Bab 3: Kembali ke
Dunia Game Sekali Lagi
◆◆◆
Aku terbangun di dalam hutan belukar yang
terletak di bagian paling ujung dalam area Akademi Sihir Magia. Tepat di
sampingku ada sebuah kuil kecil kuno berwarna putih. Di kejauhan, tampak gedung
sekolah dengan gaya bata Eropa abad pertengahan.
Saat melihat tubuhku sendiri, aku
mengenakan seragam Akademi Sihir
Magia yang sama seperti sebelumnya.
Pemandangan yang tertangkap mataku
terlihat sangat jelas, bahkan suara desir angin maupun sensasi yang menerpa
kulit pun terasa begitu nyata.
Ini…… memang benar-benar bukan mimpi atau
halusinasi belaka. Aku telah kembali lagi ke dalam dunia game ini.
Terakhir kali aku meninggalkan dunia ini
adalah saat jam pulang sekolah sore hari. Tepat setelah aku menolong Lena yang
sedang terlibat masalah dengan kakak kelas berandalan demi melindungi adik
kelas di belakang gedung sekolah.
Saat melihat jam, waktu menunjukkan jam
pulang sekolah di sore hari.
Hanya berselisih belasan menit saja sejak
saat terakhir kali aku pergi dari sini.
──Begitu
ya, jadi sistemnya seperti itu. Saat aku kembali ke dunia nyata dari dunia game
pun hal yang sama terjadi. Aku akan kembali di waktu yang hampir sama persis
dengan waktu saat aku meninggalkan dunia tersebut.
Bergantung pada waktu perpindahannya,
satu hari yang kujalani dalam beraktivitas bisa saja menjadi lebih dari 24 jam,
tetapi kondisi fisikku sama sekali tidak ada masalah. Tubuh "diriku"
yang berada di masing-masing dunia pasti merupakan entitas yang berbeda.
Nah…… apa yang harus kulakukan sekarang?
"Pokoknya pulang ke rumah dulu,
deh."
Aku memang memiliki keinginan untuk
melakukan sesuatu demi membuat Lena bahagia. Namun, hal apa yang harus
kulakukan, sama sekali tidak ada yang terpikirkan di kepala. Karena itu, demi
mengenal dunia ini dengan lebih mendalam, aku memutuskan untuk pulang ke rumah
terlebih dahulu.
Seperti apa struktur keluargaku, aku
mencoba menelusuri ingatan milik Haruto Zeit.
──Seorang
ayah yang hanya bekerja seadanya demi sekadar menyambung hidup dan biasanya
selalu menghabiskan waktu untuk bermain-main, serta seorang ibu yang bekerja di
kedai minum demi membantu keuangan keluarga. Dan kemudian, ada seorang adik
perempuan yang usianya dua tahun lebih muda dariku.
Berkat perjuangan Ibu, Zeit dan adiknya
bisa bersekolah di Akademi Magia, tetapi keluarga ini sama sekali tidak bisa
dibilang sebagai keluarga yang kaya.
Akibat ayah yang tidak bertanggung jawab,
Ibu selalu memasang wajah masam, membuat atmosfer di dalam rumah menjadi sangat
buruk.
Percakapan di antara anggota keluarga pun
hampir tidak pernah ada.
Di dalam game asli, penggambaran
mendetail mengenai Zeit yang merupakan karakter figuran memang tidak pernah
diperlihatkan sampai sejauh itu. Namun jika mengetahui situasinya, masih ada
sedikit ruang untuk bersimpati atas sifatnya yang menjadi rusak.
Terlebih lagi, bukan hanya hubungan orang
tua dan anak saja, hubungan dengan adiknya pun terhitung buruk. Adiknya sangat
membenci kakaknya dan selalu menghujani dirinya dengan kata-kata yang pedas.
"Uwah, serius nih? Bikin depresi
saja……"
──Nama
adik perempuanku adalah Yuika Zeit, berumur 15 tahun. Dia bersekolah di Akademi
Magia tingkat menengah.
Sebagai catatan, diriku yang di dunia
nyata pun memiliki seorang adik perempuan dengan nama yang sama, yaitu Yuika.
Dia juga menunjukkan sikap yang dingin kepada diriku yang merupakan kakaknya,
tetapi tidak sampai melontarkan kata-kata pedas yang teramat sengit.
Di dunia yang sebelah sini, diriku
sendiri memang merupakan pria yang benar-benar tidak berguna, dan tampaknya aku
selalu meremehkan hobi milik adikku. Kalau begitu, wajar saja jika diriku
dibenci olehnya……
Adik perempuan Zeit bukan merupakan
heroin yang bisa ditaklukkan di dalam game. Tipe kepribadiannya pun aku tidak
tahu. Bagaimana cara agar bisa akrab dengannya, aku sama sekali tidak
memahaminya.
Umu…… pokoknya aku akan memperlakukannya
dengan lembut saja.
***
Di dunia ini, sarana transportasi utama
untuk kehidupan sehari-hari adalah berjalan kaki, kereta kuda, atau bus. Sihir
terbang di udara adalah hal yang tidak akan bisa digunakan kecuali oleh
penyihir tingkat tinggi yang teramat ahli.
Sebagai catatan, diriku, Haruto Zeit,
pergi ke sekolah dengan berjalan
kaki. Setelah berjalan sekitar 30 menit,
aku tiba di rumahku. Sebuah rumah yang mungil dengan dinding luar bergaya bata.
Apakah adikku, Yuika, ada di dalam rumah?
Ugh, jantungku berdegup kencang.
Aku
mendorong pintu depan rumah yang terbuat dari kayu tebal untuk membukanya. Saat
melangkahkan kaki ke dalam rumah dengan ragu-ragu──kebetulan Yuika sedang
berdiri di sana. Jika diperhatikan dengan lekat, dia memang mirip dengan Yuika
yang ada di dunia nyata.
Warna rambutnya sewarna biru cerah
seperti langit, sebuah warna yang tentu saja tidak mungkin ada di dunia nyata,
tetapi karena tempat ini adalah dunia game, aku tidak merasakan keanehan yang
berarti.
Meskipun raut wajahnya tampak
kekanak-kanakan, dia terlihat imut, dan sepertinya dia cukup populer di antara
teman sekelas laki-lakinya.
Namun, di wajahnya yang imut itu, dia
sedang mengerutkan alisnya dan melotot ke arahku. Menakutkan.
"Kenapa kamu pulang?"
Kenapa, ya karena di sini adalah
rumahku…… aku tidak punya pilihan kata lain untuk menjawabnya.
"Ah, anu…… aku pulang."
Meskipun aku merasa ketakutan, aku
berusaha menyapa sambil menyadari wajahku agar tetap tersenyum.
"……Hah?"
Aku dilesat wajah yang tampak penuh
keheranan. Menakutkan sekali.
"K-Kamu barusan menyapa?"
"Sapaan seperti itu kan hal yang
sewajarnya dilakukan."
"Haaahn, aku tahu. Kamu sedang
merencanakan sesuatu, ya?"
Sampai sekarang, Haruto selalu meremehkan
hobi Yuika sebagai seorang otaku dan sama sekali tidak pernah menunjukkan kasih
sayang sedikit pun. Jadi, wajar saja jika dia memasang sikap waspada.
Hobi
yang dimaksud adalah pembuatan tongkat sihir──benda yang diayunkan menggunakan
tangan saat menggunakan sihir itu, lho.
Biasanya, membeli produk yang dijual di
pasaran adalah hal yang umum. Namun, ada kalanya orang-orang yang menjadikan
pembuatan tongkat sihir sebagai hobi membuat benda yang teramat rumit secara
mendalam. Akan tetapi, pembuatan tongkat sihir adalah hobi yang terhitung sunyi
dan sangat maniak, serta menjadi hobi yang dinilai sangat otaku di dunia ini.
Sebagai catatan, tingkat desain tongkat
sihir yang dibuat oleh adikku terhitung cukup tinggi, sampai-sampai dia
dijuluki sebagai "Penyihir
Tongkat Dewa" di antara para otaku.
Omong-omong, ini berdasarkan cerita Yuika sendiri.
Bagi diriku yang menyukai anime maupun
figurin serta menunjukkan hobi otaku secara maksimal, hal itu justru patut
dihormati dan sama sekali tidak memiliki elemen untuk diremehkan sedikit pun.
"Aku tidak merencanakan apa pun,
kok."
"Lalu kenapa kamu mendadak
menyapa?"
"Begitu tiba di rumah dan berpapasan
dengan keluarga, sapaan aku pulang itu kan hal yang sewajarnya dilakukan."
"Mendengar kata sewajarnya lolos
dari mulutmu itu, rasanya seekstrem ada seekor slime yang lahir dari dalam
tubuh naga, tahu."
Perumpamaan macam apa itu.
"Tapi begitu pulang, menyapa adalah
hal yang sewajarnya dilakukan."
"Sewajarnya kamu bilang, padahal
sampai sekarang kamu tidak pernah menyapaku……"
"Terlebih lagi, tolong hentikan
memanggilku dengan sebutan 'kamu'."
"Kamu ya tetap kamu, kan."
"Aku ini kan kakak laki-laki Yuika,
lho."
"Padahal kamu sendiri selalu
memanggilku dengan sebutan 'hei' saja…… eh, eeeeh!?"
"Ada apa?"
"Barusan, kamu memanggil namaku
Yuika!?"
"Iya. Karena namamu memang Yuika,
kan."
Apakah itu hal yang sampai membuatnya
terkejut sejauh ini?
"Kenapa?"
"Kenapa, ya karena memanggil nama
adik perempuan yang imut adalah
hal yang sewajarnya dilakukan, kan.
Yuika, Yuika, Yuika."
"Guwakh…… hentikan memanggil
berulang kali begitu. Lagipula, apa-apaan sebutan imut itu……"
Mendengar kalimatku, adikku tampak salah
tingkah yang teramat sangat. Apakah dia merasa risi atau justru merasa senang,
aku tidak terlalu memahaminya.
Tentu saja diriku yang di dunia nyata
tidak akan pernah mengucapkan kalimat yang teramat memalukan seperti "adik
perempuan yang imut" di hadapan adikku sendiri.
Namun, karena aku sudah memantapkan hati
untuk memperlakukannya dengan lembut, dan karena tempat ini adalah dunia game,
aku bisa mengatakannya tanpa beban.
"Iya, kamu imut, kok."
"Huuuh, menjijikkan."
──Ya,
aku dianggap menjijikkan olehnya. Wajahnya pun dipalingkan dariku.
Seperti dugaan, hanya karena dipuji
sekali, bukan berarti dia akan langsung menjadi jinak, ya. Dia memang merasa
risi. Iya, aku sudah tahu, kok.
Omong-omong,
tipe kepribadian Yuika setelah aku berinteraksi langsung dengannya, sudah tidak
salah lagi adalah 【Otaku yang Tsundere】.
Benar-benar persis dengan aslinya, ya.
Adikku memalingkan wajahnya yang penuh
keheranan secara sepihak, lalu berjalan cepat dengan langkah kaki yang
terdengar berketipak-ketipuk menaiki tangga.
Jika aku adalah protagonis yang tampan
mungkin ceritanya akan berbeda, tetapi meningkatkan tingkat kesukaan sebagai
karakter yang dibenci sepertinya memang tidak mudah.
***
Keesokan paginya, saat aku terbangun lalu
pergi ke ruang tengah, Yuika sudah menyantap sarapan di atas meja.
Ini adalah hal yang biasa terjadi. Dia
selalu menyelesaikan makan malamnya lebih cepat dariku, lalu menggunakan banyak
waktu untuk merapikan penampilannya. Padahal masih murid tingkat menengah,
tetapi dia sudah mulai genit sejak dini.
──Eh,
sebentar? Biasanya rambutnya berantakan, dan dia menyantap roti dengan wajah
yang linglung, tetapi hari ini entah mengapa dia sudah merapikan rambutnya dan
memasang raut wajah yang segar. Padahal biasanya dia selalu berkata dengan nada
mencela seperti, "Di hadapan Kakak tidak perlu bersolek," tetapi
sebenarnya apa yang sedang terjadi?
"Selamat pagi, Yuika."
"…………"
"Selamat pagi, Yuika."
"…………"
Dia terus-menerus merapikan rambut
birunya menggunakan kedua tangan, dan sama sekali tidak mau mengarahkan matanya
untuk bertemu denganku.
Tindakan burukku yang selalu bersikap
kasar sampai sekarang adalah hal yang salah, jadi mau bagaimana lagi, sih.
Namun, diabaikan dalam jarak sedekat ini rasanya memang cukup berat.
"Selamat pagi, Yuika."
"Se…… selamat, pagi……"
──Oooh,
berhasil! Akhirnya dia membalas sapaanku.
"Iya, selamat pagi, Yuika."
"Kalau begitu, a…… aku sudah selesai
makan."
Dengan mengeluarkan suara kursi yang
berderit, adikku terburu-buru berdiri dari duduknya.
"Anu, Yuika."
"Apa, sih. Aku sedang sibuk,
tahu?"
"Ah, maaf. Kalau begitu satu patah
kata saja."
"Katakan saja dengan cepat."
"Maaf karena selama ini aku selalu
meremehkan hobimu dan menjadi kakak laki-laki yang kejam, ya. Mulai sekarang
aku tidak akan melakukan hal seperti itu lagi."
"……Heh?"
Raut wajah cengong macam apa itu.
"Kamu sedang merencanakan sesuatu,
ya."
Wajar saja jika dianggap mencurigakan.
Karena itu aku membalasnya dengan sikap yang setulus mungkin.
"Aku sama sekali tidak merencanakan
apa pun."
Meskipun kepribadian di dalamnya sudah
tertukar, sih.
"Be…… begitu. Ka-Kalau begitu aku
mau bersiap-siap pergi ke sekolah dulu!"
Yuika melontarkan kata-katanya secara
sepihak, lalu bergegas pergi meninggalkan tempat itu.
Hmm. Setidaknya aku lega karena dia
memberikan sedikit reaksi.
Namun, menghilangkan rasa benci darinya
memang terhitung sulit.
Terlebih lagi jika berada di dunia game,
aku bisa mengutarakan perasaan dengan cukup jujur. Jika di dunia nyata aku bisa
mengobrol dengan adik kandungku sendiri seperti ini, kami pasti bisa menjadi
lebih akrab. Yah, kalau bisa melakukannya, aku tidak akan sekesulitan ini, sih.
──Ah,
bukan waktunya melamun sambil memikirkan hal ini, nih. Aku harus segera makan
atau aku bisa terlambat sekolah.
***
Setelah tiba di akademi, aku masuk ke
dalam kelas. Seperti biasa, tidak ada satu pun orang yang memedulikan diriku
yang merupakan karakter figuran ini. Ini adalah operasional sehari-hari yang
semestinya.
"Selamat pagi, Zeit-kun."
"Fuwakh!"
Tepat setelah masuk ke kelas, aku
dikejutkan oleh suara yang mendadak menyapaku.
Saat berbalik, seorang gadis cantik yang
berdiri dengan punggung tegap berada di sana. Rambut merahnya yang berkilau
membuat dirinya terlihat semakin mencolok di dalam kelas.
"Ah…… maaf. Selamat pagi."
"Hari ini adalah hari pengukuran
kekuatan sihir yang diadakan sebulan sekali, ya. Mari kita sama-sama
berjuang."
Begitu ya. Ternyata hari ini adalah hari
pengukuran kekuatan sihir. Ah, membuat depresi saja.
"Are? Kalian berdua tampaknya akrab
sekali, ya. Apakah terjadi sesuatu?"
