Chapter 4
Heroine yang Kurang Ajar Ingin…………?
11
Agustus, hari Minggu. Kami berlima datang ke kolam renang rekreasi besar yang
pengunjungnya sangat ramai.
Ya, lima
orang. Grup kami, yang seharusnya hanya berempat sampai seminggu lalu, entah
sejak kapan ketambahan satu anggota baru.
"Hmph!"
"......Sera?
Kenapa dia ada di sini?"
Di depan
stasiun terdekat dari fasilitas kolam renang.
Saat aku
menunggu yang lain karena sampai lebih dulu daripada siapa pun, Miyano Sakura
yang berperawakan mungil namun berlagak besar datang bersama Akari.
Sakura
berdiri menghalangiku dan membusungkan dadanya seolah sedang mengancam.
Kuncir
dua yang imut itu tampak bersemangat seperti biasa hari ini. Saat aku
menanyakan alasan keberadaan Sakura kepada Akari, dia memberitahuku dengan
wajah menyesal.
"Setelah
hari itu, aku sempat mengobrol tentang rencana bermain dengan Sakura...... Tapi
saat kubilang tanggal 11 sudah ada janji main, dia malah bilang 'Mencurigakan.
Aku ikut!'...... Aku jadi tidak bisa menolaknya......"
"Sudah
kuduga kau ada di sini! Si penjahat yang sudah memperdaya Akari!"
"Aduh,
Sakura! Makanya, Senpai itu bukan orang jahat! Cuma mukanya saja yang
begitu!"
"Hei."
Tadi dia baru
saja mengatakan hal yang tidak sopan dengan santainya. Belakangan ini, aku
sudah berusaha untuk melunakkan ekspresiku, tahu!
"Selama aku
masih ada, aku tidak akan membiarkan kejahatanmu lolos! Aku akan mengawasimu
sebagai pengganti kakak!"
"Iya, iya.
Terserah kau sajalah......"
Kakak
beradik ini benar-benar...... Yah, masalahnya adalah perkataanku hampir
semuanya fakta, itu yang membuat situasi jadi sulit.
Akan
lebih cepat jika membiarkan Sakura memastikan sendiri dengan matanya bahwa
Ibuse Reo yang sekarang sudah berbeda dengan yang dulu.
Kalau begitu,
nantinya cerita itu pasti akan sampai juga ke telinga Kaede.
"Lagipula,
kau cuma mau melihat baju renang Akari, kan! Sayang sekali! Akari akan bermain
denganku, jadi tidak akan kubiarkan kau melihatnya! Lagi pula, kalau Akari
terus bersama orang berandalan sepertimu, masa depannya bisa terpengaruh!
Kakakku bilang begitu! Kalau sudah paham, cepat pulang sana! ......Hei,
dengar tidak!?"
Aku terus dicaci maki dengan suara keras di depan stasiun.
Terhadap hal itu, tidak hanya aku, bahkan Akari pun tidak
memberikan reaksi apa pun.
Karena ada wanita yang jauh lebih menakutkan daripada kami
sedang berdiri bersedekap di belakang Sakura.
"Hei, kenapa
diabaikan! Hei, hei, hei!!"
"Halo,
Sakura-chan."
"Hieee!?"
Disapa seperti
itu, Sakura akhirnya menyadari keberadaan di belakangnya.
Dia
mengeluarkan suara yang imut dan berbalik arah sambil melompat kaget.
"Sejak
kapan kau merasa cukup akrab dengan Ibuse-kun sampai boleh bicara santai
begitu?"
"I-iya...... itu......"
"Lagipula,
ini di depan stasiun. Banyak orang yang lewat. Bukankah tidak sopan bicara
dengan suara sekencang itu?"
"Iya......
maafkan aku......"
Tampaknya
dia bahkan tidak memberitahu Shiori bahwa dia akan ikut. Maksudku, karena dia ikut tanpa izin, ya wajar
saja sih. Ngomong-ngomong, di samping Shiori juga ada Nonami yang berdiri
dengan mantap.
"Ya, bagus.
Kalau begitu, ayo jalan."
"Siap!"
"I-iya!"
Setelah selesai
memberikan teguran, Shiori berjalan menuju kolam renang tanpa menanyakan alasan
Sakura berada di sana.
Akari mengikuti
di belakang Shiori, dan Nonami pun berlari kecil menyusul agar tidak
ditinggalkan.
"E...... eh,
tunggu......"
Saat aku juga
hendak mengejar mereka bertiga, Sakura berdiri mematung dengan mata terbelalak.
Mungkin dia
mengira Shiori akan memarahinya dan menyuruhnya pulang. Aku pun menyapa Sakura
yang hampir menangis setelah diceramahi.
"......Ayo,
jalan. Katanya mau main sama Sera."
"T-......
tidak usah disuruh pun aku sudah tahu......!"
"Iya,
iya......"
Meski tampak
kesal, Sakura tetap berlari menyusul Akari.
Jadi,
begitulah kami berlima datang ke kolam renang, namun......
"Lama."
Aku sudah
selesai mengganti baju renang dengan cepat, dan sudah menunggu para wanita
berganti pakaian di bawah terik matahari ini selama 30 menit.
Aku
paham, berbeda dengan pria, bagi wanita itu repot. Tapi tetap saja, ini terlalu lama. Apa aku masuk
duluan saja ya?
Selain itu, aku
juga merasakan tatapan dari sekitar. Bukan tatapan ketakutan atau jijik seperti
biasanya, melainkan tatapan yang bisa dibilang rasa penasaran.
Penyebabnya pasti
terletak pada keindahan fisik Ibuse Reo ini. Otot perut, lengan, hingga kaki,
semuanya benar-benar keras.
Di kamar ada
berbagai alat latihan otot, dan itu memberi kesan bahwa dia tidak
menyia-nyiakan usaha untuk menindas wanita dan menghajar laki-laki.
Di kehidupan
sebelumnya aku tidak pernah latihan otot, tapi sejak berada di tubuh ini, aku
selalu melakukannya tanpa absen. Entah kenapa, kalau tidak melakukannya sebelum
tidur, aku merasa tidak tenang.
Jadi, setelah
menunggu sepuluh menit lagi......
"Senpaaaaai!!"
Pertama, Akari
datang dengan semangat yang lebih dari biasanya.
"Bagaimana!"
Baju renang Akari
berwarna dasar merah, bukan tipe bikini, melainkan desain yang sekilas
benar-benar seperti seragam atlet lari.
Itu sangat
menonjolkan ciri khas Akari, dan bagian perutnya yang kencang terpampang jelas,
sungguh bagus. Memanjakan mata.
"Cocok. Kamu
imut."
"......Terima
kasih banyak!!"
"Aduh, aduh,
aduh!!"
Saat aku
dan Akari sedang mengobrol, Sakura datang menyusul dengan marah.
"Bukankah
kita sudah janji tidak akan memperlihatkannya!"
