Chapter 3
Heroine Otaku Ingin Mendukung Idola
Tiba-tiba saja,
aku ingin memperkenalkan diri.
Namaku Yoshihoto
Tetsuhei.
Aku hanyalah
siswa kelas satu SMA tanpa keistimewaan apa pun. Hobiku adalah menonton light
novel atau siaran langsung para VTuber. Akhir-akhir ini, aku juga
ketagihan bermain Shooting Game.
Selama aku hidup,
aku belum pernah punya pacar. Aku pikir musim semi tak akan pernah datang untuk orang sepertiku.
Ya.
Sampai aku bertemu denganmu.
"Mo-mohon
bantuannya……"
"Sa-salam
kenal juga……"
Dia adalah
Kinoshita Nanami-san, teman sekelas yang juga terpilih menjadi anggota komite
perpustakaan bersamaku.
Sekilas saja, aku
sudah tahu kalau dia juga orang "sebelah sana" sepertiku. Tapi cara
bicaranya pun gugup, dan dia seolah memancarkan aura bahwa dirinya tidak pandai
bergaul dengan laki-laki.
Suatu hari, saat
aku hampir pasrah karena mengira kami tidak akan pernah bisa akrab, aku melihat
malaikat di perpustakaan.
Awalnya aku tidak
tahu siapa itu. Saat aku terpesona oleh kecantikannya, gadis itu…… Kinoshita
Nanami-san sepertinya menyadari keberadaanku, lalu buru-buru merapikan poni
yang berantakan dan hendak pergi dari sana.
"Tu-tunggu!"
"Hikk…………!?"
Aku tak
sengaja memanggilnya. Dia
tampak sangat terkejut, dan kembali menjadi gugup seperti biasanya.
Gawat. Aku
benar-benar melakukan kesalahan. Saat aku sedang memutar otak mencari alasan
untuk menutupi kecerobohanku, judul buku yang sedang dibacanya tertangkap oleh
mataku.
"I-itu…… 'Hangan', kan? A-aku juga, suka. Aku sudah menonton semua animenya."
"Eh………… benarkah?"
"U-um…………"
Buku yang dipegangnya adalah novel dari manga yang sempat
populer beberapa waktu lalu.
Sebuah mahakarya tersembunyi yang disukai karena alur
ceritanya yang klasik, bahkan sampai diadaptasi menjadi anime.
"E-eh, eh……
eh, apa kau punya karakter favorit!?"
"Kalau
ditanya karakter favorit……"
"Kinoshita-san.
Harap tenang di dalam
perpustakaan."
"I-iya………… maaf……"
Saat aku sedang tertekan oleh semangatnya yang tiba-tiba,
seorang pustakawan menegur kami, dan dia pun menunduk malu.
"Yoshihoto-kun
juga…… maaf…… a-aku, tanpa izin……"
Setelah dia meminta maaf dengan wajah penuh penyesalan,
entah kenapa aku malah melontarkan kata-kata yang tidak perlu.
"Anu……
s-setelah ini, apa kau sibuk? Kalau tidak keberatan…… apa kau mau pergi…… ke
karaoke? Aku juga…… ingin bicara soal Hangan……"
Padahal aku tidak berniat untuk akrab dengannya, tapi karena
kecantikan wajah aslinya dan kenyataan bahwa kami punya topik pembicaraan yang
sama, aku langsung berusaha mendekat.
Dia pasti akan
ilfeel. Saat aku hendak menarik kembali perkataanku……
"Ah…… kupikir……"
"…………Boleh,
kok."
"Eh…………"
"Ya?"
"Hei, hei. Lihat tidak? Siaran langsung tadi!
Katanya season dua sudah
diputuskan!"
"Dewa
banget. Kualitas gambar di cuplikannya saja gila…… ini layak ditunggu, kan?
Kalau season dua, berarti ceritanya sampai kebangkitan Seria, ya."
"Tidak,
tidak, kurasa sampai adegan pengakuan cinta. Kau dengar dialognya dengan jelas
tidak? Mereka sudah menyebutkan dialog sebelum adegan itu, kan?"
"Eh, serius?
Kalau begitu, ceritanya bakal sangat terburu-buru, dong?"
"Ya, karena
bagian itu titik berhentinya, jadi tidak bisa dihindari…… tapi aku senang
karena ada season dua!"
Sejak hari itu,
kami menjadi cukup akrab sampai sesekali melakukan panggilan telepon.
Saat berbicara
denganku, Kinoshita sangat cerewet, citranya benar-benar berbeda dengan saat
dia berada di kelas.
Entah kenapa,
rasanya sangat menyenangkan menjadi satu-satunya orang yang menyadari daya
tarik dirinya.
Kami juga
sesekali pergi bermain, dan aku sempat berpikir, mungkin saja kalau terus
begini……
Namun, aku tidak
punya keberanian untuk menyatakan cinta padanya. Sambil membohongi diri sendiri
bahwa begini saja sudah cukup, aku terus menjalin hubungan dengannya.
Saat naik kelas
dua, kami berada di kelas yang sama. Meski sudah setahun berlalu, hubungan kami
tidak ada perkembangan, kami tetap menghabiskan waktu sebagai teman akrab.
"Hei, hei,
Yoshihoto-kun…… apa kau…… akrab dengan Miyano-kun?"
"…………Ti-tidak, kenapa??"
Sekitar pertengahan bulan Mei. Saat kami sedang menelepon
seperti biasa, dia menanyakan hal itu.
Aku tahu siapa anak laki-laki bernama Miyano itu. Dia adalah
tipe pria populer yang masa kecilnya dihabiskan bersama Mizukami Noa, gadis
populer yang ceria di kelas kami. Dia adalah pemenang dalam hidup; punya adik
perempuan yang imut, junior tomboi yang sering masuk ke kelas kami, dan
kabarnya dia juga punya koneksi dengan ketua OSIS.
Mendengar nama pria itu disebut, aku merasa cemas. Suara
Kinoshita yang menanyakan tentang Miyano terdengar malu-malu…………
"Ke-kenapa
memangnya? Apa jangan-jangan kau suka…… dengannya?"
"……Bu-bukan
begitu, sih! Hanya saja,
kemarin aku sempat bicara sedikit…… lalu, tahu tidak? Kami jadi seru sekali
ngobrolnya……"
Meski dia bilang
bukan begitu, nada bicaranya terdengar bersemangat seolah sedang membicarakan
cinta. Setelah menanyakan hal yang seharusnya tidak perlu kutanyakan, aku
hancur seketika. Pembicaraan kami setelah itu tidak ada satu pun yang masuk ke
dalam kepalaku.
"Ah,
Yoshihoto-kun, akhir pekan ini……"
Sejak saat itu,
aku mulai menghindari pembicaraan dengannya.
Alasan yang
menyedihkan memang, tapi tidak mungkin aku bisa menang melawan Miyano meski
sudah berusaha keras.
Aku hanya
berpikir untuk mengundurkan diri dengan tenang sebagai teman biasa.
Tanpa kusadari,
libur musim panas pun tiba. Suatu hari, saat aku hanya berselancar di internet
tanpa melakukan apa pun, aku menemukan sebuah foto.
Dilihat dari
suasana tempatnya, sepertinya itu acara doujin. Aku sebenarnya berniat
pergi, tapi karena ragu-ragu, akhirnya aku tidak jadi pergi.
Pemilik
akun yang mengunggah foto itu adalah cosplayer pria terkenal, dan dia
sendiri mengenakan kostum karakter dari Hangan.
Kalau hanya itu,
mungkin tidak apa-apa.
Namun, di
sampingnya, ada seorang wanita cantik yang terlihat familiar.
Sambil berpose
dengan ceria, dia mengarahkan wajah yang kukenal ke kamera dengan senyum yang
belum pernah kulihat sebelumnya.
Mungkin
itu hanya orang yang mirip. Tidak, kuharap memang begitu. Atau, kalaupun itu dirinya, apa masalahnya? Dia
pasti jatuh cinta pada Miyano. Tidak mungkin…… tidak mungkin……
"…………Sudahlah, tidur saja."
Aku terlalu banyak membaca manga. Tidak mungkin ada hal
seperti off-paco (bertemu di dunia nyata setelah kenal di dunia maya).
Sambil berpikir begitu, malam itu aku memutuskan untuk
memuaskan diriku dengan melihat dada besar cosplayer yang mirip
dengannya.
Ya. Setelah
liburan musim panas berakhir, aku akan meminta maaf padanya.
Dan kalau
ternyata dia belum pacaran dengan Miyano, aku juga akan mengungkapkan
perasaanku. Kami sudah sedekat itu. Hubungan kami tidak akan memburuk hanya
karena hal seperti itu.
Namun, suasana
kelas setelah libur musim panas sangat aneh. Semua orang menatap seorang siswi, dan
bisik-bisik terdengar di mana-mana.
Gadis
yang menjadi pusat perhatian itu tidak peduli dengan tatapan tersebut, dia
hanya terus membaca buku.
Aku
memberanikan diri untuk menyapanya.
"Anu…………
lama tidak jumpa…… Kinoshita, kan?"
"Ah,
Yoshihoto-kun. Lama tidak jumpa. Apa kabarmu?"
Dia sudah
merapikan rambutnya yang dulu tampak panjang dan berat, melepas kacamatanya,
dan menggantinya dengan kontak lensa.
Sejak saat itu,
aku sudah punya firasat buruk. Tapi aku pikir, kalau Kinoshita bisa pacaran
dengan orang yang dia sukai, itu hal yang baik.
"Eh……
Kinoshita-san, ada apa? Ganti
penampilan?"
Seorang
gadis populer yang datang setelahku bertanya padanya.
"……Hanya
sedikit."
"Eh,
jangan-jangan…… yang ini??"
Saat gadis itu
mengangkat jari kelingkingnya, Kinoshita mengangguk malu-malu.
"Sebenarnya…………
hehehe."
"Waaa…… eh,
orangnya seperti apa, seperti apa? Anak sekolah kita? Apa dia keren?"
"Anu……
orang dari internet, sih…… tapi dia sangat keren, dan baik hati."
"Eh, jadi
karena itu kau ganti penampilan? Cocok sekali, lho! Saking imutnya, aku sampai
mengira kau malaikat!"
"Um……
karena dia bilang dia menyukai diriku yang seperti ini, aku jadi percaya
diri."
"Waaa………… eh, ceritakan detailnya dong!"
Otakku terasa berdenyut mendengar percakapan itu, dan kakiku
perlahan melangkah mundur. Dia hidup di dunia yang berbeda denganku. Aku yakin
akan hal itu.
Sejak saat itu,
dia menjadi populer di kelas…… tidak, bahkan di seluruh sekolah. Akun yang diduga miliknya pun menjadi
sangat viral.
Dengan
kecantikan seolah keluar dari anime dan gaya tubuh yang luar biasa, dia
mendapatkan popularitas, dan saat kami naik kelas tiga, bakatnya sebagai streamer
pun muncul…… dan sosok gadis yang kutemui hari itu tak pernah terlihat lagi.
Seandainya saja.
Seandainya aku menyatakan cinta saat kelas satu. Seandainya aku berusaha
bersaing agar tidak kalah dari Miyano.
Seandainya aku
tidak malu dan memuji daya tariknya.
Mungkin saja,
malaikat yang ada di layar kaca itu, bisa saja berada di sampingku. Aku pun
menyesalinya.
Nanami memiliki event
yang sedikit berbeda dari ketiga orang lainnya.
Pertama, sudut
pandangnya adalah karakter figuran yang tiba-tiba muncul, dan terasa terlalu
damai dibandingkan yang lain. Tidak ada adegan seperti itu, jadi event-nya
sendiri tidak memiliki kegunaan praktis.
Namun, inti dari event
Nanami bukanlah di situ. Event Nanami adalah event khusus yang
memberikan damage langsung kepada pemain melalui penggabungan dengan
rute individu Nanami.
Pada putaran
pertama, kehadiran Nanami seolah tidak ada sama sekali, dan kita bahkan tidak
bisa berinteraksi dengannya.
Pemain hanya
diperlihatkan hasil akhirnya: seorang gadis otaku yang berubah menjadi gadis
cantik setelah berpacaran dengan pria tampan yang ia kenal di internet.
Alhasil, banyak
pemain yang terpikat oleh Nanami yang bagaikan malaikat, merasa dekat dengan
hobi otaku-nya, dan terpesona oleh payudaranya yang besar.
Jika sudah
begitu, secara alami pemain akan bersemangat dan berpikir, "Aku akan
memainkan rute Nanami dan bermesraan dengan gadis otaku cantik ini!"
Namun, saat
memainkan rute Nanami, penampilan fisiknya sama sekali tidak berubah. Senyumnya
kaku, dan gerak-geriknya masih tetap gugup.
Pada akhirnya,
pemain tidak bisa melihat sosok yang diidam-idamkan dan malah mencapai ending
yang biasa saja.
Di sanalah pemain
menyadari kebenaran yang tidak ingin mereka akui.
Nanami yang
berpacaran dengan pria lain memiliki senyum yang jauh lebih bahagia dan
hidupnya lebih sukses daripada Nanami yang berpacaran dengan protagonis…… yang
disebut sebagai pemain itu sendiri.
"Hubungan
Nanami adalah yang paling menyakitkan. Aku jadi ingat masa lalu dan ingin
menangis."
Jika dipikirkan
kembali, ulasan itu benar-benar menangkap inti dari event Nanami.
"Ingat masa lalu dan ingin menangis" adalah memori pahit yang pasti
pernah dialami oleh setiap pria otaku yang menyukai karakter seperti Nanami.
Ada pria yang
lebih kaya, lebih tampan, dan punya kedudukan serta prestasi daripada dirinya.
Tanpa menjadi
pria seperti itu, mustahil bisa membahagiakan Nanami, dan bahkan jika bisa
bersatu pun, kebahagiaan itu tidak akan pernah bisa menandingi yang lain.
Dengan kata lain,
itulah rasa kekalahan sebagai pria sejati. Memberikan rasa itu kepada orang
yang telah membeli dan memainkan game tersebut adalah inti dari event
Nanami.
Meski begitu,
dalam situasi saat ini, pembicaraan seperti itu tidak terlalu relevan.
Yang terpenting
adalah Nanami bahagia. Tidak masalah apakah dia berpacaran dengan protagonis,
berpacaran dengan cosplayer, atau berpacaran dengan si Yoshihoto itu,
asalkan dia bahagia. Aku menenangkan diri dan menyapa Nanami dengan lembut.
"Yo. Apa itu
menarik?"
"Eh……
ah, tidak! ……Bukan begitu, sebentar……"
Saat aku menyapanya, Nanami buru-buru merapikan poninya
untuk menutupi wajahnya.
"Ma-maaf, aku memperlihatkan pemandangan yang tidak
sedap dipandang……"
"Tidak, tidak, aku juga minta maaf. Maaf karena
tiba-tiba mengajak bicara."
Terlalu negatif untuk seseorang yang tidak percaya diri
dengan kelucuannya sendiri. Yah, itulah pesona Nanami. Rasanya menyenangkan
karena seolah hanya aku yang mengetahuinya…………
"Hah!?"
"Ke-kenapa!?"
Mungkin karena aku berhadapan langsung hanya berdua saja
dengan Nanami, asumsi khas otaku yang hampir kulupakan pun aktif kembali. Bahkan aku sendiri terkejut sampai
mengeluarkan suara. Kinoshita Nanami benar-benar menakutkan.
"……Hei, kau
di sana. Tenang."
Lagipula, karena
aku membuat keributan, aku malah ditegur oleh pustakawan.
"Maaf.
Gara-gara aku, kita diusir……"
"Ti-tidak…… ini salahku………… ya……"
Karena aku yang penampilannya jelas terlihat seperti
berandalan membuat keributan, pustakawan menegur kami cukup keras.
Kami berdua yang
merasa canggung pun memutuskan untuk keluar dari perpustakaan. Tapi meski sudah
keluar, kami tidak punya tujuan. Kami hanya berjalan di koridor.
Apa yang harus
dilakukan sekarang?
Meski aku diminta
untuk akrab dengannya…… mungkin aku coba angkat topik soal event kali
ini.
"Ngomong-ngomong Kinoshita. Kenapa kau sampai ingin
mengajak Ketua ke acara itu?"
"Eh………… itu, aku dengar…… orang yang kusukai…… akan mengenakan kostum…… karakter
dari manga favoritku……"
Begitu ya. Mungkin orang itulah pria cosplayer yang
muncul di event Nanami.
Mungkin
di sana mereka bertemu dan bertukar kontak. Pria itu cukup cepat dalam
bertindak…… yah, karena orangnya sendiri terlihat bahagia, jadi tidak masalah.
"A-apa Ibuse-kun…… tidak…… membaca manga……?"
Nanami berusaha berbicara denganku meski masih terlihat
gugup. Mungkin Nanami juga berusaha untuk akrab dengan caranya sendiri.
"……Aku
jarang, sih. Tentu aku tahu kalau itu menarik, tapi mau bagaimana lagi."
