Bab 2: Dunia Nyata di Mana Seharusnya Tidak Ada Hal Menarik Apa Pun yang Terjadi
◇◇◇
Keesokan paginya. Tepat setelah
terbangun, hal tentang diriku yang masuk ke dalam dunia game kemarin langsung
terlintas di kepala.
Rasanya lumayan menstimulasi dan
menyenangkan. Berbicara dengan becus kepada gadis yang teramat cantik adalah
hal yang mustahil di dunia nyata, tetapi di dunia game, aku bisa dibilang
melakukannya dengan cukup baik.
Apakah itu sebuah mimpi……? Tapi kalau
mimpi, itu terasa teramat nyata, dan saat mencubit pipi pun rasanya sakit.
Bahkan setelah kembali ke sini pun ingatanku masih jelas, dipikirkan seperti
apa pun itu bukan mimpi.
Kalau begitu, apakah aku berhalusinasi,
atau ada semacam kekuatan misterius yang bekerja?
Bagaimanapun juga, jika itu bukan mimpi
atau halusinasi melainkan sebuah "kenyataan", keinginanku untuk
membuat Lena bahagia tidak akan tergoyahkan. Namun di saat yang sama, aku tidak
bisa menelantarkan dunia nyata begitu saja. Pokoknya, aku harus pergi ke
sekolah.
"Ah, bukan waktunya untuk melamun
sambil memikirkan hal ini, nih."
Saat
menyadarinya, waktu berangkat sekolah yang biasanya sudah lewat 20 menit.
Gawat. Aku bisa terlambat──
***
Setelah tiba di stasiun terdekat dari
SMA, aku berjalan di jalan menuju sekolah yang biasa menuju gerbang utama. Ini
adalah pemandangan biasa yang sudah familier.
Berbeda dengan dunia game kemarin, tempat
ini adalah tempat di mana diriku yang payah dalam berbicara dengan perempuan
menghabiskan waktu dengan tenang tanpa menarik perhatian. Sebab, berbeda dengan
heroin di dalam game, aku sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang
sebenarnya dipikirkan oleh perempuan di dunia nyata.
Perempuan yang berkilauan adalah makhluk
hidup dari dunia yang sepenuhnya berbeda dengan cowok bernyali kecil.
Tampaknya aku sudah kembali.
──Ke
dalam kehidupan sehari-hari yang tidak ada menariknya sama sekali, di mana masa
muda hanyalah sebatas nama saja.
Begitu melewati gerbang utama, bel tanda
masuk untuk wali kelas pagi berbunyi. Aku bisa terlambat jika tidak segera
masuk ke kelas.
Gawat. Aku melangkah cepat menuju
kelasku, kelas 2-A.
Begitu tiba di kelas, semua orang sudah
duduk di bangku masing-masing.
Saat aku membuka pintu kelas dengan
perlahan, semua orang di kelas serentak melihat ke arahku.
Tatapan mata yang berkumpul sebanyak ini
adalah siksaan bagi diriku yang memiliki kecemasan sosial. Untungnya guru wali
kelas belum datang. Bagus, aman di detik-detik terakhir. Aku terhindar dari
terlambat.
Setelah duduk di bangkuku sendiri, aku
baru menyadari bahwa ruang kelas sedang diselimuti oleh atmosfer yang aneh.
Entah mengapa di depan meja guru, sang
ketua kelas, Nijouin Rena, sedang berdiri dengan wajah yang masam. Di
sebelahnya ada seorang murid perempuan yang sedang menunduk.
"Kalau begitu bagaimana? Bagi orang
yang telah merundung Tanaka-san, silakan maju dan mengaku!"
Tanaka-san adalah gadis suram yang tidak
mencolok di kelas.
Menurut cerita, pagi ini di dalam laci
meja Tanaka-san dimasukkan
sampah seperti bungkus kosong camilan.
Hal seperti itu konon sudah terjadi tiga kali dalam satu bulan terakhir ini.
Karena Tanaka-san sudah berkonsultasi
kepada Rena sejak sebelumnya tetapi sama sekali tidak ada tanda-tanda akan
berhenti, pada akhirya dia pun maju bertindak.
"Siapa orang yang telah melakukan
perundungan ini?"
Padahal masalah seperti ini biarkan saja
diserahkan kepada guru. Rasa keadilannya tinggi sekali, ya.
"Hei, Nijouin. Hal seperti itu
bukankah tidak penting."
Seorang murid laki-laki berkata dengan
nada malas. Sang ketua kelas menaikkan sebelah alisnya sedikit, lalu
mengarahkan pandangan tajam kepada murid laki-laki itu. Menakutkan sekali,
Nijouin Rena.
"Hal seperti itu? Perbuatan yang
membuat Tanaka-san merasakan pengalaman yang sangat tidak menyenangkan, kamu
sebut sebagai hal seperti itu?"
Nada bicaranya sangat tegas kepada teman
sekelas. Tidak kenal ampun, ya.
"Ah, tidak…… tapi bisa saja kan ada
orang yang tanpa maksud buruk kebetulan membuang sampah di sana. Bukankah cukup
dengan memperingatkan agar ke depannya lebih berhati-hati saja?"
"Melakukan hal seperti ini tanpa
maksud buruk, justru hal kejam seperti itulah yang tidak akan pernah
kumaafkan!"
"Uguukh……"
Itu memang sebuah kebenaran yang mutlak.
Karena dikatakan dengan begitu keras, tidak ada lagi orang yang bisa
membantahnya.
Sudah kuduuga. Keanehan yang kurasakan
saat melihat dirinya di jalan menuju sekolah kemarin pagi. Ternyata adalah hal
ini.
Nijouin Rena memiliki penampilan yang
sangat rupawan, dan kecantikannya adalah nomor satu di angkatannya. Nilai
akademisnya juga luar biasa. Dan di permukaan, dia tampak dicintai oleh semua
orang. Namun pada kenyataannya, karena rasa keadilannya yang terlalu tinggi,
dia justru dijauhi oleh sekelilingnya.
Melihat dirinya secara langsung seperti
itu, wajah Lena Anhalt, heroin yang memiliki rasa keadilan terlalu tinggi di
dalam "Magi-Ama", langsung terlintas di kepalaku. Kedua orang ini,
bukan hanya penampilannya saja, tetapi sifat maupun tindakannya pun bagai
pinang dibelah dua.
