NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Fantasy Sekai de Akuyaku na no ni Heroin-tachi ni Sukare tara Genjitsu Sekai demo Harem ni Natta Volume 1 Chapter 5

Bab 5: Orang yang Mendengki Haruto


===========================

Siapa sih sebenarnya pria itu, Haruto Zeit?

 

Padahal sampai baru-baru ini dia cuma seorang berandalan yang dibenci semua orang, tapi kenapa mendadak dia bisa akrab dengan Lena?

 

Dia tiba-kira berlagak seperti murid teladan, itu benar-benar terlalu mencurigakan. Aku tidak suka dengan pria itu.

 

Menyebalkan.

 

Lena pasti sedang ditipu oleh keparat itu. Aku akan menjauhkan pria itu dari Lena.

 

Ini semua demi kebaikan Lena, lho.

===========================

 

***

 

Sebelum berpisah tempo hari, Lena Anhalt sempat berkata, "Ada barang yang ingin kuberikan besok." Kira-kira apa, ya. Rasanya aku penasaran setengah mati. Selain itu, aku juga kepikiran tentang Sonne yang memancarkan raut wajah dilesat rasa cemburu saat melihatku sedang berduaan bersama Lena.

Karena itulah, tepat setelah pulang ke rumah dari sekolah, aku memutuskan untuk pergi ke dunia “Magi-Ama” lagi.

 

Begitu menyalakan mesin game, tampilan layar yang biasa langsung memunculkan diri. Aku memilih “SAVE DATA”, memasukkan kata sandi, lalu seketika pandanganku menjadi kabur seiring dengan layarnya yang bersinar menyilaukan.

 

◆◆◆

 

Aku berhasil kembali ke dunia game dengan selamat.

 

Pada sesi sebelumnya, Lena ditembak oleh berbagai macam murid laki-laki, dan dia menolak semuanya tanpa sisa, ya. Kemudian aku kembali ke dunia nyata tepat saat berpisah dengan Lena karena dia harus pergi menyiram tanaman di bak bunga belakang gedung sekolah.

 

Singkatnya, diriku yang sekarang telah kembali ke Akademi Magia pada titik waktu tersebut, yaitu saat jam pulang sekolah. Percuma saja jika tetap berada di sekolah yang sudah tidak ada orangnya. Untuk sementara, aku memilih pulang ke rumah.

 

***

 

Keesokan paginya. Setelah tiba di sekolah, aku membuka pintu ruang kelas.

 

Lena yang sedang duduk di bangkunya sendiri dengan jeli langsung menemukan keberadaanku, lalu dia melangkah mendekat dengan cepat seolah-olah sudah menantiku sejak lama.

 

"Selamat pagi, Haruto-kun."

 

"Ah, iya. Selamat pagi."

 

Karena tidak menyangka kalau aku akan mendadak disapa di dalam kelas, aku sempat dibuat tertegun.

 

"Bisakah luangkan waktu sebentar?"

 

"Ah, iya."

 

Lena berjalan di depan memandu jalan menuju koridor. Aku melangkah mengikutinya sambil memandangi rambut merahnya dari arah belakang.

 

"Barang yang ingin kuberikan adalah benda ini. Karena rasanya memalukan jika memberikan benda ini di hadapan semua teman sekelas, mohon maaf karena sudah memanggilmu sampai ke tempat seperti ini, ya."

 

Benda yang disodorkannya secara takzim menggunakan kedua tangan di bordes tangga adalah sebuah jimat berukuran kecil.

 

"Ini buatan tanganku sendiri. Meskipun kemampuanku masih belum mahir, tetapi aku sudah memasang sihir perlindungan di dalamnya, lho."

 

"Eh? Kenapa jimat?"

 

"Sebab, bukankah pelajaran praktik nyata berupa pembasmian monster akhirnya akan dimulai minggu depan, kan. Karena itulah aku membuatnya."

 

Praktik nyata pembasmian monster? Kalau dipikir-pikir, di dalam “Magi-Ama” memang nyata ada kejadian khusus yang seperti itu, ya.

 

Sebuah pelajaran di mana murid masuk ke dalam dungeon untuk melakukan pembasmian monster.

 

Sebuah kejadian khusus di mana pemain maupun heroin bisa mengumpulkan poin pengalaman demi meningkatkan kekuatan sihir mereka. Ternyata hal itu akan dimulai minggu depan, ya.

 

Meskipun murid hanya akan berhadapan dengan monster lemah di area yang tidak memiliki risiko bahaya, tetapi diriku sendiri tentu saja belum pernah melihat monster asli sepanjang hidupku. Aku mencoba membayangkan monster asli memunculkan diri di depan mataku.

 

……Nggak, hal itu sudah pasti menakutkan, kan!

 

"B-Benar juga, ya. Tapi kenapa kamu memberikan jimat ini kepadaku?"

 

"Agar Haruto-kun tidak terluka, lho. Aku benar-benar ingin kamu menerimanya."

 

Dia mengucapkan hal yang patut disyukuri. Lena entah mengapa ternyata merupakan tipe orang yang tulus, ya. Nggak, tindakan ini justru bisa tercipta karena belakangan ini dia sedang berjuang keras untuk mengeluarkan sisi lembutnya kepada orang lain secara jujur.

 

"Ah, boleh juga tuh. Buatkan satu untukku juga, dong."

 

Dunkel Sonne yang kebetulan sedang lewat mendadak mengatakan hal seperti itu.

 

Nggak, alih-alih kebetulan lewat, dia mungkin sengaja berpura-pura demi bisa mengintip situasiku bersama Lena, sih.

 

"Tidak mau."

 

Dia ditolak dalam sekejap mata.

 

"Tapi kalau aku terluka, kamu pasti akan kesulitan, kan?"

 

"Aku tidak akan merasa kesulitan, kok. Walaupun aku akan merasa kasihan, sih."

 

Ketus sekali, ya.

 

"Kalau begitu buatkan jimat untukku juga, dong."

 

"Tidak mau. Tolong berhati-hatilah sendiri agar tidak terluka."

 

Pembawaan sikap dingin yang keren dan tanpa ekspresi. Ini adalah sosok Lena yang tegas seperti biasanya.

 

"Uguuu…… keparat."

 

Sambil memasang raut wajah yang masam, Sonne berjalan kembali menuju kelas.

 

"Aku merasa tidak enak karena hanya diriku saja yang dibuatkan jimat,

nih."

 

"Tidak apa-apa, kok. Karena Haruto-kun itu spesial♡"

 

Entah mengapa aku merasa bagian akhir kalimatnya melantun dengan imut. Entah ke mana perginya raut wajah dingin yang diperlihatkannya kepada Sonne yang tadi. Lena sedang tersenyum dengan lembut.

 

Begitu kami berdua kembali ke kelas, Sonne sedang dilesat perkataan oleh Haruru Schatten.

 

"Mohon maaaf! Sebelum meninggal, orang tuaku berwasiat kalau aku tidak boleh membuatkan jimat untuk orang lain, lhooo."

 

"Ugh…… kalau itu merupakan wasiat orang tua, mau bagaimana lagi, ya."

 

Ternyata dia meminta Haruru untuk membuatkan jimat setelah ditolak oleh Lena, ya. Pria yang tidak memelihara pendirian sekali.

 

Namun meski begitu, Sonne yang menelan mentah-mentah alasan penolakan halus milik Haruru itu…… apa dia bodoh?

 

Sambil melirik ke arah mereka dari sudut mata, aku kembali ke bangkuku sendiri──

 

"……Hmm? Apa-apaan ini?"

 

Di dalam laci meja, sebuah amplop putih yang tidak familier tampak dimasukkan di sana. Di bagian permukaannya sama sekali tidak tertulis apa pun. Begitu membuka segel dan melebarkan kertas suratnya, barisan huruf bergerigi yang seolah hendak menyembunyikan gaya tulisan tangan asli tertangkap oleh mataku.

 

*Jangan mendekati Lena. Dari penggemar berat Lena.*

 

──A-Apa-apaan ini!? Ini adalah surat ancaman. Artinya ada orang yang tidak menyukai fakta bahwa diriku dan Lena menjalin hubungan yang akrab, begitu, toh.

 

Tersangka nomor satu adalah Sonne. Namun aku tidak bisa langsung menjatuhkan vonis begitu saja.

 

Kecantikan anggun milik Lena memang nyata berada di tingkat yang teramat menonjol bahkan di lingkungan akademi. Terlebih lagi semenjak atmosfernya berubah menjadi lembut, popularitasnya sedang melonjak drastis. Termasuk para penggemar rahasia, orang-orang yang memelihara kekaguman kepadanya ada sangat banyak tanpa memandang gender pria maupun wanita.

 

Di sisi lain, diriku, alias Haruto Zeit sejak awal adalah karakter yang dibenci.

 

Padahal sampai baru-baru ini Lena sendiri pun bersikap tegas kepada Zeit, tetapi entah mengapa sekarang dia mendadak menjalin interaksi dengan begitu akrab. Bagi para penggemar gadis itu, hal ini sudah pasti memicu lahirnya kemarahan tanpa salah lagi.

 

Namun, ujung tombak serangan ini tidak sedang diarahkan kepada Lena. Mari kita awasi situasinya untuk sementara waktu.

 

Karena Lena pasti akan mencemaskannya, aku memutuskan untuk merahasiakan masalah ini darinya.

 

***

 

Guru wali kelas kami, Kinto-sensei memberikan penjelasan mengenai pelajaran praktik nyata berupa pembasmian monster.

 

Pelaksanaannya adalah 4 hari lagi. Lokasinya berada di sebuah dungeon yang letaknya terhitung dekat dengan akademi.

 

Meskipun dungeon memiliki berbagai macam jenis seperti yang dikelola oleh negara atau yang tidak memiliki pengelola, tetapi lokasi praktik nyata yang akan dilaksanakan kali ini adalah dungeon yang berada di bawah pengelolaan Akademi Sihir Magia.

 

Para murid akan masuk ke dalam dungeon dengan membentuk sepasang tim berisi dua orang, lalu melakukan pembasmian monster menggunakan sihir sambil mengitari rute jalur yang sudah ditentukan.

 

Dungeon ini dihuni oleh banyak monster lemah, di mana jika berada di lantai tingkat pertama konon hanya akan memunculkan kroco yang sama sekali tidak memicu adanya masalah bahkan bagi seorang pemula sekalipun. Karena itulah lokasi ini teramat tepat dijadikan sebagai arena latihan praktik nyata untuk mendidik seorang pengguna sihir.

 

Kinto-sensei berkata bahwa beliau akan menentukan pasangan mulai dari sekarang menggunakan "Sihir Undian".

 

Tampaknya prosedurnya didesain agar dengan menentukan pasangan terlebih dahulu, kami bisa melakukan rapat strategi atau latihan kerja sama berdua sampai hari pelaksanaan tiba, demi memahami sihir andalan satu sama lain serta meningkatkan kerja sama tim.

 

"Sihir Undian…… Membuat sepasang tim berisi dua orang dari seluruh anggota kelas…… ○×Δ……"

 

Guru memejamkan mata sambil merapalkan suatu mantra yang entah mengapa terdengar rumit. Kemudian, beliau mengayunkan tongkat sihirnya sekali. Serta-merta, sebuah angka yang bersinar memunculkan diri di atas kepala masing-masing murid.

 

Nomor 1 merah dan nomor 1 biru. Nomor 2 merah dan nomor 2 biru.

 

Dengan cara seperti ini, nomor yang sama akan saling menjadi pasangan.

 

Sorak-sorai terdengar bermunculan di berbagai penjuru kelas.

 

Ada murid perempuan yang merasa gembira karena bisa berpasangan dengan sesama teman akrabnya. Ada pula sepasang murid laki-laki dan perempuan yang hubungannya bagai anjing dan kucing yang saling melemparkan makian setelah menjadi pasangan. Rasa duka dan suka tampak saling bercampur baur.

 

Sonne terlihat gembira setelah berpasangan dengan Haruru. Di sisi lain, Haruru yang menjadi rekannya tampak tersenyum kecut. Meskipun terasa kasihan, jika itu adalah dia yang merupakan monster kemampuan komunikasi (komunikasi tingkat tinggi) yang bisa menjalin hubungan baik dengan siapa saja, hal itu pasti akan baik-baik saja.

 

Dan kemudian, diriku mendapatkan nomor 15 biru. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas untuk mencari nomor 15 merah.

 

──Mataku saling bertemu dengan Lena yang sedang duduk di bangku yang posisinya agak menjauh. Di atas kepala gadis itu, terdapat nomor 15 merah.

 

Oooh, ternyata pasanganku adalah Lena, toh. Karena di kelas ini hanya dia seorang yang bisa kuajak mengobrol secara akrab, hal ini benar-benar sangat membantu.

"Nah, kalau begitu semuanya. Karena mulai sekarang kalian akan diminta untuk melakukan diskusi berpasangan, silakan bertukar bangku dan duduklah saling berdampingan sesama pasangan, ya!"

 

Mengikuti instruksi dari Kinto-sensei, seluruh murid berdiri seraya membuat suara kursi yang berderit secara serentak, lalu melangkah menuju ke tempat pasangan masing-masing berada.

 

Lena melangkah mendekat ke tempatku, lalu membungkukkan kepalanya seraya memancarkan senyuman.

