin memperkenalkan diri.

Namaku Yoshihoto Tetsuhei.

Aku hanyalah siswa kelas satu SMA tanpa keistimewaan apa pun. Hobiku adalah menonton light novel atau siaran langsung para VTuber. Akhir-akhir ini, aku juga ketagihan bermain Shooting Game.

Selama aku hidup, aku belum pernah punya pacar. Aku pikir musim semi tak akan pernah datang untuk orang sepertiku.

Ya. Sampai aku bertemu denganmu.

"Mo-mohon bantuannya……"

"Sa-salam kenal juga……"

Dia adalah Kinoshita Nanami-san, teman sekelas yang juga terpilih menjadi anggota komite perpustakaan bersamaku.

Sekilas saja, aku sudah tahu kalau dia juga orang "sebelah sana" sepertiku. Tapi cara bicaranya pun gugup, dan dia seolah memancarkan aura bahwa dirinya tidak pandai bergaul dengan laki-laki.

Suatu hari, saat aku hampir pasrah karena mengira kami tidak akan pernah bisa akrab, aku melihat malaikat di perpustakaan.

Awalnya aku tidak tahu siapa itu. Saat aku terpesona oleh kecantikannya, gadis itu…… Kinoshita Nanami-san sepertinya menyadari keberadaanku, lalu buru-buru merapikan poni yang berantakan dan hendak pergi dari sana.

"Tu-tunggu!"

"Hikk…………!?"

Aku tak sengaja memanggilnya. Dia tampak sangat terkejut, dan kembali menjadi gugup seperti biasanya.

Gawat. Aku benar-benar melakukan kesalahan. Saat aku sedang memutar otak mencari alasan untuk menutupi kecerobohanku, judul buku yang sedang dibacanya tertangkap oleh mataku.

"I-itu…… 'Hangan', kan? A-aku juga, suka. Aku sudah menonton semua animenya."

"Eh………… benarkah?"

"U-um…………"

Buku yang dipegangnya adalah novel dari manga yang sempat populer beberapa waktu lalu.

Sebuah mahakarya tersembunyi yang disukai karena alur ceritanya yang klasik, bahkan sampai diadaptasi menjadi anime.

"E-eh, eh…… eh, apa kau punya karakter favorit!?"

"Kalau ditanya karakter favorit……"

"Kinoshita-san. Harap tenang di dalam perpustakaan."

"I-iya………… maaf……"

Saat aku sedang tertekan oleh semangatnya yang tiba-tiba, seorang pustakawan menegur kami, dan dia pun menunduk malu.

"Yoshihoto-kun juga…… maaf…… a-aku, tanpa izin……"

Setelah dia meminta maaf dengan wajah penuh penyesalan, entah kenapa aku malah melontarkan kata-kata yang tidak perlu.

"Anu…… s-setelah ini, apa kau sibuk? Kalau tidak keberatan…… apa kau mau pergi…… ke karaoke? Aku juga…… ingin bicara soal Hangan……"

Padahal aku tidak berniat untuk akrab dengannya, tapi karena kecantikan wajah aslinya dan kenyataan bahwa kami punya topik pembicaraan yang sama, aku langsung berusaha mendekat.

Dia pasti akan ilfeel. Saat aku hendak menarik kembali perkataanku……

"Ah…… kupikir……"

"…………Boleh, kok."

"Eh…………"

"Ya?"

"Hei, hei. Lihat tidak? Siaran langsung tadi! Katanya season dua sudah diputuskan!"

"Dewa banget. Kualitas gambar di cuplikannya saja gila…… ini layak ditunggu, kan? Kalau season dua, berarti ceritanya sampai kebangkitan Seria, ya."

"Tidak, tidak, kurasa sampai adegan pengakuan cinta. Kau dengar dialognya dengan jelas tidak? Mereka sudah menyebutkan dialog sebelum adegan itu, kan?"

"Eh, serius? Kalau begitu, ceritanya bakal sangat terburu-buru, dong?"

"Ya, karena bagian itu titik berhentinya, jadi tidak bisa dihindari…… tapi aku senang karena ada season dua!"

Sejak hari itu, kami menjadi cukup akrab sampai sesekali melakukan panggilan telepon.

Saat berbicara denganku, Kinoshita sangat cerewet, citranya benar-benar berbeda dengan saat dia berada di kelas.

Entah kenapa, rasanya sangat menyenangkan menjadi satu-satunya orang yang menyadari daya tarik dirinya.

Kami juga sesekali pergi bermain, dan aku sempat berpikir, mungkin saja kalau terus begini……

Namun, aku tidak punya keberanian untuk menyatakan cinta padanya. Sambil membohongi diri sendiri bahwa begini saja sudah cukup, aku terus menjalin hubungan dengannya.

Saat naik kelas dua, kami berada di kelas yang sama. Meski sudah setahun berlalu, hubungan kami tidak ada perkembangan, kami tetap menghabiskan waktu sebagai teman akrab.

"Hei, hei, Yoshihoto-kun…… apa kau…… akrab dengan Miyano-kun?"

"…………Ti-tidak, kenapa??"

Sekitar pertengahan bulan Mei. Saat kami sedang menelepon seperti biasa, dia menanyakan hal itu.

Aku tahu siapa anak laki-laki bernama Miyano itu. Dia adalah tipe pria populer yang masa kecilnya dihabiskan bersama Mizukami Noa, gadis populer yang ceria di kelas kami. Dia adalah pemenang dalam hidup; punya adik perempuan yang imut, junior tomboi yang sering masuk ke kelas kami, dan kabarnya dia juga punya koneksi dengan ketua OSIS.

Mendengar nama pria itu disebut, aku merasa cemas. Suara Kinoshita yang menanyakan tentang Miyano terdengar malu-malu…………

"Ke-kenapa memangnya? Apa jangan-jangan kau suka…… dengannya?"

"……Bu-bukan begitu, sih! Hanya saja, kemarin aku sempat bicara sedikit…… lalu, tahu tidak? Kami jadi seru sekali ngobrolnya……"

Meski dia bilang bukan begitu, nada bicaranya terdengar bersemangat seolah sedang membicarakan cinta. Setelah menanyakan hal yang seharusnya tidak perlu kutanyakan, aku hancur seketika. Pembicaraan kami setelah itu tidak ada satu pun yang masuk ke dalam kepalaku.

"Ah, Yoshihoto-kun, akhir pekan ini……"

Sejak saat itu, aku mulai menghindari pembicaraan dengannya.

Alasan yang menyedihkan memang, tapi tidak mungkin aku bisa menang melawan Miyano meski sudah berusaha keras.

Aku hanya berpikir untuk mengundurkan diri dengan tenang sebagai teman biasa.

Tanpa kusadari, libur musim panas pun tiba. Suatu hari, saat aku hanya berselancar di internet tanpa melakukan apa pun, aku menemukan sebuah foto.

Dilihat dari suasana tempatnya, sepertinya itu acara doujin. Aku sebenarnya berniat pergi, tapi karena ragu-ragu, akhirnya aku tidak jadi pergi.

Pemilik akun yang mengunggah foto itu adalah cosplayer pria terkenal, dan dia sendiri mengenakan kostum karakter dari Hangan.

Kalau hanya itu, mungkin tidak apa-apa.

Namun, di sampingnya, ada seorang wanita cantik yang terlihat familiar.

Sambil berpose dengan ceria, dia mengarahkan wajah yang kukenal ke kamera dengan senyum yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Mungkin itu hanya orang yang mirip. Tidak, kuharap memang begitu. Atau, kalaupun itu dirinya, apa masalahnya? Dia pasti jatuh cinta pada Miyano. Tidak mungkin…… tidak mungkin……

"…………Sudahlah, tidur saja."

Aku terlalu banyak membaca manga. Tidak mungkin ada hal seperti off-paco (bertemu di dunia nyata setelah kenal di dunia maya).

Sambil berpikir begitu, malam itu aku memutuskan untuk memuaskan diriku dengan melihat dada besar cosplayer yang mirip dengannya.

Ya. Setelah liburan musim panas berakhir, aku akan meminta maaf padanya.

Dan kalau ternyata dia belum pacaran dengan Miyano, aku juga akan mengungkapkan perasaanku. Kami sudah sedekat itu. Hubungan kami tidak akan memburuk hanya karena hal seperti itu.

Namun, suasana kelas setelah libur musim panas sangat aneh. Semua orang menatap seorang siswi, dan bisik-bisik terdengar di mana-mana.

Gadis yang menjadi pusat perhatian itu tidak peduli dengan tatapan tersebut, dia hanya terus membaca buku.

Aku memberanikan diri untuk menyapanya.

"Anu………… lama tidak jumpa…… Kinoshita, kan?"

"Ah, Yoshihoto-kun. Lama tidak jumpa. Apa kabarmu?"

Dia sudah merapikan rambutnya yang dulu tampak panjang dan berat, melepas kacamatanya, dan menggantinya dengan kontak lensa.

Sejak saat itu, aku sudah punya firasat buruk. Tapi aku pikir, kalau Kinoshita bisa pacaran dengan orang yang dia sukai, itu hal yang baik.

"Eh…… Kinoshita-san, ada apa? Ganti penampilan?"

Seorang gadis populer yang datang setelahku bertanya padanya.

"……Hanya sedikit."

"Eh, jangan-jangan…… yang ini??"

Saat gadis itu mengangkat jari kelingkingnya, Kinoshita mengangguk malu-malu.

"Sebenarnya………… hehehe."

"Waaa…… eh, orangnya seperti apa, seperti apa? Anak sekolah kita? Apa dia keren?"

"Anu…… orang dari internet, sih…… tapi dia sangat keren, dan baik hati."

"Eh, jadi karena itu kau ganti penampilan? Cocok sekali, lho! Saking imutnya, aku sampai mengira kau malaikat!"

"Um…… karena dia bilang dia menyukai diriku yang seperti ini, aku jadi percaya diri."

"Waaa………… eh, ceritakan detailnya dong!"

Otakku terasa berdenyut mendengar percakapan itu, dan kakiku perlahan melangkah mundur. Dia hidup di dunia yang berbeda denganku. Aku yakin akan hal itu.

Sejak saat itu, dia menjadi populer di kelas…… tidak, bahkan di seluruh sekolah. Akun yang diduga miliknya pun menjadi sangat viral.

Dengan kecantikan seolah keluar dari anime dan gaya tubuh yang luar biasa, dia mendapatkan popularitas, dan saat kami naik kelas tiga, bakatnya sebagai streamer pun muncul…… dan sosok gadis yang kutemui hari itu tak pernah terlihat lagi.

Seandainya saja. Seandainya aku menyatakan cinta saat kelas satu. Seandainya aku berusaha bersaing agar tidak kalah dari Miyano.

Seandainya aku tidak malu dan memuji daya tariknya.

Mungkin saja, malaikat yang ada di layar kaca itu, bisa saja berada di sampingku. Aku pun menyesalinya.

Nanami memiliki event yang sedikit berbeda dari ketiga orang lainnya.

Pertama, sudut pandangnya adalah karakter figuran yang tiba-tiba muncul, dan terasa terlalu damai dibandingkan yang lain. Tidak ada adegan seperti itu, jadi event-nya sendiri tidak memiliki kegunaan praktis.

Namun, inti dari event Nanami bukanlah di situ. Event Nanami adalah event khusus yang memberikan damage langsung kepada pemain melalui penggabungan dengan rute individu Nanami.

Pada putaran pertama, kehadiran Nanami seolah tidak ada sama sekali, dan kita bahkan tidak bisa berinteraksi dengannya.

Pemain hanya diperlihatkan hasil akhirnya: seorang gadis otaku yang berubah menjadi gadis cantik setelah berpacaran dengan pria tampan yang ia kenal di internet.

Alhasil, banyak pemain yang terpikat oleh Nanami yang bagaikan malaikat, merasa dekat dengan hobi otaku-nya, dan terpesona oleh payudaranya yang besar.

Jika sudah begitu, secara alami pemain akan bersemangat dan berpikir, "Aku akan memainkan rute Nanami dan bermesraan dengan gadis otaku cantik ini!"

Namun, saat memainkan rute Nanami, penampilan fisiknya sama sekali tidak berubah. Senyumnya kaku, dan gerak-geriknya masih tetap gugup.

Pada akhirnya, pemain tidak bisa melihat sosok yang diidam-idamkan dan malah mencapai ending yang biasa saja.

Di sanalah pemain menyadari kebenaran yang tidak ingin mereka akui.

Nanami yang berpacaran dengan pria lain memiliki senyum yang jauh lebih bahagia dan hidupnya lebih sukses daripada Nanami yang berpacaran dengan protagonis…… yang disebut sebagai pemain itu sendiri.

"Hubungan Nanami adalah yang paling menyakitkan. Aku jadi ingat masa lalu dan ingin menangis."

Jika dipikirkan kembali, ulasan itu benar-benar menangkap inti dari event Nanami. "Ingat masa lalu dan ingin menangis" adalah memori pahit yang pasti pernah dialami oleh setiap pria otaku yang menyukai karakter seperti Nanami.

Ada pria yang lebih kaya, lebih tampan, dan punya kedudukan serta prestasi daripada dirinya.

Tanpa menjadi pria seperti itu, mustahil bisa membahagiakan Nanami, dan bahkan jika bisa bersatu pun, kebahagiaan itu tidak akan pernah bisa menandingi yang lain.

Dengan kata lain, itulah rasa kekalahan sebagai pria sejati. Memberikan rasa itu kepada orang yang telah membeli dan memainkan game tersebut adalah inti dari event Nanami.

Meski begitu, dalam situasi saat ini, pembicaraan seperti itu tidak terlalu relevan.

Yang terpenting adalah Nanami bahagia. Tidak masalah apakah dia berpacaran dengan protagonis, berpacaran dengan cosplayer, atau berpacaran dengan si Yoshihoto itu, asalkan dia bahagia. Aku menenangkan diri dan menyapa Nanami dengan lembut.

"Yo. Apa itu menarik?"

"Eh…… ah, tidak! ……Bukan begitu, sebentar……"

Saat aku menyapanya, Nanami buru-buru merapikan poninya untuk menutupi wajahnya.

"Ma-maaf, aku memperlihatkan pemandangan yang tidak sedap dipandang……"

"Tidak, tidak, aku juga minta maaf. Maaf karena tiba-tiba mengajak bicara."

Terlalu negatif untuk seseorang yang tidak percaya diri dengan kelucuannya sendiri. Yah, itulah pesona Nanami. Rasanya menyenangkan karena seolah hanya aku yang mengetahuinya…………

"Hah!?"

"Ke-kenapa!?"

Mungkin karena aku berhadapan langsung hanya berdua saja dengan Nanami, asumsi khas otaku yang hampir kulupakan pun aktif kembali. Bahkan aku sendiri terkejut sampai mengeluarkan suara. Kinoshita Nanami benar-benar menakutkan.

"……Hei, kau di sana. Tenang."

Lagipula, karena aku membuat keributan, aku malah ditegur oleh pustakawan.

"Maaf. Gara-gara aku, kita diusir……"

"Ti-tidak…… ini salahku………… ya……"

Karena aku yang penampilannya jelas terlihat seperti berandalan membuat keributan, pustakawan menegur kami cukup keras.

Kami berdua yang merasa canggung pun memutuskan untuk keluar dari perpustakaan. Tapi meski sudah keluar, kami tidak punya tujuan. Kami hanya berjalan di koridor.

Apa yang harus dilakukan sekarang?

Meski aku diminta untuk akrab dengannya…… mungkin aku coba angkat topik soal event kali ini.

"Ngomong-ngomong Kinoshita. Kenapa kau sampai ingin mengajak Ketua ke acara itu?"

"Eh………… itu, aku dengar…… orang yang kusukai…… akan mengenakan kostum…… karakter dari manga favoritku……"

Begitu ya. Mungkin orang itulah pria cosplayer yang muncul di event Nanami.

Mungkin di sana mereka bertemu dan bertukar kontak. Pria itu cukup cepat dalam bertindak…… yah, karena orangnya sendiri terlihat bahagia, jadi tidak masalah.

"A-apa Ibuse-kun…… tidak…… membaca manga……?"

Nanami berusaha berbicara denganku meski masih terlihat gugup. Mungkin Nanami juga berusaha untuk akrab dengan caranya sendiri.

"……Aku jarang, sih. Tentu aku tahu kalau itu menarik, tapi mau bagaimana lagi."

"O-oh, begitu ya…………"

Sebenarnya aku menyukainya, tapi aku berbohong karena kalau ditanya "Apa yang kamu sukai?", aku tidak akan bisa menjawabnya. Lagipula, manga itu tidak ada di dunia ini.