Suara yang teramat ceria dan manja
terdengar. Senyuman imut yang polos dan ceria. Tipe gadis menenangkan dengan
mata yang sedikit sayu.
Memiliki rambut perak indah yang tidak
mungkin ada di dunia nyata, bertubuh kecil, dan berpayudara besar. Seorang
gadis cantik yang memiliki paket lengkap elemen yang disukai oleh murid
laki-laki.
Benar.
Selain merupakan gadis paling imut di angkatannya, sifatnya juga ceria dan
lembut kepada siapa saja. Murid perempuan nomor satu yang paling populer di
antara murid laki-laki, Haruru Schatten. Mengingat tipe kepribadian di dalam
game asli, dia sudah tidak salah lagi adalah 【Malaikat】.
Secara penampilan, Lena memang tidak
kalah darinya, tetapi sikapnya yang tegas dan tidak mentolerir kesalahan adalah
rintangan yang terlalu tinggi bagi murid laki-laki. Dalam poin itu, orang ini
selalu tersenyum dan teramat mudah didekati. Kenyataannya, dia terhitung sangat
sering ditembak oleh murid laki-laki, tetapi konon semuanya ditolak olehnya.
Omong-omong mengenai orang ini, selain
warna rambutnya, penampilannya benar-benar mirip dengan Kageura Haruru.
Ditambah dengan Lena, Yuika, serta
Kinto-sensei, mengetahui bahwa ada empat orang yang mirip seperti itu membuatku
berpikir sebenarnya bagaimana struktur dunia game ini.
"Tidak, sama sekali tidak ada
apa-apa, kok."
Lena membalas dengan nada bicara yang
keren, lalu terburu-buru beranjak pergi menuju bangkunya sendiri.
"Huuumn…… begitu, ya."
Haruru memandangi punggung Lena dengan
tatapan mata penuh keheranan. Dua orang ini adalah teman paling akrab di kelas.
Dia pasti merasa aneh melihat Lena yang merupakan sahabatnya mendadak tampak
akrab dengan Zeit si orang yang dibenci.
Sebelum aku ikut dicecar hal yang
aneh-aneh, lebih baik aku segera duduk di bangkuku sendiri.
***
Hari ini, pelajaran pertama di siang hari
adalah pengukuran kekuatan sihir.
Di Akademi Sihir, kekuatan sihir adalah
indikator utama dalam penilaian akademis. Hasil dari pengukuran ini bisa
membuat seseorang dipuja-puja atau malah dijadikan bahan ejekan. Demi masuk ke
dalam jajaran "Top 10" yang masa depannya telah dijamin, kekuatan
sihir ini teramat sangat penting. Karena itulah mata semua orang seketika
berubah demi berjuang mati-matian.
Sebagai catatan, kekuatan sihir
ditentukan oleh kombinasi antara jumlah mana dan kemampuan teknik.
Jam istirahat makan siang berakhir, dan
waktu yang dimaksud akhirnya tiba.
──Uuumn……
rasanya malas sekali.
Haruto Zeit, alias diriku, sama sekali
tidak memiliki bakat sihir dan merupakan murid yang teramat bodoh. Karena
itulah sampai sekarang dia selalu membolos dari pengukuran kekuatan sihir.
"Aku sudah tidak sabar menantikan
pengukurannya. Kalian semua, berjuanglah sebisanya, ya."
Sebuah suara pria menggema di dalam
kelas. Orang yang menunjukkan sikap jemawa itu adalah protagonis di dunia game
ini, Dunkel Sonne.
Keparat ini memiliki nilai akademis yang
luar biasa, dan khusus untuk kekuatan sihirnya terhitung cukup tinggi.
Benar. Protagonis di dalam game ini
diberkahi dengan bakat sihir yang meluap-luap, dan berkat hal itu dia bisa
mendapatkan nilai yang bagus saat ujian, atau melindungi heroin dari monster
demi memperlihatkan sisi kerennya. Hal itu akan berujung pada peningkatan
tingkat kesukaan heroin secara besar-besaran.
Sial…… diriku yang sekarang justru berada
di posisi yang berkebalikan
dari protagonis dan menjadi murid yang
bodoh. Jika dibandingkan dengan hari-hari penuh kejayaan itu, rasanya terlalu
menyedihkan sampai air mataku rasanya mau menetes.
"Nah, sekarang adalah waktunya
pengukuran kekuatan sihir. Mari kita berpindah ke aula!"
Sambil bertepuk tangan sekali, Lena
memberikan suntikan semangat kepada murid-murid yang lain.
"Zeit-kun juga, tolong berjuanglah,
ya!"
Lena sengaja memanggilku karena dia tahu
kalau aku selalu membolos dari pelajaran ini, ya.
Jika dilesat pandangan mata yang begitu
tegas seperti itu, aku tidak punya pilihan selain menjawab begini.
"T-Tentu saja."
Lena tersenyum lembut dengan wajah yang
tampak puas.
──Mau
bagaimana lagi. Mari kita pasrah saja saat kekuatan sihirku yang payah ini
dijadikan bahan ejekan oleh semua orang.
***
Aula Akademi Magia adalah sebuah bangunan
kokoh dengan langit-langit yang tinggi. Tampaknya tempat ini biasa digunakan
untuk berbagai macam upacara atau pertarungan praktik sihir, di mana jika di
SMA Makiya, tempat ini mirip seperti gedung olahraga.
Begitu melangkah ke dalam, sebuah ruangan
yang luas terbentang. Di bagian tengahnya, terdapat beberapa target berbentuk
manusia yang menyerupai orang-orangan sawah.
Para murid akan melepaskan sihir andalan
masing-masing dari posisi yang jaraknya sekitar 50 meter menuju ke arah
orang-orangan sawah tersebut. Bentuk manusia itu telah dipasang "Sihir
untuk Mengukur Kekuatan Sihir", sebuah sistem yang mendesain pengukuran
terhadap kekuatan sihir murid.
Hal ini diadakan sebulan sekali. Kekuatan
sihir yang telah diukur akan dimasukkan ke dalam buku nilai, dan memberikan
pengaruh yang besar terhadap nilai akademis tahunan.
"Baiklah, mari kita mulai."
Kinto-sensei bersuara kepada para murid.
Guru itu mengayunkan *magic wand*,
alias tongkat sihirnya dengan
luwes lalu merapalkan suatu mantra. Di
hadapan masing-masing murid, sebuah nomor yang menunjukkan urutan giliran
muncul secara samar.
Ini adalah "Sihir Undian Penentu
Urutan" yang sudah sangat familier dalam kehidupan akademi. Demi menjaga
keadilan, urutan pengukuran selalu ditentukan melalui undian pada setiap
sesinya.
"Bagus, aku yang pertama, ya.
Hehehe."
Dunkel Sonne mengeluarkan suara yang
terdengar teramat gembira.
Bagi orang yang suka mencari perhatian
sepertinya, ini adalah hasil yang tidak memiliki celah kekurangan sedikit pun.
Pria tampan itu melangkah maju ke depan
lalu berdiri di posisi yang sudah ditentukan. Kemudian melepaskan sihir ke arah
target.
Sihir
《Hellfire》 yang dilepaskan oleh Sonne berhasil mengenai
target dengan telak, dan langsung mencetak poin yang tinggi sejak awal.
"Yess, 250 poin! Lihat itu!"
Tolok ukur kekuatan sihir adalah 100 poin
pada akhir kelas 1 tingkat
atas, 200 poin pada akhir kelas 2, dan
300 poin saat kelulusan kelas 3.
Ini adalah nilai akademis rata-rata pada
umumnya.
Kami baru memasuki kelas 2 sekitar dua
bulan. Nilai rata-rata kelas paling-paling hanya sekitar 120 sampai 130 saja.
Sonne berhasil mencetak poin hampir dua
kali lipat dari nilai rata-rata, dan merupakan nilai akademis peringkat pertama
di angkatannya.
Meskipun dia adalah pria dengan sikap
terburuk terhadap perempuan, tetapi nilai akademis sihirnya memang nyata luar
biasa. Seperti dugaan dari efek keunggulan protagonis (protagonist buff).
Padahal di dalam game asli aku juga
menjadikan kekuatan sihir yang kuat ini sebagai senjata untuk menyelamatkan
heroin dari bahaya, hingga dikagumi oleh para murid perempuan…… Ah, sudahlah,
hal itu rasanya sudah seperti kejadian di masa lalu yang teramat jauh saja.
"Baik, berikutnya Haruto Zeit."
Akhirnya giliranku tiba juga. Karena
kekuatan sihir Zeit berada di tingkat kroco, meskipun mengikuti tes pun aku
hanya akan memamerkan nilai akademis yang tragis and merasakan pengalaman yang
memalukan saja.
Jujur saja aku ingin melarikan diri.
Namun, aku sudah memantapkan hati untuk bersikap serius demi mendapatkan
kepercayaan Lena.
Walaupun nilainya mengenaskan, aku tidak
punya pilihan selain mengerahkan seluruh kemampuanku.
Setelah memantapkan hati untuk
ditertawakan, aku melangkah maju ke depan lalu berdiri di posisi yang sudah
ditentukan. Kemudian aku mengarahkan telapak tangan ke arah target, mengolah
mana, lalu melepaskannya.
"Bagaimana!?"
──Ah~ah.
Jangankan mencetak poin, sejak awal sihirku bahkan tidak mengenai sasaran.
Terlebih lagi pada percobaan kedua pun
kembali meleset. Aku mencoba menghibur diri sendiri…… karena ini adalah pertama
kalinya aku menggunakan sihir secara nyata, jadi mau bagaimana lagi, sih.
Dan pada percobaan ketiga.
Bagus, akhirnya sihirku mengenai target!
"Zeit-kun, 30 poin!"
Umu…… tidak tertolong lagi kalau begini.
Bahkan tidak sampai setengah dari nilai rata-rata.
Perkembangan
seperti di dalam light novel──di mana orang yang di permukaan tampak tidak
berguna tetapi aslinya teramat hebat──sama sekali tidak terjadi. Aku ingin
menangis rasanya.
"Hahaha, apa-apaan itu? Dasar
kroco."
Sonne melontarkan tawa yang memandang
rendah diriku. Terlebih lagi dia mengusap kepalaku seolah-olah sedang
memperlakukan seorang anak kecil.
"Hentikan, Sonne. Jangan
menyentuhku."
"Hooh, kalau berani bicara sok
mengatur begitu, coba tunjukkan nilai akademis yang bagus, dong."
Sial, orang yang tidak sopan sekali.
Namun di dalam game ini, Zeit adalah karakter yang dibenci. Sonne yang
merupakan protagonis memiliki peran untuk memberi pelajaran kepada Zeit yang
seperti itu.
Karena
itulah tidak akan ada satu orang pun yang akan bersimpati kepadaku──begitulah
pikirku pada awalnya, tetapi.
"Sonne-san. Bisakah kamu berhenti
meremehkan orang lain?"
"Aku kan hanya mencairkan suasana
dengan lelucon saja."
"Ucapan yang meremehkan orang lain
itu tidak bisa diselesaikan hanya
dengan kata lelucon, lho."
Seorang heroin membela Zeit si karakter
yang dibenci adalah hal yang aslinya tidak akan pernah mungkin terjadi. Karena
aku telah mengubah tindakan Zeit, perkembangan yang tidak mungkin ada di dalam
game asli kini sedang tercipta.
"Terima kasih, Lena. Tapi nilai
akademis sihirku yang buruk ini adalah karena kurangnya usahaku sendiri. Aku
akan berjuang lagi nanti."
Saat aku mengucapkan terima kasih dengan
jujur, sekelilingku seketika menjadi bising. Sebab, Zeit si orang yang keras
kepala telah menunjukkan sikap yang tulus.
Sonne sama sekali tidak menempatkan
diriku yang merupakan karakter kroco ini di dalam matanya, melainkan dia justru
mengkhawatirkan fakta bahwa dirinya baru saja dimarahi oleh sang heroin, hingga
dia memasang senyum palsu yang tampak menjilat.
"Apa-apaan sih, Lena. Kalau kamu
semarah itu, wajah cantikmu bisa jadi sia-sia, lho."
"Tidak perlu bermulut manis."
"Ini bukan rayuan, kok. Kamu
benar-benar cantik. Karena itu kembalikan suasana hatimu, dong."
"Haaah~ bukan itu maksudku…… kamu
benar-benar orang yang tidak bisa ditolong, ya."
Gadis cantik yang keren itu mengembuskan
napas panjang lalu mengedikkan bahunya. Sebuah gerak-gerik yang seolah
benar-benar memandang rendah Sonne dari lubuk hatinya.
Keparat
Sonne itu. Seperti biasa dia hanya memuji penampilan luar saja, sebuah hal yang
benar-benar memberikan efek berkebalikan terhadap heroin 【Tipe
Putri yang Agung】.
Namun hal ini justru menguntungkan bagiku
yang ingin mencegah Lena agar tidak ditaklukkan oleh Sonne.
"Hah? Jangan sok mengatur, Lena.
Padahal nilai akademis kekuatan
sihirmu sendiri tidak seberapa."
Karena Lena tidak kunjung terpikat
kepadanya, Sonne akhirnya mengeluarkan suara yang terdengar kesal.
"Apa kamu bilang?"
"Kamu sendiri pasti menyadarinya,
kan? Kalau kamu sama sekali bukan
tandinganku."
"Cih……"
Apa yang dikatakan Sonne memang benar,
kekuatan sihir Lena tidak sampai setengah darinya. Pada pengukuran bulan lalu
seingatku nilainya adalah 110 poin. Meskipun dia adalah ketua kelas dengan
nilai akademis yang luar biasa, fakta bahwa kekuatan sihirnya berada di tingkat
menengah ke bawah terpatri di dalam ingatanku.
"Oi, Sonne. Orang yang benar-benar
luar biasa itu tidak akan meremehkan orang lain, tahu."
Aku sama sekali tidak berniat mengatakan
hal yang sok mengatur, tetapi kalimatnya yang teramat tidak sopan terhadap
heroin yang berharga benar-benar membuatku tidak bisa menahannya.
"……Hah?"
Sama sekali tidak disangka kalau Zeit
yang mesum dan kasar bisa
melontarkan kalimat seperti itu, ya.
Sonne melongo dengan mulut sedikit terbuka karena cengo.
"Minta maaflah kepada Lena."
"Apa…… katamu? Tidak ada hubungannya
orang bodoh sepertimu mengaturku."
Sonne mengabaikan diriku lalu memalingkan
wajahnya ke arah beraneka ragam.
"Terima kasih, Zeit-kun."
Sonne melirik dari sudut matanya saat
Lena mengucapkan terima kasih kepadaku, lalu memasang raut wajah seperti baru
saja menelan pil pahit.
Beberapa saat kemudian, giliran Lena pun
tiba. Lena yang melangkah ke depan memberikan lilitan pandangan tajam kepada
Sonne sesaat sebelum menghadap ke arah target. Pada saat itu, tanpa sengaja
matanya bertemu denganku.
"Semangat."
Begitu aku memberinya semangat, kerutan
mendalam di antara alis Lena tampak melunak.
Jika terlalu banyak memberi beban pada
bahu, seseorang tidak akan bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Begini saja
sudah bagus.
Lena yang berdiri di posisi yang sudah
ditentukan, mengacungkan kedua tangannya ke depan lalu mulai merapalkan mantra
sihir. Sihir itu adalah sihir elemen api yang sama seperti milik Sonne.
Meskipun jumlah mana miliknya terhitung
sedikit, tetapi dia memiliki kemampuan teknik. Kekuatan sihir ditentukan oleh
kombinasi antara jumlah mana dan kemampuan teknik.
