Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 4
"Pertarungan demi Kencan Natal"
Suatu hari Minggu. Karena hari ini adalah hari libur, aku berniat menonton streaming VTuber di rumah seperti biasanya. Namun, Ibu menyuruhku melipat pakaian jemuran, sehingga dengan enggan aku harus beranjak dari tempat tidur.
"Haaah... Malas sekali."
Bagi tipe orang rumahan dan kuper sepertiku yang selalu menghabiskan hari libur di dalam rumah, hari Minggu biasanya memang berjalan seperti ini. Lagipula, temanku sedikit, jadi hampir tidak pernah ada momen di mana aku pergi keluar untuk bermain dengan seseorang. Dan pacar... sudah tidak perlu ditanyakan lagi, aku tidak punya.
Aku sudah berhenti menaruh harapan pada gadis-gadis di dunia nyata, jadi aku tidak punya keinginan untuk mencari pacar, apalagi bermain dengan anak perempuan. Ditambah lagi, saat ini aku sudah punya VTuber. Aku bisa terus-menerus menonton idolaku bermain game, dan hanya dengan hal itu saja, kualitas hari liburku sudah menjadi sangat tinggi.
"Aku harus cepat-cepat membereskan pakaian ini agar bisa menonton siaran Yururu-chan jam 1 siang nanti."
Sambil memikirkan hal itu, aku melangkah ke koridor dan pintu kamar adik-adikku langsung tertangkap oleh mataku. Meskipun hari libur, mereka yang berstatus sebagai pejuang ujian sedang giat-giatnya belajar, belajar, dan belajar. Sungguh mengagumkan melihat bagaimana mereka berhadapan dengan meja belajar dengan begitu tekun. Saat ini pun, mereka tampak sedang berkonsentrasi penuh seolah-olah ingin melahap meja tersebut.
Kairi mengurung diri di kamarnya untuk mengerjakan tugas yang kuberikan, sedangkan Yuuri pergi ke ruang belajar mandiri di tempat bimbingan belajarnya.
"Menjadi pejuang ujian itu berat ya... Serius dah."
Aku memikirkan ujian adik-adikku seolah-olah itu adalah urusan orang lain. Padahal Yuuri dan Kairi adalah adik-adikku sendiri, jadi tidak boleh kuanggap sebagai urusan orang lain... Terutama Kairi, karena akulah yang bertanggung jawab mengurus belajarnya.
Karena setahun yang lalu aku berada di posisi yang sama, aku sangat memahami perasaan para pejuang ujian. Yang namanya ujian, kesuksesan akan selalu berbanding lurus dengan seberapa banyak jumlah materi yang dipelajari. Karena itu, mau tidak mau mereka hanya harus terus melakukannya.
"Yuuri dan Kairi itu anak kembar, jadi memiliki saudara perempuan yang sama-sama berjuang di tahun yang sama dan bisa saling bekerja sama dalam belajar adalah sebuah keuntungan yang besar."
Begitulah pikirku. Namun, semenjak aku mulai sering mengobrol dengan mereka berdua, belakangan ini aku justru jarang melihat pemandangan Kairi dan Yuuri berbicara satu sama lain.
Sejak Kairi berubah menjadi seorang gyaru 2 tahun lalu, aku merasa jarak mulai terbentuk di antara Kairi dan Yuuri jika dibandingkan dengan masa-masa SD dulu. Meski begitu, mereka masih mengobrol saat waktu makan, dan di usia pubertas ini pun mereka tetap berbagi kamar yang sama.
Kedua adikku itu memiliki penampilan dan kepribadian yang bertolak belakang sejak masuk SMP, tetapi mereka tidak pernah terlibat pertengkaran besar. Karena itu, jika di masa-masa seperti sekarang mereka mendadak berhenti bicara, dalam artian tertentu hal itu hanya meninggalkan rasa janggal bagiku.
"Jangan-jangan, karena Kairi mengubah sekolah pilihannya menjadi Shuugakuin, mereka berdua jadi saling menganggap satu sama lain sebagai rival untuk lulus ke SMA Shuugakuin, makanya suasananya jadi agak memanas...?"
Aku terus berpikir sembari mulai melipat pakaianku sendiri. Saling memiliki kesadaran sebagai rekan seperjuangan dalam menghadapi ujian adalah harapan tulusku sebagai seorang kakak. Namun, justru karena status mereka sebagai saudara perempuan, mungkin mereka malah menjadi saling menganggap sebagai rival.
Meskipun perpindahan pilihan sekolah Kairi ke Shuugakuin sempat membuatku terkejut, tampaknya Kairi memutuskan untuk berjuang keras karena anak laki-laki yang dia sukai juga mengincar Shuugakuin. Untuk poin itu, secara jujur aku merasa hal itu luar biasa.
Di sisi lain, bagaimana dengan Yuuri? Nilai hensachi Yuuri jauh lebih tinggi daripada nilaiku saat kelas 3 SMP dulu. Jika itu Yuuri, dia bahkan bisa mengincar SMA yang memiliki nilai hensachi lebih tinggi daripada Shuugakuin.
Meskipun begitu, apakah alasan dia tetap memilih Shuugakuin karena sekolah itu bisa ditempuh dari rumah? Atau jangan-jangan sama seperti Kairi, tujuannya adalah pacar atau orang yang sedang dia taksir...?
"Tidak, tidak, tidak mungkin. Sama sekali tidak tercium aroma laki-laki dari diri Yuuri."
Namun siapa tahu, malah Yuuri lah yang sebenarnya diam-diam sudah berpacaran dengan seorang anak laki-laki. Mengingat dia begitu baik dan anggun, ditambah lagi berstatus sebagai gadis cantik yang berdaya dada besar, anak-anak laki-laki seangkatannya pasti hampir setiap hari menjadikan Yuuri sebagai bahan khayalan yang tidak-tidak. Kenyataannya, ada rumor yang menyebutkan bahwa alasan Yuuri bisa terpilih menjadi ketua OSIS adalah karena pergerakan suara yang mutlak dari para anak laki-laki yang menjadi penggemarnya.
"Saat memikirkan hal-hal yang tidak penting, tanpa kusadari pakaian yang harus dilipat hampir habis. Ini yang terakhir, ya."
Sambil melihat celana boxer terakhir yang kupegang, aku tiba-tiba teringat akan suatu hal.
"Kalau dipikir-pikir, belakangan ini... entah mengapa celana boxer-ku rasanya seperti baru terus, ya."
Celana boxer hitam yang saat ini sedang kupegang adalah celana yang sudah kugunakan sejak kelas 3 SMP. Namun celana boxer ini... bagaimana ya mengatakannya, rasanya terlalu nyaman dipakai, seolah-olah ini adalah barang baru. Tentu saja, kainnya mungkin bisa sedikit membaik setelah dicuci... tapi bagaimana ya, belakangan ini kesan "lama dan usang" dari celana-celana boxer-ku mendadak hilang. Rasa gesekan di area selangkangan dan sensasi saat "benda itu" pas di posisinya adalah hal yang seharusnya semakin terbiasa seiring seringnya dipakai.
