NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Eroge no Utsu End kara Heroine-tachi o Kyuusai Shitara Volume 1 Chapter 2

Chapter 2

Heroine yang Kalah dalam Pertarungan Ingin Diawasi


Suci, Benar, dan Indah. Itu adalah motoku.

Memiliki ayah dan ibu seorang polisi, aku bertekad sejak kecil untuk menjadi polisi yang hebat seperti mereka berdua, dan aku terus berusaha keras demi mencapai impian itu.

Saat masuk SMA, aku langsung bergabung dengan OSIS seperti saat SMP dulu.

Aku berjuang keras agar bisa menjadi teladan bagi seluruh siswa dan bekerja dengan serius agar bisa sedikit membantu semua orang.

Mungkin berkat itu, aku berhasil meraih posisi ketua OSIS dengan perolehan suara telak yang tak tertandingi.

Memang ada banyak orang di sekitar yang membenciku karenanya, tapi aku tidak sedikit pun menyesali jalan hidupku.

Hingga suatu hari. Menjelang libur musim semi kelas dua, aku bertemu dengannya.

"Ah, maaf! Kamu tidak apa-apa!?"

"Tidak... ini kelalaianku. Maaf."

Hari itu, aku sedang sibuk mengurus persiapan pertandingan kelas.

Mungkin karena sedikit kelelahan, aku tak sengaja menabrak seorang adik kelas saat sedang membawa tumpukan dokumen.

Dia mengulurkan tangan saat aku terduduk di lantai, lalu membantu memunguti dokumen itu, bahkan membawanya sampai ke ruang guru.

Meskipun aku sudah berulang kali meyakinkan bahwa aku baik-baik saja, anak laki-laki itu tetap tidak mau mendengarku. Sejak saat itu, dia sering membantuku dalam pekerjaan.

Hari-hariku terasa lebih segar. Bagiku yang sejak dulu selalu ditakuti dan dijauhi oleh lawan jenis, dia memperlakukanku tanpa rasa takut sama sekali.

Adik kelas itu bernama Kaede Miyano, dan dia sering kali menghampiriku untuk memulai percakapan. Bagi aku yang belum pernah akrab dengan anak laki-laki seusia, kehadirannya mulai menjadi sandaran hatiku.

...Terus terang saja, sepertinya aku menyukainya.

Meski aku tidak paham soal cinta, setidaknya aku bisa mengerti hal itu.

Tapi, dia memiliki teman masa kecil yang sangat akrab dengannya. Melihat bagaimana mereka berdua saat bersama, aku bisa mengerti. Mereka pasti memiliki hubungan spesial seperti itu.

Kalau begitu, aku harus mundur. Dan aku akan memperbaiki sekolah ini agar mereka bisa menjalani kehidupan SMA yang lebih baik. Itu adalah misi yang dibebankan padaku sebagai ketua OSIS... itulah yang kupercaya.

"Permisi Ketua... ada hal yang ingin kubicarakan..."

"Kamu ini... ah, kalau denganku, silakan bicara apa pun."

Pertengahan bulan Juni.

Aku disapa oleh seorang siswi kelas dua.

Aku sudah mengenalnya, dia adalah siswa yang pernah kutindak tegas karena melanggar aturan sekolah.

Sekarang, dia mengenakan seragam dengan rapi dan tidak ada pelanggaran aturan yang bisa ditemukan.

"Itu... aku yang dulu kan memang begitu? Jadi aku berkumpul dengan orang-orang seperti itu... Setelah dimarahi Ketua, aku berniat untuk berubah! Aku ingin memutuskan hubungan dengan mereka... tapi saat aku mencoba bicara, mereka malah mengancamku... lalu..."

Siswi itu menceritakan kejadian yang menimpanya sambil menangis.

Kisah yang sangat kejam.

Mereka menyerang temannya sendiri, bahkan meminta uang... tindakan itu benar-benar di luar batas kemanusiaan.

"...Akan kusampaikan pada orang tuaku. Mereka pasti akan bertindak."

"Itu... tidak boleh! Soalnya... keluargaku, itu... hanya ada Ibu, ya, yang disebut single mother. Padahal sudah membuat Ibu susah sebelumnya, kalau sampai jadi urusan polisi karena masalah ini..."

"Tapi..."

"Tolong! Bantu aku, Ketua! Aku diancam harus datang lagi minggu depan! Aku takut... tapi aku tidak bisa melawannya...! Hiks..."

Pasti itu pengalaman yang sangat menakutkan baginya. Hanya mengingatnya saja, air mata sudah hampir tumpah. Jika aku tidak menolongnya, anak ini akan terus disiksa dengan kejam.

"Hah... mengertilah. Lawannya hanya satu... kan?"

"Iya. Sendirian. Tapi aku tidak bisa melakukan apa pun..."

"............!"

Hanya seorang laki-laki.

Dengan teknik bela diri yang diajarkan Ayah dan dasar Judo yang kupelajari sejak kecil, aku pasti bisa mengatasinya meski lawannya laki-laki.

Berdasarkan ceritanya, lawannya juga hanya siswa biasa.

Dia tidak membawa senjata tajam atau semacamnya.

"...Serahkan padaku. Aku pasti... akan menyelamatkanmu!"

"...Ah, ...terima kasih! Ketua kita memang bisa diandalkan!"

Benar. Aku adalah ketua OSIS sekolah ini.

Bagaimana bisa aku yang bercita-cita menjadi polisi tidak bisa menyelesaikan masalah seperti ini?

Lagipula, aku sudah memutuskan untuk berusaha lebih keras demi Kaede-kun, bukan?

Apa gunanya ketua OSIS jika tidak bisa menyelesaikan masalah sendiri tanpa mengandalkan orang lain?

Selama ini aku selalu melakukannya sendiri. Ke depannya pun pasti...

"Menangis demi dikasihani... otakmu lemah sekali ya."

Di tengah kesadaranku yang memudar, kudengar suara siswi yang meminta tolong padaku.

Kalau tidak salah, dia memanggilku ke taman ini, dan aku bertemu dengan pria yang katanya mengancamnya. Lalu...

"Hei... bagaimana dengan wanita ini?"

"Hmm... orang tua si jalang ini kan polisi..."

"Oi, oi, kau bawa orang yang merepotkan ya... yah, sudahlah. Lagipula, boleh diapa-apain kan? Sayang sekali kalau punya barang bagus begini tapi cuma dilihat saja."

"...Itu benar juga. Kalau terjadi apa-apa, kan ada undang-undang perlindungan anak~"

Pria dan wanita itu berbincang dengan gembira.

Selain mereka berdua, ada beberapa pria lain di sekitar, dan aku yang tidak bisa bergerak hanya bisa dipandangi oleh pria-pria itu...

"............Jangan terlalu mudah percaya pada orang ya? Ketua OSIS kita yang terhormat!"

Entah karena sedang melarikan diri dari kenyataan, di tengah kesadaranku yang perlahan menjauh, hal terakhir yang kudengar adalah suara siswi itu yang sedang menertawakanku.

Seperti itulah, event Shiori ini adalah salah satu yang paling kejam di antara semua heroine.

Saat pertama kali melihatnya, aku cukup terguncang. Karena itulah, bad ending Shiori harus dicegah dengan cara apa pun.

Memikirkan hal itu pada hari Jumat, 21 Juni.

Aku melangkah ke ruang OSIS saat istirahat siang, persis seperti yang diperintahkan.

"Jadi? Apa yang mau dibicarakan?"

"....Sepertinya akhir-akhir ini kau punya adik kelas yang sangat akrab denganmu, ya?"

"Ah... maksudmu Akari?"

"Benar. Sampai minggu lalu kau tidak menunjukkan gelagat seperti itu... sebenarnya apa yang terjadi?"

Begitu ya. Jadi ini soal kecurigaan bahwa aku mengancam Akari dan melakukan ini-itu.

Yah, wajar saja kalau dicurigai begitu. Semoga saja bisa kubohongi...

"Waktu nonton pertandingan bisbol kemarin, kami kebetulan duduk bersebelahan, lalu langsung nyambung."

"............Begitu ya."

Alasan ini sudah kupikirkan bersama Akari. Meskipun Akari sendiri bersikeras, "Senpai harus menyebarkan kebaikanmu!" dan butuh waktu hampir satu jam untuk membujuknya.

Nah, semoga saja ini bisa meyakinkannya...

"............Mengerti. Maaf sudah mencurigaimu."

"Ah, iya."