Kemampuan teknik sendiri memiliki
indikator utama berupa akurasi sihir saat mengenai sasaran serta kecepatan
dalam perilisan formula sihir.
Jika bisa mengenai bagian paling tengah
dari target dengan cepat, maka poin akan menjadi lebih mudah naik. Aku
benar-benar berharap kali ini dia bisa mendapatkan nilai akademis di atas
rata-rata.
──Eh?
Apa-apaan itu?
Mana yang berkumpul di tangan Lena
berangsur-angsur berubah menjadi cahaya yang semakin besar dan kuat. Benda itu
terlihat jauh lebih besar dibandingkan sihir milik Sonne yang tadi…… apakah ini
hanya perasaanku saja?
"○◎Ψ▽……
《Hellfire》!”
Setelah menyelesaikan rapalannya, api
yang berkobar dahsyat terlepas dari kedua tangan Lena dan menghantam tepat di
bagian paling tengah dari target berbentuk manusia itu.
*DUMMM!*
──sebuah suara yang menggelegar menggema ke seluruh penjuru aula.
"……Eh?"
Apa yang sebenarnya baru saja terjadi?
Baik Sonne maupun murid-murid yang lain
tampak melongo. Malahan,
Lena sendiri pun terlihat kebingungan.
Sistem
《Magic Assessment Magic》
yang tertanam di dalam orang-orangan sawah itu mulai aktif. Semua orang menahan
napas demi menantikan hasil penilaiannya.
──450
poin. Sebuah angka yang dengan sangat mudah melampaui nilai 250 poin milik
Sonne yang merupakan peringkat pertama di angkatan.
Bahkan angka itu jauh di atas nilai
rata-rata kelulusan kelas tiga yang berada di angka 300 poin.
Lena yang sampai bulan lalu rekor
pribadinya hanya 110 poin, mendadak mencetak nilai akademis yang luar biasa
hingga sekitar empat kali lipat.
Dalam kondisi normal, peningkatan yang
teramat drastis seperti ini tidak akan pernah mungkin terjadi. Sebenarnya apa
yang sudah terjadi!?
"Lena-chan, hebat sekalieei!"
Haruru berlari mendekati Lena, lalu
memeluknya dengan gerakan yang besar. Dekapan hangat dari gadis paling cantik
di angkatan dan gadis paling imut di angkatan. Umu, sungguh pemandangan yang
suci.
Jika bisa, aku ingin sekali terjepit erat
di antara kelembutan daging dan daging itu.
──Nggak,
apa-apaan sih yang kupikirkan. Tolong maafkan khayalan dari cowok yang sedang
puber ini, mohon maaf yang sebesar-besarnya.
"Terima kasih."
"Anhalt-san, bukankah ini luar
biasa. Guru benar-benar dibuat kagum olehmu, lho."
"Terima kasih banyak."
Lena mengarahkan pandangannya seraya
tersenyum kepada Sonne yang sedang terpaku tak percaya tepat di sebelahnya.
"Bagaimana menurutmu?"
"Y-Yah, lumayan juga kemampuanmu.
Lumayan lah."
"Terima kasih banyak atas pujiannya.
Padahal barusan kamu bilang kalau diriku ini tidak seberapa, kan?"
"Cih……"
"Apakah sekarang kamu sudah
mengakuinya?"
"A-Ah. Iya, aku mengakuinya."
Keparat Sonne itu. Meskipun dia
berpura-pura bersikap tegap, dia tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.
Hal ini…… adalah sesuatu yang luar biasa,
tahu.
Di dalam game asli, dengan mendapatkan
nilai akademis yang luar biasa pada tes kekuatan sihir ini, protagonis akan
mengumpulkan rasa hormat dari heroin. Hal itu adalah sebuah kejadian yang
teramat penting untuk meningkatkan tingkat kesukaan heroin.
Namun entah mengapa, Lena justru
meninggalkan nilai akademis yang mendominasi sang protagonis. Artinya, hal itu
sama saja dengan memetik salah satu tunas besar yang bisa membuat Lena jatuh
cinta kepada Sonne. Sebuah perkembangan yang sangat menyenangkan bagiku.
Namun meski begitu, kenapa kekuatan sihir
Lena bisa meningkat secara mendadak.
Aku mencoba menelusuri ingatan masa lalu
milik Haruto Zeit, tetapi selain bertarung melawan monster yang kuat untuk
mengumpulkan poin pengalaman (EXP), hal seperti kekuatan sihir karakter yang
meningkat secara drastis itu tidak mungkin terjadi.
Tidak, tunggu sebentar. Di dalam game
asli, ada fenomena yang disebut-sebut sebagai pengaturan fantasi, yaitu
"jika heroin merasakan perasaan suka terhadap protagonis, tubuhnya akan
bersinar merah muda".
Aku memang hanya mendengar rumornya saja
dan belum pernah melihatnya secara nyata di dalam game…… tetapi konon jika hal
ini aktif, kekuatan sihir heroin akan meningkat drastis secara tiba-tiba secara
proporsional dengan besarnya perasaan suka tersebut.
Kemungkinan bahwa fenomena yang sama juga
terjadi di dunia ini sepertinya cukup masuk akal.
──Bagus,
mari kita selidiki.
Aku memasukkan tangan ke dalam saku
celana untuk mengambil ponsel pintar…… baru saja berpikir begitu, ujung jariku
hanya meraba ruang kosong di dalam saku.
"Ponsel pintarku tidak ada!"
Tempat ini adalah dunia game fantasi.
Ponsel pintar tidak ada. Kalau begitu, bagaimana caranya aku melakukan
pencarian informasi, sih!?
***
Seluruh pelajaran hari ini telah selesai,
dan wali kelas sore pun sudah usai. Aku segera mengejar guru yang baru saja
keluar dari kelas, lalu menyapanya di koridor.
"Kinto-sensei. Bisakah luangkan
waktu sebentar."
Saat berbalik dan melihat wajahku, guru
itu langsung terperanjat ketakutan.
"Hiekh, a-a-a-apa, sih!?"
"Kenapa Anda sampai sepanik
itu."
"Jangan-jangan kamu mau mengajak
berantem!?"
"Tidak akan!"
Beberapa waktu lalu bagian ini juga
sempat terjadi, ya. Apa ini sudah menjadi pola template.
"Hanya lelucon, kok, Zeit-kun.
Hohoho."
Meskipun berkata begitu, pipinya tampak
bergerak-gerak dan dia terlihat benar-benar ketakutan, lho?
"Ada urusan apa, ya?"
"Sebagai guru Kinto-sensei yang
sangat memahami sihir, saya punya
sebuah pertanyaan."
"Hou. Kamu rajin belajar juga, ya.
Pertanyaan seperti apa?"
"Apakah ada fenomena di mana jika
seorang murid perempuan merasakan perasaan suka terhadap lawan jenis, tubuhnya
akan bersinar atau kekuatan sihirnya akan meningkat?"
Karena ponsel pintar maupun komputer
tidak ada, pilihannya adalah mencari tahu di perpustakaan atau bertanya kepada
orang yang ahli.
Jika merupakan guru sihir, dia mungkin
mengetahuinya.
"Zeit-kun. Ternyata kamu memang
cowok yang sedang puber, yaaa."
"Apa maksud Anda?"
"Jika murid perempuan menaruh
perasaan suka kepada lawan jenis, tubuhnya akan bersinar dan kekuatan sihirnya
akan meningkat.
Mengkhayalkan fenomena yang mendebarkan
seperti itu adalah hak istimewa bagi cowok yang sedang puber, tahu."
"Hah?"
"Membicarakan asmara tentang siapa
menyukai siapa itu memang merupakan hidangan yang paling lezat, kan
sehari-hari."
Itu kan isi pikiran Anda sendiri. Tolong
jangan menyamakannya dengan makanan.
"Iya, Zeit-kun ternyata punya sisi
yang imut juga, ya."
"Bukan begitu, kok."
"Tidak salah lagi, kok. Guru merasa
sangat senang karena dirimu yang sampai sekarang selalu cemberut dan
menunjukkan sikap berandalan, kini telah terlahir kembali menjadi orang yang
rajin belajar. Kamu sudah mulai terbangun oleh cinta, kan."
Karena menjelaskan kesalahpahaman satu
demi satu hanya akan membuang-buang waktu, mari kita abaikan saja.
"Kalau begitu, artinya fenomena
seperti itu tidak eksis, ya?"
"Nggak, fenomena itu eksis,
kok."
Eh, ternyata ada!?
"Untuk lebih tepatnya, kemungkinan
besar hal itu ada, begitu."
"Apa maksudnya?"
"Di dalam buku kuno terdapat catatan
bahwa ada *skill* khusus yang memicu fenomena seperti itu, lho."
"Apakah itu sebuah skill
khusus?"
"Iya.
Menariknya, itu bukan skill dari pihak murid perempuan, melainkan skill milik
pria yang menjadi target dari perasaan suka tersebut. Konon itu adalah sebuah
unique skill yang tidak akan muncul pada sembarang orang. Skill itu, ya,
memiliki fenomena untuk memvisualisasikan 【Tingkat
Kesukaan】 terhadap dirinya sendiri menggunakan cahaya,
serta mengubah 【Tingkat Kesukaan】
tersebut menjadi mana untuk diakumulasikan ke dalam tubuh si perempuan. Karena
itulah, semakin kuat perasaan suka yang didekap, maka kekuatan sihir murid
perempuan tersebut akan menjadi semakin tinggi, begituuu."
"Begitu, ya."
Benar-benar sebuah fenomena yang sama
persis dengan pengaturan fantasi yang ada di dalam "Magi-Ama".
"Meskipun kenyataan apakah skill
seperti itu benar-benar eksis atau tidak belum pernah dilihat oleh siapa pun,
sih. Karena itulah hal itu dijuluki sebagai skill fantasi."
"Begitu, ya."
"Omong-omong,
nama skill yang tertulis di dalam buku kuno itu adalah 《Love
Energy》."
──Norak
sekali! Penamaan yang teramat norak!! Benar-benar terlalu gamblang tanpa ada
estetika sedikit pun.
Di dalam game hal itu memang tidak
dijelaskan secara gamblang, tetapi ternyata ada nama skill seperti itu sebagai
pengaturan di balik layar, ya.
Aku memang sangat menghormati tim
pengembang "Magi-Ama", tetapi di beberapa tempat mereka memang
memiliki bagian yang dibuat secara asal-asalan seperti ini, sih. Yah, mari kita
anggap saja sebagai bagian dari daya tariknya.
"Pasti menyenangkan ya jika ada pria
yang memiliki skill seperti itu. Romantis sekali……"
Kinto-sensei menatap ke arah kejauhan
dengan mata yang berbinar-binar. Wajahnya sepenuhnya sudah menjadi wajah
seorang gadis yang sedang jatuh cinta.
Kalau dipikir-pikir, Kinto-sensei memang
sedang sibuk mencari pasangan nikah, ya. Semoga pasangan yang baik bisa segera
ditemukan untuknya.
"Hei, Zeit-kun."
"Ya?"
"Apakah kamu mengenal pria yang bisa
menggunakan skill seperti itu? Jika kamu tahu, aku ingin kamu memperkenalkannya
kepadaku, lho."
"Mana mungkin saya tahu pria seperti
itu, sih. Kejadian tadi kan hanya sebatas khayalan dari cowok puber tentang
fenomena yang tampaknya menarik jika benar-benar ada. Ahahaha."
"Malahan, meskipun dia tidak bisa
menggunakan *skill* seperti itu pun tidak apa-apa, jadi tolong perkenalkan saja
padaku."
"Kalau begitu artinya pria mana saja
boleh, dong."
Apakah pencarian pasangan nikah
Kinto-sensei akhirnya sudah mencapai tahap detik-detik terakhir yang terdesak?
"Aduh, ya ampun. Apa-apaan sih yang
kukatakan di hadapan murid sendiri. Ohoho, kuharap kamu melupakannya, ya."
Guru ini, setiap kali dia panik kata
"ya" versi kuno sering kali lolos dari mulutnya, ya. Lucu sekali.
"Baiklah. Jika ada orang yang baik,
nanti akan saya perkenalkan."
"Ah, b-benar juga, ya. Kalau kamu
mau memperkenalkannya, mungkin aku tidak perlu melupakannya. Iya, kuharap kamu
tidak melupakannya, sih. Are, apa-apaan sih yang kukatakan di hadapan murid
sendiri, ahahaha."
Menghadapi orang ini, meskipun memiliki
waktu sebanyak apa pun rasanya tidak akan pernah cukup, hal itu baru kusadari
sekarang.
"Kalau begitu Guru. Hari ini saya
permisi dulu."
"Iya. Dah-dah."
Berkat Kinto-sensei, aku menjadi tahu
bahwa skill di mana perasaan suka terhadap lawan jenis bisa meningkatkan
kekuatan sihir sepertinya memang eksis di dunia ini. Dan kemudian mengenai
kemungkinan kalau diriku memiliki skill fantasi tersebut lalu aktif kepada
Lena……?
Nggak, tidak mungkin. Mana mungkin
karakter figuran sepertiku bisa memiliki skill sekilas itu.
Meskipun
aku mau mengalah sepuluh ribu langkah dan menganggap diriku memiliki skill
tersebut, 《Love Energy》
tidak akan bisa menunjukkan khasiatnya jika Lena tidak menaruh perasaan suka
kepadaku.
Terlebih lagi mengingat besarnya
peningkatan mana yang terjadi tadi, dia perlu mendekap perasaan suka yang
teramat kuat terhadapku. Hal seperti itu tentu saja tidak mungkin terjadi, dan
karakter figuran tidak boleh memiliki rasa percaya diri yang terlalu
berlebihan. Jika ternyata dugaanku salah, itu akan menjadi hal yang tidak sopan
terhadap Lena.
Sambil memikirkan hal seperti itu saat
berjalan di depan perpustakaan, tepat pada saat itu seorang gadis cantik yang
memiliki penampilan rambut merah dan proporsi tubuh luar biasa keluar dari
dalam bangunan.
"Ah, bukankah ini Zeit-kun."
Orang itu adalah Lena yang sedang
mendekap buku tebal menggunakan kedua tangannya.
"Apakah kamu mau pergi ke suatu
tempat?"
"Tidak juga. Aku baru saja mau
pulang, kok."
"Begitu, ya. Kalau begitu, jika kamu
punya waktu, maukah pergi ke kafe
sebentar?"
"Kafe? Bersamaku?"
Mendadak diajak minum teh oleh sang bunga
di puncak gunung membuat suaraku menjadi meninggi. Benar-benar tidak keren.
"Iya. Padahal kemarin kamu sudah
menolongku, tetapi aku merasa bersalah karena langsung pulang begitu saja tanpa
menyampaikan ucapan terima kasih dengan benar. Aku akan mentraktirmu kopi di
kafe."
Mengingat sifat Lena yang tahu adat. Jika
tidak menyampaikan ucapan terima kasih dalam bentuk apa pun, dia pasti tidak
akan pernah bisa merasa puas sampai kapan pun. Karena kafe yang ada di dalam
area sekolah memasang harga pelajar, ditraktir secangkir kopi sebagai pengganti
ucapan terima kasih sepertinya adalah hal yang bagus.
"Ah, kalau alasannya begitu, boleh
saja."
Di Akademi Sihir Magia ini, terdapat tiga
buah kafe yang disediakan di dalam area sekolah. Kami berdua berpindah menuju
salah satu kafe tersebut. Saat berjalan mengikuti punggungnya yang melangkah
dengan postur tubuh yang indah, aroma wangi yang seperti bunga merebak secara
samar, memberikan sensasi yang nyaman.
