Epilog
Langkah Menuju Kedewasaan
Pagi
hari anak-anak di hari Minggu biasanya datang sangat cepat. Sama halnya dengan
anak-anak, pagiku di hari setelah menginap di penginapan pun datang sangat
cepat.
Yah,
walaupun aku sebenarnya tidak begitu sering menginap di penginapan, sih.
Persamaannya
mungkin adalah keinginan untuk bangun lebih awal demi melakukan sesuatu.
Aku
pun punya tujuan tersendiri, makanya bangun lebih cepat. Hal yang ingin
kulakukan saat ini... adalah mandi di pagi hari (asaburo). Bukannya di
pemandian umum, melainkan di pemandian terbuka (rotenburo) yang menyatu
dengan kamar.
Menikmati
paparan sinar matahari pagi sembari memandangi pemandangan berselimut salju,
lalu membersihkan tubuh yang sedikit berkeringat setelah tidur...
Saat
masuk berendam bersama Nanami kemarin malam, tiba-tiba saja timbul rasa
penasaran di dalam diriku mengenai sejauh apa perbedaan pemandangan antara
malam dan pagi hari.
Biasanya
aku tidak akan punya rasa penasaran semacam itu, tetapi keberhasilan kami
menginap di kamar ini adalah hasil dari sebuah insiden yang tak terduga, dan
menginap di kamar yang tergolong sangat mewah adalah pengalaman yang teramat
langka.
Makanya,
aku ingin mencoba semua hal yang memungkinkan untuk dilakukan.
Meskipun
sesi mandi bersama kemarin malam adalah hal yang terjadi tanpa direncanakan...
yah, aku memang sempat membayangkannya, sih.
Hal-hal
seperti bagaimana jadinya jika masuk berendam bersama Nanami. Bagaimanapun
juga, aku ini kan laki-laki.
Hasilnya
bayangan itu memang terwujud, tetapi untuk sesi mandi di pagi hari ini... aku
mengelukannya secara diam-diam seorang diri. Fakta bahwa Nanami sedang tidur
dengan nyenyak di sampingku memang menjadi salah satu alasannya, tetapi pada
kenyataannya, melakukan pemandian bersama sejak pagi hari itu batasannya
terlalu tinggi bagiku.
...Tidak,
frasa "tidur di sampingku" sepertinya bisa memicu kesalahpahaman.
Maksudnya Nanami sedang tidur di ranjang sebelahku. Tegasnya, di ranjang yang
terpisah.
Bahkan
bagiku sekalipun, untuk tidur seranjang setelah sesi mandi bersama kemarin
malam adalah hal yang tidak mungkin. Tidak mungkin dalam berbagai macam arti.
Aku pasti sudah tidak akan bisa menahan diri lagi.
Bisa
mandi bersama saja sebenarnya sudah menjadi bonus yang sangat disyukuri... Yah,
tepatnya momen paling berbahaya adalah saat kami akan keluar bersama dari
pemandian, sih...
Saat
itu, Nanami... kan... masuk sambil menempel padaku. Sampai di situ sebenarnya
masih baik-baik saja. Namun saat mulai merasa pusing kepanasan, aku baru
menyadari sesuatu. Bagaimana caranya kita keluar dari sini?
Kalau
keluar bersama-sama, sudah pasti tubuh kami akan terlihat jelas, dan itu sangat
berbahaya dalam berbagai arti...
...Yah,
soal bagaimana cara kami keluar dari pemandian bersama-sama, mungkin akan
kuceritakan di kesempatan lain. Hal itu adalah rahasia milik kami berdua saja.
Sembari
mengenang kejadian kemarin malam, aku beranjak dari ranjang secara perlahan
agar tidak membangunkan Nanami. Lalu dengan sangat, sangat pelan, aku mulai
bersiap-siap.
Sebisa
mungkin tanpa menimbulkan suara sedikit pun, perasaanku persis seperti seorang
ninja. Khusus untuk saat ini saja, aku menghayati peran sebagai seorang ninja.
Karena
handuknya sudah cukup kering, aku akan memakai handuk yang kemarin saja... asal
jangan sampai tertukar dengan milik Nanami. Sisanya, tinggal menyiapkan
minuman, mungkin.
Untuk
mengantisipasi hal semacam ini, aku sudah mendinginkan minuman bersoda hingga
sangat dingin di kulkas.
Yup,
persiapan sudah sempurna. Kalau begitu... ayo lepas pakaian lalu masuk
berendam.