"……………………"

"……………………"

Gawat. Pembicaraannya terhenti dalam sekejap. Aku baru sadar betapa mudahnya berbicara dengan mereka yang bisa memberikan respons yang pas.

Adakah topik lain………… ah, benar.

"Hei, bagaimana hubunganmu dengan Yoshihoto?"

"Eh!? Yoshihoto-kun!?"

Yoshihoto adalah pria yang menjadi narator di event Nanami. Dia satu kelas dan aku ingat namanya.

Tentu saja di dunia ini dia punya wajah. Penampilannya benar-benar seperti pria otaku biasa.

"Iya. Kalian sering bicara, kan? Aku cuma penasaran dengan hal itu."

"Ti-tidak, tidak, tidak, tidak!! Aku dengan Yoshihoto-kun hanya…… hanya teman!!"

Nanami menggelengkan kepalanya dengan kuat sampai wajahnya memerah. Jangan-jangan ini…… apakah ada peluang?

"Kalau begitu, seharusnya kau ajak dia ke acara akhir pekan lalu. Bukankah lebih baik kalau hobinya cocok?"

"Soal itu………… aku sempat berpikir untuk…… mengajak, tapi………… katanya dia sibuk……"

"Sibuk ya………"

Teringat kembali kalau dia pernah bilang sudah lama menghindarinya. Atau lebih tepatnya, aku jujur tidak ingat.

Saat kami berjalan sambil membicarakan hal itu, tanpa sadar kami sudah sampai di rak sepatu.

Apa yang harus dilakukan sekarang?

Sepertinya akan ada alur untuk pulang bersama, tapi aku cemas apakah topik pembicaraannya akan bertahan sampai akhir.

Di sini, aku akan memberanikan diri untuk mengangkat topik yang disebut "Hangan" itu.

Sambil berpikir begitu, aku mengganti sepatuku, lalu keluar dari pintu masuk menuju gerbang sekolah, dan aku mendengar suara langkah kaki berlari ke arah sini dari suatu tempat.

Ada juga orang yang semangat ya.

Saat aku hendak mengabaikannya, pada saat itu juga.

Sesuatu menabrak punggungku dengan kekuatan yang luar biasa.

"SEEEENPAIIIII!!"

"Gafh!?"

"Ibuse-kun!?"

Aku berhasil menahan tekel yang dilancarkan bersamaan dengan teriakan manis dari belakang. Tapi aku tidak ingin memastikan siapa pelakunya. Pasti akan jadi merepotkan.

"Apa yang sedang kau lakukan!! Tidak puas hanya dengan aku dan Ketua!! Ternyata masih soal dada, ya! Begitu, kan!! Senpai mesum!! Si otaku dada ini!!"

Namun, meskipun aku tidak memastikannya, pelakunya tidak peduli dan terus menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil memelukku dari belakang.

Lagipula, hal gila apa yang diucapkan oleh gadis boku-kko ini?

"Da-da-da-da-da……!?"

Lihat saja. Nanami sampai gemetar dengan wajah yang memerah padam. Itu pelecehan seksual, tahu.

"Kalau ada alasan, aku akan mendengarkannya!! Karena aku ini murah hati!!"

"Bukan seperti yang kau pikirkan. Kebetulan saja kami bersama."

"Pembohong!! Bahkan secara kebetulan pun, tidak ada orang yang ingin pulang bersama dengan orang seperti Senpai!!"

"Hei"

Memang benar, tapi ada hal yang boleh dan tidak boleh dikatakan, kan.

"Hei, Nanami, katakan sesuatu juga──"

"Ti-ti……"

Saat aku menoleh ke arah Nanami sambil merasa heran, Nanami mengeluarkan suara paling keras hari ini sambil menutupi dadanya yang montok dengan kedua tangannya, wajahnya semakin memerah.

"Tidak enak, kok!!"

"Kau juga sedang bicara apa!?"

Sambil meneriakkan kalimat yang luar biasa, Nanami melompat keluar dari gerbang sekolah seolah ingin kabur dariku.

"Hmph!!"

"…………Kau ini."

Terhadap Akari yang meski aku disalahpahami secara luar biasa oleh Nanami, ia malah terlihat puas dan menang, aku pun memutuskan untuk menjelaskan situasi saat ini dari awal.

"Aku sempat berpikir macam-macam saat mendengar cerita dari Nanami, tapi…… ternyata begitu……"

Jumat, 12 Juli. Hari ini pun, kami berkumpul di ruang OSIS saat istirahat makan siang dan mendiskusikan tentang "Insiden Dada" kemarin.

"Ketua juga curang! Padahal aku juga ingin pergi bermain dengan Senpai! Diam-diam menyusun rencana!"

"Maaf. Aku mengira kalian sudah tahu karena kalian selalu bersama."

"Dehehe…… tidak juga……"

"Tidak juga apanya."

Saat aku memegangi kepalaku melihat respons tidak jelas dari Akari yang sedang malu-malu, Shiori yang melihat keadaan itu tersenyum lembut sambil bertanya pada Akari.

"Apa Akari-chan mau ikut juga? Bagaimana dengan klub?"

"Aku akan libur!"

"Tidak mungkin bisa, kan? Kompetisinya sudah dekat."

Aku menarik kepala Akari yang dengan semangat mendeklarasikan bolos. Lalu Akari menggembungkan pipinya dan mulai menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan kanan.

"Che…… enak sekali, curang……"

"Apa yang curang?"

"Karena, pergi jalan-jalan dengan Senpai, bahkan aku saja belum pernah melakukannya, kan? Aku juga ingin pergi jalan-jalan dengan Senpai!"

"Apa maksud dari kata 'bahkan aku saja' itu."

Saat aku bingung harus membalas apa atas pendekatan dari Akari, Shiori yang terlihat sangat menikmati situasi ini memberikan sebuah usulan.

"Begitu ya, Akari-chan. Bagaimana kalau begini? Kalau bisa memberikan hasil di kompetisi nanti, sepertinya Ibuse-kun mau mengajakmu kencan?"

"Eh!? Sungguh!?"

"Tidak, jangan asal menyusun rencana."

Mendengar usulan dari Shiori, Akari menatapku dengan mata yang berbinar-binar.

Aku berpikir untuk menolaknya karena terlalu mendadak, namun aku tidak tahan dengan mata besar Akari yang murni itu, jadi aku dengan enggan mengangguk.

"……Hanya sekali, ya."

"!! Aku akan berusaha!!"

Akari yang mendapatkan persetujuanku segera berdiri dari kursinya, bersiap-siap, dan lari meninggalkan ruang OSIS.

"Benar-benar…… tidak perlu mengejarnya?"

"Fufu. Kamu tidak akan bisa mengejar Akari-chan."

Saat aku dan Shiori yang tertinggal melakukan percakapan itu, Shiori tiba-tiba mulai duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Akari.

"Apa yang kau lakukan?"

"…………Tidak ada. Aku sedang merasakan kehangatan Akari-chan."

Wajah Shiori yang mengatakan hal tidak jelas itu terlihat agak sedih, seolah-olah sedang menunjukkan ekspresi setelah marah kepada Kaede hari itu.

"Jadi. Apakah kau bisa berhubungan baik dengan Nanami?"

"Bagaimana, ya. Sepertinya Nanami tidak suka dengan orang sepertiku, dan sejujurnya, aku juga tidak terlalu suka dengannya."

"Tak terduga. Kupikir kau punya bakat untuk memikat wanita."

"Tolong jangan katakan hal aneh. Bagaimanapun juga, kau adalah Ketua OSIS, dan Nanami adalah temanmu, kan."

"Oh…… apakah itu hal yang buruk untuk kukatakan?"

"Aku tidak sampai bilang itu buruk, tapi……"

Saat kami melakukan percakapan misterius itu, Shiori berdiri dengan wajah tidak puas dan teringat sesuatu, "Ngomong-ngomong".

"Ada rapat sepuluh menit lagi. Aku baru ingat."

"Hah!?"

"Sebentar lagi anggota lain juga akan datang. Wah, benar-benar minta maaf."

"Kau…… masih ada setengah lagi, kan!?"

"Ayo ayo, cepat cepat"

Didorong oleh tepukan tangan Shiori, aku pun melahap bekal buatan Shiori ke dalam perutku seperti Akari tadi, membereskannya dengan cepat, dan menyerahkannya pada Shiori.

"Terima kasih! Enak!"

"…………Kalau begitu, syukurlah. Kalau begitu, sampai jumpa hari Minggu. Di tempat pertemuan, ya."

Setelah mengonfirmasi kembali janji akhir pekan, aku meninggalkan ruang OSIS seolah ingin kabur.

"Benar-benar…………"

Aku termenung sendirian di ruang OSIS yang menjadi sunyi. Entah mengapa rasa kesepian ini sudah lama tidak kurasakan.

"Apakah dia peka atau tidak…………"

Aku duduk di kursi yang diduduki Ibuse-kun sampai beberapa saat lalu. Masih terasa agak hangat. Ditambah lagi, aku merasa tercium aroma anak laki-laki.

"Ah. Seandainya aku juga adik kelasmu. Apakah aku bisa disayangi?"

Aku sendiri paham. Ini tidak lebih dari sekadar rasa menyesal. Ibuse-kun bukanlah pria yang menilai sesuatu berdasarkan apakah orang itu lebih tua atau lebih muda.

Tapi…………

"Terima kasih! Enak!"

Senyumannya murni seperti anak kecil. Curang sekali, padahal dia memiliki wajah yang jahat.

Aku bisa merasakan bahwa dia mengatakannya dari lubuk hatinya yang terdalam, padahal aku sudah berusaha melupakannya, tapi malah jadi tidak bisa menyerah, kan.

"……Kau benar-benar pria yang berdosa. Kau itu."

Minggu, 14 Juli. Untuk menemani Nanami yang ingin pergi ke acara cosplay, aku tiba di stasiun terdekat dari lokasi acara lebih awal, lalu duduk di bangku terdekat menunggu mereka berdua.

Acara itu diadakan di dalam kubah dan sekitarnya, dan saat aku tiba, area stasiun sudah penuh dengan banyak orang.

Meskipun begitu, suasana ini terasa nostalgia. Aku pernah pergi ke konser pengisi suara satu kali dulu, dan hawa panas serta euforia yang unik ini sangat bagus. Isinya hanya orang-orang yang mengenakan kostum karakter yang tidak pernah kulihat, tapi itu juga menyenangkan.

Namun, entah mengapa aku terus diperhatikan dan benar-benar dihindari. Ruang di sekitar bangku tempatku duduk kosong secara tidak wajar.

Apakah ini berarti tempat ini bukan tempat yang cocok untuk didatangi pria seperti Ibuse Reo?

Yah, kalau ada orang berpenampilan sepertiku, aku pun akan menghindarinya.

Bukankah aku terlihat seperti orang berbahaya yang sepenuhnya datang untuk mengincar para cosplayer?

"Haa…………"

Saat aku menghela napas karena tidak bisa menikmati acara ini dengan murni, Shiori mendekatiku dengan pakaian kasual.

"Maaf membuatmu menunggu. Wah, tempatmu mudah ditemukan, sangat membantu."

"…………Syukurlah kalau begitu."

Hari ini Shiori terlihat lebih dewasa dari biasanya.

Dia melepaskan ikat rambutnya dan mungkin juga memakai make-up. Mengenakan blus kotak-kotak hijau dan celana jins biru tua…… itu bukan pakaian kasual siswa SMA, kan.

Shiori juga membuat tatapan orang-orang tertuju padanya. Aku merasa kasihan pada Nanami yang akan dimasukkan ke tengah-tengah situasi seperti ini………… eh?

"Di mana Nanami? Bukankah dia bersama dengannmu?"

"Dia ada. Di sini."

"Ti-tidak, jangan!! A-aku belum siap secara mental!!"

Ternyata Nanami bersembunyi di belakang Shiori, dan bahkan sekarang, dia masih berusaha keras menempel di punggung Shiori agar tidak terlihat olehku.

"Kamu harus terbiasa dengan Ibuse-kun, kalau tidak, ke depannya akan berat, tahu? Ayo, keluar, ayo keluar."

Shiori memutar tubuhnya dengan luwes dan menyodorkan Nanami yang sedang bersembunyi ke hadapanku.

"Ti-tidak…… eh!?"

Karena dorongan itu, Nanami terhuyung dan hampir terjatuh, tapi dia berhasil menahan dirinya.

Namun, bukannya mengkhawatirkan Nanami, kata-kata yang sangat buruk justru terlontar dari mulutku sebelum aku sempat berpikir.

"GEEEE……!!!?"

Aku baru tersadar bahwa seragam sekolah hanyalah alat pengekang. Pakaiannya sendiri tergolong standar, tapi daya hancur di bagian tertentu terlalu berbeda.

Berkat dia yang terhuyung, dada montok itu bergoyang di depan mataku, dan karena aku tidak bisa menahan reaksi, aku segera membuang muka untuk menutupi kekacauanku.

"……Reaksi macam apa itu, Ibuse-kun."

"Tidak!? Tidak ada apa-apa!?"

Aku merasakan tatapan dingin dari Shiori. Katanya perempuan peka terhadap pandangan pria, tapi memang sulit untuk tidak melirik yang seperti ini. Tolong, maafkan aku.

"…………"

Nanami pun segera kembali ke belakang punggung Shiori seolah bersembunyi dariku. Shiori tidak lagi berusaha mendorong Nanami ke depan dan terus mengirimkan tatapan dingin ke arahku.

"Lupakan pria seperti dia. Ayo pergi, Nanami. Bukankah ada banyak hal yang ingin kau lakukan?"

"U-um……"

"Tunggu…… aku salah! Aku salah, jadi tolong!"

Aku meminta maaf kepada mereka berdua yang pergi meninggalkan tempatku seolah melarikan diri, lalu aku pun terpaksa mengejar mereka.

"A-ano, bolehkah saya memotret…… fotonya?"

"Tentu saja boleh. Apakah ada pose tertentu yang Anda inginkan?"

"Ah, kalau begitu──"

Setelah itu, Nanami dengan asyik memotret para cosplayer.

Aku sempat khawatir apakah Nanami yang pemalu akan bisa mengajak mereka bicara, tapi sepertinya kekhawatiranku tidak terbukti. Soal yang satu itu, otaku perempuan memang hebat.

Saat aku memperhatikan Nanami dari jarak yang sedikit jauh dengan melipat tangan, Shiori menghampiriku di sebelah kanan dengan wajah yang tampak lelah.

"Tempat ini cukup melelahkan, ya……"

"Hm? Apa terjadi sesuatu?"

"Tidak…… dari tadi aku terus diajak bicara oleh berbagai orang. Entah bagaimana…… kalau aku boleh bicara jujur tanpa memilih kata, aku sangat lelah."

"Ah…… semangat ya."

Tentu saja, Shiori itu cantik. Tubuhnya tinggi dan gayanya pun luar biasa. Pasti banyak orang dengan berbagai tujuan yang akan mengajaknya bicara.

"……Kamu sepertinya tidak diajak bicara oleh siapa pun."

"……Yah, tidak ada orang aneh yang mau mengajak bicara orang dengan penampilan seperti ini."

Meskipun wajahku terlihat menyeramkan, seharusnya Ibuse Reo juga termasuk dalam kategori pria yang cukup tampan.

Namun, reaksi orang di sekitar hanyalah tatapan ketakutan. Meskipun aku sudah mulai terbiasa, tetap saja ada sedikit rasa sakit di hati.

"Kalau begitu, izinkan aku beristirahat di sebelahmu sebentar."

"Silakan sesukamu."

Saat kami berdua memperhatikan Nanami yang tampak bersenang-senang, entah mengapa Shiori mulai terlihat gelisah.

Aku menyadarinya, tapi karena malu jika ternyata aku salah paham, aku memutuskan untuk mengabaikannya dulu.

"……Ah, sepertinya pemotretannya sudah selesai."

Nanami selesai memotret dan celingukan mencari keberadaan Shiori.

"Ah…………"

Saat aku bergerak untuk menyusul Nanami, tangan kananku tidak sengaja bertabrakan dengan tangan kiri Shiori.

"Ah, maaf—"

Saat aku hendak meminta maaf karena tidak sengaja menabraknya, Shiori lebih dulu menjadi panik.

"Wa-salah!! Tidak, bukan itu!! Ini karena…… ya! Ada debu di bajumu! Aku mencoba mengambilnya!"

"Eh, benarkah?"

"Ya! Diamlah seperti itu! Aku yang akan mengambilnya!"

