Chapter 5
Penjahat Eroge Ingin Melawan Takdir
『Bertanggung jawablah』
Itu adalah kata-kata yang kuucapkan pada Shiori hari itu.
Tentu saja, aku tidak mengatakannya begitu saja.
Namun, setelah terus-menerus mengomel pada Kaede, aku sendiri justru melakukan hal yang menyedihkan dengan tidak membalas perasaan Akari.
Kalau mau mencari alasan, tidak akan ada habisnya.
Pertama, aku adalah Ibuki Reo, bukan Ibuki Reo yang asli.
Tubuh ini hanyalah pinjaman.
Selain itu, seperti yang dikatakan Sakura, jika orang lain tahu aku berpacaran dengan Ibuki Reo, pandangan mereka terhadap Akari pasti akan berubah drastis. Hal itu mungkin bisa memengaruhi masa depannya.
Dan lagi... Akari saat ini jelas sudah sangat bergantung pada eksistensi yang bernama Ibuki Reo.
Apakah karena rasa terima kasih telah diselamatkan, atau murni karena tipe wajahnya?
Atau mungkin karena aku pernah memujinya "lucu"?
Aku sendiri masih tidak tahu alasan pastinya, tapi yang jelas ini bukan perasaan cinta yang normal.
Aku terus merasa bimbang, apakah boleh memanfaatkan celah di hati seorang remaja seperti itu?
"......Nee, Senpai?"
Saat aku sedang memutar otak merespons pengakuan Akari, ia menatapku dengan wajah cemas dan bertanya.
"Apa... aku tidak cukup baik untukmu?"
"............Bukan begitu."
Ya. Bukan berarti Akari tidak cukup baik.
Akulah yang payah. Aku hanya terus mengarang alasan egois dan tidak pernah mencoba memikirkan perasaan Akari yang selalu ada di sampingku.
Sebenarnya ada banyak kesempatan jika aku ingin menjauhinya.
Aku hanya takut.
Jika aku menjauh, apa dia tidak akan melakukan hal berbahaya lagi?
Apa dia tidak akan pergi meninggalkanku?
Namun, meski begitu, aku tidak pernah berusaha melangkah lebih jauh dalam hubungan kami.
Karena kupikir jika aku menerima Akari hanya dengan alasan "terpaksa", suatu saat nanti aku pasti akan menyesalinya.
Aku terus menciptakan jalan keluar di hatiku, berpikir bahwa jika aku ingin membalas perasaan Akari, aku harus memiliki tekad yang sepadan. Hasilnya, situasi inilah yang tercipta.
"............Senpai."
Mungkin Akari juga sudah lama merasa cemas. Meskipun dia sudah memberikan banyak sinyal, aku tidak pernah bertindak.
Dia mungkin berpikir kalau dirinya tidak menarik. Itulah sebabnya dia mengajak yang lain ke kolam renang.
Jika dia membuat Nanami atau Shiori memicu insiden denganku, lalu mengajakku saat aku sudah tidak bisa menahan diri, pastinya aku akan menyerang, kan?
Sebenarnya, Akari pasti ingin bermain denganku sendirian. Meski begitu...
"......Maaf ya. Memaksamu sejauh ini."
"Ti-tidak, aku tidak merasa dipaksa..."
Akari berkaca-kaca mendengar permintaan maafku. Meskipun bentuknya agak bengkok, belum pernah ada yang mencintaiku sebesar ini sebelumnya.
"Senpai. Nee. Kumohon... cukup sekali saja... karena itu............"
Suaranya terdengar begitu pilu, jauh dari kesan ceria yang biasanya ia tunjukkan. Aku sadar benar bahwa aku telah memojokkannya hingga ke titik ini, lalu aku pun memeluk tubuh Akari yang gemetar dengan lembut.
"Senpai... jangan... jangan bersikap lembut padaku............ Kasari aku saja, tidak apa-apa. Tidak perlu memikirkanku..."
"............Aku tidak akan mengasaimu. Aku sudah memutuskan untuk menjagamu."
"Ta-tapi... tapi............"
Akari meneteskan air mata karena pelukanku. Sambil memeluknya di dada dan mengelus kepalanya yang kecil, aku menyampaikan perasaanku.
".........Aku juga menyukaimu."
"..............Eh?"
Akari bingung dan tidak bisa menerima kata-kataku yang tiba-tiba. Aku memeluknya lebih erat, lalu menyampaikan perasaanku dengan kata-kata yang pantas untuk seorang Ibuki Reo.
"Akari, jadilah milikku."
"Eh... Senpa, eh? Bohong... apakah kamu... benar-benar mau menerimaku...?"
"......Makanya, berhenti bilang 'diriku yang seperti ini'. Aku tidak akan mengatakannya dua kali, ya?"
"Eh... tapi............"
Akari masih belum bisa menata perasaannya. Dan aku sendiri, setelah mengucapkannya dengan kata-kata, tidak bisa lagi menahan apa yang selama ini kutahan.
"......Jangan komplain, ya."
"Eh, ngh...!?"
Aku mencengkeram kepalanya dan menciumnya dengan paksa.
Tentu saja, aku sendiri belum pernah berciuman, jadi ciuman itu terasa seperti anak kecil yang hanya menekan bibir dengan kuat.
"Haah... hehehe. Ciuman Senpai, payah sekali..."
"......Tadi sudah kubilang jangan komplain."
Aku merasa menyedihkan karena diejek oleh Akari yang memasang ekspresi terpesona.
Namun, Akari mendapatkan senyumnya kembali dan sekali lagi tangannya terulur ke arah selangkanganku.
"............Apakah yang di sini juga hanya besar saja tapi payah?"
"......Kau benar-benar pintar bicara ya."
"Wleee, penakut. Kalau bisa, lakukan saja kalau berani."
Aku digoda sambil dielus-elus. Aku menahan hasrat untuk menghancurkannya saat ini juga, lalu memberikan tekanan pada kepala Akari yang kugenggam erat dengan kedua tangan.
"Itaaa!?"
"Tadi sudah kubilang akan menjagamu, kan? Kalau begitu, tidak mungkin aku melakukannya di tempat seperti ini."
"Tapi..."
"Ngh!?"
"Hm? Tadi seperti mendengar sesuatu?"
"Entahlah? Mungkin di luar?"
Sambil memberikan tekanan pada kepalanya agar dia mengerti, aku menciumnya kembali.
Lagipula, ternyata pria-pria itu masih ada di sana. Aku terlalu banyak berpikir sampai lupa.
"Ngh... ......Nghhh..."
"Oke, ayo kita main slider!"
"Siap!"
Tak lama kemudian pria-pria itu pergi, dan saat merasa sudah tidak ada orang lagi, aku akhirnya melepaskan bibirku dari Akari.
"............Kamu tidak apa-apa?"
"Oh... sepertinya... aku tidak kuat... kepalaku pusing... tadi itu... luar biasa..."
"Begitu ya. Kalau begitu, mumpung tidak ada orang, kita keluar sekarang."
"Eh... padahal baru saja sampai tahap ini..."
Sambil mengelus lembut kepala Akari yang masih terlihat melayang, aku memutuskan untuk menasihatinya dengan nada yang sedikit tegas.
"Akari, apa kamu tidak bisa mendengarkan perkataanku?"
"Ah............ iya... aku dengar..."
"Bagus, anak pintar."
"Fuhehe............"
Setelah itu, kami berhasil keluar tanpa terlihat oleh siapa pun dan memutuskan untuk mencari Shiori dan yang lainnya untuk bergabung kembali, namun...
"Nee, Senpai!"
Akari menempelkan tubuhnya ke lenganku dan bertanya dengan ekspresi yang jauh lebih bahagia dari sebelumnya.
"Ayo kita main berdua saja! Di sana tidak apa-apa, kan! Ada Ketua Shiori juga!"
Aku tidak menepisnya, malah menerima Akari dan memutuskan untuk memenuhi permintaannya.
"......Nanti mereka khawatir, jadi sebentar saja, ya?"
"Iya!!"
Dengan begini, meskipun hanya sebentar, kami menikmati kencan berdua saja di kolam renang.
"Hari ini seru banget! Senpai!"
"Benar juga."
"Mumu... dia menempel lagi."
Hari yang penuh dengan berbagai kejadian akhirnya akan segera berakhir. Matahari terbenam, kami meninggalkan kolam rekreasi dan berbincang tentang hari ini sambil berjalan santai menuju stasiun terdekat.
Selama itu, Akari terus menempel erat di lenganku, bahkan Sakura yang biasanya galak pun sudah menyerah untuk menegurnya.
Aku belum memberi tahu siapa pun tentang perkembangan hubunganku dengan Akari. Sakura, Nanami, bahkan Shiori pun belum tahu.
『Aku menyukaimu』
".................."
"Ada apa, Ibuki-kun?"
"Ah, tidak..."
Setelah menjadi kekasih Akari, melihat wajah Shiori lagi membuatku teringat kata-kata hari itu.
Jika kata-kata itu bukan salah dengar, dan merupakan perasaan asli yang disembunyikan Shiori, bukankah tidak baik jika aku tidak memberi tahu hubungan kami? Aku terus memikirkannya.
"Senpai, Senpai."
Saat aku sedang bimbang, Akari di sebelahku berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar olehku.
"Istri utamanya tetap aku, kan?"
"............Apa-apaan itu."
"Jangan gitu dong... padahal tadi lagi mikirin Ketua Shiori, kan..."
"......Itu cuma perasaanmu saja."
Sepertinya Akari tahu kalau aku sedang bimbang. Meski isi bimbangku salah sangka.
"Kalau dengan Ketua, aku tidak masalah kok! Masakannya enak, dan dia baik hati."
"......Meskipun kamu tidak masalah, Ketua pasti tidak mau. Lagipula, bukan begitu masalahnya."
"Tetap saja tidak jujur ya~ uli-uli~"
Sambil menjentikkan dahi pada Akari yang menusuk-nusuk pinggangku dengan jari telunjuknya, aku memutuskan untuk bertekad.
"......Akari. Bisakah kau menjaga Kinoshita dan Sakura?"
"............Tentu saja."
Akari memberikan jempol pada arahku, lalu segera menjauh dan memotong pembicaraan di antara Nanami dan Sakura yang sedang asyik bicara.
