NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Imouto ga Gimai tte Koto wo Ore dake ga Shiranai ~ Futago no Bijin Shimai wa Nanimo Shiranai Ani wo Otoshitai~ V1 Chapter 2

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 2

"Rapat Saudara Tiri"

Mendengar percakapan yang dilakukan oleh Ayah dan Ibu bersama Onee-chan kemarin adalah momen di mana sebuah keyakinan mendalam akhirnya terbentuk di dalam diriku, Otaru Kairi.


Sejak kecil, kami berdua sebagai saudara perempuan selalu menempel erat pada Onii. Karena itulah, aku yakin Onee-chan juga merasakan hal yang sama. 


Sejak masa-masa itu, kami selalu mencintai Onii. Bukan sekadar suka sebagai keluarga (Like), melainkan cinta yang sesungguhnya (Love).


Sejak dulu, Onii selalu menjadi kebanggaan kami. Dia jauh lebih keren dan jauh lebih baik daripada siapa pun. Namun selama ini, karena kami mengira memiliki hubungan darah dengan Onii, aku berpikir bahwa perasaan ini adalah sesuatu yang terlarang...


Setelah masuk SMP, demi melenyapkan perasaan cinta kepada Onii, aku sengaja bersikap dingin kepadanya dengan paksa. Padahal, jauh di lubuk hatiku yang terdalam, aku selalu ingin bermanja-manja padanya. Aku ingin memeluknya erat-erat, dan aku ingin dia mengelus kepalaku dengan lembut. Namun, karena mengira kami berbagi darah yang sama sebagai kakak adik... aku meyakinkan diri bahwa demi kebaikan bersama, kami tidak boleh lagi terlalu dekat. 


Untuk meluapkan rasa stres itu, aku selalu bertingkah nakal dan mengubah penampilanku menjadi seorang gyaru yang memberontak.


Aku berulang kali meyakinkan diriku bahwa menyukai Onii adalah hal yang salah. Dengan memaksa diriku bersikap dingin, aku berharap bisa membencinya lalu jatuh cinta pada laki-laki lain.


Namun... tidak peduli seberapa dingin dan ketusnya sikapku, Onii selalu menunjukkan kebaikannya, seperti merapikan kaus kakiku yang berserakan. Hal itu membuatku sangat sulit untuk membencinya. Pada akhirnya, selama dua setengah tahun ini, aku bahkan tidak bisa menaruh minat sedikit pun pada laki-laki lain selain Onii.


Akan tetapi... sebuah keajaiban terjadi. 


Ternyata, kami dan Onii tidak memiliki hubungan darah sama sekali.


Oleh karena itu, aku ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk memulai kembali hubunganku dengan Onii dari awal. Dan untuk mewujudkan hal tersebut, ada satu hal yang wajib dipenuhi. 


Hal itu adalah—


"Aku ingin masuk ke SMA yang sama dengan Onii."


Berada di SMA yang sama, demi meningkatkan waktu kebersamaan kami meskipun hanya sedikit.


Ya ampun, aku benar-benar mengatakannya... Aku mengatakannya langsung di depan Onii! Mengatakan 'Aku ingin masuk ke SMA yang sama' itu kan sudah hampir sama seperti pernyataan cinta! Gawat. Aku berani sekali!


"...K-Kamu, apa kamu masih waras?"


Menanggapi ucapanku yang sudah seperti pernyataan cinta itu, Onii menatapku dengan wajah yang sangat terkejut.


"Sekadar memastikan saja, berapa nilai hensachi (skor standar kemampuan akademik) kamu saat ini?"


"40."


Wajah Onii menjadi semakin tegang.


"Y-Ya, haruskah aku berpikir itu masih mending karena menyentuh angka 40, atau aku harus menganggapnya sebagai keputusasaan yang mutlak?"


"Onii, kamu sedang menggumamkan apa, sih?"


"Kamu ini serius? Batas minimal untuk bisa lulus cadangan di SMA-ku saja nilai hensachi-nya harus 60, lho."


"Karena itulah aku mulai belajar sekarang!"