Sangat serius dan tegas kepada orang
lain. Namun dia jauh lebih tegas lagi kepada dirinya sendiri, berkelakuan baik,
dan nilai akademisnya luar biasa. Bagian itu memang patut dihormati, sih.
──Rena
mendadak melihat ke arah sini, dan mata kami saling bertemu dengan telak.
Gawat. Ketahuan kalau aku sedang
memperhatikannya. Tampaknya aku dianggap menjijikkan.
"Tokitou-kun……"
──Eh?
Kenapa mendadak dia memanggil namaku?
Tepat pada saat namaku lolos dari
mulutnya, mata orang-orang di seluruh kelas serentak tertuju kepadaku.
"Tokitou! Ternyata kamulah
pelakunya!?"
Seorang murid laki-laki berteriak.
──Eh,
tunggu sebentar! Aku bersumpah demi langit, tentu saja aku tidak melakukan hal
seperti itu.
Niatnya aku ingin mengatakan hal itu,
tetapi karena kejadian yang
mendadak ini tenggorokanku menjadi
membeku.
Kata-kata dari orang itu menjadi pemicu,
membuat suara-suara mulai bermunculan dari berbagai penjuru.
"Eeeh, Tokitou-kun pelakunya?
Serius?"
"Kira-kira begitu, aku juga sudah
berpikir demikian, sih."
"Tokitou! Dasar orang yang
kejam!"
Uwah, salah paham, tahu! Bukan aku!
Aku berteriak di dalam hati, tetapi
suaraku tetap tidak mau keluar seperti biasa. Gawat. Jika terus terdiam, itu
sama saja seperti aku mengakui kalau diriku adalah pelaku yang sebenarnya.
"Seperti dugaan, ternyata Tokitou,
ya. Hei semuanya, tidak bisa dimaafkan, kan!"
Seorang murid laki-laki berdiri dari
bangkunya lalu ikut memanaskan suasana.
Atas dasar apa kamu menghasut semua orang
begitu. Rasanya menyebalkan, tapi suaraku tidak mau keluar.
"Semuanya, tolong tunggu sebentar!
Bukan berarti Tokitou-kun adalah pelakunya!"
"Heh?"
Berkat suara Rena yang lantang, ruang
kelas seketika menjadi tenang.
"Kebetulan mata kami saling bertemu
dengan Tokitou-kun, jadi tanpa sengaja aku memanggil namanya. Mohon maaf!"
Di depan meja guru, gadis paling cantik
di sekolah itu membungkukkan kepalanya. Seluruh kelas tampak melongo.
"Ah, aaah…… begitu, ya?"
"Nggak, aku sudah tahu, kok. Kalau
Tokitou bukan tipe orang yang akan melakukan hal seperti itu."
Bual besar. Kalian tadi benar-benar
mencurigai diriku, kan.
Pada saat itu pintu terbuka dan guru wali
kelas, Koyasu-sensei, masuk ke dalam kelas.
"Hmm…… ada apa, ya?"
Melihat Rena dan Tanaka-san yang sedang
berdiri di depan meja guru, sang guru mengeluarkan suara keheranan.
"Tidak. Bukan apa-apa."
Tanaka-san menyangkalnya lalu
terburu-buru kembali ke bangkunya sendiri. Rena juga berkata, "Tidak ada
apa-apa," lalu duduk di bangkunya.
Meskipun dia bertindak untuk
menyelesaikan sendiri masalah yang terjadi di kelas, dia tidak akan mengadu
kepada guru. Nijouin Rena adalah orang yang seperti itu.
"Sebab, aku tidak suka jika murid
tertentu dipandang secara negatif oleh guru dengan menganggap mereka
bermasalah."
Seingatku sebelumnya, dia pernah
membicarakan hal seperti itu.
"Begitu…… ya sudah. Kalau begitu
mari kita mulai wali kelasnyaaa~"
Pada akhirnya, topik pembicaraan ini
menguap begitu saja.
Sambil membawa buku absen, Koyasu-sensei
mulai mengabsen murid.
Penampilannya
yang bertubuh kecil dan berwajah kekanak-kanakan itu──seperti dugaan,
benar-benar mirip dengan Kaoru Co Kinto-sensei.
Bukan hanya Rena dan Lena saja,
jangan-jangan ada juga karakter lain yang seperti itu.
Masuk ke dalam dunia game saja sudah
cukup mengejutkan.
Mengetahui bahwa ada orang yang mirip di
dua dunia, yaitu game dan kenyataan, rasanya jauh lebih mengejutkan lagi.
Di dalam hidup ini, hal yang membuat
terkejut seperti ini rasanya tidak
akan terjadi lagi, ya.
──Maupun
sempat berpikir demikian, setelah pulang sekolah hari itu, hal yang mengejutkan
kembali terjadi lagi.
***
Pelajaran hari ini telah selesai. Aku
tidak mengikuti kegiatan klub, tidak punya juga teman untuk pergi bersama.
Karena itu, tugasku hanyalah pulang ke rumah.
Sambil menyampirkan tas sekolah di bahu,
aku keluar melewati gerbang utama. Hal itu terjadi saat aku sedang berjalan
menuju stasiun terdekat.
"Tokitou-kun!"
Suara seorang gadis terdengar dari arah
belakang. Biasanya tidak ada gadis yang memanggilku di jalan menuju sekolah.
Sambil berpikir aneh, saat aku berbalik,
tidak disangka orang itu adalah Nijouin Rena.
"A…… ada urusan apa, ya?"
Tolong jangan melotot begitu karena
menakutkan. Apakah aku telah melakukan suatu kesalahan?
Aku mencoba memputar otak, tetapi tidak
ada hal yang terpikirkan olehku.
"Dasimu longgar, lho."
"Ah……"
Ternyata masalah penampilan. Aku
terburu-buru merapikan dasiku kembali.
Karena tekanannya terlalu kuat, detak
jantungku melonjak drastis.
Akibat gugup, aku tidak bisa mengikatnya
dengan becus.
Saat aku sedang kebingungan, tidak
disangka Rena mengulurkan kedua tangannya lalu mencengkeram dasiku.
