Chapter 2
Heroine yang Kalah dalam Pertarungan Ingin
Diawasi
Suci, Benar, dan Indah. Itu adalah motoku.
Memiliki ayah dan ibu seorang polisi, aku bertekad sejak
kecil untuk menjadi polisi yang hebat seperti mereka berdua, dan aku terus
berusaha keras demi mencapai impian itu.
Saat
masuk SMA, aku langsung bergabung dengan OSIS seperti saat SMP dulu.
Aku
berjuang keras agar bisa menjadi teladan bagi seluruh siswa dan bekerja dengan
serius agar bisa sedikit membantu semua orang.
Mungkin
berkat itu, aku berhasil meraih posisi ketua OSIS dengan perolehan suara telak
yang tak tertandingi.
Memang
ada banyak orang di sekitar yang membenciku karenanya, tapi aku tidak sedikit
pun menyesali jalan hidupku.
Hingga
suatu hari. Menjelang libur musim semi kelas dua, aku bertemu dengannya.
"Ah, maaf!
Kamu tidak apa-apa!?"
"Tidak...
ini kelalaianku. Maaf."
Hari itu, aku
sedang sibuk mengurus persiapan pertandingan kelas.
Mungkin karena
sedikit kelelahan, aku tak sengaja menabrak seorang adik kelas saat sedang
membawa tumpukan dokumen.
Dia mengulurkan
tangan saat aku terduduk di lantai, lalu membantu memunguti dokumen itu, bahkan
membawanya sampai ke ruang guru.
Meskipun aku
sudah berulang kali meyakinkan bahwa aku baik-baik saja, anak laki-laki itu
tetap tidak mau mendengarku. Sejak saat itu, dia sering membantuku dalam
pekerjaan.
Hari-hariku
terasa lebih segar. Bagiku yang sejak dulu selalu ditakuti dan dijauhi oleh
lawan jenis, dia memperlakukanku tanpa rasa takut sama sekali.
Adik kelas itu
bernama Kaede Miyano, dan dia sering kali menghampiriku untuk memulai
percakapan. Bagi aku yang belum pernah akrab dengan anak laki-laki seusia,
kehadirannya mulai menjadi sandaran hatiku.
...Terus terang
saja, sepertinya aku menyukainya.
Meski aku tidak
paham soal cinta, setidaknya aku bisa mengerti hal itu.
Tapi, dia
memiliki teman masa kecil yang sangat akrab dengannya. Melihat bagaimana mereka
berdua saat bersama, aku bisa mengerti. Mereka pasti memiliki hubungan spesial
seperti itu.
Kalau begitu, aku
harus mundur. Dan aku akan memperbaiki sekolah ini agar mereka bisa menjalani
kehidupan SMA yang lebih baik. Itu adalah misi yang dibebankan padaku sebagai
ketua OSIS... itulah yang kupercaya.
"Permisi
Ketua... ada hal yang ingin kubicarakan..."
"Kamu ini...
ah, kalau denganku, silakan bicara apa pun."
Pertengahan bulan
Juni.
Aku disapa oleh
seorang siswi kelas dua.
Aku sudah
mengenalnya, dia adalah siswa yang pernah kutindak tegas karena melanggar
aturan sekolah.
Sekarang,
dia mengenakan seragam dengan rapi dan tidak ada pelanggaran aturan yang bisa
ditemukan.
"Itu...
aku yang dulu kan memang begitu? Jadi aku berkumpul dengan orang-orang seperti
itu... Setelah dimarahi Ketua, aku berniat untuk berubah! Aku ingin memutuskan
hubungan dengan mereka... tapi saat aku mencoba bicara, mereka malah
mengancamku... lalu..."
Siswi itu
menceritakan kejadian yang menimpanya sambil menangis.
Kisah yang sangat
kejam.
Mereka menyerang
temannya sendiri, bahkan meminta uang... tindakan itu benar-benar di luar batas
kemanusiaan.
"...Akan
kusampaikan pada orang tuaku. Mereka pasti akan bertindak."
"Itu...
tidak boleh! Soalnya... keluargaku, itu... hanya ada Ibu, ya, yang
disebut single mother. Padahal sudah membuat Ibu susah sebelumnya, kalau
sampai jadi urusan polisi karena masalah ini..."
"Tapi..."
"Tolong! Bantu aku, Ketua! Aku diancam harus datang
lagi minggu depan! Aku takut... tapi
aku tidak bisa melawannya...! Hiks..."
Pasti itu
pengalaman yang sangat menakutkan baginya. Hanya mengingatnya saja, air mata
sudah hampir tumpah. Jika
aku tidak menolongnya, anak ini akan terus disiksa dengan kejam.
"Hah...
mengertilah. Lawannya hanya satu... kan?"
"Iya.
Sendirian. Tapi aku tidak bisa melakukan apa pun..."
"............!"
Hanya seorang
laki-laki.
Dengan teknik
bela diri yang diajarkan Ayah dan dasar Judo yang kupelajari sejak kecil, aku
pasti bisa mengatasinya meski lawannya laki-laki.
Berdasarkan
ceritanya, lawannya juga hanya siswa biasa.
Dia tidak membawa
senjata tajam atau semacamnya.
"...Serahkan
padaku. Aku pasti... akan menyelamatkanmu!"
"...Ah,
...terima kasih! Ketua kita memang bisa diandalkan!"
Benar. Aku adalah
ketua OSIS sekolah ini.
Bagaimana bisa
aku yang bercita-cita menjadi polisi tidak bisa menyelesaikan masalah seperti
ini?
Lagipula, aku
sudah memutuskan untuk berusaha lebih keras demi Kaede-kun, bukan?
Apa gunanya ketua
OSIS jika tidak bisa menyelesaikan masalah sendiri tanpa mengandalkan orang
lain?
Selama ini aku
selalu melakukannya sendiri. Ke depannya pun pasti...
"Menangis
demi dikasihani... otakmu lemah sekali ya."
Di tengah
kesadaranku yang memudar, kudengar suara siswi yang meminta tolong padaku.
Kalau tidak
salah, dia memanggilku ke taman ini, dan aku bertemu dengan pria yang katanya
mengancamnya. Lalu...
"Hei...
bagaimana dengan wanita ini?"
"Hmm...
orang tua si jalang ini kan polisi..."
"Oi, oi, kau
bawa orang yang merepotkan ya... yah, sudahlah. Lagipula, boleh diapa-apain
kan? Sayang sekali kalau punya barang bagus begini tapi cuma dilihat
saja."
"...Itu
benar juga. Kalau terjadi apa-apa, kan ada undang-undang perlindungan
anak~"
Pria dan wanita
itu berbincang dengan gembira.
Selain mereka
berdua, ada beberapa pria lain di sekitar, dan aku yang tidak bisa bergerak
hanya bisa dipandangi oleh pria-pria itu...
"............Jangan
terlalu mudah percaya pada orang ya? Ketua OSIS kita yang terhormat!"
Entah karena
sedang melarikan diri dari kenyataan, di tengah kesadaranku yang perlahan
menjauh, hal terakhir yang kudengar adalah suara siswi itu yang sedang
menertawakanku.
Seperti itulah, event
Shiori ini adalah salah satu yang paling kejam di antara semua heroine.
Saat pertama kali
melihatnya, aku cukup terguncang. Karena itulah, bad ending
Shiori harus dicegah dengan cara apa pun.
Memikirkan hal
itu pada hari Jumat, 21 Juni.
Aku melangkah ke
ruang OSIS saat istirahat siang, persis seperti yang diperintahkan.
"Jadi? Apa
yang mau dibicarakan?"
"....Sepertinya
akhir-akhir ini kau punya adik kelas yang sangat akrab denganmu, ya?"
"Ah...
maksudmu Akari?"
"Benar.
Sampai minggu lalu kau tidak menunjukkan gelagat seperti itu... sebenarnya apa
yang terjadi?"
Begitu ya. Jadi
ini soal kecurigaan bahwa aku mengancam Akari dan melakukan ini-itu.
Yah, wajar saja kalau dicurigai begitu. Semoga saja bisa
kubohongi...
"Waktu nonton pertandingan bisbol kemarin, kami
kebetulan duduk bersebelahan, lalu langsung nyambung."
"............Begitu
ya."
Alasan ini sudah
kupikirkan bersama Akari. Meskipun Akari sendiri bersikeras, "Senpai harus
menyebarkan kebaikanmu!" dan butuh waktu hampir satu jam untuk
membujuknya.
Nah, semoga saja
ini bisa meyakinkannya...
"............Mengerti.
Maaf sudah mencurigaimu."
"Ah,
iya."
Wah, sekali
tebas. Ternyata dia memang tidak cocok menangani masalah seperti ini. Dia
terlalu mudah mempercayai perkataan orang.
