NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Imouto ga Gimai tte Koto wo Ore dake ga Shiranai ~ Futago no Bijin Shimai wa Nanimo Shiranai Ani wo Otoshitai~ V1 Chapter 5

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 5

"Hari Ujian"

Dan akhirnya, hari ujian Kairi dan Yuuri yang dinanti-nanti pun tiba.


Bagi diriku, hari ini hanyalah hari Rabu biasa yang tidak ada bedanya dengan hari lain. Namun, bagi kedua adik kembarku, hari ini adalah hari yang sangat penting. Terutama bagi Kairi, jika dia tidak bisa menunjukkan hasil dari usahanya selama 2 bulan ini di sini, hampir mustahil baginya untuk bisa melanjutkan pendidikan ke SMA Shuugakuin. Mungkin karena tekanan yang begitu besar, Kairi terus menatap buku catatan kosakatanya dalam diam sejak pagi hari, membuat suasana sarapan di kediaman keluarga Otaru menjadi lebih sunyi dari biasanya.


“"............"”


Di keluarga Otaru, ada peraturan bahwa semua anggota keluarga harus berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Hanya Ayah saja yang tidak ada karena sedang melakukan perjalanan dinas, sementara Ibu dan aku duduk berjejer, berhadapan langsung dengan Yuuri dan Kairi yang duduk di sisi seberang. Yuuri dan Kairi menyantap sarapan mereka dalam keheningan. 


Yuuri, yang biasanya menjadi penceria suasana di keluarga Otaru, bahkan saat sarapan pun selalu mengobrol dengan Ibu atau aku, tetapi hari ini hal itu sama sekali tidak ada. Kairi pun biasanya banyak bicara jika suasana hatinya sedang baik, tetapi hari ini dia makan sarapan sambil terus membolak-balik buku catatan kosakatanya.


Makan sambil melakukan hal lain sebenarnya adalah etika yang buruk, tetapi mengingat situasi Kairi saat ini, aku memilih memejamkan mata dan memakluminya. Kairi sedang berada di ujung tanduk, dan Yuuri pun memiliki tekanan tersendiri untuk mempertahankan peringkat pertama di angkatannya...


Melihat mereka berdua sampai bisa terdiam seribu bahasa seperti ini, tampaknya mereka sedang meningkatkan konsentrasi penuh demi menghadapi ujian. Walaupun ini hari ujian, ini kan bukan ujian masuk sekolah yang sesungguhnya. Menurutku mereka bisa sedikit lebih rileks, tapi...


"Terima kasih atas makanannya."


Yuuri membawa mangkuk dan sumpitnya ke wastafel dapur, lalu langsung kembali ke kamarnya begitu saja.


"Hari ini Yuuri kelihatan sensitif sekali, ya?"


Saat aku mencoba mengajak Kairi mengobrol, Kairi pun hanya mengucapkan "Terima kasih atas makanannya", meletakkan mangkuknya di wastafel seperti yang dilakukan Yuuri, lalu langsung pergi ke kamarnya.


Ada apa dengan Kairi... berani-beraninya dia mengabaikanku...


"Aduh, anak-anak itu ada apa, sih. Padahal belakangan ini mereka mulai manja lagi kepada Yuuto, dan kukira sikap mereka sudah melembut seperti dulu... Apakah karena hari ini ujian makanya mereka jadi sesensitif itu?"


Ibu menyeruput sup miso-nya dengan wajah yang tampak khawatir.


"Akhir-akhir ini hubungan mereka berdua kelihatan kurang akur... Ibu jadi khawatir."


"Pasti karena sekarang pilihan sekolah tujuan mereka sama, jadi muncul rasa persaingan sebagai rival."


"Benar juga, ya... Tapi kalau Yuuri sih tidak masalah, yang jadi pertanyaan apakah Kairi bisa benar-benar lulus ke Shuugakuin?"


"Kalau itu... aku sendiri juga tidak tahu. Tapi, jika di ujian periodik kali ini hasilnya hancur-hancuran, rasanya sudah tidak ada harapan lagi."


Aku mungkin terdengar kejam, tetapi jika ujian periodik di masa-masa seperti ini saja tidak bisa dikerjakan dengan benar, jujur saja akan terasa berat ke depannya. Soal-soal ujian semester dua di kelas 3 SMP hampir semuanya didasarkan pada materi yang telah dipelajari selama ini. Jika tidak bisa mengerjakannya, itu berarti kemampuan dasarnya belum matang.


