Bab 1: Masuk ke dalam Dunia Game yang Sedang Kumainkan
◆◆◆
Saat terbangun, aku berada di tengah
hutan belukar. Aku berbaring telentang di semak-semak. Langit tampak bersih dan
biru.
"Di mana ini? Ini... bukan kamarku,
kan?"
Kondisi fisikku... sepertinya tidak ada
masalah. Tidak ada yang sakit, dan kepalaku juga terasa jernih.
Aku berdiri lalu melihat sekeliling.
Tepat di sebelahku ada sebuah kuil kecil kuno berwarna putih. Pintu kayunya
dihiasi ukiran yang rumit, memberikan kesan yang agak misterius. Saat
mengalihkan pandangan ke arah berlawanan, aku melihat sebuah bangunan berlantai
empat di antara pepohonan hutan belukar.
"Di mana sebenarnya ini?"
Begitu berjalan sedikit ke arah bangunan
itu terlihat, hutan segera berakhir, dan aku keluar ke sebuah tempat yang luas.
Di sekeliling tempat itu, berdiri
beberapa bangunan bergaya bata mirip
Eropa abad pertengahan, dan di antaranya
tampak pemuda-pemudi yang mengenakan seragam seperti pelajar berjalan lalu
lalang.
Sebuah pemandangan yang menyerupai
sekolah di dunia fantasi lain terbentang di sana.
"Apa ini sejenis taman hiburan?
...Bukan, ini mirip seperti... Akademi
Sihir Magia yang muncul di
'Magi-Ama'?"
Para murid laki-laki mengenakan setelan
jas biru tua, sedangkan murid perempuan mengenakan jas merah marun, sebuah
seragam yang modis.
Terlebih lagi saat melihat tubuhku
sendiri, aku mengenakan seragam yang sama dengan murid laki-laki lainnya.
Seragam ini maupun bangunan bergaya bata ini benar-benar persis seperti yang
ada di dalam game. Bedanya, baik orang maupun bangunannya bukanlah ilustrasi,
melainkan ada sebagai wujud nyata yang semestinya.
Jangan-jangan aku telah berpindah ke
dalam dunia game?
──Nggak,
nggak mungkin. Mana ada hal konyol begitu. Ini pasti mimpi, kan.
"Aduuuuh!"
Saat mencubit pipiku, rasa sakitnya
terasa sangat nyata. Ini bukan mimpi. Sepertinya aku benar-benar masuk ke dalam
dunia game.
...Kalau begitu, artinya aku bisa bertemu
dengan para heroin yang menawan itu?
Aduh, tunggu sebentar, ini gawat. Mereka
pasti sangat cantik di luar imajinasi, ya. Aku benar-benar ingin mencoba
bertemu dengan heroin.
──Di
saat aku sedang berpikir dengan polosnya seperti itu.
"Zeit-kun! Sebentar lagi pelajaran
akan dimulai, apa yang sebenarnya kamu lakukan di tempat seperti ini?"
Tiba-tiba suara seorang gadis menggema
dari arah belakang. Saat berbalik, seorang gadis berambut merah yang cantik
telah berdiri di sana.
Seorang gadis yang sangat cantik dengan
raut wajah tegas yang tampak sangat berpendirian kuat. Seragam modis Akademi
Sihir Magia terlihat sangat cocok dikenakannya.
"Kalau tidak segera masuk ke kelas,
wali kelas pagi akan dimulai. Kamu bisa terlambat."
Aku dilesat pandangan tajam yang sangat
ketat. Padahal dia sangat cantik, tapi menakutkan.
……Eh, sebentar? Orang ini, mirip dengan
orang itu.
Orang itu berambut hitam sedangkan orang
ini berambut merah, tetapi selain warna rambut, mereka berdua bagai pinang
dibelah dua.
"Anu... Nijouin-san? Kamu juga
datang ke dunia ini? Lihat, aku
Tokitou."
"Hah? Apa yang kamu bicarakan dengan
berpura-pura bodoh begitu? Aku adalah ketua kelas di kelas yang sama denganmu,
Lena Anhalt!"
Eh? Memang mirip sekali, tapi bukankah
dia Nijouin Rena?
"A-Anu... Lena Anhalt-san. S-Salam
kenal."
"Salam kenal, kamu bilang? Kita
berada di kelas yang sama, dan aku sudah berulang kali memperingatkanmu seperti
ini, tapi apa-apaan cara bicaramu yang seperti meremehkan orang itu. Orang
sepertimu selalu saja membolos, meremehkan orang lain, dan benar-benar tidak
bisa ditolong. Tolong hentikan sikapmu itu, Zeit-kun!"
……Eh? Tunggu sebentar. Barusan, dia
memanggilku "Zeit"?
Zeit itu adalah murid berandalan yang
memiliki paket lengkap berupa mesum, kasar, dan berotak udang, bahkan sampai
dipanggil "Gesota" oleh murid-murid lain dan menjadi karakter figuran
murid laki-laki yang dibenci, kan?
*TL/Note:
Geosta merupakan gabungan dari kata "Geso" (ゲソ) yang berarti tentakel
cumi-cumi dan nama belakang "Zeit" (ツアイト). Panggilan ejekan ini
digunakan oleh murid-murid lain untuk menggambarkan sifat Haruto Zeit yang
mesum dan suka menggoda perempuan bagaikan cumi-cumi yang melilitkan
tentakelnya.
Pada saat itu, aku merasakan ingatan
tentang diriku di dunia game ini mengalir deras ke dalam otakku sekaligus.
Aku bisa meyakini bahwa aku benar-benar
telah masuk ke dalam dunia game.
──Nama
asliku adalah "Tokitou Haruto", tetapi di dunia ini aku adalah
"Haruto Zeit".
Berumur 17 tahun dan merupakan murid
kelas dua tingkat atas di
Akademi Sihir Magia. Karakter sampingan
berandalan yang tidak serius dan tidak punya motivasi.
Karakter anjing penggonggong yang kalah
setelah menggoda heroin hingga dibenci, dan pada akhirnya diberi pelajaran oleh
protagonis.
Singkatnya, karakter yang bertugas
menonjolkan kehebatan protagonis.
──Eeeeh!?
Tunggu sebentar!! Aku bukan protagonisnya!?
Dari sekian banyak pilihan, kenapa harus
menjadi Zeit si pria yang dibenci. Diriku sendiri menjadi karakter yang paling
kubenci... yah, mau bagaimana lagi mengatakannya... ini yang terburuk!
Kalau
dipikir-pikir, aku──maksudku bukan Tokitou Haruto, melainkan──Haruto Zeit, juga
telah melakukan hal buruk kepada Lena kemarin. Ingatan itu mendadak terlintas
dalam benakku.
Kemarin saat berpapasan di koridor, aku
mengarahkan pandangan mesum padanya, lalu tiba-tiba berkata, "Ayo kencan
denganku." Tentu saja aku ditolak mentah-mentah dengan ketus, "Tidak
mau!" Menjijikkan. Wajar saja kalau dibenci.
Meskipun di dunia nyata temanku sedikit,
setidaknya aku tidak sampai dibenci seburuk ini. Walaupun ini dunia game,
menjadi peran yang dibenci itu rasanya terlalu menyedihkan.
"Kenapa kamu malah terdiam? Kamu
sangat sering membolos pelajaran dan merusak fasilitas akademi. Namun, kamu
sama sekali tidak merenungkannya. Kamu terlalu tidak serius. Bisakah kamu mulai
bersikap benar? Apakah tidak ada kata keadilan di dalam kamusmu?"
Gadis
cantik yang ada di hadapanku ini adalah salah satu dari main heroin, Lena
Anhalt. Tipe gadis yang menegakkan keadilan dengan gagah berani. Sangat serius
dan agak sulit didekati. Mengingat sifat karakternya itu, tipe kepribadiannya
sudah pasti adalah 【Tipe Putri yang Agung】.
Berkat keberhasilanku memainkan
"Magi-Ama" dengan sangat mendalam, aku bisa menebak tipe kepribadian
heroin dari sedikit tindakan atau perkataan mereka dengan tingkat akurasi yang
terhitung tinggi.
Lena adalah seorang putri bangsawan yang
sangat cantik dan keren. Dia sangat serius dan tegas kepada orang lain, tetapi
dia jauh lebih tegas lagi kepada dirinya sendiri. Kenyataannya, nilai
akademisnya sangat luar biasa, dan dia adalah bunga di puncak gunung yang
membuat masyarakat biasa merasa segan bahkan hanya untuk mengajaknya bicara.
Ingatan yang mengalir masuk memberitahuku
demikian.
Di
antara permainan game yang kulakukan di masa lalu, ada juga heroin dengan 【Tipe
Putri yang Agung】 yang sama.
Tipe ini memiliki atribut tsundere dingin
yang kuat. Sosok gadis cantik keren yang tegas pada diri sendiri maupun orang
lain, saat perlahan-lahan menunjukkan sisi manisnya, terlihat sangat imut nomor
satu.
Namun meski begitu, melihat tokoh
permainan berdiri di hadapanku sebagai manusia nyata benar-benar mengejutkan.
Ilustrasi karakter oleh ilustrator dewa memang luar biasa, tetapi Anhalt yang
ada di depanku ini juga sangat cantik hingga terasa gawat.
……Hmm? Namanya Lena. Nama Nijouin-san
juga Rena. Bukan hanya penampilannya saja, bahkan namanya pun sama. Terlebih
lagi, sifatnya yang sangat serius, tegas pada peraturan, dan berkepribadian
keren benar-benar mirip dengan Nijouin Rena.