Namun, diriku yang merupakan karakter
orang yang dibenci berjalan
bersama dengan Lena sang bunga di puncak
gunung, bagaimana jika dilihat oleh orang yang kukenal. Apakah rumor yang
aneh-aneh tidak akan menyebar tentang Lena nanti.
"Are, Lena-chan? ……Dan
Haruto-kun?"
Uwah, langsung ketahuan dengan cepat.
Pemilik suara itu adalah Haruru Schatten yang sedang memasang senyuman lebar di
wajahnya.
"Ah, Haruru. Kami sekarang mau pergi
ke kafe."
"Aryarya, ini adalah hal yang tidak
biasa, ya. Ada apa? Apakah Haruto-kun yang mengajak Lena-chan?"
Sambil memiringkan kepalanya dengan imut,
dia menyeringai jahat.
Tampaknya kami sudah salah dipahami
olehnya.
"Bukan begitu, Haruru. Akulah yang
mengajak Zeit-kun."
"Eeeh? Lena-chan yang mengajak?
Sampai sekarang kamu tidak pernah mengajak murid laki-laki ke kafe, kan?"
"Iya, begitulah."
"Huuumn…… kalau begitu, hati-hati,
ya."
Gadis polos dan ceria yang biasanya tidak
pernah melepaskan senyumannya itu, menunjukkan raut wajah yang penuh keheranan
hanya untuk sesaat.
Padahal hanya sebatas pergi ke kafe saja,
sebenarnya apa yang harus diwaspadai, sih.
Mengenai arti yang terkandung di dalam
kata-kata Haruru, diriku yang saat itu sama sekali tidak bisa menyadarinya.
***
Begitu melangkah ke dalam kafe, kami
berdua memesan kopi di konter pembayaran.
Datang ke kafe berduaan bersama murid
perempuan adalah pengalaman pertama sepanjang hidupku. Ah, gugup sekali.
"Biar aku saja yang membawa."
"Terima kasih banyak."
Karena kedua tangan Lena sedang memegang
dua buah buku yang tampak berat, aku yang membawa kopi untuk kami berdua lalu
berpindah menuju meja.
Saat berjalan di antara kursi pelanggan,
suara obrolan berbisik terdengar dari berbagai penjuru.
"Hei, lihat itu. Dia adalah Lena
Anhalt yang punya reputasi sebagai gadis
paling cantik nomor satu di kelas dua,
kan."
"Ah, benar sekali. Dia memang nyata
sangat cantik, ya."
"……Lalu, cowok yang bersamanya itu
siapa?"
"Tidak tahu."
Aku adalah Haruto Zeit si karakter anjing
penggonggong yang kalah.
Aslinya, datang ke kafe berduaan bersama
Lena Anhalt sang main heroin
adalah hal yang tidak akan pernah bisa
terjadi. Karena peranku adalah karakter yang dibenci dan dipandang rendah oleh
heroin.
──Begitulah
isi hatiku menjawab pertanyaan mereka.
Wajar saja jika tidak ada satu orang pun
yang mengetahui tentang karakter figuran sepertiku.
Di sisi lain, rambut merah indah milik
Lena terlihat sangat mencolok, ditambah dengan wajah rupawan serta proporsi
tubuh yang luar biasa.
Dua orang seperti itu datang bersama ke
kafe, tentu saja akan memicu adanya rasa aneh bagi sekeliling. Namun, mengenai
keinginan untuk membuat Lena bahagia, aku tidak akan pernah kalah dari siapa
pun, lho.
Meskipun aku sama sekali tidak berniat
mengatakannya kepada siapa pun, aku kembali menegaskan hal itu di dalam hati.
Seolah hendak menghapus kata-kata tidak
menyenangkan yang terdengar olehku, Lena mendadak mengajakku berbicara.
"Zeit-kun ternyata benar-benar orang
yang lembut, ya."
"Eh, kenapa?"
"Karena kamu bersedia membawakan
kopi sampai ke bagian milikku juga, kan."
"Hal seperti itu kan hal yang
sewajarnya dilakukan. Kamu kan sedang
membawa barang bawaan yang tampak
berat."
"Namun, kamu membawakannya dengan
sikap yang sangat alami. Hal yang seperti itulah yang dinamakan lembut."
Gadis cantik itu tersenyum lembut seolah
merasa kagum. Padahal itu benar-benar hal yang biasa dilakukan, sih.
Namun meski begitu, sebenarnya apa yang
terjadi dengan Lena, ya.
Padahal saat di kelas dia selalu
menunjukkan sikap tegas seperti biasa, tetapi entah mengapa sekarang
atmosfernya terasa begitu tenang.
"Apakah terjadi sesuatu yang
baik?"
"Benar juga, ya……"
Lena meletakkan buku tebalnya di atas
meja, lalu mendudukkan pinggulnya di kursi yang berada tepat di hadapanku. Aku
juga meletakkan cangkir milik kami berdua di atas meja lalu menurunkan pinggul
untuk duduk.
Kami saling mendekatkan kopi ke mulut
masing-masing, dan setelah memberi sedikit jeda, Lena baru menjawab.
"Sesuatu yang baik…… ada banyak hal
yang terjadi, lho."
"Ah, benar juga. Kamu mencetak
peringkat pertama di angkatan saat pengukuran kekuatan sihir tadi, ya.
Selamat."
"Terima kasih banyak. Namun, 'hal
baik' yang paling utama bukanlah hal itu."
"Heh begitu ya. Lalu apa?"
"Anu, soal itu adalah……"
Entah kenapa Lena menundukkan matanya
dengan malu-malu.
Keimutan dari celah kepribadian (gap moe)
dengan sosok anggunnya yang ada di kelas benar-benar terlalu imut.
"Jika harus menyebutkan salah satu,
kemungkinan adalah karena aku kebetulan bisa bertemu dengan Zeit-kun, lalu
datang berduaan ke kafe seperti ini, begitu."
"Ah, tidak, tidak. Tolong hentikan
lelucon seperti itu. Meskipun aku tahu itu hanya candaan, mendengarnya tetap
saja membuatku malu, tahu."
"Ini bukan lelucon, lho."
Lena memajukan mulutnya lalu
menggembungkan pipinya.
Melihat seorang gadis yang biasanya
berpendirian kuat mendadak menunjukkan sosok seperti itu di depan mata. Riak
dari celah kepribadian datang menyerang dalam jumlah besar, lho. Tidak mungkin
hal itu tidak terlihat imut.
"Bufokh!"
Karena terlanjur luluh oleh keimutannya,
aku menyemburkan kopi yang baru saja menyentuh mulutku.
Sangat payah. Tidak keren. Diriku
benar-benar buruk.
"A-Apakah kamu tidak apa-apa!?"
"Ah, iya. Tidak apa-apa, kok.
Maaf."
Aku menyeka kopi yang terciprat di
sekitar mulut menggunakan tisu kertas. Tepat pada saat itu, selembar kain
berwarna merah muda mendadak muncul di depan mataku.
"Ah, tolong diam sebentar. Aku akan
menyeka kopi yang menempel di dahimu, ya."
Benda itu adalah saputangan yang dipegang
oleh tangan Lena. Aroma wangi yang seperti bunga merebak secara samar dan
lembut di udara.
Sambil mengulurkan tangan dari arah
seberang meja, dia menyeka kotoran yang ada di dahiku. Karena posisi Lena yang
menjadi condong ke depan, secara sudut pandang aku menjadi melihat bongkahan
dadanya dari arah atas.
Kerah kemejanya menjadi tertekuk dan
melebar, memperlihatkan adanya belahan dada. Payudara dengan bentuk yang indah
dan ukuran yang terhitung pas. Bongkahan yang padat itu meluncurkan serangan ke
arah indra penglihatanku.
Mengingat pemandangan yang teramat seksi
ini, bagian bawah tubuhku menjadi terasa panas. Tunggu sebentar. Apa kamu
berniat membunuh cowok perjaka ini.
Apakah ini kejadian mesum yang tidak
disengaja (lucky lecher) yang sudah sangat familier di dalam game romansa.
Nggak, fenomena yang luar biasa seperti
itu hanya akan terjadi kepada protagonis saja.
Bagaimana jika pandangan mataku yang
sedang melotot lekat ini ketahuan olehnya. Jika itu adalah protagonis, dengan
adanya efek keunggulan protagonis paling-paling dia hanya akan dibilang,
"mendasar urusan mesum~" saja dan masalah selesai.
Namun jika itu adalah karakter figuran,
akhir cerita di mana diriku ditampar dengan seluruh kekuatan, "apa yang
sedang kamu lihat!?" sudah menanti di depan mata.
Karena itulah, meskipun rasanya teramat
sangat disayangkan, aku memilih untuk memejamkan mata.
"Nah, sudah tidak apa-apa
sekarang."
"Ah, terima kasih."
"Jika memikirkan hal tentang
Zeit-kun yang sudah menolongku, hal sekecil ini sama sekali bukan masalah,
lho."
"Mengenai ucapan terima kasih, aku
benar-benar sudah menerimanya dalam jumlah yang teramat cukup, kok. Kamu tidak
perlu memikirkannya lebih jauh lagi."
"Hal itu tidak bisa dilakukan.
Pembalasan dariku masih sama sekali belum cukup."
"Tapi jika kamu terus-menerus merasa
segan seperti ini, akulah yang justru akan menjadi segan nanti. Tolonglah, mari
kita anggap masalah ini sudah selesai sampai di sini saja."
Lena menatapku dengan wajah penuh
keheranan.
"Zeit-kun ternyata adalah orang yang
tidak memiliki keserakahan, ya."
"Nggak, ini kan hal yang biasa
dilakukan."
"Baiklah kalau begitu. Kalau begitu
mari kita anggap masalah ini selesai sampai di sini."
Di depan mataku, Lena menggenggam
saputangan merah muda menggunakan ujung jari putihnya, lalu tersenyum lembut.
"Kupikir aku mau permisi sebentar,
ya."
Sang nona muda berdiri dari duduknya lalu
melangkah menuju toilet.
Mataku tanpa sengaja melirik ke arah buku
yang diletakkan di atas meja.
Kira-kira buku apa yang dipinjamnya dari
perpustakaan, ya.
Dua buah buku tebal diletakkan secara
bertumpuk. Bagian atasnya adalah "Kamus Sihir Berdasarkan Investigasi
Fenomena", ya. Dia memang rajin belajar.
"Hmm?"
Di halaman bagian tengah, selembar kertas
tampak terselip di sana.
Apakah ada sihir yang ingin ia kuasai.
Kira-kira sihir seperti apa yang menarik
minat seorang Lena, ya.
Tanpa memikirkan apa pun, aku membuka
halaman di mana kertas tersebut terselip. Judul sihir yang tertulis di sana
tertangkap oleh mataku.
【Love Energy】
Secara
mengejutkan, itu adalah halaman penjelasan mengenai *skill* legendaris bernama 《Love
Energy》. Kenapa Lena membaca halaman ini.
Jika mencoba membayangkannya, Lena juga
merasakan keanehan terhadap fenomena yang terjadi pada tubuhnya sendiri lalu
mencarinya.
Dan
berujung pada halaman penjelasan skill ini, begitu, toh. Kalau begitu artinya──
"Maaf membuatmu menunggu. ……Apakah
terjadi sesuatu?"
Pemikiranku terputus karena disapa oleh
Lena yang baru saja kembali dari toilet. Dia menyadari bahwa pandangan mataku
sedang tertuju lekat ke arah buku yang berada di atas meja, hingga mengeluarkan
suara kecil, "Ah……".
Fakta bahwa aku sedang mengkhawatirkan
isi bukunya telah ketahuan olehnya. Aku harus mengalihkannya.
"Sengaja meminjam buku seperti itu
dari perpustakaan demi belajar, Lena ternyata adalah orang yang rajin belajar,
ya."
"Ah tidak, bukan begitu, kok. Ini
hanya kebetulan saja tertangkap oleh mataku, jadi kupikir aku ingin mencoba
meminjamnya, begitu saja."
Lena menukar posisi buku yang berada di
atas ke bagian bawah seolah-olah hendak menyembunyikan buku tersebut dari
pandangan mataku.
Kali ini, judul buku yang berada di
bagian bawah menjadi menyentuh mataku. Buku itu adalah sebuah buku yang teramat
tidak disangka.
"Teknik Pembuatan Tongkat Sihir
(Magic Wand) yang Dipelajari dari Nol"
Di bagian sampulnya, foto tongkat yang
digunakan untuk sihir digunakan sebagai ilustrasi.
Sebuah tongkat sihir yang sering kali
digunakan bahkan saat pelajaran, dan menjadi benda yang pasti dimiliki
setidaknya satu buah oleh semua orang di Akademi Sihir.
"Buku panduan untuk membuat sendiri
tongkat sihir secara mandiri?"
"Ah, tidak……"
Membuat sendiri tongkat sihir secara
mandiri memakan waktu yang teramat banyak. Padahal performanya justru berada di
bawah produk yang dijual di pasaran. Demi membuat benda dengan performa yang
tinggi, diperlukan kemahiran yang teramat sangat. Karena itulah sebagian besar
murid memilih untuk menggunakan produk pasaran.
Sengaja meluangkan waktu untuk membuat
sendiri tongkat sihir secara mandiri hanyalah dilakukan oleh sebagian kalangan
maniak saja yang ingin berfokus pada keindahan bentuk maupun orisinalitasnya.
Benar. Jika di dunia nyata, citranya
mirip seperti orang yang membuat sendiri figurin karakter anime secara mandiri.
Jika mengatakan bahwa pembuatan tongkat
sihir adalah hobinya, maka dalam sekejap mata dia akan langsung dicap sebagai
seorang otaku.
Aku sendiri mengenal satu orang otaku
yang memiliki hobi seperti itu.
Yaitu adik perempuan Zeit, Yuika Zeit.
Namun, sosok Lena yang merupakan nona muda yang keren, berada di posisi yang
berkebalikan dari citra seorang otaku.
"Apakah kamu meminjam buku ini demi
seseorang yang kamu kenal?"
Namun dari bibirnya yang menawan, sebuah
kalimat yang teramat tidak disangka justru keluar.
"Iya…… selama ini aku
merahasiakannya dari siapa pun, tetapi karena Zeit-kun adalah orang yang bisa
dipercaya, aku akan mengatakan hal yang sebenarnya. Membuat tongkat sihir
adalah hobiku. ……Tidak, untuk lebih tepatnya, itu adalah hobiku dulu."
Lena mulai menceritakan kisah masa
lalunya saat masih di divisi tingkat dasar (Elementary Level).
Di dunia ini, pada umumnya murid baru
akan memiliki tongkat sihir pribadi saat memasuki divisi tingkat menengah, di
mana mereka mulai mempelajari sihir secara bersungguh-sungguh.
Saat masih menjadi murid tingkat dasar
yang setara dengan anak SD, biasanya mereka belum memiliki tongkat sihir.
Namun, Lena sudah mengagumi pembuatan tongkat sihir sejak masih kecil, dan
tampaknya dia pernah mencoba membuat tongkat sihir dengan caranya sendiri saat
masih di tingkat dasar.
Karena tangannya saat itu masih belum
terampil, dia hanya bisa membuat benda dengan penampilan yang buruk. Namun
meski begitu, tongkat sihir yang terlahir dari tangannya sendiri itu konon
terasa sangat berharga baginya.