"Yah,
penampilanku memang seperti ini. Jangan dipikirkan."
"A-aku tidak
bermaksud menilai orang dari penampilannya..."
Menahan keinginan
untuk bertanya "Kalau begitu kenapa kau menanyakannya?", aku beralih
ke pertanyaanku sendiri.
"Ngomong-ngomong,
Ketua. Akhir-akhir ini apa tidak ada orang yang datang berkonsultasi? Misalnya
siswi kelas dua."
"............Tidak
ada."
"Begitu
ya..."
Sudah kuduga
hasilnya nihil, Shiori tidak menjawabku. Tapi dari ekspresinya, terlihat jelas
rasa cemas dan amarah.
Tangannya
bergetar, dan matanya yang tadi menatapku lurus-lurus sekarang justru memandang
ke arah yang tidak relevan.
"Itu saja
yang ingin kau tanyakan?"
"Ya. Cuma
itu saja."
"....Begitu
ya. Maaf sudah menyita waktumu."
Shiori
menundukkan kepala dan menyuruhku keluar. Aku pun memegang gagang pintu ruang
OSIS, lalu menyampaikan kata-kata terakhir padanya.
"Jangan
terlalu mudah percaya sama orang."
"............Apa
maksudmu?"
"Tidak ada.
Hanya ingin bilang kalau dunia ini tidak semuanya diisi oleh orang keren dan
hebat sepertimu."
Aku mengutip
dialog wanita itu di dalam game, lalu segera meninggalkan ruang OSIS.
"Nah..."
Ada dua hal utama
yang harus kulakukan sekarang.
Pertama. Mencegah
kejadian itu terjadi.
Ini yang
paling penting. Tingkat kekejaman pelakunya berbeda dengan kasus Akari.
Kalau sampai
terlambat menolong, semuanya akan sia-sia. Jangan sampai event-nya
terjadi.
Kedua. Memastikan
Shiori tidak tahu bahwa aku terlibat. Ini memang hanya spekulasi, tapi... aku
berpikir hubungan tak lazim antara aku dan Akari saat ini terjadi karena dia
tahu aku yang menolongnya.
Dengan kata lain,
ini juga bagian dari verifikasiku. Kalau sampai ketahuan... yah, ini Shiori,
pasti bisa kubohongi dengan mudah.
Jadi, untuk saat
ini mari cari pelakunya.
Bagaimana cara
mencari wanita yang di dalam game hanya dianggap sebagai karakter figuran tanpa
wajah itu?
Selama beberapa
hari terakhir, meski disibukkan oleh Akari, aku terus mencari petunjuk, tapi
sama sekali tidak ada tanda-tanda.
Lagipula, tidak
ada yang mau bicara denganku. Kalau begini, penyelidikan pun tidak berjalan.
Saat sedang
bingung begitu dalam perjalanan pulang dari ruang OSIS, seorang siswi
menghampiriku seolah sudah menungguku.
"Hei, kau.
Tadi bicara dengan wanita itu kan?"
"Wanita
itu?"
"Tidak usah
pura-pura bodoh. Itu lho, ketua OSIS yang cerewet itu."
"Ah...
begitu ya."
Ada pepatah
"Itik yang membawa daun bawang di punggungnya"—mungkin itu kata yang
tepat untuk situasi saat ini.
Kemungkinan
besar, dialah wanita yang menjadi sumber segala masalah.
"Iya, tadi
aku habis diceramahi."
"Menyebalkan
banget, ya. Sok berkuasa... Aku
tahu reputasimu. Kita ada di pihak yang sama."
"............Kurasa
begitu."
Itu cerita
beberapa waktu lalu. Tapi, reputasi buruk itu pun akan kupakai untuk
memanfaatkannya.
"Tadi kami
berencana menghancurkan si ketua itu. Kau mau ikut?"
"....Menarik.
Ngomong-ngomong, apa yang dia lakukan padamu?"
"Eh... tidak
ada, cuma menyebalkan saja kan? Apa salahnya datang ke sekolah pakai makeup?
Mentang-mentang
cantik dia sok berkuasa. Menyebalkan, kan?"
Hanya
itu...
Hanya karena
alasan sepele begitu Shiori sampai...!
"............Iya... memang menyebalkan."
Aku berusaha menahan amarah dan setuju dengan pendapat gadis
sampah ini. Kalau saja memukul wanita ini di sini bisa menyelesaikan segalanya,
aku akan melakukannya dengan senang hati.
Tapi kalau sampai
melakukan itu, aku tidak akan bisa menghindari skors. Memikirkan sikap Reo
Ibuki selama ini, bukan tidak mungkin aku dikeluarkan. Bagaimana jika masalah
lain terjadi saat aku tidak ada?
"............Kapan
eksekusinya?"
"Wah, cepat
tanggap ya. Minggu depan kami akan memancingnya ke taman tengah malam... lalu
kami akan menahannya dan memaksanya masuk ke mobil... sisanya ya mengalir saja.
Nanti kuteriaki lokasi dan waktunya minggu depan. Sampai jumpa."
Wanita yang
terlihat sombong itu pergi sambil tertawa.
Seperti yang
dideskripsikan di dalam game, mereka ini menganggapnya hanya sebagai permainan.
Mereka
mengancam orang yang tidak disukai, memeras uang, dan menghancurkan fisik
maupun mental korbannya.
Kalau pun
tertangkap polisi, orang-orang seperti ini tidak akan pernah berubah. Tapi, itu
bukan alasan untuk memaafkan orang jahat saat ini.
Gara-gara
mereka, aku berkali-kali merasakan niat membunuh yang tak tersalurkan di setiap
route Shiori yang gagal. Bersamaan dengan dendam di kehidupan
sebelumnya... biarkan aku mengamuk sepuasnya.
Lalu, Kamis, 27
Juni. Di sebuah taman saat tengah malam.
"Ah, halo,
Reo-kun."
Aku datang ke
taman yang sepi itu sesuai instruksi wanita tersebut.
"Aku
sempat khawatir kau tidak datang? Soalnya kudengar akhir-akhir ini kau jadi
pendiam."
"....Kalau
bisa membuat wanita itu kesakitan, tentu saja aku datang."
"Benar
juga sih. Dia memang menyebalkan banget."
Tawa menyebalkan
wanita itu bergema di kepalaku. Aku ingin sekali memukul wajahnya sekarang
juga.
Menahan perasaan
itu dalam-dalam, aku menyapa para pria yang ada di sekitarnya.
"Halo, salam
kenal."
"Oh. Tadi
dia sudah cerita. Katanya kau sering main perempuan ya?"
"Nanti
perkenalkan teman kencanmu dong!"
"....Akan
kupikirkan."
Mereka
tertawa-tawa sambil meneriakkan hal-hal yang tidak penting.
Sekilas ada lima
orang. Mungkin ada orang lain di dekat mobil yang terparkir, tapi... paling
cuma satu atau dua orang.
Mereka semua cuma
pengecut yang tidak bisa berbuat apa-apa kalau tidak bergerombol.
"Ngomong-ngomong,
masih ada waktu sampai ketua OSIS datang, kan?"
Aku memastikan
kembali waktu kedatangan Shiori pada wanita itu.
"Iya.
Rencananya aku yang akan menjemputnya saat dia sampai di stasiun dekat sini,
jadi semua aksinya baru dimulai setelah ada kabar."
"Oke... jadi
sampai saat itu kita senggang ya. Hei, tidak ada video menarik gitu?"
Kali ini aku
mencoba menyapa pria yang sepertinya pemimpin mereka. Pria itu mulai
mengoperasikan ponselnya dengan wajah bodoh sambil menyeringai.
"Hehe...
ternyata benar rumornya. Oke, kulihatkan yang spesial buatmu."
Meski baru
pertama bertemu, dia langsung mengabulkan permintaanku.
Apa aku memang
terlihat seperti orang jahat?
Atau mereka
memang bodoh karena tidak memikirkan kemungkinan terburuk? Yah, tidak masalah.
Semuanya akan kupakai.
"Rekomendasinya
ini nih. Padahal dia sempat melawan keras, tapi itu yang malah bikin
bergairah!"
"Paham,
paham! Saat menangis itu yang paling enak ya!"
"............Orang
ini, kenalannya siapa?"
Video di
ponsel itu adalah neraka yang membuatku mual. Benar saja, ini bukan pertama kalinya. Mereka
selama ini menggunakan cara yang sama untuk menyerang orang.
"Eh... siapa
ya?"
"Wali kelas
kita. Dia menyita ponselku jadi aku kesal..."
"Benar,
benar. Dia kan punya banyak uang!"
...Ternyata
benar, mereka adalah berandalan sampah persis seperti di dalam game. Untung
saja mereka dengan rajin merekam perbuatannya sendiri di ponsel, jadi aku tidak
perlu repot mencari bukti.