Wah, sekali tebas. Ternyata dia memang tidak cocok menangani masalah seperti ini. Dia terlalu mudah mempercayai perkataan orang.

"Yah, penampilanku memang seperti ini. Jangan dipikirkan."

"A-aku tidak bermaksud menilai orang dari penampilannya..."

Menahan keinginan untuk bertanya "Kalau begitu kenapa kau menanyakannya?", aku beralih ke pertanyaanku sendiri.

"Ngomong-ngomong, Ketua. Akhir-akhir ini apa tidak ada orang yang datang berkonsultasi? Misalnya siswi kelas dua."

"............Tidak ada."

"Begitu ya..."

Sudah kuduga hasilnya nihil, Shiori tidak menjawabku. Tapi dari ekspresinya, terlihat jelas rasa cemas dan amarah.

Tangannya bergetar, dan matanya yang tadi menatapku lurus-lurus sekarang justru memandang ke arah yang tidak relevan.

"Itu saja yang ingin kau tanyakan?"

"Ya. Cuma itu saja."

"....Begitu ya. Maaf sudah menyita waktumu."

Shiori menundukkan kepala dan menyuruhku keluar. Aku pun memegang gagang pintu ruang OSIS, lalu menyampaikan kata-kata terakhir padanya.

"Jangan terlalu mudah percaya sama orang."

"............Apa maksudmu?"

"Tidak ada. Hanya ingin bilang kalau dunia ini tidak semuanya diisi oleh orang keren dan hebat sepertimu."

Aku mengutip dialog wanita itu di dalam game, lalu segera meninggalkan ruang OSIS.

"Nah..."

Ada dua hal utama yang harus kulakukan sekarang.

Pertama. Mencegah kejadian itu terjadi.

Ini yang paling penting. Tingkat kekejaman pelakunya berbeda dengan kasus Akari.

Kalau sampai terlambat menolong, semuanya akan sia-sia. Jangan sampai event-nya terjadi.

Kedua. Memastikan Shiori tidak tahu bahwa aku terlibat. Ini memang hanya spekulasi, tapi... aku berpikir hubungan tak lazim antara aku dan Akari saat ini terjadi karena dia tahu aku yang menolongnya.

Dengan kata lain, ini juga bagian dari verifikasiku. Kalau sampai ketahuan... yah, ini Shiori, pasti bisa kubohongi dengan mudah.

Jadi, untuk saat ini mari cari pelakunya.

Bagaimana cara mencari wanita yang di dalam game hanya dianggap sebagai karakter figuran tanpa wajah itu?

Selama beberapa hari terakhir, meski disibukkan oleh Akari, aku terus mencari petunjuk, tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda.

Lagipula, tidak ada yang mau bicara denganku. Kalau begini, penyelidikan pun tidak berjalan.

Saat sedang bingung begitu dalam perjalanan pulang dari ruang OSIS, seorang siswi menghampiriku seolah sudah menungguku.

"Hei, kau. Tadi bicara dengan wanita itu kan?"

"Wanita itu?"

"Tidak usah pura-pura bodoh. Itu lho, ketua OSIS yang cerewet itu."

"Ah... begitu ya."

Ada pepatah "Itik yang membawa daun bawang di punggungnya"—mungkin itu kata yang tepat untuk situasi saat ini.

Kemungkinan besar, dialah wanita yang menjadi sumber segala masalah.

"Iya, tadi aku habis diceramahi."

"Menyebalkan banget, ya. Sok berkuasa... Aku tahu reputasimu. Kita ada di pihak yang sama."

"............Kurasa begitu."

Itu cerita beberapa waktu lalu. Tapi, reputasi buruk itu pun akan kupakai untuk memanfaatkannya.

"Tadi kami berencana menghancurkan si ketua itu. Kau mau ikut?"

"....Menarik. Ngomong-ngomong, apa yang dia lakukan padamu?"

"Eh... tidak ada, cuma menyebalkan saja kan? Apa salahnya datang ke sekolah pakai makeup? Mentang-mentang cantik dia sok berkuasa. Menyebalkan, kan?"

Hanya itu...

Hanya karena alasan sepele begitu Shiori sampai...!

"............Iya... memang menyebalkan."

Aku berusaha menahan amarah dan setuju dengan pendapat gadis sampah ini. Kalau saja memukul wanita ini di sini bisa menyelesaikan segalanya, aku akan melakukannya dengan senang hati.

Tapi kalau sampai melakukan itu, aku tidak akan bisa menghindari skors. Memikirkan sikap Reo Ibuki selama ini, bukan tidak mungkin aku dikeluarkan. Bagaimana jika masalah lain terjadi saat aku tidak ada?

"............Kapan eksekusinya?"

"Wah, cepat tanggap ya. Minggu depan kami akan memancingnya ke taman tengah malam... lalu kami akan menahannya dan memaksanya masuk ke mobil... sisanya ya mengalir saja. Nanti kuteriaki lokasi dan waktunya minggu depan. Sampai jumpa."

Wanita yang terlihat sombong itu pergi sambil tertawa.

Seperti yang dideskripsikan di dalam game, mereka ini menganggapnya hanya sebagai permainan.

Mereka mengancam orang yang tidak disukai, memeras uang, dan menghancurkan fisik maupun mental korbannya.

Kalau pun tertangkap polisi, orang-orang seperti ini tidak akan pernah berubah. Tapi, itu bukan alasan untuk memaafkan orang jahat saat ini.

Gara-gara mereka, aku berkali-kali merasakan niat membunuh yang tak tersalurkan di setiap route Shiori yang gagal. Bersamaan dengan dendam di kehidupan sebelumnya... biarkan aku mengamuk sepuasnya.

Lalu, Kamis, 27 Juni. Di sebuah taman saat tengah malam.

"Ah, halo, Reo-kun."

Aku datang ke taman yang sepi itu sesuai instruksi wanita tersebut.

"Aku sempat khawatir kau tidak datang? Soalnya kudengar akhir-akhir ini kau jadi pendiam."

"....Kalau bisa membuat wanita itu kesakitan, tentu saja aku datang."

"Benar juga sih. Dia memang menyebalkan banget."

Tawa menyebalkan wanita itu bergema di kepalaku. Aku ingin sekali memukul wajahnya sekarang juga.

Menahan perasaan itu dalam-dalam, aku menyapa para pria yang ada di sekitarnya.

"Halo, salam kenal."

"Oh. Tadi dia sudah cerita. Katanya kau sering main perempuan ya?"

"Nanti perkenalkan teman kencanmu dong!"

"....Akan kupikirkan."

Mereka tertawa-tawa sambil meneriakkan hal-hal yang tidak penting.

Sekilas ada lima orang. Mungkin ada orang lain di dekat mobil yang terparkir, tapi... paling cuma satu atau dua orang.

Mereka semua cuma pengecut yang tidak bisa berbuat apa-apa kalau tidak bergerombol.

"Ngomong-ngomong, masih ada waktu sampai ketua OSIS datang, kan?"

Aku memastikan kembali waktu kedatangan Shiori pada wanita itu.

"Iya. Rencananya aku yang akan menjemputnya saat dia sampai di stasiun dekat sini, jadi semua aksinya baru dimulai setelah ada kabar."

"Oke... jadi sampai saat itu kita senggang ya. Hei, tidak ada video menarik gitu?"

Kali ini aku mencoba menyapa pria yang sepertinya pemimpin mereka. Pria itu mulai mengoperasikan ponselnya dengan wajah bodoh sambil menyeringai.

"Hehe... ternyata benar rumornya. Oke, kulihatkan yang spesial buatmu."

Meski baru pertama bertemu, dia langsung mengabulkan permintaanku.

Apa aku memang terlihat seperti orang jahat?

Atau mereka memang bodoh karena tidak memikirkan kemungkinan terburuk? Yah, tidak masalah. Semuanya akan kupakai.

"Rekomendasinya ini nih. Padahal dia sempat melawan keras, tapi itu yang malah bikin bergairah!"

"Paham, paham! Saat menangis itu yang paling enak ya!"

"............Orang ini, kenalannya siapa?"

Video di ponsel itu adalah neraka yang membuatku mual. Benar saja, ini bukan pertama kalinya. Mereka selama ini menggunakan cara yang sama untuk menyerang orang.

"Eh... siapa ya?"

"Wali kelas kita. Dia menyita ponselku jadi aku kesal..."

"Benar, benar. Dia kan punya banyak uang!"

