NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Imouto ga Gimai tte Koto wo Ore dake ga Shiranai ~ Futago no Bijin Shimai wa Nanimo Shiranai Ani wo Otoshitai~ V1 Chapter 6

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 6

"Kencan Natal"

Yuuri mendadak menanyakan apakah jadwal Natalku kosong atau tidak, yang tentu saja membuatku terkejut.


"Eh? Tu-Tunggu sebentar!"


Menanyakan apakah jadwalku kosong dengan cara seperti itu, rasanya seolah-olah dia sedang mengajakku berkencan...?


"Bukankah Yuuri mau pergi bermain dengan pacarmu? Lagipula tempo hari kamu bilang kalau kamu sudah tidak sabar menunggu hari Natal, itu maksudnya bersama pacar, kan—"


"Onii-chan tidak punya pacar, kan? Kalau begitu, hari Natal nanti kamu pasti sendirian, kan?"


"Ugh!"


Yuuri telak menusuk tepat di bagian yang paling kuingkari...


"Karena kalau sendirian Onii-chan kelihatan kasihan, makanya aku—"


"Tunggu dulu sebentar, Onee-chan."


Seolah ingin memotong percakapan kami, Kairi mendadak memunculkan kepalanya dari balik pintu kamar. Dia kemudian langsung melangkah ke depan pintu masuk dan menyelinap di antara kami berdua, lalu menunjuk ke arah Yuuri.


"Maksudmu bukan 'aku', melainkan 'kita berdua', kan, Onee-chan?"


"......A-Apa maksudnya, Kairi?"


"Aku juga mau menemanimu menghabiskan hari Natal, Onii."


"Hah? Bukankah kamu mau menghabiskan waktu bersama laki-laki yang kamu taksir?"


"Laki-laki yang kutaksir? Informasi dari mana itu? Jangan-jangan kamu dicekoki cerita bohong oleh Onee-chan?"


"Aku tidak mengatakan apa-apa, kok."


Yuuri menjawab sambil memiringkan kepalanya bingung.


Tidak, tidak, tidak. Alasan Kairi belajar mati-matian kan karena dia ingin masuk ke SMA Shuugakuinn yang sama dengan laki-laki incarannya. Jika tahu alasannya seperti itu, orang normal pasti akan berpikir kalau dia bakal menghabiskan hari Natal bersama laki-laki tersebut!


"Ah, sudahlah. Pokoknya, karena kami kasihan melihat Onii yang bakal merayakan Natal sendirian, kami berniat menemanimu merayakan Natal bersama-sama."


Yuuri dan Kairi rela melewatkan hari Natal yang berharga dalam 1 tahun sekali demi menemaniku yang merupakan kakak mereka...? 


Tentu saja, fakta bahwa aku memang dipastikan bakal merayakan Natal sendirian adalah hal yang nyata, dan sebagai seorang kakak aku merasa sangat senang... Tapi, rasanya ada yang aneh. Apakah ini sebuah jebakan?


Lagipula, baik Yuuri maupun Kairi kan sebelumnya tampak sangat tidak sabar untuk menghabiskan hari Natal bersama seorang laki-laki. Apalagi Kairi sampai mengincar SMA-ku demi laki-laki incarannya... Sungguh aneh jika dia tidak menghabiskan hari Natal bersama laki-laki itu. Padahal dia punya semangat yang begitu besar sampai-sampai ingin masuk ke SMA yang sama, tapi malah tidak mengajaknya di hari Natal...


"Onii, bagaimana keputusanmu? Kami sudah repot-repot mengajakmu, apakah kamu tega menolaknya?"


Aku sangat menghargai perasaan kedua adikku yang begitu memikirkan kakaknya ini... tapi sebenarnya, aku tidak masalah jika harus merayakan Natal sendirian. Karena di hari Natal nanti, Tenshigaoka Yururu-chan, VTuber idolaku, akan mengadakan siaran langsung berjudul 【Natal Bersama Para Laki-laki lajang ~Karena Kasihan, Aku Akan Menjilat Telingamu di Malam Kudus Ini~ ASMR】. Aku sudah berencana untuk mengubah "6 jam penuh syahwat" di malam Natal menjadi sebuah White Christmas (bermakna ambigu).


Merayakan Natal bersama adik perempuan... ya. Jika aku berjalan bersama sepasang adik kembar yang cantik ini, kemungkinan besar kami akan sering dihujani tatapan penuh kecemburuan dari orang-orang di sekitar. Terlebih lagi di hari Natal, situasi pasti akan menjadi jauh lebih merepotkan...


Namun jika dipikir-pikir kembali, fakta bahwa Yuuri dan Kairi sama-sama mengajakku berarti mereka sengaja mengosongkan jadwal dan bersiap-siap di hari Natal yang berharga ini demi diriku yang benci perempuan dan terancam merayakan Natal sendirian, kan? Padahal kedua adikku ini pasti menjadi rebutan di SMP mereka... tetapi mereka justru melakukannya demi kakak yang seperti ini...


Jika aku menolaknya mentah-mentah, harga diriku sebagai seorang kakak akan jatuh. Dan yang terpenting, aku takut jika aku menolaknya di sini, hubungan kami akan kembali menjadi renggang dan berjarak seperti sedia kala. Kairi mungkin akan memperlakukanku dengan dingin lagi, dan Yuuri juga mungkin akan menjaga jarak dariku.


Jika bisa... aku ingin hubungan kami tetap seperti sekarang ini. Kairi yang sudah mulai membuka hatinya, dan aku yang sudah berbaikan dengan Yuuri. Kami akhirnya bisa kembali menjadi sosok "kakak dan adik" yang sewajarnya...


Ya, justru karena itulah!


"Aku... akan menghabiskan hari Natal bersama kalian berdua. Lagipula kalian sudah repot-repot mengkhawatirkanku."


"Onii!" 

"Onii-chan!"


Wajah Yuuri dan Kairi langsung berbinar dengan senyuman yang cerah, dan mereka tampak mengepalkan tangan kecil mereka tanda bersorak gembira. Apakah mereka berdua memang begitu ingin menghabiskan waktu bersama kakak mereka?


Sebaliknya, aku malah mengira kalau Yuuri dan Kairi sudah memiliki teman kencan masing-masing hingga berniat memasrahkan diri pada siaran ASMR mesum. Sekarang aku merasa sangat malu atas pikiran itu. Aku juga harus menghargai kasih sayang antar saudara ini, sama seperti mereka berdua.


Aku benar-benar merasa kagum dan tersentuh oleh kedua adik perempuanku.


☆☆


Bulan berikutnya—25 Desember.


Butiran salju tampak menari-nari di luar jendela, dan pemandangan kota yang dilihat dari atas apartemen dihiasi oleh warna-warni lampu dekorasi yang indah. Hari Natal tahun ini, setelah sekian lama, akhirnya menjadi White Christmas.


"Baiklah, sebaiknya aku segera berangkat."


Aku memastikan seluruh kancing mantelku terpasang dengan erat sebelum melangkah keluar dari rumah.


Aku, yang seharusnya melewatkan White Christmas (bermakna ambigu) di kamar dengan 1 tangan memegang tisu sambil mendengarkan siaran ASMR jilat telinga yang erotis dari VTuber idolaku, kini justru sedang berjalan seorang diri di area pertokoan yang bising oleh lagu-lagu Natal.


Dengan tubuh yang dibalut mantel hangat berwarna cokelat tua, dan earphone terpasang di telinga yang memutarkan siaran langsung Tenshigaoka Yururu-chan—yang sebenarnya ingin kunikmati dengan santai di dalam kamar—aku bergegas menuju ke tempat pertemuan.


Sebenarnya aku sudah menyarankan kepada Yuuri dan Kairi bahwa kami tidak perlu repot-repot membuat janji temu dan bisa pergi bersama-sama langsung dari rumah... Namun, mereka berdua kompak berseru, "”Kita ketemuan di depan stasiun!”" dan sama sekali tidak mau mengalah.


Yuuri maupun Kairi sempat berkata, "Kalau pergi bareng-bareng dari rumah, suasananya jadi kurang dapet~" atau semacamnya, tetapi aku sama sekali tidak mengerti apa maksud dari perkataan itu. Lagipula, sampai sekarang aku masih tidak habis pikir kenapa mereka mau melewatkan hari Natal bersama kakak laki-laki seperti diriku ini.