Saat aku
sedang memastikan perbuatan mereka, wanita yang terlihat kesal itu berteriak
padaku.
"....Lagipula,
kok tidak ada kabar! Jangan-jangan dia tidak datang! Menyebalkan sekali!"
"Hah?
Benarkah? Memangnya dia tipe yang begitu... oi, coba telepon dia."
Pria yang
diduga pemimpin itu berlari ke arah wanita tadi, dan mereka berdua mulai
berdiskusi tentang apa yang harus dilakukan. Sepertinya Shiori tidak akan
datang ke tempat ini. Syukurlah dia percaya padaku.
"Yah,
yah, jangan panik begitu..."
"Tidak,
tidak, untuk apa kita datang ke sini kalau—"
Saat aku mencoba
mengajak pemimpin pria itu untuk tenang, dia justru menunjukkan kemarahannya.
Kemarahan yang egois sekali, tapi... mumpung suasananya pas, biarkan aku
luapkan saja sekalian.
"Heh.
Tenanglah...!!"
BUAGHH!!
"Gahh...!?"
Aku mencengkeram
kepala pria itu, dan dengan tenaga seolah ingin meremukkan tengkoraknya,
kubenturkan kepalanya ke wajahnya.
Suara dentuman
tumpul bergema di taman malam hari, pria pemimpin itu jatuh ke tanah dengan
darah mengalir dari hidungnya. Anggota lainnya juga tertegun, tidak memahami
situasi.
"A-apa yang
kau lakukan, hah..."
Wanita itu
ketakutan melihat tindakanku yang tiba-tiba, lalu terduduk di tanah.
"Hah? Apa
yang kulakukan, kau tanya? ...Aku cuma tidak suka saja. Kalian bergerombol menyerang yang
lemah... pasti menyenangkan ya. Kalian ini."
Sudah
sampai titik ini, tidak perlu lagi menahan diri. Aku bisa merasakan rasa
frustrasi yang selama ini kupendam meledak sekaligus. Biar aku mengamuk sampai polisi datang.
"Ayo... maju
kalian para sampah lemah. Kalian ini sampah yang tidak bisa apa-apa tanpa
bergerombol."
"Kau
ini...!!"
"Sialan!
Hei! Serang semuanya!"
Aku memancing
mereka sejelas mungkin. Empat orang yang tersisa menyerangku karena marah. Aku
belum pernah berkelahi melawan banyak orang sekaligus. Tapi kepalaku sangat
dingin.
Bagaimanapun
juga, diriku yang sekarang adalah...
"Maju,
sampah sekalian. Akan kupastikan kalian tidak akan bisa menggunakan barang
kecil kalian itu lagi."
Antagonis
terkuat. Karena akulah Reo Ibuki.
"Nah...
bagaimana rasanya? Wanita jalang."
"Jangan
bunuh aku... berhenti..."
Setelah
membereskan keempat pria itu tanpa masalah, yang tersisa hanyalah wanita sumber
masalah ini.
"...Kukira
menangis saja cukup? Sudah berapa banyak orang yang meminta maaf pada kalian
sampai sekarang?"
"Aku juga...
diancam sama mereka..."
Mungkin alasannya
masuk akal. Tapi aku tahu.
Wanita ini dan
pemimpin itu adalah kenalan lama. Sejak dulu, dia sering menipu orang yang
tidak disukainya, lalu membiarkan kelompok ini menyerang mereka.
Setelah
itu, dia mengancam korbannya dan memeras uang. Benar-benar sampah.
Itu semua
adalah isi cerita di route Shiori. Event di dalam game ini bisa
dihindari dengan menaikkan affinity Shiori dan mendengar cerita
konsultasi wanita ini.
Tapi
wanita ini tidak menyerah untuk menjatuhkan Shiori, dan akhirnya akan menyerang
Shiori dengan menyandera Kaede yang sudah berpacaran dengan Shiori.
Masih
banyak hal lain, tapi... jika Shiori sampai diserang, ujungnya cuma satu.
Keluar
dari SMA, menghilang tanpa jejak, dan suatu hari di berita...
"...Aku
ini penganut kesetaraan gender, tahu."
Mengingat
berbagai hal itu saja membuat amarahku meluap.
"Ber...
henti..."
Saat aku
mencengkeram kerah bajunya dan hendak meninju wajahnya sekuat tenaga,
samar-samar sudut mulut wanita itu melengkung. Kenapa dia tersenyum di situasi
begini...
"──Ugh!?"
Tiba-tiba
sengatan listrik merambat ke tubuhku.
Sesuatu
ditekan ke pinggangku, dan dampak yang hampir membuat kesadaranku hilang
merambat ke seluruh tubuh, membuatku jatuh tertelungkup.
"Hahaha!
Bodoh sekali! Sok keren!"
Bukan dia
yang tertawa yang melakukan ini. Kalau begitu...
"............Ternyata
cukup cepat, ya, bangunnya..."
"Jangan
terlalu meremehkan orang... kalau begitu caranya, kau akan merasakan
akibatnya..."
Pemimpin
yang seharusnya sudah kukalahkan berdiri di belakangku dengan alat kejut
listrik di tangan.
"Eh,
dia tidak pingsan? Dia benar-benar monster!"
"Oi,
bagaimana ini? Biarkan saja dia di sini?"
"Bilang
saja dia tiba-tiba cari gara-gara! Hei, bangunkan mereka yang tidur, ayo
kabur!"
Sial.
Gagal di saat terakhir. Aku tidak boleh berurusan dengan polisi di tempat
seperti ini. Kalau sampai
terjadi, Shiori pasti akan...!
"Apa yang
kalian lakukan di sana."
Saat aku berusaha
keras menggerakkan tubuh sambil memikirkan tragedi Shiori yang akan terjadi,
suara yang kukenal bergema di taman yang seharusnya hanya ada kami. Suara
wanita yang rendah, berwibawa, dan keren.
"............Kenapa...
kau bisa ada di sini..."
Bukan seragam biasanya. Ketua OSIS kita, Shiori Fujita, yang
mengenakan jersey putih yang terlihat pas di tubuhnya, menatap kami
dengan tajam.
"....Ternyata
kau datang ya. Karena tidak ada kabar, kukira kau membatalkan janji."
"Itu
salahku. Banyak hal terjadi. Dan sekali lagi kutanyakan... apa sebenarnya yang
kalian lakukan?"
Kelompok sampah
itu menghela napas malas atas pertanyaan Shiori, dan wanita itu memberi
instruksi pada pria itu dengan wajah terpaksa.
"Kalau
begini caranya, pakai kekerasan saja."
Atas aba-aba
wanita itu, pria itu menjauh dariku dan mendekati Shiori sambil tetap memegang
alat kejut listrik.
"Bodoh...
lari...! ...!"
"Tidak
kusangka kau sampai terikat dengan ketua OSIS... sebagai tanda terima kasih
sudah berbuat semaumu, saksikanlah dia dihancurkan di barisan depan, syukuri
itu!"
"............"
Shiori
tidak gentar melihat pria yang mendekat, dia hanya menatap sesuatu dengan
tenang.
"Hah...
payudara besar yang sia-sia... sepertinya menyenangkan untuk dihancurkan!"
"....Ada
apa? Kau sendiri, apa masa pertumbuhanmu belum tiba? Kau terlihat sedikit lebih
pendek dariku. Kalau dilihat dari situ... huh. Pasti sangat kecil ya?"
"............Sialan
kau!!"
"Shiori...!...!!"
Hanya sesaat.
"Hup!!"
Saat pria yang
berang itu menyerang, Shiori merendahkan posisi tubuhnya dengan cepat dan
menerjang ke arah lawan.
Detik berikutnya,
tubuh pria itu melayang di udara, dan dengan suara keras, dia dibanting ke
tanah dengan punggungnya.
"Gah...!"
"Eh...
bohong..."
"Dia
tidak mati kan..."
Bantingan satu
arah yang luar biasa, seolah dampaknya terasa sampai ke sini. Pria yang dibanting ke tanah itu
sepertinya benar-benar pingsan kali ini.
"Aku
belajar bela diri dari Ayah, dan belajar Jiu-jitsu sejak kecil. Tidak mungkin
aku kalah dari berandalan sepertimu."
Melihat
Shiori yang bahkan mengucapkan dialog kerennya, aku benar-benar melupakan
kecemasanku tadi, dan malah mengucapkan kesan yang tidak pada tempatnya pada
sosoknya yang indah itu.
"............Keren
banget."
"....Sekarang,
jelaskan padaku."
Setelah
membanting pemimpin kelompok itu, Shiori berjalan ke arahku yang sedang
terbaring, lalu bertanya pada wanita itu dengan tenang. Wanita itu panik, dan menunjuk ke arahku.