Lena Anhalt yang seperti itu, kini sedang
mengarahkan pandangan yang seolah memandang rendah sesuatu yang buruk dan tidak
tertolong kepadaku.
Padahal aku sudah bersusah payah masuk ke
dunia "Magi-Ama" yang sangat kusukai... tolong hentikan tatapan mata
yang sedingin es seperti itu. Ditatap dengan mata seperti itu oleh heroin yang
sangat kusukai rasanya terlalu menyedihkan.
Ah…… aku harus segera menjawabnya dengan
benar, tetapi suaraku tidak mau keluar.
Bukan bermaksud sombong, tapi aku memang
payah dalam berbicara dengan perempuan. Apalagi menghadapi gadis secantik ini,
aku tidak pernah bisa berbicara dengan lancar. Aaah, apa yang harus kulakukan?
……Tidak, tunggu sebentar. Ini adalah
dunia game yang sudah
kumainkan dengan menghabiskan waktu yang
sangat banyak.
Pengalamanku berdialog dengan heroin
sudah sangat kaya, jadi kalau aku bisa membaca karakter atau pola lawan
bicaraku, harusnya aku bisa mengobrol dengan cukup baik. Percayalah pada diri
sendiri.
"Maaf. Aku yang salah."
"……Eh?"
Lena mematung dengan mulut sedikit
terbuka. Reaksi jujur dari diriku yang merupakan karakter berandalan sepertinya
benar-benar di luar dugaannya.
"Aku merenungkannya dan akan
bersikap serius."
Persis seperti perkiraanku. Selain karena
sudah sering bertukar dialog dengan para heroin di dalam game, warna rambut dan
desain seragam yang tidak realistis ini membuatku tidak terlalu gugup meskipun
berhadapan dengan gadis cantik.
"Ah, ti-tidak…… kalau kamu sudah
paham, baguslah."
Syukurlah. Tampaknya dia memercayaiku.
"Tapi selama ini, kamu sudah
berulang kali bilang akan bersikap benar, tapi nyatanya tidak. Jadi, aku tidak
bisa memercayaimu begitu saja."
*Gufakh*, ternyata sama sekali
belum dipercaya. Jatuh bebas dari harapan membuat kerusakan mentalku cukup
besar.
Ingatan di dunia game ini memang
menunjukkan bahwa diriku melakukan tindakan tepat seperti yang dikatakan Lena.
Wajar saja jika tidak bisa langsung dipercaya.
Karena aku hanya karakter figuran, tidak
mungkin aku disukai oleh heroin. Namun, terus-menerus dibenci oleh heroin yang
sangat kusukai itu rasanya terlalu menyedihkan. Karena itu, aku akan bertobat
dan menjadi orang yang serius.
Maksudku, meski sebenarnya kepribadian di
dalamnya sudah tertukar, sih.
"Kenapa malah melamun? Ayo cepat
pergi ke kelas."
"Ah, iya, maaf."
Aku berjalan di belakang Lena menuju
ruang kelas.
Saat memasuki gedung sekolah dan berjalan
di koridor, ada cermin besar yang terpasang di dinding, dan tanpa sengaja
mataku melirik ke sana. Sosok yang terpantul di sana adalah diriku yang dibalut
setelan jas biru tua Akademi Sihir Magia…… namun, dia adalah pria dengan warna
kulit yang tampak tidak sehat dan ekspresi wajah yang penuh ketidakpuasan.
──Uwah,
benar-benar Zeit si karakter yang dibenci. Kalau punya wajah seperti ini,
pantas saja tingkat kesukaannya rendah.
Saat melihat ke depan, rambut merah indah
Lena yang berjalan mendahuluiku tampak bergoyang-goyang, meninggalkan kesan
yang mendalam. Apakah hari di mana aku tidak dilesat pandangan tajam oleh gadis
cantik yang serius ini akan tiba?
Hmm…… sepertinya masa depanku akan penuh
rintangan.
Di dunia ini, sihir itu ada. Penyihir
yang hebat sering kali menjadi pusat di dalam masyarakat dan mengumpulkan rasa
hormat dari orang-orang.
Akademi Sihir Magia adalah sekolah
berorientasi super elit, sebuah lembaga negara yang dibangun untuk mendidik
penyihir-penyihir berbakat yang jumlahnya sangat terbatas di seluruh negeri.
Anak-anak bangsawan dan orang penting di negara ini juga banyak yang bersekolah
di sini.
Murid dengan nilai akademis peringkat
atas di angkatannya disebut sebagai "Top 10", dan konon jika bisa
lulus sebagai Top 10, masa depan mereka akan terjamin.
Aku dan Lena adalah murid kelas dua
tingkat atas, sebuah tahun ajaran di mana persaingan demi masa depan menjadi
semakin sengit. Di permukaan, teman-teman seangkatan menjalani kehidupan
sekolah yang tenang, tetapi di balik layar, mereka saling menganggap satu sama
lain sebagai rival.
Saat aku masuk ke kelas bersama Lena,
mata para teman sekelas serentak tertuju ke arah sini. Semuanya mengenakan
seragam yang sama dan sudah duduk di bangku masing-masing.
Bagaimana mengatakannya, itu adalah
pandangan dingin yang seolah memandang rendah. Aku kembali menyadari dengan
nyata bahwa aku adalah orang yang dibenci. Berada di sini rasanya benar-benar
tidak nyaman, tetapi jika aku membolos pelajaran, reputasiku akan semakin
merosot. Aku menahan diri dan duduk di bangkuku.
Sesaat kemudian, bel tanda masuk
berbunyi. Sebelum guru wali kelas datang, Lena berdiri dan berbicara kepada
semua orang di kelas.
"Aku akan mengumpulkan laporan tugas
untuk Teori Sihir Terapan yang diberikan sebelumnya."
Kalau dipikir-pikir, memang ada tugas
yang harus dikumpulkan
pagi-pagi sekali hari ini. Sebagai ketua
kelas, Lena tampaknya diminta oleh guru untuk mengumpulkannya terlebih dahulu
dari semua murid.
Begitu ya, tugas. Saat menelusuri ingatan
Zeit…… seperti dugaan, aku belum mengerjakan tugas! Ah, Zeit benar-benar orang
yang tidak berguna, ya. ……Yah, itu adalah diriku sendiri, sih.
Tidak. Diriku yang di dunia nyata,
Tokitou Haruto, meskipun merupakan murid yang tidak bersemangat, setidaknya aku
akan mengerjakan tugas dengan serius.
Sambil berjalan di antara deretan meja,
gadis cantik berambut merah itu mengumpulkan laporan dari para teman sekelas.
Akhirnya, dia tiba di sampingku. Mata sipitnya yang indah menatapku dari atas
dengan keren. Menakutkan sekali, Lena-san.
"Maaf. Aku belum
mengerjakannya."
Aku sudah bersiap-siap akan dimarahi oleh
Lena lagi, tetapi dia hanya mengembuskan napas panjang, "Haaah~".
Reaksi itu terasa sedingin tundra. Diperlakukan seperti ini oleh heroin yang
sangat kusukai rasanya sungguh berat.
"Sudah kuduga."
"Iya."
Aku benar-benar telah membuatnya kecewa.
Tidak mungkin mengerjakan tugas sekarang, jadi kali ini mau bagaimana lagi. Aku
hanya bisa mengerjakannya dengan benar di kesempatan berikutnya untuk merebut
kembali kepercayaannya.
Setelah beranjak dari sampingku, sang
ketua kelas memanggil murid-murid lain secara berurutan dan mengumpulkan tugas
mereka.
Hingga akhirnya, dia berdiri di samping
seorang cowok yang memancarkan senyuman teramat menyegarkan.
"Terima kasih atas kerja kerasmu,
Lena! Ini tugasku."
"Ah, iya."
Cowok yang tersenyum itu adalah Dunkel
Sonne. Pemuda tampan berambut pirang yang menyegarkan.
Begitu
melihat wajahnya, aku langsung tersadar. ──Orang ini adalah karakter protagonis
di dunia ini.
Karakter protagonis tidak memunculkan
penampilannya di dalam game
asli, dan namanya pun bisa ditentukan
sesuka hati oleh pemain. Namun, Sonne adalah pria yang memiliki seluruh
ciri-ciri protagonis game.
Berkat ingatan Zeit, aku bisa
mengetahuinya.
Dia
adalah anak seorang bangsawan, tetapi demi melatih kekuatan sihirnya, orang
tuanya memaksanya untuk masuk ke akademi sihir…… begitulah pengaturannya. Dari
sana dia akan terus berkembang, kelak menjadi penyihir yang hebat, dan menjadi
populer di antara para heroin, yang merupakan rute jalur utama──namun untuk
saat ini, tampaknya dia belum sampai ke tahap itu sama sekali.
"Selalu terima kasih, Lena. Selain
cantik, kamu juga serius dan nilai
akademismu luar biasa. Aku
menghormatimu."
"Tolong jangan bermulut manis,
Sonne-san."
"Ini bukan rayuan. Ini benar-benar
tulus dari lubuk hatiku. Aku ingin menjalin cinta yang penuh gairah dengan
orang yang cantik sepertimu."
Apa-apaan yang dikatakannya, orang ini.
Hebat juga dia berani merayu secara tiba-tiba di dalam kelas. Yah, karena ini
adalah galge, hal seperti itu mungkin saja terjadi.