 

"Haruto-kun. Mohon bantuannya, ya."

 

"Aku juga."

 

Aku berdiri dari dudukku lalu membungkukkan kepala.

 

"……Kyaakh!"

 

Lena menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan lalu mengeluarkan jeritan kecil. Pandangan mata yang mengintip dari sela-sela jarinya sedang tertuju ke arah bagian bawah tubuhku.

 

Entah kenapa bagian bawah tubuhku terasa semilir ditiup angin.

 

"Uwwakh!"

 

Begitu melihat ke arah bawah, kancing depan celanaku ternyata sudah terlepas, membuat celanaku melorot jatuh sampai ke bagian kaki. Celana dalamku terpampang nyata secara penuh di hadapan murid perempuan!

 

Terlebih lagi hari ini, kebetulan aku sedang mengenakan celana dalam berwarna merah pekat, lho. Memalukan sekali tingkat akut!

 

Pandangan mata para teman sekelas yang menyadari jeritan Lena seketika langsung tertuju ke arah sini. Aku terburu-buru menarik celanaku ke atas.

 

Aku mencoba melihat ke sekeliling, tetapi kancing yang terlepas tidak kunjung bisa ditemukan. Mau bagaimana lagi, aku hanya bisa berdiri mematung sambil memegangi celana menggunakan kedua tangan.

 

"Ternyata rumor kalau Zeit punya hobi eksibisionis itu memang nyata benar! Dasar keparat bajingan!"

 

Apa kamu bilang. Seenaknya saja bicara tanpa ada bukti mendasar sedikit pun.

 

Suara itu terdengar datar──benar, sebuah suara yang persis seperti menggunakan pengubah suara (voice changer). Di dunia yang sebelah sini benda sejenis pengubah suara memang tidak ada, tetapi jika itu sihir untuk mengubah suara, hal itu eksis.

 

"Padahal kukira belakangan ini dia sudah menjadi sedikit lebih serius, tetapi ternyata dia tetaplah keparat mesum, ya."

"Meskipun begitu, melakukan eksibisi di dalam kelas, terlebih lagi tepat di hadapan murid perempuan itu benar-benar terlalu gawat, kan."

 

Suara bising bermunculan di dalam kelas.

 

"Nggak, tunggu sebentar. Aku tidak memelihara hobi eksibisionis seperti itu, kok! Ini murni hanya karena kebetulan kancingnya terlepas saja."

 

"Jangan mencari-cari alasan!"

 

"Benar kata mereka, Zeit. Kamu itu adalah pria yang tidak keruan. Mana ada orang yang mau memercayai hal yang seperti itu, sih!"

 

Memang benar kalau Haruto Zeit memiliki sifat yang buruk dan merupakan karakter yang dibenci. Namun, hobi eksibisionis itu tidak ada pada dirinya. Namun meski diriku yang tidak memelihara rasa percaya ini mengatakan hal yang demikian, tidak akan ada satu orang pun yang akan memercayainya. Ini adalah buah dari perbuatan sendiri (karma) akibat tindakan sehari-hari Zeit yang buruk.

 

"A-Ada di sini."

 

Lena mengeluarkan suara. Saat melihat ke arah sumber suara, tanpa memedulikan seragamnya menjadi kotor, dia tampak merundukkan tubuhnya sampai merangkak di lantai demi mencarikan kancing untukku. Dia menatap lekat kancing yang dijepit oleh ujung jarinya.

 

"Lena-san, sebaiknya kamu segera menjauh dari pria mesum itu!"

Di tengah pusaran suara yang memperlakukan diriku sebagai pria mesum, Lena berdiri dari posisinya.

 

"Tolong tunggu sebentar! Haruto-kun bukan orang yang seperti itu. Dirinya yang sekarang adalah orang yang serius dan tulus. Dia bukan orang yang akan melakukan hal aneh."

 

Ruang kelas yang tadinya bising seketika langsung berubah menjadi hening senyap dalam sekejap mata.

 

"Tolong hentikan tindakan meributkan hal yang tidak memiliki bukti seolah-olah hal itu adalah sebuah fakta yang nyata. Memberikan penilaian mutlak terhadap seseorang hanya dari permukaan saja adalah hal yang tidak baik. Terlebih lagi, benda ini……"

 

Lena mengangkat kancing yang berada di tangannya agar bisa dilihat oleh semua orang.

 

"Lubang untuk mengikat kancing menggunakan benang, bentuk potongannya terlihat sangat rapi persis seperti dipotong menggunakan pisau yang tajam. Karena itulah kancingnya menjadi terlepas, tetapi di kancing ini masih tersisa sedikit sisa-sisa魔力 (sisa mana), walau hanya sedikit. Singkatnya──"

 

Atmosfer di dalam kelas terasa menegangkan.

 

"Artinya, ada seseorang yang menggunakan sihir untuk merusak kancing

milik Haruto-kun."

Mendengar poin yang disampaikan oleh Lena, suara-suara seperti "kalau begitu artinya Zeit tidak bersalah, ya" mulai bermunculan dari berbagai penjuru kelas. Berkat Lena yang bersedia sampai merangkak di lantai demi menemukan kancing untukku, kebersihanku akhirnya bersedia diterima oleh semua orang.

 

"Terima kasih, Lena. Aku hanya memelihara rasa terima kasih saja kepadamu."

 

"Tidak apa-apa, kok. Jika dibandingkan dengan jerih payah yang kuterima dari dirimu, hal sepele yang seperti ini sama sekali bukan masalah yang besar."

Seberapa rendah hatinya seorang Lena.

 

"Tapi sebenarnya siapa yang melakukan hal seperti ini?"

 

"Meskipun aku bisa merasakan adanya sisa mana, tetapi sampai ke

tahap milik siapa sisa mana tersebut, aku tidak bisa mengetahuinya."

 

Ada seseorang yang berniat untuk mempermalukan diriku. Siapa, dan demi tujuan apa?

 

Surat yang tadi mendadak melintas di dalam kepalaku. Di sana tertulis barisan kalimat menggunakan gaya tulisan yang sengaja diubah seperti ini.

 

*Jangan mendekati Lena. Dari penggemar berat Lena.*

 

Aku merasa kalau pelaku yang berniat membuat diriku dicap sebagai ekshibisionis dan pemilik surat tersebut adalah orang yang sama.

 

Apakah ini adalah sebuah strategi untuk menjauhkan diriku dan Lena dengan cara memberikan impresi buruk kepada teman sekelas maupun Lena bahwa aku adalah seorang pria mesum.

 

Jika memang demikian, alih-alih membesarkan masalah ini dan membuat Lena menjadi cemas, mengalirkan situasinya begitu saja di tempat ini sepertinya adalah pilihan yang lebih baik.

 

"Begitu, ya. Kalau begitu ini pasti merupakan perbuatan dari orang yang membenci sifat tidak keruanku, sih. Jika memikirkan perkataan dan tindakanku selama ini, hal itu mau bagaimana lagi. Ke depannya aku akan berhati-hati. Untuk sekarang mari kita sudahi saja sampai di sini."

 

"Apakah tidak apa-apa?"

 

Sihir pemulihan (repair magic) memang eksis. Namun orang yang bisa menguasai sihir tingkat tinggi seperti itu, tidak ada di dalam kelas ini untuk saat ini.

 

Mari kita pergi ke ruang UKS yang selalu menyediakan peralatan

menjahit, lalu meminta agar kancing cadangan dipasangkan di sana.

 

"Iya. Karena jika tidak pergi untuk memasang kancing, celana dalamku akan menjadi terpampang nyata secara penuh lagi, kan."

 

"C-Celana dalam terpampang nyata…… warna merah…… kyaakh, tidak mau."

 

Lena memegangi kedua pipinya lalu wajahnya memerah pekat. Apakah dia teringat kembali tentang celana dalamku yang tadi. Gawat. Aku seharusnya tidak mengatakan kata celana dalam terpampang nyata di hadapan seorang gadis.

 

***

 

Begitu kembali dari ruang UKS, semua teman sekelas sedang melakukan rapat strategi sesama pasangan mereka. Aku pun duduk menghadap ke arah Lena, lalu mulai melakukan diskusi.

 

Pelajaran praktik nyata kali ini adalah mengitari rute jalur yang sudah ditentukan di lantai tingkat pertama dungeon, membasmi monster secara nyata, lalu kembali pulang. Selama durasi tersebut, nilai akademis akan ditentukan berdasarkan seberapa kuat dan berapa banyak jumlah monster yang berhasil dibasmi. Aturannya adalah seperti itu.

 

Kekuatan sihir milik Lena belakangan ini sedang mengalami pertumbuhan yang teramat pesat. Jika melakukannya secara normal, tingkat kemampuannya sudah berada di level di mana misi bisa diselesaikan dengan hasil nilai akademis tingkat atas (top tier).

 

Namun kekuatan sihir milikku berada di tingkat kroco. Selain lemah, sihir yang bisa kugunakan pun sedikit, ditambah kemampuan teknikku juga berada di tingkat rata-rata, sehingga fakta bahwa aku tidak pantas menjadi pasangan Lena terlihat sangat jelas. Namun karena pasangan yang ditentukan menggunakan sihir undian sifatnya adalah mutlak, perubahan secara sepihak tidak akan pernah diizinkan.

 

Karena itulah, meskipun aku merasa bersalah terhadap Lena, aku tidak memiliki pilihan selain mengikuti pelajaran praktik nyata menggunakan pasangan yang ini.

 

"Maaf ya Lena, karena orang sepertiku yang menjadi pasanganmu."

 

"Apa yang kamu katakan, sih. Bagiku memiliki Haruto-kun sebagai pasangan justru merupakan hal yang paling terbaik, lho. Aku menjadi memantapkan keyakinan bahwa Tuhan memang nyata sedang mengawasiku."

 

"Itu terlalu berlebihan. Ahahaha."

 

Lena sengaja mengatakannya dengan cara yang jenaka agar aku tidak perlu merasa segan. Benar-benar ramah sekali.

 

"Kalau begitu, bagaimana jika Haruto-kun bertanggung jawab untuk bagian sihir pertahanan (defense magic) maupun sihir pemulihan (healing magic), lalu bagian penyerangan utama diserahkan kepadaku."

 

"Iya, aku mengerti. Karena belakangan ini kekuatan sihir Lena sedang mengalami pertumbuhan yang luar biasa, hal itu akan menjadi mudah, ya."

 

"Namun memelihara rasa tinggi hati justru akan mengundang bahaya, lho. Karena itulah kita harus bergerak dengan hati-hati."

 

Aku ditegur seraya dia memasang raut wajah yang tegas. Memang nyata benar apa yang dikatakannya. Aku sudah terlanjur terlalu terbawa suasana.

 

"Ah, tolong jangan memasang wajah lesu yang seperti itu, dong. Mohon maaf. Diriku ini ternyata masih saja belum bisa menghilangkan kebiasaan melontarkan kata-kata tegas, ya, payah sekali."

 

"Bukan begitu, kok. Terima kasih karena sudah membuatku waspada."

 

"Baguslah jika kamu mengatakannya demikian. Namun aslinya, aku ingin bersikap lembut kepada Haruto-kun, lho, dan aku ingin dianggap sebagai gadis yang lembut olehmu."

 

"Eh?"

 

"Fuakh…… a-aku malah mengatakan hal yang memalukan. Tolong lupakan, ya."

 

Meskipun dibilang begitu, melihat seorang Lena yang anggun bisa mengatakan hal seimut itu, tidak akan bisa dilupakan dengan mudah, tahu.

 

***

 

Pelajaran praktik nyata pembasmian monster akan dilaksanakan 4 hari lagi. Begitu kembali ke dunia nyata, waktu yang berjalan dari titik tersebut hampir tidak mengalami pergeseran sedikit pun. Singkatnya jika hendak menyambut waktu 4 hari lagi di dunia yang sebelah sini, aku tidak punya pilihan selain menghabiskan waktu selama 4 hari di sini. Saat jam pulang sekolah tiba, aku melangkah untuk pulang ke rumah.

 

"Hei, hei, Haruto-kun!"

 

Saat sedang berjalan menuju gerbang sekolah setelah keluar dari gedung sekolah, mendadak seorang gadis cantik berambut perak memberikan sapaan kepadanya. Orang itu adalah Haruru Schatten. Meskipun bertubuh kecil, ukuran dadanya yang besar tanpa sengaja langsung mencuri perhatianku.

 

"Hari ini kejadian yang seperti itu sampai terjadi di hadapan semua orang, benar-benar berat, ya."

 

Dia mencemaskan masalah celanaku yang melorot jatuh di dalam kelas tadi, ya. Orang yang baik sekali. Aku memohon maaf yang sebesar-besarnya karena sudah menatap dadamu dengan lekat.

 

"Konon ada keparat yang sengaja memotong lubang kancing menggunakan sihir, ya?"

 

"Berdasarkan hasil investigasi Lena, sih, memang begitu, ya."

 

"Tega sekali keparat yang melakukan hal seperti itu. Beneran bikin kesal, ya. Apakah pelakunya sudah ketahuan?"

"Nggak, sama sekali belum."

 

"Sama sekali belum?"

 

"Iya, sama sekali belum."