"O-oh,
begitu ya…………"
Sebenarnya aku
menyukainya, tapi aku berbohong karena kalau ditanya "Apa yang kamu
sukai?", aku tidak akan bisa menjawabnya. Lagipula, manga itu tidak ada di
dunia ini.
"……………………"
"……………………"
Gawat.
Pembicaraannya terhenti dalam sekejap. Aku baru sadar betapa mudahnya berbicara
dengan mereka yang bisa memberikan respons yang pas.
Adakah topik
lain………… ah, benar.
"Hei, bagaimana hubunganmu dengan Yoshihoto?"
"Eh!? Yoshihoto-kun!?"
Yoshihoto adalah pria yang menjadi narator di event
Nanami. Dia satu kelas dan aku ingat namanya.
Tentu saja di
dunia ini dia punya wajah. Penampilannya benar-benar seperti pria otaku biasa.
"Iya.
Kalian sering bicara, kan? Aku cuma penasaran dengan hal itu."
"Ti-tidak,
tidak, tidak, tidak!! Aku
dengan Yoshihoto-kun hanya…… hanya teman!!"
Nanami
menggelengkan kepalanya dengan kuat sampai wajahnya memerah. Jangan-jangan
ini…… apakah ada peluang?
"Kalau begitu, seharusnya kau ajak dia ke acara akhir
pekan lalu. Bukankah lebih baik kalau hobinya cocok?"
"Soal itu………… aku sempat berpikir untuk…… mengajak,
tapi………… katanya dia sibuk……"
"Sibuk
ya………"
Teringat kembali
kalau dia pernah bilang sudah lama menghindarinya. Atau lebih tepatnya, aku
jujur tidak ingat.
Saat kami
berjalan sambil membicarakan hal itu, tanpa sadar kami sudah sampai di rak
sepatu.
Apa yang harus
dilakukan sekarang?
Sepertinya akan
ada alur untuk pulang bersama, tapi aku cemas apakah topik pembicaraannya akan
bertahan sampai akhir.
Di sini,
aku akan memberanikan diri untuk mengangkat topik yang disebut
"Hangan" itu.
Sambil
berpikir begitu, aku mengganti sepatuku, lalu keluar dari pintu masuk menuju
gerbang sekolah, dan aku mendengar suara langkah kaki berlari ke arah sini dari
suatu tempat.
Ada juga
orang yang semangat ya.
Saat aku
hendak mengabaikannya, pada saat itu juga.
Sesuatu
menabrak punggungku dengan kekuatan yang luar biasa.
"SEEEENPAIIIII!!"
"Gafh!?"
"Ibuse-kun!?"
Aku
berhasil menahan tekel yang dilancarkan bersamaan dengan teriakan manis dari
belakang. Tapi aku tidak
ingin memastikan siapa pelakunya. Pasti akan jadi merepotkan.
"Apa
yang sedang kau lakukan!! Tidak puas hanya dengan aku dan Ketua!! Ternyata
masih soal dada, ya! Begitu, kan!! Senpai mesum!! Si otaku dada ini!!"
Namun,
meskipun aku tidak memastikannya, pelakunya tidak peduli dan terus
menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil memelukku dari belakang.
Lagipula,
hal gila apa yang diucapkan oleh gadis boku-kko ini?
"Da-da-da-da-da……!?"
Lihat
saja. Nanami sampai gemetar dengan wajah yang memerah padam. Itu pelecehan seksual, tahu.
"Kalau ada
alasan, aku akan mendengarkannya!! Karena aku ini murah hati!!"
"Bukan
seperti yang kau pikirkan. Kebetulan saja kami bersama."
"Pembohong!!
Bahkan secara
kebetulan pun, tidak ada orang yang ingin pulang bersama dengan orang seperti
Senpai!!"
"Hei"
Memang
benar, tapi ada hal yang boleh dan tidak boleh dikatakan, kan.
"Hei,
Nanami, katakan sesuatu juga──"
"Ti-ti……"
Saat aku menoleh
ke arah Nanami sambil merasa heran, Nanami mengeluarkan suara paling keras hari
ini sambil menutupi dadanya yang montok dengan kedua tangannya, wajahnya
semakin memerah.
"Tidak enak,
kok!!"
"Kau juga
sedang bicara apa!?"
Sambil
meneriakkan kalimat yang luar biasa, Nanami melompat keluar dari gerbang
sekolah seolah ingin kabur dariku.
"Hmph!!"
"…………Kau
ini."
Terhadap Akari
yang meski aku disalahpahami secara luar biasa oleh Nanami, ia malah terlihat
puas dan menang, aku pun memutuskan untuk menjelaskan situasi saat ini dari
awal.
"Aku sempat
berpikir macam-macam saat mendengar cerita dari Nanami, tapi…… ternyata
begitu……"
Jumat, 12 Juli.
Hari ini pun, kami berkumpul di ruang OSIS saat istirahat makan siang dan
mendiskusikan tentang "Insiden Dada" kemarin.
"Ketua juga
curang! Padahal aku juga ingin pergi bermain dengan Senpai! Diam-diam menyusun
rencana!"
"Maaf. Aku
mengira kalian sudah tahu karena kalian selalu bersama."
"Dehehe…… tidak juga……"
"Tidak juga apanya."
Saat aku memegangi kepalaku melihat respons tidak jelas dari
Akari yang sedang malu-malu, Shiori yang melihat keadaan itu tersenyum lembut
sambil bertanya pada Akari.
"Apa
Akari-chan mau ikut juga? Bagaimana dengan klub?"
"Aku
akan libur!"
"Tidak
mungkin bisa, kan? Kompetisinya sudah dekat."
Aku
menarik kepala Akari yang dengan semangat mendeklarasikan bolos. Lalu Akari
menggembungkan pipinya dan mulai menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan kanan.
"Che…… enak sekali, curang……"
"Apa yang
curang?"
"Karena,
pergi jalan-jalan dengan Senpai, bahkan aku saja belum pernah melakukannya,
kan? Aku juga ingin pergi jalan-jalan dengan Senpai!"
"Apa maksud
dari kata 'bahkan aku saja' itu."
Saat aku bingung
harus membalas apa atas pendekatan dari Akari, Shiori yang terlihat sangat
menikmati situasi ini memberikan sebuah usulan.
"Begitu ya,
Akari-chan. Bagaimana kalau begini? Kalau bisa memberikan hasil di kompetisi
nanti, sepertinya Ibuse-kun mau mengajakmu kencan?"
"Eh!? Sungguh!?"
"Tidak, jangan asal menyusun rencana."
Mendengar
usulan dari Shiori, Akari menatapku dengan mata yang berbinar-binar.
Aku
berpikir untuk menolaknya karena terlalu mendadak, namun aku tidak tahan dengan
mata besar Akari yang murni itu, jadi aku dengan enggan mengangguk.
"……Hanya
sekali, ya."
"!! Aku akan
berusaha!!"
Akari yang
mendapatkan persetujuanku segera berdiri dari kursinya, bersiap-siap, dan lari
meninggalkan ruang OSIS.
"Benar-benar……
tidak perlu mengejarnya?"
"Fufu. Kamu tidak akan bisa mengejar Akari-chan."
Saat aku dan Shiori yang tertinggal melakukan percakapan
itu, Shiori tiba-tiba mulai duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Akari.
"Apa yang
kau lakukan?"
"…………Tidak
ada. Aku sedang merasakan kehangatan Akari-chan."
Wajah Shiori yang
mengatakan hal tidak jelas itu terlihat agak sedih, seolah-olah sedang
menunjukkan ekspresi setelah marah kepada Kaede hari itu.
"Jadi.
Apakah kau bisa berhubungan baik dengan Nanami?"
"Bagaimana,
ya. Sepertinya Nanami tidak suka dengan orang sepertiku, dan sejujurnya, aku
juga tidak terlalu suka dengannya."
"Tak
terduga. Kupikir kau punya bakat untuk memikat wanita."
"Tolong
jangan katakan hal aneh. Bagaimanapun juga, kau adalah Ketua OSIS, dan Nanami
adalah temanmu, kan."
"Oh…… apakah
itu hal yang buruk untuk kukatakan?"
"Aku
tidak sampai bilang itu buruk, tapi……"
Saat kami
melakukan percakapan misterius itu, Shiori berdiri dengan wajah tidak puas dan
teringat sesuatu, "Ngomong-ngomong".
"Ada rapat
sepuluh menit lagi. Aku baru ingat."
"Hah!?"
"Sebentar
lagi anggota lain juga akan datang. Wah, benar-benar minta maaf."
"Kau……
masih ada setengah lagi, kan!?"
"Ayo ayo, cepat cepat~"
Didorong oleh tepukan tangan Shiori, aku pun melahap bekal
buatan Shiori ke dalam perutku seperti Akari tadi, membereskannya dengan cepat,
dan menyerahkannya pada Shiori.
"Terima
kasih! Enak!"
"…………Kalau
begitu, syukurlah. Kalau begitu, sampai jumpa hari Minggu. Di tempat pertemuan,
ya."
Setelah
mengonfirmasi kembali janji akhir pekan, aku meninggalkan ruang OSIS seolah
ingin kabur.
"Benar-benar…………"
Aku
termenung sendirian di ruang OSIS yang menjadi sunyi. Entah mengapa rasa kesepian ini sudah lama tidak
kurasakan.
"Apakah dia
peka atau tidak…………"
Aku duduk di
kursi yang diduduki Ibuse-kun sampai beberapa saat lalu. Masih terasa agak
hangat. Ditambah lagi, aku merasa tercium aroma anak laki-laki.
"Ahー. Seandainya aku juga adik kelasmu. Apakah
aku bisa disayangi?"
Aku sendiri
paham. Ini tidak
lebih dari sekadar rasa menyesal. Ibuse-kun bukanlah pria yang menilai sesuatu
berdasarkan apakah orang itu lebih tua atau lebih muda.
Tapi…………
"Terima
kasih! Enak!"
Senyumannya murni
seperti anak kecil. Curang sekali, padahal dia memiliki wajah yang jahat.
Aku bisa
merasakan bahwa dia mengatakannya dari lubuk hatinya yang terdalam, padahal aku
sudah berusaha melupakannya, tapi malah jadi tidak bisa menyerah, kan.
"……Kau
benar-benar pria yang berdosa. Kau itu."
Minggu,
14 Juli. Untuk menemani Nanami yang ingin pergi ke acara cosplay, aku
tiba di stasiun terdekat dari lokasi acara lebih awal, lalu duduk di bangku
terdekat menunggu mereka berdua.
Acara itu
diadakan di dalam kubah dan sekitarnya, dan saat aku tiba, area stasiun sudah
penuh dengan banyak orang.
Meskipun begitu,
suasana ini terasa nostalgia. Aku pernah pergi ke konser pengisi suara satu
kali dulu, dan hawa panas serta euforia yang unik ini sangat bagus. Isinya hanya orang-orang yang
mengenakan kostum karakter yang tidak pernah kulihat, tapi itu juga
menyenangkan.
Namun,
entah mengapa aku terus diperhatikan dan benar-benar dihindari. Ruang di
sekitar bangku tempatku duduk kosong secara tidak wajar.
Apakah
ini berarti tempat ini bukan tempat yang cocok untuk didatangi pria seperti
Ibuse Reo?
Yah,
kalau ada orang berpenampilan sepertiku, aku pun akan menghindarinya.
Bukankah
aku terlihat seperti orang berbahaya yang sepenuhnya datang untuk mengincar
para cosplayer?
"Haa…………"
Saat aku
menghela napas karena tidak bisa menikmati acara ini dengan murni, Shiori
mendekatiku dengan pakaian kasual.
"Maaf
membuatmu menunggu. Wah, tempatmu mudah ditemukan, sangat membantu."
"…………Syukurlah
kalau begitu."
Hari ini
Shiori terlihat lebih dewasa dari biasanya.
Dia melepaskan
ikat rambutnya dan mungkin juga memakai make-up. Mengenakan blus
kotak-kotak hijau dan celana jins biru tua…… itu bukan pakaian kasual siswa
SMA, kan.
Shiori juga
membuat tatapan orang-orang tertuju padanya. Aku merasa kasihan pada Nanami
yang akan dimasukkan ke tengah-tengah situasi seperti ini………… eh?
"Di mana
Nanami? Bukankah dia bersama dengannmu?"
"Dia ada. Di sini."
"Ti-tidak,
jangan!! A-aku belum siap secara mental!!"
Ternyata
Nanami bersembunyi di belakang Shiori, dan bahkan sekarang, dia masih berusaha
keras menempel di punggung Shiori agar tidak terlihat olehku.
"Kamu
harus terbiasa dengan Ibuse-kun, kalau tidak, ke depannya akan berat, tahu?
Ayo, keluar, ayo keluar."
Shiori
memutar tubuhnya dengan luwes dan menyodorkan Nanami yang sedang bersembunyi ke
hadapanku.
"Ti-tidak…… eh!?"
Karena dorongan itu, Nanami terhuyung dan hampir terjatuh,
tapi dia berhasil menahan dirinya.
Namun, bukannya mengkhawatirkan Nanami, kata-kata yang
sangat buruk justru terlontar dari mulutku sebelum aku sempat berpikir.
"GEEEE……!!!?"
Aku baru tersadar bahwa seragam sekolah hanyalah alat
pengekang. Pakaiannya sendiri tergolong standar, tapi daya hancur di bagian
tertentu terlalu berbeda.
Berkat dia yang terhuyung, dada montok itu bergoyang di
depan mataku, dan karena aku tidak bisa menahan reaksi, aku segera membuang
muka untuk menutupi kekacauanku.
"……Reaksi
macam apa itu, Ibuse-kun."
"Tidak!?
Tidak ada apa-apa!?"
Aku merasakan
tatapan dingin dari Shiori. Katanya perempuan peka terhadap pandangan pria,
tapi memang sulit untuk tidak melirik yang seperti ini. Tolong, maafkan aku.
"…………"
Nanami pun segera
kembali ke belakang punggung Shiori seolah bersembunyi dariku. Shiori tidak
lagi berusaha mendorong Nanami ke depan dan terus mengirimkan tatapan dingin ke
arahku.
"Lupakan
pria seperti dia. Ayo pergi, Nanami. Bukankah ada banyak hal yang ingin
kau lakukan?"
"U-um……"
"Tunggu……
aku salah! Aku salah, jadi tolong!"
Aku meminta maaf kepada mereka berdua yang pergi
meninggalkan tempatku seolah melarikan diri, lalu aku pun terpaksa mengejar
mereka.
"A-ano, bolehkah saya memotret…… fotonya?"
"Tentu saja boleh. Apakah ada pose tertentu yang Anda
inginkan?"
"Ah, kalau begitu──"
Setelah itu, Nanami dengan asyik memotret para cosplayer.
Aku sempat khawatir apakah Nanami yang pemalu akan bisa
mengajak mereka bicara, tapi sepertinya kekhawatiranku tidak terbukti. Soal
yang satu itu, otaku perempuan memang hebat.
Saat aku memperhatikan Nanami dari jarak yang sedikit jauh
dengan melipat tangan, Shiori menghampiriku di sebelah kanan dengan wajah yang
tampak lelah.
"Tempat ini
cukup melelahkan, ya……"
"Hm? Apa
terjadi sesuatu?"
"Tidak……
dari tadi aku terus diajak bicara oleh berbagai orang. Entah bagaimana…… kalau
aku boleh bicara jujur tanpa memilih kata, aku sangat lelah."
"Ah…… semangat ya."
Tentu saja, Shiori itu cantik. Tubuhnya tinggi dan gayanya
pun luar biasa. Pasti banyak orang dengan berbagai tujuan yang akan mengajaknya
bicara.
"……Kamu
sepertinya tidak diajak bicara oleh siapa pun."
"……Yah,
tidak ada orang aneh yang mau mengajak bicara orang dengan penampilan seperti
ini."
Meskipun
wajahku terlihat menyeramkan, seharusnya Ibuse Reo juga termasuk dalam kategori
pria yang cukup tampan.
Namun, reaksi
orang di sekitar hanyalah tatapan ketakutan. Meskipun aku sudah mulai terbiasa,
tetap saja ada sedikit rasa sakit di hati.
"Kalau
begitu, izinkan aku beristirahat di sebelahmu sebentar."
"Silakan
sesukamu."
Saat kami berdua
memperhatikan Nanami yang tampak bersenang-senang, entah mengapa Shiori mulai
terlihat gelisah.
Aku menyadarinya,
tapi karena malu jika ternyata aku salah paham, aku memutuskan untuk
mengabaikannya dulu.
"……Ah,
sepertinya pemotretannya sudah selesai."
Nanami selesai
memotret dan celingukan mencari keberadaan Shiori.
"Ah…………"
Saat aku bergerak
untuk menyusul Nanami, tangan kananku tidak sengaja bertabrakan dengan tangan
kiri Shiori.
"Ah,
maaf—"
Saat aku hendak
meminta maaf karena tidak sengaja menabraknya, Shiori lebih dulu menjadi panik.
"Wa-salah!!
Tidak, bukan itu!! Ini karena…… ya! Ada debu di bajumu! Aku mencoba
mengambilnya!"
"Eh,
benarkah?"