"I-ini...
ini dia!! Sebenarnya dia yang mengancamku!!"
Mana mungkin
kebohongan seperti itu bisa dipercaya di situasi begini—
"Apakah
begitu, Ibuki-kun?"
"Mana
mungkin!! Kau bodoh ya!?"
Karena terlalu
terkejut dengan Shiori yang sangat polos, aku tanpa sadar berteriak. Shiori
yang terlihat tenang mulai terkikik.
"Maaf.
Bercanda."
"Bukannya
waktu yang tepat buat bercanda..."
Shiori pasti
sudah tenang karena bisa bercanda di situasi begini. Aku yang panik malah
terlihat seperti orang bodoh.
"Kalian
ini dari tadi... sial... jangan mendekat!! Aku akan membunuh orang ini!!"
Berlawanan
dengan Shiori yang tenang, wanita sampah ini menaiki punggungku dan mulai
mengancam dengan menodongkan pisau yang disembunyikannya ke leherku.
"....Begitu
katanya, Ibuki-kun. Apa kau butuh bantuan?"
"....Ketua
OSIS yang merepotkan."
"Hah? Kalian
dari tadi sok sekali... tunggu, eh!?"
Saat aku
berteriak pada Shiori tadi, aku menyadari tubuhku sudah bisa bergerak.
Aku mengangkat
tubuh bagian atasku sekaligus untuk menepis wanita yang masih mengira aku tidak
bisa bergerak dan menodongkan pisau dengan tangan gemetar.
"Aduh... eh,
ah..."
Aku berdiri
dengan tenaga itu, dan menendang pisau yang dijatuhkan wanita itu ke arah
Shiori.
"Apa masih
ada barang lagi yang keluar dari saku kebanggaanmu itu?"
"....Sialan..."
Bersamaan dengan
sumpah serapah wanita itu, terdengar suara mobil berhenti di dekat taman.
Tak lama kemudian
beberapa polisi datang, dan aku dimarahi karena harus menjelaskan apa yang
terjadi.
Yah, karena aku
masih segar bugar di sini dan wajahku terlihat seperti berandalan, mau
bagaimana lagi.
Menurut polisi,
ada laporan tentang perkelahian di taman ini.
Aku
sendiri memang ada urusan dengan polisi. Mari jawab pertanyaan mereka dengan tenang.
Aku sudah
memastikan bahwa ada banyak bukti tak terbantahkan bahwa mereka adalah
kriminal. Kalau beruntung, mereka bisa ditahan dalam beberapa hari.
Karena itulah,
saat aku melewati Shiori untuk masuk ke mobil polisi bersama pria-pria yang
pingsan dan wanita sampah itu, Shiori berbisik padaku.
"Istirahat
siang hari Senin. Tunggu di ruang OSIS."
"............"
Semoga aku bisa
masuk sekolah hari Senin nanti. Pikirku, tapi aku tidak mengucapkannya, dan
tanpa menjawab, aku dibawa ke pos polisi terdekat.
Senin, 1
Juli. Di depan ruang OSIS.
"Senpai! Aku
menunggu di sini, ya! Kalau ada apa-apa, teriak saja!"
"Iya,
iya..."
Aku dibebaskan
dengan sangat mudah, hal yang cukup mengejutkan, dan aku bisa kembali ke
sekolah dengan lancar saat awal minggu.
Aku juga sudah
menceritakan kepada polisi tentang perbuatan mereka. Aku pikir bakal ada
penjelasan mendetail dan semacamnya, tapi ternyata itu hanya menyita waktu hari
Jumatku sepenuhnya.
Namun, karena aku
tidak masuk sekolah di hari Jumat, Akari sangat mencemaskanku. Bahkan sekarang,
dia masih membuntutiku sampai ke depan ruang OSIS.
"Permisi."
"Oh. Apa kau
sudah mendapatkan izinnya?"
Saat aku masuk ke
ruang OSIS, Shiori yang sedang duduk di kursi paling ujung sambil bekerja,
bertanya padaku sambil menyeringai.
"Hanya
kompromi saja. Jadi, persingkat saja pembicaraannya."
"Mengerti.
Kalau begitu, langsung saja..."
Shiori
menghentikan pekerjaannya, lalu berdiri dan menghampiriku. Dia menatap wajahku,
sempat melamun sejenak, lalu bergumam dengan suara pelan.
"............Ternyata
kau memang tinggi. Padahal aku merasa cukup percaya diri dengan tinggi
badanku."
"............Apa
itu yang ingin kau bicarakan?"
"Ah,
tidak... uhuk!"
Wajahnya sedikit
memerah. Setelah pura-pura batuk, Shiori membungkuk dalam-dalam padaku.
"Terima
kasih. Sudah menolongku."
"......Maksudnya
apa? Justru aku yang
ditolong."
Setidaknya
aku mencoba mengelak dengan formalitas. Tapi, karena dia sudah bisa datang ke TKP saat itu, kurasa dia sudah tahu
garis besarnya. Jadi, ini hanyalah cara untuk menyembunyikan rasa malunya.
Waktu sedikit
mundur ke hari Kamis, 27 Juni, saat jam istirahat siang. Itu adalah hari
terjadinya keributan di taman. Pada hari itu, aku sedang membicarakan soal
wanita itu dengan Shiori.
"Yo."
"......Apa?
Kau lagi? Ada apa?"
Aku sengaja
melangkah ke lantai kelas tiga, mencarinya di tengah tatapan tajam orang-orang,
lalu menyapanya.
"Minggu
lalu, kau sempat dikonsultasikan oleh Kakizaki, kan?"
"......Aku
tidak tahu siapa itu."
Kakizaki adalah wanita itu. Mendengar namanya disebut,
Shiori terlihat sangat terguncang. Apalagi
saat itu, Shiori tampak sangat kelelahan, dan aku tidak bisa merasakan aura
wibawanya yang biasa.
"Sebenarnya,
aku dan dia cukup akrab. Aku
juga sempat dikonsultasikan. Katanya dia diancam oleh pria dari masa
lalunya."
"............"
Shiori sepertinya
terkejut karena informasi yang seharusnya hanya diketahui dirinya tiba-tiba
keluar dari mulutku. Dia mendengarkan ceritaku dalam diam.
"Lalu,
katanya masalah itu sudah selesai. Katanya pria itu ditangkap karena kasus
lain... dia kelihatan senang sekali karena sudah bebas."
"............Begitu
ya."
"Jadi sudah
tidak apa-apa. Katanya dia bakal sibuk untuk sementara, jadi lain kali dia akan
datang berterima kasih padamu."
Itu adalah
kebohongan yang sangat mudah terbongkar. Tapi aku pikir Shiori akan percaya
dengan hal sesederhana itu... ternyata aku terlalu meremehkannya.
Hasilnya, Shiori
malah terseret ke dalam masalah, dan dia pasti tahu kalau aku berusaha
menyelesaikannya di balik layar. Memalukan sekali.
Lalu hari ini.
Untuk mengonfirmasi hal tersebut, aku menerima ajakan Shiori.
"......Kurasa
aku perlu mengubah penilaianku tentangmu. Kau adalah orang yang cerdas, berani,
dan baik hati. Aku tidak tahu apa yang membuatmu berubah sampai sejauh ini,
tapi... apa kau mendapatkan pertemuan yang berharga?"
"............Terima
kasih."
Dia melirik pintu
ruang OSIS sambil tersenyum.
Sepertinya dia
salah paham akan sesuatu, tapi kalau aku bilang ini karena ingatanku di
kehidupan sebelumnya, dia pasti tidak akan percaya. Jadi, membiarkannya tetap
seperti ini adalah jalan yang paling aman.
Meski begitu, aku
hanya menggunakan pengetahuan game dan tubuh pinjaman ini, jadi rasanya geli
sekali saat dipuji terang-terangan seperti ini. Aku merasa seolah sedang
melakukan sesuatu yang buruk.
"Aku minta
maaf atas ketidaksopananku selama ini. Benar-benar minta maaf—"
Aku memegang bahu
Shiori yang hendak membungkuk lagi untuk menghentikan permintaan maafnya.
"......Sebagai
ketua OSIS, kau hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Jangan
dipikirkan. Jadi... jangan minta maaf."
"............Se-sebenarnya."
Shiori yang
dihentikan untuk tidak membungkuk tiba-tiba mulai bertingkah canggung. Apa ada
sesuatu yang sulit dia katakan?
"Alasannya
aku mencurigaimu adalah... itu, lebih sebagai urusan pribadi daripada sebagai
ketua OSIS..."
"......Maksudnya?"