Jika barangnya baru, biasanya akan ada sensasi yang kurang familier dan tidak tenang... tapi untuk celana-celana boxer-ku akhir-akhir ini, seberapa sering pun aku memakainya, sensasi tidak tenang itu selalu ada.
Apakah Ibu membelikanku yang baru? Tapi aku belum pernah melihat celana boxer jenis ini sampai berjumlah dua lembar.
Selain itu, meski topiknya sedikit melenceng, misteri aneh yang terjadi di sekitarku belakangan ini tidak hanya sampai di situ saja. Ada masalah lain yang jauh lebih serius dan menyangkut privasiku.
Masalah tersebut adalah berkurangnya tisu di dalam "tempat sampah rahasia" yang berada di dalam lemari dinding.
Tidak perlu dikatakan lagi, sebagai seorang anak laki-laki SMA yang berada di usia puber, aku memiliki hasrat seksual yang sewajarnya, jadi aku juga sesekali menjulurkan tangan ke area selangkanganku seperti orang-orang pada umumnya. Karena gumpalan tisu bekas pembuangan setelah melakukan "aktivitas" itu akan kubawa sendiri ke tempat pembuangan sampah apartemen, aku sengaja menyediakan tempat sampah khusus di dalam lemari dinding kamarku.
Namun belakangan ini, jumlah tisu di dalam tempat sampahku itu berkurang. Biasanya di setiap akhir bulan, tisu putih akan menggunung tinggi layaknya puncak bersalju di Gunung Fuji. Tapi saat kuperiksa tempo hari, jumlah tisu putih di tempat sampah itu hanya tersisa seukuran porsi setengah mangkuk nasi saat seorang siswi SMA sedang melakukan diet ketat.
Mengapa tisunya bisa menghilang?
Mengenai hal ini, akhir-akhir ini aku mulai mencurigai Ibu. Lagipula, orang yang bisa memindahkan atau membereskan barang-barang di kamarku sudah pasti hanyalah Ibu saja. Ibu pasti juga sudah paham tentang hal itu dan memilih untuk mendiamkannya.
Mau seberapa pun dia berstatus sebagai Ibu, diam-diam mengumpulkan lalu membuang beberapa lembar tisu bekas masturbasi milik putranya sendiri adalah hobi yang sangat buruk.
Aku melirik ke arah Ibu yang berada di ruang tamu yang sama denganku. Karena kesempatannya pas, aku harus menanyakan hal ini dengan jelas kepada Ibu.
Hari ini Ibu juga sedang libur bekerja. Sambil menyuruh putranya melipat pakaian, dia sendiri meletakkan sebuah meja bundar pendek di dekat jendela ruang tamu, lalu menikmati waktu minum tehnya yang elegan dengan menyeduh teh hitam di atasnya.
Pemandangan itu, meski dia adalah ibuku sendiri, terlihat begitu indah layaknya sebuah lukisan. Aku bisa paham betul kalau alasan Kairi dan Yuuri dijuluki sebagai saudari cantik adalah karena mereka mewarisi gen yang kuat dari Ibu... Tidak, tidak, daripada memikirkan hal itu sekarang!
"U-Um, Ibu."
"Ada apa, Yuuto?"
Aku merasa tidak enak pada Ibu yang sedang menikmati waktu minum tehnya, tetapi justru karena kami adalah keluarga yang tinggal bersama, ada beberapa hal yang harus diperjelas.
"Anu, itu..."
"?"
Gawat, begitu berhadapan langsung seperti ini, kalimat seperti "Jangan seenaknya membuang tisu bekasku, dong!" rasanya terlalu memalukan untuk diucapkan...! Mari kita tanyakan dengan sedikit tidak jelas. Anggap saja sebagai bentuk penyelidikan.
"I-Ibu... Ibu pasti ada menyembunyikan sesuatu dariku, kan?"
"......!??"
Tepat saat aku menanyakan hal itu—cangkir teh yang ada di tangan Ibu tergelincir jatuh, lalu menimbulkan suara dentangan keras di atas meja. Tangan yang tadi memegang cangkir teh tampak gemetar, dan matanya pun langsung melotot lebar.
Bukankah reaksi terkejutnya ini terlalu berlebihan?
"Yu-Yu-Yu... Yuuto! Se... Se-Sejak! Sejak kapan kamu menyadarinya?!"
Ibu berbicara dengan suara yang gemetar, lalu menggigit bibirnya dengan sangat keras. Padahal cuma masalah tisu bekas masturbasi, kenapa dia harus se-terguncang ini...
"Tentu saja aku mengeceknya, kan... karena benda itu sengaja disembunyikan."
"Hah?! Tunggu dulu, Yuuto! Apa yang sedang kamu cek dari Yuuri dan Kairi?!"
"Hah?"
"Hah?"
Percakapan kami tidak menyambung, dan tanda tanya besar langsung mengambang di atas kepala kami masing-masing.
"Tunggu dulu, Ibu. Kenapa mendadak membahas Yuuri dan Kairi? Aku kan sedang membicarakan masalah tisu."
"Ti-Tisu?"
"Eh...?"
Aku akhirnya menyadari kalau apa yang kami bicarakan benar-benar saling meleset, seolah-olah kami sedang memainkan sebuah komedi salah paham. Jangan-jangan, Ibu membayangkan hal lain yang sama sekali bukan tentang tisu bekas masturbasi?
"Hoooh... I-Ibu tidak mengerti apa yang ingin kamu katakan, lho? Ah, kalau dipikir-pikir, kebetulan persediaan tisu kita sedang habis, jadi bisa tolong belikan? Lalu sekalian kecap asin untuk menu masakan rebusan nanti malam, dan oh, sekalian juga tisu toilet!"
"O-Oh. Boleh saja, sih."
Begitu aku menyetujuinya, Ibu mengeluarkan uang sebesar 2000 yen dari dompetnya lalu menyerahkannya kepadaku.
"Jangan lupa bawa tas belanjanya, ya~"
Aku merasa mengganjal karena akhir percakapan yang menggantung ini. Aku sedang membicarakan masalah tisu, tetapi Ibu tampak merespons sesuatu yang lain. Ditambah lagi, kenapa dia menyebut nama Yuuri dan Kairi...?
Ibu pasti mengira aku sedang membahas rahasia lain yang dia sembunyikan dariku, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan tisu bekas masturbasi. Namun, sesuatu yang melibatkan mereka berdua dan harus disembunyikan dariku... sebenarnya apa?
Saat aku sedang memakai sepatu di pintu depan dan menunggu lift yang berada di sebelah kamar, Yuuri ternyata ada di dalam lift yang datang dari lantai satu. Tampaknya dia baru saja kembali dari tempat bimbingan belajar.