"Nanami-senpai! Tolong ajarkan aku rahasianya juga!"
"Ra-rahasia?"
"Iya! Rahasia buah dada Nanami-senpai yang lebat itu!"
"......Aku juga ingin dengar!"
"Eh, eeh... tidak ada rahasia seperti itu..."
Shiori mencoba menolong Nanami yang wajahnya memerah karena didesak oleh duo adik kelas.
"Hei kalian berdua. Nanami sedang kesusahan—"
"Ketua. Bisa bicara sebentar?"
"..............Singkat saja."
Saat aku menyela kata-kata Shiori, dia menunjukkan ekspresi seolah sudah menyadari sesuatu, dan segera menerima ajakanku.
"Jadi, apa?"
Kami berjalan menjauh sedikit dari ketiganya yang sedang asyik mengobrol, lalu mulai bicara.
Dari ekspresinya, sepertinya Shiori sudah bisa menebak apa yang ingin kubicarakan.
"......Aku memutuskan untuk berpacaran dengan Akari."
"............Apa itu, baru sekarang?"
Shiori menjawab dengan tenang, namun tangannya mengepal erat dan gemetar halus.
"Menurutku, bukankah kalian sudah berpacaran? Bukankah itu sangat terlambat?"
"......Maaf."
Ada emosi yang mirip kemarahan di suara Shiori. Aku hanya bisa menundukkan kepala.
"Kenapa minta maaf? Bukankah itu hal yang bagus? Saling menyampaikan perasaan dan melangkah maju. Itu hal yang hebat."
"......Ketua, aku—"
"Jangan salah paham, Ibuki-kun."
Saat aku hendak memanggil Shiori, dia memalingkan muka dan berkata dengan suara yang seolah ingin mengusirku.
"Aku... membencimu. Tidak pernah masuk sekolah dengan benar, menghabiskan hari dengan bermain wanita dan berkelahi. Kamu sering dibawa ke kantor polisi karena itu, kan? Aku sudah memeriksanya, jadi aku tahu. Betapa buruknya kamu sebagai pria."
"......Begitu ya."
"Aku tidak bisa dengan mudah percaya pada berandalan kejam sepertimu. Bahkan setelah kejadian hari itu, aku masih curiga untuk sementara waktu. Itulah sebabnya aku memberi izin agar kamu bisa berada di ruang OSIS saat istirahat siang, agar aku bisa menilaimu secara langsung."
Shiori terus berbicara dengan datar. Tapi bicaranya lebih banyak dari biasanya dan sedikit cepat. Mungkin karena emosinya sedang meluap.
"Meskipun begitu, kamu justru... tidak melakukan apa-apa dan hanya menghabiskan waktu dengan senang hati. Padahal aku berniat tidak akan memberi ampun jika kamu memperlihatkan sifat aslimu sedikit saja... tapi..."
Shiori terhenti dan berhenti melangkah. Wajahnya terus menunduk, bahu dan tinjunya gemetar lebih hebat dari sebelumnya.
"............Ibuki-kun. Bahagiakanlah Akari-chan."
"Aku tahu."
"Kalau sampai kamu membuat Akari-chan menangis... aku tidak akan pernah memaafkanmu..."
"......Tentu saja."
"............Ngh...!"
Setelah menumpahkan emosinya yang rumit, Shiori berjalan cepat menjauhi kami menuju tempat Akari tanpa menatap wajahku.
Sudah cukup begini. Jika Shiori tidak menginginkannya, ini bukan masalah yang bisa kubicarakan lagi.
Dengan ini............
"Ketua...!"
"!? "
Seperti didorong oleh sesuatu, aku meraih tangan Shiori.
Aku sendiri tidak tahu alasannya.
Tapi entah kenapa, aku merasa jika aku membiarkan Shiori pergi begitu saja, sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Apa yang kau lakukan... lepaskan...!"
Shiori berusaha keras menepis tanganku.
Tapi aku mengerahkan kekuatan agar tidak melepaskannya, mencoba mencari tahu kebenaran dari firasat aneh yang kurasakan.
Aku adalah Ibuki Reo, eksistensi di pihak antagonis, dan protagonis dunia ini adalah Miyano Kaede.
Dan saat ini, Miyano Kaede mungkin sedang memasuki rute Mizukami Noa.
Dalam game itu, heroine yang tidak berada di rute utama akan direbut oleh pria lain. Itu adalah syarat mutlak yang tidak bisa dilawan dalam rute apa pun.
Kenyataannya, jika aku tidak menolong, Akari, Shiori, dan Nanami yang tidak berada di rute utama pasti akan mengalami nasib seperti di dalam game.
Seolah-olah dituntun oleh takdir yang sudah ditentukan.
Dan ini adalah hal yang terus berputar di sudut kepalaku.
Bukankah situasi saat ini, dilihat dari sisi protagonis Miyano Kaede, justru perkembangan game itu sendiri?
Heroine-heroine meninggalkan sisinya hari demi hari. Tapi yang berbeda secara krusial dari game adalah orang yang mereka tuju adalah Ibuki Reo.
Jika flag kehancuran para heroine itu sebenarnya belum patah, melainkan hanya diganti dengan konten "menjadi wanita Ibuki Reo".
Jika aku melepaskan tangan di sini, apa yang akan terjadi pada Shiori?
"......Apa-apaan baru sekarang! Sudah kubilang aku benci pria sepertimu!"
Shiori meninggikan suaranya dan melawan. Tapi jika aku melepaskan tangannya di sini, aku pasti tidak akan bisa membicarakan hal ini lagi dengannya.
Di tempat yang tidak kuketahui, mungkin dia akan menemui bad end yang tidak masuk akal dan memuakkan. Aku benar-benar tidak mau itu.
Tapi apa yang harus kukatakan?
Apa yang harus kuberitahukan padanya? "Ini adalah dunia game", tidak mungkin dia mempercayaiku.
Apakah tidak ada cara untuk melawan takdir dunia yang sampah ini dan hidup bahagia bersama Shiori?
Apakah tidak ada cara untuk menyelamatkannya ke depannya?
Pasti ada. Bukan protagonis. Karena aku adalah aku.
Cara yang hanya bisa dilakukan oleh Ibuki Reo pasti............
............Benar. Ada. Hanya satu. Cara yang hanya bisa dilakukan oleh pria seperti Ibuki Reo.
Meski rendahan, meski terburuk, tapi ini mungkin cara terbaik untuk saat ini!
"Shiori!"
"......Apa!?"
Aku memanggil nama Shiori, dalam sekejap mencengkeram kedua bahunya dan menariknya ke depanku.
Lalu, menatap mata Shiori yang tajam dan indah, aku melakukan taruhan terakhir yang sangat rakus dan egois.
"............Aku menyukaimu."
"............Jangan besar kepala. Sudah kubilang aku membencimu. Dengan cara paksaan seperti ini... dan lagi, bukankah sudah ada Akari-chan..."
"Aku juga menginginkan Shiori."
"Apa-apaan hal konyol itu... maksudku bukan soal inginkan atau tidak, tapi soal etika..."
"......Argumen seperti itu tidak penting sekarang. Bagaimana keinginanmu, Shiori?"
"Ugh... tidak... lagipula tidak mungkin ada elemen yang membuat wanita sepertiku jatuh cinta... kamu hanya mengatakannya untuk kesenangan sesaat, kan..."
Wajah Shiori memerah lebih dari sebelumnya, dia mulai terdesak oleh tekananku. Aku tidak melewatkan kesempatan itu dan terus mendesaknya.
"Masakannya enak. Wajahnya cantik. Gayanya bagus. Pintar. Fisiknya kuat. Peka. Ketat tapi baik. Sisanya............"
"......Hentikan! Aku mengerti... aku tidak mau dengar lagi..."
Shiori menutup wajah dengan kedua tangannya.
Tapi aku menarik tangannya dengan paksa dan menyerang Shiori yang wajahnya merah padam hingga hampir menangis.
"Berkencanlah denganku."
"Hah!? Tiba-tiba..."
"Dalam kencan itu, aku akan membuktikan betapa seriusnya aku menyukaimu."
"......Tidak bisa segera... setidaknya lusa..."
"Oke. Kalau begitu kita berkencan lusa."
"............Hanya sekali. Jika dalam satu kali itu perasaanku tidak berubah, lupakan pembicaraan ini."
"Aku pasti akan membuatmu menjadi milikku dalam satu kali itu."
"............Mulut besar...!"
Shiori menepis tanganku dengan sekuat tenaga, menunjuk wajahku dengan jari telunjuknya, dan menyatakan dengan bangga.
"Wanita sepertiku... tidak akan kalah oleh pria rendahan sepertimu! Bersiaplah untuk dihantam ke tanah dari punggung!"
Shiori mengucapkan kalimat yang seperti klise itu, lalu meninggalkan aku dengan momentum yang sama, mengabaikan Akari dan yang lainnya, dan berlari menuju stasiun.
"Shiori-chan!?"
"Ah, tunggu! Nanami-senpai! Pembicaraannya belum selesai!"
Nanami berlari menuju stasiun mengikuti Shiori.
Dan entah kenapa Sakura mengejarnya. Akari yang tersisa terlihat sangat senang, ia datang menghampiriku sambil bersenandung.
"Jangan-jangan ~ ditolak ~?"
"......Hanya ditangguhkan."
"Kasihan ~"
Akari berputar-putar di sekitarku sambil memprovokasi.
Apakah dia ingin bilang kalau dia senang karena saingannya berkurang?
"Memangnya Senpai masih perawan kan ~? Ciumannya juga payah ~ akhirnya tidak menyentuhku ~ malah ditolak oleh Ketua Shiori ~"
Aku sudah berusaha sekuat tenaga menahan diri, tapi dia ini... kalau itu maumu, aku punya rencana.
"............Nee Akari. Besok klub mulai jam berapa?"
"Eh? Itu... mulai siang..."
"Begitu. Kalau begitu, kita bisa banyak melakukannya."
"............Eh? Apa?"
"Latihan."
"Bukan, klub mulai siang... eh, sebentar Senpai?? Kamu dengar tidak??"
Aku mencengkeram tangan Akari yang belum mengerti maksud kata-kataku, dan mulai berjalan menuju stasiun dalam diam.