"............Tolong
jangan sampaikan ini pada yang bersangkutan, tapi sebenarnya ada siswa bernama
Kaede M... Miyano di kelas yang sama denganmu, kan? Aku diminta oleh
Miyano-kun. Katanya,
ada berandalan yang mengganggu teman adiknya akhir-akhir ini. Dia memintaku
untuk melakukan sesuatu..."
"............Hahhh..."
Lagi-lagi
dia. Kenapa setiap kali namanya muncul, citranya langsung jatuh? Selesaikan saja sendiri! Karena begitulah,
heroine-nya jadi direbut orang lain, tahu!
"Tolong
jangan berpikir buruk tentangnya. Awalnya, itu salahku yang langsung
menyetujuinya tanpa berpikir panjang. Lain kali, akan kubicarakan dengannya
agar dia mengubah penilaiannya terhadapmu."
"......Aku
tidak apa-apa. Tidak kupikirkan, kok."
"Ta-tapi..."
"Daripada
itu, boleh aku bertanya sesuatu?"
"......Ah,
tanyakan saja sepuasnya."
Aku memotong
pembicaraannya dan mulai bertanya. Kalau aku terus mendengarkan cerita tentang
protagonis lembek itu, aku bakal kesal sampai rasanya ingin memukul orang saat
melihatnya nanti.
"Pertama,
kenapa kau datang ke tempat itu?"
"......Beberapa
hari lalu, aku mendapat saran dari seseorang. Katanya, 'Jangan terlalu mudah
percaya pada orang'."
"Begitu
ya..."
"Orang itu
bersikap kasar, tapi sebenarnya di dalam hatinya dia selalu memikirkan orang
lain..."
"Iya, iya,
tidak perlu dilanjutkan."
Ternyata
penyebabnya adalah omonganku yang tidak perlu hari itu. Tapi berdasarkan logika
itu...
"Jadi,
kata-kata 'jangan percaya pada orang' itu malah kau percayai, ya."
"..................Hm?"
Aku
sengaja menjahilinya dengan argumen berbelit. Shiori memiringkan kepalanya,
berpikir sejenak, lalu berteriak dengan wajah yang memerah padam.
"......Jangan-jangan
kau membohongiku!?"
"Pfft...!
Apa maksudmu membohongi...!?"
Shiori
menanggapinya dengan serius dan malah menjadi panik dengan kesimpulan anehnya
sendiri. Lucu sekali sampai aku tidak tahan untuk tertawa.
"Habisnya...
kau yang bilang jangan percaya..."
"Iya, iya,
maaf ya. Terima kasih sudah mempercayai kata-kataku dan mencurigaiku."
"......I-iya? ......Iya?? Te-terima kasih
kembali??"
Aku bisa melihat tanda tanya yang melayang-layang di atas
kepalanya. Shiori memang sangat lemah dalam percakapan seperti ini. Ditambah
dengan celah antara sikapnya yang biasa, dia terlihat sangat manis.
"Satu lagi.
Apa kau baik-baik saja?"
"A-ah, iya! Aku baik-baik saja!"
"......Apa
kau sudah melapor ke polisi?"
"............Tidak
tahu."
Kepanikannya tadi
hilang entah ke mana. Saat aku menanyakan hal utama, ekspresinya langsung
menjadi serius. Aku pikir bisa menanyakannya sambil lalu, tapi... dia memang
sulit ditaklukkan.
"Aku tidak
tahu, tapi orang tuaku adalah polisi. Mereka punya posisi yang cukup
berpengaruh. Dan di rumah kami, membicarakan soal sekolah saat sarapan adalah
rutinitas. Ah, ya, sepertinya hari itu aku sempat menceritakan tentang teman
baru yang kudapat."
"Ternyata
kau licik juga, ya."
"............Tidak
tahu."
Aku bisa
merasakan sisi Shiori yang sesuai umurnya dan ketangguhannya yang khas, hal
yang tidak bisa kurasakan di dalam game. Saat ini, aku bisa menghabiskan waktu
yang sangat berharga. Hanya itu saja sudah membuat usahaku selama ini terbayar—
"Senpai! Jam
istirahat!! Sudah selesai!!!!"
Di tengah suasana
yang bagus itu, Akari yang keberadaannya sudah benar-benar kulupakan,
menggedor-gedor pintu dengan keras.
"Fufu.
Terlalu banyak membuang waktu, ya. Sebaiknya kau segera pergi."
"......Iya,
akan kulakukan."
Saat aku memegang
gagang pintu untuk kembali ke Akari yang tidak masuk ke dalam karena sopan,
Shiori memanggilku lagi.
"Ah, benar,
Ibuki-kun. Bolehkah aku meminta satu hal terakhir?"
"Singkat
saja."
"Gunakan
bahasa sopan. Aku ini seniormu."
Aku tidak
menggunakan bahasa sopan pada Shiori karena itu adalah bagian dari roleplay
diriku sebagai berandalan bernama Reo Ibuki... dan jujur saja, kalau
menggunakan bahasa sopan, aku takut sifat asliku akan keluar. Tapi...
"............Baiklah."
"Ya,
bagus."
Aku yang
memutuskan dalam sekejap bahwa tidak mungkin bisa membujuk Shiori di saat
seperti ini, akhirnya memilih untuk dengan patuh menjadi adik kelasnya.
"Senpai,
Senpai. Katakan 'aah'!"
"Berhenti.
Makan sendiri, jangan memaksanya padaku."
"Aku tidak
memaksanya~! Aku cuma pikir Senpai mungkin mau paprika!"
"......Kalau
begitu terus, kau tidak akan tumbuh besar selamanya."
"!?!?"
"Kalian
berdua benar-benar sangat akrab, ya..."
Beberapa hari
setelahnya saat jam istirahat. Kami memutuskan untuk menghabiskan waktu di
ruang OSIS.
Alasannya satu.
Sudah jelas, cuacanya sangat panas.
Tidak tahan. Tapi
kalau berbicara dengan Akari di kelas, tatapan orang-orang di sekitar sangat
mengganggu, jadi sebagai jalan terakhir aku memohon pada Shiori untuk
meminjamkan ruang OSIS.
"Ketua
OSIS... Senpai... Senpai melakukan hal kejam padaku..."
"Bukannya
aku hanya mengatakan hal yang wajar?"
"Benar kata
Senpai, Akari-chan. Makanlah sayur dengan benar. Kau masih dalam masa
pertumbuhan, kalau nutrisinya cukup, Ibuki-kun pasti akan jatuh cinta
padamu."
"Jatuh
cinta..."
"Jangan
masukkan hal aneh ke kepalanya..."
Aku belum
pernah melihat interaksi mereka berdua di game. Jadi aku sempat bertanya-tanya
akan jadi seperti apa, tapi untungnya mereka langsung akrab.
"Aku... akan
membuat Senpai jatuh cinta padaku! Nyam... huuu, pahit..."
"Iya, iya,
pintar."
"......Ngomong-ngomong,
Ibuki-kun. Apa isi bekal yang kau makan itu? Katanya nutrisi segala macam."
"Ini
bekal minimarket."
Apa
salahnya dengan bekal minimarket? Praktis dan enak. Bukankah ini makanan serba guna yang nutrisinya
juga cukup?
"......Apa
orang tuamu sibuk di pagi hari?"
"Ah...
sekarang aku tinggal sendiri."
"Eh!?
Senpai tinggal sendiri!?"
"Ada
beberapa hal yang terjadi."
Katanya
hubungan Reo Ibuki dengan orang tuanya tidak baik.
Jadi
setelah masuk SMA, dia langsung memutuskan untuk tinggal sendiri.
Tapi bukan karena
dia bekerja paruh waktu, dia hidup dari kiriman uang bulanan.
Karena dia bisa
hidup tanpa bekerja, bisa dipahami kalau kiriman uang dari rumah itu sangat
besar.
Reo-lah yang
membenci orang tuanya sepihak, sementara orang tuanya tetap memikirkan Reo
nomor satu.
Untuk
menggantikan Reo yang sedang dalam masa pemberontakan itu, akulah yang
berterima kasih pada orang tuanya.
Bahkan aku sudah
bilang kalau kiriman uangnya tidak perlu, aku bisa hidup dengan kerja paruh
waktu. Tapi orang tua Reo malah menangis bahagia dan justru menambah jumlah
uangnya.
"Begitu
ya... tinggal sendiri..."
Entah kenapa
Shiori tiba-tiba mulai berpikir dalam. Alurnya aneh.
Jangan-jangan dia
merencanakan sesuatu? Akari yang melihat itu sepertinya berpikiran sama, dia
mulai mengintimidasi Shiori.
"Ketua OSIS! Jangan macam-macam, ya! Senpai! Ini punya aku!!"
"Bukan
punyamu."