"Biar aku ikatkan."
Wajahnya mendekat, dan aroma yang wangi
merebak di sekitar hidungku. Dasi itu diikat dengan erat oleh tangannya yang
ramping dan indah. Diikatkan dasi oleh gadis paling cantik di angkatan, rasanya
benar-benar seperti pengantin baru.
Jantungku rasanya seperti akan meledak
karena khayalan seperti itu.
"M-Maaf."
"Tidak, aku yang harusnya meminta
maaf. Padahal aku memanggilmu bukan untuk menegur hal seperti itu, tapi tanpa
sengaja aku malah mengkhawatirkannya."
Eh? Apa maksudnya?
"Maaf untuk masalah tadi pagi."
Ternyata dia sengaja datang untuk meminta
maaf soal kejadian tadi pagi. Dia sangat tahu adat, ya.
"T-Tidak apa-apa, aku tidak terlalu
memikirkannya, kok."
"Bolehkah kita berbicara
sebentar?"
"Tidak boleh."
Aaah, karena terlalu payah dalam
berbicara dengan perempuan, tanpa sengaja aku menolaknya secara refleks. Itu
tidak sopan tahu, dasar aku bodoh.
Padahal kalau di dunia game aku bisa
mengobrol tanpa terlalu terbebani meskipun menghadapi gadis cantik, tetapi saat
berhadapan langsung dengan perempuan di dunia nyata, hal itu tidak bisa
berjalan semulus itu.
"Begitu, ya. Aku sudah membuat
Tokitou-kun terlibat dalam masalah seperti itu. Wajar saja jika kamu tidak
ingin berbicara denganku."
"N-Nggak, bukan begitu
maksudku……"
"Tapi ada satu hal yang ingin aku
agar Tokitou-kun memahaminya. Saat aku menyebut namamu tadi, itu benar-benar
bukan karena aku mencurigaimu. Meskipun aku tahu, mengatakan hal seperti ini
pun tidak akan membuatmu percaya."
Aku sepenuhnya percaya, kok. Hanya saja,
saat berhadapan langsung dengan sang bunga di puncak gunung, aku mendadak
terlalu gugup sampai suaraku tidak mau keluar.
"Karena ada sedikit alasan, saat
mata kita saling bertemu, tanpa sengaja aku malah memanggil namamu."
Apa-apaan itu. Memangnya ada alasan yang
sampai membuat seseorang tanpa sengaja memanggil namaku?
"Tapi, Tokitou-kun pasti tidak ingin
mendengar alasan seperti itu, kan. Maafkan aku. Kalau begitu, aku permisi
dulu."
Nggak, aku justru sangat penasaran dengan
alasan itu! Namun seperti biasa, kata-kata tetap tidak mau keluar dari
tenggorokanku.
Rena tampaknya salah paham dan mengira
aku sedang marah, hingga dia menunjukkan ekspresi wajah sedih yang belum pernah
kulihat sebelumnya. Kemudian, dia mulai melangkah menuju stasiun dengan langkah
kaki yang terasa berat.
Gara-gara aku, Rena yang tidak bersalah
sama sekali menjadi sesedih itu.
──Kumpulkan
keberanianmu, Tokitou Haruto!
Di dunia game saja kamu bisa berbicara
dengan becus saat menghadapi sang bunga di puncak gunung, kan.
Punggung Rena menjadi semakin menjauh.
Jika tidak memanggilnya sekarang, dia akan tetap terluka karena kesalahpahaman
ini. Hal seperti itu pasti akan terus kusesali selamanya.
"Ni…… ni……"
Tenggorokanku kaku. Kata-kata tidak mau
melewati tenggorokanku dengan lancar.
──Berjuanglah,
diriku!
"Ni-Nijouin-san, tunggu!"
Aku sempat cemas apakah suaraku akan
sampai kepadanya karena jaraknya yang sedikit menjauh. Namun, Rena seketika
menghentikan langkah kakinya. Seolah-olah dia memang sedang menantikan suaraku.
Kemudian sambil tetap menegakkan
punggungnya dengan anggun, dia berbalik. Rambut panjang hitamnya yang berkilau
membentuk lengkungan di udara, dan rok seragamnya tampak sedikit berkibar.
Seperti dugaan dari gadis tercantik di
angkatan. Gerak-gerik dan penampilannya yang teramat indah itu benar-benar
mencuri perhatianku.
"M-Mari kita bicarakan hal
itu."
Aaah, kenapa aku malah mengatakannya
dengan nada sok mengatur begitu, sih. Dasar aku bodoh. Rena pasti akan merasa
ilfil.
……Meskipun sempat berpikir demikian, sang
gadis tercantik di angkatan sama sekali tidak menunjukkan gelagat ilfil,
melainkan tersenyum lembut.
"Terima kasih banyak."
Ah…… dia benar-benar anak yang baik, ya.
"Ayo kita cari tempat lain untuk
berbicara."
Berdiri sambil mengobrol di jalan menuju
sekolah pada jam pulang seperti ini terlalu mencolok. Karena itu aku
mengusulkannya.
"Benar juga, ya."
Rena menerimanya dengan senang hati, lalu
kami berdua berpindah ke sebuah taman bermain anak-anak yang jaraknya sedikit
menjauh.
Di dalam taman yang tampak lengang dari
sosok orang itu, kami berdua pun berbicara.
"Tokitou-kun, pertama-tama izinkan
aku meminta maaf sekali lagi."
Dengan postur tubuh yang tegap, gadis
cantik berambut hitam itu menatap mataku secara lurus.
"Tadi pagi karena aku tanpa sengaja
menyebut nama Tokitou-kun, akibatnya kamu dicurigai oleh semua orang di kelas.
Aku benar-benar mohon maaf."
"Ah, tunggu. J-Jangan menundukkan
kepalamu seperti itu."
"Tapi kalau begitu, rasa marah
Tokitou-kun tidak akan bisa reda, kan."
Nggak. Yang langsung menuduhku sebagai
pelaku itu kan hanya sebagian orang di kelas, dan orang ini sama sekali tidak
bersalah.
"Bukan begitu maksudku. Anu……"
Lagi-lagi, suaraku tidak bisa keluar
dengan lancar.
