NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Fantasy Sekai de Akuyaku na no ni Heroin-tachi ni Sukare tara Genjitsu Sekai demo Harem ni Natta Volume 1 Chapter 2

Bab 2: Dunia Nyata di Mana Seharusnya Tidak Ada Hal Menarik Apa Pun yang Terjadi


◇◇◇

 

Keesokan paginya. Tepat setelah terbangun, hal tentang diriku yang masuk ke dalam dunia game kemarin langsung terlintas di kepala.

 

Rasanya lumayan menstimulasi dan menyenangkan. Berbicara dengan becus kepada gadis yang teramat cantik adalah hal yang mustahil di dunia nyata, tetapi di dunia game, aku bisa dibilang melakukannya dengan cukup baik.

 

Apakah itu sebuah mimpi……? Tapi kalau mimpi, itu terasa teramat nyata, dan saat mencubit pipi pun rasanya sakit. Bahkan setelah kembali ke sini pun ingatanku masih jelas, dipikirkan seperti apa pun itu bukan mimpi.

 

Kalau begitu, apakah aku berhalusinasi, atau ada semacam kekuatan misterius yang bekerja?

 

Bagaimanapun juga, jika itu bukan mimpi atau halusinasi melainkan sebuah "kenyataan", keinginanku untuk membuat Lena bahagia tidak akan tergoyahkan. Namun di saat yang sama, aku tidak bisa menelantarkan dunia nyata begitu saja. Pokoknya, aku harus pergi ke sekolah.

 

"Ah, bukan waktunya untuk melamun sambil memikirkan hal ini, nih."

Saat menyadarinya, waktu berangkat sekolah yang biasanya sudah lewat 20 menit. Gawat. Aku bisa terlambat──

 

***

 

Setelah tiba di stasiun terdekat dari SMA, aku berjalan di jalan menuju sekolah yang biasa menuju gerbang utama. Ini adalah pemandangan biasa yang sudah familier.

 

Berbeda dengan dunia game kemarin, tempat ini adalah tempat di mana diriku yang payah dalam berbicara dengan perempuan menghabiskan waktu dengan tenang tanpa menarik perhatian. Sebab, berbeda dengan heroin di dalam game, aku sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang sebenarnya dipikirkan oleh perempuan di dunia nyata.

 

Perempuan yang berkilauan adalah makhluk hidup dari dunia yang sepenuhnya berbeda dengan cowok bernyali kecil.

 

Tampaknya aku sudah kembali.

 

──Ke dalam kehidupan sehari-hari yang tidak ada menariknya sama sekali, di mana masa muda hanyalah sebatas nama saja.

 

Begitu melewati gerbang utama, bel tanda masuk untuk wali kelas pagi berbunyi. Aku bisa terlambat jika tidak segera masuk ke kelas.

 

Gawat. Aku melangkah cepat menuju kelasku, kelas 2-A.

 

Begitu tiba di kelas, semua orang sudah duduk di bangku masing-masing.

 

Saat aku membuka pintu kelas dengan perlahan, semua orang di kelas serentak melihat ke arahku.

 

Tatapan mata yang berkumpul sebanyak ini adalah siksaan bagi diriku yang memiliki kecemasan sosial. Untungnya guru wali kelas belum datang. Bagus, aman di detik-detik terakhir. Aku terhindar dari terlambat.

 

Setelah duduk di bangkuku sendiri, aku baru menyadari bahwa ruang kelas sedang diselimuti oleh atmosfer yang aneh.

 

Entah mengapa di depan meja guru, sang ketua kelas, Nijouin Rena, sedang berdiri dengan wajah yang masam. Di sebelahnya ada seorang murid perempuan yang sedang menunduk.

 

"Kalau begitu bagaimana? Bagi orang yang telah merundung Tanaka-san, silakan maju dan mengaku!"

 

Tanaka-san adalah gadis suram yang tidak mencolok di kelas.

 

Menurut cerita, pagi ini di dalam laci meja Tanaka-san dimasukkan

sampah seperti bungkus kosong camilan. Hal seperti itu konon sudah terjadi tiga kali dalam satu bulan terakhir ini.

 

Karena Tanaka-san sudah berkonsultasi kepada Rena sejak sebelumnya tetapi sama sekali tidak ada tanda-tanda akan berhenti, pada akhirya dia pun maju bertindak.

 

"Siapa orang yang telah melakukan perundungan ini?"

 

Padahal masalah seperti ini biarkan saja diserahkan kepada guru. Rasa keadilannya tinggi sekali, ya.

 

"Hei, Nijouin. Hal seperti itu bukankah tidak penting."

 

Seorang murid laki-laki berkata dengan nada malas. Sang ketua kelas menaikkan sebelah alisnya sedikit, lalu mengarahkan pandangan tajam kepada murid laki-laki itu. Menakutkan sekali, Nijouin Rena.

 

"Hal seperti itu? Perbuatan yang membuat Tanaka-san merasakan pengalaman yang sangat tidak menyenangkan, kamu sebut sebagai hal seperti itu?"

 

Nada bicaranya sangat tegas kepada teman sekelas. Tidak kenal ampun, ya.

 

"Ah, tidak…… tapi bisa saja kan ada orang yang tanpa maksud buruk kebetulan membuang sampah di sana. Bukankah cukup dengan memperingatkan agar ke depannya lebih berhati-hati saja?"

 

"Melakukan hal seperti ini tanpa maksud buruk, justru hal kejam seperti itulah yang tidak akan pernah kumaafkan!"

 

"Uguukh……"

 

Itu memang sebuah kebenaran yang mutlak. Karena dikatakan dengan begitu keras, tidak ada lagi orang yang bisa membantahnya.

 

Sudah kuduuga. Keanehan yang kurasakan saat melihat dirinya di jalan menuju sekolah kemarin pagi. Ternyata adalah hal ini.

 

Nijouin Rena memiliki penampilan yang sangat rupawan, dan kecantikannya adalah nomor satu di angkatannya. Nilai akademisnya juga luar biasa. Dan di permukaan, dia tampak dicintai oleh semua orang. Namun pada kenyataannya, karena rasa keadilannya yang terlalu tinggi, dia justru dijauhi oleh sekelilingnya.