"Eh~
memangnya kita ada janji begitu~"
"Habislah!
Kau...... Ibuse-senpai, jangan dilihat juga!"
Sakura
mengenakan baju renang yang terlihat seperti gaun terusan putih yang imut.
Kesenjangan
antara penampilannya dengan sikapnya yang sombong justru membuatnya semakin
bagus. Memanjakan mata.
"......Luar
biasa......"
Aku tidak
boleh menatap terlalu lama dua adik kelas yang terlihat begitu terbuka ini,
nanti Sakura akan marah lagi.
Saat aku
mengamati ruang ganti untuk melihat apakah dua orang sisanya sudah keluar,
suara itu terdengar dari Sakura.
"Apa itu,
Sakura? Jangan-jangan kamu...... terangsang dengan tubuh seksi Senpai?"
"!??
T-tidak!! Tubuh kakakku jauh lebih bagus!"
"Apa
maksudnya tubuh seksi? Itu pelecehan seksual, tahu."
Aku menegur Akari
yang tiba-tiba bicara aneh.
Namun Akari tidak
menunjukkan rasa bersalah, malah mendekat.
"Tidak,
tidak, itu memang seksi kok~. Sudah berapa banyak wanita yang kau buat menangis
dengan tubuh ini?"
"Berisik,
nanti kulaporkan ya."
"Aku
tidak melihatnya...... aku tidak melihatnya......"
Mendengar
ucapan pelecehan seksual dari Akari, Sakura memerah padam dan menunduk.
Dan saat
dia sedang memberikan kuncian leher ringan pada Akari yang mencolek pinggangnya
sambil tertawa, Shiori keluar dari ruang ganti sambil menarik tangan Nonami.
"Oh.
Tampaknya menyenangkan."
Baju
renang Shiori adalah bikini berwarna biru yang dewasa.
Di
bawahnya dia mengenakan pareo yang panjang, dan dari sudut pandang mana pun,
penampilannya tidak seperti pelajar aktif.
Aku
sampai mengira dia benar-benar model atau semacamnya. Memanjakan mata.
"Tunggu,
Shiori-chan...... tekadku sudah bulat......!"
Dan kekuatan
destruktif Nonami yang ditarik oleh Shiori itu tak perlu ditanyakan lagi.
Bikini hitam yang
sedikit seksi memperlihatkan dada besar yang menjadi kebanggaan heroin.
Selain
penampilannya, fakta bahwa Nonami yang memakai ini justru jauh lebih berbahaya.
Memanjakan mata.
"Bagaimana,
Ibuse-kun? Nonami imut, kan? Aku yang memilihnya."
"......Sejujurnya,
ini yang terbaik."
"!......
Terima kasih......"
"Dan Ketua juga...... cantik."
"Begitukah? Terima kasih."
Saat kami bertiga sedang terlibat percakapan yang memalukan,
Akari dan Sakura entah sejak kapan sudah pindah ke tepi kolam dan duduk
bersampingan dengan cemberut.
"Hei
Akari...... waktu kita tinggal setahun lagi, ya......"
"Aku sih
tidak masalah...... toh dada besar itu cuma mengganggu......"
Begitulah, acara rutin liburan musim panas kami dimulai
dengan menghibur dua murid tahun pertama yang semangatnya telah hilang.
"Hei Sakura! Ayo ke kolam arus!"
"Ayo ayo! Yeeey!"
Tadi sempat cemberut, tapi dua adik kelas ini langsung
menuju kolam arus dengan semangat khas anak yang supel.
Bahkan di dalam game pun, aku belum pernah melihat Akari
tampak sebahagia itu. Pasti karena dia bisa bersantai dengan teman sebayanya.
"Aduh. Bukankah sudah kubilang jangan berlari.
Benar-benar......"
Sambil menegur dua adik kelas itu, Shiori yang memasang
ekspresi tampak senang entah kenapa, mendorong punggung Nonami di sisinya ke
arahku.
"Aku akan
mengikuti mereka berdua. Karena aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan.
Jadi, Nonami kuserahkan padamu, Ibuse-kun."
"Eh!? Tapi,
Shiori-chan......"
"Aduh,
kalian berdua! Berhenti sebelum jatuh!"
Terhadap saran
mendadak dari Shiori, Nonami terlihat ingin mengatakan sesuatu, namun Shiori
berjalan menuju dua adik kelasnya yang energik seolah menunjukkan bahwa tidak
ada bantahan.
Aku dan
Nonami yang ditinggalkan saling berpandangan dan tersenyum kecut.
"Ngomong-ngomong......
ada tempat yang ingin kamu kunjungi?"
"U-um...... itu ya......"
Meskipun kami sudah sampai di tahap saling berbagi cerita
tentang otaku dan melakukan cosplay bersama, situasi saat ini tetap terasa
canggung.
Bagaimanapun,
kami berdua hampir seperti memakai pakaian dalam saja.
Ditambah lagi,
karena ada perbedaan tinggi badan yang lumayan antara aku dan Nonami, saat aku
mencoba menatap mata Nonami, belahan dada yang dalam secara alami masuk ke
dalam pandanganku.
Gara-gara itu,
kesadaranku dipaksa tertuju ke arah selangkangan, jadi gawat sekali.
Coba saja kalau
aku lepas kendali di tempat seperti ini.
Kepercayaan yang
sudah kubangun selama ini akan hancur lebur.
"Ah,
bagaimana kalau di sini?"
"Kolam air hangat...... bukankah itu bagus?"
Untuk mengatasi kecanggungan ini, aku dan Nonami mengecek
peta bersama dan memutuskan untuk menuju spot yang tampaknya cukup tenang.
"Fuuh...... hangatnya......"
"Iya, ya......"
Kami tiba di kolam air hangat.
Hanya ada pulau terapung di tengah area yang meluas
membentuk lingkaran, tidak ada elemen lain.
Tapi justru ini yang membuat santai. Sebagian besar orang
yang menggunakan kolam ini juga tidak berenang dan menghabiskan waktu dengan
bermalas-malasan.
Mengikuti itu,
kami berdua pun menyandarkan punggung ke tepi kolam dan merasakan seluruh
kekuatan tubuh kami memudar.
"......Tak
kusangka aku akan datang ke tempat seperti ini."
Nonami
bergumam begitu sambil merendam tubuhnya sampai ke leher di dalam kolam.
Penampilannya
yang hanya menyembulkan wajah dari permukaan air terlihat imut sekaligus lucu,
jadi aku pun meniru Nonami dan menenggelamkan tubuh sampai ke leher.
"Benar juga.
Kupikir Kinoshita akan menolak hal seperti ini."
"Sebenarnya......
aku berniat untuk terus tampil di acara cosplay ke depannya. Jadi
kupikir aku harus terbiasa."
"Begitu rupanya. Tapi kolam renang rekreasi begini
terasa seperti terapi kejut, ya."
"Ya,
benar juga."