Rena sengaja memanggilku demi meminta
maaf karena merasa telah
membuatku terlibat dalam masalah. Tentu
saja tidak boleh membiarkan gadis yang setulus dirinya tetap memelihara
perasaan sedih.
Ingatlah kembali bahwa dirimu bisa
berbicara dengan becus di dunia game. Jangan terbebani. Di dunia nyata pun kamu
bisa melakukannya dengan cara yang sama.
Aku mengambil satu napas dalam-dalam.
Kemudian mulai membuka mulut.
"Nijouin-san, aku sama sekali tidak
marah, kok. Karena tadi pagi Nijouin-san kan hanya sebatas menyebut namaku
saja. Kamu sama sekali tidak mengatakan satu kata pun kalau aku adalah
pelakunya. Jadi yang salah itu adalah orang-orang di kelas yang seenaknya
mencurigai diriku. Ditambah lagi aku juga salah karena tidak bisa
menjelaskannya dengan benar kepada semua orang di kelas. Padahal begitu, aku
malah membuat Nijouin-san memelihara rasa bersalah yang sebesar ini, jadi
akulah yang semestinya meminta maaf. Mohon maaf."
Uwah, gawat! Karena terlalu bersemangat,
aku malah berbicara dengan sangat lancar dan cepat!
Sikap
berbicara yang mendadak cerewet dari seorang pria yang sampai barusan terus
terdiam. Dia pasti akan merasa aneh──meski sempat berpikir demikian.
"Terima kasih banyak. Syukurlah.
Haaah~"
Rena mengembuskan napas panjang seolah
merasa lega. Tampaknya isi hatiku sudah tersampaikan dengan baik kepadanya,
syukurlah.
Kalau begitu, hal yang membuatku
penasaran adalah kalimat "karena ada sedikit alasan" yang
dikatakannya tadi.
"Anu, Nijouin-san……"
"Ya, ada apa?"
"Alasan yang sampai membuatmu tanpa
sengaja memanggil namaku itu apa?"
Apakah karena barusan aku bisa
melontarkan isi hatiku dengan benar dan tersampaikan kepadanya? Ataukah karena
pengalaman di dunia game sedang bekerja? Atas kombinasi dari keduanya?
Kata-kata keluar dari mulutku dengan jauh lebih lancar dari yang sudah-sudah.
"Ah, benar juga. Aku harus
menjelaskan hal itu, ya."
"Iya. Aku agak penasaran."
"Sebenarnya, ada sebuah hal aneh
yang terjadi."
"Eh? Hal seperti apa?"
"Tadi pagi saat aku tiba di sekolah
dan berada di kelas, mendadak kepalaku terasa sakit. Pada saat itu, ada banyak
sekali berbagai pemandangan yang mengalir masuk ke dalam kepalaku."
"Berbagai pemandangan?"
"Pemandangan itu mengapung lalu
menghilang sekaligus dalam jumlah banyak jadi aku tidak terlalu memahaminya,
tetapi itu adalah pemandangan bergaya Eropa abad pertengahan seperti yang
muncul di film fantasi. Di sana, aku memiliki berbagai macam hubungan dengan
seorang murid laki-laki yang mirip dengan Tokitou-kun."
Jangan-jangan, hal ini……
"Apakah Nijouin-san juga masuk ke
dalam dunia 'Magi-Ama'?"
"Magi-Ama…… apa itu? Aku belum
pernah mendengarnya. Apakah hal itu berhubungan dengan pengalaman anehku?"
"Ah, tidak, maaf. Itu hanya cerita
tentang game yang pernah kumainkan dulu. Kupikir kalau hal itu benar terjadi
pasti akan menarik, begitu saja."
Aku terburu-buru mengalihkan pembicaraan.
Rena memercayainya dengan jujur.
"Begitu, ya. Karena aku hampir tidak
pernah bermain game, aku tidak mengetahuinya."
"Yah, itu memang bukan game yang
sepopuler itu, sih."
──Terlebih
lagi itu adalah galge untuk cowok, ilustrasinya agak seksi, dan merupakan game
di mana kita menjatuhkan gadis imut satu demi satu.
Bagi gadis serius sepertinya, dia pasti
akan menganggap hal itu kotor, jadi lebih baik dia tidak usah tahu saja.
Fiuh, berbahaya sekali. Sedikit lagi aku
harus menjelaskan tentang
"Magi-Ama".
Namun jika dia tidak masuk ke dalam dunia
game, sebenarnya apa yang sedang terjadi?
"Karena hal itulah, saat mata kita
saling bertemu tadi pagi, mendadak aku merasakan kedekatan yang teramat sangat,
hingga tanpa sengaja namamu lolos dari mulutku. Maafkan aku karena menceritakan
hal yang aneh."
"Sama sekali tidak perlu meminta
maaf, kok. Dipanggil namanya oleh Nijouin-san yang merupakan sosok pusat di
kelas adalah sebuah kehormatan bagiku."
"Mana mungkin aku ini sosok pusat di
kelas, hal itu berlebihan."
"Tidak mungkin begitu, kan."
Sosok
pusat di kelas 2-A kami adalah──
Nijouin Rena sang ketua kelas sekaligus
gadis cantik yang anggun.
Murid berprestasi yang memimpin semua
orang.
Kageura Haruru sang pencipta suasana yang
ramah dan ceria. Gadis
yang lembut kepada siapa saja dan paling
populer di antara murid laki-laki.
──Dua
orang ini sudah tidak salah lagi.
"Hal itu benar-benar tidak benar,
lho."
Cara bicaranya terdengar seperti sedang
menyangkalnya dengan sungguh-sungguh dan bukan sekadar basa-basi.
Nijouin Rena dan Kageura Haruru adalah
sosok pusat di kelas yang diakui oleh siapa pun. Namun, kenapa?
"Pokoknya aku sama sekali tidak
memikirkannya, jadi tolong hentikan raut wajah yang tampak merasa bersalah
seperti itu."
"Terima kasih banyak. Tokitou-kun,
ternyata kamu memang orang yang lembut, ya."
"Memang……?"
Sampai sekarang kami hampir tidak pernah
menjalin interaksi, dan di kelas pun aku adalah sosok yang hampir tidak
mencolok, jadi rasanya tidak mungkin Rena mengetahui sifatku.