...Ternyata benar, mereka adalah berandalan sampah persis seperti di dalam game. Untung saja mereka dengan rajin merekam perbuatannya sendiri di ponsel, jadi aku tidak perlu repot mencari bukti.

Saat aku sedang memastikan perbuatan mereka, wanita yang terlihat kesal itu berteriak padaku.

"....Lagipula, kok tidak ada kabar! Jangan-jangan dia tidak datang! Menyebalkan sekali!"

"Hah? Benarkah? Memangnya dia tipe yang begitu... oi, coba telepon dia."

Pria yang diduga pemimpin itu berlari ke arah wanita tadi, dan mereka berdua mulai berdiskusi tentang apa yang harus dilakukan. Sepertinya Shiori tidak akan datang ke tempat ini. Syukurlah dia percaya padaku.

"Yah, yah, jangan panik begitu..."

"Tidak, tidak, untuk apa kita datang ke sini kalau—"

Saat aku mencoba mengajak pemimpin pria itu untuk tenang, dia justru menunjukkan kemarahannya. Kemarahan yang egois sekali, tapi... mumpung suasananya pas, biarkan aku luapkan saja sekalian.

"Heh. Tenanglah...!!"

BUAGHH!!

"Gahh...!?"

Aku mencengkeram kepala pria itu, dan dengan tenaga seolah ingin meremukkan tengkoraknya, kubenturkan kepalanya ke wajahnya.

Suara dentuman tumpul bergema di taman malam hari, pria pemimpin itu jatuh ke tanah dengan darah mengalir dari hidungnya. Anggota lainnya juga tertegun, tidak memahami situasi.

"A-apa yang kau lakukan, hah..."

Wanita itu ketakutan melihat tindakanku yang tiba-tiba, lalu terduduk di tanah.

"Hah? Apa yang kulakukan, kau tanya? ...Aku cuma tidak suka saja. Kalian bergerombol menyerang yang lemah... pasti menyenangkan ya. Kalian ini."

Sudah sampai titik ini, tidak perlu lagi menahan diri. Aku bisa merasakan rasa frustrasi yang selama ini kupendam meledak sekaligus. Biar aku mengamuk sampai polisi datang.

"Ayo... maju kalian para sampah lemah. Kalian ini sampah yang tidak bisa apa-apa tanpa bergerombol."

"Kau ini...!!"

"Sialan! Hei! Serang semuanya!"

Aku memancing mereka sejelas mungkin. Empat orang yang tersisa menyerangku karena marah. Aku belum pernah berkelahi melawan banyak orang sekaligus. Tapi kepalaku sangat dingin.

Bagaimanapun juga, diriku yang sekarang adalah...

"Maju, sampah sekalian. Akan kupastikan kalian tidak akan bisa menggunakan barang kecil kalian itu lagi."

Antagonis terkuat. Karena akulah Reo Ibuki.

"Nah... bagaimana rasanya? Wanita jalang."

"Jangan bunuh aku... berhenti..."

Setelah membereskan keempat pria itu tanpa masalah, yang tersisa hanyalah wanita sumber masalah ini.

"...Kukira menangis saja cukup? Sudah berapa banyak orang yang meminta maaf pada kalian sampai sekarang?"

"Aku juga... diancam sama mereka..."

Mungkin alasannya masuk akal. Tapi aku tahu.

Wanita ini dan pemimpin itu adalah kenalan lama. Sejak dulu, dia sering menipu orang yang tidak disukainya, lalu membiarkan kelompok ini menyerang mereka.

Setelah itu, dia mengancam korbannya dan memeras uang. Benar-benar sampah.

Itu semua adalah isi cerita di route Shiori. Event di dalam game ini bisa dihindari dengan menaikkan affinity Shiori dan mendengar cerita konsultasi wanita ini.

Tapi wanita ini tidak menyerah untuk menjatuhkan Shiori, dan akhirnya akan menyerang Shiori dengan menyandera Kaede yang sudah berpacaran dengan Shiori.

Masih banyak hal lain, tapi... jika Shiori sampai diserang, ujungnya cuma satu.

Keluar dari SMA, menghilang tanpa jejak, dan suatu hari di berita...

"...Aku ini penganut kesetaraan gender, tahu."

Mengingat berbagai hal itu saja membuat amarahku meluap.

"Ber... henti..."

Saat aku mencengkeram kerah bajunya dan hendak meninju wajahnya sekuat tenaga, samar-samar sudut mulut wanita itu melengkung. Kenapa dia tersenyum di situasi begini...

"──Ugh!?"

Tiba-tiba sengatan listrik merambat ke tubuhku.

Sesuatu ditekan ke pinggangku, dan dampak yang hampir membuat kesadaranku hilang merambat ke seluruh tubuh, membuatku jatuh tertelungkup.

"Hahaha! Bodoh sekali! Sok keren!"

Bukan dia yang tertawa yang melakukan ini. Kalau begitu...

"............Ternyata cukup cepat, ya, bangunnya..."

"Jangan terlalu meremehkan orang... kalau begitu caranya, kau akan merasakan akibatnya..."

Pemimpin yang seharusnya sudah kukalahkan berdiri di belakangku dengan alat kejut listrik di tangan.

"Eh, dia tidak pingsan? Dia benar-benar monster!"

"Oi, bagaimana ini? Biarkan saja dia di sini?"

"Bilang saja dia tiba-tiba cari gara-gara! Hei, bangunkan mereka yang tidur, ayo kabur!"

Sial. Gagal di saat terakhir. Aku tidak boleh berurusan dengan polisi di tempat seperti ini. Kalau sampai terjadi, Shiori pasti akan...!

"Apa yang kalian lakukan di sana."

Saat aku berusaha keras menggerakkan tubuh sambil memikirkan tragedi Shiori yang akan terjadi, suara yang kukenal bergema di taman yang seharusnya hanya ada kami. Suara wanita yang rendah, berwibawa, dan keren.

"............Kenapa... kau bisa ada di sini..."

Bukan seragam biasanya. Ketua OSIS kita, Shiori Fujita, yang mengenakan jersey putih yang terlihat pas di tubuhnya, menatap kami dengan tajam.

"....Ternyata kau datang ya. Karena tidak ada kabar, kukira kau membatalkan janji."

"Itu salahku. Banyak hal terjadi. Dan sekali lagi kutanyakan... apa sebenarnya yang kalian lakukan?"

Kelompok sampah itu menghela napas malas atas pertanyaan Shiori, dan wanita itu memberi instruksi pada pria itu dengan wajah terpaksa.

"Kalau begini caranya, pakai kekerasan saja."

Atas aba-aba wanita itu, pria itu menjauh dariku dan mendekati Shiori sambil tetap memegang alat kejut listrik.

"Bodoh... lari...! ...!"

"Tidak kusangka kau sampai terikat dengan ketua OSIS... sebagai tanda terima kasih sudah berbuat semaumu, saksikanlah dia dihancurkan di barisan depan, syukuri itu!"

"............"

Shiori tidak gentar melihat pria yang mendekat, dia hanya menatap sesuatu dengan tenang.

"Hah... payudara besar yang sia-sia... sepertinya menyenangkan untuk dihancurkan!"

"....Ada apa? Kau sendiri, apa masa pertumbuhanmu belum tiba? Kau terlihat sedikit lebih pendek dariku. Kalau dilihat dari situ... huh. Pasti sangat kecil ya?"

"............Sialan kau!!"

"Shiori...!...!!"

Hanya sesaat.

"Hup!!"

Saat pria yang berang itu menyerang, Shiori merendahkan posisi tubuhnya dengan cepat dan menerjang ke arah lawan.

Detik berikutnya, tubuh pria itu melayang di udara, dan dengan suara keras, dia dibanting ke tanah dengan punggungnya.

"Gah...!"

"Eh... bohong..."

"Dia tidak mati kan..."

Bantingan satu arah yang luar biasa, seolah dampaknya terasa sampai ke sini. Pria yang dibanting ke tanah itu sepertinya benar-benar pingsan kali ini.

"Aku belajar bela diri dari Ayah, dan belajar Jiu-jitsu sejak kecil. Tidak mungkin aku kalah dari berandalan sepertimu."

Melihat Shiori yang bahkan mengucapkan dialog kerennya, aku benar-benar melupakan kecemasanku tadi, dan malah mengucapkan kesan yang tidak pada tempatnya pada sosoknya yang indah itu.

"............Keren banget."

"....Sekarang, jelaskan padaku."