 

"…………"

 

Entah kenapa Haruru terdiam untuk beberapa saat sambil menatap lekat ke arah bagian dalam mataku seolah hendak mengintipnya.

 

"Begitu, ya. Kalau begitu artinya pelakunya harus segera ditemukan, ya."

 

"Sudahlah tidak apa-apa. Aku tidak memelihara gairah untuk melakukan pencarian pelaku."

 

"Kenapa?"

 

Gerak-geriknya yang memiringkan kepala dengan penuh keheranan terlihat sangat imut. Seperti dugaan dari seorang gadis paling cantik nomor satu di akademi.

 

"Orang yang tidak menyukai diriku ada teramat banyak, dan mencari pelakunya pun sudah pasti merupakan hal yang teramat sulit dilakukan. Ini paling-paling hanya sebatas usilan belaka, jadi biarkan saja."

 

"Hmm~ begitu, ya. Mungkin hal itu memang pilihan yang bagus, sih."

 

Benar. Daripada membesarkan masalah ini dan membuat Lena menjadi cemas, memantau situasinya saja sepertinya jauh lebih baik.

 

"Tapi, lho, Haruto-kun. Kalau kondisinya begitu, sebaiknya kamu absen saja dari pelajaran praktik nyata di dungeon nanti."

 

"Kenapa?"

 

"Sebab, jika keparat yang berniat menjebakmu itu mendadak meluncurkan suatu siasat saat pelajaran praktik nyata sedang berlangsung, bukankah hal itu akan menjadi teramat sangat berbahaya?"

 

"Ah, benar juga, ya."

 

Namun berdasarkan penjelasan dari Kinto-sensei, konon tidak ada risiko bahaya khusus yang berarti, jadi harusnya akan baik-baik saja. Terlebih lagi jika pihak pasangan memilih untuk absen, pihak lawan tidak akan bisa mengikuti pelajaran seorang diri sehingga hal itu akan merepotkan Lena nanti.

 

"Diriku ini…… beneran sangat mencemaskan masalah Haruto-kun, tahu."

 

Pandangan matanya tampak berkaca-kaca, dipadukan dengan nada bicara yang agak manja. Dihujani kalimat yang sanggup menusuk jantung sampai tembus seperti itu oleh gadis paling cantik nomor satu di akademi, tidak akan ada murid laki-laki yang tidak dibuat berdegup kencang jantungnya. Seperti dugaan dari gadis yang sudah membuat banyak murid laki-laki jatuh hati.

Jika itu diriku yang sebelumnya, hanya dengan hal ini saja aku pasti sudah akan jatuh cinta dengan gampang, sih. Namun diriku yang sekarang berhasil menerimanya dengan tenang berkat adanya keinginan di dalam hati untuk membuat Lena bahagia.

 

"Terima kasih karena sudah mencemaskanku. Tapi aku akan tetap mengikuti pelajaran praktik nyata, kok."

 

"……Begitu, ya."

 

Aku ingin menyampaikan rasa terima kasih atas fakta bahwa dia bersedia mencemaskan diriku. Bukan hanya sekadar imut saja, ternyata sifatnya pun baik, ya.

 

***

 

4 hari telah berlalu, dan hari pelaksanaan pelajaran praktik nyata berupa pembasmian monster di dungeon akhirnya tiba. Setelah menyantap makan siang, pelajaran yang dimaksud akhirnya akan segera dimulai.

 

Seperti dugaan, rasanya aku menjadi sedikit gugup.

 

"Nah, semuanya. Kita akan berpindah menuju dungeon, lhooo~ Pastikan jangan sampai ada barang yang tertinggal, yaaa~"

 

Suara Kinto-sensei menggema di dalam kelas, membuat semua orang berdiri dari kursi masing-masing. Kami semua akan melangkah melewati koridor bersama-sama untuk berpindah menuju pintu masuk dungeon yang terletak di bagian belakang area sekolah.

Ah, benar juga. Aku harus memastikan agar tongkat sihirku tidak sampai tertinggal, nih.

 

Aku mencari tongkat sihir yang seharusnya dimasukkan ke dalam laci meja.

 

"Eh……? Are? Aneh sekali. Tongkat sihirku tidak ada."

 

Gawat. Untuk tingkat kemampuan sepertiku, aku belum bisa merapalkan sihir jika tidak ada tongkat sihir, sehingga aku tidak akan bisa mengikuti pelajaran praktik nyata.

 

"Apakah tertinggal di rumah?"

 

Kinto-sensei memasang wajah penuh keheranan.

 

"Nggak, bukan begitu, kok……"

 

Saat melakukan pengecekan di waktu pagi hari tadi, tongkat sihir itu dipastikan memang nyata berada di dalam laci meja. Singkatnya, apakah benda itu dicuri oleh seseorang?

 

Kemungkinan besar keparat yang menuliskan surat yang waktu itu

adalah pelakunya, toh. Bagi keparat yang ingin menjauhkan diriku dari Lena, melihat diriku dan Lena masuk ke dalam dungeon sebagai sepasang pasangan pasti merupakan hal yang teramat sulit untuk ditoleransi olehnya.

 

Jika aku tidak bisa mengikuti pelajaran, segalanya akan berjalan sesuai dengan keinginan keparat itu.

 

Para teman sekelas terus melangkah keluar dari dalam kelas untuk berpindah menuju dungeon. Gawat. Aku sudah beneran buntu

(skakmat).

 

"Anu, Haruto-kun. Jika tidak keberatan, maukah kamu mencoba menggunakan benda yang satu ini?"

 

Tepat di saat aku sedang memegangi kepala, suara Lena terdengar olehku. Saat menaikkan wajah, sebuah tongkat sihir yang diberikan dekorasi ornamen dengan desain yang teramat mendetail tampak disodorkan di depan mataku.

 

"Ini adalah tongkat sihir hasil buatan tanganku sendiri. Agar sihirnya bisa terilis dengan benar, aku sudah memasukkan mana di dalamnya juga, lho."

 

"Oooh…… desainnya terlihat sangat keren, ya. Kamu membuatnya sendiri, toh. Hebat sekali."

 

Sebuah garis desain yang mengalir tampak terpatri di sana.

 

Lena yang sebelumnya sempat mengkhawatirkan masalah pembuatan tongkat sihir, ternyata sudah berhasil menyelesaikan tongkat sihir buatan mandiri secepat ini. Terlebih lagi kualitasnya luar biasa.

 

Pada dasarnya dia memang memelihara bakat, sih. Namun meski begitu, bagi seorang awam untuk bisa mencapai tahap kualitas sejauh ini, dia pasti sudah meluangkan waktu yang teramat banyak demi menyelesaikannya secara telaten tanpa salah lagi. Sebuah karya yang bisa dibilang merupakan bongkahan dari rasa antusiasme.

 

Menawan sekali. Jika mengingat kembali penderitaan yang dialaminya selama ini, sudut mataku sampai menjadi panas.

 

"Iya. Karena aku membuatnya dengan membayangkan kalau benda ini akan digunakan oleh pria yang keren, jadi aku berniat membuat desainnya menjadi keren, lho."

 

"Dibayangkan untuk digunakan oleh pria yang keren, katanya…… kalau begitu artinya diriku tidak berada di posisi untuk menggunakannya……"

 

"Benda ini memang dibuat khusus untuk Haruto-kun, tahu!"

 

Lena meluncurkan sanggahan dengan nada bicara yang agak meninggi.

 

Kamu terlalu berlebihan memberikan pujian manis, lho. Walaupun aku merasa senang, sih.

 

"Ah, iya. Terima kasih. ……Namun meski begitu, ini adalah karya yang berada di tingkat setara profesional, lho."

 

"Terima kasih banyak. Sebenarnya di masa depan nanti, aku berpikir ingin menjadi seorang ahli pembuat tongkat sihir profesional."

 

"Eh? Serius!?"

 

"Iya."

 

Berdasarkan penuturan Lena, mengenai target masa depannya sendiri selama ini──belajar dengan serius untuk lulus dari Akademi Sihir dengan nilai akademis yang luar biasa. Dan kelak di masa depan menikah bersama orang yang sudah ditentukan oleh kedua orang tua.

 

Dia konon hanya memikirkan sebatas hal yang seperti itu saja selama ini.

 

Sebuah alasan murni karena orang tua mengatakannya demikian.

 

Silsilah keluarga bangsawan. Perkataan orang tua adalah hal yang mutlak.

 

Meskipun bisa dibilang hal itu mencerminkan sifat Lena yang teramat

serius, menjalani kehidupan tanpa memelihara jati diri sendiri itu membosankan.

 

"Bagus sekali ya karena impianmu akhirnya bisa terlahir."

 

"Terima kasih banyak. Selama ini aku selalu memegang teguh keyakinan secara kaku bahwa menegakkan keadilan and menuruti didikan orang tua adalah hal yang benar. Namun aku menjadi tersadar bahwa ada hal yang jauh lebih krusial daripada hal itu. Ini semua adalah berkat Haruto-kun."

Lena yang biasanya selalu memasang ekspresi wajah yang tegas, belakangan ini frekuensi dirinya memperlihatkan senyuman yang tenang menjadi semakin bertambah. Syukurlah.

 

"Omong-omong, aku juga mencoba membuat bagian untuk diriku sendiri, lho."

 

Satu buah tongkat sihir lain yang diperlihatkannya kepadaku memiliki desain yang teramat anggun.

 

Benar. Keindahannya benar-benar memancarkan pesona yang persis

seperti mencerminkan kecantikan dari seorang Lena Anhalt sendiri.

 

"Indah sekali, persis seperti Lena……"

 

Karena hatiku terlanjur dicuri oleh keindahan tongkat sihir yang teramat sangat, isi hatiku yang jujur tanpa sengaja lolos dari bibir secara tidak sadar.

 

"Bufuhaouuuukh!”

 

Mendadak Lena menyemburkan ludah secara masif dengan momentum yang tidak mencerminkan seorang murid perempuan yang anggun sama sekali.

 

"Ada apa!? K-Kamu tidak apa-apa!?"

 

"Habisnya Haruto-kun mendadak mengatakan hal yang seperti itu, sih!"

 

"Apakah aku baru saja mengatakan sesuatu?"

 

"Apakah kamu tidak mengingatnya?"

 

"Maaf, aku tidak ingat. Karena tongkat sihirnya terlalu luar biasa, aku sampai berada di dalam kondisi linglung, lho."

 

"Aduh, ya ampun…… *pundung*."

Lena menggembungkan pipinya yang sudah memerah pekat.

 

Meskipun aku memelihara rasa bersalah yang teramat sangat karena sudah membuatnya marah, apa-apaan ini, dia terlalu imut tingkat akut.

 

"Tapi ya sudahlah, karena itu artinya isi hati yang jujur dari Haruto-kun baru saja lolos, jadi meskipun kamu tidak mengingatnya pun tidak apa-apa, kok."

 

"Sebenarnya tadi aku bilang apa, sih?"

 

"Fufufu, rahasia, lho."

 

Sambil mengatakan hal itu, Lena tampak berada di dalam kondisi suasana hati yang baik. Tampaknya itu bukan merupakan hal yang membuat suasana hatinya menjadi buruk, jadi syukurlah.

 

Namun meski begitu, berkat Lena aku akhirnya bisa terselamatkan.

 

Dengan begini aku tidak perlu sampai mengundurkan diri dari pelajaran (retire).

"Anu, kalian berdua. Sebenarnya pemandangan apa sih yang sedang dipamerkan di depan mataku ini?"

 

Pemilik suara tidak senang yang mendadak terdengar itu ternyata adalah Kinto-sensei. Jujur saja aku sempat melupakan eksistensinya.

 

Mohon maaf.

 

"Fakta kalau hubungan kalian akrab itu sudah kupahami, jadi bisakah ka

lian segera berpindah menuju pintu masuk dungeon?"

 

"Ah, nggak, mengenai hubungan akrab itu……"

 

Aku mencoba meluncurkan bantahan karena merasa was-was mengenai bagaimana isi pikiran Lena nanti, tetapi.

 

"Mengatakan hubungan kalian tidak akrab dalam kondisi yang seperti ini, apakah kalian berniat menantang berantem diriku yang jumlah pria akrabnya berada di angka nol, toh? Tantangan berantem itu akan kuterima, lho. Maukah kamu kuhadiahi sihir petir tingkat ekstra besar?"

 

Pandangan mata Kinto-sensei terlihat nyata bersungguh-sungguh.

 

"Mohon maaf, Guru. Maksud saya mengatakannya bukan demi tujuan yang seperti itu……"

 

"Hakh…… m-maaf Zeit-kun. I-Itu cuma lelucon, lho!"

 

Nggak, yang tadi itu jelas-jelas bukan merupakan lelucon, kan.

Menakutkan sekali tingkat akut, guru yang satu ini.

 

──Tepat di saat sedang memikirkan hal yang demikian. Sebuah gelagat yang membuat bulu kuduk berdiri terasa di punggungku.

 

Aku memalingkan wajah ke belakang, tetapi di dalam kelas sudah tidak ada siapa-siapa lagi selain kami. Namun dari balik jendela, sosok punggung seseorang yang sedang melangkah pergi meninggalkan koridor dengan berlari kecil tertangkap oleh mataku. Orang itu adalah……

 

Apakah eksistensi yang mengirimkan surat maupun yang meluncurkan beraneka ragam siasat kepadaku adalah orang tersebut. Jika memang demikian, aku kemungkinan besar sudah sepenuhnya salah menebak selama ini. Nggak, masih terlalu dini untuk langsung menjatuhkan vonis.