"Pada masa itu, aku memelihara
angan-angan bahwa kelak di masa depan aku ingin menjadi seorang ahli pembuat
tongkat sihir."
"Heh, begitu ya."
Namun, impian itu sama sekali belum
sempat ditargetkan secara nyata, dan pada suatu hari di tingkat dasar, tirai
impian itu mendadak tertutup rapat.
Seorang murid laki-laki sekelas yang
tidak memiliki perasaan tega meremehkan dirinya yang membongkar impian masa
depannya untuk menjadi "ahli pembuat tongkat sihir".
"Mana mungkin orang yang kasar
sepertimu bisa menjadi ahli pembuat tongkat, sih. Lagipula ternyata kamu ini
seorang otaku tingkat akut, ya. Menjijikkan tahu, ahaha!"
Dalam kondisi normal, hal sekecil itu
harusnya tidak perlu membuat seseorang merelakan impiannya. Namun karena dia
sendiri menyadari sifat kasarnya, hatinya langsung dibuat patah oleh satu patah
kata tersebut, hingga dia merelakan impiannya sejak dini.
Sejak saat itu, baik selama di tingkat
menengah maupun setelah menduduki tingkat atas sekarang, dia sama sekali tidak
pernah menyentuh pembuatan tongkat sihir lagi. Lena mengatakannya demikian.
Kalau
dipikir-pikir, aku──maksudku Haruto Zeit──juga terhitung sangat sering
meremehkan adik perempuanku yang memiliki hobi membuat tongkat sihir sebagai
seorang otaku tingkat akut, ya. Diriku di masa lalu memang adalah diriku
sekaligus bukan diriku. Namun, aku tetaplah aku. Karena itulah, aku bersujud
meminta maaf (dogeza) di dalam hati.
──Maafkan
aku, Yuika! Dan juga maaf, Lena!
Namun,
fakta bahwa Lena sengaja meluangkan waktu untuk meminjam buku ini artinya──
"Kamu berpikir untuk mencoba
menantang pembuatan tongkat sihir sekali lagi, ya."
"Tidak, bukan begitu. Seperti
dugaan, aku tidak akan pernah bisa mengumpulkan niat untuk membuat tongkat
sihir lagi untuk kedua kalinya."
"Eh? Kenapa?"
"Menurutku hal itu memang tidak
cocok untukku, dan jujur saja, setelah menduduki tingkat atas sekarang,
keinginan di dalam hatiku untuk tidak ingin dianggap sebagai seorang otaku juga
sangat kuat."
"Lalu kenapa meminjam buku
itu?"
"Buku ini juga kebetulan saja
tertangkap oleh mataku, jadi aku meminjamnya sekalian. Karena saat kecil aku
hanya membuatnya dengan caraku sendiri, aku murni hanya merasa penasaran
bagaimana cara pembuatan yang semestinya secara resmi, begitu saja."
"Kalau
begitu artinya kamu tetap ingin menantang pembuatan tongkat sihir──"
"Tidak akan."
"Mengenai tetap menyukai apa yang
kita sukai, menurutku tidak perlu ada rasa segan terhadap siapa pun, lho."
"Tidak akan!"
Aku dilesat jawaban yang ketus. Kaku
sekali, ya. Jika orang yang bersangkutan berkata demikian, mau bagaimana lagi.
Namun──bagaimana
jika di dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia aslinya memelihara keinginan
untuk melakukannya tanpa disadari oleh dirinya sendiri. Merelakan hal yang
disukai begitu saja seperti ini, sudah pasti akan berujung pada penyesalan di
masa depan.
Aku sendiri sebenarnya sekitar satu tahun
yang lalu, pernah diremehkan oleh teman sekelas karena kesukaanku terhadap
galge yang dianggap sebagai hobi otaku yang menjijikkan. Pada saat itu, ada
sebuah kejadian yang membuatku bisa berpikir untuk "menghargai hal yang
kusukai".
Jika Lena aslinya memang menyukai
pembuatan tongkat sihir, agar dia tidak perlu memelihara penyesalan di masa
depan, apakah tidak ada hal yang bisa kulakukan untuknya. ……Benar juga.
"Lena. Jika tidak keberatan, maukah
kamu datang ke rumahku sekarang?"
Aku ingin mempertemukan Lena dengan adik
perempuanku, Yuika.
Apakah di dalam lubuk hati Lena yang
paling dalam aslinya ada keinginan untuk mencoba membuat tongkat sihir atau
tidak.
Jika dia bersentuhan dengan jiwa otaku
milik Yuika yang murni, isi hatinya yang jujur mungkin bisa terlihat.
"Apakah hal ini, Zeit-kun……
merupakan sebuah ajakan untuk kencan di rumah?"
"Eh?"
──Gawat.
Lawan bicaraku ini adalah gadis yang memiliki sifat super
serius, lho. Jika dia mengira aku
mendadak mengajaknya kencan di rumah, dia pasti akan langsung ilfil, kan.
"Nggak,
anu, bu──"
"Baiklah. Aku akan berkunjung."
Eh, serius? Kesalahpahamannya belum
lurus, tapi tidak apa-apa, nih?
──Dengan
begitu, Lena benar-benar berakhir datang berkunjung ke rumahku.
Di tengah jalan menuju ke rumah, aku
menjelaskannya demi membuat
Lena merasa tenang.
"Aku ingin mempertemukanmu dengan
adikku, jadi ini bukan kencan di rumah, ya."
"Begitu, ya. Sayang sekali."
"Sayang sekali?"
"Ah, tidak, aku salah kata. Maksudku
'sangat disayangkan'."
"Apa maksudnya?"
"Artinya ya seperti itu."
Lena mengatakannya dengan wajah yang
tegap. Rasanya dia seperti sedang menggodaku.
Nggak. Jika dia benar-benar menaruh
perasaan suka kepadaku, hal itu tentu saja membuatku senang, tetapi jika aku
telanjur berharap lalu dugaanku meleset, syok yang kuterima akan sangat besar.
Karena itu, mari jangan memikirkan kemungkinan tersebut.
Sebab hal yang paling penting bagiku
adalah menggantikan protagonis untuk membuat Lena bahagia, bukan untuk membuat
dirinya menyukai diriku.
***
Kami tiba di rumah. Yuika hampir setiap
hari selalu langsung pulang ke
rumah tepat setelah pelajaran di divisi
tingkat menengah selesai. Karena itu, dia harusnya sudah berada di rumah.
"Maaf. Bisakah kamu menunggu di sini
sebentar? Aku akan menjelaskan situasinya kepada adikku terlebih dahulu."
Setelah meminta Lena untuk menunggu di
depan pintu masuk, aku melangkah masuk ke dalam rumah.
Apakah "adik perempuanku yang
imut" mau mengobrol dengan Lena, ya.
Meskipun dia adalah adik yang selalu
menghujani diriku dengan kata-kata pedas, sifat aslinya tidak buruk. Jika dia
tahu ini demi orang yang memiliki hobi yang sama, dia pasti akan bersedia
membantu. Aku ingin memercayai hal itu.
Saat mengintip ke ruang tengah, seperti
dugaan, Yuika yang berambut biru ada di sana. Dia sedang duduk bersandar dengan
santai di sofa sambil menjulurkan kakinya.
Sosoknya
yang mengenakan atasan dengan model lengan baju yang kebesaran (萌え袖 /
moe-sode) dipadukan dengan gaun terusan *one-piece) keputihan yang entah
mengapa memberikan atmosfer dunia lain terlihat sangat imut.
"Aku pulang. Ucapkan, Yuika. Bisakah
luangkan waktu sebentar."
"Apa?"
Adikku membalas tanpa menaikkan wajahnya
sedikit pun.
"Aku punya sebuah permohonan,
sih."
"Tidak mau."
"Padahal aku belum mengatakan apa
pun, lho?"
"Tanpa kamu katakan pun aku sudah
tahu."
Dia tetap menundukkan kepalanya seperti
biasa. Seperti dugaan, dia
memang merasa risi denganku, ya?
"Pe…… Permohonan dari Kakak
paling-paling juga bukan hal yang bermutu, kan. Karena Kakak kan bodoh."
──Oi,
tunggu sebentar. Meskipun itu aku, mendengarnya tetap saja membuatku terluka,
tahu. ……Tidak, tunggu. Tenanglah.
Barusan, dia memanggilku dengan sebutan
"Kakak", kan.
"Terima kasih, ya, Yuika."
"Hah? Dibilang bodoh malah
mengucapkan terima kasih. Apa otakmu sudah tidak keruan? Yah, sejak awal memang
sudah tidak keruan, sih."
Adikku, tolong jangan memasang wajah yang
benar-benar cemas begitu, dong. Bukan di bagian itu yang kumaksud.
"Bukan bagian itu. Kamu tadi
memanggilku Kakak, kan."
"Fuwakh…… ketahuan……"
Tentu saja ketahuan, dong. Kenapa kamu
berpikir hal itu tidak akan ketahuan?
Dalam sekejap mata, telinga adikku
langsung memerah. Pandangan matanya tampak bergerak gelisah.
"Ngg-Nggak, anu…… karena sejak
kemarin Kakak juga memanggil namaku Yuika, kan. Ini namanya sistem
barter."
Apakah ini zaman purba? Pemilihan katamu
salah, tahu.
"Nah, karena itu aku ingin
mengandalkan Yuika untuk sebuah permohonan."
"……Apa, sih?"
"Temanku, lho."
"Memangnya kamu punya? Teman."
Langsung dijawab instan, ya. Ketus
sekali.
"Tentu saja punya, tahu.
Teman."
"Huuumn. Maksudmu tipe teman
khayalan (imaginary friend), kan."
"Bukan. Dia manusia asli. Bukan
khayalan…… harusnya, sih."
Di bagian akhir, rasa percaya diriku
sendiri sempat sedikit goyah.
Karena Zeit adalah karakter yang dibenci,
dan diriku yang di dunia nyata pun temannya sedikit, sih.
"Nah, teman itu, lho. Dia sedang
mengkhawatirkan masalah pembuatan tongkat sihir (magic wand). Karena itu, aku
ingin kamu menceritakan bagaimana isi pikiranmu atau hal-hal yang kamu lakukan
terhadap pembuatan tongkat sihir kepadanya."
"Hah? Bukankah Kakak bilang kalau
pembuatan tongkat sihir itu hobi otaku yang menjijikkan."
Memang benar aku pernah mengatakannya.
Maaf.
"Kamu memintaku membicarakan masalah
tongkat sihir, karena ingin meremehkanku bersama temanmu itu, kan?"
Ah, padahal hubungan kami baru saja mulai
terasa sedikit bagus. Dalam sekejap mata, adikku langsung beralih ke mode
bertarung.
Pergolakan emosi yang terlanjur rumit
akibat perlakuan dingin yang diberikan Zeit selama bertahun-tahun, sepertinya
memang tidak bisa diselesaikan sepenuhnya dengan begitu mudah.
"Bukan begitu, kok. Aku hanya ingin
kamu mendampingi sesi konsultasi orang tersebut. Mengenai hal-hal yang sudah
lewat sampai sekarang, aku meminta maaf. Aku benar-benar minta maaf."
"Kamu pasti berpikir kalau orang
sepertiku ini gampang dirayu hanya dengan meminta maaf sedikit, kan."
"Bukan. Percayalah padaku. Aku sudah
merenungkan perbuatanku selama ini. Kemampuan teknik milik Yuika itu luar
biasa. Karena itulah, aku ingin kamu menceritakan masalah pembuatan tongkat
sihir kepada temanku yang sedang tidak bisa memelihara rasa percaya
dirinya."
"K-Kakak…… kamu sampai memberikan
penilaian setinggi itu terhadap hobiku?"
"Iya, benar. Karena itulah aku
mengajaknya ke sini."
"Begitu, ya…… baiklah. Kalau
alasannya begitu, sekadar mengobrol saja boleh, sih."
Meskipun nadanya terdengar ketus, tetapi
dia tampak sedikit gembira.
"Oooh, terima kasih! Kalau begitu
aku akan memanggil temanku dulu."
"Sekarang?"
"Iya. Sebenarnya aku memintanya
untuk datang bersamaan."
"Jadi teman yang berwujud manusia
itu benar-benar datang, ya?"
"Kamu masih belum
memercayainya?"
"Yah, hanya sedikit…… sekitar 90
persen aku mencurigaimu."
Hentikan. Secara halus hal itu membuatku
terluka, tahu. Itu namanya bukan 'sedikit' tapi 'hampir sepenuhnya mencurigai'.
Ya sudahlah. Begitu melihat orangnya
langsung dia pasti akan percaya. Sambil memikirkan hal itu, aku menjemput Lena
yang sedang menunggu di depan pintu masuk lalu kembali ke ruang tengah
bersama-sama.
"Salam kenal, Yuika-san. Nama saya
Lena Anhalt."
"Eh? Eeeh?
……Eeeeeeeeeeeeeeeeeeekh!?"
"Yuika, kamu berisik tahu. Apa kamu
sedang melakukan penjualan massal huruf 'E'?"
"Habisnya, fakta bahwa teman Kakak
benar-benar eksis saja sudah merupakan hal yang mengguncang bumi dan langit,
tahu!"
Adikku. Ternyata kamu mengetahui kosakata
yang sulit, ya. Fakta itu justru membuat Kakakmu ini ikut mengguncang bumi dan
langit, tahu.
"Karena itu, aku kan sudah berulang
kali bilang kalau aku punya teman, kan."
"Padahal kalaupun secara mukjizat
teman itu ada, orang-orang pasti akan berpikir kalau dia adalah cowok suram,
kan!"
Iya, aku pun berpikir demikian, sih.
"Tapi, tidak disangka orang itu
adalah Lena Anhalt-sama yang terkenal sebagai gadis paling cantik nomor satu di
divisi tingkat atas!"
Reputasinya ternyata sampai bergaung ke
divisi tingkat menengah, Lena memang nyata luar biasa, ya. Terlebih lagi dia
sampai menggunakan sebutan "-sama".
"Lena-sama yang itu sedang berada di
dalam rumah kita, lho! Hei Kakak! Apakah dia benar-benar asli!?"
"Iya, dia asli, kok."
"Tunggu sebentar, dia sangat cantik
tingkat akut, lho! Bentuk tubuhnya sempurna (perfect body) persis seperti
boneka, lho! Rambut merah ini, karena terlalu indah terlihat seperti batu rubi,
lho! Warna kulitnya putih sampai-sampai terlihat transparan dan cantik, tahu!
Ah, sudah, mataku sampai kelebihan nutrisi karena ini merupakan berkah mata
(eyecandy) yang teramat sangat, tahu!"
Adikku. Kamu terlalu banyak bicara, tahu.
Nada bicaramu terlalu cepat.
Ekspresimu
terlalu menonjolkan sifat otaku. Seperti dugaan dari gadis dengan tipe
kepribadian 【Otaku yang Tsundere】.
"Terima kasih banyak,
Yuika-san."
"Aaakh…… namaku sampai mengalir
keluar dari bibir Lena-sama, rasanya terlalu segan, sebuah kebahagiaan yang
patut kusyukuri!"
"Anu…… bisakah kamu memperlihatkan
cerita tentang pembuatan tongkat sihir kepadaku?"
"Aaah,
m-maafkan aku! Benar juga, ya! Karena terlalu gembira aku sampai panik. Hari
ini Anda sengaja turun dari kahyangan (降臨 /
kourin) sampai ke rumah kami demi pembicaraan itu, ya."
Adikku. Lena kemari dengan berjalan kaki
jadi dia tidak sedang turun dari kahyangan, tahu.