Setelah membanting pemimpin kelompok itu, Shiori berjalan ke arahku yang sedang terbaring, lalu bertanya pada wanita itu dengan tenang. Wanita itu panik, dan menunjuk ke arahku.

"I-ini... ini dia!! Sebenarnya dia yang mengancamku!!"

Mana mungkin kebohongan seperti itu bisa dipercaya di situasi begini—

"Apakah begitu, Ibuki-kun?"

"Mana mungkin!! Kau bodoh ya!?"

Karena terlalu terkejut dengan Shiori yang sangat polos, aku tanpa sadar berteriak. Shiori yang terlihat tenang mulai terkikik.

"Maaf. Bercanda."

"Bukannya waktu yang tepat buat bercanda..."

Shiori pasti sudah tenang karena bisa bercanda di situasi begini. Aku yang panik malah terlihat seperti orang bodoh.

"Kalian ini dari tadi... sial... jangan mendekat!! Aku akan membunuh orang ini!!"

Berlawanan dengan Shiori yang tenang, wanita sampah ini menaiki punggungku dan mulai mengancam dengan menodongkan pisau yang disembunyikannya ke leherku.

"....Begitu katanya, Ibuki-kun. Apa kau butuh bantuan?"

"....Ketua OSIS yang merepotkan."

"Hah? Kalian dari tadi sok sekali... tunggu, eh!?"

Saat aku berteriak pada Shiori tadi, aku menyadari tubuhku sudah bisa bergerak.

Aku mengangkat tubuh bagian atasku sekaligus untuk menepis wanita yang masih mengira aku tidak bisa bergerak dan menodongkan pisau dengan tangan gemetar.

"Aduh... eh, ah..."

Aku berdiri dengan tenaga itu, dan menendang pisau yang dijatuhkan wanita itu ke arah Shiori.

"Apa masih ada barang lagi yang keluar dari saku kebanggaanmu itu?"

"....Sialan..."

Bersamaan dengan sumpah serapah wanita itu, terdengar suara mobil berhenti di dekat taman.

Tak lama kemudian beberapa polisi datang, dan aku dimarahi karena harus menjelaskan apa yang terjadi.

Yah, karena aku masih segar bugar di sini dan wajahku terlihat seperti berandalan, mau bagaimana lagi.

Menurut polisi, ada laporan tentang perkelahian di taman ini.

Aku sendiri memang ada urusan dengan polisi. Mari jawab pertanyaan mereka dengan tenang.

Aku sudah memastikan bahwa ada banyak bukti tak terbantahkan bahwa mereka adalah kriminal. Kalau beruntung, mereka bisa ditahan dalam beberapa hari.

Karena itulah, saat aku melewati Shiori untuk masuk ke mobil polisi bersama pria-pria yang pingsan dan wanita sampah itu, Shiori berbisik padaku.

"Istirahat siang hari Senin. Tunggu di ruang OSIS."

"............"

Semoga aku bisa masuk sekolah hari Senin nanti. Pikirku, tapi aku tidak mengucapkannya, dan tanpa menjawab, aku dibawa ke pos polisi terdekat.

Senin, 1 Juli. Di depan ruang OSIS.

"Senpai! Aku menunggu di sini, ya! Kalau ada apa-apa, teriak saja!"

"Iya, iya..."

Aku dibebaskan dengan sangat mudah, hal yang cukup mengejutkan, dan aku bisa kembali ke sekolah dengan lancar saat awal minggu.

Aku juga sudah menceritakan kepada polisi tentang perbuatan mereka. Aku pikir bakal ada penjelasan mendetail dan semacamnya, tapi ternyata itu hanya menyita waktu hari Jumatku sepenuhnya.

Namun, karena aku tidak masuk sekolah di hari Jumat, Akari sangat mencemaskanku. Bahkan sekarang, dia masih membuntutiku sampai ke depan ruang OSIS.

"Permisi."

"Oh. Apa kau sudah mendapatkan izinnya?"

Saat aku masuk ke ruang OSIS, Shiori yang sedang duduk di kursi paling ujung sambil bekerja, bertanya padaku sambil menyeringai.

"Hanya kompromi saja. Jadi, persingkat saja pembicaraannya."

"Mengerti. Kalau begitu, langsung saja..."

Shiori menghentikan pekerjaannya, lalu berdiri dan menghampiriku. Dia menatap wajahku, sempat melamun sejenak, lalu bergumam dengan suara pelan.

"............Ternyata kau memang tinggi. Padahal aku merasa cukup percaya diri dengan tinggi badanku."

"............Apa itu yang ingin kau bicarakan?"

"Ah, tidak... uhuk!"

Wajahnya sedikit memerah. Setelah pura-pura batuk, Shiori membungkuk dalam-dalam padaku.

"Terima kasih. Sudah menolongku."

"......Maksudnya apa? Justru aku yang ditolong."

Setidaknya aku mencoba mengelak dengan formalitas. Tapi, karena dia sudah bisa datang ke TKP saat itu, kurasa dia sudah tahu garis besarnya. Jadi, ini hanyalah cara untuk menyembunyikan rasa malunya.

Waktu sedikit mundur ke hari Kamis, 27 Juni, saat jam istirahat siang. Itu adalah hari terjadinya keributan di taman. Pada hari itu, aku sedang membicarakan soal wanita itu dengan Shiori.

"Yo."

"......Apa? Kau lagi? Ada apa?"

Aku sengaja melangkah ke lantai kelas tiga, mencarinya di tengah tatapan tajam orang-orang, lalu menyapanya.

"Minggu lalu, kau sempat dikonsultasikan oleh Kakizaki, kan?"

"......Aku tidak tahu siapa itu."

Kakizaki adalah wanita itu. Mendengar namanya disebut, Shiori terlihat sangat terguncang. Apalagi saat itu, Shiori tampak sangat kelelahan, dan aku tidak bisa merasakan aura wibawanya yang biasa.

"Sebenarnya, aku dan dia cukup akrab. Aku juga sempat dikonsultasikan. Katanya dia diancam oleh pria dari masa lalunya."

"............"

Shiori sepertinya terkejut karena informasi yang seharusnya hanya diketahui dirinya tiba-tiba keluar dari mulutku. Dia mendengarkan ceritaku dalam diam.

"Lalu, katanya masalah itu sudah selesai. Katanya pria itu ditangkap karena kasus lain... dia kelihatan senang sekali karena sudah bebas."

"............Begitu ya."

"Jadi sudah tidak apa-apa. Katanya dia bakal sibuk untuk sementara, jadi lain kali dia akan datang berterima kasih padamu."

Itu adalah kebohongan yang sangat mudah terbongkar. Tapi aku pikir Shiori akan percaya dengan hal sesederhana itu... ternyata aku terlalu meremehkannya.

Hasilnya, Shiori malah terseret ke dalam masalah, dan dia pasti tahu kalau aku berusaha menyelesaikannya di balik layar. Memalukan sekali.

Lalu hari ini. Untuk mengonfirmasi hal tersebut, aku menerima ajakan Shiori.

"......Kurasa aku perlu mengubah penilaianku tentangmu. Kau adalah orang yang cerdas, berani, dan baik hati. Aku tidak tahu apa yang membuatmu berubah sampai sejauh ini, tapi... apa kau mendapatkan pertemuan yang berharga?"

"............Terima kasih."

Dia melirik pintu ruang OSIS sambil tersenyum.

Sepertinya dia salah paham akan sesuatu, tapi kalau aku bilang ini karena ingatanku di kehidupan sebelumnya, dia pasti tidak akan percaya. Jadi, membiarkannya tetap seperti ini adalah jalan yang paling aman.

Meski begitu, aku hanya menggunakan pengetahuan game dan tubuh pinjaman ini, jadi rasanya geli sekali saat dipuji terang-terangan seperti ini. Aku merasa seolah sedang melakukan sesuatu yang buruk.

"Aku minta maaf atas ketidaksopananku selama ini. Benar-benar minta maaf—"

Aku memegang bahu Shiori yang hendak membungkuk lagi untuk menghentikan permintaan maafnya.

"......Sebagai ketua OSIS, kau hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Jangan dipikirkan. Jadi... jangan minta maaf."

"............Se-sebenarnya."

Shiori yang dihentikan untuk tidak membungkuk tiba-tiba mulai bertingkah canggung. Apa ada sesuatu yang sulit dia katakan?

"Alasannya aku mencurigaimu adalah... itu, lebih sebagai urusan pribadi daripada sebagai ketua OSIS..."

"......Maksudnya?"