Baru terpikir olehku sekarang, apakah laki-laki-laki-laki seangkatan mereka tidak ada yang mengincar kedua adikku itu? Apakah karena mereka terlalu cantik sehingga membuat orang-orang justru segan untuk mendekati mereka? Tidak, kalau laki-laki tampan atau laki-laki gaul yang agresif, aku yakin mereka pasti akan tetap mengincarnya mati-matian...


Kalau Yuuri, dia memang punya citra yang selalu menjaga pertahanan dengan ketat, jadi wajar saja jika tidak ada aroma keberadaan laki-laki di sekitarnya. Tapi, bagaimana dengan Kairi yang seorang gyaru? 


Yah, anak itu sebenarnya sangat polos sampai-sampai mengira kalau berciuman adalah tingkat kasta tertinggi dalam percintaan, ditambah lagi dia juga memiliki sisi feminin yang tak terduga seperti ingin masuk ke SMA yang sama dengan laki-laki incarannya... Apakah Kairi juga belum pernah berpacaran dengan laki-laki?


"Ah, lagipula mau bagaimana pun, sejujurnya riwayat percintaan adik sendiri bukan urusanku, sih. Mau mereka pacaran dengan bajingan mana pun, itu tidak ada hubungannya denganku."


Begitu aku tiba di depan stasiun terdekat yang menjadi tempat janji temu, tampak dua gadis cantik berambut pirang dan berambut hitam sedang duduk di bangku area halte bus sambil memainkan ponsel mereka.


Yuuri mengenakan mantel tebal berbulu hangat yang tampak nyaman, dipadukan dengan celana jins yang membuatnya mudah berjalan. Itu adalah mantel putih bersih yang membuatnya bisa langsung ditemukan bahkan di tengah kegelapan malam. Kebalikannya, Kairi mengenakan mantel model chester berwarna hitam yang sangat cocok dengan rambut pirangnya dan terkesan sangat berciri khas gyaru, lengkap dengan rok mini yang super pendek. Penampilannya itu benar-benar membuatku khawatir apakah dia tidak kedinginan.


Dasar Kairi, di cuaca yang bahkan butiran saljunya mulai menari-nari seperti ini, dia malah memakai rok yang memamerkan kulit... Dia benar-benar meremehkan musim dingin. Namun, karena dia sama sekali tidak memperlihatkan gelagat kedinginan, tampaknya dia baik-baik saja. Kairi memang terbiasa memakai pakaian tipis bahkan saat di rumah, jadi mungkin dia sudah kebal.


Begitu berhasil menemukan mereka, aku langsung berlari kecil menuju bangku tempat mereka menunggu... Namun, hampir pada saat yang bersamaan ketika aku melangkah mendekat, sepasang pria dengan gaya pesolek yang genit mendadak muncul di hadapan mereka berdua.


"O-Oi, oi. Mereka berdua malah tertangkap oleh kawanan laki-laki penggoda yang polanya sudah seperti di dalam Manga."


Pria-pria yang mengenakan pakaian yang tampak sangar itu terus mendesak dan mempersempit jarak dengan kedua adikku. Sepertinya mereka sedang merayu untuk mengajak pergi ke suatu tempat. Kedua adikku memang tidak terlihat seperti anak SMP, jadi aku bisa memaklumi isi pikiran pria-pria itu, tetapi menyentuh anak di bawah umur jelas-clear adalah tindakan kriminal, tahu.


Meski dihampiri dan diajak mengobrol oleh pria-pria tersebut, mereka berdua sama sekali tidak bergerak sedikit pun dan tetap fokus menatap layar ponsel mereka. A-Anak-anak itu... sepertinya mereka sudah sangat terbiasa menghadapi godaan semacam ini.


"O-Oooii! Kalian berdua~"


Aku memberanikan diri memanggil mereka dengan niat untuk memberikan bantuan. Sebenarnya aku sendiri juga merasa takut, tetapi jika sampai terjadi sesuatu pada kedua adikku, situasinya akan menjadi jauh lebih gawat. Tidak apa-apa jika masalah ini bisa selesai hanya dengan aku yang dipukuli.


"A-Apa-apaan kamu?!"


"Saat ini kami yang sedang mengobrol dengan gadis-gadis ini, tahu!"


Pasangan pria dengan ekspresi rumit—perpaduan antara wajah marah dan kesal—itu menatapku dengan pandangan mengancam sambil membentakku yang mendadak menyelinap masuk.


"E-Etto, aku ini... adalah..."


Tepat ketika aku hendak mengatakan bahwa aku adalah kakak mereka dan meminta mereka untuk menjauh, kedua adikku yang sedari tadi duduk di bangku sambil mengetuk-ngetuk layar ponsel langsung berdiri secara bersamaan. Mereka kemudian menjulurkan tangan dan meraih lenganku.


"Eh, Yuuri? Kairi?"


"Orang ini adalah pacarku." 

"Orang ini pacarku."


Mereka berdua mengucapkannya secara kompak sambil memeluk lenganku dengan erat. Di lengan kananku, terasa keempukan dada Kairi yang kenyal, sementara di lengan kiriku, dada penuh Yuuri yang padat langsung tertekan dengan sangat kentara.


"Nng..."


Sensasi luar biasa apa yang belum pernah kurasakan sebelumnya ini...? 


T-Tenanglah diriku... Jika aku sampai bernafsu pada dada adik sendiri, aku akan resmi menjadi seorang siscon yang menjijikkan!


"Pacar mereka berdua katanya?! O-Oi! Kamu! Berani-beraninya kamu memonopoli dua gadis cantik ini sendirian! Ka-Kamu adalah pria yang paling bejat!"


"Tidak, tidak, memonopoli bagaimana, aku ini kan—"


"Anda barusan... baru saja menjelek-jelekkan pacarku, ya?"


Yuuri melepaskan pelukannya dari lengan kiriku, lalu melangkah maju ke hadapan laki-laki genit itu sambil memberikan tatapan mata yang tajam menghunjam.


"A-Apa! Pacarmu itu kan juga berpacaran dengan si rambut pirang di sebelah sana? I-Itu kan aneh banget!"


"Hah? Berani-beraninya berandalan kelas teri yang memancarkan aura ber-IQ rendah seperti kalian ini menjelek-jelekkan Onii-chan-ku yang cerdas dan berwibawa? Apakah isi kepala kalian sedang terganggu, ya? Jika kalian masih terus mengganggu kami, aku akan langsung menelepon polisi sekarang juga."


"A-Apa kamu bilang, brengsek!"


"Lagipula, siapa juga yang sudi ikut dengan berandalan tidak laku dan super payah yang menyedihkan, yang terpaksa menggoda perempuan berduaan sesama laki-laki di hari Natal seperti ini?"


"I-Itu... itu kan, anu..."


"Atau jangan-jangan begini? Apakah kalian menganggap diri kalian keren karena mengejar-ngejar bagian belakang gadis di hari Natal, padahal membuat satu orang pacar saja kalian tidak becus? Bagaimana ya kira-kira perasaan ibu kalian jika melihat sosok kalian yang begitu menyedihkan seperti ini?"


"Ib-Ibuku... sudah meninggal saat aku berumur 5 tahun..."


"Jangan malah curhat hal yang tidak perlu! Ayo kita pergi! Perempuan ini punya tatapan mata yang mengerikan!"


Mungkin karena merasa terintimidasi oleh gertakan Yuuri, pasangan laki-laki genit itu langsung melarikan diri ke arah stasiun dengan wajah yang pucat pasi.


"Yu-Yuuri, kamu..."


"Ada apa, Onii-chan?"


"Bicaramu... ketat sekali, ya."


"Memangnya aku bicara apa?"


Tampaknya dia benar-benar berniat berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak, itu jelas-jelas mustahil untuk diabaikan, tahu.


Selama ini aku selalu mengira kalau Yuuri adalah gadis polos dan lugu yang alami, tetapi belakangan ini sisi gelapnya mulai sering terlihat di sana-sini. Namun di sisi lain, fakta bahwa dia sudah mau memperlihatkan sisi tersembunyinya yang seperti itu kepadaku, entah mengapa membuatku merasa agak senang.


"Nih, Onii, kamu lihat sendiri, kan? Itulah sifat asli Onee-chan."