 

Melihat dirinya secara langsung seperti itu, wajah Lena Anhalt, heroin yang memiliki rasa keadilan terlalu tinggi di dalam "Magi-Ama", langsung terlintas di kepalaku. Kedua orang ini, bukan hanya penampilannya saja, tetapi sifat maupun tindakannya pun bagai pinang dibelah dua.

 

Sangat serius dan tegas kepada orang lain. Namun dia jauh lebih tegas lagi kepada dirinya sendiri, berkelakuan baik, dan nilai akademisnya luar biasa. Bagian itu memang patut dihormati, sih.

 

──Rena mendadak melihat ke arah sini, dan mata kami saling bertemu dengan telak.

 

Gawat. Ketahuan kalau aku sedang memperhatikannya. Tampaknya aku dianggap menjijikkan.

"Tokitou-kun……"

 

──Eh? Kenapa mendadak dia memanggil namaku?

 

Tepat pada saat namaku lolos dari mulutnya, mata orang-orang di seluruh kelas serentak tertuju kepadaku.

 

"Tokitou! Ternyata kamulah pelakunya!?"

 

Seorang murid laki-laki berteriak.

 

──Eh, tunggu sebentar! Aku bersumpah demi langit, tentu saja aku tidak melakukan hal seperti itu.

 

Niatnya aku ingin mengatakan hal itu, tetapi karena kejadian yang

mendadak ini tenggorokanku menjadi membeku.

 

Kata-kata dari orang itu menjadi pemicu, membuat suara-suara mulai bermunculan dari berbagai penjuru.

 

"Eeeh, Tokitou-kun pelakunya? Serius?"

 

"Kira-kira begitu, aku juga sudah berpikir demikian, sih."

 

"Tokitou! Dasar orang yang kejam!"

 

Uwah, salah paham, tahu! Bukan aku!

Aku berteriak di dalam hati, tetapi suaraku tetap tidak mau keluar seperti biasa. Gawat. Jika terus terdiam, itu sama saja seperti aku mengakui kalau diriku adalah pelaku yang sebenarnya.

 

"Seperti dugaan, ternyata Tokitou, ya. Hei semuanya, tidak bisa dimaafkan, kan!"

 

Seorang murid laki-laki berdiri dari bangkunya lalu ikut memanaskan suasana.

 

Atas dasar apa kamu menghasut semua orang begitu. Rasanya menyebalkan, tapi suaraku tidak mau keluar.

 

"Semuanya, tolong tunggu sebentar! Bukan berarti Tokitou-kun adalah pelakunya!"

 

"Heh?"

 

Berkat suara Rena yang lantang, ruang kelas seketika menjadi tenang.

 

"Kebetulan mata kami saling bertemu dengan Tokitou-kun, jadi tanpa sengaja aku memanggil namanya. Mohon maaf!"

 

Di depan meja guru, gadis paling cantik di sekolah itu membungkukkan kepalanya. Seluruh kelas tampak melongo.

 

"Ah, aaah…… begitu, ya?"

 

"Nggak, aku sudah tahu, kok. Kalau Tokitou bukan tipe orang yang akan melakukan hal seperti itu."

 

Bual besar. Kalian tadi benar-benar mencurigai diriku, kan.

 

Pada saat itu pintu terbuka dan guru wali kelas, Koyasu-sensei, masuk ke dalam kelas.

 

"Hmm…… ada apa, ya?"

 

Melihat Rena dan Tanaka-san yang sedang berdiri di depan meja guru, sang guru mengeluarkan suara keheranan.

 

"Tidak. Bukan apa-apa."

 

Tanaka-san menyangkalnya lalu terburu-buru kembali ke bangkunya sendiri. Rena juga berkata, "Tidak ada apa-apa," lalu duduk di bangkunya.

 

Meskipun dia bertindak untuk menyelesaikan sendiri masalah yang terjadi di kelas, dia tidak akan mengadu kepada guru. Nijouin Rena adalah orang yang seperti itu.

 

"Sebab, aku tidak suka jika murid tertentu dipandang secara negatif oleh guru dengan menganggap mereka bermasalah."

 

Seingatku sebelumnya, dia pernah membicarakan hal seperti itu.

 

"Begitu…… ya sudah. Kalau begitu mari kita mulai wali kelasnyaaa~"

Pada akhirnya, topik pembicaraan ini menguap begitu saja.

 

Sambil membawa buku absen, Koyasu-sensei mulai mengabsen murid.

 

Penampilannya yang bertubuh kecil dan berwajah kekanak-kanakan itu──seperti dugaan, benar-benar mirip dengan Kaoru Co Kinto-sensei.

Bukan hanya Rena dan Lena saja, jangan-jangan ada juga karakter lain yang seperti itu.

 

Masuk ke dalam dunia game saja sudah cukup mengejutkan.

 

Mengetahui bahwa ada orang yang mirip di dua dunia, yaitu game dan kenyataan, rasanya jauh lebih mengejutkan lagi.

 

Di dalam hidup ini, hal yang membuat terkejut seperti ini rasanya tidak

akan terjadi lagi, ya.

 

──Maupun sempat berpikir demikian, setelah pulang sekolah hari itu, hal yang mengejutkan kembali terjadi lagi.

 

***

 

Pelajaran hari ini telah selesai. Aku tidak mengikuti kegiatan klub, tidak punya juga teman untuk pergi bersama. Karena itu, tugasku hanyalah pulang ke rumah.

 

Sambil menyampirkan tas sekolah di bahu, aku keluar melewati gerbang utama. Hal itu terjadi saat aku sedang berjalan menuju stasiun terdekat.

 

"Tokitou-kun!"

 

Suara seorang gadis terdengar dari arah belakang. Biasanya tidak ada gadis yang memanggilku di jalan menuju sekolah.

 

Sambil berpikir aneh, saat aku berbalik, tidak disangka orang itu adalah Nijouin Rena.

 

"A…… ada urusan apa, ya?"

 

Tolong jangan melotot begitu karena menakutkan. Apakah aku telah melakukan suatu kesalahan?

 

Aku mencoba memputar otak, tetapi tidak ada hal yang terpikirkan olehku.

 

"Dasimu longgar, lho."

 

"Ah……"

 

Ternyata masalah penampilan. Aku terburu-buru merapikan dasiku kembali.

 

Karena tekanannya terlalu kuat, detak jantungku melonjak drastis.

