Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Lampiran Khusus Versi Digital:
"Bisik-bisik di Malam Sebelum Ujian"
──Malam sebelum ujian.
Suasana ruang tamu yang biasanya selalu ramai setelah makan malam, khusus hari ini hanya digemari oleh suara gesekan pulpen mekanik milik Kairi yang sedang berpacu dengan waktu. Keheningan dan rasa tegang mengalir memenuhi ruang tamu.
"......Akhirnya besok ujian, ya."
"Iya."
Besok adalah hari ujian periodik, saat di mana hasil jerih payah belajar Kairi akan diuji. Jika dia bisa meraih hasil yang memuaskan di sini, Kairi pasti akan menjadi jauh lebih percaya diri.
Sembari menaruh harapan tersebut, aku berpindah ke sofa yang letaknya agak berjauhan agar tidak mengganggu konsentrasi belajar Kairi, lalu mulai belajar mandiri. Saat ini, Kairi sedang menyelesaikan soal-soal latihan ujian yang sengaja kubuat sendiri untuknya. Begitu dia selesai, aku tinggal memeriksa dan memberi nilai saja, jadi sudah tidak ada materi baru lagi yang perlu kuajarkan kepadanya hari ini.
Karena itulah aku berpikir akhirnya bisa bersantai setelah sekian lama, tetapi rasanya tidak etis juga jika aku malah bermain-main di saat Kairi sedang berjuang keras di sampingku. Lagipula, jika dipikir-pikir, posisiku sendiri pun sebenarnya cukup berbahaya kalau sampai mendapat nilai merah lagi di ujian berikutnya. Aku benar-benar ingin menghindari amukan Ibu yang menggelegar seperti petir untuk kesekian kalinya.
"Aku pulang~"
Di saat kami berdua sedang sibuk dengan pelajaran masing-masing di ruang tamu, Yuuri yang hari ini juga menghadiri kelas bimbingan belajar sampai malam akhirnya tiba di rumah. Begitu melangkah masuk ke ruang tamu, Yuuri tampaknya langsung menyadari situasi bahwa Kairi sedang mengerjakan ujian, lalu dia berjalan mendekat ke arahku.
"Ah, maaf. Apakah Kairi lagi sibuk belajar?"
"Iya, dia sedang simulasi ujian sekarang."
Kami berdua saling bertukar kata dengan suara berbisik yang sangat pelan.
"Karena besok sudah ujian, ya......"
Yuuri menyipitkan matanya sembari menatap punggung Kairi yang sedang menghadap ke meja belajar. Aku tidak bisa menebak bagaimana perasaannya hanya dengan melihat ekspresi wajahnya itu.
Meskipun mereka kembar, sebagai seorang saudara, apakah dia mengakui kerja keras Kairi? Atau justru sebaliknya, dia merasa jengah pada Kairi yang selama ini tidak pernah melakukan apa-apa, tetapi tiba-tiba saja mulai mengincar sekolah tujuan yang sama dengannya?
Mengingat sifat Yuuri, aku berharap kemungkinannya adalah yang pertama. Namun jujur saja, karena aku tidak tahu pasti bagaimana keharmonisan hubungan mereka berdua belakangan ini, kemungkinan kedua pun tetap ada. Menyedihkan sekali rasanya, padahal statusku adalah kakak mereka, tetapi hal seperti ini saja aku tidak tahu......
"Bagaimana perkiraan hasil ujian Kairi nanti? Apakah kira-kira nilainya bisa mendekati nilainya nilaiku?"
"Entahlah kalau soal itu. Tapi Kairi punya daya ingat yang jauh lebih kuat dan kemampuan menyerap materi yang lebih cepat dariku, jadi siapa tahu dia justru akan membawa pulang hasil yang mengejutkan pada ujian kali ini."
"Hmm. Apakah itu berarti dia juga lebih hebat dariku?"
N-Nampaknya dia sengaja bertanya seperti itu karena benar-benar ingin membandingkan dirinya dengan Kairi, ya......
Jangan-jangan, Yuuri jauh lebih memedulikan sepak terjang Kairi daripada yang kukira? Sepertinya bukan sekadar menganggap angin lalu...... Karena mereka kembar, wajar saja kalau dia merasa penasaran.
"Yuuri, tidak ada yang namanya siapa lebih hebat atau siapa yang tidak. Kairi sedang berjuang keras dengan kecepatannya sendiri, kok."
"......Fufu, yang tadi itu cuma bercanda. Aku cuma sedikit penasaran saja, kok."
Yuuri berbisik pelan seragam menyunggingkan senyuman usil layaknya anak kecil yang jenaka. Ah, ternyata cuma bercanda. Benar juga, bagi Yuuri yang selalu meraih peringkat pertama di angkatannya, Kairi bahkan bukanlah saingan yang patut diperhitungkan.
"Tapi...... aku tidak akan kalah, lho, Onii-chan. Khusus untuk Kairi, aku mutlak tidak akan kalah."
Setelah mengatakan hal itu, Yuuri melangkah keluar dari ruang tamu sambil menenteng tasnya. Ini adalah pertama kalinya aku melihat Yuuri menunjukkan semangat kompetitif yang begitu menggebu-gebu. Atau mungkin, justru karena selama ini tidak ada sosok yang bisa dianggap sebagai rival bagi Yuuri, makanya aku saja yang belum pernah melihat sisi dirinya yang seperti itu......
Ujian memang bukanlah segalanya, tetapi di dalam hati, aku hanya bisa berharap agar Yuuri maupun Kairi bisa memberikan kemampuan terbaik mereka masing-masing.
Previous Chapter | ToC |



Post a Comment