"Ah, maaf. Aku kembali mengatakan
hal yang aneh, ya. Namun entah mengapa, aku tahu kalau Tokitou-kun adalah orang
yang sangat lembut. Aku memiliki ingatan seperti itu."
Nijouin Rena yang berpendirian kuat,
keren, dan selalu anggun, kini menundukkan kepalanya dengan pipi yang merona
sewarna merah muda buah persik. Keimutan dari celah kepribadian (gap moe)
seperti ini benar-benar pelanggaran.
"Ah…… meskipun dirasakan kedekatan
oleh orang sepertiku pun pasti merepotkan, ya. Mohon maaf."
Lagi-hal. Kenapa gadis paling cantik di
angkatan bisa mengatakan hal yang merendahkan dirinya sendiri seperti itu,
benar-benar misterius.
──Ah,
begitu ya.
Penyebab dari keanehan yang kurasakan
dari kata-katanya sejak tadi akhirnya kupahami.
Sang bunga di puncak gunung yang
merupakan sosok pusat di kelas, cantik, dan memiliki nilai akademis luar biasa.
Biasanya dia hanya memperlihatkan sosok yang penuh rasa percaya diri saja.
Gadis seperti itu, entah mengapa terus-menerus melontarkan kata-kata yang tidak
percaya diri. Itulah sumber keanehannya.
Hal yang mirip dengan ini, baru saja
kualami beberapa waktu lalu.
……Benar. Lena Anhalt di dunia game.
Dia juga merupakan bunga di puncak gunung
yang di permukaan tampak penuh rasa percaya diri. Namun karena rasa keadilannya
yang tinggi dan tegas, dia memelihara rasa cemas karena berpikir dirinya
dianggap mengganggu oleh sekelilingnya.
Meskipun percaya apa yang dilakukannya
adalah benar, dia memelihara pergolakan batin karena jarak yang dibuat oleh
sekelilingnya.
Mungkin saja Rena di dunia nyata pun
sedang memelihara kecemasan yang mirip seperti itu.
"Sama sekali tidak merepotkan, kok.
Bisa dirasakan kedekatan oleh Nijouin-san, meskipun hanya rayuan pun aku tetap
senang."
"Ini sama sekali bukan rayuan."
"Kalau begitu aku justru jauh lebih
senang lagi."
"Terima kasih banyak. Jika
Tokitou-kun benar-benar berpikir demikian aku juga senang, tapi……"
Rena masih menunjukkan gelagat yang
cemas. Apakah tidak ada hal yang bisa kulakukan untuknya.
Di dunia game, aku bisa membuat hati Lena
menjadi sedikit lebih tenang, jadi dengan pemikiran yang sama bukankah aku bisa
memberikan kata-kata untuknya.
Nggak, tempat ini adalah dunia nyata dan
bukan game.
Mencampuradukkan game dan kenyataan
adalah pemikiran yang menjijikkan. Namun saat melihat wajah Rena yang tampak
cemas, aku tetap saja ingin menjadi kekuatannya.
Seberapa jauh hal yang kupelajari di
dunia game bisa berlaku di dunia nyata, aku tidak tahu. Namun, hal ini memiliki
nilai yang sepadan untuk dicoba. Sama seperti yang kulakukan terhadap Lena,
"menghormatinya, serta bersimpati dengan tulus terhadap cara berpikir dan
tindakannya".
Untuk itu, mari memperlakukannya dengan
sikap yang tulus dan bukan sekadar di permukaan saja.
"Nijouin-san. Anu…… aku punya satu
permohonan."
"Ya. Apa itu?"
Mendengar diriku yang mendadak mengubah
topik pembicaraan dengan serius, gadis berambut hitam itu menegakkan postur
tubuhnya lalu menghadap ke arahku.
"T-Tolong jadilah temanku."
"……Eh?"
Gawat. Gadis cantik yang serius itu
mendadak mematung.
Apa yang kukatakan tadi bukan sekadar
basa-basi sosial, lho. Aku benar-benar ingin berteman akrab denganmu.
Niatnya aku ingin menyampaikan perasaan
seperti itu secara langsung, tetapi pendekatan yang mendadak seperti ini tentu
saja menjijikkan, ya.
Kegagalan besar, dasar aku bodoh.
Di saat aku hampir tenggelam dalam
gelombang penyesalan, Rena mendadak memperlihatkan senyuman.
"Iya. Dengan senang hati."
Eh? Eeeh? Boleh, nih?
Tampaknya perasaanku sudah tersampaikan,
syukurlah.
Rintangan pertama berhasil dilewati
dengan aman. Kalau begitu berikutnya adalah rintangan kedua.
"Terima kasih. Kalau begitu sebagai
teman, aku punya satu permohonan lagi."
"Ya!"
"Tenang saja, aku tidak akan meminta
hal yang aneh-aneh, kok."
"Zeit-kun……"
"Eh?"
"Tidak, karena aku memercayai
Tokitou-kun, jadi tidak apa-apa, lho."
Gaya bicaranya barusan benar-benar persis
seperti Lena Anhalt.
"Maaf karena mendadak memanggilmu
dengan nama yang aneh. Hal itu lolos dari mulutku secara tidak sadar."
Pemandangan yang mengalir masuk ke dalam
kepala Rena, sudah tidak salah lagi pasti adalah ingatan milik Lena dari
"Magi-Ama".
Mengingat kata-katanya barusan, dia bukan
berarti masuk ke dalam dunia game seperti diriku. Rasanya hanya ingatan Lena
saja yang mengalir masuk ke dalam otak Nijouin Rena. Berkat hal itu pula, rasa
percaya terhadap diriku tumbuh di dalam dirinya. Kalau begitu, pembicaraan
menjadi lebih mudah dilakukan.
"Tidak apa-apa, kok. Hal seperti itu
kan sering terjadi."
──Meskipun
aslinya tidak akan pernah terjadi.
"Permohonannya adalah…… jika ada hal
yang sedang membuat Nijouin-san kesulitan atau sedang dikhawatirkan saat ini,
tolong beri tahu aku."
