NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Fantasy Sekai de Akuyaku na no ni Heroin-tachi ni Sukare tara Genjitsu Sekai demo Harem ni Natta Volume 1 Epilog + Afterword

Epilog: Aku Ingin Membuat Para Heroin Bahagia


Aku memutuskan untuk tinggal di dunia game ini untuk beberapa saat.

 

Alasannya karena aku ingin meningkatkan tingkat kebahagiaan milik Lena dan Haruru menjadi lebih tinggi lagi.

 

"Pagi, Haruto-kun!"

 

Di jalan menuju sekolah saat berangkat, aku kebetulan berpapasan dengan Haruru yang sedang tersenyum ceria.

 

Ekspresi negatif yang diperlihatkannya kemarin sore sudah sirna sepenuhnya. Apakah suasana hatinya sudah menjadi plong, ataukah dia murni hanya sedang menyembunyikannya saja.

 

"Ah, iya, selamat pagi."

 

"Haruto-kun belakangan ini hebat, ya."

 

"Apanya?"

 

"Soal belajar. Dulu kamu secara mutlak tidak pernah mengerjakan PR, tetapi belakangan ini kamu mengerjakannya dengan benar, kan."

 

"Ah, ya, begitulah."

"Apakah PR Teori Sihir Terapan untuk hari ini juga sudah kamu kerjakan?"

 

Saat pertama kali terlempar ke dunia ini dulu, aku memang tidak mengerjakan tugas, tetapi semenjak itu aku selalu mengerjakannya dengan benar. Tentu saja bagian untuk pelajaran hari ini pun sudah selesai dengan sempurna.

 

"Sudah kok."

 

"Begitu, ya. Seperti dugaan……"

 

Haruru entah mengapa tampak tersenyum kecut.

 

"Apakah terjadi sesuatu?"

 

"Hmm…… Bagiku itu terlampau sulit, jadinya aku tidak mengerjakan PR-nya, sih. Ditambah lagi, karena adanya urusan keluarga, aku tidak kunjung bisa meluangkan waktu untuk belajar…… Ah, rasanya suram sekali karena pasti akan dimarahi saat pelajaran nanti."

 

Haruru memegangi kepalanya sendiri.

 

"Ah, lagipula orang sepertiku ini memang payah, ya. Mau bagaimana pun tidak akan ada satu orang pun yang bersedia menolongku."

 

Gawat. Bagian dari sesosok Malaikat Kegelapan miliknya sudah mulai keluar ke permukaan. Sebuah rasa rendah diri terhadap diri sendiri, dipadukan dengan adanya asumsi bahwa tidak ada satu orang pun yang bersedia menganggap dirinya berharga. Ini adalah pola tipikal yang biasa dialami oleh heroin dengan tipe malaikat kegelapan.

 

"Hei, Haruto-kun. Aku memelihara sebuah permintaan, nih."

 

Haruru yang tadinya memegangi kepala mendadak menaikkan wajahnya lalu menatap lekat ke arahku.

 

"Maukah kamu mengerjakan tugasnya demi menggantikan diriku? Tolong, bantulah aku♡"

 

Imut sekali. Seperti dugaan dari seorang gadis paling cantik nomor satu di akademi. Tanpa sengaja hal itu membuatku menjadi ingin memberikan pertolongan.

 

Terutama untuk tipe Malaikat Kegelapan, keinginan di dalam dirinya untuk diperlakukan secara berharga terhitung sangat kuat.

 

Singkatnya, tindakan yang seharusnya kuambil adalah mengerjakan tugas demi menggantikan posisi Haruru…… tentu saja bukan hal yang seperti itu. Karena aku sudah melewati serangkaian kegagalan berulang kali di dalam game, jadi aku memahaminya.

 

"Tidak boleh. Aku tidak bisa mengerjakan tugas demi menggantikanmu."

 

"Ufufu, terima kasih…… eh, bertaaaaahn!? Aku ditolak!? Ataukah pendengaranku yang salah, nih?"

"Mohon maaf. Pendengaranmu tidak salah, aku memang nyata mengatakan hal yang demikian."

 

Haruru mengatupkan bibirnya secara rapat, lalu dalam sekejap mata ekspresi wajahnya berubah menjadi teramat sedih.