 

"Apakah terjadi sesuatu?"

 

"Ah, nggak. Bukan apa-apa."

 

Untungnya Lena tidak menyadari eksistensi dari orang yang melangkah

pergi tersebut. Karena aku tidak ingin membuat dirinya cemas, aku memilih untuk merahasiakannya.

 

Aku dan Lena melangkah untuk berpindah menuju pintu masuk dungeon bersama dengan Kinto-sensei.

Di tengah koridor tersebut, Kinto-sensei yang berjalan sejajar di sampingku mengajakku berbicara menggunakan suara kecil yang tidak terdengar oleh Lena.

 

"Belakangan ini Anhalt-san sudah mengalami perubahan, ya. Atmosfer yang selembut itu menjadi keluar melebihi yang sudah-sudah, dan bagaimana ya, dia menjadi mulai mengeluarkan isi hatinya secara jujur menggunakan kata-kata."

 

"Benar, ya."

 

"Hal itu apakah tetap merupakan berkat dirimu, Zeit-kun?"

 

Uwwakh, fakta bahwa hal itu ketahuan oleh guru benar-benar membuatku malu tingkat akut.

 

Karena panik, aku hampir saja tersedak selama sesaat. Namun aku berusaha sebisa mungkin untuk memasang wajah tenang sebelum memberikan balasan.

 

"Ah, nggak…… hal yang seperti itu sama sekali tidak ada, lho. Aku tidak memiliki keterkaitan apa pun."

 

"Huuumn…… ya sudahlah, mari kita anggap saja memang begitu kejadiannya, deh."

 

Sang guru wali kelas tersenyum menyeringai. Padahal aku mengira orang ini adalah karakter yang tidak berguna, tetapi ternyata dia terhitung tajam, ya.

Jangan-jangan, fakta bahwa aku dan Lena bisa menjadi pasangan adalah berkat siasat dari Kinto-sensei, begitu?

 

──Terlepas dari mana yang benar, dia adalah guru yang baik karena memperhatikan kondisi muridnya dengan sangat baik. Begitulah pikirku.

 

** Winter **

 

Kami tiba di pintu masuk dungeon. Di tempat tersebut, Kinto-sensei memberikan penjelasan kepada para murid.

 

Untuk masuk ke dalam bagian dalam dungeon, masing-masing pasangan akan masuk dengan cara memberikan sedikit jeda pergeseran waktu secara bertahap. Rute jalurnya pun disediakan beberapa jenis, and sistemnya didesain sedemikian rupa agar di dalam dungeon kami hampir tidak akan pernah saling bertatap muka bersama grup yang lain.

 

Waktu keberangkatan kami akhirnya tiba juga. Setelah menerima peta yang mengilustrasikan rute jalur pasangan kami dari guru, kami melangkahkan kaki ke dalam bagian dalam dungeon.

 

"Hoee~, jadi benda yang seperti ini yang dinamakan dungeon, toh!"

 

Sebuah dungeon yang kupijaki menggunakan kaki untuk pertama kalinya sepanjang hidupku. Di dalam “Magi-Ama” aku memang pernah masuk ke dalam dungeon, tetapi merasakannya secara nyata seperti ini memang nyata sepenuhnya berbeda. Benar-benar membuat terharu.

Langit-langitnya tinggi, and bagian dindingnya menggunakan tumpukan batu yang dipahat menggunakan pola geometris. Area di sekeliling terasa sedikit remang-remang, tetapi di bagian dinding sudah disediakan beraneka ragam penerangan yang memanfaatkan batu sihir.

 

Seperti dugaan dari dungeon yang berada di bawah pengelolaan Akademi Sihir.

 

Berkat jarak pandang yang berhasil diamankan, sesi eksplorasi bisa dilakukan tanpa perlu memelihara rasa cemas yang besar.

 

"Entah mengapa rasanya mendebarkan, ya."

 

"Nggak, ini kan bukan acara piknik, lho."

 

"Benar juga, ya. Ini kan pelajaran, terlebih lagi kami harus melakukan pembasmian monster, kan."

 

Meskipun dibilang lemah, karena monster tetap akan memunculkan diri, kewaspadaan tidak boleh sampai diturunkan. Padahal sebelumnya

Lena sendiri yang bilang kalau kami harus bergerak dengan hati-hati, lho.

 

Orang yang satu ini, meskipun berpendirian kuat ternyata adakalanya memelihara sisi yang santai juga, ya.

 

"Ah, monster!"

 

Setelah melangkah maju di dalam dungeon untuk beberapa saat, seekor slime berukuran kecil ada di sana. Makhluk itu meluncur maju ke arah sini. Gerakannya di luar dugaan terhitung cepat, membuatku telat untuk

bersiap-siap.

 

"Uwwakh, bahaya!!"

 

"Serahkan saja kepadaku!"

 

Lena berteriak menggunakan suara yang anggun. Pembawaannya yang tegap terlihat sangat bisa diandalkan.

 

Gadis cantik berambut merah itu berdiri di antara diriku dan slime. Dan kemudian dia mengacungkan tongkat sihirnya seraya merapalkan mantra.

 

"Sihir api (Hellfire)!"

 

Api berwarna merah melesat keluar dari ujung tongkat, and berhasil mengenai slime dengan telak. Monster itu langsung lenyap menguap begitu saja.

 

Hebat. Kekuatan sihir yang terlalu luar biasa. Baik jumlah mana maupun kemampuan teknik tidak memelihara celah kekurangan sedikit pun.

 

Di lokasi tempat slime berada tadi, sebuah batu sihir berukuran kecil tampak terjatuh. Sebuah monster itu aslinya konon bukan merupakan makhluk hidup, melainkan sebuah objek yang tercipta akibat adanya aliran mana jahat yang dimasukkan ke dalam batu sihir. Jika monster berhasil dikalahkan, tubuh utamanya akan menguap and lenyap, membuat batu sihir yang ada di dalam bagian tubuhnya memunculkan diri.

 

──Pengaturannya memang dibuat seperti itu, seingatku, benar.

 

Lena memungut batu sihir tersebut menggunakan ujung jarinya.

 

Aturannya memang didesain agar kami mengumpulkan batu sihir sebagai bukti kalau sudah berhasil mengalahkan monster, lalu menyerahkannya kepada guru.

 

"Hebat ya, Lena."

 

"Terima kasih banyak. Bisa dipuji oleh Haruto-kun membuat gairahku menjadi meluap. Ehem."

 

Mengingat angka nilai akademis yang diperlihatkannya saat pengukuran kekuatan sihir waktu itu, monster sekelas slime tentu saja bisa dikalahkannya dalam sekejap mata. Namun bisa merilis sihir dengan tenang saat praktik nyata, and membuatnya mengenai sasaran dalam satu tembakan itu benar-benar hebat, ya. Keren sekali tingkat akut.

 

Terlebih lagi, apa-apaan sih dengan kata 'ehem' di bagian akhir tadi?

 

Terlalu imut. Bagaimana bisa ada seorang gadis yang keren sekaligus teramat imut seperti ini, sih.

 

Jika dibandingkan dengan dirinya, aku murni hanya bisa merasa panik saja dari tadi.

 

"Diriku ini lemah, dan memperlihatkan sosok yang payah seperti ini benar-benar membuatku malu, tahu."

 

"Tolong jangan mengatakan hal yang seperti itu. Kamu sudah memberikan suntikan semangat and memberikan keberanian kepadaku.

Kamu tidak lemah ataupun payah, kok. Malahan kamu sangat menawan…… tidak, apa sih yang kukatakan di tempat seperti ini. Akulah yang justru merasa malu."

 

Sosoknya yang merasa malu sambil menjepit kedua pipi menggunakan tangan terlihat sangat imut. Benar-benar orang yang sangat murni, ya.

 

Namun meski begitu, Lena belakangan ini memang nyata menjadi semakin bisa mengeluarkan emosinya secara jujur ke permukaan secara bertahap, ya. Karena terlanjur merasa terharu yang teramat sangat, tanpa sengaja aku malah menatap lekat ke arah wajah cantik and teratur milik Lena secara terus-menerus.

 

"Haruto-kun……"

 

​"Eh?"

 

​"Tolong jangan menatapku seperti itu."

 

​Lena bergumam malu-malu sembari jemarinya memainkan rambut merahnya.

 

​"Ah, m-maaf! Ka-Kalau begitu, ayo kita jalan lagi."

 

​"Iya. Mari kita lanjut."

 

​Baiklah, kali ini aku benar-benar tidak boleh lengah. ──Nggak, ini sama sekali bukan pertanda buruk (death flag) atau semacamnya, kok.

 

***

 

​Kami melanjutkan langkah kaki menuju bagian dalam dungeon dengan sangat hati-hati sembari terus memperhatikan area sekeliling.

 

​Di tengah perjalanan, beberapa ekor monster memunculkan diri. Selain slime, ada juga Vampire Bat, Baby Wolf, dan lain-lain.

 

Persis seperti yang diinformasikan sebelumnya, mereka semua murni hanya sebatas monster lemah belaka. Setiap kali makhluk-makhluk itu muncul, kami berdua──nggak, maksudnya Lena, langsung meluncurkan sihirnya dengan sangat anggun untuk menyelesaikannya. Aku sendiri sempat mengalahkan monster, sih. ……Tapi murni hanya satu ekor saja.

 

Ahahaha. (Hanya tawa garing yang bisa keluar).

 

​Saat kami melangkah semakin jauh ke dalam, Lena mendadak menghentikan pijakan kakinya lalu berbalik menghadapku.

 

​"Ada apa?"

 

​"Ah, nggak…… rasanya aku mendeteksi adanya aura jahat yang aneh."

 

​"Bukankah infonya di sini hanya dihuni oleh monster lemah saja, jangan-jangan kamu salah sangka?"

 

​"Tidak……"

 

​Tampaknya semenjak kekuatan sihir Lena mengalami pertumbuhan pesat, sensitivitas miliknya terhadap aura jahat maupun hawa membunuh menjadi semakin tajam.

 

​Kalau begitu, apakah itu artinya memang nyata ada monster kuat yang sedang bersembunyi di suatu tempat, ataukah……

 

​Meskipun kami semakin memperketat kewaspadaan, pada akhirnya tidak ada satu hal pun yang terjadi, dan kami tiba di bagian ujung paling dalam dari lantai tingkat pertama dungeon.

 

Di depan mata kami berdiri sebuah dinding yang terbentuk dari tumpukan batu. Berdasarkan peta rute jalur, sisanya kami hanya perlu memutar balik untuk melewati jalan yang sama saat kami datang tadi.

 

​"Hmm? Tempat apa ini?"

 

​Di dalam peta, bagian ujung paling dalam ini seharusnya merupakan jalan buntu, tetapi entah mengapa di bagian dinding pembatasnya terdapat sebuah lubang besar yang ukurannya terhitung pas untuk dilewati oleh satu orang manusia. Saat melangkah mendekat untuk mengintip ke bagian dalam, jalurnya berupa lereng terjal menurun yang diselimuti oleh tanah. Bagian bawah lereng itu sepertinya terhubung dengan lantai tingkat yang berada tepat di bawahnya.

 

​Untuk urusan dungeon, semakin bawah lantai tingkat yang dipijaki, maka monster yang menghuninya pun akan menjadi semakin kuat.

 

Karena itulah jalur menuju ke bawah seharusnya ditutup rapat menggunakan barikade agar para murid tidak sampai masuk ke lantai bawah, begitu kata infonya, padahal.

 

​Namun dinding di tempat ini barikadenya sudah hancur, menyisakan celah lubang yang terhitung pas untuk dilewati manusia. Berbahaya sekali.

 

​"Haruto-kun. Di sana berbahaya. Tolong jangan turun, ya."

 

​"Ah, iya, aku tahu."

 

​Meskipun ini bukan merupakan hal yang patut dibanggakan sambil membusungkan dada, tidak mungkin diriku yang penakut ini bersedia pergi menuju lantai bawah, kan.

 

​──Meskipun aku sempat berpikir demikian, sih.

 

​"Uwwakh!"

 

​Mendadak lenganku ditarik oleh sebuah kekuatan besar tak kasat mata, membuatku terjatuh melewati lubang dinding. Aku berusaha menahan diri, tetapi pijakan tanah di bawahku terlampau licin hingga tubuhku tidak bisa berhenti. Tanpa bisa melakukan apa pun, aku berguling jatuh melewati lereng terjal tersebut.

 

​Gawat, aku benar-benar sudah telanjur lengah.

 

​"H-Haruto-kun! Apakah kamu tidak apa-apa!?"

 

​Suara Lena terdengar dari arah atas.

 

​"Aku juga akan ke sana!"

 

​Dia menjulurkan badannya melewati lubang dinding, bersiap untuk merosot turun melewati lereng.

 

​"Jangan, Lena! Di sini berbahaya jadi jangan kemari!"

 

​Tepat pada saat aku berteriak, sebuah suara murid perempuan yang

meneriakkan hal yang sama ikut bergaung secara bersamaan.