Tepat
saat tanganku meraih baju atasan, suara Nanami terdengar hingga membuat
gerakanku terhenti seketika.
Apakah
aku membangunkannya...? pikirku, namun tak lama
kemudian dia balik menghempaskan tubuhnya ke posisi lain, jadi sepertinya itu
cuma indigo (mumble) saat tidur.
Namun
pada momen itulah, aku mendadak menyadari suatu hal. Melepas pakaian di samping
Nanami yang sedang tidur... bukankah itu terkesan sangat mesum? Jika sampai dia
terbangun, pemandangannya bakal kelihatan sangat gawat.
Bagaimana
kalau lepas pakaian di luar saja? Seingatku ada tempat untuk meletakkan pakaian
yang dilepas seperti area ganti pakaian... Kemarin aku melepasnya di kamar
karena malas, tetapi sepertinya cara itu jauh lebih baik.
Saat
tanganku memegang gagang pintu untuk keluar, embun pagi yang membeku
menimbulkan suara renyah yang menyenangkan. Hal-hal semacam ini rasanya anehnya
terasa sangat memuaskan.
Sembari
menggemakan suara bernada ringan, pintu bergeser terbuka secara perlahan.
Ah,
ternyata memang dingin banget, ya...
Angin
yang menusuk kulit terasa lebih dingin ketimbang kemarin malam. Mungkin karena
masih pagi jadi suhunya belum naik secara maksimal. Tidak, fakta bahwa ada
paparan sinar matahari namun terasa lebih dingin ketimbang kemarin malam adalah
hal yang agak mengherankan.
Apakah
ini terkait dengan sains... aku sendiri tidak yakin, tetapi karena aku tidak
terlalu paham soal begituan, mungkin lain kali aku bisa mencarinya tahu.
Saat
aku menghela napas, napasku mengembun putih. Sambil memandangi helaan napas
yang membumbung putih bagai asap, aku melepas pakaianku dengan gesit.
Tentu
saja, makin banyak helai yang dilepas, rasa dinginnya makin menjadi-jadi. Angin
luar tepat setelah bangun tidur rasanya tidak bagus untuk kesehatan tubuh. Sensasi
kulit yang tertarik kencang mulai terasa dari bagian-bagian pakaian yang telah
dilepas. Daripada dingin, ungkapan bahwa kulit terasa perih akibat hawa dingin
sepertinya jauh lebih tepat.
Sembari
menerima terpaan hawa dingin yang menusuk, aku bertelanjang bulat... lalu
berlari-lari kecil menuju ke arah bak pemandian. Kecepatan gerakku justru
membuat kulit terasa makin dingin. Atau lebih tepatnya, kakiku terasa sangat
dingin. Air yang meluap dari bak pemandian langsung berubah menjadi air dingin
akibat paparan udara luar. Bahkan lebih dingin daripada air di kolam renang.
Secara
alami, kecepatan gerak kakiku pun makin cepat. Rasanya kaki ini mau membeku.
Dalam
permainan video sering ada penggambaran karakter yang membeku saat terkena
sihir elemen es, dan rasanya aku seperti sedang diterjang serangan sihir
semacam itu. Walau ini air dan bukan es, tetapi suhu airnya sudah sangat
memenuhi kriteria elemen es.
Sembari
bergumam "dingin, dingin" seorang diri, aku menceburkan diri ke dalam
pemandian air panas dengan penuh dorongan. Lalu, aku meletakkan botol minuman
plastik di pinggiran bak mandi. Karena ada aliran air panas, kalau ditaruh
terlalu lama minumannya mungkin akan memanas... Tapi kalau sebentar saja
harusnya tidak masalah.
Sebentar,
jarak yang singkat... Padahal jarak dari kamar menuju pemandian terbuka ini
sangatlah singkat, namun dalam jarak sesingkat ini pun tubuhku rupanya telah
mendingin secara luar biasa...
Tepat
saat tubuhku masuk ke dalam pemandian air panas, hangatnya air perlahan-lahan
meresap ke dalam tubuh.
Aah...
hangatnya~... Karena tubuhku sangat dingin, awalnya
kukira di dalam air panas pun bakal tetap terasa dingin, tetapi ternyata
tubuhku perlahan-lahan menghangat dengan baik...
Meskipun
begitu, bagian ujung-ujung anggota tubuhku masih terasa dingin, jadi aku harus
menghangatkannya secara perlahan.