"Eh, benaran apa?? Eh??"
"............Karena aku payah."
"Ha, haa..."
"Aku ingin banyak berlatih bersamamu."
"............Eh!? Mulai sekarang!?"
Mungkin baru mengerti maksud tindakanku, Akari mulai panik.
"Kenapa? Kamu punya janji setelah ini?"
"Tidak............ tapi..."
"Begitu. Kalau begitu, hubungi orang tuamu. Bilang akan menginap di rumah teman."
"Menginap............ eh, tunggu... Senpai?"
Akari tampaknya masih belum percaya pada kata-kataku saat ini.
"Apa-apaan baru sekarang..."
"Karena karena! Karena Senpai adalah Senpai, aku pikir kamu tidak akan melayaniku untuk sementara waktu dengan berbagai alasan... tadi pun aku ditolak..."
"Itu, seperti yang kukatakan tadi, secara akal sehat tidak mungkin kita melakukannya di toilet umum. Lagipula tidak ada kondom."
"Ko-............!?"
Setelah melakukan hal seperti itu padaku, dia masih malu soal kondom. Sudah terlambat untuk berpura-pura polos sekarang.
"Jadi? Jawabannya?"
Menanggapi pertanyaanku, Akari melakukan gerakan gadis malu-malu dan perlahan menundukkan kepala.
"............Iya. Tolong..."
"............Oke."
Setelah itu, aku mengajak Akari ke apartemenku, dan kami saling mencurahkan segalanya yang selama ini kami tahan.
Akibatnya, kami menghabiskan malam yang sangat panas yang tidak terlihat seperti malam pertama bagi seorang perawan dan pria yang (di dalamnya) masih perawan.
"Pe-pe-permisi............"
"O-oke..."
Malam di hari di mana aku berpacaran dengan Reo-senpai. Aku datang ke apartemen Reo-senpai dengan kakiku sendiri.
Padahal aku sudah sering menggodanya, tapi saat Reo-senpai benar-benar serius, aku jadi sangat takut, dan aku tidak bisa melakukan percakapan yang bermakna sampai aku sampai di sini.
Saat membeli kondom di minimarket, padahal aku hanya melihat dari jauh, jantungku berdegup sangat kencang.
"............A-apa kamu mau mandi duluan?"
"Ah, iya... aku akan melakukannya."
Aku mendengar rumor bahwa Reo-senpai berpengalaman, tapi rasanya canggung.
Apakah itu hanya rumor karena penampilannya yang terlihat menyeramkan?
Aku menerima handuk dari Senpai, lalu berhenti tepat sebelum pergi ke kamar mandi. Aku melempar handuk ke arah Senpai yang sedang mencoba membereskan kamar, dan menyapanya.
"......Maukah, mandi bersama?"
"Ti-tidak... itu..."
"Kenapa? Kita... kan... sepasang kekasih?"
"Sigh... baiklah, ayo."
Mungkin sudah menyerah, Reo-senpai menerima ajakanku. Kami berdua membuka pakaian di depan kamar mandi, dan akhirnya telanjang.
"............Kalau begitu... mari masuk."
Meskipun aku sendiri yang mengajak dan bilang kalau kami sepasang kekasih, aku belum pernah punya pacar. Selain itu, aku tidak pernah menyangka akan mengalami hal ini dengan Reo-senpai di hari yang sama.
"............Mau aku... cuci badannya?"
"......Iya."
Reo-senpai juga sangat gugup, kekerenannya yang biasa hilang.
Tapi saat aku berpikir bahwa ini juga Reo-senpai yang hanya aku yang tahu, aku jadi senang dan memutuskan untuk mencucikan badannya.
Aku membuat busa sabun dengan kedua tangan, lalu menggerakkan tangan untuk mengoleskannya dengan lembut ke punggung Reo-senpai yang besar. Seperti yang kupikirkan di kolam renang tadi, tubuhnya sangat kekar dan bagus. Seharusnya dia melakukan olahraga.
"......Senpai, apa kamu tidak melakukan olahraga atau semacamnya?"
"............Tidak ada rencana."
"Eh, sayang sekali... punya tubuh besar juga sebuah bakat, lho?"
Aku mencuci badannya sambil membicarakan hal-hal yang biasa. Setelah punggung, lengannya. Lalu depannya.
Aku mencucinya dengan hati-hati seolah menikmati otot-otot megah Senpai. Dari atas ke bawah.
Aku mencucinya sambil merapatkan tubuh, menyampaikan detak jantung yang berdebar kencang.
Aku mencucinya sampai ke ujung jari kaki, dan akhirnya menusuk-nusuk bagian yang tersisa dengan jari.
"Yang ini... a-apa yang harus aku lakukan?"
"......Akan kulakukan sendiri. Sini, biar kugantikan..."
"......Kalau begitu, tolong."
Senpai mengganti tempat denganku meskipun tubuhnya masih penuh busa. Reo-senpai dengan lembut mengoleskan sabun mandi dengan tangannya yang besar seperti yang kulakukan tadi.
Setiap kali dia mengoleskan sabun mandi yang rasanya dingin karena produk pria, aku merasa seolah-olah aku menjadi milik Reo-senpai, rasanya sangat menyenangkan.
"............Nee Senpai?"
"Tunggu...!?"
Senpai memang melakukannya dengan hati-hati, tapi ada bagian yang jelas-jelas dihindari oleh tangan Reo-senpai.
Jadi aku mencengkeram tangan Senpai dan menuntunnya ke tempat itu.
"Aku, ingin kau mencucinya..."
Saat aku mengatakannya, Reo-senpai mulai menggerakkan tangannya dengan lembut.
Rasanya sungguh melayang. Perasaan disentuh oleh orang yang kucintai ini sungguh menyenangkan. Jauh berbeda dengan saat aku melakukannya sendiri. Rasa bahagia yang meluap-luap mulai membanjiri hatiku.
"Reo... Senpaaai............ lebih, lebih erat lagi..."
"I-ini, seperti ini...?"
Karena merasa kurang, aku kembali meraih tangan Reo-senpai dan memintanya.
Senpai pun sedikit meningkatkan kekuatannya, dan itu terasa begitu nikmat, begitu nyaman, begitu pas, hingga aku tak bisa membendung rasa bahagiaku.
"Ngh............ Nhu!"
"Kamu tidak apa-apa?"
"............Tidak apa-apa, kok... hanya saja, ini terlalu nikmat... ehehe."
Setelah itu, Senpai mencuci seluruh tubuhku hingga ke sela-selanya, lalu kami berendam bersama di dalam bak mandi.
Aku memunggungi Senpai dan memposisikan diriku di antara kakinya.
Bak mandinya memang sempit, membuat tubuh kami saling menempel erat.
Tapi itu justru membuatku merasa sangat bahagia, dan kami berdua pun menikmati waktu berendam dengan santai.
Setelah selesai mandi, kami pergi ke tempat tidur dengan kondisi masih telanjang.
Kami berdua sudah benar-benar siap, dan seolah itu adalah hal yang wajar, kami pun menyatukan tubuh kami.
Itu tidak sedahsyat apa yang kubayangkan, tapi bagi diriku yang sekarang, itu sudah sangat pas. Reo-senpai juga menatapku dengan tatapan serius. Dia hanya melihat ke arahku.
Hanya dengan itu saja, hatiku sudah terasa terpenuhi sepenuhnya. Aku senang jika hanya dilihat oleh Senpai.
Aku hanya ingin memperlihatkan diriku pada Senpai yang telah memujiku "lucu" berkali-kali dan mencintaiku dengan begitu lembut. Aku tidak butuh hal lain. Karena aku...
"Aku sangat mencintaimu... Reo-senpai."
Rasa cintaku meluap tanpa bisa kutahan. Senpai tiba-tiba menciumku, mengelus kepalaku dengan lembut, lalu membalas perasaanku.
"Aku juga... sangat mencintaimu, Akari."
"Fuhehe............ apa aku terlihat lucu?"
"Ah... kau adalah yang terlucu di dunia ini."
"Apa-apaan itu... puf. Tapi............ sungguh, aku bahagia sekali...!"
Waktu berlalu dalam kebahagiaan sambil kami tertawa bersama, dan malam pertama kami pun berakhir dengan tenang............
Tentu saja bohong!
"Senpaaai! Kamu masih bersemangat, ya!"
"Ya... lagipula hari ini seharian aku dibuat menahan diri oleh seseorang."
"Ide bagus! Kalau begitu, ayo kita lanjut ke babak kedua!"
Itu akan menjadi malam pertama yang tak terlupakan di mana kami menyalurkan hasrat seksual kami yang meluap-luap tanpa sisa!
Kencan yang Dinanti
Selasa, 13 Agustus. Aku menunggu di tempat pertemuan untuk kencan yang kujanjikan dengan Shiori.
"Fuu..."
Aku gugup. Bagaimana pun juga, ini pertama kalinya aku berkencan secara layak berduaan dengan seorang gadis.
Selain itu, kencan ini tidak boleh gagal.
Jika aku tidak bisa menarik perasaan Shiori dalam kesempatan ini............
"Ya, hai."
Saat aku sedang meninjau kembali rencanaku untuk membuat kencan ini sempurna, Shiori sudah datang ke tempat pertemuan, padahal waktu janjian masih dua puluh menit lagi.
"......Apa? Jangan bilang kamu mau bilang kalau pakaian seperti ini tidak cocok untukku?"
"Tidak... ini benar-benar cocok untukmu."
Pakaian Shiori hari ini bukan gaya celana panjang, melainkan gaun tanpa lengan berwarna hijau pucat.
Rambutnya diikat gaya ponytail seperti saat di sekolah, dan itu sangat pas dengannya.
"............Jangan memberiku pujian kosong."
Shiori mendengus "humph" dengan malu-malu. Aku memutuskan untuk menggenggam tangan Shiori dengan paksa.
"......Hei. Aku tidak ingat pernah mengizinkanmu sampai sejauh itu."
"Hanya untuk hari ini saja... ya?"
"Ugh............ hanya hari ini saja, ya... dasar..."
Aku menarik tangan Shiori yang malu-malu, dan memutuskan untuk pergi ke tujuan kami meski sedikit terlalu cepat.
Setelah itu, kami menghabiskan waktu dengan kencan yang sangat biasa.
