Chapter 3
Penjahat dan Sang Protagonis
Suatu
hari saat liburan musim panas, aku dan Kakak diberi tahu bahwa Ayah ingin
berbicara dengan kami.
Meski
biasanya Ayah orang yang lembut, hari itu dia memasang wajah yang sangat
serius. Aku mengerti bahwa ini adalah pembicaraan yang sangat penting.
Kemudian,
Ayah menceritakan segalanya tentang keluarga kami. Tentang ibu kandung Kakak
yang sudah meninggal, dan tentang pria pecundang yang menghilang entah ke mana
setelah menelantarkan aku dan Ibu.
Tentang
fakta bahwa kami sebenarnya bukanlah saudara kandung.
"Adachi,
ya..."
Setelah
pembicaraan selesai, aku membaringkan diri di tempat tidur dan mencoba menata
pikiranku. Ternyata nama gadis Ibu adalah Adachi. Kedengarannya cukup keren.
Meskipun
begitu...
"Begitu
ya... kami tidak sedarah..."
Aku tidak
percaya bahwa kami sebenarnya bukan saudara kandung. Aku pikir hal seperti itu
hanya ada di manga atau game.
"............Yah,
sudah terlambat untuk memikirkan itu sekarang."
Kalau aku yang
sebelum liburan musim panas mungkin sudah melompat kegirangan.
Tapi Kakak yang
sekarang sudah memiliki Noa-san. Lagipula, aku juga harus segera mandiri agar
tidak diejek lagi oleh Akari.
'Eh, aku sudah
punya pacar, kok Sakura masih belum? Ketinggalan zaman!'
"............Menyebalkan
sekali!"
Saat kami bermain
tempo hari, Akari melaporkan hal itu sambil meledekku.
Karena dia
melaporkannya dengan sangat senang bahwa akhirnya dia berpacaran dengan pria
itu, aku tidak bisa melayangkan protes.
Aku belum pernah
melihat wajah Akari sebahagia itu sebelumnya.
Tapi, ya
sudahlah!! Apa bagusnya pria seperti itu!!
Sedikit keren dan
tubuhnya berotot sih, tapi dia bahkan tidak bisa berkutik di depan Ketua dan
yang lainnya! Dia cuma payah!
'Aw... kau tidak
apa-apa?'
Karena dia
payah... sampai dirinya sendiri terluka... lecet... berdarah dan terlihat
sangat sakit... tapi dia menahan rasa sakitnya...
'Kalau kau
terlalu baik, kau jadi seenaknya. Sepertinya aku harus mengajarimu siapa yang
lebih unggul, bocah sepertimu.'
Padahal biasanya
dia selalu tampak lemah... tapi tiba-tiba dia jadi menakutkan... dan kuat...
sampai aku sadar bahwa kalau dia benar-benar menyerangku, aku tidak akan bisa
menang...
"Ah............ uuu............ ngh......"
Lagi.
Setiap kali memikirkan tentang dia, tanganku bergerak sendiri.
Aku jadi
berpikir, bagaimana kalau kata-kata hari itu bukan sekadar lelucon?
Kalau itu
terjadi... bukankah seharusnya sekarang aku sudah dijadikan wanitanya?
Setiap hari...
setiap hari... setiap kali aku melawan... bukankah dia akan menindihku?
"Ah... jangan............ itu terlalu dalam......"
Pasti dia akan menindihku dengan berat badannya, menekannya
dalam-dalam, dan mengukir di tubuhku bahwa aku tidak bisa lari darinya.
'Nah. Menyerahlah
dan jadilah wanitaku.'
"Ti-tidak...... tidak mau tidak mau... aku tidak mau
jadi pacarmu... aku benci... benci sekali... tidak peduli seberapa banyak kau
memohon, aku tidak akan mau berpacaran denganmu... kau itu...!!"
".........Apa
aku ini mesum ya............"
Aku merenung
sambil mencuci celana dalamku yang basah kuyup di kamar mandi.
Apa jadinya kalau
Ibu tahu aku melakukan hal seperti ini?
Waktu yang
kuhabiskan melakukan ini diam-diam dari orang lain justru membuatku merasa
semakin sedih.
Setiap kali
begitu, aku berpikir ingin berhenti, tapi karena pria itu selalu muncul di
pikiranku tanpa izin, aku tidak bisa berhenti.
"............Benar-benar
pecundang."
Setelah liburan
musim panas berakhir, hal pertama yang akan kulakukan adalah memprotes soal
Akari.
Aku tidak akan
memaafkannya kalau dia sampai membuat Akari menangis. Kalau begitu...
"Ah............
Ya ampun... apa sih yang kupikirkan......"
Aku tertunduk
lesu sendirian di kamar mandi karena lagi-lagi memikirkan khayalan yang
memalukan.
Senin, 2
September.
Hari pertama
setelah liburan musim panas.
Aku berangkat
sekolah bersama Akari setelah sekian lama, dan saat kami berniat pergi ke
toilet bersama, Akari tiba-tiba berlari menuju rak sepatu.
Setelah berusaha
menyusulnya, ternyata di sana ada Ibushi-senpai dan Nanami-senpai.
"Selamat
pagi! Reo-senpai! Nanami-senpai!"
"Pagi...
pagi-pagi sudah bersemangat sekali, ya."
"Selamat pagi, Akari-chan. Dan juga Sakura-chan."
"Ah...
se-selamat pagi... eh! Kau...! Kau...!"
Padahal dia sudah
punya Akari...!
Ternyata dia
memang suka dada...!
Dia suka wanita
yang punya dada besar dan imut!! Mesum!!
Ketua tidak ada
di sini! Bagus!!
"Aku
tidak mengakui ini! Orang seperti kau! Akari... aku tidak akan
mengakuinya!"