"Ah, iya
benar... tapi di saat yang sama, kau juga adik kelasku yang manis."
"Tolong
hentikan sebutan 'manis'."
"Hmm...
dasar manja... aku setiap pagi menyiapkan pakaian dalam untuk Senpai—"
"Berhenti,
berhenti!! Oi!!!!"
Aku menutup mulut
Akari yang hampir mengucapkan hal gila.
Akari sempat
meronta-ronta sebentar, tapi perlahan wajahnya justru berubah menjadi nyaman.
"Y-ya,
sudahlah... selera orang kan beda-beda. Ya... akan kuanggap aku tidak
mendengarnya..."
"Bukan
begitu... bukan seperti itu..."
Reaksiku
malah membuat Shiori semakin yakin kalau ucapan Akari itu benar, dan dia
menatap kami dengan jijik.
"Mufu... Aww!?"
Aku melepaskan tanganku dari mulut Akari yang terlihat
sombong, lalu memberinya chop sebagai hukuman.
Saat kami sedang menikmati masa muda yang konyol namun
memuaskan ini, tiba-tiba pintu ruang OSIS diketuk.
"Permisi.
Apa Ketua Fujita ada?"
"Ya. Tunggu
sebentar."
Saat mendengar
suara wanita di balik pintu, Shiori memasang wajah mode kerja, lalu membungkuk
pada kami.
"Maaf.
Sepertinya ada tamu. Aku akan keluar."
"......Tidak,
kami saja yang keluar. Ayo, jalan, Sera."
"Oke!"
Awalnya kami memang meminjam tempat ini secara ilegal. Sisa
waktunya akan kuhabiskan dengan tenang di depan pintu atap sekolah.
"Kami permisi."
"Permisi!"
"Hikk...!?"
Saat kami berdua keluar dari ruang OSIS, orang yang berdiri
di depan pintu adalah Kinoshita Nanami, seorang gadis otaku berkacamata
yang satu kelas denganku dan merupakan salah satu heroine. Tidak bisa dihindari, dia terlihat sangat
ketakutan padaku.
Tapi yah, sudah
terlanjur. Tidak perlu dipikirkan. Aku meminta maaf karena mengejutkannya, lalu
berjalan menuju atap.
"Senpai."
Sesampainya di
depan atap, Akari menegurku dengan wajah cemberut.
"Kenapa?"
"Tadi
melihat dadanya, ya."
"Tidak
melihat."
"Melihat!"
Yah,
tidak bisa dihindari, kan? Secara praktis, aku sudah pernah melihat Nanami
telanjang. Kalau kau membayangkan dada sebesar itu ada di depan mata, tentu
saja kau akan melirik sedikit.
"Ketua OSIS
juga dadanya besar... kalau aku..."
Bukan berarti
dada Akari kecil. Hanya saja orang lain terlalu besar. Kalau standar dunia
nyata, ukuran Akari itu normal. Untuk menyemangati Akari yang sedang sedih, aku
mengusap kepalanya dan menyapa.
"Sera juga
manis kok, jadi tenang saja."
"Fuhii...
hehehe. Lagi..."
Mungkin dia
merasa sangat lega, wajah Akari benar-benar meleleh, dan dia membiarkanku terus
mengusap kepalanya seperti anak anjing untuk beberapa saat.
"Permisi."
"Selamat
datang... eh? Akari-chan mana?"
"......Mungkin
sekarang dia sedang diseret ke ruang guru."
Senin, 8 Juli,
jam istirahat siang. Hari
ini aku datang sendirian ke ruang OSIS.
Di jalan aku
bertemu Akari, tapi dia diseret oleh guru wali kelasnya entah karena apa. Apa
yang dia lakukan anak itu?
"Begitu ya.
Baiklah, maaf mendadak, tapi Ibuki-kun. Apa kau luang akhir pekan ini?"
"Akhir
pekan? Mungkin luang sih..."
Saat aku duduk di
tempat biasa dan mengeluarkan bekal minimarket, Shiori tiba-tiba membuka
pembicaraan.
"Sebenarnya
ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu."
Setelah
mengatakan itu, Shiori berdiri dan meletakkan kotak persegi panjang misterius
di atas meja, lalu kembali ke kursinya seolah tidak terjadi apa-apa dan mulai
berbicara.
"Kali ini
konsultasinya datang dari seseorang yang punya hubungan sedikit dekat
denganku... tapi hanya dengan kemampuanku saja, rasanya jauh dari penyelesaian.
Itulah sebabnya aku ingin mengandalkanmu. Kau yang baik hati dan sangat bisa
diandalkan."
"......Tidak
perlu begitu. Langsung ke intinya saja."
Aku jadi
malu saat dibilang bisa diandalkan dan baik hati. Untuk menutupi rasa maluku,
aku mendesaknya agar langsung ke inti masalah. Shiori tersenyum
"Fufu" dan melanjutkan ceritanya.
"Akhir
pekan ini libur panjang, kan? Katanya ada acara cosplay
bertepatan dengan itu. Pengaju
konsultasi ini sangat ingin datang ke acara itu, tapi dia takut jika pergi
sendirian. Jadi dia mengandalkanku... tapi dia juga butuh bantuan tenaga pria.
Bagaimana menurutmu?"
"............Begitu
ya."
Orang yang
berkonsultasi ini 99 persen adalah Kinoshita Nanami.
Aku teringat dia
sempat mengunjungi ruang OSIS Senin lalu, dan aku merasa pernah mendengar alur
cerita yang mirip di dalam game.
Karena
akhir-akhir ini terlalu sibuk, aku lupa kalau ini sudah waktunya event
Nanami. Event Nanami itu... berat sekali, ya.
Meskipun tidak
membuat mual seperti Shiori atau Akari, tapi ada beban berat yang berbeda.
"Yah, secara
pribadi bagiku tidak masalah. Tapi, bukankah sedikit meragukan apakah pengaju
konsultasi itu bisa menerima aku atau tidak?"
"Soal itu kau tidak perlu khawatir. Aku yang akan
membujuknya. Bahwa kau adalah orang yang sangat luar biasa."
"Kuharap ocehan itu bisa dipercaya... tapi jujur saja,
itu Nanami, kan? Teman
sekelasku."
"......Memang
Ibuki-kun. Kau bisa menebak sampai sejauh itu."
"Kalau
Nanami, bukannya masih ada pria lain yang lebih cocok? Misalnya Miyano yang kau
kenal."
"Miyano-kun,
ya. Aku sempat memikirkannya, tapi..."
Begitu aku
menyebut nama si protagonis, Shiori langsung memasang wajah masam.
"Belakangan
ini dia agak kacau. Penyebabnya mungkin karena aku membicarakan tentangmu.
Beberapa hari lalu, aku sempat membujuknya bahwa kau tidak seburuk itu, tapi
malah menjadi bumerang. Apalagi, katanya hubungannya dengan Mizukami-san juga
tidak berjalan baik. Katanya beberapa waktu lalu mereka sempat
bertengkar..."
"Begitu ya,
ternyata ada kejadian seperti itu..."
Ternyata itu
alasannya kenapa tatapan si protagonis belakangan ini terasa lebih menusuk dari
biasanya.
Mungkin dia tidak
tahan dengan fakta bahwa bukan hanya adik kelas manisnya, tapi senior yang bisa
diandalkannya pun akrab dengan Reo Ibuki.
Yah, aku bisa
mengerti perasaannya. Kalau informasinya saja, itu hampir seperti dikhianati.
Meskipun
begitu, aku terkejut mendengar hubungan dengan Noa juga tidak berjalan baik.
Berbeda
dengan di game, mereka tidak punya pengganggu sepertiku.
Aku pikir mereka
akan langsung jadian dan menikmati masa muda, tapi ternyata dunia nyata itu
sulit, ya.
"Itulah
alasannya mengapa sulit untuk mengandalkannya saat ini. Kau paham?"
"......Iya
paham. Tapi, memangnya aku perlu? Kalau ada Ketua, sebagian besar pria bisa kau banting, kan?"
"Begitu
ya. Kalau begitu, berarti kau tidak keberatan kalau di acara itu aku digoda
atau semacamnya, kan?"
"............!"
"Padahal
kau begitu mengkhawatirkanku, bahkan sampai bertengkar untuk melindungiku...
ah, begitu ya. Belakangan ini kau sedang mabuk kepayang dengan adik kelas yang
manis itu, ya. Sayang sekali. Aku akan mencari pertemuan yang berharga sendiri."
"......Cara
bicaramu terlalu buruk."
"............Kalau
begini, kau mau ikut, kan?"
Shiori menatapku
dengan wajah puas. Shiori memang hebat, dia pasti bisa membanting sebagian
besar orang bodoh.
Tapi, Shiori
sangat lemah kalau soal godaan. Bisa dibayangkan betapa mudahnya dia hanyut.