Onii mengerang "Gaaaaah!" sambil memegangi kepalanya.


Melihat reaksinya yang berlebihan seperti itu, apa dia merasa begitu bahagia karena aku ingin masuk ke SMA yang sama dengannya?


"Yuuri yang murid teladan sih sama sekali tidak masalah masuk ke SMA-ku, tapi kalau kasusnya seperti kamu, bukankah lebih baik memilih SMA dengan hensachi sekitar 50 saja...?"


"Hah!? Jangan membeda-bedakan adikmu sendiri, dong!"


"Aku tidak membeda-bedakan! Ini masalah realistis!"


Tampaknya Onii bukan merasa senang, melainkan murni merasa heran dan pasrah.


Meski menyebalkan, kenyataannya hal itu memang benar. Selama ini aku sama sekali tidak pernah belajar. Justru karena aku tidak percaya diri, aku membicarakannya dengan Onii sebagai bentuk konsultasi...


"Aku bakal belajar mati-matian supaya bisa masuk ke SMA yang sama dengan Onii!"


"Baiklah, kalau begitu pertama-tama mari kita diskusikan dengan Ayah, berapa banyak uang suap yang harus kita siapkan..."


"Jangan langsung memutuskan lewat jalur belakang, dong!!"


"Lewat jalur depan pun kamu tidak akan bisa masuk. Lagipula, apa saja yang kamu lakukan selama 3 tahun di SMP sebagai anggota klub pulang ke rumah?"


"Berdandan, merias kuku."


"Kamu benar-benar keras kepala tidak mau menyebutkan kata belajar, ya."


Onii sepertinya kurang bersemangat... 


Jangan-jangan permintaanku akan ditolak. Kalau sudah begini, pilihan terakhir adalah... dada... Aku terpaksa harus membiarkannya menyentuhnya secara sengaja!


Tepat saat aku hendak menarik tangan kanan Onii, dia kembali membuka suara.


"Yah, kalau Kairi benar-benar berniat serius untuk berusaha sekuat tenaga, aku juga akan mendampingimu dengan serius."


"Eh? A-Apa katanya tadi?!"


"Makanya, aku bilang aku akan menemanimu belajar. Kalau adikku sedang kesusahan, mendengarkan dan membantu menyelesaikannya sudah menjadi tugasku. Karena... aku adalah kakakmu."


"O-O-Onii..."


"Y-Yah, maksudku... Sudah lama kita tidak mengobrol lepas tanpa canggung seperti ini, dan sejujurnya aku merasa senang. Menurutku, suasana seperti ini tidak buruk juga."


"Terima kasih... Onii. Aku benar-benar berterima kasih."


Begitulah akhirnya, aku memutuskan untuk belajar dengan bimbingan Onii. Aku ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa akrab kembali dengan Onii... ya. Dan juga, suatu hari nanti... andai saja ketakutan Onii terhadap perempuan bisa...


☆☆


"Kelas persiapan hari ini selesai sampai di sini. Karena ujian tinggal kurang dari setengah tahun lagi, pastikan kalian mengulang pelajaran dengan baik di rumah."


“""Baik!"””


Setelah bimbingan belajar selesai, aku, Otaru Yuuri, berjalan kaki menyusuri jalanan malam yang sudah benar-benar gelap menuju apartemen tempat tinggalku.


Di tempat bimbingan belajar tadi, aku sempat tertidur sebentar saat pelajaran berlangsung. Semalam aku tidak bisa tidur nyenyak karena tidak sengaja mendengar percakapan orang tua kami di ruang tamu pada tengah malam. Fakta mengejutkan bahwa tidak ada hubungan darah antara Onii-chan dan kami berdua sebagai saudara perempuan. Namun—ini benar-benar sebuah keberuntungan yang tak terduga.


Sejak dulu, aku selalu berharap hari seperti ini akan datang suatu saat nanti, dan demi itu pula aku terus mempercantik penampilanku. 