 

"Tolong jangan memasang raut wajah yang tampak sedih seperti itu, dong. Meskipun aku tidak bisa mengerjakannya demi menggantikanmu…… karena aku akan mengajarimu saat jam istirahat makan siang nanti, mari kita kerjakan bersama-sama. Pelajaran Teori Sihir Terapan baru akan dimulai pada waktu siang hari, jadi jika kita mengerjakannya saat jam istahat makan siang, hal itu pasti akan keburu."

 

"Eh? Bersama? Murni hanya berduaan saja bersama Haruto-kun?"

 

"Ah, nggak……"

 

Gawat. Lawan bicaraku adalah gadis paling cantik nomor satu di akademi. Dia mungkin berpikir kalau aku mengajaknya karena memelihara landasan pikiran yang mesum.

 

"Jika memang tidak menyukai kondisi yang hanya berduaan saja, kita tinggal mengajak orang lain juga……"

 

"Nggak, murni hanya berdua saja sudah beneran cukup, kok!"

 

"……Eh?"

"Ah, habisnya, jika ada orang lain, konsentrasiku pasti akan menjadi buyar nanti."

 

"Ah, memang nyata benar apa yang kamu katakan, ya."

 

Baguslah jika Haruru sudah berhasil memelihara gairah untuk mengerjakannya.

 

Kami membuat janji untuk segera menyelesaikan makan siang dengan cepat, lalu saling menunggu di ruang belajar mandiri yang ada di perpustakaan.

 

Fakta bahwa aku memilih untuk tidak mengerjakan tugas demi menggantikan posisinya, melainkan meluncurkan usulan untuk belajar bersama sebenarnya memelihara sebuah alasan. Hal itu adalah demi menciptakan waktu untuk dihabiskan berduaan bersama gadis paling cantik nomor satu di akademi…… tentu saja murni bukan hal yang seperti itu.

 

Seseorang dengan tipe Malaikat Kegelapan memelihara sifat ketergantungan. Jika kamu melakukan segala hal secara terlampau berlebihan demi dirinya, tingkat ketergantungan tersebut akan menjadi semakin menguat. Jika kamu memilih untuk mengambil jarak setelah kondisi yang seperti itu tercipta, dia kali ini akan berubah menjadi seorang yandere dan menuntun rute menuju ke arah Bad End.

 

Karena itulah, tanpa perlu mendepaknya, and tanpa perlu memanjakannya secara terlampau berlebihan, memberikan dukungan demi memicu kemandirian dirinya sembari tetap memperlakukannya secara berharga adalah hal yang semestinya dilakukan. Itulah kunci utama untuk menuntun heroin tipe Malaikat Kegelapan menuju ke arah Happy End.

 

***

 

"Aaahn, bagian yang sebelah sini aku beneran tidak paham, nih…… bagi diriku hal ini terlampau mustahil."

 

Jam istirahat makan siang. Setelah kami berdua menyelesaikan sesi makan siang masing-masing, persis seperti yang dijanjikan, aku mendampingi Haruru mengerjakan tugasnya di dalam ruang belajar mandiri perpustakaan.

 

Haruru dengan gampang langsung melontarkan keluhan pendek, lalu menaikkan wajah untuk menatapku yang sedang duduk di sampingnya.

 

Dihadapi dengan pandangan mata yang seolah memohon pertolongan bagai seekor anak anjing seperti itu, tanpa sengaja aku menjadi ingin mengerjakannya demi menggantikan posisinya. Namun aku menahan gairah tersebut kuat-kuat, and memfokuskan diri murni hanya untuk memberikan arahan petunjuk saja.

 

"Teori Sihir Terapan untuk bagian yang satu ini landasan logikanya memang rumit, sehingga siapa pun pasti akan merasa kesulitan untuk memahaminya, kok. Namun jangan cemas. Coba lihat, arti untuk bagian yang sebelah sini adalah……"

 

Aku memberikan penjelasan mengenai landasan logikanya menggunakan cara yang sebisa mungkin paling mudah dipahami.

 

"Karena itulah jika mengacu pada landasan logika yang tadi, jawaban untuk yang satu ini akan menjadi terlihat, kan."

 

"Ah, begitu, ya!"

 

Raut wajah miliknya yang tadinya tampak mendung, dalam sekejap mata langsung berubah menjadi cerah seolah sedang dihujani oleh pancaran sinar mentari. Dan kemudian, dia menggerakkan penanya secara fokus tanpa memikirkan hal lain demi menuliskan jawaban sampai selesai.