Saat
sedang mengobrol santai dengan posisi seperti sedang mandi, Nonami menatapku
dan tertawa.
"Ada apa.
Apa ada yang aneh?"
"Tidak.
Hanya saja...... ternyata tinggi pandangan kita sama dengan Ibuse-kun."
Di saat aku sedang lengah dan santai, dia mengatakan hal
yang sangat imut, jadi aku memalingkan pandangan dari Nonami agar dia tidak
melihat wajahku yang nyengir.
Mungkin menurutnya ekspresiku itu lucu, Nonami melanjutkan
pembicaraan dengan senang hati.
"Ibuse-kun
itu, kan, selalu menatap mataku saat bicara? Hal seperti itu, sebenarnya......
meski memalukan, tapi aku senang. Apa itu memang rahasia populer dengan
wanita?"
"Tidak......
bukan karena itu...... mungkin, kebetulan saja."
"......Terkadang
matamu melihat ke tempat lain, kan?"
"..............Maaf.
Tidak sengaja."
Meskipun aku
berusaha sehati-hati mungkin, aku jujur meminta maaf karena telah melihat
bagian yang menjadi kompleks bagi Nonami. Namun Nonami tetap terdengar senang.
"Sebenarnya
aku agak tidak suka dilihat, tapi entah kenapa, apa aku sudah terbiasa? Kalau
dengan Ibuse-kun...... sedikit, bahkan malah senang, rasanya......"
"E......
Kinoshita...... itu, apa......"
Detak jantungku berakselerasi mendengar kata-kata Nonami
yang tampak malu-malu meski senang, dan aku berbalik ke arah Nonami sambil
berpikir, "Jangan-jangan......"
"Yeeeeeei!!!!"
Byuuuur!
"Bubeh!?"
"Kinoshita!?"
Sesaat sebelum aku berbalik. Tepat setelah suara anak
laki-laki yang energik terdengar, cipratan air yang besar muncul dari samping
Nonami.
Cipratan itu mengenai Nonami tepat sasaran, dan dari
sumbernya, seorang anak laki-laki seukuran siswa sekolah dasar muncul ke
permukaan.
"Aduh, kamu
ini......!? M-maaf! Anakku......!! Bodoh! Cepat minta maaf!"
Seseorang yang
tampak seperti ibu anak laki-laki itu datang sambil berlari kecil, dan saat
mengetahui lawan yang diganggu anaknya adalah orang berwajah penjahat, wajahnya
memucat dan dia membungkuk dalam-dalam.
"M-maaf......"
Setelah
diceramahi ibunya, anak laki-laki itu segera membungkuk kepada Nonami. Terhadap
anak kecil itu, Nonami menyapa lebih dulu sebelum aku.
"......Aku
tidak apa-apa. Tapi, harus hati-hati, ya. Nanti kamu bisa terluka, dan
dengarkan kata ibumu. Paham?"
"U......
un...... maafkan aku, Kakak......"
"Bagus. Anak
pintar."
Tak
disangka-sangka, ternyata Nonami menasihati anak itu dengan terbiasa.
Namun anak
laki-laki itu terlihat hanya mendengarkan sambil lalu, matanya terpaku pada
pegunungan di depan matanya.
Pasti orientasi
seksualnya sudah terbentuk seumur hidup. Kasihan sekali.
Selama Nonami
bicara dengan anak itu, ibunya terus membungkuk ke arahku.
Karena Nonami
sudah menegurnya, kupikir bukan saatnya bagiku untuk ikut campur, jadi aku
membalas ibu yang tampak pucat itu dengan santai, "Tidak apa-apa
kok."
"Kalau
begitu, dah. Sampai jumpa."
"Un......
dah......"
"Aduh......!
Benar-benar minta maaf......!"
Anak laki-laki
itu ditarik keluar dari kolam oleh ibunya dan dibawa ke tempat lain.
Pasti bakal
diceramahi habis-habisan setelah ini. Dengan ini, dia sudah menjadi satu
tingkat lebih dewasa. Dalam berbagai arti.
"Ternyata
kamu terbiasa, ya. Apa kamu suka anak kecil?"
"......Un. Yah, semacam itulah."
"Begitu ya......"
"..............Un."
Setelah satu
keributan selesai, kami secara alami saling bertatapan. Kemudian, isi
pembicaraan yang sempat terputus tadi muncul di kepala, dan aku jadi tidak tahu
harus bicara apa lagi.
Dan hal yang sama
tampaknya dirasakan Nonami, dia mulai wajahnya memerah dan gelisah.
"E-eetto...... apa, kita...... bergabung dengan
Shiori-chan dan yang lain?"
"......B-begitu ya?"
Karena terlalu canggung, kami berdua saling memalingkan
wajah dan memutuskan untuk bergabung dengan Shiori dan yang lainnya agar
kejadian tadi dianggap tidak pernah terjadi.
Kemudian, saat mencari tempat di mana para adik kelas yang
aktif itu berada, kami menemukan Shiori sedang diajak bicara oleh dua pria yang
tidak dikenal di dekat perosotan air.
"Hei
Ibuse-kun. Itu Shiori-chan, kan?"
"Ah......
dan sepertinya itu modus kenalan."
Aku penasaran
kenapa dia sendirian, tapi tampaknya lebih baik langsung memotong pembicaraan
mereka.
"Yo. Maaf
menunggu. Temanmu?"
"Hah......
apa-apaan, ada pria bersamanya......"
Saat aku menyapa
Shiori, para pria itu mungkin ketakutan dan buru-buru kabur.
Melihat
punggung para pria itu, Shiori tersenyum padaku dengan ekspresi heran.
"Tidakkah
kau agak terlambat? Padahal wanitamu sedang dirayu orang."
"Apa-apaan
cara bicara itu. Aku justru mengkhawatirkan pria-pria itu. Takut kalau mereka
dilempar ke kolam."
"......Begitu
ya. Baiklah, kalau begitu aku akan mempraktikkan cara menghadapi modus kenalan
seperti itu padamu."
"Terima
kasih, tapi jangan deh."
Saat aku dan
Shiori sedang saling sindir seperti biasa, aku merasa mendengar suara tawa yang
agak menjijikkan dari arah Nonami, "Fuhehe......". Tapi, mungkin
tidak ada gunanya menanggapi, jadi aku lewatkan saja.
"Jadi?
Mereka di mana?"
"Di atas
sana."
Ditanya begitu,
Shiori menunjuk ke puncak perosotan air.
"Mereka
berdua naik berdua. Aku memutuskan menunggu di sini."
Shiori tampak sok
dewasa begitu, tapi dia jelas terlihat gelisah sambil melihat orang-orang yang
meluncur.
Dia pasti juga
ingin mencobanya. Jadi aku memutuskan untuk menyarankannya.
"Pergilah
bersama Kinoshita. Biar aku yang menunggu dua orang itu sebagai gantinya."
"......Apa
tidak apa-apa?"
"Oh.