"Sifat asli, ya. Memang bicaranya ketat sekali, sih, tapi dia kan melakukannya demi melindungi kita?"


Saat aku menanyakan hal itu, Yuuri mengangguk sambil membalas dengan senyuman yang manis.


"Tentu saja. Karena aku adalah anak perempuan tertua di keluarga Otaru. Aku akan melakukan apa pun demi melindungi Onii-chan dan Kairi."


"Begitu, ya. Terima kasih ya, Yuuri."


Begitu aku mengucapkan terima kasih, Yuuri langsung meraih tangan kiriku dan mengarahkannya ke atas kepalanya sendiri.


"Aku mau Onii-chan mengelus kepalaku sebagai hadiah, boleh?"


"He? Ah, iya."


Aku pun mengelus kepala Yuuri di dekat area halte bus stasiun.


A-Ada apa dengan situasi ini?


"Tunggu sebentar! Padahal yang selalu melindungi Onii itu aku, tapi kenapa malah jadi begini?!"


"Melindungi? Aku sama sekali tidak punya ingatan kapan pernah dilindungi olehmu."


"Muuu...! Sudah ah, terserah!"


Kairi melepaskan pelukannya dari lengan kananku dengan wajah yang bersungut-sungut kesal.


"Padahal statusnya kakak adik tapi malah bermesraan di tempat seperti ini, benar-benar menjijikkan! Onii dan Onee-chan menjijikkan sekali!"


"Sama sekali tidak menjijikkan, kan, Onii-chan?"


"Tidak, ini bukan soal menjijikkan atau tidak, tapi ini benar-benar membuatku malu."


"Tidak apa-apa, kan. Lagipula Onii-chan kan sangat menyukai adik-adiknya."


"Hei! Aku sama sekali tidak pernah bilang kalau aku menyukai adik perempuan, ya!"


Yuuri sempat menyunggingkan senyuman tipis yang penuh arti selama sesaat, lalu dia menggandeng tanganku dan mulai berjalan memimpin di depan.


Senyuman apa yang barusan itu...


"Hari ini, kita mau pergi melihat pertunjukan illumination, lho. Aku dan Kairi yang menentukannya bersama."


"Illumination...?"


"Katanya diadakan di taman bunga yang ada di dekat sini. Aku yang mencarinya tahu!"


Hee... Ternyata Kairi yang mengusulkan untuk melihat illumination, ya.


"Untuk ukuran Kairi yang biasanya menyukai hal-hal mencolok, ini tak diduga cukup romantis, ya?"


"Apa maksudnya itu! Kamu sedang meremehkanku, ya?!"


"Aku sama sekali tidak meremehkanmu, kok. Ini murni pujian."


"H-Hmm? Kalau begitu, apakah kamu merasa senang karena bisa pergi melihat illumination bersamaku?"


"Bukan soal senang atau tidak, tapi aku hanya—"


"Onii-chan. Tolong jangan terlalu bermesraan dengan Kairi."


Yuuri menusukkan tatapan matanya yang tajam langsung ke netraku. Akhir-akhir ini, Yuuri rasanya semakin sering menunjukkan tatapan mata yang seperti ini...


"Onee-chan cemburu, ya? Payah banget."


"......Kairi sendiri, karena hasil kita seimbang, bisa tidak kamu tidak usah memasang wajah penuh kemenangan begitu selama kencan?"


"Seimbang? Soal apa?"


“"Bukan apa-apa!"”


Yuuri dan Kairi berseru secara bersamaan dengan wajah yang tampak kesal.


Aku tidak terlalu memahami isi dari percakapan mereka, tetapi ada satu hal yang mulai kusadari. Jangan-jangan, alasan mengapa hubungan mereka berdua kurang akur belakangan ini bukan karena masalah sekolah tujuan... melainkan karena diriku sendiri...?


☆☆


Sebuah taman bunga yang terletak di suatu tempat di dalam prefektur, yang setiap tahunnya selalu mengadakan pertunjukan illumination berskala besar di hari Natal. Tempat ini merupakan salah satu titik lokasi kencan Natal yang paling populer di daerah sekitar sini, dan selalu dikunjungi oleh banyak pasangan kekasih setiap tahunnya.


Di bawah langit musim dingin yang membekukan, hamparan taman bunga itu tampak diselimuti oleh kehangatan dari cahaya lampu-illumination. Gerbang lengkung bunga yang berjejer di area pintu masuk juga tampak diterangi oleh cahaya lampu.


Aku mendongak menatap gerbang lengkung tersebut sembari melangkah masuk ke dalam taman bunga. Orang-orang yang berjalan di sekitar kami semuanya adalah pasangan kekasih yang tampak mesra dan penuh gairah, bahkan di tengah puncak musim dingin sekalipun.


Mengingat ini adalah hari Natal, hal seperti itu tentu saja wajar. Namun, daripada dipamerkan pemandangan seperti ini, rasanya akan jauh lebih baik jika aku berdiam diri di rumah sambil mendengarkan siaran langsung ASMR jilat telinga untuk kaum lajang.


"Bagaimana, Onii! Illuminationnya sangat cantik, kan?"


"Di sini isinya cuma pasangan kekasih saja, ya."


"Tentu saja! Memangnya siapa lagi yang mau datang ke tempat seperti ini di malam Natal kalau bukan pasangan kekasih."


Kalau begitu, bukankah saat ini ada 3 orang kakak beradik yang terhitung sebagai "bukan pasangan kekasih" di tempat ini...?


"Apakah Onii-chan tidak menyukai tempat yang seperti ini?"


"Bukan berarti aku tidak suka, sih... Tapi rasanya ini bukan tempat yang cocok untuk didatangi bersama adik perempuan di hari Natal."


"Onii terlalu memikirkan perkataan orang-orang di sekitar, tahu! Kalau kamu merasa tidak nyaman karena dikelilingi oleh pasangan kekasih, biar aku saja yang menggandeng tanganmu."


"Hah?! Tidak, bagaimana bisa hal itu menyelesaikan masalah!"


"Kalau kamu benci melihat pasangan kekasih, solusinya tinggal kita membuat diri kita terlihat seperti pasangan kekasih juga, kan! Kalau kita bergandengan tangan, kita pasti akan terlihat seperti pasangan kekasih di mata orang lain, dan tidak akan ada yang mengira kalau aku ini adikmu, kan?"


Kairi yang terus mengocehkan solusi yang kurang masuk akal itu kemudian menumpukan tangan kanannya di atas tangan kiriku.


"Uwah! Tangan Onii dingin banget!"


"Tentu saja dingin, cuacanya kan memang seperti ini. Justru tanganmu sendiri yang terlalu hangat."


"Eh? Padahal kita sedang bergandengan tangan, tapi kamu sama sekali tidak gugup, ya?"


"Tentu saja aku tidak gugup. Ju-Justru sebaliknya... kalau aku sampai merasa bergairah hanya karena bergandengan tangan dengan adik sendiri, bukankah itu malah menjijikkan?"


Begitu aku mengucapkannya dengan wajah yang bersemu malu, kali ini tangan kananku yang mendadak terasa hangat.


"Kalau begitu, bagaimana kalau aku juga menggandeng tangan Onii-chan?"


"Y-Yuuri, kamu juga berhenti menggodaku!"


"Benar itu, Onee-chan! Onii kan kelihatan terganggu begitu."


"Kamu juga sama saja, Kairi! Cepat lepaskan!"


Saat aku menyentak untuk melepaskan tangan mereka, Yuuri dan Kairi serentak menggeram, "Muuu~" sambil mendongak menatapku.


"Dengar ya, yang harus kalian berdua lihat itu illuminationnya, bukan aku!"


☆☆


Onii-chan pada akhirnya kalah oleh desakan kami, dan berakhir berjalan berkeliling melihat illumination sambil menggandeng tangan kami berdua. Kairi mengambil tangan kiri Onii-chan, sedangkan aku mengambil tangan kanan Onii-chan.


"Onii, mukamu agak merah, lho~?"


"S-Sama sekali tidak merah."


"Bisa memonopoli sepasang saudari cantik seperti kami di hari Natal, Onii benar-benar orang yang beruntung, ya~"


"Iya, iya, terserah kamu saja."


Sejak tadi, Kairi terus-menerus mengajak Onii-chan mengobrol dengan agresif, seolah-olah ingin membangun atmosfer bahwa "akulah yang sedang berkencan dengan Onii".