"Ah, Onii-chan!"
"O-Oh, Yuuri... Selamat datang di rumah."
"Aku pulang~ Apakah Onii-chan mau pergi berbelanja sekarang?"
"Begitulah. Ibu yang menyuruhku pergi."
"...Kalau begitu, mumpung kesempatannya pas, bagaimana kalau aku ikut pergi bersama?"
"Apanya yang mumpung pas."
"Sudahlah, ayo!"
Yuuri menarikku ke dalam lift, lalu menekan tombol lantai 1.
☆☆
Setelah keluar dari apartemen, aku berjalan bersama Yuuri yang masih mengenakan seragam sekolah menuju area pertokoan terdekat.
"Wah~ Sudah lama ya kita tidak ke area pertokoan ini?"
Karena hari ini adalah hari libur, suasana hati Yuuri tampaknya menjadi sedikit lebih ceria dari biasanya.
Meski kami sudah lama tidak menginjakkan kaki di sini, area pertokoan yang masih menyisakan atmosfer kota tua ini tidak banyak berubah dari masa lalu.
"Waktu kecil dulu kita sering dimintai tolong untuk berbelanja, ya. Karena Ibu khawatir kalau cuma Yuuri dan Kairi saja, makanya aku selalu ikut menemani."
"Itu kan karena Ibu khawatir Kairi akan mengamuk di luar! Kalau tentang aku, sama sekali tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan, tahu!"
"Yuuri... kamu itu memiliki sisi yang agak terlalu serius, sih. Sekarang saja, padahal kamu cuma pergi ke ruang belajar mandiri di tempat bimbingan belajar, tapi kenapa sengaja memakai seragam dan bukan baju biasa? Karena terlalu serius, jadinya agak sedikit aneh."
"Ih, Onii-chan jahat banget! Menjadi orang yang serius kan hal yang bagus! Atau jangan-jangan, Onii-chan lebih menyukai tipe gyaru yang berandalan seperti Kairi?"
"Eh? Ka-Kalau soal itu...?"
Aku tidak pernah memikirkan siapa yang lebih baik di antara Kairi atau Yuuri. Mereka berdua adalah adik kembar perempuanku, jadi memberikan penilaian siapa yang lebih unggul itu...
Saat aku meletakkan tangan di dagu sambil berpura-pura berpikir, Yuuri yang berjalan di sampingku langsung menatapku dengan mata yang menyipit sinis.
"...Heeeh. Jadi Onii-chan lebih suka tipe gyaru, ya? Begitu. Onii-chan lebih memilih Kairi, ya. Begitu begitu begitu begitu begitu begitu begitu begitu begitu begitu begitu begitu begitu begitu begitu."
A-Ada yang... ada yang aneh dengan sikap Yuuri.
Yuuri terus-menerus meracaukan kata "begitu" seperti robot yang sedang error. Kilau cahaya di dalam manik matanya mendadak sirna, dan dengan tatapan kosong dia terus bergumam, "Begitu, ya... begitu, ya..."
Jangan-jangan aku... sudah membuat Yuuri marah?
Saat ini mereka berdua memang sedang sensitif dan bersaing ketat karena urusan ujian. Bagi Yuuri yang memiliki harga diri tinggi, fakta bahwa Kairi dianggap lebih unggul meski dalam hal sepele seperti ini mungkin adalah sesuatu yang sangat tidak dia sukai. Di masa-masa sensitif seperti sekarang, aku harus lebih peka dan menjaga perasaannya...
"A-Aku...! Aku merasa Yuuri yang murid teladan ini jauh lebih mudah untuk diajak mengobrol, kok!"
"...Apakah itu benar?"
"A-Ah, iya! Kairi itu penampilannya terlalu mencolok, lagipula dia selalu egois. Berbeda dengannya, Yuuri selalu penurut, jadi aku selalu merasa sangat terbantu."
Begitu aku memujinya dengan agak terpaksa, mata Yuuri langsung kembali berbinar seperti biasanya.
"M-Mooou, Onii-chan ini paling bisa ya kalau urusan memuji~"
Yuuri langsung memeluk lenganku erat-erat, lalu mengesekkan wajah mungilnya ke pundakku.
"Hei, Yuuri! Malu dilihat orang kalau melakukan hal seperti ini di tempat umum."
"Eh? Berarti kalau tidak di depan umum, aku boleh memelukmu?"
"B-Bukan begitu... Pokoknya lepas dulu."
Setelah melepaskan Yuuri yang menempel di lenganku, aku mengambil jarak sedikit darinya.
"Onii-chan, apakah jantungmu berdegup kencang?"
"H-Hah?!"
"Bisa sampai berdegup kencang hanya karena adik kandungnya sendiri... Onii-chan, kamu nakal ya—?"
"...B-Berdegup kencang apa gunanya."
Mana mungkin jantungku berdegup kencang. Memang benar ada sedikit bagian dadanya yang terasa menyentuh lenganku hingga membuatku sempat terkejut, tapi itu murni respons biologis semata. Mana mungkin aku merasa berdebar pada adik kandung sendiri.
"Ah, Onii-chan, lihat, lihat! Ada kedai takoyaki pinggir jalan di sana!"
Lenganku langsung ditarik oleh Yuuri yang suasananya hatinya mendadak melonjak drastis, lalu kami pun melangkah menuju kedai takoyaki tersebut.
"Paman, tolong takoyaki yang isi 8 satu porsi, ya!"
"Oh! Apakah kalian pasangan pelajar yang sedang berkencan?"
Sang pemilik kedai yang berkepala plontos dan mengenakan ikat kepala hachimaki bertanya kepada kami.
"Bukan, kami ini kakak ad—"
"Iya! Kami adalah pasangan yang sudah berpacaran selama 3 tahun!"
Yuuri memotong perkataanku dan melontarkan sebuah kebohongan besar dengan raut wajah yang tampak sangat meyakinkan.
"Sudah 3 tahun, ya! Baik kalau begitu! Paman kasih bonus untuk pasangan yang sedang hangat-hangatnya ini!"
Sang pemilik kedai yang murah hati itu menambahkan 2 buah takoyaki lagi, sehingga porsi yang aslinya berisi 8 buah kini berubah menjadi 10 buah takoyaki. Setelah membayar, aku menerima bungkusan takoyaki itu dari sang pemilik kedai.
"Selamat menikmati kencan kalian, ya!"
Setelah meninggalkan kedai tersebut, Yuuri tampak tertawa cekikikan. Selama ini aku mengira Yuuri adalah murid teladan biasa yang memiliki rasa keadilan yang tinggi, tapi di luar dugaan ternyata dia memiliki sisi yang sedikit licik seperti iblis kecil...?