"............Tolong jangan sampaikan ini pada yang bersangkutan, tapi sebenarnya ada siswa bernama Kaede M... Miyano di kelas yang sama denganmu, kan? Aku diminta oleh Miyano-kun. Katanya, ada berandalan yang mengganggu teman adiknya akhir-akhir ini. Dia memintaku untuk melakukan sesuatu..."

"............Hahhh..."

Lagi-lagi dia. Kenapa setiap kali namanya muncul, citranya langsung jatuh? Selesaikan saja sendiri! Karena begitulah, heroine-nya jadi direbut orang lain, tahu!

"Tolong jangan berpikir buruk tentangnya. Awalnya, itu salahku yang langsung menyetujuinya tanpa berpikir panjang. Lain kali, akan kubicarakan dengannya agar dia mengubah penilaiannya terhadapmu."

"......Aku tidak apa-apa. Tidak kupikirkan, kok."

"Ta-tapi..."

"Daripada itu, boleh aku bertanya sesuatu?"

"......Ah, tanyakan saja sepuasnya."

Aku memotong pembicaraannya dan mulai bertanya. Kalau aku terus mendengarkan cerita tentang protagonis lembek itu, aku bakal kesal sampai rasanya ingin memukul orang saat melihatnya nanti.

"Pertama, kenapa kau datang ke tempat itu?"

"......Beberapa hari lalu, aku mendapat saran dari seseorang. Katanya, 'Jangan terlalu mudah percaya pada orang'."

"Begitu ya..."

"Orang itu bersikap kasar, tapi sebenarnya di dalam hatinya dia selalu memikirkan orang lain..."

"Iya, iya, tidak perlu dilanjutkan."

Ternyata penyebabnya adalah omonganku yang tidak perlu hari itu. Tapi berdasarkan logika itu...

"Jadi, kata-kata 'jangan percaya pada orang' itu malah kau percayai, ya."

"..................Hm?"

Aku sengaja menjahilinya dengan argumen berbelit. Shiori memiringkan kepalanya, berpikir sejenak, lalu berteriak dengan wajah yang memerah padam.

"......Jangan-jangan kau membohongiku!?"

"Pfft...! Apa maksudmu membohongi...!?"

Shiori menanggapinya dengan serius dan malah menjadi panik dengan kesimpulan anehnya sendiri. Lucu sekali sampai aku tidak tahan untuk tertawa.

"Habisnya... kau yang bilang jangan percaya..."

"Iya, iya, maaf ya. Terima kasih sudah mempercayai kata-kataku dan mencurigaiku."

"......I-iya? ......Iya?? Te-terima kasih kembali??"

Aku bisa melihat tanda tanya yang melayang-layang di atas kepalanya. Shiori memang sangat lemah dalam percakapan seperti ini. Ditambah dengan celah antara sikapnya yang biasa, dia terlihat sangat manis.

"Satu lagi. Apa kau baik-baik saja?"

"A-ah, iya! Aku baik-baik saja!"

"......Apa kau sudah melapor ke polisi?"

"............Tidak tahu."

Kepanikannya tadi hilang entah ke mana. Saat aku menanyakan hal utama, ekspresinya langsung menjadi serius. Aku pikir bisa menanyakannya sambil lalu, tapi... dia memang sulit ditaklukkan.

"Aku tidak tahu, tapi orang tuaku adalah polisi. Mereka punya posisi yang cukup berpengaruh. Dan di rumah kami, membicarakan soal sekolah saat sarapan adalah rutinitas. Ah, ya, sepertinya hari itu aku sempat menceritakan tentang teman baru yang kudapat."

"Ternyata kau licik juga, ya."

"............Tidak tahu."

Aku bisa merasakan sisi Shiori yang sesuai umurnya dan ketangguhannya yang khas, hal yang tidak bisa kurasakan di dalam game. Saat ini, aku bisa menghabiskan waktu yang sangat berharga. Hanya itu saja sudah membuat usahaku selama ini terbayar—

"Senpai! Jam istirahat!! Sudah selesai!!!!"

Di tengah suasana yang bagus itu, Akari yang keberadaannya sudah benar-benar kulupakan, menggedor-gedor pintu dengan keras.

"Fufu. Terlalu banyak membuang waktu, ya. Sebaiknya kau segera pergi."

"......Iya, akan kulakukan."

Saat aku memegang gagang pintu untuk kembali ke Akari yang tidak masuk ke dalam karena sopan, Shiori memanggilku lagi.

"Ah, benar, Ibuki-kun. Bolehkah aku meminta satu hal terakhir?"

"Singkat saja."

"Gunakan bahasa sopan. Aku ini seniormu."

Aku tidak menggunakan bahasa sopan pada Shiori karena itu adalah bagian dari roleplay diriku sebagai berandalan bernama Reo Ibuki... dan jujur saja, kalau menggunakan bahasa sopan, aku takut sifat asliku akan keluar. Tapi...

"............Baiklah."

"Ya, bagus."

Aku yang memutuskan dalam sekejap bahwa tidak mungkin bisa membujuk Shiori di saat seperti ini, akhirnya memilih untuk dengan patuh menjadi adik kelasnya.

"Senpai, Senpai. Katakan 'aah'!"

"Berhenti. Makan sendiri, jangan memaksanya padaku."

"Aku tidak memaksanya~! Aku cuma pikir Senpai mungkin mau paprika!"

"......Kalau begitu terus, kau tidak akan tumbuh besar selamanya."

"!?!?"

"Kalian berdua benar-benar sangat akrab, ya..."

Beberapa hari setelahnya saat jam istirahat. Kami memutuskan untuk menghabiskan waktu di ruang OSIS.

Alasannya satu. Sudah jelas, cuacanya sangat panas.

Tidak tahan. Tapi kalau berbicara dengan Akari di kelas, tatapan orang-orang di sekitar sangat mengganggu, jadi sebagai jalan terakhir aku memohon pada Shiori untuk meminjamkan ruang OSIS.

"Ketua OSIS... Senpai... Senpai melakukan hal kejam padaku..."

"Bukannya aku hanya mengatakan hal yang wajar?"

"Benar kata Senpai, Akari-chan. Makanlah sayur dengan benar. Kau masih dalam masa pertumbuhan, kalau nutrisinya cukup, Ibuki-kun pasti akan jatuh cinta padamu."

"Jatuh cinta..."

"Jangan masukkan hal aneh ke kepalanya..."

Aku belum pernah melihat interaksi mereka berdua di game. Jadi aku sempat bertanya-tanya akan jadi seperti apa, tapi untungnya mereka langsung akrab.

"Aku... akan membuat Senpai jatuh cinta padaku! Nyam... huuu, pahit..."

"Iya, iya, pintar."

"......Ngomong-ngomong, Ibuki-kun. Apa isi bekal yang kau makan itu? Katanya nutrisi segala macam."

"Ini bekal minimarket."

Apa salahnya dengan bekal minimarket? Praktis dan enak. Bukankah ini makanan serba guna yang nutrisinya juga cukup?

"......Apa orang tuamu sibuk di pagi hari?"

"Ah... sekarang aku tinggal sendiri."

"Eh!? Senpai tinggal sendiri!?"

"Ada beberapa hal yang terjadi."

Katanya hubungan Reo Ibuki dengan orang tuanya tidak baik.

Jadi setelah masuk SMA, dia langsung memutuskan untuk tinggal sendiri.

Tapi bukan karena dia bekerja paruh waktu, dia hidup dari kiriman uang bulanan.

Karena dia bisa hidup tanpa bekerja, bisa dipahami kalau kiriman uang dari rumah itu sangat besar.

Reo-lah yang membenci orang tuanya sepihak, sementara orang tuanya tetap memikirkan Reo nomor satu.

Untuk menggantikan Reo yang sedang dalam masa pemberontakan itu, akulah yang berterima kasih pada orang tuanya.

Bahkan aku sudah bilang kalau kiriman uangnya tidak perlu, aku bisa hidup dengan kerja paruh waktu. Tapi orang tua Reo malah menangis bahagia dan justru menambah jumlah uangnya.

"Begitu ya... tinggal sendiri..."

Entah kenapa Shiori tiba-tiba mulai berpikir dalam. Alurnya aneh.

Jangan-jangan dia merencanakan sesuatu? Akari yang melihat itu sepertinya berpikiran sama, dia mulai mengintimidasi Shiori.

"Ketua OSIS! Jangan macam-macam, ya! Senpai! Ini punya aku!!"

"Bukan punyamu."