Kurasa aku paham, jadi hari ini Kairi berniat menggunakan strategi seperti itu, ya...


Cih, Kairi masih terlalu naif.


Aku memfokuskan seluruh sarafku pada tangan kanan Onii-chan yang sedang kugenggam dengan erat. 


Alasan mengapa aku tidak ikut dalam percakapan adalah karena aku sedang berkonsentrasi penuh pada tangan ini. Onii-chan itu, setiap kali melakukan "hal itu", dia selalu menggunakan tangan kanannya untuk mengocoknya. Karena itulah, menggandeng tangan yang ini secara harfiah sama saja dengan aku sedang menggenggam "anu"-nya Onii-chan.


Ah~ ♡ "Anu"-nya Onii-chan terasa hangat sekali... ♡


Orang yang memegang kendali sekaligus yang menggenggam p***s Onii-chan adalah aku sendiri. Baru pintar sedikit saja sudah merasa di atas angin, benar-benar sangat mencerminkan sifat Kairi yang sebenarnya.


"D-Daripada aku, wajah Yuuri justru kelihatan jauh lebih merah, kamu baik-baik saja?"


"Eh? ......Be-Begitu, ya?"


"Jangan-jangan kamu demam."


Onii-chan melepaskan genggaman tangan kanannya, lalu memindahkan tangannya ke dahiku.


K-K***l Onii-chan (alias tangan kanan yang biasa menggenggamnya) sekarang berada di dahiku!


"H-Hei, wajahmu malah jadi semakin merah."


"Onee-chan, jangan-jangan kamu sedang memikirkan hal mesum lagi, ya?"


"Hal mesum?"


Onii-chan menatapku dengan wajah yang tampak kebingungan.


Dasar Kairi... lagi-lagi bicara yang tidak-tidak.


"Hmm, aku tidak terlalu paham apa yang dikatakan Kairi, tapi untungnya aku sudah menyiapkan ini untuk berjaga-jaga. Aku membawa kantong penghangat."


"Eh?"


"Ini, Yuuri."


Onii-chan mengeluarkan sebuah kantong penghangat baru dari dalam saku mantelnya. Kemudian, sambil kembali menggandeng tanganku, dia menyelipkan kantong penghangat itu di antara telapak tangan kami yang saling bertautan.


"Kalau cuma bergandengan tangan rasanya masih dingin, kan. Kalau begini, tanganku dan tangan Yuuri bisa sama-sama hangat, kan?"


Onii-chan berinisiatif menggandeng tanganku sendiri...


Sembari menahan tubuhku yang serasa bergetar hebat karena rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuh akibat terlalu bersemangat, aku mendongak menatap Onii-chan.


"O-Onii-chan... kamu memang sangat pintar, ya? Bisa berpikir untuk menyelipkan kantong penghangat agar bisa hangat bersama, ini benar-benar ide dari seorang genius."


"Benarkah? Aduh, dipuji oleh Yuuri yang aslinya genius membuatku jadi malu."


Onii-chan... aku benar-benar sangat mencintaimu.


Rasanya aku ingin secepatnya meninggalkan Kairi si pengganggu ini dan pergi ke hotel untuk merayakan White Christmas bersama...!


Di saat aku sedang tersenyum mesum sendirian, hanya Kairi yang terus menatapku dari samping dengan pandangan mata yang dingin.


☆☆


Sejak tadi sikap Onee-chan rasanya benar-benar aneh.


Padahal aku sudah mengobrol banyak hal dengan Onii, tapi dia sama sekali tidak ikut menyela pembicaraan sedari tadi, dan sedari tadi dia terus-menerus meremas-remas tangan kanan Onii sambil memasang senyuman yang aneh di bibirnya.


Tadi pun, hanya karena dahinya disentuh sebentar, Onee-chan yang super mesum itu langsung kelihatan sangat panik... Ini pasti bukti kalau ada sesuatu yang tidak beres. Meskipun Onii tidak menyadarinya, mataku tidak bisa dikelabui. Dia pasti sedang merencanakan sesuatu yang licik.


Atau jangan-jangan, tangan kanan Onii itu memiliki arti khusus...?


"Kairi? Kamu baik-baik saja?"


Saat aku sedang memberikan tatapan tajam pada Onee-chan, Onii mendadak memotong arah pandanganku.


"O-Onii..."


"Padahal kita sudah repot-repot datang melihat illumination, kenapa wajahmu kelihatan ketat begitu? Jangan-jangan kamu ingin ke toilet?"


"Dasar laki-laki tidak peka! Jangan menanyakan hal seperti itu kepada anak perempuan!"


"Eeeh...? Jangankan anak perempuan, lagipula kamu kan adik perempuanku sendiri, jadi tidak apa-apa, kan?"


"Sama sekali tidak boleh, tahu!"


"Tapi kan waktu masih kecil dulu, Kairi pernah mengompol di jalan pulang dari taman bermain—"


"Jangan bahas cerita itu! Dasar Onii tidak peka!"


Karena terlampau malu, aku pun memukul Onii dengan tanganku yang kaku karena kedinginan.


"Aduh!"


"Meskipun statusmu itu kakak, kamu benar-benar tipe orang yang bisa mengatakan hal memalukan seperti itu tanpa beban, ya! Itu benar-benar menjijikkan, jadi berhentilah!"


"K-Kamu mendadak jadi kasar sekali... Apakah kejadian itu memang sebuah sejarah kelam yang seburuk itu?"


"Tentu saja!"


......Eh, tapi ternyata Onii masih mengingat kejadian (tentang diriku) di masa lalu dengan sangat baik, ya...


Kejadian itu terjadi saat aku berusia 6 tahun.


Di dalam bus dalam perjalanan pulang dari taman bermain bersama keluarga, setelah terpaksa mengantre selama 30 menit dan akhirnya bisa naik, aku sudah tidak bisa menahannya lagi, lalu... Namun pada saat itu, Onii adalah orang pertama yang langsung menyiramkan teh jelai dari botol plastik ke celananya sendiri. Dia sengaja menarik perhatian orang-orang di sekitar dan berpura-pura seolah-olah dialah yang telah mengompol.


Meskipun Ayah, Ibu, dan Onee-chan pada akhirnya mengetahui kalau akulah yang mengompol, tetapi alasan mengapa aku tidak dihujani tatapan aneh dari orang-orang di dalam bus saat itu adalah berkat bantuan Onii.


Sejak dulu, Onii selalu... sangat memikirkan kami adik-adiknya, sangat baik... dan sangat keren. Dia adalah orang yang paling kucintai...


"Onii-chan, apakah boleh jika aku pergi ke toilet sebentar?"


Saat kami sedang berjalan menyusuri area illumination, tanpa disadari kami sudah berada di dekat toilet umum, dan Onee-chan pun berpamitan kepada Onii untuk pergi ke sana.


"Tentu saja boleh. Sekalian saja Kairi juga pergi ke sana bagaimana?"


"Ah! Kalau aku tidak usah! Biarkan Onee-chan saja, aku akan mengobrol dengan Onii di sini jadi kamu bisa menggunakannya dengan santai, kok."


"Fufu... Terima kasih ya, Kairi."


Sembari menunjukkan senyuman yang penuh arti, Onee-chan langsung melangkah pergi menuju ke toilet.


Tumben sekali. Padahal Onee-chan adalah tipe orang yang sangat mandiri dan teratur.


Sejak dulu, Onee-chan selalu merencanakan segala sesuatunya dengan sangat matang. Bahkan ketika hendak pergi berwisata atau sekadar jalan-jalan santai, dia sampai rela membatasi porsi makan dan minumnya sejak hari sebelumnya agar tidak kebelet buang air di lokasi tujuan.


Fakta bahwa Onee-chan yang tingkat manajemen dirinya begitu ketat sampai di tahap yang mengerikan itu tiba-tiba pergi ke toilet...


Mengingat hari ini cuacanya sangat dingin hingga butiran salju pun turun, mungkin saja perutnya hanya sekadar kedinginan, jadi bisa saja aku yang terlalu berlebihan dalam berpikir...


Tapi, ja-jangan-jangan... karena ini menyangkut Onee-chan, apakah dia justru menjadi "basah" dalam artian yang mesum...?


"Oh! Kairi, coba lihat ini. Bahkan di bagian dalam kuncup bunganya pun ada illuminationnya, lho!"