...Jangan-jangan
ini flag baru? Ada kemungkinan flag baru tercipta karena Shiori
tidak jadi keluar sekolah setelah aku mencegah bad ending-nya, lalu
Nanami datang berkonsultasi.
Mengingat sifat
game ini, aku takut sekali memikirkan apa yang akan terjadi setelah itu.
Nanami juga, tapi
satu lagi adalah Shiori yang punya reputasi paling membuat mual di game ini.
Bisa jadi masalah besar...
"......Baiklah.
Aku akan ikut apa pun yang terjadi."
"Hmm...
begitu ya. Terima kasih."
Mendengar
kata-kataku, Shiori mengangguk dengan sangat bahagia. Wajahnya juga
terlihat agak merah.
"............Terus, ini apa?"
Setelah urusan Nanami selesai untuk sementara, aku menunjuk
kotak persegi panjang yang diletakkan di depanku dan bertanya pada Shiori.
"Ah... itu
telur gulung. Buatan sendiri."
"Kenapa
telur gulung?"
"Sudah,
makan saja. Biarkan
aku dengar komentarmu soal rasanya."
"......Baik."
Aku
membuka kotak itu karena didesak Shiori. Di dalamnya tertata rapi telur gulung
yang terlihat cantik, dan aku pun mencoba memakannya.
"............Bagaimana?"
Shiori
menanyakan rasanya dengan cemas. Terhadap Shiori yang seperti itu, aku
mengungkapkan perasaan jujurku.
"Enak
banget...!"
"So-sokah.
Syukurlah."
Pokoknya
enak. Rasa manis yang pas ini luar biasa. Selain itu, aku tidak pernah
menyangka bisa memakan masakan Shiori. Ternyata usahaku selama ini terbayar
sudah.
"............Itu,
kalau Ibuki-kun tidak keberatan, apa mau kubuatkan bekal setiap hari?"
"Eh...
serius!?"
"Iya...
itu, aku membuatnya setiap pagi jadi... menambah satu porsi lagi... tidak
masalah."
"Serius...
tapi aku tidak bisa menerimanya cuma-cuma... tolong biarkan aku
membelinya!"
"Fufu...
membelinya, barang yang tidak semahal itu. Jangan dipikirkan."
"Tidak, aku
tetap memikirkannya! Jadi tolong biarkan aku membayarnya!"
"............Benar-benar,
dasar orang aneh."
Begitu
tahu bisa memakan bekal buatan Shiori, semangatku langsung meledak.
Yah, habisnya mau
bagaimana lagi! Itu masakan heroine kesukaanku dari game yang kumainkan!
Tidak mungkin bisa kuterima cuma-cuma begitu saja!
"Baiklah.
Kalau begitu aku akan meminta harga yang pantas."
"Siap!
Terima kasih!"
Negosiasi dengan
Shiori berhasil dengan gemilang, dan aku kembali menggerakkan sumpit untuk
memakan sisa telur gulungnya.
Lalu...
"Shiori-senpai.
Apa ada di dalam?"
"!!"
Suara
pria terdengar dari balik pintu ruang OSIS.
Suara
ini... kemungkinan besar si protagonis, Kaede. Shiori sepertinya menyadari hal
itu dan menjadi sangat panik.
"A-ah,
ya! Ada! Tapi bolehkah aku
meminta kau menunggu sebentar!?"
Shiori
segera menarik tanganku dan berbicara dengan suara pelan.
"Tolong.
Sembunyilah di bawah mejaku bersama barang-barangmu. Kalau kau dan dia bertemu
di sini sekarang, bakal jadi masalah besar."
"......Baik."
Aku juga ingin
tahu keadaan Kaede saat ini. Untuk kali ini, aku akan menurut saja.
"Maaf!
Menunggu lama!"
Shiori membuka
pintu dengan tangannya sendiri untuk menyambut Kaede meski terlihat sedikit
berantakan.
"Tidak, sama
sekali tidak... ngomong-ngomong, Shiori-senpai. Soal Ibuki, apa kau sudah
mempertimbangkannya kembali?"
Ternyata dia
datang untuk membicarakan soal aku. Rajin sekali kau.
"......Mempertimbangkan
kembali atau apa, pendapatku cuma satu. Dia bukan orang jahat seperti itu.
Setidaknya sekarang."
"Kalau
begitu beri tahu aku alasannya! Akari maupun Shiori-senpai... kalian tidak
memberitahu alasan detilnya, tapi bilang Ibuki tidak jahat... aku tidak bisa
mempercayainya!"
"Kalau
alasan, bukankah sudah kukatakan? Aku memintanya, dan setelah berbicara
dengannya, aku memutuskan begitu. Tidak ada hal istimewa. Benar-benar hanya
itu."
Ya jelaslah
mereka berdua tidak mungkin bisa bilang alasan detilnya.
Bahwa aku
menolongnya saat dia hampir diserang pria, dan sebagainya.
Tidak mungkin ada
cerita semulus itu. Terutama Akari, kalau dia mengatakannya, dia juga harus
menjelaskan kronologi sampai di titik itu.
Apalagi atmosfer
dari Kaede sekarang terasa seperti, meski diceritakan pun dia tidak akan
percaya.
Namun, dari sudut
pandang Kaede, itu masalah yang cukup sulit. Semoga saja pembicaraannya selesai
dengan damai tanpa ada pilihan yang salah...
"......Tapi
Shiori-senpai pasti tahu, kan? Soal perkelahian yang terjadi di dekat sini
tempo hari. Aku dengar ada beberapa siswa kita di sana."
"Ya,
aku dengar dari Ayah."
"Kalau
begitu apa kau tahu ini? Katanya penyebab perkelahian itu adalah Ibuki."
"......Heh,
baru dengar itu."
Aku pun
baru mendengarnya. Yah, karena aku yang memancingnya, jadi tidak sepenuhnya
salah sih.
"Senpai
bilang dia sudah berubah, tapi... nyatanya dia masih berkelahi! Pasti alasannya
konyol! Dia tidak berubah sedikit pun! Akari dan Shiori-senpai sekarang pasti
cuma dibohongi, dan nanti pasti akan diserang oleh dia—"
"Dengar,
Kaede-kun."
Ah, dia
marah. Nada suaranya menjadi rendah dan dingin.
"Aku
mengerti kau mencemaskan kami. Terima kasih. Aku menghargainya. Tapi... untuk
hari ini, jangan bicarakan hal yang tidak perlu lagi. Kalau tidak, aku akan
mengubah penilaianku terhadapmu."
Menakutkan. Kalau
aku yang digituin oleh Shiori dengan nada bicara seperti itu, aku pasti sudah
menangis.
"Ta-tapi............"
"……Tentu
saja, ucapanmu ada benarnya. Aku pun sudah menyelidiki masa lalunya. Dia hidup dalam perkelahian dan
jarang sekali masuk sekolah. Memang benar, dia seorang berandalan. Tapi,
bagaimana dengan dirinya yang sekarang? Dia rajin masuk sekolah dan nilainya
pun tidak buruk. Berdasarkan apa yang kudengar, perkelahian tempo hari itu
dilakukannya demi melindungi seorang siswi."
"……Ta-tapi!
Gadis yang dilindunginya itu pun pasti hanya..."
Ah, sial...
"Bukankah
sudah kukatakan untuk jangan bicara?"
"Eh……"
Ini gawat.
Pilihan kata-katanya benar-benar salah.
"……Aku
mengira kau adalah pria yang bisa melihat inti dari seseorang tanpa terpaku
pada penampilan atau rumor buruk. Ternyata, pandangan itu hanya berlaku saat
kau berhadapan dengan lawan jenis saja."
"B-bukan
begitu, aku hanya... memikirkan kalian berdua..."
"Memikirkan?
Memangnya kenapa? Bukankah ada Mizukami Noa di sisimu? Apa kau punya waktu
luang sampai harus mencampuri urusan kami?"
"Noa
dan aku tidak memiliki hubungan seperti itu..."
"Begitu
ya. Jadi kalian tidak memiliki hubungan seperti itu. Padahal kalian selalu
menghabiskan waktu bersama dengan sangat akrab. Mengejutkan sekali. Kalau
begitu, izinkan aku mengatakan ini juga. Hubunganku denganmu pun tidak seperti
itu. Mulai hari ini, dan detik ini juga. Jadi, jangan pedulikan aku lagi."
"Eh…… tidak, aku……"
"Jika kau sudah bicara baik-baik dengan Ibuki-kun dan
menyadari bahwa dia bukan orang yang sama dengan yang dulu, lalu kau masih
punya hal yang ingin dikatakan, silakan datang lagi. Saat itu, aku akan
mendengarkan pendapatmu."