"Tapi, tahu tidak? Ibu merasa lega karena Yuuto sudah bisa bersikap selayaknya seorang kakak yang baik."


"Tentu saja. Aku kan kakak laki-laki mereka."


"........."


"Ibu?"


Ibu mendadak terdiam. Dengan wajah yang tampak mendung, dia mulai menaburkan salmon flakes di atas nasinya. Tolong jangan menaburkan abon salmon dengan wajah seserius itu, dong.


"Yuuto... kamu hebat. Benar-benar hebat."


"Wah?! Jangan tiba-tiba memujiku begitu... Aku jadi malu, kan..."


"Tapi mereka berdua, sampai baru-baru ini saja masih bersikap sangat dingin kepadamu, kan? Yuuri terkadang hanya mengucapkan kata-kata yang menusuk, tapi Kairi bahkan mengatakan hal-hal buruk dengan ketat seolah-olah dia benar-benar menolakmu. Meskipun begitu, Yuuto sama sekali tidak membalas mereka. Melihat hal itu, Ibu merasa kagum karena Yuuto ternyata adalah seorang kakak yang bisa diandalkan."


"H-Hentikan, Ibu. Aku tidak melakukan sesuatu yang hebat kok—"


"—Ah, tapi."


Suasana yang tadinya hangat langsung berubah drastis. Ibu mendadak meletakkan sumpitnya, lalu secara perlahan mengambil remote televisi dan mematikan dayanya.


"Kalau dipikir-pikir, tempo hari dari dalam saku celanamu keluar sebuah kartu Appo (Apple Card) senilai 10.000 yen yang sudah digunakan. Karena kamu adalah kakak yang bisa diandalkan, bisakah kamu menjelaskan tentang benda itu kepada Ibu?"


"Ugh...!"


Pantas saja dari tadi aku terus-menerus dipuji, ternyata ada udang di balik batu...


Gawat, penggunaan uang untuk memberikan superchat kepada VTuber ketahuan lagi!! Gara-gara masalah superchat ini, aku sudah diceramahi oleh Ibu dengan frekuensi yang tidak bisa dihitung lagi dengan jari tangan. Ibu menganggap budaya memberikan Superchat seperti itu sebagai sesuatu yang buruk.


"Kartu Appo senilai 10.000 yen, kira-kira dipakai untuk apa, ya? Yuuto-kun yang bisa diandalkan?"


"I-Itu..."


"Kira-kira un-tuk a-pa, yaaa?"


"Hiiih...!"


Karena Ibu menginterogasiku dengan wajah yang menyeramkan layaknya iblis, aku terpaksa menceritakan kegunaannya dengan jujur, dan seperti yang sudah diduga, hal itu langsung memancing amarah Ibu yang luar biasa.


☆☆


Keheningan di dalam ruang kelas semakin memicu rasa ketegangan yang ada.


"Ujian... dimulai!"


Saat ini, genderang perang saudara tiri antara Kairi dan Yuuri resmi ditabuh. Mata pelajaran yang dipertaruhkan adalah matematika.


(Kencan Natal bersama Onii-chan! ♡)


Yang satu berjuang demi melampiaskan hasratnya sendiri.


(Aku harus melindungi Onii dari Onee-chan!)


Yang satu lagi berjuang demi melindungi kakak laki-lakinya.


(Kami tidak boleh kalah!)


Pertarungan antar saudara tiri ini akan menemui akhir yang tak terduga.


☆☆


Akhir November, beberapa hari telah berlalu sejak ujian periodik yang disebut-sebut sebagai perang saudara tiri itu berakhir.


Aku melilitkan syal di leher sebelum keluar dari rumah, membiarkan angin dingin yang berembus membuat tubuhku sedikit menggigil.


Jika berjalan seperti biasanya, hari ini—3 hari setelah ujian—hasilnya pasti sudah ditempel di koridor sekolah.


Sebuah taruhan klise antara Kairi dan aku, di mana siapa pun yang mendapatkan nilai lebih tinggi dalam ujian matematika berhak mendapatkan kencan Natal bersama Onii-chan... Meski begitu, hasilnya seolah sudah bisa dipastikan bahkan sebelum ujian dimulai.


"Sudah pasti... aku yang menang."


