Prolog: Di Sekolah Kami, Ada Dua Gadis Cantik yang Menjadi Bunga di Puncak Gunung
Pagi ini, kebetulan aku terbangun lebih
awal. Karena langsung bersiap-siap dan berangkat, aku tiba di sekolah sekitar
15 menit lebih cepat dari biasanya.
Padahal hanya berbeda 15 menit, tapi
orang-orang yang berjalan berbondong-bondong di jalan menuju sekolah
benar-benar berbeda.
Rasanya aneh.
Di tengah suasana itu, ada seorang siswi
yang memancarkan kilau yang sangat mencolok, hingga tanpa sadar menarik
perhatianku.
"Selamat pagi, Nijouin-san."
"Ya, selamat pagi."
"Ah, lihat. A-Aku... hari ini
memakai dasi dengan benar, lho."
"Benar juga. Bagus sekali."
"A-Ah, terima kasih banyak."
Siswa laki-laki yang menunjuk kerah
bajunya sendiri itu tersenyum gembira meskipun tampak gugup. Sepertinya, dasi
cowok itu sempat ditegur karena longgar olehnya beberapa waktu lalu.
Dia
adalah──satu dari dua gadis tercantik di sekolah kami, Nijouin Rena.
Selain sangat cantik, dia adalah gadis
genius yang menduduki peringkat pertama di angkatannya dan menjabat sebagai
ketua kelas. Dia adalah orang yang luar biasa sampai-sampai rasanya seperti ada
bug dalam pengaturannya.
Wajah rupawan yang memberikan kesan
keren. Pinggang yang ramping, serta cara berjalan yang anggun sekaligus tegas.
Rambut hitam selembut sutra yang berkibar ditiup angin. Setiap bagian dari
dirinya terlihat begitu pas dan indah, persis seperti lukisan.
Menurut rumor, dia adalah keturunan
bangsawan. Benar atau tidaknya tidak pasti, tapi dia memang memiliki aura yang
membuat orang-orang memercayainya. Bunga di puncak gunung yang sulit didekati.
Sosok cantik yang sangat cocok dengan julukan itu.
Kepada gadis seperti itu, kali ini siswa
laki-laki lain ikut menyapanya.
"S-Selamat pagi, Rena-sama. Pagi ini
Anda juga terlihat cantik."
Karena terlalu menghormatinya, sampai ada
orang yang memanggilnya dengan sebutan "Rena-sama".
"Tidak perlu bermulut manis."
"Ah, m-maaf. Ini sama sekali bukan
rayuan, tapi benar-benar dari lubuk hatiku."
"Ah, kalau begitu, terima kasih
banyak."
Mungkin
karena ingin mengambil hati sang bunga di puncak gunung, ada banyak orang yang
mengajaknya bicara. Seperti dugaan, dia memang sangat populer──pikirku. Namun
meski begitu, ada satu hal yang sedikit mengusik perhatianku....
Tidak. Rena-sama adalah orang yang hebat.
Bukan urusan cowok biasa sepertiku untuk memikirkannya.
Setelah meyakinkan diri kembali, aku
memutuskan untuk berhenti memikirkan tentang dirinya.
"Ah, kamu yang di sebelah
sana."
"Hyaikh!?"
Karena mendadak dipanggil, suaraku sampai
meninggi. Memalukan sekali. Rasanya aku ingin bersembunyi di dalam lubang saja.
"Kerah bajumu tertekuk, lho."
"Ha, baik...."
Saat meraba kerah baju dengan ujung jari,
bagian itu memang terpelintir, jadi aku segera merapikannya.
Karena aura bunga di puncak gunung
miliknya terlalu kuat, pada akhirnya aku tetap tidak bisa menatap wajahnya,
lalu pergi meninggalkan tempat itu seolah-olah sedang melarikan diri. Ah,
mengenaskan sekali, bahkan tidak bisa bicara dengan becus.
──Tidak.
Selain cantik, dia memiliki rasa keadilan yang tinggi, sangat serius, serta
tegas terhadap peraturan dan penampilan.
Di hadapan gadis genius yang keren
seperti itu, banyak murid yang pasti akan merasa gugup. Jadi, bukan berarti aku
penakut yang berlebihan....
Yah, tapi bisa dibilang begitu juga, sih.
Sudahlah, jangan mencari alasan.
Di
sekolah kami──SMA Swasta Makiya, ada dua gadis cantik dengan tipe yang
sepenuhnya berbeda. Keduanya memiliki kecantikan yang luar biasa dan menjadi
sosok terkenal di sekolah.