 

Akibat gugup, aku tidak bisa mengikatnya dengan becus.

 

Saat aku sedang kebingungan, tidak disangka Rena mengulurkan kedua tangannya lalu mencengkeram dasiku.

"Biar aku ikatkan."

 

Wajahnya mendekat, dan aroma yang wangi merebak di sekitar hidungku. Dasi itu diikat dengan erat oleh tangannya yang ramping dan indah. Diikatkan dasi oleh gadis paling cantik di angkatan, rasanya benar-benar seperti pengantin baru.

 

Jantungku rasanya seperti akan meledak karena khayalan seperti itu.

 

"M-Maaf."

 

"Tidak, aku yang harusnya meminta maaf. Padahal aku memanggilmu bukan untuk menegur hal seperti itu, tapi tanpa sengaja aku malah mengkhawatirkannya."

 

Eh? Apa maksudnya?

 

"Maaf untuk masalah tadi pagi."

 

Ternyata dia sengaja datang untuk meminta maaf soal kejadian tadi pagi. Dia sangat tahu adat, ya.

 

"T-Tidak apa-apa, aku tidak terlalu memikirkannya, kok."

 

"Bolehkah kita berbicara sebentar?"

 

"Tidak boleh."

Aaah, karena terlalu payah dalam berbicara dengan perempuan, tanpa sengaja aku menolaknya secara refleks. Itu tidak sopan tahu, dasar aku bodoh.

 

Padahal kalau di dunia game aku bisa mengobrol tanpa terlalu terbebani meskipun menghadapi gadis cantik, tetapi saat berhadapan langsung dengan perempuan di dunia nyata, hal itu tidak bisa berjalan semulus itu.

 

"Begitu, ya. Aku sudah membuat Tokitou-kun terlibat dalam masalah seperti itu. Wajar saja jika kamu tidak ingin berbicara denganku."




"N-Nggak, bukan begitu maksudku……"

 

"Tapi ada satu hal yang ingin aku agar Tokitou-kun memahaminya. Saat aku menyebut namamu tadi, itu benar-benar bukan karena aku mencurigaimu. Meskipun aku tahu, mengatakan hal seperti ini pun tidak akan membuatmu percaya."

 

Aku sepenuhnya percaya, kok. Hanya saja, saat berhadapan langsung dengan sang bunga di puncak gunung, aku mendadak terlalu gugup sampai suaraku tidak mau keluar.

 

"Karena ada sedikit alasan, saat mata kita saling bertemu, tanpa sengaja aku malah memanggil namamu."

 

Apa-apaan itu. Memangnya ada alasan yang sampai membuat seseorang tanpa sengaja memanggil namaku?

 

"Tapi, Tokitou-kun pasti tidak ingin mendengar alasan seperti itu, kan. Maafkan aku. Kalau begitu, aku permisi dulu."

 

Nggak, aku justru sangat penasaran dengan alasan itu! Namun seperti biasa, kata-kata tetap tidak mau keluar dari tenggorokanku.

 

Rena tampaknya salah paham dan mengira aku sedang marah, hingga dia menunjukkan ekspresi wajah sedih yang belum pernah kulihat sebelumnya. Kemudian, dia mulai melangkah menuju stasiun dengan langkah kaki yang terasa berat.

 

Gara-gara aku, Rena yang tidak bersalah sama sekali menjadi sesedih itu.

 

──Kumpulkan keberanianmu, Tokitou Haruto!

 

Di dunia game saja kamu bisa berbicara dengan becus saat menghadapi sang bunga di puncak gunung, kan.

 

Punggung Rena menjadi semakin menjauh. Jika tidak memanggilnya sekarang, dia akan tetap terluka karena kesalahpahaman ini. Hal seperti itu pasti akan terus kusesali selamanya.

 

"Ni…… ni……"

 

Tenggorokanku kaku. Kata-kata tidak mau melewati tenggorokanku dengan lancar.

 

──Berjuanglah, diriku!

 

"Ni-Nijouin-san, tunggu!"

 

Aku sempat cemas apakah suaraku akan sampai kepadanya karena jaraknya yang sedikit menjauh. Namun, Rena seketika menghentikan langkah kakinya. Seolah-olah dia memang sedang menantikan suaraku.

 

Kemudian sambil tetap menegakkan punggungnya dengan anggun, dia berbalik. Rambut panjang hitamnya yang berkilau membentuk lengkungan di udara, dan rok seragamnya tampak sedikit berkibar.

Seperti dugaan dari gadis tercantik di angkatan. Gerak-gerik dan penampilannya yang teramat indah itu benar-benar mencuri perhatianku.

 

"M-Mari kita bicarakan hal itu."

 

Aaah, kenapa aku malah mengatakannya dengan nada sok mengatur begitu, sih. Dasar aku bodoh. Rena pasti akan merasa ilfil.

 

……Meskipun sempat berpikir demikian, sang gadis tercantik di angkatan sama sekali tidak menunjukkan gelagat ilfil, melainkan tersenyum lembut.

 

"Terima kasih banyak."

 

Ah…… dia benar-benar anak yang baik, ya.

 

"Ayo kita cari tempat lain untuk berbicara."

 

Berdiri sambil mengobrol di jalan menuju sekolah pada jam pulang seperti ini terlalu mencolok. Karena itu aku mengusulkannya.

 

"Benar juga, ya."

 

Rena menerimanya dengan senang hati, lalu kami berdua berpindah ke sebuah taman bermain anak-anak yang jaraknya sedikit menjauh.

 

Di dalam taman yang tampak lengang dari sosok orang itu, kami berdua pun berbicara.

 

"Tokitou-kun, pertama-tama izinkan aku meminta maaf sekali lagi."

 

Dengan postur tubuh yang tegap, gadis cantik berambut hitam itu menatap mataku secara lurus.

 

"Tadi pagi karena aku tanpa sengaja menyebut nama Tokitou-kun, akibatnya kamu dicurigai oleh semua orang di kelas. Aku benar-benar mohon maaf."

 

"Ah, tunggu. J-Jangan menundukkan kepalamu seperti itu."

 

"Tapi kalau begitu, rasa marah Tokitou-kun tidak akan bisa reda, kan."

 

Nggak. Yang langsung menuduhku sebagai pelaku itu kan hanya sebagian orang di kelas, dan orang ini sama sekali tidak bersalah.