"Ya! Diamlah
seperti itu! Aku yang
akan mengambilnya!"
"Tidak
perlu sampai begitu. Kalau ditepuk-tepuk juga bisa."
"Ah…… begitu ya. Ya, benar juga…………"
Aku menepuk-nepuk bajuku asal-asalan, lalu meminta
konfirmasi dari Shiori.
"Bagaimana? Sudah bersih?"
"Sempurna! Kamu hebat!"
"Dipuji hanya karena hal seperti ini……"
Mungkin karena
terbawa suasana yang unik ini, Shiori pun menjadi aneh. Mood-nya lebih
tinggi dari biasanya. Yah, itu pun terasa cukup manis untuk anak seusianya.
"………………"
Saat aku dan
Shiori sedang mengobrol seperti itu, aku menyadari bahwa Nanami yang sudah
mendekat sedari tadi sedang menatap kami dengan tatapan kosong.
"Ada apa?"
"…………Ah…… tidak!! Tidak ada apa-apa!"
Sepertinya mereka
berdua lelah. Hari ini panas sekali, mungkin sebaiknya aku menyarankan mereka
untuk beristirahat sejenak……
"Ah…… orang itu…………!"
Sebelum aku
sempat menyarankan istirahat, Nanami menyadari keberadaan seorang cosplayer.
Di arah
pandangannya, memang ada seorang pria yang levelnya berbeda dari cosplayer
lain, dan sepertinya sesi pemotretannya baru saja selesai.
"Apakah pria
itu targetmu?"
"Ya, iya! Benar sekali!"
Begitu
ya. Memang terlihat populer, dan kurasa sekarang saat dia sedang senggang
adalah kesempatan emas.
"Kalau
begitu, cepatlah pergi. Nanti diambil orang lain."
"Baik!
Aku pergi dulu!"
Nanami
begitu bersemangat sampai tidak sadar bahwa orang yang dia ajak bicara adalah
aku.
Kalau dia
memang sebahagia itu bisa berpacaran dengan pria yang dia sukai, aku tidak
punya hak untuk berkomentar apa pun.
Tapi,
entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal…… semacam perasaan yang mengganjal di
dadaku……
"……Ngomong-ngomong,
orang-orang di sini hebat sekali, ya. Mungkin mereka membuat kostum yang luar biasa itu di sela-sela kesibukan
kerja?"
Saat aku sedang
merasa curiga sambil memperhatikan Nanami yang mulai melakukan sesi foto dengan
pria itu, Shiori bergumam sambil melihat sekeliling.
"Katanya ada
juga yang memesan lewat penyedia jasa. Selain itu, kostum juga dijual di
internet."
"Eh…… kamu
tahu banyak juga, ya."
"Tentu saja
aku sedikit melakukan riset."
Tentu saja itu
bohong. Itu hanya penggunaan pengetahuan dari kehidupan sebelumnya.
Meski
begitu, aku benar-benar menghormati orang yang membuat kostum sendiri sambil
bekerja.
Padahal
aku saja sudah kewalahan hanya dengan kuliah dan kerja paruh waktu.
Apakah
motivasinya berbeda?
Meskipun
sudah menjadi anggota masyarakat, mereka tetap bekerja untuk mendapatkan uang
demi kostum cosplay……
……tunggu dulu.
"Ketua.
Berapa umur pria itu menurutmu?"
Aku menunjuk pria
yang sedang difoto oleh Nanami dan bertanya pada Shiori.
"Kenapa tiba-tiba?"
"……Dia tidak terlihat seperti pelajar, kan?"
"Yah…… benar juga. Paling muda pun usianya sudah akhir
dua puluhan. Memangnya kenapa?"
"Tidak…………"
Entah mengapa aku merasa ada kejanggalan. Saat bermain game
aku tidak merasa apa-apa, tapi saat hal ini menjadi nyata, hubungan antara
Nanami dan pria itu terasa sangat janggal…………
Benar.
Aku benar-benar lupa. Otakku secara sepihak memprosesnya sebagai sesuatu yang
normal. Hubungan mereka berdua diizinkan hanya karena mereka adalah fiksi, tapi
jika menjadi nyata, itu adalah masalah.
"……Ada
apa, Ibuse-kun?"
Apa yang
disebut sebagai pencabulan terhadap anak di bawah umur. Tentu saja, kalau itu
hubungan yang sehat, tidak masalah.
Tapi, ini
adalah game yang diciptakan oleh seseorang tanpa hati, yang memberikan ending
seperti itu kepada Akari, Shiori, dan Noa. Kemungkinan itu jauh lebih kecil.
Kalau
begitu, masalahnya adalah seberapa jauh pria itu memahami latar belakang
Nanami.
Bahwa dia
seorang pelajar adalah hal yang bisa diketahui setelah sedikit berpacaran, dan
aku tahu setelah bicara dengan Nanami, dia tidak selugu itu. Sulit dipercaya
dia akan dengan mudah memberikan tubuhnya.
Artinya,
ada kemungkinan pria itu menggunakan cara tertentu. Mungkin minuman keras, atau bahkan obat-obatan……
ah, sudahlah!
Hanya event
Nanami yang memiliki elemen spekulasi yang sia-sia!
Apakah otaku
yang menyukai Nanami juga menyukai hal semacam ini!?
Memang benar
begitu!! Tapi, perasaan bahwa aku telah dibaca seperti itu justru membuatku
kesal!!
"Ibuse-kun?
Wajahmu seram sekali, lho."
"Itu sudah
biasa. Tapi sekarang lebih dari itu……"
Aku menundukkan
kepala pada Shiori yang sejak tadi mengkhawatirkanku, lalu melanjutkan
berpikir. Haruskah aku menghentikannya, atau tidak?
Bahan
pertimbangannya masih terlalu sedikit. Namun, ini adalah dunia game itu.
Tidak mungkin
hanya dengan memberikan damage besar pada otaku seperti kami,
Nanami bisa lolos sendirian dari masa depan yang hancur.
Karena di ending
di mana Nanami berpacaran dengan cosplayer itu pun, tertulis dengan
jelas bahwa itu adalah bad end.
"……Mungkin
aku akan meminjam kekuatan Ketua lagi."
"Dimengerti.
Mari kita bersiap."
Menilai bahwa
hanya berpikir tidak akan menyelesaikan masalah, aku menundukkan kepala
dalam-dalam sekali lagi kepada Shiori.
Panggilan itu
membuat Shiori beralih ke mode kerja dalam sekejap, dan kami berdua memutuskan
untuk bergerak mendekati Nanami yang tampak bahagia.
"Benar-benar
cocok sekali! Seolah-olah keluar dari anime──"
Setelah sesi foto
selesai, aku mengamati Nanami yang sedang berbicara dengan pria itu dari jarak
jauh. Sejauh yang terlihat dari kejauhan, tidak ada masalah apa pun.
Kalau bisa
berakhir seperti ini saja sudah cukup. Saat aku berpikir begitu, Shiori yang
berwajah serius menegurku.
"Apakah
ada rumor buruk tentang orang itu?"
"Tidak……
hanya perasaan saja. Apa yang
disebut intuisi."
Ya. Sebenarnya
ini hanya intuisi. Jika mereka berdua berpacaran mulai sekarang, ada
kemungkinan mereka akan melakukan hubungan yang sehat.
Kalau itu yang
terjadi, tidak masalah. Tapi bagaimana cara memastikan fakta itu? Pria yang
sudah sukses seperti dia tidak akan dengan mudah menunjukkan ekornya.
"Baiklah.
Kalau begitu aku yang akan turun tangan. Intuisi kamu layak untuk
dipercaya."
Sebelum aku
sempat memberikan solusi apa pun, Shiori sudah bergerak menuju mereka berdua.
"……Jangan
berbuat nekat, ya."
"Aku tahu.
Kalau terjadi sesuatu, aku akan segera memanggilmu."
Pria itu
seharusnya tidak punya niat untuk membuat keributan di tempat seperti ini.
Mempercayai bahwa
dia akan mendapatkan bukti yang meyakinkan, aku memutuskan untuk
mempercayakannya pada Shiori.
"Maaf.
Bolehkah saya minta satu foto juga?"
"Eh!?"
"Ah, maaf.
Saya malah asyik mengobrol…… silakan. Apakah ada pose yang diinginkan?"
Saat aku menyapa,
pria itu menanggapinya dengan ramah.
Dari penampilan
dan cara bicaranya, aku tidak bisa menangkap suasana yang buruk.
Semoga saja itu
hanya kekhawatiran Ibuse-kun yang tidak berdasar.
"Hmm……
sejujurnya saya kurang paham dengan acara seperti ini…… hari ini saya
datang untuk menemani anak ini. Dan karena Anda terlihat sangat cantik, saya
jadi tidak tahan. Apakah ada pose yang direkomendasikan? Kalau begitu, tolong
ya."
"Wah. Kalian
berdua teman, ya?"
"……Ah, iya!
Benar sekali!"
Setelah pria itu
memastikan bahwa aku dan Nanami adalah teman, dia tersenyum puas.
"Terima
kasih atas pujiannya. Kalau begitu, mari kita ambil pose terbaik."
Lalu dia
melakukan pose yang entah apa maksudnya, dan aku pun mengambil satu foto.
Ini pertama
kalinya aku memotret seseorang, tapi…… ini lumayan juga. Suatu saat aku ingin
memotret wajah tidur Ibuse-kun.
"Terima
kasih. Ini pengalaman yang bagus."
"Sama-sama……
ngomong-ngomong, saya tadi mengobrol dengan teman Anda di sana, apakah Anda
punya rencana setelah ini?"
Begitu ya.
Ternyata intuisimu tajam untuk hal semacam ini.
"Tidak,
tidak ada."
"Kalau
begitu, bagaimana kalau kita makan bersama? Setelah ini ada acara after-party,
tentu saja bukan hanya saya, jadi jangan khawatir."
"Tapi kami
masih pelajar dan di bawah umur, jadi kalau sampai larut malam……"
"Anda tidak
perlu khawatir soal itu. Karena ada peserta pelajar lainnya juga, kami
berencana bubar lebih awal. Bagaimanapun juga, acara ini masih ada besok. Kami
orang dewasa juga tidak bisa minum terlalu banyak."
Penjelasannya
masuk akal. Terlalu rapi, bahkan. Tapi……
"……Bagaimana menurutmu?"
"Eh…… aku!?"
Aku bertanya pada Nanami yang sedari tadi menatapku dengan
wajah cemas.
"Apakah kamu
ingin pergi?"
"A-aku……
kalau bisa, aku ingin mengobrol lebih banyak lagi, ada juga yang ingin aku
konsultasikan, dan katanya akan banyak cosplayer terkenal lain yang akan
datang…… Aku juga sudah memberi tahu Ibu bahwa aku akan pulang terlambat hari
ini……"
"Begitu,
ya."
Aku bisa saja
menarik Nanami dengan paksa. Tapi kurasa ada baiknya menyampaikan hal ini
kepada Ibuse-kun sekali saja.
"Maaf.
Tolong biarkan saya berpikir sejenak. Saya harus menghubungi orang tua saya
dulu."
"Dimengerti.
Kalau sudah berubah pikiran, silakan hubungi saya."
Setelah berkata
begitu kepada kami, pria itu pergi entah ke mana. Kemudian, setelah memastikan
pria itu pergi, Nanami menyapaku.
"……Apa
jangan-jangan kamu mengkhawatirkanku? Tidak apa-apa, Shiori-chan. Orang itu orang
terkenal, dan dia bukan orang jahat. Dia orang yang sangat baik karena mau
mendengarkan konsultasi dari orang awam sepertiku."
"……Semoga
saja begitu."
Memang
ada teori bahwa jika dia orang terkenal maka tidak akan berbahaya.
Tapi
sebaliknya, justru karena dia orang terkenal, ada banyak hal yang bisa terjadi.
Nanami
bukan tidak tahu hal itu, tapi Nanami yang sekarang sudah benar-benar
menuhankan pria itu.
Dia pasti
menganggapnya sebagai keberadaan yang jauh. Karena itulah, dia tidak menyadari tatapan pria
itu sekarang. Tatapan menjijikkan yang terus melihat tubuh kami.
Lalu, sambil
mengajak Nanami yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu, kami kembali ke
tempat Ibuse-kun.
"Begitu,
ya……"
Saat Nanami
sedang memotret cosplayer lain, aku diberitahu oleh Shiori tentang
informasi yang baru saja didapat. Cara mengajak yang berpengalaman.
Dan tatapan yang
diarahkan ke Shiori dan teman-temannya. Meskipun tidak bisa dipastikan, itu
semua adalah informasi yang bermanfaat.
"Bagaimana?
Nanami sepertinya sangat jatuh cinta pada pria itu. Jika tidak dihentikan, dia
akan pergi makan dengan sukarela."
"Bagaimana,
ya……"
Meski
begitu, masih banyak elemen yang belum pasti. Bisa jadi itu benar-benar hanya acara makan-makan
biasa.
Jika ingin
memikirkan kemungkinan terburuk, aku harus menghentikannya, tapi buktinya masih
terlalu sedikit. Aku ragu Nanami akan menerimanya jika aku mengatakannya.
"Ada banyak
orang lain yang akan datang juga. Lagipula, tidak mungkin dia melakukan sesuatu
pada anak di bawah umur. Bagaimana jika kita cukup memberikan peringatan keras
kepada Nanami?"
"……Kalau
begitu, aku minta Ketua untuk menemani Nanami pergi ke acara makan itu. Uangnya
aku yang tanggung, dan aku akan bersiap di restoran terdekat untuk berjaga-jaga
jika terjadi sesuatu."
"Mengerti…… fufu."
Saat sedang berdiskusi serius dengan Shiori, tiba-tiba
Shiori mulai tertawa.
"Ada apa?"
"Tidak…… aku pernah bilang kan, kalau orang tuaku
adalah polisi? Karena itulah aku juga mengagumi hal semacam ini. Dengar-dengar
orang tuaku juga bekerja bersama saat masih muda. Saling membantu, terkadang
berselisih, tapi akhirnya saling mengasah kemampuan, dan tanpa disadari mereka
berdua…… ah……"
Saat aku mengira dia sedang membanggakan orang tuanya, wajah
Shiori tiba-tiba memerah dan dia mulai panik.
"Bukan
begitu!? Ini bukan berarti aku mengatakan kita berdua seperti orang tuaku,
lho!?"
"……Ya
iyalah, kan?"
"………………Si
bodoh yang tidak peka."
"Kenapa!?"
Aku
menanggapi hal yang sudah seharusnya, tapi entah mengapa Shiori malah menjadi
kesal.
"……Sudahlah.
Aku akan memberi tahu Nanami kalau aku juga ikut. Dia sendiri pun akan merasa
sedikit lebih tenang daripada pergi sendirian."
"Tolong,
ya. Dan juga──"
"Jangan
berbuat nekat, kan?"
Sebelum
aku memperingatkannya, Shiori menjawab sambil menempelkan jari telunjuknya ke
bibirnya sendiri.
"……Begitulah."
Aku
merasa gugup melihat sikap yang terlihat dewasa sekaligus kekanak-kanakan itu,
dan aku tidak sengaja membuang muka dari Shiori.
"…………Ada
apa?"
Mungkin
karena dia merasakan sesuatu dari sikapku, Shiori masuk ke dalam pandanganku
yang tadinya aku hindari, lalu mengintip wajahku.
"Tidak.
Tidak ada apa-apa."
"Bohong.
Kamu pasti menyembunyikan
sesuatu setiap kali bersikap seperti itu. Coba katakan. Aku tidak akan marah,
jadi katakanlah. Ayo."
Shiori terus
mendesakku dengan gigih. Padahal dia sendiri yang menyebutku bodoh yang tidak peka, tapi dia
sendiri seperti ini. Seharusnya tadi aku arahkan cermin padanya.
"Sudahlah.
Percuma menyembunyikannya sekarang. Apa kamu berencana melakukan sesuatu di belakang seperti saat menolongku?
Ingin pamer di depan Nanami?"
"Bukan
begitu. Lagipula, tolong jangan ungkit masalah itu lagi. Aku sangat malu saat
ketahuan……"
"Kalau
begitu, jujurlah. Ayo ayo. Jangan pikir kamu bisa melawanku."
Jika sudah
begini, Shiori benar-benar sangat gigih. Sebenarnya aku bisa saja jujur……
"……………Kalian
terlihat bersenang-senang, ya, Shiori-chan."
"Eh!?
Tidak…… tidak senang, ya!? Sama sekali tidak!!"
Saat kami sedang berinteraksi seperti itu, Nanami kembali
dan menyapa Shiori sambil nyengir. Menerima godaan dari Nanami, Shiori kembali
panik, dan berkat itu, desakan padaku jadi terlupakan.
Setelah itu, saat Shiori memberi tahu bahwa dia telah
memutuskan untuk ikut acara makan-makan tadi, Nanami sangat senang dan
menghubungi pria itu.
Lalu, acara makan-makan yang dimaksud dimulai, dan aku
menunggu selama satu jam di kedai kopi terdekat, memikirkan kapan giliranku
akan tiba.