"Tidak perlu sampai begitu. Kalau ditepuk-tepuk juga bisa."

"Ah…… begitu ya. Ya, benar juga…………"

Aku menepuk-nepuk bajuku asal-asalan, lalu meminta konfirmasi dari Shiori.

"Bagaimana? Sudah bersih?"

"Sempurna! Kamu hebat!"

"Dipuji hanya karena hal seperti ini……"

Mungkin karena terbawa suasana yang unik ini, Shiori pun menjadi aneh. Mood-nya lebih tinggi dari biasanya. Yah, itu pun terasa cukup manis untuk anak seusianya.

"………………"

Saat aku dan Shiori sedang mengobrol seperti itu, aku menyadari bahwa Nanami yang sudah mendekat sedari tadi sedang menatap kami dengan tatapan kosong.

"Ada apa?"

"…………Ah…… tidak!! Tidak ada apa-apa!"

Sepertinya mereka berdua lelah. Hari ini panas sekali, mungkin sebaiknya aku menyarankan mereka untuk beristirahat sejenak……

"Ah…… orang itu…………!"

Sebelum aku sempat menyarankan istirahat, Nanami menyadari keberadaan seorang cosplayer.

Di arah pandangannya, memang ada seorang pria yang levelnya berbeda dari cosplayer lain, dan sepertinya sesi pemotretannya baru saja selesai.

"Apakah pria itu targetmu?"

"Ya, iya! Benar sekali!"

Begitu ya. Memang terlihat populer, dan kurasa sekarang saat dia sedang senggang adalah kesempatan emas.

"Kalau begitu, cepatlah pergi. Nanti diambil orang lain."

"Baik! Aku pergi dulu!"

Nanami begitu bersemangat sampai tidak sadar bahwa orang yang dia ajak bicara adalah aku.

Kalau dia memang sebahagia itu bisa berpacaran dengan pria yang dia sukai, aku tidak punya hak untuk berkomentar apa pun.

Tapi, entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal…… semacam perasaan yang mengganjal di dadaku……

"……Ngomong-ngomong, orang-orang di sini hebat sekali, ya. Mungkin mereka membuat kostum yang luar biasa itu di sela-sela kesibukan kerja?"

Saat aku sedang merasa curiga sambil memperhatikan Nanami yang mulai melakukan sesi foto dengan pria itu, Shiori bergumam sambil melihat sekeliling.

"Katanya ada juga yang memesan lewat penyedia jasa. Selain itu, kostum juga dijual di internet."

"Eh…… kamu tahu banyak juga, ya."

"Tentu saja aku sedikit melakukan riset."

Tentu saja itu bohong. Itu hanya penggunaan pengetahuan dari kehidupan sebelumnya.

Meski begitu, aku benar-benar menghormati orang yang membuat kostum sendiri sambil bekerja.

Padahal aku saja sudah kewalahan hanya dengan kuliah dan kerja paruh waktu.

Apakah motivasinya berbeda?

Meskipun sudah menjadi anggota masyarakat, mereka tetap bekerja untuk mendapatkan uang demi kostum cosplay……

……tunggu dulu.

"Ketua. Berapa umur pria itu menurutmu?"

Aku menunjuk pria yang sedang difoto oleh Nanami dan bertanya pada Shiori.

"Kenapa tiba-tiba?"

"……Dia tidak terlihat seperti pelajar, kan?"

"Yah…… benar juga. Paling muda pun usianya sudah akhir dua puluhan. Memangnya kenapa?"

"Tidak…………"

Entah mengapa aku merasa ada kejanggalan. Saat bermain game aku tidak merasa apa-apa, tapi saat hal ini menjadi nyata, hubungan antara Nanami dan pria itu terasa sangat janggal…………

Benar. Aku benar-benar lupa. Otakku secara sepihak memprosesnya sebagai sesuatu yang normal. Hubungan mereka berdua diizinkan hanya karena mereka adalah fiksi, tapi jika menjadi nyata, itu adalah masalah.

"……Ada apa, Ibuse-kun?"

Apa yang disebut sebagai pencabulan terhadap anak di bawah umur. Tentu saja, kalau itu hubungan yang sehat, tidak masalah.

Tapi, ini adalah game yang diciptakan oleh seseorang tanpa hati, yang memberikan ending seperti itu kepada Akari, Shiori, dan Noa. Kemungkinan itu jauh lebih kecil.

Kalau begitu, masalahnya adalah seberapa jauh pria itu memahami latar belakang Nanami.

Bahwa dia seorang pelajar adalah hal yang bisa diketahui setelah sedikit berpacaran, dan aku tahu setelah bicara dengan Nanami, dia tidak selugu itu. Sulit dipercaya dia akan dengan mudah memberikan tubuhnya.

Artinya, ada kemungkinan pria itu menggunakan cara tertentu. Mungkin minuman keras, atau bahkan obat-obatan…… ah, sudahlah!

Hanya event Nanami yang memiliki elemen spekulasi yang sia-sia!

Apakah otaku yang menyukai Nanami juga menyukai hal semacam ini!?

Memang benar begitu!! Tapi, perasaan bahwa aku telah dibaca seperti itu justru membuatku kesal!!

"Ibuse-kun? Wajahmu seram sekali, lho."

"Itu sudah biasa. Tapi sekarang lebih dari itu……"

Aku menundukkan kepala pada Shiori yang sejak tadi mengkhawatirkanku, lalu melanjutkan berpikir. Haruskah aku menghentikannya, atau tidak?

Bahan pertimbangannya masih terlalu sedikit. Namun, ini adalah dunia game itu.

Tidak mungkin hanya dengan memberikan damage besar pada otaku seperti kami, Nanami bisa lolos sendirian dari masa depan yang hancur.

Karena di ending di mana Nanami berpacaran dengan cosplayer itu pun, tertulis dengan jelas bahwa itu adalah bad end.

"……Mungkin aku akan meminjam kekuatan Ketua lagi."

"Dimengerti. Mari kita bersiap."

Menilai bahwa hanya berpikir tidak akan menyelesaikan masalah, aku menundukkan kepala dalam-dalam sekali lagi kepada Shiori.

Panggilan itu membuat Shiori beralih ke mode kerja dalam sekejap, dan kami berdua memutuskan untuk bergerak mendekati Nanami yang tampak bahagia.

"Benar-benar cocok sekali! Seolah-olah keluar dari anime──"

Setelah sesi foto selesai, aku mengamati Nanami yang sedang berbicara dengan pria itu dari jarak jauh. Sejauh yang terlihat dari kejauhan, tidak ada masalah apa pun.

Kalau bisa berakhir seperti ini saja sudah cukup. Saat aku berpikir begitu, Shiori yang berwajah serius menegurku.

"Apakah ada rumor buruk tentang orang itu?"

"Tidak…… hanya perasaan saja. Apa yang disebut intuisi."

Ya. Sebenarnya ini hanya intuisi. Jika mereka berdua berpacaran mulai sekarang, ada kemungkinan mereka akan melakukan hubungan yang sehat.

Kalau itu yang terjadi, tidak masalah. Tapi bagaimana cara memastikan fakta itu? Pria yang sudah sukses seperti dia tidak akan dengan mudah menunjukkan ekornya.

"Baiklah. Kalau begitu aku yang akan turun tangan. Intuisi kamu layak untuk dipercaya."

Sebelum aku sempat memberikan solusi apa pun, Shiori sudah bergerak menuju mereka berdua.

"……Jangan berbuat nekat, ya."

"Aku tahu. Kalau terjadi sesuatu, aku akan segera memanggilmu."

Pria itu seharusnya tidak punya niat untuk membuat keributan di tempat seperti ini.

Mempercayai bahwa dia akan mendapatkan bukti yang meyakinkan, aku memutuskan untuk mempercayakannya pada Shiori.

"Maaf. Bolehkah saya minta satu foto juga?"

"Eh!?"

"Ah, maaf. Saya malah asyik mengobrol…… silakan. Apakah ada pose yang diinginkan?"

Saat aku menyapa, pria itu menanggapinya dengan ramah.

Dari penampilan dan cara bicaranya, aku tidak bisa menangkap suasana yang buruk.

Semoga saja itu hanya kekhawatiran Ibuse-kun yang tidak berdasar.

"Hmm…… sejujurnya saya kurang paham dengan acara seperti ini…… hari ini saya datang untuk menemani anak ini. Dan karena Anda terlihat sangat cantik, saya jadi tidak tahan. Apakah ada pose yang direkomendasikan? Kalau begitu, tolong ya."

"Wah. Kalian berdua teman, ya?"

"……Ah, iya! Benar sekali!"

Setelah pria itu memastikan bahwa aku dan Nanami adalah teman, dia tersenyum puas.

"Terima kasih atas pujiannya. Kalau begitu, mari kita ambil pose terbaik."

Lalu dia melakukan pose yang entah apa maksudnya, dan aku pun mengambil satu foto.

Ini pertama kalinya aku memotret seseorang, tapi…… ini lumayan juga. Suatu saat aku ingin memotret wajah tidur Ibuse-kun.

"Terima kasih. Ini pengalaman yang bagus."

"Sama-sama…… ngomong-ngomong, saya tadi mengobrol dengan teman Anda di sana, apakah Anda punya rencana setelah ini?"

Begitu ya. Ternyata intuisimu tajam untuk hal semacam ini.

"Tidak, tidak ada."

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan bersama? Setelah ini ada acara after-party, tentu saja bukan hanya saya, jadi jangan khawatir."

"Tapi kami masih pelajar dan di bawah umur, jadi kalau sampai larut malam……"

"Anda tidak perlu khawatir soal itu. Karena ada peserta pelajar lainnya juga, kami berencana bubar lebih awal. Bagaimanapun juga, acara ini masih ada besok. Kami orang dewasa juga tidak bisa minum terlalu banyak."

Penjelasannya masuk akal. Terlalu rapi, bahkan. Tapi……

"……Bagaimana menurutmu?"

"Eh…… aku!?"

Aku bertanya pada Nanami yang sedari tadi menatapku dengan wajah cemas.

"Apakah kamu ingin pergi?"

"A-aku…… kalau bisa, aku ingin mengobrol lebih banyak lagi, ada juga yang ingin aku konsultasikan, dan katanya akan banyak cosplayer terkenal lain yang akan datang…… Aku juga sudah memberi tahu Ibu bahwa aku akan pulang terlambat hari ini……"

"Begitu, ya."

Aku bisa saja menarik Nanami dengan paksa. Tapi kurasa ada baiknya menyampaikan hal ini kepada Ibuse-kun sekali saja.

"Maaf. Tolong biarkan saya berpikir sejenak. Saya harus menghubungi orang tua saya dulu."

"Dimengerti. Kalau sudah berubah pikiran, silakan hubungi saya."

Setelah berkata begitu kepada kami, pria itu pergi entah ke mana. Kemudian, setelah memastikan pria itu pergi, Nanami menyapaku.

"……Apa jangan-jangan kamu mengkhawatirkanku? Tidak apa-apa, Shiori-chan. Orang itu orang terkenal, dan dia bukan orang jahat. Dia orang yang sangat baik karena mau mendengarkan konsultasi dari orang awam sepertiku."

"……Semoga saja begitu."

Memang ada teori bahwa jika dia orang terkenal maka tidak akan berbahaya.

Tapi sebaliknya, justru karena dia orang terkenal, ada banyak hal yang bisa terjadi.

Nanami bukan tidak tahu hal itu, tapi Nanami yang sekarang sudah benar-benar menuhankan pria itu.

Dia pasti menganggapnya sebagai keberadaan yang jauh. Karena itulah, dia tidak menyadari tatapan pria itu sekarang. Tatapan menjijikkan yang terus melihat tubuh kami.

Lalu, sambil mengajak Nanami yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu, kami kembali ke tempat Ibuse-kun.

"Begitu, ya……"

Saat Nanami sedang memotret cosplayer lain, aku diberitahu oleh Shiori tentang informasi yang baru saja didapat. Cara mengajak yang berpengalaman.

Dan tatapan yang diarahkan ke Shiori dan teman-temannya. Meskipun tidak bisa dipastikan, itu semua adalah informasi yang bermanfaat.

"Bagaimana? Nanami sepertinya sangat jatuh cinta pada pria itu. Jika tidak dihentikan, dia akan pergi makan dengan sukarela."

"Bagaimana, ya……"

Meski begitu, masih banyak elemen yang belum pasti. Bisa jadi itu benar-benar hanya acara makan-makan biasa.

Jika ingin memikirkan kemungkinan terburuk, aku harus menghentikannya, tapi buktinya masih terlalu sedikit. Aku ragu Nanami akan menerimanya jika aku mengatakannya.

"Ada banyak orang lain yang akan datang juga. Lagipula, tidak mungkin dia melakukan sesuatu pada anak di bawah umur. Bagaimana jika kita cukup memberikan peringatan keras kepada Nanami?"

"……Kalau begitu, aku minta Ketua untuk menemani Nanami pergi ke acara makan itu. Uangnya aku yang tanggung, dan aku akan bersiap di restoran terdekat untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu."

"Mengerti…… fufu."

Saat sedang berdiskusi serius dengan Shiori, tiba-tiba Shiori mulai tertawa.

"Ada apa?"

"Tidak…… aku pernah bilang kan, kalau orang tuaku adalah polisi? Karena itulah aku juga mengagumi hal semacam ini. Dengar-dengar orang tuaku juga bekerja bersama saat masih muda. Saling membantu, terkadang berselisih, tapi akhirnya saling mengasah kemampuan, dan tanpa disadari mereka berdua…… ah……"

Saat aku mengira dia sedang membanggakan orang tuanya, wajah Shiori tiba-tiba memerah dan dia mulai panik.

"Bukan begitu!? Ini bukan berarti aku mengatakan kita berdua seperti orang tuaku, lho!?"

"……Ya iyalah, kan?"

"………………Si bodoh yang tidak peka."

"Kenapa!?"

Aku menanggapi hal yang sudah seharusnya, tapi entah mengapa Shiori malah menjadi kesal.

"……Sudahlah. Aku akan memberi tahu Nanami kalau aku juga ikut. Dia sendiri pun akan merasa sedikit lebih tenang daripada pergi sendirian."

"Tolong, ya. Dan juga──"

"Jangan berbuat nekat, kan?"

Sebelum aku memperingatkannya, Shiori menjawab sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri.

"……Begitulah."

Aku merasa gugup melihat sikap yang terlihat dewasa sekaligus kekanak-kanakan itu, dan aku tidak sengaja membuang muka dari Shiori.

"…………Ada apa?"

Mungkin karena dia merasakan sesuatu dari sikapku, Shiori masuk ke dalam pandanganku yang tadinya aku hindari, lalu mengintip wajahku.

"Tidak. Tidak ada apa-apa."

"Bohong. Kamu pasti menyembunyikan sesuatu setiap kali bersikap seperti itu. Coba katakan. Aku tidak akan marah, jadi katakanlah. Ayo."

Shiori terus mendesakku dengan gigih. Padahal dia sendiri yang menyebutku bodoh yang tidak peka, tapi dia sendiri seperti ini. Seharusnya tadi aku arahkan cermin padanya.

"Sudahlah. Percuma menyembunyikannya sekarang. Apa kamu berencana melakukan sesuatu di belakang seperti saat menolongku? Ingin pamer di depan Nanami?"

"Bukan begitu. Lagipula, tolong jangan ungkit masalah itu lagi. Aku sangat malu saat ketahuan……"

"Kalau begitu, jujurlah. Ayo ayo. Jangan pikir kamu bisa melawanku."

Jika sudah begini, Shiori benar-benar sangat gigih. Sebenarnya aku bisa saja jujur……

"……………Kalian terlihat bersenang-senang, ya, Shiori-chan."

"Eh!? Tidak…… tidak senang, ya!? Sama sekali tidak!!"

Saat kami sedang berinteraksi seperti itu, Nanami kembali dan menyapa Shiori sambil nyengir. Menerima godaan dari Nanami, Shiori kembali panik, dan berkat itu, desakan padaku jadi terlupakan.

Setelah itu, saat Shiori memberi tahu bahwa dia telah memutuskan untuk ikut acara makan-makan tadi, Nanami sangat senang dan menghubungi pria itu.

Lalu, acara makan-makan yang dimaksud dimulai, dan aku menunggu selama satu jam di kedai kopi terdekat, memikirkan kapan giliranku akan tiba.

Selama waktu itu, tidak terjadi apa-apa.

Aku sudah meminta Shiori untuk segera menghubungiku jika terjadi sesuatu, tapi tidak ada kabar selama tiga puluh menit.