"Sonne-san. Kewajiban seorang
pelajar adalah menuntut ilmu. Bukan waktunya untuk membicarakan tentang cinta
atau asmara."
Lena tampaknya belum menaruh rasa suka
padanya. Namun, lambat laun dia pasti akan menyukainya, kan.
Sebab, menaklukkan gadis dengan cara
seperti itulah yang disebut galge.
Sebaliknya, aku adalah peran pembantu
yang bertugas menonjolkan kehebatannya. Sifatku tidak serius, suka mengganggu
heroin hingga dibenci, dan pada akhirnya menjadi peran yang diberi pelajaran
oleh protagonis. Saat kenyataan itu terlintas di kepala, rasa sedih yang tidak
bisa dilukiskan dengan kata-kata merambat ke seluruh tubuhku.
Aku tidak mau peran seperti ini. Namun,
jatuh cinta dengan heroin adalah tugas dari protagonis. Karakter figuran tidak
boleh memiliki harapan yang terlalu muluk seperti ingin disukai oleh heroin.
Aku mengandalkanmu, Tuan Protagonis.
Tolong buat Lena bahagia.
"Zeit-kun. Apa yang sedang kamu
lihat dengan melotot begitu?"
Gawat, ceroboh sekali. Tanpa sadar aku
malah memandangi Lena dengan linglung.
Haruto Zeit adalah pria yang mesum dan
tidak keruan. Bagi Lena yang sangat serius, ditatap saja pasti akan terasa
seperti sebuah tindakan yang tidak senonoh.
"Ah, tidak, bukan apa-apa. Mohon
maaf."
Meskipun begitu, tampaknya sifat Lena
yang tegas sudah dipahami dengan sangat baik oleh semua orang di kelas. Saat
dia berbicara, suasana ruang kelas seketika menjadi tegang. Melihatnya secara
objektif, aku bisa merasakan adanya jarak antara Lena dan teman-teman
sekelasnya.
【Tipe Putri yang Agung】 di
dalam game asli yang kumainkan juga memang terasa seperti itu. Di dalam game,
dengan dicintai secara mendalam oleh protagonis, perlahan-lahan dia menjadi
bisa menunjukkan sikap yang lembut kepada orang lain.
Dan pada akhirnya, dia menjadi disukai
oleh semua orang di akademi, hingga saat ending tiba, aku bisa menaikkan
tingkat kebahagiaannya hingga mendekati nilai sempurna.
Senyuman bahagia yang diperlihatkan oleh
heroin yang keren di bagian ending terlihat sangat imut, dan bahkan sampai
sekarang masih terukir dalam di dalam benakku.
Lena terus mengumpulkan tugas dari
teman-teman sekelas yang lain.
Dan setelah selesai mengumpulkan semuanya
sampai akhir, dia meletakkannya di atas meja guru. Tepat pada saat itu, seorang
guru perempuan bertubuh kecil masuk ke dalam kelas.
"Oh, terima kasih sudah mengumpulkan
tugasnya, Anhalt-san."
"Sama-sama."
"Baiklah, kalau begitu mari kita
mulai wali kelasnyaaa~"
Ingatanku memberikan pengenalan. Orang
ini adalah guru wali kelas,
Kaoru Co Kinto-sensei.
Hmm? Kinto-sensei benar-benar mirip
dengan Koyasu Kaoruko-sensei
yang merupakan guru wali kelas di kelasku
saat di SMA Makiya.
Bertubuh kecil dan berwajah
kekanak-kanakan. Padahal begitu, payudaranya besar. Omong-omong, dia masih
lajang. Umu, tidak disangka bisa semirip ini.
Mengingat hal itu, bukan hanya heroin
saja, tetapi bahkan guru wali kelas pun mirip dengan orang di dunia nyata.
Sebenarnya bagaimana
struktur dunia ini. ……Dipikirkan seperti
apa pun, aku tidak tahu.
Aslinya ini pasti menjadi hal yang
membuatku sangat penasaran hingga tidak bisa menahannya, tetapi entah mengapa,
aku merasa tidak apa-apa jika membiarkannya begitu saja.
Karena ingatan dari dunia ini sudah
mengakar dengan kuat di dalam otakkku, aku tidak merasakan keanehan apa pun
terhadap lingkungan
ini.
Lagipula
dipikirkan pun tidak akan paham, jadi mari kita kesampingkan pencarian jawaban
itu untuk sementara. Daripada itu──
"Tentu tidak ada orang kurang ajar
yang tidak mengerjakan tugasnya,
kan?"
Krisis kehilangan kepercayaan dari
orang-orang di sekitarku kembali mendekat di depan mata. Hal ini adalah tugas
yang lebih mendesak.
Untuk saat ini, mari kita menyerahkan
diri lebih awal.
"Saya belum mengerjakannya. Mohon
maaf."
"Haaahh? Dasar anak kurang
ajar!"
Aku dilesat pandangan ketat yang sangat
sengit. Apa-apaan pilihan kata
itu. Seperti zaman Edo saja.
Tampaknya satu-satunya orang yang tidak
mengerjakan tugas hanyalah diriku, jadi aku dimarahi habis-habisan oleh guru.
Sungguh berat.
Melihat diriku yang dimarahi, Lena
menatap dengan mata penuh penghinaan, membuat rasanya menjadi dua kali lipat
lebih berat.
Umu…… satu demi satu perkembangan yang
membuatku dibenci oleh
Lena terus terjadi. Ini benar-benar
menunjukkan unjuk gigi yang semestinya dari seorang karakter figuran
penggonggong yang kalah…… tapi tetap saja, ditatap dengan mata penuh penghinaan
oleh heroin yang sangat kusukai adalah hal yang tidak bisa kutahan.
……Benar juga. Mari kita selesaikan tugas
ini selama jam istirahat makan siang lalu mengumpulkannya kepada guru.
Istirahat makan siang. Sambil membawa
buku catatan untuk tugas, aku berjalan di koridor menuju kantin.
Di tengah jalan, ada seorang gadis
berkacamata yang berjalan sambil bergumam sendiri dengan wajah yang tampak
tidak percaya diri. Dia adalah murid perempuan di kelas yang sama.
"Orang sepertiku melakukan apa pun
pasti gagal, tidak ada gunanya juga kalau hidup……"
Meskipun bertubuh kecil dan berpenampilan
imut, sifatnya sangat negatif.
Dia
adalah──kemungkinan besar gadis dengan tipe kepribadian 【Kucing
Kecil yang Pemalu】.
Sesuai arti katanya, dia pemalu dan
pendiam. Evaluasi terhadap dirinya sendiri rendah dan memiliki pembawaan yang
negatif. Tampaknya dia tidak terbiasa diperlakukan dengan lembut oleh orang
lain, dan jika kita bersikap lembut padanya, dia akan menjadi jinak.
Melihat kondisinya yang sekarang,
sepertinya tidak ada orang di sekitarnya yang memperlakukannya dengan lembut.
Karena rasanya terlalu kasihan, aku mengumpulkan keberanian, menyadari suaraku
agar terdengar selembut mungkin, lalu menyapanya.
"Tidak apa-apa. Tidak mungkin
seperti itu. Aku tahu seberapa tulusnya dirimu. Semangatlah."
Aku tidak tahu apakah kata-kata ini akan
membekas jika dikatakan oleh Zeit yang biasanya memiliki tindakan dan perkataan
yang tidak keruan.
Namun, aku tidak bisa membiarkan begitu
saja seorang gadis yang tampak tidak percaya diri dan terlihat seperti akan
jatuh sakit secara mental.
"Ah…… terima kasih. Ka-Kamu……
ternyata orang yang cukup lembut, ya."
Di wajahnya, sedikit sinar matahari mulai
terbit. Syukurlah. Tampaknya aku bisa sedikit menyemangatinya.
Aku berbicara dengannya dengan sikap yang
selembut dan setulus mungkin. Sifat itu tampaknya tersampaikan dengan baik, dan
aku lega karena dia menerimanya dengan jujur.
Seperti dugaan, di dunia ini pun tipe
kepribadian heroin sama seperti yang ada di dalam "Magi-Ama". Kalau
begitu, pengetahuan game milikku mungkin bisa dimanfaatkan untuk sesuatu.
Sambil memikirkan hal itu, saat aku
mempercepat langkah kaki menuju kantin, aku berpapasan dengan Lena yang sedang
menegur seorang murid laki-laki yang lewat.
"Lihat, kamu yang di sebelah sana.
Bagian belakang kemejamu keluar, lho."
"Eh? Ah, maaf. Aku hanya tidak
menyadarinya."
"Tidak perlu mencari alasan.
Merapikan penampilan sudah ditetapkan di dalam regulasi sekolah kami.
Berantakannya pakaian adalah berantakannya hati. Tidak menyadarinya adalah
bukti bahwa kesadaranmu tidak diarahkan ke sana dengan benar. Tolong pakai dengan
rapi."
Uwah, seperti biasa dia sangat ketat
terhadap aturan. Murid laki-laki yang ditegur sampai ketakutan. Padahal hanya
ujung baju yang keluar sedikit, harusnya dilepaskan saja tidak apa-apa.
"Ba…… baik. Mohon maaf."
Murid laki-laki itu dengan tergesa-gesa
memasukkan ujung kemejanya ke dalam celana dengan rapi, lalu buru-buru pergi
meninggalkan tempat itu seolah sedang melarikan diri.