"Eh? Ti-Tidak ada hal seperti itu,
kok……"
Mengingat alur pembicaraan sampai
sekarang, sudah tidak salah lagi kalau dia sedang memelihara sebuah
kekhawatiran. Kalau begitu sama seperti yang kulakukan terhadap Lena, jika aku
mendampingi perasaan
Rena, dia pasti akan memercayai diriku.
"Benar-benar tidak ada? Aku……
menghormati Nijouin-san sebagai orang yang hebat. Hal itu tentu saja termasuk
penampilan maupun nilai akademis, tetapi juga karena kamu adalah orang yang
memiliki perasaan memikirkan kebaikan orang lain dengan kuat. Terhadap
Nijouin-san yang seperti itu, orang sepertiku mungkin terkesan lancang, sih.
……Tapi kupikir aku ingin mencoba menjadi kekuatanmu."
Aku menatap wajahnya dengan lekat. Mata
lipatan ganda yang tegas dan
tampak memiliki tekad yang kuat. Bulu
mata yang panjang, serta manik mata yang sangat jernih dan indah. Garis dari
pipi yang membentuk lengkungan indah hingga ke dagu. Dia memang luar biasa
cantik.
"Tokitou-kun. Saat ditatap olehmu,
entah mengapa aku merasa harus mengatakan hal yang sebenarnya. Manik matamu
sangat memikat."
Dibilang memiliki manik mata yang memikat
adalah hal yang pertama kali kudengar sepanjang hidupku.
"M-Maaf. Jika ada hal yang tidak
ingin kamu katakan, kamu tidak perlu memaksakannya, kok."
"Bukan begitu maksudku. Aku salah
memilih kata. Saat ditatap olehmu, aku merasa tidak apa-apa meskipun mengatakan
hal yang sebenarnya. Karena itu…… izinkan aku mengatakannya."
"Jika kamu bersedia mengatakannya,
tentu saja silakan."
"Baik.
Sebenarnya──"
Setelah itu, Rena menceritakan kisah masa
kecilnya kepadaku.
Ayahnya adalah mantan petinggi
kepolisian, dan dia dididik dengan sangat keras agar "selalu menjadi orang
yang benar". Jika melanggar aturan sedikit saja, dia konon akan dimarahi
sampai gemetaran ketakutan.
Dan jika di sekelilingnya terdapat
ketidakadilan atau kecurangan, dia juga dituntut untuk meluruskannya.
──Orang
tua yang lumayan ekstrem, ya.
"Karena itulah, selain mematuhi
aturan untuk diriku sendiri, keinginan untuk memimpin sekelilingku agar menjadi
benar juga sangat kuat di dalam diriku. Bahkan hal itu mungkin sudah bisa
disebut sebagai sebuah obsesi. Karena itulah tanpa sengaja aku mengambil
tindakan seperti itu."
Namun orang-orang di sekelilingnya sama
sekali tidak bisa memahami pemikiran seperti itu, dan tampaknya ada banyak
orang yang menganggap dirinya mengganggu. Sebagai hasilnya, dia menjadi
memiliki pemikiran bahwa "diriku tidak akan pernah bisa diterima oleh
siapa pun".
"Begitu, ya. Nijouin-san juga
ternyata mengalami hal yang berat, ya."
"Iya. Tapi orang yang kuceritakan
tentang hal ini baru Tokitou-kun seorang. Hanya dengan didengarkan saja entah
mengapa hatiku menjadi terasa lebih lapang. Terima kasih banyak."
"Jika kamu berkata begitu, artinya
ada gunanya juga aku meminta agar kamu memberi tahu kekhawatiranmu."
Apakah aku tidak bisa membuat dirinya
menjadi lebih bersemangat lagi.
Terhadap tipe seperti ini, topik
pembicaraan yang mendampingi lawan bicara harusnya adalah hal yang bagus. Ini
adalah pelajaran dari "Magi-Ama".
"Omong-omong Nijouin-san, apa yang
kamu sukai? Apakah kamu punya hobi?"
Meskipun aku sudah terhitung cukup
terbiasa berbicara dengan gadis yang berada di puncak gunung, melontarkan
pertanyaan yang masuk ke ranah pribadi tetap saja membuatku agak gugup. Namun,
Rena menjawabnya dengan sangat alami.
"Saat masih kecil aku suka
menggambar ilustrasi. Tapi sekarang sudah tidak ada apa-apa."
"Heh~ Ilustrasi seperti apa?"
"Anu…… agak memalukan, sih, tapi
gambar seperti karakter manga atau anime."
Ooh, jawaban yang teramat tidak disangka.
Menggambar ilustrasi tipe
manga adalah citra yang terasa jauh dari
gadis cantik yang serius dan anggun.
"Heh! Aku sangat menyukai ilustrasi
manga atau anime, lho. Hanya dengan melihatnya saja rasanya menenangkan dan
membuat gemas. Bagus ya, ilustrasi itu! Jika ada gambar yang pernah dibuat oleh
Nijouin-san, aku benar-benar ingin melihatnya!"
Gawat. Jiwa otakuku tidak bisa ditahan
lagi hingga langsung menyambarnya begitu saja.
"Mohon maaf. Sampai menduduki bangku
SMP aku memang menggambarnya dengan target menjadi ilustrator, tetapi aku
berhenti menggambar saat kelas 2 SMP."
"Eh? Begitu, ya. Sayang sekali.
Apakah kamu tidak menggambarnya lagi?"
"Iya. Tampaknya aku tidak punya
bakat, dan kudengar gambarku sangat jelek."
Tampaknya "kudengar" jelek?
Pilihan
kata yang seolah menganggapnya sebagai urusan orang lain membuatku merasa aneh.
Jangan-jangan──
"Apakah terjadi sesuatu saat kelas 2
SMP?"
"Yah, begitulah."
Di bagian ini apakah aku harus
mendesaknya untuk bertanya secara mendalam? Ataukah ditarik mundur saja dengan
halus?
Belajarlah dari pengalaman berinteraksi
dengan Lena Anhalt. Pikirkanlah.
Tipe orang yang bersikap kaku dan sulit
menerima orang lain. Di dalam situasi di mana orang seperti itu akhirnya mulai
membuka hatinya…… benar sekali. Seseorang harus mendampinginya dengan lembut
dan mendengarkan ceritanya dengan sepenuh hati.