 

​"Jangan pergi ke sana, berbahaya, Lena-chan!"

 

​Seorang murid perempuan bertubuh kecil dan berambut perak mengulurkan tangan dari arah belakang, lalu mencengkeram lengan

Lena yang baru saja hendak melompat turun.

 

Namun tubuh Lena yang sudah terlanjur meluncur maju dengan momentum yang besar tidak bisa dihentikan. Haruru pun berakhir ikut terseret, membuat kedua murid perempuan itu terlempar jatuh ke arah lereng secara bersamaan.

 

​"Kenapa Haruru bisa ada di tempat seperti ini!? Di sini berbahaya jadi tolong lepaskan tanganku!"

 

​"Sudah tidak bisa! Kita jatuh!!"

 

​Tidak lama kemudian, tubuhku akhirnya berhenti setelah jatuh di atas permukaan tanah yang datar. Bagian tubuhku tidak ada yang terasa sakit. Karena lerengnya terhitung lembut, untungnya aku sepertinya tidak mengalami luka apa pun.

 

​Saat menaikkan pandangan mata ke arah lereng, dua orang gadis cantik tampak merosot ke arahku dengan posisi tubuh yang saling membelit.

 

​Uwah, gawat! Dibandingkan masalah cemas karena akan saling bertabrakan, bagian yang gawat adalah──seragam rok milik gadis tercantik nomor satu di angkatan dan gadis terimut nomor satu di angkatan sedang terbalik hingga bagian dalamnya terpampang nyata secara penuh!

 

​Umu, Lena ternyata secara tidak disangka mengenakan pakaian dalam berwarna hitam. Sedangkan Haruru mengenakan warna merah yang membara──nggak, apa-apaan sih yang sedang kulihat dengan lekat seperti ini!?

 

​"Iyaaaahn, Haruto-kun, minggir! Tolong minggirrr!!"

 

​Lena berteriak, dan Haruru memasang raut wajah yang tampak ketakutan karena ngeri, tetapi segalanya sudah terlambat. Tabrakan beruntun dari arah depan bersamaku sudah tidak akan pernah bisa dihindari lagi. Diriku yang sempat melamun sambil memandangi celana dalam memang nyata bersalah. Dua orang gadis cantik yang merosot jatuh itu menabrak tubuhku dengan telak dan keras.

 

​"Ugh……"

 

​Dadaku dihantam oleh sebuah benturan keras hingga napas berasa sesak. Rasa sakit ini beneran bagai neraka. Namun pemandangan berkah mata yang terpatri di dalam benakku barusan benar-benar merupakan surga dunia yang nyata.

 

Singkatnya diriku yang sekarang sedang merasakan pengalaman "surga dan neraka" secara bersamaan.

 

​"A-Apakah kamu tidak apa-apa!?"

 

​Kepalaku terasa pening. Akibat adanya beraneka ragam alasan.

 

​Namun karena benturan yang terjadi adalah buah dari perbuatan sendiri, aku tidak berada di posisi untuk mengeluhkan rasa sakit.

 

Dibandingkan hal itu, yang lebih kucemaskan adalah Lena.

 

​"Ah, entah bagaimana aku tidak apa-apa, kok. Bagaimana dengan Lena sendiri? Apakah kamu mengalami luka?"

 

​"Iya, aku tidak apa-apa. Terima kasih banyak karena sudah mencemaskanku."

​Mendengar konfirmasi kalau dia baik-baik saja membuatku bernapas lega. Kalau begitu yang menjadi ganjalan berikutnya adalah──

 

​"Apakah Haruru juga tidak apa-apa?"

 

​Mengenai alasan kenapa Haruru Schatten bisa berada di tempat seperti ini, sih. Apakah itu artinya dugaanku selama ini memang nyata benar……?

 

​"Iya, aku tidak apa-apa, kok."

 

​"Karena berniat untuk menolongku, kamu malah berakhir ikut jatuh bersama, ya. Mohon maaf."

 

​"Tidak apa-apa, kok. Diriku sendiri tidak terluka atau mengalami apa pun, jadi beneran bener-bener tidak apa-apa, lho."

 

​"Berkat Haruru yang bersedia menarik lenganku, momentum kecepatan saat jatuh menjadi berkurang sehingga aku bisa selamat."

 

​"Karena saat kebetulan sedang lewat, aku melihat Lena-chan sedang menjulurkan badan dari sela-sela celah dinding, lho. Karena berpikir kalau itu berbahaya, aku terburu-buru mengulurkan tangan."

 

​Kebetulan sedang lewat? Padahal rute jalur untuk masing-masing pasangan sengaja dibuat berbeda dan waktu memulainya pun diberikan jeda pergeseran waktu, sehingga kami seharusnya hampir tidak akan pernah bisa bertemu dengan pasangan yang lain.

 

​"Lalu bagaimana dengan Sonne yang menjadi pasanganmu?"

 

​"Soal itu, dia mendadak menghilang dari pandangan mata begitu saja, lho. Makanya aku melangkah berkeliling untuk mencarinya dari tadi."

 

​"Karena itulah kamu kebetulan bisa bertemu dengan kami, ya. Namun meski begitu, kira-kira Sonne-san pergi ke mana, ya."

 

​"Jangan-jangan, dia sengaja menyembunyikan tubuh demi meluncurkan sebuah usilan yang aneh kepada semua orang~?"

 

​"Mana mungkin. Melakukan hal yang seperti itu seharusnya tidak…… yah, kemungkinannya tidak berada di angka nol, sih."

 

​Keparat Sonne itu, ternyata sampai dipandang dengan cara yang seperti

itu oleh Lena, ya. Dia benar-benar sudah diperlakukan sepenuhnya sebagai karakter antagonis belaka.

 

​Yah, meskipun itu adalah buah dari perbuatannya sendiri, sih.

 

​"Padahal Guru sudah berpesan kalau kami secara mutlak tidak boleh turun ke lantai bawah, hal ini benar-benar merepotkan, ya."

 

​Gadis cantik berambut perak and bertubuh kecil itu menatap ke arah Lena dengan raut wajah yang tampak cemas.

 

​"Tidak apa-apa, kok. Meskipun monster kuat memunculkan diri, aku pasti akan melindungi semuanya."

​Lena berkata demikian sambil membusungkan dadanya. Benar-benar mencerminkan dirinya sekali yang memelihara rasa tanggung jawab yang tinggi.

 

Kenyataannya di antara kami di tempat ini, Lenalah yang memiliki kekuatan sihir yang paling kuat. Namun aku tidak bisa terus-menerus bergantung penuh kepada seorang murid perempuan belaka.

 

​"Nggak, memikirkan masalah melindungi semua orang seorang diri itu tidak boleh dilakukan, lho. Jika kamu memaksakan diri lalu berujung mengalami luka, hal itu akan menjadi gawat. Mari kita saling bekerja sama."

 

​"Heh…… Haruto-kun ternyata mencemaskan diriku, ya?"

 

​"Tentu saja. Wajar saja jika aku cemas, kan."

 

​Apakah karena aku meluncurkan respons yang teramat sangat serius terhadap kalimatnya yang bermaksud bercanda, Lena memasang raut wajah yang sedikit terkejut. Dan kemudian warna kulitnya yang tadinya putih transparan, dalam sekejap mata langsung berubah menjadi merona sewarna merah muda secara lembut.

 

​"B-Begitu, ya. Terima kasih banyak. A-Aku merasa senang."

 

​"Berdasarkan info di dungeon ini memang tidak dihuni oleh monster yang sekuat itu, sih, tetapi meski begitu kita tetap harus bergerak dengan hati-hati."

​Haruru sedang menatap ke arahku dengan wajah serius. Apakah karena rasa cemas di dalam dirinya terlampau besar? Ataukah……?

 

​"Haruru. Dirimu sendiri pasti merasa cemas, sih, tetapi mari kita saling bekerja sama agar bisa keluar dengan selamat."

 

​"B-Benar juga, ya."

 

​Sebuah raut wajah yang entah mengapa terkesan tidak plong.

 

​"Pokoknya mari kita pergi menuju lantai atas untuk melangkah sampai ke pintu keluar."

 

​Meskipun dibilang dungeon yang tingkat risikonya kecil, lantai di bawah tetap dihuni oleh monster yang jauh lebih kuat jika dibandingkan dengan lantai tingkat pertama. Persis seperti yang dikatakan oleh Lena, kami harus segera kembali ke lantai atas secepat mungkin.

 

​"Benar. Mari kita lakukan hal itu."

 

​Omong-omong──arah jalur untuk menuju ke lantai atas itu sebenarnya berada di sebelah mana, sih!?

 

​Di dalam peta yang diserahkan oleh Guru sebelum masuk ke dalam dungeon hanya memuat informasi mengenai lantai tingkat pertama saja.

 

Di dalam game aku memang pernah masuk ke beraneka ragam dungeon,

tetapi jika harus mengingat sampai ke bagian mendetail dari dungeon yang satu ini, aku tentu saja tidak mengingatnya.

​"Ini merepotkan. Karena berbahaya kita jadi tidak bisa bergerak, ya."

 

​"Hal seperti itu bukankah kita tinggal mencoba bergerak secara asal saja tidak apa-apa, kan?"

 

​"Haruru, hal itu tidak boleh dilakukan, lho. Kita harus bergerak dengan hati-hati."

 

​"Lena ternyata adalah orang yang gampang cemas, ya. Di lantai tingkat yang dangkal sepertinya hanya dihuni oleh monster yang tidak seberapa belaka, jadi bukankah akan baik-baik saja?"

 

​Mendengarkan percakapan antara Lena and Haruru terasa menarik karena memperlihatkan adanya perbedaan kepribadian di antara keduanya.

 

​Jika terlalu berhati-hati kita justru tidak akan bisa bergerak. Namun meski dibilang begitu, bergerak tanpa memelihara landasan pemikiran sedikit pun memiliki tingkat bahaya yang besar. Bergerak secara hati-hati adalah pilihan yang paling terbaik.

 

​Aku melebarkan peta lantai tingkat pertama. Di dalam peta lantai tingkat pertama, tangga untuk menuju ke lantai tingkat kedua diilustrasikan berada di dua buah lokasi. Dan posisi tempat jatuh kami tadi kira-kira berada di sekitar area sini. Di antara dua buah tangga tersebut, lokasi yang terhitung dekat secara arah mata angin adalah sebelah sana. ……Baiklah.

 

​"Mari kita coba berjalan menuju ke arah sebelah sana."

​"Eh? Kenapa?"

 

​Sembari memperlihatkan peta kepada Lena yang sedang memiringkan kepalanya, aku menjelaskan landasan pemikiran yang baru kupikirkan tadi.

 

​Meskipun rute jalur yang semestinya tidak diketahui secara pasti, tetapi arah mata angin secara garis besar bisa dipahami. Karena itulah strateginya adalah memilih jalan dengan cara menjaga agar kami tidak sampai kehilangan arah mata angin yang dituju.

 

​"Begitu, ya. Seperti dugaan dari seorang Haruto-kun. Namun jika jalurnya berkelok-kelok, adakalanya kita bisa kehilangan arah mata angin di tengah jalan, kan."

 

​Memang nyata benar apa yang dikatakannya. Jika struktur bangunan lantai tingkat pertama and lantai tingkat kedua memiliki perbedaan yang sepenuhnya total, aku tidak tahu apakah kami bisa sampai ke lokasi tangga lantai tingkat kedua hanya dengan melihat peta lantai tingkat pertama belaka.

 

​"Benar juga, ya. Karena itulah kita harus bergerak sembari melakukan konfirmasi mengenai arah mana yang sedang kita hadapi saat ini."

 

​"Namun jalur koridor di tempat ini memiliki belokan yang samar, membuat kepekaan arah mata angin menjadi sulit dipahami. Mengetahui arah mana yang sedang kita hadapi, bahkan menggunakan sihir pun merupakan hal yang mustahil, lho."

​"Kalau begitu kita tinggal melakukan konfirmasi menggunakan aplikasi kompas (方位磁石) yang ada di ponsel pintar saja tidak apa-apa, kan."

 

​──Sambil berpikir demikian, aku memasukkan tangan ke dalam saku celana, tetapi ponsel pintar tidak ada di sana.

 

​Gawat. Tempat ini adalah dunia Magi-Ama. Ponsel pintar tidak eksis di sini.

 

​"Ponsel pintar…… itu benda apa?"

 

​Gawat, aku harus mengaturnya agar beralih.

 

​"Ponsel pinterrr~! Maksudku aku berpikir kalau kita meneriakkan hal itu dengan gembira, jalannya mungkin bisa terbuka dengan lancar~ begitu."

 

​Alasan macam apa itu. Diriku sendiri benar-benar seperti orang bodoh. Bodoh tingkat akut. Kemampuanku dalam mencari alasan benar-benar terlalu payah. Lena pasti sudah dibuat ilfil olehku.

 

​"Seperti dugaan dari dirimu. Maksudmu di saat sedang mengalami kondisi sulit justru merupakan saat di mana kita harus menjalaninya dengan ceria, kan."

 

​Ada apa-apaan dengan pandangan mata berkilat yang menaruh rasa percaya sepenuhnya seperti itu. Sifat Lena benar-benar terlampau murni hingga membuatku cemas kalau dia akan ditipu oleh pria aneh nanti.