Yang pertama adalah Nijouin Rena yang
tadi. Gadis menawan berambut hitam, seorang rasi bintang yang berada di atas
awan, anggun, dan keren.
Sedangkan yang satunya lagi memiliki
citra yang berkebalikan; ceria dan menjadi matahari kelas yang disukai oleh
siapa saja.
Fitur
wajahnya yang tegas terlihat anggun dan imut layaknya idol papan atas, ditambah
lagi dengan senyumannya yang sangat berkilau, seorang gadis cantik yang polos
dan ceria.──Namanya adalah Kageura Haruru.
"Ahahaha, kamu baik dan sangat
ramah, ya!"
Lihat itu. Di ruang kelas saat jam
istirahat. Kepada cowok berpenampilan suram yang memungutkan pensil mekaniknya
yang jatuh, dia mengucapkan terima kasih dengan senyum yang sangat lebar hingga
tidak bisa lebih lebar lagi. Benar-benar seperti matahari.
Saat pembagian kelas di kelas dua, entah
bagaimana bisa, aku berakhir di kelas yang sama dengan kedua gadis itu. Karena
terlalu terkejut, sesaat aku bahkan meragukan kenyataan. Perkembangan seperti
ini hanya terpikirkan olehku dalam komedi romantis atau game romansa gadis
cantik (galge).
Namun pada kenyataannya, meski berada di
kelas yang sama dengan dua gadis tercantik nomor satu dan dua di sekolah, aku
sama sekali tidak ada hubungan dengan mereka.
"Dunia tempat mereka tinggal berbeda
dengan duniaku."
Sambil memandangi mereka dari kejauhan di
dalam kelas, tanpa sadar suara hatiku lolos bergumam. Mendengar itu, cowok
otaku di bangku depanku, Maeno-kun, langsung bereaksi dengan sensitif.
"Tapi tetap saja, Tokitou-uji.
Bukankah mengagumi kecantikan seperti itu dari dekat setiap hari saja sudah
merupakan sebuah kebahagiaan?"
Uwah, monolog anehku terdengar. Wajahku
rasanya membara karena terlalu malu.
Maeno-kun berkata begitu, tapi
sejujurnya, hal seperti itu sama sekali bukan kebahagiaan atau apa pun.
Gadis-gadis dengan spesifikasi super
tinggi seperti mereka itu bagaikan selebritas di balik layar televisi. Aku
tidak terlalu tertarik pada idol.
Walaupun penampilannya imut, siapa tahu
sifat aslinya buruk.
Aku adalah orang yang tahu diri akan
realitas. Aku tidak akan memelihara angan-angan pada hal fiktif.
Lagipula, apa itu kebahagiaan? Memandangi
gadis yang tak tergapai dari kejauhan?
Bukan, bukan itu, kan. Bisa tenggelam
dalam hal yang disukai sesuka hati.
Bagi
eksistensiku, itulah yang disebut kebahagiaan──begitulah pikirku.
──Aku,
Tokitou Haruto, murid kelas dua SMA Swasta Makiya.
Apakah
aku punya pacar? ──Tidak punya.
Apakah
aku ingin punya pacar? ──Tidak juga.
Bahkan sekarang setelah memasuki bulan
Juni di kelas dua,
Jangankan pacar, teman perempuan yang
dekat pun aku tidak punya.
Walau begitu, tidak ada bagian yang
merepotkan.
Kehidupan sekolah memang sama sekali
tidak menarik, tapi karena aku bisa meluangkan waktu untuk tenggelam dalam hal
yang kusukai, ini justru bisa dibilang sangat menguntungkan.
Menghabiskan hari-hari sambil mencemaskan
hal seperti bisa mendapatkan pacar atau tidak, itu hanya melelahkan saja.
──Aku
benar-benar berpikir begitu.
Tanpa perlu memaksakan diri untuk
berpacaran di dunia nyata pun, begitu pulang ke rumah dan menghadap mesin game,
aku sebenarnya adalah seorang master romansa.
Tunggulah aku, para heroin yang imut.
Setelah tiba di rumah. Begitu selesai
makan malam, aku langsung mengurung diri di kamar. Itu adalah rutinitasku
selama satu tahun terakhir ini.
Saat menekan tombol daya untuk menyalakan
mesin game, layar pembuka pun muncul.
Judul "Kehidupan Sekolah yang Manis
di Akademi Sihir Magia" mengapung, diikuti dengan munculnya ilustrasi
bergaya anime yang menampilkan para pemuda tampan dan gadis cantik mengenakan
seragam sekolah yang modis.