Sejak dulu, selalu ada perbedaan besar antara aku dan Kairi. Aku mahir dalam belajar, sedangkan Kairi ahli dalam olahraga. Walaupun kami adalah kembar identik, kami memiliki keunikan masing-masing.


Kairi sejak dulu sangat membenci belajar. Saat masa SD dulu, hampir setiap hari dia akan merengek dan memaksa Onii-chan untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya. Setelah masuk SMP, dia semakin malas belajar; tumpukan majalah fesyen di meja belajarnya bahkan dua kali lipat lebih banyak daripada buku pelajarannya. Mungkin karena dia mengagumi Ibu yang merupakan mantan model, pikirannya hanya dipenuhi tentang kecantikan, menjaga bentuk tubuh, dan fesyen, hingga sama sekali tidak menaruh minat pada pelajaran SMP.


Aku menjadikan adik perempuanku itu sebagai pelajaran, dan memilih jalan yang lurus. Aku tidak mewarnai rambut seperti Kairi, mematuhi peraturan sekolah dengan baik, mengikuti pelajaran dengan serius, serta melakukan kegiatan belajar dan olahraga secara seimbang. Manusia yang bisa melakukan hal yang memang sudah semestinya dilakukan dengan sewajarnya adalah orang yang benar, dan itulah yang paling penting.


Kalah dari Kairi yang baru belajar dengan serius belakangan ini... benar-benar hal yang mutlak tidak kuinginkan.


"Karena itu, hari ini aku akan membuktikannya."


Begitu tiba di depan gerbang sekolah SMP, aku bergumam sambil mendongak menatap gedung sekolah. Dari jendela lantai 2, aku bisa melihat kelompok siswi bergaya mencolok yang mengelilingi Kairi sedang tertawa terbahak-bahak. 


Usaha dari orang yang murahan seperti Kairi sudah pasti tidak ada apa-apanya, dan mana mungkin bisa melampaui kemampuan asliku. Lagipula, aku menghadapi ujian tempo hari dengan kondisi yang sangat prima. Semua itu demi bisa menghabiskan waktu bersama Onii-chan di hari Natal. 


Berdasarkan koreksi mandiri yang kulakukan, nilai seluruh mata pelajaranku berada di atas 95 poin, dan khusus untuk matematika yang krusial itu, nilai dari koreksi mandiriku adalah 100 poin. Karena itulah aku sama sekali tidak merasa akan kalah.


Di sekolah SMP kami, hanya untuk ujian periodik saja hasilnya akan ditempel di papan pengumuman koridor. Demi menjaga berbagai privasi siswa, pengumuman untuk peringkat bawah tidak dipublikasikan. Hanya nama-nama dari peringkat 20 besar untuk masing-masing mata pelajaran dan peringkat 20 besar untuk hasil keseluruhan yang akan diumumkan kepada publik.


Karena pengumuman tersebut akan ditempel tepat jam 8 pagi oleh para guru, waktu yang tersisa tinggal sekitar 3 menit lagi.


"Katanya hasil ujian hari ini bakal ditempel, lho."


"Tadi aku dengar dari guru, katanya ada sesuatu yang luar biasa terjadi!"


"Serius? Jadi penasaran~"


Di bordes tangga, aku bisa mendengar para murid yang mengenakan pita kelas 3—seangkatan denganku—sedang asyik mengobrol. Karena waktunya sudah dekat, tidak ada salahnya jika aku mampir sebentar ke papan pengumuman koridor sebelum menuju ke ruang kelas.


Kupikir papan pengumuman itu akan dipadati oleh para murid yang sekadar ingin tahu hasil ujian mereka hingga suasananya menjadi cukup ramai... namun ternyata, semua orang yang ada di tempat itu sedang berada dalam kondisi tercengang.


Alasannya adalah—


"Untuk matematika dan bahasa Inggris yang ini... apakah ini serius?"


"Apa yang sebenarnya terjadi, sih?"


"Apakah mereka salah memasukkan nama?"


"Ini pasti salah cetak, kan?"


Benar sekali... di lembar hasil ujian tersebut, tertulis sebuah nama yang dalam kondisi normal seharusnya mustahil untuk bisa masuk ke dalam jajaran peringkat.


【Hasil Ujian Matematika】


Peringkat 1: Otaru Kairi— 100 Poin


Hah? K-Kairi... se... 100 poin...? B-Bohong, kan?