Kinoshita juga tidak masalah, kan?"
"Eh......
aku sebenarnya tidak terlalu suka yang seperti ini—"
"Ayo pergi!
Nonami!"
"He??
Tidak...... daripada aku, bukankah dengan Ibuse-kun—!?"
Sebelum Nonami menolak, Shiori meraih tangan Nonami dan
dengan penuh semangat menariknya ke perosotan air.
Dia pasti ingin
sekali melakukannya. Baru kali ini aku melihat wajah Shiori yang begitu riang.
Jadi, setelah
menunggu beberapa menit......
"Hyaaaa!!"
"Yeeeey!!"
Akhirnya dua
murid tahun pertama, Akari dan Sakura, meluncur turun dengan sangat gembira.
"Seru
sekali! Ayo sekali lagi, Akari!"
"Un un! Ah,
aku juga ingin meluncur dengan Ketua!"
Sambil mengobrol
akrab mereka mendekati tepi kolam, dan Akari yang akhirnya menemukanku langsung
melompat keluar dari kolam dan memelukku.
"Senpaaaai!!"
"Hei, aduh.
Jangan melompat begitu, berbahaya."
"Soalnya
soalnya~! Itu kejutan Senpai~!"
Kejutan Senpai
apaan itu. Lagipula, tidak bisa dihindari sih, tapi jangan terlalu heboh
begitu.
Bukan
berarti aku tidak senang didekati oleh gadis imut seperti ini, tapi......
sepertinya Akari perlu diajari sedikit tentang batasan.
Saat aku
berpikir begitu, napas Akari yang menyembunyikan wajahnya di sekitar dadaku
mulai terasa semakin berat.
"Fuhe......
kulit Senpai...... ototnya...... suuu......"
"Hei,
lepas, dasar gadis mesum pengganggu."
Aku
mencengkeram kepala gadis mesum yang sedang menggosokkan wajahnya itu, dan
menariknya paksa.
"Sial......"
"Apa yang
kau sesali, hah......"
Meski aku dan
Akari melakukan hal-hal konyol seperti itu, Sakura tidak meninggikan suaranya,
dan masih cemberut di dalam kolam.
"Hei, apa
yang kau lakukan? Cepat keluar, berbahaya, tahu?"
"Eh,
a......! Tidak usah disuruh pun aku tahu! Lagipula, lepaskan tanganmu dari
Akari! Dasar pria mesum!"
"......Apa
kau tidak melihat kejadian dari tadi?"
Sakura melompat
keluar dari kolam dengan semangat yang sama seperti Akari, dan berjalan cepat
ke arahku.
"Hati-hati
kakimu!"
"Berisik!
Cepat lepaskan Akari—eh!?"
Saran dariku
tidak ada artinya, Sakura tersandung sesuatu dan kehilangan keseimbangan, lalu
hampir terjatuh ke depan.
Aku segera
melepaskan tangan dari Akari, dan berhasil menopang tubuh Sakura yang hampir
terjatuh dengan memeluknya dari bawah.
"Aduh......
apa kau tidak apa-apa?"
Tapi karena
perbedaan tinggi badan, tubuhku terpaksa berlutut, dan aku menahan rasa sakit
saat lutut kananku tergesek tanah sambil memeriksa kondisi Sakura.
"......Tidak
apa-apa......"
Meskipun dia
bilang begitu, wajahnya jelas menahan rasa sakit.
Saat memeriksa
kaki Sakura, ujung ibu jarinya terlihat merah.
Darah
sepertinya tidak keluar, tapi......
"......Ayo
ke ruang kesehatan. Apa kau bisa berjalan?"
"Hal sekecil
ini bukan apa-apa!"
Sakura menjauh
dariku, mencoba menunjukkan bahwa tidak terjadi apa-apa.
Memang
sedikit merah, tapi sepertinya tidak akan berdarah. Kalau begitu, tampaknya tidak apa-apa.
"Lagipula
jangan menyentuhku! Dasar mesum! Benar-benar menjijikkan! Nanti
kulaporkan—"
Sakura mulai
memaki-makiku seperti biasa dengan lancar...... tapi......
"Sakura!!"
Melihat interaksi
ini, Akari meninggikan suaranya dan mendekati Sakura.
Dan saat
berikutnya, suara tamparan terdengar di tepi kolam.
"Eh......"
Tak disangka,
Akari menamparnya dengan keras.
Wajah Akari
jarang sekali penuh dengan kemarahan, dan Sakura yang ditampar terkejut namun
hampir menangis.
"Seberapa
parah pun, setidaknya katakan sesuatu dulu, kan!!"
"......Soalnya......"
"Bukan
soalnya! Bodoh!!"
Akari mengalihkan
pandangannya padaku, dan meminjamkan bahunya untuk menopangku yang sedang
menutupi lutut.
"Senpai
juga. Sebelum mengkhawatirkan orang lain, cepat pergi diobati."
"......Maaf.
Terima kasih."
Mungkin
karena tergesek dengan cukup kuat, lutut kananku mengeluarkan darah yang nyata.
Kami
bertiga pergi ke ruang kesehatan, dan aku serta Sakura diobati.
Setelah
diobati oleh staf dan keluar dari ruang kesehatan, keempat orang lainnya sudah
menunggu di luar. Dan Akari
adalah yang paling pertama berlari ke arahku.
"Senpai! Apa
Anda tidak apa-apa!?"
"Hanya luka
gores saja. Jangan khawatir."
"Begitu ya...... syukurlah......"
Saat aku dan Akari sedang mengobrol, Sakura yang didorong
punggungnya oleh Shiori datang dengan wajah menyesal, dan membungkuk padaku.
"......Maafkan aku......"
Tampaknya jari kaki Sakura tidak masalah, dia sudah keluar
dari ruang kesehatan lebih dulu dariku.
Dilihat dari
situasinya, dia pasti dimarahi oleh Shiori juga. Kalau aku yang bicara
macam-macam di sini, kasihan juga.
"Tidak usah
dipikirkan. Syukurlah kau tidak terluka."
"......Iya......"
"Lalu?
Sepertinya memang tidak bisa masuk ke air lagi, ya?"
Shiori mengelus
kepala Sakura yang tertunduk, dan menanyakan tentang luka di lututnya.
"Yah......
sepertinya begitu."
"Begitu ya.
Kalau begitu tidak bisa diapa-apakan lagi."
Wajar saja, staf
sudah bilang, "Hari ini tidak boleh masuk ke kolam renang".
Sudah datang
sejauh ini tapi kolam yang dimasuki cuma satu...... yah, tapi setidaknya aku
bisa melihat baju renang semua orang, itu saja sudah cukup memanjakan mata.
"......Uuu......"
Saat sedang
membicarakan hal itu, air mata jatuh dari Sakura yang menunduk. Meski dia benci
padaku, karena dia telah melukaiku, dia pasti merasa bersalah.
"Maafkan
aku...... benar-benar...... minta maaf......"