Kami memutuskan untuk duduk di sebuah bangku yang berada di bawah rindangnya bayangan pohon terdekat untuk menyantap takoyaki tersebut.
"Kamu ternyata bisa melakukan hal yang nakal juga, ya?"
"Tidak apa-apa, kan. Lagipula yang salah paham kan paman pemilik kedai tadi~"
"Kalau soal itu... mungkin memang benar, sih."
Ada sebuah ketidakselarasan yang kentara antara citra Yuuri yang ada di dalam benakku dengan tindakan yang Yuuri tunjukkan saat ini. Tapi, ya... Yuuri kan juga sebentar lagi akan menjadi anak SMA, jadi dia tidak mungkin terus-menerus menjadi gadis yang polos dan murni selamanya. Menjadi sedikit cerdik dan tahu cara memanfaatkan situasi mungkin adalah hal yang alami, atau bisa dibilang sebagai bentuk pertumbuhan yang nyata.
"Daripada membahas hal itu, Onii-chan. Kita berdua dibilang sebagai sepasang kekasih, lho? Padahal kita ini kakak adik, tapi apa menurutmu kita berdua memang terlihat seperti itu?"
"...Itu karena kamu terlalu cantik, makanya orang biasa sepertiku jadi tidak terlihat seperti kakakmu."
"Benarkah? Padahal menurutku Onii-chan juga keren, kok."
"J-Jangan asal memuji, ah."
Bisa-bisanya aku merasa tersipu hanya karena dipuji oleh adik perempuan sendiri.
"Onii-chan ini ternyata pemalu banget ya... rasanya sampai ingin kulahap saja."
"Eh?"
"Maksudku, aku ingin melahap habis semua takoyakinya. Kenapa Onii-chan tidak memakannya?"
"A-Ah, iya..."
Aku mengambil tusukan bambu, lalu memasukkan sebutir takoyaki ke dalam mulutku. Entah mengapa Yuuri hari ini... terkadang memancarkan tatapan mata yang terasa menyeramkan.
☆☆
Setelah selesai menyantap takoyaki, aku dan Yuuri mampir ke supermarket yang ada di area pertokoan.
Astaga, gara-gara Yuuri, aku hampir saja melupakan tujuan utamaku yang sebenarnya. Lagipula hari ini aku keluar rumah bukan untuk makan takoyaki, melainkan karena dimintai tolong oleh Ibu untuk berbelanja.
Aku mengambil keranjang belanja yang ada di dekat pintu masuk supermarket, lalu melangkah masuk ke dalam bersama Yuuri.
"Mari kita lihat, yang dititipkan oleh Ibu adalah... kecap asin, tisu toilet, lalu tisu biasa..."
"Tisu biasa...?"
Yuuri bertanya dengan raut wajah yang tampak penasaran.
"Ah, iya. Ibu bilang persediaan tisu di rumah sudah habis."
"......Hmm, begitu ya."
Yuuri tampaknya memberikan reaksi yang tidak biasa terhadap kata "tisu"... tapi, ya sudahlah.
Aku tidak terlalu memikirkannya dan mulai mengambil barang-barang yang dititipkan satu demi satu. Karena barang yang dititipkan hanya tiga macam, aku bisa menemukannya dengan cepat. Namun, tanpa kusadari, di dalam keranjang belanjaan sudah ada sebuah camilan cokelat varian rasa edisi terbatas.
"H-Hei, Yuuri...? Jangan-jangan, kamu yang memasukkan benda ini?"
"Onii-chan, tolonglah! Belikan aku camilan ini!"
"Dengar ya, kamu kan sudah bukan anak-anak lagi, belilah pakai uang sakumu sendiri."
"S-Sebenarnya akhir-akhir ini uangku sedang agak menipis... Lagipula aku sudah menemanimu berbelanja, jadi anggap saja ini sebagai upah, boleh kan kalau kamu membelikannya untukku?"
Yuuri mengedipkan matanya dengan manja sambil menangkupkan kedua tangannya. Fakta bahwa Yuuri sedang dompet kering terasa mengejutkan bagiku. Yuuri adalah tipe anak yang tidak suka berbelanja secara boros seperti Kairi, dan aku justru membayangkannya sebagai orang yang rajin menabung. Lagipula, tumben sekali Yuuri merengek meminta sesuatu...
Melihat dari kehidupan sehari-harinya, aku mengira dia adalah ketua OSIS yang sangat serius dan mandiri... tapi ternyata dia memiliki sisi yang seperti ini juga.
"Tidak boleh, ya~?"
"A-Ah, iya. Karena hari ini kamu sudah menemaniku, tidak apa-apa kalau cuma membelikan satu camilan cokelat."
"Horeee! Terima kasih, Onii-chan!"
Yuuri menunjukkan deretan gigi putihnya sambil tersenyum lebar. Senyuman itu terlihat begitu manis bahkan bagi aku yang merupakan kakaknya sendiri, hingga tanpa diduga membuat jantungku sedikit berdegup kencang.
Yuuri... ternyata bisa menunjukkan senyuman yang begitu polos, ya...
Mungkin karena hari ini hari libur, Yuuri yang suasana hatinya sedang lebih ceria dari biasanya menunjukkan ekspresi wajah yang bertolak belakang dengan kesannya yang biasa tegap dan serius. Hanya dalam hari ini saja, pandanganku terhadap Yuuri mulai banyak berubah.
Di SMP dia menjabat sebagai ketua OSIS, dan sejak menjadi anak SMP dia selalu bersikap serius serta bersikap dewasa... tapi melihatnya meminta dibelikan camilan, dia ternyata tetap memiliki sisi yang sewajarnya seperti anak SMP.
"Ada apa, Onii-chan? Kamu menatap wajahku terus."
"Tidak apa-apa. Soalnya, aku mengira Yuuri sejak masuk SMP sudah berubah menjadi murid teladan yang sangat mandiri. Jadi saat melihatmu makan takoyaki atau meminta dibelikan camilan, aku berpikir ternyata kamu punya sisi yang manis juga."
"M-Ma... Manis?!"
Yuuri yang menunjukkan wajah terkejut mendadak merasa pusing, lalu langsung berjongkok di tempat.
"Hei, Yu-Yuuri? Kamu sakit?"
"Tidak, cuma agak basah..."
"Basah?"
"Bukan! Maksudku lantai di kaki kita agak basah. Karena di sini kan area ikan segar!"
"A-Oh, begitu..."
Yuuri bangkit berdiri dengan malu-malu sambil berkata "ehehe" dengan pipi yang sedikit merona merah.
"Onii-chan... apakah kamu juga suka mengatakan hal seperti itu kepada Kairi?"
"Hal seperti itu?"
"...Sudahlah, lupakan saja."
Yuuri mengatakan hal itu lalu tersenyum kecil.
"Ayo, ayo, cepat kita bayar lalu pulang. Aku juga ingin segera belajar."