Mencari buku yang diinginkan Shiori bersama-sama, bermain di pusat permainan, menyantap makan siang yang sedikit mewah... aku berusaha memasukkan segala hal yang terpikirkan olehku tentang kencan.
Meskipun Shiori tampak kaku di awal, perlahan-lahan dia mulai sering tersenyum, dan saat kami sedang memilih pakaian untuk satu sama lain sekarang, aku sudah tidak lagi merasakan perasaan bersalah terhadap apa pun.
Namun, meskipun begitu, Shiori tidak pernah sekalipun membelokkan pemikirannya sendiri.
Apa pun yang kami lakukan, jawabannya selalu "hanya untuk hari ini" atau "aku membencimu". Begitu kuatnya tekad Shiori.
Lagipula, ini adalah rencana kencan yang dibuat oleh pria yang di kehidupan sebelumnya bahkan tidak pernah punya pacar.
Jika dibiarkan terus seperti ini, menarik perasaan Shiori akan............
"Ibuki-kun?"
"!? A-ada apa...?"
Shiori menatap wajahku yang sedang tertunduk karena tiba-tiba melamun. Sambil terus menatap mataku, dia mulai berbicara.
"......Memang benar kamu pria yang aneh. Apa kamu segugup itu hanya karena berkencan dengan gadis?"
"Tidak gugup..."
"Tidak, kamu gugup. Kamu tegang terus dari tadi. Untungnya aku jadi bisa tetap tenang."
Setelah berkata demikian, Shiori menjauh dariku dan sambil memilah-milah pakaian pria, dia melanjutkan pembicaraannya.
"Ke mana perginya semangatmu dua hari lalu? Padahal kamu melakukan pengakuan cinta konyol pada orang lain... kamu bilang akan menjadikanku milikmu hanya dalam satu kesempatan ini, bukan? Tapi sepertinya ada hal lain di pikiranmu. Apa itu Akari-chan? Kalau begitu, aku akan pulang sekarang."
"............Maaf."
Aku tidak bisa melakukan apa pun selain meminta maaf karena merasa sangat menyedihkan. Melihatku seperti itu, Shiori menghela napas, "Mau bagaimana lagi..."
"......Meskipun sedikit menyimpang dari rencanamu, bolehkah kita pergi ke tempat yang ingin kukunjungi?"
"............Silakan."
Kami meninggalkan tempat kencan, menaiki kereta, dan tempat yang dituju Shiori adalah sebuah taman yang cukup besar.
Taman itu sangat ramai karena anak-anak sedang menikmati liburan musim panas di tempat bermain yang disediakan.
Kami memutuskan untuk duduk bersebelahan di bangku yang ada di taman tersebut.
"Tempat ini. Konon, ini adalah tempat ayahku melamar ibuku."
"Eh... di tempat seperti ini?"
"Iya. Saat itu, ayahku sudah mempersiapkan cincin lamaran dengan mantap, tapi karena gugup, dia terus gagal sepanjang hari. Melihat itu, ibu mengajak ayah ke taman ini dan menceritakan hal-hal sepele untuk menenangkan ayah."
Setelah tiba-tiba menceritakan tentang orang tuanya, Shiori menundukkan kepala dalam-dalam ke arahku.
"Hari ini sangat menyenangkan. Terima kasih banyak."
Setelah mengatakan itu, Shiori perlahan mengangkat wajahnya dengan ekspresi seolah menantikan jawabanku.
"Itu... Shiori............"
"Ya. Ada apa?"
Aku menarik napas dalam-dalam, menguatkan tekad, dan menyampaikan perasaanku pada Shiori.
"......Aku menyukaimu."
"............Terima kasih. Tapi ya."
Shiori menerima pengakuan cintaku dengan senyum lebar, dan di saat yang sama, dia menekan jari telunjuknya yang ramping ke dahiku.
"Aku tidak bisa menerima pengakuan seperti itu. Kamu tidak sadar betapa rendahnya tindakan yang ingin kamu lakukan. Selingkuh adalah hal yang dilakukan oleh sampah."
"......Tapi perasaanku ini nyata."
"Bohong. Kamu masih menyembunyikan sesuatu. Kenapa kamu tidak mengatakannya tanpa rahasia hari ini?"
Dia benar-benar peka. Apakah itu karena dia memperhatikan orang lain sedemikian rupa?
Tapi, tidak mungkin aku bisa mengatakannya. Seperti ini adalah dunia game. Atau soal takdir. Atau karena aku ingin menyelamatkan Shiori.
"......Sama sekali tidak. Siswa junior yang sedang bingung seperti dirimu, biar aku, sang Ketua OSIS, tunjukkan contohnya."
Saat aku kembali melamun dalam-dalam dan tanpa sadar tanganku gemetar, Shiori menggenggam tanganku dengan lembut, menatap mataku lurus-lurus, lalu............
"Aku menyukaimu. Aku mencintaimu lebih dari siapa pun di dunia ini."
"............Bukankah itu berbeda dengan yang kamu katakan dua hari lalu?"
"Itu karena kamu berbohong. Karena itulah aku tidak bisa menyembunyikan kebohonganku. Nah, contoh sudah kutunjukkan. Cepat katakan perasaan aslimu."
Aku............ sebenarnya............
"............Aku tidak mau melihat Shiori... berkencan dengan pria lain......"
Momen dua hari lalu. Alasan yang kususun memang hanyalah hipotesis yang sudah kupikirkan.
Tapi, lebih dari itu, alasan yang kubenci saat itu, alasan kenapa aku menangkap tangan Shiori yang berpapasan denganku adalah............
"Aku ingin Shiori... dan Akari... tersenyum di sampingku. Bersama kalian... aku ingin bahagia."
"Fuh. Alasan kekanak-kanakan yang jujur, ya."
Keinginan seperti anak kecil itu ditertawakan oleh Shiori. Tentu saja.
Tidak mungkin perselingkuhan dimaafkan dengan alasan seperti itu.
"Dengan begitu, seolah-olah aku sudah menjadi milikmu saja. Oh, takutnya. Akari-chan akan merasa kasihan."
"............"
Saat aku terdiam tanpa bisa membantah, Shiori tersenyum lembut padaku.
"............Pria serendah itu. Jika tidak diawasi, dia pasti akan langsung selingkuh. Sepertinya aku harus terus mengawasimu dan kalian dari samping mulai sekarang."
"......Itu maksudnya............"
"Nah. Contoh sudah kutunjukkan, kan? Sekali lagi. Ini kesempatan terakhir."
Ucapnya sambil tersenyum manis. Aku menggenggam kembali tangan Shiori yang ramping, menatap matanya, dan menyampaikan perasaanku.
"......Aku menyukaimu. Jadilah pacarku."
"............Tidak terdengar."
"Eh?"
Shiori mungkin masih tidak puas, dia membusungkan pipinya dengan merajuk.
"Dengar. Kamu akan berselingkuh mulai sekarang, bukan? Meski begitu, apa kamu pikir itu cukup untuk wanita kedua?"
"Eh, itu..."
"......Begitu. Jadi, aku yang kedua? Ah, aku mengerti, aku mengerti! Aku pulang, aku pulang! Aku sudah muak denganmu!"
"Ah, bukan begitu... salah! Sungguh!"
Aku berusaha sekuat tenaga menahan Shiori yang hendak pulang, dan memutuskan untuk mencoba sekali lagi.
"Ya. Kali ini aku akan mendengarkan dengan baik."
"..............."
Hanya sekali ini saja. Jika aku memenuhi permintaan Shiori hanya kali ini, maka... maka............
『Senpai!』
Ugh............! Aku............!
"......Shiori! Dan Akari juga! Aku mencintai kalian berdua lebih dari apa pun di dunia ini!"
"............Haaah."
Shiori menghela napas panjang mendengar jawaban egois dan memalukan dariku.
Aku benar-benar tidak bisa berbohong pada Akari.
Tidak mungkin aku bisa melakukannya.
Mendengar jawaban dariku, Shiori menatapku dengan wajah yang seolah jengkel, namun ia tersenyum senang.
"Reo. Aku juga mencintaimu."
Tanpa sadar, jari-jari kami saling bertautan satu sama lain. Saat itu juga, aku mendekatkan wajahku ke wajah Shiori──
"Hei. Jangan tidak tahu diri. Perhatikan tempatnya."
"Muggh..."
Aku hampir saja terbawa suasana, tapi jarinya menghalangi bibirku sebagai peringatan.
"Dasar. Nah, ayo pergi. Lanjut kencannya."
"Lanjut... maksudnya... sudah waktunya............"
Melihat jam yang terpasang di taman, waktu sudah melewati pukul 17:00.
Bahkan jika kami kembali sekarang, kami tidak akan bisa menikmati kencan dengan memuaskan.
Saat aku mengatakannya pada Shiori, ia membalas dengan ekspresi menggoda.
"......Jika itu kencan pasangan kekasih, masih ada hal yang bisa dilakukan, bukan? Atau apa kamu tidak percaya diri bisa memuaskanku?"
"Eh... bolehkah?"
"Karena aku belum menyerah, kan? Kamu akan menjadikanku milikmu, bukan?"
"......Akan kuusahakan."
Karena terdorong oleh suara dan ekspresi yang menggoda itu, aku pun berakhir masuk ke hotel terdekat bersama Shiori seolah sedang dirayu.
"Ngomong-ngomong Reo. Apa kamu sudah melakukannya dengan Akari-chan?"
"Ya, yah..."
Saat kami sampai di kamar dan melepas pakaian untuk mandi, Shiori menanyakan hal itu padaku.
"......Sudah berapa kali?"
"Ah... aku tidak ingat..."
Malam itu, kami saling menginginkan sampai aku hampir salah mengira kalau kami benar-benar melebur menjadi satu.
Aku sudah tidak ingat lagi angka pastinya.
"Hee... hari setelah kemarin, kamu benar-benar bernafsu ya............ dasar..."
Shiori melepas pakaiannya dengan lancar sambil berbicara.
Sebelum aku sadar, dia sudah hanya mengenakan pakaian dalam, dan aku dibuat terpesona oleh gaya tubuhnya yang bisa dikatakan sempurna itu.
"............Jangan terlalu dilihat. Bodoh."
"Kamu juga..."