 

"Bukan begitu maksudku. Anu……"

 

Lagi-lagi, suaraku tidak bisa keluar dengan lancar.

 

Rena sengaja memanggilku demi meminta maaf karena merasa telah

membuatku terlibat dalam masalah. Tentu saja tidak boleh membiarkan gadis yang setulus dirinya tetap memelihara perasaan sedih.

 

Ingatlah kembali bahwa dirimu bisa berbicara dengan becus di dunia game. Jangan terbebani. Di dunia nyata pun kamu bisa melakukannya dengan cara yang sama.

 

Aku mengambil satu napas dalam-dalam.

 

Kemudian mulai membuka mulut.

 

"Nijouin-san, aku sama sekali tidak marah, kok. Karena tadi pagi Nijouin-san kan hanya sebatas menyebut namaku saja. Kamu sama sekali tidak mengatakan satu kata pun kalau aku adalah pelakunya. Jadi yang salah itu adalah orang-orang di kelas yang seenaknya mencurigai diriku. Ditambah lagi aku juga salah karena tidak bisa menjelaskannya dengan benar kepada semua orang di kelas. Padahal begitu, aku malah membuat Nijouin-san memelihara rasa bersalah yang sebesar ini, jadi akulah yang semestinya meminta maaf. Mohon maaf."

 

Uwah, gawat! Karena terlalu bersemangat, aku malah berbicara dengan sangat lancar dan cepat!

 

Sikap berbicara yang mendadak cerewet dari seorang pria yang sampai barusan terus terdiam. Dia pasti akan merasa aneh──meski sempat berpikir demikian.

 

"Terima kasih banyak. Syukurlah. Haaah~"

 

Rena mengembuskan napas panjang seolah merasa lega. Tampaknya isi hatiku sudah tersampaikan dengan baik kepadanya, syukurlah.

 

Kalau begitu, hal yang membuatku penasaran adalah kalimat "karena ada sedikit alasan" yang dikatakannya tadi.

 

"Anu, Nijouin-san……"

"Ya, ada apa?"

 

"Alasan yang sampai membuatmu tanpa sengaja memanggil namaku itu apa?"

 

Apakah karena barusan aku bisa melontarkan isi hatiku dengan benar dan tersampaikan kepadanya? Ataukah karena pengalaman di dunia game sedang bekerja? Atas kombinasi dari keduanya? Kata-kata keluar dari mulutku dengan jauh lebih lancar dari yang sudah-sudah.

 

"Ah, benar juga. Aku harus menjelaskan hal itu, ya."

 

"Iya. Aku agak penasaran."

 

"Sebenarnya, ada sebuah hal aneh yang terjadi."

 

"Eh? Hal seperti apa?"

 

"Tadi pagi saat aku tiba di sekolah dan berada di kelas, mendadak kepalaku terasa sakit. Pada saat itu, ada banyak sekali berbagai pemandangan yang mengalir masuk ke dalam kepalaku."

 

"Berbagai pemandangan?"

 

"Pemandangan itu mengapung lalu menghilang sekaligus dalam jumlah banyak jadi aku tidak terlalu memahaminya, tetapi itu adalah pemandangan bergaya Eropa abad pertengahan seperti yang muncul di film fantasi. Di sana, aku memiliki berbagai macam hubungan dengan seorang murid laki-laki yang mirip dengan Tokitou-kun."

Jangan-jangan, hal ini……

 

"Apakah Nijouin-san juga masuk ke dalam dunia 'Magi-Ama'?"

 

"Magi-Ama…… apa itu? Aku belum pernah mendengarnya. Apakah hal itu berhubungan dengan pengalaman anehku?"

 

"Ah, tidak, maaf. Itu hanya cerita tentang game yang pernah kumainkan dulu. Kupikir kalau hal itu benar terjadi pasti akan menarik, begitu saja."

 

Aku terburu-buru mengalihkan pembicaraan. Rena memercayainya dengan jujur.

 

"Begitu, ya. Karena aku hampir tidak pernah bermain game, aku tidak mengetahuinya."

 

"Yah, itu memang bukan game yang sepopuler itu, sih."

 

──Terlebih lagi itu adalah galge untuk cowok, ilustrasinya agak seksi, dan merupakan game di mana kita menjatuhkan gadis imut satu demi satu.

 

Bagi gadis serius sepertinya, dia pasti akan menganggap hal itu kotor, jadi lebih baik dia tidak usah tahu saja.

 

Fiuh, berbahaya sekali. Sedikit lagi aku harus menjelaskan tentang

"Magi-Ama".

 

Namun jika dia tidak masuk ke dalam dunia game, sebenarnya apa yang sedang terjadi?

 

"Karena hal itulah, saat mata kita saling bertemu tadi pagi, mendadak aku merasakan kedekatan yang teramat sangat, hingga tanpa sengaja namamu lolos dari mulutku. Maafkan aku karena menceritakan hal yang aneh."

 

"Sama sekali tidak perlu meminta maaf, kok. Dipanggil namanya oleh Nijouin-san yang merupakan sosok pusat di kelas adalah sebuah kehormatan bagiku."

 

"Mana mungkin aku ini sosok pusat di kelas, hal itu berlebihan."

 

"Tidak mungkin begitu, kan."

 

Sosok pusat di kelas 2-A kami adalah──

 

Nijouin Rena sang ketua kelas sekaligus gadis cantik yang anggun.

 

Murid berprestasi yang memimpin semua orang.

 

Kageura Haruru sang pencipta suasana yang ramah dan ceria. Gadis

yang lembut kepada siapa saja dan paling populer di antara murid laki-laki.

 

──Dua orang ini sudah tidak salah lagi.

 

"Hal itu benar-benar tidak benar, lho."

Cara bicaranya terdengar seperti sedang menyangkalnya dengan sungguh-sungguh dan bukan sekadar basa-basi.

 

Nijouin Rena dan Kageura Haruru adalah sosok pusat di kelas yang diakui oleh siapa pun. Namun, kenapa?

 

"Pokoknya aku sama sekali tidak memikirkannya, jadi tolong hentikan raut wajah yang tampak merasa bersalah seperti itu."

 

"Terima kasih banyak. Tokitou-kun, ternyata kamu memang orang yang lembut, ya."