"Ah, iya benar... tapi di saat yang sama, kau juga adik kelasku yang manis."

"Tolong hentikan sebutan 'manis'."

"Hmm... dasar manja... aku setiap pagi menyiapkan pakaian dalam untuk Senpai—"

"Berhenti, berhenti!! Oi!!!!"

Aku menutup mulut Akari yang hampir mengucapkan hal gila.

Akari sempat meronta-ronta sebentar, tapi perlahan wajahnya justru berubah menjadi nyaman.

"Y-ya, sudahlah... selera orang kan beda-beda. Ya... akan kuanggap aku tidak mendengarnya..."

"Bukan begitu... bukan seperti itu..."

Reaksiku malah membuat Shiori semakin yakin kalau ucapan Akari itu benar, dan dia menatap kami dengan jijik.

"Mufu... Aww!?"

Aku melepaskan tanganku dari mulut Akari yang terlihat sombong, lalu memberinya chop sebagai hukuman.

Saat kami sedang menikmati masa muda yang konyol namun memuaskan ini, tiba-tiba pintu ruang OSIS diketuk.

"Permisi. Apa Ketua Fujita ada?"

"Ya. Tunggu sebentar."

Saat mendengar suara wanita di balik pintu, Shiori memasang wajah mode kerja, lalu membungkuk pada kami.

"Maaf. Sepertinya ada tamu. Aku akan keluar."

"......Tidak, kami saja yang keluar. Ayo, jalan, Sera."

"Oke!"

Awalnya kami memang meminjam tempat ini secara ilegal. Sisa waktunya akan kuhabiskan dengan tenang di depan pintu atap sekolah.

"Kami permisi."

"Permisi!"

"Hikk...!?"

Saat kami berdua keluar dari ruang OSIS, orang yang berdiri di depan pintu adalah Kinoshita Nanami, seorang gadis otaku berkacamata yang satu kelas denganku dan merupakan salah satu heroine. Tidak bisa dihindari, dia terlihat sangat ketakutan padaku.

Tapi yah, sudah terlanjur. Tidak perlu dipikirkan. Aku meminta maaf karena mengejutkannya, lalu berjalan menuju atap.

"Senpai."

Sesampainya di depan atap, Akari menegurku dengan wajah cemberut.

"Kenapa?"

"Tadi melihat dadanya, ya."

"Tidak melihat."

"Melihat!"

Yah, tidak bisa dihindari, kan? Secara praktis, aku sudah pernah melihat Nanami telanjang. Kalau kau membayangkan dada sebesar itu ada di depan mata, tentu saja kau akan melirik sedikit.

"Ketua OSIS juga dadanya besar... kalau aku..."

Bukan berarti dada Akari kecil. Hanya saja orang lain terlalu besar. Kalau standar dunia nyata, ukuran Akari itu normal. Untuk menyemangati Akari yang sedang sedih, aku mengusap kepalanya dan menyapa.

"Sera juga manis kok, jadi tenang saja."

"Fuhii... hehehe. Lagi..."

Mungkin dia merasa sangat lega, wajah Akari benar-benar meleleh, dan dia membiarkanku terus mengusap kepalanya seperti anak anjing untuk beberapa saat.

"Permisi."

"Selamat datang... eh? Akari-chan mana?"

"......Mungkin sekarang dia sedang diseret ke ruang guru."

Senin, 8 Juli, jam istirahat siang. Hari ini aku datang sendirian ke ruang OSIS.

Di jalan aku bertemu Akari, tapi dia diseret oleh guru wali kelasnya entah karena apa. Apa yang dia lakukan anak itu?

"Begitu ya. Baiklah, maaf mendadak, tapi Ibuki-kun. Apa kau luang akhir pekan ini?"

"Akhir pekan? Mungkin luang sih..."

Saat aku duduk di tempat biasa dan mengeluarkan bekal minimarket, Shiori tiba-tiba membuka pembicaraan.

"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu."

Setelah mengatakan itu, Shiori berdiri dan meletakkan kotak persegi panjang misterius di atas meja, lalu kembali ke kursinya seolah tidak terjadi apa-apa dan mulai berbicara.

"Kali ini konsultasinya datang dari seseorang yang punya hubungan sedikit dekat denganku... tapi hanya dengan kemampuanku saja, rasanya jauh dari penyelesaian. Itulah sebabnya aku ingin mengandalkanmu. Kau yang baik hati dan sangat bisa diandalkan."

"......Tidak perlu begitu. Langsung ke intinya saja."

Aku jadi malu saat dibilang bisa diandalkan dan baik hati. Untuk menutupi rasa maluku, aku mendesaknya agar langsung ke inti masalah. Shiori tersenyum "Fufu" dan melanjutkan ceritanya.

"Akhir pekan ini libur panjang, kan? Katanya ada acara cosplay bertepatan dengan itu. Pengaju konsultasi ini sangat ingin datang ke acara itu, tapi dia takut jika pergi sendirian. Jadi dia mengandalkanku... tapi dia juga butuh bantuan tenaga pria. Bagaimana menurutmu?"

"............Begitu ya."

Orang yang berkonsultasi ini 99 persen adalah Kinoshita Nanami.

Aku teringat dia sempat mengunjungi ruang OSIS Senin lalu, dan aku merasa pernah mendengar alur cerita yang mirip di dalam game.

Karena akhir-akhir ini terlalu sibuk, aku lupa kalau ini sudah waktunya event Nanami. Event Nanami itu... berat sekali, ya.

Meskipun tidak membuat mual seperti Shiori atau Akari, tapi ada beban berat yang berbeda.

"Yah, secara pribadi bagiku tidak masalah. Tapi, bukankah sedikit meragukan apakah pengaju konsultasi itu bisa menerima aku atau tidak?"

"Soal itu kau tidak perlu khawatir. Aku yang akan membujuknya. Bahwa kau adalah orang yang sangat luar biasa."

"Kuharap ocehan itu bisa dipercaya... tapi jujur saja, itu Nanami, kan? Teman sekelasku."

"......Memang Ibuki-kun. Kau bisa menebak sampai sejauh itu."

"Kalau Nanami, bukannya masih ada pria lain yang lebih cocok? Misalnya Miyano yang kau kenal."

"Miyano-kun, ya. Aku sempat memikirkannya, tapi..."

Begitu aku menyebut nama si protagonis, Shiori langsung memasang wajah masam.

"Belakangan ini dia agak kacau. Penyebabnya mungkin karena aku membicarakan tentangmu. Beberapa hari lalu, aku sempat membujuknya bahwa kau tidak seburuk itu, tapi malah menjadi bumerang. Apalagi, katanya hubungannya dengan Mizukami-san juga tidak berjalan baik. Katanya beberapa waktu lalu mereka sempat bertengkar..."

"Begitu ya, ternyata ada kejadian seperti itu..."

Ternyata itu alasannya kenapa tatapan si protagonis belakangan ini terasa lebih menusuk dari biasanya.

Mungkin dia tidak tahan dengan fakta bahwa bukan hanya adik kelas manisnya, tapi senior yang bisa diandalkannya pun akrab dengan Reo Ibuki.

Yah, aku bisa mengerti perasaannya. Kalau informasinya saja, itu hampir seperti dikhianati.

Meskipun begitu, aku terkejut mendengar hubungan dengan Noa juga tidak berjalan baik.

Berbeda dengan di game, mereka tidak punya pengganggu sepertiku.

Aku pikir mereka akan langsung jadian dan menikmati masa muda, tapi ternyata dunia nyata itu sulit, ya.

"Itulah alasannya mengapa sulit untuk mengandalkannya saat ini. Kau paham?"

"......Iya paham. Tapi, memangnya aku perlu? Kalau ada Ketua, sebagian besar pria bisa kau banting, kan?"

"Begitu ya. Kalau begitu, berarti kau tidak keberatan kalau di acara itu aku digoda atau semacamnya, kan?"

"............!"

"Padahal kau begitu mengkhawatirkanku, bahkan sampai bertengkar untuk melindungiku... ah, begitu ya. Belakangan ini kau sedang mabuk kepayang dengan adik kelas yang manis itu, ya. Sayang sekali. Aku akan mencari pertemuan yang berharga sendiri."

"......Cara bicaramu terlalu buruk."

"............Kalau begini, kau mau ikut, kan?"

Shiori menatapku dengan wajah puas. Shiori memang hebat, dia pasti bisa membanting sebagian besar orang bodoh.