Sambil mengatakan itu, Shiori juga menatap tajam tubuhku yang hanya mengenakan celana dalam.
Suasananya sulit dijelaskan.
Aku bahkan merasa membuang-buang waktu jika harus mandi dulu.
"......Reo............"
"......Shiori...!"
Kami
saling memanggil nama, dan sejak saat itu, segalanya tak bisa lagi dihentikan.
Kami bahkan tidak
mandi, terus-menerus memuaskan hasrat satu sama lain. Kami saling memohon
berkali-kali, berulang kali, hingga tanpa disadari malam telah berganti dan
matahari mulai terbit.
Aku tidak pernah
membayangkan hal ini sebelumnya.
Bahwa aku akan
memiliki kekasih dan menyatukan tubuh dengannya saat masih berstatus pelajar.
Apalagi
pasanganku adalah tipe pria yang paling kubenci.
Pria yang selalu
menimbulkan masalah sejak hari pertama masuk sekolah.
Aku tadinya ingin
membuatnya menyerah saat kencan hari ini.
Berselingkuh itu
tidak baik.
Jika dia
benar-benar sudah berubah, dia seharusnya menghargai satu orang saja.
Namun, aku tidak
mampu menolak keinginan posesif kekanak-kanakan yang dia tunjukkan padaku.
Jika dia
memilihku di tempat itu, aku berniat membuangnya dengan berkata, "Aku
benci pria yang mudah berubah hati."
Dan jika dia
memilih Akari-chan, aku berniat membujuknya dengan berkata, "Begitu ya?
Kalau begitu, lebih baik kalian berdua saja yang bahagia."
Tetapi, dia
memilih kami berdua.
Karena itulah,
aku memutuskan untuk menerima pengakuan cintanya.
Mungkin juga
karena dia sangat mirip dengan ayahku yang diceritakan oleh ibu.
Namun, aku tidak
bisa menceritakan kejadian hari ini pada ayah.
Dia pasti akan
jatuh pingsan.
Jika dia tahu aku
sendiri yang mengajaknya dan melakukan hal seburuk ini di hari kami mulai
berpacaran...
"Reo............
Aku mencintaimu......"
Sejak sampai di
kamar, kami terus berciuman. Aku mencurahkan perasaan yang selama ini kutahan.
Ternyata, aku mencintainya sampai-sampai aku sendiri terkejut.
Alasannya
adalah... bagiku, dia adalah semacam harapan. Semuanya bermula dari hari itu.
Hari ketika dia
menyuruhku untuk tidak mempercayai orang lain, namun dia sendiri justru
berbohong padaku demi menyelesaikan sebuah masalah.
Saat aku tiba di
lokasi, aku melihat gadis yang seharusnya sudah berubah itu menertawakan dan
meremehkan dia yang terkapar di tanah, dan saat itu aku merasakan amarah yang
tak tertahankan.
Orang
tuaku sering berkata, "Manusia bisa berubah. Kami akan mengubah mereka. Itulah alasan kami
menjadi polisi." Aku hidup dengan mempercayai kata-kata itu.
Namun, aku
akhirnya dihadapkan pada kenyataan. Manusia tidak bisa berubah. Mustahil orang
jahat menjadi orang baik. Kenyataan pahit itulah yang kuterima.
Aku sempat
meragukan kedua orang tuaku yang sangat kucintai, dan aku tidak bisa memaafkan
diriku yang menyedihkan. Namun, orang yang menyelamatkanku dari kondisi itu
tidak lain adalah dia.
Dia membuktikan
bahwa manusia bisa berubah, dan menjadi alasan bagiku untuk kembali mempercayai
kata-kata orang tuaku.
Aku
sadar. Berselingkuh itu aneh. Aku mungkin akan menyesalinya nanti.
Tapi, izinkan aku
untuk egois sesekali. Selama ini aku sudah hidup dengan sungguh-sungguh. Tidak
akan ada yang menyalahkanku jika aku membuat kesalahan di tahun terakhir masa
sekolahku, bukan?
"Lebih......
Biarkan aku merasakan Reo lebih dalam lagi......"
Aku mencintainya.
Sangat
mencintainya.
Dia lebih tinggi
dariku dan tubuhnya pun sangat kokoh.
Dia sangat
jantan, bahkan hanya dengan bersentuhan saja, jantungku berdegup kencang.
Lebih...
Lebih
lagi............
"Ahn............
Hei."
"......Maaf."
Saat kami
berpelukan dengan pakaian dalam dan berciuman panjang, Reo tiba-tiba meremas
bokongku dengan kedua tangannya.
Aku terkejut dan
mengeluarkan suara yang manis, lalu aku melirik Reo dengan tajam untuk menutupi
rasa maluku.
"Apa... yang
kau lakukan?"
"............Aku
sudah mencapai batas."
"Batas? ......Ah."
Aku tidak segera mengerti arti kata "batas" itu,
tapi karena kami sedang berpelukan, aku menyadari ada sesuatu yang menekan
perut bawahku.
"Benar juga... itu............ tidakkah itu... besar? Atau memang semua pria seperti ini?"
"Tidak...
aku tidak tahu."
Aku sudah
memikirkannya sejak kejadian di kolam renang tempo hari, tapi kurasa milik
Reo... itu sangat besar. Tentu saja, aku belum pernah melihat yang lain, tapi
aku tahu itu tidak normal.
Aku tidak yakin
bisa menerimanya... tapi jika Reo bilang dia sudah mencapai batas, aku tidak
punya pilihan selain menyambutnya. Dia terlihat begitu tersiksa dan mengeras.
"............Itu,
pertama-tama, haruskah aku melepasnya?"
Aku tidak tahu
prosedurnya, jadi untuk sementara, aku melepas pakaian terakhir yang menutupi
tubuhku dengan tanganku sendiri, dan membiarkan tubuh asliku terlihat oleh Reo.
"Wooo............"
"Apa itu...
menjijikkan sekali..."
"......Kau
cantik, jadi aku tidak tahan."
"............Diamlah."
Reo menatap tubuh
telanjangku seolah ingin melahapnya. Aku tidak merasa tidak senang, tapi ada
sedikit rasa takut. Entah karena dia mengerti perasaanku atau sekadar ingin
melakukannya, Reo kembali memelukku dan menciumku.
"Nhu............
Reo......"
Kami
berpelukan dan berciuman sambil berdiri. Tak lama kemudian, tangan kanan Reo
mengusap kulitku, menyentuhku dengan lembut menggunakan jari-jarinya yang
jantan. Perasaan bahagia yang tak bisa kurasakan saat melakukannya sendiri
membanjiri diriku, dan seluruh tubuhku gemetar hingga aku takkan bisa berdiri
jika tidak disangga oleh Reo.
Hanya
dengan sentuhan itu, tubuhku sudah mempersiapkan diri. Aku tidak suka dia
begitu terbiasa melakukannya, tapi saat ini, aku bahkan tidak punya sisa tenaga
untuk merasa cemburu.
Emosiku
semakin meluap seiring dengan kenyataan bahwa aku sedang disentuh oleh orang
yang kucintai dan dicintai balik.
Dan ketika emosi
itu mencapai otakku, aku menyandarkan seluruh berat tubuhku pada Reo.
"Ngh...
fuu............"
"......Apa
kamu baik-baik saja?"
"Diamlah... aku hanya... sedikit............ pusing
saja..."
"Begitu ya.
Mau istirahat?"
"......Jangan
bersikap lembut padaku. Bodoh..."
Dia benar-benar
pria yang licik.
Tanpa ampun dia
menyerangku, lalu tiba-tiba menunjukkan sisi lembutnya.
Padahal
dia sendiri sudah hampir meledak.
Dia
menahan diri demi memikirkanku... aku benar-benar jatuh ke tangan pria yang
buruk.
"......Ayo
lakukan. Duduklah di sana."
Agar tidak
didominasi oleh pria nakal itu, aku mendorong Reo ke tempat tidur dan
menyuruhnya duduk di tepi.
Aku tahu betul
kalau aku membiarkan diriku berada di bawah, dia pasti akan melakukan apa pun
yang dia mau.
"......Baiklah,
kemarilah."
Reo melepas
celananya, memakai pelindung, dan setelah siap, dia merentangkan kedua tangan
untuk menyambutku.
Aku memutuskan
untuk menungganginya dengan keinginanku sendiri agar bisa berhadapan dengannya.
"......Ini,
ngh... ah......"
"Pelan-pelan
saja."
"Nhu... aku
tahu......"
Aku bergerak
perlahan mengikuti kata-kata Reo, meski aku merasa sedikit takut, namun belaian
lembutnya di kepalaku memberiku rasa aman.
Aku mencintainya.
Aku sangat mencintainya.
Apakah aku
terlihat manis?
Dia sering
mengatakannya pada Akari-chan.
Tapi dia tidak
pernah mengatakannya padaku.
Apakah karena dia
tinggi?
Atau karena dia
menyeramkan?
Aku juga
ingin mendengarnya.
"Hei...
Reo......"
"......Ngh...... Ada apa?"
"Apakah
aku... manis? Apakah kamu... mencintaiku?"
"Tentu. Kamu
sangat manis, dan aku sangat mencintaimu."
"............Ngh.
Fufu. Begitu ya...... aku juga mencintaimu... aku mencintaimu..."
Sambil
berpelukan erat, kami berciuman sekali lagi.
Aku bisa
merasakan Reo di seluruh tubuhku.
Aku dipeluk oleh
orang yang kucintai.
Aku tidak akan
bisa kembali menjadi diriku yang dulu.
Jika aku sudah
mengetahui semua ini, tidak mungkin aku bisa kembali. Dan aku pun tidak ingin
kembali.
Sekarang, aku
hanya ingin membiarkan diriku terhanyut dalam kenikmatan. Hal-hal rumit bisa
kupikirkan nanti.
Karena aku tidak
sendirian lagi. Mulai sekarang, aku bisa melangkah bersama Reo... bersama
kekasih yang sangat kucintai.
Kamis sore, 15
Agustus. Sehari sebelum hari perilisan film yang sudah kami rencanakan sejak
sebelum liburan musim panas.
Aku sedang
menelepon Nanami karena suatu urusan.