...Ngomong-ngomong,
perubahan suhu secara mendadak bukankah tidak terlalu bagus untuk tubuh, ya?
Kepalaku
mendadak terasa sedikit pusing...
Sembari
berpikir bahwa seharusnya aku masuk secara lebih perlahan, tubuhku yang kian
menghangat secara refleks merintih puas. Duh, gaya bicaraku seperti
bapak-bapak saja saat ini... Namun karena rasa nikmat yang tiada tara, aku
tidak sanggup menahan suara yang meluncur keluar begitu saja. Walau ini
pemandian air panas yang sama seperti kemarin, mungkin karena suasana pagi
hari, aku bisa berendam dengan perasaan yang menyegarkan kembali.
Apakah
karena suhunya yang rendah, ataukah karena tingkat kelembabannya yang rendah,
udara di pagi hari seperti ini terasa sangat murni dan bersih.
Dibalut
oleh udara yang terasa menyucikan ini, aku memandangi pemandangan yang disinari
matahari pagi... lalu meneguk minuman bersoda yang dingin.
Minuman
bersoda yang dingin mengalir masuk ke dalam tubuh yang memanas, dan sensasi
gelembung yang tajam memenuhi mulut lalu meluncur turun secara perlahan
melewati tenggorokan.
Sensasi
gelembung yang meletup-letup seolah bergaung dari dalam tubuhku...
Aku
menikmati sensasi cairan dingin yang mengalir melewati tenggorokan hingga masuk
ke dalam lambung. Meskipun bagian luar tubuh terasa hangat, bagian dalamnya
justru perlahan-menerus mendingin.
Rasanya
aku seperti berubah menjadi jenis masakan seperti itu... Dulu pernah ada kan,
masakan yang bagian luarnya panas tetapi bagian dalamnya tetap dingin... walau
aku tidak begitu tahu detailnya.
Padahal
aku sedang sangat menikmati waktu menyendiri di pagi hari, tapi aku harus
keluar sebelum Nanami terbangun.
Jika
dia bangun dan tidak menemukanku, apakah dia akan panik, atau justru dia juga
akan menikmati waktu menyendirinya...?
Yah,
untuk jaga-jaga aku sudah mengirimkan pesan bahwa aku sedang mandi di pemandian
air panas, jadi kurasa dia tidak akan sampai mencariku.
Aah...
tapi menyenangkan sekali... mandi pagi... hangatnya meresap perlahan ke dalam
tubuh.
Ini
sudah melewati batas gaya bapak-bapak, malah cenderung seperti kakek-kakek.
Tapi ya mau bagaimana lagi, hal yang terasa nyaman itu memang tetap terasa
nyaman.
Entah
mengapa aku jadi merasa lapar... Apakah karena sirkulasi darah menjadi lebih
lancar saat tubuh menghangat?
Setelah
itu, aku melanjutkan menikmati pemandian air panas secara santai untuk beberapa
saat. Betapa mewahnya menikmati minuman bersoda sendirian. Namun sepertinya...
aku mulai merasa sedikit pusing kepanasan. Rasanya suhu tubuhku tidak kunjung
turun, baik oleh minuman maupun oleh suhu udara di sekitar. Akan tetapi, ada
satu masalah.
...Sangat
berat rasanya untuk keluar dari air panas.
Untuk
saat ini, aku merendam tubuh hingga batas bahu untuk menaikkan suhu tubuh
sampai batas maksimal, lalu berlari cepat masuk ke dalam kamar. Soal
mengeringkan badan, bisa dilakukan setelah tiba di dalam.
Pokoknya,
jika sudah bisa mencapai area pembatas antara kamar dan pemandian terbuka, itu
sudah merupakan sebuah kemenangan. Mari bergegas agar tidak terpeleset.
...Baiklah!!
Byurr!
Aku mengangkat tubuh keluar dari air panas, lalu bergerak secepat mungkin dari
tempat itu. Angin pagi memang terasa dingin, tetapi tetap saja suhu tubuhku
masih... tidak, ternyata memang dingin banget!!
Apakah
karena adanya perbedaan suhu yang ekstrem sehingga rasanya jadi jauh lebih
dingin? Jika tidak segera masuk ke dalam kamar dan mengeringkan badan, aku
bisa-bisa terkena flu.
Tadinya
aku berpikir untuk mengeringkan badan di luar sebelum memakai pakaian, tapi
niat itu kubatalkan saja. Lagipula Nanami sepertinya juga belum bangun.