​"Pokoknya untuk saat ini, mari kita fokus memikirkan masalah bagaimana cara keluar dari dungeon ini dengan selamat saja."

 

​Sembari memperketat kewaspadaan terhadap area sekeliling secara hati-hati, aku melangkah di depan memandu jalan untuk menyusuri bagian dalam dungeon yang remang-remang.

 

***

 

​──Aneh. Aku merasa seolah-olah kami sedang berputar-putar di lokasi yang sama secara terus-menerus. Jangan-jangan……

 

​"Kita sepertinya sudah tersesat, ya."

 

​"I-Iya, sepertinya begitu. Mohon maaf."

 

​"Tolong jangan dimasukkan ke dalam hati. Diriku sendiri pun sama sekali tidak memahami arah mata anginnya, kok."

 

​Saat menghentikan pijakan kaki untuk melihat ke arah depan, jalur koridor di depan mata kami terbagi menjadi dua arah kiri dan kanan.

 

​"Umu. Sebaiknya kita melangkah ke arah sebelah mana, ya?"

 

​Sebelumnya pemandangan yang serupa juga sempat ada. Tampaknya kami sudah berputar berkeliling and kembali ke lokasi yang sama. Yang kami pilih sebelumnya adalah jalur kiri. Singkatnya, jawaban yang semestinya adalah koridor sebelah kanan, toh.

​Nggak, jangan terburu-buru. Membuat keputusan secara gampang itu tidak boleh dilakukan.

 

​Jika kami terus-menerus berputar-putar di lokasi yang sama sejak tadi, kemungkinan ada monster yang memiliki kemampuan untuk membuat manusia tersesat sedang bersembunyi di sekitar sini. Monster yang muncul di dalam Magi-Ama itu adalah……

 

​"Hei, kenapa kamu malah bermalas-malasan dari tadi?"

 

​"Aku sedang berpikir sedikit, tahu."

 

​"Tempat ini kan sudah kita lewati sebelumnya juga, kan. Dan begitu memilih jalur kiri kita berakhir kembali ke lokasi yang sama. Singkatnya, kita tinggal melangkah ke koridor sebelah kanan saja sudah beres, kan."

 

​"Jika memikirkannya secara lurus memang nyata seperti itu, sih, tapi tolong tunggu sebentar."

 

​"Aku tidak bisa menunggu. Lena-chan, ayo jalan."

 

​Haruru menarik tangan Lena secara paksa, lalu melangkah masuk ke dalam koridor sebelah kanan bersama-sama.

 

​"Tolong tunggu sebentar, Haruru!"

 

​Benar juga. Monster itu adalah seekor fabel bernama Mujina (幻獣ムジナ). Untuk urusan kemampuan bertarung dia adalah karakter kroco belaka. Namun makhluk itu memiliki kemampuan untuk mengacaukan kepekaan arah mata angin manusia, memperlihatkan halusinasi, and membuat target tersesat di dalam jalur.

 

​Jika terus melangkah mengikuti arahannya, secara normal target akan digiring untuk masuk sampai ke bagian paling dalam dari dungeon. Di area pedalaman yang seperti itu, adakalanya dihuni oleh monster yang jauh lebih kuat dibandingkan kadar normal.

 

​Singkatnya untuk kondisi saat ini, memilih jalur kiri justru merupakan jawaban yang semestinya.

 

​"Kubilang tunggu, tahu!"

 

​Aku terburu-buru berlari mengejar Lena and Haruru yang sudah terlanjur melangkah masuk ke dalam koridor sebelah kanan.

 

​Saat melangkah masuk ke bagian dalam, sosok punggung dari Haruru yang berambut perak and Lena yang berambut merah tampak berjalan di arah depan.

 

​Area di sekeliling terasa jauh lebih gelap and lembap dibandingkan yang sudah-sudah, dipadukan dengan adanya hawa jahat yang merebak di udara. Seperti dugaan, kondisi saat ini benar-benar nyata sudah teramat sangat gawat.

 

​"Hei, kalian berdua! Sebelah sana keliru, tahu. Bagian dalam berbahaya. Mari kita putar balik!"

 

​Mendengar suara teriakanku membuat keduanya memalingkan wajah ke belakang.

 

​──Namun meski begitu, Haruru kembali mengarahkan wajahnya ke depan dan melangkah menuju bagian dalam gua yang berkelok-kelok. Lena pun berakhir melangkah mengikuti Haruru dengan memasang raut wajah yang tampak terpaksa karena tangannya ditarik.

 

​"Tolong tunggu sebentar! Kenapa kamu malah mengabaikan diriku?"

 

​Terhadap pertanyaan yang kuluncurkan pun Haruru tetap memberikan pengabaian. Seperti dugaan, pelaku dari serangkaian kejadian selama ini memang nyata adalah Haruru tanpa salah lagi. Sosok punggung yang melangkah pergi dengan berlari kecil setelah mengintip situasiku secara diam-diam dari luar kelas waktu itu adalah Haruru.

 

​Jika terus melangkah menuju bagian dalam, tingkat kemungkinan adanya bahaya yang menanti terhitung tinggi. Aku harus segera menghentikan langkah mereka berdua secepat mungkin.

 

​Sambil memikirkan hal itu, aku mengumpulkan tenaga di bagian perut lalu menaikkan volume suara sekencang mungkin.

 

​"Tunggu, Haruru! Apakah kamu mengabaikan diriku karena kamu menganggap diriku ini menyebalkan? Kamu berniat menjauhkan diriku dari Lena, kan? Sampai-sampai sengaja menulis surat yang seperti itu segala."

 

​Jika dugaanku ternyata melesat, aku memohon maaf yang sebesar-besarnya. Namun karena aku tidak bisa membiarkan mereka berdua terlibat di dalam bahaya, aku memantapkan hati untuk meluncurkan gertakan.

 

​"H…… Haruto-kun? Sebenarnya pembarian masalah apa yang kamu

maksud?"

 

​"Benar kata dia. Surat apa yang dimaksud? Aku sama sekali tidak

memahami maksudmu, lho?"

 

​Persis seperti skenario di dalam targetku, Haruru menghentikan pijakan kakinya lalu berbalik menghadapku. Sembari terburu-buru melangkah mendekat untuk memangkas jarak di antara kami berdua, aku kembali meluncurkan gertakan berikutnya.

 

​"Di dalam surat itu, sisa mana milikmu tertangkap secara jelas. Mohon maaf ya Haruru, tetapi khusus untuk urusan kemampuan mendeteksi mana, tingkat kemampuan milikku ini berada di level yang abnormal tingginya, lho."

 

​"M-Mana mungkin…… kamu bohong, kan?"

 

​Iya, aku bohong, kok. Mana mungkin aku memelihara kemampuan sehebat itu.

 

​"Anu, Haruru. Jika dirimu sendiri aslinya memang nyata tidak memelihara keterkaitan apa pun, respons yang kamu berikan tidak akan menjadi seperti yang sekarang, lho. Kamu seharusnya memasang raut wajah kebingungan karena tidak tahu pembicaraan masalah apa yang dimaksud, kan."

 

​"Ah……"

 

​Sebuah raut wajah yang memancarkan ekspresi gawat. Tepat sasaran (bingo).

 

​"Apakah fakta bahwa diriku berada di samping Lena benar-benar tidak bisa diterima olehmu? Sampai-sampai menuliskan surat berisi 'Jangan mendekati Lena', merusak lubuk kancing celanaku menggunakan sihir, and menyembunyikan tongkat sihir milikku. Meluncurkan siasat di dalam dungeon untuk membuat diriku terjatuh ke lantai bawah pun merupakan perbuatanmu, kan. Meskipun target perhitunganmu sempat menjadi berantakan akibat Lena yang bergerak demi menolongku, sih."

 

​"Eh? Tolong tunggu sebentar. Mana mungkin Haruru tega melakukan

hal yang seperti itu……"

 

​"Sudahlah tidak apa-apa, Lena-chan. Karena sudah telanjur ketahuan, di sini aku akan mengatakannya secara gamblang. Semuanya memang nyata persis seperti yang dikatakan oleh pria ini, kok. Aku benar-benar tidak bisa mentoleransi fakta kalau pria ini mendekati Lena-chan, tahu."

 

​"Kenapa?"

 

​"Hal itu kan sudah pasti, kan. Keparat ini adalah Zeit si orang mesum, kasar, dan berpikiran dangkal (ゲソタ / Gesota), tahu. Mendekati Lena-chan demi niat untuk melakukan hal mesum, mana mungkin hal seperti itu bisa kuizinkan, kan."

 

​"Aku tidak akan melakukan hal yang seperti itu."

 

​"Lalu kenapa kamu bersedia mendekati Lena-chan? Target dari pria

bejat sepertimu saat mendekati murid perempuan bukankah sudah pasti murni hanya sebatas satu tujuan itu saja, kan."

 

​"Hal yang seperti itu tidak ada. Aku……"

 

​"Ada apa?"

 

​"Aku murni hanya ingin mendampingi hal-hal yang dikhawatirkan maupun masalah yang membuat Lena kesulitan, walau hanya sedikit. Singkatnya aku ingin agar Lena bisa mendapatkan kebahagiaan. Murni hanya sebatas itu belaka."

 

​Mendengar barisan kalimat yang kuluncurkan membuat Lena membulatkan matanya secara lebar. Dan kemudian warna kulit wajahnya berangsur-angsur memerah pekat seiring dengan nafasnya yang memburu. Namun di sisi lain, Haruru murni hanya memicingkan pandangan matanya secara skeptis belaka.

 

​"Huuumn…… dengan berpegang pada alasan yang seperti itu, kamu menipu Lena-chan demi bisa mendekatinya, ya. Pokoknya buruan hentikan tindakan mendekati Lena-chan, dasar keparat munafik."

 

​"Tolong tunggu sebentar, Haruru. Haruto-kun bukan orang yang seperti itu. Aku sama sekali tidak sedang ditipu olehnya."

 

​"Lihat sendiri. Kondisi yang seperti itu justru merupakan bukti kalau kamu sudah ditipu, tahu. Kamu sudah terlanjur terperosok ke dalam perangkap licik milik Gesota. Aku mengatakannya demi kebaikan

Lena-chan, jadi tolong pahamilah. Bagi diriku, Lena-chan adalah satu-satunya teman berharga yang bersedia memahami diriku yang sebenarnya dari lubuk hati yang paling dalam, tahu."

 

​"Aku tidak ditipu, kok. Dia beneran mendampingi lubuk hatiku dengan penuh ketulusan. Dia sudah memberikan banyak pertolongan kepadaku. Terlebih lagi terhadap hal tersebut, hal…… hal mesum ataupun pembalasan budi sama sekali tidak pernah diminta olehnya walau hanya satu hal pun."

 

​Fakta bahwa Lena menaruh rasa percaya yang teramat besar kepadaku sampai ke tahap sejauh ini, benar-benar membuatku terkejut.

 

​"H-Hal yang seperti itu sudah pasti merupakan kemunafikan belaka. Aku tidak sudi menerima fakta kalau Lena-chan yang teramat kusukai menjalin hubungan akrab bersama Gesota yang teramat kubenci!

Dengar ya Gesota! Jangan merebut Lena-chan dari tanganku!!"

 

​Haruru bahkan tidak sudi untuk memercayai perkataan dari Lena yang merupakan sahabat karibnya sendiri. Dari barisan kata and ekspresi wajahnya, rasa cemburu yang teramat besar terhadap diriku tampak meluap keluar. Selama ini aku terlanjur berasumsi bahwa tipe kepribadian miliknya adalah Malaikat, tetapi tingkat keraguan dan rasa cemburu yang pekat ini mencerminkan tipe kepribadian yang berbeda tanpa salah lagi.

 

​Terhadap lawan bicara yang seperti ini, sebaiknya tindakan seperti apa yang harus kulakukan agar dia bisa memahaminya. Terlebih lagi diriku adalah Zeit si karakter orang yang dibenci. Demi membuat Haruru menaruh rasa percaya, jalurnya sepertinya tidak akan bisa diselesaikan menggunakan cara yang biasa.

 

​Tepat pada saat itu, mendadak Lena menunjuk ke arah permukaan dinding raksasa yang berada di ujung koridor jalur.

 

​"Kyaakh! Gawat!"

 

​Dari balik kegelapan yang berada di ujung permukaan dinding, sesosok monster serigala berukuran raksasa memunculkan diri. Di bagian kepalanya terpasang satu buah tanduk berukuran besar.

 

​──Makhluk itu adalah seekor Kurfia (一角狼クルフィア)!

 

​Sesosok monster dengan peringkat Rank A. Prediksi burukku akhirnya benar-benar nyata terjadi.

 

​"Lena! Haruru! Lari!"

 

​Berseberangan dengan barisan kata yang kulontarkan, Lena justru mengambil sebuah tindakan yang teramat tidak disangka-sangka.

 

"Haruru! Kita lakukan!"

Dia melangkah maju, menatap langsung ke arah monster besar itu, lalu mengangkat kedua tangannya untuk merapalkan sihir serangan.

 

Kekuatan sihir Lena meningkat pesat belakangan ini. Sementara Haruru adalah seorang teknisi dengan kekuatan serangan standar namun akurasi yang tinggi. Jika mereka berdua menggabungkan kekuatan, mungkin saja mereka bisa mengalahkan Kurfia.