Tidak, bukan begitu—bahkan seandainya kami memiliki hubungan darah sekalipun, aku tetap mempercantik diriku karena aku ingin Onii-chan menyukaiku. Aku mendambakan sosok gadis cantik sempurna yang tidak hanya menjadi murid teladan, tetapi juga memiliki daya pikat yang manis. Lagipula, aneh rasanya jika dikatakan bahwa saudara kandung tidak boleh saling jatuh cinta. Namun, dengan terungkapnya fakta bahwa kami tidak sedarah, aku tahu bahwa sekarang aku bisa bertunangan secara resmi dengan Onii-chan. Tidak ada hal lain yang lebih membahagiakan daripada ini.


Selama 15 tahun sejak aku dilahirkan, aku selalu mencintai Onii-chan, dan aku tidak pernah merundungnya seperti yang dilakukan Kairi. Karena sejujurnya—aku sangat mencintai Onii-chan sampai-sambil selalu "melakukannya" sendirian sambil memikirkan dirinya.


Aku selalu berpura-pura membantu Ibu mengerjakan pekerjaan rumah tangga agar bisa mendekatkan wajahku dan mengendus pakaian dalam yang baru dilepas oleh Onii-chan. Lalu saat dia sedang pergi, aku akan mengobrak-abrik tempat sampah di kamarnya demi mengambil dan menghirup aroma "benda itu" yang berbau menyengat...


Asal tahu saja, jika bicara soal cinta kepada Onii-chan... aku tidak akan kalah dari siapa pun. Sejak dulu aku selalu berpikir bahwa kebaikan Onii-chan seharusnya hanya milikku seorang, dan aku ingin hal itu menjadi sesuatu yang abadi untuk selama-lamanya.


Karena situasinya sudah menjadi seperti ini—kepalaku sekarang hanya dipenuhi oleh pikiran untuk "mengandung anak Onii-chan".


"Padahal begitu... tapi fakta bahwa Kairi tiba-tiba mulai belajar berarti dia juga pasti sedang mengincar Onii-chan."


Sejak masuk SMP, Kairi memasuki masa-masa pemberontakan dan selalu bersikap dingin kepada Onii-chan. Padahal bisa mencuci pakaian bersama dengan pakaian dalam Onii-chan di mesin cuci yang sama adalah sebuah kebahagiaan yang tiada tara, tetapi dia malah menolaknya sendiri. Bisa makan malam bersama Onii-chan adalah santapan yang paling mulia, tetapi dia juga membenci hal itu.


Setelah melakukan semua penolakan itu kepada Onii-chan, begitu mendengar bahwa mereka tidak sedarah dia langsung mengubah sikapnya... 


Benar-benar deh, Kairi itu payah sekali.


Jika aku sampai kalah dari orang bodoh seperti Kairi, itu hanya akan menjadi sebuah penghinaan bagiku. Cinta yang kumiliki untuk Onii-chan jelas jauh lebih besar, jadi aku sama sekali tidak boleh kalah. Dengan tekad yang membara di dalam dada, aku pun tiba di apartemen.


"...Aku pulang."


Ketika aku masuk ke pintu depan dan melihat sepatu yang ada di sana, baru ada Onii-chan dan Kairi yang pulang. Lampu di ruang tamu menyala, dan terdengar suara yang entah mengapa terasa begitu ramai.


Firasat buruk... macam apa ini.


"Onii, kamu pintar banget, sih!"


"Tentu saja. Ini kan cuma soal-soal tingkat SMP."


"Masa sih? Tapi aku sama sekali enggak paham, lho."


"Itu karena kamu tidak pernah belajar selama ini! Ayo, lanjut ke soal berikutnya."


"Siaaap!"


Dari pintu yang terhubung ke ruang tamu, aku bisa melihat mereka berdua sedang belajar bersama dengan begitu akrab di dalam.


...Hah?


Kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa?


"Sejak kapan Kairi dan Onii-chan berbaikan...?"


Adik perempuan berambut pirang yang berandalan itu... padahal kemarin dia habis-habisan mengejekku dan menyebutku Brocon... padahal dirinya sendiri sekarang sedang memasang wajah seperti betina yang sedang kasmaran...


Aku benar-benar tidak akan memaafkannya.