Sambil
menangis, Sakura membungkuk dalam-dalam padaku. Karena situasinya terlalu tidak enak, aku
memberikan isyarat mata kepada Shiori.
"......Benar,
Nonami, Akari-chan. Ayo kita pergi beli es serut."
"Eh...... sekarang?"
Terhadap saran mendadak Shiori yang menyadari isyarat
mataku, Nonami bertanya balik.
"Ya,
sekarang. Kebetulan sekarang traktiran dari Ibuse-kun."
"Ta-tapi,
Ketua......"
Akari pun
bingung. Tapi Shiori menarik tangan mereka berdua secara paksa, lalu menatapku
dengan isyarat "Serahkan padamu," sebelum berjalan menuju pujasera.
"Nah......
setidaknya ayo duduk. Berdiri terus lututku sakit."
"......Hik......
u...... iya......"
Sambil menangis,
Sakura menerima saranku, dan kami duduk di bangku terdekat untuk berdua saja.
"Hiks...... hik......"
"Sampai
kapan kau mau menangis......"
"Soalnya...... soalnya......"
Kami sudah sampai di bangku terdekat untuk mengobrol, tapi
Sakura sama sekali tidak ada tanda-tanda berhenti menangis.
Meski dihibur berkali-kali pun tetap tidak berhenti.
Kalau setelah sok keren di depan Shiori tapi malah tidak ada
masalah yang terselesaikan, itu memalukan sekali.
Kalau dibiarkan seperti ini, hubungan dengan Akari juga akan
memburuk. Hanya itu yang harus kucegah.
"Tidak bisa dibiarkan. Kurasa aku harus menggunakan
trik yang agak menjijikkan."
"Kamu,
bukannya kamu menyukai Kaede?"
"Habisnya,
dia kan kakakku..."
"Oh ya? Apa
benar cuma itu alasannya? Dari tadi kamu terus-terusan menyebut 'kakak',
'kakak'... jangan-jangan kamu ini sister complex yang parah ya?
Jangan-jangan perasaanmu itu cinta?"
"Eh............"
Dalam dunia game,
Miyano Sakura memang menyukai kakak laki-lakinya, Miyano Kaede.
Tentu saja, itu
bukan perasaan sebagai adik kepada kakak. Ia mencintainya sebagai seorang pria.
Keluarga mereka
sedikit rumit. Ibu
kandung Kaede meninggal saat melahirkannya.
Sejak
saat itu, sang ayah membesarkan Kaede seorang diri selama beberapa waktu.
Ketika
Kaede hendak menginjak usia dua tahun, ayahnya menikah lagi. Istri barunya
datang ke kediaman Miyano dengan membawa bayi yang baru lahir. Bayi itulah
Sakura.
Ayah
kandung Sakura adalah pria yang tidak bisa diandalkan; begitu tahu ibu Sakura
hamil, ia langsung menghilang tanpa jejak.
Pertemuan orang
tua mereka saat ini pun terbilang ajaib. Sebenarnya, ibu Sakura dan ayah Kaede
adalah teman sekelas saat SMA.
Mereka bertemu
kembali di rumah sakit setempat dan saling tertarik seolah ingin mengisi
kekosongan waktu satu sama lain... setidaknya itulah latar belakang ceritanya.
Kaede dan
Sakura menghabiskan waktu di lingkungan seperti itu.
Meskipun
mereka tumbuh layaknya saudara kandung sungguhan, Sakura diam-diam memendam
perasaan pada Kaede.
Namun, Sakura
tidak memiliki keberanian untuk menyatakannya.
Wajar saja,
karena ia menganggap mereka sebagai keluarga asli.
Lagipula, ada
teman masa kecil mereka, Mizukami Noa.
Itu alasan yang
lebih dari cukup bagi Sakura untuk mengalah.
"............Jangan
bicara hal aneh. Benar-benar menjijikkan."
"Iya,
iya."
Mungkin
karena teguran mendadak yang tak masuk akal dariku membuatnya tenang, Sakura
akhirnya berhenti menangis.
Meski
begitu, dibilang menjijikkan tetap saja menyakitkan, walaupun memang tindakan
tadi menjijikkan.
"Itu...
Senpai... kenapa... kenapa kamu tidak menyuruhku pulang?"
Begitu berhenti
menangis, pertanyaan yang sudah sangat terlambat itu meluncur dari bibir
Sakura.
Toh, kalau aku
menyuruhnya pulang pun, dia tidak akan mau, kan?
"Tidak ada
alasan khusus. Kamu kan temannya Akari, aku cuma berpikir pasti lebih seru
kalau dia ada teman sekelasnya."
"............Menjijikkan."
"Hah...
terserah apa katamu."
Seperti biasa,
aku terus dicaci oleh Sakura. Meski sudah terlihat tenang, mulutnya tetap saja
tajam.
Tapi, itu
tandanya dia sudah mulai tenang. Aku pun memutuskan untuk menanyakan hal yang
ingin kuketahui darinya.
"Ngomong-ngomong,
gosip tentangku yang kau dengar dari Kaede itu seperti apa?"
"............Katanya
kamu sering berkencan dengan banyak wanita."
Pernyataan
yang sangat diperhalus. Yah, kalau bicara pada adik sendiri, mungkin memang
begitu penyampaiannya.
"Lalu...
katanya kamu sering terlibat perkelahian dengan berandalan dari sekolah lain,
dan kamu orang yang sangat menakutkan..."
Secara
garis besar tidak salah. Kenyataannya, aku bahkan lebih buruk dari itu.
"............Makanya
aku dilarang mendekatimu, katanya nanti aku akan diperlakukan dengan
kasar..."
"Kalau
begitu, kenapa kamu ada di sini sekarang?"
"Karena tadi
Akari terlihat senang."
"Jangan
melanggar perintah kakakmu cuma karena alasan itu..."
"Bukan cuma
itu!!"
Mendengar
gumamanku yang penuh helaan napas, Sakura memprotes dengan suara keras dan
akhirnya mulai mencurahkan isi hatinya.
"Sekitar
bulan Mei... Akari terlihat sangat terpuruk. Akari memang menyembunyikannya,
tapi aku bisa merasakannya. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa... aku merasa
Akari tidak mengandalkanku..."
Melihat waktunya,
kemungkinan besar itu saat Akari dipaksa melihat kedekatan antara Kaede dan
Noa.
Tentu saja, tidak
mungkin Akari bisa curhat pada Sakura, adik dari pria yang ia sukai, dengan
mengatakan "aku menyukai kakakmu...". Lagipula, Sakura sendiri juga
teman masa kecil Noa.
"Tapi, saat
bulan Juni, Akari tidak terlihat sedih lagi. Dia justru terlihat lebih ceria
dari sebelumnya, bahkan saat jam istirahat dia langsung pergi ke suatu
tempat..."