 

Setelah melewati serangkaian pengulangan hal yang serupa selama beberapa kali, tidak lama kemudian Haruru akhirnya berhasil menyelesaikan seluruh soal pertanyaan yang ada.

 

Gadis yang satu ini aslinya tidak memelihara otak yang bodoh, sih, ya. Karena dia sempat bilang kalau tidak kunjung bisa meluangkan waktu untuk belajar akibat adanya urusan keluarga, dia pasti sedang dilanda oleh beraneka ragam hal yang berat.

 

"Horeee! Semuanya beneran sudah selesai!!"

 

"Oh, benar juga. Baguslah kalau begitu, ya."

 

"Ini semua adalah berkat Haruto-kun! Terima kasih, ya!"

 

"Uwoh……!"

 

Tolong hentikan tindakan mendadak memelukku seperti ini secara tiba-tiba, dong. Aroma yang wangi dipadukan dengan adanya sensasi kelembutan daging yang terasa nyata.

 

Jantungku rasanya mau meledak karena tidak sanggup menahannya.

 

……Terlebih lagi, tempat ini adalah perpustakaan, lho.

 

"A-Anu, soal itu…… area sekeliling sedang menatap kita menggunakan pandangan mata yang aneh, lho."

 

"Ah, beneran, toh. Mohon maaf~"

 

Sembari menjulurkan lidahnya sedikit, dia tersenyum manis. Jika sedang berada dalam kondisi yang seperti ini, dia memang nyata memancarkan pesona bagai seorang gadis malaikat, ya.

 

Sebuah pembawaan sikap yang bisa memicu lahirnya salah paham bahwa kami memelihara hubungan yang teramat akrab. Dia sepertinya juga merupakan seorang genius yang bisa memangkas jarak bersama area sekeliling secara tidak sadar, sih, ya.

 

***

 

Haruru berhasil mengamankan kondisinya setelah mengumpulkan tugas

Teori Sihir Terapan secara aman pada saat pelajaran siang hari tadi.

Saat jam pulang sekolah tiba, ketika aku sedang melangkah turun melewati anak tangga dengan niat untuk pulang ke rumah, suara Haruru terdengar memanggilku dari arah belakang.

 

"Untuk hari ini beneran terima kasih banyak, ya."

 

"Sama-sama."

 

Haruru memamerkan ekspresi senyuman yang teramat lebar. Bisa melihat senyuman yang seperti itu membuatku sedikit merasa gembira.

 

"Omong-omong mengenai dirimu yang kemarin sempat bilang sedang menantang suatu hal, apakah hal itu berjalan dengan lancar?"

 

"Iya, sekarang pun aku beneran sedang berada di tengah-tengah sesi menantangnya, lho."

 

"Begitu, ya. Berjuanglah dengan keras, ya."

 

"Ah…… iya."

 

Entah kenapa warna kulit wajahnya berubah menjadi merah pekat.

 

Terlebih lagi, dia mendadak memalingkan pandangan matanya dariku secara terburu-buru.

 

"Kalau begitu, aku melangkah duluan, ya."

 

Apakah baru saja terjadi suatu hal yang memalukan baginya?

──Sembari sosok punggung dari gadis cantik bertubuh kecil itu melangkah pergi menjauh, aku murni hanya memandangnya dengan memelihara rasa heran di dalam hati.

 

"Kalian tampaknya sudah menjadi semakin akrab saja, ya."

 

"Fuakh……"

 

Mendadak diajak berbicara oleh Lena dari arah belakang membuat tubuhku hampir saja meloncat ke atas karena terkejut. Nggak, mungkin tubuhku aslinya memang nyata sudah sempat meloncat ke atas sejauh beberapa sentimeter, sih.

 

"Ah, ternyata Lena, toh. Hubungan kami bukan yang seperti itu, kok. Karena Haruru sepertinya sedang menantang suatu hal, jadi aku berpikir untuk memberikan dukungan saja, lho."

 

"Menantang terhadap hal apa?"

 

"Entahlah…… mengenai hal itu dia memang nyata tidak bersedia mengatakannya secara jelas kepadaku, sih."

 

"Huuumn…… ya sudahlah, pokoknya tolong berhati-hatilah, ya."

 

"Berhati-hati terhadap hal apa yang dimaksud?"

 

"Jika kamu terus-menerus terpikat oleh gadis-gadis yang imut, kamu kelak akan dianggap sebagai seorang pria yang mesum oleh orang lain, lho."

 

"Aku tidak sedang terpikat oleh mereka, kok."