Sambil memandangi punggung murid itu,
Lena menggumamkan kata-kata yang tidak terduga dari mulutnya.
"Nah. Lagipula pakaian yang rapi kan
membuat terlihat lebih keren. Hal itu juga membuat citramu menjadi lebih baik,
jadi bagus, kan."
Memang benar murid laki-laki tadi, yang
sampai barusan memancarkan atmosfer berantakan, setelah merapikan pakaiannya
menjadi terlihat
cukup bagus.
Pada saat itu, Lena berbalik dan mata
kami saling bertemu.
"Fuwakh!"
Tampaknya dia sama sekali tidak menyangka
tindakannya akan dilihat oleh orang lain. Lena menunjukkan ekspresi wajah yang
panik hingga tidak bisa dibayangkan dari pembawaannya yang biasanya keren.
"Kamu berkata tegas kepada orang
lain, tapi bukan sekadar cerewet soal aturan, melainkan sebenarnya karena
alasan kepedulian terhadap lawan bicara, ya."
"Fuguk…… ti-tidak. Mematuhi aturan
itu sendiri juga sangat penting. Karena itulah yang disebut keadilan.
Da-Daripada membicarakan hal itu, Zeit-kun. Orang yang terus-menerus melanggar
aturan sepertimu tidak bisa diterima. Kita adalah murid dari sekolah super elit
bernama 'Akademi Sihir Magia'. Kita harus menjadi sosok yang bisa menjadi
panutan bagi semua orang."
Aku dilesat kata-kata yang diucapkan
dengan sangat cepat. Gawat, aku malah membangunkan ular yang sedang tidur, ya.
"Ah, soal itu aku merenungkannya,
kok. Aku akan bersikap benar."
"Aku mengandalkanmu. Kalau begitu,
Zeit-kun, selamat tinggal."
Sambil memutar tumitnya, Lena melangkah
pergi dengan cepat.
Aku
melihat sisi lain yang tidak terduga dari dirinya. Semua orang salah paham
terhadapnya, tapi dia pasti sebenarnya adalah orang yang lembut, ya. Namun, dia
memiliki kepribadian yang tidak bisa mengucapkan hal seperti itu dengan jujur.
Benar-benar 【Tipe Putri yang Agung】.
Rasanya begitu.
Aku tiba di kantin. Setelah memesan
sepiring menu makan siang di
konter sistem kafetaria, aku membawa
nampan dan duduk di bangku.
Aku membuka buku catatan di atas meja.
Karena tidak ada waktu, sambil menyantap makanan menggunakan sendok di tangan
kiri, aku menyelesaikan tugas secara diam-diam menggunakan pena di tangan
kanan.
"Fiuh~"
Tepat saat pekerjaanku selesai satu
tahap, dari bangku di belakangku terdengar suara pria yang berbicara dengan
berbisik.
"Apakah Sonne-san menyukai
Lena?"
Di dalam kantin yang bising suara kecil
itu sulit didengar, tetapi karena
tertarik oleh kata "Lena", aku
memasang telinga.
"Yah, aku menyukainya. Perempuan
yang imut semuanya aku suka."
──Sonne……
Sonne yang di kelas yang sama? Tidak, tidak mungkin protagonis mengucapkan
kalimat sampah seperti ini, kan?
Saat melirik sekilas untuk memastikan
situasinya, tidak disangka itu benar-benar Sonne sendiri.
"Apakah Lena memiliki perasaan suka
terhadap Sonne-san, ya?"
Lawan bicaranya adalah Monto, murid
laki-laki yang menjadi kaki tangan Sonne.
"Entahlah. Untuk saat ini aku belum
tahu, tapi aku pasti akan membuatnya jatuh hati."
"Dia itu perempuan kaku, lho. Apakah
akan berjalan lancar?"
"Perempuan itu, kalau diberikan
kalimat yang tampaknya membuat mereka senang beberapa kali, pasti akan jatuh
hati juga. Gampang sekali, gampang."
"Tapi kalau begitu, bukankah murid
perempuan itu tidak bisa bahagia? Aku tidak terlalu paham, sih, tapi lihat,
kudengar murid perempuan semuanya ingin dihargai oleh pacarnya."
"Apa yang kamu katakan seperti anak
kecil begitu. Apakah isi otakmu itu ladang bunga? Perempuan itu paling cepat
dijatuhkan menggunakan teknik. Selama ini aku sudah menjatuhkan banyak murid
perempuan dengan cara seperti itu, jadi sudah pasti tidak salah."
"Begitu, ya. Seperti dugaan dari
Sonne-san! Hebat sekali."
Sikap Monto yang menjilat itu terasa
menjijikkan.
"Lagipula, Lena itu sifatnya galak
dan tampaknya merepotkan, dadanya juga tidak bisa dibilang besar. Rasanya
target utamaku lebih baik perempuan lain saja. Gadis cantik satunya lagi di
kelas, Haruru. Anak itu dadanya besar dan seksi. ……Membayangkannya saja
membuatku terangsang. Aku ingin menidurinya."
Sonne menyeringai mesum. Monto adalah
anak pelayan yang mengabdi di keluarga Sonne, sekaligus pria yang paling ia
percayai. Karena itulah
Sonne menunjukkan sifat aslinya. Di
permukaan dia adalah putra bangsawan yang tulus, tapi ternyata sifat aslinya
sekotor ini.
Murid lain maupun guru tidak ada yang
menyadari bahwa Sonne adalah orang yang bajingan. Bagi aku yang bermain dengan
sangat mementingkan tingkat kebahagiaan heroin, ini adalah sikap yang sangat
keterlaluan dan tidak pantas dilakukan oleh seorang protagonis.
"Tingkat kebahagiaan heroin tidak
penting. Yang penting bisa menjatuhkan murid perempuan dengan cepat dan
melakukan hal seksi,"
jika ditaklukkan oleh pria dengan
pemikiran seperti itu, aku hanya bisa melihat masa depan di mana heroin menjadi
tidak bahagia. Aku harus melakukan sesuatu.
──Tidak,
tunggu. Di game ini aku adalah karakter figuran yang dibenci. Karakter figuran
tidak boleh ikut campur secara aneh kepada protagonis.
"Tidak, sepertinya aku akan tetap
mengincar Lena saja. Membuat perempuan berpendirian kuat bertekuk lutut itu
terasa menggairahkan. Hehehe."
Tawa menjijikkan Sonne tersampaikan ke
telingaku sebagai sensasi tidak menyenangkan yang meremang. Jika membiarkan
pria ini, dipikirkan seperti apa pun aku tidak merasa heroin bisa bahagia.
Rasanya sangat menyebalkan hingga
membuatku mual.
Persetan dengan aku yang merupakan
karakter figuran atau bukan.
"Oi, Sonne. Apa-apaan yang kamu
katakan. Agar murid perempuan
(heroin) bisa bahagia dengan benar, kamu
harusnya memperlakukan mereka dengan lebih tulus, kan."
Saat menyadarinya, aku sudah berdiri di
hadapan Sonne.
"Hah? Apa, Zeit. Kamu menguping,
ya?"
"Kebetulan
aku duduk di bangku belakang dan percakapan kalian terdengar. Daripada itu,
bertindaklah dengan benar agar parameter 【Tingkat
Kebahagiaan】 heroin bisa naik dengan pasti. Tolong."
Jika Sonne yang merupakan protagonis
bertobat dan membuat heroin bahagia, itu adalah rencana terbaik.
"Hah? Heroin? Parameter tingkat
kebahagiaan? Apa yang kamu bicarakan."
"Ah, tidak……"
Mengucapkan istilah game tentu saja tidak
akan tersampaikan, ya. Aku melakukan kesalahan.
"Intinya, tempatkan kebahagiaan
murid perempuan di urutan nomor satu, begitu."
"Berisik. Tidak ada hubungannya
orang mesum, kasar, dan bodoh sepertimu mengaturku. Apa kamu punya niat
terselubung?"
"Tidak ada niat terselubung. Aku
hanya mengatakan apa yang jujur
kupikirkan. Tolong hargai murid perempuan
dan naikkan tingkat
kebahagiaan mereka."
"Tingkat kebahagiaan? Apa-apaan itu.
Aku tidak akan menerima perintahmu. Intinya aku hanya ingin menjatuhkan
perempuan dan meniduri mereka. Kebahagiaan atau apa, aku tidak tahu.
Hehehe."
Meskipun aku menundukkan kepala
dalam-dalam untuk memohon, dia sama sekali tidak berniat mendengarkan. Pria
bajingan yang tidak tertolong.
"Tunggu sebentar, Sonne-san. Kalau
kamu berkata begitu, si keparat Zeit ini bisa mengadu kepada Lena atau Haruru,
lho. Bukankah itu gawat?"
"Tidak apa-apa. Apa pun yang
dikatakan Zeit, orang-orang hanya akan berpikir dia sedang berusaha
menjebakku."
"Benar juga."
"Tunggu, Sonne. Kamu itu protagonis,
kan. Tolonglah, tempatkan kebahagiaan heroin di urutan nomor satu."
"Cih…… cerewet sekali. Aku tidak
tertarik dengan kebahagiaan perempuan. Aku tidak akan menerima perintahmu
sedikit pun. Aku akan menjatuhkan perempuan dengan caraku sendiri. Dah."
"Meskipun aku sudah memohon sebanyak
ini tetap tidak bisa, ya?"
Sonne bahkan tidak membalas lagi, dia
tertawa meremehkan dari hidung lalu berlalu pergi.