"......Jadi
kau sudah menyampaikannya pada Sakura."
"Yah...
mau bagaimana lagi?"
Kenapa...
padahal aku yang mengajak bicara! Apa dia tidak tertarik pada gadis rata seperti ini!? Meski mesum, ternyata
dia pilih-pilih!!
"Hei,
tunggu! Sekarang aku yang sedang bicara! Jangan bicara dengan Akari
seenaknya!"
"Ah, iya
iya, maaf maaf."
"Jangan
menganggap enteng orang!"
Jangan
memperlakukanku seperti anak kecil! Dalam setahun lagi aku juga akan tumbuh
besar! Benar, kok!
"Nah!
Coba katakan sesuatu lagi...!?"
Saat aku
sedang memojokkan Ibushi-senpai karena marah, wajah Ibushi-senpai yang tadinya
lembut berubah menjadi sangat menakutkan.
Lalu,
seperti waktu itu, dia mencengkeram pergelangan tanganku. Kekuatannya besar,
namun entah kenapa terasa lembut, tapi dia memarahiku dengan nada yang tegas.
"Berisik.
Pikirkan perasaan orang di sekitar."
"......I-iya... maafkan aku..."
Ah... padahal biasanya dia selalu memasang wajah konyol...
tapi dia menunjukkan wajah menakutkan seperti itu padaku... kalau dia serius...
anak kecil sepertiku pasti tidak akan bisa melawan...
Tapi... itu juga
hanya khayalan... kurasa Senpai tidak akan memaksaku...
Ah, tapi... itu
yang membuatku senang... entah kenapa... perasaanku jadi aneh... padahal
Senpai pasti
tidak akan melakukan hal sekejam itu... tapi bayangan tentang 'bagaimana
kalau...', itu membuatku memikirkan hal yang sangat tidak baik... padahal dia
pacar sahabatku...
"Sakura,
anu... jangan terlalu berlebihan, ya? Kalau dia benar-benar marah, kau bahkan
tidak akan digubris olehnya, tahu?"
"!? Tidak
seperti itu, kok!"
Saat aku sedang
melamun, Akari memperingatkanku. Tanpa kusadari Ibushi-senpai dan yang lainnya
sudah pergi, dan Akari menatapku dengan tatapan kasihan.
"Tidak
apa-apa... aku mengerti perasaanmu... tapi tolonglah sedikit lagi... ya?"
"Makanya!!
Bukan begitu!!"
"......Coba
cari cara marah yang lebih imut, ya?"
"Sungguh...... sudah kubilang bukan begitu..."
Aku tidak ingin dimarahi, kok... aku bukan orang mesum
seperti itu... jadi tolong jangan tepuk pundakku dengan lembut seperti itu...
"......Sakura. Apa pendapatmu soal Ibushi?"
11 September.
Kakak bertanya seperti itu di depan pintu rumah saat
melihatku sedang sedih.
"!?
Maksudnya gimana!?"
"......Apa
kau pikir orang seperti itu, keren?"
Pertanyaan
Kakak begitu mendadak, sampai aku terkejut. Mana mungkin orang seperti dia
keren.
Pria
seperti Senpai yang menakutkan, besar, dan seorang playboy... lalu...
'Aw... kau tidak
apa-apa?'
Ah............
mana mungkin keren...!
"Ma-mana
mungkin aku berpikir seperti itu tentang orang seperti dia! Aku justru berpikir
Kakak jauh lebih keren!"
Benar. Kakak jauh
lebih keren. Dia lembut, memanjakanku... lembut... keren... dan...
"......Begitu
ya."
"Ya, benar!
Aku sangat menyayangi Kakak! Jadi mana mungkin aku akan terpengaruh oleh orang
seperti dia! Karena itu, ayo ceria lagi! Iya, kan?"
Aku terus
melontarkan kata-kata untuk menyemangati Kakak yang sedang sedih. Senpai sudah
memiliki Akari.
Kakak juga sudah
memiliki Noa-san. Jadi aku hanya akan mendukungnya.
Hanya
menyemangati. Perjalanan cinta sahabatku, teman masa kecilku, dan Kakak.
"He-hei,
Sakura..."
"Hm? Eh,
kenapa dengan wajah seperti itu..."
Saat aku sedang
bersedih sendiri, Kakak mendekatiku dengan ekspresi yang sangat putus asa.
Tatapannya terasa
tidak nyaman. Tatapan yang belum pernah kurasakan dari Kakak selama ini.
"Aku juga,
menyukaimu, Sakura. Jadi, maukah kau... berpacaran... denganku?"
Itu
tatapan seorang pria.
"Ti-tidak...
tidak tidak tidak! Jangan
bercanda, Kak! Kita ini saudara! Lagipula ada Noa-san!"
Entah bagaimana,
secara alami, kakiku menjauh dari pintu masuk.
Sambil
mengabaikan lelucon Kakak, aku kembali ke ruang tamu yang kosong dan berniat
melanjutkan menonton televisi.
"Ini bukan
lelucon!"
"Hya...!?"
Lalu Kakak
mengejarku dengan terburu-buru, dan aku didorong jatuh ke sofa yang tadinya
ingin kududuki.
"Meskipun
kita saudara, lihat... kita saudara tiri, kan? Jadi aman!"
"Tunggu...
minggir dulu sekali! Tolong tenanglah! Ya? Ayo bicara baik-baik?"
Aku merasa sangat
takut dan meronta sekuat tenaga. Tapi aku tidak bisa menang melawan kekuatan
pria, pergelangan tanganku dicengkeram dan aku ditekan.
"Sakit......!"
"Nah? Sakura
juga menyukaiku, kan? Kau lebih suka aku daripada Ibushi, kan?"