 

"Memang……?"

 

Sampai sekarang kami hampir tidak pernah menjalin interaksi, dan di kelas pun aku adalah sosok yang hampir tidak mencolok, jadi rasanya tidak mungkin Rena mengetahui sifatku.

 

"Ah, maaf. Aku kembali mengatakan hal yang aneh, ya. Namun entah mengapa, aku tahu kalau Tokitou-kun adalah orang yang sangat lembut. Aku memiliki ingatan seperti itu."

 

Nijouin Rena yang berpendirian kuat, keren, dan selalu anggun, kini menundukkan kepalanya dengan pipi yang merona sewarna merah muda buah persik. Keimutan dari celah kepribadian (gap moe) seperti ini benar-benar pelanggaran.

 

"Ah…… meskipun dirasakan kedekatan oleh orang sepertiku pun pasti merepotkan, ya. Mohon maaf."

Lagi-hal. Kenapa gadis paling cantik di angkatan bisa mengatakan hal yang merendahkan dirinya sendiri seperti itu, benar-benar misterius.

 

──Ah, begitu ya.

 

Penyebab dari keanehan yang kurasakan dari kata-katanya sejak tadi akhirnya kupahami.

 

Sang bunga di puncak gunung yang merupakan sosok pusat di kelas, cantik, dan memiliki nilai akademis luar biasa. Biasanya dia hanya memperlihatkan sosok yang penuh rasa percaya diri saja. Gadis seperti itu, entah mengapa terus-menerus melontarkan kata-kata yang tidak percaya diri. Itulah sumber keanehannya.

 

Hal yang mirip dengan ini, baru saja kualami beberapa waktu lalu.

 

……Benar. Lena Anhalt di dunia game.

 

Dia juga merupakan bunga di puncak gunung yang di permukaan tampak penuh rasa percaya diri. Namun karena rasa keadilannya yang tinggi dan tegas, dia memelihara rasa cemas karena berpikir dirinya dianggap mengganggu oleh sekelilingnya.

 

Meskipun percaya apa yang dilakukannya adalah benar, dia memelihara pergolakan batin karena jarak yang dibuat oleh sekelilingnya.

 

Mungkin saja Rena di dunia nyata pun sedang memelihara kecemasan yang mirip seperti itu.

"Sama sekali tidak merepotkan, kok. Bisa dirasakan kedekatan oleh Nijouin-san, meskipun hanya rayuan pun aku tetap senang."

 

"Ini sama sekali bukan rayuan."

 

"Kalau begitu aku justru jauh lebih senang lagi."

 

"Terima kasih banyak. Jika Tokitou-kun benar-benar berpikir demikian aku juga senang, tapi……"

 

Rena masih menunjukkan gelagat yang cemas. Apakah tidak ada hal yang bisa kulakukan untuknya.

 

Di dunia game, aku bisa membuat hati Lena menjadi sedikit lebih tenang, jadi dengan pemikiran yang sama bukankah aku bisa memberikan kata-kata untuknya.

 

Nggak, tempat ini adalah dunia nyata dan bukan game.

 

Mencampuradukkan game dan kenyataan adalah pemikiran yang menjijikkan. Namun saat melihat wajah Rena yang tampak cemas, aku tetap saja ingin menjadi kekuatannya.

 

Seberapa jauh hal yang kupelajari di dunia game bisa berlaku di dunia nyata, aku tidak tahu. Namun, hal ini memiliki nilai yang sepadan untuk dicoba. Sama seperti yang kulakukan terhadap Lena, "menghormatinya, serta bersimpati dengan tulus terhadap cara berpikir dan tindakannya".

 

Untuk itu, mari memperlakukannya dengan sikap yang tulus dan bukan sekadar di permukaan saja.

 

"Nijouin-san. Anu…… aku punya satu permohonan."

 

"Ya. Apa itu?"

 

Mendengar diriku yang mendadak mengubah topik pembicaraan dengan serius, gadis berambut hitam itu menegakkan postur tubuhnya lalu menghadap ke arahku.

 

"T-Tolong jadilah temanku."

 

"……Eh?"

 

Gawat. Gadis cantik yang serius itu mendadak mematung.

 

Apa yang kukatakan tadi bukan sekadar basa-basi sosial, lho. Aku benar-benar ingin berteman akrab denganmu.

 

Niatnya aku ingin menyampaikan perasaan seperti itu secara langsung, tetapi pendekatan yang mendadak seperti ini tentu saja menjijikkan, ya.

 

Kegagalan besar, dasar aku bodoh.

 

Di saat aku hampir tenggelam dalam gelombang penyesalan, Rena mendadak memperlihatkan senyuman.

 

"Iya. Dengan senang hati."

Eh? Eeeh? Boleh, nih?

 

Tampaknya perasaanku sudah tersampaikan, syukurlah.

Rintangan pertama berhasil dilewati dengan aman. Kalau begitu berikutnya adalah rintangan kedua.

 

"Terima kasih. Kalau begitu sebagai teman, aku punya satu permohonan lagi."

 

"Ya!"

 

"Tenang saja, aku tidak akan meminta hal yang aneh-aneh, kok."

 

"Zeit-kun……"

 

"Eh?"

 

"Tidak, karena aku memercayai Tokitou-kun, jadi tidak apa-apa, lho."

Gaya bicaranya barusan benar-benar persis seperti Lena Anhalt.

 

"Maaf karena mendadak memanggilmu dengan nama yang aneh. Hal itu lolos dari mulutku secara tidak sadar."

 

Pemandangan yang mengalir masuk ke dalam kepala Rena, sudah tidak salah lagi pasti adalah ingatan milik Lena dari "Magi-Ama".

 

Mengingat kata-katanya barusan, dia bukan berarti masuk ke dalam dunia game seperti diriku. Rasanya hanya ingatan Lena saja yang mengalir masuk ke dalam otak Nijouin Rena. Berkat hal itu pula, rasa percaya terhadap diriku tumbuh di dalam dirinya. Kalau begitu, pembicaraan menjadi lebih mudah dilakukan.

 

"Tidak apa-apa, kok. Hal seperti itu kan sering terjadi."

 

──Meskipun aslinya tidak akan pernah terjadi.

 

"Permohonannya adalah…… jika ada hal yang sedang membuat Nijouin-san kesulitan atau sedang dikhawatirkan saat ini, tolong beri tahu aku."