Selama waktu itu,
tidak terjadi apa-apa.
Aku sudah meminta
Shiori untuk segera menghubungiku jika terjadi sesuatu, tapi tidak ada kabar
selama tiga puluh menit.
Restoran tempat
mereka masuk juga merupakan jaringan restoran terkenal di dunia ini, ada banyak
pelanggan lain di sana, dan suasananya tidak seperti akan terjadi masalah.
Itu adalah
jangkauan yang sudah bisa dibayangkan sejak awal. Bahkan di dalam game, tidak ada cerita
tentang Nanami yang terlibat dalam sebuah insiden.
Aku juga
sempat mencari pria itu di internet saat menunggu, tapi tidak ada satu pun
rumor buruk yang muncul.
"Haa……"
Karena segalanya
berjalan lancar sejauh ini, aku pikir kali ini pun akan baik-baik saja.
Lawannya bukan
pelajar seperti yang selama ini aku hadapi. Jika mempercayai kata-kata Shiori,
seharusnya ada sesuatu.
"…………Bagaimana,
ya."
Saat aku sedang
pusing memikirkan apa yang harus dilakukan di tengah bau kopi yang tidak
kusukai, ponselku berbunyi. Saat melihat layarnya, ternyata itu dari Shiori.
"Ada
apa!"
"…………Terlalu
terburu-buru, Ibuse-kun."
Shiori sempat
terkejut dengan suaraku yang menjawab telepon dengan penuh semangat, tapi dia
segera menjadi tenang dan berbicara seolah mendinginkan emosiku.
"……Sudah
bubar. Tidak terjadi apa-apa."
"…………Begitu,
ya."
"Ibuse-kun.
Aku merasa kecewa."
Suara Shiori dari
seberang telepon terasa agak gemetar, dan terdengar seolah dia sedang
memikirkan sesuatu dengan mendalam.
"Ternyata
dugaan kita benar. Pasti ada sesuatu pada pria itu. Saat makan tadi pun ada
beberapa perilaku yang mencurigakan. Tapi kalau dibilang itu kebetulan, aku
tidak punya bantahan. Meski kecewa, aku sendiri tidak bisa mencapai apa yang
disembunyikan oleh pria itu."
Jika bahkan
Shiori yang ada di tempat kejadian tidak bisa melihat semuanya, berarti dia
memang lawan yang tangguh. Mungkin dia memang seorang profesional.
"Masalah
ini akan aku bicarakan dengan orang tuaku. Jika begitu, mungkin bukti bisa
didapatkan. Untuk Nanami…… aku sendiri yang akan memberikan peringatan keras.
Agar dia lebih berhati-hati dalam berkomunikasi dengan orang yang dikenal
melalui internet."
"……Tolong,
ya."
Kami
mematikan telepon, dan karena aku harus bergabung dengan mereka berdua, aku
memutuskan untuk meninggalkan kedai kopi.
"Senang
sekali! Hari ini senang sekali bisa datang! Terima kasih sudah menemani kami
berdua!"
"Begitu, ya.
Syukurlah."
"……Benar
juga."
Nanami yang baru
selesai acara makan tampak sangat senang. Rasa pemalu yang biasanya muncul
entah ke mana. Dia menceritakan hal hari ini dengan gembira.
Aku melihat
sekilas sosok malaikat di dalam game pada dirinya. Jika dibiarkan seperti ini, dia
akan terus maju sesuai dengan game dan berpacaran dengan pria itu.
Bahkan jika aku meminta orang tua Shiori untuk menyelidiki pria itu,
kemungkinan besar itu tidak akan sempat.
Jika
sudah begitu, aku tidak bisa menolong Nanami meskipun dia terlibat dalam
sesuatu.
Kalah
total. Ini bukan lawan yang bisa dikalahkan oleh mahasiswa yang tidak memiliki
kelebihan apa pun bahkan di kehidupan sebelumnya.
Pria itu
berada di ranah yang tidak bisa dicapai oleh anak ingusan yang merasa sudah
mengenal masyarakat melalui game dan kerja paruh waktu.
"………………"
Shiori
yang sedang menjadi teman bicara Nanami menatapku dengan pandangan "Apa
yang akan kamu lakukan?". Aku tahu aku harus melakukan sesuatu. Jika kata-kata Shiori benar,
seharusnya ada sesuatu pada pria itu.
Tapi bagaimana
cara menghentikannya. Pilihan mana yang bisa menyelamatkannya.
Apa yang harus
kukatakan agar Nanami yakin untuk tidak berurusan dengan pria itu.
Aku tidak tahu.
Apa yang harus kulakukan……
"Ah,
sepertinya keretanya akan segera datang! Cepat!"
"Eh!?"
Saat aku sedang
melamun, tanpa sadar kami sudah sampai di stasiun.
Suara nyaring itu
terdengar dari peron seolah mendesak keputusanku.
"……Tunggu!"
"Eh!?"
Tanpa
sadar aku menggenggam tangan Nanami.
Aku
merasa jika dia naik kereta sekarang, semuanya akan berakhir, dan aku tidak
memikirkan apa pun lagi setelahnya.
"A-apa
yang terjadi!?"
Apa yang
terjadi, itu yang ingin kutanyakan.
Apa yang ingin
aku lakukan. Mengapa aku berpikir begitu keras dan begitu terobsesi dengan
Nanami sampai sejauh ini.
……Tidak, hanya
ada satu alasan. Aku
ingin menolong orang yang berada dalam jangkauanku. Itu saja sudah cukup, kan.
"Hei,
Nanami. Apakah kamu menyukai pria itu?"
"Eh!? S-suka
atau apa, bukan yang seperti itu……"
"Kalau
begitu, bisakah kamu berhenti menemuinya?"
"Eh…… kenapa
Ibuse-kun sampai……"
Jika sudah
begini, aku akan mencoba peruntunganku. Hanya ini cara yang kupikirkan untuk
menolong Nanami. Pilihan yang paling sederhana sekaligus kuat. Itu
adalah……
"Nanami………… aku mencintaimu."
Menerima pengakuan dariku, Nanami berhenti bergerak
sepenuhnya, dan Shiori yang tadinya terlihat cemas di sebelah Nanami juga
terlihat seperti seseorang yang kaget setengah mati.
"Aku, sudah
sejak lama…… menyukaimu."
"Eh?? Apa……?? Eh? Aku??"
Sepertinya dia tidak mengerti maksudnya. Tentu saja, kalau
dikatakan secara tiba-tiba seperti ini, tidak mungkin dia bisa mengerti.
"Artinya
seperti yang aku katakan."
Aku terus
merangkai kata-kata untuk mendesak Nanami yang sedang bingung.
Lagipula, aku
sendiri juga sangat malu. Wajahku benar-benar terasa seperti terbakar.
"Karena itu,
jangan temui pria seperti itu lagi. Dan, jadilah pacarku."
"Eh…… ah…………
itu…… meskipun dikatakan tiba-tiba……"
Nanami yang akhirnya mengerti pengakuanku mulai merasa
canggung dan kembali ke Nanami yang biasanya, seolah sikapnya yang semangat
tadi adalah bohong.
Demi memberikan serangan penentu kepada Nanami, aku
memberanikan diri mendekatinya meski rasa malu terus menggerogoti.
Aku melontarkan
kata-kata manis paling pasaran yang terlintas di otakku, khas Ibuse Reo.
"Jadilah
wanitaku."
"H-hee!?"
Mendengar itu,
wajah Nanami memerah padam. Dia mendorongku hingga terjungkal, lalu berteriak
sekeras yang pernah kudengar seumur hidupku.
"T-tolong
biarkan aku berpikir duluuu!!"
Dia
berteriak seperti itu, menarik perhatian semua orang di sekitar, lalu melarikan
diri melewati gerbang tiket dan menghilang ke arah peron stasiun.
"………………Haa."
Kini, semua
tatapan mata tertuju padaku. Rasanya sakit sekali.
Ya, wajar saja,
siapa yang tidak bingung melihat orang menyatakan cinta di depan gerbang tiket?
Ditambah lagi,
aku malah ditolak mentah-mentah. Bisa-bisa aku jadi bahan tertawaan di internet
nanti.
Tidak, masalahnya
bukan itu…………
"Ibuse-kun??
Bisa jelaskan maksudmu barusan??"
Untuk saat ini,
berurusan dengan Ketua OSIS yang sedang marah besar di sampingku ini adalah
prioritas utama.
"Oh, jadi
begitu maksudnya……… jangan bikin aku kaget dong……"
"Maaf……"
Kami duduk di bangku dekat stasiun, dan aku menjelaskan
maksud dari pernyataan cinta tadi kepada Shiori. Tentu saja, aku tidak
menceritakan soal kehidupan masa laluku.
Aku berdalih bahwa itu hanyalah taktik putus asa yang
tiba-tiba terpikirkan untuk menghentikan Nanami.
"Tidak,
tetap saja itu tidak dibenarkan, Ibuse-kun. Menyatakan cinta sebagai kebohongan
itu buruk. Tidak bisakah kamu memikirkan rencana yang lebih masuk akal?
Bagaimana jika Nanami menganggapnya serius?"
"……Maaf.
Tapi kalau itu terjadi, aku akan bertanggung jawab."
"Tapi,
bukankah kamu sudah punya Akari-chan……"
Shiori terdiam
saat hendak menyebut nama Akari. Dia pasti sedang berusaha menjaga perasaanku.
Tapi, meski tidak
perlu dilakukan pun, aku sudah mengerti.
"Tenang
saja. Aku paham perasaan Sera."
"……Apa yang
tenang!? Kalau kamu paham, jangan asal bicara soal tanggung jawab!"
Shiori yang marah
dengan ucapanku langsung berdiri, lalu mencengkeram kerah bajuku sambil
memarahiku. Namun, aku tidak punya hak untuk membantah kemarahannya.
"Aku kecewa
padamu! Aku pikir kamu adalah orang yang lebih memikirkan perasaan orang
lain…………"
Aku bahkan sudah
siap untuk dipukul. Namun, Shiori perlahan meredam emosinya yang meledak-ledak,
melepaskan kerah bajuku, dan kembali duduk di bangku.
"…………Maaf.
Aku kehilangan kendali."
"Tidak……
kemarahan Ketua memang pantas."
Shiori terdiam
sejenak. Seolah telah membuat keputusan, dia mengembuskan napas panjang lalu
menoleh ke arahku.
"Kamu bilang
akan bertanggung jawab jika Nanami menganggapnya serius, bukan? Lalu, bagaimana
dengan Akari-chan?"
"……Aku akan
bertanggung jawab."
"Negara ini
tidak menganut sistem poligami, tahu."
"……Kalau
begitu, ayo kita ubah hukumnya."
"Jangan
bercanda……"
Mendengar
ucapanku yang konyol, Shiori tersenyum tipis, lalu tiba-tiba menepuk-nepuk
pahanya sendiri.
"Sini."
"……Aku tidak
mau."
"Sini."
"Anu,
orang-orang melihat…………"
"Sini!"
"…………Baik."
Menilai
bahwa membuat Shiori semakin marah bukanlah ide bagus, aku memutuskan untuk
patuh dan merebahkan kepalaku di atas pangkuan Shiori.
"Kenapa?
Wajahmu merah sekali?"
"Ya iyalah……
kan dilihat
orang."
"Begitu,
ya. Kalau begitu, ini
hukumannya. Nikmatilah sepuasmu."
Bukan hanya
dipangku, dia juga mengelus rambutku seolah menyisirnya satu per satu. Rasa
malunya sudah tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.
"Andaikata
Nanami menganggap pernyataan cintamu serius…… aku akan membantumu. Terlepas
dari Nanami, Akari-chan pasti akan marah. Kalau itu terjadi, kamu tidak akan
bisa menanganinya sendirian."
"…………Terima
kasih."
"Bagiku
pribadi, dibandingkan pria mencurigakan seperti tadi, aku lebih mudah
mempercayakan Nanami padamu. Eh, tapi kamu juga tadi terus menatap dada Nanami,
jadi kalian berdua sama saja, ya?"
"……Ya
dilihat lah, itu kan barang bagus."
"Iya, iya.
Kamu akan dimarahi Akari-chan lagi nanti."
Dia berbicara
dengan suara yang lembut, seolah sedang menenangkan seorang anak kecil.
Aku tak pernah
menyangka hari akan tiba di mana aku bisa dipangku oleh Shiori dan dielus
kepalanya. Sungguh sebuah siksaan yang membahagiakan.
"Oh, rambut
pirang kebanggaanmu ini mulai menghitam, ya. Bukankah sudah saatnya dicat
ulang? Ah, tapi Nanami mungkin takut dengan rambut pirang, jadi sebaiknya
kembalikan saja ke warna hitam."
"Warna
rambut apa pun tidak masalah bagiku……"
"Tidak bisa.
Aku tidak mengizinkannya. Karena kamu ingin menjadi pacar Nanami, kamu harus
mendengarkan saranku."
……Tidak,
tetap saja tidak bisa. Situasi ini benar-benar terlalu memalukan. Aku tidak
tahan.
Jika
sudah begini, aku akan berpura-pura tidur untuk mengalihkan perhatian. Atau
lebih baik lagi, aku benar-benar tidur saja.
"……Apa
kamu mendengarkan?"
Aku
mengabaikan pertanyaan Shiori. Aku sengaja mengatur napas seolah tertidur lelap
karena kelelahan, dan membiarkannya percaya begitu saja.
"Fufu. Hari ini kamu sudah bekerja keras menjaga kewaspadaan, ya. Tidurlah."
Begitu saja.
Karena itu, diamlah dan biarkan aku tidur. Aku ingin lari dari rasa malu ini
sampai kereta berikutnya datang.
"……Hei,
Ibuse Reo-kun."
Tiba-tiba, Shiori
membisikkan namaku di dekat telinga. Firasatku buruk sekali.
Aku merasa jika
tidak bangun sekarang, aku akan mendengar sesuatu yang sangat tidak terduga.
Aku mencoba
membuka mata, tapi……
"Aku
mencintaimu."
Keputusanku
terlambat beberapa detik, dan aku pun mendengar perasaan yang selama ini Shiori
simpan rapat-rapat.
Selasa, 16 Juli.
Di rooftop saat jam istirahat.
"Panasnya…………"
Satu minggu yang
panjang akhirnya berlalu, dan aku sedang melahap onigiri yang kubeli di
minimarket di bawah terik matahari rooftop.
Katanya Akari
sedang berlatih saat jam istirahat untuk turnamen musim panas. Aku harus
memikirkan hadiah yang pantas untuknya nanti.
Aku sempat
bertemu Nanami di kelas tadi, tapi begitu mata kami bertemu, dia langsung lari.
Mungkin
memang benar, aku sebagai Ibuse Reo tidak akan bisa masuk ke rute Nanami.
Aku menyesali
rencana nekat yang kulakukan hari itu.
Lalu, Shiori…………
"Aku
mencintaimu."
"Aaaaaaa……"
Hanya dengan
mengingat kata-kata hari itu saja, aku sudah merasa tersiksa.
Kenapa dia
tiba-tiba menyatakan cinta?
Apa dia tidak
memikirkan kemungkinan kalau aku sebenarnya sudah bangun saat itu?
Tidak, mungkin
itu artinya aku sudah sangat dipercaya oleh Shiori.
Saat dia marah
karena ucapanku soal "bertanggung jawab", dia langsung tenang
kembali.
Mungkin dia
berpikir bahwa aku benar-benar bersungguh-sungguh. Itu justru membuat hatiku
terasa semakin sesak.
"Harus
gimana, ya……"
Karena itulah,
aku sulit bertemu muka dengan Shiori dan memilih ke rooftop daripada ke
ruang OSIS.
Melihat wajah
Shiori saja sudah cukup untuk membuatku teringat kata-kata hari itu.
"Ternyata
benar kamu di sini."
Di tengah
lamunanku, pintu rooftop terbuka dengan sendirinya, dan sosok Ketua OSIS
yang menjadi sumber kegelisahanku muncul.
"Kenapa baru
sekarang? Aku khawatir karena kamu tidak datang."
"Tidak……
kupikir ada hari-hari seperti ini."
Tetap saja tidak
bisa. Aku tidak bisa menatap matanya. Fakta bahwa aku ditembak oleh wanita
cantik seperti Shiori terlalu berat untuk ditanggung.
"Begitu?
Tapi di sini terlalu panas, bukan? Datanglah ke ruang OSIS sekarang. Aku sudah menyalakan AC.
Nyaman, lho."
"Hmm……"
Bukan kenyamanan yang kucari, tapi berada di ruang yang sama
denganmu itu tidak nyaman. Sadarilah, wanita yang tidak peka.
"……Jangan-jangan, Ibuse-kun."
Mungkin karena menyadari sikapku yang menghindari tatapan
mata, Shiori berjalan ke belakangku dan berbisik di dekat telinga.
"Apa kamu
malu karena sempat tidur di pangkuanku?"
"Uh……!?"
Bukan itu!! Kamu
yang mengatakan hal yang lebih memalukan!!
"Jangan
malu-malu. Itu artinya pelukanku sangat nyaman."