"Nijouin-san. Jika tidak keberatan,
ceritakanlah kepadaku."
"Tokitou-kun…… terima kasih. Apakah
kamu mau mendengarkannya?"
Pilihanku tidak salah. Gadis cantik yang
menyendiri itu, sebenarnya memang sedang ingin ceritanya didengarkan oleh
seseorang.
Perasaan seperti itu tersampaikan dengan
sangat jelas.
“Magi-Ama” terima kasih banyak.
"Tentu saja."
Mendengar kata-kataku yang dijawab dengan
mantap, dia menceritakan kisahnya dengan raut wajah lega.
***
Kedua orang tua Nijouin Rena adalah orang
yang serius dan galak, sehingga hiburan seperti manga maupun anime dilarang di
rumahnya.
Terlebih lagi, dia konon baru
diperbolehkan memiliki ponsel pintar setelah masuk ke SMA.
──Bagi
diriku yang menjadikan light novel, manga, dan anime sebagai tujuan hidup sejak
masih kecil, hal seperti itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kutahan
secara mutlak.
Namun, hal itu terjadi saat dia masih
duduk di bangku SD. Manga dan anime yang ia lihat di rumah temannya terasa
sangat menyenangkan, hingga dia mulai menggambar ilustrasi secara
sembunyi-sembunyi di belakang orang tuanya.
Setelah menjadi murid SMP, dia tampaknya
menggambar dengan menjadikan buku manga yang dibeli menggunakan uang sakunya
sebagai contoh.
"Aku terus menggambarnya di belakang
orang tuaku, dan menjadikannya sebagai rahasia bahkan di hadapan
teman-temanku."
Jika ketahuan pasti akan dimarahi.
Meskipun ketakutan, dia sangat menyukai sensasi di mana sebuah ilustrasi
terlahir dari tangannya sendiri, hingga dia terus melanjutkan hobi itu secara
kecil-kecilan walaupun gambarnya masih jelek.
Dan tanpa disadari, di dalam hatinya
tumbuh angan-angan bahwa kelak di masa depan dia ingin menjadi seorang
ilustrator profesional.
──Namun,
pada suatu hari di kelas 2 SMP.
Di saat dia sedang menggambar ilustrasi
secara diam-diam pada buku catatan di dalam kelas, kebetulan tindakannya itu
ketahuan oleh murid laki-laki sekelasnya. Buku catatannya direbut dari arah
samping, lalu dilihat dengan lekat.
"Uwah, apa-apaan ilustrasi yang
sangat jelek ini!"
"Hentikan!"
Murid laki-laki yang lain ikut mengintip
ke dalam buku catatan, lalu masing-masing melontarkan penilaian yang kejam,
"Jelek sekali, ya."
Setelah kejadian itu, Rena tidak pernah
menggambar ilustrasi lagi.
Kisah masa lalu yang seperti itu
diceritakannya dengan nada bicara yang datar.
"Mereka benar-benar orang yang
kejam, ya."
"Kalau dipikirkan sekarang, mereka
mungkin memiliki dendam kepadaku."
"Dendam?"
"Iya. Karena sejak masa SMP pun aku
sudah memiliki sifat yang seperti ini, jadi aku sudah berulang kali menegur
atau mencari-cari kesalahan mereka, kan."
Kalau
begitu, hal itu mungkin hanya sekadar dendam yang salah sasaran belaka. Jika
memang begitu──
"Bukankah mereka hanya sekadar ingin
mencelamu saja, dan ilustrasi milik Nijouin-san aslinya sama sekali tidak
jelek?"
"Entahlah, ya. Sekarang setelah
menjadi seperti ini, hal yang mana pun sudah tidak penting lagi. Lagipula, mana
mungkin orang sepertiku bisa menjadi seorang ilustrator."
Apakah benar begitu. Jika gadis yang
serius dan memiliki ketulusan seperti dirinya mau menargetkannya dengan
sungguh-sungguh mulai sekarang, bukankah kemungkinan untuk itu masih terbuka
lebar.
"Jika tidak keberatan, aku ingin
melihat ilustrasi buatan Nijouin-san, lho. Apakah kamu tidak menyimpannya di
dalam ponsel pintar?"
"Tidak ada. Seperti yang kukatakan
barusan, aku berhenti menggambar ilustrasi saat SMP, dan ponsel pintar pun baru
diperbolehkan setelah aku masuk SMA."
"Begitu, ya…… sayang sekali!"
"Ufufu. Meskipun tidak bisa melihat
ilustrasiku yang jelek, sama sekali tidak ada bagian yang perlu disayangkan,
kok."
Meskipun dia tertawa secara sepihak untuk
merendahkan diri sendiri, entah mengapa ada hal yang terasa mengusik hatiku.
"Nijouin-san, apakah kamu sama
sekali tidak memelihara rasa penyesalan setelah merelakan impianmu untuk
menjadi ilustrator?"
"Ah…… t-tentu saja tidak ada."
"Benarkah?"
Ada jeda sesaat pada jawabannya. Aku
merasa dia tidak bisa membohongi isi hatinya yang jujur.
Aku mencoba menatap matanya dengan lekat.
Meskipun tegas dan di permukaan tampak
galak, manik matanya sangat jernih dan indah. Menatap mata yang seperti ini
memerlukan keberanian, tetapi aku menatapnya demi satu tujuan untuk mencari
tahu isi hatinya yang jujur.
"……Aduh, Tokitou-kun ini
benar-benar, ya. Ternyata sulit sekali untuk mengelabui dirimu."
Rena memperlihatkan tawa kecut.
"Seperti yang kamu katakan,
terkadang aku berpikir, jika saja saat itu aku tidak menyerah, apakah masa
depan di mana diriku menjadi seorang ilustrator itu ada, ya. Ya, meskipun hal
itu tidak mungkin terjadi, sih."
"Belum terlambat, kan."
"……Eh?"
"Karena kita masih murid SMA, jadi
untuk memulai sebuah tantangan sekarang pun sama sekali tidak ada kata
terlambat."
"Tidak mungkin. Aku tidak bisa
menantangnya."
"Kenapa?"
"Aku tidak tahu bagaimana cara agar
gambarku bisa menjadi bagus, dan sebelum membicarakan hal itu, hatiku tidak
bisa digerakkan untuk memulai sebuah tantangan."