Tapi, Shiori sangat lemah kalau soal godaan. Bisa dibayangkan betapa mudahnya dia hanyut.

...Jangan-jangan ini flag baru? Ada kemungkinan flag baru tercipta karena Shiori tidak jadi keluar sekolah setelah aku mencegah bad ending-nya, lalu Nanami datang berkonsultasi.

Mengingat sifat game ini, aku takut sekali memikirkan apa yang akan terjadi setelah itu.

Nanami juga, tapi satu lagi adalah Shiori yang punya reputasi paling membuat mual di game ini. Bisa jadi masalah besar...

"......Baiklah. Aku akan ikut apa pun yang terjadi."

"Hmm... begitu ya. Terima kasih."

Mendengar kata-kataku, Shiori mengangguk dengan sangat bahagia. Wajahnya juga terlihat agak merah.

"............Terus, ini apa?"

Setelah urusan Nanami selesai untuk sementara, aku menunjuk kotak persegi panjang yang diletakkan di depanku dan bertanya pada Shiori.

"Ah... itu telur gulung. Buatan sendiri."

"Kenapa telur gulung?"

"Sudah, makan saja. Biarkan aku dengar komentarmu soal rasanya."

"......Baik."

Aku membuka kotak itu karena didesak Shiori. Di dalamnya tertata rapi telur gulung yang terlihat cantik, dan aku pun mencoba memakannya.

"............Bagaimana?"

Shiori menanyakan rasanya dengan cemas. Terhadap Shiori yang seperti itu, aku mengungkapkan perasaan jujurku.

"Enak banget...!"

"So-sokah. Syukurlah."

Pokoknya enak. Rasa manis yang pas ini luar biasa. Selain itu, aku tidak pernah menyangka bisa memakan masakan Shiori. Ternyata usahaku selama ini terbayar sudah.

"............Itu, kalau Ibuki-kun tidak keberatan, apa mau kubuatkan bekal setiap hari?"

"Eh... serius!?"

"Iya... itu, aku membuatnya setiap pagi jadi... menambah satu porsi lagi... tidak masalah."

"Serius... tapi aku tidak bisa menerimanya cuma-cuma... tolong biarkan aku membelinya!"

"Fufu... membelinya, barang yang tidak semahal itu. Jangan dipikirkan."

"Tidak, aku tetap memikirkannya! Jadi tolong biarkan aku membayarnya!"

"............Benar-benar, dasar orang aneh."

Begitu tahu bisa memakan bekal buatan Shiori, semangatku langsung meledak.

Yah, habisnya mau bagaimana lagi! Itu masakan heroine kesukaanku dari game yang kumainkan! Tidak mungkin bisa kuterima cuma-cuma begitu saja!

"Baiklah. Kalau begitu aku akan meminta harga yang pantas."

"Siap! Terima kasih!"

Negosiasi dengan Shiori berhasil dengan gemilang, dan aku kembali menggerakkan sumpit untuk memakan sisa telur gulungnya.

Lalu...

"Shiori-senpai. Apa ada di dalam?"

"!!"

Suara pria terdengar dari balik pintu ruang OSIS.

Suara ini... kemungkinan besar si protagonis, Kaede. Shiori sepertinya menyadari hal itu dan menjadi sangat panik.

"A-ah, ya! Ada! Tapi bolehkah aku meminta kau menunggu sebentar!?"

Shiori segera menarik tanganku dan berbicara dengan suara pelan.

"Tolong. Sembunyilah di bawah mejaku bersama barang-barangmu. Kalau kau dan dia bertemu di sini sekarang, bakal jadi masalah besar."

"......Baik."

Aku juga ingin tahu keadaan Kaede saat ini. Untuk kali ini, aku akan menurut saja.

"Maaf! Menunggu lama!"

Shiori membuka pintu dengan tangannya sendiri untuk menyambut Kaede meski terlihat sedikit berantakan.

"Tidak, sama sekali tidak... ngomong-ngomong, Shiori-senpai. Soal Ibuki, apa kau sudah mempertimbangkannya kembali?"

Ternyata dia datang untuk membicarakan soal aku. Rajin sekali kau.

"......Mempertimbangkan kembali atau apa, pendapatku cuma satu. Dia bukan orang jahat seperti itu. Setidaknya sekarang."

"Kalau begitu beri tahu aku alasannya! Akari maupun Shiori-senpai... kalian tidak memberitahu alasan detilnya, tapi bilang Ibuki tidak jahat... aku tidak bisa mempercayainya!"

"Kalau alasan, bukankah sudah kukatakan? Aku memintanya, dan setelah berbicara dengannya, aku memutuskan begitu. Tidak ada hal istimewa. Benar-benar hanya itu."

Ya jelaslah mereka berdua tidak mungkin bisa bilang alasan detilnya.

Bahwa aku menolongnya saat dia hampir diserang pria, dan sebagainya.

Tidak mungkin ada cerita semulus itu. Terutama Akari, kalau dia mengatakannya, dia juga harus menjelaskan kronologi sampai di titik itu.

Apalagi atmosfer dari Kaede sekarang terasa seperti, meski diceritakan pun dia tidak akan percaya.

Namun, dari sudut pandang Kaede, itu masalah yang cukup sulit. Semoga saja pembicaraannya selesai dengan damai tanpa ada pilihan yang salah...

"......Tapi Shiori-senpai pasti tahu, kan? Soal perkelahian yang terjadi di dekat sini tempo hari. Aku dengar ada beberapa siswa kita di sana."

"Ya, aku dengar dari Ayah."

"Kalau begitu apa kau tahu ini? Katanya penyebab perkelahian itu adalah Ibuki."

"......Heh, baru dengar itu."

Aku pun baru mendengarnya. Yah, karena aku yang memancingnya, jadi tidak sepenuhnya salah sih.

"Senpai bilang dia sudah berubah, tapi... nyatanya dia masih berkelahi! Pasti alasannya konyol! Dia tidak berubah sedikit pun! Akari dan Shiori-senpai sekarang pasti cuma dibohongi, dan nanti pasti akan diserang oleh dia—"

"Dengar, Kaede-kun."

Ah, dia marah. Nada suaranya menjadi rendah dan dingin.

"Aku mengerti kau mencemaskan kami. Terima kasih. Aku menghargainya. Tapi... untuk hari ini, jangan bicarakan hal yang tidak perlu lagi. Kalau tidak, aku akan mengubah penilaianku terhadapmu."

Menakutkan. Kalau aku yang digituin oleh Shiori dengan nada bicara seperti itu, aku pasti sudah menangis.

"Ta-tapi............"

"……Tentu saja, ucapanmu ada benarnya. Aku pun sudah menyelidiki masa lalunya. Dia hidup dalam perkelahian dan jarang sekali masuk sekolah. Memang benar, dia seorang berandalan. Tapi, bagaimana dengan dirinya yang sekarang? Dia rajin masuk sekolah dan nilainya pun tidak buruk. Berdasarkan apa yang kudengar, perkelahian tempo hari itu dilakukannya demi melindungi seorang siswi."

"……Ta-tapi! Gadis yang dilindunginya itu pun pasti hanya..."

Ah, sial...

"Bukankah sudah kukatakan untuk jangan bicara?"

"Eh……"

Ini gawat. Pilihan kata-katanya benar-benar salah.

"……Aku mengira kau adalah pria yang bisa melihat inti dari seseorang tanpa terpaku pada penampilan atau rumor buruk. Ternyata, pandangan itu hanya berlaku saat kau berhadapan dengan lawan jenis saja."

"B-bukan begitu, aku hanya... memikirkan kalian berdua..."

"Memikirkan? Memangnya kenapa? Bukankah ada Mizukami Noa di sisimu? Apa kau punya waktu luang sampai harus mencampuri urusan kami?"

"Noa dan aku tidak memiliki hubungan seperti itu..."

"Begitu ya. Jadi kalian tidak memiliki hubungan seperti itu. Padahal kalian selalu menghabiskan waktu bersama dengan sangat akrab. Mengejutkan sekali. Kalau begitu, izinkan aku mengatakan ini juga. Hubunganku denganmu pun tidak seperti itu. Mulai hari ini, dan detik ini juga. Jadi, jangan pedulikan aku lagi."

"Eh…… tidak, aku……"

"Jika kau sudah bicara baik-baik dengan Ibuki-kun dan menyadari bahwa dia bukan orang yang sama dengan yang dulu, lalu kau masih punya hal yang ingin dikatakan, silakan datang lagi. Saat itu, aku akan mendengarkan pendapatmu."