Ilustrasi indah yang digambar oleh
ilustrator yang dijuluki ilustrator dewa, Sekiryū Shizuku. Ilustrasi ini
benar-benar luar biasa.
Game ini adalah galge sekolah berlatar
akademi sihir di dunia lain, tempat pemain bisa menikmati asmara dengan para
gadis cantik. Ini adalah judul yang membuatku sangat kecanduan selama setahun
terakhir, dengan singkatan "Magi-Ama".
Walau berlatar dunia bersihir, elemen RPG
seperti pertarungan, atau elemen yang berfokus pada menaikkan level karakter
gadis cantik dengan menyelesaikan banyak *quest*, tergolong tipis.
Sifatnya sebagai game simulasi romansa
yang meningkatkan tingkat kesukaan para heroin dengan cara terlibat dan
berinteraksi dengan mereka dalam kehidupan sekolah sehari-hari sangatlah kuat,
tetapi game ini memiliki dua poin yang revolusioner.
Yang pertama adalah "Fitur Pembuatan
Karakter Otomatis", di mana heroin akan dibuat secara otomatis oleh AI
pada setiap permainan.
Hanya dengan menentukan preferensi
penampilan dan tipe kepribadian, heroin yang memikat akan tercipta. Dari tipe
kepribadian saja sudah ada lebih dari 20 jenis, dan jika digabungkan dengan
variasi penampilan, lebih dari 10.000 jenis heroin bisa diciptakan. Karena
itulah, kita bisa menikmati romansa dengan heroin orisinal buatan sendiri.
Yang kedua adalah percakapan dengan
heroin tidak menggunakan sistem pilihan dialog, melainkan pemain bisa bebas
mengetik kalimat percakapan untuk mengobrol.
AI akan menganalisis kalimat kita di
sini, lalu membalasnya sesuai dengan kepribadian si heroin. Karena percakapan
yang semestinya bisa terjalin dan bukan dialog yang itu-itu saja, rasanya
benar-benar seperti sedang berhadapan dengan manusia asli.
Seiring dengan berhasilnya menaklukkan
heroin dan membuat mereka menyukai kita, kata-kata yang mereka ucapkan akan
berubah menjadi semakin manis. Karena itu, rasa sayang terhadap heroin dalam
game ini akan tumbuh jauh lebih dalam.
Evolusi AI itu luar biasa, ya, serius.
Berkat efek sinergi dengan daya tarik
karakter gadis cantik yang digambar oleh ilustrator dewa, entah bagaimana
mengatakannya, pokoknya heroin "Magi-Ama" itu yang terbaik!
...Begitulah. Para heroin sekalian... ah, sudah, mereka terlalu berharga hingga
membuatku sesak.
Tergantung orangnya, mungkin ada yang
menganggap murid SMA laki-laki yang tenggelam dalam *galge* itu menjijikkan.
Namun bagiku, karena ini adalah hobi yang sangat, sangat, sangat kusukai, aku
tidak peduli.
Dibandingkan kehidupan SMA di dunia nyata
yang tidak terlalu menarik, game jauh lebih menyenangkan secara mutlak.
Aku ingin tetap menyukai apa yang
kusukai. Bukankah begitu saja sudah bagus?
"Nah, ayo pergi menemui
mereka."
Sambil memutar-mutar bahu untuk
mengumpulkan semangat, aku memulai game-nya.
"Ah, Haruto-kun. Aku sangat
menyukaimu."
Bagus, heroin yang ini pun akhirnya
berhasil kutaklukkan.
Yang
berhasil kutaklukkan kali ini adalah heroin dengan tipe kepribadian 【Pangeran
yang Menawan】. Gadis berambut pendek yang tomboi, yang mana
rasanya tidak tahan saat dia berangsur-angsur menunjukkan wajah gadis feminin
seiring kemajuan penaklukan.
Sampai sekarang, aku sudah memainkannya
berpuluh-puluh kali, dan telah menaklukkan heroin nona muda tsundere yang
dingin hingga heroin iblis kecil yang imut alami. Semuanya adalah heroin-heroin
yang sangat imut.
Keindahan desain karakter oleh ilustrator
dewa sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, kepribadian para heroin, perubahan
sikap mereka di dalam game, keimutan dialog serta gerak-gerik mereka. Bagian
mana pun benar-benar luar biasa.
Berkat sistem percakapan bebas oleh AI
dan bukan pilihan dialog seperti game lain, tingkat kesulitan penaklukannya
terhitung cukup tinggi.
Karena itu, ada banyak pemain yang
pokoknya memprioritaskan untuk
"membuat jatuh hati" si heroin
terlebih dahulu.