Restoran tempat mereka masuk juga merupakan jaringan restoran terkenal di dunia ini, ada banyak pelanggan lain di sana, dan suasananya tidak seperti akan terjadi masalah.

Itu adalah jangkauan yang sudah bisa dibayangkan sejak awal. Bahkan di dalam game, tidak ada cerita tentang Nanami yang terlibat dalam sebuah insiden.

Aku juga sempat mencari pria itu di internet saat menunggu, tapi tidak ada satu pun rumor buruk yang muncul.

"Haa……"

Karena segalanya berjalan lancar sejauh ini, aku pikir kali ini pun akan baik-baik saja.

Lawannya bukan pelajar seperti yang selama ini aku hadapi. Jika mempercayai kata-kata Shiori, seharusnya ada sesuatu.

"…………Bagaimana, ya."

Saat aku sedang pusing memikirkan apa yang harus dilakukan di tengah bau kopi yang tidak kusukai, ponselku berbunyi. Saat melihat layarnya, ternyata itu dari Shiori.

"Ada apa!"

"…………Terlalu terburu-buru, Ibuse-kun."

Shiori sempat terkejut dengan suaraku yang menjawab telepon dengan penuh semangat, tapi dia segera menjadi tenang dan berbicara seolah mendinginkan emosiku.

"……Sudah bubar. Tidak terjadi apa-apa."

"…………Begitu, ya."

"Ibuse-kun. Aku merasa kecewa."

Suara Shiori dari seberang telepon terasa agak gemetar, dan terdengar seolah dia sedang memikirkan sesuatu dengan mendalam.

"Ternyata dugaan kita benar. Pasti ada sesuatu pada pria itu. Saat makan tadi pun ada beberapa perilaku yang mencurigakan. Tapi kalau dibilang itu kebetulan, aku tidak punya bantahan. Meski kecewa, aku sendiri tidak bisa mencapai apa yang disembunyikan oleh pria itu."

Jika bahkan Shiori yang ada di tempat kejadian tidak bisa melihat semuanya, berarti dia memang lawan yang tangguh. Mungkin dia memang seorang profesional.

"Masalah ini akan aku bicarakan dengan orang tuaku. Jika begitu, mungkin bukti bisa didapatkan. Untuk Nanami…… aku sendiri yang akan memberikan peringatan keras. Agar dia lebih berhati-hati dalam berkomunikasi dengan orang yang dikenal melalui internet."

"……Tolong, ya."

Kami mematikan telepon, dan karena aku harus bergabung dengan mereka berdua, aku memutuskan untuk meninggalkan kedai kopi.

"Senang sekali! Hari ini senang sekali bisa datang! Terima kasih sudah menemani kami berdua!"

"Begitu, ya. Syukurlah."

"……Benar juga."

Nanami yang baru selesai acara makan tampak sangat senang. Rasa pemalu yang biasanya muncul entah ke mana. Dia menceritakan hal hari ini dengan gembira.

Aku melihat sekilas sosok malaikat di dalam game pada dirinya. Jika dibiarkan seperti ini, dia akan terus maju sesuai dengan game dan berpacaran dengan pria itu. Bahkan jika aku meminta orang tua Shiori untuk menyelidiki pria itu, kemungkinan besar itu tidak akan sempat.

Jika sudah begitu, aku tidak bisa menolong Nanami meskipun dia terlibat dalam sesuatu.

Kalah total. Ini bukan lawan yang bisa dikalahkan oleh mahasiswa yang tidak memiliki kelebihan apa pun bahkan di kehidupan sebelumnya.

Pria itu berada di ranah yang tidak bisa dicapai oleh anak ingusan yang merasa sudah mengenal masyarakat melalui game dan kerja paruh waktu.

"………………"

Shiori yang sedang menjadi teman bicara Nanami menatapku dengan pandangan "Apa yang akan kamu lakukan?". Aku tahu aku harus melakukan sesuatu. Jika kata-kata Shiori benar, seharusnya ada sesuatu pada pria itu.

Tapi bagaimana cara menghentikannya. Pilihan mana yang bisa menyelamatkannya.

Apa yang harus kukatakan agar Nanami yakin untuk tidak berurusan dengan pria itu.

Aku tidak tahu. Apa yang harus kulakukan……

"Ah, sepertinya keretanya akan segera datang! Cepat!"

"Eh!?"

Saat aku sedang melamun, tanpa sadar kami sudah sampai di stasiun.

Suara nyaring itu terdengar dari peron seolah mendesak keputusanku.

"……Tunggu!"

"Eh!?"

Tanpa sadar aku menggenggam tangan Nanami.

Aku merasa jika dia naik kereta sekarang, semuanya akan berakhir, dan aku tidak memikirkan apa pun lagi setelahnya.

"A-apa yang terjadi!?"

Apa yang terjadi, itu yang ingin kutanyakan.

Apa yang ingin aku lakukan. Mengapa aku berpikir begitu keras dan begitu terobsesi dengan Nanami sampai sejauh ini.

……Tidak, hanya ada satu alasan. Aku ingin menolong orang yang berada dalam jangkauanku. Itu saja sudah cukup, kan.

"Hei, Nanami. Apakah kamu menyukai pria itu?"

"Eh!? S-suka atau apa, bukan yang seperti itu……"

"Kalau begitu, bisakah kamu berhenti menemuinya?"

"Eh…… kenapa Ibuse-kun sampai……"

Jika sudah begini, aku akan mencoba peruntunganku. Hanya ini cara yang kupikirkan untuk menolong Nanami. Pilihan yang paling sederhana sekaligus kuat. Itu adalah……

"Nanami………… aku mencintaimu."

Menerima pengakuan dariku, Nanami berhenti bergerak sepenuhnya, dan Shiori yang tadinya terlihat cemas di sebelah Nanami juga terlihat seperti seseorang yang kaget setengah mati.

"Aku, sudah sejak lama…… menyukaimu."

"Eh?? Apa……?? Eh? Aku??"

Sepertinya dia tidak mengerti maksudnya. Tentu saja, kalau dikatakan secara tiba-tiba seperti ini, tidak mungkin dia bisa mengerti.

"Artinya seperti yang aku katakan."

Aku terus merangkai kata-kata untuk mendesak Nanami yang sedang bingung.

Lagipula, aku sendiri juga sangat malu. Wajahku benar-benar terasa seperti terbakar.

"Karena itu, jangan temui pria seperti itu lagi. Dan, jadilah pacarku."

"Eh…… ah………… itu…… meskipun dikatakan tiba-tiba……"

Nanami yang akhirnya mengerti pengakuanku mulai merasa canggung dan kembali ke Nanami yang biasanya, seolah sikapnya yang semangat tadi adalah bohong.

Demi memberikan serangan penentu kepada Nanami, aku memberanikan diri mendekatinya meski rasa malu terus menggerogoti.

Aku melontarkan kata-kata manis paling pasaran yang terlintas di otakku, khas Ibuse Reo.

"Jadilah wanitaku."

"H-hee!?"

Mendengar itu, wajah Nanami memerah padam. Dia mendorongku hingga terjungkal, lalu berteriak sekeras yang pernah kudengar seumur hidupku.

"T-tolong biarkan aku berpikir duluuu!!"

Dia berteriak seperti itu, menarik perhatian semua orang di sekitar, lalu melarikan diri melewati gerbang tiket dan menghilang ke arah peron stasiun.

"………………Haa."

Kini, semua tatapan mata tertuju padaku. Rasanya sakit sekali.

Ya, wajar saja, siapa yang tidak bingung melihat orang menyatakan cinta di depan gerbang tiket?

Ditambah lagi, aku malah ditolak mentah-mentah. Bisa-bisa aku jadi bahan tertawaan di internet nanti.

Tidak, masalahnya bukan itu…………

"Ibuse-kun?? Bisa jelaskan maksudmu barusan??"

Untuk saat ini, berurusan dengan Ketua OSIS yang sedang marah besar di sampingku ini adalah prioritas utama.

"Oh, jadi begitu maksudnya……… jangan bikin aku kaget dong……"

"Maaf……"

Kami duduk di bangku dekat stasiun, dan aku menjelaskan maksud dari pernyataan cinta tadi kepada Shiori. Tentu saja, aku tidak menceritakan soal kehidupan masa laluku.

Aku berdalih bahwa itu hanyalah taktik putus asa yang tiba-tiba terpikirkan untuk menghentikan Nanami.

"Tidak, tetap saja itu tidak dibenarkan, Ibuse-kun. Menyatakan cinta sebagai kebohongan itu buruk. Tidak bisakah kamu memikirkan rencana yang lebih masuk akal? Bagaimana jika Nanami menganggapnya serius?"

"……Maaf. Tapi kalau itu terjadi, aku akan bertanggung jawab."

"Tapi, bukankah kamu sudah punya Akari-chan……"

Shiori terdiam saat hendak menyebut nama Akari. Dia pasti sedang berusaha menjaga perasaanku.

Tapi, meski tidak perlu dilakukan pun, aku sudah mengerti.

"Tenang saja. Aku paham perasaan Sera."

"……Apa yang tenang!? Kalau kamu paham, jangan asal bicara soal tanggung jawab!"

Shiori yang marah dengan ucapanku langsung berdiri, lalu mencengkeram kerah bajuku sambil memarahiku. Namun, aku tidak punya hak untuk membantah kemarahannya.

"Aku kecewa padamu! Aku pikir kamu adalah orang yang lebih memikirkan perasaan orang lain…………"

Aku bahkan sudah siap untuk dipukul. Namun, Shiori perlahan meredam emosinya yang meledak-ledak, melepaskan kerah bajuku, dan kembali duduk di bangku.

"…………Maaf. Aku kehilangan kendali."

"Tidak…… kemarahan Ketua memang pantas."

Shiori terdiam sejenak. Seolah telah membuat keputusan, dia mengembuskan napas panjang lalu menoleh ke arahku.

"Kamu bilang akan bertanggung jawab jika Nanami menganggapnya serius, bukan? Lalu, bagaimana dengan Akari-chan?"

"……Aku akan bertanggung jawab."

"Negara ini tidak menganut sistem poligami, tahu."

"……Kalau begitu, ayo kita ubah hukumnya."

"Jangan bercanda……"

Mendengar ucapanku yang konyol, Shiori tersenyum tipis, lalu tiba-tiba menepuk-nepuk pahanya sendiri.

"Sini."

"……Aku tidak mau."

"Sini."

"Anu, orang-orang melihat…………"

"Sini!"

"…………Baik."

Menilai bahwa membuat Shiori semakin marah bukanlah ide bagus, aku memutuskan untuk patuh dan merebahkan kepalaku di atas pangkuan Shiori.

"Kenapa? Wajahmu merah sekali?"

"Ya iyalah…… kan dilihat orang."

"Begitu, ya. Kalau begitu, ini hukumannya. Nikmatilah sepuasmu."

Bukan hanya dipangku, dia juga mengelus rambutku seolah menyisirnya satu per satu. Rasa malunya sudah tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.

"Andaikata Nanami menganggap pernyataan cintamu serius…… aku akan membantumu. Terlepas dari Nanami, Akari-chan pasti akan marah. Kalau itu terjadi, kamu tidak akan bisa menanganinya sendirian."

"…………Terima kasih."

"Bagiku pribadi, dibandingkan pria mencurigakan seperti tadi, aku lebih mudah mempercayakan Nanami padamu. Eh, tapi kamu juga tadi terus menatap dada Nanami, jadi kalian berdua sama saja, ya?"

"……Ya dilihat lah, itu kan barang bagus."

"Iya, iya. Kamu akan dimarahi Akari-chan lagi nanti."

Dia berbicara dengan suara yang lembut, seolah sedang menenangkan seorang anak kecil.

Aku tak pernah menyangka hari akan tiba di mana aku bisa dipangku oleh Shiori dan dielus kepalanya. Sungguh sebuah siksaan yang membahagiakan.

"Oh, rambut pirang kebanggaanmu ini mulai menghitam, ya. Bukankah sudah saatnya dicat ulang? Ah, tapi Nanami mungkin takut dengan rambut pirang, jadi sebaiknya kembalikan saja ke warna hitam."

"Warna rambut apa pun tidak masalah bagiku……"

"Tidak bisa. Aku tidak mengizinkannya. Karena kamu ingin menjadi pacar Nanami, kamu harus mendengarkan saranku."

……Tidak, tetap saja tidak bisa. Situasi ini benar-benar terlalu memalukan. Aku tidak tahan.

Jika sudah begini, aku akan berpura-pura tidur untuk mengalihkan perhatian. Atau lebih baik lagi, aku benar-benar tidur saja.

"……Apa kamu mendengarkan?"

Aku mengabaikan pertanyaan Shiori. Aku sengaja mengatur napas seolah tertidur lelap karena kelelahan, dan membiarkannya percaya begitu saja.

"Fufu. Hari ini kamu sudah bekerja keras menjaga kewaspadaan, ya. Tidurlah."




Begitu saja. Karena itu, diamlah dan biarkan aku tidur. Aku ingin lari dari rasa malu ini sampai kereta berikutnya datang.

"……Hei, Ibuse Reo-kun."

Tiba-tiba, Shiori membisikkan namaku di dekat telinga. Firasatku buruk sekali.

Aku merasa jika tidak bangun sekarang, aku akan mendengar sesuatu yang sangat tidak terduga.

Aku mencoba membuka mata, tapi……

"Aku mencintaimu."

Keputusanku terlambat beberapa detik, dan aku pun mendengar perasaan yang selama ini Shiori simpan rapat-rapat.

Selasa, 16 Juli. Di rooftop saat jam istirahat.

"Panasnya…………"

Satu minggu yang panjang akhirnya berlalu, dan aku sedang melahap onigiri yang kubeli di minimarket di bawah terik matahari rooftop.

Katanya Akari sedang berlatih saat jam istirahat untuk turnamen musim panas. Aku harus memikirkan hadiah yang pantas untuknya nanti.

Aku sempat bertemu Nanami di kelas tadi, tapi begitu mata kami bertemu, dia langsung lari.

Mungkin memang benar, aku sebagai Ibuse Reo tidak akan bisa masuk ke rute Nanami.

Aku menyesali rencana nekat yang kulakukan hari itu.

Lalu, Shiori…………

"Aku mencintaimu."

"Aaaaaaa……"

Hanya dengan mengingat kata-kata hari itu saja, aku sudah merasa tersiksa.

Kenapa dia tiba-tiba menyatakan cinta?

Apa dia tidak memikirkan kemungkinan kalau aku sebenarnya sudah bangun saat itu?

Tidak, mungkin itu artinya aku sudah sangat dipercaya oleh Shiori.

Saat dia marah karena ucapanku soal "bertanggung jawab", dia langsung tenang kembali.

Mungkin dia berpikir bahwa aku benar-benar bersungguh-sungguh. Itu justru membuat hatiku terasa semakin sesak.

"Harus gimana, ya……"

Karena itulah, aku sulit bertemu muka dengan Shiori dan memilih ke rooftop daripada ke ruang OSIS.

Melihat wajah Shiori saja sudah cukup untuk membuatku teringat kata-kata hari itu.

"Ternyata benar kamu di sini."

Di tengah lamunanku, pintu rooftop terbuka dengan sendirinya, dan sosok Ketua OSIS yang menjadi sumber kegelisahanku muncul.

"Kenapa baru sekarang? Aku khawatir karena kamu tidak datang."

"Tidak…… kupikir ada hari-hari seperti ini."

Tetap saja tidak bisa. Aku tidak bisa menatap matanya. Fakta bahwa aku ditembak oleh wanita cantik seperti Shiori terlalu berat untuk ditanggung.

"Begitu? Tapi di sini terlalu panas, bukan? Datanglah ke ruang OSIS sekarang. Aku sudah menyalakan AC. Nyaman, lho."

"Hmm……"

Bukan kenyamanan yang kucari, tapi berada di ruang yang sama denganmu itu tidak nyaman. Sadarilah, wanita yang tidak peka.

"……Jangan-jangan, Ibuse-kun."

Mungkin karena menyadari sikapku yang menghindari tatapan mata, Shiori berjalan ke belakangku dan berbisik di dekat telinga.

"Apa kamu malu karena sempat tidur di pangkuanku?"

"Uh……!?"

Bukan itu!! Kamu yang mengatakan hal yang lebih memalukan!!

"Jangan malu-malu. Itu artinya pelukanku sangat nyaman."

"Bukan malu, sih……"

Aku ingin sekali mengatakannya padamu! Bahwa kamu yang menyatakan cinta padaku!! Aku ingin kamu menghargai perhatianku!!