"Siaaal……"
Ah, tidak bisa. Seberapa busuknya orang
itu. Jika dibiarkan begini, Lena pasti akan menjadi tidak bahagia.
Jika aku protagonisnya, aku pasti akan
membuat Lena bahagia. Aku tidak tahan melihat heroin "Magi-Ama" yang
sangat kusukai dirusak oleh pria seperti itu.
Namun, apa yang bisa dilakukan oleh Zeit
si karakter yang dibenci. Meskipun aku yang sekarang memperingatkan Lena,
"Hati-hatilah terhadap Sonne," dia pasti tidak akan memercayaiku. Ini
menyebalkan, tapi yang dikatakan orang itu benar.
Tidak. Terus-menerus bilang tidak bisa
juga tidak ada gunanya. Aku ingin membuat Lena bahagia. Kalau begitu, apa yang
harus kulakukan.
Memang benar Zeit adalah karakter
figuran, jadi dia tidak akan bisa menjadi kekasih heroin dan membuatnya
bahagia. Namun, menolongnya atau melindunginya dari pendekatan Sonne yang
bajingan
itu bisa dilakukan.
Benar sekali. Aku tidak peduli meskipun
tidak disukai oleh heroin.
──Aku
yang akan membantu agar heroin bisa bahagia. Bukankah begitu
saja sudah cukup?
Untuk itu, pertama-tama aku perlu
mengubah citra diriku di mata Lena dari minus menjadi plus. Jika tetap seperti
sekarang, memperingatkan
Lena tentang sifat asli Sonne pun tidak
akan dipercaya.
Pertama-tama, membalikkan reputasi buruk
Zeit dan membuatnya berpikir aku adalah orang yang bisa dipercaya. Itulah hal
pertama yang harus kulakukan.
***
Tugas
itu tidak bisa kuselesaikan hanya dalam waktu makan saja. Aku berpindah dari
kantin ke perpustakaan untuk melanjutkan sisanya. Dan menggunakan waktu sampai
detik-detik terakhir berakhirnya jam istirahat makan siang──
"Fiuh…… sempat juga."
Tugas akhirnya selesai. Aku bergegas
membawa buku catatan yang
sudah dirangkum ke ruang guru.
Saat membuka pintu ruang guru, mata dari
lima atau enam orang guru yang berada di dalam ruangan serentak tertuju
kepadaku. Gawat.
Rasanya agak tegang.
Guru wali kelas, Kaoru Co Kinto-sensei,
ada di sana. Begitu melihat sosoknya yang bertubuh kecil dan berwajah
kekanak-kanakan itu, ingatan tentang dia yang sedang mencari pasangan nikah……
mendadak muncul di kepala. Begitu ya. Dia sedang mencari pasangan nikah.
Aku mendekati meja guru itu, lalu
memanggil punggungnya yang sedang menghadap meja.
"Kinto-sensei."
"Hiekh……!"
Guru itu sedang memandangi foto yang
dikeluarkan setengah dari dalam amplop, lalu mengeluarkan suara yang terdengar
seperti akan terjungkal karena suaraku. Kinto-sensei dengan tergesa-gesa
memasukkan kembali foto itu ke dalam amplop.
Foto pria yang tampaknya untuk perjodohan
terlihat sekilas. Pria yang lumayan jantan.
Begitu ya, pria tipe seperti itu rupanya
seleramu. Sampai di ruang guru pun, kamu sangat bersemangat ya, Guru.
"Ah, Zeit-kun. A-A-Ada apa, ya!?
Ja-Ja-Jarang sekali kamu datang ke ruang guru. Mau mengajak berantem?"
──Kenapa
malah mengajak berantem, sih.
"Tidak. Saya membawa tugas yang
tidak bisa dikumpulkan tadi pagi. Tadi saya mengerjakannya dengan memanfaatkan
waktu istirahat makan siang. Mohon maaf karena terlambat."
"Eh? Kamu?"
"Iya. Saya."
"Mengerjakan tugas?"
"Iya, saya mengerjakannya."
"Bohong, kan?"
"Benaran, kok."
Guru ini orangnya baik dan penampilannya
imut, tapi kecerobohannya terlalu berlebihan. Padahal muridnya sudah bersusah
payah bilang mengerjakan tugas, tapi responsnya malah "Bohong, kan".
Aku tahu dia tidak bermaksud buruk, jadi tidak apa-apa, sih.
Tidak, tapi membuat guru sampai
mengatakan hal seperti itu adalah karena perbuatan sehari-hari dari diriku……
maksudnya Haruto Zeit
yang terhitung sangat buruk, sih.
"Kamu mengerjakannya sendiri?"
"Tentu saja."
"Begitu, ya. Bagus sekali. Sengaja
mengorbankan waktu istirahat makan siang demi mengerjakan tugas, Guru sampai
terharu, lho."
Sesuatu yang berkilau tampak mengambang
di mata guru.
Jangan-jangan dia berkaca-kaca?
……Oho, sepertinya dia benar-benar
terharu. Dia memang orang baik, ya.
Karena
tiba-tiba dia mengulurkan tangan untuk meminta jabat tangan, aku membalasnya
dengan erat. Guru menjabat tanganku untuk beberapa saat. Guru masih terus
menjabat tanganku. Terlebih lagi guru menjabat tanganku──
"Guru. Tolong lepaskan."
"Ah, maaf, Zeit-kun. Tidak disangka
hari seperti ini akan tiba selama aku hidup. Guru tanpa sengaja sampai gemetar
karena terharu demi tei."
Gaya bicara apa itu. Guru terlalu lucu,
tahu.
"Kalau begitu, saya permisi."
Setelah
membungkuk kepada Kinto-sensei, saat berbalik untuk keluar dari ruang guru──
"Uwah, mengagetkan saja!"
Seorang gadis cantik berambut merah
berdiri di depanku. Lena Anhalt.
Tampaknya dia datang karena ada urusan
dengan Kinto-sensei.
"Zeit-kun. Apakah benar kamu
mengorbankan waktu istirahat makan siang untuk mengerjakan tugas?"
Ternyata kedengaran, ya. Memalukan
sekali.
"Iya. Begitulah."
"Kenapa?"
"Kenapa, ya…… karena aku sudah
berulang kali membuatmu merasa tidak nyaman, jadi kupikir aku harus
mengerjakannya dengan agak serius."
"Mengerjakan tugas dengan serius itu
bukan untukku, Zeit-kun, tapi untuk dirimu sendiri."
"Memang benar begitu, sih. Tapi yang
membuatku menjadi memiliki perasaan harus mengerjakannya itu adalah kamu."
"…………"
Lena terdiam, menatap mataku seolah
sedang mencari tahu
ketulusanku.
Karena kalimatku terlalu seperti murid
teladan, mungkin terkesan mencurigakan. Namun, aku hanya mengatakan apa yang
jujur kupikirkan.
"Begitu, ya. Kalau begitu, mari kita
anggap saja demikian. Mulai sekarang berjuanglah terus."
Meskipun nada bicaranya tetap dingin.
Raut wajahnya yang biasanya keren tampak sedikit melunak untuk sesaat.
Mungkinkah dia sedikit memercayai diriku…… kuharap begitu.
──Sambil
memikirkan hal itu, aku keluar dari ruang guru.
***
Pelajaran siang berakhir dan waktu pulang
sekolah pun tiba. Pelajaran berpusat pada hal-hal yang berkaitan dengan sihir,
tetapi ada juga pelajaran sejarah negara ini dan matematika.
Pengetahuan
Zeit seharusnya ada di dalam kepala, tetapi mengenai belajar, keparat ini pasti
bermalas-malasan. Khususnya pelajaran sihir, aku tidak terlalu memahaminya.
Meskipun begitu, satu hari di akademi sihir terasa segar dan menstimulasi,
serta terhitung cukup menyenangkan──hal seperti itu kupikirkan dengan linglung
seorang diri di dalam kelas yang murid-muridnya sudah pulang semua.
Karena ingatan Zeit mengalir ke dalam
kepala, keanehan menghabiskan waktu di dunia ini hampir tidak ada. Malahan,
dibandingkan kembali ke dunia nyata yang damai tanpa ada satu pun stimulasi,
berada di sini bisa dibilang lebih menyenangkan.
Terlebih
lagi, mendapatkan kepercayaan Lena, melindunginya dari Sonne, dan kemudian
membuatnya bahagia──tujuan itu telah tercipta.
Bagus. Pertama-tama untuk mendapatkan
kepercayaan Lena, sesuai dengan hukum tindakan game romansa, mari pergi ke
tempat di mana heroin berada dan menjalin interaksi dengannya.
Meskipun dibilang begitu, di sini tidak
ada peta, tidak bisa juga berpindah tempat secara instan ke lokasi heroin
berada.
Sama seperti kehidupan di dunia nyata,
aku tidak punya pilihan selain berjalan memindahkan kaki sendiri, mencari Lena,
memanggilnya, lalu mengobrol. Uwah, tidak praktis sekali. Tapi mau bagaimana
lagi. Sambil mendekap tas, aku keluar dari kelas.
Saat berjalan di koridor menuju jalan
keluar, aku melihat Lena berjalan sedikit di depanku. Tepat di saat aku
berpikir untuk mengejarnya dan menyapanya, Sonne dari arah samping mengajak
dirinya berbicara. Sial, aku didahului.
"Hai, Lena. Apa kamu mau pulang
sekarang?"
"Ya, benar."