Namun,
tunggu sebentar. Jika begitu, mereka tidak bisa disebut sebagai "penggemar
asli 'Magi-Ama'". Meningkatkan 【Tingkat Kebahagiaan】
heroin hingga batas maksimal. Itulah logika tindakan dari orang yang
benar-benar mencintai game ini──begitulah menurutku.
Apa
itu 【Tingkat Kebahagiaan】?
Dalam
game romansa, parameter paling penting dari heroin tentu saja adalah 【Tingkat
Kesukaan】 terhadap protagonis. Hal itu sama di dalam
"Magi-Ama". Jika tidak menaikkan ini, penaklukan tidak akan berhasil.
Akan
tetapi, ada beberapa parameter lain yang khas dari game ini. Di antaranya, yang
paling kuanggap penting adalah 【Tingkat Kebahagiaan】.
Ini adalah parameter yang nilainya sangat sulit naik, di mana jika dalam
kondisi normal, bahkan setelah mencapai happy end pun paling-paling hanya akan
berada di sekitar 70%.
Selain
itu, 【Tingkat Kebahagiaan】 ini
tidak memiliki pengaruh langsung terhadap penaklukan. Tanpa memaksakan diri
untuk menaikkan nilainya pun, asalkan tingkat kesukaan naik, heroin akan
menyukai protagonis.
Karena itulah, aku yang sekarang sedang
bicara besar begini pun, pada beberapa kali pertama, pokoknya berfokus pada
penaklukan, tidak terlalu memedulikan parameter selain tingkat kesukaan, dan
mencapai bappy end.
Namun, seiring seringnya memainkannya,
aku menyadarinya.
Terhadap heroin yang telah menjalin
interaksi lewat percakapan alami, rasa sayang itu ada, dan tentu saja aku ingin
dia bahagia. Tidak, dia harus bahagia.
Lebih jauh lagi, kalau di sana ada angka
metriknya, menaikkannya adalah kewajiban seorang gamer sejati, kan?
Sejak saat itu, aku menggunakan waktu
yang sangat banyak untuk berusaha menaikkan tingkat kebahagiaan hingga batas
maksimal. Di papan buletin strategi pun informasinya sedikit, membuat hari-hari
penuh uji coba terus berlanjut.
Dan
akhirnya, aku menjadi bisa mencetak 【Tingkat Kebahagiaan】 95%
atau lebih di setiap akhir permainan.
Sebagai hasilnya, bagaimana bagian
akhirnya berubah?
──Kesimpulannya,
tidak berubah begitu besar. Ending khusus juga tidak muncul.
Namun, aku menyadari bahwa heroin yang
digambar pada ilustrasi still adegan terakhir memiliki ekspresi wajah yang jauh
lebih bahagia daripada sebelumnya.
Hanya begitu saja, jika dibilang begitu
ya memang hanya begitu.
Tergantung orangnya, ada juga pendapat
bahwa mereka tidak ingin membuang usaha besar hanya untuk hal seperti itu, dan
aku pun bisa memahami hal itu.
──Namun,
walau demikian, tetap saja.
Jika bisa melihat ekspresi yang
diselimuti kebahagiaan tertinggi dari si heroin, itu memiliki nilai yang
sepadan untuk meluangkan waktu dan berusaha. Bagiku, rasanya begitu. Aku
menjadi sangat ingin membuat si heroin bahagia.
Berpikir
bahwa asalkan bisa menaklukkannya maka 【Tingkat
Kebahagiaan】 heroin rendah pun tidak apa-apa, menurutku
adalah pemikiran dari cowok yang rendah.
Sejak
saat itu, aku pasti selalu menyambut ending dengan 【Tingkat
Kebahagiaan】 95% atau lebih.
Yah, kalau mau menertawakannya sebagai
kepuasan pribadi seorang otaku, tertawakan saja.
Meski tahu pada akhirnya ini adalah game,
aku tetap berpikir bahwa senyuman yang terlihat tulus dan bahagia dari para
heroin game ini
memiliki nilai yang sepadan.
Sebagai catatan, karakter figuran selain
heroin akan memunculkan karakter yang sama setiap kali.
Misalnya, ada karakter siswa laki-laki
sekelas bernama "Zeit". Orang ini adalah murid berandalan yang
memiliki paket lengkap berupa mesum, kasar, dan berotak udang, hingga dibenci
oleh murid-murid di sekitarnya.
Padahal begitu, setiap kali dia selalu
menggoda heroin yang menjadi target penaklukan, atau mencoba menjebak
protagonis.