...Sengaja
ingin kuberitahukan di sini, area antara pemandian terbuka dan kamar hampir
seluruhnya dibatasi oleh dinding kaca, sehingga bagian luar dan dalam pada
dasarnya bisa terlihat dengan sangat jelas.
Hanya
saja, khusus pada bagian pintu bahannya cukup buram... sehingga dari sudut itu
bagian dalam agak sulit untuk terlihat. Bahkan hingga pada tingkat di mana kita
tidak akan menyadari jika ada seseorang yang sedang berdiri di balik pintu.
Jikalau
aku bertindak sedikit lebih tenang, aku pasti akan mengamati situasi di dalam
kamar dengan cermat... dari dalam pemandian air panas sekalipun.
Justru
karena aku tidak melakukannya, hal tersebut akhirnya terjadi.
Tanganku
meraih pintu, lalu membukanya dengan dorongan kuat untuk masuk ke dalam. Pintu
yang seharusnya terasa berat, terbuka begitu saja tanpa ada hambatan.
Aku
tidak menyadari adanya kejanggalan dari hal tersebut. Aku hanya berpikir bahwa
aku melemparkan tenaga terlalu kuat karena terburu-buru. Bagaikan pintu yang
ditarik dari dalam, pintu itu terbuka dengan sangat cepat, dan kemudian...
"He...?"
Suara
imut yang kebingungan terdengar di telingaku.
Mengenai
lima indra manusia, ada hierarki urutan prioritas dan persentasenya tersendiri.
Pendengaran diprioritaskan melebihi penglihatan, dan di atas hal itu, informasi
visual memegang porsi sebesar delapan puluh persen.
Dengan
kata lain untuk diriku saat ini, pertama-tama telingaku menangkap suara
tersebut, lalu disusul oleh mataku yang menangkap sosoknya. Sebaliknya,
meskipun mataku sudah melihatnya, ada jeda waktu sampai informasi tersebut
dapat dicerna oleh otak.
...Singkatnya,
aku tidak sanggup memahami apa yang terjadi secara seketika.
Di
sana, ada Nanami.
Mungkin
karena hendak masuk ke pemandian terbuka, tidak seperti kemarin malam yang
melilitkan handuk mandi di tubuhnya... dia yang berdiri di sana hampir
telanjang bulat, hanya memegang sehelai kain lap kecil seperti handuk tangan.
Dan
karena aku sendiri baru saja keluar dari bak mandi dan berlari cepat untuk
kembali, tentu saja aku pun tidak melilitkan handuk apa pun.
Dua
orang yang berada dalam kondisi tersebut, tidak dalam posisi saling
membelakangi, tidak pula menghadap ke arah yang sama, melainkan untuk pertama
kalinya... saling berhadapan.
"----------------------?!"
Kami
berdua melontarkan jeritan tanpa suara, dan mengenai apa yang terjadi
setelahnya... adalah rahasia milik kami berdua saja.
Pada
akhirnya, aku malah mengulang ketiadaan yang klasik seperti tidak sengaja
berpapasan di pemandian air panas.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Waktu
yang menyenangkan selalu terasa berlalu secepat kilat—hal yang selalu
kufikirkan setiap kali sebuah momen berharga berakhir.
Liburan
kali ini pun tidak terkecuali. Rasanya seperti seluruh kejadian dari awal
hingga akhir hanya berlangsung selama beberapa jam saja... walau kalau dibilang
begitu sepertinya agak berlebihan, sih.
Menyebut
rangkaian acara sepadat ini hanya terasa beberapa jam memang agak tidak masuk
akal. Lagipula, ada begitu banyak hal yang terjadi sampai-sampai rasanya
membuat kepalaku penuh. Namun tetap saja, liburan ini terasa sangat
menyenangkan dan berlalu dalam sekejap mata.
Perjalanan
menginap 2 hari 1 malam...
Padahal
liburan 2 hari 1 malam itu tergolong perjalanan singkat, tetapi bagi kami
berdua, perjalanan ini terasa sangat bermakna dan berkesan.
Bagaimana
mencetuskan maknanya, ya... sebuah perjalanan penuh dengan hal baru yang
membuahkan banyak hal indah...
Tunggu,
saat menyebut kata "membuahkan banyak hal", aku malah mendadak
teringat kejadian tadi pagi. Jangan mengaitkan frasa itu dengan hal tadi pagi
dong, diriku yang sekarang benar-benar parah.