"Silakan duduk di sebelah sana! Mari
kita berbicara dengan santai!"
Yuika menunjuk ke arah sofa yang berada
di tengah-tengah ruang
tengah. Lena mendudukkan pinggurnya
dengan patuh.
"Benar-benar Lena Anhalt-sama yang
asli……"
Yuika yang menggumamkan hal itu dengan
nada bicara yang kegembiraannya belum reda mendadak melihat ke arahku.
"Kakak…… good job!"
Yuika berbisik dengan suara kecil yang
tidak terdengar oleh Lena, lalu menegakkan ibu jarinya.
Adikku. Kepribadianmu berubah terlalu
drastis, lho. Namun, aku bisa memahami jiwa otaku yang sikapnya langsung
berubah drastis saat bisa bertemu dengan eksistensi yang dipuja bagaikan dewa.
Berkat Lena, perbaikan hubunganku dengan adikku sepertinya juga akan mengalami
kemajuan. Terima kasih.
Nah adikku. Ceritakanlah kisah tentang
pembuatan tongkat sihir yang sangat kamu sukai itu. Dan buatlah agar Lena bisa
membusungkan dadanya terhadap hobinya sendiri.
Sejak masih bayi, Yuika sudah sangat
menyukai tongkat sihir milik Ayah, dan sekali memegangnya dia konon tidak akan
mau melepaskannya dengan mudah. Cerita seperti itu pernah kudengar dari kedua
orang tuaku.
Dan saat di divisi tingkat dasar, dia
menggunakan kayu maupun batu kecil yang dipungutnya sendiri untuk bermain
membuat tongkat sihir.
Namun karena anak-anak lain tidak ada
yang tertarik, dia terhitung sulit untuk mendapatkan teman.
Kedua orang tua yang mencemaskan kondisi
Yuika memintanya untuk menghentikan pembuatan tongkat sihir. Namun, adikku
bukan tipe orang yang akan menurut begitu saja.
Hingga pada suatu hari. Seingatku itu
terjadi saat Yuika menduduki kelas 4 tingkat dasar.
Tongkat sihir buatan Yuika yang sedang
dimainkan di taman bermain, kebetulan dilihat oleh seorang 'ahli pembuat
tongkat sihir' profesional yang sedang lewat, lalu memujinya.
"Kamu hebat sekali, Dik! Keren, lho!
Iya, ini bernilai seni tinggi!"
Kemungkinan besar di dalam kalimat itu
mengandung banyak basa-basi.
Namun karena dipuji habis-habisan oleh
profesional yang dikaguminya, Yuika menjadi semakin menyukai pembuatan tongkat
sihir.
Baik saat di divisi tingkat dasar maupun
sekarang setelah menduduki tingkat menengah, kemampuan teknik Yuika sudah
meningkat sampai-sampai dia terhitung sangat sering memenangkan penghargaan di
kontes pembuatan tongkat sihir. Di masa depan dia pasti akan menjadi seorang
ahli pembuat tongkat sihir yang terkenal.
Yuika menceritakan pengalaman seperti itu
serta seberapa menyenangkannya pembuatan tongkat sihir kepada Lena dengan
lancar.
Lena yang pada awalnya mendengarkan
dengan tenang, dalam sekejap mata langsung dibuat hanyut ke dalam cerita Yuika.
"Hebat! Luar biasa, Yuika-san!"
Pipinya merona merah, dan tubuhnya
condong ke depan. Mata sipitnya yang indah tampak berkilat-kilat karena
berbinar.
"Aku benar-benar ingin melihat hasil
karya milik Yuika-san!"
"Ah…… iya. Meskipun agak memalukan,
tapi kalau untuk Lena-sama boleh saja."
Karena pembicaraan mengarah ke sana,
mereka berdua berpindah menuju kamar Yuika.
Sebagai catatan, diriku diminta oleh
Yuika untuk tetap tinggal seorang diri di ruang tengah karena dia merasa
memalukan jika kamarnya dilihat olehku. Apa aku ini anjing peliharaan, sih.
Bagian mana yang memalukan. Kami berdua
kan kakak beradik.
Meskipun berpikir demikian, karena aku
juga tidak mau memaksakan diri untuk ikut lalu berujung dimarahi dengan
kemarahan yang meluap-luap, aku memilih untuk menghabiskan waktu dengan tenang
seorang diri di ruang tengah.
***
Setelah menghabiskan waktu berduaan
bersama adikku untuk beberapa saat, Lena keluar dari dalam kamar bersama dengan
adikku dengan mata yang semakin berbinar.
Entah kenapa tangan kanannya sedang
menggenggam sebuah pena.
Pena itu sendiri terlihat seperti pulpen
biasa pada umumnya, tetapi di bagian batangnya dipasang beberapa batu kecil
berwarna hijau yang terlihat indah. Sebuah desain yang tidak biasa.
Menyadari bahwa aku sedang
memperhatikannya dengan lekat, Lena memperlihatkan pena tersebut dengan
malu-malu.
"Ah, ini…… karena cerita Yuika-san
terasa teramat menarik, jadi aku memintanya agar mengizinkanku untuk mencatat,
lho."
"Batu itu berkilat-kilat dan
terlihat sangat cantik, ya. Apakah benda seperti itu dijual di pasaran?"
"Aku membuatnya sendiri."
"Heh! Hebat, ya. Batu berwarna hijau
itu……"
"Benda
ini adalah emera. Karena warna hijaunya indah, aku sangat menyukai batu sihir (魔石 /
maseki) yang satu ini, lho."
Ah, seperti dugaan, ternyata emera, toh.
Itu adalah salah satu jenis batu sihir yang muncul di dalam
"Magi-Ama", di mana karena aku sempat tertawa sambil menganggap
penamaannya jelas-jelas diambil dari kata zamrud (emerald), hal itu terpatri secara
mendalam di ingatanku hingga aku bisa mengingatnya.
Jika pergi ke tepi pantai, benda itu
terhitung bisa ditemukan dengan cukup mudah, dan bukan merupakan benda yang
se-rare itu. Namun karena benda itu bisa menjadi kelemahan bagi monster
tertentu, adakalanya batu sihir ini menjadi sangat berharga.
"Kamu memasang sendiri batu itu ke
pena?"
"Iya. Agar tidak terlepas dengan
mudah, aku melubangi batang penanya, lalu memasangnya dengan erat menggunakan
lem juga."
"Hebat, ya. Sebuah karya yang luar
biasa. Jangan-jangan, kamu melakukan hal itu sebagai pengganti dari pembuatan
tongkat sihir, ya."
"Meskipun
aku tidak melakukannya dengan kesadaran penuh…… aku memang sering memodifikasi
pena menjadi desain yang kusukai seperti ini. Seperti yang dikatakan Zeit-kun,
tanpa sadar aku mungkin memang sedang melakukan tindakan kompensasi (代償行為 /
daishou koui), ya."
Yang dimaksud dengan tindakan kompensasi
adalah sebuah tindakan untuk memenuhi keinginan dengan cara lain di saat
keinginan utamanya tidak bisa terpenuhi.
"Namun, hal itu sekarang sudah tidak
diperlukan lagi. Setelah mengobrol bersama Yuika-san, aku memutuskan untuk
mulai membuat tongkat sihir mulai sekarang."
Tampaknya setelah melihat dan menyentuh
berbagai macam jenis tongkat sihir buatan Yuika, gairah di dalam dirinya
tersulut karena ingin membuat benda yang seperti itu juga.
"Yuika-san, hari ini benar-benar
terima kasih banyak."
"Aku pun sangat senang bisa menjadi
lebih dekat dengan Lena-sama yang kukagumi. Apakah mulai sekarang kita bisa
terus berhubungan baik?"
"Tentu saja. Sebagai sesama pencinta
pembuatan tongkat sihir, mohon bantuannya mulai sekarang, ya."
Mereka benar-benar sudah satu pemikiran.
Aku lega karena Lena kini sudah bisa menghadapi hal yang disukainya dengan
perasaan yang jujur.
"Kalau begitu, aku permisi
dulu."
"Hati-hati di jalan, ya!"
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu
sampai ke jalan besar."
Yuika dan Lena saling melambaikan tangan
untuk berpisah, tampak sangat berat untuk saling merelakan kepergian satu sama
lain dari lubuk hati mereka yang paling dalam.
Aku mengantarkan Lena sampai ke jalan
besar. Kami berdua berbicara sambil berjalan berdampingan.
"Zeit-kun. Hari ini benar-benar
terima kasih banyak. Berkat dirimu, sesuatu yang mengganjal bagaikan duri yang
tertancap di dalam hatiku sejak masih kecil akhirnya bisa tercabut. Membuat
tongkat sihir bukanlah hobi yang memalukan. Aku benar-benar menjadi bisa
berpikir bahwa ini adalah hobi yang patut dibanggakan. Aku pasti ingin mencoba
membuat tongkat sihir lagi."
"Meskipun sebelumnya kamu bilang
tidak akan pernah membuat tongkat sihir lagi, aku lega karena cerita Yuika bisa
menjadi referensi yang bagus untukmu."
"Menjadi orang yang keras kepala itu
memang tidak baik, ya. Seseorang harus menjadi lebih fleksibel."
Tidak disangka Lena yang biasanya sangat
serius dan kaku bisa mengatakan hal seperti ini.
Bukan hanya menyulut gairah terhadap
pembuatan tongkat sihir saja, tetapi bahkan sampai membuat cara berpikirnya
berubah, Yuika benar-benar hebat.
"Ini semua adalah berkat Zeit-kun.
Terima kasih banyak."
"Nggak, aku tidak melakukan hal yang
seberapa, kok. Ini semua adalah hal yang dilakukan oleh adikku."
"Bukan begitu. Zeit-kun sudah
menerima kekhawatiranku dengan sangat baik, dan mendampingi isi hatiku. Karena
itulah pemikiran untuk mempertemukanku dengan Yuika-san bisa terlahir, dan aku
pun menjadi bersedia menerima usulan dari Zeit-kun dengan jujur."
"Kalau soal itu…… yah, mungkin
memang bisa dibilang begitu, sih."
Benar. Hal yang kupelajari selama
memainkan “Magi-Ama”.
Seorang heroin yang memiliki rasa
keadilan terlalu tinggi, sangat serius, berpendirian kuat, dan keren, cenderung
dijauhi oleh orang-orang.
Karena itulah bagi Lena,
"menghormati, serta bersimpati dengan tulus terhadap cara berpikir dan
tindakannya" adalah hal yang penting.
Dengan mendampinginya seperti itu, rasa
percaya maupun perasaan suka darinya bisa didapatkan.
Namun, aku sama sekali tidak berpikir
untuk menjatuhkan hati heroin menggunakan sebuah teknik. Aku murni hanya merasa
cemas terhadap Lena yang ada di depan mataku, dan dari lubuk hati yang paling
dalam murni hanya berpikir ingin menjadi kekuatannya serta ingin membuat
dirinya bahagia.
"Terlebih lagi, Zeit-kun sudah
mengatakan bahwa 'mengenai tetap menyukai apa yang kita sukai, tidak perlu ada
rasa segan terhadap siapa pun'. Kalimat itu benar-benar menggetarkan
hatiku."
Lena yang menundukkan matanya dengan
wajah yang merona sewarna merah muda terlihat sangat imut.
"Aku sempat berpikir…… jangan-jangan
Zeit-kun juga pernah memiliki pengalaman yang mirip seperti itu, ya."
"Ah, ya, begitulah."
"Jika tidak keberatan, maukah kamu
menceritakannya kepadaku?"
"Nggak, ceritaku sama sekali tidak
semenarik itu, kok."
Bukan hanya tidak menarik saja, tetapi
karena ini adalah episode yang terlalu menonjolkan sifat otaku, rasanya
memalukan.
Ditambah lagi pengalamanku ini bukan
terjadi di dunia yang sebelah sini, melainkan terjadi di dunia nyata.
"Aku ingin mengetahui tentang
Zeit-kun dengan lebih banyak lagi."
Tolong jangan menatapku dengan mata yang
berkaca-kaca seperti itu.
Karena aku bisa jadi tidak akan bisa
menolak permohonanmu nanti.
"Baiklah kalau begitu."
Demi Lena, aku memantapkan hati untuk
menceritakan pengalamanku sendiri.
***
Kejadian itu terjadi sekitar satu tahun
yang lalu, saat semester pertama di kelas 1 tingkat atas. Itu adalah masa-masa
di mana aku baru saja mulai memainkan “Magi-Ama”.
Akibat hal sepele, terjadi salah paham
dengan teman sekelas, hingga berujung pada pertengkaran di dalam kelas. Jika
dibiarkan begitu saja, hubungan dengannya akan menjadi canggung. Murid-murid di
sekeliling pun memancarkan atmosfer yang menganggap daku sebagai pihak yang
bersalah.
Karena terlalu mengkhawatirkannya,
rasanya aku sampai mual. Namun, keberanian untuk meminta maaf dengan jujur
tidak kunjung keluar.
Meskipun ingin berkonsultasi dengan teman
seangkatan yang lain, aku merasa diriku justru akan disalahkan, hingga aku
tidak memiliki gairah untuk menceritakannya kepada siapa pun.
"……Seperti dugaan, aku memang orang
tidak berguna yang hanya bisa
melarikan diri saja."
Sambil menelungkupkan tubuh di atas meja
di dalam kamarku sendiri, dadaku terasa sesak karena rasa payah yang teramat
sangat.
Malam hari beberapa setelah pertengkaran
dengan teman sekelas
terjadi. Karena aku tidak ingin
memikirkan apa pun, aku menyalakan
*Magi-Ama*.
Setelah memainkannya untuk beberapa saat, di dalam layar, seorang heroin dengan
【Tipe Malaikat】
yang ceria dan penuh semangat memberikan cambukan semangat kepadaku.
"Mundur pun menurutku tidak apa-apa,
lho. Tapi hal yang penting adalah apakah kamu akan menyesali pilihan itu atau
tidak, kan. Menurutku bagian itulah yang krusial."
Sesaat, aku merasa seolah waktu sempat
berhenti berputar.
Nggak, ini kan hanya sebatas dialog game
belaka. Tidak mungkin dia memahami penderitaanku di dunia nyata.
"……Dihibur oleh karakter game itu
benar-benar seperti orang bodoh
saja. Ahahaha."
Namun, kata-kata itu tertancap jauh ke
dalam lubuk hatiku, membuat sudut mataku menjadi panas. Jika terus begini, aku
akan menyesal.
Begitulah pikirku.
Padahal tadinya mengira tidak ada satu
orang pun tempat untuk bersandar, tetapi kata-kata heroin di dalam layar telah
menopang diriku.
Meskipun terasa benar-benar seperti orang
bodoh, kata "terima kasih" tanpa sengaja lolos dari bibirku.
Keesokan harinya, aku mengumpulkan
keberanian untuk meminta maaf kepadanya dengan jujur. Lawan bicaraku ternyata
juga bilang bahwa sebenarnya dia ingin meminta maaf, sehingga ganjalan di
antara kami berdua akhirnya bisa sirna.
──Singkatnya,
aku telah diselamatkan oleh “Magi-Ama”
Hari di mana sekitar setengah tahun telah
berlalu setelah kejadian itu.
Sebuah peristiwa yang terjadi pada
semester ketiga di kelas 1.
Kartu ilustrasi karakter ku “Magi-Ama”
yang kupunya terjatuh dari dalam tas, lalu kebetulan dilihat oleh murid
laki-laki lain di kelas.
Keparat itu melontarkannya dengan nada
mencela, "Dasar otaku, menjijikkan."