"A-Ah, iya."
Mendengar perkataan Yuuri, aku segera membawa keranjang belanjaan ke kasir. Setelah memasukkan kecap asin dan tisu ke dalam tas belanja, serta memegang tisu toilet di satu tangan, kami pun kembali ke apartemen. Di depan pintu rumah, Kairi sudah berdiri tegak dengan berkacak pinggang seolah sedang menanti kepulanganku.
"Kupikir kenapa lama sekali... Ternyata Onii pergi berbelanja bersama Yuuri, ya?"
"Maaf ya, Kairi? Aku sudah bersenang-senang berduaan dengan Onii-chan ♡"
"...Tidak masalah, kok. Daripada itu, Onii, ada soal yang ingin kutanyakan. Ayo ke ruang tamu."
"Baik, baik. Ujian kalian berdua kan sudah dekat, jadi memang harus belajar—"
Mungkin karena aku mengungkit topik tentang ujian, atmosfer di tempat itu mendadak menjadi terasa berat.
"Fufu... ♡ Kairi, kenapa wajahmu menyeramkan begitu?"
"...Onii akan kulindungi."
Kairi mengatakan hal itu sembari menarik tanganku dan mulai melangkah menuju ruang tamu.
Melindungi katanya, memangnya dia mau melindungiku dari siapa, sih?
☆☆
—Hari Senin di awal pekan.
Memikirkan bahwa minggu yang panjang akan dimulai lagi membuat perasaanku menjadi sangat malas. Padahal kemarin adalah hari Minggu yang berharga, tapi aku sama sekali tidak bisa menikmatinya karena harus menemani Yuuri berbelanja dan mengajari Kairi belajar. Pada akhirnya, aku bahkan tidak bisa menonton siaran langsung VTuber kesukaanku secara real-time.
Begitu tiba di dalam kelas, aku meletakkan tas ranselku di kursi tempat dudukku yang berada di barisan paling belakang dekat jendela.
"Yoaa, selamat pagi, Yuuto."
"Ya. Selamat pagi, Takaki."
Orang yang langsung menyapaku sesaat setelah aku tiba di sekolah adalah sahabatku yang duduk di bangku depan, Mitamura Takaki. Kami sudah berteman sejak masa SD. Sama sepertiku, dia adalah laki-laki berwajah standar yang tidak populer dan sangat menyukai VTuber.
"Apakah kemarin kamu mendengarkan siaran ASMR dari Tenshigaoka Yururu-chan? Anak itu, padahal konten ASMR-nya sangat sensual, tapi karena dia pemalu, dia tidak meninggalkan arsip siarannya. Jadi siaran kemarin benar-benar langka, ya."
"...Maaf, aku tidak mendengarkannya."
"Serius? Tumben sekali untuk ukuran Yuuto yang menganggap VTuber sebagai jalan ninja hidupmu. Biasanya kamu selalu mengecek setiap siaran langsung dari VTuber idolamu, kan?"
"Kemarin itu, aku mengajari adik-adikku belajar."
"Jangan-jangan adik yang kamu maksud itu, Yuuri dan Kairi?!"
Takaki terkejut sampai-sampai hampir melompat dari kursinya. Padahal tidak perlu sampai seterkejut itu, kan.
"Uwahaa! Kamu beruntung sekali, tahu! Aku juga mau mengajari ini-itu kepada Yuuri atau Kairi!"
"Jangan membicarakan hal mesum tentang adik orang lain. Lagipula, kamu sendiri mana mungkin bisa melakukan hal seperti itu."
"Berisik! Di dalam khayalanku, aku sudah melakukan banyak hal tahu kepada si kembar cantik itu~? Dada besar Yuuri yang anggun itu kuapakan begitu, lalu dada besar Kairi yang gyaru juga—"
"Hei! Jangan melihat adik sahabatmu sendiri dengan tatapan mesum!"
Takaki memang selalu mengucapkan hal-hal menjijikkan seperti ini dengan santai. Biasanya dia adalah anak yang baik, tapi kalau sudah menyangkut obrolan mesum, dia benar-benar tidak kenal ampun... Lagipula, mengkhayalkan hal seperti itu tentang adik sahabat sendiri rasanya agak kurang pantas.
"Kairi si gyaru nakal dan Yuuri si murid teladan yang anggun. Mereka berdua memang bertolak belakang, tapi lekuk tubuh mereka sudah setingkat model gravure di majalah, tahu. Kamu mungkin tidak merasakannya karena statusmu sebagai kakak mereka, tapi semua anak laki-laki dari SMP yang sama dengan mereka pasti pernah membayangkan hal mesum tentang mereka berdua."
"A-Apakah memang begitu?"
"Tentu saja!!! Makanya aku sangat iri kepadamu sebagai kakaknya, dan aku bahkan iri kepada anak laki-laki yang seangkatan dengan mereka. Karena itu berarti mereka bisa melihat seragam renang sekolah milik si kembar cantik itu sepuasnya. Begitu melihat sosok mereka, pasti langsung refleks membungkuk ke depan demi menutupi area bawah."
Meskipun kami adalah saudara kandung, aku sendiri tahu kalau Yuuri dan Kairi memiliki bentuk tubuh yang jauh di atas rata-rata, jadi aku bisa sedikit memahami perasaan Takaki, tapi...
"Ngomong-ngomong, sebagai kakaknya, Yuuto sendiri lebih suka Yuuri atau Kairi?"
"J-Jangan tanyakan hal seperti itu kepadaku!"
"Eeeh? Kenapa pelit sekali, sih. Kalau aku pribadi, jelas tim Yuuri. Berlagak sok anggun tapi aslinya mesum tersembunyi itu benar-benar tidak ada duanya!"
Hal seperti itu mana mungkin terjadi pada Yuuri yang merupakan murid teladan gila belajar. Yuuri pasti akan langsung merona merah jika mendengar lelucon kotor, dan aku bahkan tidak tahu apakah dia paham dengan lelucon seperti itu atau tidak.
"Yuuto, apa kamu benar-benar tidak merasakan apa pun padahal tinggal bersama adik secantik mereka?"
"Mana mungkin aku merasakannya."
"Haaah... Berarti sikapmu yang tidak tertarik pada perempuan di dunia nyata masih belum berubah, ya?"
"Alasan aku tidak memiliki ketertarikan seksual pada mereka berdua adalah karena mereka adikku! Tapi ya, memang benar kalau aku tetap tidak tertarik pada gadis di dunia nyata."
"...Begitu ya."
Takaki bergumam seolah sedang mengembuskan napas sambil menyunggingkan senyuman tipis yang lembut.
Tentu saja, sebagai sahabat, Takaki tahu tentang "kejadian itu". Kejadian di mana aku dijadikan dompet berjalan oleh pacar pertamaku... kejadian yang menimpaku waktu itu.