Itu pasti saat
aku menolong Akari. Memang, waktu itu Akari terlihat bebas dari segala beban
dan tampak bahagia. Mungkin karena itu pula, sekarang dia jadi sedikit lepas
kendali.
"...Sebenarnya,
bahkan sebelum dibilang oleh kakak, aku sudah tahu soal Senpai dan Akari. Aku
pernah melihat kalian jalan bersama, dan Akari juga sering bercerita. Dia
memang menyembunyikan namamu, tapi aku tahu kalau itu pasti pria besar yang
menakutkan itu."
"Maaf ya
karena aku besar dan menakutkan."
"............Kalau
tidak suka, setidaknya berhentilah mengecat rambutmu pirang."
"......Itu
benar juga."
Iseng mengeluh
pada Sakura, aku malah terkena serangan balik yang telak. Lebih baik aku diam
dan mendengarkan saja.
"...Sebesar
dan semenakutkan apa pun kamu, aku selalu berpikir kalau Akari bahagia, itu
tidak masalah. Saat itulah aku mendengar tentang Senpai dari kakak. Dari
ciri-ciri fisik yang kakak sebutkan, aku langsung tahu. Pria yang ada di
samping Akari itu bernama Ibuki Reo."
Setelah itu,
Sakura yang tadinya bicara dengan tenang tiba-tiba menggenggam erat kedua
tangannya di atas lutut dan mulai meneteskan air mata lagi.
"Aku............
tidak mengerti... kakak bilang Senpai itu orang jahat... tapi Akari bilang
Senpai bukan orang seperti itu... Senpai juga bicara biasa saja dengan ketua
OSIS yang menakutkan itu, atau senpai yang dadanya besar... terlihat sangat
senang..."
Senpai
yang dadanya besar, ya. Dan
ternyata citra Shiori tetap "menakutkan". Yah, wajar saja sih.
"Tadi juga,
meski aku ikut tanpa izin... tidak ada yang memarahiku... bahkan Senpai sampai
terluka demi menolongku............"
"......Dengar
ya—"
"Lagipula!!"
Saat aku hendak
memotong karena mengira dia sudah selesai, Sakura tiba-tiba berubah drastis dan
membentakku.
"Seharusnya
Senpai jadi orang jahat saja!! Kalau begitu, semua yang dikatakan kakak benar!
Tapi kenapa Senpai malah bersikap baik padaku!! Ada apa sih! Memangnya ketua
OSIS dan senpai itu saja belum cukup buatmu! Jangan pikir aku akan menjadi
milikmu hanya karena kebaikan seperti itu!! Ah, aku tahu, itu pasti taktikmu!
Cara Senpai memperdaya wanita! Akan kuberi tahu Akari!!"
"Tiba-tiba
berisik sekali..."
Sakura pasti
sedang melampiaskan semua perasaan yang menyesakkan dadanya dalam bentuk caci
maki padaku.
Kata-kata dari
kakak yang ia cintai dan kata-kata dari sahabat yang ia sayangi.
Mencoba menerima
keduanya adalah penyebab Sakura meledak sekarang. Karena kalau dia menjadikanku
orang jahat, setidaknya dia punya pegangan emosional.
Meski
begitu, Sakura terlalu gegabah. Saat ini memang tidak ada masalah, tapi kalau
aku benar-benar memiliki kepribadian seperti Ibuki Reo yang asli, mungkin saat
ini dia sudah celaka oleh berbagai macam cara.
Mari kita jadikan
ini pelajaran agar dia paham bahayanya tindakan sendiri. Saatnya untuk menjadi
orang jahat seperti yang dia inginkan.
"Heh!
Katakan sesuatu kalau—"
"......Berisik."
"Hyaaa!?"
Aku mencengkeram
kuat pergelangan tangan kanannya yang sedang mengayun ke sana kemari, lalu
membisikkan dengan suara serendah dan semenakutkan mungkin.
"Setelah
tahu gosip tentangku, kamu malah mendekatiku... berarti kamu juga ingin jadi
milikku, kan?"
"Tida...
bukan..."
"Setelah
diperlakukan baik, kamu jadi besar kepala, ya. Sepertinya bocah sepertimu perlu
diajarkan secara langsung siapa yang lebih unggul."
"Ha...
ha... a..."
"Kamu
ingin Akari bebas, kan? Kalau
begitu mudah saja. Jadilah milikku sebagai gantinya. Tenang saja, aku
akan memanjakanmu dengan puas."
"............Ah... mm..."
Mungkin aku bertindak terlalu jauh, Sakura bahkan tidak bisa
membalas dan terdiam membisu. Tapi, melihatnya ketakutan seperti itu rasanya
sudah cukup.
"............Bercanda. Aku cuma main-main."
"............Eh? Ah..."
Begitu aku melepaskan pergelangan tangannya, Sakura menatap
tangannya yang tadi kugenggam, mungkin karena lega sudah dibebaskan.
"......Sekarang kamu tahu seberapa bahayanya
tindakanmu? Kalau aku benar-benar pria seperti gosip yang kau dengar, aku pasti
sudah melakukan hal seperti itu padamu. Kamu bisa menanganinya?"
"...................."
"Hm? Hei,
dengarkan—"
"Ibuki-kun??"
"ッ!?"
Tatapan tajam dan
nada suara sedingin es.
Dengan
takut-takut aku menoleh, dan di sana ada Shiori yang sedang membawa es serut di
kedua tangannya, dengan urat-urat kemarahan yang menonjol di pelipisnya.
"Sejak
kapan... bukan! ......Ini itu...... hei!? Tidak seperti yang kau pikirkan, kan!?"
"Eh............
ah, iya!! Tidak sama sekali!! Bukan begitu!! Itu salah paham, kan!!"
Mendengar
pertanyaanku yang panik, Sakura yang akhirnya sadar dari lamunannya ikut
membela diri dengan wajah memerah.
Namun...
"Salah
paham?? Apakah memegang pergelangan tangan seorang gadis dan mendekatkan wajah
itu salah paham?? Begitu?? Jadi kau tidak memanfaatkanku untuk merayu
Sakura-chan?? Begitu??"
"Senpai............
sejujurnya, yang keempat itu..."
"Ibuki-kun...
itu agak..."
"Makanya!!
Bukan begitu!!"
"Alasannya
nanti saja. Benar, Sakura-chan. Ini kesempatan bagus. Biar kuajarkan
cara menangani pria gampangan dan sampah yang mencoba menggodamu. Sini, pegang
ini."
Shiori menyerahkan es serutnya pada Sakura, lalu sambil
bergumam "Baiklah," ia mulai memutar bahunya.
"Itu............
Fujita-san......"
"Ada
kata-kata terakhir?"
"Sungguh...!
Aku tidak bersalah...!"
"......Tanpa
bantahan!"
Setelah itu, aku
dibanting oleh Shiori dengan teknik kuncian hingga mengerang kesakitan.
Ketiga gadis
lainnya sama sekali tidak mempedulikanku dan dengan ceria lanjut menyantap es
serut yang sudah dipastikan akan kubayar.