"Karena sudah begini, setelah ini aku akan mengadakan 'Rapat Saudara Tiri'."


☆☆


Aku, yang melakukan sesi belajar bersama Onii sampai jam 10 malam, setelah itu langsung mandi, menyelesaikan perawatan kulit di depan wastafel, lalu kembali ke kamar. 


Bagiku yang biasanya terbiasa tidur larut malam, jam segini sebenarnya belum terlalu larut. Namun, ini adalah pertama kalinya aku belajar sampai semalam ini, jadi rasanya mengantuk sekali.


Sambil mengucek mata yang mengantuk, aku mengambil hair dryer dan bersiap-siap untuk mengeringkan rambut. Tiba-tiba, Onee-chan yang mengenakan baju tidur dan tadinya berada di depan meja belajar langsung berdiri.


"Kairi, bisa bicara sebentar?"


"Hmm? Ada apa?"


"........."


Onee-chan memasang ekspresi wajah yang seolah-olah ingin mengatakan sesuatu. Wajah itu benar-benar mirip seperti wajah Onee-chan saat sedang memberikan kata sambutan sebagai ketua OSIS di upacara sekolah.


Membaca situasi yang ada, aku mematikan hair dryer untuk sementara dan duduk di tepi tempat tidur.


"Bisa minta waktumu sebentar?"


"Boleh saja, sih. Tapi aku mengantuk, jadi tolong persingkat—"


"Kalau begitu, sekarang kita mulai Rapat Saudara Tiri."


"...Ha, hah? Rapat... Saudara Tiri?"


"Pertama-tama, duduklah yang benar di kursi supaya kamu tidak ketidaran."


"Eh, o-oh, iya."


Karena diperintah seperti itu, aku pun beranjak dari tempat tidur dan duduk kembali di kursi meja belajarku.


"Agendanya tentu saja mengenai 【Onii-chan】."


"Apanya yang tentu saja?"


"Kairi... tadi kamu kelihatan asyik sekali ya saat sedang berduaan dengan Onii-chan?"


Onee-chan mengabaikan selaanku dan terus melanjutkan bicaranya.


"Sudah lama sekali aku tidak melihat Kairi tampak sebahagia itu..."


"B-Bukan begitu! Aku sama sekali enggak merasa asyik, kok!"


"...Pembohong."


Setiap patah kata yang diucapkan oleh Onee-chan terasa jauh lebih berat daripada biasanya, dan itu membuatku merasa tidak nyaman. 


Jangan-jangan Onee-chan merasa tidak senang melihat aku dan Onii mengadakan sesi belajar bersama di ruang tamu tadi?


Padahal kemarin Onee-chan sendiri yang menyangkal dan bersikeras kalau dia bukan seorang Brocon.


"Nee, Kairi... Kamu selalu mengejekku dan menyebutku 'Brocon', tapi bukankah kamu sendiri juga menyukai Onii-chan?"


"B-Bukan! Aku cuma ingin masuk ke SMA yang sama dengan Onii—"


"Yang seperti itu namanya Brocon!"


Onee-chan yang biasanya relatif bersikap lemah lembut, tiba-tiba saja meninggikan suaranya. Melihat sosoknya yang seperti itu, aku yang biasanya tegar pun seketika merasa terintimidasi.


"K-Kenapa sih marah-marah, Onee-chan? Menakutkan tahu. Apa kamu sebegitu menyukai Onii?"


"Tentu saja."


"Padahal kemarin kamu bilang bukan Brocon? Itu kan kontradiksi namanya."


"...Kalau begitu, Kairi, lihat ini."


Onee-chan mengeluarkan selembar kain berwarna hitam dari saku baju tidurnya, lalu melemparkannya kepadaku.


"Apaan nih? Celana pendek boxer?"


"Itu adalah celana boxer milik Onii-chan yang baru saja dia lepas."


"Uwek!"


Begitu menyadari bahwa itu adalah celana boxer milik Onii, aku langsung melemparkannya ke lantai. 


Kenapa dia membawa benda seperti itu?! Pantas saja saat menerimanya tadi, tercium aroma aneh yang samar-samar sampai membuatku punya firasat buruk!