Namun pada akhirnya, dia adalah peran
yang akan diberi pelajaran oleh protagonis yang digerakkan oleh pemain.
Singkatnya, tipe karakter anjing penggonggong yang kalah bagi protagonis. Aku
juga sangat membenci orang ini.
Saat bisa mengalahkan Zeit sebagai
protagonis, rasanya benar-benar melegakan dada.
Selain itu, teman sekelas di akademi
sihir maupun guru, selain para heroin, merupakan karakter yang sudah tetap.
"Nah, saatnya waktu
bersenang-senang."
Di layar, kunci akses untuk mengunduh
"Data Tambahan (Append Data)" yang akan terbuka setelah menaklukan
heroin telah ditampilkan.
Aku mengakses situs resmi
"Magi-Ama", menggunakan kunci akses, dan mendapatkan data tambahan
tersebut. Kemudian memainkan adegan tambahan setelah penaklukan. Aku bisa
menikmati waktu bahagia berduaan dengan si heroin.
"Ooooh...!"
Gadis berambut pendek tomboi yang
biasanya tampak bermartabat.
Gadis seperti itu, saat berkencan dan
hanya di hadapanku saja, menunjukkan wajah gadis feminin yang sangat imut. Dan
kemudian adegan layanan yang sedikit seksi.
Ya. Tidak ada kata lain yang terpikirkan
selain yang terbaik.
Momen kebahagiaan tertinggi yang hanya
bisa dinikmati oleh orang yang telah melampaui kepedihan demi kepedihan hingga
mencapai akhir. Ini benar-benar bisa disebut sebagai inti sari dari game
romansa.
"Fiuh~"
Setelah menyelesaikan adegan tambahan,
aku beristirahat sejenak. Saat melihat jam, waktu menunjukkan pukul 22:00.
Masih ada sedikit waktu.
Bagus.
"Nah, selanjutnya heroin seperti apa
yang harus kutaklukkan, ya..."
Dari
layar pembuka, aku memilih "NEW GAME". Dan pada saat aku berpikir
layarnya akan beralih──jendela di luar mendadak bersinar dengan teramat terang,
lalu suara gemuruh yang besar berdentum. Pada saat itu, layar game di televisi
berkedip-kedip, dan suara musik latarnya mendistorsi.
──Bersamaan
dengan itu, di dalam kepalaku, entah bagaimana deretan angka dan huruf alfabet
terlintas.
"uA2wY2eC8"
Apa-apaan ini? Saat memejamkan mata,
huruf-huruf itu mengapung sebagai bayangan di balik kelopak mata. Karena
penasaran, aku bergegas mencatatnya di secarik kertas memo.
"Mengagetkan saja..."
Sepertinya
petir baru saja menyambar di dekat sini. Saat mengarahkan pandangan ke layar,
kedipannya sudah reda. Namun──
"Uwah, gawat!"
Apakah karena petir tadi yang membuatnya
mengalami bug, tampilan layarnya menjadi berantakan dipenuhi karakter asing.
Satu-satunya teks yang bisa dibaca
hanyalah "NEW GAME". Di bagian
"SAVE DATA" yang biasanya
ditampilkan di bawahnya, tidak ada teks apa pun. Jangan-jangan data para heroin
yang sudah kutaklukkan sampai sekarang dengan menghabiskan waktu yang sangat
banyak telah terhapus?
Seketika, pandanganku terasa gelap
gulita.
Sial, ceroboh sekali. Harusnya aku
menggunakan colokan listrik yang dilengkapi pelindung lonjakan arus petir.
...Menyesal seperti itu pun sekarang sudah terlambat. Apakah program game-nya
sendiri masih hidup?
Untuk memastikannya, aku mengarahkan
kursor ke "NEW GAME" lalu menekannya. Kemudian, entah mengapa jendela
masukan kata sandi muncul. Sampai sekarang, saat memulai game, aku tidak pernah
diminta memasukkan kata sandi.
"Apa-apaan ini... program game-nya
juga rusak, ya?"
Ah, benar juga. Deretan huruf yang
kucatat tadi.
Sambil berpikir tidak mungkin, karena
tidak ada hal lain yang terpikirkan, aku mencoba memasukkannya. Lalu menekan
tombol OK.
Tepat setelah itu, layar bersinar dengan
hebat dan cahaya yang menyilaukan meluap keluar.
"...Uwah!"
Mataku silau dan kesadaranku menjauh. Dan──ada sensasi
seolah-olah diriku tersedot ke dalam layar.



Post a Comment