Dibilang menjijikkan secara langsung di
depan muka oleh teman sekelas di dunia nyata itu rasanya memang berat. Aku
benar-benar dibuat jatuh mental.
Khusus untuk saat ini, aku sempat
merenungkannya dengan cukup serius apakah aku harus menghentikan hobi galge ini
atau tidak.
Pada hari itu, kepada pelayan toko yang
sudah familier di toko khusus anime tempatku membeli light novel, tanpa sengaja
aku menceritakan kejadian tersebut.
Dia berkata begini.
"Sebenarnya saat masih sekolah dulu,
aku juga sempat dikucilkan oleh
sekeliling karena terlalu menyukai anime,
lho. Tapi berkat adanya hal yang kusukai, aku bisa melewati masa-masa yang
berat. Melepaskan hal yang sangat kamu sukai itu sama saja dengan menyangkal
dirimu sendiri, lho."
Aku teringat kembali tentang diriku yang
diselamatkan oleh dialog heroin saat sedang mengalami hal yang berat, serta
fakta bahwa saat sedang jenuh aku bisa mengalihkan perhatian dan melewatinya
dengan cara tenggelam ke dalam game.
Pada saat itu aku memantapkan hati untuk
"menghargai hal yang kusukai". Aku tidak lagi memelihara keraguan.
***
Ah, tentu saja hal mengenai “Magi-Ama”
tidak bisa kukatakan secara gamblang di dunia ini. Karena itu, aku
menjelaskannya dengan menggantinya menjadi "novel yang memunculkan
gadis-gadis imut" yang juga eksis di dunia ini.
Di dunia ini, buku-buku rumit yang
diletakkan di perpustakaan dianggap sebagai hal yang bernilai tinggi, sedangkan
novel yang memunculkan gadis-gadis imut dianggap sebagai hobi otaku. Jika di
dunia nyata, citranya mirip seperti komedi romantis (romcom), ya.
Saat mengatakan bahwa aku membaca novel
seperti itu, aku sempat memelihara sedikit rasa cemas kalau aku akan dianggap
menjijikkan, tetapi untungnya Lena sama sekali tidak menunjukkan gelagat
seperti itu.
"Begitu, ya. Setelah mendengar
cerita itu, keinginan di dalam hatiku untuk semakin menghargai kata-kata dari
Zeit-kun mengenai 'mengenai tetap menyukai apa yang kita sukai, tidak perlu ada
rasa segan terhadap siapa pun' menjadi semakin kuat. Terima kasih banyak."
Aku lega karena isi hatiku bisa
tersampaikan kepada Lena. Meskipun tadinya mengira ini adalah cerita yang
memalukan, tetapi benar-benar pilihan yang bagus karena aku sudah memantapkan
hati untuk menceritakannya.
"Zeit-kun. Seperti dugaan, kamu
adalah yang terbaik. Kamu adalah pahlawan super (superhero) yang telah
menyelamatkan hatiku."
"Nggak, itu terlalu
berlebihan."
"Tidak, ini sama sekali tidak
berlebihan, kok. Bagiku kamu benar-benar seorang pahlawan super."
Lena menggerak-gerakkan tubuhnya dengan
salah tingkah karena malu.
Berbeda dengan sosoknya yang biasanya
selalu terlalu tegas, Lena yang tampak malu-malu terlihat sangat imut.
Jika dia bisa menunjukkan sosok yang
seperti ini saat di akademi juga, orang ini pasti akan menjadi lebih dicintai
oleh semua orang, ya.
──Benar
juga. Di dalam game asli, heroin dengan 【Tipe
Putri yang Agung】 baru akan menunjukkan sikap yang lembut kepada
semua orang setelah dirinya dipenuhi oleh cinta yang besar dari protagonis.
Sebagai hasilnya, dia diterima dengan
hangat oleh sekelilingnya, membuat tingkat kebahagiaannya mendapatkan nilai
plus yang besar.
Diriku yang sekarang bukan merupakan
protagonis, jadi memenuhi
dirinya dengan cinta adalah hal yang
mustahil. Namun jika berbicara dengan ketulusan, siapa tahu hal itu bisa
dipahami olehnya.
"Anu, Lena."
"Ya?"
"Meskipun ini mungkin terkesan ikut
campur, sih…… bagaimana jika cara berinteraksimu dengan orang-orang juga dibuat
menjadi sedikit lebih fleksibel. Alih-alih terlalu serius, maksudku cobalah
untuk melepaskan beban di bahu, atau jangan terlalu terbebani. Dan kemudian,
keluarkan perasaan lembut yang didekap oleh Lena secara jujur dengan kata-kata.
Jika melakukannya, semua orang pasti bisa berinteraksi dengan Lena secara lebih
santai, dan menurutku hal itu juga akan membuat hati Lena menjadi lebih lapang.
Ditambah lagi……"
"Ditambah lagi?"
"Ditambah lagi, Lena yang memasang
ekspresi lembut seperti yang sekarang ini terlihat sangat imut, lho. Karena
itulah aku benar-benar ingin kamu melakukannya."
"Eeeh!?"
"Ah, maaf. Aku malah mengatakan hal
yang tidak-tidak. Menjijikkan ya, maaf."
Fakta bahwa aku menganggap Lena imut itu
memang nyata benar.
Namun, hal seperti itu biasanya tidak
akan pernah bisa kuucapkan dengan kata-kata. Namun apakah karena tempat ini
adalah dunia game, kata-kata tersebut mengalir keluar begitu saja dari mulutku
dengan lancar.
Gawat, nih. Pria yang mendadak mengatakan
kata imut seperti ini, pasti akan langsung dibenci karena dianggap sebagai pria
yang gampang merayu.
"T-T-Tidak apa-apa, kok……
uuuugh."
Dalam tingkat yang belum pernah kulihat
sampai sekarang, Lena menggeleng-gelengkan wajahnya ke kiri dan ke kanan dengan
teramat panik dan sibuk.
Ini…… rasanya berbeda dengan jenis
kebencian, ya.
Pada saat itu, seluruh tubuh Lena
mendadak bersinar dengan cahaya berwarna merah muda samar.
"Ahhaakh……"
Lena mengeluarkan helaan napas yang
terdermat sayu. Wajahnya yang memerah tampak memancarkan ekspresi yang terbuai.
Seksi sekali.
Gawat, nih.
Fenomena
ini kembali terjadi. Apakah benda ini memang nyata merupakan khasiat dari 《Love
Energy》 yang asli.
Tepat pada saat itu, entah dari mana
terdengar suara mekanis.
『Status Haruto Zeit 【Pesona
(Charm)】 telah meningkat dari level 1 ke level 2.』
Ooooh. Meskipun di dalam dunia game,
mengetahui bahwa pesonaku kembali meningkat tetap saja membuatku senang.
Jika di dunia nyata pesonaku juga bisa
meningkat seperti ini, alangkah bagusnya, ya. Yah, mana mungkin segalanya bisa
berjalan seberuntung itu, sih.
"Zeit-kun. Cukup sampai di sini saja
tidak apa-apa, kok. Terima kasih banyak."
Setelah berjalan bersama untuk beberapa
saat dan keluar di jalan besar, Lena yang sudah mengembalikan ketenangannya
mengatakan hal tersebut.
"Iya. Kalau begitu hati-hati di
jalan saat pulang, ya."
"Baik. Kalau begitu sampai jumpa
besok di sekolah."
"Iya, di sekolah."
"Mulai besok, aku akan berusaha
untuk mengingat nasihat yang sudah diberikan oleh Zeit-kun, ya."
Aslinya aku bukanlah berada di posisi
yang pantas untuk memberikan pendapat sok mengatur kepada seorang heroin yang
merupakan bunga di puncak gunung. Aku kan hanya Zeit si karakter orang yang
dibenci da merupakan karakter figuran
belaka.
Namun, aku ingin agar semua orang
mengetahui sisi baik yang dimiliki oleh Lena. Dan aku ingin agar dia diterima
oleh semua orang hingga tingkat kebahagiaan Lena bisa meningkat. Hanya demi
satu tujuan itulah, tanpa sengaja aku malah mengatakan hal seperti itu tadi.
"Maaf karena sudah mengatakan hal
yang sok mengatur."
"Tidak, tolong jangan meminta maaf.
Perasaan hangat dari Zeit-kun sudah tersampaikan kepadaku, dan menurutku apa
yang kamu katakan itu memang nyata benar."
Aku lega karena tampaknya isi hatiku
sudah tersampaikan dengan baik.
"Sebelumnya saat Zeit-kun bilang
bahwa akan lebih baik jika aku mengeluarkan perasaan lembut kepada orang lain
secara jujur dengan kata-kata, aku sempat membalas bahwa aku tidak bisa
melakukannya, kan."
Kejadian seperti itu memang nyata pernah
ada. Saat itu aku ditolak, dan berpikir bahwa diperlukan waktu sampai Lena bisa
melakukannya.
"Namun berkat Zeit-kun, sekarang aku
bisa mengatakannya. Keadilan maupun sikap yang tegas memang merupakan hal yang
penting, tetapi aku belajar darimu bahwa ada hal yang jauh lebih penting
daripada hal itu. Karena itulah mulai sekarang, aku akan lebih banyak
mengeluarkan perasaan jujurku."
Syukurlah. Akhirnya Lena sudah bisa
mengeluarkan isi hatinya yang jujur di hadapan orang lain secara alami.
Aku merasa sangat, sangat gembira, hingga
menatap wajah Lena dengan perasaan yang hangat.
"Kalau begitu sampai jumpa
besok."
Sambil melambaikan tangan, Lena mulai
memindahkan kakinya untuk
berjalan. Punggungnya yang berjalan
menjauh entah mengapa terasa ringan, bahkan terlihat seperti sedang
melompat-lompat kecil (skip).
Mendengarkan cerita dari orang yang
memiliki visi yang sama memang merupakan hal yang paling bisa memicu lahirnya
motivasi, ya. Mempertemukan Lena dengan Yuika adalah sebuah pilihan yang
teramat tepat.
***
"Aku pulang. Yuika, terima kasih
untuk hari ini, ya."
Begitu kembali ke rumah, kalimat pertama
yang kulontarkan adalah ucapan terima kasih kepada Yuika. Kepada adikku, aku
benar-benar hanya memelihara rasa terima kasih saja.
"Selamat datang kembali. Aku juga
ingin mengucapkan terima kasih karena hari ini kamu sudah membawa Lena-sama
kemari."
"Bisa didengar ucapan terima kasih
secara jujur dari Yuika membuatku senang, lho."
"Hah? Nggak, anu…… jangan melonjak
kegirangan begitu, dong, padahal cuma seorang Kakak."
Adikku. Sifat ketusmu tetap tidak
berubah, ya.
"Apa-apaan sih, padahal cuma seorang
Kakak, katanya."
"Yah, aku mau memberikan pengakuan
kepadamu sedikit, sih."
Adikku. Kamu mau memberikan pengakuan
kepadaku sedikit, ya.
Kakakmu
ini merasa senang, lho. Namun, aku terhadap dirimu akan──
"Aku sangat mengakui kemampuan milik
Yuika, lho. Kamu hebat."
"K-Kakak mendadak mengatakan hal
seperti itu benar-benar hal yang tidak biasa, kan?"
"Iya. Karena diriku yang sampai
sekarang tidak bisa bersikap jujur, kan. Karena itulah aku tidak bisa mengakui
hobi milik Yuika dengan benar, tetapi mulai sekarang berbeda. Aku sudah
mengakuinya dengan benar, kok."
"Be…… begitu, ya."
Yuika memalingkan wajahnya secara
sepihak. Apakah aku membuatnya marah?
Padahal sampai beberapa waktu lalu aku
benar-benar dibenci oleh
adikku sendiri, sih.
Namun karena aku bisa berhubungan baik
dengan Lena, reputasiku di matanya sepertinya sudah meningkat, jadi ke depannya
mari kita perbaiki hubungan ini secara perlahan saja.
***
Keesokan paginya. Hal itu terjadi setelah
aku tiba di sekolah dan berjalan melewati gerbang sekolah. Sosok punggung Lena
yang berjalan di depanku tertangkap oleh mata.
Rambut merah yang berkibar ditiup angin.
Pinggang yang ramping, serta cara berjalan yang anggun sekaligus tegas.
Bagian mana pun dari dirinya jika dilihat
memang nyata terlihat cantik.
Seperti dugaan dari seorang main heroin.
"Selamat pagi, Anhalt-san."
A-Seorang murid laki-laki dengan raut
wajah yang tampak tegang memberikan sapaan kepadanya.
"Iya, selamat pagi! Hari ini
cuacanya bagus, ya."
"Eh? Ah, i-iya. Selamat pagi."
Pembawaan Lena terasa jauh lebih lembut
dibandingkan yang sudah-sudah. Dia pasti benar-benar mempraktikkan hal yang
kukatakan kemarin.
Hal itu tampaknya tersampaikan dengan
teramat cukup kepada murid laki-laki yang menjadi lawan bicaranya, hingga raut
wajahnya yang sampai barusan tampak kaku seketika melunak dengan gembira.
Kali ini, murid lain berganti menyapa
Lena. Seorang murid perempuan adik kelas yang memiliki rambut hitam indah dan
raut wajah yang tampak sedikit kekanak-kanakan.
"Selamat pagi, Lena-sama. Pagi ini
Anda juga terlihat cantik."
Namun, Lena kan tidak menyukai orang yang
melontarkan rayuan manis hanya demi mengambil hatinya, ya.
Mengingat dia adalah gadis yang secantik
itu, lawan bicaranya pun pasti mengatakannya bukan sebagai rayuan belaka, sih.
"Terima kasih banyak. Rambutmu juga
terlihat sangat indah, ya. Menawan sekali."
Lena bersedia menerima rayuan dengan
jujur, maupun memuji
penampilan lawan bicara secara langsung
di depan muka adalah hal yang tidak pernah ada sampai sekarang. Hal itu
dikatakannya dengan nada bicara yang teramat alami, hingga fakta bahwa itu
adalah isi hatinya yang jujur bisa tersampaikan.
"A-Terima kasih banyak!"
Murid perempuan itu melangkah pergi
seraya tersenyum dengan wajah yang memerah pekat.
Melihat situasi Lena yang seperti itu,
suara bisikan dari para murid di sekeliling terdengar bermunculan.
"Bukankah Anhalt-san yang sekarang
terlihat sangat imut tingkat akut?"
"Ouh, aku juga berpikir demikian.
Dia memang nyata selalu sangat cantik, tetapi sekarang terlihat jauh lebih imut
lagi, ya."
Bukan hanya murid laki-laki saja, murid
perempuan pun memberikan respons dengan sensitif.
"Hei, apakah Lena aslinya memelihara
pembawaan yang selembut itu,
ya?"
"Nggak, hari ini dia terlihat sangat
menyenangkan, lho. Sebenarnya apa yang terjadi, ya?"
"Jangan-jangan sedang jatuh
cinta?"
"Tidak mungkin. Mana mungkin
Anhalt-san yang tegas itu……"
"Terlepas dari masalah jatuh cinta
atau bukan, dia sangat menawan. Aku langsung menjadi penggemarnya dalam sekejap
mata."
"Iya, iya. Aku juga."
Baik ekspresi wajah, nada bicara, bahkan
sampai aura yang menyelimuti seluruh tubuhnya pun terasa berbeda dari Lena yang
biasanya, hal itu tampaknya bisa tersampaikan dengan cepat kepada para murid di
sekeliling. Daya tarik yang sebenarnya dari Lena yang lembut telah tersampaikan
kepada semua orang, membuat diriku ikut merasakan perasaan yang teramat puas.