"……Ah…… to-tolong tunggu. Aku yang salah. Jadi──"
"Kau lupa
menggunakan bahasa sopan, ya. Aku ini seniormu. Berhati-hatilah."
Setelah
mengatakannya, Shiori membanting pintu ruang OSIS. Kaede tidak mencoba membuka
pintu itu lagi, dan tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki berat yang
menjauh.
"……Haaaaah."
Shiori menghela
napas panjang yang jarang ia lakukan, lalu berjongkok di tempatnya. Dia baru
saja melontarkan kata-kata yang cukup kejam kepada pria yang seharusnya dia
sukai. Pasti sangat menyakitkan baginya.
"……Apa itu
tidak terlalu berlebihan?"
"Aku tahu...
aku tahu, tapi... aku benar-benar tidak bisa menahannya..."
Aku berjongkok di
samping Shiori yang tampak terpuruk, lalu mencoba menghiburnya.
"Mau
bagaimana lagi. Pria memang seperti itu. Kami selalu punya bias tersendiri
terhadap wanita. Lagipula, rumor buruk tentangku sampai tahun lalu pun bukan
kebohongan. Wajar kalau dia mengkhawatirkan ketua."
"Aku juga
tahu soal itu. Tapi, masalahnya adalah..."
"Karena kau
pernah jatuh cinta, dampaknya jadi lebih besar, kan?"
"Apa……!?
Sampai sejauh mana kau mengetahui semuanya..."
"Melihat
ketua, entah kenapa aku jadi tahu saja..."
"……Aku
tidak bisa menang melawanmu."
"……Tidak
juga, kok."
Setelah
itu, kami menghabiskan waktu dengan santai di ruang OSIS sampai Shiori pulih
dari keterkejutannya.
Dua hari
setelahnya, sepulang sekolah. Di sebuah kafe di depan stasiun, aku duduk
berhadapan dengan dua orang gadis.
"Karena
kalian berdua satu kelas, mungkin sudah tahu, tapi izinkan aku
memperkenalkannya lagi. Ini Kinoshita Nanami. Teman berhargaku."
"……mo-mohon bantuannya…… ya."
"Salam kenal juga……"
Orang yang menunduk malu-malu saat diperkenalkan oleh Shiori
adalah heroine tipe otaku, Kinoshita Nanami. Dia memiliki dada
yang luar biasa yang tampak kontras dengan rambut poni panjang dan kacamata
kusamnya. Ini pertama kalinya kami
bicara dengan benar. Seperti saat dalam perjalanan ke sini, Nanami jelas
terlihat takut padaku. Apakah
kami bisa mengobrol dengan normal dalam kondisi seperti ini?
"Nah, Nanami. Pria ini adalah teman berhargaku, Ibuki
Reo. Wajahnya memang seram, tapi aslinya dia sangat baik, jadi tenang
saja."
"Ti-tidak
takut, kok! Ah…… maaf……
suaraku tadi terlalu keras……"
"……Aku sudah tidak peduli lagi soal itu. Tidak perlu disembunyikan."
"Eh,……
tidak, tapi…………"
"Lihat
kan. Dia sangat baik, bukan?"
Entah
kenapa Shiori terlihat bangga dan tersenyum lebar. Dia pun mulai memastikan rencana kami menggantikan
kami yang kesulitan bicara.
"Nah,
Ibuki-kun. Bagaimana, apa kau bisa ikut di hari H?"
"……Aku bisa
ikut."
"Nanami
juga. Bagaimana menurutmu?"
"A-aku…………
anu…… kalau itu keputusan Shiori-chan……"
Shiori mengedikkan bahu mendengar jawaban ragu-ragu Nanami,
lalu menatapku lagi.
"Hei,
Ibuki-kun. Ada satu permintaan lagi."
"Apa
itu?"
"Masih ada
waktu sampai hari H. Bisakah kau lebih mengakrabkan diri dengan Nanami sampai
saat itu tiba?"
"Eh!?!?"
Mendengar usulan
mendadak Shiori, Nanami yang sedari tadi meringkuk bereaksi lebih dulu dariku.
"A-apa yang
kau katakan, Shiori-chan!? Itu…… pasti merepotkan baginya!"
"Tenanglah dulu, Nanami. Kecilkan suaramu dan cobalah
untuk lebih tenang."
"A,………… maaf……"
Karena Nanami berteriak cukup keras, pengunjung dan pelayan
kafe lainnya pun mulai menatap kami. Menyadari hal itu, Nanami kembali
meringkuk dan diam dengan wajah yang memerah padam.
"Nah, seperti itulah keadaannya. Kalau begini, mungkin
kita tidak bisa menikmati acaranya dengan maksimal. Jadi, aku ingin kau
berteman akrab dengan Nanami."
"Aku sih tidak masalah, tapi……"
"Terima
kasih. Oh, satu lagi."
Shiori tiba-tiba
berdiri, lalu pindah duduk di sampingku. Dia berbisik tepat di telingaku agar tidak
terdengar oleh Nanami.
"Jujur saja,
aku ingin memanfaatkan kesempatan ini agar dia memiliki ketahanan terhadap
pria."
"……Sudah
kuduga."
"Fufu…… kau
hebat sekali."
Memikirkan
kembali kejadian ini, sebenarnya tidak ada alasan kuat bagiku untuk ikut serta.
Jadi, masuk akal jika dia punya maksud lain.
Namun lebih dari
itu…………!!
"……Ada apa?
Telingamu merah sekali?"
"Tidak………… ini hanya……"
Aku tidak bisa menahan reaksi saat mendengar bisikan suara
rendah Shiori di dekat telingaku. Setiap kali napasnya menyentuh telingaku,
rasanya merinding. Hanya dengan duduk di samping Shiori saja sudah membuat
jantungku berdebar kencang, apalagi saat dia membisikiku. Sungguh hadiah yang
luar biasa.
"Oh…… apa kau malu? Padahal aku pikir kau sudah
terbiasa dengan hal seperti ini. Ternyata kau benar-benar adik kelas yang
manis."
"……Tentu saja aku akan malu jika didekati wanita cantik
seperti ketua. Kau menganggapku apa?"
"!? ……O-oh, begitu ya…… maaf."
Tubuh Shiori tersentak sejenak, lalu dia segera beranjak
dari sampingku dan kembali ke kursinya seolah melarikan diri.
"Ya, yah. Begitulah. Iya. Jadi, kalian berdua harus
akrab, ya!"
Shiori yang wajahnya memerah berusaha menutup pembicaraan
dengan paksa, dan akhirnya hari itu kami bubar.
"Meski
dibilang begitu…………"
Keesokan
harinya. Aku yang diberi tugas sulit oleh Shiori hanya bisa bergumam pelan di
sela pelajaran sambil mengamati Nanami yang duduk di depanku.
Kalau aku mencoba
menyapanya di kelas, pasti akan menjadi keributan besar. Sudah pasti Nanami akan panik dan
Kaede akan segera datang menyerbu.
Kalau begitu,
hanya ada satu cara. Aku
akan menyelesaikan tugas yang diberikan ini dengan baik. Jika tidak, aku bisa membayangkan Shiori terus
menceramahiku. Dia pasti akan melakukannya.
Maka dari itu,
sepulang sekolah, aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan sekolah untuk
pertama kalinya. Perpustakaan itu sepi, dan karena luasnya yang lumayan,
suasananya terasa sangat lengang.
Namun, kalau
Nanami, dia pasti akan ada di sini setiap pulang sekolah sebelum liburan musim
panas. Dia pasti sedang membaca buku di tempat yang tidak mencolok………… pasti……
"………………"
Aku tanpa sadar
terpaku. Padahal aku sudah tahu dia ada di sini, dan aku tahu dia sebenarnya
cantik, tapi pikiranku tetap membeku sesaat.
Dengan poni yang
biasanya menutupi wajah kini tersibak ke samping, wajah sampingnya saat membaca
buku dengan punggung tegak terlihat sangat cantik. Sulit dipercaya bahwa dia
adalah orang yang sama dengan yang panik kemarin. Penampilannya sangat berbeda
dari ujung rambut hingga wajahnya. Kalau boleh bicara jujur, rasanya seperti
gaya gambarnya pun berbeda. Dia berada di dimensi yang berbeda dari kami.
Saat aku menatap
Nanami dalam mode "si cantik" seperti ini, aku teringat sebuah ulasan
yang merangkum inti dari rute Nanami.
Menurut penulis
ulasan tersebut, "Rute Nanami adalah yang paling menyakitkan. Aku jadi
ingin menangis saat teringat masa lalu."
Sabtu, 3 Agustus
Nama Event:
"Malaikat yang Duduk di Samping Kita"
Target Heroine:
Kinoshita Nanami



Post a Comment