Interlude 1: Sang Bunga di Puncak Gunung yang Keren, Nijouin Rena
"Haaah~……"
Aku melihat ke arah pesan dari
Tokitou-kun yang berada di layar ponsel pintar secara berulang kali.
Meskipun meskipun terus dilihat pun,
isinya tidak akan mengalami perubahan. Namun semakin dilihat, barisan pesan itu
terasa semakin berharga bagiku.
Selama dua bulan semenjak menduduki kelas
2. Meskipun berada di kelas yang sama, hampir tidak pernah ada interaksi di
antara diriku bersamanya.
Namun kemarin, sebuah pemandangan
mengenai interaksi bersama seorang murid laki-laki yang mirip seperti
Tokitou-kun di sebuah dunia yang menyerupai fantasi mendadak mengalir masuk ke
dalam kepalaku.
Dia melakukan berbagai macam hal demi
diriku.
Mengenai detailnya aku tidak bisa
mengingatnya kembali. Namun fakta bahwa dia adalah orang yang teramat lembut,
bisa diandalkan, menawan…… murni hanya perasaan kuat yang kurasakan pada saat
itulah yang mendekam secara jelas di dalam dadaku.
Begitu mencoba untuk mengobrol secara
akrab bersama Tokitou-kun yang asli, kepribadian yang dimilikinya ternyata
benar-benar sama persis.
Fakta bahwa aku akhirnya mengumpulkan
niat untuk membongkar masalah ilustrasi yang sudah menjadi luka di hatiku
selama bertahun-tahun adalah berkat kepribadian yang dimilikinya. Dan kemudian,
dia berhasil menyembuhkan luka tersebut dalam sekejap mata.
Alih-alih memberikan penilaian terhadap
diriku berdasarkan hal-hal di permukaan saja, dia bersedia memahami sampai ke
lubuk hatiku yang paling dalam, memikirkannya dengan sekuat tenaga demi diriku,
bahkan sampai benar-benar mengambil tindakan nyata secara langsung.
Tokitou-kun adalah orang yang teramat
lembut, bisa diandalkan…… aaakh, benar-benar orang yang sangat menawan, ya.
"Tokitou-kun……"
Saat memanggil namanya, lubuk hatiku
terasa berdegup kencang.
"Tokitou-kun……"
Padahal waktu yang dihabiskan sejak kami
mulai berinteraksi secara akrab baru berjalan selama dua hari saja, apakah aneh
jika aku memelihara perasaan yang seperti ini.
"Tokitou-kun……"
Bagi seorang murid, belajar adalah tugas
yang utama. Memelihara perasaan yang melayang-layang seperti ini adalah hal
yang tidak boleh dilakukan.
Ayahku yang merupakan mantan petinggi
kepolisian adalah orang yang teramat keras. Jika fakta mengenai diriku yang
memelihara perasaan seperti ini sampai ketahuan olehnya, dia pasti akan
langsung meledak marah tanpa salah lagi. Terlebih lagi pihak Tokitou-kun pun
pasti akan merasa kesulitan jika mendadak dibilang kalau aku menyukainya, kan.
Karena itulah, hal ini sama sekali bukan
merupakan cinta. Ini murni hanya sebatas kepandiran dari isi pikiranku saja.
Secara mutlak ini bukan merupakan cinta.
Aku akan menyimpan perasaan ini jauh ke
dalam lubuk hatiku yang paling dalam, dan mulai besok aku akan menghabiskan
kehidupan sehari-hari seperti biasa seperti yang sudah-sudah. Menyumbangkan
tenaga untuk kegiatan hobi menggambar ilustrasi yang sudah dibantu oleh
Tokitou-kun sepertinya mungkin merupakan hal yang bagus juga, sih.
Ya, itu pasti adalah pilihan yang
terbaik.
“Baiklah. Mari kita coba menggambar
ilustrasi yang baru sekarang juga.”
Jika sudah selesai, aku ingin Tokitou-kun
menjadi orang nomor satu yang melihatnya.
Saat memiliki sebuah target, gairah di
dalam diri menjadi semakin meluap melebihi yang sudah-sudah.
Aku mengeluarkan buku catatan, lalu
menghadap ke arah meja.
***
“Ah, Tokitou-kun……”
Keesokan paginya, saat sedang berjalan di
jalan menuju sekolah, aku menemukan sosok punggungnya berada di arah depan.
Meskipun sempat ragu-ragu apakah harus
menyapanya atau tidak, pokoknya keinginan di dalam hati untuk bisa mendekat
walau hanya sedikit saja mulai bertunas, membuat langkah kakiku bertambah cepat
secara alami.
"Selamat pagi, Nijouin-san."
Seorang murid laki-laki memberikan sapaan
kepadaku. Saling bertukar sapaan bersama berbagai macam orang di jalan menuju
sekolah adalah hal yang biasa terjadi sehari-hari.
Saat melihatnya, dasi miliknya tampak
longgar dan berantakan. Jika itu diriku yang sampai sekarang, aku pasti akan
berdiri diam untuk menegurnya, tetapi jika melakukan hal seperti itu,
Tokitou-kun akan
pergi mendahuluiku. Sekarang, waktu
terasa teramat berharga.
"Iya, selamat pagi."
Aku membalas sapaan dengan tenang, lalu
melangkah maju ke depan tanpa memperlambat ritme jalan sama sekali.