"Ah, Haruto-kun. Selamat pagi!"
"Selamat pagi, Lena. Kamu terlihat
sangat menyenangkan, ya."
"Benarkah? Bisa dibilang begitu oleh
Haruto-kun membuatku senang, lho."
Lena sedikit merona, memancarkan raut
wajah yang tampak teramat
bahagia. Syukurlah.
……Eh, sebentar? Cara panggilnya terhadap
diriku berubah?
"Iya. Reputasi di sekelilingmu juga
sepertinya sangat bagus, jadi syukurlah, ya."
"Mengenai reputasi di sekeliling,
aku tidak memedulikannya, sih."
"Eh?"
"Tidak ada apa-apa, kok. Mari kita
pergi ke kelas, Haruto-kun."
"Anu…… cara panggilmu."
"Iya. Karena sekarang aku sudah bisa
mengeluarkan perasaan dengan jujur, kan. Aku ingin memanggilmu menggunakan nama
depan. Itulah perasaanku yang jujur."
Lena memancarkan senyuman yang teramat
lembut.
Pada dasarnya dia memang memiliki wajah
rupawan, tetapi sekarang dia terlihat sangat imut, hingga daya tariknya
melonjak sampai berkali-kali lipat. Sebuah sosok yang sampai-sampai tanpa sadar
mencuri perhatianku.
"Selamat pagi."
Bahkan setelah melangkah masuk ke dalam
kelas pun, Lena tetap menjaga sikap pembawaannya yang lembut saat berinteraksi
dengan murid-murid di sekeliling.
Para teman sekelas yang pada awalnya
terkejut maupun menunjukkan sikap skeptis, setelah melihat Lena bersikap lembut
dengan cara yang alami, akhirnya menerima perubahan yang terjadi pada dirinya.
Saat jam istirahat tiba, bahkan di tempat
di mana Lena tidak ada pun, topik pembicaraan mengenai dirinya lolos dari mulut
semua orang.
"Anhalt-san, imut banget!"
"Nggak, aku sudah menyadarinya sejak
dulu, kok. Kalau orang itu aslinya memang sangat imut."
"Pintar banget ya kamu cari
muka."
"Dia kan secantik itu. Kalau
pembawaannya menjadi selembut itu, dia bakal jadi yang terkuat."
"Benar banget. Haruru Schatten yang
ceria dan lembut memang menjadi nomor satu yang paling populer di antara murid
laki-laki sampai sekarang, tapi kalau melihat atmosfer yang seperti itu, era
Lena Anhalt akan segera tiba, nih."
Tentu saja di antara mereka, ada beberapa
orang yang masih melihatnya dengan sikap skeptis. Namun, reputasi Lena di mata
sebagian besar teman sekelas sedang melonjak drastis.
Pada dasarnya dia hanya bersikap tegas
kepada diri sendiri maupun orang lain, dan sama sekali bukan orang yang egois.
Hal itu pun sudah dipahami oleh semua orang. Ditambah lagi dengan paras wajah
secantik itu.
Saat atmosfernya berubah menjadi jujur
dan lembut hingga keimutannya meluap-luap, adalah hal yang sewajarnya jika
popularitasnya melonjak drastis.
"Lena. Hari ini kamu terlihat jauh
lebih cantik dari biasanya. Bukan hanya itu, kamu juga sangat imut. Kamu adalah
wanita ideal bagiku. Luar biasa."
Sonne tampaknya juga menyadari perubahan
yang terjadi pada Lena.
Seperti biasa, kalimat pujian manis yang
membuatnya merayu dengan niat yang teramat kentara meluap keluar dari mulutnya.
Mengingat sifat
Lena yang sekarang, dia seharusnya tidak
akan pernah terpikat oleh kalimat rayuan di permukaan seperti itu.
Namun meskipun dibilang begitu, Sonne
adalah karakter protagonis.
Kemungkinan satu dari sepuluh ribu kalau
Lena akan menaruh perasaan suka kepadaku sempat melintasi kepala, membuat rasa
tegang menjalar ke seluruh tubuh.
"Sonne-san, terima kasih
banyak."
"Bagaimana kalau hari libur nanti,
kita pergi keluar bersama. Berduaan saja."
"Ah, mohon maaf Sonne-san. Aku tidak
bisa pergi keluar berduaan bersama pria yang tidak memiliki hubungan kekasih
denganku."
"Kalau begitu bagaimana kalau kita
menjalin hubungan kekasih mulai sekarang……"
"Kalau begitu Sonne-san. Karena aku
harus bersiap-siap untuk pelajaran berikutnya, aku permisi dulu."
Lena beranjak pergi meninggalkan Sonne
begitu saja dengan ketus.
Sonne memasang ekspresi wajah lesu yang
mengenaskan. Setelah melihat Lena yang daya tariknya semakin meningkat,
keinginan di dalam hatinya untuk mendapatkan gadis itu pasti menjadi semakin
tidak bisa ditahan melebihi yang sudah-sudah, ya.
Namun, aku benar-benar lega dari lubuk
hati yang paling dalam karena Lena menolak Sonne tanpa memelihara keraguan
sedikit pun.
***
Seluruh pelajaran hari ini telah usai.
Untuk saat ini, mari kita pulang ke rumah terlebih dahulu lalu melaporkan
kejadian hari ini kepada Yuika, deh.
Jika mengetahui bahwa Lena menjadi jauh
lebih populer dari yang sudah-sudah, adikku pasti akan merasa gembira.
Saat keluar dari kelas dan berada di luar
gedung sekolah, aku melihat Lena sedang disapa oleh seorang murid laki-laki.
Kemudian mereka berdua berjalan bersama menuju ke suatu tempat.
Karena penasaran, aku melangkah mengikuti
mereka dari belakang, and mendapati mereka berdua pergi menuju halaman tengah
belakang gedung sekolah. Ada apa, ya.
Sambil menyembunyikan tubuh di balik
bayang-bayang gedung sekolah untuk mengintip, aku menyaksikan sebuah adegan
yang teramat mengejutkan.
"Lena-san, aku menyukaimu! Tolong
jadilah pacarku!"
Uwah, dia sedang ditembak! Terlebih lagi
lawan bicaranya adalah pemuda tampan yang menyegarkan, tipe atletis dengan
proporsi tubuh yang bagus yang mana sudah pasti merupakan tipe pria yang
populer.
"Terima kasih banyak."
"……Kalau begitu artinya, oke?"
Pada aslinya, menjalin hubungan kekasih
bersama protagonis bernama Sonne adalah rute jalur utama yang semestinya bagi
Lena yang merupakan seorang heroin. Namun, keparat itu sudah terbukti merupakan
orang yang tidak keruan. Kalau begitu, bersama dengan siapa Lena harus menjalin
hubungan kekasih agar bisa mendapatkan kebahagiaan.
Aku ingin membuat Lena bahagia. Namun,
hal itu tidak sama dengan arti bahwa Lena harus menjalin hubungan kekasih
bersamaku. Aku kan hanya karakter figuran, bukan pemuda tampan ataupun pria
dengan spesifikasi tinggi. Karena itulah aku tidak berada di posisi yang
seperti itu.
Namun meski bukan sebagai kekasih, hal
yang bisa kulakukan demi kebahagiaannya masih ada sangat banyak.
Kalau begitu, Lena cukup menjalin
hubungan kekasih bersama pria dengan spesifikasi tinggi yang jauh lebih memikat
daripada Zeit saja demi mendapatkan kebahagiaan.
Dalam arti seperti itu, pria menawan
seperti dirinya adalah sosok yang tepat.
"Tidak. Aku sangat menghargai
perasaanmu, tetapi aku tidak bisa
menjalin hubungan kekasih denganmu. Mohon
maaf."
──Eh?
Dia menolaknya? Kenapa?
"A-Ah, begitu ya, aku paham. Terima
kasih karena sudah bersedia mendengarkan pernyataan cintaku dengan benar,
ya."
Meskipun dibilang begitu, Lena adalah
bunga di puncak gunung. Pria itu pergi meninggalkan tempat dengan wajah yang
tampak segar, persis seperti seorang atlet yang sudah mengerahkan kemampuan
terbaiknya namun tetap menerima kekalahan.
Saat Lena sedang berjalan menuju gerbang
utama, seorang pemuda tampan yang lain kembali menyapa dirinya. Kali ini adalah
tipe intelektual dengan raut wajah yang rupawan. Dia sedang menyatakan cinta
kepada Lena dengan wajah yang tampak gugup.
Begitu, ya. Dibandingkan tipe atletis
yang tadi, Lena pasti lebih menyukai pria tipe intelektual seperti ini. Kali
ini dia pasti akan menerimanya.
──Meskipun
sempat berpikir demikian, Lena membungkukkan kepalanya dengan wajah yang tampak
penuh penyesalan. Pria intelektual itu berjalan lunglai lalu pergi dengan
langkah kaki yang gontai.
Ah, Lena kembali menolaknya lagi. Sayang
sekali…… mau pun berpikir demikian, itu kan hanya pemikiran dari cowok yang
tidak populer saja, sih.
Lena yang pembawaannya menjadi lebih
mudah didekati and menjadi teramat populer, mulai sekarang pasti akan didekati
and dihujani pernyataan cinta oleh banyak pria yang jauh lebih menawan lagi
dari berbagai penjuru. Dia tidak perlu terburu-buru untuk menentukan pilihan
kekasihnya. Singkatnya, masalahnya adalah seperti itu.
"Ah, Haruto-kun!"
Mendadak Lena menyadari keberadaanku,
lalu melangkah mendekat.
Sebuah rasa canggung karena ketahuan
sedang mengintip. Berkat adanya keinginan untuk mengalihkan hal tersebut, tanpa
sengaja aku malah berbicara dengan terlalu banyak.
"Hebat ya, Lena. Kamu sangat
populer, lho. Tapi menurutku, kamu pasti akan menjadi jauh lebih populer lagi
di antara para murid laki-laki ke depannya."
"Terima kasih banyak. Tapi, aku sama
sekali tidak merasa gembira meskipun menjadi populer di antara banyak pria,
sih."
"Apakah begitu?"
Sama sekali tidak menjadi besar kepala
meskipun sepopuler ini, seperti dugaan dari seorang Lena.
"Iya. Jika itu dari orang yang
kusukai, aku tentu saja berpikir ingin dicintai olehnya, sih."
"Eh? Apakah orang yang kamu sukai……
sudah ada?"
"Fuakh…… ti-tidak. Bu-Bukan begitu
maksudnya, lho. Aku murni hanya ingin mengatakan kalau diriku ini adalah tipe
orang yang setia, begitu."
Lena memajukan mulutnya, lalu memalingkan
wajahnya secara sepihak.
Gawat. Pertanyaanku yang ceroboh
sepertinya membuat dia menjadi marah.
"Setia, ya…… bagus sekali."
"Tentu saja!"
Mendengar kata-kataku, entah kenapa Lena
memancarkan senyuman lebar di wajahnya, lalu kembali mengarahkan wajahnya ke
arah sini.
Gadis yang sampai barusan tampak marah
sekarang sudah tersenyum kembali. Jangan-jangan Lena aslinya merupakan tipe
orang yang memiliki perasaan yang teramat kaya, ya.
Meskipun di permukaan tidak terlihat
seperti itu, isi hati perempuan memang sulit dipahami.
"Kalau begitu, karena aku harus
pergi menyiram tanaman di bak bunga belakang gedung sekolah, aku permisi dulu.
……Ah, benar juga. Karena ada barang yang ingin kuberikan kepadamu, aku akan
memberikannya besok, ya."
"Ah, iya."
Lena berbalik lalu melangkah pergi dengan
langkah kaki yang ringan.
Punggungnya yang ramping dan memiliki
kaki jenjang terlihat sangat
cantik.
Namun
meski begitu, kira-kira barang yang ingin diberikannya itu apa──sambil
memikirkan hal itu, mendadak aku merasakan adanya pandangan mata dari arah
belakang.
Saat berbalik menghadap ke arah belakang,
dari posisi yang agak menjauh, Sonne sedang melotot ke arah sini dengan raut
wajah yang menyerupai iblis. Fakta bahwa dia sedang cemburu melihat diriku
berhubungan baik dengan Lena terlihat sangat jelas.
Begitu matanya bertemu denganku, Sonne
terburu-buru pergi meninggalkan tempat itu.
Kuharap dia tidak sedang merencanakan
suatu siasat buruk yang aneh…… aku masih tidak boleh menurunkan kewaspadaan
terhadap keparat itu.
Namun
meski begitu──Lena sudah berhasil menyelesaikan trauma terhadap hobinya, and
hubungan pertemanan di akademi pun menjadi lebih baik. Meskipun angkanya tidak
bisa kupastikan secara nyata, berdasarkan pengalaman memainkan game, 【Tingkat
Kebahagiaan】 milik Lena seharusnya sudah meningkat dengan
cukup tinggi. Karena melihat heroin menjadi bahagia adalah kebahagiaan terbesar
bagiku, aku merasa sangat gembira.
──Kalau
dipikir-pikir, Nijouin Rena di dunia nyata pun bersikap kaku dengan berkata
"tidak akan pernah menggambar ilustrasi lagi".
Fakta bahwa Lena bisa melampaui traumanya
berkat mengobrol bersama orang yang memiliki visi yang sama, bisa menjadi
sebuah petunjuk yang besar. Berikutnya, aku ingin menyelamatkan Rena yang ada
di dunia nyata juga.
Sama seperti gairah terhadap hobi yang
sudah kembali ke dalam diri
Lena, aku ingin hal yang sama juga
terjadi pada Rena. Sama seperti Lena, aku ingin mengembalikan senyuman milik
Rena kembali.
Namun, adik kandungku di dunia nyata
hobinya bukanlah menggambar ilustrasi. Dan aku memiliki kecemasan sosial,
hingga temanku hampir tidak ada. Umu…… bagaimana, ya.
Sebenarnya, aku memikirkan satu orang
ilustrator yang kukenal. Namun orang itu adalah seorang profesional yang sampai
dijuluki sebagai ilustrator dewa. Terlebih lagi, hubunganku dengannya hanya
sebatas terhubung di media sosial saja, and bukan merupakan kenalan di dunia
nyata.
Terhadap seorang profesional, meminta
agar dirinya membicarakan masalah ilustrasi kepada orang awam yang belum pernah
ditemuinya secara langsung secara mendadak seperti itu, bukankah merupakan
tindakan yang teramat tidak sopan. Namun karena kenalan lain yang menggambar
ilustrasi tidak ada…… sebenarnya apa yang harus
kulakukan.
Nggak, terus-menerus memelihara
kekhawatiran seorang diri seperti ini pun tidak akan mengubah apa pun. Hal yang
krusial adalah mengambil tindakan, hal itu sudah kupelajari dari pengalaman di
dunia game ini. Pokoknya mari kita coba meminta bantuan kepada orang tersebut.
Jika ditolak, aku akan merelakannya dengan menganggap hal itu mau bagaimana
lagi.
Aku membatalkan niat untuk pulang ke
rumah yang ada di dunia ini, dan memutuskan untuk kembali ke dunia nyata untuk
sementara waktu demi menyelamatkan Rena.
Begitu pergi ke hutan belukar and menarik
pintu kuil kecil menggunakan kedua tangan untuk membukanya, cahaya yang
menyilaukan meluap keluar dari balik pintu. Mataku silau, dan aku merasakan
sensasi seolah-olah diriku tersedot ke dalam kuil kecil tersebut.
Previous Chapter | ToC | Next Chapter



Post a Comment