『T-tidak mungkin
hal seperti itu terjadi......』
Urusan itu adalah
soal Akari dan Shiori. Tentang bagaimana aku akhirnya berpacaran dengan mereka
berdua. Nanami tampak sangat terkejut bahkan dari balik telepon setelah aku
menjelaskan situasinya.
『Tapi......
kalau begitu, apa besok tidak apa-apa? Maksudku, pergi berduaan saja
dengan gadis yang bukan kekasihmu itu......』
"Oh, soal itu aku sudah meminta izin. Karena ini janji lama, dia bilang kalau dengan
Kinoshita, tidak masalah."
『Begitu ya......
T-tapi, itu luar biasa, ya. Dua orang sekaligus, sungguh luar biasa...... ya.』
"Apa
maksudmu dengan luar biasa? Kamu menganggapku apa?"
Meski
tidak ada pilihan lain, aku merasa ada jarak antara aku dan Nanami yang sedang
menelepon.
Bukan
jarak fisik, melainkan jarak perasaan.
Pasti dia
merasa jijik. Pasti dia menganggapku pria berbahaya karena berselingkuh.
『......Hei,
hei Ibuki-kun.』
Nanami
bertanya dengan suara yang gemetar.
Aku
bersiap jika dia tiba-tiba membatalkan janji, tapi kata-kata yang keluar dari
mulut Nanami adalah sesuatu yang tidak terduga.
『Apa...... kamu
masih punya...... ruang?』
"Ruang?"
『Seandainya ya?
Seandainya...... jika kekasihmu bertambah jadi tiga orang...... saat
itu...... apa yang akan kamu lakukan?』
Jika didengar dari samping, itu adalah pertanyaan yang tidak
masuk akal.
Tidak mungkin
Nanami menanyakan hal itu padaku... mungkinkah......
"Hei,
Nanami... itu maksudnya......"
『!? Tidak, bukan begitu!? Seandainya
saja! Tidak mungkin, tidak mungkin! Aku berpacaran dengan Ibuki-kun......
tidak, bukan! Oh, sepertinya sudah waktunya makan malam! Kalau begitu sampai
jumpa besok! Aku tidak sabar!』
"O-oke...
sampai jumpa besok."
Saat aku
hendak menanyakan maksud pertanyaannya, Nanami justru panik dan memutuskan
sambungan telepon begitu saja.
"Apa yang
kulakukan, apa yang kulakukan...... aku mengatakan hal yang aneh......!"
Aku telah
mengucapkan sesuatu yang luar biasa, dan karena panik, aku memutuskan panggilan
telepon itu.
Kemudian,
aku meringkuk di dalam selimut dan berguling-guling di atas tempat tidur.
Sangat
membahagiakan mengetahui bahwa Ibuki-kun telah memiliki hubungan seperti itu
dengan Akari-chan dan Shiori-chan, itu adalah hal yang wajar.
Namun, kenapa ya?
Dadaku terasa nyeri. Padahal aku harus merayakannya, tapi kenapa aku merasa
begitu cemburu?
"............Seandainya
saat itu...... aku berpacaran dengan Ibuki-kun."
Aku tidak
bisa berhenti menoleh ke belakang. Ke hari di mana Ibuki-kun menyatakan cinta padaku. Aku berkhayal hal-hal
yang tidak baik, seperti seandainya aku tidak takut dan menerima pernyataan
cinta itu......
"Uuu......
tidak, tidak boleh. Aku harus melupakannya............"
Aku hanya bisa
menghabiskan waktu dengan perasaan yang menyesakkan sambil memendam perasaan
yang sudah terlambat.
Jumat, 16
Agustus.
Hari ini adalah
hari perilisan film anime yang sudah kujanjikan sebelumnya dengan Nanami.
Aku menunggu di
tempat pertemuan sambil menonton video trailer-nya berulang kali untuk
membangkitkan suasana hati.
"M-maaf
menunggu......"
"......Yo."
Setelah menunggu
beberapa saat, Nanami muncul di tempat pertemuan tepat waktu.
Dia mengenakan
pakaian modis ready-to-wear yang imut seperti biasanya, dengan ekspresi
wajah yang tampak sangat canggung.
"............Emm,
itu, selamat, ya!"
"......Terima
kasih."
Begitu bertemu,
dia langsung menundukkan kepala sambil memberi ucapan selamat.
Aku mengira dia
pasti membicarakan soal Akari dan yang lainnya, jadi aku memutuskan untuk
menerima ucapannya dengan jujur.
"............Eh,
filmnya, sangat dinantikan, ya!"
"Begitu...
ya."
Suasana canggung
yang tak bisa dijelaskan mengalir. Nanami memasang senyum kaku seperti
biasanya, dan entah kenapa jarak kami terasa jauh.
Namun,
aku tidak bisa menyinggung hal itu. Pasti Nanami sedang bingung.
Pergi
berdua dengan kekasih temannya adalah peristiwa yang luar biasa.
Aku
meminta maaf dalam hati karena kami berada dalam situasi seperti ini, dan kami
pun bergegas menuju bioskop.
"............"
"............"
Setelah
menonton film. Setelah menunggu staff roll selesai dan lampu bioskop
menyala, aku tanpa sadar menatap Nanami yang duduk di sampingku.
"Itu
benar-benar luar biasa, ya......!"
"Benar-benar
luar biasa, ya......!"
"“Eh?”"
Nanami
juga menatapku di saat yang bersamaan, dan kami mengungkapkan kesan yang meluap
karena kegembiraan.
Kami
berdua terdiam sesaat sambil bertatapan, tapi karena kami berdua sangat ingin
berbagi kesan tentang film luar biasa yang baru saja kami tonton, kami
melupakan rasa canggung dua jam yang lalu.
"Tidak,
ini benar-benar luar biasa! Adegan pertunjukan terakhir itu......
merinding saat mengingatnya!"
"Setuju!
Ini memang harus ditonton di bioskop! Tata suaranya luar biasa......
tidak, aku...... hampir menangis......"
Setelah selesai menonton film, kami membeli pernak-pernik
eksklusif bioskop, lalu mampir ke restoran keluarga terdekat untuk berdiskusi
dengan antusias tentang film tersebut.
Film ini benar-benar luar biasa. Film dewa. Aku bisa
menontonnya tiga kali lagi.
Dan yang terpenting, bisa langsung berdiskusi dengan teman
yang memiliki kesan yang sama seperti ini adalah hal yang paling luar biasa.
Meskipun
berteman dekat, kesan tiap orang tentang sebuah film pasti berbeda. Itulah
mengapa berbicara dengan Nanami, yang memiliki antusiasme dan sudut pandang
yang sama, benar-benar membahagiakan.
"............Ehehe."
"Hmm? Ada
apa?"
"Tidak......
ya. Bisa berdiskusi segera setelah menontonnya...... aku merasa sangat
bahagia."
Melihat Nanami tersenyum sambil mengatakan itu, aku menahan
jantungku yang berdegup kencang dan membalasnya dengan senyuman.
"............Aku
juga baru saja memikirkan hal yang sama."
"Benarkah!?
Ehehe...... itu juga, membuatku senang."
Kami melakukan percakapan yang memalukan bagi diri sendiri,
dan tanpa bisa menahan senyum, kami terus mendiskusikan film tersebut secara
mendetail setelahnya.
Namun, waktu yang menyenangkan itu berlalu dengan cepat, dan
setelah keluar dari restoran keluarga, kami berjalan menuju stasiun.
"Menyenangkan
sekali............"
"Ya............"
Masih siang hari.
Namun, kami telah memutuskan untuk berpisah.
Alasannya karena
aku sudah memiliki kekasih. Ini adalah saran dari Nanami.
Meski merasa
sedikit berat hati, aku berusaha tersenyum agar tidak menunjukkan wajah yang
sedih.
"......Hei,
Ibuki-kun."
Saat stasiun
mulai terlihat. Nanami
menatapku dan berbicara dengan tenang.
"Terima
kasih untuk hari ini...... tidak, untuk segalanya selama ini."
"Eh......"
Aku memberikan
reaksi yang lemah atas kata-kata Nanami yang menatapku dengan ekspresi yang
sangat serius tidak seperti biasanya.
"Jujur saja,
karena kamu sudah berpacaran dengan Shiori-chan dan yang lainnya, tidak mungkin
aku mengganggumu lagi, kan? Bahkan hanya dengan mengizinkanku hari ini saja,
aku sudah sangat berterima kasih."
Pandangan mata
Nanami yang berbicara dengan cepat melesat ke sana kemari, tapi dia berusaha
keras untuk menatap mataku.
"Sebenarnya,
sejak acara tempo hari, aku menjadi cukup terkenal, dan aku mendapatkan
undangan untuk acara berikutnya, jadi kurasa...... tidak apa-apa jika aku tidak
terus merepotkan Ibuki-kun."
Saat dia berkata
telah mendapatkan undangan acara, rasa sakit seolah jantungku mengerut dengan
cepat datang menyerang.
Jika Nanami bisa
menjadi terkenal, itu adalah hal yang membahagiakan. Namun, hatiku tidak bisa
merasa senang dengan jujur.
Sama seperti saat
aku menahan Shiori.
Jika aku
membiarkan pembicaraan berakhir di sini, kurasa aku tidak akan pernah bisa
menemuinya lagi.
Jika itu terjadi,
Nanami mungkin akan terlibat dalam insiden yang tidak kuketahui. A
ku tidak
menginginkan itu.
Aku ingin Nanami
juga bahagia selamanya.
Aku tidak
ingin dia mengalami hal yang tidak masuk akal atau tidak menyenangkan.
"Jadi......
selamat tinggal, Ibuki-kun."
Nanami melambai padaku dengan sedih untuk mengucapkan
selamat tinggal.
Tepat saat dia hendak berbalik seolah akan meninggalkan aku
yang masih berdiri mematung, aku menguatkan tekad dan memanggilnya.
"Aku
tidak mau."
"U......
meskipun kamu bilang begitu, itu tidak mungkin!?"
Aku
mendekati Nanami yang menghentikan langkahnya karena kata-kataku, dan dengan
didorong oleh emosi, aku mengucapkan apa yang ada di hatiku.
"Aku
sendiri, jika tidak ada Kinoshita, aku tidak akan pernah menyukai anime. Aku pikir hari di mana aku bisa
berdiskusi dengan seseorang seperti ini tidak akan pernah datang."