"Kenapa kamu memberikan benda kotor seperti ini padaku?!"


"Fuf... Fufufu."


"Tawa macam apa itu, menjijikkan sekali."


"Kairi, rasa cintamu pada Onii-chan itu masih sangat kurang. Kamu bahkan tidak tahu 'cara menikmati' celana dalam Onii-chan."


"Me-Menikmati...?"


Onee-chan memungut kembali celana boxer yang kubuang, lalu tanpa ragu sedikit pun mendekatkannya ke hidungnya sendiri.


"Pertama-tama, hirup aroma keringat di sekitar pinggang Onii-chan yang meresap pada bagian karet celana ini. Berikutnya, nikmati aroma luar yang berbau menyengat namun berkelas, dan terakhir, balikkan celananya lalu bagian dalamnya..."


"Eh... T-Tunggu, tunggu sebentar! Apa yang sedang kamu lakukan dari tadi, Onee-chan?!"


"Ini adalah cara menikmati celana dalam Onii-chan, lho? Masa hal seperti ini saja kamu tidak tahu?"


"O-Onee-chan, itu menjijikkan sekali sampai-sampai aku ingin muntah. U-Uwek...!"


"Menjijikkan?! K-Kalau kamu sangat mencintai Onii-chan, h-hal seperti ini adalah hal yang wajar!"


"U-Uweeeek!"


Aku berdeham pelan seolah ingin mengeluarkan rasa mual yang mendesak dari tenggorokanku, tetapi aku berusaha sekuat tenaga untuk menahannya tepat sebelum benar-benar muntah.


"Kamu ini... padahal tadi di ruang tamu kelihatan begitu akrab dengan Onii-chan, tapi hal seperti ini saja kamu tidak paham. Kamu masih amatir."


"Aku juga tidak sudi untuk paham! Apa yang dilakukan Onee-chan itu sudah melampaui batas seorang Brocon tahu!"


Sembari merasa sangat merinding dan ilfil, aku duduk kembali di kursiku.


"L-Lalu apa? Apa Onee-chan hanya ingin memamerkan hobi Brocon-mu yang kelewat menjijikkan itu?"


"Bukan. Ada hal yang terpikirkan olehku saat melihat Kairi dan Onii-chan tampak akrab di ruang tamu tadi..."


"Hal yang terpikirkan?"


"Kairi... kamu tidak menceritakan 'hal itu' kepada Onii-chan, kan?"


Maksud dari 'hal itu' tentu saja adalah rahasia mengenai status kami yang merupakan saudara tiri.


"Aku tidak menceritakannya, sih... Tapi, apa memangnya gawat kalau diceritakan?"


"Tentu saja gawat. Kairi juga tahu kan kalau Onii-chan masih dihantui trauma masa SMP-nya?"


"Itu... masalah dia yang cuma dimanfaatkan sebagai dompet berjalan oleh pacarnya, kan?"


Onee-chan mengangguk mantap, seolah mengiyakan bahwa jawabanku tepat.


"Onii-chan terus-menerus terpuruk karena kejadian waktu itu. Aku mendengarnya dari seorang senior di tempat bimbingan belajar yang satu sekolah dengan Onii-chan di SMA Shugakuin. Katanya, bahkan setelah masuk SMA pun Onii-chan hampir tidak pernah mengobrol dengan perempuan. Selain itu, kamu juga tahu kan kalau akhir-akhir ini Onii-chan cuma melihat gadis-gadis dua dimensi?"


"Maksudmu... yang sejenis Vtuber itu?"


"Benar, VTuber. Luka di dalam hati Onii-chan akibat dikhianati oleh perempuan begitu dalam, sampai-sampai dia melarikan diri ke dunia dua dimensi. Karena itu, jika Onii-chan sampai mengetahui fakta tentang kita... dia pasti akan menjaga jarak dari kita."


"Menjaga jarak...?"


Mendengar hal itu, aku teringat kembali pada percakapan kami saat berada di dalam lift. Waktu itu, Onii memang sempat berkata, "Jika aku dan kalian berdua adalah orang asing, aku akan menjaga jarak."