Saat aku sedang mengeluh dalam hati, Shiori akhirnya menjauh dan mulai berbicara dengan nada serius, seolah itu adalah inti pembicaraannya.

"Yah, itu tadi cuma bercanda. Cepatlah ke sana. Ada bekal untukmu, dan ada murid yang ingin berbicara denganmu."

"…………Mengerti."

Pada saat seperti ini, pasti hanya ada satu orang yang ingin bicara denganku.

Pernyataan cinta dari Shiori memang penting, tapi menyelesaikan masalah itu lebih mendesak.

Aku pun dengan terpaksa mengikuti Shiori menuju ruang OSIS.

"Ah………… se-selamat siang."

Seperti dugaanku, yang menunggu di dalam ruang OSIS adalah Nanami.

Entah mengapa, melihatnya kembali ke mode otaku yang biasa malah membuatku lega.

"Nah, Nanami. Katakan dengan jelas."

"I-iya…………"

Didorong oleh Shiori, Nanami yang tampak gugup berjalan ke arahku.

"E-ehm…… soal hari itu…… tentang jawaban dari…… Ibuse-kun……"

"…………Ya."

Nanami menarik napas dalam-dalam berulang kali, lalu…………

"Maafkan aku!!!!"

"Uh……!!"

Aku ditolak. Dengan kepala yang menunduk dalam, penolakan ini begitu telak dan sangat mempesona.

"Kufuh………………"

Melihat pemandangan itu, Shiori di samping tidak bisa menahan tawa. Aku ingin sekali memprotesnya, tapi masalah Nanami jauh lebih penting.

Karena rencana ini gagal, aku harus menghentikan pria itu mendekati Nanami, meskipun harus dengan berlutut.

"A-apa boleh aku bertanya alasannya……?"

Aku bertanya meski hatiku terluka. Nanami menjawab dengan gugup.

"Ibuse-kun orang yang baik dan lembut…… aku tahu itu………… tapi entah kenapa terasa menakutkan, tubuhmu besar…… ditambah lagi rambut pirang…… dan lagi, kita tidak begitu dekat…………"

"Uh…………!!"

"……Fufu…… tidak tahan…… maaf Ibuse-kun…… aku tidak bisa menahannya…………"

Mendengar alasan yang sangat masuk akal dari mulut Nanami, aku terkena serangan telak. Shiori pun akhirnya tidak bisa menahan tawa.

"Ketua, tertawanya keterlaluan, lho……?"

"Habisnya……… fuf, kukuku…… bukan cuma karena semangat Nanami…… tapi reaksimu juga……"

"……Aku baru saja ditolak, lho? Tidak bisakah kamu memberikan kata-kata penghiburan?"

"Yah, maaf. Nanti aku pangku lagi sebagai gantinya."

"Itu tidak perlu!"

Shiori benar-benar menikmati perannya yang mempermainkanku.

Saat aku berpikir untuk membalasnya dengan mengungkit pernyataan cintanya hari itu, Nanami yang melihat interaksi kami bergumam pelan, "Ternyata……", lalu menyapa kami kembali.

"I-itu…… soal orang itu…… Shiori-chan juga bilang untuk tidak bertemu dengannya secara pribadi…… aku juga sempat terbawa suasana hari itu, tapi kalau dipikir lagi, itu benar……"

……Oh? Apakah ini artinya?

"Begitu ya, Nanami! Kamu sudah memikirkannya kembali!"

Shiori menanggapi ucapan Nanami dengan senang. Sepertinya bujukan kami berdua berhasil.

"Ja-jadi begini? Sebagai gantinya…… entah bagaimana…… aku punya permintaan pada kalian berdua…………"

"Katakan saja! Bagaimana, Ibuse-kun?"

"……Ya, boleh saja."

Sebenarnya aku tidak suka dia memutuskan sendiri, tapi kalau permintaan itu bisa mencegah bad ending, maka itu harga yang murah.

"Ja-jadi!"

Nanami menarik napas lebih dalam dari saat dia menolakku tadi, lalu menunduk lebih semangat lagi.

"Tolong lakukan cosplay denganku di acara musim panas ini!!"

"["Hah?"]"

"Cosplay…… maksudmu yang waktu itu?"

Shiori bertanya sambil memiringkan kepala. Nanami mengangguk-angguk bersemangat dan menunjukkan layar ponselnya kepada kami.

"Lihat ini dulu……"

Di sana terlihat pakaian yang sangat mirip dengan yang ada di anime atau manga, baik versi pria maupun wanita.

"Sebenarnya…… membuat baju seperti ini adalah hobi saya."

"Ini Nanami yang buat!? Hebat sekali!"

"Ehehe……"

Kualitasnya memang luar biasa. Kalaupun dibilang kostum cosplay mahal dari toko, aku tidak akan curiga.

"Jadi…… impianku adalah melihat seseorang mengenakan kostum buatanku. Kalau aku sendiri yang pakai, kostum ini tidak akan terlihat bagus…… dan dunianya akan hancur. Aku tidak mau itu terjadi."

"Tidak juga! Nanami pasti terlihat cocok! Ya kan, Ibuse-kun!"

"…………Yah, begitulah."

Tolong jangan minta persetujuanku untuk hal yang sulit kujawab.

Aku baru saja patah hati, tahu.

"Lalu…… aku sempat berkonsultasi dengan orang itu. 'Bisakah Anda mengenakan kostum buatanku?' Dia bilang mari kita bicara lebih lanjut saat karaoke nanti…… untuk saat ini aku menolaknya……"

Jadi begitu, ternyata dia mengincar pertemuan di hari lain. Pantas saja hari itu tidak terjadi apa-apa.

"Tapi aku tidak bisa menyerah begitu saja dengan acara tahun ini…… lalu, sejak melihat Ibuse-kun dan Shiori-chan berdiri berdampingan, aku terus memikirkan satu hal."

Nanami mengeluarkan sebuah novel dan menunjukkan sampulnya kepada kami.

"Kalian berdua sangat mirip dengan Wolf dan Celia dari 'Hangan' ini!"

"Hangan……? Wolf? Celia?"

Shiori sepertinya tidak paham, dia hanya bisa memiringkan kepala dengan tanda tanya besar di atasnya. Nanami pun mulai menjelaskan dengan penuh semangat.

"'Hangan' itu singkatan, judul aslinya 'Hand Gauntlet'. Ini novel, tapi aslinya manga dan sangat menarik, aku ingin kalian membacanya. Tokoh utamanya Wolf dan Celia. Wolf pria liar berambut perak ini, dan Celia wanita serius berambut merah ini. Kostum di foto tadi kubuat berdasarkan versi novel ini. Manga juga bagus, tapi aku lebih suka kostum versi ini. Lihat, ada desain satu sama lain di kostum mereka. Celia punya bekas cakar perak di sini, dan Wolf punya elang merah di dadanya. Dan lagi──"

"Ooh……… begitu………………"

Sepertinya Nanami adalah tipe otaku yang tidak bisa berhenti kalau sudah semangat.

Padahal otak Shiori mungkin sudah overheat, tapi Nanami belum mau berhenti. Aku harus segera menghentikannya.

"Jadi, kenapa itu membuat kami harus cosplay?"

"──Eh…… ah,………… maaf…… pembahasannya jadi…… ya……"

Nanami akhirnya sadar setelah kuhentikan. Wajahnya memerah padam dan dia menunduk.

"Jadi itu…… karena Ibuse-kun dan Shiori-chan mirip sekali dengan karakter ini…… singkatnya…… ehmm…………"

Karena terlalu malu, Nanami sampai tidak bisa merangkai kata.

Tapi aku sudah paham maksudnya. Intinya, dia ingin melihat kami berdua melakukan cosplay sebagai karakter ini.

Aku sendiri sebenarnya tertarik dengan cosplay, dan jika ini bisa menghentikan flag Nanami dengan pria itu, maka ini adalah kesempatan emas. Aku akan menurutinya sampai dia puas.

"Baiklah. Aku akan melakukannya."

"Eh………… sungguh……?"

Nanami terkejut mendengar jawabanku. Mungkin dia tidak menyangka berandalan sepertiku mau mengiyakan cosplay.

"Ketua juga tidak keberatan, kan?"

"…………Ah, tentu saja!"

Sepertinya dia tidak mendengar pembicaraan tadi. Yah, kurasa Shiori tidak akan keberatan.

"Jadi begitu. Sudah selesai, kan?"

"……I-iya!"

Setelah memastikan Nanami, kami pun memutuskan untuk berpartisipasi dalam acara besar di musim panas nanti.

Lebih penting lagi……

"Tapi, apakah cerita itu menarik?"

"Eh…… ah, 'Hangan'?"

"Ya, 'Hangan'. Kalau bisa, aku harus punya sedikit pengetahuan sebelum melakukannya."

"…………Ah, eh…… gimana ya. Aku tidak bawa manganya…… apa streaming animenya ada season 1…… ah tapi kalau Ibuse-kun tidak berlangganan, susah juga……"

Nanami mulai bingung. Aku menunjuk novel yang dipegangnya.

"Apa novel itu bisa?"

"……Ah! Eh, Ibuse-kun mau membaca novelnya!?"

"Ya. Besok akan kukembalikan, kita berkumpul lagi di ruang OSIS saat jam istirahat."

"…………I-iya!!"

Begitulah, aku meminjam novel dari Nanami dan membacanya sesampainya di rumah.

"Sudah lama sekali tidak melakukan hal seperti ini."

Karena lebih mudah membaca manga atau anime, aku tidak pernah membaca novel setelah jadi mahasiswa di kehidupan sebelumnya.

"Mari kita lihat kemampuan penulisnya……"

Dua jam kemudian……

"Versi manga ada…… 15 volume…… oh, ada versi digital, untunglah."

Dua jam kemudian……

"Gerakannya bagus untuk anime zaman dulu…… tapi agak aneh juga……"

Lima jam kemudian……

"………………Visual season 2 terlalu bagus. Dewa."

Rabu, 17 Juli. Di ruang OSIS saat jam istirahat.

"Ti-tidak apa-apa, Ibuse-kun……?"

"Tidak apa-apa………… aku masih hidup……"

Kami berkumpul di ruang OSIS sesuai janji untuk mengembalikan buku, tapi Nanami tampak khawatir melihat kondisiku yang kelelahan.

Ngomong-ngomong, Shiori sudah memarahiku, "Kamu bodoh ya."

Aku pikir karena tubuh ini masih muda, begadang semalam suntuk tidak masalah, tapi ternyata tidak.

Mungkin penyebabnya karena tubuh Ibuse Reo ini tidak terbiasa menonton anime. Sungguh melelahkan. Mataku sakit. Rasanya ingin muntah.

Tapi lebih dari itu……

"Hei, Kinoshita…………"

"I-iya……"

Aku menahan getaran tubuhku, memegang novel dengan kedua tangan, dan menyerahkannya kepada Nanami.

"Ini…… luar biasa…………!"

"……Benar kan!!!!"

Mendengar kata-kataku yang nyaris sekarat, Nanami sangat senang dan menatapku dengan senyuman malaikat.

Jumat, 19 Juli.

Ruang OSIS saat jam istirahat. Anggota di ruang yang kami pinjam ini bertambah satu.

"Hei Ibuse-kun. Ngomong-ngomong, kamu sudah nonton anime yang kita bicarakan kemarin?"

"Tentu saja."

"E-eh…… bagaimana?"

"…………Dewa."

"……Benar kan, benar kan!! Aku tahu Ibuse-kun pasti mengerti!!"

Nanami menatapku dengan mata yang berbinar.

Sejak dua hari lalu, kami mulai membicarakan anime dan manga di ruang OSIS.

Nanami senang sekali aku menyukainya dan terus memberi rekomendasi karya lainnya.

Aku sendiri, karena dampak dari kehidupan sebelumnya yang tidak sempat otaku-an, sejak kemarin mulai menonton anime dan manga setiap ada waktu luang.

"Tapi cara berakhirnya itu, jangan-jangan……"

"……!! Benar!! Ada filmnya!! Musim panas ini!!"

"Astaga…… serius?"

"Kalau mau, berdu…… eh, tidak……"

Nanami tidak melanjutkan ajakannya. Mungkin dia tidak sengaja mengatakannya.

Tapi aku sendiri ingin menonton filmnya.

Dan setelah menontonnya, aku ingin segera membicarakannya.

Jadi aku memutuskan untuk mengajak duluan.

"Hei, Kinoshita."

"I-iya!"

"Kalau aku menonton film anime sendirian, rasanya canggung sekali. Aku akan senang kalau kamu mau menemaniku."

"………………Tentu saja! Dengan senang hati!"

Nanami menjawab ajakanku dengan senyuman lebar. Benar-benar malaikat. Setelah melihatnya dari dekat, dia memang sangat cantik.

Tidak heran otaku lain salah paham. Aku sendiri juga hampir jatuh cinta kalau saja tidak ditolak sekali.

"Ngomong-ngomong, Ibuse-kun. Bagaimana kondisi Akari-chan?"

"Katanya sedang bagus. Turnamennya lusa…… jadi mungkin dia akan kembali hari Senin?"

Akari tidak pernah muncul di ruang OSIS sejak hari itu. Katanya, "Aku menahan diri untuk tidak bermanja dengan Senpai!"—alasan yang tidak masuk akal.

Omong-omong, aku sudah menceritakan soal Nanami kepadanya.

Tentu saja, lewat telepon dia berteriak, "Ternyata dia memang suka dada! Menambah wanita lagi!! Dasar mesum!!"

"Begitu ya. Jadi akan kembali ramai."

"Kinoshita juga hati-hati ya. Kamu pasti akan banyak diganggu."

"Ahaha……"

Meski begitu, waktu kami bersantai di sini tidak banyak.

Setelah liburan musim panas berakhir, akan ada pemilihan OSIS, jadi kalau Ketua berganti, kita tidak akan bisa masuk lagi.

Bagaimana ya kalau musim dingin nanti?

"……Oh iya, kalian berdua. Soal cosplay…… apakah hari Minggu pertama liburan musim panas kalian ada waktu……?"

"Ada, tapi kenapa?"

"Itu…… aku ingin menyesuaikan ukuran kostumnya…… aku sudah berusaha, tapi rasanya lebih mudah kalau orangnya ada di depan mata……"

Karena tidak ada alasan untuk menolak, kami menyetujui ajakan Nanami.

"Aku bisa."

"Aku juga tidak keberatan."

"……Terima kasih!"

Begitulah, rencana hari pertama liburan musim panas ditentukan, dan kami akan pergi ke rumah Nanami pada siang hari.

Minggu berikutnya, Senin 22 Juli.

Kami menunggu Akari yang berhasil mencetak prestasi di turnamen, tapi……

"Dia tidak datang ya……"

Sudah sepuluh menit jam istirahat berlalu, tapi Akari tidak muncul.

"Bukankah Akari-chan bilang dia akan datang?"

"Iya sih, apa dia sibuk?"

"Uuu…… aku deg-degan……"

Mungkin Akari merayakannya dengan teman sekelasnya. Kami harus menunggu saja.

Saat aku hendak menyarankan itu, tiba-tiba.

"Ibuse Reo!!!!"

Brak!

Suara yang paling tidak ingin kudengar dan seorang gadis dengan desain karakter yang mencolok muncul setelah membuka pintu ruang OSIS dengan kasar.

"Aku sudah dengar semua perbuatan jahatmu dari Kakak…… wah, sejuk!? Eh!? Pakai AC!? Curang!"

"Tenanglah, Sakura……"

Gadis dengan gaya rambut twintail itu masuk dengan angkuh, lalu terkejut dengan kesejukan ruangan.

Di belakangnya, Akari tampak canggung dan menunduk pada Shiori.

"Aku sudah dengar rumornya…… tapi tidak menyangka kalian benar-benar menjadikan ruang OSIS milik pribadi……"

Rumornya sudah tersebar ya. Tentu saja.

"Dasar pria sampah! Segera jauhi Akari! Kalau tidak──"

"Hei, anak kelas satu."

"I-iya!?"

Terhadap kesewenang-wenangan gadis yang baru muncul itu, Shiori yang sejak tadi diam akhirnya buka suara.

Begitu mendengar suaranya, semua orang di ruangan itu langsung duduk tegak dan menunggu perkataan Ketua OSIS selanjutnya.

"Kamu pikir ini di mana?"

"……Ruang OSIS."

"Begitu. Lalu, saat masuk ke ruang OSIS, apa yang seharusnya dilakukan?"

"…………Mengetuk pintu."

"Oh, hebat. Kamu tahu, ya. Lalu, bagaimana seharusnya membuka pintu?"