"Tapi, bagimu rasanya bagus juga ya si Chifuyu itu pergi ke SMA di kota sebelah? Kalau dia sampai masuk ke Shuugakuin yang sama dengan kita, aku sempat berpikir kamu tidak akan bisa bangkit lagi dari kejadian waktu itu."
"............"
"Yah, bagi Chifuyu, masuk ke Shuugakuin mungkin juga sulit jika melihat nilai hensachi-nya, sih. Lagipula pada akhirnya dia cuma perempuan gampangan."
"Hei, Takaki. Memang benar dia sudah menanamkan trauma mendalam kepadaku... tapi meski begitu, aku tidak ingin mendengar makian tentangnya."
"A-Ah... Maaf. Benar juga ya, kamu memang tipe laki-laki yang seperti itu."
Sembari meminta maaf, Takaki menepuk pundakku dengan pelan.
"Sudahlah, kita kan masih punya VTuber. Mari kita terus mendukung idola 2 dimensi kita ke depannya."
"Ya..."
Gara-gara Takaki, aku jadi teringat kembali dengan wajah itu.
Mizuno Chifuyu. Wajah mantan pacarku saat aku masih duduk di bangku SMP. Dia adalah gadis yang sangat keren hingga biasanya hanya melakukan percakapan seperlunya saja, dan dia juga merupakan gadis yang paling cantik di kelas. Karena itulah, aku yang tidak populer ini menjadi salah paham ketika Chifuyu datang menembakku...
Setelah aku diporoti untuk membelikan barang-barang yang dia inginkan setiap kali berkencan, beberapa minggu kemudian dia berkata, "Aku sudah bosan, jadi aku ingin putus."
Aku sempat tidak mempercayainya. Chifuyu yang biasanya tanpa ekspresi dan bersikap dingin, selalu tersenyum sepanjang waktu saat berkencan denganku, dan dia akan merasa senang sambil berkata "aku bahagia" setiap kali kuberi hadiah. Aku benar-benar mengira bahwa hubungan kami saat itu adalah esensi dari "sepasang kekasih" yang sesungguhnya...
Karena itu, saat Chifuyu berkata "aku ingin putus", dalam sekejap aku langsung memahami segalanya, dan sejak saat itu aku mulai melihat realita yang ada. Mana mungkin gadis seperti dia bisa menyukai laki-laki kuper berwajah standar yang tidak populer sepertiku. Aku hanya dijadikan dompet berjalan oleh Chifuyu.
Informasi yang baru kuketahui belakangan, Chifuyu kabarnya sering mengobrol dengan kelompok anak-anak gaul di kelas setelah jam pulang sekolah. Chifuyu adalah seorang gadis cantik yang penyendiri. Namun sejak dia mulai berpacaran denganku, dia sering terlihat bersama kelompok anak gaul tersebut setelah jam sekolah usai.
Kemungkinan besar, kelompok anak gaul itulah yang mengusulkan ide untuk menjadikanku sebagai dompet berjalan demi bahan mainan mereka. Tapi karena sudah bosan... Chifuyu akhirnya meminta putus dariku.
Sejak mengalami hal tersebut, aku mulai menghindari untuk mengobrol atau terlibat dengan anak perempuan. Bagiku, hal yang paling menakutkan dari segalanya adalah... seluruh aspek tentang anak perempuan.
Demi mencapai tujuannya sendiri, anak perempuan bisa berpura-pura menjadi sosok orang yang sama sekali berbeda... Mereka memiliki topeng lain yang berbeda dari apa yang mereka tampilkan di luar. Kenyataannya, Chifuyu bersedia berpacaran dengan laki-laki kuper tidak populer sepertiku, padahal dia sama sekali tidak menyukaiku...
Dia menembakku dan mengajakku berkencan padahal tidak ada rasa suka. Senyuman yang dia tunjukkan—yang biasanya tidak pernah dia perlihatkan kepada orang lain—semuanya, semuanya adalah kebohongan belaka.
Aku sudah tidak ingin... mengingat wajah perempuan itu lagi.
Demi melupakan wajah perempuan itu, aku pun mulai mengoreksi tugas yang kuberikan kepada Kairi hingga jam perwalian kelas pagi dimulai.
☆☆
Bulan Oktober berlalu dalam sekejap mata, dan kini waktu yang tersisa menuju ujian periodik adik-adikku tinggal 1 minggu lagi.
Memasuki pertengahan bulan November di mana musim gugur semakin sejuk, ujian periodik di periode ini menjadi rangkaian tes yang sangat krusial bagi para pejuang ujian.
Kairi yang sampai beberapa waktu lalu masih menjadi seorang gyaru, berhasil mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dalam kurun waktu sekitar dua bulan ini. Khusus untuk mata pelajaran matematika dan bahasa Inggris, kurasa nilainya akhirnya sudah berhasil mencapai sedikit di atas rata-rata.
Bisa melesat dari posisi paling buncit hingga ke atas rata-rata hanya dalam waktu sekitar 2 bulan adalah hal yang tidak realistis dalam kondisi normal. Namun, karena Kairi adalah kembaran Yuuri, dia sepertinya memang terlahir dengan modal kecerdasan alami yang memiliki spesifikasi setara dengan Yuuri.
Saat materi yang kuajarkan saat belajar diulang kembali di kemudian hari, dia mengingatnya dengan baik. Kemampuan adaptasinya untuk menangani soal-soal terapan juga secara misterius tergolong tinggi. Sebelum kami memulai sesi belajar bersama, dia memang sempat mengeklaim bahwa dirinya percaya diri dengan daya ingatnya, dan ternyata kemampuan aslinya jauh lebih baik daripada yang kubayangkan.
Kairi hanya tipe anak yang selama ini tidak memprioritaskan belajar saja, dan dia tampaknya adalah tipe anak yang langsung bisa jika mengerjakannya dengan sungguh-sungguh.
Tipe genius, ya... Secara jujur aku merasa iri.
Padahal orang sepertiku harus rela menghabiskan waktu di tempat bimbingan belajar sejak kelas 2 SMP, lalu bersusah payah mencapai nilai hensachi 60 saat kelas 3 SMP, hingga akhirnya bisa lulus ke Shuugakuin dengan status kelulusan prediksi peringkat B yang sangat pas-pasan...
Tampaknya aku tidak mewarisi kecerdasan tipe genius seperti yang dimiliki oleh adik kembar perempuanku itu. Baik dari segi penampilan fisik maupun kecerdasan otak, mengapa aku bisa jauh lebih inferior dibandingkan dengan adik kembar pribamiku sendiri...?
Jika di duniaku ini ada fitur kolom komentar seperti di situs penyedia video, aku benar-benar ingin seseorang memberi tahu jawabannya kepadaku.