"Rapat Saudara Tiri kali ini diadakan untuk membuat janji bahwa kita tidak akan menceritakan 'hal itu' kepada Onii-chan."


"Tapi... Tapi kan! Kalau kita tidak memberi tahu Onii kalau kita ini saudara tiri, kita berdua akan selamanya dianggap sebagai adik perempuan saja olehnya!"


"Karena itu, aku punya usul."


Onee-chan memotong ucapanku, lalu menyipitkan matanya perlahan.


"Ayo kita bertaruh... Kairi."


"Bertaruh?"


"Siapa pun yang lebih dulu berhasil memikat Onii-chan—dialah yang boleh memberi tahu fakta ini kepadanya."


Mendengar usulan dari Onee-chan, aku memiringkan kepalaku dengan bingung.


"Me-Memikat...? Secara konkretnya, itu maksudnya bagaimana?"


"Tentu saja... ditentukan dari siapa yang lebih dulu mendapatkan ucapan 'aku suka kamu' dari Onii-chan. Tepat sesaat setelah dia menyatakan cinta dan sebelum kita merebut keperjakaan Onii-chan, barulah kita sampaikan fakta ini."


Saat mengatakan hal tersebut, sorot mata Onee-chan sudah benar-benar kehilangan sosok dirinya yang merupakan seorang murid teladan. Tatapan matanya tampak sayu dan penuh gairah, lengkap dengan air liur yang hampir menetes di sudut mulutnya yang basah. Sosoknya saat ini benar-benar terlihat seperti seekor binatang buas yang sedang mengincar daging di hadapannya.


"Setuju kan, Kairi?"


"E-Eh, tapi... kalau soal itu..."


"Bo-leh-kan?"


"......U-Uh, iya."


Pada saat inilah, aku akhirnya menyadari betapa mengerikannya Onee-chan.


Onee-chan... ternyata ingin melakukan hal yang mesum dengan Onii...


Padahal biasanya orang-orang di sekitar selalu memujanya sebagai gadis yang anggun dan lemah lembut, atau si ketua OSIS berambut hitam yang cantik jelita. Citranya benar-benar suci bersih, tapi siapa sangka di dalam hatinya terkubur sisi lain yang begitu hitam dan pekat...


Bersamaan dengan terungkapnya sisi gelap Onee-chan, aku pun membulatkan tekad di dalam hati bahwa aku harus melindungi Onii dari binatang buas ini.


"Kalau begitu, dengan ini Rapat Saudara Tiri selesai. Mulai besok, kita resmi menjadi musuh."


"......Dimengerti."


Siapa yang menyangka... fakta bahwa kami adalah saudara tiri justru akan memicu situasi yang seperti ini...


Demi Onii, aku benar-benar tidak boleh kalah.


☆☆


Setelah Rapat Saudara Tiri berakhir, kami pun berbaring di tempat tidur masing-masing.


"Aku sudah mengantuk banget. Boleh matikan lampunya?"


"......Boleh."


Begitulah akhirnya, lampu kamar pun dimatikan.


Rapat Saudara Tiri yang kuadakan atas usulanku sendiri. Sejak melihat pemandangan di ruang tamu tadi, aku merasa harus menginterogasi Kairi mengenai bagaimana perasaannya yang sebenarnya terhadap Onii-chan. Namun, fakta bahwa Kairi mau menerima taruhan tersebut membuktikan bahwa dia juga menyukai Onii-chan, sama sepertiku. 


Sekarang aku sudah mengetahui isi hatinya yang sejujurnya, dan setelah kuprovokasi seperti tadi, aku yakin Kairi akan menjadi sangat menggebu-gebu untuk sementara waktu. Lagipula dengan kepribadian Kairi, ujung-ujungnya dia pasti hanya akan membuat Onii-chan muak dengannya. Aku tinggal mengawasinya dengan santai sambil bergerak perlahan. 


Dalam sebuah persaingan, siapa pun yang terburu-buru dan panik duluan adalah pihak yang akan kalah... karena begitulah hukum di dunia ini.