 

"Eh? Ti-Tidak ada hal seperti itu, kok……"

 

Mengingat alur pembicaraan sampai sekarang, sudah tidak salah lagi kalau dia sedang memelihara sebuah kekhawatiran. Kalau begitu sama seperti yang kulakukan terhadap Lena, jika aku mendampingi perasaan

Rena, dia pasti akan memercayai diriku.

 

"Benar-benar tidak ada? Aku…… menghormati Nijouin-san sebagai orang yang hebat. Hal itu tentu saja termasuk penampilan maupun nilai akademis, tetapi juga karena kamu adalah orang yang memiliki perasaan memikirkan kebaikan orang lain dengan kuat. Terhadap Nijouin-san yang seperti itu, orang sepertiku mungkin terkesan lancang, sih. ……Tapi kupikir aku ingin mencoba menjadi kekuatanmu."

Aku menatap wajahnya dengan lekat. Mata lipatan ganda yang tegas dan

 

tampak memiliki tekad yang kuat. Bulu mata yang panjang, serta manik mata yang sangat jernih dan indah. Garis dari pipi yang membentuk lengkungan indah hingga ke dagu. Dia memang luar biasa cantik.

"Tokitou-kun. Saat ditatap olehmu, entah mengapa aku merasa harus mengatakan hal yang sebenarnya. Manik matamu sangat memikat."

 

Dibilang memiliki manik mata yang memikat adalah hal yang pertama kali kudengar sepanjang hidupku.

 

"M-Maaf. Jika ada hal yang tidak ingin kamu katakan, kamu tidak perlu memaksakannya, kok."

 

"Bukan begitu maksudku. Aku salah memilih kata. Saat ditatap olehmu, aku merasa tidak apa-apa meskipun mengatakan hal yang sebenarnya. Karena itu…… izinkan aku mengatakannya."

 

"Jika kamu bersedia mengatakannya, tentu saja silakan."

 

"Baik. Sebenarnya──"

 

Setelah itu, Rena menceritakan kisah masa kecilnya kepadaku.

 

Ayahnya adalah mantan petinggi kepolisian, dan dia dididik dengan sangat keras agar "selalu menjadi orang yang benar". Jika melanggar aturan sedikit saja, dia konon akan dimarahi sampai gemetaran ketakutan.

 

Dan jika di sekelilingnya terdapat ketidakadilan atau kecurangan, dia juga dituntut untuk meluruskannya.

 

──Orang tua yang lumayan ekstrem, ya.

"Karena itulah, selain mematuhi aturan untuk diriku sendiri, keinginan untuk memimpin sekelilingku agar menjadi benar juga sangat kuat di dalam diriku. Bahkan hal itu mungkin sudah bisa disebut sebagai sebuah obsesi. Karena itulah tanpa sengaja aku mengambil tindakan seperti itu."

 

Namun orang-orang di sekelilingnya sama sekali tidak bisa memahami pemikiran seperti itu, dan tampaknya ada banyak orang yang menganggap dirinya mengganggu. Sebagai hasilnya, dia menjadi memiliki pemikiran bahwa "diriku tidak akan pernah bisa diterima oleh siapa pun".

 

"Begitu, ya. Nijouin-san juga ternyata mengalami hal yang berat, ya."

 

"Iya. Tapi orang yang kuceritakan tentang hal ini baru Tokitou-kun seorang. Hanya dengan didengarkan saja entah mengapa hatiku menjadi terasa lebih lapang. Terima kasih banyak."

 

"Jika kamu berkata begitu, artinya ada gunanya juga aku meminta agar kamu memberi tahu kekhawatiranmu."

 

Apakah aku tidak bisa membuat dirinya menjadi lebih bersemangat lagi.

 

Terhadap tipe seperti ini, topik pembicaraan yang mendampingi lawan bicara harusnya adalah hal yang bagus. Ini adalah pelajaran dari "Magi-Ama".

 

"Omong-omong Nijouin-san, apa yang kamu sukai? Apakah kamu punya hobi?"

Meskipun aku sudah terhitung cukup terbiasa berbicara dengan gadis yang berada di puncak gunung, melontarkan pertanyaan yang masuk ke ranah pribadi tetap saja membuatku agak gugup. Namun, Rena menjawabnya dengan sangat alami.

 

"Saat masih kecil aku suka menggambar ilustrasi. Tapi sekarang sudah tidak ada apa-apa."

 

"Heh~ Ilustrasi seperti apa?"

 

"Anu…… agak memalukan, sih, tapi gambar seperti karakter manga atau anime."

 

Ooh, jawaban yang teramat tidak disangka. Menggambar ilustrasi tipe

manga adalah citra yang terasa jauh dari gadis cantik yang serius dan anggun.

 

"Heh! Aku sangat menyukai ilustrasi manga atau anime, lho. Hanya dengan melihatnya saja rasanya menenangkan dan membuat gemas. Bagus ya, ilustrasi itu! Jika ada gambar yang pernah dibuat oleh Nijouin-san, aku benar-benar ingin melihatnya!"

 

Gawat. Jiwa otakuku tidak bisa ditahan lagi hingga langsung menyambarnya begitu saja.

 

"Mohon maaf. Sampai menduduki bangku SMP aku memang menggambarnya dengan target menjadi ilustrator, tetapi aku berhenti menggambar saat kelas 2 SMP."

"Eh? Begitu, ya. Sayang sekali. Apakah kamu tidak menggambarnya lagi?"

 

"Iya. Tampaknya aku tidak punya bakat, dan kudengar gambarku sangat jelek."

 

Tampaknya "kudengar" jelek?

 

Pilihan kata yang seolah menganggapnya sebagai urusan orang lain membuatku merasa aneh. Jangan-jangan──

 

"Apakah terjadi sesuatu saat kelas 2 SMP?"

 

"Yah, begitulah."

 

Di bagian ini apakah aku harus mendesaknya untuk bertanya secara mendalam? Ataukah ditarik mundur saja dengan halus?

 

Belajarlah dari pengalaman berinteraksi dengan Lena Anhalt. Pikirkanlah.

 

Tipe orang yang bersikap kaku dan sulit menerima orang lain. Di dalam situasi di mana orang seperti itu akhirnya mulai membuka hatinya…… benar sekali. Seseorang harus mendampinginya dengan lembut dan mendengarkan ceritanya dengan sepenuh hati.