"Ah,
itu raut wajah orang yang lagi mikirin hal-hal mesum."
"Bukan,
tahu! Aku cuma lagi mengingat-ingat pemandangan tadi pagi!"
Karena
dilontarkan secara spontan, cara bicaraku malah terdengar sangat
kekanak-kanakan. Ditambah lagi, padahal niatnya mau bilang "pemandangan di
luar", aku malah menyebut "pemandangan tadi pagi".
Itu
sama sekali tidak terdengar seperti alasan yang... tidak, hal yang kuingat itu
benar-benar pemandangan indah yang diwarnai oleh fajar pagi dari pemandian
terbuka kok...
"Tuh
kan, ujung-ujungnya tetap mikirin hal mesum..."
"...Iya
deh, maaf ya."
"Kumaafkan
♡"
Sembari
diguncang oleh laju kereta, Nanami menumpukkan tangannya di atas tanganku
dengan raut wajah yang tampak gembira. Kami sudah menyelesaikan proses
check-out penginapan, dan saat ini sedang berada di dalam kereta perjalanan
pulang.
Dari
sini masih memakan waktu beberapa jam lagi... Saat kami tiba di rumah nanti,
sepertinya hari sudah berganti malam.
"Kalau
sudah begini, bisa dipastikan di liburan kali ini Youshin makin wajib
bertanggung jawab padaku, kan?"
"Kenapa
sih setiap kali ada liburan atau acara tertentu, jumlah hal yang menuntutku
bertanggung jawab makin bertambah terus?"
"Memangnya
kamu tidak suka...?"
Bukannya
aku keberatan... atau lebih tepatnya aku sama sekali tidak merasa benci akan
hal itu. Tapi yah, kejadian kali ini memang bisa dibilang cukup krusial, sih...
Tidak,
apakah sudah terlambat untuk memikirkannya? Lagipula, frasa "kali ini
juga" mungkin jauh lebih tepat untuk menggambarkan situasinya.
"Lagipula,
hal-hal yang terjadi di Hawaii dulu... terus waktu Natal juga..."
"Dan
kali ini, kita malah berlibur cuma berduaan saja..."
Ah,
Nanami juga mendadak memandangi ruang hampa dengan tatapan jauh.
Sebenarnya,
alasan kenapa kami berdua mendadak memandangi ruang hampa seperti ini juga
dipengaruhi oleh hal yang terjadi saat check-out tadi. Aku kembali mengenang
momen tersebut...
Nanami
juga sempat mandi di pagi hari, kami menyantap sarapan berdua, memastikan tidak
ada barang yang tertinggal saat bersiap-siap pulang... Dan aku mengingat
kembali ucapan yang disampaikan oleh nakai-san saat proses check-out.
"Pelanggan
sekalian, kami benar-benar memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi
kemarin."
"Ah,
tidak apa-apa kok. Kamarnya sangat bersih, makanannya pun sangat enak... Kami
sangat menikmati liburan ini. Terima kasih banyak."
"Benarkah
demikian? Jika begitu, kami merasa sangat lega... Ke depannya kami akan
berusaha keras agar kejadian serupa tidak terulang kembali..."
Melihat
nakai-san yang membungkuk penuh rasa bersalah, kami berdua justru jadi merasa
sungkan.
Memang
benar pada awalnya sempat ada kendala, tetapi mereka telah melayani kami dengan
sangat baik setelahnya.
Kamar
yang kami tempati kali ini pun berada di lokasi yang sangat bagus, dan saat
kucari tahu harganya, ternyata kamar itu tergolong sangat mahal... Setidaknya,
itu bukan kamar yang biasa ditempati oleh anak SMA.
Meski
begitu, para nakai-san di sini tidak memperlakukan kami seperti anak kecil dan
melayani kami dengan sangat wajar. Pelayanannya benar-benar patut disyukuri...
"Banyak
dari tamu yang menginap di sini berkenan untuk berlangganan kembali dalam
jangka panjang. Terutama pasangan kekasih..."
"Apakah
itu semacam mitos keberuntungan?"
"Bisa
dibilang begitu. Ada yang kembali berkunjung setelah menikah, ada juga yang
datang bersama anak mereka beberapa tahun kemudian... jadi mungkin bisa
dibilang semacam mitos keberuntungan."
Nakai-san
menyunggingkan senyum hangat sembari menatapku dan Nanami secara bergantian.
Melihat
senyumannya yang memancarkan kebahagiaan itu, aku dan Nanami tanpa sadar ikut
tersenyum.