"Bukan malu,
sih……"
Aku ingin sekali
mengatakannya padamu! Bahwa kamu yang menyatakan cinta padaku!! Aku ingin kamu
menghargai perhatianku!!
Saat aku sedang
mengeluh dalam hati, Shiori akhirnya menjauh dan mulai berbicara dengan nada
serius, seolah itu adalah inti pembicaraannya.
"Yah, itu tadi cuma bercanda. Cepatlah ke sana. Ada
bekal untukmu, dan ada murid yang ingin berbicara denganmu."
"…………Mengerti."
Pada saat seperti ini, pasti hanya ada satu orang yang ingin
bicara denganku.
Pernyataan cinta dari Shiori memang penting, tapi
menyelesaikan masalah itu lebih mendesak.
Aku pun dengan terpaksa mengikuti Shiori menuju ruang OSIS.
"Ah………… se-selamat siang."
Seperti dugaanku, yang menunggu di dalam ruang OSIS adalah
Nanami.
Entah mengapa, melihatnya kembali ke mode otaku yang
biasa malah membuatku lega.
"Nah,
Nanami. Katakan dengan jelas."
"I-iya…………"
Didorong
oleh Shiori, Nanami yang tampak gugup berjalan ke arahku.
"E-ehm…… soal hari itu…… tentang jawaban dari…… Ibuse-kun……"
"…………Ya."
Nanami menarik napas dalam-dalam berulang kali, lalu…………
"Maafkan aku!!!!"
"Uh……!!"
Aku ditolak. Dengan kepala yang menunduk dalam, penolakan
ini begitu telak dan sangat mempesona.
"Kufuh………………"
Melihat pemandangan itu, Shiori di samping tidak bisa
menahan tawa. Aku ingin sekali
memprotesnya, tapi masalah Nanami jauh lebih penting.
Karena rencana
ini gagal, aku harus menghentikan pria itu mendekati Nanami, meskipun harus
dengan berlutut.
"A-apa boleh
aku bertanya alasannya……?"
Aku bertanya
meski hatiku terluka. Nanami menjawab dengan gugup.
"Ibuse-kun
orang yang baik dan lembut…… aku tahu itu………… tapi entah kenapa terasa
menakutkan, tubuhmu besar…… ditambah lagi rambut pirang…… dan lagi, kita tidak begitu
dekat…………"
"Uh…………!!"
"……Fufu……
tidak tahan…… maaf Ibuse-kun…… aku tidak bisa menahannya…………"
Mendengar
alasan yang sangat masuk akal dari mulut Nanami, aku terkena serangan telak. Shiori pun akhirnya tidak bisa menahan
tawa.
"Ketua,
tertawanya keterlaluan, lho……?"
"Habisnya………
fuf, kukuku…… bukan cuma karena semangat Nanami…… tapi reaksimu
juga……"
"……Aku baru saja ditolak, lho? Tidak bisakah kamu memberikan kata-kata
penghiburan?"
"Yah, maaf.
Nanti aku pangku lagi sebagai gantinya."
"Itu tidak
perlu!"
Shiori
benar-benar menikmati perannya yang mempermainkanku.
Saat aku berpikir
untuk membalasnya dengan mengungkit pernyataan cintanya hari itu, Nanami yang
melihat interaksi kami bergumam pelan, "Ternyata……", lalu menyapa
kami kembali.
"I-itu……
soal orang itu…… Shiori-chan juga bilang untuk tidak bertemu dengannya secara
pribadi…… aku juga sempat terbawa suasana hari itu, tapi kalau dipikir lagi,
itu benar……"
……Oh? Apakah ini artinya?
"Begitu ya, Nanami! Kamu sudah memikirkannya
kembali!"
Shiori
menanggapi ucapan Nanami dengan senang. Sepertinya bujukan kami berdua berhasil.
"Ja-jadi
begini? Sebagai gantinya…… entah bagaimana…… aku punya permintaan pada kalian
berdua…………"
"Katakan
saja! Bagaimana, Ibuse-kun?"
"……Ya, boleh
saja."
Sebenarnya aku
tidak suka dia memutuskan sendiri, tapi kalau permintaan itu bisa mencegah bad
ending, maka itu harga yang murah.
"Ja-jadi!"
Nanami menarik
napas lebih dalam dari saat dia menolakku tadi, lalu menunduk lebih semangat
lagi.
"Tolong lakukan cosplay denganku di acara musim
panas ini!!"
"["Hah?"]"
"Cosplay…… maksudmu yang waktu itu?"
Shiori bertanya sambil memiringkan kepala. Nanami
mengangguk-angguk bersemangat dan menunjukkan layar ponselnya kepada kami.
"Lihat ini dulu……"
Di sana terlihat pakaian yang sangat mirip dengan yang ada
di anime atau manga, baik versi pria maupun wanita.
"Sebenarnya…… membuat baju seperti ini adalah hobi
saya."
"Ini Nanami
yang buat!? Hebat sekali!"
"Ehehe……"
Kualitasnya
memang luar biasa. Kalaupun dibilang kostum cosplay mahal dari toko, aku
tidak akan curiga.
"Jadi……
impianku adalah melihat seseorang mengenakan kostum buatanku. Kalau aku sendiri
yang pakai, kostum ini tidak akan terlihat bagus…… dan dunianya akan
hancur. Aku tidak mau itu terjadi."
"Tidak juga! Nanami pasti terlihat cocok! Ya kan,
Ibuse-kun!"
"…………Yah, begitulah."
Tolong jangan minta persetujuanku untuk hal yang sulit
kujawab.
Aku baru saja
patah hati, tahu.
"Lalu……
aku sempat berkonsultasi dengan orang itu. 'Bisakah Anda mengenakan kostum buatanku?' Dia
bilang mari kita bicara lebih lanjut saat karaoke nanti…… untuk saat ini aku
menolaknya……"
Jadi begitu,
ternyata dia mengincar pertemuan di hari lain. Pantas saja hari itu tidak
terjadi apa-apa.
"Tapi aku
tidak bisa menyerah begitu saja dengan acara tahun ini…… lalu, sejak melihat
Ibuse-kun dan Shiori-chan berdiri berdampingan, aku terus memikirkan satu
hal."
Nanami
mengeluarkan sebuah novel dan menunjukkan sampulnya kepada kami.
"Kalian
berdua sangat mirip dengan Wolf dan Celia dari 'Hangan' ini!"
"Hangan……?
Wolf? Celia?"
Shiori sepertinya
tidak paham, dia hanya bisa memiringkan kepala dengan tanda tanya besar di
atasnya. Nanami pun mulai menjelaskan dengan penuh semangat.
"'Hangan'
itu singkatan, judul aslinya 'Hand Gauntlet'. Ini novel, tapi aslinya manga dan
sangat menarik, aku ingin kalian membacanya. Tokoh utamanya Wolf dan Celia.
Wolf pria liar berambut perak ini, dan Celia wanita serius berambut merah ini.
Kostum di foto tadi kubuat berdasarkan versi novel ini. Manga juga bagus, tapi
aku lebih suka kostum versi ini. Lihat, ada desain satu sama lain di kostum
mereka. Celia punya bekas cakar perak di sini, dan Wolf punya elang merah di
dadanya. Dan lagi──"
"Ooh……… begitu………………"
Sepertinya Nanami adalah tipe otaku yang tidak bisa
berhenti kalau sudah semangat.
Padahal otak Shiori mungkin sudah overheat, tapi
Nanami belum mau berhenti. Aku harus segera menghentikannya.
"Jadi, kenapa itu membuat kami harus cosplay?"
"──Eh…… ah,………… maaf…… pembahasannya jadi…… ya……"
Nanami akhirnya sadar setelah kuhentikan. Wajahnya memerah
padam dan dia menunduk.
"Jadi
itu…… karena Ibuse-kun dan Shiori-chan mirip sekali dengan karakter ini……
singkatnya…… ehmm…………"
Karena terlalu
malu, Nanami sampai tidak bisa merangkai kata.
Tapi aku sudah
paham maksudnya. Intinya, dia ingin melihat kami berdua melakukan cosplay
sebagai karakter ini.
Aku sendiri
sebenarnya tertarik dengan cosplay, dan jika ini bisa menghentikan flag
Nanami dengan pria itu, maka ini adalah kesempatan emas. Aku akan menurutinya
sampai dia puas.
"Baiklah.
Aku akan melakukannya."
"Eh………… sungguh……?"
Nanami terkejut mendengar jawabanku. Mungkin dia tidak
menyangka berandalan sepertiku mau mengiyakan cosplay.
"Ketua juga
tidak keberatan, kan?"
"…………Ah,
tentu saja!"
Sepertinya
dia tidak mendengar pembicaraan tadi. Yah, kurasa Shiori tidak akan keberatan.
"Jadi
begitu. Sudah selesai, kan?"
"……I-iya!"
Setelah
memastikan Nanami, kami pun memutuskan untuk berpartisipasi dalam acara besar
di musim panas nanti.
Lebih penting
lagi……
"Tapi,
apakah cerita itu menarik?"
"Eh…… ah, 'Hangan'?"
"Ya,
'Hangan'. Kalau bisa, aku harus punya sedikit pengetahuan sebelum
melakukannya."
"…………Ah,
eh…… gimana ya. Aku tidak bawa manganya…… apa streaming animenya ada
season 1…… ah tapi kalau Ibuse-kun tidak berlangganan, susah juga……"
Nanami mulai bingung. Aku menunjuk novel yang dipegangnya.
"Apa novel itu bisa?"
"……Ah! Eh, Ibuse-kun mau membaca novelnya!?"
"Ya. Besok akan kukembalikan, kita berkumpul lagi di
ruang OSIS saat jam istirahat."
"…………I-iya!!"
Begitulah, aku meminjam novel dari Nanami dan membacanya
sesampainya di rumah.
"Sudah lama
sekali tidak melakukan hal seperti ini."
Karena lebih
mudah membaca manga atau anime, aku tidak pernah membaca novel setelah jadi
mahasiswa di kehidupan sebelumnya.
"Mari kita
lihat kemampuan penulisnya……"
Dua jam
kemudian……
"Versi manga
ada…… 15 volume…… oh, ada versi digital, untunglah."
Dua jam
kemudian……
"Gerakannya
bagus untuk anime zaman dulu…… tapi agak aneh juga……"
Lima jam kemudian……
"………………Visual season 2 terlalu bagus. Dewa."
Rabu, 17 Juli. Di
ruang OSIS saat jam istirahat.
"Ti-tidak
apa-apa, Ibuse-kun……?"
"Tidak
apa-apa………… aku masih hidup……"
Kami berkumpul di ruang OSIS sesuai janji untuk
mengembalikan buku, tapi Nanami tampak khawatir melihat kondisiku yang
kelelahan.
Ngomong-ngomong, Shiori sudah memarahiku, "Kamu bodoh
ya."
Aku pikir karena tubuh ini masih muda, begadang semalam
suntuk tidak masalah, tapi ternyata tidak.
Mungkin penyebabnya karena tubuh Ibuse Reo ini tidak
terbiasa menonton anime. Sungguh
melelahkan. Mataku sakit. Rasanya ingin muntah.
Tapi lebih dari
itu……
"Hei,
Kinoshita…………"
"I-iya……"
Aku menahan
getaran tubuhku, memegang novel dengan kedua tangan, dan menyerahkannya kepada
Nanami.
"Ini…… luar biasa…………!"
"……Benar kan!!!!"
Mendengar kata-kataku yang nyaris sekarat, Nanami sangat
senang dan menatapku dengan senyuman malaikat.
Jumat, 19 Juli.
Ruang OSIS saat jam istirahat. Anggota di ruang yang kami
pinjam ini bertambah satu.
"Hei
Ibuse-kun. Ngomong-ngomong, kamu sudah nonton anime yang kita bicarakan
kemarin?"
"Tentu
saja."
"E-eh……
bagaimana?"
"…………Dewa."
"……Benar
kan, benar kan!! Aku tahu
Ibuse-kun pasti mengerti!!"
Nanami
menatapku dengan mata yang berbinar.
Sejak dua hari
lalu, kami mulai membicarakan anime dan manga di ruang OSIS.
Nanami senang
sekali aku menyukainya dan terus memberi rekomendasi karya lainnya.
Aku sendiri,
karena dampak dari kehidupan sebelumnya yang tidak sempat otaku-an,
sejak kemarin mulai menonton anime dan manga setiap ada waktu luang.
"Tapi cara
berakhirnya itu, jangan-jangan……"
"……!!
Benar!! Ada filmnya!! Musim panas ini!!"
"Astaga……
serius?"
"Kalau mau,
berdu…… eh, tidak……"
Nanami tidak
melanjutkan ajakannya. Mungkin dia tidak sengaja mengatakannya.
Tapi aku sendiri
ingin menonton filmnya.
Dan setelah
menontonnya, aku ingin segera membicarakannya.
Jadi aku
memutuskan untuk mengajak duluan.
"Hei,
Kinoshita."
"I-iya!"
"Kalau aku
menonton film anime sendirian, rasanya canggung sekali. Aku akan senang kalau
kamu mau menemaniku."
"………………Tentu
saja! Dengan senang hati!"
Nanami menjawab
ajakanku dengan senyuman lebar. Benar-benar malaikat. Setelah melihatnya dari dekat, dia memang sangat
cantik.
Tidak heran otaku
lain salah paham. Aku sendiri juga hampir jatuh cinta kalau saja tidak ditolak
sekali.
"Ngomong-ngomong,
Ibuse-kun. Bagaimana kondisi Akari-chan?"
"Katanya
sedang bagus. Turnamennya lusa…… jadi mungkin dia akan kembali hari
Senin?"
Akari tidak pernah muncul di ruang OSIS sejak hari itu.
Katanya, "Aku menahan diri untuk tidak bermanja dengan
Senpai!"—alasan yang tidak masuk akal.
Omong-omong, aku sudah menceritakan soal Nanami kepadanya.
Tentu saja, lewat telepon dia berteriak, "Ternyata dia
memang suka dada! Menambah wanita lagi!! Dasar mesum!!"
"Begitu ya. Jadi akan kembali ramai."
"Kinoshita juga hati-hati ya. Kamu pasti akan banyak diganggu."
"Ahaha……"
Meski
begitu, waktu kami bersantai di sini tidak banyak.
Setelah
liburan musim panas berakhir, akan ada pemilihan OSIS, jadi kalau Ketua
berganti, kita tidak akan bisa masuk lagi.
Bagaimana ya
kalau musim dingin nanti?
"……Oh iya, kalian berdua. Soal cosplay…… apakah hari Minggu pertama liburan musim
panas kalian ada waktu……?"
"Ada, tapi
kenapa?"
"Itu…… aku
ingin menyesuaikan ukuran kostumnya…… aku sudah berusaha, tapi rasanya lebih
mudah kalau orangnya ada di depan mata……"
Karena tidak ada
alasan untuk menolak, kami menyetujui ajakan Nanami.
"Aku
bisa."
"Aku juga
tidak keberatan."
"……Terima
kasih!"
Begitulah,
rencana hari pertama liburan musim panas ditentukan, dan kami akan pergi ke
rumah Nanami pada siang hari.
Minggu
berikutnya, Senin 22 Juli.
Kami menunggu
Akari yang berhasil mencetak prestasi di turnamen, tapi……
"Dia tidak
datang ya……"
Sudah sepuluh
menit jam istirahat berlalu, tapi Akari tidak muncul.
"Bukankah
Akari-chan bilang dia akan datang?"
"Iya sih,
apa dia sibuk?"
"Uuu…… aku deg-degan……"
Mungkin Akari
merayakannya dengan teman sekelasnya. Kami harus menunggu saja.
Saat aku hendak
menyarankan itu, tiba-tiba.
"Ibuse
Reo!!!!"
Brak!
Suara yang paling
tidak ingin kudengar dan seorang gadis dengan desain karakter yang mencolok
muncul setelah membuka pintu ruang OSIS dengan kasar.
"Aku sudah
dengar semua perbuatan jahatmu dari Kakak…… wah, sejuk!? Eh!? Pakai AC!?
Curang!"
"Tenanglah,
Sakura……"
Gadis dengan gaya
rambut twintail itu masuk dengan angkuh, lalu terkejut dengan kesejukan
ruangan.
Di belakangnya,
Akari tampak canggung dan menunduk pada Shiori.
"Aku sudah
dengar rumornya…… tapi tidak menyangka kalian benar-benar menjadikan ruang OSIS
milik pribadi……"
Rumornya sudah tersebar ya. Tentu saja.
"Dasar pria
sampah! Segera jauhi Akari! Kalau tidak──"
"Hei, anak
kelas satu."
"I-iya!?"
Terhadap
kesewenang-wenangan gadis yang baru muncul itu, Shiori yang sejak tadi diam
akhirnya buka suara.
Begitu mendengar
suaranya, semua orang di ruangan itu langsung duduk tegak dan menunggu
perkataan Ketua OSIS selanjutnya.
"Kamu pikir
ini di mana?"
"……Ruang
OSIS."
"Begitu.
Lalu, saat masuk ke ruang OSIS, apa yang seharusnya dilakukan?"
"…………Mengetuk
pintu."