Rasanya bagaikan sedang terjebak di dalam mimpi buruk. Keringat dingin mendadak mengucur dari seluruh tubuhku, memicu rasa tidak nyaman yang luar biasa. 


Kairi mendapatkan 100 poin adalah hal yang sangat tidak masuk akal. Ini pasti sebuah kekeliruan; nama yang seharusnya tertulis di sana adalah Otaru Yuuri, tapi kenapa malah Otaru Kairi... Eh...?


Bohong, kan.


Saat memastikan kembali hasil pengumuman itu dengan saksama, aku sampai tidak percaya dengan mataku sendiri.


"Bagaimana bisa ketua OSIS kalah dari adiknya yang gyaru... Ini pasti salah input data! Harusnya ini nama Otaru Yuuri!"


"Tapi lihat! Di bagian bawahnya juga ada nama ketua OSIS, tahu!"


"Eh, serius?!"


【Hasil Ujian Matematika】


Peringkat 1: Otaru Kairi — 100 Poin

Peringkat 1: Otaru Yuuri — 100 Poin


Benar—kami berdua sama-sama mendapatkan nilai 100 poin. Nama yang tertulis di baris paling atas itu bukanlah sebuah kesalahan, dan tepat di bawahnya, nama Otaru Yuuri juga tercantum dengan jelas. Justru karena fakta itulah, aku sampai terdiam seribu bahasa karena terkejut.


Ka-Kalau begitu... hasil dari pertarungan saudara tiri ini sepenuhnya berakhir dengan seri...?


"H-Hei! Coba lihat hasil yang bahasa Inggris juga!"


Mendengar seruan itu, aku refleks mengalihkan pandanganku pada hasil ujian mata pelajaran bahasa Inggris.


Eh............


"A-Anu, bahkan bisa ada orang yang mendapatkan 98 poin di soal yang sesulit itu saja sudah sangat hebat, tapi orang yang berhasil meraihnya adalah..."


【Hasil Ujian Bahasa Inggris】


Peringkat 1: Otaru Kairi — 98 Poin (Kerja bagus!)


Peringkat 2: Otaru Yuuri — 95 Poin


"Otaru Kairi si bitch gyaru...?!"


"Jangan-jangan dia menyontek?"


"Atau dia merayu guru dengan tubuhnya yang montok dan seksi itu?"


"Guru bahasa Inggris dan matematika kita dua-duanya perempuan, tahu!"


"Telah mekar bunga bidadari (Yuri). Mari kita jaga baik-baik."


Para murid yang tidak mempercayai hasil ujian Kairi mulai membuat kegaduhan dengan meributkan ini dan itu.


Di tengah situasi tersebut, aku berdiri seorang diri sembari menggigit bibir menatap hasil yang terpampang di hadapanku.


Mana mungkin... aku kalah dari Kairi.


Fakta tak terbantahkan itu membuatku benar-benar kehabisan kata-kata. Jika hasil seri di matematika masih bisa dimaafkan, Kairi justru berhasil meraih 98 poin dalam ujian bahasa Inggris yang hanya bisa kuselesaikan dengan raihan 95 poin.


Ujian bahasa Inggris kali ini memiliki banyak soal grammar, jadi tingkat kesulitannya tidak serendah itu sampai-sampai bisa diselesaikan hanya dengan modal keberuntungan semata. Namun meski begitu, Kairi justru berhasil menunjukkan hasil yang melampauiku...


Tentu saja untuk mata pelajaran lainnya, aku menang mutlak atas dirinya, dan nama Kairi hanya muncul di papan peringkat untuk mata pelajaran bahasa Inggris dan matematika saja. Namun, topik yang lebih ramai dibicarakan di antara para murid bukanlah tentang keberhasilanku mempertahankan posisi peringkat pertama di angkatan, melainkan tentang Kairi si gyaru yang berhasil menodai rekor suciku.


Sejak kapan Kairi berhasil mengumpulkan kemampuan sehebat ini...


Rasa sesal dan amarah yang tidak tahu harus diluapkan ke mana membuat kepalaku serasa ingin pecah. Karena merasa tidak sanggup lagi berada di tempat itu, aku mulai melangkahkan kaki untuk pergi seperti orang yang sedang melarikan diri.