"Seperti biasa kamu cantik,
ya."
"Meskipun rayuan, terima kasih
banyak."
"Ini bukan rayuan. Aku hanya jujur
mengatakan hal yang indah itu indah. Hanya sebatas itu saja."
"Seperti dugaan dari Sonne-san.
Mulutmu pandai sekali, ya."
Sambil berjalan berdampingan, Lena
membalas dengan keren.
Melihat situasi ini, seperti dugaan,
heroin ini belum jatuh cinta terhadap protagonis.
Syukurlah. Jika Lena sudah terpikat
kepada Sonne, maka segalanya akan terlambat.
Seperti dugaan, Sonne salah dalam cara
memperlakukan Lena. Karena pemikirannya adalah menjatuhkannya dengan cepat, dia
tidak memahami perasaan heroin.
Lena
adalah 【Tipe Putri yang Agung】
yang memiliki rasa keadilan yang tinggi dan menjaga jarak dari sekitarnya.
Heroin tipe ini tidak akan percaya hanya dengan dipuji penampilannya saja.
Alih-alih begitu, dia justru akan kehilangan minat karena menganggapnya sebagai
pria yang pandai bicara tetapi tidak bisa dipercaya.
Berdasarkan
pengalaman memainkan "Magi-Ama" dengan mendalam, untuk membuka hati
karakter tipe ini adalah──"bersimpati dengan tulus terhadap cara berpikir
dan tindakannya".
Meskipun Lena percaya apa yang
dilakukannya adalah benar, dia memelihara pergolakan batin karena jarak yang
dibuat oleh sekitarnya.
Karena itu, alih-alih memuji hal yang ada
di permukaan, hal yang penting adalah bersimpati terhadap prinsip dan
tindakannya. Jika melakukannya, dia akan memercayai kita dan menaruh rasa suka.
Padahal begitu, Sonne justru melakukan
hal yang berkebalikan. Karena itulah dia gagal.
──Padahal
di dunia nyata aku adalah pria yang bahkan tidak bisa berbicara dengan becus
kepada perempuan, entah kenapa aku bisa berbicara besar begini, sih.
"Kalau begitu, Sonne-san. Karena
saya terburu-buru, saya permisi pergi duluan. Selamat tinggal."
Setelah Lena mengatakannya dengan dingin,
dia mempercepat kecepatan berjalannya lalu pergi dengan langkah cepat. Lihat
itu, dia ditolak.
Sonne yang ditinggalkan berdiri diam,
menggumamkan sesuatu dari mulutnya.
"Kalau perempuan biasa, dengan yang
tadi saja pasti sudah mengibaskan ekor dan menjilat. Sial, perempuan itu. Lihat
saja nanti. Bagaimana pun caranya akan kujatuhkan."
Sorot mata Sonne yang berkilat membuatku
merinding.
Untuk saat ini Lena memang tidak terpikat
kepada Sonne, tetapi membalikkan keadaan dari sana dan membuat heroin
menyukainya adalah hal yang sewajarnya dari game romansa. Jika Lena sampai
menyukai Sonne tanpa menyadari bahwa dia adalah pria yang bajingan, itu adalah
hal yang terburuk.
Tadinya aku berpikir untuk
memperingatkannya setelah mendapatkan kepercayaan Lena, tetapi jika begitu,
mungkin semuanya akan terlambat. Mari pergi memperingatkannya sekarang. Agar
dia bisa memercayai diriku, aku tidak punya pilihan selain menjelaskannya dengan
sepenuh hati.
Aku bergegas keluar dari gedung sekolah
lalu melihat ke kiri dan ke kanan, tetapi sosok Lena tidak terlihat.
Jika ke kanan adalah gerbang utama, jika
ke kiri adalah arah belakang gedung sekolah. Karena sekarang adalah waktu
pulang sekolah, kemungkinan yang tinggi tentu saja kanan, ya. Setelah menilai
begitu, aku berlari menuju arah kanan.
Hasil dari hal itu adalah…… salah. Aku
pergi sampai ke gerbang utama tetapi tidak bisa menemukan Lena.
Di sebelah gerbang utama, ada
Kinto-sensei yang sedang mengantarkan murid-murid pulang.
"Guru. Apakah Anda melihat Lena
Anhalt?"
"Tidak melihatnya, tuh. Kalau dia
yang biasanya, dia akan menyiram tanaman di bak bunga belakang gedung sekolah
sebelum pulang. Dia bilang itu sebagai ucapan terima kasih kepada bunga-bunga
yang selalu memperlihatkan pemandangan indah. Padahal itu bukan tugasnya, tapi
dia menyiramnya secara sukarela, lho."
"Heh, begitu ya."
Seperti dugaan, Lena adalah orang yang
lembut, ya.
"Itu yang dinamakan menanam kebaikan
secara sembunyi-sembunyi."
"Menanam kebaikan secara
sembunyi-sembunyi?"
"Iya. Artinya menumpuk perbuatan
baik tanpa diketahui oleh orang lain.
Luar biasa, kan."
"Luar biasa, ya. Aku juga baru saja
berpikir demikian."
Tadinya aku mengira guru ini adalah
karakter yang ceroboh, tapi dia memang pantas menjadi seorang guru. Aku
benar-benar telah meremehkannya, mohon maaf.
"Heh, tidak disangka kamu mengatakan
hal seperti itu, ya. Kamu juga sudah berubah 360 derajat, ya."
"Guru, kalau 360 derajat, artinya
berputar satu putaran dan kembali seperti semula, lho?"
"Hoeikh…… ya-yadah, Zeit-kun! Lihat,
ini kan lelucon yang sering ada! Ya, ini adalah lelucon!"
Kutarik kembali ucapan sebelumnya. Dia
memang karakter yang ceroboh.
"Terima kasih, Guru."
"Sa-Sama-sama."
Setelah meninggalkan guru perempuan yang
memiliki wajah seperti anak kecil yang hendak menangis itu, aku kembali ke
jalan yang kulalui tadi.
Halaman belakang berada di arah sebelah
kiri setelah keluar dari gedung sekolah. Artinya, penilaianku yang tadi
benar-benar berkebalikan.
Memilih pilihan yang salah dari
probabilitas setengah…… umu, dasarnya aku bodoh.
──Tunggu
sebentar. Aku pernah mengalami hal yang sangat mirip dengan ini di dalam game.
Sama-sama
mencari heroin dengan tipe kepribadian 【Tipe
Putri yang Agung】 yang memiliki rasa keadilan terlalu tinggi, dan
di saat aku pergi ke arah yang berkebalikan, heroin terlibat ke dalam masalah──
──Gawat.
Aku harus segera mencari Lena!
Aku
berlari dengan tergesa-gesa. Karena biasanya hampir tidak pernah berolahraga,
baru berlari sedikit saja napasku sudah habis, jantungku mengamuk hebat, dan
kakiku saling tersangkut. ──Ini yang terburuk.
Begitu akhirnya tiba di dekat bak bunga,
aku mendapati situasi di mana seorang pria bertubuh besar yang berdiri tegak
sedang saling melotot dengan Lena.
"Hentikan merundung adik kelas.
Minta maaflah kepada anak ini."
"Berisik! Aku tidak sedang
merundungnya!"
Melihat warna dasinya, pria itu adalah
murid kelas tiga. Wajahnya yang memerah seperti gurita rebus dan bahunya yang
bergetar menunjukkan
besarnya kemarahan yang ia miliki.
"Tidak, aku melihatnya sendiri
dengan mata kepalaku."
"Kamu ini, Anhalt kelas dua, kan?
Kamu punya reputasi sebagai orang yang menyebalkan karena sok pahlawan dan
menegur siapa saja, lho.
Apa kamu begitu ingin menjilat akademi
demi menaikkan nilai?"
Mengatakan hal yang terlalu benar secara
berlebihan, hal ini adalah sesuatu yang kutakutkan suatu saat nanti akan
mendatangi dirinya.
Lena memang membusungkan dadanya, tetapi
suaranya bergetar dan riak kepanikan jelas terlihat di wajahnya.
Di belakangnya, seorang murid laki-laki
kelas satu yang tampak bernyali kecil terlihat ketakutan.
"Aku tidak sedang sok pahlawan. Aku
hanya menegakkan keadilan yang semestinya. Pokoknya, tolong minta maaf kepada
anak ini."
"Hah? Sok mengatur saja, kamu
benar-benar menyebalkan, tahu!"
Kemarahan murid laki-laki itu tampaknya
sudah mencapai titik didih, dia mengulurkan kedua tangannya dengan kuat ke arah
Lena.
──Gawat!
Sebelum berpikir, tubuhku sudah melompat
lebih dulu dan masuk ke depan Lena.
Pria itu sepertinya berniat mencengkeram
kerah seragam Lena. Karena aku memasukkan wajahku sebelum hal itu terjadi,
kepalan tangan pria
yang kelebihan momentum itu menghantam
hidungku dengan telak.
"Aduuuuh!"
Aku berteriak sambil menekan hidung
menggunakan tangan.
Di dalam game tidak ada adegan seperti
ini. Diriku yang merupakan protagonis, hanya dengan satu tatapan saja sudah
bisa membuat pria yang mengganggu kocar-kacir. Namun di sini aku adalah
karakter figuran. Hal itu tidak akan berjalan semulus itu. Kejadian di luar
perkiraan telah tercipta.
Di hadapan Lena yang keren, diriku
terlihat sangat tidak keren hingga ingin menangis. Ditambah lagi, hidungku
sakit sekali.