Wajahnya mendekat
sampai air liurnya bisa mengenai wajahku. Kekuatan cengkeramannya semakin kuat
sampai terasa sakit, aku ketakutan, sangat takut...
"............Ngh... karena aku menyukaimu............
karena aku lebih suka Kakak............ tolong... lepaskan... kumohon..."
"......Begitu
ya. Kita saling mencintai, kan. Kita sudah hidup bersama selama ini."
Kenapa. Kenapa
tidak mau melepaskanku. Padahal kita sudah hidup bersama selama ini.
Kenapa.
Perasaanku tidak tersampaikan. Kalau kau benar-benar suka, ayo kita bicara
baik-baik sekali saja.
Noa-san pun
memaafkanku. Hei. Kenapa. Kenapa. Kenapa. Tidak mau. Jangan mendekat. Tidak
mau. Kenapa.
Ting-tong.
◆
Selasa, 10
September.
Sepulang sekolah,
aku memutuskan untuk mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan Ibushi-kun.
"Yo.
Halo-halo."
"Ooh...
halo."
Aku
menyapanya dengan santai dan meminjam kursi di depannya yang kosong.
Sekaranglah
kesempatan saat Kaede tidak ada di sini. Aku harus menanyakan nasihat sebanyak
mungkin.
"Maaf
tiba-tiba, tapi aku punya pertanyaan. Apa rahasia agar hubungan cinta berjalan
lancar?"
"............Kau
bicara apa sih?"
"Jawab saja!
Si pria populer."
Karena waktunya
tidak banyak, aku bertanya langsung ke intinya. Ibushi-kun berpikir sejenak,
lalu menjawab dengan wajah yang sangat serius.
"Tidak ada,
kurasa. Sejujurnya, hubungan yang kujalani sekarang pun belum tentu bisa
dibilang lancar, dan kalau dilihat dari luar, ini sangat tidak murni."
"Ah, kau
sadar ternyata..."
"Ya. Tapi,
yah, kurasa aku hanya ingin membuat Akari dan yang lainnya bahagia. Aku ingin
bahagia bersama mereka... itulah yang kupikirkan. Singkatnya, itu masalah
perasaan."
"Wahhh...
tidak membantu sama sekali..."
Aku pikir ada
trik atau semacamnya, tapi jawaban yang kudapat hanya "masalah
perasaan". Kalau begitu, sepertinya hubungan aku dan Kaede bahkan belum
sampai di garis start.
"Ah,
tapi, kami sering bertengkar, sih."
"Eh,
bohong!? Kalian bertengkar!?"
"Ya.
Bahkan dengan Akari pun sudah entah berapa kali. Tapi setelah itu kami bicara,
saling mengalah, dan saat berbaikan, kurasa hubungan kami jadi sedikit lebih
maju dari sebelumnya. Aneh, ya."
Kalau
diingat-ingat, sejak berpacaran, aku tidak pernah benar-benar bertengkar dengan
Kaede.
Padahal
dulu sering sekali. Setelah hubungan kami menjadi seperti ini, aku pikir lebih
baik tidak melakukannya.
Karena akan
membuat suasana jadi buruk. Karena aku tidak ingin dibenci.
"............Oke.
Begitu ya! Syukurlah aku bertanya!"
"Begitu.
Kalau begitu, kau juga berusahalah."
"Ya!
Aku akan berusaha!"
Setelah
mendengar rahasia cinta dari Ibushi-kun, aku memutuskan untuk mencoba
bertengkar dengan Kaede.
Aku akan
mengatakan apa yang ingin kukatakan.
Bahwa aku
tidak ingin terlalu sering melakukan hubungan intim.
Bahwa aku
ingin berkencan seperti biasa di hari libur.
Bahwa aku
ingin mengurangi kerja paruh waktu agar bisa menghargai waktu bersama Kaede.
Padahal, aku
ingin membicarakan hal seperti itu.
Ting-tong... Ting-tong ting-tong ting-tong.
"......Hm?
Sedang tidak ada orang?"
Rabu, 11
September.
Begitu
jam sekolah berakhir, Kaede langsung pergi entah ke mana, jadi kami tidak bisa
pulang bersama.
Karena
itulah aku datang secara mendadak ke rumahnya, tapi tidak ada jawaban dari
interkom.
Mobilnya
tidak ada, berarti orang tuanya tidak ada. Itu artinya mereka sedang pergi.
Tapi tadi pagi dia tidak bicara soal itu. Coba aku telepon sebentar.
"............Tidak
diangkat."
Aku
mencoba menelepon, tapi tidak tersambung.
Padahal
biasanya dia cukup cepat mengangkat teleponku.
Jangan-jangan
selingkuh? Meskipun kurasa dia tidak punya keberanian seperti itu.
'......Ah... halo?'
"Oh,
diangkat. Halo. Kau di mana?"
Saat aku
mematikan telepon dan berniat meninggalkan pesan saja, Kaede mengangkat
teleponnya.
Tapi suaranya
terdengar kecil dan sangat canggung.
Dia tidak
sedang di luar, kan?
'Eh... di
rumah teman...'
"Ah,
begitu ya. Maaf maaf."
'Ya... maaf, sudah ya...'
"Ah, hei! Malam
ini! Bisakah kita bicara sebentar saja? Aku ingin membicarakan sesuatu yang
penting!"
'Ah... eh...
oke.'
Padahal dia
sedang bermain di rumah teman, tapi suasananya sepi sekali.
Apakah mereka
sedang menjaga perasaan?
Meskipun
begitu, suaranya terdengar ragu.
Seolah
ada sesuatu yang dia sembunyikan...
'Tolong!!
Noa-san!!'
"Eh............"
'Ba...
Sial...!'
Saat aku
mengira mendengar jeritan Sakura yang terdengar menyedihkan seolah dia sedang
menangis, Kaede mengumpat, lalu telepon dimatikan.