Hari ini pun aku kembali mengajari Kairi belajar di ruang tamu seperti biasa. Namun bertolak belakang dengan Kairi yang sedang fokus menghadapi pelajarannya, aku yang bertindak sebagai tutornya justru sibuk memutar otak meratapi ketidakadilan dunia ini di dalam kepala.
"Ada apa, Onii? Wajahmu kelihatan serius begitu."
Tampaknya pikiranku yang melantur ke mana-mana tadi langsung tecermin di wajahku.
"Apakah wajahku kelihatan seserius itu?"
"Iya. Lagi memikirkan apa, sih? Jangan-jangan sedang memikirkan perempuan?"
"Mana mungkin begitu. Kamu kan tahu sendiri traumaku?"
"Kalau begitu, lagi memikirkan apa? Cepat beri tahu aku!"
Kairi bertanya dengan sangat gigih dan memaksa.
Haaah... Sebenarnya aku tidak terlalu ingin mengatakannya, sih...
"S-Sebenarnya..."
"Ya, ya?"
"Aku... merasa iri kepadamu."
"Hah? Serius? Lucu banget deh, Onii bisa sampai merasa iri kepadaku!"
Kairi tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan.
T-Tidak perlu sampai tertawa sepuas itu juga, kan...
"Begini ya, jangan-jangan Onii merasa panik karena aku mendadak jadi sangat pintar belajar?"
"I-Iya, benar! Padahal sebagai seorang kakak, aku berpikir satu-satunya hal di mana aku bisa mengunggulimu hanyalah dalam urusan belajar saja..."
"Hmm, ternyata begitu ya~ Tapi, fakta bahwa aku sekarang mulai bisa belajar ini kan berkat adanya 【Bimbel Onii】, jadi tidak ada salahnya kan kalau Onii merasa sedikit lebih bangga? Atau jangan-jangan, Onii adalah tipe laki-laki yang hanya bisa menyukai anak perempuan yang kemampuannya berada di bawahmu?"
"Aku bukan tipe laki-laki menyebalkan yang seperti itu!"
"Bilangnya begitu, tapi sebenarnya di dalam hati kamu ingin menguasaiku yang bodoh ini, kan?"
"Me-Menguasai?!"
"Onii... mesum deh ♡"
Seiring dengan bertambah pintarnya Kairi di sesi belajar bersama ini, aku merasa level kemampuannya dalam memprovokasiku juga ikut meningkat. Begitu pula dengan kadar keseksiannya.
"Hasrat m-menguasai atau apa pun itu, mana mungkin aku memiliki perasaan semacam itu kepada adik perempuan sendiri!"
"Kalau aku bukan adikmu, berarti bakal punya perasaan begitu?"
"Tetap tidak akan punya! Lagipula aku tidak tertarik dengan dunia nyata, jadi aku tidak pernah berpikir ingin menguasai siapa pun!"
Aku mengucapkan kalimat tersebut dengan tempo cepat khas seorang otaku, lalu memalingkan pandanganku dari Kairi. Mengapa Kairi menanyakan hal seperti ini? Mengetahui preferensi seksual kakaknya sendiri padahal hanya akan terasa menjijikkan.
"Hei, hei, Onii."
"Hmm?"
"Meskipun Onii tidak tertarik dengan perempuan di dunia nyata, kamu tetap bisa berinteraksi dengan normal kepada kami yang berstatus sebagai adikmu, kan?"
"Itu... karena kita adalah adik kakak yang berbagi darah yang sama."
"Kalau begitu, itu berarti hal sepeeeeerti ini pun tidak akan membuatmu merasa terganggu, kan?"
Di bawah meja, kaki telanjang Kairi mendadak menyentuh kakiku.
"......!? H-Hei!"
Di balik kolong meja, kaki telanjang Kairi mulai menggesek dan mengelus paha atas milikku dengan lembut. Rasanya menggelitik namun entah mengapa terasa nyaman, hingga membuat sebuah perasaan yang aneh mulai membuncah di dalam diriku.
Gawat... ini, rasanya nyaman sekali.
"Ngh..."
"Ternyata Onii lemah banget, ya. Asli, lucu banget~"
"Cih..."
Entah mengapa, aku merasa kalau membuat Kairi menjadi lebih pintar dari ini adalah sebuah kesalahan. Apakah Kairi juga melakukan hal seperti ini kepada laki-laki yang dia taksir...?
"Haaah. Kalau begini caranya, aku jadi tidak sabar menunggu hari Natal nanti."
"Hari Natal?"
Kairi menempelkan jari telunjuknya ke hidung sendiri sambil berkata, "Masih rahasia, tahu," lalu kembali fokus pada pelajarannya dengan wajah menyeringai.
K-Kenapa mendadak membahas Natal...? Padahal waktunya masih 1 bulan lagi.
Aku tidak tahu pasti apa yang sedang Kairi pikirkan, tapi kemungkinan besar dia akan menghabiskan waktu bersama laki-laki incarannya. Lagipula dia sampai mengincar Shuugakuin demi laki-laki itu, jadi hari Natal pun pasti...
Aku menatap Kairi lekat-lekat. Seperti yang Takaki katakan, jika tidak melihatnya sebagai seorang adik, Kairi adalah gadis yang sangat cantik. Anak laki-laki mana pun yang diajak merayakan Natal oleh gadis secantik ini pasti tidak akan sanggup menolaknya.
"Hmm? Ada apa, Onii?"
"M-Maaf, Kairi. Aku mau ke toilet sebentar, jadi tolong kerjakan soal-soal ini dulu sampai aku kembali."
"Oke~"
Aku beranjak dari kursi lalu melangkah menuju toilet. Begitu keluar dari ruang tamu menuju koridor, aku berpapasan dengan Yuuri yang baru keluar dari kamarnya dengan mengenakan seragam sekolah.
"Ah, Onii-chan."
"Oh, mau pergi ke tempat bimbingan belajar sekarang?"
"Iya!"
Yuuri yang suasana hatinya tampak sangat baik mengangguk sambil tersenyum lebar.
"Apakah terjadi sesuatu yang menyenangkan?"
"Anu... aku cuma sedang berpikir kalau aku sudah tidak sabar menunggu hari Natal."
Yuuri pun juga membahas tentang Natal...
Berbeda dengan laki-laki kuper sialan sepertiku, hari Natal mungkin memang menjadi sebuah ajang perayaan yang besar bagi sepasang adik kembar yang cantik. Tapi ini kan masih satu bulan lagi.
Sejak dulu aku tidak pernah mendengar rumor tentang asmara Yuuri, tapi melihatnya tidak sabar menunggu hari Natal, apakah itu berarti Yuuri sebenarnya juga sudah punya pacar? Yuuri yang itu, memiliki pacar...
Aku menatap Yuuri yang ada di hadapanku lekat-lekat. Mungkin karena merasa aneh karena terus kutatap, Yuuri tampak mengerjapkan matanya beberapa kali.