"Uwah, mendadak muncul dari mana si
keparat ini, kamu siapa, sih!?"
"Orang ini bukan tipe orang yang
suka bicara sembarangan. Minta maaflah."
"Hah? Bajingan ini cuma sok jadi
anak baik demi nilai akademisnya sendiri tahu, makanya dia suka mencari-cari
kesalahan orang lain."
"Tidak mungkin begitu! Orang ini
selalu memikirkan kebaikan lawannya setiap kali dia mengatakan hal yang
tegas!"
Aku mengetahui hal itu karena telah
melihatnya sendiri secara nyata dengan mata kepalaku. Aku tahu seberapa
lembutnya seorang Lena.
Karena terlanjur kesal, tanpa sadar aku
balas membentaknya dengan emosional.
"Lena selalu tegas pada dirinya
sendiri dan berusaha keras, dia mendapatkan nilai bagus dengan kemampuannya
sendiri. Jangan bicara sembarangan padahal kamu tidak tahu apa-apa tentang
dia!"
"Z-Zeit-kun. Terima kasih. Kamu
tidak apa-apa!?"
Mendengar kata-kataku, Lena membelalakkan
matanya. Dia yang seharusnya merupakan heroin yang membenciku, sekarang justru
sedang mengkhawatirkan si karakter yang dibenci ini.
"Apa-apaan sih kamu, jangan mendadak
muncul begitu, dong! Padahal
aku sama sekali tidak berniat
memukulmu!"
"Harudo Duado. Adid dead dua."
Niatnya aku ingin bilang "Haruto
Zeit. Murid kelas dua", tetapi hidungku tersumbat. Ada rasa besi di
pangkal hidungku.
──Dan
dari hidung itu, sesuatu yang terasa hangat mulai mengalir keluar dengan
perlahan.
"Uwah, maaf! Memang benar aku
merundung adik kelas. Tadi aku sedang kesal karena ada hal yang membuatku
kesal. Aku yang salah!
Dah!"
Eh? Kenapa dia mendadak lari
terbirit-birit begitu?
"Zeit-kun, kamu tidak
apa-apa!?"
Dengan wajah yang memucat, Lena
menempelkan saputangannya ke hidungku.
Aku terkejut karena wajah cantiknya
mendadak mendekat dalam jarak yang teramat dekat. Hanya saja untuk saat ini,
detak jantungku sedang meningkat drastis.
"Uwah, apa-apaan ini!?"
Saputangan putih milik Lena dalam sekejap
mata langsung ternoda oleh warna merah pekat.
Uwah, ternyata mimisanku keluar sebanyak
ini. Pantas saja pria tadi panik dan langsung melarikan diri.
"Jangan, nanti saputanganmu jadi
kotor."
Rasanya tidak enak hati karena ini adalah
saputangan yang disetrika dengan sangat rapi, seolah mencerminkan kepribadian
pemiliknya yang sangat serius.
"Kamu terluka karena melindungiku,
jadi aku sama sekali tidak berpikir ini kotor. Terima kasih banyak. Tolong
gunakan ini sampai darahnya berhenti."
"Terima kasih."
Raut wajah Lena akhirnya tampak sedikit
melunak karena lega.
"Terima kasih karena telah
menolongku, Zeit-san."
Murid laki-laki adik kelas yang tadi
dirundung ikut bersuara.
"Bukan aku yang menolongmu. Tapi
Lena Anhalt ini."
"Ah, benar juga. Terima kasih
banyak. Tadi aku sangat takut karena dicari-cari kesalahannya oleh kakak kelas
yang bertubuh besar. Berkat Anhalt-san, aku benar-benar terselamatkan."
"Tidak, pada akhirnya aku sama
sekali tidak bisa diandalkan. Ini semua
berkat Zeit-kun."
"Tidak mungkin begitu, kok."
Padahal Lena sendiri sangat ketakutan
sampai tubuhnya bergetar, tetapi dia memang tipe orang yang tidak bisa
membiarkan orang yang kesusahan begitu saja, ya.
Adik kelas itu sekali lagi membungkukkan
badannya dengan sopan kepada diriku dan Lena, lalu berjalan pergi.
"Namun meski begitu, Zeit-kun,
kenapa kamu menolongku?"
"Yah,
bagi orang yang biasanya memiliki perilaku buruk sepertiku, menolong orang lain
mungkin terdengar aneh, tapi──"
"Bukan, bukan begitu maksudku. Bagi
orang sepertiku yang selalu mengatakan hal-hal yang tegas, bukankah aku ini
menyebalkan, dan harusnya tidak akan ada keinginan di dalam hatimu untuk
menolongku."
"……Eh? Menyebalkan? Aku sama sekali
tidak berpikir demikian, lho."
"Kamu boleh jujur, kok. Aku tahu
kalau semua orang berpikir begitu tentang diriku."
Aku terkejut. Ternyata Lena menyadari
bahwa dirinya dijauhi oleh semua orang.
"Aku sama sekali tidak berpikir kamu
menyebalkan. Ini benar-benar
tulus dari lubuk hatiku."
"Apakah itu benar?"
Lena masih menunjukkan wajah yang
setengah percaya dan setengah ragu. Karena orang yang menganggap dirinya
mengganggu memang nyata dan banyak, mungkin dia tidak bisa memercayainya dengan
mudah. Namun bagi aku yang mengetahui kelembutannya, ini adalah isi hatiku yang
jujur.
"Kamu memang ketat jika berkaitan
dengan aturan. Tapi kepada siapa pun, kamu selalu bersikap adil dengan
menganggap hal yang baik itu baik, dan hal yang buruk itu buruk, kan."
Benar. Bahkan kepada berandalan sepertiku
pun, dia memarahiku bukan karena aku seorang berandalan, melainkan karena aku
memang nyata sedang melakukan hal yang tidak baik. Orang ini tidak akan pernah
berkata buruk karena sebuah prasangka.
"Terlebih lagi, alasanmu mengatakan
hal yang tegas kepada lawan bicara adalah karena kamu selalu memikirkan
kebaikan mereka. Aku tahu kalau sebenarnya kamu adalah orang yang sangat
lembut."
Tampaknya dugaanku tepat sasaran. Lena
membelalakkan matanya lebar-lebar seolah terkejut dalam tingkat yang tidak bisa
lebih terkejut lagi.
"Padahal sampai kemarin Zeit-kun
sama sekali tidak mau mendengarkan apa pun yang kukatakan dengan benar, tapi
kenapa mendadak kamu mengatakan hal seperti itu?"
Wajar
saja dia bingung. Jika diriku yang sampai sekarang memiliki perilaku yang
teramat buruk mendadak berubah drastis──
"Seperti dugaan, apa yang kukatakan
tidak akan bisa dipercaya, ya."
"Ah, tidak. Maaf. Aku bukan sedang
mencurigaimu. Kamu sudah mempertaruhkan tubuhmu untuk melindungiku, dan
sekarang pun kamu menunjukkan sikap yang sangat tulus. Aku sama sekali tidak
berpikir kamu sedang berbohong. Hanya saja secara murni, aku merasa aneh kenapa
mendadak kamu mengatakan hal seperti itu kepadaku."
Tentu
saja itu karena diriku, Tokitou Haruto, telah bereinkarnasi ke sini──namun hal
itu tidak mungkin kukatakan.
Jika mengatakan hal aneh seperti itu,
kepercayaan yang sudah bersusah payah mulai kudapatkan akan menguap menjadi
busa.
"Hari ini saat kamu memarahiku, aku
bisa merasakan adanya kepedulian terhadapku di dalamnya. Lalu saat di koridor
ketika kamu menegur murid yang pakaiannya berantakan, kamu juga menunjukkan
kepedulian terhadap dirinya. Sekarang pun demi adik kelas, kamu menahan rasa
takutmu dan menolongnya, kan. Benar, kamu adalah orang yang sangat penuh
perhatian. Terhadap dirimu yang seperti itu, aku justru menghormatimu, jadi
mana mungkin aku menganggapmu menyebalkan."
"Zeit-kun……"
"Alasan kenapa kamu disalahpahami
oleh semua orang adalah karena kamu tidak bisa mengucapkan bagian yang lembut
dari dirimu itu secara jujur dengan kata-kata. Padahal kalau kamu
mengucapkannya dengan lebih jujur agar bisa didengar langsung oleh orang yang
bersangkutan, itu akan lebih baik."
"Aku tidak bisa melakukannya."
Langsung dijawab instan, ya. Kaku sekali.
──Begitulah
pikirku pada awalnya. Namun, Lena menggumamkan sesuatu dengan suara yang sangat
kecil hingga hampir tidak terdengar.
"Kalau aku bisa melakukannya, aku
tidak akan sekesulitan ini……"
Begitu, ya. Dia sendiri pun ternyata
mengkhawatirkannya. Ini adalah pola di mana aku tidak boleh memaksanya. Agar
dia bisa mengeluarkan kelembutannya secara jujur, dia sendiri perlu menerima
lebih banyak kelembutan dari orang lain.
Jika melakukannya, hatinya akan menjadi
lebih lapang, dan harusnya dia bisa menjadi sedikit lebih jujur.
Itulah
hal yang kupelajari dari berinteraksi dengan heroin 【Tipe
Putri yang Agung】 di dalam "Magi-Ama".