Meskipun
awalnya aku memang seorang otaku, setelah menjadi pria seperti Ibuki
Reo, kupikir aku tidak akan bisa melakukan aktivitas otaku.
Namun, pertemuan
dengan Nanami membuatku teringat masa lalu, dan aku merasa lega karena tidak
harus terlalu terikat pada peran Ibuki Reo.
Ke depannya pun,
meski egois, aku pikir aku bisa terus berdiskusi dengan Nanami.
Selain itu,
kata-kata Nanami kemarin. Jika dugaanku tidak salah, pasti Nanami juga
memikirkan hal yang sama denganku.
Hal yang umum
pada karakter dalam game itu adalah mereka semua kurang berkomunikasi.
Karena itulah
mereka saling berselisih dan salah jalan.
Namun, aku tidak
akan membiarkan hal itu terjadi. Aku tidak akan membiarkan hal yang membuat
Nanami sedih terjadi.
Sudah sampai di
titik ini. Tidak peduli apa yang dikatakan orang di sekitarku, aku telah
memutuskan untuk mencapai happy ending dengan caraku sendiri, dengan
cara Ibuki Reo.
"Aku
mencintaimu. Tetaplah bersamaku...... selamanya."
"............"
Nanami menerima pengakuanku tanpa melarikan diri, berbeda
dengan waktu itu, tapi dia tetap menunduk untuk beberapa saat.
Sambil merasakan tatapan orang-orang yang lewat, aku
menunggu jawaban Nanami, dan dia menatap wajahku dengan wajah yang lebih merah
dari biasanya.
"Licik
sekali...... aku sendiri...... sudah menahannya...... padahal aku ingin selalu
bersamamu......"
"......Kamu menganggapku apa? Aku akan membahagiakan
kalian bertiga sekaligus. Jadi jangan menahannya lagi."
"U...... uu......!"
Nanami yang hampir menangis tiba-tiba memeluk tubuhku.
Sambil memeluk tubuh Nanami dengan lembut, aku membisikkan sesuatu.
"Jadilah
wanitaku."
"Uuu......
aku juga...... mencintai Ibuki-kun...... karena itulah...... aku......
adalah wanitanya...... Ibuki-kun......"
"............Tidak,
sepertinya ada yang kurang."
"Habisnya!
Ibuki-kun yang memulainya!"
Nanami merespons
perasaanku sambil memerah hingga ke telinga dan menyampaikan perasaannya
sendiri.
Kami berdua
melupakan bahwa kami berada di depan umum dan membiarkan diri kami terbebas
pada saat ini.
Minggu, 18
Agustus. Di ruang tamu rumahku pada sore hari, aku dan Nanami duduk bersila
berdampingan di depan tempat tidur.
Tentu saja, yang
sedang duduk menyilangkan kaki di atas tempat tidurku dan memancarkan tekanan
adalah Shiori. Paha yang mengintip dari celana pendeknya sangat bagus.
Di sampingnya,
Akari juga duduk dengan manis, bergoyang-goyang dengan gembira seolah merasa
ini bukan urusannya.
"Tidak
kusangka Nanami akan merayu kekasih temannya......"
"Maafkan
aku......"
"Reo, apa
kamu bahkan tidak merasa ragu sedikit pun? Ini yang ketiga, tahu? Meskipun kamu
orangnya, bukankah seharusnya ada...... hal-hal tertentu?"
"Maafkan
aku......"
Aku memberitahu
Shiori dan Akari bahwa aku memutuskan untuk berpacaran dengan Nanami juga.
Akari merasa
jengkel dan berkata, "Ternyata benar-benar pria pencinta payudara,"
sementara Shiori hanya menjawab, "Minggu siang aku akan ke rumah. Panggil
juga Nanami," lalu mematikan telepon.
Begitu Shiori dan
Nanami datang ke rumah siang harinya dan mulai menceramahiku ini dan itu, Akari
yang sepertinya sedang latihan pagi secara kebetulan muncul dan mengalir
bergabung di pihak Shiori.
"Sudah
kubilang berkali-kali. Nanami, apa yang kamu lakukan itu tidak baik. Berpelukan
di depan umum dengan pria yang sudah punya kekasih...... karena kita masih
pelajar dan aku dengan Nanami berteman, mungkin aku bisa memaklumi...... tidak,
tetap saja itu aneh!"
"Entah
kenapa...... suasananya jadi terbawa......"
"Dan Reo! Aku muak dengan keserakahanmu! Apa kamu belum
puas dengan aku dan Akari-chan saja! Bukankah hanya itu bagian dirimu yang
tidak pernah berubah! Suatu hari punggungmu akan ditusuk orang!"
"Aku selalu berhati-hati saat berjalan di jalan yang
gelap......"
"Sungguh............"
Di samping Shiori yang tampak sangat marah, Akari yang
tadinya tampak santai akhirnya angkat bicara.
"Shiori-san.
Bolehkah aku juga bicara?"
"Silakan.
Silakan marah sepuasnya."
"Kalau
begitu...... ahem. Aku sih tidak masalah! Senpai!"
"Apa!?"
Akari, yang
kukira adalah sekutuku, dengan mudahnya memaafkanku dan melompat ke arahku.
Shiori
menatap pengkhianatan mendadak itu dengan ekspresi terkejut.
"Aku
mah~ bahkan pria seburuk Senpai pun~ akan aku maafkan~ karena aku dermawan~ karena aku adalah istri utamanya~"
"Berhenti
melompat tiba-tiba, itu berbahaya."
"Sh......
bagaimana dengan Nanami! Ini...... ini tidak benar, kan!? Apa kamu tidak
cemburu!?"
"Aku......
karena posisiku dimaafkan, dan lagi, kalau kupikir aku bisa melihat kemesraan
Ibuki-kun dan Shiori-chan dari dekat...... ehehehe."
"Apa──"
Shiori
yang menyadari bahwa dia tidak punya sekutu, langsung berbaring telungkup di
tempat tidurku dan mengomel sambil membenamkan wajahnya di bantal milikku.
"Aku
juga...... sebenarnya...... ingin yang begitu...... tapi...... bukankah harus
ada seseorang yang menegurnya......"
Saat aku mengusap kepala Shiori yang serius itu, aku dipukul
dengan pelan karena dia berkata, "Jangan menyentuhku."
Meski begitu, saat aku terus mengusapnya tanpa memedulikan
hal itu, dia bergumam dengan penuh penyesalan sambil menghentakkan kakinya,
"Kenapa aku bisa menyukai pria seperti ini......"
"Aku pasti akan membuat kalian bertiga bahagia. Hanya
itu yang pasti kujanjikan. Jadi......"
"Saat ini aku sedang tidak bahagia! Bagaimana kau akan
mempertanggungjawabkan hal itu!"
"......Maaf.
Aku akan melakukan apa pun yang bisa kulakukan."
Aku mengucapkan
kata-kata yang tulus pada Shiori yang sedang marah.
Shiori kemudian
menghentikan kakinya yang menghentak, mengangkat wajahnya dari bantal, dan
menatapku.
"......Bolehkan?"
"............Lakukan
sesukamu."
"Begitu ya.
Terima kasih."
Sambil memasang
wajah yang tampak tidak senang, aku mencium bibir Shiori yang sedikit dimajukan
itu. Shiori bergumam pelan, "Dasar......" lalu kembali membenamkan
wajahnya ke bantal.
"......Sepertinya
Shiori-san bisa saja tertangkap oleh pria jahat meskipun bukan
Reo-senpai."
"Ya,
ya. Aku juga berpikir begitu."
"Apa!?
Tidak, bukan begitu!? A-aku! Karena aku tidak mau Akari-chan dan Nanami terluka oleh pria ini, jadi aku
terpaksa......!"
Diejek oleh Akari
dan yang lainnya yang telah menyaksikan semua ini, Shiori bangkit dari tempat
tidur dan membantah.
Namun, Akari
tidak memedulikan bantahan yang tidak berarti itu dan kembali memelukku.
"Ngomong-ngomong! Cium aku juga! Hanya Shiori-san yang
licik!"
"............Maaf."
"Awawawa......!"
Aku memenuhi permintaan Akari dan berciuman seolah
memamerkannya pada mereka berdua.
Nanami
yang panik melihat situasi yang kacau ini. Akari kemudian mengulurkan tangan pada Nanami.
"Nah,
Nanami-senpai juga. Mumpung ada kesempatan, mari kita berikan hukuman
bersama-sama."
"Emm, tidak...... karena aku......"
Nanami bergumam dengan malu sambil menggelengkan kepala
menanggapi ajakan Akari.
"............Belum...... berciuman......"
"“Eh??”"
Nanami
bergumam seperti itu sambil memerah. Akari dan Shiori pun terkejut secara
bersamaan, dan aku yang merasa canggung segera memalingkan wajah dari mereka
semua.
"Habisnya......
kami baru berpacaran selama dua hari...... kalau soal itu, rasanya tidak boleh
sebelum kami berkencan dengan berbagai cara...... bukankah kalian berdua juga
seperti itu?"
"............Haha.
Begitu...... ya."
"N-nah,
mungkin...... tentu saja begitu, kan?"
Perasaan cinta
murni Nanami menghantam Shiori dan Akari.
Dan aku, yang
menyerangnya begitu saja karena terhanyut suasana, juga tertusuk oleh kata-kata
itu, dan kami bertiga pun tumbang secara bersamaan.
Nanami yang
melihat kami, entah apa yang dia sadari, bergumam dengan suara yang agak
menarik diri, "Jangan-jangan," dan bertanya padaku.
"Jangan-jangan,
kamu berciuman dengan mereka berdua di hari itu?"
"............Soal
itu......"
"Apa kamu
melakukannya?"
"......Ya."
Aku diberondong
pertanyaan oleh Nanami dengan suara yang terdengar marah.
Shiori tadi juga
menakutkan, tapi ini adalah ketakutan dengan jenis yang berbeda.
"Hanya
ciuman saja?"
"..................Yah,
begitulah."
"Apa saja
yang kalian lakukan?"
"............Sampai
akhir... atau bisa dibilang, ya begitu."
"Hee...
begitu rupanya."