"Oh, hebat.
Kamu tahu, ya. Lalu, bagaimana seharusnya membuka pintu?"
"…………Pelan-pelan……"
"Bagus.
Lalu, murid kelas dua yang ingin kamu temui itu, apakah kamu kenal
dengannya?"
"Ti-tidak……
baru pertama kali bertemu……"
"Oh. Jadi menurutmu biasa bagi murid kelas satu untuk
menggunakan bahasa tidak formal, apalagi memaki senior yang baru pertama kali
ditemui?"
"Bukan
begitu…… biasanya, aku menggunakan bahasa sopan……"
"Begitu ya. Baiklah, coba ulangi lagi."
"Iya………… maaf……"
Gadis yang terus dicecar Shiori itu keluar dengan lemas dari
ruang OSIS, lalu mencoba adegan masuk kembali.
"Permisi……"
"Silakan."
Semangat tadi
sudah hilang.
Dia
mengetuk pintu dengan lembut dan menggesernya dengan hati-hati. Bahkan twintail
kesayangannya tampak tidak bersemangat.
"Namamu?"
"Kelas
satu-tiga…… Miyano Sakura…… kudengar Senior Ibuse Reo ada di sini……"
"Hmm.
Begitu, Ibuse-kun. Boleh aku izinkan?"
"Iya……
silakan……"
Aku juga ikut tertekan dengan tekanan Shiori.
Aku lupa kalau Shiori itu tipe orang yang sangat disiplin.
Aku harus
berhati-hati agar tidak membuatnya marah. Rasanya nyawaku tidak cukup.
"Permisi……"
Gadis
itu…… Miyano Sakura, adik dari tokoh utama Miyano Kaede, berjalan ke arahku
dengan menunduk.
"Uwe…… hik…… ceguk……"
"Sakura!?"
Sakura mulai
menangis sebelum mengatakan apa pun. Akari berlari menghampirinya untuk
menenangkan.
Aku sedang
berpikir apakah harus berkata sesuatu, tapi Sakura menatapku dengan mata
besarnya yang basah.
"Kali ini
aku maafkan!! Ingat ini ya!!"
Dia berteriak
dengan penuh kekalahan, lalu meninggalkan Akari dan lari keluar dari ruang
OSIS.
"Begitu ya.
Sepertinya anak kelas satu yang satu ini layak untuk dididik……"
"Maaf, maaf,
maaf! Dia bukan anak jahat! Tolong maafkan dia!"
Akari terus
meminta maaf pada Shiori yang masih tampak marah. Nanami gemetar melihat
keributan ini, dan aku pun merasa canggung.
Anak itu adalah
Miyano Sakura, adik tidak sedarah Miyano Kaede.
Dia adalah
satu-satunya karakter yang tidak punya bad ending, dan orang yang paling
tidak ingin kutemui karena merasa akan terjadi sesuatu jika bertemu.
"Senpai,
maaf ya. Dia tidak mau mendengarkan……"
"Aku tidak
apa-apa. Sudah terbiasa dimaki seperti itu. Tapi, apa yang terjadi?"
"……Aku, kan
pernah janji kencan dengan Senpai."
"Eh!?
Ke-kencan!?"
"Nanami,
pembicaraannya jadi rumit."
Shiori
menenangkan Nanami yang panik. Akari melirik Nanami sejenak, lalu melanjutkan penjelasannya.
"Jadi itu……
hari ini aku terbawa suasana, dan tidak sengaja menceritakan soal kencan kepada
Sakura. Eh, tentu saja aku tidak bilang kalau lawannya Senpai…… tapi dia
mendesakku, 'Apa itu Ibuse Reo!?'"
"Lalu dia datang ke sini."
Pasti Kaede yang memberi tahu. Tadi dia hampir berkata,
"Aku dengar dari Kakak."
"Maaf!"
Akari meminta
maaf lagi. Dia pasti merasa temannya bersikap tidak sopan. Aku mengerti, Shiori
saja sampai marah. Aku harus membelanya.
"Aku bilang
tidak apa-apa, kan. Ketua, lihatlah…… dia juga punya posisi, kan?"
"Hei Nanami.
Apa aku semenakutkan itu?"
"Ya.
Benar-benar menakutkan, tahu."
"Begitu
ya………… maaf ya, Akari-chan……"
"Tidak
apa-apa! Itu salah Sakura yang keterlaluan……"
Shiori juga
merasa menyesal karena sudah berbicara terlalu keras, membuat suasana menjadi
semakin tidak enak.
Menilai bahwa
hari ini bukan saat yang tepat untuk perayaan, aku memberikan saran kepada
Akari.
"Kejarlah dia. Dia teman baikmu, kan?"
"Ta-tapi……"
"Di sini
tidak apa-apa. Aku
benar-benar tidak marah."
"…………Mengerti."
Akari
menunduk sekali lagi kepada kami, lalu bergegas keluar dari ruang OSIS untuk
mengejar Sakura.
Setelah
itu, suasana ruang OSIS yang sempat dilanda badai kini kembali hening. Orang
pertama yang membuka suara adalah Nanami.
"E-ehm,
Ibuse-kun…… kalian berdua, tidak sedang pacaran, kan?"
"Hm? Ah, ya benar."
"Begitu ya…… iya juga sih……"
Setelah
memastikan hubungan aku dan Akari, Nanami menunduk dan bergumam pelan.
"Ah…… apa
kamu tidak suka dengan Akari?"
"Eh!? Tidak, kok!? Bu-bukan begitu, menurutku dia
sangat manis! Aku pikir……"
"Kalau begitu, lain kali kalau bertemu, katakan padanya
kalau dia 'manis'. Dia pasti akan senang sekali."
"I-iya…… akan kulakukan……"
Meski dia bilang tidak membenci Akari, Nanami masih terus
menunduk sambil melamun.
Shiori pun sama, dia terus bergumam pada dirinya sendiri,
"Apakah aku harus sedikit lebih lembut…… tapi, bagaimana ya……"
Seharusnya hari ini adalah perayaan kemenangan Akari, namun
karena badai kunjungan tiba-tiba tadi, ruang OSIS sesaat sebelum liburan musim
panas malah menjadi sunyi senyap.
Lalu, tibalah
hari Minggu, 28 Juli, saat liburan musim panas dimulai.
Aku dan Shiori
bertemu di depan stasiun, lalu mengunjungi kediaman Nanami berdua dan menekan
bel pintu masuk.
"Ya-yaa!
Sebentar lagi datang!"
Suara
Nanami yang terdengar ceria terdengar dari balik interkom.
Setelah
menunggu beberapa saat, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru, dan
pintu depan di hadapan kami terbuka lebar.
"Maaf
membuat kalian menunggu…… aku tadi sedang beres-beres……"
"Uh!?"
Nanami yang muncul tampak basah kuyup oleh keringat.
Kemeja rumahan yang dikenakannya terlihat longgar dan
ceroboh, dengan noda keringat di tempat yang membuat mataku tidak tahu harus
melihat ke mana.
Kecerobohan itu, dipadukan dengan tubuhnya yang sintal,
justru menciptakan aura seksi yang misterius.
"……Ada
apa?"
"Tidak……"
Nanami
ini benar-benar tidak sadar melakukan hal semacam ini ya…… Seleraku di masa lalu yang hampir
kulupakan seolah bangkit kembali.
"Nanami.
Penampilan macam apa itu?"
"Eh……
yah…… aku berniat beres-beres lalu berganti baju…… tapi tidak sadar sudah
selarut ini."
"Haa……
mungkin itu tidak bisa dihindari, tapi karena ada laki-laki di sini……"
Shiori yang berada di sampingku menegurnya secara halus.
Nanami baru menyadari penampilannya sendiri, wajahnya
memerah padam, dan dia berusaha menutupi tubuhnya dengan lengan.
"Ini benar-benar memalukan………… aku akan segera berganti
pakaian……"
Nanami menutup pintu depan, dan kami terpaksa menunggu
sebentar lagi.
"Haa…… Ibuse-kun. Jangan berpikiran yang tidak-tidak."
"Aku
tidak berpikiran begitu, kok."
Sambil
berbincang seperti itu, aku berusaha memikirkan hal lain untuk mengalihkan
perhatian.
Namun,
kalau aku lengah sedikit saja, aura seksi yang basah di berbagai tempat itu
langsung teringat kembali……
"……Ibuse-kun."
"A-apa! Aku
tidak memikirkan apa pun!"
Aku menggelengkan
kepala sekuat tenaga saat mendengar suara Shiori yang terdengar bosan, seolah
dia bisa membaca pikiran orang.
Setelah menunggu
beberapa menit, Nanami kembali menyambut kami dengan aroma deodoran yang samar,
dan kami pun dipersilakan masuk ke kamarnya.
"Hei
Shiori-chan. Pertama-tama, aku ada permintaan untuk Shiori-chan…… boleh?"
Setelah sampai di kamar yang dipenuhi koleksi anime dan
manga—kamar otaku sejati—Nanami bertanya pada Shiori.
Dia mengeluarkan
satu set kostum dari lemari dan menyerahkannya.
"Ini bagian
Shiori-chan. Mumpung ada kesempatan, aku ingin Shiori mencobanya sekali.
Ukurannya seharusnya pas karena aku membayangkan sosok Shiori…… tapi
kalau susah bergerak, bahaya juga……"
"……Ah,
aku mengerti. Aku akan mencobanya."
Shiori tampak
penasaran namun menerima tawaran Nanami.
Karena Nanami
juga harus berganti ke kostum cosplay untuk hari-H, aku akhirnya diusir
dari kamar oleh Shiori.
Setelah menunggu
beberapa puluh menit…………
"Boleh
masuk, Ibuse-kun."
"Ya."
Mendengar suara
Shiori, aku segera membuka pintu kamar. Lalu……
"……Bagaimana
menurutmu?"
Di sana berdiri
Shiori yang tampak malu-malu, mengenakan kostum bernuansa seragam militer
dengan warna dasar biru tua.
"Eh, gila,
ini terlihat seperti asli……"
"Benar
kan, benar kan! Shiori-chan memang luar biasa!"
Bahkan
tanpa wig atau lensa kontak, tingkat penyempurnaannya sudah setinggi ini.
Saat aku
sedang terpesona melihatnya, Nanami entah sejak kapan sudah mulai memotret
dengan ponselnya.
"Bagaimana? Apa tidak susah bergerak? Apa tidak apa-apa? Kalau terasa aneh, langsung
katakan ya. Ah, tolong lihat ke arah sini!"
"Ini……
sedikit memalukan, ya……"
Shiori berpose dengan malu-malu. Nanami yang sibuk
memotretnya juga sedang mengenakan kostum cosplay. Penyempurnaannya juga
luar biasa.
"Kinoshita…… apa itu karakter Operator?"
"Ah, kamu
tahu!? Ibuse-kun memang hebat! Kupikir kalau ada Wolf dan Celia, tidak akan
lengkap tanpa Operator!"
Kostum Nanami
berupa setelan yang warnanya lebih mendekati biru daripada biru tua.
Itu adalah kostum
untuk karakter latar, namun berkat detail dekorasi dan kacamata yang
dikenakannya, sekilas saja sudah jelas bahwa dia melakukan cosplay
sebagai operator pribadi Celia yang sering dipanggil "Ope-ko".
"Ope…… ko?"
Shiori
yang kurang paham dengan percakapan kami tampak bingung.
Tiba-tiba
switch otaku Nanami menyala dan dia mulai memberikan penjelasan
panjang lebar.
"Ope-ko-chan
itu! Awalnya tidak punya nama, tapi karena populer di antara penggemar, dia
dapat nama 'Yomi' di pertengahan cerita! Ah, ini info dari buku panduan
penggemar. Aku tidak bisa membocorkan perannya karena itu spoiler,
tapi…… ah, benar, aku hampir lupa!"
Nanami
yang sedang semangat-semangatnya kembali mengobrak-abrik lemari dan
mengeluarkan sebuah kotak yang berat.
"Aku
meminjam uang saku selama setahun…… dan membelinya! Tada!"
Dari kotak itu keluar sebuah senapan yang terlihat sangat
realistis. Detail catnya sama persis dengan yang ada di anime, dan aku langsung
tahu itu adalah senjata milik Celia.
"Ini,
pegang ini!"
"A-ah………………
berat juga, ya…… begini?"
"["!!!!"]"
Menerima senapan
itu, Shiori kembali berpose.
Kami berdua,
sebagai sesama otaku, menahan napas dan tanpa sadar langsung duduk
bersimpuh saat melihat pose tersebut.
"Kinoshita………… kamu ini. Sering disebut jenius,
ya?"
"……Hari ini baru pertama kali, tapi mungkin mulai
sekarang aku akan menyebut diriku begitu."
"Kenapa
kalian berdua malah bertingkah menjijikkan……"
Setelah itu,
Shiori yang terdesak oleh antusiasme para otaku ini akhirnya dipaksa
melakukan berbagai pose.
Setelah sesi
pemotretan singkat itu, giliran kostumku yang dikeluarkan. Bentuknya persis
seperti yang kulihat di anime, memegangnya saja sudah membuatku merasa terharu.
Setelah bersusah
payah mengikuti panduan dari Nanami, aku mengenakan kostum bertema seragam
militer itu, memakai wig dan lensa kontak dengan benar, lalu memanggil Nanami
dan Shiori yang menunggu dengan antusias di luar kamar.
"Sudah
selesai."
"I-iya!"
Nanami menjawab
dengan lantang dan membuka pintu kamar perlahan.
Awalnya dia
menunduk, lalu mengamati penampilanku dari ujung kaki hingga ke wajah.
Saat mata kami
bertemu, air mata tumpah dari mata Nanami.
"Eeh………… hik……………… uuu"
"Nanami!?
Ada apa!? Kenapa menangis!?"
Shiori yang tidak
mengerti arti air mata itu segera menghampiri Nanami yang terduduk di
sampingnya.
Namun, setelah
menjelaskan pada Shiori, "Tidak apa-apa…… ini air mata bahagia……",
Nanami kembali menatap penampilanku dengan saksama.
"Akuっ………… benar-benar…… bisa berteman
dengan Ibuse-kun…… aku sangat senang……!"
Aku tidak menyangka bisa dipuji sampai sejauh itu hanya
karena melakukan cosplay.
Aku merasa senang, dan karena sedang percaya diri, aku
mendekati Nanami lalu berbicara dengan suara yang meniru karakter anime
tersebut.
"Terima
kasih."
"Hyuっ………………!?"
"Nanami!?"
Mungkin aku
terlalu berlebihan, Nanami sampai membeku seolah jiwanya tersedot keluar.
Shiori
mengguncang tubuh Nanami untuk memastikan keadaannya, namun baru beberapa menit
kemudian Nanami sadar kembali.
"Maaf,
Kinoshita………… aku terlalu terbawa suasana……"
"Tidak,
tidak, tidak, tidak! Sama sekali tidak!"
Aku menundukkan
kepala pada Nanami yang sudah sadar.
Namun, Nanami
sama sekali tidak peduli; sebaliknya, dia terus menatap wajahku dengan tatapan
yang sangat bahagia.
"……Haa……
berapa kali pun kulihat, wajahmu terlalu kuat……"
"Kuat? Bukan
tampan atau keren?"
Saat Shiori
mengajukan pertanyaan yang wajar, Nanami yang emosinya sedang meluap-luap mulai
menjelaskan artinya.
"Keren itu
sudah biasa! Tapi lihat! Dia orang Jepang, rambut perak, tapi wajahnya tidak kalah! Pakai lensa
kontak merah tapi tidak terlihat aneh! Luar biasa! Makanya aku bilang
'kuat'!!"
"A, o, oh begitu……"
"…………Hehe."
Dipuji sampai
sejauh ini, aku pun jadi merasa malu.
Otot pipiku jadi
kendur dan sudut mulutku naik terus tanpa henti.
"……Ngomong-ngomong
Nanami. Apa Ibuse-kun tidak punya senjata? Seperti senapanku ini?"
"Ah!
Pertanyaan bagus, Shiori-chan!! Baiklah, Ibuse-kun!"
Mendengar
pertanyaan Shiori, Nanami semakin antusias dan memintaku menunjukkan
"itu".
"Mau
bagaimana lagi……!"
Biasanya aku
mungkin akan sedikit ragu.
Tapi
sekarang semangatku sedang tinggi-tingginya! Roleplay karakter adalah
hal yang selalu kulakukan! Lagipula, aku sendiri sebenarnya ingin mencobanya!
Karena
itu, aku memosisikan tangan kananku tegak dengan jempol di atas, lalu
mengarahkan jari telunjuk ke arah Shiori.
Sambil
mengerahkan tenaga pada ujung jari tengah dan jempol, aku menjentikkannya dan
mengucapkan kalimat andalan.
"Bang!"
Jentik!
"……………………??"
Suara
yang disesuaikan dengan versi anime dan jentikan jari yang sudah kulatih secara
diam-diam, menurutku semuanya sudah sempurna.
Nanami di
sampingku terlihat sangat senang. Masalahnya hanyalah satu……
"Hmm……………… hmm??"