"Begitu, ya. Yah, soal itu, baguslah
kalau kamu bisa mengeluarkannya secara berangsur-angsur. Tapi setidaknya aku
tahu bahwa sebenarnya kamu adalah orang yang lembut dan menawan. Kuharap kamu
tidak melupakan hal itu."
"Z-Zeit-kun……"
Matanya yang menatapku tampak sedikit
berkaca-kaca, dan pipinya merona sewarna merah muda tipis. Apa dia sedang
demam?
"A…… terima kasih banyak.
Ahfuh……"
Lena mengeluarkan suara yang terdengar
terharu. Suara itu mengandung sedikit rona basah, terdengar seperti helaan
napas yang agak seksi hingga membuatku menelan ludah.
Pada saat itu, tubuhnya mendadak bersinar
dengan cahaya berwarna merah muda samar.
──A-Apa-apaan
ini!? Kalau dipikir-pikir. Di dalam game "Magi-Ama" ini, tampaknya
ada pengaturan di mana jika heroin merasakan perasaan suka terhadap protagonis,
tubuhnya akan bersinar merah muda dan kekuatan sihirnya akan meningkat drastis
secara tiba-tiba.
Terlebih lagi, di saat itu ada pengaturan
seksi di mana seluruh tubuh heroin akan merasakan sensasi yang nikmat. Padahal
ini game untuk semua umur, apa tim pengembang game aslinya tidak apa-apa
membuat yang seperti itu. Tidak, sebagai pemain aku justru senang, sih. Lakukan
lebih banyak lagi.
Merasanya perasaan suka oleh heroin
terhadap protagonis adalah syarat mutlak yang paling minimal, dan karena ada
beberapa syarat lain yang diperlukan juga hingga membuat hal ini jarang sekali
aktif, ini disebut-sebut sebagai pengaturan fantasi. Aku sendiri hanya pernah
membacanya di papan buletin strategi saja, dan belum pernah melihatnya secara
nyata.
Tunggu sebentar. Kalau begitu, artinya
sekarang, tingkat kesukaan Lena terhadapku telah meningkat?
Di dunia ini, parameter dari karakter
heroin tidak bisa terlihat. Karena itulah aku tidak terlalu memahaminya, tetapi
karena aku bukan protagonis, hal seperti itu tidak mungkin terjadi. Namun kalau
begitu, fenomena yang baru saja terjadi ini apa? Sambil memandangi wajah
Lena yang menatapku dengan malu-malu, aku
menjadi kebingungan sendiri.
"Benar. Tolong izinkan aku
mengucapkan satu patah kata saja.
Mengenai Zeit-kun, selama ini aku selalu
salah paham dan menganggapmu sebagai orang yang tidak keruan. Namun hari ini,
aku bisa mengetahui dirimu yang sebenarnya. Kamu adalah orang yang tulus, dan
benar-benar bisa dipercaya. Terima kasih."
Mengingat hal itu, pujian itu rasanya
terlalu berlebihan untukku.
Tepat pada saat itu, entah dari mana
terdengar suara mekanis.
『Status Haruto Zeit 【Pesona
(Charm)】 telah meningkat dari level 0 ke level 1.』
Ah,
yang ini. Ini adalah pengaturan dari "Magi-Ama". ──Maksudku,
mengetahui kalau orang figuran sepertiku ternyata memiliki status saja sudah
membuatku terkejut.
Aku tidak terlalu paham pengaruh apa yang
akan diberikan oleh hal ini, tetapi kuharap ini bisa memberikan sedikit nilai
plus agar Lena bisa memercayai diriku.
"Anu…… kalau begitu, aku permisi
dulu. Maaf, saya permisi."
"Iya. Sampai jumpa lagi."
Lena membungkukkan badannya berkali-kali,
lalu pergi dengan wajah yang masih memerah. Jantungku berdegup kencang melihat
sosok anggunnya yang tampak sedikit seksi. Punggungnya yang berjalan menjauh
memperlihatkan rambut merah indah yang bergoyang.
Proporsi tubuhnya benar-benar luar biasa.
……Saat sedang terpesona begitu, aku mendadak melupakan hal yang sangat penting.
Padahal itu adalah tujuanku mengejar Lena.
"Tunggu sebentar!"
Aku bersuara ke arah punggung Lena untuk
menghentikannya.
"Ya?"
Kaki jenjangnya seketika berhenti
melangkah, dan gadis cantik itu pun berbalik. Rambut panjang merahnya yang
berkilau membentuk lengkungan lembut di udara, membuatku merasa seolah waktu
sempat berhenti berputar.
──Ah,
cantik sekali.
Aku mendadak teriso terpesona, tetapi aku
tidak boleh melupakan tujuan utamaku menghentikannya.
"Hati-hatilah terhadap Sonne."
Lena sempat tertegun sesaat, sebelum
akhirnya raut wajahnya melunak.
"Baik. Terima kasih banyak."
Tanpa bertanya apa maksud dari ucapanku,
Lena kembali menghadap ke depan dan mulai berjalan lagi.
Mungkin saja dia berpikir bahwa Zeit si
berandalan hanya sedang
menjelek-jelekkan Sonne yang populer.
Tidak. Mengingat ekspresi wajah Lena
barusan, aku merasa niatku telah tersampaikan kepadanya.
Setelah mengantarkan kepergian punggung
Lena dengan pandanganku, tanpa sengaja aku melirik ke samping dan melihat
cermin di tempat minum. Wajahku yang terpantul di sana sudah jauh lebih tenang
dibandingkan sebelumnya.
Sebelumnya, wajahku tampak tidak sehat
dan penuh ketidakpuasan.
Namun sekarang berbeda.
Berkat bertobat, bertindak benar, dan
diterima oleh sang heroin, meskipun rasanya agak narsis jika mengatur kata
sendiri, raut wajahku sekarang terlihat cukup bagus. Dengan penampilan seperti
ini, sepertinya orang-orang bisa memercayai diriku secara normal.
Kenyataannya, Lena sudah bilang bahwa aku
adalah orang yang bisa dipercaya.
Target
untuk mendapatkan kepercayaan Lena memang sudah tercapai, tetapi berikutnya aku
ingin menghilangkan perasaan cemas yang ada di dalam hatinya. Dengan begitu,
aku ingin menaikkan 【Tingkat Kebahagiaan】
miliknya. Pendekatan dari Sonne juga mungkin masih akan ada, jadi aku tidak
boleh tenang dulu.
"Hal yang harus dilakukan masih
sangat banyak. Tidak mungkin menyelesaikannya sekaligus."
Benar. Di dalam permainan game pun,
tingkat kebahagiaan heroin baru akan meningkat setelah kita meluangkan waktu
untuk berinteraksi dengannya secara perlahan dan konsisten. Berpikir untuk
menjatuhkannya dengan cepat justru tidak akan berjalan lancar. Itulah
"Magi-Ama".
Meskipun harus memakan waktu, aku
memantapkan hati bahwa akulah yang akan membuat Lena bahagia.
Pada saat itu, hal tentang dunia nyata
mendadak terlintas di dalam kepala.
Orang tuaku pasti sedang cemas, dan
bagaimana kalau aku dianggap membolos sekolah lalu tidak bisa naik kelas. Hal
seperti itu mulai mengusikku. Namun, bagaimana sebenarnya cara agar aku bisa
kembali ke dunia nyata?
Lagipula, apakah aku benar-benar bisa
kembali. Perasaan cemas mendadak merayap di dalam kepala.
……Benar juga. Jika pergi ke hutan belukar
tempat pertama kali aku
terbangun di dunia ini, mungkin aku bisa
mengetahui sesuatu.
Begitu berjalan masuk ke bagian dalam
hutan belukar, di sana ada sebuah kuil kecil kuno berwarna putih. Kenapa bisa
ada kuil kecil di tempat seperti ini. Rasanya terasa tidak alami.
Aku menyadari adanya gagang kecil yang
terpasang di pintu yang dihiasi ukiran rumit tersebut. Saat mencoba memegang
lalu menariknya, pintu terbuka dengan mengeluarkan suara derit. Cahaya kuat
yang sama seperti saat diriku tersedot ke dalam mesin game tiba-tiba meluap
keluar dari balik pintu.
"Uwah, silau sekali!"
Mataku silau dan kesadaranku menjauh.
Kemudian, aku merasakan sensasi seolah-olah diriku tersedot ke dalam kuil kecil
tersebut.
***
Saat terbangun, aku sudah berada di dalam
kamarku sendiri. Di televisi yang ada di hadapanku, layar pembuka dari game
"Magi-Ama" sedang
ditampilkan.
"Eh…… aku kembali?"
Saat melihat jam, waktu menunjukkan pukul
10 lewat di malam hari.
Waktu yang hampir sama persis saat layar
game di kamar ini menjadi aneh dan membuatku kehilangan kesadaran.
"Syukurlah. Aku bisa kembali."
Bersamaan dengan rasa lega, rasa bising
yang tergesa-gesa juga merebak di dalam dada.
Demi membuat Lena bahagia, masih ada hal
yang harus kulakukan.
Apakah
aku bisa pergi lagi ke dunia itu──dunia "Magi-Ama"?
Meskipun hal itu mengusik perhatianku,
tubuhku rasanya teramat lelah melebihi apa pun. Aku mengantuk. Saat ini,
pokoknya aku ingin berbaring.
Aku
menjatuhkan diri ke atas kasur. Dan dalam posisi telungkup──kesadaranku
langsung terenggut dalam sekejap mata.
Prolog | ToC | Next Chapter



Post a Comment