Aku bermaksud untuk segera meninggalkan papan pengumuman agar orang-orang di sekitar tidak menyadari mataku yang mulai memerah karena amarah. Namun tepat pada saat itu—seolah-olah sudah menunggu kesempatannya, Kairi keluar dari ruang kelas dan sengaja berdiri menghadang jalanku.


"Oya, oya, Onee-chan. Kenapa wajahmu kelihatan kesal begitu?"


"........."


"Kamu sudah melihat hasil ujiannya, kan?"


"......Kamu juga sudah melihatnya?"


"Nggaaak. Aku baru mau melihatnya sekarang, sih... tapi aku sudah mendengar semua desas-desusnya tadi~"


Kairi menatapku dengan senyuman menyebalkan yang seolah memprovokasiku.


"Kita berdua seri, kan?"


"K-Kairi..."


"Karena hasilnya seri, makaaaa—! Rencana kencan Natal yang seharusnya hanya dihabiskan berduaan saja antara Onee-chan dan Onii, aku ikut nimbrung juga, ya~ ♡"


"Ka-Kairiiiiiiiiii!"


☆☆


Hancur... semuanya hancur lebur.


Pada akhir November, ujian akhir semester dua di SMA Shuugakuin telah dilaksanakan. Keesokan harinya, hasil ujian langsung dibagikan kepada para murid. Untuk hasilku sendiri di semua mata pelajaran, nilainya hanya berada beberapa poin di atas batas kelulusan minimal, yang berarti posisinya berada di batas aman yang sangat pas-pas—bukan, melainkan hancur lebur.


Sebenarnya, Ibu sempat berkata bahwa jika nilai ujianku kali ini tidak bisa mencapai di atas rata-rata, uang sakuku akan dipotong. Jadi meskipun aku berhasil menghindari batas nilai merah, hasil ini tetap saja terhitung sebagai kehancuran total bagiku.


Dengan begini, untuk sementara waktu aku tidak akan bisa mengirimkan superchat kepada Yururu-chan, VTuber idolaku.


"Haaah... dunia ini kejam sekali."


Aku mengembuskan napas panjang yang memutih dari balik syalku sembari berjalan pulang dari gedung SMA.


Ngomong-ngomong, bagaimana ya hasil ujian Yuuri dan Kairi? Mengingat sudah 3 hari berlalu sejak ujian periodik SMP selesai, seharusnya hasil ujian mereka berdua juga sudah keluar sekarang.


Kalau untuk Yuuri, aku yakin dia pasti berhasil mempertahankan posisi peringkat pertama di angkatannya. Tapi yang jadi pertanyaan adalah bagaimana nasib Kairi...


Sudah 2 bulan berlalu sejak bulan September di mana aku mulai mengajari Kairi belajar. Kemampuannya dalam matematika dan bahasa Inggris memang sudah meningkat cukup pesat, tetapi bagaimanapun juga kemampuan bahasa nasionalnya masih sangat kurang. Kairi terus-menerus bersikeras dengan alasan seperti, "Aku mana tahu apa yang sedang dirasakan oleh si penulis teks~"


Karena dia sama sekali tidak berniat untuk menghadapi pelajaran bahasa nasional dengan serius, wajar saja jika nilainya hancur. Namun, aku berpikir secara tulus bahwa usahanya yang begitu keras selama dua bulan ini adalah hal yang sangat hebat. Apa pun hasilnya nanti, aku harus memujinya dengan benar.


"Aku pulang~"


"Ah! Onii, selamat datang di rumah~"


Begitu aku tiba di rumah, Kairi sudah berdiri di depan pintu depan sambil memegang lembar jawaban ujian di kedua tangannya. Ternyata hasil ujiannya memang sudah keluar...


Ekspresi wajahnya tampak sangat penuh dengan rasa percaya diri. Mari kita lihat.


"Hmm...? Bahasa Inggris... 98 poin?! Matematikanya 100 poin?!"


"Muffuuu~! Hebat, kan?"


Kairi memamerkan lembar jawabannya dengan sikap yang sangat tinggi hati.


Y-Yang benar saja, Kairi...!


"Ini benar-benar hebat! Bahkan aku saja tidak pernah mendapatkan nilai sempurna saat masih SMP dulu."


"Deheheee~ Gyaru sepertiku juga bisa melakukannya kalau sedang serius, tahu. Ayo, puji aku lebih banyak lagi~?"