Aku
merasa suara Sakura tidak hanya terdengar di balik telepon, tapi juga di dalam
rumah.
Apa maksudnya
ini. Apa maksudnya minta tolong. Kenapa Kaede tampak panik.
Aku belum pernah
mendengar suara Sakura seperti itu.
Aku tidak
mengerti. Ini pasti prank, kan?
Mereka
sedang mencoba mengejutkanku, kan?
"............!!"
Sambil
merasa bimbang, aku mengambil kunci cadangan dari bawah vas bunga di sudut
pintu masuk.
Itu tempat
persembunyian yang diajarkan Kaede saat kami masih kecil.
Syukurlah dia
belum mengubahnya.
"Hah............
Baiklah!"
Situasinya
belum benar-benar kupahami.
Aku bisa
membayangkan skenario terburuk, tapi tidak mungkin seperti itu.
Sebodoh
apa pun Kaede, dia tidak mungkin melakukan hal sekejam itu pada adik yang
sedang menangis.
Aku akan
berpura-pura tertipu dengan akting total mereka.
Jadi...
kumohon...
"Kaede!!
Sakura!!"
Aku
membuka kunci, membuka pintu, masuk ke dalam rumah, dan berteriak.
Aku
langsung masuk ke dalam dan mengintip ruang tamu yang lampunya menyala.
Ternyata............
"Kenapa
kau bilang begitu! Bukannya kau bilang kau menyukaiku!"
"Maafkan aku............ maafkan aku... maafkan
a...ku............"
Di atas
sofa, ada Sakura yang berbaring sambil menangis, dan Kaede yang berteriak
dengan suara yang menakutkan.
Sakura terus
menangis dan meminta maaf pada Kaede, dan pakaiannya sedikit berantakan.
"Hei! Apa
yang kau lakukan!"
"......Kau
mengunci pintu, kan."
"Bukan itu
yang kutanyakan! Aku bertanya apa yang kau lakukan pada Sakura!"
"............Tidak
ada apa-apa."
"Sial... kau
bodoh sekali, Kaede......!"
Aku
menyingkirkan Kaede yang mencoba mengelak dan berlari menghampiri Sakura.
"Hei Sakura!
Kau tidak apa-apa!? Hei!"
"Hikk...
maafkan aku... maafkan aku............"
Sakura bahkan
tidak sadar aku datang, dan dia terus meminta maaf pada sesuatu.
Ini bukan akting.
Kalau begitu, pelakunya adalah si bodoh ini.
"Sakura itu
adikmu, kan! Kau tahu apa yang sudah kau lakukan!?"
"......Ah... soal itu. Ya, aku belum cerita. Iya. Aku
dan Sakura, tidak punya hubungan darah."
"......................Lalu
kenapa?"
Aku tidak
mengerti sedikit pun maksud Kaede.
Aku tidak tahu
apa yang ingin dia katakan.
Apa
hubungannya dengan tidak sedarah?
Itu tidak
mengubah fakta bahwa dia adalah adik yang sudah hidup bersamanya selama ini.
"Lagipula,
Sakura juga bilang kalau dia menyukaiku, dan aku juga menyukai Sakura, jadi
kami saling mencintai."
"............Tidak,
tidak tidak tidak. Dia menangis, kan. Apakah Sakura menerimanya? Bukankah tidak?"
"Apa
maksudmu. Kau sendiri
akrab dengan Ibushi. Apa kau
mau bilang kau tidak bisa memaafkan perselingkuhanku?"
"Hah? Itu...
hei? Apa kau niat bicara denganku? Hei. Aku sedang bicara soal Sakura. Apa hubungannya dengan Ibushi-kun
atau perselingkuhan?"
"Tapi
Sakura bilang dia lebih suka aku daripada Ibushi..."
"Itu...
makanya aku bilang...!"
Pembicaraan
kami tidak nyambung dan membuatku semakin kesal.
Kaede
berpura-pura tenang, tapi dia benar-benar sudah tidak waras.
Dia mondar-mandir
ke sana kemari, matanya tidak fokus.
Aku tidak ingin
mempercayainya, tapi aku tidak punya pilihan selain mempercayainya.
Kaede
mencoba menyerang Sakura yang menolaknya.
Tanpa memikirkan
sedikit pun betapa menakutkannya hal itu bagi Sakura.
Kalau begitu, aku
harus melakukan apa yang harus kulakukan.
Tetaplah tenang,
Noa. Lebih banyak bukti itu lebih baik.
"Dengar. Apa
kau tidak mengerti kalau memaksa itu tidak boleh?"
Aku mengeluarkan
ponselku agar tidak terlihat oleh Kaede dan menyalakan kamera.
Aku menekan
tombol rekam agar percakapan kami tersimpan.
"......Itu
tidak memaksa. Sakura juga bilang kalau dia suka."
"Itu tidak
bisa disebut kesepakatan. Kenyataannya Sakura menangis. Bagaimana kau akan
menjelaskan ini?"
"............Yah,
itu, aku memang sedikit memaksa, tapi kalau sama-sama suka, tidak apa-apa,
kan?"
Aku hanya
melemparkan pertanyaan dengan tenang. Jawaban samar tidak ada gunanya.
Aku harus
membuat Kaede bersaksi dengan mulutnya sendiri secara jelas.
"Tidak
apa-apa. Justru karena saling menyukai, kalian harus bicara baik-baik."
"Ah,
sialan, ada apa sih............ salahmu sendiri karena tidak mau memberiku! Ibushi saja melakukan hal itu
dengan banyak wanita! Kalau begitu, aku juga boleh, kan!"
Lagi-lagi Ibushi-kun.
Memang benar Ibushi-kun melakukan hal seperti itu.