Aku hampir tidak pernah melihat sosok Yuuri saat di sekolah. Karena itulah citranya di benakku adalah 100% murid teladan, dan aku agak kesulitan membayangkan Yuuri yang seperti itu sedang bermesraan dengan seorang laki-laki. Namun, sama seperti Kairi, Yuuri juga memiliki penampilan yang berkali-kali lipat lebih cantik daripada gadis-gadis lain, jadi wajar saja jika suatu saat nanti dia akan memiliki pacar... Dan jika sudah begitu, mereka pasti akan melakukan... berbagai macam hal layaknya orang dewasa, kan.
Beberapa waktu lalu, Takaki sempat membagikan khayalannya bahwa akan sangat luar biasa jika Yuuri yang penampilannya anggun ini sebenarnya memiliki sifat asli yang mesum. Apakah Yuuri yang tampak begitu anggun dan manis ini ternyata juga memiliki sisi yang seperti itu? Jangan-jangan, alasannya tidak sabar menunggu hari Natal juga memiliki konotasi ke arah sana.
"Onii-chan? Kamu tidak apa-apa?"
"Eh? Ah, iya."
Mungkin saja Yuuri diam-diam sudah memiliki pacar tanpa sepengetahuanku.
"Tapi sebelum Natal kan ada ujian dulu? Jangan terlalu terlena dan kerjakan ujianmu dengan benar, ya."
"Baik!"
Yah, kalau untuk kasus Yuuri, dia pasti akan memberikan hasil yang memuaskan tanpa perlu diingatkan oleh orang sepertiku. Rasanya aku baru saja membuat khayalan yang tidak-tidak tentang Yuuri, ditambah lagi memberikan nasihat yang agak sok tahu.
"Hei, Onii-chan. Jika aku berhasil mendapatkan peringkat pertama di angkatanku, apakah kamu akan memujiku?"
"Eh? Ah, iya. Tentu saja aku akan memujimu. Kamu kan peringkat pertama di angkatan."
"Horeee, ehehe..."
Kudengar Yuuri memang selalu mempertahankan posisi peringkat pertama di angkatannya, jadi jika itu Yuuri, dia pasti benar-benar bisa melakukannya.
"Kalau begitu, aku harus menang meski harus mati sekalipun..."
"M-Meski harus mati...?"
Aku tidak melewatkan momen di mana mata Yuuri mendadak menyipit sekilas, memperlihatkan ambisinya yang meledak-ledak secara tiba-tiba.
"Kalau begitu, aku berangkat dulu ya~"
"A-Ah, iya, hati-hati di jalan..."
Setelah mengantar kepergian Yuuri, aku melangkah masuk ke dalam toilet.
Kalimat seperti "meski harus mati sekalipun"... kupikir Yuuri bukan tipe orang yang akan mengucapkan hal seperti itu, tapi ternyata dia memiliki sifat yang cukup tidak mau kalah, ya? Baik saat momen kami pergi berbelanja bersama tempo hari maupun ucapannya yang barusan, citranya di mataku sudah cukup banyak berubah jika dibandingkan dengan sosok Yuuri di masa lalu.
"Tidak, daripada memikirkan hal itu, aku harus cepat-cepat menyelesaikan urusan toilet ini lalu kembali."
☆☆
Setelah menyelesaikan urusanku dan mencuci tangan, saat berniat kembali ke ruang tamu, aku menyadari suatu hal.
Pintu kamar Yuuri dan Kairi tampak sedikit terbuka, dan lampu di dalam ruangan tersebut masih menyala.
"Yuuri, karena dia sedang terlalu gembira, dia sampai lupa mematikan lampu kamar, ya?"
Lebih baik kumatikan saja.
Aku membuka pintu kamar tersebut, lalu melangkahkan kaki masuk ke dalam. Sudah berapa tahun ya rasanya aku tidak pernah menginjakkan kaki ke dalam kamar adik-adikku ini.
Ruangan tersebut terbagi menjadi dua area di sisi kanan dan kiri. Begitu masuk, sisi sebelah kiri adalah area milik Yuuri, sedangkan sisi sebelah kanan adalah area milik Kairi.
Area milik Yuuri tertata dengan sangat rapi dan secara keseluruhan memancarkan kesan yang bersih. Sebaliknya, di area milik Kairi, majalah-majalah fesyen tampak menumpuk berantakan di atas meja belajar, dan barang-barang kosmetik juga berserakan di sana-sini... Karena kondisinya seperti ini, pantas saja dia memilih belajar di ruang tamu.
Aku mengambil kendali remote yang berada di atas tempat tidur Kairi untuk mematikan lampu, lalu berniat keluar dari kamar. Namun...
"......Uwoh!"
Saat hendak melangkah kembali, sepertinya aku menginjak majalah yang diletakkan Kairi di atas lantai, hingga membuatku terjatuh dengan sangat tragis di tempat.
"Aduh, sakit... Hmm?"
Di saat aku sedang mengerang kesakitan di atas lantai kamar, di bawah tempat tidur sebelah kiri, ada sesuatu...
Karena suasananya agak temaram aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, tetapi entah mengapa itu terlihat seperti selembar kain yang familier. Baru saja aku menjulurkan tangan ke arah benda itu—
"Tunggu dulu, Onii! Sedang apa kamu masuk ke kamar kami?!"
"Ooh?! K-Kairi!"
Kairi mendadak membuka pintu kamar lebar-lebak dari arah koridor.
"Kupikir kenapa lama sekali... Jangan-jangan Onii sedang mengobrak-abrik pakaian dalamku, ya?"
"B-Bukan begitu! Yuuri pergi ke tempat bimbingan belajar tapi lupa mematikan lampu, jadi aku bermaksud mematikannya. Lalu aku tersandung majalah milikmu."
Aku menjelaskan kronologi yang sebenarnya dengan jujur.
"......Benarkah?"
"Lagipula, apa gunanya aku mencuri pakaian dalam milikmu yang berstatus sebagai adikku sendiri?"
"Tentu saja! Ka-Karena ini adalah Onii... pa-pasti dipakai untuk... m-ma... stur... basi, kan?!"
"Hah?"
"M-Maksudku... ah, sudahlah, lupakan! Lagipula kamu pasti berniat untuk menjualnya kembali, kan! Dasar Onii tengkulak celana dalam adik sendiri!"
"Aku tidak mungkin menjualnya kembali, tahu!"
Sembari terus beradu argumen dengan Kairi, aku bangkit berdiri lalu melangkah keluar dari kamar.
"Dasar, Onii mesum!"
"Haaah... Dasar adik perempuan yang keras kepala."
Namun, tempat tidur yang tadi itu... karena berada di sisi sebelah kiri, berarti itu adalah bagian bawah tempat tidur Yuuri, kan.
Kain yang ada di sana tadi... entah mengapa rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat...
"Mungkin cuma perasaanku saja, ya?"




Post a Comment