 

"B-baiklah. Memang benar sekarang bukan saatnya untuk bertengkar."

 

Haruru pun mengangkat tangannya dan merapalkan mantra.

 

Api keluar dari tangan Lena, dan petir keluar dari tangan Haruru. Kedua sihir itu dilepaskan bersamaan, menyelimuti seluruh tubuh monster itu.

 

"Oooh, hebat sekali kalian berdua!"

 

Api dan petir mereda, membuat pandangan kembali jelas. Di sana, monster raksasa itu sedang mendengus kasar dengan taring yang menyeringai.

 

Serangan mereka berdua memang mengenai sasaran dengan telak.

 

Namun, bulu keras yang menyelimuti seluruh tubuhnya berfungsi layaknya baju zirah, sehingga tidak memberikan kerusakan yang berarti.

 

Kekuatan monster Rank A ini jauh melampaui imajinasi.

 

Kurfia yang marah karena diserang, mengangkat kaki depannya ke arah mereka.

 

"Kyaaaah!"

 

Monster itu menerjang. Keduanya ketakutan. Jeritan Lena bergema di dalam dungeon, sementara wajah Haruru berubah karena ketakutan.

 

Meskipun kekuatan sihir mereka kuat, mereka hanyalah gadis lemah yang hampir tidak punya pengalaman tempur nyata, jadi wajar jika mereka ketakutan.

 

Aku pun takut. Tapi, entah mengapa diriku justru merasa tenang, seolah-olah sedang melakukan pertempuran yang sudah biasa kulakukan di dalam game.

 

Saat itu, monster tersebut mengayunkan cakar tajamnya. Senjata mematikan yang tajam itu mengincar Haruru.

 

"Bahaya!"

 

Tanpa berpikir panjang, aku berlari menerjang untuk memposisikan tubuhku di depan Haruru. Lalu, aku memeluk tubuh bagian atasnya dengan kedua tanganku dan menghindar ke samping dengan momentum tersebut.

 

Cakar tajam Kurfia menyambar tepat di depan mataku. Monster itu kehilangan keseimbangan karena serangannya meleset, lalu terguling.

 

Bagus, berhasil menghindar di detik terakhir──tepat setelah merasa lega, rasa sakit yang hebat menjalar di punggungku.

 

"Guaaah, sakiiiit!!!!"

 

Cakar monster yang gagal kuhindari ternyata mencabik punggungku. Sakit.

 

──Maksudku, panas.

 

Karena sempat lengah sejenak, langkah terakhir untuk menghindar jadi kurang maksimal. Tapi, Haruru tidak terluka. Syukurlah.

 

"H-Haruto-kun! Apa kamu tidak apa-apa!?"

 

Lena bertanya dengan nada cemas.

 

"Aku tidak apa-apa."

 

Punggungku terasa sakit seperti mau mati, tapi maksudku tidak apa-apa dalam artian aku belum mati.

 

Tapi aku harus segera bersembunyi sebelum monster itu menyerang lagi. Kami harus kabur saat dia masih terjatuh.

 

"Kemarilah!"

 

Lena memberi isyarat. Ada sebuah lubang gua kecil yang dikelilingi batu di sana. Jika kami masuk ke sana, monster berukuran besar itu tidak akan bisa masuk.

 

"Ayo, Haruru."

 

"Uwa…… auuu……"

 

Haruru yang wajahnya berkerut mengeluarkan suara yang nyaris tak terdengar. Sepertinya tubuhnya tidak bisa digerakkan karena ketakutan.

 

"Maaf!"

 

Aku merangkul Haruru dari belakang melalui bawah ketiaknya dan menggendongnya dengan kedua tanganku.

 

Aku menyeret Haruru ke arah Lena. Karena Haruru bertubuh kecil dan ringan, menyeretnya tidak jadi masalah. Masalahnya adalah 'tanganku' tidak sengaja menyentuh sesuatu yang hangat, lembut, dan besar.

 

Kalau dalam situasi normal, ini jelas tindakan asusila. Tapi demi nyawa, tolong maafkan aku karena ini adalah kondisi darurat.

 

Pada akhirnya, Lena pun ikut membantu membawa Haruru masuk ke dalam gua. Bagian dalamnya memang jalan buntu, tapi setidaknya kami bisa menghindari serangan untuk saat ini.

 

"Haruto-kun, punggung itu!"

 

Lena yang berwajah pucat menutup mulutnya dengan tangan dan berteriak. Sepertinya baju seragam dan kemejaku robek, hingga kulitku terlihat. Pantas saja terasa semilir.

 

"Darahnya banyak sekali! Luka separah ini, mana mungkin 'tidak apa-apa'!"

 

"Tidak, aku tidak apa-apa."

 

Aku tidak punya pilihan selain mengatakan itu. Karena aku tidak ingin membuat mereka cemas.

 

"Haruto-kun……"

 

Haruru, yang menatap lekat punggungku, wajahnya tampak kehilangan warna.

 

"Aku bisa sihir penyembuh sedikit, biar kucoba."

Haruru merapalkan mantra. Luka itu terasa hangat dan nyaman. Sepertinya dia belum memiliki skill untuk menyembuhkannya secara total, tapi pendarahannya sudah berhenti.

 

"Oooh, hebat. Rasa sakitnya berkurang. Terima kasih."

 

"Maaf, gara-gara aku."

 

"Bukan gara-gara Haruru kok. Dia kebetulan saja mengincarmu, dan yang salah adalah monster itu."

 

"Bukan begitu……"

 

"Dan soal masuk ke lorong kanan tadi, kalau dipikir secara normal orang pasti memilih jalan itu, jadi itu bukan salahmu juga."

 

"Bukan, bukan soal itu."

 

Sambil mengalihkan pandangan, Haruru tetap memberanikan diri untuk berkata.

 

"Soal aku yang mencurigaimu dan melakukan hal aneh padamu!"

 

Haruru menciutkan bahunya dengan wajah yang benar-benar menyesal.

 

"Maaf karena membuatmu terluka parah gara-gara aku. Aku tidak menyangka di lantai dua ada monster sekuat itu…… Aku sama sekali tidak berniat membuat kalian berada dalam bahaya. Meskipun mungkin kamu tidak akan percaya."

 

"Aku percaya kok."

 

Wajah menyesal Haruru ini tidak terlihat seperti akting.

 

"Aku juga minta maaf karena membuat Lena-chan berada dalam bahaya."

 

Haruru menundukkan kepala dalam-dalam kepada aku dan Lena berkali-kali. Aku tidak tega untuk terus menyalahkannya.

 

"Tidak apa-apa. Karena kamu melakukan itu karena mencemaskanku, aku tidak membencimu, Haruru."

 

"Betul. Aku juga sama."

 

"Kenapa kalian bisa jadi orang sebaik ini padahal aku sudah menjebak kalian? Kenapa sampai sejauh itu?"

 

"Karena menolong gadis yang sedang kesulitan itu adalah hal yang wajar."

Ya, “Magi-Ama” memang game yang seperti itu. Lagipula, jika mengingat perbuatan buruk Zeit di masa lalu, aku tidak bisa merasa benci pada Haruru yang mencurigaiku.

 

"Melihat kalian berdua akrab belakangan ini, aku yakin banget Lena-chan ditipu. Soalnya, Haruto Zeit itu pria nakal, egois, dan jahat yang suka menjebak orang."

 

Reputasi diriku ternyata sangat buruk, ya. Karena itu memang benar, aku tidak bisa membantahnya. Tapi, kepribadian Zeit yang sekarang sudah berubah. Tapi, kalau kujelaskan begitu, aku pasti dianggap gila, jadi aku diam saja.

 

"Itu hanya rumor, faktanya tidak begitu, Haruru. Lihatlah baik-baik. Dia punya wajah yang lembut, kan?"

 

Mendengar kata-kata Lena, Haruru menatap wajahku.

 

Mendapat tatapan dari dua gadis cantik sekaligus membuatku sangat malu. Tolong hentikan.

 

"Iya juga, ya…… ternyata aku keterlaluan banget, ya."

 

"Tidak juga. Aku justru terkesan dengan kebaikan hati Haruru yang memikirkan sahabatnya."

 

"……Beneran? Padahal aku sudah bicara jahat padamu, tapi kamu malah mempertaruhkan nyawa untuk menolongku, dan malah memujiku tanpa mengeluh sedikit pun…… Kamu orang yang terlalu baik, ya?"

Lena tersenyum senang seolah menyetujui, "Benar, kan."

 

"Gruoooorrr……"

 

Saat itu, terdengar suara geraman yang mengguncang bumi. Mata besar sedang mengintip dari luar gua batu tempat kami bersembunyi. Kami telah ditemukan oleh Kurfia.

 

Monster itu memasukkan kaki depannya yang berbulu dengan cakar besar ke dalam gua. Kami bertiga merapatkan diri, mencoba untuk menjauh sejauh mungkin. Tapi gua itu tidak terlalu dalam. Kaki depan monster itu hampir mencapai kami.

 

"Kyaaaah……" "Uuuugh……"




Jeritan Haruru yang ketakutan oleh kaki binatang yang mendekat di depan mata, serta geraman Lena yang menahan rasa takutnya.

 

Kurfia mengeluarkan raungan, "Gruoooorrr!!" lalu menusukkan kaki depannya ke dalam gua.

 

"Uwwakh!"

 

Cakar tajam binatang itu mendesak di depan mata. Aku sudah bersiap pasrah kalau wajahku akan dicabik oleh cakar itu dan semuanya akan berakhir.

 

"Bahaya! Wahai Jimat, tolong lindungi Haruto-kun!"

 

Mendengar kata-kata Lena, jimat yang tersimpan di dalam saku dalam kemejaku mendadak bereaksi. Benda itu bersinar di dalam saku, lalu menembus pakaian dan memancarkan cahaya yang melesat lurus ke arah wajah monster tersebut.

 

Cahaya itu masuk ke indra penglihatannya, membuat Kurfia menjadi gentar dan menarik kembali kaki depannya.

 

"Terima kasih. Berkat jimat yang kudapatkan dari Lena, nyawaku bisa terselamatkan."

 

"Syukurlah. ……Namun setelah indra penglihatan monster itu pulih kembali, dia pasti akan meluncurkan serangan lagi."

Jimat tersebut langsung lenyap menguap setelah meluncurkan khasiatnya yang tadi. Tampaknya berkahnya memang murni hanya berlaku untuk satu kali saja.

 

Karena itulah jika dihujani serangan sekali lagi, kami tidak akan memiliki peluang untuk bertahan.

 

"Aaakh, apakah kami akan berakhir mati di tempat seperti ini……"

 

Lena yang biasanya selalu memegang teguh sikap tegas sekarang memasang raut wajah yang tampak bagai mau menangis. Dia benar-benar sedang dilesat oleh rasa ketakutan yang teramat sangat. Di sampingnya, tubuh Haruru tampak bergetar secara hebat.

 

"Nggak, tidak apa-apa, kok. Kalian berdua tenanglah. Aku secara mutlak pasti akan melindungi kalian berdua."

 

"……Eh?"

 

Hal itu mungkin karena aku mengatakannya dengan pembawaan yang teramat penuh percaya diri. Mereka berdua menatapku menggunakan pandangan mata yang terkejut. Dan dari ekspresi wajah tersebut, ketenangan berangsur-angsur mulai kembali secara bertahap.

 

Bicara jujur, cara untuk mengalahkan keparat itu sebenarnya belum berhasil kutemukan.

 

Di dalam game pun, adakalanya pemandangan di mana monster yang kekuatannya berada di atas level pemain saat itu memunculkan diri memang pernah ada beberapa kali. Jika dalam kondisi normal, target sama sekali tidak akan memiliki peluang menang dan akan berakhir Game Over dengan Bad End.

 

Namun jika menghadapi kondisi yang seperti itu, di dalam “Magi-Ama” biasanya sudah disediakan semacam metode tertentu yang didesain agar bisa meloloskan diri dari krisis secara tepat.

 

Sisanya adalah apakah metode itu bisa ditemukan atau tidak? Di situlah letak poin untuk memperlihatkan kecerdasan dari pihak pemain.

 

──Untuk kondisi kali ini, kira-kira hal itu berupa apa?

 

Di dalam game, saat tingkat level milikku masih terhitung rendah, aku pernah berpapasan dengan Kurfia yang tidak akan bisa dikalahkan menggunakan sihir mandiri.

 

Kurfia yang murni hanya menghuni di dalam dungeon memiliki titik kelemahan terhadap Emera, sebuah batu sihir yang eksistensinya hanya ada di dalam lautan belaka.

 

Diriku yang saat itu memiliki anak panah yang dibuat memanfaatkan Emera, menggunakan sihir demi menembakkan anak panah tersebut tepat ke arah perut keparat itu untuk mengalahkannya.

 

Meskipun kekuatan sihir milikku yang saat itu menjadi protagonis tidak bisa mengalahkan Kurfia secara langsung, tetapi setidaknya aku bisa meningkatkan daya hancur dan tingkat akurasi dari anak panah tersebut secara terhitung tinggi. Metode itu bisa tercipta murni karena alasan tersebut.