Tapi itu tidak
ada hubungannya dengan kita. Yang penting hanya fakta bahwa kau membuat Sakura menangis.
"Jadi karena
alasan itu kau menyerang Sakura? Kau menindih adik yang sudah hidup bersamamu
selama ini dan mencoba memaksanya."
"Ya,
memangnya kenapa! Sakura juga bilang dia menyukaiku! Jadi tidak apa-apa,
kan!"
"............Tidak
apa-apa, makanya kubilang begitu."
Kaede perlahan
mulai panas dan tidak bisa menjaga ketenangan. Waktunya terbuang percuma. Lebih
baik aku segera melakukan sesuatu untuk Sakura.
"Hei Sakura.
Ini aku. Noa. Kau bisa bergerak?"
"......Noa...-san..."
"Ya. Ini
Noa. Sekarang tidak apa-apa. Ayo, kita pergi bermain."
Aku memeluk
Sakura yang akhirnya menyadari kehadiranku dengan lembut, dan membantunya
berdiri dari sofa. Untuk sementara, mari bawa Sakura ke tempat yang aman. Soal
polisi nanti saja.
Kaede pasti akan
menyadari beratnya perbuatan yang telah dia lakukan setelah dia tenang.
"Hei! Kau
mau membawanya ke mana! Jangan-jangan ke tempat Ibushi..."
"Berisik.
Diamlah."
"......!"
Aku menatap tajam
Kaede yang mencoba menghentikanku. Hanya dengan itu, Kaede tidak bisa berkata
apa-apa dan menundukkan kepala.
Aku memutuskan
untuk meninggalkan rumah itu tanpa mempedulikan Kaede.
Meskipun begitu,
aku belum menentukan tujuannya.
Ke rumahku juga
bisa, tapi akan merepotkan kalau Kaede datang. Ibu pasti akan bertanya kenapa
Sakura menangis.
Aku hanya
ingin membuat Sakura tenang. Tempat yang bagus. Misalnya rumah teman Sakura
atau............
"Ah,
ngomong-ngomong..."
Aku teringat
sesuatu, mengecek jadwal kerjaku hari ini, lalu memutuskan untuk pergi ke
tempat kerja paruh waktuku.
Rabu, 11
September, sebelum bekerja paruh waktu.
Aku mendapat
pesan dari Akari.
'Kaede-senpai
punya foto itu, dan dia bilang kau tahu apa maksudnya.'
Begitu melihat
pesan itu, aku segera membalasnya.
Setelah
menanyakannya lebih detail, ternyata saat itu dia bisa lolos, tapi dia merasa
takut kalau foto itu disebarkan.
Aku tidak
menyangka Kaede akan melakukan hal seperti itu pada Akari.
Lagi
pula, Kaede seharusnya berpacaran dengan Noa.
Kenapa dia
mencoba mengancam Akari?
Apa yang
sebenarnya terjadi?
Sambil memikirkan
hal itu, aku menuju tempat kerja paruh waktu, dan entah mengapa di ruang staf
ada Noa yang seharusnya tidak masuk shift dan Sakura yang matanya
bengkak kemerahan.
"......Selamat
pagi."
"Ah, Ibushi-kun.
Selamat pagi."
Untuk sementara,
aku menyapa dengan sapaan standar di tempat kerja. Saat aku dan Noa bertukar
sapa, Sakura tiba-tiba melihat ke arahku.
"......Ke-kenapa............ di sini..."
"Itu dialogku. Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Sudah jelas ada sesuatu yang terjadi, tapi aku tetap
bertanya untuk memastikan.
Aku pikir dia
tidak akan memberitahuku, tapi...
"......Senpai............ aku... aku............
hikk......"
"Eh!?"
Padahal aku pikir dia akan membalas dengan sikap jutek
biasanya, Sakura tiba-tiba menangis.
"Tidak apa-apa, Sakura............ sudah tidak apa-apa
sekarang..."
Noa
menghibur Sakura sambil mengusap punggungnya.
Jangan-jangan ini
salahku?
Padahal aku tidak
merasa melakukan apa pun!!
"............Maaf
Ibushi-kun. Setelah selesai bekerja, aku akan cerita padamu. Sakura, apa itu
tidak apa-apa?"
"Aku......
tidak masalah."
"Maafkan
aku............ maafkan aku......"
Sakura mulai
menangis lalu minta maaf.
Apa yang
sebenarnya terjadi?
Bagaimana bisa
Sakura yang biasanya ceria bisa sedih sampai seperti ini?
Aku tidak
mengerti sama sekali, tapi untuk saat ini, aku harus bekerja.
Saat mulai
terbiasa, itulah saat paling banyak melakukan kesalahan. Fokus. Fokus
fokus............
"............Manajer!"
"Ya?"
Aku menghentikan
pekerjaanku di tempat cuci piring saat merasa sudah cukup, lalu membungkuk pada
manajer yang terlihat sedang menganggur.
"Kondisi
tubuhku kurang baik! Bisakah aku pulang lebih awal!"
"......Memang
kelihatannya kondisi tubuhmu kurang baik, ya. Oke. Hari ini sepi dan kita bisa
menghemat biaya tenaga kerja."
"Terima
kasih!"
Jujur saja, aku
sudah bersiap untuk dimarahi, tapi manajer melirik ke ruang staf dan
mengizinkanku dengan senang hati.
Aku membungkuk
pada manajer dan staf lain yang sudah mau menuruti keinginanku, lalu bergegas
kembali ke tempat Noa dan yang lainnya.
"Eh. Ada
apa?"
"Aku
diizinkan pulang lebih awal."
Noa terkejut
melihatku kembali. Saat aku menjelaskan alur ceritanya, Noa membungkuk dengan
wajah penuh penyesalan.