Saat aku sedang
menahan tatapan dingin dari Nanami, Akari memasang ekspresi seperti orang yang
baru saja "mendapat pencerahan", lalu membisikkan sesuatu ke telinga
Shiori.
"............A-apa
itu akan berjalan lancar?"
"Percayalah.
Mari kita percayakan pada Reo-senpai."
"Tapi meski
begitu............"
Shiori tampak
tidak puas dengan usulan Akari, namun Akari dengan paksa menarik tangan Shiori
sambil membawa tasnya dan berdiri.
"Kita akan
pergi kencan mulai sekarang, jadi mari kita bubar untuk hari ini. Ayo,
Shiori-san!"
Akari dengan
penuh semangat menarik Shiori dan melesat pergi meninggalkan rumah.
Kami berdua yang
ditinggalkan dan kini hanya berduaan saja terdiam cukup lama, sampai akhirnya
Nanami berbicara dengan malu-malu.
"............Hei,
Ibuki-kun."
"Ya, ada
apa..."
"......Apa
Ibuki-kun ingin melakukan 'hal itu' denganku?"
"Tentu saja
kalau dibilang tidak ingin, itu bohong..."
"Hee...
kalau begitu, mau melakukannya?"
Nanami
menggenggam tanganku dengan ragu-ragu, menanyakan hal itu sambil menahan rasa
malunya.
Aku menggenggam
balik tangan Nanami, berusaha sekuat tenaga menahan godaan itu sebelum
menjawab.
"Jangan
memaksakan diri... lagipula cara pandang Nanami yang lebih benar..."
"............Tapi
kalau begitu, aku tidak bisa menjadi yang pertama bagi Ibuki-kun, kan?"
"A-aku tidak
bermaksud memutuskan siapa yang nomor satu atau nomor dua..."
Aku
mencoba mengelak dengan mengatakan hal yang terdengar seperti pria tukang
selingkuh.
Meskipun
aku berusaha menahan diri dengan segenap tenaga, Nanami tidak berhenti
mendekatiku sedikit demi sedikit.
Begitu
dia menempelkan tubuhnya ke lenganku, Nanami memejamkan mata seolah menunggu
sesuatu.
"............Na,
Nanami-san?"
"..............Aku
malu, jadi cepatlah lakukan."
"Baik..."
Aku menarik tubuh
Nanami yang gemetar itu dan menciumnya selembut mungkin.
Seketika itu
juga, gemetar di tubuh Nanami mereda, dan wajahnya tampak merasa lega.
"............Bagaimana?"
"......Ternyata
biasa saja, ya. Aku pikir tadi akan terasa lebih bergetar atau
semacamnya."
"Itu karena
kamu terlalu banyak baca komik... yah, memang seperti ini rasanya."
"Ja, jadi,
mau... lanjut?"
"Sudah
kubilang tidak perlu memaksakan diri... eh!?"
Saat aku masih
bergelut dengan konflik batin yang terlambat ini, Nanami menarik tanganku ke
dadanya sendiri, lalu menekannya ke sana.
"Ngh............
Tidak apa-apa, Reo-kun."
Saat itu juga,
mendengar kata-kata dan melihat ekspresi menggoda Nanami, ada sesuatu di dalam
diriku yang putus, dan aku pun menyambut malam pertama bersama Nanami sesuai
dengan dorongan instingku.
Aku tidak pernah
merasa bersyukur punya dada yang besar. Aku bisa merasakan tatapan para pria,
dan kadang aku juga dilihat dengan tatapan tidak suka oleh para gadis.
Aku tidak ingin
mencolok, tapi akhirnya malah mencolok. Itulah sebabnya aku selalu hidup di
balik bayang-bayang agar tidak terlalu menarik perhatian.
Namun, bagaimana ceritanya hingga jadi begini?
Semuanya bermula
pada hari di mana aku bertemu Reo-kun melalui perkenalan Shiori-chan. Reo-kun
yang kuanggap sebagai orang asing bagiku benar-benar...... sangat menakutkan
saat pertemuan pertama.
Aku bahkan sempat
berpikir jangan-jangan dia mengancam Shiori-chan seperti yang ada di buku-buku,
lalu datang untuk melibatkanku juga.
Tapi setelah
berbicara banyak, Reo-kun ternyata orang yang "biasa".
Meski merasa
sangat malu saat ditembak di depan pintu gerbang stasiun, sampai sekarang aku
masih membayangkan bagaimana jadinya jika saat itu aku menerima pengakuan
cintanya.
Mungkin saja aku
bisa berpacaran lebih dulu daripada Akari-chan dan benar-benar menjadi yang
pertama baginya.
Setelah itu......
aku sangat, sangat senang ketika Reo-kun mulai menyukai Hangan.
Bukan soal bertambahnya teman bicara, tapi karena dia
benar-benar menonton karya favorit yang kurekomendasikan, itu adalah hal yang
paling membahagiakan.
Jadi, meski aku
merasa diriku gampang sekali luluh, aku mulai menyukainya.
Tapi, aku
menahannya karena berpikir "ah, ada Akari-chan dan Shiori-chan", tapi
dia malah menembakku lagi, dia licik sekali.
Selain itu, aku
merasa tidak baik melakukan "hal itu" tepat di hari kami berpacaran,
jadi entah berapa kali aku harus menghibur diriku sendiri sendirian.
Mungkin karena
menyadari kecemburuanku, Akari-chan berinisiatif menolong.
Dia benar-benar
gadis yang baik. Tapi, aku sendiri sebenarnya pendukung pasangan Reo-Shiori
(ReoSio).
Jadi begitu
ceritanya, aku menggoda Reo-kun dan mencoba memulai "hal itu",
tapi......
"Ah............
tunggu............ masih mau meremasnya?"
"Maaf, sebentar lagi saja..."
"............Sudah, ngh......"
Sejak tadi dia terus meremasnya. Dia terus meraba dari balik
bajuku.
Cara sentuhannya terlalu erotis.
Padahal belum
disentuh secara langsung, tapi aku malah mengeluarkan suara-suara aneh.
Tapi itu juga
tidak masalah. Malahan, itu justru yang kuinginkan.
Reo-kun yang
biasanya sok menjadi pria gentleman kini benar-benar tergila-gila dengan
dadaku.
Dia mengangkatnya
seolah memastikan beratnya, meremas-remasnya dari samping, ekspresinya
benar-benar seperti seorang anak laki-laki.
Wajahnya benar-benar terlihat penasaran. Agak lucu juga. Karena biasanya dia selalu memasang wajah
keren, perbedaan ini terasa sangat manis.
Dia tampak sangat
bersungguh-sungguh, tapi sentuhannya tetap lembut, tidak kasar sama sekali. Hal
seperti ini juga khas Reo-kun sekali.
"......Hei,
Nanami. Itu......"
"......Ada
apa?"
"Boleh,
tidak?"
Setelah berhenti
meremas dadaku, Reo-kun meletakkan tangannya di pakaianku.
Dia pasti ingin melepasnya. Padahal tidak perlu bertanya
repot-repot begitu. Padahal dia boleh melepasnya sepuasnya.
"......Boleh. Lakukan sesukamu, Reo-kun."
Setelah
kuizinkan, prosesnya berjalan sangat cepat. Dia sangat terampil, bahkan tidak
bisa dikatakan terampil lagi.
Sampai-sampai aku
merasa cemburu karena pakaianku dilepas satu per satu dengan cepat, dan dalam
sekejap bra-ku pun dilepas.
"Uo...... bes...... ar."
"Puf...... apa itu...... aduh............"
Reo-kun bereaksi dengan cara yang lucu sampai aku pun ikut
tertawa.
Padahal tadinya aku sangat malu dan benci dengan dadaku ini,
tapi di depan orang yang kusukai, aku justru merasa bangga.
Tapi tentu saja,
aku tetap malu. Bentuknya hanya besar saja dan tidak cantik, lagipula malu
rasanya hanya aku yang dilepas pakaiannya. Jika begini, aku harus membalasnya.
"Hei
Reo-kun...... bolehkah aku...... melakukannya juga?"
"......Silakan."
Setelah mendapat
izin dari Reo-kun, pertama-tama aku melepas pakaian atasnya.
Sambil
melakukannya, aku meraba-raba tubuh anak laki-lakinya. Tubuhnya sangat keras
dan indah. Tubuhnya sungguh erotis.
"......Kamu
terlalu banyak meraba, tahu."
"............Reo-kun
juga begitu."
Saat aku
menikmati otot-otot Reo-kun, dia memarahiku dengan wajah memerah.
Tapi kurasa dia
tidak punya hak untuk mengatakan itu. Padahal sampai tadi dia terus-menerus
meremas bagian tubuhku yang paling membuatku minder.
"Kalau
begitu......"
"Ah,
hei............ tunggu...... licik...... ngh......"
Padahal giliran aku, tapi Reo-kun malah membalasnya dengan
meremas dadaku lagi.
"Sudahlah...... kalau begitu maumu............!"
Sebagai balasan,
aku pun meraba-raba seluruh tubuh Reo-kun.
Lengan, dada,
otot perut, pinggang, pokoknya aku meraba sepuasnya.
Lalu, kali ini
Reo-kun meremas perut dan lengan atasku, dan entah bagaimana, kami berdua sudah
dalam keadaan telanjang bulat di atas tempat tidur, saling menempelkan seluruh
tubuh kami.
"............Fuhehe."
"............Kenapa
kamu tertawa?"
"Maaf
maaf...... tadi itu......"
Aku tertawa tanpa
sadar setelah menyadari bahwa kami melakukan "hal itu" dengan alur
yang sangat alami.
Kupikir hal
seperti ini seharusnya jauh lebih menegangkan.
Tapi, pengalaman
pertamaku bersama Reo-kun ternyata jauh lebih menyenangkan, membahagiakan, dan
tentunya sangat menggairahkan daripada yang kubayangkan.
"......Aku
mencintaimu, Reo-kun."
"Ah. Aku
juga mencintaimu, Nanami."
Aku menyukai
Reo-kun yang seperti teman otaku, tapi aku juga sangat menyukai Reo-kun
yang jantan seperti ini.
Aku menyadari hal
itu sekali lagi, dan akhirnya aku menghabiskan malam yang sangat berarti
bersama Reo-kun.



Post a Comment