"Kami
sangat menantikan kedatangan Anda berdua kembali di lain waktu."
Seberapa
banyak harapan yang tertuang dalam kalimat tunggal tersebut?
Melihat
sosok nakai-san yang membungkuk hormat membuat dadaku terasa hangat. Kurasa,
Nanami pun merasakan hal yang sama.
Makanya
secara alami, kami memberikan jawaban.
"Kami
pasti akan datang lagi, jadi mohon bantuannya saat saat itu tiba."
"Saat
saat itu tiba... aku ingin kita menginap di kamar itu dengan hasil usaha kita
sendiri, ya."
"Baik,
kami akan selalu menunggu kedatangan Anda berdua."
Begitulah
cara kami meninggalkan penginapan dengan diiringi senyuman hangat dari
nakai-san.
Kilas
balik selesai. Dan saat ini... kami sedang diguncang oleh laju kereta
perjalanan pulang. Sama halnya seperti perjalanan berangkat, perjalanan pulang
pun memakan waktu yang sangat panjang...
Meski
merasa agak lelah dengan panjangnya perjalanan, kenyataan bahwa tempat itu kini
bertambah ke dalam daftar lokasi yang ingin kukunjungi lagi bersama Nanami
membuatku merasa jujur bahagia.
Apakah
begini caranya kenangan manis bertambah satu per satu?
...Tapi
tunggu, soal pembahasan tentang pernikahan dan anak di akhir tadi, tidak ada
maksud terselubung kan?
Nanami
yang tadinya memandangi ruang hampa sepertinya ikut kembali ke realitas sama
seperti diriku... Dia menghembuskan napas panjang.
"Aah...
rasanya masih belum mau pulang..."
"Aku
juga... tidak lama lagi sudah harus sekolah lagi..."
"Jangan
diomongin dong... Uwah~..."
Secara
refleks kami saling menyandarkan tubuh satu sama lain membentuk huruf 人 (orang).
Bukannya
aku benci sekolah, tetapi kata-kata negatif meluncur begitu saja dari mulutku.
Seperti
yang dikatakan Nanami, perasaan enggan untuk pulang memang masih menggantung
kuat di dalam dada. Saat melangkah keluar dari penginapan tadi, aku benar-benar
menyadari bahwa setelah ini kami akan kembali ke kehidupan sehari-hari.
Mungkin
karena adanya perasaan inilah, aku jadi ingin pergi berlibur lagi bersama
Nanami. Justru karena ada momen-momen menyenangkan seperti inilah, kita bisa
bertahan menghadapi hal-hal berat dalam rutinitas harian...
Yah,
bukannya kehidupan sekolah itu berat juga, sih.
Karena
liburan sudah berakhir, saatnya menghadapi kenyataan kembali.
Dalam
cerita mana pun, bagian akhir adalah kunci utamanya. Sama halnya seperti
hidangan berurutan (course meal), jika hidangan penutupnya berantakan,
seluruh urutan hidangannya pun akan ikut berantakan. Mungkin hal serupa juga
berlaku untuk bab terakhir dari sebuah manga.
Sebaliknya,
jika bagian akhir berakhir dengan indah... kesan yang ditinggalkan pun akan
menjadi jauh lebih baik secara drastis. Aku pernah mendengar pembicaraan
semacam itu.
Kalau
begitu, bagaimana dengan perjalanan liburan kami kali ini?
Kejadian-kejadian
yang terjadi selama liburan berputar kembali di dalam benakku. Mulai dari saat
perjalanan kemarin, kejadian tadi malam, hingga kejadian tadi pagi. Dan saat
ini, pada momen paling akhir, kami sedang diguncang oleh laju kereta perjalanan
pulang.
Meskipun
bilang tidak mau pulang, apakah saat tiba di rumah nanti kami bakal berucap
"rumah sendiri memang yang terbaik"? Ataukah kami justru makin ingin
pergi berlibur lagi?
Setidaknya
untuk saat ini... perasaan tidak mau pulang ini adalah bukti nyata bahwa
liburan kali ini sangatlah menyenangkan.
Sembari
menatap pemandangan luar yang berlalu, walau terkesan klise, aku bisa
mengatakan dengan sejujurnya bahwa ini adalah perjalanan yang sangat berkesan.
"Nanami...
aku ingin pergi berlibur lagi."
"Aku
juga ingin... Berikutnya musim panas mungkin... Ah, tapi kan ada persiapan
ujian masuk juga..."