"…………Pelan-pelan……"

"Bagus. Lalu, murid kelas dua yang ingin kamu temui itu, apakah kamu kenal dengannya?"

"Ti-tidak…… baru pertama kali bertemu……"

"Oh. Jadi menurutmu biasa bagi murid kelas satu untuk menggunakan bahasa tidak formal, apalagi memaki senior yang baru pertama kali ditemui?"

"Bukan begitu…… biasanya, aku menggunakan bahasa sopan……"

"Begitu ya. Baiklah, coba ulangi lagi."

"Iya………… maaf……"

Gadis yang terus dicecar Shiori itu keluar dengan lemas dari ruang OSIS, lalu mencoba adegan masuk kembali.

"Permisi……"

"Silakan."

Semangat tadi sudah hilang.

Dia mengetuk pintu dengan lembut dan menggesernya dengan hati-hati. Bahkan twintail kesayangannya tampak tidak bersemangat.

"Namamu?"

"Kelas satu-tiga…… Miyano Sakura…… kudengar Senior Ibuse Reo ada di sini……"

"Hmm. Begitu, Ibuse-kun. Boleh aku izinkan?"

"Iya…… silakan……"

Aku juga ikut tertekan dengan tekanan Shiori.

Aku lupa kalau Shiori itu tipe orang yang sangat disiplin.

Aku harus berhati-hati agar tidak membuatnya marah. Rasanya nyawaku tidak cukup.

"Permisi……"

Gadis itu…… Miyano Sakura, adik dari tokoh utama Miyano Kaede, berjalan ke arahku dengan menunduk.

"Uwe…… hik…… ceguk……"

"Sakura!?"

Sakura mulai menangis sebelum mengatakan apa pun. Akari berlari menghampirinya untuk menenangkan.

Aku sedang berpikir apakah harus berkata sesuatu, tapi Sakura menatapku dengan mata besarnya yang basah.

"Kali ini aku maafkan!! Ingat ini ya!!"

Dia berteriak dengan penuh kekalahan, lalu meninggalkan Akari dan lari keluar dari ruang OSIS.

"Begitu ya. Sepertinya anak kelas satu yang satu ini layak untuk dididik……"

"Maaf, maaf, maaf! Dia bukan anak jahat! Tolong maafkan dia!"

Akari terus meminta maaf pada Shiori yang masih tampak marah. Nanami gemetar melihat keributan ini, dan aku pun merasa canggung.

Anak itu adalah Miyano Sakura, adik tidak sedarah Miyano Kaede.

Dia adalah satu-satunya karakter yang tidak punya bad ending, dan orang yang paling tidak ingin kutemui karena merasa akan terjadi sesuatu jika bertemu.

"Senpai, maaf ya. Dia tidak mau mendengarkan……"

"Aku tidak apa-apa. Sudah terbiasa dimaki seperti itu. Tapi, apa yang terjadi?"

"……Aku, kan pernah janji kencan dengan Senpai."

"Eh!? Ke-kencan!?"

"Nanami, pembicaraannya jadi rumit."

Shiori menenangkan Nanami yang panik. Akari melirik Nanami sejenak, lalu melanjutkan penjelasannya.

"Jadi itu…… hari ini aku terbawa suasana, dan tidak sengaja menceritakan soal kencan kepada Sakura. Eh, tentu saja aku tidak bilang kalau lawannya Senpai…… tapi dia mendesakku, 'Apa itu Ibuse Reo!?'"

"Lalu dia datang ke sini."

Pasti Kaede yang memberi tahu. Tadi dia hampir berkata, "Aku dengar dari Kakak."

"Maaf!"

Akari meminta maaf lagi. Dia pasti merasa temannya bersikap tidak sopan. Aku mengerti, Shiori saja sampai marah. Aku harus membelanya.

"Aku bilang tidak apa-apa, kan. Ketua, lihatlah…… dia juga punya posisi, kan?"

"Hei Nanami. Apa aku semenakutkan itu?"

"Ya. Benar-benar menakutkan, tahu."

"Begitu ya………… maaf ya, Akari-chan……"

"Tidak apa-apa! Itu salah Sakura yang keterlaluan……"

Shiori juga merasa menyesal karena sudah berbicara terlalu keras, membuat suasana menjadi semakin tidak enak.

Menilai bahwa hari ini bukan saat yang tepat untuk perayaan, aku memberikan saran kepada Akari.

"Kejarlah dia. Dia teman baikmu, kan?"

"Ta-tapi……"

"Di sini tidak apa-apa. Aku benar-benar tidak marah."

"…………Mengerti."

Akari menunduk sekali lagi kepada kami, lalu bergegas keluar dari ruang OSIS untuk mengejar Sakura.

Setelah itu, suasana ruang OSIS yang sempat dilanda badai kini kembali hening. Orang pertama yang membuka suara adalah Nanami.

"E-ehm, Ibuse-kun…… kalian berdua, tidak sedang pacaran, kan?"

"Hm? Ah, ya benar."

"Begitu ya…… iya juga sih……"

Setelah memastikan hubungan aku dan Akari, Nanami menunduk dan bergumam pelan.

"Ah…… apa kamu tidak suka dengan Akari?"

"Eh!? Tidak, kok!? Bu-bukan begitu, menurutku dia sangat manis! Aku pikir……"

"Kalau begitu, lain kali kalau bertemu, katakan padanya kalau dia 'manis'. Dia pasti akan senang sekali."

"I-iya…… akan kulakukan……"

Meski dia bilang tidak membenci Akari, Nanami masih terus menunduk sambil melamun.

Shiori pun sama, dia terus bergumam pada dirinya sendiri, "Apakah aku harus sedikit lebih lembut…… tapi, bagaimana ya……"

Seharusnya hari ini adalah perayaan kemenangan Akari, namun karena badai kunjungan tiba-tiba tadi, ruang OSIS sesaat sebelum liburan musim panas malah menjadi sunyi senyap.

Lalu, tibalah hari Minggu, 28 Juli, saat liburan musim panas dimulai.

Aku dan Shiori bertemu di depan stasiun, lalu mengunjungi kediaman Nanami berdua dan menekan bel pintu masuk.

"Ya-yaa! Sebentar lagi datang!"

Suara Nanami yang terdengar ceria terdengar dari balik interkom.

Setelah menunggu beberapa saat, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru, dan pintu depan di hadapan kami terbuka lebar.

"Maaf membuat kalian menunggu…… aku tadi sedang beres-beres……"

"Uh!?"

Nanami yang muncul tampak basah kuyup oleh keringat.

Kemeja rumahan yang dikenakannya terlihat longgar dan ceroboh, dengan noda keringat di tempat yang membuat mataku tidak tahu harus melihat ke mana.

Kecerobohan itu, dipadukan dengan tubuhnya yang sintal, justru menciptakan aura seksi yang misterius.

"……Ada apa?"

"Tidak……"

Nanami ini benar-benar tidak sadar melakukan hal semacam ini ya…… Seleraku di masa lalu yang hampir kulupakan seolah bangkit kembali.

"Nanami. Penampilan macam apa itu?"

"Eh…… yah…… aku berniat beres-beres lalu berganti baju…… tapi tidak sadar sudah selarut ini."

"Haa…… mungkin itu tidak bisa dihindari, tapi karena ada laki-laki di sini……"

Shiori yang berada di sampingku menegurnya secara halus.

Nanami baru menyadari penampilannya sendiri, wajahnya memerah padam, dan dia berusaha menutupi tubuhnya dengan lengan.

"Ini benar-benar memalukan………… aku akan segera berganti pakaian……"

Nanami menutup pintu depan, dan kami terpaksa menunggu sebentar lagi.

"Haa…… Ibuse-kun. Jangan berpikiran yang tidak-tidak."

"Aku tidak berpikiran begitu, kok."

Sambil berbincang seperti itu, aku berusaha memikirkan hal lain untuk mengalihkan perhatian.

Namun, kalau aku lengah sedikit saja, aura seksi yang basah di berbagai tempat itu langsung teringat kembali……

"……Ibuse-kun."

"A-apa! Aku tidak memikirkan apa pun!"

Aku menggelengkan kepala sekuat tenaga saat mendengar suara Shiori yang terdengar bosan, seolah dia bisa membaca pikiran orang.

Setelah menunggu beberapa menit, Nanami kembali menyambut kami dengan aroma deodoran yang samar, dan kami pun dipersilakan masuk ke kamarnya.

"Hei Shiori-chan. Pertama-tama, aku ada permintaan untuk Shiori-chan…… boleh?"

Setelah sampai di kamar yang dipenuhi koleksi anime dan manga—kamar otaku sejati—Nanami bertanya pada Shiori.

Dia mengeluarkan satu set kostum dari lemari dan menyerahkannya.

"Ini bagian Shiori-chan. Mumpung ada kesempatan, aku ingin Shiori mencobanya sekali. Ukurannya seharusnya pas karena aku membayangkan sosok Shiori…… tapi kalau susah bergerak, bahaya juga……"

"……Ah, aku mengerti. Aku akan mencobanya."

Shiori tampak penasaran namun menerima tawaran Nanami.

Karena Nanami juga harus berganti ke kostum cosplay untuk hari-H, aku akhirnya diusir dari kamar oleh Shiori.

Setelah menunggu beberapa puluh menit…………

"Boleh masuk, Ibuse-kun."

"Ya."

Mendengar suara Shiori, aku segera membuka pintu kamar. Lalu……

"……Bagaimana menurutmu?"

Di sana berdiri Shiori yang tampak malu-malu, mengenakan kostum bernuansa seragam militer dengan warna dasar biru tua.

"Eh, gila, ini terlihat seperti asli……"

"Benar kan, benar kan! Shiori-chan memang luar biasa!"

Bahkan tanpa wig atau lensa kontak, tingkat penyempurnaannya sudah setinggi ini.

Saat aku sedang terpesona melihatnya, Nanami entah sejak kapan sudah mulai memotret dengan ponselnya.

"Bagaimana? Apa tidak susah bergerak? Apa tidak apa-apa? Kalau terasa aneh, langsung katakan ya. Ah, tolong lihat ke arah sini!"

"Ini…… sedikit memalukan, ya……"

Shiori berpose dengan malu-malu. Nanami yang sibuk memotretnya juga sedang mengenakan kostum cosplay. Penyempurnaannya juga luar biasa.

"Kinoshita…… apa itu karakter Operator?"

"Ah, kamu tahu!? Ibuse-kun memang hebat! Kupikir kalau ada Wolf dan Celia, tidak akan lengkap tanpa Operator!"

Kostum Nanami berupa setelan yang warnanya lebih mendekati biru daripada biru tua.

Itu adalah kostum untuk karakter latar, namun berkat detail dekorasi dan kacamata yang dikenakannya, sekilas saja sudah jelas bahwa dia melakukan cosplay sebagai operator pribadi Celia yang sering dipanggil "Ope-ko".

"Ope…… ko?"

Shiori yang kurang paham dengan percakapan kami tampak bingung.

Tiba-tiba switch otaku Nanami menyala dan dia mulai memberikan penjelasan panjang lebar.

"Ope-ko-chan itu! Awalnya tidak punya nama, tapi karena populer di antara penggemar, dia dapat nama 'Yomi' di pertengahan cerita! Ah, ini info dari buku panduan penggemar. Aku tidak bisa membocorkan perannya karena itu spoiler, tapi…… ah, benar, aku hampir lupa!"

Nanami yang sedang semangat-semangatnya kembali mengobrak-abrik lemari dan mengeluarkan sebuah kotak yang berat.

"Aku meminjam uang saku selama setahun…… dan membelinya! Tada!"

Dari kotak itu keluar sebuah senapan yang terlihat sangat realistis. Detail catnya sama persis dengan yang ada di anime, dan aku langsung tahu itu adalah senjata milik Celia.

"Ini, pegang ini!"

"A-ah……………… berat juga, ya…… begini?"

"["!!!!"]"

Menerima senapan itu, Shiori kembali berpose.

Kami berdua, sebagai sesama otaku, menahan napas dan tanpa sadar langsung duduk bersimpuh saat melihat pose tersebut.

"Kinoshita………… kamu ini. Sering disebut jenius, ya?"

"……Hari ini baru pertama kali, tapi mungkin mulai sekarang aku akan menyebut diriku begitu."

"Kenapa kalian berdua malah bertingkah menjijikkan……"

Setelah itu, Shiori yang terdesak oleh antusiasme para otaku ini akhirnya dipaksa melakukan berbagai pose.

Setelah sesi pemotretan singkat itu, giliran kostumku yang dikeluarkan. Bentuknya persis seperti yang kulihat di anime, memegangnya saja sudah membuatku merasa terharu.

Setelah bersusah payah mengikuti panduan dari Nanami, aku mengenakan kostum bertema seragam militer itu, memakai wig dan lensa kontak dengan benar, lalu memanggil Nanami dan Shiori yang menunggu dengan antusias di luar kamar.

"Sudah selesai."

"I-iya!"

Nanami menjawab dengan lantang dan membuka pintu kamar perlahan.

Awalnya dia menunduk, lalu mengamati penampilanku dari ujung kaki hingga ke wajah.

Saat mata kami bertemu, air mata tumpah dari mata Nanami.

"Eeh………… hik……………… uuu"

"Nanami!? Ada apa!? Kenapa menangis!?"

Shiori yang tidak mengerti arti air mata itu segera menghampiri Nanami yang terduduk di sampingnya.

Namun, setelah menjelaskan pada Shiori, "Tidak apa-apa…… ini air mata bahagia……", Nanami kembali menatap penampilanku dengan saksama.

"Aku………… benar-benar…… bisa berteman dengan Ibuse-kun…… aku sangat senang……!"

Aku tidak menyangka bisa dipuji sampai sejauh itu hanya karena melakukan cosplay.

Aku merasa senang, dan karena sedang percaya diri, aku mendekati Nanami lalu berbicara dengan suara yang meniru karakter anime tersebut.

"Terima kasih."

"Hyu………………!?"

"Nanami!?"

Mungkin aku terlalu berlebihan, Nanami sampai membeku seolah jiwanya tersedot keluar.

Shiori mengguncang tubuh Nanami untuk memastikan keadaannya, namun baru beberapa menit kemudian Nanami sadar kembali.

"Maaf, Kinoshita………… aku terlalu terbawa suasana……"

"Tidak, tidak, tidak, tidak! Sama sekali tidak!"

Aku menundukkan kepala pada Nanami yang sudah sadar.

Namun, Nanami sama sekali tidak peduli; sebaliknya, dia terus menatap wajahku dengan tatapan yang sangat bahagia.

"……Haa…… berapa kali pun kulihat, wajahmu terlalu kuat……"

"Kuat? Bukan tampan atau keren?"

Saat Shiori mengajukan pertanyaan yang wajar, Nanami yang emosinya sedang meluap-luap mulai menjelaskan artinya.

"Keren itu sudah biasa! Tapi lihat! Dia orang Jepang, rambut perak, tapi wajahnya tidak kalah! Pakai lensa kontak merah tapi tidak terlihat aneh! Luar biasa! Makanya aku bilang 'kuat'!!"

"A, o, oh begitu……"

"…………Hehe."

Dipuji sampai sejauh ini, aku pun jadi merasa malu.

Otot pipiku jadi kendur dan sudut mulutku naik terus tanpa henti.

"……Ngomong-ngomong Nanami. Apa Ibuse-kun tidak punya senjata? Seperti senapanku ini?"

"Ah! Pertanyaan bagus, Shiori-chan!! Baiklah, Ibuse-kun!"

Mendengar pertanyaan Shiori, Nanami semakin antusias dan memintaku menunjukkan "itu".

"Mau bagaimana lagi……!"

Biasanya aku mungkin akan sedikit ragu.

Tapi sekarang semangatku sedang tinggi-tingginya! Roleplay karakter adalah hal yang selalu kulakukan! Lagipula, aku sendiri sebenarnya ingin mencobanya!

Karena itu, aku memosisikan tangan kananku tegak dengan jempol di atas, lalu mengarahkan jari telunjuk ke arah Shiori.

Sambil mengerahkan tenaga pada ujung jari tengah dan jempol, aku menjentikkannya dan mengucapkan kalimat andalan.

"Bang!"

Jentik!

"……………………??"

Suara yang disesuaikan dengan versi anime dan jentikan jari yang sudah kulatih secara diam-diam, menurutku semuanya sudah sempurna.

Nanami di sampingku terlihat sangat senang. Masalahnya hanyalah satu……

"Hmm……………… hmm??"

Kami melupakan fakta bahwa lawan bicara kami adalah seorang wanita bernama Fujita Shiori yang awam dengan hal-hal seperti ini.