Kairi membusungkan dadanya lebar-lebar hingga membuat bagian dadanya yang besar itu tampak membal dengan kentara. Meskipun dia menjadi sangat besar kepala... ya sudahlah, setidaknya untuk hari ini saja tidak apa-apa membiarkannya. Lagipula, nilai yang diraihnya ini sudah jauh melampaui ekspektasiku.


"Ini benar-benar hebat. Selamat ya, Kairi."


"Kalau begitu untuk sekarang, Onii, elus kepalaku, dong."


"Hah? Elus kepala? Kenapa?"


"Sudah, lakukan saja!"


Kairi dengan paksa mencengkeram tangan kananku, lalu menggunakan tanganku itu untuk mengelus kepalanya sendiri.


"Mufufu~"


"Memangnya apa enaknya dari hal seperti ini? Ini kan cuma mengelus kepala... Apakah kamu sedang ingin dipijat kulit kepalanya?"


"Ya, bisa dibilang begitu~"


Aku tidak terlalu mengerti, tapi ya sudahlah.


Saat kami sedang ribut di depan pintu rumah, Yuuri mendadak keluar dari kamarnya.


"Oh, Yuuri. Lihat ini, Kairi katanya dapat nilai 100, lho."


"............Aku sudah tahu."


"Yuuri sendiri bagaimana hasil ujiannya?"


"............Maaf, aku sudah harus pergi ke tempat bimbingan belajar."


Setelah mengatakan hal itu, Yuuri menyipitkan matanya dengan tatapan yang sinis. Dia kemudian berjalan melewati kami, memakai sepatu kulitnya, lalu melangkah keluar dari rumah.


"A-Ada apa dengan Yuuri..."


Sikapnya terasa aneh, ya. Jangan-jangan... dia tidak berhasil mempertahankan posisi peringkat pertama di angkatannya pada ujian kali ini?


"Tapi kenapa dia begitu, ya? Kairi, apa kamu tahu sesuatu?"


"Onii! Jangan cuma memikirkan Onee-chan terus, dong!"


Kairi menangkup wajahku dengan kedua tangannya, lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku.


"Onii itu kan tutor pribadiku, jadi kamu tidak perlu memedulikan perempuan sok teladan yang rajin ikut bimbingan belajar seperti dia!"


"H-Hei! Kairi! Tidak boleh bicara seperti itu tentang kakakmu sendiri."


"Tidak apa-apa! P-Pokoknya Onii... harus fokus kepadaku saja."


Suara Kairi berubah menjadi serius, lalu dia menyipitkan matanya dengan cara yang sama persis seperti yang Yuuri lakukan tadi.


"...Aku kan belum resmi lulus ujian masuk. Masih banyak hal yang ingin kupelajari dari Onii."


"I-Iya, b-benar juga, sih."


Kairi kembali ke kamarnya dengan wajah yang tetap serius.


Keberhasilan Kairi meningkatkan nilainya adalah hal yang bagus, tapi aku jadi mengkhawatirkan Yuuri.


☆☆


Saat waktu menunjukkan jam pulang Yuuri dari tempat bimbingan belajar, terdengar suara "Aku pulang" yang terdengar sangat lemas dari arah pintu depan.


Aku keluar dari kamar dan memunculkan kepalaku di dekat pintu depan.


"Yuuri... Bisa bicara sebentar? Jika ada sesuatu yang mengganjal di hatimu, mari kita bicarakan di kam—"


"Onii-chan, maaf, saat ini aku sedang tidak berminat untuk itu."


"T-Tunggu dulu, Yu—"


"Onii-chan!"


Jeritan Yuuri yang melengking tinggi bagaikan membelah keheningan koridor rumah.


"Lagipula... bagimu Kairi adalah yang paling manis dan menggemaskan, makanya kamu selalu bersikap lembut hanya kepada Kairi saja, kan?!"