"Selamat pagi, Rena-sama. Pagi ini
Anda juga terlihat cantik."
Jika biasanya, aku pasti menjadi ingin
berkata 'tolong jangan bermulut manis', tetapi sekarang hal semacam itu sama
sekali tidak penting bagiku.
"Selamat pagi."
Aku kembali membalas sapaan dengan
tenang, lalu melangkah maju ke depan tanpa memperlambat ritme jalan.
Siapa pun orangnya, tidak akan ada satu
orang pun yang bisa menghentikan langkah majuku.
Dan kemudian, punggung Tokitou-kun sudah
berada sangat dekat di depan mataku. Punggung miliknya yang berjalan dengan
menegakkan tubuh terlihat besar, bisa diandalkan, dan tampak semakin menawan.
Sebentar lagi kami akan tiba di sekolah.
Apakah sebaiknya aku menyapanya, atau tetap diam dan berjalan dengan
berpura-pura tidak tahu seperti ini saja. Nah, sebaiknya apa yang harus
kulakukan.
──Ah,
aku ingin memeluk punggung itu dari arah belakang.
Ah, tidak…… sebenarnya apa yang sedang
kupikirkan.
Di hadapan publik seperti ini, mana
mungkin hal seperti itu bisa dilakukan, kan.
Nggak, nggak, meskipun bukan di hadapan
publik pun, bahkan jika hanya berduaan saja hal seperti itu tetap tidak boleh
dilakukan.
Benar-benar perempuan mesum yang
keterlaluan. Aku bisa dibenci olehnya nanti.
Terlebih lagi karena aku tidak sedang
jatuh cinta, tidak mungkin aku memelihara keinginan untuk memeluknya, kan.
Tepat pada saat itu, mendadak pemandangan
mengenai 'dunia yang menyerupai dunia lain' itu kembali mengalir masuk ke dalam
kepalaku.
Tokitou-kun yang menolongku dengan
pembawaan sikap yang seolah mendekapku dengan lembut.
"Aaakh……"
──Seperti
dugaan, dia menawan sekali. Diriku menjadi merasa semakin menganggap dia yang
sedang berjalan di depan mataku ini sebagai orang yang berharga.
"Eh? Nijouin-san?"
Karena aku mengeluarkan suara yang aneh,
Tokitou-kun menjadi berbalik. Mata kami saling bertemu dengan telak.
Fuwahuuuuuuuuuakh, bagaimana ini!
Memalukan sekali tingkat akut!
"A, aaakh…… ehem, ehem. Kondisi
tenggorokanku…… are? Bukankah ini Tokitou-kun. Kebetulan sekali, ya."
Sambil menyembunyikan pergolakan emosi di
dalam hati, aku berusaha sebisa mungkin untuk memasang wajah tenang.
"Benar juga. Kebetulan, ya. Kondisi
tenggorokanmu buruk? Tidak apa-apa?"
Dia tampaknya sama sekali tidak
memelihara rasa curiga. Kemampuan beraktingku benar-benar sempurna dan tanpa
cela.
"Ah, iya. Terima kasih banyak atas
kekhawatiran Anda. Tidak apa-apa, kok."
"Begitu, ya. Syukurlah."
Senyumannya saat menyipitkan mata
terlihat sangat menawan…… aaakh, jantungku kembali tertembak dan dibuat
berdegup kencang lagi. Namun aku tetap melanjutkan aktingku untuk bersikap
tenang.
"Mengenai urusan grup obrolan
kemarin, aku beneran sudah sangat dibantu olehmu. Berkat hal itu, aku menjadi
memelihara niat untuk menggambar ilustrasi lagi."
"Iya, baguslah kalau begitu."
"Aku hanya memelihara rasa terima
kasih saja kepada Tokitou-kun. Izinkan aku untuk membalas budi ini nanti,
ya."
"Nggak, nggak, pembalasan budi
seperti itu tidak perlu, kok."
Ah, Tokitou-kun yang tersenyum lembut
dengan sikap rendah hati pun sangat menawan.
"Hal itu tidak bisa dilakukan,
hatiku tidak akan bisa tenang jika tidak memberikan semacam pembalasan
budi."
"Kalau begitu, jika Nijouin-san
sudah menggambar ilustrasi yang baru, maukah kamu memperlihatkannya kepadaku
sebagai orang nomor satu? Anggap saja hak akses melihat paling utama itu
sebagai pembalasan budinya."
Sebuah perhatian yang diberikan tanpa
memberikan beban kepadaku, tetapi tetap tidak mengabaikan keinginan di dalam
hatiku untuk membalas budi. Ah, seberapa lembutnya dirimu ini.
Terhadap Tokitou-kun yang mengatakan hal
seperti itu dengan lancar seraya memasang wajah serius, hatiku kembali dibuat
berdegup kencang lagi.
Nggak, ini secara mutlak bukan merupakan
cinta.
"Aku mengerti. Dengan senang
hati."
Aku berjalan berdampingan bersama
Tokitou-kun menuju ruang kelas
2-A.
Meskipun merupakan pemandangan yang sama
seperti biasanya, entah mengapa dunia ini terasa terlihat jauh lebih cerah dan
berkilau sewarna tujuh pelangi dibandingkan yang sudah-sudah.



Post a Comment