 

"Nijouin-san. Jika tidak keberatan, ceritakanlah kepadaku."

 

"Tokitou-kun…… terima kasih. Apakah kamu mau mendengarkannya?"

Pilihanku tidak salah. Gadis cantik yang menyendiri itu, sebenarnya memang sedang ingin ceritanya didengarkan oleh seseorang.

 

Perasaan seperti itu tersampaikan dengan sangat jelas.

 

“Magi-Ama” terima kasih banyak.

 

"Tentu saja."

 

Mendengar kata-kataku yang dijawab dengan mantap, dia menceritakan kisahnya dengan raut wajah lega.

 

***

 

Kedua orang tua Nijouin Rena adalah orang yang serius dan galak, sehingga hiburan seperti manga maupun anime dilarang di rumahnya.

 

Terlebih lagi, dia konon baru diperbolehkan memiliki ponsel pintar setelah masuk ke SMA.

 

──Bagi diriku yang menjadikan light novel, manga, dan anime sebagai tujuan hidup sejak masih kecil, hal seperti itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kutahan secara mutlak.

 

Namun, hal itu terjadi saat dia masih duduk di bangku SD. Manga dan anime yang ia lihat di rumah temannya terasa sangat menyenangkan, hingga dia mulai menggambar ilustrasi secara sembunyi-sembunyi di belakang orang tuanya.

Setelah menjadi murid SMP, dia tampaknya menggambar dengan menjadikan buku manga yang dibeli menggunakan uang sakunya sebagai contoh.

 

"Aku terus menggambarnya di belakang orang tuaku, dan menjadikannya sebagai rahasia bahkan di hadapan teman-temanku."

 

Jika ketahuan pasti akan dimarahi. Meskipun ketakutan, dia sangat menyukai sensasi di mana sebuah ilustrasi terlahir dari tangannya sendiri, hingga dia terus melanjutkan hobi itu secara kecil-kecilan walaupun gambarnya masih jelek.

 

Dan tanpa disadari, di dalam hatinya tumbuh angan-angan bahwa kelak di masa depan dia ingin menjadi seorang ilustrator profesional.

 

──Namun, pada suatu hari di kelas 2 SMP.

 

Di saat dia sedang menggambar ilustrasi secara diam-diam pada buku catatan di dalam kelas, kebetulan tindakannya itu ketahuan oleh murid laki-laki sekelasnya. Buku catatannya direbut dari arah samping, lalu dilihat dengan lekat.

 

"Uwah, apa-apaan ilustrasi yang sangat jelek ini!"

 

"Hentikan!"

 

Murid laki-laki yang lain ikut mengintip ke dalam buku catatan, lalu masing-masing melontarkan penilaian yang kejam, "Jelek sekali, ya."

 

Setelah kejadian itu, Rena tidak pernah menggambar ilustrasi lagi.

 

Kisah masa lalu yang seperti itu diceritakannya dengan nada bicara yang datar.

 

"Mereka benar-benar orang yang kejam, ya."

 

"Kalau dipikirkan sekarang, mereka mungkin memiliki dendam kepadaku."

 

"Dendam?"

 

"Iya. Karena sejak masa SMP pun aku sudah memiliki sifat yang seperti ini, jadi aku sudah berulang kali menegur atau mencari-cari kesalahan mereka, kan."

 

Kalau begitu, hal itu mungkin hanya sekadar dendam yang salah sasaran belaka. Jika memang begitu──

 

"Bukankah mereka hanya sekadar ingin mencelamu saja, dan ilustrasi milik Nijouin-san aslinya sama sekali tidak jelek?"

 

"Entahlah, ya. Sekarang setelah menjadi seperti ini, hal yang mana pun sudah tidak penting lagi. Lagipula, mana mungkin orang sepertiku bisa menjadi seorang ilustrator."

 

Apakah benar begitu. Jika gadis yang serius dan memiliki ketulusan seperti dirinya mau menargetkannya dengan sungguh-sungguh mulai sekarang, bukankah kemungkinan untuk itu masih terbuka lebar.

"Jika tidak keberatan, aku ingin melihat ilustrasi buatan Nijouin-san, lho. Apakah kamu tidak menyimpannya di dalam ponsel pintar?"

 

"Tidak ada. Seperti yang kukatakan barusan, aku berhenti menggambar ilustrasi saat SMP, dan ponsel pintar pun baru diperbolehkan setelah aku masuk SMA."

 

"Begitu, ya…… sayang sekali!"

 

"Ufufu. Meskipun tidak bisa melihat ilustrasiku yang jelek, sama sekali tidak ada bagian yang perlu disayangkan, kok."

 

Meskipun dia tertawa secara sepihak untuk merendahkan diri sendiri, entah mengapa ada hal yang terasa mengusik hatiku.

 

"Nijouin-san, apakah kamu sama sekali tidak memelihara rasa penyesalan setelah merelakan impianmu untuk menjadi ilustrator?"

 

"Ah…… t-tentu saja tidak ada."

 

"Benarkah?"

 

Ada jeda sesaat pada jawabannya. Aku merasa dia tidak bisa membohongi isi hatinya yang jujur.

 

Aku mencoba menatap matanya dengan lekat.

 

Meskipun tegas dan di permukaan tampak galak, manik matanya sangat jernih dan indah. Menatap mata yang seperti ini memerlukan keberanian, tetapi aku menatapnya demi satu tujuan untuk mencari tahu isi hatinya yang jujur.

 

"……Aduh, Tokitou-kun ini benar-benar, ya. Ternyata sulit sekali untuk mengelabui dirimu."

 

Rena memperlihatkan tawa kecut.

 

"Seperti yang kamu katakan, terkadang aku berpikir, jika saja saat itu aku tidak menyerah, apakah masa depan di mana diriku menjadi seorang ilustrator itu ada, ya. Ya, meskipun hal itu tidak mungkin terjadi, sih."

 

"Belum terlambat, kan."

 

"……Eh?"

 

"Karena kita masih murid SMA, jadi untuk memulai sebuah tantangan sekarang pun sama sekali tidak ada kata terlambat."

 

"Tidak mungkin. Aku tidak bisa menantangnya."

 

"Kenapa?"