 

Diriku yang sekarang bukan merupakan protagonis. Kekuatan sihirku berada di tingkat yang super duper kroco. Dan anak panah pun tidak eksis di tempat ini.

 

──Umu, aku beneran sudah buntu (skakmat), toh.

 

Nggak, nggak, jangan menyerah dulu, diriku. Kalau dipikir-pikir, di dalam pena milik Lena kalau tidak salah──

 

"Lena. Perlihatkan pena yang itu dong."

 

"Pena…… kah?"

 

Sembari memasang raut wajah penuh keheranan, Lena menyodorkan pena yang terselip di dalam saku dadanya kepadaku. Seperti dugaan, benda ini adalah pena yang ditanami banyak batu Emera oleh Lena. Baiklah. Kalau menggunakan benda ini, hal itu bisa dilakukan.

 

"Kurfia memelihara kelemahan terhadap Emera. Jika kita menembakkan pena ini ke arah keparat itu layaknya anak panah, dia pasti akan bisa dikalahkan."

 

"Menggunakan benda sekecil itu?"

 

"Nggak, jika dibiarkan dalam kondisi yang seperti ini memang nyata mustahil, sih……"

Di dalam dunia yang sekarang ini diriku memang bukan merupakan protagonis, tetapi Lena memelihara kekuatan sihir tingkat tinggi yang didapatkan berkat adanya khasiat dari Love Energy.

 

Jika memanfaatkan hal tersebut, kerusakan fatal bisa dihadiahkan kepada Kurfia.

 

"Aku akan melemparkan pena ini ke arah keparat itu, jadi Lena tolong pasang sihir pelapis berupa amplifikasi daya hancur pada penanya, ya."

 

"Begitu, ya. Namun meski dibilang demikian, kenapa Haruto-kun bisa mengetahui hal seperti Kurfia memelihara kelemahan terhadap Emera?"

 

Mengatakan kalau hal itu karena aku sudah memainkan game-nya sampai khatam, tentu saja tidak akan bisa dilakukan.

 

"Kebetulan saja aku mengetahuinya, kok. Sekarang bukan waktunya untuk memikirkan hal yang seperti itu, lho, Lena. Pokoknya mari kita coba saja."

 

"Ah, iya. Mari kita lakukan."

 

"Diriku juga akan melakukannya bersama Lena, sihir amplifikasi daya hancur."

 

"Iya, hal itu akan sangat membantu."

 

"Ah, tapi Haruto-kun……"

Seolah memikirkan suatu hal, Lena mengarahkan raut wajah yang tampak cemas.

 

"Karena bulu Kurfia memiliki tingkat kekerasan yang setara baju zirah, meskipun dipasang amplifikasi daya hancur pun, bukankah penanya tidak akan bisa menancap dengan mudah?"

 

"Kurfia memang menutupi bagian punggungnya menggunakan bulu yang menyerupai baju zirah, tetapi bagian perutnya memelihara lapisan bulu yang tipis. Jika keparat itu mengangkat kaki depannya secara lebar saat menyerang seperti yang tadi, bagian perutnya akan terpampang nyata sehingga momen itulah yang menjadi kesempatan emas."

 

Hal ini pun bisa kuketahui murni karena aku sudah bertarung melawan

Kurfia berkali-kali di dalam game.

 

"Ah, begitu, ya, ternyata kamu sampai melakukan observasi sampai ke tahap sejauh itu…… seperti dugaan, kamu hebat. Aku menaruh rasa hormat kepadamu, Haruto-kun."

 

Nggak, yang hebat itu bukan diriku, melainkan murni berkat khasiat karena aku sudah memainkan “Magi-Ama” sampai khatam, tahu.

 

Meskipun rasanya sedikit mengganjal di hati karena seolah sedang

menipu mereka, dalam kondisi ancaman kematian yang sudah mendesak seperti sekarang, hal seperti itu tidak berada di posisi untuk dipermasalahkan.

 

Sembari kami bersiap mengambil posisi untuk menanti, tidak lama kemudian indra penglihatan monster dengan peringkat *Rank A* tersebut akhirnya pulih kembali, dan dia mulai meluncurkan serangan lagi. Persis seperti yang ditargetkan. Dia menerjang ke arah sini dengan mengangkat kaki depannya secara lebar.

 

"Sekarang! Lakukan, goooo!!"

 

Aku melemparkan pena tersebut tepat ke arah perut milik keparat itu.

 

Ujung pena terbang melesat ke arah monster layaknya anak panah.

 

Di sampingku, Lena dan Haruru mengaktifkan sihir mereka.

 

"Aku mulai, ya! Sihir Pelapis, ○×Ψ◎!"

 

"Aku juga akan memasang sihir pelapis! ▼※◆#》!"

 

Pena yang terselimuti oleh sihir yang dilepaskan keduanya seketika membesar hingga sekitar sepuluh kali lipat. Di saat yang sama, sejumlah besar batu Emera memancarkan cahaya yang menyilaukan, membuatku tahu bahwa daya hancur dari sihir tersebut telah diamplifikasi secara drastis.

 

Pena itu melesat begitu saja dan menghantam perut Kurfia dengan telak, lalu menancap di sana.

 

"Gufuhoooouuugh……!!"

Sembari mengeluarkan raungan yang terdengar teramat menderita, monster raksasa itu jatuh telentang sambil menggeliat kesakitan.

 

Kemudian, sesuatu yang menyerupai kabut membumbung keluar dari seluruh tubuhnya hingga dia lenyap tak bersisa. Itu adalah sebuah kejadian yang berlangsung dalam sekejap mata.

 

Luar biasa. Berkat batu sihir Emera dan sihir mereka berdua, sebuah pena biasa telah bertransformasi menjadi tombak suci yang sanggup menembus monster.

 

"Kalian berdua hebat!! Berkat kalian aku bisa selamat."

 

"Nggak, nggak, ini semua berkat Haruto-kun, lho. Kamu benar-benar

orang yang luar biasa."

 

"Benar kata dia. Kalau tidak ada Haruto-kun, mana mungkin hal seperti

ini bisa terpikirkan."

 

Mereka berdua menatapku menggunakan pandangan mata yang teramat berkilat. Dihadapi dengan pandangan mata yang penuh antusiasme oleh dua orang gadis cantik seperti ini adalah kejadian yang baru pertama kali terjadi sepanjang hidupku. Nggak, aku beneran malu.

 

Karena terlampau memalukan rasanya aku ingin masuk ke dalam lubang saja…… ah, tapi kami kan saat ini memang nyata sudah berada di dalam lubang raksasa bernama dungeon, ya.

 

***

 

Berkat sihir tingkat tinggi yang kuat milik mereka berdua, monster raksasa akhirnya bisa dibasmi.

Di lokasi tempat keparat itu menguap, sebuah batu sihir berukuran besar memunculkan diri. Semakin kuat monster yang dihadapi, maka batu sihir yang tersisa pun akan menjadi semakin besar pula.

 

Jika menyerahkan batu sihir sebesar ini kepada Guru, berdasarkan poin jumlah monster yang berhasil dikalahkan, nilai akademis kami kemungkinan besar akan berada di tingkat atas.

 

Namun jika fakta mengenai kami yang turun ke lantai bawah sampai ketahuan, menjelaskannya akan menjadi teramat merepotkan. Mari kita tinggalkan saja batu sihir ini di sini.

 

"Kalau begitu, mari kita jalan, yuk."

 

Setelah baju seragam bagian atas dan kemejaku yang robek besar diperbaiki oleh Haruru memanfaatkan sihir pemulihan, kami kembali melangkah berjalan menuju ke lantai atas.

 

Dari titik tersebut, untungnya tidak ada monster yang seberapa yang memunculkan diri, sehingga kami bisa tiba di lantai tingkat pertama dengan selamat, lalu melangkah keluar ke bagian luar dungeon.

 

Di tempat itu, para murid yang sudah menyelesaikan sesi eksplorasi dungeon tampak sudah berkumpul dan berkerumun dalam jumlah banyak.

 

"Aaakh, Haruru! Kamu mendadak menghilang begitu saja, sebenarnya pergi ke mana sih? Aku dari tadi terpaksa berjalan seorang diri di dalam dungeon, tahu."

 

Orang itu adalah Dunkel Sonne. Karena Haruru yang menjadi rekannya berada bersamaku, dia berakhir sendirian, toh.

 

"Padahal aku sudah berpikir kalau ini adalah kesempatan untuk menghabiskan waktu berduaan saja bersamamu, aku merasa kesepian,

lho. Dirimu sendiri pasti merasa kesepian juga, kan?"

 

"Mohon maaf, ya. Habisnya aku sempat tersesat, sih. Tapi karena kebetulan bertemu dengan Lena dan Haruto-kun, aku beneran bener-bener tidak merasa kesepian sama sekali walau hanya satu milimeter pun!! Terlebih lagi aku bisa melihat sosok Haruto-kun yang keren, lho!"

Haruru mengarahkan senyuman yang teramat lebar ke arahku setelah mengatakan hal itu.

 

Tolong hentikan hal yang seperti itu. Kamu sedang memicu lahirnya rasa benci Sonne terhadap diriku, lho?

 

"Hah? Pria yang nilai akademisnya payah dan berwajah buruk seperti ini dibilang keren? Hahaha, sejak kapan sih Haruru menjadi pandai melontarkan rayuan sindiran yang ketus seperti itu?"

 

"Ini bukan sindiran, melainkan murni fakta yang nyata, kok."

 

"Kamu bohong, kan."

 

"Nggak. Diriku ini tidak pernah melontarkan sindiran ketus, lho. Kecuali terhadap pria yang sama sekali tidak bisa melihat jati dirinya sendiri seperti dirimu, sih."

 

"Kuh……"

 

Mendapatkan sindiran yang teramat ketus seperti itu, Sonne yang malang tampak tertegun dengan wajah linglung.

 

"Bagi yang sudah menyelesaikan sesi eksplorasi dungeon, silakan kembali ke kelas untuk bersiap menanti, ya! Ayo, jangan bermalas-malasan!"

 

Kinto-sensei melontarkan barisan kalimat kepada para murid yang sedang berkerumun di sekitar area pintu masuk dan keluar dungeon.

Sembari meninggalkan Sonne yang tubuhnya mematung dengan raut wajah masam, kami pun melangkah menuju ke kelas.

 

***

 

Waktu jam pulang sekolah akhirnya tiba. Lena memberikan sapaan dengan berkata mari kita pulang bersama, membuat kami berdua melangkah menyusuri jalan pulang menuju rumah. Karena murni hanya berduaan saja, Lena pun memasang ekspresi wajah yang santai. Ini adalah kesempatan emas untuk mencari tahu apakah tingkat kebahagiaan miliknya benar-benar sudah meningkat atau belum.

 

Jika di dalam game, tingkat kebahagiaan milik heroin bisa langsung dipahami begitu kita melihat jendela status, tetapi di dunia yang sebelah sini hal seperti itu tidak bisa dilihat.

 

"Anu, Lena."

 

"Ada apa?"

 

Lena yang berjalan sejajar di sampingku sambil menaikkan wajah untuk melihatku sedang memasang raut wajah yang tenang.

 

"Belakangan ini aku merasa kalau Lena sudah bisa mengeluarkan isi hatinya secara jujur menggunakan kata-kata, sih……"

 

"Benar, ya. Diriku sendiri pun berpikir demikian."

 

"Begitu, ya. Syukurlah."

 

Bagian pembukanya terasa sudah berjalan dengan cukup bagus. ……Nah, sebaiknya dengan cara seperti apa aku harus menanyakan masalah tingkat kebahagiaan milik Lena, ya?

 

Menanyakannya secara lurus seperti 'apakah kamu bahagia?' itu rasanya persis seperti barisan kalimat yang diucapkan oleh pacar pria kepada pacar perempuannya sehingga terasa menjijikkan, kan. Umu…… merepotkan sekali.

 

"Berkat Haruto-kun, diriku yang sekarang merasa bahagia, lho. Terima kasih."

 

"……Eh?"

 

Mendadak dia langsung mengucapkan hal yang ingin kutanyakan tanpa diduga?

 

"B-Beneran?"

 

"Iya. Berkat Haruto-kun, aku menjadi bisa membicarakan perasaan di dalam hatiku secara jujur. Fakta bahwa Haruto-kun bersedia menganggapku berharga, dan memberikan beraneka ragam bantuan untukku…… hal itu sudah pasti membuatku teramat sangat bahagia."

 

Ah, syukurlah. Benar-benar nyata syukurlah.

 

"Haruto-kun, entah mengapa wajahmu tampak gembira, ya. Apakah baru saja terjadi suatu hal yang bagus?"

 

"Iya, benar. Baru saja terjadi hal yang teramat bagus, lho."

 

"Heh, hal bagus seperti apa?"

 

──Hal bagus itu adalah fakta karena kamu baru saja bilang kalau dirimu merasa bahagia, tahu.

 

Meskipun barisan kalimat itu sudah hampir lolos sampai ke tenggorokan, tetapi karena rasanya terlampau gombal dan memalukan.

 

"Rahasia, lho."

 

……Tanpa sengaja aku malah mengatakan hal yang seperti itu.

 

Lena memasang raut wajah yang tampak kecewa, lalu bergumam pendek dengan gaya ketus seolah sedang merajuk, "Pelit."



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close