"Mendadak
langsung menyodorkan kenyataan banget..."
Mendengar
kata-kata Nanami yang membawaku kembali ke realitas... sebuah notifikasi yang
makin menegaskan kenyataan masuk ke ponselku.
Tanpa
sadar kata "Geh!" meluncur keluar dari mulutku. Mungkin ini karena
aku sempat mengirim pesan berkala bahwa kami sedang perjalanan pulang tadi...
"...Sepertinya,
Ayah mengirim pesan menanyakan apakah perlu dijemput di stasiun."
"Youshin
juga? Di tempatku juga ada pesan masuk..."
Ini
jelas-jelas terasa seperti hal yang sudah mereka rencanakan bersama. Dan hal
itu membuatku teringat pada kejadian saat dijemput sewaktu kencan ulang tahun
dulu.
Waktu
itu ada pembahasan soal jam malam dan semacamnya, dan karena lokasi tujuan kami
juga sudah ketahuan, akhirnya kami diantar pulang menggunakan mobil.
Yah,
saat itu harinya memang sudah larut jadi mau bagaimana lagi. Namun waktu itu
kami tidak punya pilihan dan rasanya setengah dipaksa. Kali ini pun, hari pasti
sudah gelap gulita saat kami tiba di stasiun nanti. Makanya mereka mengirim
pesan menawarkan jemputan. Itu murni bentuk perhatian dari mereka.
Namun
untuk kali ini...
"Bagaimana
kalau kita tolak saja?"
"Boleh,
kali ini kita tolak saja yuk."
Baik
aku maupun Nanami sama-sama langsung mengirimkan pesan penolakan saat itu juga.
Dipercayakan untuk dijemput memang jauh lebih praktis, tetapi kepraktisan itu
rasanya bakal membuat perjalanan liburan ini berakhir lebih cepat.
Dan
kemudian...
"...Bagaimana
kalau stasiun pemberhentiannya kita geser sedikit?"
"...Mumpung
lagi begini, boleh juga tuh?"
"Sekalian,
bagaimana kalau kita makan malam di suatu tempat sebelum pulang? Sisa anggaran
kemarin juga masih ada sedikit dari porsi makan malam."
"Boleh
banget~! Ayo kita agak manjakan diri sedikit. Youshin mau makan apa?"
"Enaknya
makan apa, ya... Kemarin kan sudah makanan Jepang... Secara garis besar, daging
mungkin?"
"Waktu
kita masih sangat banyak, ayo kita cari tahu!"
Tepat
di momen paling akhir, meskipun aku dan Nanami merasa seperti sedang melakukan
sedikit kenakalan, kami tetap menikmati kepopuleran topik pembahasan rencana
selanjutnya.
Pengalaman
berlibur adalah hal yang mendewasakan seseorang. Dalam artian tertentu, hal itu
mengubah seseorang menjadi lebih dewasa. Karena kami berdua sudah selangkah
lebih dewasa... pilihan kecil seperti ini tentu boleh-boleh saja, kan.
Orang
dewasa adalah mereka yang mengambil keputusan dan menanggung sendiri hasil
serta tanggung jawabnya.
Yah,
meskipun melontarkan alasan semacam itu, kami sama sekali tidak berniat
melakukan hal yang buruk, kok.
Lagipula,
bukankah sering ada pepatah yang bilang?
Sebelum
tiba di rumah, perjalanan liburan belum berakhir.
Afterword
Saat
menulis jilid sebelumnya, musim sedang berlangsung di musim dingin dengan suhu
di bawah nol derajat. Namun, saat menulis jilid ini, cuacanya sangat panas dan
sudah sepenuhnya memasuki musim panas... di tengah suasana itulah saya menulis
kisah bertema musim dingin.
Rasanya
seperti mendahului musim, atau malah sebaliknya, seperti tertinggal musim...
saya merasakan sensasi yang cukup unik ini. Halo semuanya, sudah lama tidak
berjumpa, saya Yuishi.
Nah,
saya sangat senang bisa menerbitkan Jilid 12 ini dengan selamat. Fakta bahwa
karya ini bisa berlanjut hingga sejauh ini sepenuhnya adalah berkat dukungan
dari Anda sekalian para pembaca.
Terima
kasih banyak.
Angka
dua belas (12) memiliki arti tersendiri bagi saya, karena secara pribadi
angka 12 merupakan angka yang memiliki banyak keterkaitan dengan saya.