 

"Aku tidak tahu bagaimana cara agar gambarku bisa menjadi bagus, dan sebelum membicarakan hal itu, hatiku tidak bisa digerakkan untuk memulai sebuah tantangan."

 

"Padahal kalau kamu mencobanya meskipun menganggap hal itu akan gagal, itu akan lebih baik."

 

"Tidak mungkin."

 

"Bukan masalah bagus atau jelek, tapi tetap menyukai apa yang kita sukai itu, menurutku adalah hal yang bagus, lho."

 

Kesukaanku terhadap galge, jika dilihat dari sekeliling mungkin hanya terkesan menjijikkan saja. Namun, apa yang kusukai ya tetap kusukai, sih.

 

"Tidak mungkin!"

 

Dengan nada bicara yang mengeras, Rena menundukkan kepalanya. Bahunya tampak bergetar. Aura yang meluap seolah memohon agar aku tidak membicarakan hal ini lebih jauh lagi menjadi tersebar. Sosok rapuh yang diperlihatkan oleh dirinya yang biasanya selalu berpendirian kuat.

 

Begitu, ya. Ternyata begitu, toh. Rasa percaya diri yang pernah terluka sekali, kini sedang ketakutan karena takut akan terluka kembali. Karena itulah, bahkan untuk memulai sebuah tantangan pun terasa menakutkan baginya.

 

Bagaimana cara agar membuat dirinya menjadi lebih berpikiran positif, aku sama sekali tidak bisa menebaknya. Kemampuanku untuk berinteraksi dengan murid perempuan, pada akhirnya hanyalah sebatas aplikasi dari game romansa belaka. Sampai sekarang, pola yang seperti ini tidak pernah ada di dalam game.

 

"Begitu, ya. Karena aku juga tidak bermaksud memaksakannya, jadi jika kamu tidak ingin melakukannya, mau bagaimana lagi, ya."

 

"Ah, maafkan aku karena berbicara dengan nada yang dingin. Aku tidak bermaksud seperti itu."

 

"Tidak apa-apa. Aku memahaminya, kok. Karena itu kamu tidak perlu meminta maaf."

 

Rasa kesal terhadap Rena sama sekali tidak ada di dalam diriku. Namun, ketidakberdayaan diri sendiri rasanya teramat menjengkelkan hingga mau bagaimana lagi.

 

"Terima kasih banyak. Orang yang bisa mendengarkan isi hatiku sampai sejauh ini, baru Tokitou-kun seorang. Mengetahui ada orang yang bersedia memahami diriku adalah hal yang patut kusyukuri. Aku sangat berterima kasih kepadamu. Meskipun sampai sekarang kita hampir tidak pernah menjalin hubungan, ternyata kamu adalah orang yang semenawan ini, ya."

 

"Eh? A-A-A-Aku orang yang menawan? Nggak, sama sekali tidak ada hal yang seperti itu, kok. Aku kan hanya cowok suram yang tidak populer."

 

"Tidak. Kamu sangat memikat, lho. Mengenai Tokitou-kun, aku menjadi sangat menyukaimu."

 

"Eh?"

 

Kata sangat menyukaimu, dipikirkan seperti apa pun pasti memiliki arti sebagai seorang teman, dan tentu saja di dalamnya mengandung banyak basa-basi sosial, itu sudah pasti. Namun meski begitu, jantungku sempat berdegup kencang untuk sesaat. Diriku terlalu gampang jatuh hati, ya.

 

Tapi serangan mendadak seperti ini benar-benar curang.

 

"Ah, tidak, bukan apa-apa. Tokitou-kun, mohon bantuannya mulai sekarang, ya."

 

"Ah, iya. T-Tentu saja. Aku juga mohon bantuannya."

 

Meskipun aku menjadi agak salah tingkah, secara garis besar aku bisa mengobrol dengan becus, dan jika dibandingkan dengan diriku yang sebelum-sebelumnya, ini adalah sebuah kemajuan yang teramat besar.

 

Terlebih lagi, hari di mana aku bisa mengobrol dengan begitu akrab bersama sang bunga di puncak gunung bernama Nijouin Rena akan tiba, adalah hal yang tidak bisa dibayangkan oleh diriku sampai kemarin. Ini semua berkat berbagai macam pengalaman yang kulakukan di dunia

“Magi-Ama”.

 

***

 

Aku tiba di rumah. Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Masih ada waktu sampai jam makan malam tiba.

──Apakah aku bisa masuk sekali lagi ke dalam dunia game? Apakah hal itu benar-benar bukan sebuah mimpi atau halusinasi belaka.

 

Tepat pada saat mesin game berada di depan mata, hal itu mulai mengusik perhatianku.

 

Sebelum mengganti pakaian, aku menyalakan tombol daya mesin game lebih dulu. Tampilan layar pembuka dari “Magi-Ama” pun dimulai.

Ilustrasi karakter dan logo judul "Kehidupan Sekolah yang Manis di Akademi Sihir Magia" tampak normal seperti biasa.

 

Dan meskipun teks "NEW GAME" bisa dibaca, bagian bahasa Jepang selain itu mengalami kekacauan tampilan karakter. Sama seperti saat layarnya mengalami bug kemarin.

 

"Ah, apa-apaan ini?"

 

Berbeda dengan kemarin, teks "SAVE DATA" kini sedang ditampilkan.

 

Aku mencoba mengeklik bagian tersebut.

 

"Uwoogh……"

 

Tanpa sadar aku mengerang dengan suara yang aneh. Sebagai SAVE DATA, teks "Haruto Zeit" telah muncul di sana. Data seperti ini, tentu saja, belum pernah kubuat sampai sekarang.

 

Mungkinkah aku bisa masuk sekali lagi ke dalam dunia game.

Sambil menggerakkan pengontrol menggunakan tangan yang gemetar untuk mengeklik teks tersebut, jendela masukan kata sandi diminta kembali. Begitu memasukkan huruf-huruf yang kucatat kemarin──sama seperti kemarin, layar televisi bersinar dengan teramat terang.

 

Meskipun aku sudah memejamkan mata lebih awal, pandanganku tetap saja ternoda oleh warna putih. Sensasi seolah-olah diriku tersedot ke dalam seperti sebelumnya kembali terjadi, dan kesadaranku pun mulai menjauh.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close