"Maaf... aku
kurang perhatian..."
"Itu tidak
penting sekarang. Lebih penting lagi... apa yang terjadi?"
Noa mengangguk
mendengar pertanyaanku, dan setelah memastikan Sakura juga mengizinkannya, dia
mulai bercerita dengan wajah yang sangat sedih.
"............Inilah
semua yang kulihat. Mungkin ada sesuatu yang terjadi sebelum ini."
"..................!!"
Bajingan itu...
dia itu adikmu... meski tidak sedarah, bukankah dia adalah eksistensi yang
paling kau sayangi...!! Tapi kau malah...!!
"Aku
berencana melaporkan hal ini ke polisi setelah Sakura tenang. Aku sudah
menghubungi orang tua Sakura. Dia akan menginap di rumahku."
"......Begitu
ya."
Aku mencoba
menahan amarah dan terus mendengarkan cerita Noa. Noa sudah melihat kejadian
itu secara langsung. Orang
yang paling menahan diri sekarang adalah Noa. Jadi aku tidak boleh panik.
Tapi apa yang
sebenarnya terjadi? Sakura
seharusnya tidak punya event seburuk itu. Aku sudah berapa kali memainkan rute Sakura untuk
mencari ketenangan? Terlebih lagi, pelakunya adalah Kaede yang merupakan
protagonisnya... aku benar-benar tidak mengerti.
"Tapi Kaede
tahu di mana rumahku. Setelah sampai tahap ini, aku tidak tahu apa yang akan
dia lakukan. Makanya, aku ingin meminta bantuanmu, Ibushi-kun. Bukankah rumah
Kinoshita-san atau rumah adik kelas itu tidak jauh dari sini? Kalau bisa, aku
ingin kau mendiskusikannya dengan mereka."
"Rumah
Nanami agak jauh. Lagi pula, orang tua Nanami itu orang yang khawatir
berlebihan, jadi kupikir masalahnya malah akan semakin rumit. Kalau Akari...
kurasa di sana juga bakal jadi keributan besar. Ada sih rumah orang tuaku, tapi
lebih jauh lagi... aku akan coba hubungi ayahnya Shiori. Dia seorang polisi,
dan rumahnya lebih dekat daripada rumah Nanami dan yang lainnya. Dia
pasti akan membantu kita."
"......Eh, ah, ya...... ya?"
Saat aku hendak menelepon ayah Shiori dengan cepat, tanda
tanya seolah melayang di atas kepala Noa.
"Ada apa?
Kau tidak puas?"
"Bukan...... Shiori itu bukannya Ketua, ya? Kenapa kau punya kontak ayah
Ketua......"
"Ah......
nanti kuceritakan kalau semuanya sudah selesai."
Jujur saja, tidak
ada waktu untuk menjelaskan hubungan kami yang terlalu rumit.
Aku menghubungi
ayah Shiori, dan setelah berbasa-basi sedikit, aku menjelaskan situasinya.
Beliau
langsung menjawab "Aku akan segera ke sana" dengan senang hati, dan
benar-benar segera datang menjemput kami.
"Tolong
jaga Sakura."
"Ya.
Aku berjanji akan melindunginya."
Noa menundukkan
kepala pada ayah Shiori.
Saat mode
bekerja, beliau benar-benar orang yang keren. Sifat itu sangat mirip
dengan Shiori.
"Sakura-chan. Sekarang sudah tidak apa-apa, ya."
"Ngg... ya...... ya......"
Shiori juga ikut menjemput, dia memeluk Sakura dengan lembut
dan mengelus kepalanya.
"Reo."
Tepat sebelum kembali ke mobil, Shiori mulai memberiku
peringatan dengan ekspresi serius.
"Besok, jangan sampai kau membalas menyerang, ya.
Tempat dan situasinya berbeda dengan saat aku dulu. Jangan lakukan hal yang membuat posisimu jadi
dirugikan. Kau mengerti, kan?"
"......Ah.
Aku mengerti."
"Begitu
ya. Aku percaya padamu."
Shiori
tersenyum lembut lalu masuk ke mobil bersama Sakura.
Aku dan
Noa terus memandangi mobil itu sampai menghilang dari pandangan, lalu kami
memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing.
Keesokan
harinya.
Aku pergi
ke sekolah sendirian sambil memikirkan tentang Kaede.
Kesan
Kaede di dalam game, kalau disederhanakan, adalah "pria yang sedikit
payah". Pilihan tindakan
di run pertama semuanya meleset.
Tapi hanya
sebatas itu. Tidak ada kesan bahwa dia akan mengancam Akari atau mencoba
menyerang Sakura.
Entah apa yang
terjadi sampai dia mengambil tindakan seperti itu.
Mungkin saja
tindakanku menjadi salah satu penyebabnya.
Segalanya sudah
berubah terlalu jauh dari alur game.
Meski begitu,
tetap saja. Kaede membuat Akari ketakutan dan membuat Sakura menangis.
Tidak peduli apa
alasan atau penyebabnya, itu tidak bisa dimaafkan.
Kalau bisa aku
tidak mau berurusan dengan Kaede, tapi karena sudah jadi seperti ini, aku tidak
bisa berkata begitu.
Kalau memang aku
punya tanggung jawab, aku akan menghentikannya meski harus mengancamnya.
Aku
bertekad untuk menghadapi Kaede dan pergi ke sekolah.
Sesampainya
di kelas, aku menemukan Kaede sedang mengobrol dengan teman sekelasnya seolah
tidak terjadi apa-apa.
Noa belum ada.
Pasti mereka berangkat sekolah secara terpisah.
Saat aku sedang
mencari waktu yang tepat untuk memanggil Kaede, dia menyadari keberadaanku dan
justru dia sendiri yang berjalan ke arahku.