"Sampai ke dalam bunganya juga ada illumination?"


Begitu diarahkan oleh Onii, aku mengalihkan pandanganku ke arah area bunga anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis). Di sana, lampu-illumination kecil sengaja dipasang bahkan sampai ke bagian dalam kuncup bunga, membuat bunga-bunga tersebut tampak mekar dengan sangat indah seolah-olah memancarkan cahaya dari dalam kuncupnya.


"Wah... Ini benar-benar cantik sekali."


"Benar, kan?"


Onii menunjukkan senyuman polos yang tulus layaknya seorang anak kecil.


Sosok Onii hari ini terasa seperti sosoknya yang dulu di masa lalu.

Sosok Onii pada masa itu, yang selalu memimpin dan membimbing kami berdua dengan penuh senyuman.


Sejak aku memasuki masa pubertas yang penuh pemberontakan dan mulai mencampakkan Onii, hubungan kami menjadi semakin memburuk. Suasana di dalam keluarga pun ikut menjadi suram, dan tanpa disadari Onee-chan juga mulai bersikap dingin kepada Onii...


Kala itu, aku sempat berpikir bahwa hubungan kami sebagai kakak adik telah berakhir. Akulah yang telah menghancurkannya.


Padahal aku sempat mengira kalau Onii sudah membenciku... tetapi sekarang Onii sudah mau memperlakukanku kembali sebagai seorang adik perempuan. Dia mau mengajariku belajar, dan terkadang juga mau memanjakanku.


Rasanya... kami sudah bisa kembali ke hubungan kami yang dulu lagi.


"Kairi? Kenapa kamu mendadak diam saja?"


"Eh, tidak... Bunga ini, setelah diterangi lampu seperti ini jadi kelihatan sangat cantik, ya?"


"Benar. Ini benar-benar sangat indah."


Karena hilangnya keberadaan Onee-chan, aku dan Onii kini hanya tinggal berduaan saja sembari bersandar pada pagar pembatas taman bunga, menikmati pertunjukan illumination yang terpasang di hamparan taman tersebut.


Saat menatap gemerlap illumination yang memancarkan kehangatan, rasa dingin di luar ruangan menjadi tidak lagi terasa.


Tidak... mungkin alasan mengapa rasanya menjadi hangat adalah karena aku sedang berada di sisi Onii.


"Um, Onii."


"Hmm?"


"Apakah kamu... merasa s-senang bisa melewatkan hari Natal bersamaku?"


Sembari tetap mengarahkan pandangan ke arah illumination, aku memberanikan diri menanyakan hal itu kepada Onii. Namun, Onii mendadak menempelkan kantong penghangat yang dipegangnya ke pipiku.


"Hyaaa! Hei, apa yang kamu lakukan?!"


"Maaf, maaf. Cuma keisengan kecil saja. Habisnya Kairi mendadak menanyakan hal yang seserius itu, sih."


"A-Aku juga bisa menjadi serius di waktu-waktu tertentu, tahu! Jadi bagaimana jawabannya? Apakah kamu merasa senang?"


"Iya, aku benar-benar merasa senang bisa menghabiskan hari Natal bersama Kairi... Karena jujur saja, sejak Kairi menginjak usia SMP, aku selalu mengira kalau aku sudah dibenci olehmu."


"......O-Onii."


"Tapi... karena aku berpikir bahwa waktu yang tersisa bagi kami sebagai kakak adik untuk bisa berkumpul bersama seperti ini sudah tidak banyak lagi, hal itu membuatku merasa jauh lebih bersyukur."


"Waktu yang tersisa sudah tidak banyak...?"


"Benar."


Onii bergumam sembari mengembuskan napasnya yang memutih dengan ekspresi yang tampak agak kesepian.


"Jika aku melanjutkan kuliah ke universitas di luar prefektur, otomatis aku harus hidup mandiri dan tinggal seorang diri. Jadi, waktu yang tersisa bagiku untuk bisa berkumpul bersama Yuuri dan Kairi seperti ini mungkin hanya tinggal sekitar 2 tahun lagi."


"Be-Benar... juga, ya."


Onii akan pergi meninggalkan rumah begitu dia masuk universitas nanti. Hal seperti itu sama sekali tidak pernah terlintas di pikiranku. Selama ini aku selalu mengira kalau Onii akan tetap tinggal bersama kami meskipun dia melanjutkan kuliah. Ditambah lagi, belakangan ini aku hanya fokus memikirkan cara agar bisa masuk ke SMA yang sama dengan Onii, sehingga aku tidak punya waktu untuk membayangkan kalau Onii akan pergi ke tempat yang jauh.


Aku sempat melupakannya, tapi ternyata waktu Onii sampai... kelulusannya tinggal 2 tahun lagi...


"Makanya, belakangan ini aku mulai berpikir untuk sebisa mungkin akrab dengan kalian berdua. Selain itu, aku ingin Kairi bisa masuk ke SMA Shuugakuinn dan hidup bahagia, dan aku juga ingin melihat sejauh mana Yuuri bisa berjuang di SMA-ku nanti," ujar Onii sambil bergumam menatap illumination.


"Apalagi sampai baru-baru ini aku selalu mengira kalau aku dibenci oleh Kairi. Jadi, aku sempat berpikir kalau aku harus memperbaiki hubungan yang renggang ini sebelum kami berpisah. Bisa akrab seperti sekarang ini membuatku merasa sangat bahagia."


Onii... tidak kusangka kamu memikirkan hal sejauh itu...


Mengingat kembali sikap menentang dan kasarku kepadanya selama ini, aku merasa sangat bersalah. Namun di luar itu, aku merasa jauh lebih bahagia.


"A... Aku juga sama, kok! Aku sempat mengira kalau aku dibenci oleh Onii."


"Olehku?"


"Habisnya aku... saat masa pubertas dulu sering bilang kalau cucian Onii itu kotor, atau bilang kalau Onii itu bau! Kalau diingat-ingat lagi, aku sudah berulang kali melontarkan kata-kata ketus yang menyakitkan... Padahal, se-sebenarnya aku tidak pernah menganggapmu kotor, kok! Sejak dulu Onii itu selalu sewangi itu, tahu!"


"Tidak mungkin. Aku yakin aromaku sama sekali tidak sewangi itu."


"Po-Pokoknya Onii itu! Meskipun kamu bilang punya trauma terhadap perempuan, kamu tetap bersikap lembut seperti biasa kepada kami, dan benar-benar menjalankan tugasmu sebagai seorang kakak dengan baik! Aku, aku itu... sangat menyukai Onii yang—"


"Maaf ya membuat kalian menunggu~"


......っ!? O-Onee-chan.


Monster bernama Yuuri berwujud Onee-chan ini mendadak muncul di waktu yang sangat tepat. 


Jangan-jangan Onee-chan sengaja pergi ke toilet setelah memperhitungkan segalanya agar bisa menyela di saat atmosfer kami sedang sehangat ini...? Jangan-jangan dia sengaja membiarkanku bergerak bebas dari tadi...?


"Nah, Kairi juga pergi ke toilet sana? Toiletnya ada di sebelah sana, kok."


"A-Aku tidak perlu, kok."


Tepat saat aku hendak menolaknya, Onee-chan dengan cepat mendekatkan wajahnya ke telingaku.


"Aku kan sudah memberikanmu waktu tadi, jadi sekarang saatnya give and take, kan? Kamu pasti paham maksudnya, kan? Kairi-san yang dapat nilai 98 di pelajaran bahasa Inggris?"


"......"


Ternyata dugaanku benar, semuanya sudah dia perhitungkan...?


"Kalian berdua sedang melakukan apa, sih?"


"Tidak ada apa-apa, kok. Aku cuma sedang memberikan saputangan kepada Kairi."


"Begitu, ya. Kairi, jangan sampai tersesat, ya."


"......U-Um."


Meski merasa tidak rela, aku akhirnya terpaksa digiring untuk pergi ke toilet.


......Mau bagaimana lagi. Membiarkan Onii dan Onee-chan berduaan saja sebenarnya sangat berbahaya, tetapi aku tidak punya pilihan selain mengawasi mereka dari kejauhan.


☆☆


Yuuri dan Kairi akhirnya bertukar posisi untuk pergi ke toilet. Karena sekarang giliran Kairi yang pergi, aku pun mengobrol bersama Yuuri sembari menikmati pemandangan illumination.