"Semangatlah, Ibuse-kun…… itu keren, kok. Ya. Menurutku itu keren……"

"Sudahlah…… bunuh saja aku……"

"……Maaf ya?"

Karena garing total dan seketika ditarik kembali ke dunia nyata, aku merasa malu dengan tingkah lakuku sendiri.

Aku memilih untuk berjongkok di sudut kamar dan meratapi nasib.

Nanami menghiburku, sementara Shiori menepuk punggungku sambil meminta maaf. Hal itu justru membuat mentalmu semakin hancur.

"……Jadi, barusan itu apa?"

"Ehm………… sedikit rumit sih, boleh dijelaskan?"

Setelah mendapat izin dari Shiori, Nanami kembali menjelaskan tentang karya berjudul Hangan tersebut.

"Sejatinya, dunia Hangan punya konsep sihir. Untuk menggunakan sihir biasanya perlu alat…… yang umum sih tongkat atau sapu, kan? Nah, di dunia Hangan, peran itu dipegang oleh pistol. Makanya Celia membawa pistol. Tapi! Hebatnya, Wolf bisa menggunakan sihir tanpa bantuan pistol! Jadi, pose Ibuse-kun barusan itu adalah adegan di mana dia menggunakan tangan kanannya sebagai pistol untuk mengeluarkan sihir! Untuk detailnya, baca manganya ya! Semua volumenya ada di sini!"

"A, aah………… baiklah, aku akan membacanya……"

Setelah itu, Shiori mulai membaca manga tersebut karena merasa tidak enak jika menolak.

Awalnya Shiori membacanya sambil mengamati dengan wajah "Hmm…", namun sejak volume empat dia mulai membacanya dengan sangat serius hingga benar-benar masuk ke dunianya sendiri.

Karena tidak mungkin mengganggu Shiori, aku melepas wig dan lensa kontak, lalu mendekati Nanami yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu.

"Sedang apa?"

"Ini? Aku sedang mencatat poin evaluasi untuk kali ini. Ada banyak hal yang kupahami setelah Ibuse-kun memakainya. Seharusnya aku lebih percaya pada kekuatan visual Ibuse-kun. Aku harus menerapkannya lain kali……"

"Lain kali?"

"Eh………… ah…… benar juga, cuma kali ini saja ya."

Tiba-tiba Nanami berhenti menulis dan meminta maaf padaku dengan canggung sambil berusaha menutupi sesuatu.

"Ma-maaf…… benar juga ya………… ahaha……"

Nanami hendak menutup buku catatannya dengan nada bercanda.

Aku tidak tega melihat wajah sedihnya, jadi aku mengambil buku itu dari tangan Nanami dan memaksanya membukanya kembali.

"Tidak apa-apa. Lain kali, dan setelahnya juga…… aku akan menemanimu sesukamu."

"Eh……………… ah……"

"Sudahlah, Ibuse-kun. Berani-beraninya kamu merayu Nanami di depanku."

Mungkin karena ucapanku yang tak terduga, Nanami membeku dengan wajah merah padam.

Shiori, yang mendengar percakapan kami dari awal, menegurku sambil tetap membaca manga.

"Aku tidak bermaksud merayu, aku hanya mencoba berteman seperti ini……"

"Kalau mau merayu Nanami, pastikan kamu meyakinkanku dulu. Dan kamu juga, Nanami, jangan mau. Laki-laki itu adalah playboy penakluk wanita."

"Ti-tidak, aku tidak berpikir begitu!?"

Nanami menggelengkan kepala sekuat tenaga untuk menyangkal.

Shiori menghela napas, menutup manganya, dan menatapku.

"Baiklah, Ibuse-kun. Lakukan yang tadi sekali lagi."

"Eh…… jujur saja aku tidak mau. Wig dan lensa kontaknya sudah kulepas……"

"Tetap saja lakukan. Atau kamu tidak mau mendengarkan permintaanku? Padahal tadi kamu menikmati sekali saat menjadikanku subjek fotomu?"

"Uh…………"

"Ayo Nanami. Beri tahu dia pose apa yang kamu inginkan. Ibuse Reo…… tidak, mari kita mulai sesi pemotretan berharga bersama Wolf-sama."

"Eh…… ah, iya."

Akhirnya, atas arahan Shiori yang sudah punya cukup pengetahuan, aku diminta melakukan berbagai pose.

Aku yang awalnya malu perlahan mulai terbawa suasana, dan tanpa sadar aku sudah kembali memakai wig dan lensa kontak.

Malam harinya, di rumah Nanami.

"……………………"

Aku berbaring di tempat tidur sambil memandangi folder berisi foto cosplay Ibuse-kun, tenggelam dalam lamunan.

"…………Haa……"

Berapa kali pun kulihat, wajahnya memang terlalu kuat.

Dulu aku tidak bisa melihatnya karena takut, tapi sekarang dia terlihat sangat tampan.

Padahal dia punya sisi yang terlihat seperti anak laki-laki seusianya yang sangat otaku……

"…………Curang, Ibuse-kun."

Tapi, hanya aku yang bisa melihat sisi dirinya yang seperti itu, kan? Dia tidak bersikap seperti itu saat bersama Shiori-chan atau Sera-chan.

Artinya……

"Fuhehehe………… hanya aku……"

Pasti hanya aku yang bisa melihat wajah asli dari teman sekelas yang begitu tampan ini. Entah mengapa, aku merasa itu adalah hal yang sangat istimewa, dan aku mulai berguling-guling di atas tempat tidur.

Di hari-H nanti, aku akan dikelilingi oleh dua orang yang wajahnya begitu kuat itu. Kalau begitu, tidak apa-apa jika aku memberanikan diri sedikit.

Lagipula, ada masalah Sera-chan. Aku rasa anak itu menyukai Ibuse-kun. Mereka pernah bilang soal kencan. Jarak mereka juga sangat dekat, mereka terlihat serasi.

"……Apakah, masih sempat…………?"

Aku menyesali jawabanku hari itu. Aku menolaknya karena aku belum cukup mengenal Ibuse-kun.

Tapi kalau mereka berdua belum pacaran, artinya mungkin masih ada kesempatan untukku.

"Mari kita keluarkan…… keberanian…………!"

Rasa kantuk dan keraguanku menguap karena terlalu bersemangat. Aku pergi ke depan cermin di kamar mandi dan memutuskan untuk bertarung dengan bayangan wajahku sendiri.

Tibalah Sabtu, 3 Agustus.

Hari pertama pameran doujin besar musim panas yang berlangsung dua hari. Hari penting di mana nasib Nanami akan ditentukan.

Aku harus menikmati acara itu sepenuhnya bersama Nanami dan tidak memberikan celah bagi pria cosplayer itu untuk mendekatinya.

Aku sampai lebih dulu di kafe yang menjadi tempat pertemuan dan menunggu mereka berdua.

Soal pria cosplayer itu, aku masih belum mendapatkan bukti yang jelas. Namun, topik mengenai masalah wanita yang melibatkan dirinya diam-diam mulai muncul di internet.

Sejauh ini, reaksi orang-orang masih menganggapnya hanya karena iri, cemburu, atau kesalahpahaman pihak wanita, bahkan ada rumor bahwa dia sebenarnya sudah menikah.

Ada pepatah "tidak ada asap kalau tidak ada api", jadi hanya masalah waktu sampai skandalnya terbongkar.

Orang itu sendiri tidak menyinggung rumor tersebut dan tetap mengumumkan akan berpartisipasi dalam acara hari ini sebagai cosplayer. Tebal sekali mukanya.

Jika mengikuti alur game, hari ini seharusnya menjadi titik percabangan, tapi alurnya sudah jauh berbeda dari event Nanami yang asli.

Lagi pula, aku dan Shiori berencana untuk selalu bersama, jadi seharusnya tidak masalah selama aku menjauhkannya dari pria itu.

"Selamat datang. Untuk dua orang?"

"Tidak, teman saya sepertinya sudah datang lebih dulu……"

Saat aku sedang bingung, aku mendengar suara Shiori.

Aku melambaikan tangan kepada Shiori yang sedang mencari-cari keberadaanku, dan dia langsung menyadarinya lalu menghampiriku.

"Ya ampun. Untunglah, kamu mudah ditemukan."

"Kamu juga."

Seharusnya kami bertemu di stasiun, tapi karena Shiori bersikeras ingin di kafe, aku terpaksa menurutinya.

Dan alasan sebenarnya kemungkinan besar adalah sosok "orang mencurigakan" berdada besar yang duduk di samping Shiori.

"…………Apa yang dilakukan Kinoshita?"

"I…… yah…………"

Entah mengapa, Nanami mengenakan topi dan masker, penampilan yang tidak cocok untuk musim panas.

Bahkan setelah masuk ke kafe, dia tidak berniat membukanya.

Shiori dengan wajah bosan mulai menjelaskan situasinya.

"Sepertinya dia ingin mengejutkan Ibuse-kun."

"Mengejutkan…… aku?"

"……Coba tanyakan langsung padanya."

"…………I-iya, begitulah."

"………………!!"

Mungkin sudah membuat keputusan, Nanami perlahan menyentuh topi dan maskernya.

"……A-aku sudah memberanikan diri………… karena kita akan pergi bersama………… aku sudah pesan di salon…… dan berusaha keras…… jadi…………"

Nanami bergumam dengan suara yang bergetar pelan, lalu memperlihatkan apa yang selama ini ia sembunyikan.

"Ba…… bagaimana……?"

"……………………"

Aku tidak tahu berapa detik pikiranku berhenti. Mungkin beberapa menit. Kejutan sebesar itu menghantamku.

Rambut yang tadinya terlihat berat kini ditata rapi, dan kulitnya terlihat jauh lebih cantik dari biasanya.

Sosoknya mirip dengan penampilan Nanami setelah event di dalam game, namun ada perbedaan yang sangat mencolok.

Jujur saja, aku sedikit tidak puas dengan perubahan penampilan Nanami di dalam game. Menurutku, karakter yang memakai kacamata seharusnya tetap memakai kacamata.

Tapi bagaimana dengan Nanami yang sekarang?

Dia tidak melepas kacamata khasnya. Berbeda dengan senyum percaya diri di dalam game, yang kulihat sekarang adalah senyuman malu-malu yang sangat imut dan tampak sangat natural bagi Nanami.

Kata "malaikat" terlalu lemah untuk menggambarkan kecantikannya.

Ini adalah kecantikan yang bahkan bisa menandingi seorang dewi. Dan hanya ada satu kata yang pantas diucapkan untuk gadis yang telah berani menghadapi kompleksitas dirinya sendiri.

"Terima kasih…………!"

"Apa itu………… justru aku. Terima kasih."

"Uuu……!"

Aku disuguhi senyuman paling manis yang dibarengi dengan ucapan terima kasih.

Saat aku sedang memberikan reaksi menjijikkan karena efek luar biasa itu, aku merasakan tatapan dingin dari Shiori yang duduk di samping Nanami.




"Ibuse-kun………… kamu jadi mirip Nanami, ya……"

"Eh, ehehe…… be, begitu kah?"

Dikatakan mirip dengan Nanami, entah mengapa malah Nanami yang tersipu malu, bukan aku.

Setelah itu, kami bertiga menyantap sarapan ringan lalu bergegas menuju lokasi acara.

"Kalau begitu, kita berpisah di sana, ya. Ibuse-kun ke arah sana. Setelah mendaftar dan selesai berganti pakaian, kita kumpul lagi di sini. Oh, jangan sampai kertas pendaftaran yang kalian dapatkan hilang, ya? Kalau hilang, kalian harus bayar sendiri biaya masuknya, lho."

"Siap, Bos. Akan kujaga baik-baik."

Sesampainya di lokasi, aku menerima penjelasan dari Nanami yang sigap, lalu menuju ruang ganti pria.

Meski begitu, aku tidak pernah menyangka akan berpartisipasi dalam acara seperti ini sebagai seorang cosplayer. Entah kenapa…… ini terasa seperti keuntungan tersendiri.

Sambil memikirkan hal itu, aku menyelesaikan pendaftaran dan langsung berganti pakaian.

Katanya ruang ganti wanita lebih ramai, jadi seharusnya aku tidak perlu terburu-buru, tapi aku merasa berbahaya kalau membuat mereka berdua menunggu.

Selain itu, ada orang lain di sana, jadi melakukan segala sesuatunya lebih awal adalah hal yang penting.

Meski begitu…………

"Wajahnya terlalu kuat, kan?"

"Bukan cuma wajah, tubuhnya juga gila……"

"Kira-kira dia cosplay jadi apa, ya?"

Seperti biasa, Ibuse Reo memang ahli dalam menarik perhatian orang di sekitarnya.

Sejak mendaftar, aku terus dilirik dan dibicarakan dengan berbisik.

Aku mengerti perasaan mereka, tapi itu agak memalukan. Sebaiknya aku cepat berganti pakaian dan menuju tempat pertemuan.

"Pa-panasnya…………"

Setelah selesai berganti pakaian, aku keluar, tapi udaranya terlalu panas.

Mengenakan kostum bertema seragam militer di tengah musim panas benar-benar berat.

Aku sangat menghormati para cosplayer yang bisa bertahan dengan ini.

Di tengah cuaca terik itu, saat aku sedang menunggu di titik pertemuan sambil meminum minuman isotonik yang kubawa, aku disapa oleh dua orang wanita.

"E-ehm, permisi………… itu…… Wolf dari 'Hangan'…… kan?"

Wanita yang menyapaku jelas lebih tua dariku, tapi mungkin karena aura intimidasi dari Ibuse Reo, dia tampak sangat gugup.

Aku berusaha tersenyum lembut agar tidak menakutinya, lalu menjawab pertanyaan itu.

"Ya, benar."

"Waaaah………… lihat, itu dia, kan! Ternyata efek season 2 memang nyata!"

"Tidak, tunggu dulu. Tidak mungkin, kualitasnya gila sekali, kan?? Ini asli, benar-benar mirip, parah! Ini bukan orang yang bisa ditemui secara kebetulan di jalan!"

Karena aku sudah sedikit paham budaya subkultur dunia ini, aku jadi tahu. 'Hangan' sebenarnya adalah karya yang cenderung minor.

Lagipula, kualitas animasi season 1-nya agak meragukan…… eh, bukan saatnya memikirkan itu sekarang.

"E-eh! A-anu! Bolehkah kami meminta foto!?"

"……Silakan."

"A-aku juga!"

"Kalau kalian tidak keberatan denganku, silakan saja."

Sesi pemotretan dimulai secara alami, dan aku terus memamerkan pose khas Wolf.

Saat aku sedang menikmati acara ini sepuasnya, sepasang wanita yang sudah menarik perhatian orang-orang di sekitar berjalan dari arah ruang ganti wanita.

"Kenapa? Bukankah kamu sudah cukup populer?"

"……Kalian juga sudah cukup menarik perhatian."

Saat aku sedang berbicara dengan Shiori yang mengenakan kostum dengan sempurna, para wanita yang tadi memotretku menatap ke arah Shiori dan yang lainnya, lalu mematung.

"E, e, e,…… e?? Apa, mungkin…… kalian…… saling kenal……?"

"Ya. Kami bertiga berpartisipasi bersama."

Shiori menjawab pertanyaan wanita itu. Nanami yang berdiri di sampingnya juga mengangguk malu-malu.

"Serius………… eh, apa ini mimpi……?"

"Entahlah…… tapi setidaknya menurutku hari ini adalah hari kematianku………… kalau tidak begitu, tidak mungkin ini nyata."

Sepertinya otak mereka mencapai batasnya karena terlalu terkejut; mereka saling berpandangan sambil berkaca-kaca.

Demi mereka, aku memberi isyarat mata kepada Shiori, dan Shiori yang pengertian langsung menyapa mereka.

"Apakah kalian mau meminta foto?"

"Hya………… i-iya…… tolong……"

"Dengan senang hati. Ayo Yomi. Kamu juga."

"A-aku……"

Shiori, yang sudah membaca manga dan novelnya sampai khatam, memanggil karakter yang diperankan Nanami—si operator bernama Yomi—sambil mengulurkan tangan.

Saat Nanami hendak menolak ajakan itu, salah satu wanita memotong dengan antusias dan menunduk di depan Nanami.

"Tentu saja! Tolong! Kalian berdua!"

"Eh, aku juga…… boleh……?"

"Tentu saja!! Kalian berdua sangat imut!!"

"T-…………terima kasih."

Terdorong oleh antusiasme tersebut, Nanami melirik ke arahku.