"Yu-Yuuri...? Tidak mungkin ada hal yang se—"


"Ada, tahu! Belakangan ini Onii-chan sama sekali tidak pernah mencampuri urusanku lagi! Frekuensi Onii-chan mengajak mengobrol juga lebih sering kepada Kairi! Knee-socks milik Kairi yang dileletakkan sembarangan sengaja kamu masukkan ke dalam mesin cuci, tapi saat aku mencoba meletakkannya sembarangan untuk mengetesmu, benda itu malah kamu biarkan saja tergeletak sampai keesokan paginya! Kamu bahkan rela memotong uang sakumu sendiri demi membelikan banyak bahan pelajaran tambahan untuk Kairi, sedangkan untukku sama sekali tidak ada! Saat Ibu pulang terlambat, kalian berdua juga sering makan malam bersama di restoran keluarga! Ditambah lagi, riwayat pencarian terakhir Onii-chan belakangan ini adalah tentang ‘gyaru’ dan ‘kaos kaki paha’! Pikiran Onii-chan dari dulu selalu Kairi, Kairi, Kairi, Kairi, Kairi, Kairi, Kairi! Dasar Onii-chan bodoh siscon!"


"H-Hei...? K-Kamu bicaranya mendadak cepat begitu, aku jadi tidak paham maksudnya apa...? Tapi yang pertama, soal kaus kaki itu? Kalau yang itu, karena Yuuri tidak seperti Kairi dan merupakan anak yang mandiri, aku mengira kamu menaruh kaus kaki di depan pintu karena ada alasan tertentu. Maksudku, kukira setelah ini kamu mau pergi keluar rumah lagi."


"Bohong!!!! Lagipula Onii-chan pasti cuma benci dengan kaus kakiku yang kotor, sedangkan milik Kairi malah kamu endus-endus!"


"Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu!"


"......Sudahlah, lupakan saja!"


Aku tidak tahu apakah dia sedang stres atau bagaimana, tapi sikapnya benar-benar sangat agresif...


Yuuri meluapkan kemarahannya secara sepihak layaknya anak kecil, lalu berniat meninggalkanku untuk kembali ke kamarnya.


"Tunggu sebentar, Yuuri."


"Apa?"


"Sebenarnya tidak ada hal khusus yang ingin kukatakan, sih."


"Hah? Kalau tidak ada keperluan, aku mau—"


"Aku cuma merasa lega karena ternyata Yuuri tidak banyak berubah dari sosokmu yang dulu."


"Eh...?"


"Yuuri, sejak dulu kamu selalu marah-marah seperti itu setiap kali aku memuji Kairi, kan? Padahal aslinya kamu itu tipe anak yang manja, tapi karena tanpa disadari kamu sudah tumbuh menjadi orang yang sangat mandiri, aku sempat berpikir kalau kamu tidak akan pernah merengek lagi seperti ini. Kupikir Yuuri sudah benar-benar berubah... tapi ternyata kamu sama sekali tidak berubah, ya."


Aku mengulurkan tangan secara perlahan ke atas kepala Yuuri, persis seperti apa yang kulakukan kepada Kairi sebelumnya.


"Kalian kan anak kembar. Kalau aku hanya mencampuri urusan Kairi saja, wajar kalau kamu merasa agak tersisihkan."


"Onii... chan."


"Aku sama sekali tidak bermaksud mengabaikan Yuuri, kok. Aku cuma sedang fokus karena Kairi benar-benar tidak bisa belajar. Jadi jangan salah paham dulu."


"......Bohong."


"Ini beneran, tahu. Nah, sebagai buktinya, begitu aku menerima uang saku bulan depan, aku akan membelikan sesuatu untukmu. Dengan begini adil, kan?"


Begitu aku membujuknya seperti itu, Yuuri tiba-tiba melompat dan memeluk tubuhku. Berbeda dengan Kairi, gumpalan kenyal Yuuri yang padat dan lembut layaknya marshmallow langsung tertekan erat ke tubuhku.


O............o.


"Onii-chan... sshh... (mengendus)..."


"Hmm?"


"T-Tidak ada apa-apa, kok. Maafkan aku ya, Onii-chan, aku sudah berpikir yang tidak-tidak... Terima kasih banyak ya, Onii-chan."


"Sama-sama. Kalau aku berada di posisimu, aku juga pasti akan merasa kesepian."


Sambil berkata demikian, aku mencoba melepaskan pelukan Yuuri dari tubuhku dengan gerakan sewajarnya. Namun, karena dia memelukku dengan tenaga yang di luar dugaan sangat kuat, dia tidak kunjung mau terlepas. Meski dia adalah adik perempuanku sendiri, a-aku ingin dia cepat-cepat menjauh...


"Soal... hari Natal nanti."


"Hari Natal?"


"Apakah jadwalmu kosong?"


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close