"Apa saja yang kamu bicarakan berdua dengan Kairi tadi?"


"Bicara apa, ya... cuma obrolan ringan biasa, kok."


"Ah, jangan-jangan kalian sedang menjelek-jelekkanku, ya?"


"Kami tidak akan melakukan hal licik seperti membicarakan orang di belakang, kok."


"Benarkah demikian~?"


Yuuri mengalihkan pandangannya dari illumination ke arahku, lalu menyipitkan matanya dengan penuh curiga.


"Onii-chan kan agak pilih kasih terhadap Kairi, jangan-jangan kamu sebenarnya membenciku~?"


"Mana mungkin hal seperti itu terjadi. Baik Kairi maupun Yuuri adalah adik perempuan yang sangat berharga bagiku."


"......Adik perempuan, ya."


"Ada apa?"


"Tiiidak apa-apa? Bukan apa-apa, kok~"


Yuuri mengalihkan pembicaraan dengan penuh arti, lalu berseru, "Aku ingin mengambil foto di sebelah sana!", yang akhirnya membuatku harus mengambil foto Yuuri menggunakan kamera ponselku sendiri.


Tempat yang ingin dijadikan lokasi foto oleh Yuuri adalah sebuah pohon Natal raksasa yang berdiri di bagian tengah taman bunga. Di antara seluruh pertunjukan illumination di tempat ini, pohon itu tampaknya menjadi titik lokasi foto paling populer dan paling estetik untuk dipajang di media sosial. Pasangan kekasih lainnya juga tampak sedang asyik berfoto mesra di sana.


"Baiklah, aku ambil fotonya, ya."


Begitu aku bersiap dengan kamera ponselku, Yuuri yang berdiri di depan pohon Natal langsung menempelkan kedua jari telunjuknya ke pipinya sendiri, lalu tersenyum lebar. Itu adalah pose yang sengaja dibuat imut, tetapi senyumannya memang terlihat sangat manis. Aku sedikit terkejut melihat Yuuri bisa membuat ekspresi yang seperti itu.


"Fotonya sudah terambil?"


"Sudah terambil dengan sempurna."


Aku menyerahkan ponsel yang kugunakan untuk memotret tadi kepada Yuuri.


"Aku terlihat imut di foto ini, kan?"


"Iya. Menurutku kamu terlihat sangat imut, kok."


"Imut...... ngh, nngh..."


"Eh?"


Tiba-tiba, terdengar sejenis suara yang agak sensual dari mulut Yuuri.


A-Ada apa dengan Yuuri? Apakah ada dahak yang menyumbat tenggorokannya?


"Yuuri, kamu baik-baik saja?"


"I-Iya, tidak apa-apa. Cuma agak..."


"?"


"Daripada itu! Maaf ya soal yang tadi? Aku malah mengganggu padahal Onii-chan dan Kairi sedang asyik mengobrol berduaan."


"Kenapa baru minta maaf sekarang. Lagipula tidak ada yang perlu dimaafkan, kan?"


Lagipula seingatku Kairi juga tidak tampak seasyik itu, sih.


"Hei, Onii-chan. Ini cuma seandainya, ya. Kalau antara Kairi dan aku, Onii-chan lebih memilih untuk berpacaran dengan siapa?"


"Jangan menanyakan pertanyaan aneh begitu. Aku tidak mau berpacaran dengan dua-duanya."


"Kamu tidak perlu menahannya hanya karena kami ini adikmu sendiri, lho?"


"Menahan apa maksudmu?"


"Maksudku, jika Onii-chan menganggapku imut... bukankah lebih baik kalau kamu jujur saja menyukaiku?"


"......T-Tentu saja tidak boleh!"


"Meskipun ada ikatan darah... jika kita benar-benar saling mencintai, bukankah hal itu justru yang disebut sebagai cinta sejati?"


Yuuri berbicara dengan wajah yang tampak bijaksana, sementara pandangan matanya menerawang jauh menatap embusan napas putihnya yang perlahan menghilang di depan mata.


"Kamu ini sebenarnya sedang bicara apa—"


"Habisnya, aku tidak akan merasa ilfeel kok kalaupun Onii-chan bilang suka kepadaku."


"......Eh."


Dia tidak akan merasa risi meskipun aku bilang suka? 


Aku, yang merupakan kakaknya, menyukai Yuuri...?


Entah mengapa, kepalaku mendadak menjadi pening. Menyukai Yuuri yang selama ini selalu kuanggap sebagai adik perempuan...?


Ada sesuatu yang bergejolak di dalam kepalaku hingga rasanya ingin mendidih. Memandang Yuuri dengan tatapan yang berbeda... itu jelas tidak mungkin terjadi, kan?


"Ada apa, Onii-chan? Tatapan matamu menakutkan, lho~ ♡"


"......Yu-Yuuri. Mentang-mentang aku tidak punya pacar, menggodanya jangan keterlaluan dong—"


"Tapi Onii-chan... saat aku bilang aku tidak akan merasa ilfeel tadi, kamu sempat membayangkan hal yang mesum untuk merenggut tubuhku, kan?"


"Tidak! Mana mungkin aku membayangkan hal seperti itu!"


"Bohong ah. Tadi kamu jelas-jelas melihat ke arah dadaku, kok."


Perkataan Kairi yang pernah diucapkannya saat aku tidak sengaja melihat ke arah dadanya waktu itu mendadak terlintas di kepalaku.


“Anak perempuan itu sangat sensitif terhadap tatapan mata.”


Jangan-jangan... secara tidak sadar aku benar-benar telah melihat ke arah dada Yuuri...?


Di saat aku sedang terpaku karena terkejut, tanpa disadari Yuuri sudah mendekatkan bibirnya ke telingaku. Embusan napas Yuuri menggelitik daun telingaku dalam jarak yang sangat dekat, persis seperti sebuah rekaman ASMR.


Tentu saja, dengan jarak sedekat ini, dada Yuuri yang padat berhimpitan langsung dengan tulang rusukku. Sensasi sentuhan itu membuatku menjadi semakin sadar akan keberadaan dada Yuuri.


"Berbeda dengan dada Kairi yang besar tapi kendur tidak berguna, dadaku ini punya bentuk yang bagus, kencang, dan terasa hangat seperti kantong penghangat yang tadi... Dada adik perempuan yang seperti ini... kalau Onii-chan benar-benar menginginkannya, kamu boleh menyentuhnya, lho?"


"......っっ"


Sebuah bisikan manis yang rasanya sanggup melelehkan otak. Batasan moral di dalam diriku rasanya benar-benar hampir hancur berantakan.


"A-Aku..."


Dada Yuuri yang sintal terasa bergeser lembut di sepanjang tulang rusukku.


K-Kalau terus begini, aku bisa benar-benar bernafsu pada Yuuri—


"Onii!"


Sembari terengah-engah, Kairi mendadak kembali.


"Di-Di area food court sebelah sana! Kentang gorengnya lagi diskon setengah harga! Ayo kita ke sana!"


"Kentang goreng... setengah harga?"


Berkat satu kalimat itu, kesadaranku akhirnya bisa kembali pulih sepenuhnya.


Seiring dengan langkah kaki Kairi yang semakin mendekat, Yuuri langsung menarik tubuhnya menjauh dan berpindah ke sampingku.


"A-Aku lapar banget!"


"Bukannya sebelum berangkat tadi kamu sudah makan dua buah bakpao daging?"


"Kalau itu kan beda! Po-Pokoknya, ayo kita pergi, Onee-chan."


"......"


Kairi dan Yuuri mendadak saling melempar tatapan mata yang tajam.


Hanya karena masalah lapar atau tidak saja, rasanya tidak perlu sampai saling melotot seperti itu, kan.


"Ah—iya, iya, aku paham. Nanti akan kubelikan kentang goreng atau apa pun yang kalian mau. Nah, Yuuri juga jangan memasang tatapan ketus begitu."


"Aku tidak sedang memasang tatapan begitu, kok? Aku hanya mengkhawatirkan kondisi perut Kairi saja."


"Begitu, ya?"


"Onii-chan. Yang tadi itu semuanya cuma bercanda, kok."


"Yang... tadi?"


"......Kamu benar-benar tidak boleh terangsang oleh adik sendiri, lho~ ♡"


Ternyata, dugaanku benar kalau aku hanya sedang digoda olehnya.