Aku membalas tatapannya dengan senyuman yang menyiratkan "tidak apa-apa", lalu Nanami tersenyum dengan wajah yang sangat bahagia dan berdiri dengan bangga di samping Shiori.

Setelah itu, kami terus melayani berbagai permintaan seperti berfoto bertiga atau membicarakan alur Hangan.

Banyak orang berkumpul di sekitar kami, dan aku pun melupakan pria cosplayer itu sejenak karena terlalu sibuk melayani mereka.

Namun, saat kami terus melakukan pemotretan di bawah terik matahari, kondisi Nanami jelas terlihat memburuk.

"Pa-panas……"

Meskipun kami sering minum air, sepertinya Nanami yang tipe anak rumahan tidak tahan dengan panas ini. Kepalanya pusing dan dia nyaris tumbang.

"Hei. Kamu tidak apa-apa?"

"Ti…… da-pa-pa…………"

Aku mencoba memastikan, tapi sepertinya dia sudah tidak kuat lagi.

Memutuskan hal itu, kami membawa Nanami menuju ruang istirahat berbayar.

"Maaf ya kalian berdua…… terima kasih."

"Jangan dipikirkan. Kalau Nanami sampai pingsan, justru tidak ada gunanya."

Nanami duduk di kursi, dirawat oleh Shiori sambil meminum minuman isotonik sedikit demi sedikit.

Meskipun ruang istirahat ber-AC, wajah Nanami masih merah padam. Kondisinya benar-benar di ambang batas.

"Hei Kinoshita. Bagaimana kalau kita sudahi saja hari ini?"

"T-…………"

Nanami menatapku dengan wajah sedih mendengar saranku. Nanami pasti adalah orang yang paling menyesali hasil ini. Dia mungkin akan berkata "tidak mau".

Meski begitu, ada Shiori di sini, jadi dia pasti akan membantu membujuknya. Aku harus tega…………

"……Benar juga. Baiklah, ayo kita sudahi."

"Eh…… apa tidak apa-apa?"

Saat aku memikirkan kelanjutan kata-kataku, Nanami justru menyetujui saranku sambil tersenyum. Shiori yang sedang mengipasi Nanami pun ikut tertegun.

Melihat kami, Nanami tertawa kecil, menyandarkan tubuh bagian atasnya ke meja, lalu menceritakan alasannya dengan wajah gembira.

"Hari ini sangat menyenangkan. Banyak orang memuji kostum buatanku dan kalian berdua, mereka semua terlihat senang, benar-benar seperti mimpi. Tentu saja ada rasa menyesal, tapi…… perasaan puas ini jauh lebih besar. Lagipula……"

Nanami menatap mataku lekat-lekat, lalu tersenyum nakal.

"Lain kali……… dan setelahnya juga…… kamu akan menemaniku lagi, kan?"

"……Laki-laki tidak akan menarik kata-katanya."

"Fuhehe……… terima kasih."

Saat aku sedang melakukan percakapan yang agak memalukan dengan Nanami, Shiori yang tampak gelisah tiba-tiba menyela pembicaraan kami.

"Na-Nanami! Aku juga! Aku akan menemanimu kapan saja! Ya!! Jadi…… ya!"

"Eh, benarkah!? Terima kasih Shiori-chan!"

Berbanding terbalik dengan Shiori yang gelisah, Nanami dengan gembira mengguncang-guncangkan tangan Shiori.

Saat kami sedang menikmati masa muda musim panas ini, seorang pria datang ke ruang istirahat dan langsung mendekati kami begitu melihat kami.

"Permisi, maaf mengganggu obrolan kalian…… apa kalian sedang cosplay menjadi Celia dari 'Hangan'?"

Pria yang datang itu menyapa Shiori lebih dulu. Begitu melihat wajah pria itu, wajah Shiori langsung berubah ke mode kerja.

Aku sudah sering melihat wajahnya, jadi aku tahu. Dia adalah pria cosplayer yang dimaksud.

"Ya…… benar sekali."

"Tentu saja! Sedang ramai dibicarakan dan aku sudah mencarinya, tapi kualitas kalian luar biasa! Aku juga penggemar berat karya ini sejak lama…… tidak menyangka bisa melihat sesuatu sebagus ini……"

Pria itu berbicara dengan nada yang tampak antusias kepada Shiori.

Pandangannya lebih tertuju ke arah bawah daripada ke mata Shiori, dan dia sama sekali tidak melirik ke arahku. Hebat juga dia bisa menipu orang selama ini.

"Bukan cuma Celia…… apakah itu operator? Luar biasa…… detailnya sampai ke bagian terkecil…… aku juga penggemar berat Operator. Bukankah rentetan foreshadowing yang diberikan padanya itu bagus sekali…… aku kagum pada kemampuan sang penulis."

"……Terima kasih."

Menerima pujian pria itu, Nanami merespons dengan wajah yang agak masam namun tetap berterima kasih. Pria itu akhirnya menatapku dan masuk ke inti pembicaraan.

"Kostum Wolf juga cocok, apakah desain elang itu terinspirasi dari Celia? Sangat luar biasa dengan sentuhan orisinalitasnya. Omong-omong, apa rencana kalian setelah ini? Aku sedang memikirkan acara off-line, kalau boleh……"

"["……………………"]"

Begitu ya, itu triknya.

Tebal sekali mukanya………… lagipula! Itu tidak penting!

Aku tidak akan tenang kalau tidak mengatakannya!

"E-ehm……"

Nanami sepertinya merasakan hal yang sama.

Dia hendak menegur pria itu.

Namun, aku berdiri dari kursi lebih dulu dan mendekati pria itu.

"Desain elang ini bukan orisinal, lho."

"…………Eh?"

Dia tampak terkejut karena tiba-tiba didekati oleh pria bertubuh besar. Namun, aku tidak peduli sedikit pun dan mencurahkan ketidakpuasanku dengan datar.

"Ini adalah kostum yang sangat emosional dari novel spin-off berjudul 'Hand Gauntlet: Beast of the Battlefield' yang dirilis setelah cerita aslinya selesai, tahu? Apa kamu tidak tahu? Kalau begitu, ceritanya sangat bagus, bagaimana kalau kamu membacanya? Kalau kamu memang 'penggemar berat sejak lama', kamu pasti akan menyukainya."

"A, tidak……"

"…………Yah, lupakan soal itu…… boleh aku tanya satu hal?"

"A-apa itu?"

"Nama asli si Operator. Pasti tahu, kan?"

Pria itu bersiap-siap mendapat pertanyaan sulit, tapi dia mulai berbicara dengan percaya diri seolah berpikir, "Cuma pertanyaan gampang begitu……"

"Ya, aku tahu. 'Yomi', kan? Sebenarnya namanya sudah disinggung sejak awal. Dampak dari foreshadowing saat itu sangat luar biasa──"

"Salah, itu tambahan belakangan. Di buku panduan, penulisnya sendiri menulis bahwa karena dia jadi populer, dia buru-buru menjadikannya karakter utama. Penulisnya baru-baru ini menyangkal bahwa spekulasi itu hanyalah kebetulan. Jangan-jangan kamu bahkan tidak membaca buku panduannya? Kamu tidak mengecek pernyataan penulisnya? Padahal dia karakter favoritmu?"

"……Tidak, itu, aku membacanya sudah lama…… jadi……"

Aku sudah paham modus operandinya.

Setelah mengulik foto-foto di akunnya, aku sadar kalau mayoritas cosplay-nya adalah karya minor.

Lagipula, setiap event, cosplay-nya selalu dari karya yang berbeda. Dan sekarang, dia gelagapan. Dia memang……

"Kamu ini, cuma niwaka (penggemar karbitan), kan?"

"T-…………tidak…… aku melihatnya dengan baik……"

Aku tidak bilang kalau jadi penggemar karbitan itu buruk. Tapi dia sendiri yang mengklaim sebagai penggemar berat. Namun pengetahuannya hanya sedangkali ini.

Dia pikir karena karya minor, jadi bisa asal-asalan.

Dia membidik penggemar karya yang komunitasnya kecil, lalu mendekati mereka dengan pengetahuan yang dangkal. Bahkan jika ada kesalahan, sulit untuk menegurnya karena pria ini terkenal. Lagipula, saat ini ada tren untuk berbaik hati pada penggemar baru.

Dia memanfaatkan psikologi itu. Terus terang, dia sudah melecehkan para penggemar.

"Kalau kamu punya waktu untuk mengadakan acara off-line dan mengurung wanita, segera pulang dan pelajari lagi karyanya."

Orang-orang mulai memperhatikan, tapi aku tidak peduli. Justru semakin banyak perhatian, semakin cepat berita ini tersebar.

Aku mengeluarkan suara yang lebih mengintimidasi dan menatapnya dengan mata yang penuh niat membunuh.

"……Jangan pernah mendekati wanitaku lagi."

"Guh………………"

Pria itu memasang ekspresi kesal, lalu pergi meninggalkan ruang istirahat.

Orang-orang di sekitar menatap kami seolah berkata "Aku baru saja melihat sesuatu yang hebat" sambil mengarahkan ponsel mereka ke arahku, tapi aku tidak peduli dan duduk kembali dengan tenang.

"Benar-benar…… kamu jadi mirip sekali dengan Nanami."

"………Mungkin begitu."

Shiori tertawa getir sambil merasa heran. Lebih tepatnya, sebenarnya aku memang sudah seperti ini sejak awal…… ya sudahlah, biarkan saja begitu.

"Ibuse-kun……!"

Nanami tiba-tiba menggenggam tanganku dan meremasnya dengan penuh semangat sambil tersenyum lebar.

"Terima kasih……! Kamu mengatakan semua hal yang ingin kukatakan, keren sekali! Aku merasa lega! Benar-benar…… aku senang bisa berteman dengan Ibuse-kun!"

"O-oh, iya………… sama-sama……"

Sejujurnya, aku sedikit merasa bersalah karena tindakanku yang egois dan memaksa, tapi…… melihat senyuman Nanami saja sudah membuat semuanya impas.

"…………Setidaknya ayo kita keluar dari sini. Waktu istirahat sudah cukup, kan?"

"["A, i-iya……"]"

Karena kami menarik perhatian terlalu banyak, kami merasa tidak nyaman dan segera keluar dari ruangan.

Setelah itu, kami berganti ke pakaian biasa dan memutuskan untuk berburu doujinshi yang menjadi tujuan kami yang lain.

Minggu, 4 Agustus. Setelah pesta penutup kemarin karena berhasil menikmati cosplay dan berburu doujinshi, hari ini kami mengadakan pesta berempat di rumahku sejak siang sebagai perayaan keberhasilan Akari.

Kenapa di rumahku? Karena Akari bersikeras dan memaksa.

Lagipula, lokasinya adalah titik tengah dari rumah kami semua.

"Senpai~. Tunjukkan padaku juga dong. Pose keren yang tadi itu!"

"……Tidak akan pernah."

"Ya sudah. Bagaimana kalau kamu tunjukkan saja?"

"Ah, Sera-chan, bukankah dagingnya sudah matang?"

Mumpung ada kesempatan, kami meminjam hot plate dari rumah Shiori, mengumpulkan uang saku untuk membeli daging yang agak mahal, serta membeli jus dan camilan untuk mengadakan pesta rumah yang mewah.

Pesta ini secara resmi diadakan karena dua alasan tadi, tapi bagiku ini adalah hari bersejarah di mana semua tujuanku tercapai.

Aku berhasil menyelamatkan para heroine selain rute Mizukami Noa, dan kini semua orang bisa menghabiskan waktu dengan senyuman.

Aku tidak menyangka akan menjadi sedekat ini, tapi anggap saja itu sebagai imbalan yang layak.

Saat pesta terus berlangsung dengan meriah, aku yang sedang mencuci hot plate dipanggil oleh Nanami yang tampak panik.

Dia yang seharusnya sedang menunjukkan foto cosplay kami kepada Akari.

"I, Ibuse-kun!!"

"Hm? Ada apa?"

"Lihat ini!"

Yang terpampang di layar adalah cuplikan siaran. Sepertinya dari seorang streamer penyebar gosip. Aku kurang suka hal semacam ini…… hm?

"Pria ini………… cosplayer itu……"

"Iya! Dia sedang dalam masalah besar!"

Aku sekilas membaca isinya bersama Nanami. Ringkasannya seperti ini:

Seorang wanita yang punya hubungan dengan cosplayer pria tersebut muncul di stream penyebar gosip dengan membawa berbagai bukti.

Ternyata pria itu adalah anggota semi-kriminal, pernah melakukan minum-minum dan perbuatan tak senonoh pada anak di bawah umur.

Dia terus-menerus meminta uang untuk biaya cosplay, dan kalau bayarannya kurang, dia akan bersikap dingin.

Dia juga sering melakukan overdose dan menjual obat-obat terlarang yang berbahaya………… ternyata dia benar-benar penjahat yang mengerikan.

"……Dunia ini mengerikan, ya."

"Ya………… aku…… benar-benar senang bisa berteman dengan Ibuse-kun……"

Memikirkan "kalau saja itu terjadi" membuatku bergidik.

Aku sangat bersyukur bisa menghentikan Nanami hari itu. Sifat waspada berlebih ternyata ada gunanya juga.

"Senpai! Apa ini!?"

"Hm? Kenapa…… eh, hei!?"

Akari di ruang tamu bertanya seperti itu, dan saat aku melihat apa yang ditemukannya, aku melihat Akari sedang mengangkat buku porno yang bisa dikatakan sebagai warisan Ibuse Reo.

"Ternyata Senpai juga laki-laki, ya~"

"Dasar bodoh…… dari mana kamu menemukan itu!"

Aku segera kembali ke ruang tamu dan merampas buku itu dari tangan Akari yang sedang nyengir. Dasar bocah nakal.

Jangan-jangan dia mengusulkan rumahku sebagai alasan untuk mencari ini.

"Ti-tidak baik, Ibuse-kun! Hal seperti itu baru boleh dilakukan kalau sudah 18 tahun!"

Aku dimarahi oleh Shiori yang melihat semuanya dan wajahnya memerah.

Datang ke rumah pria yang tinggal sendiri, mencari barang berharga secara ilegal, lalu memarahi pemiliknya—benar-benar tidak masuk akal.

"Ayo Ketua! Mari kita cari lagi! Ayo cari bukti dan tangkap penjahat kelas kakap ini!"

"Hei hei, diamlah! Nanti kalian aku usir!"

"……Benar juga. Mari kita tangkap dia!"

"Eh…… kenapa Ketua sampai ikut-ikutan!?"

"Pelan-pelan, pelan-pelan…………"

"Tunggu, Kinoshita juga…… apa aku tidak punya privasi sama sekali!"

Selain Akari yang merasa belum puas, Shiori entah kenapa malah bersemangat. Lalu Nanami yang diam-diam mencari di celah rak buku.

Saat aku menghentikan satu orang, yang lain malah bergerak. Sambil diombang-ambingkan oleh mereka bertiga, aku menikmati waktu yang sangat damai ini.

"Anu, Senpai!"

Waktu yang menyenangkan itu berlalu dengan cepat. Saat mengantar mereka bertiga ke stasiun terdekat, Akari yang sangat bersemangat mengangkat tangannya dan memberikan saran.

"Sebagai imbalan turnamen! Ayo pergi ke kolam renang!"

"Kalau kamu mau, silakan."

"Asiiik!"

Tidak ada alasan untuk menolak saran Akari yang sudah berjuang keras, jadi aku menjawab dengan senang hati.

Akari kemudian menatap Shiori dan Nanami dengan senyuman yang sangat cerah.

"Senior juga! Ayo ikut!"

"Eh…… apa tidak apa-apa, Akari-chan?"

"Tentu saja! Ayo kita main bersama-sama!"

"A-aku sebenarnya……"

"Apa yang Senior bicarakan! Nanami-senpai! Kita semua kan sudah berteman dekat! Jangan sungkan-sungkan!"

Akari terus memperluas ajakan itu seolah menyeret Shiori dan Nanami yang terkejut. Mereka berdua sempat ragu sejenak, tapi setelah saling berpandangan, mereka mengangguk.

"Terserahlah…… aku harus mengabulkan permintaan adik kelas yang imut ini."

"Ya. Ayo kita main bersama, Sera-chan."

"T-……iya! Terima kasih banyak!"

Dengan demikian, sesuai permintaan Akari, kami berempat sepakat untuk pergi ke fasilitas kolam renang rekreasi besar yang merupakan tempat klasik saat liburan musim panas.

Ini adalah imbalan untuk Akari, tapi aku juga akan menikmatinya sebagai imbalan untuk diriku yang sudah berjuang keras sejauh ini.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter 

0

Post a Comment

close