Setelah hukuman
dari Shiori dan waktu makan es serut selesai, saat kami sedang mendiskusikan ke
mana selanjutnya, Akari mulai bicara dengan wajah yang jelas-jelas sedang
merencanakan sesuatu.
"Pembicaraan
seriusnya sudah selesai ya! Sekarang saatnya bersenang-senang! Jadi, ikuti aku!"
Aku
dibawa oleh Akari yang terlihat sangat antusias ke sebuah area tertentu. Di
sana ada mesin misterius dan kerumunan orang yang sedang mengantre.
"Akari-chan,
ini apa?"
"Yah, lihat
saja nanti! Ayo cepat kita ikut mengantre! Ah, Senpai lihat saja ya!"
"O-oke..."
Disuruh melihat,
ya. Maksudnya, apakah aku akan basah kuyup? Penasaran wahana apa ini, aku
melihat papan petunjuk di dekat situ...
"Bubble... Land?"
"Kalau
begitu, ayo mulai! Tiga, dua, satu...!"
Hitung mundur
dimulai tepat saat aku sedang membaca papan, dan sebelum aku sempat memahami
penjelasannya, mereka langsung mempraktikkannya.
"Go!"
Atas aba-aba staf
wanita, sejumlah besar busa menyembur keluar dari mesin.
"Ababababa!?"
"Nanami!?
Kamu baik... tidaaa!?"
"Ahahaha!!
Seru banget! Ne, Sakura!"
"Benar
banget!!"
Shiori
dan Nanami yang sama sekali tidak menerima penjelasan tidak berdaya dihantam
busa dalam jumlah besar. Sebaliknya, Akari terlihat asyik menikmati busanya.
Sakura
yang tadi menangis juga ikut tertawa dan bermain dengan riang. Jika dilihat
dari kejauhan, itu pemandangan yang mengharukan.
Tak lama
setelah itu, mesin berhenti, dan saat selesai, semua orang di sana sudah
tertutup busa dengan sempurna.
"Silakan
bilas busa di tubuh kalian di kolam yang ada di sana! Terima kasih!"
Atas instruksi
staf, masing-masing berjalan menuju kolam khusus... kecuali satu orang.
"Eh,
Sera-chan, ke sana bukan kolam, lho!?"
"Sudah,
ikuti saja!"
Entah kenapa
Nanami didorong punggungnya oleh Akari dan dibawa ke arahku. Seluruh tubuhnya
penuh busa... dan rasanya... bagaimana ya... gawat.
Busa yang
menempel di baju renang itu membuatku teringat pada toko tertentu. Ini benar-benar sedang merusak
moral pria sehat di sekitarnya.
Apakah orang yang
memikirkan atraksi ini waras??
"Ah,
terpeleset."
"Eh!?
Tunggu...!"
"......Hei!"
Splosh
"Nghhh!!"
Dengan
sengaja, Akari mendorong Nanami ke arahku, membuatnya kehilangan keseimbangan.
Aku
berhasil menangkapnya tepat waktu, tapi karena itu, dada besar Nanami yang
penuh busa menempel langsung di tubuhku.
"Ma-maaf!!
Aku akan segera menjauh...!!"
"Tidak... sega...lanya... eh!?"
Nanami panik dan
berusaha menjauh.
Namun, karena
tubuhnya licin terkena busa, mungkin bajunya bergeser saat ia menempel padaku
tadi.
Dari balik baju
renang yang bergeser, bagian pinggir lingkaran merah muda di dada Nanami
terlihat sekilas.
"Maafkan
aku, Nanami-senpai... ah, itu kelihatan, lho?"
"Eh............
hawahhh!?"
Ditegur oleh
Akari sebelum aku, Nanami yang baru sadar langsung terduduk di tempat dengan
wajah memerah, berusaha sekuat tenaga merapikan baju renangnya.
Aku pun ikut
terduduk dan mencoba memikirkan wajah ibu dari kehidupan masa laluku agar bisa
menenangkan "naga" di dalam diriku yang mulai mengamuk.
"......Senpai?"
Melihatku seperti
itu, Akari berbisik di telingaku dengan nada menggoda.
"Senpai
juga... sulit, ya?"
"Kau
ini..."
"Ihi...
Senpai lucu banget."
Setelah puas
menggodaku, Akari mengajak Nanami yang masih berwajah merah pergi ke arah
kolam.
"Selanjutnya
ini!"
Setelah puas
menikmati Bubble Land, Akari membawaku ke area di mana ada gulungan seperti rol
besar yang mengapung di atas kolam kecil.
"Kalau ini
tidak akan basah, dan Senpai juga bisa ikut main! Oh ya, maksimal tiga orang
dalam satu rol!"
"Hei Akari!
Pasti kamu mau bareng Senpai, kan!"
"Eh? Aku
ingin bareng Sakura!"
"......Beneran?"
"Iya!
Nanami-senpai juga ayo gabung!"
"......I-iya."
Pembagian
kelompok selesai dengan mulus, dan ketiganya masuk ke dalam rol dengan
antusias.
"Kalau
begitu, dua orang sisanya silakan ke sini."
"Ibuki-kun,
apa tidak masalah denganku?"
"......Yah,
kalau dengan ketua OSIS, aku tenang."
Ada Akari yang
merencanakan sesuatu yang tidak beres, dan Nanami yang merasa canggung akibat
kejadian tadi.
Setidaknya,
dibanding dengan Sakura yang tidak begitu akrab, Shiori lebih melegakan.
Begitu
pikirku, dan aku pun masuk ke dalam rol bersama Shiori.
"Ooh...
wooah... ini, lumayan juga..."
"Susah
juga ya..."
Sekilas
terlihat mudah, tapi begitu masuk ke dalamnya, menjaga keseimbangan sangatlah
sulit.
Akari dan
yang lainnya juga terus terjatuh sambil berteriak-teriak. Lagipula, Akari
memang satu hal, tapi Nanami dan Sakura juga terlihat kurang gesit.
"Meski
begitu... ketua OSIS juga terlihat senang, ya."
"Apa?
Maksudmu aku tidak cocok memakai ini... Ups."
"Bukan
begitu... biasanya kamu terlihat dewasa, tapi kontras ini benar-benar..."
"Selagi
bisa dinikmati, ya nikmati saja. Kesempatan seperti ini... tidak akan datang
lagi... kan..."
"Benar
juga... kau ada benarnya... hm?"
Saat aku
dan Shiori sedang menjaga keseimbangan sambil berbincang ringan, rol milik
Akari dan yang lainnya mulai menggelinding ke arah kami.
"Waa,
menghindar!"
"Bukannya
menghindar, ini malah..."
"Eh...
ah, sial, tidak bisa menghindar!!"
Sekali
lagi, dengan teriakan yang dibuat-buat oleh Akari, kedua rol kami bertabrakan.