"Padahal kalau kamu mencobanya
meskipun menganggap hal itu akan gagal, itu akan lebih baik."
"Tidak mungkin."
"Bukan masalah bagus atau jelek,
tapi tetap menyukai apa yang kita sukai itu, menurutku adalah hal yang bagus,
lho."
Kesukaanku terhadap galge, jika dilihat
dari sekeliling mungkin hanya terkesan menjijikkan saja. Namun, apa yang
kusukai ya tetap kusukai, sih.
"Tidak mungkin!"
Dengan nada bicara yang mengeras, Rena
menundukkan kepalanya. Bahunya tampak bergetar. Aura yang meluap seolah memohon
agar aku tidak membicarakan hal ini lebih jauh lagi menjadi tersebar. Sosok
rapuh yang diperlihatkan oleh dirinya yang biasanya selalu berpendirian kuat.
Begitu, ya. Ternyata begitu, toh. Rasa
percaya diri yang pernah terluka sekali, kini sedang ketakutan karena takut
akan terluka kembali. Karena itulah, bahkan untuk memulai sebuah tantangan pun
terasa menakutkan baginya.
Bagaimana cara agar membuat dirinya
menjadi lebih berpikiran positif, aku sama sekali tidak bisa menebaknya.
Kemampuanku untuk berinteraksi dengan murid perempuan, pada akhirnya hanyalah
sebatas aplikasi dari game romansa belaka. Sampai sekarang, pola yang seperti
ini tidak pernah ada di dalam game.
"Begitu, ya. Karena aku juga tidak
bermaksud memaksakannya, jadi jika kamu tidak ingin melakukannya, mau bagaimana
lagi, ya."
"Ah, maafkan aku karena berbicara
dengan nada yang dingin. Aku tidak bermaksud seperti itu."
"Tidak apa-apa. Aku memahaminya,
kok. Karena itu kamu tidak perlu meminta maaf."
Rasa kesal terhadap Rena sama sekali
tidak ada di dalam diriku. Namun, ketidakberdayaan diri sendiri rasanya teramat
menjengkelkan hingga mau bagaimana lagi.
"Terima kasih banyak. Orang yang
bisa mendengarkan isi hatiku sampai sejauh ini, baru Tokitou-kun seorang.
Mengetahui ada orang yang bersedia memahami diriku adalah hal yang patut
kusyukuri. Aku sangat berterima kasih kepadamu. Meskipun sampai sekarang kita
hampir tidak pernah menjalin hubungan, ternyata kamu adalah orang yang
semenawan ini, ya."
"Eh? A-A-A-Aku orang yang menawan?
Nggak, sama sekali tidak ada hal yang seperti itu, kok. Aku kan hanya cowok
suram yang tidak populer."
"Tidak. Kamu sangat memikat, lho.
Mengenai Tokitou-kun, aku menjadi sangat menyukaimu."
"Eh?"
Kata sangat menyukaimu, dipikirkan
seperti apa pun pasti memiliki arti sebagai seorang teman, dan tentu saja di
dalamnya mengandung banyak basa-basi sosial, itu sudah pasti. Namun meski
begitu, jantungku sempat berdegup kencang untuk sesaat. Diriku terlalu gampang
jatuh hati, ya.
Tapi serangan mendadak seperti ini
benar-benar curang.
"Ah, tidak, bukan apa-apa.
Tokitou-kun, mohon bantuannya mulai sekarang, ya."
"Ah, iya. T-Tentu saja. Aku juga
mohon bantuannya."
Meskipun aku menjadi agak salah tingkah,
secara garis besar aku bisa mengobrol dengan becus, dan jika dibandingkan
dengan diriku yang sebelum-sebelumnya, ini adalah sebuah kemajuan yang teramat
besar.
Terlebih lagi, hari di mana aku bisa
mengobrol dengan begitu akrab bersama sang bunga di puncak gunung bernama
Nijouin Rena akan tiba, adalah hal yang tidak bisa dibayangkan oleh diriku
sampai kemarin. Ini semua berkat berbagai macam pengalaman yang kulakukan di
dunia
“Magi-Ama”.
***
Aku tiba di rumah. Waktu menunjukkan
pukul 4 sore. Masih ada waktu sampai jam makan malam tiba.
──Apakah
aku bisa masuk sekali lagi ke dalam dunia game? Apakah hal itu benar-benar
bukan sebuah mimpi atau halusinasi belaka.
Tepat pada saat mesin game berada di
depan mata, hal itu mulai mengusik perhatianku.
Sebelum mengganti pakaian, aku menyalakan
tombol daya mesin game lebih dulu. Tampilan layar pembuka dari “Magi-Ama” pun
dimulai.
Ilustrasi karakter dan logo judul
"Kehidupan Sekolah yang Manis di Akademi Sihir Magia" tampak normal
seperti biasa.
Dan meskipun teks "NEW GAME"
bisa dibaca, bagian bahasa Jepang selain itu mengalami kekacauan tampilan
karakter. Sama seperti saat layarnya mengalami bug kemarin.
"Ah, apa-apaan ini?"
Berbeda dengan kemarin, teks "SAVE
DATA" kini sedang ditampilkan.
Aku mencoba mengeklik bagian tersebut.
"Uwoogh……"
Tanpa sadar aku mengerang dengan suara
yang aneh. Sebagai SAVE DATA, teks "Haruto Zeit" telah muncul di
sana. Data seperti ini, tentu saja, belum pernah kubuat sampai sekarang.
Mungkinkah aku bisa masuk sekali lagi ke
dalam dunia game.
Sambil
menggerakkan pengontrol menggunakan tangan yang gemetar untuk mengeklik teks
tersebut, jendela masukan kata sandi diminta kembali. Begitu memasukkan
huruf-huruf yang kucatat kemarin──sama seperti kemarin, layar televisi bersinar
dengan teramat terang.
Meskipun aku sudah memejamkan mata lebih
awal, pandanganku tetap saja ternoda oleh warna putih. Sensasi seolah-olah
diriku tersedot ke dalam seperti sebelumnya kembali terjadi, dan kesadaranku
pun mulai menjauh.



Post a Comment