 

"Apakah…… memangnya benar begitu?"

 

Lena menatapku menggunakan pandangan mata yang memicing tajam

(Jito-me). Apakah tanpa adanya kesadaran mandiri, diriku selama ini memang nyata sudah terlanjur terpikat oleh mereka? Aku harus berhati-hati, nih.

 

"Karena aku harus pergi ke bak bunga belakang gedung sekolah seperti biasanya untuk menyiram tanaman, aku izin pamit undur diri di tempat ini, ya."

 

"Ah, iya. Sampai jumpa besok, ya."

 

"Baik, selamat tinggal."

 

Setelah keluar dari gedung sekolah, Lena melangkah untuk berjalan menuju ke arah bak bunga belakang gedung sekolah.

 

Sembari memandangi sosok punggung miliknya yang melangkah dengan gestur tubuh yang anggun, aku memikirkannya di dalam hati.

 

Baik Lena maupun Haruru, aku ingin membuat mereka merasakan tingkat kebahagiaan yang jauh lebih tinggi lagi.

 

Diriku murni hanya sebatas karakter figuran belaka. Karena itulah, memelihara pemikiran untuk membuat banyak heroin menjadi bahagia alih-alih murni hanya sebatas satu orang saja, hal itu mungkin merupakan sebuah pola pikir yang teramat sombong bagiku.




Namun, sebagai seorang penggemar berat “Magi-Ama”, aku tetap ingin membuat para heroin menjadi bahagia.

 

──Sekali lagi, aku memantapkan pemikiran itu di dalam lubuk hatiku.

Kata Penutup


"Salam kenal!" atau "Lama tidak berjumpa!"

 

Kepada para pembaca sekalian, terima kasih banyak karena sudah bersedia membaca karya yang satu ini!

 

Karya ini berhasil mendapatkan Penghargaan Spesial pada ajang Kontes

Kakuyomu ke-10. Dan setelah sekitar satu tahun berlalu sejak penerimaan penghargaan tersebut, proses penerbitannya akhirnya bisa terwujud secara nyata.

 

Rasanya panjang sekali……

 

Meskipun cerita komedi romantis (romcom) yang membawa karakternya masuk ke dalam dunia game sudah ada sampai sekarang, tetapi karya ini berhasil mendapatkan penghargaan karena dinilai segar berkat adanya konsep komedi romantis yang bergerak bolak-balik antara dunia nyata dan dunia game…… namun,

 

"Mari kita buat karya ini menjadi jauh lebih menarik lagi!" Di bawah

cambukan semangat yang tegas dari pihak editor penanggung jawab (Bohong, kok. Beliau memberikan banyak saran dengan teramat lembut.

Aku murni hanya memelihara rasa terima kasih saja), aku sudah berjuang keras untuk melakukan revisi, revisi, dan revisi.

 

Berkat hal tersebut, aku merasa percaya diri bahwa kisah ini sudah mengalami evolusi yang teramat pesat dibandingkan dengan versi versi web (Web Novel). Jika Anda bisa menikmatinya, hal itu sudah merupakan berkah yang paling terbaik bagi seorang penulis.

 

Dan jika Anda merasa cerita ini menarik, aku akan melompat gembira jika Anda berkenan untuk mengekspresikan perasaan tersebut melalui media sosial (SNS) dan sejenisnya. Aku pasti akan melakukan pencarian mandiri (ego-search), kok. (Tertawa).

 

Mohon bantuannya, ya.

 

Selanjutnya adalah bagian ucapan terima kasih.

 

Kepada Tomo-sensei yang sudah menggambar beraneka ragam karakter secara telaten. Terima kasih banyak atas ilustrasinya yang teramat menawan! Imut sekali! Para heroinnya benar-benar imut!! Semangatku langsung dibuat membara! Aku murni hanya memelihara rasa terima kasih yang teramat sangat besar!!

 

Dan seperti yang sudah kutuliskan tadi, kepada pihak editor penanggung jawab yang sudah memberikan beraneka ragam saran. Terima kasih banyak!

 

Terakhir, kepada para pembaca sekalian yang teramat sangat kuanggap berharga. Benar-benar terima kasih banyak!! Aku mencintai kalian semua~!

 

Kalau begitu, mari kita berjumpa lagi nanti, ya.

 

Juni 2026, Haran Tsumugu



Previous Chapter | ToC 

Post a Comment

Post a Comment

close