Selama ini aku mengira Yuuri hanyalah seorang murid teladan biasa, tetapi tidak kusangka dia bisa menggoda dengan cara yang seperti ini. Apakah dia sedang terbawa oleh atmosfer hari Natal?


Namun, entahlah... Apakah aku sempat bernafsu pada dada Yuuri meski hanya untuk sesaat...? Ti-Tidak mungkin! Mana boleh begitu!


Kairi dan Yuuri memang sama-sama cantik dan memiliki bentuk tubuh yang bagus. Namun, aku adalah kakak mereka. Kami sudah hidup bersama sejak kecil, jadi jika aku sampai memiliki perasaan yang aneh, aku pasti sudah menjadi orang yang tidak waras.


Tidak apa-apa... Ini pasti hanya karena aku tidak bisa mendengarkan ASMR sehingga hasrat seksualku terpendam secara tidak wajar. Lagipula, ini semua salah Yuuri yang tiba-tiba mengucapkan kalimat yang terdengar seperti pengisi suara dalam sebuah skenario drama.


Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat lalu mulai berjalan mengekor di belakang mereka berdua... Namun.


"Hmm...?"


"Ada apa, Onii?"


"Onii-chan?"


Tanpa sengaja, pandanganku menangkap sesosok bayangan seseorang.


Di tengah taman bunga yang dipenuhi oleh pasangan kekasih ini, tampak seorang siswi berseragam sekolah sedang berjalan seorang diri. Siswi tersebut memiliki bentuk tubuh yang ramping, warna rambut yang agak pudar, dan poni depannya dijepit ke arah kiri menggunakan jepitan rambut berukuran agak besar.


Meskipun warna rambutnya tampak berbeda, aku merasa sangat familier dengan sosok gadis itu.


Bukan, ini bukan sekadar merasa familier lagi.


Sosok itu... tidak salah lagi.


Mizuno Chifuyu──gadis yang saat masa SMP dulu, telah menjadikanku sebagai dompet berjalannya.


"Onii~! Cepat sedikit, nanti kentang gorengnya keburu habis!"


"A-Ah, iya."


Begitu aku mengalihkan pandangan sebentar, sosok Chifuyu sudah menghilang. Apakah itu hanya ilusi yang diperlihatkan oleh keajaiban malam Natal?


Ilusi tentang mantan pacar... benar-benar malam Natal dengan selera yang buruk.


☆☆


Aku tidak melewatkan momen ketika pandangan mata Onii-chan sempat teralih ke arah lain yang berbeda dari posisi kami selama sesaat.


Di ujung arah pandangnya itu────tidak salah lagi.


"Mizuno, Chifuyu..."


Seorang siswi berseragam sekolah dengan fitur wajah yang rupawan dan tidak kalah menawan dari kami berdua.


Dialah dalang utama yang membuat Onii-chan memiliki rasa trauma dan ketakutan yang mendalam terhadap perempuan, sekaligus musuh bebuyutan yang telah memanfaatkan Onii-chan kesayanganku sebagai dompet berjalan...


"Wanita itu──"


"Onii~! Cepat sedikit, nanti kentang gorengnya keburu habis!"


Karena fokusku terpecahkan oleh suara Kairi yang super keras, aku sempat mengalihkan pandangan dari Mizuno selama sesaat. Dan ketika aku melihat kembali ke arah posisi sebelumnya, sosok Mizuno yang seharusnya berada di ujung pandangan Onii-chan sudah menghilang.


......Apakah aku hanya salah lihat?


Aku masih ingat dengan sangat jelas saat Onii-chan kelas 2 SMP dulu, dia pulang ke rumah dengan wajah yang berseri-seri setelah ditembak oleh seorang anak perempuan. Dan beberapa minggu kemudian──hari di saat dia pulang dengan wajah yang murung dan terpukul, juga masih terekam dengan amat jelas...


Bagiku, perempuan yang telah menyengsarakan Onii-chan adalah sosok yang paling kubenci. Kudengar Mizuno Chifuyu itu melanjutkan sekolah ke sebuah SMA yang memiliki nilai standar kelulusan (hensachi) sangat rendah di kota sebelah. 


Mengapa gadis seperti dia bisa berada di taman bunga ini seorang diri dengan masih mengenakan seragam sekolah di malam Natal seperti ini... aku sama sekali tidak bisa memahaminya. 


Lagipula, sebenarnya ada beberapa hal yang terasa janggal mengenai dirinya. Mulai dari poin apakah dia benar-benar menjadikan Onii-chan sebagai dompet berjalannya, hingga poin mengapa dia memilih masuk ke SMA di kota sebelah.


Sebelum insiden dengan Onii-chan terjadi, aku tidak memiliki kesan bahwa Mizuno Chifuyu adalah "gadis ular".


Saat aku menjabat sebagai sekretaris OSIS di kelas 1 dulu, aku pernah mengobrol dengan Mizuno Chifuyu. Kala itu aku memiliki urusan di ruang perpustakaan, dan aku sempat bertukar sapa sekali dengan dirinya yang kebetulan menjadi anggota komite perpustakaan. Sosoknya saat itu tidak terlihat seperti tipe gadis yang suka mempermainkan dan memanfaatkan laki-laki sebagai dompet berjalan, melainkan seorang gadis kutu buku yang terkesan keren, elegan, dan sedikit menjaga jarak dengan orang-orang di sekitarnya.


Tentu saja tidak mungkin bisa membongkar sifat asli seseorang hanya dari satu kali obrolan. Jadi, jika dibilang "dia memiliki sisi tersembunyi yang busuk", maka selesai sudah perkara ini...


Aku memang sangat membencinya. Namun, hanya hal itu yang terus mengganjal di dalam hatiku sampai sekarang.


"Yuuri, mau makan kentang goreng?"


Di saat aku sedang tenggelam dalam pikiran mengenai Mizuno Chifuyu, Onii-chan yang entah sejak kapan sudah kembali dari membeli kentang goreng menyodorkan kantong kertasnya sedikit ke arahku.


"E-Etto... sepertinya aku tidak usah, deh. Aku sedang diet."


Aku mengatakannya demi menunjukkan pesona feminin, padahal aslinya aku sama sekali tidak sedang diet. Malahan, berdasarkan riwayat pencarian milik Onii-chan, belakangan ini dia tampaknya sangat menyukai tipe perempuan yang berisi. Oleh karena itu, sejak memasuki liburan musim dingin, aku selalu makan makanan berkalori tinggi setiap larut malam demi menggemukkan badanku.


"Diet apanya... Onee-chan, padahal kemarin tengah malam kamu makan karaage sampai 12—"


"Aku tidak makan, kok."


Dasar Kairi... sengaja sekali mengatakannya di depan Onii-chan.


Ta-Tapi untuk hari ini, aku sudah berhasil menanamkan sedikit demi sedikit kecenderungan fetish siscon agar dia mulai sadar akan keberadaan "adik perempuan"-nya, jadi aku sudah sangat puas.


Aku yakin saat ini di dalam hati Onii-chan pasti sedang berpikir, “Ah, rasanya aku benar-benar ingin meremas dada Yuuri,” dan jika situasinya terus berjalan lancar seperti ini, targetku akan tercapai paling cepat tepat pada hari Valentine...


Akan kuberi makan Onii-chan cairan cintaku yang dicampur bersama cokelat langsung ke dalam mu~lut~nya~ ♡


☆☆


Ah, rasanya aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah dan mendengarkan ASMR jilat telinga dari Amagase Yururu-tan.


Sembari mengunyah kentang goreng, isi kepalaku sudah dipenuhi oleh hal-hal seputar ASMR.


Di saat para pencinta jejepangan dunia dua dimensi di luar sana sedang menikmati malam White Christmas di dalam kamar sambil mendengarkan siaran ASMR erotis, aku malah terdampar di taman bunga yang super dingin bersama adik-adikku sambil memakan kentang goreng diskon setengah harga...


"Haaah..."


"Hei, Onii! Apa-apaan desahan napas yang super berat itu!"


......Adik perempuan, ya.


Aku memandang bergantian ke arah Kairi yang sedang cemberut di sebelahku dan Yuuri yang tumben sekali mendadak menjadi pendiam.