Kami
berdua berusaha keras untuk bertahan, tapi sayangnya usaha kami sia-sia dan
kami berdua kehilangan keseimbangan.
"Ketua!"
"Ah...
bodoh, Ibuki-kun! Tidak
perlu repot-repot memegang tanganku..."
Melihat
Shiori yang hampir jatuh dengan kepala membentur ke belakang, aku secara
refleks meraih tangannya.
Namun,
seperti peringatan Shiori tadi, gerakan itu justru menciptakan reaksi yang
tidak perlu, dan kami berdua pun jatuh bersama.
Pluk
"Ngh...!"
"!? "
Sensasi lembut yang menjalar ke tangan kiriku dan suara
lirih yang keluar dari bibir Shiori.
Tangan kananku masih mencengkeram pergelangan tangan kiri
Shiori dengan kuat, dan kini posisiku berada di atasnya, menindihnya.
"...Aku berterima kasih karena kamu sudah mencoba
menolongku, tapi... ini tidak disengaja, kan?"
"Tentu saja tidak!!"
Aku segera melepaskan tangan Shiori dan mengambil jarak
sejauh mungkin. Shiori menutupi dadanya yang tadi tidak sengaja kusentuh sambil
menatap satu titik tertentu dengan wajah yang memerah padam.
"Kalau begitu, cepat tenangkan benda itu... tidak
meyakinkan sama sekali..."
"Eh... ah, bukan, ini!"
Naga milik Ibuki Reo kembali mengamuk. Memang merepotkan
kalau ukurannya terlalu besar. Lagipula, cari sana orang yang bisa menahan diri
dengan kondisi seperti ini! Mustahil, kan!
"Aku tahu itu reaksi fisiologis... jadi cepat lakukan
sesuatu..."
Melihat Shiori yang bereaksi malu-malu seperti gadis muda
yang jarang kulihat, justru membuatku semakin tegang.
Sejujurnya, saat
melihat mereka semua mengenakan baju renang saja, aku sudah menahan diri
mati-matian.
Ditambah rentetan
kejadian tak terduga sedari tadi, rasanya memang sudah tidak mungkin lagi jika
tidak melampiaskannya.
Setelah
menyelesaikan semua wahana yang diinginkan Akari dan suasana mulai tenang, aku
memutuskan untuk memisahkan diri karena sudah mencapai batas kesabaran.
"Sori. Aku
mau ke toilet, mainlah kalian sendiri."
"Ah, aku
juga!"
Aku berniat pergi
sendiri, tapi Akari malah mengikutiku. Sedari tadi tingkah laku Akari memang
aneh, tapi ya sudahlah. Lagipula, tidak mungkin...
"............"
"Oi!"
"Eh?
Kenapa?"
Saat aku masuk ke
toilet pria, Akari mengikutiku seolah itu hal yang sangat wajar. Untung saja di
dalam tidak ada orang lain, tapi sebenarnya apa yang dia pikirkan?
"Wah...
kalau bersikap percaya diri ternyata tidak gampang ketahuan ya."
"Bodoh,
bukan itu masalahnya! Cepat keluar!"
"Eh...
ah, sepertinya ada orang yang datang?"
"Ha!?"
"Selanjutnya
ayo kita coba slider lagi."
"Setuju!"
Benar
saja, dua orang pria datang ke toilet seperti yang dikatakan Akari. Aku harus
segera membawanya keluar...
"Hap!"
"Eh...
oi, bodoh!"
Di saat
aku masih bimbang, Akari menyelinap masuk ke dalam bilik toilet dan melambai
padaku, menyuruhku segera masuk.
"Terus
ya..."
"...Sialan."
Karena panik
pria-pria itu akan datang, aku entah sedang kerasukan apa malah masuk ke bilik
toilet tempat Akari menunggu.
"Apa yang
kau lakukan?"
"Suaramu
terlalu keras, Senpai..."
Di ruang
sempit bilik toilet itu, aku hanya berdua dengan Akari yang mengenakan baju
renang.
Apalagi ini di
toilet pria. Dengan rasa bersalah yang luar biasa, tidak mungkin selangkanganku
tidak bereaksi.
"Aha... yang
ini juga sudah besar ya?"
"............Kau
ini, cukup sudah."
"Hyan..."
Karena terlalu
bersemangat, aku mencengkeram bahu kecil Akari dengan erat.
Akari
mengeluarkan suara yang sengaja dibuat-buat, lalu menatapku dari bawah seolah
dia sudah menunggu saat ini.
"Nee,
Senpai... kenapa sampai sekarang kamu masih belum mengerti kenapa aku yang
mengusulkan kita pergi ke kolam renang bareng-bareng?"
"Kenapa ya,
mungkin karena seru?"
"Itu salah
satunya, tapi yang paling utama adalah ini!"
"Ini?
............!?"
Sambil berkata
dengan nada yang penuh arti, Akari mengulurkan tangannya ke arah selangkanganku
dan mulai menelusuri bentuknya dari balik baju renang.
"Oi,
hentikan...!"
"Kamu tidak
boleh mengeluarkan suara, ya? Nanti kamu bisa dikira kriminal yang sedang menyerang gadis di tempat
seperti ini... tahan ya. Kalau tidak, aku akan berteriak."
Aku tidak
punya pilihan selain membiarkannya terus mengelus, sementara Akari sudah
sepenuhnya dikuasai oleh nafsunya.
"Hari
ini kamu sudah banyak menahan diri, kan? Dada besar Nanami-senpai, tubuh indah
Ketua, ah... apakah kamu juga bergairah dengan tubuh Sakura yang seperti anak
kecil?"
"..."
"Makanya
benda ini jadi sebesar ini... kelihatannya tersiksa sekali... berat ya... kamu
ingin merasa lega, kan..."
Karena
belakangan ini dia bersikap tenang, aku jadi lengah.
Lagipula, latar
belakang dunia ini adalah eroge.
Aku seharusnya
sudah curiga sejak awal ketika Akari, yang paling bebas dalam urusan seks di
antara para heroine, merencanakan sesuatu.
"Nee,
Senpai... kalau denganku tidak apa-apa, kan? Aku tidak akan keberatan kalau mau
dipakai sesukamu... Aku tidak akan marah seperti Ketua, dan tidak akan
malu-malu seperti Nanami-senpai. Aku adalah wanita yang penurut, bukan?"
"Sera..."
"Sudahlah...
panggil aku 'Akari' sekarang juga."
Begitu Akari
membisikkan itu, dia melepaskan tangannya dari selangkanganku dan menepis
tanganku yang berada di bahunya.
Kemudian, dia
mengalungkan kedua lengannya di leherku, mendekatkan wajahnya, dan berbisik.
"Ngomong-ngomong,
aku belum bilang ya."
Dia berjinjit,
membuat jarak antara bibir kami hanya tinggal sedikit jika aku sedikit saja
condong ke arahnya. Lalu...
"Aku
mencintaimu, Reo-senpai."



Post a Comment