"Hei Ibushi.
Pas jam istirahat siang, bisa ke atap sekolah?"
"......Boleh.
Aku akan meladenimu."
Aku menyanggupi
ajakan Kaede tanpa ragu.
Benar-benar
seperti pucuk dicinta ulam pun tiba.
Begitulah, kami
membuat janji dan menghabiskan waktu seperti biasa sampai jam istirahat siang
tiba.
"......Jadi?
Ada urusan apa?"
Lalu saat
istirahat siang, aku pergi ke atap bersama Kaede, dan aku yang lebih dulu
bertanya.
Setelah mendengar
penjelasannya, aku berniat menuntut pertanggungjawaban atas semua kejadian ini.
Itulah rencanaku.
"He-hei Ibushi...... aku yang salah......"
"......Hah?"
"Aku
memperlakukanmu seperti penjahat...... gara-gara aku, Shiori-senpai dan yang
lainnya juga jadi kena masalah......"
"Tiba-tiba ngomong apa sih......"
Kaede menundukkan
kepala di depanku dan meminta maaf...... tapi sejujurnya aku tidak paham.
Aku hanya pernah
bicara langsung dengan Kaede saat kejadian dengan Akari saja.
Lagipula, aku
tidak pernah dighibahi di kelas. Kenapa dia menundukkan kepala?
"Soal yang
kemarin-kemarin, aku minta maaf semuanya. Maaf ya."
"......Dengar
ya. Sebelum minta maaf padaku──"
Mungkin Kaede
sudah menyadari betapa kejam perbuatannya.
Tapi kalau dia
sampai menundukkan kepala padaku karena hal seperti itu, seharusnya dia segera
sujud memohon ampun dengan tulus kepada Akari dan Sakura.
Saat aku hendak
mengatakannya, momen berikutnya terjadi.
"Makanya!
Itu, bolehkah kau berbagi satu untukku?"
"............Hah?"
Dia mengangkat
wajahnya dan memohon dengan putus asa.
Aku tidak bisa
mengerti ucapan Kaede.
Tidak,
aku tidak ingin mengerti.
"Ayolah,
kalau cuma dengan satu pasangan kan bosan, kan? Kau pasti paham, kan, Ibushi?
Cukup campurkan aku di dalamnya juga tidak apa-apa, ya?"
"......Kau.
Kau sadar tidak apa yang kau bicarakan?"
Kaede
melanjutkan bicaranya dengan wajah cengengesan.
Dari
ekspresinya, aku bisa merasakan bahwa Kaede sendiri sudah terdesak.
Dia pasti
sudah tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang gila.
"Boleh
lah Ibushi...... tidak usah
sampai Shiori-senpai pun tidak apa-apa. Akari saja cukup. Sebagai gantinya, kau
boleh lakukan sesukamu pada Noa. Bodinya sih lumayan, bisa buat ganti-ganti
suasana──"
"Jaaangan
berani bercanda kau!!!!"
Akhirnya aku
tidak bisa menahannya lagi, aku membentak Kaede dengan penuh amarah.
Selain karena
perkataannya yang menjijikkan, dia memperlakukan Noa yang merupakan pacarnya
sendiri dengan sembarangan, tidak hanya Shiori dan Akari.
Aku tidak
bisa menahan diri setelah mendengar itu.
"Apa
kau tidak tahu apa yang kau ucapkan!! Omong kosong macam apa itu!! Jangan
berani kau mengucapkannya meskipun bercanda!!"
"Ja-jangan marah begitu...... kau sendiri dulu juga
sering main perempuan, kan? Aku juga cuma mau main sedikit......"
"Main...... maksudmu? Dengan pemikiran serendah itu! Kau mencoba
menyerang Sakura!!"
Karena
amarah, aku mencengkeram kerah baju Kaede dan melayangkan tinjuku sesuai
dorongan impulsif. Namun......
'Besok,
jangan sampai kau membalas menyerang, ya.'
Kata-kata
Shiori yang seolah sudah memprediksi ini akan terjadi terlintas di benakku.
Perasaan
ingin menghajar si bodoh ini bertabrakan dengan peringatan Shiori, membuat
tinjuku yang sudah terkepal kehilangan arah amarahnya.
"Sss......
kenapa, kau tahu soal itu!"
Meski menahan
amarahku, Kaede terkejut bahwa aku menuntutnya soal masalah dengan Sakura.
Untuk menjawab
keterkejutannya itu, pintu atap terbuka perlahan dan Noa muncul.
"Aku yang
berkonsultasi dengannya."
"Noa......
kenapa!"
Noa yang muncul
di atap menurunkan lenganku yang tadinya terangkat, lalu menarikku menjauh dari
Kaede untuk menciptakan jarak.
"Tidak
boleh, Ibushi-kun. Tidak ada gunanya memukul orang seperti ini."
"Hah......
apa yang kau lakukan, Noa! Kau itu milikku──"
"Aku sudah
mendengar semuanya tadi. Ibushi-kun boleh melakukan apa saja padaku, kan? Kalau
begitu, aku akan dengan senang hati berpihak pada Ibushi-kun."
"Ah...... ti-tidak...... itu...... bukan
begitu......"
"Lagipula. Pria yang menjual pacarnya kepada pria lain
itu sudah tidak ada harganya. Kalau
begitu, pria keren seperti Ibushi-kun jauh lebih baik."
Demi memojokkan
Kaede sampai tuntas, Noa sengaja menempel padaku.
Melihat tingkah
laku Noa, Kaede akhirnya menyadari beratnya perkataannya sendiri, dan wajahnya
langsung pucat pasi.
"Hei Kaede.
Apa kau tidak punya niat untuk menyerahkan diri soal Sakura?"