Sejak dijadikan dompet berjalan oleh Chifuyu, aku menjadi takut terhadap anak perempuan di sekitarku dan tanpa sadar mulai selalu menghindari mereka. Namun, dua orang yang merupakan darah dagingku sendiri, yaitu Kairi dan Yuuri, selalu menjadi pengecualian yang membuatku merasa baik-baik saja. Walaupun terkadang mereka bersikap dingin kepadaku, karena adanya ikatan darah dan hubungan kakak adik... mungkin di dalam lubuk hatiku, aku merasa tenang.


Ditambah lagi belakangan ini mereka berdua mendadak menjadi sering bermanja-manja kepadaku.


Karena rasanya memalukan, aku jelas tidak akan pernah mengucapkannya secara langsung, tetapi sebagai kakak mereka... sejujurnya aku merasa sedikit senang.


"Anu... Yuuri, Kairi."


“"Ada apa?"”


"Tahun depan, mari kita pergi melihat pertunjukan illumination bertiga lagi seperti ini, ya?"


“"Jelas tidak mau."”


Yuuri dan Kairi mengucapkannya secara kompak dengan pandangan mata yang seolah siap untuk saling membunuh satu sama lain.


E-Eeeh...


Setelah itu, sebagai penutup dari sesi melihat illumination, kami kembali berjalan menuju ke arah pohon Natal raksasa yang berdiri megah di bagian tengah taman bunga dengan dikelilingi oleh hamparan tanaman.


"......Hmm?"


Aku berjalan sembari mengunyah kentang goreng dari kantong kertas di tanganku, lalu menyadari bahwa di dalamnya hanya tersisa satu batang saja.


"Tinggal satu batang lagi, ya."


"Hei, Onii-chan. Berikan batang yang terakhir itu untukku, dong?"


"Eeeh..."


"Onee-chan sama sekali tidak boleh! Onii, berikan saja padaku!"


"Tidak, tidak. Kalau Yuuri sih masih mending, tapi Kairi bukannya sudah menghabiskan satu kantong penuh sendirian tadi?"


"I-Itu... memang benar, sih."


Kairi merengut sambil menatap tajam kantong kertas kosong di tangannya sendiri. Padahal hanya karena perkara sebatang kentang goreng saja, tidak perlu sampai sengotot itu, kan.


"Kalau begitu Yuuri, buka mulutmu."


"Eh? Mulut?"


"......Ah, m-maaf. K-Kamu pasti tidak mau disuapi seperti itu, kan? Ini, aku berikan sekantongnya saja jadi kamu bisa mengambilnya sendiri—"


"Aku mau-mau saja kok disuapi, Onii-chan~ ♡"


"......っ"


Meskipun hanya sedikit, hatiku sempat berdesir. Mungkin ini juga efek karena digoda dengan kalimat "karena kami adikmu sendiri~" saat berduaan dengan Yuuri tadi, tetapi entah mengapa hari ini Yuuri terlihat jauh lebih imut daripada biasanya.


Yuuri menerima sebatang kentang goreng yang kusodorkan itu dengan mulutnya, lalu menjilat sisa garam yang menempel di bibirnya menggunakan lidah.


"Fufu............ sidik jari Onii-chan enak banget."


"Sidik jari?"


"Bukan! Maksudku garam di kentang goreng ini enak banget. O-Onii-chan, pendengaranmu parah sekali, ah!"


"A-Ah, iya."


Ternyata aku memang salah dengar, ya. Habisnya, kalimat "sidik jari enak banget" itu kan sama sekali tidak masuk akal. Mungkin pendengaranku mulai memburuk karena terlalu sering mendengarkan ASMR. Aku harus lebih berhati-hati.


"Onee-chan, kamu benar-benar menjijikkan."


"Apa maksudmu?"


Tanpa alasan yang jelas, Yuuri dan Kairi kembali saling melotot dan mulai bertengkar lagi di hadapanku. Padahal ini sedang hari Natal, tapi mereka berdua malah begini lagi.


"Sudah, sudah, kalian berdua lihat itu. Pohon Natalnya sepertinya sudah bisa dilihat dari dekat."


Setelah mengantre beberapa saat, kami akhirnya berhasil sampai tepat di depan pohon Natal yang telah diterangi oleh cahaya illumination.


"Uwah, besar banget. Ini mungkin pertama kalinya aku melihat pohon Natal sebesar ini."


Kairi mendongak menatap pohon Natal tersebut sembari mengembuskan napas putihnya yang berulang kali memancarkan rasa kagum, "Wah~".


Meskipun bentuk tubuh mereka sudah tumbuh dewasa, melihat mereka bisa sampai se-terharu ini hanya karena sebuah pohon Natal membuktikan kalau mereka berdua memang masih anak SMP.


Tiba-tiba, percakapan dari pasangan kekasih di sebelah kami terdengar olehku.


"Ini, cincin untukmu."


"Kyaa~ ♡"


Melihat momen penyerahan hadiah itu, aku mendadak teringat akan suatu hal.


"......Benar juga."


Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk menyerahkan barang itu.


Sejak diputuskan kalau aku akan melewatkan hari Natal bersama kedua adik perempuanku, aku sebenarnya telah menyiapkan "sesuatu". Karena ini adalah hari Natal, aku berpikir tidak ada salahnya jika aku membelikan sesuatu untuk mereka berdua sebagai seorang kakak (lagipula, aku juga memegang uang yang awalnya berniat kugunakan untuk disawer saat siaran langsung ASMR Natal).


Karena tidak tahu barang apa yang akan membuat anak perempuan merasa senang, aku sempat berjalan berkeliling menyusuri area merek pakaian wanita di dalam pusat perbelanjaan untuk memilihnya. Karena aku memilihnya hanya berdasarkan seleraku yang seadanya, aku sempat merasa cemas apakah mereka berdua akan menyukainya atau tidak.


"K-Kalian berdua, bisa minta waktunya sebentar?"


"Ada apa, Onii?"


"Sebenarnya... aku membelikan hadiah Natal untuk kalian berdua."


“"Eh?!"”


Meskipun wajahku terasa sangat panas karena saking malunya, aku berusaha sekuat tenaga untuk menahannya.


"Untuk Kairi, ini sarung tangan warna merah. Dan untuk Yuuri, ini sarung tangan warna hitam."


Aku mengeluarkan hadiah sarung tangan itu dari dalam saku mantelku, lalu menyerahkannya kepada mereka berdua.


“"............"”


Gawat, reaksi mereka berdua terasa sangat canggung...!!


"D-Dua-duanya terbuat dari kulit, kok! Jadi kurasa jahitannya tidak akan mudah lepas..."


Sedang bicara apa aku ini... masalah fungsi barang kan sama sekali tidak penting untuk dibahas sekarang.


"A-Apakah hadiah dari kakak sendiri memang terasa menjijikkan? Benar juga, ya. Mana ada yang merasa senang karena mendapat hadiah Natal dari kakaknya sendiri! Aku juga tidak terlalu paham barang apa yang disukai anak perempuan. J-Jadi, kalian tidak perlu memaksakan diri untuk memakainya, kok."


Merasa bahwa aku telah gagal, aku menjadi bersikap terlalu banyak bicara karena merasa sangat malu. Semua kebiasaan burukku malah keluar di saat seperti ini...!


Tepat di saat aku merasa ingin menghilang saja dari muka bumi dan menjadi seekor ameba, tangan Yuuri yang putih dan dingin mendadak menyentuh tanganku.


"Terima kasih ya, Onii-chan. Aku akan sangat sering memakainya nanti."


"Yu-Yuuri...!"


"Kata 'memakai' yang diucapkan Onee-chan rasanya terdengar memiliki arti yang berbeda, sih."


"Kairi, kamu mengatakan sesuatu?"


"Bu... Bukan apa-apa! Lagipula, aku sama sekali tidak menyangka kalau aku akan mendapatkan hadiah Natal dari Onii, jadi aku benar-benar merasa sangat senang. Aku akan memakai ini bahkan saat pergi ke ujian masuk sekolah nanti!"


"Aku juga!"


"Yuuri... Kairi..."


Kalian berdua baik sekali, ya. Mau menerima hadiah dari kakak yang seperti ini dengan tulus.


"Ka-Kalau begitu! Tahun depan, mari kita bertiga ke sini—"


“"Jelas tidak mau."”


"Eeeh..."


Dan begitulah, hari Natal kami akhirnya berakhir dengan damai (?).


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close