"……Ah…… to-tolong tunggu. Aku yang salah. Jadi──"

"Kau lupa menggunakan bahasa sopan, ya. Aku ini seniormu. Berhati-hatilah."

Setelah mengatakannya, Shiori membanting pintu ruang OSIS. Kaede tidak mencoba membuka pintu itu lagi, dan tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki berat yang menjauh.

"……Haaaaah."

Shiori menghela napas panjang yang jarang ia lakukan, lalu berjongkok di tempatnya. Dia baru saja melontarkan kata-kata yang cukup kejam kepada pria yang seharusnya dia sukai. Pasti sangat menyakitkan baginya.

"……Apa itu tidak terlalu berlebihan?"

"Aku tahu... aku tahu, tapi... aku benar-benar tidak bisa menahannya..."

Aku berjongkok di samping Shiori yang tampak terpuruk, lalu mencoba menghiburnya.

"Mau bagaimana lagi. Pria memang seperti itu. Kami selalu punya bias tersendiri terhadap wanita. Lagipula, rumor buruk tentangku sampai tahun lalu pun bukan kebohongan. Wajar kalau dia mengkhawatirkan ketua."

"Aku juga tahu soal itu. Tapi, masalahnya adalah..."

"Karena kau pernah jatuh cinta, dampaknya jadi lebih besar, kan?"

"Apa……!? Sampai sejauh mana kau mengetahui semuanya..."

"Melihat ketua, entah kenapa aku jadi tahu saja..."

"……Aku tidak bisa menang melawanmu."

"……Tidak juga, kok."

Setelah itu, kami menghabiskan waktu dengan santai di ruang OSIS sampai Shiori pulih dari keterkejutannya.

Dua hari setelahnya, sepulang sekolah. Di sebuah kafe di depan stasiun, aku duduk berhadapan dengan dua orang gadis.

"Karena kalian berdua satu kelas, mungkin sudah tahu, tapi izinkan aku memperkenalkannya lagi. Ini Kinoshita Nanami. Teman berhargaku."

"……mo-mohon bantuannya…… ya."

"Salam kenal juga……"

Orang yang menunduk malu-malu saat diperkenalkan oleh Shiori adalah heroine tipe otaku, Kinoshita Nanami. Dia memiliki dada yang luar biasa yang tampak kontras dengan rambut poni panjang dan kacamata kusamnya. Ini pertama kalinya kami bicara dengan benar. Seperti saat dalam perjalanan ke sini, Nanami jelas terlihat takut padaku. Apakah kami bisa mengobrol dengan normal dalam kondisi seperti ini?

"Nah, Nanami. Pria ini adalah teman berhargaku, Ibuki Reo. Wajahnya memang seram, tapi aslinya dia sangat baik, jadi tenang saja."

"Ti-tidak takut, kok! Ah…… maaf…… suaraku tadi terlalu keras……"

"……Aku sudah tidak peduli lagi soal itu. Tidak perlu disembunyikan."

"Eh,…… tidak, tapi…………"

"Lihat kan. Dia sangat baik, bukan?"

Entah kenapa Shiori terlihat bangga dan tersenyum lebar. Dia pun mulai memastikan rencana kami menggantikan kami yang kesulitan bicara.

"Nah, Ibuki-kun. Bagaimana, apa kau bisa ikut di hari H?"

"……Aku bisa ikut."

"Nanami juga. Bagaimana menurutmu?"

"A-aku………… anu…… kalau itu keputusan Shiori-chan……"

Shiori mengedikkan bahu mendengar jawaban ragu-ragu Nanami, lalu menatapku lagi.

"Hei, Ibuki-kun. Ada satu permintaan lagi."

"Apa itu?"

"Masih ada waktu sampai hari H. Bisakah kau lebih mengakrabkan diri dengan Nanami sampai saat itu tiba?"

"Eh!?!?"

Mendengar usulan mendadak Shiori, Nanami yang sedari tadi meringkuk bereaksi lebih dulu dariku.

"A-apa yang kau katakan, Shiori-chan!? Itu…… pasti merepotkan baginya!"

"Tenanglah dulu, Nanami. Kecilkan suaramu dan cobalah untuk lebih tenang."

"A,………… maaf……"

Karena Nanami berteriak cukup keras, pengunjung dan pelayan kafe lainnya pun mulai menatap kami. Menyadari hal itu, Nanami kembali meringkuk dan diam dengan wajah yang memerah padam.

"Nah, seperti itulah keadaannya. Kalau begini, mungkin kita tidak bisa menikmati acaranya dengan maksimal. Jadi, aku ingin kau berteman akrab dengan Nanami."

"Aku sih tidak masalah, tapi……"

"Terima kasih. Oh, satu lagi."

Shiori tiba-tiba berdiri, lalu pindah duduk di sampingku. Dia berbisik tepat di telingaku agar tidak terdengar oleh Nanami.

"Jujur saja, aku ingin memanfaatkan kesempatan ini agar dia memiliki ketahanan terhadap pria."

"……Sudah kuduga."

"Fufu…… kau hebat sekali."

Memikirkan kembali kejadian ini, sebenarnya tidak ada alasan kuat bagiku untuk ikut serta. Jadi, masuk akal jika dia punya maksud lain.

Namun lebih dari itu…………!!

"……Ada apa? Telingamu merah sekali?"

"Tidak………… ini hanya……"

Aku tidak bisa menahan reaksi saat mendengar bisikan suara rendah Shiori di dekat telingaku. Setiap kali napasnya menyentuh telingaku, rasanya merinding. Hanya dengan duduk di samping Shiori saja sudah membuat jantungku berdebar kencang, apalagi saat dia membisikiku. Sungguh hadiah yang luar biasa.

"Oh…… apa kau malu? Padahal aku pikir kau sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Ternyata kau benar-benar adik kelas yang manis."

"……Tentu saja aku akan malu jika didekati wanita cantik seperti ketua. Kau menganggapku apa?"

"!? ……O-oh, begitu ya…… maaf."

Tubuh Shiori tersentak sejenak, lalu dia segera beranjak dari sampingku dan kembali ke kursinya seolah melarikan diri.

"Ya, yah. Begitulah. Iya. Jadi, kalian berdua harus akrab, ya!"

Shiori yang wajahnya memerah berusaha menutup pembicaraan dengan paksa, dan akhirnya hari itu kami bubar.

"Meski dibilang begitu…………"

Keesokan harinya. Aku yang diberi tugas sulit oleh Shiori hanya bisa bergumam pelan di sela pelajaran sambil mengamati Nanami yang duduk di depanku.

Kalau aku mencoba menyapanya di kelas, pasti akan menjadi keributan besar. Sudah pasti Nanami akan panik dan Kaede akan segera datang menyerbu.

Kalau begitu, hanya ada satu cara. Aku akan menyelesaikan tugas yang diberikan ini dengan baik. Jika tidak, aku bisa membayangkan Shiori terus menceramahiku. Dia pasti akan melakukannya.

Maka dari itu, sepulang sekolah, aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan sekolah untuk pertama kalinya. Perpustakaan itu sepi, dan karena luasnya yang lumayan, suasananya terasa sangat lengang.

Namun, kalau Nanami, dia pasti akan ada di sini setiap pulang sekolah sebelum liburan musim panas. Dia pasti sedang membaca buku di tempat yang tidak mencolok………… pasti……

"………………"

Aku tanpa sadar terpaku. Padahal aku sudah tahu dia ada di sini, dan aku tahu dia sebenarnya cantik, tapi pikiranku tetap membeku sesaat.

Dengan poni yang biasanya menutupi wajah kini tersibak ke samping, wajah sampingnya saat membaca buku dengan punggung tegak terlihat sangat cantik. Sulit dipercaya bahwa dia adalah orang yang sama dengan yang panik kemarin. Penampilannya sangat berbeda dari ujung rambut hingga wajahnya. Kalau boleh bicara jujur, rasanya seperti gaya gambarnya pun berbeda. Dia berada di dimensi yang berbeda dari kami.

Saat aku menatap Nanami dalam mode "si cantik" seperti ini, aku teringat sebuah ulasan yang merangkum inti dari rute Nanami.

Menurut penulis ulasan tersebut, "Rute Nanami adalah yang paling menyakitkan. Aku jadi ingin menangis saat teringat masa lalu."

Sabtu, 3 Agustus

Nama Event: "Malaikat yang Duduk di Samping Kita"

Target Heroine: Kinoshita Nanami



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close