Kami melupakan fakta bahwa lawan bicara kami adalah seorang
wanita bernama Fujita Shiori yang awam dengan hal-hal seperti ini.
"Semangatlah,
Ibuse-kun…… itu keren, kok. Ya. Menurutku itu keren……"
"Sudahlah……
bunuh saja aku……"
"……Maaf
ya?"
Karena garing
total dan seketika ditarik kembali ke dunia nyata, aku merasa malu dengan
tingkah lakuku sendiri.
Aku memilih untuk
berjongkok di sudut kamar dan meratapi nasib.
Nanami
menghiburku, sementara Shiori menepuk punggungku sambil meminta maaf. Hal itu
justru membuat mentalmu semakin hancur.
"……Jadi,
barusan itu apa?"
"Ehm…………
sedikit rumit sih, boleh dijelaskan?"
Setelah mendapat
izin dari Shiori, Nanami kembali menjelaskan tentang karya berjudul Hangan
tersebut.
"Sejatinya,
dunia Hangan punya konsep sihir. Untuk menggunakan sihir biasanya perlu
alat…… yang umum sih tongkat atau sapu, kan? Nah, di dunia Hangan, peran
itu dipegang oleh pistol. Makanya Celia membawa pistol. Tapi! Hebatnya, Wolf
bisa menggunakan sihir tanpa bantuan pistol! Jadi, pose Ibuse-kun barusan itu
adalah adegan di mana dia menggunakan tangan kanannya sebagai pistol untuk
mengeluarkan sihir! Untuk detailnya, baca manganya ya! Semua volumenya ada di
sini!"
"A, aah………… baiklah, aku akan membacanya……"
Setelah itu, Shiori mulai membaca manga tersebut karena
merasa tidak enak jika menolak.
Awalnya Shiori membacanya sambil mengamati dengan wajah
"Hmm…", namun sejak volume empat dia mulai membacanya dengan sangat
serius hingga benar-benar masuk ke dunianya sendiri.
Karena tidak mungkin mengganggu Shiori, aku melepas wig dan
lensa kontak, lalu mendekati Nanami yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu.
"Sedang apa?"
"Ini? Aku sedang mencatat poin evaluasi untuk kali ini.
Ada banyak hal yang kupahami setelah Ibuse-kun memakainya. Seharusnya aku lebih percaya pada kekuatan visual
Ibuse-kun. Aku harus menerapkannya lain kali……"
"Lain
kali?"
"Eh………… ah……
benar juga, cuma kali ini saja ya."
Tiba-tiba Nanami berhenti menulis dan meminta maaf padaku
dengan canggung sambil berusaha menutupi sesuatu.
"Ma-maaf……
benar juga ya………… ahaha……"
Nanami hendak menutup buku catatannya dengan nada bercanda.
Aku tidak tega melihat wajah sedihnya, jadi aku mengambil
buku itu dari tangan Nanami dan memaksanya membukanya kembali.
"Tidak
apa-apa. Lain kali, dan setelahnya juga…… aku akan menemanimu sesukamu."
"Eh………………
ah……"
"Sudahlah,
Ibuse-kun. Berani-beraninya kamu merayu Nanami di depanku."
Mungkin karena
ucapanku yang tak terduga, Nanami membeku dengan wajah merah padam.
Shiori, yang
mendengar percakapan kami dari awal, menegurku sambil tetap membaca manga.
"Aku
tidak bermaksud merayu, aku hanya mencoba berteman seperti ini……"
"Kalau mau
merayu Nanami, pastikan kamu meyakinkanku dulu. Dan kamu juga, Nanami, jangan
mau. Laki-laki itu adalah playboy penakluk wanita."
"Ti-tidak,
aku tidak berpikir begitu!?"
Nanami
menggelengkan kepala sekuat tenaga untuk menyangkal.
Shiori menghela
napas, menutup manganya, dan menatapku.
"Baiklah,
Ibuse-kun. Lakukan yang tadi sekali lagi."
"Eh…… jujur saja aku tidak mau. Wig dan lensa kontaknya sudah kulepas……"
"Tetap saja
lakukan. Atau kamu tidak mau mendengarkan permintaanku? Padahal tadi kamu
menikmati sekali saat menjadikanku subjek fotomu?"
"Uh…………"
"Ayo Nanami.
Beri tahu dia pose apa yang kamu inginkan. Ibuse Reo…… tidak, mari kita mulai
sesi pemotretan berharga bersama Wolf-sama."
"Eh…… ah, iya."
Akhirnya, atas arahan Shiori yang sudah punya cukup
pengetahuan, aku diminta melakukan berbagai pose.
Aku yang awalnya malu perlahan mulai terbawa suasana, dan
tanpa sadar aku sudah kembali memakai wig dan lensa kontak.
Malam harinya, di
rumah Nanami.
"……………………"
Aku
berbaring di tempat tidur sambil memandangi folder berisi foto cosplay
Ibuse-kun, tenggelam dalam lamunan.
"…………Haa……"
Berapa kali pun
kulihat, wajahnya memang terlalu kuat.
Dulu aku tidak
bisa melihatnya karena takut, tapi sekarang dia terlihat sangat tampan.
Padahal dia punya
sisi yang terlihat seperti anak laki-laki seusianya yang sangat otaku……
"…………Curang,
Ibuse-kun."
Tapi, hanya aku
yang bisa melihat sisi dirinya yang seperti itu, kan? Dia tidak bersikap
seperti itu saat bersama Shiori-chan atau Sera-chan.
Artinya……
"Fuhehehe………… hanya aku……"
Pasti hanya aku
yang bisa melihat wajah asli dari teman sekelas yang begitu tampan ini. Entah
mengapa, aku merasa itu adalah hal yang sangat istimewa, dan aku mulai
berguling-guling di atas tempat tidur.
Di hari-H nanti,
aku akan dikelilingi oleh dua orang yang wajahnya begitu kuat itu. Kalau
begitu, tidak apa-apa jika aku memberanikan diri sedikit.
Lagipula, ada
masalah Sera-chan. Aku rasa anak itu menyukai Ibuse-kun. Mereka pernah bilang
soal kencan. Jarak mereka juga sangat dekat, mereka terlihat serasi.
"……Apakah,
masih sempat…………?"
Aku menyesali
jawabanku hari itu. Aku menolaknya karena aku belum cukup mengenal Ibuse-kun.
Tapi kalau mereka
berdua belum pacaran, artinya mungkin masih ada kesempatan untukku.
"Mari kita keluarkan…… keberanian…………!"
Rasa kantuk dan
keraguanku menguap karena terlalu bersemangat. Aku pergi ke depan cermin di
kamar mandi dan memutuskan untuk bertarung dengan bayangan wajahku sendiri.
Tibalah Sabtu, 3
Agustus.
Hari pertama
pameran doujin besar musim panas yang berlangsung dua hari. Hari penting
di mana nasib Nanami akan ditentukan.
Aku harus
menikmati acara itu sepenuhnya bersama Nanami dan tidak memberikan celah bagi
pria cosplayer itu untuk mendekatinya.
Aku sampai lebih
dulu di kafe yang menjadi tempat pertemuan dan menunggu mereka berdua.
Soal pria cosplayer
itu, aku masih belum mendapatkan bukti yang jelas. Namun, topik mengenai
masalah wanita yang melibatkan dirinya diam-diam mulai muncul di internet.
Sejauh ini,
reaksi orang-orang masih menganggapnya hanya karena iri, cemburu, atau
kesalahpahaman pihak wanita, bahkan ada rumor bahwa dia sebenarnya sudah
menikah.
Ada pepatah
"tidak ada asap kalau tidak ada api", jadi hanya masalah waktu sampai
skandalnya terbongkar.
Orang itu sendiri
tidak menyinggung rumor tersebut dan tetap mengumumkan akan berpartisipasi
dalam acara hari ini sebagai cosplayer. Tebal sekali mukanya.
Jika mengikuti
alur game, hari ini seharusnya menjadi titik percabangan, tapi alurnya
sudah jauh berbeda dari event Nanami yang asli.
Lagi pula, aku
dan Shiori berencana untuk selalu bersama, jadi seharusnya tidak masalah selama
aku menjauhkannya dari pria itu.
"Selamat
datang. Untuk dua orang?"
"Tidak,
teman saya sepertinya sudah datang lebih dulu……"
Saat aku
sedang bingung, aku mendengar suara Shiori.
Aku
melambaikan tangan kepada Shiori yang sedang mencari-cari keberadaanku, dan dia
langsung menyadarinya lalu menghampiriku.
"Ya ampun.
Untunglah, kamu mudah ditemukan."
"Kamu
juga."
Seharusnya kami
bertemu di stasiun, tapi karena Shiori bersikeras ingin di kafe, aku terpaksa
menurutinya.
Dan alasan
sebenarnya kemungkinan besar adalah sosok "orang mencurigakan"
berdada besar yang duduk di samping Shiori.
"…………Apa
yang dilakukan Kinoshita?"
"I……
yah…………"
Entah mengapa,
Nanami mengenakan topi dan masker, penampilan yang tidak cocok untuk musim
panas.
Bahkan
setelah masuk ke kafe, dia tidak berniat membukanya.
Shiori dengan
wajah bosan mulai menjelaskan situasinya.
"Sepertinya
dia ingin mengejutkan Ibuse-kun."
"Mengejutkan…… aku?"
"……Coba
tanyakan langsung padanya."
"…………I-iya,
begitulah."
"………………!!"
Mungkin
sudah membuat keputusan, Nanami perlahan menyentuh topi dan maskernya.
"……A-aku sudah memberanikan diri………… karena kita akan pergi bersama………… aku
sudah pesan di salon…… dan berusaha keras…… jadi…………"
Nanami bergumam dengan suara yang bergetar pelan, lalu
memperlihatkan apa yang selama ini ia sembunyikan.
"Ba…… bagaimana……?"
"……………………"
Aku tidak tahu berapa detik pikiranku berhenti. Mungkin beberapa menit. Kejutan sebesar
itu menghantamku.
Rambut yang
tadinya terlihat berat kini ditata rapi, dan kulitnya terlihat jauh lebih
cantik dari biasanya.
Sosoknya mirip
dengan penampilan Nanami setelah event di dalam game, namun ada
perbedaan yang sangat mencolok.
Jujur saja, aku
sedikit tidak puas dengan perubahan penampilan Nanami di dalam game.
Menurutku, karakter yang memakai kacamata seharusnya tetap memakai kacamata.
Tapi bagaimana
dengan Nanami yang sekarang?
Dia tidak melepas
kacamata khasnya. Berbeda dengan senyum percaya diri di dalam game, yang
kulihat sekarang adalah senyuman malu-malu yang sangat imut dan tampak sangat
natural bagi Nanami.
Kata
"malaikat" terlalu lemah untuk menggambarkan kecantikannya.
Ini
adalah kecantikan yang bahkan bisa menandingi seorang dewi. Dan hanya ada satu
kata yang pantas diucapkan untuk gadis yang telah berani menghadapi
kompleksitas dirinya sendiri.
"Terima
kasih…………!"
"Apa itu…………
justru aku. Terima kasih."
"Uuu……!"
Aku disuguhi senyuman paling manis yang dibarengi dengan
ucapan terima kasih.
Saat aku sedang memberikan reaksi menjijikkan karena efek
luar biasa itu, aku merasakan tatapan dingin dari Shiori yang duduk di samping
Nanami.
"Ibuse-kun…………
kamu jadi mirip Nanami, ya……"
"Eh, ehehe…… be, begitu kah?"
Dikatakan mirip dengan Nanami, entah mengapa malah Nanami
yang tersipu malu, bukan aku.
Setelah itu, kami bertiga menyantap sarapan ringan lalu
bergegas menuju lokasi acara.
"Kalau
begitu, kita berpisah di sana, ya. Ibuse-kun ke arah sana. Setelah mendaftar
dan selesai berganti pakaian, kita kumpul lagi di sini. Oh, jangan sampai
kertas pendaftaran yang kalian dapatkan hilang, ya? Kalau hilang, kalian harus
bayar sendiri biaya masuknya, lho."
"Siap, Bos.
Akan kujaga baik-baik."
Sesampainya di
lokasi, aku menerima penjelasan dari Nanami yang sigap, lalu menuju ruang ganti
pria.
Meski begitu, aku
tidak pernah menyangka akan berpartisipasi dalam acara seperti ini sebagai
seorang cosplayer. Entah kenapa…… ini terasa seperti keuntungan
tersendiri.
Sambil
memikirkan hal itu, aku menyelesaikan pendaftaran dan langsung berganti
pakaian.
Katanya
ruang ganti wanita lebih ramai, jadi seharusnya aku tidak perlu terburu-buru,
tapi aku merasa berbahaya kalau membuat mereka berdua menunggu.
Selain
itu, ada orang lain di sana, jadi melakukan segala sesuatunya lebih awal adalah
hal yang penting.
Meski
begitu…………
"Wajahnya
terlalu kuat, kan?"
"Bukan
cuma wajah, tubuhnya juga gila……"
"Kira-kira
dia cosplay jadi apa, ya?"
Seperti biasa,
Ibuse Reo memang ahli dalam menarik perhatian orang di sekitarnya.
Sejak
mendaftar, aku terus dilirik dan dibicarakan dengan berbisik.
Aku mengerti
perasaan mereka, tapi itu agak memalukan. Sebaiknya aku cepat berganti pakaian
dan menuju tempat pertemuan.
"Pa-panasnya…………"
Setelah selesai
berganti pakaian, aku keluar, tapi udaranya terlalu panas.
Mengenakan
kostum bertema seragam militer di tengah musim panas benar-benar berat.
Aku
sangat menghormati para cosplayer yang bisa bertahan dengan ini.
Di tengah
cuaca terik itu, saat aku sedang menunggu di titik pertemuan sambil meminum
minuman isotonik yang kubawa, aku disapa oleh dua orang wanita.
"E-ehm, permisi………… itu…… Wolf dari 'Hangan'……
kan?"
Wanita yang menyapaku jelas lebih tua dariku, tapi mungkin
karena aura intimidasi dari Ibuse Reo, dia tampak sangat gugup.
Aku berusaha tersenyum lembut agar tidak menakutinya, lalu
menjawab pertanyaan itu.
"Ya,
benar."
"Waaaah…………
lihat, itu dia, kan! Ternyata efek season 2 memang nyata!"
"Tidak, tunggu dulu. Tidak mungkin, kualitasnya gila sekali, kan?? Ini asli, benar-benar mirip,
parah! Ini bukan orang yang bisa ditemui secara kebetulan di jalan!"
Karena aku sudah
sedikit paham budaya subkultur dunia ini, aku jadi tahu. 'Hangan' sebenarnya
adalah karya yang cenderung minor.
Lagipula,
kualitas animasi season 1-nya agak meragukan…… eh, bukan saatnya
memikirkan itu sekarang.
"E-eh!
A-anu! Bolehkah kami meminta foto!?"
"……Silakan."
"A-aku
juga!"
"Kalau
kalian tidak keberatan denganku, silakan saja."
Sesi pemotretan
dimulai secara alami, dan aku terus memamerkan pose khas Wolf.
Saat aku sedang
menikmati acara ini sepuasnya, sepasang wanita yang sudah menarik perhatian
orang-orang di sekitar berjalan dari arah ruang ganti wanita.
"Kenapa?
Bukankah kamu sudah cukup populer?"
"……Kalian
juga sudah cukup menarik perhatian."
Saat aku sedang
berbicara dengan Shiori yang mengenakan kostum dengan sempurna, para wanita
yang tadi memotretku menatap ke arah Shiori dan yang lainnya, lalu mematung.
"E, e, e,……
e?? Apa, mungkin…… kalian…… saling kenal……?"
"Ya.
Kami bertiga berpartisipasi bersama."
Shiori menjawab
pertanyaan wanita itu. Nanami yang berdiri di sampingnya juga mengangguk
malu-malu.
"Serius…………
eh, apa ini mimpi……?"
"Entahlah……
tapi setidaknya menurutku hari ini adalah hari kematianku………… kalau
tidak begitu, tidak mungkin ini nyata."
Sepertinya otak mereka mencapai batasnya karena terlalu
terkejut; mereka saling berpandangan sambil berkaca-kaca.
Demi mereka, aku memberi isyarat mata kepada Shiori, dan
Shiori yang pengertian langsung menyapa mereka.
"Apakah
kalian mau meminta foto?"
"Hya………… i-iya…… tolong……"
"Dengan
senang hati. Ayo Yomi. Kamu juga."
"A-aku……"
Shiori,
yang sudah membaca manga dan novelnya sampai khatam, memanggil karakter yang
diperankan Nanami—si operator bernama Yomi—sambil mengulurkan tangan.
Saat
Nanami hendak menolak ajakan itu, salah satu wanita memotong dengan antusias
dan menunduk di depan Nanami.
"Tentu
saja! Tolong! Kalian berdua!"
"Eh,
aku juga…… boleh……?"
"Tentu
saja!! Kalian berdua sangat imut!!"
"T-…………terima
kasih."
Terdorong oleh
antusiasme tersebut, Nanami melirik ke arahku.