Salah
satunya karena ulang tahun saya jatuh pada tanggal 12, tetapi selain itu, entah
mengapa angka 12 sering sekali muncul di sekitar kehidupan saya.
Nomor
ponsel saat pertama kali membelinya memiliki sangat banyak angka satu dan dua
yang tersebar di mana-mana, pekerjaan pertama yang dipercayakan kepada saya
adalah tugas yang diresmikan setiap tanggal 12 tiap bulannya...
Plat
nomor mobil saya pun berkaitan dengan angka 12, dan begitulah seterusnya, angka
ini sangat sering hadir di sekeliling saya. Akhir-akhir ini kisah baru yang
berkaitan dengan angka 12 memang agak berkurang, tetapi...
Dengan
terbitnya jilid ini, kisah mengenai angka 12 di dalam diri saya rasanya
berhasil diperbarui.
Mengenai
Jilid 12 ini sendiri, seperti yang telah saya sampaikan di awal, saya
menuliskannya di tengah puncak musim panas untuk kisah di pertengahan musim
dingin. Lokasi tujuannya adalah... area Doto (Hokkaido Timur).
Kali
ini, untuk pertama kalinya saya memberi isyarat bahwa mereka berdomisili di
Hokkaido... Walau sebenarnya sejak Jilid 1 saya sudah menuliskannya dengan
nuansa seperti itu, tetapi menjadikannya sejelas ini mungkin baru pertama
kalinya di Jilid 12, ya?
Namun
mohon menganggapnya sebagai lokasi fiktif yang menggunakan lokasi nyata sebagai
motifnya... Walaupun saya telah menuliskan tempat-tempat yang mungkin bisa
langsung dikenali oleh orang yang mengetahuinya...
Karena
ada banyak perbedaan dengan kondisi di dunia nyata, mohon anggap tempat
tersebut murni sebagai motif saja.
Bagi
Anda yang menyadarinya, saya akan sangat senang jika Anda mengetahuinya, dan
jika ada kesempatan, saya harap Anda bisa menikmati perbedaan dengan lokasi
aslinya.
Jika
hal tersebut dapat menjadi salah satu pemicu Anda untuk melakukan perjalanan
liburan, tidak ada hal lain yang bisa membuat saya lebih bahagia dari itu.
Youshin
dan yang lainnya kali ini berlibur ke pemandian air panas berduaan... Awalnya
saya sempat khawatir apakah anak SMA bisa menikmatinya, tetapi begitu dijalani,
mereka justru tampak menikmatinya melebihi biasanya.
Menurut
saya, kalian berdua sebaiknya terus saja bermesraan seperti itu selamanya.
Untuk
Jilid 12 ini juga, Kagachisaku-sensei kembali bertanggung jawab dalam pembuatan
ilustrasinya.
Ilustrasi
kimono yang sangat indah, serta ilustrasi liburan pemandian air panas yang
sedikit seksi, tentu menjadi hal yang sangat menyenangkan bagi para penggemar
Sensei, bukan?
Adaptasi
manga oleh Kanna Nagomi-sensei juga berjalan dengan sangat lancar. Saya
sendiri sudah memeriksa draf manuskripnya (name) terlebih dahulu, dan
ceritanya saat ini hampir menyelesaikan bagian dari novel asli Jilid 2...
Besar
harapan saya agar serialisasinya bisa terus berlanjut seperti ini. Adaptasi
komiknya pun sangat didukung oleh semangat dari Anda sekalian para pembaca,
jadi mohon terus dukungannya.
Serta
kepada Editor S-sama, pihak-pihak yang terlibat dalam desain, penyuntingan (proofreading),
hingga para penerjemah edisi luar negeri... Saya ingin menggunakan kesempatan
ini untuk menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Anda
sekalian.
Seperti
yang telah saya tulis sebelumnya, keberlanjutan karya ini adalah berkat Anda
sekalian para pembaca. Berkat dukungan Anda, sepertinya Jilid 13 pun akan dapat
terbit dengan selamat... jadi mohon terus dukungannya.
Mengenai
kapan Jilid 13 akan terbit... Anda dapat memastikannya pada pratinjau jilid
berikutnya yang ada setelah bagian ini.
Nah,
berikutnya adalah hari Valentine pertama bagi mereka.
September 2025
Dari Yuishi, yang merasa cemas dan gelisah
menghadapi panasnya sisa musim panas di Hokkaido tahun ini.



Post a Comment