Sekitar 3 menit berlalu sejak lampu dimatikan dan kami berbaring di tempat tidur, terdengar suara napas yang teratur dari arah tempat tidur Kairi.


"Munya... O-Onii..."


Kairi tetap saja kelihatan bodoh seperti biasanya. Jika hanya melihat penampilan luarnya, dia memang mirip Ibu dan terlahir sebagai gadis cantik sama sepertiku. Namun, perkataan dan perilakunya sangat kekanak-kanakan serta kasar.


Di SMP pun dia hampir tidak pernah mendengarkan pelajaran di kelas. Saat jam olahraga, dia adalah berandalan yang selalu membolos dengan alasan sedang datang bulan. Aku tidak akan membiarkan orang seperti Kairi menjadi kekasih dari Onii-chan yang mulia.


Dahulu, Onii-chan adalah sosok yang dijuluki anak jenius. Dia sangat baik kepada kami dan selalu terlihat keren. Di samping pria seperti Onii-chan, gadis pekerja keras dan murid teladan sepertiku sajalah yang pantas mendampinginya. Karena pemikiran itulah, aku tidak memilih untuk menjadi berandalan seperti Kairi, dan menjalani hidupku hanya dengan memikirkan Onii-chan. Lagipula, tidak mungkin Kairi yang seorang gyaru bisa lulus ke SMA Shugakuin yang memiliki nilai hensachi tinggi sama seperti Onii-chan.


Ketika Kairi gagal dan terpaksa masuk ke SMA yang berbeda, maka perjalanan berangkat sekolah di pagi hari, makan siang bersama, hingga jalan-jalan saat pulang sekolah... semuanya akan menjadi milikku seorang untuk memonopoli Onii-chan.


"Dengan kata lain, kemenangan mutlak ada di tanganku..."


Taruhan yang tadi seolah menjadi jaminan garis finis menuju pernikahanku kelak. Terlebih lagi, tujuan dari taruhan ini bukan semata-mata bentuk kepedulian terhadap Onii-chan yang memiliki trauma pada perempuan. 


Sebenarnya, masih ada satu tujuan lagi.


Tujuan itu adalah—menanamkan sebuah fetiche di dalam diri Onii-chan untuk "menyukai adik perempuan sendiri".


Dengan membuat Onii-chan—yang saat ini sedang tergila-gila dengan dunia dua dimensi—terus-menerus menyadari keberadaanku secara obsesif, aku akan menanamkan sebuah pandangan moral baru di dalam dirinya: 'Meskipun aku tidak bisa berhubungan dengan wanita lain, kalau dengan adikku sendiri sepertinya tidak apa-apa...'


Setelah itu, saat Onii-chan sudah terlanjur sangat mencintaiku, aku akan membuatnya berada dalam kondisi frustrasi seksual dengan alasan: 'Kita tidak bisa melakukannya karena hubungan sedarah...' 


Di saat dia sedang tersiksa seperti itu, jika aku mendadak memberi tahunya, "Sebenarnya kita tidak sedarah, lho," Onii-chan yang sedang frustrasi pasti akan langsung merasa sangat bergairah! ♡


Sudah pasti dia akan melakukannya, dan hasrat seksual Onii-chan yang mengetahui fakta mengejutkan itu dijamin akan langsung meledak! ♡


『Siapa sangka ternyata Yuuri bukan adik kandungku... Kalau begitu, aku tidak perlu menahan diri lagi... Yuuri... 』


Di dalam imajinasiku, sosok Onii-chan tampak sedang naik dan mengungkang tubuhku yang sedang berbaring di atas tempat tidur. Rasanya pasti akan sangat nikmat... kenikmatan paling tiada tara di dunia ini, pasti ada di sana...


Hanya dengan membayangkan tindakan mesum bersama Onii-chan saja sudah membuat tubuhku terasa berdenyut menegang. Tanpa sadar, tanganku mulai terjulur turun ke arah tubuh bagian bawahku sendiri.


"Onii-chan kini sudah sepenuhnya menjadi milikku seorang... ♡"


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close