Aku membalas
tatapannya dengan senyuman yang menyiratkan "tidak apa-apa", lalu
Nanami tersenyum dengan wajah yang sangat bahagia dan berdiri dengan bangga di
samping Shiori.
Setelah itu, kami
terus melayani berbagai permintaan seperti berfoto bertiga atau membicarakan
alur Hangan.
Banyak orang
berkumpul di sekitar kami, dan aku pun melupakan pria cosplayer itu
sejenak karena terlalu sibuk melayani mereka.
Namun, saat kami
terus melakukan pemotretan di bawah terik matahari, kondisi Nanami jelas
terlihat memburuk.
"Pa-panas……"
Meskipun kami
sering minum air, sepertinya Nanami yang tipe anak rumahan tidak tahan dengan
panas ini. Kepalanya pusing dan dia nyaris tumbang.
"Hei. Kamu
tidak apa-apa?"
"Ti…… da-pa-pa…………"
Aku mencoba
memastikan, tapi sepertinya dia sudah tidak kuat lagi.
Memutuskan hal
itu, kami membawa Nanami menuju ruang istirahat berbayar.
"Maaf ya
kalian berdua…… terima kasih."
"Jangan dipikirkan. Kalau Nanami sampai pingsan, justru
tidak ada gunanya."
Nanami duduk di kursi, dirawat oleh Shiori sambil meminum
minuman isotonik sedikit demi sedikit.
Meskipun ruang istirahat ber-AC, wajah Nanami masih merah
padam. Kondisinya benar-benar di ambang batas.
"Hei Kinoshita. Bagaimana kalau kita sudahi saja hari
ini?"
"T-…………"
Nanami menatapku dengan wajah sedih mendengar saranku.
Nanami pasti adalah orang yang paling menyesali hasil ini. Dia mungkin akan
berkata "tidak mau".
Meski begitu, ada Shiori di sini, jadi dia pasti akan
membantu membujuknya. Aku harus tega…………
"……Benar juga. Baiklah, ayo kita sudahi."
"Eh…… apa tidak apa-apa?"
Saat aku
memikirkan kelanjutan kata-kataku, Nanami justru menyetujui saranku sambil
tersenyum. Shiori yang sedang mengipasi Nanami pun ikut tertegun.
Melihat kami,
Nanami tertawa kecil, menyandarkan tubuh bagian atasnya ke meja, lalu
menceritakan alasannya dengan wajah gembira.
"Hari ini
sangat menyenangkan. Banyak orang memuji kostum buatanku dan kalian berdua,
mereka semua terlihat senang, benar-benar seperti mimpi. Tentu saja ada rasa
menyesal, tapi…… perasaan puas ini jauh lebih besar. Lagipula……"
Nanami menatap
mataku lekat-lekat, lalu tersenyum nakal.
"Lain
kali……… dan setelahnya juga…… kamu akan menemaniku lagi, kan?"
"……Laki-laki
tidak akan menarik kata-katanya."
"Fuhehe……… terima kasih."
Saat aku sedang melakukan percakapan yang agak memalukan
dengan Nanami, Shiori yang tampak gelisah tiba-tiba menyela pembicaraan kami.
"Na-Nanami!
Aku juga! Aku akan menemanimu kapan saja! Ya!! Jadi…… ya!"
"Eh,
benarkah!? Terima kasih Shiori-chan!"
Berbanding
terbalik dengan Shiori yang gelisah, Nanami dengan gembira
mengguncang-guncangkan tangan Shiori.
Saat kami sedang
menikmati masa muda musim panas ini, seorang pria datang ke ruang istirahat dan
langsung mendekati kami begitu melihat kami.
"Permisi,
maaf mengganggu obrolan kalian…… apa kalian sedang cosplay menjadi Celia
dari 'Hangan'?"
Pria yang datang
itu menyapa Shiori lebih dulu. Begitu melihat wajah pria itu, wajah Shiori
langsung berubah ke mode kerja.
Aku sudah sering
melihat wajahnya, jadi aku tahu. Dia adalah pria cosplayer yang
dimaksud.
"Ya…… benar sekali."
"Tentu saja! Sedang ramai dibicarakan dan aku sudah
mencarinya, tapi kualitas kalian luar biasa! Aku juga penggemar berat karya ini
sejak lama…… tidak menyangka bisa melihat sesuatu sebagus ini……"
Pria itu berbicara dengan nada yang tampak antusias kepada
Shiori.
Pandangannya lebih tertuju ke arah bawah daripada ke mata
Shiori, dan dia sama sekali tidak melirik ke arahku. Hebat juga dia bisa menipu orang selama ini.
"Bukan cuma
Celia…… apakah itu operator? Luar biasa…… detailnya sampai ke bagian terkecil……
aku juga penggemar berat Operator. Bukankah rentetan foreshadowing
yang diberikan padanya itu bagus sekali…… aku kagum pada kemampuan sang
penulis."
"……Terima kasih."
Menerima pujian pria itu, Nanami merespons dengan wajah yang
agak masam namun tetap berterima kasih. Pria itu akhirnya menatapku dan masuk
ke inti pembicaraan.
"Kostum Wolf juga cocok, apakah desain elang itu
terinspirasi dari Celia? Sangat luar biasa dengan sentuhan orisinalitasnya.
Omong-omong, apa rencana kalian setelah ini? Aku sedang memikirkan acara off-line,
kalau boleh……"
"["……………………"]"
Begitu ya, itu
triknya.
Tebal sekali
mukanya………… lagipula! Itu tidak penting!
Aku tidak akan
tenang kalau tidak mengatakannya!
"E-ehm……"
Nanami sepertinya
merasakan hal yang sama.
Dia hendak
menegur pria itu.
Namun, aku
berdiri dari kursi lebih dulu dan mendekati pria itu.
"Desain
elang ini bukan orisinal, lho."
"…………Eh?"
Dia
tampak terkejut karena tiba-tiba didekati oleh pria bertubuh besar. Namun, aku
tidak peduli sedikit pun dan mencurahkan ketidakpuasanku dengan datar.
"Ini
adalah kostum yang sangat emosional dari novel spin-off berjudul 'Hand
Gauntlet: Beast of the Battlefield' yang dirilis setelah cerita aslinya
selesai, tahu? Apa kamu tidak tahu? Kalau begitu, ceritanya sangat bagus,
bagaimana kalau kamu membacanya? Kalau kamu memang 'penggemar berat sejak lama', kamu pasti akan
menyukainya."
"A, tidak……"
"…………Yah, lupakan soal itu…… boleh aku tanya satu hal?"
"A-apa
itu?"
"Nama asli
si Operator. Pasti tahu, kan?"
Pria itu
bersiap-siap mendapat pertanyaan sulit, tapi dia mulai berbicara dengan percaya
diri seolah berpikir, "Cuma pertanyaan gampang begitu……"
"Ya, aku
tahu. 'Yomi', kan? Sebenarnya namanya sudah disinggung sejak awal.
Dampak dari foreshadowing saat itu sangat luar biasa──"
"Salah, itu tambahan belakangan. Di buku panduan,
penulisnya sendiri menulis bahwa karena dia jadi populer, dia buru-buru
menjadikannya karakter utama. Penulisnya baru-baru ini menyangkal bahwa
spekulasi itu hanyalah kebetulan. Jangan-jangan kamu bahkan tidak membaca buku
panduannya? Kamu tidak mengecek pernyataan penulisnya? Padahal dia karakter
favoritmu?"
"……Tidak, itu, aku membacanya sudah lama…… jadi……"
Aku sudah paham modus operandinya.
Setelah mengulik foto-foto di akunnya, aku sadar kalau
mayoritas cosplay-nya adalah karya minor.
Lagipula, setiap event, cosplay-nya selalu
dari karya yang berbeda. Dan
sekarang, dia gelagapan. Dia memang……
"Kamu
ini, cuma niwaka (penggemar karbitan), kan?"
"T-…………tidak……
aku melihatnya dengan baik……"
Aku tidak
bilang kalau jadi penggemar karbitan itu buruk. Tapi dia sendiri yang mengklaim
sebagai penggemar berat. Namun pengetahuannya hanya sedangkali ini.
Dia pikir
karena karya minor, jadi bisa asal-asalan.
Dia
membidik penggemar karya yang komunitasnya kecil, lalu mendekati mereka dengan
pengetahuan yang dangkal. Bahkan
jika ada kesalahan, sulit untuk menegurnya karena pria ini terkenal. Lagipula,
saat ini ada tren untuk berbaik hati pada penggemar baru.
Dia memanfaatkan
psikologi itu. Terus terang, dia sudah melecehkan para penggemar.
"Kalau kamu
punya waktu untuk mengadakan acara off-line dan mengurung wanita, segera
pulang dan pelajari lagi karyanya."
Orang-orang
mulai memperhatikan, tapi aku tidak peduli. Justru semakin banyak perhatian,
semakin cepat berita ini tersebar.
Aku
mengeluarkan suara yang lebih mengintimidasi dan menatapnya dengan mata yang
penuh niat membunuh.
"……Jangan
pernah mendekati wanitaku lagi."
"Guh………………"
Pria itu
memasang ekspresi kesal, lalu pergi meninggalkan ruang istirahat.
Orang-orang
di sekitar menatap kami seolah berkata "Aku baru saja melihat sesuatu yang
hebat" sambil mengarahkan ponsel mereka ke arahku, tapi aku tidak peduli
dan duduk kembali dengan tenang.
"Benar-benar……
kamu jadi mirip sekali dengan Nanami."
"………Mungkin
begitu."
Shiori
tertawa getir sambil merasa heran. Lebih tepatnya, sebenarnya aku memang sudah
seperti ini sejak awal…… ya sudahlah, biarkan saja begitu.
"Ibuse-kun……!"
Nanami
tiba-tiba menggenggam tanganku dan meremasnya dengan penuh semangat sambil
tersenyum lebar.
"Terima
kasih……! Kamu mengatakan semua hal yang ingin kukatakan, keren sekali! Aku merasa lega! Benar-benar…… aku
senang bisa berteman dengan Ibuse-kun!"
"O-oh,
iya………… sama-sama……"
Sejujurnya, aku
sedikit merasa bersalah karena tindakanku yang egois dan memaksa, tapi……
melihat senyuman Nanami saja sudah membuat semuanya impas.
"…………Setidaknya
ayo kita keluar dari sini. Waktu istirahat sudah cukup, kan?"
"["A,
i-iya……"]"
Karena kami
menarik perhatian terlalu banyak, kami merasa tidak nyaman dan segera keluar
dari ruangan.
Setelah itu, kami
berganti ke pakaian biasa dan memutuskan untuk berburu doujinshi yang menjadi
tujuan kami yang lain.
Minggu, 4
Agustus. Setelah pesta penutup kemarin karena berhasil menikmati cosplay
dan berburu doujinshi, hari ini kami mengadakan pesta berempat di rumahku sejak
siang sebagai perayaan keberhasilan Akari.
Kenapa di
rumahku? Karena Akari bersikeras dan memaksa.
Lagipula,
lokasinya adalah titik tengah dari rumah kami semua.
"Senpai~.
Tunjukkan padaku juga dong. Pose keren yang tadi itu!"
"……Tidak
akan pernah."
"Ya sudah.
Bagaimana kalau kamu tunjukkan saja?"
"Ah, Sera-chan, bukankah dagingnya sudah matang?"
Mumpung ada kesempatan, kami meminjam hot plate dari
rumah Shiori, mengumpulkan uang saku untuk membeli daging yang agak mahal,
serta membeli jus dan camilan untuk mengadakan pesta rumah yang mewah.
Pesta ini secara resmi diadakan karena dua alasan tadi, tapi
bagiku ini adalah hari bersejarah di mana semua tujuanku tercapai.
Aku berhasil menyelamatkan para heroine selain rute
Mizukami Noa, dan kini semua orang bisa menghabiskan waktu dengan senyuman.
Aku tidak menyangka akan menjadi sedekat ini, tapi anggap
saja itu sebagai imbalan yang layak.
Saat pesta terus berlangsung dengan meriah, aku yang sedang
mencuci hot plate dipanggil oleh Nanami yang tampak panik.
Dia yang seharusnya sedang menunjukkan foto cosplay
kami kepada Akari.
"I,
Ibuse-kun!!"
"Hm? Ada
apa?"
"Lihat
ini!"
Yang
terpampang di layar adalah cuplikan siaran. Sepertinya dari seorang streamer
penyebar gosip. Aku kurang suka hal semacam ini…… hm?
"Pria ini………… cosplayer itu……"
"Iya! Dia sedang dalam masalah besar!"
Aku sekilas membaca isinya bersama Nanami. Ringkasannya
seperti ini:
Seorang wanita yang punya hubungan dengan cosplayer
pria tersebut muncul di stream penyebar gosip dengan membawa berbagai
bukti.
Ternyata pria itu adalah anggota semi-kriminal, pernah
melakukan minum-minum dan perbuatan tak senonoh pada anak di bawah umur.
Dia terus-menerus meminta uang untuk biaya cosplay,
dan kalau bayarannya kurang, dia akan bersikap dingin.
Dia juga
sering melakukan overdose dan menjual obat-obat terlarang yang
berbahaya………… ternyata dia benar-benar penjahat yang mengerikan.
"……Dunia
ini mengerikan, ya."
"Ya…………
aku…… benar-benar senang bisa berteman dengan Ibuse-kun……"
Memikirkan
"kalau saja itu terjadi" membuatku bergidik.
Aku sangat
bersyukur bisa menghentikan Nanami hari itu. Sifat waspada berlebih ternyata
ada gunanya juga.
"Senpai! Apa
ini!?"
"Hm?
Kenapa…… eh, hei!?"
Akari di ruang
tamu bertanya seperti itu, dan saat aku melihat apa yang ditemukannya, aku
melihat Akari sedang mengangkat buku porno yang bisa dikatakan sebagai warisan
Ibuse Reo.
"Ternyata
Senpai juga laki-laki, ya~"
"Dasar
bodoh…… dari mana kamu menemukan itu!"
Aku segera kembali ke ruang tamu dan merampas buku itu dari
tangan Akari yang sedang nyengir. Dasar bocah nakal.
Jangan-jangan dia mengusulkan rumahku sebagai alasan untuk
mencari ini.
"Ti-tidak
baik, Ibuse-kun! Hal seperti
itu baru boleh dilakukan kalau sudah 18 tahun!"
Aku dimarahi oleh
Shiori yang melihat semuanya dan wajahnya memerah.
Datang ke rumah
pria yang tinggal sendiri, mencari barang berharga secara ilegal, lalu memarahi
pemiliknya—benar-benar tidak masuk akal.
"Ayo Ketua!
Mari kita cari lagi! Ayo cari bukti dan tangkap penjahat kelas kakap ini!"
"Hei hei,
diamlah! Nanti kalian aku usir!"
"……Benar
juga. Mari kita tangkap dia!"
"Eh…… kenapa
Ketua sampai ikut-ikutan!?"
"Pelan-pelan,
pelan-pelan…………"
"Tunggu,
Kinoshita juga…… apa aku tidak punya privasi sama sekali!"
Selain Akari yang
merasa belum puas, Shiori entah kenapa malah bersemangat. Lalu Nanami yang
diam-diam mencari di celah rak buku.
Saat aku
menghentikan satu orang, yang lain malah bergerak. Sambil diombang-ambingkan
oleh mereka bertiga, aku menikmati waktu yang sangat damai ini.
"Anu,
Senpai!"
Waktu yang
menyenangkan itu berlalu dengan cepat. Saat mengantar mereka bertiga ke stasiun
terdekat, Akari yang sangat bersemangat mengangkat tangannya dan memberikan
saran.
"Sebagai
imbalan turnamen! Ayo pergi ke kolam renang!"
"Kalau kamu
mau, silakan."
"Asiiik!"
Tidak ada alasan
untuk menolak saran Akari yang sudah berjuang keras, jadi aku menjawab dengan
senang hati.
Akari kemudian
menatap Shiori dan Nanami dengan senyuman yang sangat cerah.
"Senior
juga! Ayo ikut!"
"Eh…… apa
tidak apa-apa, Akari-chan?"
"Tentu saja!
Ayo kita main bersama-sama!"
"A-aku sebenarnya……"
"Apa yang Senior bicarakan! Nanami-senpai! Kita semua kan sudah berteman
dekat! Jangan sungkan-sungkan!"
Akari terus
memperluas ajakan itu seolah menyeret Shiori dan Nanami yang terkejut. Mereka
berdua sempat ragu sejenak, tapi setelah saling berpandangan, mereka
mengangguk.
"Terserahlah…… aku harus mengabulkan permintaan adik
kelas yang imut ini."
"Ya. Ayo kita main bersama, Sera-chan."
"T-……iya!
Terima kasih banyak!"
Dengan demikian,
sesuai permintaan Akari, kami berempat sepakat untuk pergi ke fasilitas kolam
renang rekreasi besar yang merupakan tempat klasik saat liburan musim panas.
Ini adalah imbalan untuk Akari, tapi aku juga akan menikmatinya sebagai imbalan untuk diriku yang sudah berjuang keras sejauh ini.



Post a Comment