"Me-menyerahkan diri......? Kenapa......
itu......"
"Ah, iya, ya. Sudah cukup."
Noa mengeluarkan ponsel dari sakunya, lalu dengan cepat
memutar rekaman suara tertentu.
'Dengar. Apa kau
tidak mengerti kalau memaksa itu tidak boleh?'
'......Itu tidak
memaksa. Sakura juga bilang kalau dia suka.'
"!?"
Yang mengalun
dari ponsel itu adalah suara Noa dan Kaede. Dan juga ada suara tangisan Sakura
yang pilu.
Mengabaikan Kaede
yang sedang terguncang, rekaman itu berlanjut tanpa henti. Dan......
'Jadi karena
alasan itu kau menyerang Sakura? Kau menindih adik yang sudah hidup bersamamu
selama ini dan mencoba memaksanya.'
'Ya, memangnya
kenapa! Sakura juga bilang dia menyukaiku! Jadi tidak apa-apa, kan!'
"Ini akan
kubawa ke polisi. Tidak peduli siapa kau, kali ini kau tidak bisa beralasan
lagi, kan."
"Ah......
ti-tunggu......"
"Aku tidak
menunggu. Tidak akan menunggu. Kau seharusnya punya banyak waktu. Sudah
terlambat, dasar bodoh."
"..................Sial...... Sial! Kenapa......
kenapa...... kenapa harus aku yang mengalami ini!"
Terdesak oleh orang yang dicintainya dan menjadi putus asa,
Kaede menjambak rambutnya sendiri sambil berteriak marah.
Amarah itu tentu saja diarahkan padaku, dia menyerangku
dengan membabi buta.
"Kau! Kalau
saja tidak ada kau! Aku......
tidak akan mengalami hal seperti ini! Jangan bercanda! Kembalikan! Kembalikan
semuanya!"
Aku
menerima tinju Kaede berkali-kali di wajahku—pria yang jelas tidak terbiasa
berkelahi.
Aku
memberi isyarat "aku tidak apa-apa" kepada Noa yang terlihat khawatir
di samping, sambil terus menerima pukulan itu.
Memang
benar, jika dilihat dari hasil akhirnya, aku telah merenggut segalanya dari
Kaede.
Aku
bahkan berpikir sudah wajar jika aku menerima sedikit kemarahan darinya.
Tapi......
"Katakan
sesuatu, brengsek!"
"Hei
Mizukami. Kurasa sekarang sudah masuk pembelaan diri, kan."
"......Mungkin
saja."
"Eh."
Tepat saat jumlah
pukulan dari Kaede hampir menyentuh dua digit, aku melayangkan tinjuku ke wajah
Kaede.
Satu pukulan itu
membuat Kaede terlempar ke belakang dan jatuh telentang dengan bunyi yang
keras.
"Guaaah......!!"
"Apa yang
kau pikirkan sampai melakukan hal bodoh ini, maaf, aku tidak mengerti. Tapi
ya."
Aku mendekati
Kaede yang terkapar dan meludahkannya dengan kata-kata kasar.
"Pria yang
tidak bisa membahagiakan wanitanya sendiri tidak usah serakah menginginkan
segalanya. Coba sekali lagi kau berani menyentuh wanitaku. Aku akan membuatmu
tidak akan pernah bisa keluar dari rumah sakit selamanya."
"Sss...... Sial...... kenapa......"
Dari sudut pandang orang luar, mungkin akulah penjahatnya.
Aku merenggut segalanya dari Kaede, menghajarnya, bahkan sampai mengancamnya.
Tapi tidak apa-apa. Sejak awal, aku adalah Ibushi Reo.
Entah aku ini penjahat atau apa pun itu, kalau aku bisa
melindungi Akari dan yang lainnya, aku akan melakukannya sebanyak apa pun. Aku
sudah memutuskan itu.
"......Ya sudah, ayo pulang."
"......Ya. Ayo."
Meninggalkan Kaede yang sudah benar-benar patah semangat,
aku dan Noa kembali ke dalam gedung sekolah dari atap.
"Dengan
ini, masalah terselesaikan dengan bersih...... tidak bisa dibilang begitu juga,
ya."
"Ya.
Masih banyak hal yang harus dilakukan."
Saat aku
sedang berdiskusi dengan Noa tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya dan
hendak menuruni tangga......
"Tunggu, Noa! Aku...... kau......!"
Pintu di belakang yang menuju ke atap terbuka, dan Kaede
memanggil Noa dengan suara yang terdengar seperti orang yang sedang
menggantungkan hidup pada seutas jerami.
Noa yang menyadari panggilan itu hendak menoleh dengan tatapan tidak percaya, dan aku juga mulai bergerak untuk menjauhkan Noa darinya.
Kyu......
Terdengar
suara yang tidak menyenangkan.
Suara
nyaring yang sedikit mengganggu, seperti gesekan sepatu dengan lantai.
Sebelum
aku sempat bereaksi karena menyadari sumber suara tersebut, Kaede yang
kehilangan keseimbangan dan hendak jatuh telah mengulurkan tangan kanannya,
mendorong punggung Noa.
"Eh............
ah."
Terdorong
oleh kekuatan itu, tubuh Noa melayang di udara.
Akhir
yang paling buruk melintas di benakku dalam sekejap.
Namun,
meskipun memikirkan hal semacam itu, tubuhku sudah bergerak lebih dulu.
"Noa!!"
Aku
menerjang ke arah Noa yang melayang di udara.
Aku
melindunginya dengan lenganku agar kepalanya terlindungi, lalu memeluknya
dengan erat.
Aku
memutar tubuhku agar aku berada di bawahnya, menahan rasa sakit saat kami
menggelinding menuruni tangga, dan kemudian......
Kesadaranku
hilang.



Post a Comment